Anda di halaman 1dari 36

c 

 

TUGAS 1 SYARI‫ڊ‬AH

KEMUKAKAN PENGERTIAN, JENIS/MACAM-MACAMNYA DAN CONTOH/KAPAN


DIMANFAATKAN DARI :
1. IJTIHAD
2. IJMA
3. QIYAS
4. ISTISHLAH
5. ISTIHSAN
6. ISTIDLAL
7. ISTISHAB
8. URF
9. SADDUDDZARIAH

a a
  
c 


 

m 
 


  (Arab: Ú  ) adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh,
yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah
berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak
dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan
akal sehat dan pertimbangan matang.
Secara etimologis, ijtihad diambil dari kata Y Y atau
Y , yang berarti Y YY Y
(kesulitan dan kesusahan)
dan Y

YY
(kesanggupan dan kemampuan).Ijtihad adalah
YY dari Y  
YY.Penambahan YY dan
Y pada
kata jahada menjadi 
YY pada wajan 
YY Y berarti,
‫ڍ‬usaha itu lebih sungguh-sungguh‫ڎ‬.Seperti halnya YYY
menjadi 
YYY, yang berarti ‫ڍ‬usaha lebih kuat dan sungguh-
sungguh.‫ڎ‬Oleh sebab itu, ijtihad berarti usaha keras atau
pengerahan daya upaya ( 
Y Y  atau Y  Y 
).Dengan demikian, ijtihad berarti usaha maksimal untuk
mendapatkan atau memperoleh sesuatu.Sebaliknya, suatu usaha
yang dilakukan tidak maksimal dan tidak menggunakan daya upaya
yang keras tidak disebut ijtihad, melainkan daya nalar biasa,
Y  Y atau Y

Y  .(Rachmat Syafe‫ڊ‬i:1998)


   

Menurut Muhammad Taqiyu al-Hakim membagi ijtihad menjadi dua
bagian, yaitu :
1) Ijtihad al-Aqli, yaitu ijtihad yang hujjahnya didasarkan
pada akal tidak menggunakan dalil syara‫ڊ‬

a a
  
c 


 

2) Ijtihad syar‫ڊ‬i, yaitu ijtihad yang didasarkan pada syara‫ڊ‬.

Garis besarnya ijtihad dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu


ijtihad fardi dan ijtihad jami‫ڊ‬i.

a) Ijtihad   ialah‫ڔ‬....
Artinya :
Ô  
   
  

  

     

     




   
Ijtihad semacam inilah yang pernah dibenarkan oleh rasul
kepada Muaz ketika menggutus beliau untuk menjadi qadhi di
yaman dan sesuai pula yang pernah dilakukan Umar bin khatap
kepada Abu musa al-asyary, kepada Syuraikh dimana beliau
(Umar) dengan tegas mengatakan kepada Syuraikh
Artinya‫ڔڔ‬
 
         
  
  




 
  

Dan kata Umar kepada Abu musa al-asyary‫ڔڔڔ‬
Artinya‫ڔڔ‬

   




  
 
 

  
  
 
b) Ijtihad  ialah‫ڔ‬..
Artinya :
Ô          
     
 


a a
  
c 


 

Ijtihad semacam ini yang dimaksud oleh hadist Ali pada waktu
beliau menanyakan kepada rasul tentang urusan yang menimpa
masyarakat tidak diketemukan hukumnya dalam Al-Qur‫ڊ‬an dan
sunah. Ketika itu nabi bersabda‫ڔ‬.
Artinya :
 
 
  
    

 

    

 
 
 
  
  

  
  

 



  
 



 



Disamping itu Umar juga pernah berkata kepada Syuraikh‫ڔ‬.
Artinya‫ڔ‬

         
 

 


 
Diriwayatkan oleh Maimun bin Mihran bahwasanya Abu bakar dan
Umar apabila keduanya menghadapi sesuatu hal yang tidak ada
hukumnya didalam Al-Qur‫ڊ‬an dan sunah maka keduanya
mengumpulkan tokoh-tokoh masyarakat dan menanyakan pendapat-
pendapat mereka. Apabila mereka telah menyepakati sesuatu
pendapat merekapun menyelesaikan hal itu dengan pendapat
itu.
Contoh lain dari ijtihad jami‫ڊ‬i ialah kesepakatan sahabat
mendukung/mengangkat Abu bakar sebagai khalifah (kepala
Negara) dan kesepakatan mereka terhadap tindakan Abu bakar
yang menunjuk Umar sebagai penggantinya. Juga kesepakatan
mereka mendukung anjuran Umar mengumpulkan/menulis Al-Qur‫ڊ‬an

a a
  
c 


 

dalam satu mushaf, padahal yang demikian itu belum pernah


dilakukan dimasa nabi.
Inilah kedua macam ijtihad yang dibenar oleh syara dan
dihargai dengan tinggi.
Imam abu hasan Muhammad bin yusuf berkata : ‫ڔڔڔ‬.
Yang artinya
Ô 



    
 
 

 
        
 
  
 

 
 

   


 
 
 
     
    
     
  

    


Dari segi pelaksanaan:


1. Ijtihad Intiqai/tarjih: yaitu ijtihad untuk memilih salah
satu pendapat terkuat diantara beberapa pendapat yang
ada. Bentuknya adalah studi komparatif dengan meneliti
2. Ijtihad Insyai: yaitu mengambi konklusi hukum baru
terhadap suatu permasalahan yang belum ada ketetapan
hukumnya. Disebut juga ijtihad kreatif.
3. Integrasi antara Ijtihad tarjih dan Insyai : yaitu
memilih pendapat para ulama terdahulu yang dipandang
lebih relevan dan kuat kemudian dalam pendapat tersebut
ditambah unsur-unsur ijtihad baru.

Jenis-jenis ijtihad:
Ê Ijma'
Ê Qiyâs

a a
  
c 


 

Ê Istihsân
Ê Maslahah murshalah
Ê Sududz Dzariah
Ê Istishab
Ê Urf

 

- Contoh ijtihad tarjih adalah tentang harusnya meminta izin
untuk menikahkan anak gadis. Golongan Syafi‫ڊ‬i, Maliki, dan
mayoritas golongan Hanbali berpendapat sehungguhnya orang
tua berhak memaksakan anak gadisnya yang sudah akil balig
untuk menikah dengan calon suami yang dipilih oleh orang tua
walaupun tanpa persetujuan gadis tersebut. Alasan yang
digunakan adalah orang tua lebih tahu tentang kemaslahatan
anak gadisnya.
Cara yang demikian itu mungkin masih dapat diterapkan pada
seorang gadis yang belum mengenal sedikitpun tentang kondisi
dan latar belakang suaminya, sedangkan di zaman modern
sekarang para gadis mempunyai kesempatan luas untuk belajar,
bekerja dan berinteraksi dengan lawan jenis dalam kehidupan
ini.Akhirnya, hasil dari ijtihad tarjih ini adalah mengambil
pendapat Abu Hanifah yakni melibatkan urusan pernikahan
kepada calon mempelai wanita untuk mendapatkan persetujuan
dan izinnya.
- Contoh ijtihad insya‫ڊ‬i adalah para pakar fikih pada zaman
moderen ini berpendapat bahwa rumah, pabrik, tanah, dan
sebagainya yang disewakan wajib dikeluarkan zakatnya.

a a
  
c 


 

Pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad Abu Zahrah, Abdul


Wahhab Khalaf dan Abdurrahman Hasan, Qardhawi sangat
mendukung pendapat tersebut dengan pembahasan yang lengkap
dengan dalil-dalil yang dipegangi.
  

 
 



  

 



   
 !

  
  "
! 

 
  
#
Menurut Abu Hanifah, zakat wajib atas pemilik
tanah.Berdasarkan ketentuan bahwa zakat adalah kewajiban
tanah yang memproduksi, bukan kewajiban tanaman. Dan bahwa
zakat adalah beban tanah yang sama kedudukannya dengan
kharaj. Maka dalam hal sewa, tanah yang seharusnya
diinvestasi dalam bentuk pertanian lalu diinvestasi dalam
bentuk sewa, berarti sewa tersebut sama kedudukannya dengan
hasil tanaman.
Demikian juga pendapat Ibrahim al-Nakha‫ڊ‬I , Malik, Syafii,
al ‫څ‬Tsauri, Ibn al-Mubarak dan Jumhur ulama Fikih
berpendapat bahwa zakat wajib atas orang yang menyewa,
karena zakat adalah beban tanaman bukan beban tanah. Pemilik
tanah bukanlah penghasil biji-bijian dan buah-buahan yang
karenanya tidak mungkin mengeluarkan zakat hasil tanaman
yang bukan miliknya.
Menurut Ibnu Rusyd perbedaan pendapat disebabkan tidak ada
kepastian apakah zakat tersebut merupakan beban tanah, beban
tanaman atau beban keduanya.
Al-Mughni menilai bahwa pendapat Jumhur lebih kuat, zakat

a a
  
c 


 

diwajibkan atas hasil tanaman.Sedangkan Al-Rafii berpendapat


bahwa penyewa tanah mempunyai dua kewajiban yakni membayar
sewa dan membayar zakat.
Setelah mempelajari pendapat para ulama tersebut maka
Qardhawi mengemukakan pendapat bahwa yang adil adalah 

 
   $   



"    

   

   

.Jadi
pemilik tanah juga diwajibkan mengeluarkan zakat dari hasil
sewa, sedangkan pendapat tersebut belum pernah dikemukakan
oleh ulama-ulama terdahulu.Ijtihad yang demikiandisebut
ijtihan insya‫ڊ‬i.Pendapat tersebut sangat adil dan sangat
realistis diterapkan dizaman sekarang.
- contoh ijtihad integrasi keduanya ini adalah masalah aborsi.
Lajnah Fatawa di Kuwait mengeluarkan pendapat


 
  
 
 
  
. Lajnah Fatawa
telah menyeleksi pendapat-pendapat para pakar fikih Islam
sekaligus menambahkan unsur-unsur kreasi baru yang dituntut
oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan ilmu kedokteran. Yang
ditunjang dengan segala peralatan teknologi canggih dan
kemampuan untuk mendeteksi apa yang menimpa pada janin dalam
bulan-bulan pertama, berupa cacat yang mempunyai pengaruh
fisik/biologis dan psikis pada kehidupan si janin dikemudian
hari menurut sunnatullah yang berlaku di alam ini.
Isi Fatwa yang dikeluarkan tanggal 29 September 1984 itu
adalah seorang dokter dilarang menggugurkan kandungan
seorang wanita yang telah genap 120 hari, kecuali untuk
menyelematkan wanita/ibu itu dari marabahaya yang

a a
  
c 


 

ditimbulkan oleh kandungannya. Dan seorang dokter boleh


menggugurkan kandungan wanita dengan persetujuan kedua belah
pihak yaitu suami istri, sebelum kandungan itu genap berusia
40 hari, yakni saat masih berbentuk segumpal darah. Apabila
kandungan itu sudah lebih dari 40 hari dan belum sampai 120
hari maka dalam keadaan seperti ini tidak boleh dilakukan
abortos kecuali dalam dua kondisi berikut ini:
a. Apabila kandungan itu tetap dipertahankan, akan
menimbulkan bahaya bagi sang ibu dan bahaya itu akan
berlangsung terus menerus sampai sehabis melahirkan.
b. Apabila sudah dapat dipastikan bahwa janin yang lahir
akan menderita cacat baik fisik atau akalnya, yang kedua hal
itu tidak mungkin dapat disembuhkan.


a a
  
c 


 

› %&
 


Ijma' (º  ) adalah mashdar (bentuk) dari ajma'a (
  ) yang
memiliki dua makna:
1. Tekad yang kuat (º   º º  ) seperti:   
  º   
  (sifulan
bertekad kuat untuk melakukan perjalanan).
2. Kesepakatan (º ) seperti: (    !º º   ) kaum muslimin
bersepakat tentang sesuatu.
Sedangkan makna Ijma' menurut istilah adalah:

"#!$
º º  " %
  "  $&
 " '( " )  (* "  + " ,  -
 * " ) .&
 "/
º " 0 1
 "   2
 º " 3  º" 4  5 6 7º " 
º 
# !º 8
º "% " "0&

ÂYY
Y Y Y 
Y  Y
 YY Y 
 Y  Y
Y Y
 Y Y YYYY


 Y
 YY  Y Y Y Y



 YÂ  Y
  Y   "

   

Ijma' ada dua macam : !
 "


m '( '
Ijma' yang diketahui keberadaannya di kalangan umat ini dengan
pasti, seperti ijma' atas wajibnya sholat lima waktu dan
haramnya zina. Ijma'jenis ini tidak ada seorangpun yang
mengingkari ketetapannya dan keberadaannya sebagai hujjah, dan
dikafirkan orang yang menyelisihinya jika ia bukan termasuk
orang yang tidak mengetahuinya.
› '"


Ijma' yang tidak diketahui kecuali dengan dicari dan
dipelajari (
Y
Y  ! 
 " ). Dan para ulama telah

a a
  
c 


 

berselisih tentang kemungkinan tetapnya ijma' jenis ini, dan


perkataan yang paling rojih dalam masalah ini adalah pendapat
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang mengatakan dalam
Al Aqidah Al Wasithiyyah : "Dan ijma' yang bisa diterima
dengan pasti adalah ijma'nya as-salafush-sholeh, karena yang
setelah mereka banyak terjadi ikhtilaf dan umat ini telah
tersebar."
Ketahuilah bahwasanya umat ini tidak mungkin bersepakat untuk
menyelisihi suatu dalil yang shohih dan shorih serta tidak
mansukh karena umat ini tidaklah bersepakat kecuali diatas
kebenaran. Dan jika engkau mendapati suatu ijma' yang
menurutmu menyelisihi kebenaran, maka perhatikanlah! Mungkin
dalilnya yang tidak shohih atau tidak shorih atau mansukh atau
masalah tersebut merupakan masalah yang diperselisihkan yang
kamu tidak mengetahuinya.

 

Contoh Ijma' para shahabat adalah :
- Dipilihnya Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sebagai
Khalifah pengganti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
- Ditulisnya Al-Qur'an pada satu kitab,
- Diperbanyaknya Al-Qur'an,
- Shalat Tarawih berjama'ah secara terus menerus di zaman 'Umar
radhiyallahu 'anhu,
- Menamakan Ahlus-Sunnah sebagai lawan dari Ahlul-Bid'ah, dll.
Contoh Ijma' para 'ulama setelah masa sahabat adalah)

a a
  
c 


 

- Diberinya titik dalam huruf ayat-ayat Al-Qur'an, dan kemudian


diberinya baris,
- Pembagian Tauhid menjadi 3 (Rubbubiyyah, Uluhiyyah dan Asma' wa
Shifat), dll.

 

a a
  
c 


 

j (*+
 


a. Secara Bahasa
Secara bahasa,  # merupakan bentuk masdar dari kata
#Y Y$, yang artinya  
!
 
  .
Misalnya, "Fulan meng-qiyaskan baju dengan lengan tangannya",
artinya mengukur baju dengan lengan tangannya; artinya
membandingkan antara dua hal untuk mengetahui ukuran yang
lain. Secara bahasa juga berarti "

", dikatakan
"Fulan meng-qiaskan extasi dengan minuman keras", artinya
menyamakan antara extasi dengan minuman keras.
Dalam perkembanganya, kata qiyâs banyak digunakan sebagai
ungkapan dalam upaya penyamaan antara dua hal yang berbeda,
baik penyamaan yang berbentuk inderawi, seperti pengkiasan
dua buah buku.Atau maknawiyah, misalnya "Fulan tidak bisa
dikiaskan dengan si Fulan", artinya tidak terdapat kesamaan
dalam ukuran.
b. Secara Istilah
Pengertian , secara terminologi terdapat beberapa
definisi yang dikemukakan para ulama ushul fiqh, sekalipun
redaksinya berbeda tetapi mengandung pengertian yang sama.
Sadr al-Syari'ah (w. 747 H),tokoh ushul fiqh Hanafi
mengemukakan bahwa  # adalah:
Â&  
       '  

  
   
    $   
  

Â

a a
  
c 


 

Maksudnya, 'illat yang ada pada satu nash sama dengan 'illat
yang ada pada kasus yang sedang dihadapi seorang mujtahid,
karena kesatuan 'illat ini, maka hukum kasus yang sedang
dihadapi disamakan dengan hukum yang ditentukan oleh nash
tersebut.
Imam Baidhowi dan mayoritas ulama Syafi'iyyah mendefinisikan
 #dengan :
Â&  -. 
 - .      -. 

   
 

     
!  


  
!
 Â 
DR. Wahbah al-Zuhaili mendefinisikan  #dengan :
Â&
 
  
   





  
  

 
! 

  
   
   
Â
Biarpun terjadi perbedaan definisi terminologi antara ulama
klasik dan kontemporer tentang qiyâs, namun mereka sepakat
bahwa  # adalah  /   "0      



 
 

 ! 
 

 
 
 
$ 
  Karena pada dasarnya al-maqîs atau
sesuatu yang dikiaskan, sudah mempunyai hukum yang tetap atau
tsâbit, hanya saja terlambat penyingkapanya sampai mujtahid
menemukannya dengan perantara adanya persamaan "illah.

   

Qiyas terbagi menjadi Qiyas Jali (L') dan Qiyas Khofi (9':).

a a
  
c 


 

1. (  adalah : yang tetap  Ynya dengan nash atau


ijma‫ڊ‬ atau dipastikan dengan menafikan perbedaan
antara Y dan cabangnya.
Contoh yang  Y-nya tetap dengan nash : Mengqiyaskan
larangan 
Y (bersuci dengan batu atau yang semisalnya,
pent) dengan darah najis yang beku dengan
larangan 
Y dengan kotoran hewan, maka  Y dari
hukum Y -nya tetap dengan nash ketika Ibnu
Mas‫ڊ‬ud " Y "Y datang kepada Nabi " Y "Y Y  
YY Y dengan dua batu dan sebuah kotoran hewan agar beliau
ber 
Y dengannya, kemudian beliau mengambil dua batu
tersebut dan melempar kotoran hewan tersebut dan mengatakan :
‫ڍ‬Ini kotor (6# ; < )‫ڎ‬, dan (6#= ) adalah najis (6
= ).

Contoh yang  Y-nya tetap dengan ijma‫ ڊ‬: Nabi " Y "
Y Y   Y Y Y melarang seorang qodhi (hakim) memutuskan
perkara dalam keadaan marah.

Maka qiyas dilarangnya qodhi yang menahan kencing dari


memutuskan perkara, terhadap larangan qodhi yang sedang marah
dari memutuskan perkara merupakan qiyas jali karena  Y
Y -nya tetap dengan ijma‫ ڊ‬yaitu adanya gangguan pikiran dan
sibuknya hati.
Contoh yang dipastikan  Y-nya dengan menafikan perbedaan
antara Y dan cabangnya : Qiyas diharamkannya menghabiskan
harta anak yatim dengan membeli pakaian, terhadap pengharoman
menghabiskannya dengan membeli makanan karena kepastian tidak
adanya perbedaan antara keduanya.

a a
  
c 


 

2. (  adalah : yang  Y-nya tetap


dengan 
Y
 (penggalian hukum) dan tidak dipastikan
dengan menafikan perbedaan antara Y dengan cabang.
Contohnya : mengqiyaskan tumbuh-tumbuhan dengan gandum dalam
pengharaman riba dengan  Y sama-sama ditakar, maka
penetapan  Y dengan takaran tidak tetap dengan nash,
tidak pula dengan ijma‫ڊ‬ dan tidak dipastikan dengan
menafikan perbedaan antara Y dan cabangnya. Bahkan
memungkinkan untuk dibedakan antara keduanya, yaitu
bahwa gandum dimakan berbeda dengan tumbuh-tumbuhan.
( +1/  
-< >?
= 6 4.
Di antara Qiyas ada yang dinamakan dengan ‫ڍ‬Qiyas asy-Syabh‫ ڎ‬yaitu
suatu cabang diragukan antara dua Y yang berbeda hukumnya, dan
pada cabang tersebut terdapat kemiripan dengan masing-masing dari
kedua Y tersebut, maka cabang tersebut digabungkan dengan
salah satu dari kedua Y tersebut yang lebih banyak
kemiripannya.

Contohnya : apakah seorang budak bisa memiliki dalam keadaan ia


dimiliki dengan diqiyaskan kepada orang merdeka? atau dia tidak
bisa memiliki dengan diqiyaskan kepada binatang ternak?

Jika kita memperhatikan dua Y ini, orang yang merdeka dan
binatang ternak, kita dapati bahwa budak diragukan antara
keduanya. Dari sisi bahwa ia adalah seorang manusia yang berakal,
ia diberi ganjaran, diberi siksaan, menikah dan menceraikan, yang
ini mirip dengan orang merdeka. Dari sisi bahwa ia diperjual

a a
  
c 


 

belikan, digadaikan, diwaqafkan, dihadiahkan, dijadikan sebagai


warisan, tidak ditinggalkan begitu saja, dijaminkan dengan harga
dan bisa digunakan, yang hal ini mirip dengan binatang ternak.
Dan kami telah mendapatkan bahwa budak dari sisi penggunaan harta
lebih mirip dengan binatang ternak maka hukumnya digabungkan
dengannya.
Jenis qiyas ini adalah lemah jika tidak ada antara cabang
dan Y -nya  Y yang sesuai, hanya saja ia memiliki kemiripan
dengan Y -nya dalam kebanyakan hukumnya dengan keadaan
diselisihi oleh Y yang lain.
( 1/ 
-6 = 6 4 .
Di antara qiyas ada yang dinamakan dengan ‫ڍ‬Qiyas al-‫ڊ‬Aks‫ڎ‬, yaitu
: penetapan lawan hukum Y untuk cabangnya, karena adanya lawan
dari  Y hukum Y pada cabang tersebut.
Dan mereka (para ulama ahli ushul, pent) memberi contoh dengan
sabda Rosululloh " Y "Y Y  YY Y :

"C=@"F "5.(")"! D*")!5G" A "'HD "E/ "=!-#"D"C !@" j3@ 1", A "
B+"'(*j
" j ")""=I2 "'("5J*" ;K"L ("F#M*").&" "N A"'("5J*"!",6D # j
‫ڍ‬Dan pada persetubuhan salah seorang di antara kalian bernilai
shodaqoh.‫ ڎ‬Para sahabat berkata : ‫ڍ‬Wahai Rosululloh, apakah salah
seorang dari kami menyalurkan syahwatnya lalu ia mendapat pahala
karenanya?‫ ڎ‬Rosululloh berkata : ‫ڍ‬Bagaimana menurut kalian jika
ia menyalurkannya kepada yang harom, bukankah ia akan mendapat
dosa? Demikian pula jika ia menyalurkannya kepada yang halal,
maka ia akan mendapat pahala.‫ڎ‬

a a
  
c 


 

Nabi " Y " Y Y   Y Y Y menetapkan untuk cabang yaitu


persetubuhan yang halal sebagai pembatal hukum Y yaitu
persetubuhan yang haram, karena adanya
pembatal  Y hukum Y pada cabang tersebut, ditetapkan
pahala untuk cabangnya karena ia adalah persetubuhan yang halal,
sebagaimana pada Y -nya ditetapkan dosa karena ia adalah
persetubuhan yang haram.

 

1. Penentuan jumlah nasab zakat beras, maka diqiyaskan dengan
jumlah nasab pada gandum.
2. Narkoba
Jaman Nabi tidak ada narkoba, tetapi ada arak yang haram
hukumnya.Disini narkoba juga memabukkan, jadi hukum narkoba
disamakan (di-Qiyas-kan) dengan hukumnya arak yaitu Haram.

 

a a
  
c 


 

˜ ++2-&& .

 


Y YY  Y Y menurut lughat terdiri atas dua kata,
yaitu Y YY dan  Y Y. Kata  Y Y berasal dari kata
bahasa arab O
 1
 ‫ څ‬O
º º$D menjadi P21
º atauP32
 $ yang berarti
sesuatu yang mendatangkan kebaikan, sedangkan kata mursalah
berasal dari kata kerja yang ditafsirkan sehingga menjadi isim
maf‫ڊ‬ul, yaitu: Q
- #  ‫ څ‬Q
º-
 Dº ‫ څ‬
P -# - Q-
 º menjadiQ-º yang berarti
diutus, dikirim atau dipakai (dipergunakan). Perpaduan dua kata
menjadi ‫ڍ‬Y YY  Y Y‫ڎ‬ yang berarti prinsip kemaslahatan
(kebaikan) yang dipergunakan menetapkan suatu hukum islam, juga
dapat berarti suatu perbuatan yang mengandung nilai baik
(manfaat).
Secara etimologi, ahli ushul fiqih mengatakan bahwa maslahah
mursalah ialah menetapkan suatu hukum bagi masalah yang tidak ada
nashnya dan tidak ada ijma, berdasarkan kermaslahatan murni atau
masalah yang tidak dijelaskan syariat dan dibatalkan syariat.
Disisi lain A. Hanafi, M.A mendefinisikan maslahah mursalah
adalah jalan kebaikan (maslahah) yang tidak disinggung syara‫ڊ‬
untuk mengerjakannya atau meninggalkannya, sedang apabila
dikerjakan akan membawa manfaat atau menghindarkan
mudharat.Sedangkan menurut Mustafa Ahmad Al-Zarqa, Y YY
 Y Y adalah maslahah yang masuk dalam pengertian umum yakni
(menarik manfaat dan menolak mudharat).Alasannya adalah syariat
Islam datang untuk merealisasikan masalah dalam bentuk umum.Nash-
nash dan dasar-dasar syariat Islam telah menetapkan kewajiban

a a
  
c 


 

memelihara kemaslahatan dan memperhatikannya ketika mengatur


berbagai aspek kehidupan.
Dari pengertian beberapa pendapat diatas dapat diambil suatu
pemahaman, bahwasanya Y YY  Y Y adalah memberikan hukum
terhadap suatu masalah atas dasar kemaslahatan yang secara khusus
tidak tegas dinyatakan oleh nash, yang apabila dikerjakan jelas
membawa kemaslahatan yang bersifat umum dan apabila ditinggalkan
jelas akan mengakibatkan kemaslahatan yang bersifat umum pula "
   

&$ &$
   

 

.
Berdasarkan pandangan syar‫ڊ‬i dan dalil-dalil nash serta untuk
menjaga maqashid al-syari‫ڊ‬ah, para ulama menggolongkan
maslahah menjadi tiga tingkatan:
a) Y YY%"  Y

Yaitu maslahah yang ditetapkan demi keberlangsungan hidup


manusia di dunia maupun diakherat. Sekiranya maslahah ini
tidak terealisisir, maka hilanglah kehidpan manusia di
dunia, hilanglah kenikmatan dan tersiksalah di akherat.
Maslahah ini meliputi lima hal yang telah disebutkan di
atas, yang menjadi maqasid al-syari‫ڊ‬ah.
b) Y YY&Y Y

Yaitu maslahah yang dibutuhkan oleh manusia hanya untuk


menghilangkan kesulitan pada dirinya. Sekiranya maslahah
tersebut tidak tercapai, maka hidup manusia akan merasa
kesulitan dan kesusahan, tidak sampai menghilangkan
kehidupannya. Maslahah ini terdapat pada masalah furu‫ ڊ‬yang
bersifat mu‫ڊ‬amalah, ‫څ‬seperti jual beli‫ څ‬serta berbagai macam

a a
  
c 


 

keringanan (rukhsoh) yang telah ditetapkan oleh syari‫ڊ‬,


misalnya menjama‫ ڊ‬dan menqashar shalat bagi musafir, berbuka
bagai orang orang hamil dan menyusui dan lain sebagainya.
c) Y YY'Y  Y

Yaitu maslahah yang dimaksudkan untuk memperbaiki adat


kebiasaan dan memuliakan akhlak manusia. Seperti bersuci
ketika akan melakukan shalat, memakai perhiasan, wangi-
wangian, haramnya makanan yang kotor danlain sebagainya.
Oleh karena itu hukum-hukum yang mengandung kemashlahatan
"  menjadi lebih penting untuk didahulukan dan dijaga
daripada hukum-hukum yang bersifat hajjiyat apalagi yang
bersifat
Y  /
Y .

&$ &$&  





+ 
Berdasarkan adanya pengakuan dan penolakan dalil terhadap
suatu maslahah, maka para ulamamembagi maslahah menjadi tiga
macam, yakni:
a) Y YY
YY "
Yaitu kemaslahatan yang diakui oleh syari‫ڊ‬ dan terdapat
dalil yang menetapkannya. Maslahah ini dapat dijadikan
hujjah hukum, tidak diragukan lagi keabsahannya, serta tidak
ada perselisihan dalam mengamalkannya. Pengamalan maslahah
ini disebut qiyas.
b) Y YY "

a a
  
c 


 

Yaitu maslahah yang tidak didukung oleh syar‫ڊ‬i, akan tetapi


ditolak dan ditentang oleh syar‫ڊ‬i. Artinya tatkala nash
menghukumi suatu peristiwa karena adanya kemslahatan di
dalamnya, kemudian sebagian orang menghukumi peristiwa
tersebut dengan merubah ketetapan syar‫ڊ‬i karena kemaslahatan
yang mereka perkirakan (Y). Hukum semacam ini ditolak,
karena maslahah yang mereka perkirakan tesebut ditentang
oleh syar‫ڊ‬i. Penetapan suatu hukum tidak dapat didasarkan
pada maslahah terebut karena hal itu bertentangan dengan
maqashid al-syari‫ڊ‬ah. Misalnya persamaan antara laki-laki
dan perempuan dalam hal pembagian warisan dengan alasan
maslahah yang mereka perkirakan. Hal itu bertentangan dengan
firman Allah dalam surat An-Nisaa ayat 11.
c) Y YY Y Y
Yaitu maslahah yang tidak ditemukan dalil yang mendukungnya
dan tidak ada pula yang menentangnya. Suatu peristiwa yang
belum terdapat hukumnya di dalam nash, dan tidak ada pula
‫ډ‬illat yang dapat diqiyaskan dengan nash, akan tetapi
terdapat sesuatu yang sesuai dengan nash dalam
pensyari‫ڊ‬atannya ‫څ‬artinya pensyari‫ڊ‬atan hukum tersebut dapat
mendatangkan kemaslahatan/manfaat dan menolak kemadharatan‫څ‬
yang kemudian hal ini oleh para ulama diistilahkan dengan
YY Y  Y Y Dinamakan maslahah karena mendatangkan
manfaat dan kebaikan serta menolak kemadharatan; dan
dinamakan mursalah karena tidak terdapat nash (dalil) yang
mendukung ataupun menentangnya. Jadi pada hakikatnya
maslahah mursalah adalah segala sesuatu yang mendatangkan

a a
  
c 


 

kemanfaatan yang telah termaktub dalam maqashid al-syari‫ڊ‬


akan tetapi tidak didukung oleh adanya dalil.

 

Dalam kitab-kitab fiqh, tentang pencatatan perkawinan tidak
termasuk syarat sahnya perkawinan.Kemungkinan besar, para
ulama‫ ڊ‬pada saat itu belum menganggap pencatatan perkawinan
itu penting dan bermanfaat. Di sisi lain, pencatatan
perkawinan tidak dilarang dalam Islam, bahkan mendatangkan
maslahat yang banyak seperti untuk ketertiban, kepastian
hukum, dan mencegah terjadinya perkawinan monogami atau
poligami yang liar. Oleh karena dengan pertimbangan maslahah
mengharuskan adanya pencatatan perkawinan seperti tersebut
dalam UU No. 1 tahun 1974, Pasal 2 ayat (2) dan Pasal 5 ayat
(1) KHI. Dalam Pasal 5 ayat (1) KHI jelas-jelas disebutkan
‫ڍ‬Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam
setiap perkawinan harus dicatat‫ڎ‬
 

a a
  
c 


 

à ++3
 


Ó Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang #  (ahli fikih),
hanya karena dia merasa hal itu adalah benar.
Ó Argumentasi dalam pikiran seorang #  tanpa bisa
diekspresikan secara lisan olehnya
Ó Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk
maslahat orang banyak.
Ó Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah
kemudharatan.
Ó Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap
perkara yang ada sebelumnya.
 
menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang
baik. Menurut ulama ushul fiqh, ialah meninggalkan hokum yang
telah ditetapkan pada suatu peristiwa atau kejadian yang
ditetapkan berdasar dalil syara‫ڊ‬, menuju (menetapkan) hukum lain
dariperistiwa atau kejadian itu juga, karena ada suatu dalil
syara‫ڊ‬ yang mengharuskan untuk meninggalkannya. Dalil yang
terakhir disebutsandaran  

   




Istihsan dibagi menjadi dua.Pertama, istihsan dipandang dari segi
pemindahan hukumnya.Dan yang kedua, istihsan dipandang dari
sandaran dalilnya.
Adapun istihsan dari segi pemindahan hukumnya, terbagi
kepada dua macam yaitu sebagai berikut,

a a
  
c 


 

1. Istihsan dengan cara pemindahan hukum kulli kepada hukum juzi.


Contohnya, dalam hukum syara‫ ڊ‬seseorang tidak boleh melakukan
transaksi jual beli dengan barang yang belum ada ketika
dilangsungkannya akad jual beli. Aturan ini berlaku untuk
seluruh jenis transaksi jual beli, karena jual beli tanpa
adanya barang ketika akad berlangsung maka akad tersebut
menjadi rusak. inilah yang disebut dengan hukum kulli.
Kemudian, syari‫ڊ‬at memberikan keringanan dan pengecualian
kepada pembelian barang dengan uang tunai tapi barangnya
dikirim kemudian dengan waktu dan jenis barang yang telah
ditentukan (jual-beli salam). Jual beli ini dilakukan karena
telah menjadi kebiasaan di masyarakat, juga jual beli ini
untuk mempermudah bagi para penjual yang tidak memiliki modal,
pengecualian atau keringanan ini dinamakan dengan pemindahan
hukum kulli kepada hukum juzi. Mengenai jual beli salam ini
rasulullah Saw bersabda,
W#UV "< *#T" N!"Q "0K"*"N!"M**"N!"Q."0("R.("S.G"0("R- "%
Artinya: Y Y YY Y  YY Y
( Y Y Y
 YY Y
YY Y Y  Y(
YY Y  Y
YY Y
" Y Y. (HR. Bukhari).

2. Istihsan dengan cara pemindahan dari qiyas jalli kepada qiyas


khafi, karena ada dalil yang mengharuskan pemindahan itu.
Contohnya, menurut madzhab hanafi, sisa minum burung buas
seperti burung elang dan gagak adalah suci dan halal diminum.
Penghalalan ini ditetapkan berdasarkan istihsan. Menurut qiyas
jalli, meminum sisa minuman binatang buas seperti anjing dan
burung buas adalah haram, karena binatang tersebut langsung

a a
  
c 


 

minum dengan lisannya yang diqiyaskan kepada dagingnya.


Menurut istihsan, berbeda antara mulut binatang buas dengan
burung buas tadi. Kalau binatang buas langsung minum dengan
mulutnya, sedangkan burung buas minum melalui paruhnya yang
bukan merupakan najis. Karena itu mulut burung buas tadi tidak
bertemu dengan dagingnya yang haram dimakan. Dari perbedaan
antara binatang buas dan burung buas tadi, maka ditetapkanlah
perpindahan qiyas jalli kepada qiyas khafi.
Sedangkan istihsan dipandang dari segi sandaran dalilnya,
istihsan dibagi menjadi beberapa macam, yaitu
1. Istihsan yang disandarkan kepada teks Al-Quran atau hadits
yang lebih kuat. Seperti jual beli salam yang telah penulis
bahas di atas.
2. Istihsan yang disandarkan kepada ijma‫ڊ‬. Contohnya, bolehnya
mengambil upah dari orang yang masuk WC. Secara kaidah umum,
tidak boleh seseorang mengambil upah tersebut, karena tidak
bisa diketahui dan dipastikan berapa lama si pengguna berada
didalam WC, juga tidak bisa diketahui seberapa banyak dia
menggunakan air didalm WC. tetapi berdasarkan istihsan,
diperbolehkan si petugas mengambil upah dari pengguna WC
tersebut, karena sudah membantu menghilangkan kesulitan
orang tersebut, juga sudah menjadi kebiasaan dan tidak ada
penolakan dari seorang pun sehingga menjadi ijma.
3. Istihsan yang disandarkan kepada adat kebiasaan ( ).
Seperti pendapat sebagian ulama yang membolehkan wakaf
dengan barang-barang yang bergerak, seperti mewakafkan buku,
mobil dan barang-barang lainnya. Menurut kaidah umum, wakaf

a a
  
c 


 

itu harus pada barang-barang yang tidak bergerak, seperti


tanah, atau bangunan. Kemudian ulama membolehkan wakaf
dengan barang-barang yang bergerak tadi karena sudah menjadi
adat ( ) di lingkungan tersebut.
4. Istihsan yang disandarkan kepada urusan yang sangat darurat.
Seperti, membersihkan sumur yang terkena najis, hanya dengan
mengambil sebagian air dari sumur itu. Menurut qiyas, air
sumur tersebut tidak bisa dibersihkan lagi, karena alat
untuk membersihkan air itu sudah kena najis, dan tidak
mungkin dibersihkan. Tetapi menurut istihsan, air itu bersih
lagi hanya dengan mengeluarkan sebagian airnya saja. Karena
mengeluarkan sebagian air itu tidak mempengaruhi kesucian
sisanya. Inilah yang dinamakan dengan darurat, yang
bertujuan untuk memudahkan urusan manusia. Selain itu juga
dalam ayat Al-Quran sudah disebutkan bahwa agama itu bukan
untuk menyusahkan manusia. Allah Swt berfiman,
W78"C"X2 T"A"%"%D  "0(", .&"Q"*
Artinya: % Y Y Y 
Y Y Y 
 Y Y Y
YYYY

Y (Al-Haj: 78)
5. Istihsan yang disandarkan kepada kemaslahatan.
6. Istihsan yang disandar kepada qiyas khafi. Seperti bolehnya
minum air sisa minum burung buas seperti elang dan gagak.

a a
  
c 


 

j +22
 


Istidlal adalah memberikan pendapat dengan menggunakan dalil-
dalil dari pihak lain, yaitu sebuah cara untuk memberikan
pendapat dengan mengutip teori-teori yang sudah umum dan
relevan dengan persoalan yang dihadapi.


   

$

  dibagi menjadi 2 bagian :
1.    ) Y , yaitu sesuatu proses pemecahan pemikiran
pada waktu perpindahan pemikiran dari hakikat yang diketahui
pada yang tidak diketahui sebagai kaedah diperbolehkannya
untuk sampai kepada tujuan, contoh:
Anda adalah yang menapaktilasi kemaslahatan negara.
Setiap orang yang menapaktilasi kemaslahatan nagara, dia
adalah warga negara.
Jadi, Anda seorang warga negara.
2.    
 " atau 
Y
, yaitu   yang
dibentuk dengan menghubungkan bagian-bagian dan menelitinya
secara sempurna yang dapat menyampaikan akal dengan
kesimpulan umum. Seperti setelah kita melihat bahwa api
dapat mencairkan barang-barang tambang, itu telah menjadi
kesimpulan umum, begitu juga dengan yang lainnya.
 

a a
  
c 


 

˜ ++
 


Istishhab secara bahasa adalah menyertakan, membawa serta dan
tidak melepaskan sesuatu. Jika seseorang mengatakan:

O  O    

maka itu artinya: aku membuat buku itu ikut serta bersamaku
dalam perjalananku.
Adapun secara terminologi Ushul Fiqih, -sebagaimana umumnya
istilah-istilah yang digunakan dalam disiplin ilmu ini- ada
beberapa definisi yang disebutkan oleh para ulama Ushul Fiqih,
diantaranya adalah:
1. Definisi al-Asnawy (w. 772H) yang menyatakan bahwa
‫(ڍ‬Istishhab) adalah penetapan (keberlakukan) hukum terhadap
suatu perkara di masa selanjutnya atas dasar bahwa hukum itu
telah berlaku sebelumnya, karena tidak adanya suatu hal yang
mengharuskan terjadinya perubahan (hukum tersebut).‫ڎ‬
2. Sementara al-Qarafy (w. 486H) ‫څ‬seorang ulama Malikiyah-
mendefinisikan istishhab sebagai ‫ڍ‬keyakinan bahwa keberadaan
sesuatu di masa lalu dan sekarang itu berkonsekwensi bahwa
ia tetap ada (eksis) sekarang atau di masa datang.‫ڎ‬

   



1. Istishab al bara‫ڊ‬at al ashliyah yaitu seperti terlepasnya
tanggung jawab dari segala taklif sampai ada bukti yang
menetapkan taklifnya. Contoh : anak kecil sampai datang
balighnya.

a a
  
c 


 

2. Istishab yang ditunjukkan oleh syara‫ ڊ‬atau akal. Contoh :


seseorang harus tetap bertanggung jawab terhadap hutang
sampai ada bukti dia telah melunasi.
3. Istishab hukum. Contoh : sesuatu telah ditetapkan dengan
hukum mubah atau haram maka hukum ini terus berlangsung
sampai ada dalil yang mengharamkan yang asalnya mubah atau
membolehkan yang asalnya haram.
4. Istishab washaf. Contoh : bila seseorang meninggalkan
kampung halaman dalam keadaan hidup maka orang ini dianggap
hidup sampai ada bukti yang menunjukkan bahwa ia telah
meninggal dunia.
 

a a
  
c 


 

à 456
 


Al ‫ڊ‬Urf juga dikenal dengan istilah Al ‫ڊ‬Adat & Al
Ta‫ڊ‬ammul.Definisinya ‫ڎ‬segala sesuatu yang biasa dijalankan
orang pada umumnya, baik perbuatan atau perkataan. Adat
dengan persyaratan-persyaratan tertentu da[at dijadikan
sandaran untuk menetapkan suatu hukum. Dalil penggunaan adat
dalam hadits Nabi SAW ‫ڎ‬Apa yang dianggap baik oleh orang-
orang Islam, maka hal itu baik pula di sisi Allah.‫ڎ‬

   




Para ulama masih membagi urf menjadi beberapa bagian ditinjau
dari aspek yang menjadi pembeda dari urf itu sendiri yaitu
dari luas dan tidaknya suatu urf berlaku dan dari kesesuaian
urf dengan syariat:
    


1. 4 +
yaitu urf yang berlaku di tengah-tengah masyarakat, tidak
bertentangan dengan nash, tidak menghilangkan kemaslahatan,
dan juga tidak membawa kemudlaratan. Dalam kitab lain
disebutkan ialah urf yang tidak menghalalkan yang haram dan
tidak mengharamkan yang halal.
 Y  Y pemberian kado/hadiah kepada penganten pada malam
resepsi perkawinannya dan seorang calon suami sewaktu
meminang dengan memberikan sesuatu kepada calon istrinya, dan
pemberian itu tidak dianggap sebagai maskawin.
2. 4 6

a a
  
c 


 

yaitu urf yang berlaku dan dilakukan oleh masyarakat namun


hal itu bertentangan dengan syara‫ڊ‬, membawa kemudlaratan, dan
menghilangkan kemanfaatan. Atau di dalam ibarat lain
disebutkan yaitu urf yang menghalalkan sesuatu yang haram dan
mengharamkan sesuatu yang halal.
 Y  Y kebiasaan minum minuman keras pada saat pesta
perkawinan dan melakukan praktek riba dalam perdagangan dan
utang piutang.

   $


Ê 4 %
yaitu urf yang berlaku di beberapa daerah ataupun paling
tidak urf ini berlaku tidak hanya dalam satu daerah saja.
 Y  Y urf dalam penggunaan kamar mandi di tempat umum
dengan tariff harga tertentu, namun batas penggunaan waktu
dan jumlah pemakaian air tidak ditentukan.Kebiasaan seperti
ini berlaku hampir di setiap daerah atau paling tidak berlaku
tidak hanya di dalam satu daerah saja.
Ê 4 /
yaitu urf yang berlaku hanya di daerah tertentu saja atau
bahkan hanya pada satu wilayah. Seperti kebiasaan seorang
calon suami memberi sesuatu kepada tunangannya ketika
melakukan khitbah/ta‫ڊ‬aruf.

 

a a
  
c 


 

j +475
 


Adalah Tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi makruh
atau haram demi kepentingan umat.
Pengertian sadd Adz-dzari‫ڊ‬ah, menurut Imam Asy-Syatibi ( dalam
Syafe‫ڊ‬i, 2007 : 132 ) adalah:

ç 6N Y= ç=Z
N *< N>= Z
* [ =
Artinya : Melaksanakan suatu pekerjaan yang semula mengandung
kemashlahatan menuju pada suatu kerusakan ( kemafsadatan ).
Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa sadd Adz-
dzari‫ڊ‬ah adalah perbuatan yang dilakukan seseorang yang
sebelumnya mengandung kemashlahatan, tetapi berakhir dengan
suatu kerusakan.
Menurut Imam Asy-Syatibi, ada kriteria yang menjadikan suatu
perbuatan itu dilarang, yaitu:
1) Perbuatan yang tadinya boleh dilakukan itu mengandung
kerusakan.
2) Kemafsadatan lebih kuat daripada kemashlahatan.
3) Perbuatan yang dibolehkan syara‫ڊ‬ mengandung lebih banyak
unsur kemafsadatannya.

   



Para ulama membagi dzariah berdasarkan dua segi-segi kualitas
kemaf sadatan, dan segi jenis kemafsadatan.
 "      


a a
  
c 


 

Menurut Imam Abu Syatibi membagi Adzariah kepada 4 macam,


yaitu:

a. Dzariah yang membawa kepada kerusakan secara pasti. Artinya,


bila perbuatan chariah itu tidak dihindarkan pasti akan
terjadi kerusakan. Umpamanya: menggali sumur di depan rumah
orang lain pada waktu malam, yang menyebabkan pemilik tumah
jatuh ke dalam sumur tersebut. Maka ia dikeni hukuman karena
melakukan perbuatan dengan sengaja.

b. Dzariah yang membawa kepada kerusakan menurut biasanya,


dengan arti kelau Dzariah itu dilakukan, maka kemungkinan
besar akan timbul kerusakan atau akan dilakukannya prbuatan
yang dilarang.
Umpamanya: menjual anggur kepada pabrik pengolahan minuan
keras, atau menjual pisau kepada penjahat yang sedang
mencari musuhnya, menjual anggur itu boleh-boleh saja dan
tidak mesti pula anggur yang dijual itu dijadikan minuman
keras, naun menurut kebiasaan, pabrik minuman keras membeli
anggur untuk dioleh menjadi menuman keras. Demikian pula
menjual pisau kepada penjahat. Kemungkinan besar akan
digunakan utnuk membunuh atau menyakiti orang lain.
c. Dzariah yang membawa kepada perbuatan terlarang menurut
kebanyakan. Hal ini berarti bila Dzariah itu tidak
dihindarkan seringkali sesudah itu akan mengakibatkan
berlangsungnya perbuatan yang dilarang. Umpamanya jual beli
kredit. Memang tidak selalu jual beli kredit itu membawa
kepada riba, namun dalam prakteknya seirng dijadikan sarana
untuk riba.

a a
  
c 


 

d. Dzariah yang jarang sekali membawa kepada kerusakan atau


perbuatan terlarang, dalam hal ini seandainya perbuatan itu
dilakukan, belum tentu akan menimbulkan kerusakan. Umpamanya
mengali lobang di kebun sendiri yang jarang di lalui orang,
menurut kebiasaannya tida ada orang yang lewat di tempat
tertutup kedalam lobang. Namun tidak tertutup kemungkinan
ada yang nyasar lalu dan terjatuh ke dalam lobang.
b. Dzariah dari segi kemafsadatan yang ditimbulkan
Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziah, pembagian dari segi ini
antara lain sebagai berikut:
1. Dzariah yang memang pada dasarnya membawa kepada
kerusakan seperti meminum yang memabukkan yang membawa
kepada kerusakan akal atau mabuk. Perbuatan zina yang
membawa pada kerusakan tata keturunan.
2. Dzariah yang ditentukan untuk sesuatu yang mubah, namun
ditujukan untuk perbuata buruk yang merusak, baik dengan
sengaja, seperti nikah muhalli, atau tidak sengaja sepserti
mencaci sembahan agama lain. Nikah itu sendiri hukumnya pada
dasarnya boleh, namun dilakukan dengan niat menghalalkan
yang haram menjadi tidakboleh hukumnya. Mencaci sembahan
agama lain itu sebenarnya hukumnya mubah, namun karena cara
tersebut dapat dijadikan perantara bagi agama lain untuk
mencaci Allah menjadi terlarang.
3. Dzariah yang semula ditentukan untuk mubah, tidak
ditujukan untuk kerusakan, namun biasanya samapi juga kepada
kerusakan yang mana kerusakan itu lebih besar dari
kebaikannya. Seperti berhiasnya seseorang perempuan yang

a a
  
c 


 

baru kematian dalam masa iddah, berhiasnya perempuan boleh


hukumnya, tetapi dilakukannya berhias itu justru baru saja
suaminya mati dan masih dalam masa iddah keadaannya lain.
4. Dzariah yang semula ditentukan untuk mubah, namun
tekandung membawa kepada keruasakan, sedangkan kerusakannya
lebih kecil dibanding kebaikannya. Contoh dalam hal ini
melihat wajah perempuan saat dipinang.

a a