Anda di halaman 1dari 8

Tugas 2

M.K “Islam Disiplin Ilmu”

“PROSES KEJADIAN MANUSIA”

oleh:

YENNY KASIM
9229 0050

JURUSAN TEKNIK KIMIA


UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2009
“PROSES KEJADIAN MANUSIA”
(AL-MUKMINUN : 12-14)

Artinya :
“ Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian
Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani
itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal
daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian
Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”.
(Al-Mukminun : 12-14).

Pada surat Al Mukminun ayat 12 -14 Allah SWT menjelaskan bahwa proses penciptaan
manusia dalam rahim ibunya terbagi menjadi 3 fase yaitu:
1. Fase air mani
2. Fase segumpal darah
3. Fase segumpal daging

Ayat-ayat di atas menerangkan tahap-tahap penciptaan manusia dari suatu keadaan kepada
keadaan lain, yang menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan-Nya sehingga hanya kepada-Nyalah
saja berhak untuk diibadahi.
Begitu pula penggambaran penciptaan Adam ‘Alaihis Salam yang Dia ciptakan dari suatu
saripati yang berasal dari tanah berwarna hitam dan diberi bentuk.
Tanah tersebut diambil dari seluruh bagiannya, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi Wa Sallam :
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam (sepenuh telapak tangan) tanah yang
diambil dari seluruh bagiannya. Maka datanglah anak Adam (memenuhi penjuru bumi dengan
beragam warna kulit dan tabiat). Di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan
di antara yang demikian. Di antara mereka ada yang bertabiat lembut, dan ada
pula yang keras, ada yang berperangai buruk (kafir) dan ada yang baik (Mukmin).”

Created by :
Yenny Kasim
wnr_yo@yahoo.com
(HR. Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi, berkata Tirmidzi : ‘Hasan shahih’.
Dishahihkan oleh Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi juz 3 hadits 2355
dan Shahih Sunan Abu Daud juz 3 hadits 3925).
Dan ke saripati itulah semua manusia akan kembali. Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan
Adam ‘Alaihis Salam dari tanah. Dia ciptakan pula Hawa ‘Alaihas Salam dari Adam.
Dari Adam dan Hawa ‘Alaihimas Salam inilah terlahir anak-anak manusia di muka bumi dan
berketurunan dari air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan hingga
hari kiamat nanti (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 457) Imam Thabari rahimahullah dan
selainnya mengatakan bahwa diciptakan anak Adam dari mani Adam dan Adam sendiri diciptakan dari
tanah. (Lihat Tafsir Ath Thabari juz 9 halaman 202)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan nuthfah (yakni air mani yang terpancar dari laki-laki dan
perempuan dan bertemu ketika terjadi jima’) dalam rahim seorang ibu sampai waktu tertentu. Dia
Yang Maha Kuasa menjadikan rahim itu sebagai tempat yang aman dan kokoh untuk menyimpan
calon manusia.
Dari nuthfah, Allah jadikan ‘alaqah yakni segumpal darah beku yang bergantung di dinding
rahim. Dari ‘alaqah menjadi mudhghah yakni sepotong daging kecil yang belum memiliki bentuk.
Setelah itu dari sepotong daging bakal anak manusia tersebut, Allah Subhanahu
wa Ta’ala kemudian membentuknya memiliki kepala, dua tangan, dua kaki
dengan tulang-tulang dan urat-uratnya. Lalu Dia menciptakan daging untuk
menyelubungi tulang-tulang tersebut agar menjadi kokoh dan kuat. Ditiupkanlah
ruh, lalu bergeraklah makhluk tersebut menjadi makhluk baru yang dapat melihat, mendengar, dan
meraba. (Bisa dilihat keterangan tentang hal ini dalam kitab-kitab tafsir, antara lain dalam Tafsir Ath
Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain).
Demikianlah kemahakuasaan Rabb Pencipta segala sesuatu, sungguh dapat mengundang
kekaguman dan ketakjuban manusia yang mau menggunakan akal sehatnya. Semoga Allah meridhai
‘Umar Ibnul Khaththab, ketika turun awal ayat di atas (tentang penciptaan manusia) terucap dari
lisannya pujian :
“Fatabarakallahu ahsanul khaliqin” Maha Suci Allah, Pencipa Yang Paling Baik Lalu Allah turunkan
firman-Nya :
“Fatabarakallahu ahsanul khaliqin” untuk melengkapi ayat di atas. (Lihat Asbabun Nuzul oleh Imam
Suyuthi, Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 241, dan Aysarut Tafasir Abu Bakar Jabir Al Jazairi juz 3
halaman 507-508).
Maha Kuasa Allah Tabaraka wa Ta’ala, Dia memindahkan calon manusia dari nuthfah menjadi ‘alaqah.
Dari ‘alaqah menjadi mudhghah dan seterusnya tanpa membelah perut sang ibu bahkan calon
manusia tersebut tersembunyi dalam tiga kegelapan.

Created by :
Yenny Kasim
wnr_yo@yahoo.com
Yang dimaksud “tiga kegelapan” dalam ayat di atas adalah kegelapan dalam selaput yang
menutup bayi dalam rahim, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam perut. Demikian yang
dikatakan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Abu Malik, Adh Dhahhak, Qatadah, As Sudy, dan Ibnu Zaid.
(Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 46 dan keterangan dalam Adlwaul Bayan juz 5 halaman 778).

Sekarang kita lihat keterangan tentang kejadian manusia dari hadits-hadits Rasulullah
Shallallahu ‘AlaihiWaSallam. Abi ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :
Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam dan beliau adalah yang
selalu benar (jujur) dan dibenarkan. Beliau bersabda :
“Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa
nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian menjadi gumpalan
seperti sekerat daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang Malaikat maka ia
meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezkinya, ajalnya, amalnya,
sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada illah selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian
ada yang beramal dengan amalan ahli Surga sehingga tidak ada di antara dia dan Surga melainkan
hanya tinggal sehasta, maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan
ahli neraka sehingga ia memasukinya. Dan sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal
dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka melainkan hanya tinggal sehasta.
Maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli Surga sehingga ia
memasukinya.” (HR. Bukhari 6/303 -Fathul Bari dan Muslim 2643, shahih).
Berita Nubuwwah di atas mengabarkan bahwa proses perubahan janin anak manusia
berlangsung selama 120 hari dalam tiga bentuk yang tiap-tiap bentuk berlangsung selama 40 hari.
Yakni 40 hari pertama sebagai nuthfah, 40 hari kedua dalam bentuk segumpal darah, dan 40 hari
ketiga dalam bentuk segumpal daging. Setelah berlalu 120 hari, Allah perintahkan seorang Malaikat
untuk meniupkan ruh dan menuliskan untuknya 4 perkara di atas.
Dalam riwayat lain : Malaikat masuk menuju nuthfah setelah nuthfah itu menetap dalam
rahim selama 40 atau 45 malam, maka Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Apakah (nasibnya)
sengsara atau bahagia?” Lalu ia menulisnya. Kemudian berkata lagi : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau
perempuan?”
Lalu ia menulisnya dan ditulis (pula) amalnya, atsarnya[1], ajalnya, dan rezkinya, kemudian digulung
lembaran catatan tidak ditambah padanya dan tidak dikurangi. (HR. Muslim dan Hudzaifah bin Usaid
radhiallahu ‘anhu, shahih).
Dalam Ash Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam
bersabda : Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : “Wahai
Rabbku! Nuthfah, Wahai Rabbku! Segumpal darah, wahai Rabbku! Segumpal daging.” Maka apabila
Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : “Wahai

Created by :
Yenny Kasim
wnr_yo@yahoo.com
Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan
rezkinya? Bagaimana ajalnya?”, Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya. (HR. Bukhari
`11/477 -Fathul Bari dan Muslim 2646 riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Dari beberapa riwayat di atas, ulama menggabungkannya sehingga dipahami bahwasanya Malaikat
yang ditugasi menjaga rahim terus memperhatikan keadaan nuthfah dan ia berkata : “Wahai Rabbku!
Ini ‘alaqah, ini mudhghah” pada waktu-waktu tertentu saat terjadinya perubahan dengan perintah
Allah dan Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha Tahu. Adapun Malaikat yang ditugasi, ia baru mengetahui
setelah terjadinya perubahan tersebut karena tidaklah semua nuthfah akan menjadi anak. Perubahan
nuthfah itu terjadi pada waktu 40 hari yang pertama dan saat itulah ditulis rezki, ajal, amal, dan
sengsara atau bahagianya. Kemudian pada waktu yang lain, Malaikat tersebut menjalankan tugas yang
lain yakni membentuk calon manusia tersebut dan membentuk pendengaran, penglihatan, kulit,
daging, dan tulang, apakah calon manusia itu laki-laki ataukah perempuan. Yang demikian itu terjadi
pada waktu 40 hari yang ketiga saat janin berbentuk mudhghah dan sebelum ditiupkannya ruh karena
ruh baru ditiup setelah sempurna bentuknya.
Adapun sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
Apabila telah melewati nuthfah waktu 42 malam, Allah mengutus padanya seorang Malaikat, maka dia
membentuknya dan membentuk pendengarannya, panglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan
tulangnya. Kemudian Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan … .”

Al Qadhi ‘Iyadl dan selainnya mengatakan bahwasanya sabda beliau Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam di
atas tidak menunjukkan dhahirnya dan tidak benar pendapat yang membawakan hadits ini pada
makna dhahirnya. Akan tetapi yang dimaksudkan maka dia membentuknya dan membentuk
pendengarannya, penglihatannya … dan seterusnya adalah bahwasanya Malaikat itu menulis yang
demikian, kemudian pelaksanaannya pada waktu yang lain (pada waktu 40 hari yang ketiga) dan tidak
mungkin pada waktu 40 hari yang pertama. Urutan perubahan tersebut sebagaimana firman Allah
Ta’ala dalam surat Al Mukminun ayat 12 sampai 14. (Lihat keterangan hal ini dalam Shahih Muslim
Syarah Imam An Nawawi, halaman 189-191).
Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (II/484) membawakan secara ringkas
perkataan Ibnu Ash Shalah :
“Adapun sabda beliau Shallallahu ‘AlaihiWaSallam dalam hadits Hudzaifah bahwasanya pembentukan
terjadi pada awal waktu 40 hari yang kedua. Sedangkan dalam dhahir hadits Ibnu Mas’ud dikatakan
bahwa pembentukan baru terjadi setelah calon anak manusia menjadi mudhghah (segumpal daging).
Maka hadits yang pertama (hadits Hudzaifah) dibawa pengertiannya kepada pembentukan secara
lafadh dan secara penulisan saja belum ada perbuatan, yakni pada masa itu disebutkan bagaimana
pembentukan calon anak manusia dan Malaikat yang ditugasi menuliskannya.”

Created by :
Yenny Kasim
wnr_yo@yahoo.com
Dalam ta’liq kitab Tuhfatul Wadud halaman 203-204 disebutkan bahwasanya hadits yang
menyatakan Malaikat membentuk nuthfah setelah berada di rahim selama 40 malam, tidaklah
bertentangan dengan hadits-hadits yang lain. Karena pembentukan Malaikat atas nuthfah terjadi
setelah nuthfah tersebut bergantung di dinding rahim selama 40 hari yakni ketika telah berubah
menjadi mudhghah. Wallahu A’lam.
Perubahan janin dari nuthfah menjadi ‘alaqah dan seterusnya itu berlangsung setahap demi
setahap (tidak sekaligus). Pada waktu 40 hari yang pertama, darah masih bercampur dengan nuthfah,
terus bercampur sedikit demi sedikit hingga sempurna menjadi ‘alaqah pada 40 hari yang kedua, dan
sebelum itu tidaklah ia dinamakan ‘alaqah. Kemudian ‘alaqah bercampur dengan daging, sedikit demi
sedikit hingga berubah menjadi mudhghah. (Lihat Fathul Bari).
Tatkala telah sempurna waktu 4 bulan, ditiupkanlah ruh dan hal ini telah disepakati oleh
ulama. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah membangun madzhabnya yang masyhur berdasarkan
dhahir hadits Ibnu Mas’ud bahwasanya anak ditiupkan ruh padanya setelah berlalu waktu 4 bulan.
Karena itu bila janin seorang wanita gugur setelah sempurna 4 bulan, janin tersebut dishalatkan (telah
memiliki ruh kemudian meninggal). Diriwayatkan yang demikian juga dari Sa’id Ibnul Musayyib dan
merupakan salah satu dari pendapatnya Imam Syafi’i dan Ishaq.
Dinukilkan dari Imam Ahmad bahwasanya ia berkata : “Apabila janin telah mencapai umur 4 bulan 10
hari, maka pada waktu yang 10 hari itu ditiupkan padanya ruh dan dishalatkan atasnya (bila janin
tersebut gugur).” (Lihat Iqadzul Himam Al Muntaqa min Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam halaman 88-89
oleh Abi Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali).
Kita lihat dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas bahwasanya penulisan Malaikat terjadi setelah
berlalu waktu 40 hari yang ketiga. Sedangkan pada riwayat-riwayat di atas, penulisan Malaikat terjadi
setelah waktu 40 hari yang pertama. Riwayat-riwayat tersebut tidaklah bertentangan.
Imam An Nawawi rahimahullah menerangkan dalam Syarah Muslim (juz 5 halaman 191) setelah
membawakan lafadh hadits dari Imam Bukhari berikut ini :
‘Sesungguhnya penciptaan setiap kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari (sebagai
nuthfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga. Kemudian menjadi segumpal daging
selama itu juga. Kemudian Allah mengutus seorang Malaikat dan diperintah (untuk menuliskan)
empat perkara, rezkinya dan ajalnya, sengsara atau bahagianya. Kemudian ditiupkan ruh padanya … .’
Yang jelas penulisan takdir untuk janin di perut ibunya bukanlah penulisan takdir yang ditetapkan
untuk semua makhluk sebelum makhluk itu dicipta. Karena takdir yang demikian telah ditetapkan
50.000 tahun sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari Abdullah bin
‘Amr radhiallahu ‘anhuma :
“Sesungguhnya Allah menetapkan takdir-takdir makhluknya lima puluh ribu tahun sebelum
menciptakan langit-langit dan bumi.” (HR. Muslim 2653, shahih)

Created by :
Yenny Kasim
wnr_yo@yahoo.com
Dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘AlaihiWaSallam, beliau
bersabda : Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena (Al Qalam). Lalu Dia berfirman kepadanya :
“Tulislah!” Maka pena menuliskan segala apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. (HR. Abu Daud
4700, Tirmidzi 2100, dan selain keduanya. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Iqadzul
Himam)
Banyak nash yang menyebutkan bahwa penetapan takdir
seseorang apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara telah ditulis terdahulu. Antara lain
dalam Shahihain dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi
WaSallam bersabda :
“Tidak ada satu jiwa melainkan Allah telah menulis tempatnya di Surga atau di neraka dan telah
ditulis sengsara atau bahagia.” .
Maka seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah! Mengapa kita tidak mengikuti (saja) ketentuan
kita (yang telah ditulis) dan kita tinggalkan amal?” Maka beliau bersabda : “Beramal-lah, maka setiap
orang akan dimudahkan terhadap apa yang ditetapkan baginya. Adapun orang yang bahagia akan
dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang bahagia. Adapun orang yang sengsara
akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang sengsara.” Kemudian beliau
membaca : “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan
membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan
yang mudah.” (QS. Al Lail : 5-7) [HR. Bukhari 3/225 -Fathul Bari dan Muslim 2647]
Bahagia atau sengsara seseorang ditentukan oleh akhir amalnya, sebagaimana diisyaratkan dalam
hadits Ibnu Mas’ud di atas. Demikian pula dalam hadits berikut, dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu
dari Nabi Shallallahu ‘AlaihiWaSallam, beliau bersabda :
“Sesungguhnya hanyalah amal-amal ditentukan pada akhirnya (penutupnya).” (HR. Bukhari 11/330
Fathul Bari).
Catatan:
[1] Artinya : Jejak kehidupannya.
[2] Ma’thuf merupakan istilah dalam ilmu nahwu yang bermakna kurang lebih lafadh yang mengikuti
lafadh tertentu yang terletak sebelumnya.
[3] Ma’thuf ‘alaih bermakna lafadh yang diikuti oleh lafadh tertentu yang terletak sesudahnya

Dalam suatu riwayat dikemukaan bahwa pandangan Umar sejalan dengan kehendak dalam
empat hal, antara lain mengenai turunnya ayat, Wa la qad khlaqal insane min sulalatim main thin
(Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah) (Q.S 23
Al Mu’minun:12) sampai, … Khalqan Akhar … (… mahluk berbentuk lain…) (Q.S 23 Al-Mu’minun:
14). Pada waktu mendengar ayat tersebut, Umar berkata:Fa tabarakallahu ahsanul khaliqin (Maka

Created by :
Yenny Kasim
wnr_yo@yahoo.com
Maha Sucilah Allah Pencipta yang Paling Baik).” Maka turunlah akhir ayat tersebut (Q.S Al-Mu’minun:
14) yang sejalan dengan ucapan umar itu.

Allah menjadikan manusia dari khulasah (sari) tanah, artinya asal mulanya manusia itu
dijadikan Allah dari tanah. Menurut pendapat ahli pengetahuan bahwa bumi ini sebagian dari
matahari, sebab ia pada mula-mulanya sangat panas dan bernyala-nyala, sebagaimana matahari itu.
Tetapi lama kelamaan menjadi dinginlah kulitnya yang terbelah keluar, sedang isinya yang didalam
masih panas juga.
Pertimbangan yang terkenal dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas
pembelajaran ayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad
SAW adalah utusan Allah. Kata alaqah dalam bahasa Arab memiliki tiga arti. Pertama, berarti pacet
atau lintah; kedua, berarti sesuatu yang tertutup; dan ketiga, berarti segumpal darah. Dalam
perbandingan lintah air tawar dengan em-brio pada tingkat alaqah, Profesor Moore menemukan
persamaan yang besar di antara keduanya. Dia menyimpulkan bahwa embrio selama tingkatan alaqah
kenampakannya mirip dengan lintah itu. Profesor Moore menempatkan gambar sisi embrio dengan sisi
gambar seekor lintah. Dia memperlihatkan gambar gambar ini kepada para ilmuwan di beberapa
konferensi.

Kesimpulan kandungan surat Al Mukminun ayat 12-14 ini antara lain:


1. Menjelaskan tentang proses kejadian manusia
2. Allah memberi kesempatan hidup di dunia kepada manusia
3. Usia manusia ditentukan oleh Allah SWT
4. Manusia diperintahkan untuk memikirkan proses kejadiannya agar tidak sombong kepada
Allah dan sesama manusia

PUSTAKA :

Al-Qur’anul Karim, Surah Al Mukminun Ayat 12-14.

Anshul, 2009, “Al Mukminun ayat 12-14”, http://ayat2kehidupan.blogspot.com/2009/02/al-


mukminun-ayat-12-14.html

Ismail, B., 2008, “Manusia Sebagai Khalifah”, http://hbis.wordpress.com/2008/12/03/manusia-


sebagai-khalifah/

Satria, 2008, “Al Mukminun”, http://satria13-kucing.blog.friendster.com/.

Created by :
Yenny Kasim
wnr_yo@yahoo.com