Anda di halaman 1dari 2

Pneumonia aspirasi mengarah pada konsekuensi patologi akibat sekret orofaringeal,

nanah, atau isi lambung yang masuk yan masuk kesaluran nafas bagian bawah. Kebanyakan
individu mengaspirasi sekret orofaringeal selama tidur, dan sekret tersebut akan dibersihkan
secara normal tanpa gejala sisi melalui mekanisme pertahanan normal. Tiga sindrom aspirasi
berbeda harus dibedakan karena perbedaan sifat bahan yang diaspirasi, tanda dan gejala serta
patofisiologinya.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, aspirasi mikroorganisme patologik yang
berkoloni pada orofaring adalah cara infeksi saluran pernapasan bagian bawah yang tersering
dan menyebabakan pneumonia bakteri. Pneumonia anaerobic disebabkan oleh aspirasi sekret
orofaringeal yang terdiri dari mikroornanisme anaerob seperti Bacteroides, Fusobacterium,
Pepococus, dan Peptostreptococus yang merupakan spesies yang sering ditemukan diantara
pasien-pasien dengan kebersihan gigi yang buruk. Pneumonia anaerobic sering mengenai
pasien-pasien yang dirawat dirumah sakit dan orang denga alkoholisme kronik dengan infeksi
pada gusi dan predisposisi mengalami aspirasi. Akhir-akhir ini, semua kasus pneumonia yang
didapat dirumaha sakit disebabkan oleh campuran mikroorganisme anaerobic dan aerobic
(misal, basil gram negative, S aureus). Awitan gejala biasanya terjadi secara perlahan-lahan
selama 1hingga 2 minggu, dengan demam, penurunan berat badan, anemia, leukositosis,
disnea, dan batuk disertai produksi sputum berbau busuk. Abses-abses paru yang terbentuk
pada parenkim paru dapat rusak, dan empisema dapat timbul seperti mikroba-mikroba yang
berjalan ke permukaan pleura. Kebanyakan abses-abses tersebut terbentuk pada paru kanan
bagian posterior dan segmen basilar bronkopulmonal kaibat gaya gravitasi karena banyak
cabang yang langsung menuju canang bronkus utama kanan. Sering timbul jari tabuh bila
abses menjadi kronik. Pengobatan erdiri dari terapi antibotika yang lama, biasanya denga
klindamisin atau satu kombinasi antara penisilin denga metronidazol (Flagly), dan drainese
impesema bila ada.
Sindrom aspirasi tipe kedua yang disebut sindrom mindelson berkaitan denga
regurgitasi dan aspirasi isi asam lambung. Bertolak belakang dengan pneumonia anaerobic
yang berawitan lama, pneumonitis akibat kimia atau pneumonia akibat aspirasi dapat
berkembang dalam waktu beberapa jam dn sangat parah. Inhalasi masif isi gaster dapat
menyebabkan kematian mendadak akibat obstruksi, sedangan aspirasi sedikit isi gaster dapat
menyebabkan edema yang meluas, takipnea, dispnea, takikardi, demam, leukositosis, dan
gagal nafas. Berat ringannya respon peradangan lebih banyak bergatung apada pH cairan
yang diaspirasi dibanding dengan faktor-faktor lain. Pneumonitis akibat aspirasi selalu terjadi

apabila pH dari zat yang adoaspirasi 2,5 atau kurang. Penumonitis akibat aspirasi memiliki
tiga bentuk tersering, yaitu : (1) kesembuhannya cepat (biasannya bila jumlah zat yang
diasprasi sedikit atau bersifat basa), (2) berkembang cepat menjadi sindrom distress
pernapasan akut, atau (3) superinfeksi oleh bakteri. Pneumonia bakerial yang berkembang
sebagian oleh bahan kimia akibat reaksi cairan gaster dan sebagian lagi akibat superinfeksi
bacterial yang timbul setelah beberapa hari dari organisme yang mingkin hidup dimulut atau
di lambung. Komplikasi pneumonia aspirasi yang sering adalah abses, bronkiektasis dan
gangrene. Angka kematian cukup tinggi dan dilaporkan sebesar 30% hingga 50%. Aspirasi isi
gaster paling sering terjadi salama dianastesi atau setelah dianastesi (khususnya pada pasien
obstetric dan setelah bedah darurat karena gangguan saat persiapan operasi), pada bayi, dan
pada beberapa pasien dangan depresi refleks muntah dan batuk.
Perlu disadari bahwa muntah bukan merupakn syarat masuknya isi lambung kedalam
cabang-cabang trakeobronkial, karena regurgitasi dapat juga terjadi secara diam-diam pada
pasien yang dibius. Paling penting, pasien-pasien ini harus ditempatkan pada posisi yang
tepat agar sekret orofaring dapat keluar dari mulut.
Ketiga jenis sindrom aspirasi berkaitan dengan bahan yang diaspirasi
(biasanya makanan) atau cairan bukan asam (misalnya karena hampir temggelam atau saat
permebien makanan) yang menyebabkan obstruksi mekanik. Bila cairan teraspirasi, trakea
harus segara diisap untuk menghilangkan obstruksinya. Bila yang diaspirasi adalah bahan
padat, maka gejala yang terlihat akan bergantung pada ukuran bahan tersebut dan lokasinya
dalam saluran pernapasan.Jika bahan itu tersangkut dalam bagian atas trakea, akan
menyebabkan obstruksi total, apnea, aphonia, dan dapat terjadi kematian cepat. Bila bahan
tersebut tidak dapat dikeluarkan dengan bantuan jari atau dengan manuver Heimlich, maka
harus segera dilakukan trakeotomi (krikotirotomi). Jiak bahan (misalnya, kacang) tersangkut
pada bagian saluran pernapasan yang kecil, tanda dan gejala yang timbul dapat berupa batuk
kronik dan infeksi berulang. Pengobatan dengan cara mengeluarkan bahan yang tersangkut,
biasanya dengan bronkoskopi.