Anda di halaman 1dari 2

PENGARUH FAKTOR LINGKUNGAN TERHADAP LAJU FOTOSINTESIS

Pendahuluan
Tujuan percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor lingkungan antara
intensitas cahaya, warna, cahaya, dan suhu terhadap laju fotosintesis.
-fotosintesis
Fotosintesis adalah proses untuk memproduksi gula (karbohidrat) pada tumbuhan,
beberapa bakteri dan organisme non-seluler (seperti jamur, protozoa) dengan
menggunakan energy matahari, yang melalui sel-sel yang berespirasi tersebut akan
dikonversi ke dalam bentuk ATP sehingga dapat digunakan seluruhnya oleh
organisme tersebut. (Utomo, 2007).
Reaksi fotosintesis adalah sebagai berikut (Purba dan Khairunisa, 2012) :
6H2O(l)+6CO2(g)+cahaya Klorofil C6H12O6(l) ( glukosa )+6O2(g)
Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis
karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan
energy. Dalam kondisi lingkungan fotoautotrof, pertumbuhan dan perkembangan
eksplan sangat dipengaruhi oleh faktor fisik lingkungan seperti adanya intensitas
cahaya, konsentrasi karbon dioksida (CO2), kelembaban (kadar air), suhu, kadar
fotosintat (hasil fotosintesis) dan sebagainya, sehingga proses fotosintesis eksplan
berlangsung optimal. menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai
makanannya. Organ utama tumbuhan tempat berlangsungnya fotosintesis adalah
daun. Tumbuhan menangkap cahaya menggunakan pigmen yang disebut klorofil
yang memberi warna hijau pada tumbuhan. Klorofil terdapat dalam organel yang
disebut kloroplas, dimana fotosintesis berlangsung tepatnya pada bagian stroma.
Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung
kloroplas, namun sebagian besar energi dihasilkan di daun. Beberapa faktor yang
menentukan laju fotosintesis ialah intensitas cahaya, konsentrasi karbon dioksida,
suhu, kadar air, kadar fotosintat (Pertamawati, 2010).

-hydrilla, termasuk tumbuhan C3


Hydrilla adalah tanaman tahunan yang hidup tenggelam di air. Kelenjar getah pada
batang dan potongannya dapat berkembang menjadi akar adventif. Bentuk daun
tidak bertangkai, lurus membentuk lanset, panjang daun dapat berada pada
kelompok 4-8, dan 6-19 mm. Daun memiliki garis tepi bergerigi, yang biasanya
terlihat dengan kasat mata (Helen Klein, 2011)
-tumbuhan C3
Lambers et al. 2008 dalam Ai (2012) Tumbuhan tingkat tinggi yang ada di bumi
terdiri dari 5% tumbuhan C 4, 85% tumbuhan C3 dan 10% tumbuhan CAM. Tidak
seperti halnya tumbuhan C4, tumbuhan C3 tidak tumbuh subur di di ekosistem yang
terbuka dengan temperatur tinggi. Hal ini disebabkan karena enzim rubisco pada

tumbuhan C3 akan lebih banyak berikatan dengan O2 daripada dengan CO2,


sehingga terjadi fotorespirasi dan mengurangi atau menghambat reaksi fiksasi atau
reduksi CO2. Kondisi ini akan mengakibatkan fotosintesis menurun, selain itu
Konsentrasi CO2 yang rendah di udara akan meningkatkan fotorespirasi yang lebih
banyak terjadi pada tumbuhan C3.