Anda di halaman 1dari 2

Analisis Infark Miokard Akut

Diagnosis Infark Miokard Akut ditegakkan berdasarkan gejala dari anamnesis, pemeriksaan
fisik, dan pemeriksaan penunjang.

Tanda dan Gejala


Diagnosis Infark Miokard Akut dengan elevasi ST ditegakkan berdasarkan anamnesis nyeri
dada yang khas dan gambaran EKG adanya elevasi ST lebih dari atau sama dengan 2 mm,
minimal pada 2 sandapan prekordial yang berdampingan atau lebih dari sama dengan 1 mm
pada 2 sandapan ekstremitas. Pemeriksaan enzim jantung, terutama troponin T yang
meningkat, memperkuat diagnosis, namun keputusan memberikan terapi revaskularisasi tidak
perlu menunggu hasil pemeriksaan enzim, karena dalam penatalaksanaan IMA harus
mengutamakan prinsip utamanya yaitu time is muscle.
Pasien datang dengan keluhan nyeri dada yang berasal dari jantung, harus ditanyakan lebih
jelas tentang riwayat nyeri dada sebelumnya, dan faktor-faktor resiko yang terdapat pada
pasien sebagai faktor pencetus sebelum terjadinya STEMI, seperti aktivitas fisik yang berat,
stress emosi atau penyakit medis atau bedah. Walaupun STEMI bisa terjadi sepanjang hari
atau malam, variasi sirkardian dilaporkan pada pagi hari dalam beberapa jam setelah bangun
tidur. Nyeri dada pada infark miokard akut harus bisa dibedakan dengan gejala nyeri dada
yang lainnya, karena hal ini menentukan penatalaksanaan awal pada infark miokard akut.
Nyeri dada tipikal (angina) merupakan gejala cardinal pasien IMA. Sifat nyeri dada angina
adalah sebagai berikut :
-

Lokasi : substernal, retrosternal, dan prekordial


Sifat nyeri : rasa sakit, seperti ditekan, rasa terbakar, ditindih benda berat, seperti
ditusuk, rasa diperas, dan dipelintir.
Penjalaran : biasanya ke lengan kiri, dapat juga ke leher, rahang bawah, gigi,
punggung/ inerskapula, perut, dan dapat juga ke lengan kanan.
Nyeri membaik atau hilang dengan beristirahat, atau obat nitrat.
Factor pencetus : latihan fisik, stress emosi, udara dingin, dan sesudah makan.
Gejala yang menyertai : mual, muntah, sulit bernafas, keringat dingin, cemas, dan
lemas.

Nyeri dada tidak selalu ditemukan pada STEMI. Infark Miokard Akut dengan elevasi ST
tanpa nyeri lebih sering dijumpai pada diabetes mellitus dan usia lanjut.

Pemeriksaan Fisik
a) Pasien tampak cemas dan tidak bisa istirahat (gelisah)
b) Ekstremitas pucat disertai keringat dingin
c) Kombinasi nyeri dada substernal >30 menit dan banyak keringat

d)
e)
f)
g)

Hiperaktif saraf simpatis (takikardia dan/ atau hipotensi)


Hiperaktif saraf parasimpatis (bradikardia dan/atau hipotensi)
S4 dan S3 gallop
Penurunan intensitas bunyi jantung pertama dan split paradoksial bunyi jantung
kedua.
h) Murmur midsistolik atau late sistolik apical bersifat sementara karena disfungsi
apparatus katup mitral
i) Pericardial friction crab
j) Peningkatan suhu sampai 38 derajat Celsius dapat dijumpai dalam minggu pertama
pasca STEMI.

Pemeriksaan Elektrokardiogram
Pemeriksaan ini bersifat wajib pada pasien dengan keluhan nyeri dada. Pemeriksaan EKG 12
sadapan harus dilakukan segera 1o menit sejak kedatangan di IGD. EKG setrial dengan
interval 5 sampai 10 menit atau pemantauan EKG 12 sadapan secara kontinyu harus
dilakukan untuk mendeteksi potensi perkembangan elevasi segmen ST pada pasien yang
pemeriksaan awal EKG menunjukkan tidak diagnostic STEMI tetapi masih mengalami
keluhan simptomatik yang dicurigai kuat megalami STEMI.
Pada pasien dengan STEMI inferior, EKG sisi kanan harus diambil untuk mendeteksi
kemungkinan infark pada ventrikel kanan. Sebagian besar pasien dengan presentasi awal
elevasi segmen ST mengalami evolusi menjadi gelombang Q pada EKG yang akhirnya
didiagnosis infark miokard gelombang Q. sebagian kecil menetap menjadi infark miokard
gelombang non Q.