Anda di halaman 1dari 12

Pemeriksaan status mental

Deskripsi Umum
Penampilan
Dalam kategori ini, psikiater mendeskripsikan penampilan pasien dan kesan fisik
keseluruhan yang tercermin dari postur, pakaian, dan kerapihannya. Bila pasien secara
khas aneh, dokter dapat bertanya. "Adakah orang yang mengomentari penampilan
Anda?" "Bagaimana Anda memahami penampilan Anda?" Dapatkah Anda saya pilihan
Anda membantu saya dalam membantu memahami pilihan Anda dalam berpenampilan?"
(Sadock dan sadock, 2014).
Istilah umum yang digunakan untuk mendeskripsikan penampilan adalah tampak
sehat, tampak sakit, mudah terlihat sakit, pembawaan tenang, tampak tua, tampak muda,
kusut, kekanak-kanakan, dan aneh. Tanda ansietas harus diperhatikan: tangan lembab,
dahi berkeringat, postur tegang, mata melebar (Sadock dan sadock, 2014).
Perilaku dan Aktivitas Psikomotor yang Nyata
Kategori ini merujuk kepada aspek kuantitatif dan kualitatif dari perilaku motorik
pasien. Termasuk diantaranya adalah manerisme, tik, gerakan tubuh, kedutan, perilaku
stereotipik, ekopraksia, hiperaktivitas, agitasi, sikap melawan, fleksibilitas, rigiditas, gaya
berjalan, dan kegesitan. Gelisah, meremas-remas tangan, berjalan mondar-mandir, dan
manifestasi fisik lain harus dijelaskan. Retardasi psikomotor atau melambatnya
pergerakan tubuh secara umum harus ditandai. Semua aktivitas yang tidak bertujuan
harus dideskripsikan (Sadock dan sadock, 2014).
Sikap terhadap Pemeriksa
Sikap pasien terhadap pemeriksa dapat dideskripsikan sebagai kooperatif,
bersahabat, penuh perhatian, tertarik, blak-blakan, seduktif, defensif merendahkan,
kebingungan, apatis, bermusuhan, suka melucu, menyenangkan, suka mengelak, atau
berhati-hati. Semua kata sifat dapat digunakan di sini. Tingkat rapport yang terbina harus
dicatat (Sadock dan sadock, 2014).
Mood dan Afek
Mood
Mood didefinisikan sebagai emosi yang menetap dan telah meresap yang
mewarnai persepsi orang tersebut terhadap dunia. Seorang psikiater akan tertarik untuk
mengetahui apakah pasien berkomentar tentang perasaannya secara sukarela atau apakah
perlu menanyakan pasien tentang bagaimana perasaannya. Pernyataan mengenai mood

pasien seyogianya mencakup kedalaman, intensitas, durasi dan fluktuasi. Kata sifat yang
biasa digunakan untuk mendeskripsikan mood berupa depresif, putus asa mudah
tersinggung, cemas, marah, meluap-luap, euforik, hampa bersalah, terpesona. sia-sia,
rendah atau labil, berfluktuasi, atau berganti dengan cepat antara dua ekstrim (contohnya
tertawa keras dan ekspansif pada satu waktu, menangis dan putus asa di satu waktu
berikutnya) (Sadock dan sadock, 2014).
a) Mood eutimia
Adalah suasana perasaan dalam rentang normal, yakni individu mempunyai
penghayatan perasaan yang luas dan serasi dengan irama hidupnya (Sadock dan
sadock, 2014).
b) Mood hipotimia
Adalah suasana perasaan yang secara pervasif diwarnai dengan kesedihan dan
kemurungan. Individu secara subyektif mengeluhkan tentang kesedihan dan
kehilangan semangat. Secara obyektif tampak dari sikap murung dan perilakunya
yang lamban (Sadock dan sadock, 2014).
c) Mood disforia
Menggambarkan suasana perasaan yang tidak menyenangkan. Seringkali
diungkapkan sebagai perasaan jenuh, jengkel, atau bosan (Sadock dan sadock,
2014).
d) Mood hipertimia
Suasana perasaan yang secara perfasif memperlihatkan semangat dan
kegairahan yang berlebihan terhadap berbagai aktivitas kehidupan. Perilakunya
menjadi hiperaktif dan tampak enerjik secara berlebihan (Sadock dan sadock, 2014).
e) Mood eforia
Suasana perasaan gembira dan sejahtera secara berlebihan (Sadock dan
sadock, 2014).
f) Mood ekstasia
Suasana perasaan yang diwarnai dengan kegairahan yang meluap luap. Sering
terjadi pada orang yang menggunakan zat psikostimulansia (Sadock dan sadock,
2014).
g) Aleksitimia
Adalah suatu kondisi ketidakmampuan individu untuk menghayati suasana
perasaannya. Seringkali diungkapkan sebagai kedangkalan kehidupan emosi.
Seseorang dengan aleksitimia sangat sulit untuk mengungkapkan perasaannya
(Sadock dan sadock, 2014).
h) Anhedonia

Adalah suatu suasana perasaan yang diwarnai dengan kehilangan minat dan
kesenangan terhadap berbagai aktivitas kehidupan (Sadock dan sadock, 2014).
i) Mood kosong
Adalah kehidupan emosi yang sangat dangkal, tidak atau sangat sedikit
memiliki penghayatan suasana perasaan. Individu dengan mood kosong nyaris
kehilangan keterlibatan emosinya dengan kehidupan disekitarnya. Keadaan ini dapat
dijumpai pada pasien skizofrenia kronis (Sadock dan sadock, 2014).
j) Mood labil
Suasana perasaan yang berubah ubah dari waktu ke waktu. Pergantian
perasaan dari sedih, cemas, marah, eforia, muncul bergantian dan tak terduga. Dapat
ditemukan pada gangguan psikosis akut (Sadock dan sadock, 2014).
k) Mood iritabel
Suasana perasaan yang sensitif, mudah tersinggung, mudah marah dan
seringkali bereaksi berlebihan terhadap situasi yang tidak disenanginya (Sadock dan
sadock, 2014).
Afek
Afek didefinisikan sebagai responsivitas emosi pasien saat ini, yang tersirat dari
ekspresi wajah pasien, termasuk jumlah dan kisaran perilaku ekspresif. Afek dapat
kongruen atau tidak kongruen dengan mood. Afek dapat dideskripsikan sebagai normal,
menyempit, tumpul, atau datar. Dalam kisaran afek yang normal terdapat variasi ekspresi
wajah, nada suara, dan pergerakkan dan tubuh. Apabila afek menyempit, kisaran dan
intensitas ekspresi berkurang. Demikian halnya pada afek tumpul ekspresi emosi semakin
jauh berkurang. Untuk mendiagnosis datar, tidak boleh ditemukan tanda ekspresi afektik,
suara pasien monoton dan wajahnya tidak bergerak. Tumpul datar dan menyempit adalah
istilah yang digunakan untuk merujuk kepada kedalaman emosi yang tampak depresif,
bangga, marah, cemas, merasa bersalah, euforik dan meluap-luap adalah istilah ang
digunakan untuk merujuk kepada mood tertentu. Psikiater harus mengingat kesulitan
pasien dalam memulai, mempertahan emosional dan, atau mengakhiri suatu respons
emosional (Sadock dan sadock, 2014).
a. Afek luas

Adalah afek pada rentang normal, yaitu ekspresi emosi yang luas dengan
sejumlah variasi yang beragam dalam ekspresi wajah, irama suara maupun gerakan
tubuh, serasi dengan suasana yang dihayatinya (Sadock dan sadock, 2014).
b. Afek menyempit
Menggambarkan nuansa ekspresi emosi yang terbatas. Intensitas dan keluasan
dari ekspresi emosinya berkurang, yang dapat dilihat dari ekspresi wajah dan
bahasa tubuh yang kurang bervariasi (Sadock dan sadock, 2014).
c. Afek menumpul
Merupakan penurunan serius dari kemampuan ekspresi emosi yang tampak
dari tatapan mata kosong, irama suara monoton dan bahasa tubuh yang sangat
kurang (Sadock dan sadock, 2014).
d. Afek mendatar
Adalah suatu hendaya afektif berat lebih parah dari afek menumpul. Pada
keadaan ini dapat dikatakan individu kehilangan kemampuan ekspresi emosi.
Ekspresi wajah datar, pandangan mata kosong, sikap tubuh yang kaku, gerakan
gerakan sangat minimal, dan irama suara datar seperti robot (Sadock dan sadock,
2014).
e. Afek serasi
Menggambarkan keadaan normal dari ekspresi emosi yang terlihat dari
keserasian antara ekspresi emosi dan suasana yang dihayatinya (Sadock dan sadock,
2014).
f. Afek tidak serasi
Kondisi sebaliknya yakni ekspresi emosi yang tidak cocok dengan suasana
yang dihayati. Misalnya seseorang yang menceritakan suasana duka cita tapi
dengan wajah riang dan tertawa tawa (Sadock dan sadock, 2014).
g. Afek labil
Menggambarkan perubahan irama perasaan yang cepat dan tiba tiba, yang
tidak berhubungan dengan stimulus eksternal (Sadock dan sadock, 2014).
Kesesuaian Afek
Seorang psikiater dapat mempertimbangkan konteks kesesuaian respons emosi
pasien mengenai subjek yang sedang pasien bicarakan. Pasien waham yang sedang
menjelaskan waham kejar mestinya marah atau takut akan pengalaman yang dipercaya
terjadi pada dirinya. Kemarahan atau rasa takut adalah ekspresi yang sesuai dalam
konteks ini. Sejumlah psikiater mengistilahkan ketidaksesuaian afek untuk kualitas

respons yang terdapat pada beberapa pasien skizofrenik, yaitu ketika afek pasien tidak
kongruen dengan apa yang sedang ia katakan (contohnya afek datar saat membicarakan
impuls untuk membunuh) (Sadock dan sadock, 2014).
Karakteristik Gaya Bicara
Bagian laporan ini mendeskripsikan karakteristik fisik gaya bicara. Gaya bicara
dapat dideskripsikan berdasarkan kuantitas, laju produksi, dan kualitasnya. Pasien dapat
digambarkan sebagai banyak bicara, cerewet, fasih, pendiam, tidak spontan, atau
terespons normal terhadap petunjuk dari pewawancara. Gaya bicara dapat cepat atau
lambat, tertekan, tertahan, emosional, dramatis, monoton, keras, berbisik, cadel, terputusputus, atau bergumam. Gangguan bicara, contohnya gagap, dimasukkan dalam irama
yang tidak biasa. Apakah pasien berbicara spontan atau tidak (Sadock dan sadock, 2014).
Persepsi
Gangguan persepsi, seperti halusinasi dan ilusi mengenai dirinya atau
lingkungannya, dapat dialami oleh seseorang. Sistem sensoris yang terlibat (contohnya
auditorik, visual, olfaktorik, atau taktil). Situasi pada saat terjadinya pengalaman
halusinasi penting diketahui, halusinasi hipnagogik (terjadi saat pasien tertidur) dan
halusinasi hipnopompik (terjadi saat pasien terbangun). Halusinasi juga dapat terjadi pada
saat stres tertentu oleh pasien secara individual. Formikasi yaitu perasaan adany yang
merayap pada atau di bawah kulit, dapat ditemukan pada kokainisme (Sadock dan
sadock, 2014).
Contoh pertanyaan yang digunakan untuk menggali p alaman halusinasi meliputi
sebagai berikut : Pernahkah Anda mendengar suara-suara atau bunyi-bunyian ain yang
tidak didengar orang lain atau saat tidak ada orang di sekitar Anda? Pernahkah Anda
mengalami sensasi aneh pada tubuh Anda yang tampaknya tidak dirasakan oleh orang
lain? Pernahkah Anda melihat pemandangan atau hal yang sepertinya tidak dapat oleh
orang lain? Berikut ini jenis-jenis halusinasi :
1) Halusinasi hipnagogik
Persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika mulai jatuh tertidur, secara umum
bukan tergolong fenomena patologis (Sadock dan sadock, 2014).
2) Halusinasi hipnapompik
Persepsi sensorik keliru yang terjadi ketika seseorang mulai terbangun, secara
umum bukan tergolong fenomena patologis (Sadock dan sadock, 2014)
3) Halusinasi auditorik

Persepsi suara yang keliru, biasanya berupa suara orang meski dapat saja
berupa suara lain seperti musik, merupakan jenis halusinasi yang paling sering
ditemukan pada gangguan psikiatri (Sadock dan sadock, 2014).
4) Halusinasi visual
Persepsi penglihatan keliru yang dapat berupa bentuk jelas (orang) ataupun
bentuk tidak jelas (kilatan cahaya), sering kali terjadi pada gangguan medis umum
(Sadock dan sadock, 2014).
5) Halusinasi penciuman
Persepsi penghidu keliru yang seringkali terjadi pada gangguan medis umum
(Sadock dan sadock, 2014).
6) Halusinasi pengecapan atau gustatorik
Yaitu suatu persepsi pengecapan keliru seperti rasa tidak enak sebagai gejala
awal kejang, seringkali terjadi pada gangguan medis umum (Sadock dan sadock,
2014).
7) Halusinasi taktil
Persepsi perabaan keliru seperti phantom libs (sensasi anggota tubuh
teramputasi), atau formikasi (sensasi merayap di bawah kulit) (Sadock dan sadock,
2014).
8) Halusinasi somatik
Sensasi keliru yang terjadi pada atau di dalam tubuhnya, lebih sering
menyangkut organ dalam (juga dikenal sebagai cenesthesic hallucination) (Sadock
dan sadock, 2014).
9) Halusinasi liliput
Persepsi keliru yang mengakibatkan obyek terlihat lebih kecil (micropsia)
(Sadock dan sadock, 2014).
Isi Pikir dan Kecenderungan Mental
Pikiran dapat dibagi menjadi proses (atau bentuk) dan isi. Proses merujuk pada
cara seseorang menyatukan ide dan asosia yaitu bentuk kerangka berpikir seseorang.
Proses atau bentuk pikir dapat bersifat logis dan koheren atau sangat tidak logis dan
bahkan tidak dapat dipahami. Isi merujuk pada apa yang sebenarnya dipikirkan
seseorang: ide, kepercayaan, preokupasi, obsesi (Sadock dan sadock, 2014).
Proses Pikir (Bentuk pikir)
Pasien dapat memiliki ide yang sangat banyak atau justru miskin ide. Dapat
terjadi proses pikir yang cepat, yang bila berlangsung sangat ekstrim disebut flight of
ideas. Seorang pasien dapat juga menunjukkan cara berpikir yang lambat atau tertahan.

Pikiran dapat samar atau kosong. Apakah jawaban pasien benar-benar dapat memberikan
jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan, dan apakah pasien mampu berpikir yang
mengarah ke tujuan? Apakah jawaban relevan atau tidak relevan? Apakah terdapat
hubungan sebab-akibat yang jelas dalam penjelasan pasien? Apakah pasien memiliki
asosiasilonggar (contohnya, apakah ide yang diungkapkan tampak tidak berhubungan
atau berhubungan secara idiosinkratik)? Gangguan kontinuitas pikir meliputi :
a. Gangguan bentuk pikir atau arus pikir
Asosiasi longgar, gangguan arus pikir dengan ide-ide yang berpindah dari satu
subjek ke subyek lain yang tidak berhubungan sama sekali; dalam bentuk yang
b.

lebih parah disebut inkoherensia (Sadock dan sadock, 2014).


Inkoherensia
Pikiran yang secara umum tidak dapat kita mengerti, pikiran atau kata keluar
bersama-sama tanpa hubungan yang logis atau tata bahasa tertentu hasil

c.

disorganisasi pikir (Sadock dan sadock, 2014).


Flight of Ideas
Pikiran yang sangat cepat, verbalisasi berlanjut atau permainan kata yang
menghasilkan perpindahan yang konstan dari satu ide ke ide lainnya; ide biasanya
berhubungan dan dalam bentuk yang tidak parah, pendengar mungkin dapat

d.

mengikuti jalan pikirnya (Sadock dan sadock, 2014).


Sirkumtansial
Pembicaraan yang tidak langsung sehingga lambat mencapai point yang
diharapkan, tetapi seringkali akhirnya mencapai point atau tujuan yang diharapkan,
sering diakibatkan keterpakuan yang berlebihan pada detail dan petunjuk-petunjuk
(Sadock dan sadock, 2014).

e.

Tangensial
Ketidakmampuan untuk mencapai tujuan secara langsung dan seringkali pada
akhirnya tidak mencapai point atau tujuan yang diharapkan (Sadock dan sadock,
2014).

Isi pikir
Berikut adalah gangguan-gangguan pada isi pikir :
a) Kemiskinan isi pikir
Pikiran yang hanya menghasilkan sedkit informasi dikarenakan ketidakjelasan,
pengulangan yang kosong, atau frase yang tidak dikenal (Sadock dan sadock,
b)

2014).
Waham atau delusi

Satu perasaan keyakinan atau kepercayaan yang keliru, berdasarkan simpulan yang
keliru tentang kenyataan eksternal, tidak konsisten dengan intelegensia dan latar
belakang budaya pasien, dan tidak bisa diubah lewat penalaran atau dengan jalan
penyajian fakta. Jenis-jenis waham :
a. Waham bizarre
Keyakinan yang keliru, mustahil dan aneh (contoh: makhluk angkasa
b.

luar menanamkan elektroda di otak manusia) (Sadock dan sadock, 2014).


Waham sistematik
Keyakinan yang keliru atau keyakinana yang tergabung dengan satu
tema/kejadian (contoh: orang yang dikejar-kejar polisi atau mafia) (Sadock

c.

dan sadock, 2014).


Waham nihilistik
Perasaan yang keliru bahwa diri dan lingkungannya atau dunia tidak ada
atau menuju kiamat (Sadock dan sadock, 2014).

d.

e.

Waham somatik
Keyakinan yang keliru melibatkan fungsi tubuh (contoh: yakin otaknya
meleleh) (Sadock dan sadock, 2014).
Waham paranoid
Termasuk di dalamnya waham kebesaran, waham kejaran atau
persekutorik, waham rujukan (reference), dan waham dikendalikan (Sadock

f.

dan sadock, 2014).


Waham kebesaran
Keyakinan atau kepercayaan, biasanya psikotik sifatnya, bahwa dirinya
adalah orang yang sangat kuat, sangat berkuasa atau sangat besar (Sadock dan

g.

sadock, 2014).
Waham kejaran (persekutorik)
Satu delusi yang menandai seorang paranoid, yang mengira bahwa
dirinya adalah korban dari usaha untuk melukainya, atau yang mendorong
agar dia gagal dalam tindakannya. Kepercayaan ini sering dirupakan dalam
bentuk komplotan yang khayali, dokter dan keluarga pasien dicurigasi
bersamasama berkomplot untuk merugikan, merusak, mencederai, atau

h.

menghancurkan dirinya (Sadock dan sadock, 2014).


Waham rujukan (delusion of reference)

Satu kepercayaan keliru yang meyakini bahwa tingkah laku orang lain
itu pasti akan memfitnah, membahayakan, atau akan menjahati dirinya
(Sadock dan sadock, 2014).
Waham dikendalikan
Keyakinan yang keliru bahwa keinginan, pikiran, atau perasaannya

i.

dikendalikan oleh kekuatan dari luar. Termasuk di dalamnya: thought


withdrawal: waham bahwa pikirannya ditarik oleh orang lain atau kekuatan
lain, thought insertion: waham bahwa pikirannya disisipi oleh orang lain atau
kekuatan lain, thought broadcasting: waham bahwa pikirannya dapat
diketahui oleh orang lain, tersiar di udara, thought control: waham bahwa
pikirannya dikendalikan oleh orang lain atau kekuatan lain (Sadock dan
sadock, 2014).
Waham cemburu
Keyakinan yang keliru yang berasal dari cemburu patologis tentang

j.

c)

pasangan yang tidak setia (Sadock dan sadock, 2014).


Obsesi
Satu ide yang menetap dan seringkali tidak rasional, yang biasanya dibarengi satu
kompulsi untuk melakukan suatu perbuatan, tidak dapat dihilangkan dengan usaha

d)

yang logis, berhubungan dengan kecemasan (Sadock dan sadock, 2014).


Kompulsi
Kebutuhan dan tindakan patologis untuk melaksanakan suatu impuls, jika ditahan
akan menimbulkan kecemasan, perilaku berulang sebagai respons dari obsesi atau

e)

timbul untuk memenuhi satu aturan tertentu (Sadock dan sadock, 2014).
Fobia
Ketakutan patologis yang persisten, irasional, berlebihan, dan selalu terjadi
berhubungan dengan stimulus atau situasi spesifik yang mengakibatkan keinginan
yang memaksa untuk menghindari stimulus tersebut. Beberapa contoh di antaranya:
a) Fobia spesifik, ketakutan yang terbatas pada obyek atau situasi khusus
(contoh takut pada labal-aba atau ular.
b) Fobia sosial, ketakutan dipermalukan di depan publik seperti rasa takut untuk
c)
d)
e)
f)
g)
h)

berbicara, tampil, atau makan di depan umum.


Akrofobia, ketakutan berada di tempat yang tinggi.
Agorafobia, ketakutan berada di tempat yang terbuka.
Klaustrofobia, ketakutan berada di tempat yang sempit.
Ailurofobia, ketakutan pada kucing.
Zoofobia, ketakutan pada binatang.
Xenofobia, ketakutan pada orang asing.

i) Fobia jarum, ketakutan yang berlebihan menerima suntikan (Sadock dan


sadock, 2014).
Sensorium dan Fungsi Kognitif
Kesadaran.
Gangguan kesadaran biasanya mengindikasikan adanya kerusakan organik pada
otak. Contoh dari kesadaran sendiri adalah seperti kesadaran terhadap lingkungan, jangka
waktu perhatian, kesadaran berkabut, fluktuasi tingkat kesadaran, somnolen, stupor,
kelelahan, stupor dan keadaan fugue (Sadock dan sadock, 2014).
Orientasi dan memori.
Gangguan orientasi biasanya dibagi menjadi tempat, waktu, tempat dan orang.
Psikiater harus menentukan apakah pasien dapat mengathui tanggal dan jam saat ini.
Pada pernyataan mengenai orientasi pasien terhadap tempat, tidak cukup bila hanya
pasien hanya mampu menyebutkan nama dan lokasi mereka berada, mereka juga harus
berlaku seolah mereka tahu tempat dimana mereka berada. Dalam mengkaji orientasi
terhadap orang psikiater akan menanyakan apakah pasien mengetahui siapa yang
memeriksa dan apa peran dari orang-orang yang bertemu denganya. Hanya dalam contoh
yang sangat parah pasien sampai tidak mengenali dirinya sendiri. Fungsi ingatan biasanya
dibagi menjadi empat area seperti ingatan jangka panjang menengah dan pendek serta
retensi ingatan dan pengingatan (recall) segera (Sadock dan sadock, 2014).
1) Daya ingat jangka panjang (remote memory)
Data masa kanak-kanak, peristiwa penting yang terjadi ketika masih muda
atau bebas dari penyakit, persoalan-persoalan pribadi (Sadock dan sadock, 2014).
2) Daya ingat jangka pendek (Recent past memory, recent memory)
Beberapa bulan atau beberapa hari yang lalu, apa yang dilakukan pasien
kemarin, sehari sebelumnya, sudah sarapan, makan siang, makan malam (Sadock
dan sadock, 2014).
3) Daya ingat segera (immediate retention and recall)
Kemampuan untuk mengulangi enam

angka

setelah

pemeriksa

mendiktekannya pertama maju, kemudian mundur, sedudah beberapa menit


interupsi, tes pertanyaan yang lain, pertanyaan yang sama, jika diulang, sebutkan
empat perbedaan jawaban pada empat waktu (Sadock dan sadock, 2014).
Konsentrasi dan Perhatian

Konsentrasi pasien dapat terganggu karena berbagai alasan. Gangguan kognitif,


ansietas, depresi dan stimulus internal seperti halusinasi auditorik, semuanya dapat
berperan menyebabkan gangguan konsentrasi. Apakah pasien mampu mengurangkan 7
dari 100 dan terus mengulanginya dengan kelipatan 7. Jika pasien tidak dapat
mengurangi dengan kelipatan 7 mampukah ia melakukanya dengan kelipatan 3. Pasien
diberi tugas lebih mudah seperti 4 x 9. Jika tidak dapat menjawab pasien tersebut
mungkin mengalami beberapa gangguan mood atau konsentrasi (Sadock dan sadock,
2014).
Membaca dan menulis.
Pasien diminta untuk membaca suatu kalimat, kemudian mengerjakan hal
diperintahkan oleh kalimat itu. Pasien juga diminta untuk menulis kalimat sederhana
namun lengkap (Sadock dan sadock, 2014).
Kemampuan visuospasial
Pasien harus diminta untuk menyalin suatu gambar, misal bagian depan jam
dinding atau seglima bertumpuk (Sadock dan sadock, 2014).
Pikiran Abstrak
Gangguan dalam formulasi konsep, cara pasien mengkonsepsualisasikan atau
menggunakan ide-idenya (misalnya membedakan antara apel dan pear, abnormalitas
dalam mengartikan peribahasa yang sederhana, misalnya Tiada gading yang tak retak)
memberikan contoh-contoh yang spesifik terhadap ilustrasi atau arti atau sangat abstrak
(memberikan penjelasan yang umum). Pada reaksi katastrofik, pasien dengan kerusakan
otak menjadi sangat emosional dan tidak dapat berpikir secara abstrak (Sadock dan
sadock, 2014).
Intelegensi dan informasi
Bila dicurigai terdapat gangguan kognitif, apakah pasien mengalami kesulitan
dengan tugas mental contohnya seperti menghitung kembalian (Sadock dan sadock,
2014).
Impulsivitas

Apakah pasien mampu mengendalikan impuls seks, agresi dan impuls lainya.
Pasien mungkin tidak mengendalikan impuls akibat suatu gangguan kognitif atau psikotik
atau merupakan suatu hasil defek karakter yang kronik (Sadock dan sadock, 2014).
Daya Nilai dan Tilikan
Tilikan
Ringkasan tilikan adalah sebagai berikut : 1) Penyangkalan sepenuhnya terhadap
penyakit 2) Sedikit kesadaran diri akan adanya penyakit dan meminta pertolongan tetapi
menyangkalinya pada saat yang bersamaan 3) Sadar akan adanya penyakit tetapi
menyalahkan orang lain, faktor luar, medis atau faktor organik yang tidak diketahui. 4)
Sadar bahwa penyakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak diketahui pada dirinya. 5)
Tilikan Intelektual yaitu pengakuan sakit dan mengetahui gejala dan kegagalan dalam
penyesuaian sosial oleh karena perasaan irrasional atau terganggu, tanpa menerapkan
pengetahuannya untuk pengalaman dimasa mendatang

6) Tilikan Emosional yang

sebenarnya yaitu kesadaran emosional terhadap motif-motif perasaan dalam, yang


mendasari arti dari gejala; ada kesadaran yang menyebabkan perubahan kepribadian dan
tingkah laku dimasa mendatang, keterbukaan terhadap ide dan konsep yang baru
mengenai diri sendiri dan orang-orang penting dalam kehidupannya (Sadock dan sadock,
2014).
Daya nilai
Mengkaji kemampuan pasien dalam melakukan penilaian sosial. Manifestasi
perilaku yang tidak kentara yang membahayakan pasien dan berlawanan dengan tingkah
laku yang dapat diterima budayanya. Dapatkah pasien meramalkan apa yang akan
dilakukannya dalam suatu situasi imajiner? (Sadock dan sadock, 2014)
Realiabilitas
Bagian status mental ini menyimpulkan kesan psikiater tentang sejauh mana pasien
dapat dipercaya dan kemampuan untuk melaporkan keadaannya secara akurat. Hal ini
mencangkup perkiraan kesan psikiater terhadap kejujuran atau keterusterangan pasien.
Sebagai contoh, jika pasien terbuka mengenai penyalahgunaan obat tertentu secara aktif
atau mengenai keadaan yang menurut pasien dapat berpengaruh buruk, psikiater dapat
memperkirakan bahwa realibilitas pasien adalah baik (Sadock dan sadock, 2014).