Anda di halaman 1dari 14

Bab 2 Tanggapan Terhadap KAK

Penyusunan Standar Minimum Pemenuhan Tingkat Kecukupan


dan Kehandalan SDM Pemanduan, Sarana Bantu dan
Prasarana Pemanduan Pada Perairan Wajib Pandu Kelas I Tanjung Perak

Pada bagian ini disampaikan tanggapan dan saran yang diberikan konsultan
terhadap KAK (Kerangka Acuan Kerja) yang disampaikan oleh Pemberi Kerja. Pada
dasarnya KAK telah memuat segala ketentuan yang harus dilaksanakan dan
diperhatikan oleh konsultan. Namun demikian terdapat beberapa tanggapan dan
saran konsultan serta inovasi yang diusulkan sebagai respons positif agar proses
pelaksanaan kegiatan menjadi lebih terarah dan fokus, sehingga menghasilkan
keluaran sesuai dengan yang diharapkan dalam KAK.
Tanggapan dan saran ini berisi mengenai pembahasan beberapa hal yang perlu
diklarifikasi, dibatasi, dikembangkan lebih lanjut, dan hal baru yang diusulkan
oleh konsultan untuk mempertajam substansi pekerjaan maupun mengefisienkan
alokasi sumber daya.

2.1

PEMAHAMAN TERHADAP KERANGKA ACUAN KERJA

Sebelum menyampaikan tanggapan dan saran, konsultan menyampaikan terlebih


dahulu pemahaman terhadap konteks dilakukannya kegiatan ini sesuai dengan KAK
yang diberikan. Kegiatan/pekerjaan ini merupakan kegiatan yang dilaksanakan
oleh Pemerintah, dalam hal ini adalah Kementerian Perhubungan, Direktorat
Jenderal Perhubungan Laut, Satuan Kerja Peningkatan Fungsi Pelabuhan dan
Pengerukan Pusat. Dalam konteks manajemen kinerja, maka kegiatan ini harus
memiliki keterkaitan dengan pencapaian sasaran keluaran/output, hasil/outcome,
dan manfaat/benefit sesuai dengan yang dicanangkan dalam Rencana Strategis
(Renstra Kementerian) Perhubungan 2015-2019.
Konsultan mencoba memahami konteks pelaksanaan kegiatan ini dalam kerangka
pelaksanaan kegiatan Pemerintah yang menganut sistem performance based
budgeting dimana setiap kegiatan harus jelas input-output-outcome-dan-benefitnya.

Bab 2 | 1

Dari KAK sudah disampaikan beberapa hal pokok terkait dengan pelaksanaan
kegiatan ini yang meliputi: latar belakang, dasar hukum, ruang lingkup pekerjaan
yang dilaksanakan, maksud dan tujuan, lokasi kegiatan, kebutuhan tenaga ahli,
pelaporan, pelaksana dan penanggungjawab kegiatan, dan jadwal pelaksanaan
kegiatan.
Dari KAK Butir 1 dapat dipahami latar belakang permasalahan/gambaran umum
singkat mengenai permasalahan yang dihadapi (isu strategis) serta berbagai
perkembangan faktor eksternal (lingkungan strategis) yang menjadi background
perlunya dilakukan Kegiatan Studi Penyusunan Standar Minimum Pemenuhan
Tingkat Kecukupan dan Kehandalan SDM Pemanduan, Sarana Bantu dan Prasarana
Pemanduan Pada Perairan Wajib Pandu Kelas I Tanjung Perak.
Selanjutnya, pada KAK Butir 1 dan Butir 7 telah disebutkan Undang-Undang Nomor
17 Tahun 2003 dan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 57 Tahun 2015
tentang Pemanduan dan Penundaan Kapal, sebagai referensi hukum (instrumental
input) yang menjadi landasan bagi pelaksanaan kegiatan ini.
Memperhatikan perkembangan dalam isu strategis, lingkungan strategis, serta
instrumental input tersebut, maka dalam KAK butir 1 tersirat disampaikan
mengenai maksud dan tujuan (purpose and objective) dilaksanakannya kegiatan
ini. Maksud dari pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk mengetahui jumlah dan
kualifikasi SDM, Sarana Bantu dan Prasarana Pemanduan yang paling sesuai untuk
melaksanakan pelayanan pemanduan dan penundaan kapal di Perairan Wajib
Pandu Kelas I Tanjung Perak. Sedangkan tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah
untuk

mendapatkan

gambaran

detail

mengenai

jumlah

(kuantitatif)

dan

kualifikasi/spesifikasi (kualitatif) SDM Pemanduan, Sarana Bantu dan Prasarana


Pemanduan yang paling sesuai untuk melaksanakan pelayanan pemanduan dan
penundaan kapal di lokasi pekerjaan sebagai bahan evaluasi dan peningkatan
kualitas layanan jasa pemanduan dan penundaan kapal.
Pada KAK Butir 7 dan 8 disampaikan lingkup pekerjaan, metode, dan tahapan
pelaksanaan yang menjelaskan mengenai proses (processes) yang diamanatkan

Bab 2 | 2

untuk dilakukan oleh konsultan untuk melaksanakan maksud dan tujuan dari
pekerjaan/kegiatan tersebut di atas.
Adapun keluaran (outputs) dari kegiatan ini disampaikan pada KAK Butir 11 hingga
Butir 14 yang secara pokok menyatakan produk yang ingin dihasilkan oleh kegiatan
ini. Meskipun tidak secara eksplisit disampaikan dalam KAK, namun tentu saja
keluaran pekerjaan ini mencerminkan salah satu keluaran dari Satuan Kerja
Peningkatan Fungsi Pelabuhan dan Pengerukan Pusat, sesuai dengan yang
dicantumkan dalam Renstra Kemenhub 2015-2019 serta yang dituangkan dalam
RKA-KL 2016. Dan oleh karena itu, hasil (outcome) dari pekerjaan ini juga harus
mencerminkan atau setidaknya mendukung pencapaian sasaran yang meski tidak
disampaikan secara eksplisit dalam, namun tersampaikan pada komponen muatan
hasil studi pada KAK Butir 7a dan 7b.
Dengan memperhatikan ketekaitan antara latar belakang (isu strategis, lingkungan
strategis, instrumental input) serta input-proses-output-outcome-benefit yang
didiskusikan di atas, maka pendekatan pemahaman konsultan atas KAK ini
diejawantahkan dalam alur pikir suatu siklus proyek (project cycle) yang akan
dipaparkan dalam beberapa sub bab berikut.

2.1.1 Pemahaman Terhadap Latar Belakang Permasalahan (Isu Strategis)


Dari KAK dapat dipahami beberapa latar belakang permasalahan (isu strategis)
yang perlu diperhatikan atau akan diselesaikan dalam pekerjaan ini, diantaranya:
1. Factual condition: secara faktual/data yang terjadi saat ini bahwa belum
terdapat suatu standar minimum pemenuhan terhadap tingkat kecukupan dan
kehandalan SDM pemanduan, sarana bantu dan prasarana pemanduan pada
tiap-tiap wilayah/perairan pandu yang mengakibatkan masih banyaknya
keluhan dari pengguna jasa terhadap kecukupan maupun kehandalan SDM
pemanduan, sarana bantu dan prasarana pemanduan;
2. Intendeed condition: secara ideal/konseptual pelaksana pelayanan jasa
pemanduan wajib menyediakan SDM pemanduan, sarana bantu dan prasarana
pemanduan yang memenuhi persyaratan dalam jumlah sesuai dengan ukuran
dan gerakan kapal per hari;

Bab 2 | 3

3. Requirements: memperhatikan adanya perbedaan antara kondisi faktual


dengan kondisi ideal yang diharapkan (dari butir 1 dan butir 2) maka terdapat
kebutuhan yang cukup mendesak untuk adanya suatu standar minimum
pemenuhan terhadap tingkat kecukupan dan kehandalan SDM pemanduan,
sarana bantu dan prasarana pemanduan pada tiap-tiap wilayah/perairan
pandu.

2.1.2 Pemahaman

Terhadap

Perkembangan

Faktor

Pengaruh

(Lingkungan Strategis)
Untuk dapat menyusun standar minimum yang baik dan implementable, maka
perlu diperhatikan sejumlah faktor yang mempengaruhi terhadap substansi dari
standar yang disusun. Beberapa faktor pengaruh tersebut, atau sering disebut
sebagai lingkungan strategis, adalah:
1. Reformasi birokrasi: yang diantaranya terkait dengan upaya menuju goodgovernance

termasuk

dalam

pelaksanaan

pelayanan

pemanduan

dan

penundaan kapal yang dilakukan oleh Otoritas Pelabuhan, Kesyahbandaran dan


Otoritas Pelabuhan, atau Unit Penyelenggara Pelabuhan yang harus memenuhi
persyaratan

sebagaimana

yang

tercantum

dalam

Peraturan

Menteri

Perhubungan Nomor 57 Tahun 2015 tentang Pemanduan dan Penundaan Kapal


yang harus diacu dalam kegiatan ini;
2. Keterbatasan

pengetahuan

petugas

untuk

dapat

memenuhi

persyaratan/kecukupan minimal pelaksanaan pelayanan pandu: kecukupan dan


kehandalan jumlah SDM, Sarana Bantu dan Prasarana Pemanduan yang
diperlukan untuk melaksanaan pemanduan di suatu wilayah perairan wajib
pandu atau perairan pandu luar biasa sangat penting untuk dapat mewujudkan
pelayanan pemanduan dan penundaan kapal yang lebih berkualitas;
3. Kondisi perairan, jumlah kunjungan/gerakan kapal, ukuran kapal dan cakupan
wilayah/perairan pandu pada tiap-tiap wilayah/perairan: kondisi perairan,
jumlah kunjungan/gerakan kapal, ukuran kapal dan cakupan wilayah/perairan
pandu pada tiap-tiap wilayah/perairan sangat mempengaruhi kecukupan dan
kehandalan SDM, sarana bantu dan prasarana pemanduan. Sehingga dalam
penentuan tingkat kecukupan dan kehandalannya sangat perlu memperhatikan
stabilitas dari berbagai faktor pengaruh tersebut;

Bab 2 | 4

4. Terjadinya kecelakaan kapal di wilayah perairan: adanya kecelakaan kapal


(tabrakan/kapal yang saling bersenggolan), selain dikarenakan kondisi alam
yang berupa gelombang, kecepatan arus dan angin yang merupakan faktor
eksternal yang sangat berpengaruh terhadap kinerja pelayanan pemanduan
tidak kalah pentingnya adalah kuantitas dan kualitas tenaga pandu (SDM
pandu) dan kecukupan serta kehandalan sarana bantu dan prasarana
pemanduan;

2.1.3 Pemahaman Terhadap Acuan (Instrumental Input)


Dalam KAK Butir 7 telah disampaikan referensi hukum terkait dengan pelaksanaan
kegiatan ini, diantaranya:
-

Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;

Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;

PP Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah;

Peraturan
Peraturan
Peraturan
Peraturan

Pelayanan Publik;
Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun 2010 tentang Organisasi

dan Tata Kerja Kementerian Perhubungan;


Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 93 Tahun 2014 tentang Sarana Bantu

dan Prasarana Pemanduan Kapal;


Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53/PMK.02/2014 tentang Standar Biaya

Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan;


Pemerintah Nomor 5 Tahun 2010 tentang Kenavigasian;
Pemerintah Nomor 20 Tahun 2010 tentang Angkutan di Perairan;
Pemerintah Nomor 76 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Pengaduan

Masukan Tahun Anggaran Tahun 2015;


-

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 57 Tahun 2015 tentang Pemanduan


dan Penundaan Kapal.

Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut No. HK.207/01/19/SYB/-TPR-13


Tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Pemanduan Kapal di Perairan Wajib Pandu
Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya

Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Laut No. HK.103/319/DJPL-15


Tentang Tata Cara Pemberian Surat Persetujuan Penggunaan Sarana Bantu dan
Prasarana Pemanduan

Bab 2 | 5

2.1.4 Pemahaman Terhadap Konteks Pelaksanaan Kegiatan


Dalam KAK telah disampaikan mengenai beberapa hal yang merupakan konteks
dasar dari pelaksanaan kegiatan ini, diantaranya:
a. Masukan (input) berupa sumber daya yang dialokasikan untuk melakukan
kegiatan ini, yakni:
1) Dana untuk kegiatan ini sesuai KAK Butir 5 berasal dari DIPA APBN Tahun
2016 pada Satker Peningkatan Fungsi Pelabuhan dan Pengerukan Pusat;
2) SDM adalah tenaga ahli dan tenaga pendukung yang disiapkan oleh pihak
kedua (Konsultan) seperti yang disampaikan pada KAK Butir 10 yang terdiri
dari sebanyak 6 tenaga ahli, dan 3 tenaga pendukung (drafter, administrasi,
dan surveyor);
3) Waktu adalah alokasi waktu bagi konsultan untuk melaksanakan pekerjaan
ini seperti yang disampaikan pada KAK Butir 9 yakni selama 150 (seratus
lima puluh) hari kalender pada Tahun Anggaran 2016.
4) Data dan informasi, baik yang berasal dari sumber primer (pengamatan
lapangan, wawancara, diskusi, kuisioner) maupun sekunder (statistik,
laporan, literatur, dll) yang akan dikumpulkan oleh pihak kedua (Konsultan)
serta difasilitasi oleh Pihak Pertama (pemberi kerja) selama masa
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan lingkup kegiatan ini sebagaimana
telah disampaikan dalam KAK Butir 7 dan Butir 8;
b. Lingkup kegiatan (scope-of-work), sebagaimana disampaikan pada uraian
kegiatan dalam KAK Butir 7 dan 8 yang jika dikolaborasikan akan menjadi
terdiri dari:
1) Pekerjaan Pengumpulan Data Awal
Tahapan ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran awal pekerjaan
berupa data sekunder yang di dapat melalui studi literatur (desk study)
meliputi:
a)
Gambaran lokasi pekerjaan yang memuat kondisi lapangan secara
garis besar berupa data-data teknis yang ada kaitannya dengan rencana
pelaksanaan pekerjaan;
b)
Metodologi pelaksanaan;
c)
Rencana kerja kegiatan;
d)
Tanggapan terhadap Kerangka Acuan Kerja;
e)
Rencana kerja selanjutnya.
2) Survey

Kondisi

Eksisting

Operasional/Pelaksanaan

Pemanduan

dan

Penundaan Kapal

Bab 2 | 6

Dilakukan untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan/operasional dan


tingkat pelayanan pemanduan eksisting dengan cara:
a)

wawancara/diskusi

mendalam

dengan

Pengawas

Pemanduan

(Syahbandar) dan Penyelenggara Pemanduan (Otoritas Pelabuhan)


setempat, pelaksana pemanduan (BUP/Pengelola Terminal Khusus yang
telah mendapatkan pelimpahan pelaksanaan/pengelolaan pemanduan)
untuk mengetahui:
(1) pola pengelolaan dan pelayanan jasa pemanduan dan penundaan
kapal eksisting di lokasi pekerjaan;
(2) identifikasi manajemen kerja SDM pandu eksisting di lokasi
pekerjaan;
(3) identifikasi manajemen pengoperasian sarana bantu dan prasarana
pemanduan eksisting di lokasi pekerjaan.
pengamatan lapangan terhadap pelayanan

b)

pemanduan

dan

penundaan kapal eksisting meliputi antara lain:


(1) on time performance pelaksanaan pemanduan kapal;
(2) on time performance pelaksanaan penundaan kapal;
(3) tingkat keselamatan pemanduan kapal;
(4) tingkat keselamatan penundaan kapal;
(5) tingkat kepuasan pelanggan/pengguna jasa terhadap kecukupan dan
kehandalan

SDM

pemanduan,

sarana

bantu

dan

prasarana

pemanduan.
c)
pengumpulan data-data primer meliputi antara lain:
(1) waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pemanduan kapal;
(2) waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan penundaan kapal;
(3) jumlah dan kualifikasi petugas pandu;
(4) jumlah dan kualifikasi operator radio pandu;
(5) jumlah dan spesifikasi kapal tunda;
(6) jumlah dan spesifikasi kapal pandu;
(7) jumlah dan spesifikasi kapal kecil;
(8) jumlah dan letak stasiun pandu;
(9) jumlah dan spesifikasi prasarana pemanduan lainnya;
(10)
petunjuk teknis pemanduan kapal yang telah ditetapkan oleh
pengawas pemanduan;
(11)
sispro pelayanan pemanduan yang digunakan oleh pelaksana
d)
(1)
(2)
(3)

pemanduan.
Pengumpulan data-data sekunder meliputi:
profil area perairan pandu di lokasi pekerjaan;
titik koordinat batas-batas perairan pandu;
titik koordinat Pilot Boarding Ground (titik naik/turun pandu ke/dari

kapal);
(4) jumlah terminal/terminal khusus yang ada pada perairan pandu
(apabila ada);

Bab 2 | 7

(5) dokumen rencana pengembangan fasilitas pelabuhan/Rencana lnduk


Pembangunan Pelabuhan (apabila ada);
(6) data kunjungan dan ukuran kapal yang dilayani oleh pandu di lokasi
pekerjaan;
(7) studi atau kegiatan terdahulu berkaitan dengan kondisi alur
pelayaran dan perairan pelabuhan.
(8) jumlah kecelakaan kapal yang
e)

melibatkan

pemanduan

penundaan kapal pada 3 (tiga) tahun terakhir (apabila ada).


penyebaran angket/quesioner kepada pengguna jasa

dan
untuk

mengetahui tingkat kepuasan pengguna jasa terhadap kecukupan dan


kehandalan SDM pemanduan, sarana bantu dan prasarana pemanduan
f)dokumentasi pelaksanaan
3) Kajian kondisi tingkat kesulitan berlayar berdasarkan faktor kapal dan
faktor di luar kapal.
Melakukan pengumpulan data eksisting dan kajian tingkat kesulitan
berlayar pada lokasi studi yang meliputi:
a)
faktor-faktor di luar kapal yang mempengaruhi keselamatan
berlayar, antara lain:
(1) Kedalaman perairan;
(2) Panjang alur perairan;
(3) Banyaknya tikungan;
(4) Lebar alur perairan;
(5) Rintangan/bahaya navigasi di alur perairan;
(6) Kecepatan arus;
(7) kecepatan angin;
(8) tinggi ombak;
(9) ketebalan/kepekatan kabut;
(10)
jenis tambatan kapal;dan
(11)
keadaan sarana bantu navigasi pelayaran.
b)
faktor kapal yang mempengaruhi keselamatan berlayar, antara lain:
(1) Frekuensi kepadatan lalu lintas kapal;
(2) Ukuran kapal (tonase kotor, panjang dan sarat kapal);
(3) Jenis kapal; dan
(4) Jenis muatan kapal.
4) Analisa pertumbuhan kunjungan kapal yang membutuhkan pelayanan
pemanduan dan penundaan kapal
Pekerjaan

analisa

pertumbuhan

kunjungan

kapal

dilakukan

untuk

memprediksi kebutuhan pemenuhan persyaratan pelaksanaan pemanduan.


Analisa pertumbuhan kunjungan kapal dilakukan dengan pengumpulan data
berdasarkan:
a)
pertumbuhan/peningkatan jumlah kunjungan kapal;
b)
rencana pengembangan fasilitas pelabuhan;
c)
rencana pengembangan TUKS;

Bab 2 | 8

d)

rencana pengembangan Terminal Khusus.

5) Analisa Pengembangan Perairan Pandu


Pekerjaan

analisa

pengembangan

perairan

pandu

dilakukan

untuk

mendapatkan proyeksi/kemungkinan adanya perubahan terhadap batasbatas perairan pandu yang telah ada (eksisting) dengan memperhatikan:
a)
adanya pengembangan kegiatan kapal di luar perairan pandu yang
telah ditetapkan;
b)
adanya perubahan tingkat kesulitan berlayar di luar perairan pandu
yang telah ditetapkan
6) Analisa terhadap tingkat kecukupan dan kehandalan SDM pemanduan,
sarana bantu dan prasarana pemanduan
Analisa ini menggunakan indikator penilaian yang disusun berdasarkan
pengumpulan data, survey-survey dan analisa-analisa diatas, dimana secara
umum indikator yang akan dinilai dilokasi pekerjaan meliputi indikatorindikator berikut ini:
a)
on time performance pelaksanaan pemanduan kapal;
b)
on time performance pelaksanaan penundaan kapal;
c)
tingkat keselamatan pemanduan kapal;
d)
tingkat keselamatan penundaan kapal;
e)
tingkat kepuasan pelanggan/pengguna jasa terhadap kecukupan dan
kehandalan SDM pemanduan, sarana bantu dan prasarana pemanduan.
c. Keluaran (output) dari kegiatan ini dalam KAK Butir 14 dicantumkan bahwa
keluaran pokoknya adalah adalah berupa Laporan Akhir dari pelaksanaan
kegiatan yang mencakup :
1) Pekerjaan survei/analisa/pengamatan lapangan;
2) Penilaian terhadap kondisi eksisting tingkat kecukupan dan kehandalan SDM
Pemanduan, Sarana Bantu dan Prasarana Pemanduan di lokasi kerja;
3) Rekomendasi terhadap standar minimum kecukupan dan kehandalan SDM
Pemanduan, Sarana Bantu dan Prasarana Pemanduan di lokasi kerja untuk
mewujudkan pelaksanaan pemanduan dan penundaan kapal yang baik dan
terukur;
4) Dokumentasi pelaksanaan.
d. Hasil (outcome) berupa tercapainya maksud dan tujuan (purpose and
objective), sebagaimana disebutkan pada Butir 2 dari KAK yakni adanya untuk
mendapatkan

gambaran

detail

mengenai

jumlah

(kuantitatif)

dan

kualifikasi/spesifikasi (kualitatif) SDM Pemanduan, Sarana Bantu dan Prasarana


Pemanduan yang paling sesuai untuk melaksanakan pelayanan pemanduan dan

Bab 2 | 9

penundaan kapal di lokasi pekerjaan sebagai bahan evaluasi dan peningkatan


kualitas layanan jasa pemanduan dan penundaan kapal.

2.1.5 Bagan Alir Pola Pikir Pelaksanaan Kegiatan


Berdasarkan pemaparan mengenai isu strategis, lingkungan strategis, instrumental
input, dan konteks kegiatan yang disampaikan pada bagian sebelumnya, dapat
disusun suatu diagram pola pikir pemahaman konsultan terhadap pelaksanaan
kegiatan sebagaimana disampaikan pada Gambar 2.1.

Bab 2 | 10

DASAR HUKUM
(instrumental input)
Peraturan sektor Transportasi Laut
Peraturan Kepelabuhanan
Peraturan Kenavigasian
Peraturan Pemanduan

MAKSUD
LATAR BELAKANG MASALAH (isu
strategis)DAN TUJUAN (purpose and objectives)INPUT
(Sumber daya)

PROCESS
(Uraian kegiatan)

MAKSUD: mengetahui jumlah dan


Kondisi
kualifikasi
faktual:
SDM,
belum
Sarana
terdapat
Bantu
standar
dan Prasarana
minimumPemanduan
pemenuhanyang
terhadap
paling
tingkat
sesuaikecukupan
untuk melaksanakan
dan kehandalan
pelayanan
SDMpemanduan
pemanduan,dan
sarana
penundaan
bantu dan
kapal
prasarana
di Adanya
Perairan
Dana:
pemanduan;
APBN
gambaran
Wajib2016
Pengumpulan
Pandu
detail
Kelas
mengenai
IData
Tanjung
Awal;
jumlah
Perak.
(kuantitatif) dan kualifikasi/Laporan
spesifikas
(P
SDM:
tenaga
ahli,
dan
3 tenaga
pendukung
TUJUAN: Mendapatkan gambaran
Kondisi
detailideal:
mengenai
pelaksana
jumlahpelayanan
(kuantitatif)
jasadan
pemanduan
kualifikasi/spesifikasi
wajib menyediakan
(kualitatif)
SDMSDM
pemanduan,
Pemanduan,
sarana
Sarana
bantuBantu
dan prasarana
dan Prasarana
pemanduan
Pemanduan
yang memenuhi
yang palingpersyaratan
sesuai 6untuk
dalam
melaksanakan
Survey
jumlah
Kondisi
sesuai
pelayanan
Eksisting
dengan
pemanduan
ukuran
Operasional/Pelaksanaan
dan dan
gerakan
penundaan
kapal per
Pemanduan
kapal
haridi lokas
d
Requirement: suatu standar minimum pemenuhan terhadap tingkat kecukupan dan kehandalan SDM pemanduan, sarana bantu dan prasarana pemanduan
Waktu: 150 hari
Kajian
kalender
kondisi tingkat kesulitan berlayar berdasarkan faktor kapal
Data dan informasi:
survey
primer dan
sekunder,kapal
diskusi,
Analisa
pertumbuhan
kunjungan
yangkuisioner
membutuhkan pelaya
Analisa Pengembangan Perairan Pandu
Analisa tingkat kecukupan dan kehandalan SDM pemanduan, sara

PERKEMBANGAN LINGKUNGAN STRATEGIS (environmental input)

Reformasi birokasi
Keterbatasan pengetahuan
Kondisi lingkungan
Terjadinya kecelakaan kapal

ALASAN/URGENSI PELAKSANAAN PEKERJAAN

KONTEKS DARI PEKERJAAN YANG DI

Bagan alir pola pikir pelaksanaan kegiatan

Bab 2 | 11

2.2

TANGGAPAN TERHADAP ALOKASI SUMBER DAYA DALAM KAK

Tanggapan terkait dengan sumber daya yang disampaikan dalam KAK terkait dengan pendanaan, material dan fasilitas
pendukung, alokasi tenaga ahli, waktu, dan sistem pelaporan.

2.2.1 Pengalokasian Sumber Daya Manusia


Tanggapan dan saran ini terkait dengan penyediaan tenaga ahli dan tenaga pendukung yang tertuang dalam KAK Butir
10. Adapun tanggapan yang disampaikan pihak konsultan terkait dengan alokasi sumber daya manusia untuk kegiatan ini
adalah:

Kebutuhan tenaga ahli dalam pelaksanaan pekerjaan ini dialokasikan sebanyak 6 orang. Konsultan menilai bahwa

alokasi tenaga ahli ini sudah cukup memadai dari sisi jenis keahlian maupun alokasi MM (Man Month) untuk dapat

melaksanakan kegiatan ini dengan baik dan sesuai dengan alokasi waktu yang sudah ditetapkan. Namun harus

diperhatikan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang spesifik (un-usual) yang membutuhkan adanya
keterpaduan dan cara pikir yang sama diantara para tenaga ahli di bawah pimpinan ketua tim. Oleh karena itu:

Konsultan memandang bahwa kualifikasi dari ketua tim yang disampaikan dalam KAK sudah tepat yaitu

diisi oleh personel dengan pengalaman dan kematangan yang memadai (minimal berpendidikan S1 dengan
pengalaman 9 tahun). Oleh karena itu, dalam jajaran tenaga ahli yang diusulkan oleh konsultan dipasang tenaga
ahli dengan kualifikasi yang sesuai.

Sedangkan untuk jajaran tenaga ahli lainnya sebaiknya diisi oleh personel dengan pendidikan minimal S1

dengan pengalaman minimal 5 tahun di bidangnya.


Perlu dibuat semacam kelompok kerja untuk menyeragamkan pola kerja diantara tenaga ahli yang

dialokasikan, di mana konsultan menyarankan sebagai berikut:

Tim Kerja Kajian Teknis dan Operasional: yang bertugas melakukan kajian berkaitan dengan
analisis dan pengolahan data;

Tim Kerja Lapangan: yang bertugas mengumpulkan dan melakukan kompilasi data hasil
pelaksanaan survey di lapangan;

Pada kegiatan ini tidak diberikan asisten tenaga ahli. Konsultan menilai alokasi asisten tenaga ahli sangat

diperlukan untuk dapat membantu kerja tenaga ahli dalam teknis pengerjaan.

Tenaga pendukung yang dialokasikan untuk pekerjaan ini sebanyak 3 orang (drafter, administrasi, dan surveyor).

Konsultan menilai alokasi tenaga pendukung ini sudah sangat memadai untuk dapat membantu kerja tenaga ahli,

baik secara administratif maupun dalam teknis pengerjaan. Namun demikian tenaga pendukung yang ditempatkan
juga sudah cukup berpengalaman dan terbiasa dengan kegiatan proyek, sehingga tenaga ahli dapat lebih fokus
kepada pembahasan substansi kegiatan. Oleh karena itu konsultan memberikan tanggapan dan saran berikut:
o

Drafter yang digunakan adalah minimal lulusan DIII yang telah memiliki pengalaman minimal 3 tahun
dalam pekerjaan pelaksanaan penggambaran;

Tenaga Administrasi yang direkrut untuk membantu penyelesaian administrasi baik saat pelaksanaan

proyek dalam hal persiapan, dan pelaksanaan survei kunjungan lapangan adalah tenaga administrasi yang

berpengalaman dalam penyiapan dokumen administrasi sehingga mempermudah tenaga ahli dan asisten dalam
pelaksanaan kegiatan di lapangan;
o

Surveyor yang dilibatkan adalah personil yang telah memiliki pengalaman dalam melakukan pengukuran
dan pengambilan data, termasuk memiliki kemampuan untuk melakukan diskusi ringan dan membantu tenaga
ahli dalam melakukan pencatatan saat pelaksanaan wawancara dan pengukuran berlangsung.
Bab 2 | 12

Untuk mendukung kinerja tenaga ahli maupun tenaga pendukung perlu diperhatikan beberapa hal berikut:

Kualifikasi tenaga ahli perlu ditunjukkan dengan referensi mengenai jenis-jenis pekerjaan yang secara

spesifik sangat terkait dengan pelaksanaan kegiatan ini;


Diusahakan bahwa tenaga ahli dan tenaga pendukung yang ada merupakan pegawai tetap di konsultan,

sehingga memudahkan dalam proses koordinasi maupun teknis operasional pekerjaan;


Untuk memanfaatkan alokasi waktu, perlu kiranya disusun jadwal alokasi tenaga kerja (manning

schedule) yang baik, efisien dan efektif agar mampu memaksimalkan tim tenaga ahli dan tim tenaga penunjang

agar tidak mengganggu jalannya pekerjaan tim secara keseluruhan (teamwork) sehingga mampu menyelesaikan
semua pekerjaan baik secara administrasi (laporan-laporan) maupun secara teknis.

2.2.2 Alokasi Waktu Dan Sistem Pelaporan

Tanggapan dan saran ini terkait dengan waktu pelaksanaan dan sistem pelaporan yang tertuang dalam KAK Butir 9 dan

Butir 11 hingga Butir 14. Terkait dengan jangka waktu pelaksanaan pekerjaan yang diperkirakan selama 150 hari

kalender dengan berbagai kewajiban untuk penyusunan laporan, dan survey kunjungan lapangan, pihak konsultan
memberikan tanggapan sebagai berikut:
Waktu yang disediakan pada dasarnya cukup panjang, namun karena substansi yang dibahas dalam pekerjaan ini

cukup banyak, maka waktu yang ada harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan pembuatan jadwal dan tahapan
pelaksanaan pekerjaan yang baik serta sistem kerja tim dapat efektif.

Untuk memudahkan mengatur progress dalam pelaksanaan kegiatan tahapan pelaksanaan pekerjaan akan

disusun ke dalam 4 tahap. Tahapan pelaksanaan pekerjaan ini disesuaikan dengan kewajiban penyerahan laporan,
yakni:
o

tahap persiapan, untuk persiapan/koordinasi tim, penyusunan metoda kerja, kajian pustaka, serta
persiapan pelaksanaan survey. Hasil tahap ini disampaikan pada Laporan Pendahuluan.

tahap pengumpulan data dan analisis awal, untuk melakukan pengumpulan data primer dan sekunder,

serta analisis awal berupa kompilasi data, pengelompokkan data, dan interpretasi data. Hasil tahap ini
disampaikan pada Laporan Antara.
o

Tahap analisis, untuk melakukan analisa pertumbuhan kunjungan kapal yang membutuhkan pelayanan

pemanduan dan penundaan kapal; analisa pengembangan perairan pandu; serta analisa penilaian tingkat

kecukupan dan kehandalan SDM pemanduan, sarana bantu dan prasarana pemanduan sehingga dapat dilakukan
penilaian terhadap kondisi eksisting tingkat kecukupan dan kehandalan SDM Pemanduan, Sarana Bantu dan
Prasarana Pemanduan di lokasi kerja; dan menyusun rekomendasi terhadap standar minimum kecukupan dan
kehandalan SDM Pemanduan, Sarana Bantu dan Prasarana Pemanduan di lokasi kerja untuk mewujudkan

pelaksanaan pemanduan dan penundaan kapal yang baik dan terukur. Hasil tahap ini disampaikan pada Draft
Laporan Akhir.
o

Tahap penyempurnaan, untuk menyempurnakan laporan dan seluruh produk pekerjaan secara substantif
maupun editorial sesuai dengan masukan dari pemberi kerja maupun dari hasil diskusi dengan pihak terkait.
Hasil tahap ini disampaikan pada Laporan Akhir.

2.3

TANGGAPAN DAN SARAN TERHADAP PERSONIL/FASILITAS PENDUKUNG DARI PPK

Uraian dalam Ruang Lingkup pada KAK telah menjelaskan tentang data yang harus dikumpulkan. Untuk mendukung
kelancaran pengumpulan data, maka diperlukan dukungan terhadap kemudahan dalam akses data tersebut, selain
Bab 2 | 13

Konsultan juga membutuhkan pendamping dari PPK yang dapat memberikan informasi mengenai operasional dan kondisi
SDM, Sarana Bantu dan Prasarana di Tanjung Perak pada saat visitasi (kunjungan lapangan).

Bab 2 | 14