Anda di halaman 1dari 4

NAMA

NIM
ASISTEN

: FINKA YUQIANTI
: 03071181419031
: AVI KRESTANU
KONTAK STRATIGRAFI

Menurut Sandi Stratigrafi (1996) dalam Bab 1 Azas - azas umum pasal 1, stratigrafi dalam arti luas
adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan dan kejadian (genesa) macam-macam batuan di alam dalam
ruang dan waktu sedangkan dalam arti sempit ialah ilmu pemerian lapisan-lapisan batuan. Stratigrafi sangat
penting dalam geologi karena dengan adanya ilmu ini para geologist dapat mengelompokkan batuan secara
sistematis dengan berbagai cara, mempermudah hubungan antara satu batuan dengan batuan lain atau yang
lebih dikenal dengan satuan stratigafi. Dalam satuan stratigrafi terdapat kontak stratigrafi atau yang dikenal
dengan istilah batas satuan stratigrafi.
Batas satuan stratigrafi adalah batas atas dan batas bawah satuan sikuenstratigrafi yang merupakan
bidang ketidakselarasan atau bidang-bidang keselarasan padanannya ( Sandi Stratigrafi, 1996 ).
Ketidakselarasan terbentuk akibat proses erosi yang terjadi di atas muka laut ( sub- aerial ). Proses tersebut
ditandai oleh jangka atau jeda waktu yang lama. Setelah terjadinya jeda waktu lama, kemudian terbentuk
lagi batuan diatasnya sehingga antara batuan di bawah dengan atas tamak ketidakselarasannya. Berdasarkan
buku Sandi Stratigrafi disebutkan bahwa bidang ketidakselarasan atau bidang erosi batas satuan
sikuenstratigrafi disebabkan oleh proses penurunan reltif muka air laut, yang disebabkan oleh banyak hal
diantaranya gerak muka-laut global, sedimentasi maupun tektonik.
Penyebaran satuan sikuenstratigrafi hanya berdasarkan pada kelanjutan bidang batas satuan. Oleh
sebab itu, satuan sikuenstratigrafi memiliki tingkat - tingkat yang telah diurutkan dari besar ke kecil. Urutan
tersebut yaitu Megasikuen, Supersikuen dan Sikuen. Sikuen ialah satuan dasar dalam pembagian satuan
sikuenstratigrafi. Sikuen memiliki unsur - unsir pembentuk sikuen yang berupa lamina, gabungan lamina,
lapisan, gabungan lapisan, parasikuen, gabungan para sikuen, yang ditentukan berdasarkan singkapan yang
di teliti , data bor, seismik, dan sebagainya.
kontak stratigrafi sangat erat hubungannya dengan waktu yang mencerminkan besaran dan lamanya
sutau daur perubahan muka laut relatif setempat. Dalam menentukan batas satuan stratigrafi, tentu telah
dipemudah dengan adanya kolom litologi yang berupa kolom stratigrafi sehingga hasil output dari kolom
tersebut yaitu peta geologi. Dalam menentukan batas satuan batuan diperlukan beberapa pedoman. Pedoman
tersebut digunakna sebagai acuan dalam meneliti singkapan guna menentukan batas kontak batuan.
Pedoman - pedoman tersebut antara lain:
1. Kenampakan pada singkapan batuan yang segar
Batas satuan yang terlihat di lapangan merupakan kenampakan yang tegas dapat berupa warna. Biasanya,
kenampakan yang tegas pada singkapan terlihat jelas antara batuan yang berbeda jenis misal batuan beku
dengan batuan sedimen atau batuan beku dengan batuan disekitarnya yang membentuk intrusi tidak
mempunyai pola tertentu.
2. Kenampakan warna pelapukan batuan
Kenampakan warna pada batuan sebagai batas kontak stratigrafi disebabkan oleh kandungan mineral atau
akibat pelapukan ( Gambar 1 ).

Gambar 1. Warna akibat pelapukan

Contoh batugamping denga warna agak kecoklatan dan batulempung dengan wrna kehitaman.
Penggambaran di peta geologi dapat merupakan garis lengkung
terbuka ataupun garis lengkung tertutup, tergantung pada
penyebaran satuan batuan yang bersangkutan.
3. Kenampakan fragmen rombakan atau pelapukan batuan
Dengan adanya fragmen rombakan atau hasil pelapukan batuan akan menjadi batas kontak batuan
tertentu yang dapat tersebar sepanjang daerah perbatasan yang letaknya topografis berada di bawahnya.
Daerah percampuran antara fragmen-fragmen tersebut dianggap sebagai garis batas antar satuan batuan
yang akan digambarkan pada peta geologi.
4. Liniasi mata air
Mata air akan muncul apabila water table terpotong oleh topografi dan akan melalui alur - alur (creeks )
sebagai rembesan. Mata air inilah akan menjadi penciri batas kontak stratigrafi. Bila di lapangan terdapat
beberapa mata airyang letaknya pada satu jalur garis (dalam bentuk liniasi mata air), maka jalur garis itu
dapat dianggap sebagai garis batas antarsatuan lithologi. Dalam hal yang demikian, jalur garis batas antar
satuan batuan digambarkan sebagai garis putus - putus yang menerus
5. Keadaan tanaman
Jenis tanaman tertentu akan tumbuh pada tanah hasil lapukan tertentu. Dengan adanya perbedaan
pertumbuhan jenis tanaman ini dapat dijadikan indikator kontak antara 2 satuan batuan.
6. Daerah tertimbun
Batas antar satuan lithologi yang tertimbun itu digambarkan dengan titik-titikyang membentuk sebuah
garis menerus.
Metode korelasi di dalam
Penentuan batas satuan batuan:
Untuk batas antar satuan lithostratigrafi yang terlihat jelas di lapangan, pada peta geologi dilukiskan
dengan jalur garis,
Untuk batas antar satuan lithostratigafi yang tidak terlihat dengan jelas di lapangan, pada peta
geologi dilukiskan dengan jalur garis-garis putus.
Untuk batas antar satuan lithostratigrafi yang tertimbun, pada peta geologi dilukiskan dengan jalur
deretan titik-titik yang memanjang.
Dalam menentukan kontak stratigrafi tentu terdapat perlapisan miring, utnuk mengatasinya digunakan
hukum V ( Gambar 2 ).

Gambar 2. Hukum V untuk menentukan kontak pada kemiringan

NAMA
NIM
ASISTEN

: FINKA YUQIANTI
: 03071181419031
: AVI KRESTANU
FORCED REGRESION

Untuk memahami stratigrafi tentu didalamnya terdapat beberapa konsep yang dijadikan pedoman atau
acuan dalam segala tindakan geologist dalam berfikir atau bekerja. Konseo - s=konsep tersebut antara lain
konsep uniformitarianisme (James Hutton), hukum superposisi (Steno), konsep keselarasan dan
ketidakselarasan, konsep transgresi-regresi, hukum potong memotong (cross cutting relationship) dan
lainnya.
Pada pembahasan kali ini akan di fokuskan pada konsep transgresi dan regresi. Transgresi secara
sederhana merupakan merupakan kenaikan muka air laut ( genang laut ) dimana cekungan mengalami
penurunan dasar yang cepat daripada pasokan sedimen itu sendiri. Karena ini merupakan proses kenaikan
muka air laut maka garis pantai maju ke arah daratan. Sedangkan regresi merupakan kebalikan dari
transgreasi yaitu penurunan muka air laut atau susut laut. Pada proses ini, penurunan dasar cekungan lebih
lambat daripada supply sediment itu sendiri. Karena muka air laut turunn maka garis pantai maju ke arah
lautan akibat proses penurunan. ( Ilustrasi ada pada Gambar 1 )

Gambar 1. Ilustrasi transgresi dan regresi


Sumber: www.jendelaexplorasi.net
Berdasarkan pengertian tersebut, transgresi dan regresi bertindak sebagai akomodasi yaitu faktor
penting yang mengontrol bentuk strtigrafi terutama pada lingkungan pengendapan. Akomodasi ini sendiri
terbagi menjadi dua yaitu akomodasi shelf dan akomodasi sungai.
Dalam akomodasi shelf, apabila muka air laut naik namun tidak diikuti dengan pasokan sedimen maka
akan terjadi transgresi yang menyebabkan atau membentuk pola sedimen yang menghalus ke atas.
Selanjutnya apabila muka air laut naik dibarengi dengan suplai sedimen maka akan terjadi penebalan
sedimen dimana perubahan fasies tidak akan terjadi karena garis pantai konstan. Kemudian, bila suplai
sediment terus bertambah tetapi muka air laut tetap maka akan terjadi regresi yang membentuk pola sedimen
semakin mengkasar ke arah atas dan garis pantai maju ke arah lautan.
Pada akomodasi sungai sangat dipengaruhi oleh perubahan relatif muka air laut, baik itu transgresi
ataupun regresi. Selain itu, pergerakan suplai sedimen secara vertikal akibat garay tektonik dan perubahan
letak sungai juga berpengaruh pada akomodasi sungai. Dari penjabaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa
akomdasi sangat berkaitan denngan adanya proses erosi akibat perubahan relatif muka air laut dan gaya
tektonik juga dengan cara atau proses tertransportnya suplai sedimen ke dalam sungai.
Perubahan muka air laut yang bervariasi dapat membentuk 3 hal untuk akomodasi sungai yaitu:
a. Perubahan horisontal sungai

b. Apabila muka air laut naik atau transgresi maka profil kesetimbangan mundur ke arah darat
sehingga sedimentasi terjadi.
c Sebaliknya, apabila muka air laut turun maka akan terjadi erosi dan kesetimbangan maju.
Perubahan muka air laut berpengaruh hanya pada mulut sungai, namun tektnik memiliki andil pada
seluruh profil sungai.
Dari kedua akomodasi tersebut regresi terbagi menjadi yaitu regresi normal yang suplai sedimen lebih
bnyak dibanding akomodasi dengan muka air laut konstan ( tetap ) dan regresi yang dipaksakan dimana
tanpa adanya erosi muka air laut akan turun namun sedimen tetap konstan.
Regresi dan trangresi tidak terjadi sekali namun berulang kali sehingga dapat dikatakan sebagai siklus.
Transgresi dan regresi dikenal sebagai siklus sedimentasi yang terkenal dan selalu terulang dalam pola
stratigrafi. Penyebab terjadi dua siklus ini yaitu
1. Autocyclic
Adalah proses pembelokan/pemindahan delta yang berlangsung selama proses penurunan dasar
cekungan sehingga menghasilkan penumpukkan siklus regresi-transgresi. Transgresi dan regresi dapat
terjadi berulang ulang kali atau mengalami penumpukan siklus. ( Gambar 2).
2. Allocyclic
Pembentukan silkus regresi-transgresi oleh adanya perubahan muka air laut. Hal yang terpenting untuk
memisahkan satu siklus dengan siklus yang lain adalah munculnya lapisan tipis batuserpih yang melampar
luas secara horisontal dan diendapkan saat banjir maksimum. ( Gambar merujuk pada gambar 2 )

Gambar 2. Proses autocyclic dan allocyclic


Sumber: slideplayer.com
Transgresi dan regresi juga mempengaruhi proses siken pengendapan Ketika muka air laut turun,
sedimen yang masuk dan terakumulasi pada cekungan pengendapan disebut sebagai lowstand deposits
atau yang dikenal dengan proses Lowstand system tract (early). berbarengan dengan proses tersebut maka
maka terjadi erosi di daerah sungai (darat) yang menyebabkan terjadinya ketidakselarasan stratigrafi dan
merupakan rekaman selang waktu selama terjadinya penurunan muka air laut.