100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
301 tayangan216 halaman

Peng Cong Hiap Eng

Cerita ini menceritakan tentang In Ceng, seorang utusan dinasti Beng yang ditahan di negeri Watzu oleh Thio Cong Ciu karena dendam masa lalu. In Ceng kemudian meninggalkan pesan pada cucunya, In Lui untuk membalas dendam kepada keluarga Thio. Cerita ini juga mengisahkan perjalanan In Ceng dan In Lui yang sedang dalam perjalanan pulang ke kota Gan-bun-kwan setelah bertahun-tahun tinggal di

Diunggah oleh

Jajap Tanudjaja
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
301 tayangan216 halaman

Peng Cong Hiap Eng

Cerita ini menceritakan tentang In Ceng, seorang utusan dinasti Beng yang ditahan di negeri Watzu oleh Thio Cong Ciu karena dendam masa lalu. In Ceng kemudian meninggalkan pesan pada cucunya, In Lui untuk membalas dendam kepada keluarga Thio. Cerita ini juga mengisahkan perjalanan In Ceng dan In Lui yang sedang dalam perjalanan pulang ke kota Gan-bun-kwan setelah bertahun-tahun tinggal di

Diunggah oleh

Jajap Tanudjaja
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Peng-Cong Hiap-Eng

Peng-Cong Hiap-Eng
Merupakan cerita kedua dari serial Thian-san karangan Liang Ie Shen yang disadur oleh
OKT. Bercerita tentang dua muda-mudi, Thio Tan Hong dan In Lui yang saling jatuh cinta,
tetapi ternyata kakek dan orang tua mereka saling bermusuhan. Thio Tan Hong adalah
putera Thio Cong Ciu dan cucu Thio Su Seng, ketika Thio Su Seng dikhianati saudara
angkatnya Cu Goan Ciang (pendiri dinasti Beng/Ming), puteranya,Thio Cong Ciu menyingkir
ke Watzu (Mongolia) dan menjadi perdana menteri disana. Karena dendam kepada Bengthaycouw, Thio Cong Ciu menahan utusan dinasti Beng, yaitu In Ceng kakek In Lui di negeri
Watzu. In Ceng dipekerjakan sebagai gembala kuda oleh Thio Cong Ciu yang menimbulkan
kebencian luar biasa In Ceng kepada Thio Cong Ciu dan turunannya. Ketika berhasil lolos
dari negeri Watzu, In Ceng malah dihadiahkan secawan arak beracun oleh kaisar Beng saat
itu. Sebelum meninggal In Ceng meninggalkan pesan kepada In Lui yang masih bocah untuk
membalas dendam pada Thio Cong Ciu dan turunannya.
================================================================
Di luar kota Gan-bun-kwan, daerah yang luasnya seratus lie adalah daerah kosong atau no
man's land. Di dalam kota Gan-bun-kwan berdiam pasukan perang Kerajaan Beng, dan di
pihak sana, di luar kota ada tentara bangsa Mongolia, ialah rombongan suku bangsa Watzu.
Selama tahun-tahun permulaan dari Kaisar Eng Cong dari Kerajaan Beng - belum empat
puluh tahun dari wafatnya Beng Thay-couw Cu Goan Ciang, kaisar pendiri Ahala Beng bangsa Mongolia di Barat-utara mulai bangkit-bangun pula, dan rombongan suku Watzu
adalah yang terkuat. Rombongan ini setiap tahun maju dengan perlahan-lahan sampai di
tahun Ceng-tong ke-3 - tahun Kaisar Eng Cong - tentaranya telah mendekati kota Gan-bunkwan. Demikian terjadilah daerah yang kosong itu.
Pada suatu magrib, selagi angin barat meniup dengan kerasnya, hingga pasir kuning dan
daun-daun rontok beterbangan, sedangnya kelenengan-kelenengan kuda bercampur-baur
dengan suaranya terompet huchia dari orang Mongolia, maka di daerah kosong itu, ialah di
jalan pegunungan di dalam selat, sebuah kereta keledai asyik lewat dengan kencangnya.
Kereta itu diiringi satu penunggang kuda - seorang usia pertengahan yang mengendong
kantong busur pada bebokongnya dan pada pinggangnya tergantung sebatang pedang.
Sering sekali pengiring ini berpaling ke belakang.
Selagi angin bertiup keras, bercampur dengan suara ringkikan kuda yang tak hentinya dan
suara beradunya senjata-senjata tajam, tiba-tiba terdengar satu seruan panjang dan
hebat, lalu setelah itu - dengan laratnya sang kereta keledai - suara berisik itu perlahanlahan berubah menjadi kesunyian.
Dari dalam kereta, seorang tua menyingkap tenda, memperlihatkan kepalanya dengan
rambut ubanan semua.
"Apakah Teng-ji memanggil aku?" tanya dia. "Apakah dia telah menemui kecelakaannya? Cia
Hiapsu, tak usah kau pedulikan lagi padaku, pergi kau sambut mereka itu! Setelah sampai
disini, mati pun aku akan meram."
Pengiringnya itu perdengarkan jawabannya. Ia menunjuk jauh ke belakang.
"Selamat loopeh!" kata dia. "Lopeh dengar suara kalutnya tindakan kaki kuda itu. Itulah
pasti tanda tentara Tartar telah mundur! Nah, lihat di sana, bukankah itu mereka ang

Peng-Cong Hiap-Eng
tengah mendatangi?"
Habis berkata pengiring ini memutar kudanya, yang terus ia larikan, guna memapaki
"mereka" yang katanya tengah mendatangi mereka.
Si orang tua di dalam kereta menghela napas, menyusul itu air matanya berlinang-linang,
menetes turun.
Di dalam kereta itu, yang larinya tak tetap, ada satu bocah wanita. Dia bermuka merah
kareha hawa yang dingin sekali, warna merah itu mirip dengan buah apel yang telah
matang. Dikucak-kucaknya matanya seperti dia baru terjaga dari tidurnya.
"Yaya, adakah ini wilayah Tionggoan?" dia tanya.
Orang yang dipanggil "yaya" (engkong) itu menahan keretanya. Ia menyingkap pula tenda,
untuk melihat ke tanah tempat sekitarnya.
" Ya, inilah tanah daerah Tionggoan," sahutnya dengan suara dalam. "A Lui, coba kau turun,
kau tolongi yayamu menjemput segumpal tanah!"
Ketika itu dari mulut selat terlihat tiga ekor kuda kabur mendatangi, salah satu
penunggangnya rebah tengkurap dengan pakaian morat-marit, robek di sana-sini. Yang
terdepan adalah satu hweeshio atau pendeta.
Pengiring usia pertengahan yang dipanggil Cia Hiapsu oleh yayanya si bocah tadi memapaki
hweeshio itu.
"Tiauw Im suheng, bagaimana dengan In Teng sutee?" dia tanya.
Hweeshio itu menahan kudanya. "'Dia telah menemui kematiannya," ia menyahut,
wajahnya muram. "Tidak kusangka, setelah melalui laksaan lie air dan ribuan lie gunung,
setelah bisa menyingkir sampai di sini, selagi bisa menyingkir sampai di sini, selagi kota
Gan-bun-kwan sudah terpandang di depan mata, dia masih tak dapat lolos dari tangan
orang Tartar! Akan tetapi, tak kecewa dia menjadi satu laki-laki, dalam keadaan luka
parah dia masih dapat membinasakan beberapa orang musuh, selagi menghadapi
kematiannya, dia telah berhasil membunuh Tartar yang memimpin pasukannya, hingga dia
membuatnya tentara Mongolia menjadi ketakutan dan kabur, sampai mereka itu tak berani
mengejar terlebih jauh! Manusia siapakah yang tidak mati? Orang yang matinya seperti dia,
matinya berharga! Muridmu juga tidak dapat dicela, dia pun berhasil membinasakan
beberapa musuh, dengan paman gurunya dia mati bersama!....."
Orang usia pertengahan itu membelalakan matanya, dengan mata bersorot kegusaran, dia
dongak memandang udara, habis itu mendadak dia berseru panjang. "Kota Gan-bun-kwan
telah berada di depan mata, kita akhirnya tidak menyia-nyiakan pesan sute In Teng!"
katanya. "Kita telah antar ayahnya pulang, di alam baka In sute bolehlah meramkan
matanya. Cuma In Tayjin pasti sangat berduka, hal ini untuk sementara harus
disembunyikan baginya."
Lantas ia larikan kembali kudanya, ke arah kereta keledai. Si orang tua telah duduk di
depan kereta sekarang, tangannya memegang segumpal tanah. Nampaknya ia bersikap luar
biasa sekali.
Si bocah wanita, yang berdiri diam di tanah, matanya mengawasi engkongnya saja."In

Peng-Cong Hiap-Eng
Tayjin, kita telah kembali," berkata Tiauw Im Hweesio, yang turut si pengiring usia
pertengahan itu.
"Mana anakku si Teng?" tanya si orang tua.
"Tentara Tartar telah kita pukul mundur," sahut Tiauw Im. "Dia telah mendapat sedikit luka,
dia ada di belakang bersama murid sute Thian Hoa."
Hweeshio ini telah kuatkan hatinya, ia mencoba berlaku tenang, tapi tak sanggup ia
menahan kedukaannya yang hebat, ini terutama tampak pada wajahnya yang suram dan
suaranya yang sedikit gemetar.
Wajah si orang tua berubah dengan segera. Tiauw Im dan Cia Thian Hoa - demikian si
hiapsu, orang gagah bangsa hiapkek - orang-orang kosen, akan tetapi tak sanggup mereka
awasi sinar mata tajam dari orang tua itu, tanpa merasa mereka mundur dua-tiga tindak.
Orang tua itu sudah lantas tertawa bergelak-gelak. "Ayah adalah tiongsin dan anaknya
hauwcu!" mendadak ia berkata dengan nyaring. "Tiongsin dan hauwcu hidup berkumpul
dalam satu keluarga, maka aku, In Ceng, apa lagi yang aku rasakan kurang? Ha ha ha!"
Itulah tertawa yang mengandung kedukaan hebat sekali. Cia Thian Hoa dan Tiauw Im
Hweeshio berdiam. Keduanya kagum berbareng terharu. Mereka telah saksikan apa yang
dinamakan tiongsin - menteri setia dan hauwcu - anak berbakti.
Si bocah dongak mengawasi engkongnya itu. "Yaya, kau tertawakan apa?" dia tanya. "Aku
takut yaya, jangan kau tertawa seperti itu, Yaya, kenapa ayah masih belum datang?"
Orang tua itu berhenti tertawa dengan tiba-tiba , lantas dia berdiam. Tapi dia berdiam
sebentar saja.
"Apa besok pagi-pagi kita bisa sampai di kota Gan-bun-kwan?" dia tanya, suaranya
perlahan.
"Ya." Sahut Thian Hoa. "Malam ini adalah malaman Cap-gwee Cap-go, di waktu malam sang
rembulan terang sekali cahayanya. Besok pagi pastilah kita akan tiba di sana."
Orang tua itu masih menggenggam tanah, agaknya ia pandang tanah itu bagaikan mestika,
ia bawa itu ke hidungnya, untuk disedot beberapa kali. Tanah tu berbau daun-daun busuk.
Akan tetapi si orang tua merasakannya itu harum sekali.
"Dua puluh tahun sudah!" katanya pula, tetap perlahan, tetapi suaranya itu tetap perlahan,
tetapi suaranya itu tetap. "Baru sekarang aku dapat mencium lagi baunya tanah tumpah
darahku."
"Loopeh telah tinggal di negara asing, kehormatanmu dan kesetiaanmu telah dapat
dilindungi," berkata Cia Thian Hoa, "malah dibanding dengan Souw Bu, loopeh tinggal di
sana satu tahun lebih lama. Maka itu, orang sebagai loopeh, siapa pun pasti
menjunjungnya!"
Tetapi orang tua itu sendiri mengkerutkan alisnya.Ia ulurkan kedua tangannya, untuk
membantu menarik si bocah naik ke kereta.
" A Lui, tahun ini kau telah berumur tujuh tahun," katanya dengan perlahan, "maka itu
sudah seharusnya kau mulai mengerti urusan. Malam ini yayamu akan ceritakan kau sebuah

Peng-Cong Hiap-Eng
dongeng, kau mesti ingat itu baik-baik dalam kalbumu."
"Apa? Mesti diingat dalam kalbuku?" si bocah membaliki. "Aku tahu sudah, yaya hendak
menutur tentang cerita yang mengenai diri yaya sendiri!"
Orang tua itu heran, ia awasi cucunya itu.
"Kau sungguh cerdik!" kata dia. "Dibanding dengan masa kecilku, kau jauh lebih cerdik!"
Tak ingat engkong ini bahwa bocah itu, sejak dilahirkannya, baru satu bulan berselang
bertemu dengannya. Waktu baru bertemu sama sang engkong, si bocah telah menanya
pada ayahnya kenapa bolehnya mendadak muncul seorang engkong untuknya, atas mana
sang ayah menjawab,"Bukankah telah sering aku ceritakan kepadamu hal ikhwalnya Souw
Bu? Cerita tentang yayamu ini ada jauh menarik daripada lelakonnya Souw Bu itu. Tunggu
saja nanti, biar yayamu sendiri yang menuturkannya, tapi kau harus ingat itu baik-baik
dalam kalbumu."
Karena kata-kata ayah ini, maka bocah itu dapat menduga dongeng si engkong. Cia Thian
Hoa dan Tiauw Im Hweeshio seperti kitarkan kereta keledai itu, mereka berdiam, tetapi
dengan penuh perhatian, seperti si bocah perempuan sendiri.
Orang tua itu jumput sebatang tongkat bambu, di kepala itu ada beberapa lembar bulunya
yang jarang.
"Bulu dari tongkat ini, yang menjadi barang perhiasan, telah rusak karena salju yang beku
bagaikan es dari tanah utara," katanya. "Ini adalah tongkat yang dinamakan su-ciat. A Lui,
tahukah kau artinya su-ciat? Nanti aku jelaskan."
"Su-ciat adalah tongkat kehormatan, tongkat kepercayaan."
Bocah itu awasi engkongnya.
"Pada dua puluh tahun yang lampau, engkongmu ini adalah satu utusan dari Kerajaan Beng
yang besar," yaya itu mulai dengan ceritanya. "Engkongmu telah diutus ke Mongolia, yaitu
negara dari suku bangsa Watzu untuk mengikat persahabatan. Tongkat ini adalah
pemberian dari Sri Baginda kepadaku, namanya ialah su-ciat. Dan su-ciat ini mewakilkan
Raja, maka itu tongkat ini tak dapat termusnah. Ketika itu Mongolia terbagi dalam dua
rombongan suku bangsa, ialah Watzu dan Tartar. Bangsa itu masih lemah. Menurut aturan
utusan Kerajaan Beng mesti disambut secara hormat, akan tetapi di luar dugaan, di saat
penyerahan surat-surat kepercayaan negara, telah terjadi satu perubahan. Mulanya raja
Watzu tetap berlaku hormat seperti biasa, sampai tiba-tiba muncul seorang Han dalam
pakaian bangsa Tartar. Dia datang ke istana dengan membawa pedang di pinggangnya, dia
lantas menarik raja Watzu ke samping, untuk diajak berbisik, sambil bicara matanya
melirik padaku. Orang Han itu berumur kurang lebih dua puluh tahun akan tetapi matanya
memperlihatkan sinar kebencian hebat, dia sepertinya bermusuh denganku."
"Apakah orang itu kenal loopeh?" Cia Thian Hoa tanya.
"Tidak," sahut In Ceng. "Aku pun tidak kenal dia. Aku percaya, aku sebagai satu pembesar
yang bersih, seumur hidupku aku tidak punya musuh, lebih-lebih tak mungkin terjadi ada
musuh di antara bangsa Tartar. Tak tahu aku, mengap dia agaknya sangat membenci aku.
Ketika itu, melihat dia dandan sebagai orang Tartar, tak ingin aku bicara dengannya.
Setelah bicara sekian lama dengan raja Watzu itu, mendadak dia keluarkan perintah untuk

Peng-Cong Hiap-Eng
menahanaku, malah dia hendak rampas juga su-ciatku. Aku menjadi gusar, aku membuat
perlawanan. Aku sudah pikir, jiwaku boleh hilang tetapi tongkat kepercayaan dari Sri
Baginda ini tidak. Aku benci dia bila aku ingat dia adalah orang Han."
Keras suaranya orang tua ini sewaktu dia mengatakan demikian.
"Ketika dia dengar aku menyebut-nyebut Sri Baginda, dia tertawa besar," dia melanjutkan.
Kaisar Beng, Kaisar Beng!" katanya mengejek. "Haha! Apakah kau telah siap sedia untuk
menjadi menteri setia dari Kaisar Beng? Kau bakal jadi Souw Bu kedua! Souw Bu
menggembala kambing, kau sendiri boleh mengangon kuda!" Dan sejak itu, aku hidup di
tanah Utara yang hawanya sangat dingin, aku tungkuli kuda sampai lamanya dua puluh
tahun ..Mulanya aku masih mengharap pemerintah nanti mengirim angkatan perang guna
menolong aku, akan tetapi bertahun-tahun telah lalu, tetap tidak ada kabar beritanya.
Adalah kemudian aku dengar cerita bahwa Kaisar Tay Heng, yaitu Baginda Seng-Touw telah
mangkat, dia digantikan Baginda Jin Tong. Habis itu, belum satu tahun, Kaisar Jin Tong
juga wafat, ia lantas digantikan oleh satu Kaisar muda, hingga negara seperti tidak ada
rajanya. Sampai di situ, habislah keangkaran dari Thay-couw dan Seng-couw. Karena itu,
habis juga pengharapanku untuk dapat pulang kembali, dan aku percaya, pasti aku akan
mati di negara asing. Putus harapanku akan dapat kembali ke tanah daerah Han! Siapa
sangka, telah datang hari seperti ini!"
Thian Hoa dan Tiauw Im saling memandang, mereka bungkam, akan tetapi wajah mereka
menunjukkan bahwa mereka kagum sekali. In Ceng lihat sikapnya dua orang itu, ia tidak
ambil tahu, cuma sikapnya sendiri yang makin pendiam. Ia tekuk-tekuk sepuluh jari
tangannya hingga berbunyi.
"Selama dua puluh tahun itu, bukan main kesengsaraan yang kuderita," ia menyambungi
ceritanya. " Di laut pasir tidak ada air minum, sukar untuk mendapatnya, maka juga, ada
kalanya aku menghilangkan dahaga dengan minum air kencing kuda, sedang di musim
rontok dan dingin, aku minum air salju. Itulah hal biasa, itulah masih tidak berarti. Yang
paling menjemukan adalah itu jahanam, dia sering kirim utusan menemui aku dan di
depanku dia caci-maki kaisar Beng. Selama dua puluh tahun itu, tidak ada saat yang aku
tidak bersedia untuk mati, tetapi menjemukan, dia justeru tidak hendak membunuh aku,
dia Cuma menyiksa batinku!"
In Lui - ialah si A Lui, sebagaimana ia dipanggil engkongnya - jadi sangat gusar.
"Siapa namanya manusia busuk itu?" dia tanya. "Katakan padaku, yaya! Nanti, setelah Lui
dewasa, Lui gantikan yaya menuntut balas!"
"Lama kelamaan, tahulah aku siapa dia," In Ceng meneruskan lagi. Dengan begitu iapun
jawab cucunya itu. "Dia she Thio, namanya Cong Ciu. Tentu saja, tak pantas dia menjadi
manusia Han. Kenapa dia mencaci raja kita? Jiwi Hiapsu, coba katakan pantas atau tidak
kalau jahanam itu dibinasakan?"
"Memang dia harus dibinasakan!" sahut Tiauw Im dan Thian Hoa berdua, malah si hweeshio
sambil gedruk tanah dengan tongkatnya yang panjang seperti toya.
Baru sekarang In Ceng tersenyum. Ia mengusap-usap kepala cucunya.
"Kemudian ternyata, Thio Cong Ciu itu adalah dari keluarga dorna," ia melanjutkan
"Ayahnya sejak lama memangku pangkat di Mongolia, sampai kepadanya, dia semakin
terpakai. Dia baru berumur dua puluh lebih, dia sudah menjadi yu-sinsiang, menteri muda.

Peng-Cong Hiap-Eng
Bersama-sama cio-sinsiang Toat Hoan dia menjadi orang kepercayaan dari raja Watzu, Toto
Puhwa Khan. Dia bertubuh sehat, mungkin dia masih dapat hidup lagi dua atau tiga puluh
tahun. Siang dan malam selama aku mengembala kuda di tanah yang berlangit es dan
berbumi salju itu, selalu aku mengharap-harapkan dia tidak mati siang-siang!"
"Kenapa begitu, tayjin?" tanya Tiauw Im.
In Ceng tertawa dingin. Sudah lama sekali ia berdendam, sekarang ingin ia
melampiaskannya.
In Lui bergidik mendengar tertawa yang menyeramkan itu.
Engkong itu merogoh sakunya, dari mana ia keluarkan sepotong kulit kambing, di atas itu
ada tertulis beberapa huruf warna merah. Dengan samar sekali, kulit itu menyiarkan bau
bacin.
Cia Thian Hoa terperanjat melihat surat kulit kambing itu.
"In Loopeh, adakah ini surat darahmu?" dia tanya.
"Inilah yang kedua," sahut In Ceng. "Seperti aku katakan tadi, mulanya aku katakan tadi,
mulanya aku mengharap Pemerintah Agung mengerahkan angkatan perang untuk menegur
dan menghukum raja Watzu, supaya jahanam itu dibekuk dan dihukum menurut undangundang negara, kemudian aku dapat kenyataan, aku tidak mempunyai harapan lagi.Aku
lalu memikir untuk membunuh jahanam itu dengan tanganku sendiri, hanya sayang bagiku,
aku hanya satu sastrawan yang tak punya tenaga sekalipun untuk menyembelih ayam.
Setelah berpikir pulang-pergi, aku jadi mengharap biarlah anak cucuku semua
meninggalkan pelajaran surat, buat pelajari ilmu silat, guna mereka membalas sakit
hatiku. Kemudian ternyata pengharapanku itu telah terkabul. Selang sepuluh tahun sejak
aku menggembala kuda, anakku si Teng telah datang ke perbatasan, masuk ke dalam
negeri Watzu itu. Tentu saja dia telah sembunyikan she dan namanya. Dengan susah payah
dia cari aku. Ketika aku diutus ke Mongolia, si Teng baru saja lulus sebagai siucai. Dia
adalah satu mahasiswa yang lemah tubuhnya, akan tetapi di tanah asing ini, aku dapatkan
ia sebagai satu orang yang gagah. Nyatalah dia, oleh karena pemerintah agung tidak
berminat menegur raja Watzu, sudah lantas meninggalkan ilmu suratnya, dia sengaja
belajar silat, setelah mana dia menyelundup masuk ke Mongolia. Dia datang seorang diri.
Katanya dia belajar silat pada Hian Kie It-su, ahli pedang nomor satu. Dia baru belajar
tujuh tahun, dia belum lulus, akan tetapi kendati begitu, tiga sampai lima puluh orang
biasa saja tidak nanti mampu dekati padanya. Demikian keras niatnya menolongi ayahnya,
hingga tanpa menunggu sampai lulus dari perguruan, dia sudah mencari aku."
In Lui mendengarkan dengan kedua matanya memain tak hentinya. Ia sangat tertarik
tetapi ada sesuatu yang membuatnya ia tidak mengerti.
"Yaya," tanyanya. "Ayah mempunyai kepandaian silat itu, kenapa aku sedikit juga aku tidak
tahu? Aku lihat setiap hari ayah dan mama pergi bersama-sama untuk menggembala
kambing, mereka tidak mempunyai pekerjaan lain. Satu hari ada seorang Tartar yang
hinakan ayah, yang hendak merampas kambingnya, meskipun ia dipukul, sama sekali ia
tidak membalas menyerang."
Engkong itu menghela napas.
"A Lui, kau masih kecil," katanya. "Ada banyak hal, kalau itu diberitahukan kepadamu, kau

Peng-Cong Hiap-Eng
tidak akan mengerti. Di kemudian hari, umpama kata aku menutup mata, hingga tidak
dapat aku menanti sampai kau dewasa, itu waktu kedua mamakmu yang akan memberikan
keterangannya."
Thian Hoa tahu bahwa ceritanya In Ceng ini, meski dikatakan kepada cucunya, sebenarnya
ditujukan terhadap ia dan Tiauw Im Hweeshio. Cerita orang tua ini mengandung arti
dalam. Ia dapat melihat pada tubuhnya yang bergetar dan napasnya memburu, maka itu ia
lekas menghampiri, untuk memegang padanya.
"Mengasolah, loopeh," katanya. "Masih banyak waktu untuk kau bercerita, maka tunggulah
sampai kita tiba di Gan-bun-kwan, baru kau lanjutkan pula. Loopeh, andaikata di
kemudian hari kau hendak menitahkan sesuatu padaku, pasti aku akan melakukannya."
Orang tua itu batuk-batuk, ia menghela napas.
"Tidak, aku hendak melanjutkan," katanya, suaranya tetap. "Sudah terlalu lama, urusan ini
tersimpan dalam hatiku, jikalau tidak sekarang aku keluarkan, hatiku belum merasa lega"
Ia berhenti sebentar, kemudian ia lanjutkan,"Anakku Teng telah memandang urusan ini
terlalu gampang. Dia percaya, dengan mengandalkan kegagahannya, dia sanggup
menolongi aku menyingkir dari Mongolia. Dia tidak tahu, di luar langit ada langit lainnya,
di atas manusia, ada manusia lainnya. Artinya orang gagah ada lagi yang terlebih gagah
pula. Demikian di Mongolia, ada banyak orang kosen. Di bawahannya Thio Cong Ciu tak
sedikit orang yang pandai silat. Selama aku menggembala, diam-diam telah ada orang yang
mengintai aku. Dengan susah payah si Teng telah dapat cari aku, akan tetapi belum sempat
dia mendamaikan daya untuk ajak aku menyingkirkan diri, di sudah dipergoki musuh. Coba
aku tidak suruh dia segera angkat kaki, mungkin dia sudah kena terbekuk lebih dulu. Habis
itu secara diam-diam pernah dia tempur orang-orang sebawahannya Thio Cong Ciu itu,
sekian lama tidak pernah dia peroleh hasil. Sejak itu barulah dia lepaskan rencananya akan
seorang diri saja menolongi aku. Selanjutnya dia bekerja menurut nasihatku. Dia lantas
berdiam diri di Mongolia dengan bawa diri seperti orang yang tidak mengerti ilmu silat, dia
lewatkan waktunya sambil memikirkan daya yang sempurna. Dengan aku ia selalu
mengadakan hubungan secara rahasia."
Ia berhenti sejenak sebelum ia melanjutkan lagi.
"Telah aku nasihatkan supaya dia tinggal menetap di Barat utara, berbareng dengan itu,
aku pun anjurkan dia menikah dengan satu nona Mongolia," orang tua ini bercerita terlebih
jauh. "Tindakanku ini maksudnya agar ia tidak sampai putus turunannya, supaya dia toh
dapat menuntut balas. Aku teringat kepada dongeng dari Gie Kong yang mencoba
memindahkan gunung. Andaikata anakku tidak dapat membalas sakit hati, nanti masih ada
cucuku, nanti masih ada buyutku, demikian seterusnya, asal keluargaku masih punya
turunan. Aku percaya, satu kali sakit hatiku mesti terbalas juga! Mengenai keluarga Thio
itu, umpamanya Thio Cong Ciu sendiri mati, dia juga ada turunannya, dan turunan itu
mesti menggantikan dia menerima pembalasan. Pada tujuh tahun yang lalu, aku dengar dia
telah mendapatkan satu anak lelaki, waktu itu aku sudah lantas menulis surat darahku
yang pertama, sebagai pesan kepada cucuku, supaya kalau nanti cucuku sudah dewasa, dia
mesti membinasakan anak lelaki itu atau turunannya, tidak peduli lelaki atau perempuan,
semua mesti dihabiskan!"
Orang tua ini menjadi sengit, sampai Thian Hoa yang kosen merasa bergidik. Hebat pesan
itu. Hendak ia bicara, atau ia membatalkannya. Cuma di dalam hatinya, dia
berpikir,"Beginilah dendam yang hebat! Tidakkah pembalasan ini ada lebih hebat daripada
pembalasan dalam kalangan kaum kang-ouw? Rupanya setelah terbenam dalam

Peng-Cong Hiap-Eng
penggembalaan kuda dua puluh tahun di antara es dan salju, saking sengsaranya, orang tua
ini telah berputus asa, sampai dia kehilangan sifatnya yang umum. Biarlah, setelah nanti
dia tiba di tanah daerah Tionggoan, sesudah kesehatannya pulih kembali, dia diberi
hiburan dan nasihat secara perlahan-lahan."
In Ceng tunjuk surat darah itu, napasnya sedikit memburu.
" Si Teng dengar nasihatku itu, dia simpan surat darahitu dengan dijahit di baju anaknya,
lalu anak itu dikirim pada satu suhengnya untuk diambil sebagai murid," kembali ia
melanjutkan. "Setelah itu, aku berpindah tempat menggembala, hingga putuslah
perhubunganku dengan anakku itu. Baru pada tiga bulan yang lalu, berhasillah dia mencari
aku, hingga kita dapat bertemu pula. Dia menemui aku secara rahasia. Dia beritahukan aku
bahwa dia sudah bermufakat dengan saudara seperguruannya untuk datang menolongi aku.
Itu waktu, mengingat aku telah berusia lanjut, aku tidak memikir lagi untuk menyingkirkan
diri, maka apa yang dia katakan itu, tidak begitu kuperhatikan. Aku cuma tanya dia,
selama berpisah tujuh tahun dariku, apakah dia telah mendapat lagi anak atau belum. Dia
jawab bahwa dia telah memperoleh satu anak perempuan - ialah kau, A Lui. Aku lantas
tulis pula surat untuk cucu perempuanku menuntut balas. Maka itu, Lui, kau mesti ingat,
jikalau kau bertemu dengan turunannya Thio Cong Ciu nanti, kau mesti wakilkan aku
membunuh mereka dan bakar mereka hingga tulang-tulangnya menjadi abu!"
In Lui mendengarkan dengan penuh perhatian, mendengar pesan yang terakhir ini pada
wajahnya yang merah bagaikan apel terlihat roman ketakutan, dengan tiba-tiba dia
menjerit, menangis.
"Yaya, apa begitu banyak orang mesti dibunuh?" katanya. "Oh, Lui Lui takut. Mama pun
pesan supaya aku jangan sembarang membunuh orang, malah kambing yang baru
dilahirkan juga mesti disayangi, dilindungi. Oh Mama! Kata ayah, mama hendak datang,
kenapa sekarang mama masih belum kelihatan juga? Ya, kenapa ayah pun tidak kelihatan?"
Nona cilik ini tidak ketahui, sekalipun mamanya tidak tahu dia sebenarnya ayahnya, yang
tinggal sembunyikan she dan namanya. Dan pada satu bulan yang lalu di luar tahu
isterinya, ayah itu sudah tinggalkan rumahnya dengan bawa anaknya minggat.
In Ceng singkap kumisnya yang putih, dengan mendadak nampaknya ia gusar.
"Lui Lui, apakah kau tidak dengar perkataanku?" dia tanya, suaranya bengis. "Aku beritahu
padamu, ayahmu, ayahmu itu, sudah "
Bocah itu kaget, ia berhenti menangis.
Engkong itu awasi cucunya, ia menghela napas. Tidak dia lanjutkan perkataannya. Tidak
tega ia memberitahukan sang cucu bahwa ayahnya sudah tidak ada lagi di dunia.
Cia Thian Hoa menggeleng-gelengkan kepalanya, diam-diam ia menghela napas. In Lui
tunduk.
"Akan aku dengar perkataan yaya," katanya perlahan.
In Ceng masukkan surat darah itu, yang ia baru tulis tiga bulan yang lalu, ke dalam sakunya
si bocah, terus ia dongak dan tertawa.
"Tidak kusangka bahwa aku, In Ceng, masih dapat menyingkir dari negara asing dan dapat

Peng-Cong Hiap-Eng
kembali ke negara sendiri," katanya. "Aku harap semoga Thio Cong Ciu si jahanam tidak
mati siang-siang supaya dia sendirilah terima pembalasan sakit hati dari cucuku! Cia
Hiapsu, aku minta sukalah kau memandang mukanya anakku si Teng dengan terima bocah
ini sebagai muridmu."
Thian Hoa ragu-ragu, maka itu, ketika ia menjawab, ia menjawab dengan perlahan.
"Hal ini baik nanti saja dibicarakan lagi," demikian jawabnya. "Oh, loopeh, aku minta
jangan kau salah mengerti! Sama sekali bukannya aku menampik, tetapi aku sedang
berpikir untuk carikan dia guru yang cakap."
Thian Hoa dan Tiauw Im bersama In Teng ada saudara seperguruan, guru mereka adalah
Hian Kie It-su yang bergelar Thian hee Tee it Kiam-kek," ahli pedang nomor satu di kolong
langit." Guru itu bukan melainkan pandai ilmu pedang, ia mahir juga lain-lain kepandaian,
yang semua bercampur menjadi satu. Dan dia pun mempunyai tabiat yang aneh, ialah dia
mempunyai lima murid, setiap murid diwariskan semacam ilmu kepandaian. Umpama Cia
Thian Hoa, ia utamakan ilmu pedang, tetapi ilmu pedang itu diturunkan hanya separuh!
Kenapa separuh-separuh. Dia sebenarnya punya dua rupa ilmu pedang, yang dua ini
bertentangan satusama lain. Perbedaan juga terdapat pada pedangnya. Dia telah bikin
sepasang pedang terpisah antara pedang lelaki dan pedang perempuan, hiong-kiam dan cikiam. Pedang yang perempuan ci-kiam, diberi nama Ceng Beng (Awan Hijau), dan yang
lelaki, hiong-kiam, diberi nama Pek In (Awan Putih). Pek In Kiam diserahkan pada Thian
Hoa, dan Ceng Beng Kiam kepada satu muridnya yang lain, murid wanita. Ilmu silat pedang
itu diciptakan Hian Kie It-su sesudah ia memikirkannya dalam-dalam dan lama. Jikalau
ilmu itu dipakai bertempur berendeng, dapat dibilang "tidak ada tandingannya di kolong
langit ini". Maka itu, di antara murid-muridnya adalah Thian Hoa dan si murid wanita itu
yang paling lihai, dan di antara mereka berdua, sukar dibedakan, yang mana yang terlebih
mahir. In Teng adalah murid yang belum lulus, maka itu ia dapat dibilang masih lemah.
Tiauw Im Hweeshio ada murid yang kedua, dia diwariskan ilmu tongkat panjang Hok-mothung "Tongkat Menakluki Iblis". Kepandaian ini termasuk Gwa-kee, pihak "Luar".
Thian Hoa dan Tiauw Im telah memenuhi permintaan In Teng datang ke Mongolia dengan
mengajak masing-masing muridnya, maksudnya untuk menolong In Ceng, ayahnya itu, yang
hendak di bawa buron kembali ke Tionggoan.
Hari yang dipilih kebetulan ada harian raja Watzu mendapat satu putera, di seluruh negeri
diadakan pesta besar, maka itu, penjagaan atas diri In Ceng menjadi longgar sendirinya.
Tiga saudara it sergap penjaga-penjaga, beberapa diantaranya dapat dibunuh. In Ceng
dibawa minggat. Hanya di luar dugaan, sesudah lari begitu jauh, selagi mendekati kota
Gan-bun-kwan, mereka kena disusul tentara pengejar, hingga terjadilah satu pertempuran
mati-matian dengan kesudahannya In Teng menemui ajalnya dan murid satu-satunya dari
Thian Hoa turut binasa juga. Masih syukur In Ceng telah kabur terus, hingga ia dapat lolos.
Habis bercerita, orang tua itu menjadi letih sekali, maka begitu ia rebahkan dirinya, ia
lantas tidur pulas.
In Lui dengan menjublak mengawasi engkongnya.
Menampak demikian, Cia Thian Hoa ulapkan tangannya, atas mana kereta lantas
dijalankan, guna melalui perjalanan sulit di lembah itu.
Sekarang bulan yang terang sudah muncul, suasana tenang.

Peng-Cong Hiap-Eng
Thian Hoa berikan dengdeng pada In Lui, dia dahar itu dan lalu minum, habis itu, setelah
ditepuk-tepuk, dia tidur pulas.
Kereta lari terus, rodanya tak rada di jalannya.
Berselang sekian lama, mendadak terdengar In Ceng mengigau. "Dingin! Dingin! Ada
serigala!"
Tiauw Im Hweeshio tertawa.
"Orang tua ini menyangka ia masih ada di tempat penggembalaannya di Mongolia."
Katanya perlahan.
In Lui pun mengigau seperti engkongnya itu. "Mama, Lui Lui tidak bunuh orang, Lui Lui
takut"
Mendengar itu, Thian Hoa melengak, lalu ia goyangkan kepalanya.
Hampir berbareng dengan itu, sekonyong-konyong terdengar suara anak panah mengaung,
melintasi selat itu.
Justeru itu, dalam mimpinya, In Ceng lompat bangun.
"Ada serigala!" dia berseru dalam mengigaunya. Tapi, ketika dia membuka matanya, dia
lihat segumpal api biru melayang turun.
Menyusul itu, Tiauw Im Hweeshio lompat maju, untuk menyambut musuh.
"Jangan kuatir, loopeh, Cuma beberapa orang!" Thian Hoa hiburkan si orang tua.
In Ceng telah benar-benar sadar dari tidurnya.
"Celaka, inilah berbahaya!" kata dia. "Yang datang itu adalah pahlawan nomor satu dari
Thio Cong Ciu, shenya Tantai, namanya Mie Ming. Nama itu adalah nama Mongolia, tetapi
sebenarnya dia orang Han asli. Pernah si Teng tempur pahlawan itu, a kena dikalahkan. Dia
memang sangat lihai."
Orang tua itu kenali panah api musuh.
Cia Thian Hoa tertawa.
"Sepasang kepalan dan tongkatnya suhengku itu telah menggetarkan Tionggoan," dia
berkata, "maka itu belum ada artinya bagi orang kosen nomor satu dari Mongolia. Asal
mereka itu tidak berjumlah banyak, aku tanggung dia bisa datang tetapi tidak bisa pulang.
Biarkan kita tangkap padanya, untuk dibawa pulang oleh loopeh ke kota raja dan
dipersembahkan sebagai jasa! Ingin aku melihat, musuh itu masih berani memusnahkan
Kerajaan Beng atau tidak."
Nama "Mie Ming" dari pahlawan Mongolia itu bisa berarti "memusnahkan kerajaan Beng".
Inilah kata-kata yang dibenci Thian Hoa, yang paling dibencinya ialah pengkhianat penjual
negara. Maka itu, habis berkata, ia hunus pedangnya, dia pun lari ke mulut lembah untuk
membantu Tiauw Im menghajar musuh.

10

Peng-Cong Hiap-Eng
Segera terlihat satu punggawa bangsa Mongolia dengan seragam perangnya yang
bersalutkan emas, senjatanya ialah sepasang gaetan Hok-ciu-kauw, dan punggawa itu
tengah bertempur dengan seru dengan Tiauw Im Hweeshio.
Pendeta itu memainkan tongkatnya hingga mengeluarkan angin menderu-deru, tanda
hebatnya serangan, meskipun demikian, Tantai Mie Ming, punggawa Mongolia yang kosen
itu, tidak sudi mundur, dia melawannya dengan gaetannya yang sama dashyatnya. Hingga
beberapa kali tongkat panjang kena disampok terpental.
Menampak demikian, barulah Thian Hoa terperanjat. Inilah tidak disangka olehnya.
"Benar binatang itu lihai," pikirnya. "Pantas In Teng tidak nempil terhadapnya. Mungkin
sekali, suheng juga bukan tandingannya."
Karena ini, dengan lantas ia maju, untuk bantui saudara seperguruannya itu. Ia menyerang
dengan jurus Hut-liu-coan-hoa atau Mengebut cabang yangliu, mencari bunga, ujung
pedangnya mencari sasaran ulu hati.
Pedang pun merupakan senjata yang diperantikan malawan gaetan dan sebangsanya.
Biasanya sulit untuk satu lawan lolos dari serangan semacam serangan Thian Hoa ini, akan
tetapi kesudahannya, Thian Hoa adalah yang terkejut sendirinya. Waktu pedangnya tiba,
sekalipun dia lagi desak Tiauw Im, Mie Ming dapat menangkis dengan tepat, lalu berbalik
menggaet pedangnya sendiri. Hampir terlepas pedang she Cia itu, karena itu terkejut, ia
segera berbalik kena diserang. Sebab Mie Ming segera melakukan serangan pembalasan.
Dengan terpaksa Thian Hoa mesti empos semangatnya, untuk melayani musuhnya dengan
sungguh-sungguh. Ia menyerang dengan tidak kurang hebatnya, akan tetapi di samping itu,
sekrang ia mesti waspada, agar pedangnya tak lagi tergaet seperti tadi. Celaka umpama
kata pedangnya kena dibikin terlepas dari cekalannya. Maka ia mesti keluarkan seluruh
kepandaiannya.
Dalam sekejap saja dapatlah Thian Hoa mendesak lawannya itu.
"Ilmu pedang yang bagus!" memuji Tantai Mie Ming walaupun ia terancam bahaya desakan.
Kemudian, setelah tiga serangan yang berbahaya dapat dielakkan, ia berteriak pula. Kali
ini,"Tahan!"
Thian Hoa tidak mau mengerti, ia lanjutkan serangannya.
Orang Mongolia itu menjadi gusar, romannya berubah.
"Apakah kau sangka aku jerih terhadapmu?" dia berser. Dan dia menyerang hebat, hingga
pembalasan ini membuat Thian Hoa jadi seperti kecandak.
Tiauw Im Hweeshio berseru keras, kalau tadi ia berhenti, akan tonton saudaranya,
sekarang ia maju, guna membantui.
Punggawa Mongolia itu tertawa.
"Melihat ilmu silatmu, mestinya kau ada ahli-ahli silat kenamaan," berkata dia. "Menurut
apa yang aku dengar, orang-orang kenamaan dari Rimba Persilatan dari Tionggoan sangat
menghormati aturan bertarung satu lawan satu, maka itu heran aku! Apakah kamu memikir

11

Peng-Cong Hiap-Eng
untuk rebut kemenangan dengan andalkan jumlah yang banyak?"
"Hai, binatang, apakah kau bukannya Tantai Mie Ming? Tiauw Im balas menegur.
Orang Mongolia itu menangkis pedangnya Thian Hoa, lalu ia mendesak, setelah mana, ia
pandang si pendeta. Ia tertawa.
"Eh, hweeshio, kau juga tahu namaku?" tanya dia.
"Kau ada orang Han, tapi kau menjadi panglima Mongolia! Apakah kau tidak malu?" Tiauw
Im menegur. "Terhadap kau, bangsat pengkhianat bangsa, siapa kesudian bicara tentang
aturan kaum bu-lim dari Tionggoan? Lebih baik kau makan tongkatku ini!"
Benar-benar pendeta ini menyerang pula.
Mie Ming menangkis, wajahnya padam. Tapi sebentar saja, atau ia tertawa terbahakbahak. Panjang tertawanya itu.
"Telah aku kaburkan kudaku malang-melintang di laut pasir Utara, hatiku ni dapat
dihadapkan kepada Thian! Maka itu, siapakah pengkhianat?" dia berseru-seru. "Terhadap
negara siapa aku berkhianat? Cu Goan Ciang telah merampas negara dengan gunakan
kelicikannya, tetapi Cuma kamu saja, orang-orang yang tidak bersemangat, yang kesudian
manggut-manggut menjadi hamba-hamba dari anak cucunya!"
Sambil mengucap demikian, ia berkelit dari serangan tongkatnya si hweeshio, setelah itu,
ia tutup dirinya dengan putar sepasang gaetannya. Ketika ini digunakan olehnya untuk
berkata-kata pula dengan nyaringnya. "Hweeshio sembrono, rupa-rupanya percuma bicara
dengan kau! Baiklah, jikalau benar-benar kau hendak bertempur! Nanti aku titahkan dua
orang muda melayani kau!"
Di belakang Mie Ming ini memang ada dua punggawa muda. Mereka ini segera maju ketika
punggawa itu mendesak lawannya. Benar mereka masih muda tetapi mereka pun bukan
orang sembarangan, maka itu, dapat mereka kepung Tiauw Im.
Pendeta ini tidak usah kalah, akan tetapi, untuk mencari kemenangan, itulah sulit
untuknya, dengan begitu, maksudnya membantui Thian Hoa jadi tidak tercapai.
Thian Hoa sendiri heran mendengar kata-kata Tantai Mie Ming itu.
"Kalau begitu, punggawa ini bukan orang sembarangan," pikirnya. "Tapi dia asal orang Han,
sekarang dia bantui bangsa asing menindas orang Han, biar bagaimana, itulah perbuatan
tidak selayaknya!"
Karena ini, ia lantas maju pula, akan serang pahlawan nomor satu dari Mongolia itu.
Mie Ming melayani bertempur.
"Apakah kau bukan muridnya Hian Kie It-su?" tanya dia berselang beberapa jurus.
Thian Hoa heran, sampai ia melengak.
Mie Ming melihat orang heran, ia tertawa riang.

12

Peng-Cong Hiap-Eng
"Dahulu gurumu telah mengeluarkan semua kepandaiannya untuk mengalahkan guruku, dia
tetap tidak berhasil!" demikian dia kata. "Maka itu sekarang kau hendak menandingi aku,
mana bisa? Oleh karena kau tidak kenal aturan, baiklah! Hari ini kita bekerja untuk tuan
masing-masing, mari kita bertempur pula sampai tiga atau lima ratus jurus!"
Kembali Thian Hoa tercengang. Sekarang ingat ia kepada omongan gurunya dahulu. Guru
itu pernah menceritakan bahwa pada dua puluh tahun yang lalu dia pernah bertarung
dengan satu kepala iblis untuk memperebutkan kedudukan Bu-lim Beng-cu, kepala dari
kaum Rimba Persilatan, bahwa pertempuran dilakukan di atas gunung Ngo San, selama tiga
hari tiga malam, tetapi selama itu, mereka tak ada yang menang atau yang kalah. Menurut
gurunya itu, iblis itu ada seorang she Siangkoan bernama Thian Ya, seorang penjahat besar
dari kalangan Rimba Hijau. Hanya sejak pertempuran dashyat itu, Siangkoan Thian Ya
lantas sembunyikan diri, entah dimana. Sekarang, mendengar kata-kata Mie Ming ini,
terang sudah, iblis itu telah menyingkir ke Mongolia, dan punggawa Mongolia ini mesti ada
muridnya.
Tadinya Thian Hoa berniat menunda pertempuran itu, guna mendapat penjelasan dahulu,
akan tetapi mendengar kata-katanya Tantai Mie Ming bahwa mereka berkelahi "untuk tuan
masing-masing", dia menjadi murka, terus saja dia perhebat serangannya.
Tantai Mie Ming benar-benar lihai, ia mainkan sepasang gaetannya dengan hebat, yang
berkeredepan bagaikan dua bianglala emas. Ia menutup diri dari pelbagai serangan
dashyat, di pihak lain, ia pun membalas menyerang, maka di samping membela dirinya, ia
membuat lawannya repot juga.
Pertempuran berjalan jurus lewat jurus, dari belasan menjadi puluhan, lalu seratus jurus,
masih tidak ada yang kalah atau menang. Hal ini membuat Thian Hoa heran bukan main.
"Sayang tak ada sumoi disini," pikir hiapsu ini," jikalau tidak, kita berdua bisa mainkan
jurus-jurus dari dua pedang digabung menjadi satu, dengan begitu, walaupun ada tiga Mie
Ming, dia akan terbinasa di tangan kita"
Dengan sumoi Thian Hoa maksudkan adik seperguruannya yang wanita, yang keempat.
Dalam pertarungan selanjutnya, Me Ming mencoba melakukan penyerangan membalas,
beruntun tiga kali ia kirim kedua gaetannya bergantian, tapi kontan ia dibalas hingga
empat kali oleh lawannya. Setelah itu dengan sekonyong-kongyong ia lompat mundur
sampi tertawa bekakakan.
"Bagaimana?" tegusnya. "Bukankah kau telah kerahkan seluruh tenagamu? Tapi kau tidak
mampu rebut kemenangan! Maka itu baiklah kau hentikan saja pertempuran ini!"
"Jangan banyak omong, pengkhianat bangsa!" damprat Thian Hoa. "Tak dapat kita hidup
bersama! Hari ini, tak dapat tidak, kau mesti binasa!"
Dan ia menusuk dengan pedangnya.
Tantai Mie Ming tangkis serangan itu, dia tidak melakukan pembalasan, dia hanya buka
mulutnya.
"Inilah yang dibilang tak tahu kebaikan hati orang!"demikian katanya. "Kau tahu, aku
justeru hendak tolong padamu?!"

13

Peng-Cong Hiap-Eng
Thian Hoa tak mau berhenti, ia tarik pedangnya, untuk dipakai menyampok gaetan
lawannya itu, hingga kedua gaetan itu terpental.
"Jarak ribuan lie telah kami lintasi, setelah sampai di sini, bencana apa lagi mengancam
kami?" dia bentak. "Untuk apa kau tolongi aku? Jikalau benar kau insyaf akan kesesatanmu
dan hendak kembali ke jalan yang terang, lekas kau lepaskan sepasang gaetanmu, mari kau
turut kami!"
Punggawa Mongolia itu tertawa dingin.
"Benar-benar kau tidak tahu gelagat!" katanya dengan nyaring. "Kau tahu, aku sedang
menjalani titah dari Thio Sinsiang untuk menasihati kamu kembali pulang! Apabila kamu
berkeras hendak pulang ke Tionggoan, maka aku kuatir, belum lagi kamu memasuki kota
Gan-bun-kwan, kamu akan mengalami bencana besar yang tak kamu harap-harapkan!"
Bukan kepalang murkanya Thian Hoa, ia sangat mendongkol.
"Pengkhianat, kau berani mempermainkan aku?" dia mendamprat sambil terus menikam
pula.
Sampai di situ, Mie Ming pun menjadi gusar.
"Oleh karena kau sendiri mencari mampus, jangan kau sesalkan aku!" katanya dengan
sengit. Ia tangkis tikaman itu.
Thian Hoa kertak giginya, tanpa membuka mulut lagi, ia ulangi serangannya, kali ini
dengan bertubi-tubi.
Tidak berani Mie Ming mengalihkan perhatiannya, dengan waspada ia layani pelbagai
serangan itu, yang setiap kalinya ia halau atau pecahkan. Ia pun kembali perlihatkan
permainan sepasang gaetannya.
Maka pertarungan jadi berjalan lebih seru daripada tadi.
Jurus-jurus telah berlalu dengan cepat, tetapi masih saja mereka tak menemui keputusan,
keduanya tetap sama tangguhnya.
Pada saat hebatnya pertarungan, dengan mendadak Mie Ming perdengarkan seruan keras,
menyusul mana, dia tangkis satu serangan, terus dia berkelit, untuk angkat kaki.
Menelad sikapnya pemimpin ini, kedua punggawa muda turut menyingkir juga, mereka
kabur bersama-sama.
Thian Hoa dan Tiauw Im Hweeshio sedang murka, mereka tidak mau memberi hati, maka
bersama-sama mereka mengejar. Adalah setelah sampai di satu tikungan bukit, Thian Hoa
tiba-tiba mendapat satu pikiran," pengkhianat itu belum kalah, kenapa mereka angkat
kaki?" demikian pikirnya. "Mungkinkah dia sedang menggunakan tipu daya? Kita tinggalkan
In Tayjin, dia tidak ada yang melindungi.Ah, jangan-jangan aku telah terkena akalnya
itu!"
Tengah Thian Hoa bersangsi secara demikian, ia lihat Tantai Mie Ming berlompat turun ke
dalam lembah. Ia jadi kaget dan heran. Itulah lembah yang dalam dan tidak rata. Itu
adalah perbuatan mencari kematian sendiri.

14

Peng-Cong Hiap-Eng

Baru Thian Hoa berpikir begitu, atau segera ia tampai tangannya Mie Ming - yang sedang
berlompat itu - terayun ke arah seberang, menyusul mana seutas tambang menyambar dan
terus berpegang keras pada sebuah pohon cemara. Nyata tambang itu adalah gaetannya,
karena mana, tubuhnya punggawa itu - bagaikan ayunan - telah berayun ke lain tepi dari
lembah itu dengan tidak kurang suatu apa!
Thian Hoa melengak. Tidak ia sangka, Mie Ming punyakan semacam daya, pantas dia berani
lakukan perbuatan nekat itu. Tapi tak lama, ia menjadi terperanjat sendirinya. Karena
tahulah ia, dari lembah di tepi seberang itu, ada satu jalan yang membawa orang tepat ke
tempat dimana In Ceng berada bersama kereta keledainya. Ia jadi kaget dan berkuatir. Ia
sendiri tidak bisa lompat ke seberang untuk menyusul Mie Ming. Untuk lari kembali, ia
mesti ambil tempo lebih lama. Tapi terpaksa, ia lari kembali juga. Ia terbenam dalam
kekuatiran In Ceng telah jatuh ke dalam tangan lawan yang licin itu
Akhirnya, Thian Hoa mengeluarkan keringat dingin. Ketika ia kembali, ke tempatnya In
Tayjin, di sana dia dapatkan Tantai Mie Ming berada di depan kereta keledai. In Tayjin
sendiri duduk di depan kereta, di tempat kusir, kedua orang itu tengah berhadapan satu
dengan lain. Hanya yang aneh, tangan Mie Ming tidak bersenjata sama sekali, sepasang
gaetannya tergantung di pinggannya dan dia sedang menghadapi In Ceng dengan air muka
berseri-seri, agaknya dia sedang bicara. Sebaliknya, In Tayjin tengah memperlihatkan
wajah sungguh-sungguh.
"Ngaco belo!" demikian suara nyaring yang Thian Hoa dengar tegas setelah ia datang
mendekati mereka itu. "Dengan Thio Cong Ciu itu, permusuhanku ada permusuhan sangat
hebat, maka jikalau kau hendak membunuhnya, bunuhlah, tetapi untuk kembali, untuk
mengharap perlindungan dia, tidak nanti!"
Thian Hoa tidak mengerti, ia jadi heran.
Mie Ming tidak gusar walaupun dia telah dibentak, malah ketika dia berpaling kepada si
orang she Cia, dia tersenyum.
"Kau telah saksikan sekarang," demikian katanya, dengan sabar,"jikalau aku hendak ambil
jiwa orang tua she In ini, dapat aku lakukan itu dengan gampang, seperti membalikkan
telapak tangan saja, tak usah aku menanti sampai kau tiba." Ia menoleh pula pada In
Tayjin untuk menambahkan,"In Looji, telah aku berikan nasihat kepada kau, maka
sekarang, tentang hidup atau matimu, tentang bencana atau keberuntungan kau, semua
itu terserah kepada kau sendiri!"
In Tayjin gusar tak kepalang, hingga alisnya bangkit, kumisnya berdiri, tetapi masih dapat
ia kendalikan diri.
"Jadi kau inginkan aku kembali menolongi Thio Tayjinmu menggembala kuda untuk dua
puluh tahun di antara tempat yang ber-es dan bersalju?" demikian ia tegaskan.
Sebagai jawaban, Mie Ming tertawa bekakakan, nyaring dan panjang. Tetapi mendadak
saja, ia perlihatkan wajah sungguh-sungguh.
"Justeru karena kau telah menjalankan tugasmu menggembala kuda dengan baik, hingga
Thio Tayjin menghargai kau dan menghendaki kau kembali!"demikian katanya.
"Thio Cong Ciu adalah pengkhianat penjual negara, dia satu manusia sangat rendah

15

Peng-Cong Hiap-Eng
martabatnya, tak perlu aku dengan penghargaanya itu!" bentak In Ceng. "Kau sangka aku
orang macam apa?"
Tantai Mie Ming tertawa mengejek.
"Dengan pengutaraan kau ini, orang tua, nyata tepat apa yang dikatakan Thio Tayjin!"
katanya. "Menurut Thio Tayjin kau ada satu orang tiong yang tolol, maka kau tidak dapat
diajak merundingkan urusan negara yang besar! Kau tahu, Thio Tayjin telah mengatakan
padaku bahwa tidak nanti kau sudi kembali, sekarang kata-katanya itu benar adanya!
Walaupun demikian, Thio Tayjin bilang kau adalah satu laki-laki, karenanya dia tidak tega
tidak menolongi melihat kau terancam bahaya kebinasaan, karenanya dia tugaskan aku
menyusul kau sampai ribuan lie ini, untuk ajak kau kembali. Sayang kau telah mensiasiakan maksud hati yang baik dari Thio Tayjin itu."
Saking murkanya, In Ceng sampai berpegangan keras kepada keretanya.
"Hm, kau katakana dia niat menolong aku?" dia berteriak. "Sudah duapuluh tahun aku si
orang she In menggembala kuda, sekarang aku telah sampai di tempat tumpah darahku
sendiri, jikalau di sini aku dapat kubur diriku, aku akan mati dengan mata meram, tetapi
kau telah dapat candak aku, jikalau kau hendak membunuhnya, bunuhlah! Ini adalah tanah
Tionggoan, dengan darahku aku siram tanah daerahku, tidak nanti aku menyesal!"
Akhirnya, Tantai Mie Ming menjadi gusar.
"Siapa hendak membunuh kau?" dia berseru. "Bukannya kami yang hendak membunuh
padamu!"
In Ceng juga kertak gigi.
"Kau telah bunuh anakku si Teng!" dia menjerit. "Kau hendak sangkal? Kau masih hendak
permainkan aku?" gemetar tubuhnya orang tua ini, hampir dia rubuh dari atas kereta,
baiknya Mie Ming keburu pegangi tubuhnya.
"Bukan kami yang membunuh anakmu itu," kata Mie Ming. "Kau tentu tidak mengerti
apabila aku menjelaskannya. Marilah kita kembali, untuk menghadap Thio Tayjin, di sana
nanti kau ketahui jelas."
In Ceng meludah dengan reaknya, atas mana, punggawa bangsa Mongolia itu berkelit.
"Bukankah kamu yang membunuh anakku itu?" dia berteriak pula. "Apakah tentara itu ada
tentara Beng?"
Tantai Mie Ming menyeringai.
"Mereka itu adalah tentara Co-sinsiang kami," ia beritahu.
Co-sinsiang ialah perdana menteri.
"Apakah bedanya Co-sinsiang dan Yu-sinsiang!" masih In Ceng berteriak. "Mereka semua
adalah Tartar rase! Sekarang aku telah berada dalam tanganmu, lekas kau bunuh, jangan
kau banyak omong pula!"
Cia Thian Hoa juga anggap Tantai Mie Ming omong dengan diputar balik. Dia adalah

16

Peng-Cong Hiap-Eng
punggawa dari negeri Watzu, tentara Watzu sudah membinasakan anak orang, sekarang dia
masih hendak perhina dan permainkan orang tua ini, malah orang tua yang sudah
menderita selama dua puluh tahun, dengan banyak sengsara.
Bukan main tegangnya kedua orang itu.
Akhirnya, Tantai Mie Ming rangkapkan kedua tangannya, untuk memberi hormat kepada In
Tayjin. Ia berkata dengan suara keras dan tegas," In Tayjin, telah aku bicara, kau sudi
dengar atau tidak, sekarang terserah kepada kau!"
Dalam murkanya itu, In Ceng tak dapat bilang suatu apa.
Cia Thian Hoa jadi sangat murka, ia membentak.
"Apakah artinya perbuatanmu ini mempermainkan orang tua yang umpama kata tidak
punya tenaga untuk hanya menyembelih ayam? Jika kau berani, mari kita bertempur pula
tiga atau lima ratus jurus!"
Tantai Mie Ming tidak melayani tantangan itu, ia bicara pula dengan In Tayjin, suaranya
sangat perlahan.
"Jikalau begini sikapmu, apa boleh buat, hendak aku pergi," demikian katanya. "Thio
Sinsiang bilang, ia telah membuat kau bercape lelah menggembala kuda selama dua puluh
tahun, ia merasa tak enak hati, ia menyesal. Memang telah ia menduganya, kau tidak
bakal kembali, maka itu ia telah bekalkan aku tiga buah kimlong. Sinsiang bilang, dengan
turuti bunyinya kimlong itu, jiwamu masih dapat ditolong. Thio sinsiang juga mengatakan
tiga kimlong itu anggap saja sebagai pembalasan budi yang kau telah gembalai kudanya
selama dua puluh tahun."
Lantas punggawa ini mengibaskan tangannya, setelah mana terus ia putar tubuhnya, untuk
berjalan pergi.
Thian Hoa heran, hingga ia tercengang, di saat mana, Mie Ming lewat di sampingnya.
Berbareng dengan itu, terdengar suara tubuh terbanting keras, terlihat In Tayjin rubuh di
atas keretanya, rupanya disebabkan karena meluap hawa amarahnya dan lelah.
Dalam murkanya, Thian Hoa melakukan gerakan menimpuk ke arah Tantai Mie Ming atas
mana lima batang Cu-ngo Toat-hun-teng (paku merampas roh) menyambar ke arah
punggawa Mongolia itu.
Tanpa berpaling pula, Mie Ming menangkis ke belakang dengan dua batang gaetannya,
maka berurutan lima kali terdengar suara tang-ting-tong, lantas kelima batang senjata
rahasia itu terlempar jatuh ke tanah. Ia tertawa mengejek, tubuhnya melesat pergi, lalu
tubuh itu lenyap di antara pohon-pohon cemara yang lebat yang bercampur batu-batu
besar yang merupakan tikungan bukit.
Thian Hoa terkejut. Bukan maksudnya akan membunuh mati Mie Ming dengan timpukannya
itu, itulah bukan tujuannya, tetapi yang heran adalah caranya punggawa itu menghalau
kelima paku untuk menyelamatkan dirinya. Itulah suatu kepandaian luar biasa. Ia tidak
mengejar, ia hanya lantas lompat ke kereta.
In Ceng tiak kurang suatu apa, ia Cuma bernapas tersengal-sengal. Ia lantas diusap-usap

17

Peng-Cong Hiap-Eng
dadanya, setelah mana, ia muntahkan reak yang menggumpal, habis itu, ia berseru yang
membuat napasnya lega. Ia lantas dapat duduk pula.
Hatinya Thian Hoa pun lega. Tadinya ia hendak hiburkan Tayjin ini atau mendadak ia
dengar suara berisik dari Tiauw Im Hweeshio, yang muncul sambil berlari-lari keras dan
menenteng tongkatnya. Mau atau tidak, ia menjadi heran dan kaget.
"Kau kenapa suhen?" ia Tanya saudara seperguruan itu.
"Ji-tee aku telah membuat suhu malu!" sahut pendeta itu. "Selama hidupku ini, jikalau aku
tak hajar Tantai Mie Ming dengan tiga ratus kali tongkatku, tak bisa aku lampiaskan
penasaranku!"
"Mari duduk, suheng," kata Thian Hoa, yang tahu tabiat dari saudaranya itu, tangan siapa ia
tarik dan tubuhnya ia tekan. "Mari minum!"
Ia pun lantas menyuguhkan air.
"Sabar, suheng, mari kita omong dengan perlahan-lahat," ia tambahkan kemudian. "Dengan
mengandal kepada kita, empat saudara, sekalipun si kepala iblis Siangkoan sendiri yang
datang kemari, pasti dapat kita balas sakit hati ini, apapula baru satu Tantai Mie Ming!"
Dengan bergerugukan, Tiauw Im hirup airnya.
"Aku juga jahanam itu hendak mencelakai Tayjin, maka keras niatku untuk kembali guna
mencegah dia," katanya kemudian, "apa celaka itu dua bangsat cilik libat aku, tak mau
mereka melepaskan aku. Coba pada hari-hari biasa, dua bangsat itu tidak aku sambil
mumat, sayang sekarang, setelah bertempur dua gebrakan, tenagaku telah berkurang.
Terpaksa aku berkelahi sambil mundur, sambil berlari, meski begitu, selang dua ratus
jurus, di saat aku mulai menang di atas angin, sungguh celaka, Mie Ming telah muncul di
antara kita! Aku menyangka dia telah berhasil mencelakai Tayjin, aku lantas caci padanya,
aku terus serang dengan hebat, tapi apa lacur, dengan dua gaetannya, ia sampok
tongkatku hingga mental, menyusul mana, dengan akalnya, dia membuatnya aku rubuh
terpelanting. Tapi itu belum semua! Dia masih rangsak aku, untuk menggampar kupingku
seraya mencaci aku sebagai hweeshio gerubukan. Dia kata aku sudah ngaco belo tidak
keruan, bahwa aku telah memutar lidah, karenanya dia gaplok aku, untuk ajar adat
padaku! Habis mencaci aku, dia ajak kedua bangsat cilik angkat kaki. Sudah beberapa
puluh tahun aku merantau, belum pernah aku dihina sedemikian rupa, coba kau piker,
masa aku tidak jadi mendongkol?"
Dia berhenti sebentar, dia memandang sekitarnya.
"Eh, eh!" katanya kemudian, suaranya berisik, "bagaimana sebenarnya telah terjadi? Dia
telah bertempur dengan kau atau tidak? Syukur Tayjin tidak kurang suatu apa! Eh, apa
artinya tiga kimlong ini?"
Ia lihat tiga buah kimlong, surat yang berisikan rahasia, menggeletak di atas tanah, yang ia
segera hampiri, untuk dijumput.
"Ah, indah benar sulamannya." Katanya memuji. "Disini ada gambar sulaman unta-untaan.
Bukankan ini sulaman bangsa Mongolia? Kimlong siapa ini?"
In Ceng dengar kata-katanya pendeta ini, ia lihat tiga kimlong itu, ia menjadi murka pula.

18

Peng-Cong Hiap-Eng

"Segala barangnya si Tartar busuk!" serunya. "Bikin hancur sudah! Lemparkan ke Lumpur!"
Tiauw Im melengak, tapi ia gunakan tenaganya untuk merobek kimlong itu, atas mana, ia
rasakan tangannya sakit. Sebab sebat luar biasa Thian Hoa ketok lengannya, untuk
merampas kimlong itu, guna mencegah kimlong itu dirobek.
"Sutee, kau"ia berseru, kaget dan heran.
"Sabar," kata sutee itu. "Bukankah tidak ada halangannya untuk In Tayjin untuk melihat
dulu kimlong ini, untuk diketahui apa bunyinya? Masih ada ketikanya untuk kita merobekrobeknya apabila bunyinya ada ocehan belaka!"
Cia Thian Hoa heran atas sikapnya Tantai Mie Ming. Punggawa itu lihai, jikalau dia tidak
niat membinasakan In Ceng, habis apa maksudnya perbuatan ini, mengejar-ngejar sampai
sekian jauh? Mereka sudah menghadapi kota Gan-bun-kwan, mereka boleh dibilang telah
menginjak tanah daerah Tionggoan, maka di dalam daerah ini, ada siapa lagi yang hendak
mencelakai orang she In itu? Apakah itu bukan obrolan belaka, untuk memperdayakan
orang? Tapi, apakah masuk di akal yang Mie Ming melakukan perjalanan demikian jauh
cuma untuk menyampaikan kata-katanya? Nasihatnya? Kimlongnya? Pun aneh, walau dia
kosen dan galak, agak jumawa juga, tapi dia bisa berlaku demikian baik budi? Kalau tidak,
mana dapat Tiauw Im Hweeshio bisa lolos dari kematian?
Thian Hoa benar-benar sangat tidak mengerti.
Selagi orang she Cia ini terbenam dalam keraguannya, In Ceng telah menyambuti kimlong
itu dan dia pandang dengan sikap yang sangat membenci.
Kimlong yang pertama diberi tanda dengan kata-kata "Buka dengan lantas". Tanpa bilang
suatu apa, In Ceng merobeknya dengan segera, hingga ia dapatkan sehelai kertas, atau
sepucuk surat di dalamnya. Di situ tertulis:
"Sekarang lekas balik kembali ke Mongolia, dengan lantas kembali, bakal tidak ada urusan
apa-apa. Tantai Ciangkun menanti bersama pasukan tentaranya di Co-in, dia dapat
menyambut"
In Ceng mendongkol, habis membaca, ia robek surat itu dan melemparnya.
Thian Hoa lihat kumisnya yang ubanan bergerak-gerak dan air mukanya berubah menjadi
kuning pucat, meskipun demikian, ia tiak berani menanyakan.
"Kimlong apa! Tak lain daripada ocehan belaka!" kata orang tua ini sambil mengawasi
robekan kertas terbang melayang jatuh ke tanah.
Tapi, kendati ia mengucap demikian, ia toh baca tulisan di atas kimlong yang kedua.
Disitu, dengan mendongkol, ia baca "Buka kimlong ini setibanya di tempat sejauh tujuh lie
dari kota Gan-bun-kwan".
"Tak sudi aku mendengarnya!" kata In Tayjin dengan sengit. Tapi ia toh robek kimlong itu,
untuk membaca surat di dalamnya.
Kali ini bunyi surat rahasia itu begini:

19

Peng-Cong Hiap-Eng
"Keadaan berbahaya sudah sangat mengancam. Ketika ini tentulah di kota Gan-bun-kwan
ada orang yang datang menyambut. Jikalau pemimpin pasukan terdepan bukannya
Congpeng Ciu Kian, mesti kau segera kaburkan kudamu sebagai terbang untuk
menyingkirkan diri. Suruhlah Cia Thian Hoa dan Tiauw Im menjaga di belakang, untuk
cegat tentara itu, mungkin masih dapat kau lindungi kepalamu."
Congpeng, atau brigadir jenderal, dari kota Gan-bun-kwan, benar bernama Ciu Kian. Dia
dengan In Ceng adalah orang-orang asal satu kampung dan bersahabat, Cuma bedanya,
yang satu mempelajari ilmu surat, yang lain meyakinkan ilmu silat, malah ketika membuat
ujian, mereka sama-sama lulus sebagai cinsu, bun-cinsu dan bu-cinsu. Persahabatan itu
berlangsung sampai In Ceng diutus ke Mongolia, sampai In Tayjin ini menderita, maka juga
ketika In Teng, sang putera, berangkat untuk menolongi ayahnya, diam-diam dia peroleh
bantuan dari Ciu Congpeng, yalah daya-daya pertolongan diatur bersama. In Teng telah
mengirim kabar lebih dahulu kepada Ciu Kian tentang ia sudah berhasil kabur bersama
ayahnya, ia minta congpeng itu memberi kabar terlebih dahulu kepada pemerintah agung,
supaya pemerintah dapat mengetahuinya. Meskipun selama dalam perjalanan,
perhubungan dengan Ciu Congpeng masih disambung terus. Maka itu, heran In Ceng
membaca kimlong yang kedua itu.
"Kalau Ciu Kian lihat aku datang, mustahil dia tidak sambut aku?" berkata dia dalam
hatinya. "Dalam halnya kehormatan, aku dapat dibandingkan dengan Souw Bu, maka itu,
setelah sekarang aku kembali dari negara asing, andaikata Sri Baginda tidak mendirikan
patung peringatan untuk aku, sedikitnya dia menghargai aku dengan memberi pangkat
besar padaku. Tapi gilanya orang Tartar itu, dia mencoba merenggangkan aku dari Ciu
Congpeng!"
Karenanya, kimlong kedua inipun dirobek dan dibuang.
Waktu In Tayjin membaca, Thian Hoa berada di sampingnya, dari itu ia turut melihat
kimlong itu. Ia menjadi heran mengetahui namanya disebut-sebut dalam surat rahasia itu.
Sayangnya, ia tak sempat membaca sampai habis.
"Apa yang tertulis dalam kimlong itu?" dia Tanya.
"Masih sama saja, ocehan belaka!" sahun In Tayjin. "Tapi pengkhianat itu benar-benar lihai!
Dia seperti sudah ketahui lebih dahulu yang kamu berdua telah turut memasuki Mongolia
untuk menolongi aku. Hanya anehnya mengapa dia tidak membuat persiapan untuk
mencegah aku kabur?"
Thian Hoa kerutkan alis, dia tunduk. Dia jadi semakin heran dan curiga.
In Ceng sudah lantas periksa kimlong ketiga. Ia sebenarnya berniat segera merobek itu,
untuk membaca isinya, tapi tiba-tiba ia batalkan niatnya itu.
Cia Thian Hoa juga lihat tulisan di atas kimlong itu, yang mana membuatnya heran bukan
kepalang. Tulisan itu ada berupa alamat, bunyinya adalah : "Surat ini harus disampaikan
kepada Cia Thian Hoa untuk dibuka dan dibaca".
In Tayjin segera melirik pada hiapsu itu, ia agaknya heran. Ia memang terbenam dalam
kesangsian.
Thian Hoa adalah seorang kangouw yang ulung, ia pun teliti, maka itu, manampak roman
Tayjin itu, ia tersenyum.

20

Peng-Cong Hiap-Eng

"Dorna itu sangat banyak akalnya," kata ia, silakan In Tayjin buka kimlong itu dan baca,
untuk mengetahui apa yang ditulisnya."
Mula-mula In Ceng ragu-ragu kemudian dengan tak ayal ia robek sampul kimlong, dengan
perlahan ia tarik keluar suratnya, lalu ia baca:
"Pada saat ini maka pastilah In Tayjin sudah kena tertawan. Di dalam sampul masih ada
isinya, sebuah obat pulung. Obat itu mesti disimpan rahasia, jangan lantas dibuka. Habis
itu, segera kau berangkat ke kota raja, untuk menghadap sendiri pada Ie Kiam, guna
mendakwa Ong Cin.
Apa In Tayjin akan tertolong atau tidak, itu tergantung pada tindakan kau ini."
"Hm!" In Ceng perdengarkan ejekannya. Karena ia sangat murka, maka surat itu ia lantas
robek-robek, sampulnya pun dibuang sambil terus ia berseru,"Benar-benar ngaco belo! Aku
adalah satu tiong-sin terbesar, mustahil aku bakal ditangkap!"
Thian Hoa lompat untuk menyambar sampul itu, dan ia dapatkan di dalamnya benar ada
satu obat pulung, ialah yang terbungkus dengan lilin bundar sebesar gundu. Ia lantas
simpan dalam sakunya.
Wajah In Ceng berubah melihat sikapnya hiapsu itu.
"Hendak aku simpan ini seperti barang mainan saja," kata Thian Hoa, "Untuk
menyimpannya pun tidak memakai banyak tempat"
"Hm!" seru pula In Tayjin. Lalu ia kata dengan perlahan," Barang itu pun dikirim untukmu
jikalau kau hendak simpan, simpanlah. Aku bermusuh besar dengan pengkhianat itu,
sekalipun tubuhku bakal hancur lebur, tidak sudi aku ditolongi olehnya!"
Sampai disitu, perjalanan lantas dilanjutkan, sampai rembulan muncul di antara jagat yang
gelap.
Semangatnya In Ceng terbangun selagi mendekati tembok kota kupingnya mendengar suara
terompet dari tentara penjaga kota tapal batas, hilang letihnya bekas perjalanan jauh dan
lenyap rasa ngantuknya, lalu dengan tiba-tiba ia bersenandung sambil mendongakkan
kepalanya.
"Girang aku dengan sisa hidupku ini dapat pulang pula ke tempat tumpah darahku.
Di kota yang kokoh kuat yang memisahkan neteri Tartar dengan negara Tionggoan.
Maka aku si orang she In besok akan memakai pula jubah dan kopiah.
Untuk sambil memegang tanda kehormatan memberi hormat pada junjunganku yang
bijaksana"
Thian Hoa timpali menteri setia itu dengan berkata," Tayjin sangat setia, di dalam seratus
abad jarang di dapat seorang sebagai Tayjin, maka sudah pasti Sri Baginda akan memberi
anugerah terhadap Tayjin. Semua itu sebenarnya masih belum cukup dikatakan sebagai
hadian"

21

Peng-Cong Hiap-Eng
Mendengar itu, In Ceng tersenyum.
"Apa yang aku lakukan adalah kewajiban satu menteri, dari itu aku tidak mengharap hadiah
kerajaan untuk membalas budiku." Tiba-tiba saja ia berhenti, akan kemudian meneruskan
berkata," Ketika aku meninggalkan negara, waktu itu adalah di tahun kerajaan Eng Lok
kesepuluh, maka sekarang, sesudah berselang dua puluh tahun dan kerajaan berganti tiga
kaisar, mengenai urusan pemerintah, sama sekali aku tak tahu suatu apa. Sebenarnya,
sekarang ini siapakah yang memegang pucuk pimpinan pemerintahan?"
"Sekarang adalah Ong Cin yang berkuasa," sahut Thian Hoa.
In Ceng segera ingat bunyinya kimlong yang ketiga.
"Semoga Thian melindungi pemerintah kita," memuji dia," Ong Cin itu pasti ada satu
tiongsin terbesar dan Ie Kiam adalah satu dorna!"
Justeru itu Tiauw Im sedang mengendarai kudanya di samping kereta, ketika ia dengar
perkataannya menteri setia ini, ia hajarkan tongkatnya ke tanah sambil berkata dengan
keras,"Tayjin, aku keliru! Ong Cin itu justru satu dorna terbesar! Jikalau dia sampai
bersomplokan dengan aku si orang beribadat, nanti aku beri dia pelajaran dengan
tongkatku ini!"
In Ceng melengak bahna herannya.
"Apa? Dia satu dorna?" tanyanya. "Aku rasa tak bisa! Kalau dia benar dorna, mengapa orang
Tartar menganjurkan untuk Ie Kiam mendakwa terhadapnya?"
Cia Thian Hoa tahu kekeliruannya menteri itu, dia campur omong.
"Dengan sebenarnya, Tayjin," kata dia," Ong Cin itu adalah satu dorna, ya dorna kebiri!"
"Apa?Apakah dia satu thaykam?" kembali In Ceng menegaskan (Thaykam = orang kebiri).
"Benar," Thian Hoa pastikan, "Turut apa yang didengar, dia asal kecamatan Oet-ciu, setelah
bersekolah, dia turut dalam ujian dan berhasil mendapat pangkat tiekoan, tetapi
belakangan dia berbuat salah, dia dihukum buang, hanya belum sampai dia menjalankan
hukumannya, raja membutuhkan sejumlah thaykam, dia serahkan dirinya, dan diterima.
Dalam istana dia diberi tugas melayani putera mahkota, ialah kaisar yang sekarang ini,
yang waktu itu masih bersekolah. Ketika kemudian kaisar wafat, putera mahkota
menggantikannya. Dengan sendirinya Ong Cin diangkat menjadi Su-lu thaykam, hingga dia
berkuasa untuk mengurus surat-surat negara, bagian luar dan dalam istana, dengan
berserikat sama menteri-menteri dorna, dengan cepat dia peroleh kekuasaan besar, hingga
beranilah dia berbuat sewenang-wenang. Belum tiga tahun, dia telah dibenci juga oleh
rakyat negeri. Maka itu, Tayjin, kalau nanti Tayjin pulang ke istana, baiklah Tayjin berhatihati daripadanya itu."
Masih In Ceng melengak, karena ia ragu-ragu.
"Ie Kiam itu adalah Peng-pou Sie-long," Cia Thian Hoa memberi keterangan lebih jauh,
mengenai Ie Kiam, Menteri Perang (Pengpou Sielong). "Turut pendengaran, Ie Pengpou
adalah satu menteri yang jujur dan setia."
Mendengar itu, In Tayjin berdiam. Ia hanya menutup mulut, tapi hatinya berpikir. Di dalam

22

Peng-Cong Hiap-Eng
hatinya, ia kata,"Dua orang ini adalah orang-orang kangouw yang kasar, kata-katanya
mereka tak dapat lantas dipercaya penuh. Baiklah nanti saja, sepulangnya ke istana, aku
coba membuktikannya."
Ia baru berpikir demikian, atau ia telah memikir pula," Menurut ilmu perang, yang kosong
itu berisi, demikian juga kedua orang ini, andaikata benar perkataan mereka, mestinya
semua itu berdasarkan siasat Thio Cong Ciu untuk membantu aku menaruh kepercayaan,
maka di dalamnya mesti ada tersembunyi sesuatu"
Dalam kereta, In Lui tidur nyenyak. Terharu engkong ini mengawasi kedua pipi cucunya
yang merah jambu itu, wajah yang menunjukkan kejujuran, kepolosan. Anak itu memang
belum mengerti apa-apa. Tapi kepada cucu ini, engkong ini meletakkan harapannya. Ia
telah mengharap, bila In Lui telah berusia dewasa, mesti dia pergi jauh ke negerinya
bangsa Tartar, untuk menerjang es dan menjelajah salju, guna menuntut balas untuknya.
Maka pada akhirnya, ia menghela napas. Teringat ia pada kesengsaraannya selama dua
puluh tahun, mesti minum air dengan mengunyah salju dan es, mesti menderita kedinginan
hebat. Ingat semua itu, panas hatinya. Tapi ia telah berusia lanjut, disebabkan terlalu
banyak berpikir, ia menjadi letih sendirinya, hingga tanpa merasa, ia pun jatuh pulas
seperti cucunya itu."
Pada hari kedua, pagi-pagi In Ceng mendusin. Sekarang dapat ia saksikan samar-samar
bendera berkibar-kibar di atas tembok kota Gan-bun-kwan.
"Inilah Cit-lie-pouw," berkatan Tiauw Im Hweeshio. "Kita terpisah dari kota hanya tujuh lie
lagi. Di sebelah depan sana ada pos tentara penjagaan di luar kota Gan-bun-kwan, untuk
memeriksa lalu lintas."
In Tayjin dengar itu, ia berbangkit dengan mencelat. Ia singkap tenda kereta, untuk
melongok keluar.
Apakah Ciu Congpeng telah datang?" dia Tanya.
"Sutee Thian Hoa sudah pergi untuk memberi laporan akan tetapi belum terdengar
kedatangannya tentara Ciu Congpeng," jawab Tiauw Im.
In Ceng melengak, lalu ia tertawa sendirinya.
"Ah, aku juga telah dibikin pusing oleh kimlong itu!" katanya seorang diri. "Mana Ciu
Congpeng bisa mengetahui yang hari ini aku balak sampai disini? Sebentar kemudian,
sesudahnya ia diberitahukan, barulah dia pasti akan datang sendiri."
Lantas ia perintahkan kereta dihentikan di muka pos penjagaan tentara, sedang
tentaranya, sejumlah serdadu, mengawasi dari dalam tembok kota tanpa mereka membuat
sesuatu gerakan.
Cia Thian Hoa ada seorang yang teliti, dia pergi lebih dahulu ke kota untuk melaporkan.
Dengan Ciu Congpeng pernah beberapa kali dia bertemu, dia ketahui baik punggawa
penjaga kota Gan-bun-kwan itu di samping sebagai sahabatnya In Ceng, ia pun jujur dan
laki-laki, ia mirip dengan orang bangsa kangouw, maka dia mempercayainya dan suka
membuat laporan itu. Sebentar saja dia telah sampai di kota dimana tak tampak apa-apa
yang mencurigakan, maka tanpa ragu-ragu dia ikut Kie-pay-khoa yang menyambut padanya
masuk ke dalam kantoran.

23

Peng-Cong Hiap-Eng
"Lucu juga," kata ia dalam hatinya, hingga ia tersenyum sendiri, "sampaipun aku kena
dipermainkan akal muslihatnya Tantai Mie Ming! Asal Ciu Congpeng yang tetap membelai
kota ini, siapakah yang berani mencelakai In Tayjin?"
Setelah dipersilahkan duduk, Thian Hoa disuguhkan air the.
"Ciu Congpeng akan segera keluar," berkata Kie-pay-khoa itu, maka silahkan Cia Hiapsu
beristirahat dulu."
Thian Hoa hirup air teh, setelah mana, ia loloskan pakaian luarnya, pakaian untuk
berperang. Ia tengah duduk menanti ketika dengan sekonyong-konyong ia rasakan
kepalanya pusing dan matanya kabur.
"Celaka!" dia menjerit. Di
lompat untuk sambar pedangnya, tetapi kiepay-khoa tadi mendahului jumput pedangnya
itu, menyusul mana dari luar terlempar dua lembar tambang, maka di lain saat, orang she
Cia ini sudah kena teringkus rubuh.
Thian Hoa telah sempurna latihan Iwee-kangnya, ilmu dalam, walaupun dia telah
diperdayakan ingatannya masih belum kusut, dari itu, dia coba kerahkan tenaganya, untuk
berontak, akan tetapi sangat menyesal, nyata dia telah kehilangan seantero tenaganya,
hingga tidak berhasil dia dengan percobaannya itu, malah sebaliknya dia merasakan
kepalanya semakin pusing. Lantas dia ingin tidur saja. Celakanya kedua matanya pun
lantas tertutup rapat, walaupun dia ingin membukanya, tetapi dia tidak mampu. Berkat
keuletan Iweekangny, dia masih kuatkan hati, dia tetap membuat perlawanan batin, maka
terasalah olehnya, bahwa orang telah menggotong padanya, untuk dibawa di suatu
tempat. Ia dengar suara pintu dikunci, maka ia menduga bahwa ia tengah dikunci di
sebuah kamar gelap.
Memang, the yang diminum Thian Hoa telah dicampuri bonghanyoh, obat pulas, saking
ulatnya ia, ia tak rubuh tanpa sadarkan diri lagi seperti korban-korban lainnya, masih
terang ingatannya, cuma sia-sia saja perlawanannya untuk menjadi sadar, akan pulihkan
tenaganya, yang habis seketika.
Berapa lama sang waktu sudah lewat, inilah Thian Hoa tidak ketahui, tetapi ia masih tetap
sadar ketika ia dengar suara daun pintu ditolak terbuka, lalu seorang melongok masuk.
Sekarang Thian Hoa dapat buka kedua matanya, segera ia kenali Ciu Kian, congpeng dari
Gan-bun-kwan. Dengan tiba-tiba saja meluap hawa amarahnya, dengan sekuat tenaganya
ia coba lompat bangun, untuk menyambar dengan tangannya pada muka orang.
"Inilah aku!" beritahu Ciu Congpeng sambil menangkis.
Masih belum pulih tenaganya Thian Hoa, atas tangkisan itu, tubuhnya terhuyung mundur
beberapa tindak, sampai ia membentur tembok. Tentu saja murkanya bertambah.
"Bagus!" serunya. "Ini dia yang dibuang, kenal manusia, kenal cecongornya, tak kenal
hatinya! Oh, Congpeng tayjin, kau telah gunakan siasat rendah yang hina-dina, sungguh
kau pandai!"
Tapi Congpeng itu maju menghampiri, untuk cekal lengan orang.
"Diam, keadaan sangat berbahaya!" katanya seperti berbisik. "Lekas makan ini obat
pemunah! Mari kita pergi bersama untuk menolongi In Tayjin! Ini pedangmu, yang telah aku

24

Peng-Cong Hiap-Eng
ambilkan. Lekas!"
Than Hoa tercengang.
"Apa?" tanyanya "Kau? Apakah artinya ini?"
Di dalam kamar tahanan yang gelap itu hanya terlihat sinar kedua matanya bergemerlapan
dari Ciu Congpeng, sinar mata yang berpengaruh.
"Ciu Kian ada orang macam apa, mustahil kau masih belum ketahui!" katanya dengan
perlahan. "Keadaan sekarang sangat genting, baiklah kita bicara nanti saja! Lekas kau turut
aku!"
Mau atau tidak, Thian Hoa buka mulutnya untuk telan obat pemunah. Ia memang sadar,
maka setelah makan obat itu, lenyaplah keinginan untuk tidur saja. Ia terima pedang yang
disodorkan si congpeng itu, lantas ia lompat keluar kamarnya akan ikuti punggawa perang
itu.
Di luar kota Gan-bun-kwan terdengar suara terompet yang panjang.
Sesampai mereka di luar kamar, mereka dihalangi kiepay-khoa yang menyuguhkan teh yang
bercampur obat pulas.
Ciu Tayjin, kau mesti berpikir masak-masak berulang-ulang!" kata hamba pelayan ini.
"Jangan tayjin sampai merusak hari depanmu."
"Ciu Congpeng tidak menjawab nasehat itu, dia melainkan lompat kepada si kiepay-khoa
sambil menyabet dengan goloknya, atas mana tubuh hamba itu kutung menjadi dua
potong!
Sebagai tindakan terlebih jauh, Ciu Congpeng rampas dua ekor kuda dengan apa ia
bersama Thian Hoa lantas kabur ke depan kantor, untuk menerobos keluar kota.
Tidak ada opsir lainnya atau serdadu-serdadu yang berani merintangi congpeng itu serta
kawannya.
Ciu Kian memang tampak sangat keren. Di atas kudanya, dengan cambuknya, dia menuding
ke arah Citlie-pouw.
"Diluar Citlie-pouw sana, mereka asyik bertempur!" katanya dengan nyaring. "Mari kita
ambil jalan memotong!"
Dan ia kaburkan kudanya di sebelah depan, menuju ke sebuah jalan kecil, dari mana
mereka lantas dengar suara berisik dari bergeraknya pasukan tentara di jalan besar,
antaranya terdengar teriakan-teriakan "Ciu Congpeng kembali! Ciu Congpeng kembali!"
Akan tetapi congpeng itu tidak memperdulikannya.
Di Citlie-pouw, setelah dengar keterangannya Tiauw Im, In Ceng nantikan kembalinya Cia
Thian Hoa. Ia masih saja mendongkol, kegusarannya tak dapat segera dilenyapkan. Ia pun
mesti menantikan lama. Justeru begitu, mendadak terlihat mengepulnya debu yang
diakibatkan oleh berlari-larinya belasan penunggang kuda mendatangi, menyusul mana
pintu pos penjagaan segera dipentang lebar, perwira penjaga pos itu segera keluar untuk

25

Peng-Cong Hiap-Eng
membikin penyambutan, suaranya yang nyaring pun terdengar mengundang masuk belasan
penunggang kuda yang baru tiba itu.
In Ceng dari keretanya dapat melihat dengan nyata, hingga dia tahu, di antara belasan
penunggang kuda itu, tidak ada Congpeng Ciu Kian, hingga ia jadi tidak puas. Walaupun
demikian, ia berlaku tenang, ia bawa sikap agung. Ketika ia sampai di muka pos, ia
bertindak masuk dengan pegangi su-ciatnya, tanda kebesarannya.
Di dalam pos tentara tapal batas itu ada ruang untuk duduk, di kedua tepi berdiri berbaris
enam belas serdadu Gi-lim-kun, pengawal atau pahlawan raja. Mereka berada di undakan
bawah.
Dua kimcee atau utusan raja, dengan pakaian resminya menyambut In Tayjin.
Melihat penyambutan itu In Ceng girang, Di dalam hatinya, ia berkata,"Nyata Sri Baginda
Raja telah memberi berkahnya, ingat dia akan kesetiaanku dua puluh tahun, hari ini dia
telah utus wakilnya ke tapal batas ini untuk memapak aku!" Maka itu, ia bilang kepada
kedua kimcee itu. "Apakah karena jasaku, si orang she In, hingga kedua kimcee
menyambutnya di tempat yang sejauh ini"
Baru In Tayjin mengucap demikian, atau tiba-tiba, kedua kimcee itu perlihatkan wajah
keren dan bengis, keduanya segera perdengarkan seruan, "In Ceng, menteri pengkhianat,
berlututlah untuk menyambut firman Sri Baginda Raja!"
In Tayjin kaget bukan main, ia heran tak kepalang, sampai ketika ia angkat su-ciatnya,
tangannya bergetar.
"Tidak berani aku menyambut firman ini!" katanya, untuk melawan. "Aku si orang she In
telah diutus ke negera asing, selama dua puluh tahun aku hidup menggembala kuda di
daerah bangsa Tartar, selama itu aku tetap bersetia, aku tahu diriku tidak bersalah dan
berdosa!"
Belum sampai menteri setia itu menutup mulutnya atau dua pahlawan sudah menyambar
ia, untuk dibikin rubuh, sedang satu di antara kedua kimcee segera beberkan firman raja,
untuk dibacakan dengan nyaring.
"Menteri yang berdosa, In Ceng, oleh mendiang Sri Baginda telah diberi kepercayaan,
diutus ke negeri Watzu, tetapi bukannya dia bekerja dengan setia dan membalas budi
negara, dia justeru memusuhinya, hingga dia melupakan negeri dari ayah bundanya.
Begitulah hari ini In Ceng pulang secara diam-diam untuk maksudnya yang berbahaya guna
menjadi penyambut sebelah dalam. Sebenarnya, mengingat dosanya, In Ceng tak mestinya
mendapat ampun, akan tetapi karena mengingat ia adalah menteri dari mendiang Sri
Baginda Raja, ia diberi kemerdekaan untuk minum obat guna menghabiskan jiwanya
sendiri supaya dengan begitu tubuhnya utuh. Sekian!"
In Ceng kaget bukan kepalang, tubuhnya sampai gemetar keras. Inilah hal yang ia tidak
pernah duga. Sampai saat terakhir, ia masih percaya rajanya menghargai jasanya
Satu pahlawan, dengan gelas perak di tangannya, menghampiri menteri yang bercelaka ini.
Gelas itu berisi air obat yang merah warnanya. Dia berkata dengan nyaring," Menteri In
Ceng yang berdosa, apakah kau masih tidak mau menghaturkan terima kasihmu untuk
menaati bunyinya firman Sri Baginda!"

26

Peng-Cong Hiap-Eng
In Ceng rasakan kepalanya hendak meledak. Mendongkol dan gusar bercampur jadi satu.
Bukan main panas hatinya. Tapi ia mesti kendalikan diri. Ia sambar gelas racun sambil
berseru," Kasih aku lihat firman itu! Aku tidak percaya!"
Kimcee yang membacakan firman tertawa dingin.
"Sungguh besar nyalimu!" kata dia dengan nyaring. "Apakah kau kira kau berhak melihat
firman?"
Menyusul kata-katanya kimcee ini, terdengar suara kedua daun pintu kantor menjeblak,
setelah mana terlihat masuk satu pendeta dengan tongkatnya di tangan, dengan tongkat
itu terus menerjang.
Keenam belas pahlawan segera turun tangan, guna melabrak pendeta ini, yaitu Tiauw Im
Hweeshio. Maka itu, mereka jadi bertarung dengan hebat sekali.
Tiauw Im mengamuk ke kiri dan kanan, tongkatnya yang besar dan berat tiap-tiap kali
meminta korban.
Kedua kimcee menjadi ketakutan, muka mereka pucat, kaki mereka lemas.
Tiauw Im berhasil dengan serbuannya itu, ia mendesak sampai di ruang sekali, dengan
sebelah tangannya ia cekuk kimcee yang membacakan firman tadi.
"Dengan susah payah In Tayjin kabur dari tempat pembuangannya, dia berhasil pulang
kemari, kenapa sekarang kamu hendak membinasakan dia?" dia berteriak. "Aturan dari
mana ini?"
Dan dengan satu gerakan tongkat, di antara suara nyaring, hancurlah kepala si kimcee yang
galak, setelah mana sambil tertawa, pendeta itu cekuk kimcee yang kedua.
"Lepas! Lepas!" kimcee ini berteriak-teriak. "Kau berani melawan kimcee, kau tahu apa
hukumanmu?"
Tiauw Im tancap tongkatnya di lantai, dengan dibantu tangannya yang lain, ia angkat tinggi
tubuh kimcee itu.
"Jahanam!" dampratnya. "Berapa sih harga sekalinya satu kimcee?"
Ia pegang kedua kakinya kimcee itu yang ia lantas beset.
Semua serdadu Gi-lim-kun terkesiap, tidak ragu-ragu lagi, mereka lari keluar. Mereka
memang sudah jeri terhadap pendeta ini, yang tadi memberikan labrakan pada mereka.
Mereka lari untuk bunyikan terompet, mereka tidak pedulikan lagi kawan-kawan yang
telah menjadi mayat.
In Ceng berdiri tercengang, ia terpagut. Di situ, kecuali beberapa mayat, tinggal ia
bersama Tiauw Im. Ia berdiri diam seperti sedang bermimpi. Ketika Tiauw Im bertindak
menghampirkan, baru dia sadar.
"Mari firman itu, hendak aku melihatnya!" dia berseru. Dia baru ingat kepada firman yang
mengharuskan ia meminum racun, untuk menghabiskan nyawanya.

27

Peng-Cong Hiap-Eng
"Peduli apa segala firman begituan!" sahut si pendeta. "Mari turut aku menyingkir!"
In Ceng duduk numprah.
"Mari firman itu, kasih aku lihat!" dia kata pula, suaranya tetap.
Tiaum Im mendelik terhadap orang bandel itu, tetapi ia mengalah, ia ulurkan tangannya ke
meja, untuk mengambil firman tadi, terus ia lemparkan.
"Nah, lihatlah!" katanya sengit. "Lekas baca! Lekas!"
Berbareng dengan itu, ia tak mengerti atas kebandelan orang itu.
In Ceng pungut firman itu, untuk dibuka dan dibaca, setelah mana, mukanya menjadi
pucat seperti mayat.
Dengan tertera cap kerajaan, firman itu memang firman tulen. Masih ingat ia dahulu,
ketika Kaisar Seng Couw merampas mahkota, pernah ia rampas cap kerajaan dari tangan
Thaykam, lalu dibuangnya cap itu ke lantai hingga pecah ujungnya, kemudian ia menyuruh
tukang menambal cacat itu. Sekarang ia dapat kenyataan, itulah cap yang ia kenal.
"Apakah kau telah melihat cukup!" tegus Tiauw Im menampak orang diam saja.
Masih In Ceng mengawasi firman itu, ia seperti tak dengar teguran itu. Dalam sekejap,
ingat ia pada penderitaanya di tanah asing, tapi penderitaan itu kalah hebatnya dengan
penderitaan sekarang. Sekarang habislah harapannya, lamunan sekian lama bahwa ia bakal
dihargai rajanya. Ia dapat bertahan dua puluh tahun karena kesetiaannya, siapa sangka,
bukan kenaikan pangkat yang ia peroleh, rajanya justeru menghendaki jiwanya.
Tiauw Im ulangi tegurannya, ia masih tidak dengar jawaban, hingga ia jadi sangat heran,
selagi ia awasi menteri itu, mendadak ia tampak orang membanting su-ciat yang selama
dua puluh tahun tak pernah terpisah daripadanya. Maka, karena terbanting keras, su-ciat
itu patah menjadi dua potong.
Pada saat itu, kosonglah hati In Ceng, lenyap keinginannya untuk hidup terus, maka dengan
tiba-tiba saja ia angkat gelas racun, untuk tenggak isinya.
"Hai, kau berbuat apa?" teriak Tiauw Im, yang terus melompat maju.
Akan tetapi orang kosen ini sudah terlambat, tubuh In Ceng rubuh seketika, dari
hidungnya, mulutnya, matanya, kupingnya, dan setiap lobang keringatnya, darah mengucur
keluar. Menteri setia ini telah menemui ajalnya dalam tempo yang cepat sekali, saking
kerasnya racun raja, arak beracun yang dinamakan Hoo-teng-ang, apalagi racun itu sampai
satu gelas.
Tiauw Im melengak menyaksikan kejadian itu, ia baru sadar ketika ia dengar suara ributribut dari arah luar, ialah suaranya senjata beradu bercampur dengan tangisan In Lui.
Sebab diluar, kereta In Ceng sudah dikurung sisa pahlawan serta tentara pos penjaga,
hingga mereka jadi bentrok dengan dua muridnya si pendeta.
Tidak tempo lagi, sambil berseru, Tiauw Im lari keluar, untuk menyerbu ke depan.
Sejumlah serdadu maju, untuk mencegat, merintangi, tetapi ia serang mereka, hingga

28

Peng-Cong Hiap-Eng
mereka menjadi bertempur, tetapi tidak lama, ia berhasil merangsak sampai ke kereta
dimana segera ia sambar In Lui, untuk ditolongi.
"Jangan takut! Jangan takut!" ia hibur bocah itu sambil menepuk-nepuk, kemudian dengan
sebelah tangan ia pondong bocah itu, lalu ia bekelahi pula, guna menoblos kurungan.
In Lui mendekam di bebokong si hweeshio, ia diam saja, tidak menangis atau menjerit,
malah dengan mata bercelingukan, ia memandang ke sekitarnya. Rupanya, di tangan si
pendeta, hatinya jadi tenang.
Bersama dua muridnya, Tiauw Im pecahkan kurungan, lantas mereka merampas kuda
dengan apa mereka kabur bersama.
Tentara Beng mengejar, malah mereka lantas melepaskan anak panah.
Tiauw Im dan dua muridnya repot juga membuat penangkisan, kaburnya mereka jadi
terhalang, dengan begitu, tentara pengejar jadi datang semakin hebat.
"Hebat!" keluh Tiauw Im dalam hatinya. Ia lihat bahaya mengancam. Sulitnya bagi dia, ia
mesti lindungi In Lui, hingga sebelah tangannya tak dapat digunakan.
Sekonyong-konyong dua anak panah menyambar dan kedua muridnya si pendeta rubuh
terguling, karena anak panah itu nancap di tenggorokan mereka.
Tiauw Im murka hingga ia menjerit. Ia putar tongkatnya untuk balik menyerang.
"Daripada mesti binasa, lebih baik aku binasakan dulu beberapa dari mereka!" demikian ia
piker. Tapi, belum sempat ia mengamuk, ketika ia menoleh ke belakang, ia tampak mata
jeli si bocah, mata itu hidup, tidak bersinar takut. Melihat ini, ia menghela napas.
Justeru itu, sebatang panah menyambar kepalanya, ia menangkis. Ia rasakan serangan
panah yang hebat, maka ia menduga penyerangnya pasti bukan orang sembarangan.
Di saat tentara pengejar hampir sampai, Tiauw Im lihat bagian belakang pasukan itu kalut
dengan tiba-tiba hingga hujan anak panah pun jadi berhenti sendirinya, lalu dari dalam
barisan itu keluarlah dua orang yang ia kenali adalah Cia Thian Hoa dan Ciu Kian. Karena
girangnya hampir ia tak mau percaya kepada matanya sendiri.
Mendadak satu punggawa musuh mencegat Thian Hoa, dia mainkan goloknya, atas mana
Thian Hoa desak dia dengan tikaman pedang berulang-ulang hingga dia menjadi repot.
Selagi dua orang itu bertempur hebat, Ciu Kian berseru kepada punggawa itu," Ouw
Ciangkun, aku telah perlakukan baik padamu, sekarang aku mohon kebaikan kau!"
Punggawa itu tidak berkata suatu apa, ia cuma putar kudanya untuk meninggalkan
musuhnya, hingga semua serdadu, meskipun mereka berteriak-teriak, tidak lagi ada yang
menyerang, mencegat, atau mengejar.
Ciu Kian pandang tentaranya itu dengan siapa ia telah hidup bersama-sama bertahuntahun, habis itu bersama Thian Hoa ia gabungi diri untuk angkat kaki menuju ke utara.
Diam-diam ia mengucurkan air mata
Di utara, musim ada lebih dingin, maka juga sampai tengah hari, sang batara surya masih

29

Peng-Cong Hiap-Eng
belum muncul, dari itu, di bawah udara bagaikan mendung, bertiga mereka larikan kuda
mereka.
Thian Hoa telah mengucurkan air mata, dari suhengnya ia ketahui nasibnya In Ceng.
Dengan susah payah mereka kabur dari negara asing, siapa sangka, sesudah sampai di
tanah tumpah darah sendiri, menteri itu mesti menemui ajalnya secara demikian kecewa
dan mengenaskan. Di pihak lain, ia menyesal untuk Ciu Congpeng, yang guna membelai
sahabat, sudah tinggalkan jabatannya, pangkatnya. Malah dengan perbuatannya itu, Ciu
Kian telah memberontak terhadap pemerintahnya.
"Sudah, Ciu Congpeng," kata dia kemudian, suaranya perlahan, "setelah kejadian ini, biar
kita nanti berdaya perlahan-lahan saja untuk hidup kita. Aku menyesal yang aku telah
membikin kau celaka."
Tapi Congpeng itu tertawa, tertawanya sedih.
"Aku bukannya congpeng lagi!" demikian katanya. "Sudah sejak setengah bulan yang lalu,
aku dipindahkan tempat jawatan, Cuma karena congpeng yang baru masih belum sampai,
untuk sementara aku masih tetap mewakilkannya. Ouw Ciangkun itu adalah congpeng yang
tulen>"
"Ciu Congpeng," katanya, "kau telah berulang kali mendirikan pahala, mengapa kau
dipindahkan? Anehnya, In Tayjin ada demikian setia, kenapa dia bolehnya diberik hadiah
kematian?"
Bekas brigadir jenderal itu menggeleng-geleng kepala.
"Urusan pemerintah baiklah kita jangan pedulikan pula." Katanya. Tapi ia berhenti
sebentar, lantas ia melanjutkan," Sekarang ini dorna yang berkuasa, melainkan orang-orang
kepercayaannya yang menjabat pangkat. Aku bukan kepercayaannya Ong Cin, pasti sekali
dia bedaya untuk pindahkan aku. Tentang sebabnya mengapa pemerintah membinasakan In
Tayjin, inilah aku tidak mengerti, Cuma karena raja yang sekarang masih berusia sangat
muda, sedang kekuasaan besar berada di tangan Ong Cin, kebinasaan In Tayjin tentulah
kehendak Ong Cin itu.
Thian Hoa tutup mulunya, ia bungkam. Tapi kemudian.
"Apa pernah congpeng bertempur sama Thio Cong Ciu dari negeri Watzu?" dia Tanya.
"Apakah kau maksudkan itu pengkhianat she Thio?" Ciu Kian tegaskan. "Pada sepuluh tahun
yang lalu, pernah dia datang kemari bersama tentaranya, sampai dua kali kita bertempur,
kemudian diadakan perdamaian, sejak itu tidak pernah dia datang pula."
"Satu hal membuat aku heran," kata Thian Hoa. "Dia tahu betul tentang tindak-tanduk
pemerintah kita, seperti ia mengetahui jari-jari tangannya sendiri, apa tak mungkin dia
mempunyai perhubungan rahasia dengan salah satu menteri atau panglima kita?"
Ciu Kian awasi Thian Hoa dengan mendelong.
"Bagaimana dapat kau menerka demikian?" katanya. "Coba kau tidak mengatakannya,
pastilah aku lupa! Ong Cin dan Co-sinsiang To Huan dari negeri Watzu adalah sahabat
kekal, malah kabarnya, dia juga mempunyai hubungan dengan Thio Cong Ciu."

30

Peng-Cong Hiap-Eng
Thian Hoa jadi tambah curiga. Lantas ia ingat pada obat pulung dari Thio Cong Ciu, yang
dibawa Tantai Mie Ming. Ia keluarkan obatnya, ialah secarik kertas yang dipulung-pulung.
Bersama Ciu Kian, ia baca kertas itu yang bertuliskan huruf-huruf yang menjadi buah
kalamnya Ong Cin sendiri.
Nyata surat itu berasal dari Ong Cin untuk To Huan berdua Cong Ciu, bunyinya adalah
mendamaikan urusan menukar barang-barang besi Tionggoan, buat ditukar dengan kuda
Mongolia.
Thian Hoa menghela napas.
"Mongolia kekurangan besi, tanpa besi dari Tionggoan, sampai pun busur mereka tidak
sanggup bikin," katanya. "Bukankah ini terang-terang ada satu jalan untuk membantu
musuh?"
"Benar," sahut Ciu Kian. "Aku pun lupa satu hal. Kedua kimcee tadi, mereka tiba beberapa
hari yang lalu, selama itu ada utusan Mongolia yang telah mengadakan perhubungan
dengan mereka, entah apa yang mereka bicarakan, tetapi aku curigai sekongkolan untuk
membikin celaka pada In Tayjin. Mungkin itu adalah dayanya To Huan atau Cong Ciu."
"Kalau begitu." Tanya Thian Hoa heran," habis apa artinya Cong Ciu utus Tantai Mie Ming
menyampaikan suratnya dalam obat pulung ini?"
Dan ia tuturkan halnya kimlong yang dibawa Mie Ming yang tadinya mengejar-ngejar
mereka yang lagi buron.
Ciu Kian dan Tiauw Im turut menerka-nerka, tetapi mereka tak peroleh pemecahannya.
"Jahanam Cong Ciu itu mana punya maksud baik?" kata Ciu Kian kemudian. "Dari
perbuatannya saja menyiksa In Tayjin selama dua puluh tahun, aku penasaran sudah tidak
dapat membinasakan dia!"
Justeru itu, In Lui angkat kepalanya.
"Yaya? Mana yaya?" tanyanya. "Yaya suruh aku binasakan orang, kamu juga hendak
binasakan orang, aku takut, takut!"
Thian Hoa usap-usap rambut orang.
"Membunuh orang jahat tak usah dibuat takut." katanya perlahan.
Habis mengucap demikian, tiba-tiba saja orang she Cia ini lompat turun dari kudanya,
untuk segera menghampiri Tiauw Im.
"Pergi kau bawa nona cilik ini kepada sumoay!" katanya. "Aku sendiri hendak kembali ke
Mongolia."
"Untuk apa kau kembali ke sana?" dia Tanya.
"Untuk bunuh Thio Cong Ciu!" sahut sang sutee.
Tiauw Im angkat tongkatnya.

31

Peng-Cong Hiap-Eng
"Itu benar!" ucapnya. "Dengan binasakan Cong Ciu, di belakang hari tak usah lagi nona cilik
ini membinasakan dia! Baiklah, kita masing-masing yang satu merawat anak yatim piatu,
yang lain membuat pembalasan! Nanti, lagi sepuluh tahun, kita boleh saling bertemu pula
di kota Gan-bun-kwan!"
Maka itu berpisahlah mereka berdua, juga Ciu Kian.
***
Bagaikan melesatnya anak panah, demikian sang waktu. Sepuluh tahun telah berlalu atau
orang berada dalam tahun Ceng Tong ke-XIII dari ahala Beng. Maka itu berubahlah pelbagai
peristiwa dari sepuluh tahun yang telah silam itu, pasti orang telah lupa akan
perbuatannya congpeng Ciu Kian dari kota Gan-bun-kwan, tentu orang tak ingat lagi
riwayat sedih dari Tayjin In Ceng di daerah perbatasan itu. Meskipun demikian, di luar kota
Gan-bun-kwan, di daerah seratus lie yang kosong, yang dinamakan no mans's land itu,
suasana bukannya tak tetap ramai. Keramaian-keramaian itu terjadi sejak beberapa tahun
yang lampau.
Apa yang dinamakan keramaian itu adalah aksinya kawanan Lioklim atau Rimba Hijau,
karena sikap mereka ini yang istimewa. Jumlah mereka tidak besar, akan tetapi mereka
tidak takut terhadap tentara Beng, mereka tak jeri terhadap pasukan bangsa Mongolia,
tentara Watzu. Mereka jarang keluar membegal atau merampok orang pelancongan,
mereka cari mangsa di antara rombongan pembesar rakus, terutama mereka tak mau
ganggu tentara kota Gan-bun-kwan. Rombongan ini terkenal dari benderanya Jit Goat
Siang Kie atau sepasang Matahari dan Rembulan. Dan yang luar biasa, umum tidak ketahui
siapa nama pemimpin mereka, apa yang diketahui, pemimpin itu ada seorang tua dengan
potongan kepala macan tutul dan mata harimau. Sebab selagi menyerbu, di dalam
pertempuran, dia selalu memakai topeng. Mak dia dikenal hanya dari goloknya, golok Kimtoo hingga dia peroleh gelar Kim Too Loo-cat atau bangsat tua bergolok emas. Anehnya,
apabila bentrok dengan pasukan tentara, bila dia peroleh kemenangan, tidak pernah ia
kejar tentara pencundang itu.
Begitu terkenal rombongan berandal ini tetapi satu punggawa bernama Pui Keng belum
pernah mendengarnya, hingga ia tak tahu keamanan yang terganggu di daerah tanah
kosong itu.
Itulah terjadi pada musim semi ketika serombongan tentara yang mengiring angkutan
mahal menuju kota Gan-bun-kwan. Yang jadi pemimpin tentara itu adalah Pui Keng
tersebut, satu punggawa asal Bu-ki-jin, yang menyebut dirinya Sin-cian Pui Keng atau Pui
Keng si Malaikat Panah sebab lihainya ia mainkan busur melepaskan anak panah, hingga ia
berjumawa karenanya.
Pada musim itu Pui Keng mendapat tugas mengiring uang negara sebanyak empat puluh
laksa tail, uang terdiri dari uang goanpo, setiap petinya berjumlah lima ratus tail. Seratus
keledai dipakai guna menggendol harta besar itu. Tapi si Malaikat Panah tidak hanya
membawa uang negara saja. Berbareng dengan seratus keledai itu, ada lagi empat belas
ekor, yang bebokongnya dimuatkan dengan barang-barang kepunyaan pribadi dari Teng Toa
Ko, congpeng dari Gan-bun-kwan.
Sama sekali Pui Keng cuma pimpin seratus serdadu, inilah sebabnya sampai sebegitu jauh
belum pernah ia mengalami kegagalan.
Di bulan ketiga, daerah Kanglam mempunyai banyak rumput panjang, tapi di luar kota Kie-

32

Peng-Cong Hiap-Eng
yong-kwan, salju masih belum cair, maka hawa udara jadi dingin sekali. Tapi melalui
perjalanan yang jauh, hari itu, keseratus serdadu itu merasa gerah karena hawa yang
panas, sedang mereka pun sudah letih, apapula ketika itu adalah tengah hari, matahari
sedang memancarkan sinarnya.
Dan benar-benar, Ciu Kian tahu-tahu sudah sampai di kalangan dan sudah lantas menyerang
dengan golok besarnya.
Tantai Mie Ming tinggalkan si nona, ia tangkis bacokan bekas congpeng itu, hingga berdua
mereka jadi bertempur.
"Jikalau hari ini tidak dapat aku bunuh mampus padamu, percuma aku punyakan golok Kimtoo ini!" berseru Kim-too Ceecu sambil mengulangi serangannya yang berbahaya.
Mie Ming berkelit, ia tertawa mengejek.
"Baiklah, aku ingin saksikan golok emasmu!" katanya. Ia menyerang, ia berkelit, ia
menyerang pula, lalu ia tertawa kembali. Lalu ia berkata," Adakah ini yang disebut golok
emas atau golok perak? Hm! Dimataku inilah tak lebih daripada tembaga rongsokan!"
Ia gerakkan gaetannya, ia ketok belakang golok musuh itu.
Ciu Kian jadi murka, benar ia diam saja, tapi ia balas menyerang.
Sampai disitu, In Lui maju pula, untuk membantu kawannya.
Tidak sibuk Tantai Mie Ming ketika ia tangkis dua senjata dari dua musuhnya itu, tidak
perduli In Lui gesit dan golok ema berat, dapat ia melayani dengan leluasa, malah
kemudian ialah yang lebih banyak menyerang.
Ciu Kian dan In Lui bingung pula, meskipun mengepung berdua mereka tak dapat hasil. Ciu
Kian berkata dalam hatinya" Sudah lama aku dengar negara Watzu mempunyai panglima
kosen ini, dia benar-benar gagah perkasa. Orang lihai semacam dia kena dipakai oleh
bangsa Tartar, sungguh sayang."
Ketika itu terdengar pula suara si ongya," Tantai Ciangkun, ketika yang baik sudah tiba,
jangan kau berkelahi lama-lama!"
Mendengar suara si ongya, Ciu Kian dapat daya.
"Menawan bangsat menawan rajanya!" demikian pikirnya yang menyandingi. "Apa perlunya
aku berkelahi mati-matian dengan dia ini?"
Maka dia menangkis dengan keras, akan pecahkan kurungan gaetan, di saat Tantai Mie Ming
mundur tiga tindak, dia teriaki In Lui," In Lui, layani terus padanya, berlakulah hati-hati!"
Habis mengucap demikian, ia lompat mundur, akan tinggalkan lawan untuk sebaliknya
lompat lebih jauh kepada si ongya.
In Lui sangat cerdas, segera ia mengerti maksudnya susiok-couw itu, maka lantas ia desak
Tantai Mie Ming hingga tidak perduli orang Mongolia ini terlebih lihai, ia toh repot juga.
Si ongya sudah lantas diserang Ciu Kian. Ia lihat datangya musuh, dengan pertahankan
tubuh sebisa-bisanya, ia tangkis bacokan itu. Kedua senjata beradu dengan keras, suaranya
sangat nyaring.

33

Peng-Cong Hiap-Eng

Ciu Kian heran akan dapatkan orang bertenaga besar, ia kagum. Ia tahu, ngya itu sedang
terluka, coba dia segar bugar, entah bagaimana besar tambahan tenaganya.
Si ongya juga tidak kurang kagetnya, telapak tangannya sampai pecah dan mengeluarkan
darah, karena a telah menangkis dengan sekuat tenaganya untuk selamatkan diri. Celaka
baginya, ia tidak sanggup berlompatan.
Kim-too Ceecu penasaran, ia ulangi serangannya, terus sampai tiga kali, serangan yang
ketiga itu tak sanggup ditangkis lagi oleh si ongya, goloknya terpukul keras, terlepas dari
cekalannya dan terlempar, maka dengan leluasa Ciu Kian kirim bacokan susulannya yang
keempat.
"Habis aku!" teriak si ongya. Kendati demikian, dengan lawan sakit di kakinya yang terhajar
piauw, ia buang dirinya untuk bergulingan.
Ciu Kian membacok tempat kosong, ia jadi semakin penasaran, maka ia maju terus, akan
susul ongya itu, guna mengirim bacokannya terlebih jauh. Justeru itu ia dengar sambaran
angin di belakangnya, hampir tanpa menoleh ia menangkis.
"Trang!"
Kepala berandal ini merasakan getaran keras pada tangannya, ketika ia berpaling, ia
tampak Tantai Mie Ming yang membokong padanya. Ia belum sempat bersiap, atau Mie
Ming sudah simpan sepasang gaetannya, buru-buru dia lompat pada ongyanya, untuk
sambar tubuh si ongya, untuk segera dibawa kabur.
Ciu Kian tidak mau mengerti, ia lantas lompat, guna mengejar, goloknya dipakai
membabat.
Mie Ming tidak bersenjata, ia pun sedang pondong ongyanya, tidak ada jalan lain, ia
berkelit sambil mendak rendah, sebelah tangannya dipakai membarengi menyerang lengan
lawan.
Ciu Kian menyerang dengan hebat, serangannya tidak mengenai sasarannya, goloknya jadi
terulur ke depan, karena itu, tidak keburu ia menarik kembali tangannya atau lengannya
itu telah dihajar lawannya, begitu rupa, sampai ia merasakan sakit sekali, hingga goloknya
terlepas jatuh.
Tantai juga tidak luput dari serangan, ialah dadanya terkena tangan Kim-too Ceecu, hingga
ia pun merasakan sakit, akan tetapi, dengan kuatkan diri, dengan menutup rapat
mulutnya, ia terus lari dengan bawa kabur cukongnya itu.
In Lui lompat mengejar. Ia menjadi gusar dan penasaran. Tadi ia telah didesak mundur
jauh, karena itu, Mie Ming keburu menolong ongya-nya dari tangan Ciu Kian. Dalam
murkanya, ia ayunkan tangannya, akan menimpuk dengan tiga batang piauw.
Orang Mongolia itu benar lihai. Ia tidak berkelit, sambil lari, ia putar tangannya ke
belakang, satu demi satu, ia sambuti ketiga piauw itu, untuk diteruskan dipakai menyerang
kembali. Nyata ia bertenaga besar, timpukannya pun hebat.
In Lui dengar suara angin, tidak berani ia menanggapi piauwnya itu, yang ia lewatkan
sambil berkelit, hingga piauw mengenai satu batu besar di sebelah belakang sambil

34

Peng-Cong Hiap-Eng
perdengarkan suara nyaring dan muncratkan lelatu api.
"Hebat!"seru si nona di dalam hati. Ia lihat ketiga piauwnya nancap di batu, tidak jatuh.
Itu waktu Tantai Mie Ming sudah lari terus.
Masih In Lui hendak mengejar tatkala di timur lembah terdengar suara letusasn, hingga
gunung bagaikan tergetar, menyusul mana, Ciu Kian berteriak," A Lui, jangan kejar musuh
yang sudah mogok!"
Si nona batal mengejar, sedang itu waktu, di selatan, di barat dan utara lembah saling
susul terdengar suara letusan nyaring seperti yang pertama tadi, begitupun terdengar
suara riuh dari pertempuran-pertempuran yang mestinya dashyat.
Ciu Kian jumput goloknya, ia tertawa besar.
"Tidak perduli bangsa Tartar itu putar otaknya, mereka toh menjadi kura-kura dalam
kerajaanku!" ia berkata dengan puas.
In Lui tidak mengerti, ia hendak bertanya pada si orang tua itu, akan tetapi belum lagi ia
membuka mulutnya, Kim-too Ceecu sudah mendahului lari pergi, sambil lari dia menggape
dan berseru,"Mari lekas, bantui aku menolong orang!"
Dengan masih tidak mengerti, si nona lari menyusul.
Di bawah gunung, mayat-mayat bergeletakan di sana-sini, darah berlimpahan. Itulah
korban-korban Ciu Kian tadi. Tak tega In Lui menyaksikan itu, ia lari sambil menutupi
muka.
"A Lui, apakah kau bawa obat luka pemunah racun?" begitu terdengar pertanyaan dari si
orang she Ciu. "Eh, A Lui kau kenapa? Kau takut? Bagaimana nanti kau dapat membalas
dendam?"
"Tak takut aku bertempur sama segala bangsat," sahut si nona. "tetapi tak tega aku
menyaksikan mayat-mayat itu."
Ciu Kian tertawa.
"Sungguh kau satu pemudi gagah yang pemurah hati," ia kata. "Di medan perang, dimana
pemandangan lebih mengerikan daripada ini masih dapat disaksikan! Mari, mari, kau
tengok, kalau nanti kau sudah biasa, hatimu tidak akan goncang lagi."
In Lui lari terus kepada jago tua itu, ketika sudah datang dekat, ia lihat si jago tua sedang
pondong satu orang dengan dandanan sebagai busu, orang yang mengerti ilmu silat, di
bebokong siapa nancap sebatang panah yang masuk hampir separuhnya.
"Apakah dia masih dapat ditolong?" nona ini tanya.
"Dia masih bernapas, kita coba saja," jawab Ciu Kian.
"Aku membekal obat luka pemunah racun, hanya entah tepat atau tidak," kata si nona,
yang terus berikan obat itu.

35

Peng-Cong Hiap-Eng
Ciu Kian terima obat itu. Ia cabut panah di bebokong orang itu yang terluka, yang
tubuhnya diletakkan di tanah. Dari lobang luka terus keluar darah hitam.
"Benar-benar panah beracun," kata orang tua ini sambil mengobati luka itu, kemudian ia
urut-urut tubuhnya.
Tidak lama antaranya, si luka itu membuka kedua matanya, cuma napasnya masih lemah,
belum dapat ia membuka mulutnya.
Ciu Kian mengawasi, ia geleng-gelengkan kepalanya.
"Bagaimana?" tanya In Lui.
"Inilah racun Mongolia yang hebat sekali, tanpa obat pemunah dari si pemilik panah, tak
dapat kita menolongnya," sahut si orang tua. "Syukur orang ini mempunyai tenaga dalam
yang tangguh, karenanya ia masih dapat bertahan sampai sekarang ini. Obatmu dan
urutanku cuma bisa menolong ia untuk sementara waktu, untuk membuatnya sadar, akan
tetapi jiwanya tidak dapat bertahan sampai besok."
In Lui jadi sangat berduka.
"Kalau begitu, lebih baik kita tidak tolong dia, supaya dia lantas mati dan tak usah
menderita terlebih lama," ia kata.
"Dia buron dari tanah daerah Tartar, dia dikepung sampai di sini, mungkin dia mempunyai
rahasia penting," Ciu Kian utarakan sangkaannya.
"Maka kalau dia tidak dapat berbicara sebelum dia menutup mata, mungkin dia mati tidak
puas."
Dari sakunya, ciu Kian keluarkan sepotong jinsom korea, lalu dipotongnya, kemudian
dimasukkan ke dalam mulut orang itu. Obat ini (koleesom) mempunyai khasiat manjur,
rupanya ia mengharap orang itu dapat ditolong.
Di empat penjuru lembah masih terdengar riuhnya suara pertempuran, juga ringkikan dari
banyak kuda, terutama letusan-letusan yang memekakkan kuping. Mendengar itu semua,
Ciu Kian ketok-ketok goloknya sambil tertawa.
"Tidak sampai terang tanah, tentara Tartar akan musnah semuanya," kata dia. "In Lui,
sekarang tahulah kau sebabnya kenapa aku rampas angkutan harta tentara kota Gan-bunkwan."
In Lui cerdik, ia cuma berpikir sebentar atau ia tertawa sambil tepuk-tepuk tangan.
"Sungguh tipu dayamu yang bagus, susiok-couw!" dia memuji. "Kau rampas uang negara, itu
artinya kau hendak bikin congpeng dari Gan-bun-kwan dengar perkataanmu. Begitulah
ketika bangsa Tartar menjanjikan dia untuk bekerja sama, kau suruh dia diam saja, jangan
gerakkan tentara. Demikian, kau berada di tempat terang, musuh berada di tempat gelap.
Semua kau atur sempurna, pasti sekali kau menang perang!"
Ciu Kian puas, ia tertawa pula.
"Teng Tay Ko itu bukannya seorang yang buruk," ia kata. "Pemerintah titahkan dia

36

Peng-Cong Hiap-Eng
membasmi berandal, dia insyaf bahwa tenaganya tidak cukup, dia membuat perhubungan
dengan bangsa Tartar. Lebih dahulu aku rampas hartanya, setelah itu seorang diri aku pergi
padanya. Aku tegaskan padanya apakah dia ingin mampus dicincang tentaranya yang
kelaparan atau hendak bermusuh dengan bangsa Tartar. Nyata dia masih sayangi jiwa dan
pangkatnya, dia dengar perkataanku. Sekarang nampaklah buktinya."
Tak tahan jago tua ini, kembali dia tertawa.
"Aku tertawa karena Teng Congpeng itu jenaka," sahut si orang tua. Di dalam surat-surat
resminya dia namakan aku Kim-too si bangsat tua, akan tetapi bila berhadapan dengan aku
sendiri, dia berulang kali memanggil tayjin, tandanya ia tetap akui aku sebagai atasannya."
Mau tidak mau In Lui juga tertawa.
"Apakah sebelum dia berada di sini, dia tahu Kim-too si bangsat tua ada seatasannya?" dia
tegaskan sambil berkelakar.
"Dia adalah orang angkatanku," Ciu Kian beri keterangan. "Begitu ia saksikan golokku, dia
mesti dapat menduga aku siapa. Cuma tadinya dia berpura-pura tidak tahu. Pun biasanya,
setiap kali aku tempur tentara negeri, aku selalu pakai topeng, maksudku ialah agar
mereka tidak mengenali aku."
"Kenapa begitu, susiok-couw?"
"Jikalau tentaranya mengetahui aku adalah bekas congpeng dari kota Gan-bun-kwan,"
sahut si orang tua, " ada kemungkinan sebagian dari tentaranya itu akan lari ke pihakku.
Gan-bun-kwan adalah kota perbatasan, sudah semestinya kota itu mempunyai pasukan
penjaga yang kuat, karena ini aku cuma terima orang-orang melarat, aku tolak tentara
negeri."
In Lui masih muda sekali, tidak pernah ia pikirkan siasat semacam itu, karenanya ia
melengak mendengar pembicaraan Kim-too Ceecu yang dalam maksudnya itu.
"Bagus, dia telah mendusin!" tiba-tiba Ciu Kian berseru.
Memang benar si orang luka itu membalikkan tubuhnya.
"Kamu siapa?" tanya dia pertama kali dia membuka mulutnya, suaranya serak. "Lekas
pimpin aku, aku hendak bertemu dengan Kim-too Ceecu!"
Ciu Kian girang.
"Akulah Kim-too Ceecu," ia perkenalkan dirinya.
Orang itu segera menanya,"Apakah kau tahu cucu perempuan dari In Ceng yang bernama
Lui? Tahukah kau dimana dia berada?"
In Lui terkejut.
"Aku adalah In Lui!" ia segera menjawab.
Dengan mendadak orang itu pentang lebar matanya.

37

Peng-Cong Hiap-Eng
"Kau In Lui?" katanya. "Bagus! Bagus! Mati pun aku meram! Kakakmu masih hidup, sekarang
dia telah pergi ke kota raja untuk turut dalam ujian, maka lekaslah kau pergi susul dia!"
Kembali si nona terkejut. Memang ia tahu yang ia masih mempunyai satu saudara lelaki,
dan usianya lebih tua, namanya In Tiong, akan tetapi waktu kakaknya itu berumur lima
tahun, ayahnya telah mengirimkan dia pada satu suhengnya, kakak seperguruan, untuk
dijadikan muridnya. Hal ini ia baru tahu kemudian, sesudah ia dengar keterangan
gurunya..
Sama sekali Hian Kie It-su, guru In Teng, mempunyai lima murid. In Teng keluar dari
perguruan sebelum tamat, dia pergi ke negeri asing untuk menolong ayahnya, In Ceng.
Empat murid lainnya, masing-masing mendapat serupa kepandaian istimewa. Tiauw Im
adalah murid yang kedua, dia mendapat ilmu tongkat Hok-mo-thung serta gwa-kang, ilmu
tenaga luar. Cia Thian Hoa yang ketiga, bersama Hui-thian Liong-lie, yang keempat, berdua
mereka peroleh ilmu pedang. Murid kesatu adalah Tang Gak, dia diberi pelajaran Tay-lek
Eng-jiauw-kang, Tenaga cengkraman garuda, dari ilmu slat Kim-kong-ciu, Tangan Arhat. In
Tiong telah dikirim kepada Tang Gak ini. Sejak Tang Gak tiba di Mongolia, dari mana ia
berpesiar ke perbatasan Tibet, untuk selama sepuluh tahun, selama itu tidak pernah ada
kabar ceritanya, maka itu apakah In Tiong sudah mati atau masih hidup, orang tidak
mengetahuinya. Siapa tahu sekarang mendadak datang kabar dari orang yang tidak dikenal
ini.
In Lui menjadi girang berbareng heran.
"Kau siapa?" ia tanya.
"Aku adalah suheng dari kakamu," ia berikan jawaban.
"Ah! Kalau begitu, kau juga adalah suhengku." Ia beritahu. Tadinya ia niat menanyakan
lebih jelas, tiba-tiba ia tampak matanya menjadi putih mencilak, lalu dengan lebih serak,
suheng itu berkata," Masih ada kabarku yang lebih penting pula. Bangsa Tartar berniat
mengurung gunungmu, untuk merusak bendungan air."
"Tentang itu, aku telah ketahui dari siang-siang," Ciu Kian beri keterangan. "Dapatkah kau
dengar suara ledakan? Itu tandanya pihakku telah peroleh kemenangan."
Orang itu tersenyum, ia perlihatkan roman girang.
"Musuh juga akan mengerahkan angkata perangnya untuk menggempur kerajaan Beng," dia
masih menerangkan lebih jauh. "Kau ..kau mesti berdaya untuk memberi kisikan kepada
Sri Baginda. Did..di badanku ada sepucuk surat untukmu Bagus, aku telah bertemu
dengan kamu, bolehlah aku pergi."
Suaranya semakin perlahan, begitu ia berhenti bicara, ia tersenyum pula, habis itu, kedua
matanya dimeramkan kembali.
Secara demikian dia berpulang ke alam baka.
Ciu Kian terharu, ia menghela napas. Ia ambil surat yang dimaksudkan, ia menekes batu
untuk menyalakan api.
"Inilah surat toa-supeehmu," ia kata.

38

Peng-Cong Hiap-Eng
Surat itu ditulis dengan huruf "Co-jie" suatu tanda ditulisnya lekas-lekas. Ciu Kian lantas
sobek sampulnya, untuk membaca suratnya. Mula-mula ia baca, "Gak adalah seorang
gunung. Ia titipkan dirinya di padang pasir, cita-citanya besar, akan tetapi akhirnya,
dengan arak ia membuat dirinya sinting selalu. Seumurnya tidak ada yang Gak buat
menyesal, kecuali belum pernah berkenalan dengan tuan."
Di dalam hatinya, Ciu Kian berpikir," Tang Gak ini mempunyai cita-cita luhur." Ia membaca
terus," Walaupun tuan dengan aku belum pernah bertemu, akan tetapi dari saudara Thian
Hoa, tahulah aku tentang kegagahan tuan yang kaum kang-ouw mengaguminya. Benar tuan
telah berdiri sendiri dengan menduduki sebuah gunung dengan menolak bangsa Han dan
menentang bangsa asing, akan tetapi aku tahu pasti tuan tak sudi melihat bangsa asing
meluruk ke selatan untuk menggembala kuda hingga kesudahannya Tionggoan nanti
berubah Han menjadi asing."
Ciu Kian menghela napas.
"Sungguh orang ini mengenal diriku." Ia kata. Ia membaca pula," Di negara Watzu setelah
perdana menteri To Hoan menutup mata, puteranya yang bernama Ya Sian telah
menggantikannya, mulanya sebagai menteri, belakangan dia angkat dirinya guru negara,
hingga dia pegang kekuasaan atas pemerintahan dan tentara. Dia telah menyiapkan
angkatan perangnya dengan maksud menyerbu Tionggoan. Sekarang dia mengumpulkan
rangsum dan lain-lainnya, hingga rasanya tak lama lagi ia akan mulai menggerakkan
tentaranya itu. Musuh tangguh sudah seperti di depan pintu kota perbatasan, akan tetapi
di dalam pemerintahan, menteri-menteri tengah bermabuk-mabukan, mereka seperti
tengah bermimpi adakah itu bagus?"
Jago tua itu berpikir keras. Memang kelihatan, kaum dorna tengah main gila. Ia membaca
lebih jauh," Muridku In Tiong berniat keras membalas dendam, ia telah berangkat pulang
ke dalam negeri, tetapi dia masih muda dan pengalamannya kurang, dia tak tahu bahwa
yang berkuasa adalah kaum dorna, aku kuatir dia nampak kegagalan. Maka itu, semoga
tuan ingat kepada sahabat lama, sukalah kau mendidik dia. Gak pun dengar, saudara In
Teng masih mempunyai satu anak perempuan bernama Lui, andai kata tuan ketahui dimana
adanya anak itu, tolong beritahukan padanya tentang kakaknya ini. Aku menyesal
mengenai sutee Thian Hoa, sejak pertemuan kita di perbatasan pada sepuluh tahun yang
lalu, sampai sekarang ini terputuslah perhubungan kita. Cerita di luaran mengatakan dia
telah terbinasa di tangan pengkhianat she Thio atau ia telah tertawan dan terkurung di
dalam istana bangsa asing. Gak sekarang bersendirian saja, aku tidak sanggup berbuat
suatu apa, dari itu Gak mohon sukalah tuan mengabarkan kepada sutee Tiauw Im dan
sumoay Eng Eng agar mereka lekas berangkat ke negara asing. Semua ini, aku mohon
bantuan tuan, untuk itu, tak berani aku menghaturkannya terima kasih."
Habis membaca, Ciu Kian menghela napas.
"Jikalau demikian adanya," kata In Lui, "baiklah aku pergi dulu ke kota raja untuk mencari
kakakku."
Orang tua itu lirik si nona, ia berpikir.
"Begitupun baik," sahutnya setelah lama berpikir.
In Lui heran melihat wajah orang tua itu.
"Rasanya aku dapat menduga niat kakakmu itu," kata Ciu Kian kemudian. "Kabarnya raja

39

Peng-Cong Hiap-Eng
yang sekarang sedang mencari orang-orang pintar dan gagah, untuk itu ia berminat
memberi hadiah yang istimewa pada mereka yang tahun ini ikut ujian, setelah ujian
umum, ia lantas mengadakan ujian conggoan. Pasti kakakmu hendak ambil jalan melalui
ujian itu untuk memajukan dirinya, supaya kemudian ia dapat meminjam tenaga
pemerintah untuk mewujudkan pembalasan bagi engkongnya. Maksud ini baik, sayang
kawanan dorna sedang berkuasa, dari itu aku kuatir,dia tidak akan mendapat hasil."
Orang tua ini mendongak, melihat bintang-bintang. Tiba-tiba ia memandang In Lui.
"A Lui, pernahkah kau membaca surat balasan Lie Leng kepada Souw Bu?" tiba-tiba ia
bertanya.
Si nona manggut, memang ia pernah membaca surat itu, karena engkongnya
membandingkan dirinya dengan Souw Bu, maka ia telah minta kepada engkongnya untuk
menceritakannya.
"Masa dulu Lie Leng, dengan tentaranya telah melawan bangsa Ouw," berkata Ciu Kian.
"Serdadunya cuma lima ribu jiwa, tapi ia melawan musuh dengan tentara sepuluh laksa
jiwa, bisa dimengerti kelemahannya. Walaupun demikian, ia masih bisa membinasakan
panglima dan merebut benderanya, mengejar sana mengejar sini, hanya pada akhirnya,
karena yang sedikit tidak dapat melawan yang banyak, ia kehabisan tenaga dan ditawan
juga. Kalau diingat, besar jasa Lie Leng, tetapi pemerintah tidak menghargainya, malah
dia dihukum mati serumah tangganya, maka itu, ia jadi putus asa, tak ada keinginannya
untuk pulang ke negerinya. Dalam suratnya pada Souw Bu, ia teringat kepada ibunya,
kepada anak isterinya, ia sesalkan nasibnya yang buruk. Maka itu, Lie Leng itu sungguh
harus dibuat menyesal."
Ia mendongak pula, ia menghela napas.
"Susiok-couw," berkata In Lui, " Kau tetap menentang tentara bangsa Ouw, mana bisa kau
dipadu dengan Lie Leng?"
"Kau belum tahu tentang aku, anak," kata Ciu Kian. "Dalam usiamu tujuh tahun, kau telah
mendengar riwayat engkongmu, maka sekarang, akan aku tuturkan tentang diriku. Dahulu
di masa aku menguasai kota Gan-bun-kwan, pernah aku melakukan peperangan besar dan
kecil sampai beberapa pulu kali, setiap kali berperang, tentu aku peroleh kemenangan,
maka sungguh tak diduga, oleh karena mendengar hasutan, raja telah memecatku. Bagiku,
kejadian itu tidak berarti apa-apa. Tapi engkongmu? Dia bandingkan dirinya dengan Souw
Bu, tapi dia mengalami lebih hebat, dia dihadiahkan kematian! Apakah ini adil? Karena itu,
aku lantas tinggalkan Gan-bun-kwan. Awalnya, aku tidak mempunyai pikiran untuk
menduduki gunung, siapa tahu, raja Beng berbuat sama seperti raja Han terhadap Lie
Leng. Keluargaku semua telah dihukum mati! Syukur satu bujangku yang setia berhasil
menolong puteraku! Dialah orang yang memancing kau mendaki gunung"
In Lui terharu sehingga ia mengalirkan air mata. Ketika ia memandang jago tua itu, wajah
Ciu Kian muram, jago itu membungkam. Tapi kemudian, dengan goloknya Ciu Kian
menunjuk benderanya yang melambai-lambai ditiup angin malam yang dingin. "Lihat di
sana, benderaku tetap bendera Jit Goat Kie!"
In Lui angkat kepalanya, ia turut memandang bendera itu dengan matahari dan bulan
sabitnya. Yang luar biasa adalah huruf 'jit' (matahari) dan goat (rembulan) apabila
keduanya digabung menjadi satu, kedua huruf itu menjadi huruf "Beng" (terang), tetapi
disini diartikan Beng dari kerajaan Beng.

40

Peng-Cong Hiap-Eng

"Kiranya sekalipun susiok-couw menjadi berandal, masih kau tak melupakan kerajaan kita!"
ia kata.
Ciu Kian tidak menjawab, ia hanya berkata," Kalau nanti kau dapat cari kakakmu itu,
katakan padanya supaya dia jangan turut dalam ujian buconggoan, tapi lebih baik dia
kembali, untuk datang padangku di sini. Pemerintah sangat tidak berbudi, buktinya lihat
yayamu itu! Apakah itu tak dijadikan contoh untuk hati menjadi ciut?"
Si nona mengangguk.
"Susiok-couw benar" sahutnya.
Ciu Kian lipat suratnya, ia masukkan itu ke dalam sakunya.
"Samsusiok Cia Thian Hoa-mu gagal, dia juga orang yang aku kagumi." dia berkata pula.
"Aku ingat pada sepuluh tahun yang lampau, bersama-sama Tiauw Im Taysu, dia telah
membuat janji, yang satu memelihara anak tunggal, yang lain menuntut balas. Sekarang
ini Tiauw Im Taysu sudah menitipkan kau kepada adik seperguruannya yang perempuan
untuk merawat kamu, akan tetapi tentang pembalasan dari Thian Hoa, entahlah! Tidakkah
ini membuat orang berduka?"
"Nanti aku beritahukan guruku," kata In Lui, "biar ia bersama ji-supeeh pergi ke perbatasan
untuk mencari sam-supeeh."
"Kau, sendirian saja, mana dapat kau bekerja untuk dua jurusan?" kata Ciu Kian. "Begini
saja. Pergi kau cari kakakmu, aku yang akan memberitahukan kepada gurumu."
"Itulah lebih baik. Baiklah besok aku akan berangkat."
Ciu Kian tertawa.
"Kau masih mempunyai waktu beberapa hari," katanya. "Dalam hal ilmu silat, kau lebih
pandai, tapi tentang pengalaman, kau perlu belajar dari aku!"
Waktu cuaca makin terang dan dentuman sudah mulai sepi, Ciu Kian dan In Lui kembali ke
pesanggrahan.
Tepat tengah hari, tentara yang bersembunyi di empat penjuru sudah kembali dengan
warta kemenangannya yang besar, tentara Mongolia dihajar kocar-kacir dan banyak yang
tertawan berikut kudanya. Karena itu, Ciu Kian menitahkan untuk memberi hadiah, hingga
ia menjadi repot untuk beberapa saat.
"Kau benar gaga, tetapi mengenai seluk-beluk kaum kang-ouw, kau masih kurang," berkata
pula Ciu Kian sambil tertawa. "Nanti aku suruh San Bin mengajarkan padamu."
In Lui cerdas, dengan gampang ia dapat mengerti, maka baru tiga hari,m ia sudah tahu
segala apa mengenai kaum kang-ouw.
Ciu Kian masih kuatirkan orang kurang pengalaman, kenalan pun ia tak mempunyai banyak,
dari itu ia serahkan sebuah benderanya, bendera Jit-goat-kie.
"Semua orang kaum kita di lima propinsi utara, baik dari kalangan darat maupun sungai,

41

Peng-Cong Hiap-Eng
apabila mereka lihat bendera ini, pasti mereka akan suka mengalah," ia beri keterangan.
"Umpama kata kau menghadapi ancaman bahaya, kau keluarkan saja bendera ini. Cuma
ingat, tidak dapat kau keluarkan secara sembarangan."
In Lui terima bendera itu, ia haturkan terima kasihnya, akan tetapi, di dalam hatinya, ia
berpikir," Aku hendak merantau, aku membutuhkan pengalaman, perlu apa aku dengan
perlindungan bendera ini?" Tapi tidak ia utarakan pikirannya ini.
Ciu Kian juga keluarkan beberapa potong pakaian orang lelaki, emas dan perak serta
permata. Sambil tertawa ia kata," Satu nona tunggal membuat perjalanan ke kota raja,
kau mudah membangkitkan perhatian orang, maka itu perlulah kau salin pakaian, untuk
menyamar sebagai satu pemuda. Uang dan permata ini, kau boleh simpan untuk dipakai di
tengah perjalanan."
In Lui angggap salin pakaian adalah benar, maka ia tidak membantah. Ia dandan dengan
lantas. Ia terima bekalan itu. Segera ia memberi hormat, untuk pamitan.
"San Bin, pergi kau antar serintasan!" Ciu Kian titahkan.
Demikian In Lui keluar dari pesanggrahan, ia menunggan kuda pilihannya, maka itu, pada
waktu tengah hari ia sudah melintasi Gan-bun-kwan.
"Siok-hu, silahkan kau kembali!" ia minta pada pengantarnya.
San Bin mengawasi dengan tajam.
"Kau harus lekas kembali" katanya, suaranya dalam. Ia tidak lantas putar kudanya,
sebaliknya, ia jalan terus berendengan dengan si nona, agaknya ia berat untuk berpisah.
"Siok-hu, terima kasih untuk kebaikanmu," kata In Lui. "Silahkan kembali!"
Tiba-tiba wajah San Bin bersemu merah, lalu ia tertawa sendirinya.
"Sebenarnya perbedaan usia kita berdua tidak seberapa," berkata dia. "Di antara kita ada
tingkat, karenanya kita bukan lagi saudara. Coba kita bicara hanya hal umur, lebih tepat
kita menjadi kakak dan adik."
In Lui menjadi heran. Tiba-tiba ia ingat, selama beberapa hari, San Bin berlaku luar biasa
baik terhadapnya. Di dalam hatinya, ia kata," Paman ini seorang yang baik, sayang cara
bicaranya tidak ada batasnya."
Muda usianya si nona, ia tidak dapat berpikir lebih dalam.
"Siok-hu, apakah kau tidak suka aku memanggil paman kepadamu?" tanyanya sambil
tertawa. "Baiklah, lain kali aku kembali, aku akan bicara dengan susiok-couw supaya kita
mengubah panggilan kita."
Kembali muka San Bin merah.
In Lui tertawa, terus ia pecut kudanya untuk dilarikan. Ketika ia berpaling, nampak Ciu San
Bin masih duduk diam di atas kudanya sambil mengawasinya.
Tiga hari In Lui melakukan perjalanan, pada hari ketiga ia tiba di Yang-kiok yang ramai,

42

Peng-Cong Hiap-Eng
setibanya di dalam kota, nampak banyak rumah makan. Ia lantas merasa lapar.
"Sudah lama aku dengar arak hun-ciu dari Shoasay sangat tersohor, hari ini aku
mencobanya," pikir nona ini. Lantas ia hampirkan sebuah rumah makan yang di depannya
tampak ditambatkan seekor kuda putih, putih juga keempat kakinya, roman kudanya pun
bagus. Ia menghampiri lebih dekat. Justeru itu matanya bentrok dengan satu tanda rahasia
orang kang-ouw di tembok, ia jadi heran. Dengan tenang, ia bertindak masuk, hingga ia
dapatkan tempat di pojok selatan, dekat dengan jendela, duduk satu anak sekolah yang
sedang minum seorang diri, sedang di sebelah timur duduk dua orang laki-laki yang tubuh
dan romannya kasar, yang satu kurus, yang lain gemuk, keduanya minum dengan asyik.
Tetapi di mata si nona, mereka itu ternyata sering-sering melirik pada si mahasiswa.
Anak sekolah itu indah pakaiannya, dia mirip dengan seorang putera hartawan. Dia juga
minum seorang diri, secawan demi secawan, sampai tubuhnya nampak sedikit limbung,
suatu tanda bahwa ia telah menenggak terlalu banyak.
Tiba-tiba si anak muda ini menyanyi," Tuhan wariskan kita kepandaian, itu mesti ada
gunanya. Kalau seribu emas dihabiskan, itu mesti dapat balik kembali. Memasak kambing,
menyembelih kerbau, untuk berpesta bersenang-senang, maka itu haruslah diminum habis
tiga ratus cangkir."
Ia lantas goyang-goyangkan kepalanya, nampaknya ia tolol. Kembali ia teguk satu cawan,
hingga tenggorokannya berbunyi.
Di dalam hatinya, In Lui berkata," Siucay ini benar-benar tolol, ia tidak insyaf bahwa ini
membahayakan perjalanannya. Dua penjahat sedang pasang mata terhadapnya, tapi ia
masih tungkuli araknya saja."
Si kurus di timur itu terdengar berseru," Minum habis tiga ratus cangkir! Bagus! Hai,
saudara, lain orang minum tiga ratus cangkir, kau sendiri, tiga cangkir kau masih belum
tenggak!"
Sang kawan, si gemuk, berjingkrak.
"Kau ngaco!" tegurnya. "Kau cuma minum satu cawan, kau suruh aku habiskan tiga!"
"Tapi kau harus ingat, kau lebih besar tiga kali lipat daripadaku!" kata si kurus. "Aku minum
satu cawan, kau sendiri mesti tiga, tak boleh kurang."
"Angin busuk! Angin busuk!" si terokmok mendongkol. "Tidak, aku tidak mau minum!"
"Eh, kau tidak mau minum?" tanya si kurus.
Gusar si terokmok, ia menolak dengan keras, maka arak tumpa menyiram tubuhnya.
Si kurus melawan, mereka berdua jadi bergumul, keduanya terhuyung hingga melanggar si
mahasiswa.
"Kurang ajar!" anak sekolah itu membentak. Ia gusar, ia bangkit.
Berbareng dengan itu terdengar suara barang jatuh, itulah kantong sulam si anak muda
dari mana meletik keluar sepotong emas serta serenceng mutiara. Emas masih bagus tapi
mutiara itu, di antara sinar matahari, sudah bercahaya terang sekali.

43

Peng-Cong Hiap-Eng

Si anak muda angkat kakinya, untuk menginjak kantongnya, lalu ia membungkuk untuk
menjemput emas dan mutiara itu.
"Kamu hendak merampas?" ia berseru.
Dua orang itu berhenti bergumul.
"Siapa yang merampas barangmu?" bentak mereka. "Kau berani tuduh orang? Nanti aku
hajar padamu!"
Beberapa tamu lain lantas maju, untuk memisahkan.
In Luin tertawa menyaksikan pertunjukan itu. Di matanya, sudah terang si gemuk dan si
kurus itu adsalah dua penjahat, mereka sengaja bergumul untuk menjatuhkan kantong
uang orang untuk dirampas, sedikitnya untuk mengetahui lebih dahulu, kantong itu kosong
atau berisi, akan tetapi tak kesampaian maksud mereka. Di dalam hatinya ia berkata," Di
sini ada aku, tidak nanti aku biarkan kamu mencapai maksudmu."
Nona ini bangkit, untuk menghampiri. Dengan kedua tangannya, ia tolak si gemuk dan si
kurus itu.
"Kamu mabuk arak, kenapa kamu bergumul hingga ke tempat orang lain?" ia tegur mereka.
Sambil berkata begitu, dengan sebat tangannya meraba saku kedua orang itu, akan rampas
uangnya. Tidak ada orang yang melihat perbuatannya ini.
Ditolaknya dada kedua orang itu, mereka merasa sakit, hingga mereka jadi kaget, karena
mana, tidak berani mereka beraksi lebih jauh.
"Siapa suruh dia menuduh kita merampas..." mereka mendumal.
"Sudah, sudahlah!" kata seorang tam. "Kamu telah menubruk orang, kamu yang bersalah.
Baiklah kamu pulang, untuk minum arak di rumah saja."
Si mahasiwa angkat cawannya.
"Saudara, mari minum!" ia mengundang, suaranya menyiarkan bau arak yang keras.
"Terima kasih," sahut In Lui. Ia duduk pula di kursinya, dari situ ia awasi kedua orang itu.
Kedua orang ini terang masih mendongkol, mereka memandang orang dengan sorot mata
tajam. Lalu satu di antaranya teriaki tuan rumah untuk membuat perhitungan.
Orang yang kedua, si kurus, meraba sakunya. Rupanya ia hendak mengeluarkan uang. Tibatiba ia melengak, wajahnya menjadi pucat.
Si gemuk lihat roman orang, ia terkejut. Ia lantas raba sakunya. Ia pun melongo dengan
mendadak. Sebab ia pun dapatkan sakunya kosong. Keduanya lantas saling mengawasi,
mulut mereka bungkam.
"Sama sekali satu tail tiga chie," kata tuan rumah, yang menghampiri kedua tamunya itu.
Kedua orang itu menyeringai, tangan mereka masih belum ditarik keluar dari saku mereka.

44

Peng-Cong Hiap-Eng

"Tuan-tuan, semua menjadi satu tail tiga chie," kata pula si tuan rumah.
"Apakah boleh kami bayar lain hari saja?" tanya si kurus akhirnya.
Tuan rumah memperlihatkan roman heran, habis itu ia tertawa dingin.
"Kalau setiap tamu berhutang, tidakkah kami balak makan angin?" kata dia.
Jongos, yang tidak senang, turut bicara," Apakah kamu berdua bukannya sengaja hendak
mengganggu kami? Kamu sudah minum dengan puas, lalu berkelahi, menubruk orang,
sekarang kamu juga hendak menganglap! Jikalau kamu tidak punya uang, buka saja
bajumu!"
Kasar suara jongos ini, tetapi ia membuat tamu-tamu lain tertawa, hingga ruangan
menjadi ramai.
"Memang mereka berdua yang salah." ada orang yang turut bicara.
Melihat suasana buruk, kedua orang itu membuka bajunya.
"Dua potong baju saja belum cukup!" kata si jongos, yang tahu-tahu sudah menyambar
kopiah orang, lalu dia menambahkan," Dasar kita yang lagi sial! Nah, sudah, pergilah
kamu!"
Merah muka kedua orang itu, terpaksa mereka ngeloyor pergi.
Puas In Lui menyaksikan kejadian itu, ia keringkan lagi dua cawan. Ketika ia menoleh pada
si anak sekolah, dia itu masih duduk minum. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. "Terang sudah
kedua orang itu adalah orang-orang jahat, mereka mesti orang-orang bawahan, kena
dihina, mereka tidak bisa berbuat apa-apa, tetapi sepulangnya mereka mungkin mereka
mengadu kepada kepalanya. Aku sendiri tidak takut, tapi bagaimana dengan anak sekolah
itu? Ia terancam bahaya."
Karenanya ia bangkit, ia teriaki tuan rumah," Berapa aku telah minum?" Ia sudah ambil
keputusan akan susul kedua orang itu.
Tuan rumah menghampiri dengan wajah berseri-seri. Ia telah lihat pakaian orang yang
indah.
"Semuanya satu tail dua chie," ia jawab.
In Lui merogoh sakunya. Di situ ia taruh uang dari Ciu Kian. Tiba-tiba ia tercekat, sakunya
kosong. Maka lekas ia rogoh saku kiri. Di sini ia taruh uang dari dua orang tadi. Kembali ia
terkejut, uang copetannya juga lenyap. Tanpa merasa, ia keluarkan keringat dingin.
Tuan rumah mengawasi dengan heran. Dari dandanannya, ia tidak percaya bahwa ia sedang
menghadapi seorang tukang anglap lain.
"Apakah tuan tidak punya uang kecil?" dia tanya. "Uang goanpo juga boleh, dapat aku
menukarnya."
Bingung In Lui, takut ia nanti disuruh buka pakaian.

45

Peng-Cong Hiap-Eng

Tuan rumah mengawasi orang merogoh dan merogoh lagi ke kedua sakunya, akhirnya ia
menjadi curiga.
"Kau kenapa, tuan?" dia tanya, suaranya tawar.
Justeru itu si mahasiswa menghampiri, sambil tertawa ia berkata," Di empat penjuru
lautan semua orang bersaudara. Uang seribu tail dibuyarkan pun bisa didapat kembali.
Biarlah aku yang tolong bayarkan uang araknya engko kecil ini."
Ia rogoh sakunya akan keluarkan sepotong perak berat kira-kira sepuluh tail. Ia lemparkan
perak itu pada tuan rumah.
"Ini uangnya," katanya. "Lebihnya kau boleh ambil!"
"Terima kasih! Terima kasih!" ia mengucap berulang-ulang.
Merah muka In Lui.
"Terima kasih," ia pun menghaturkan terima kasih.
"Tak usah," kata si anak muda, tenang. "Aku hendak mengajarkan kau satu rahasia. Yaitu
lain kali kalau pergi minum arak, harus kau pakai baju dua rangkap, dengan begitu, jangan
kuatir apa-apa lagi di waktu hendak membayar uang arak."
Di waktu bicara, kembali mulutnya berbau arak keras. Ia tetap berlaku tenang habis
bekata, tanpa perdulikan lagi si anak muda, ia ngeloyor pergi.
In Lui mendongkol bukan main, ia jengah.
"Satu anak sekolah tidak tahu aturan," pikirnya. "Coba tadi aku tidak tolong padamu, pasti
uangmu telah orang rampas." Kemudian ia mengawasi sekitarnya, ia tidak melihat tamu
yang mencurigakan. Ia jadi putus asa. Dengan masih mendongkol dan masgul, ia pun lantas
angkat kaki, dengan menunggang kudanya, ia lanjutkan perjalanannya. Bingung juga ia
karena sekarang ia tidak punya uang.
Setibanya di luar kota, In Lui lihat si anak muda yang bersama kudanya yang putih berada
di sebelah depan.
"Bukankan dia yang telah main gila?" tiba-tiba ia curiga. "Tapi dia tak mirip sama sekali."
Ia larikan kudanya, untuk menyusul mahasiswa itu, lalu ia mencambuk si anak sekolah.
Inilah satu ujian. Kalau si anak muda seorang lihai, ia mesti dapat egoskan tubuhnya akan
tersingkir dari ancaman bencana.
Sekonyong-konyong si anak muda menjerit, ia tidak berkelit dari cambuk itu, tubuhnya
lantas saja terhuyung, hampir ia jatuh dari atas kudanya.
"Maaf, aku kesalahan!" berkata In Lui. "Aku tidak sengaja."
Mahasiswa itu menoleh.

46

Peng-Cong Hiap-Eng
"Ah, orang yang hendak menganglap." katanya. "Jangan kau ikuti aku karena aku
mempunyai uang, dengan uangku aku hanya hendak ikat persahabatan. Orang semacam
kau, yang sudah menganglap dan sekarang juga memukul orang denganmu tak suka aku
bersahabat!"
In Lui mendongkol berbareng merasa lucu.
"Apakah kau masih sinting?" ia tanya.
Si mahasiswa tidak menjawab, ia hanya mengoceh seorang diri," Dengan golok membacok
air, air tak terputus hanya mengalir terus. Angkat cawan meminum arak, untuk
melenyapkan kedukaan, tapi kedukaan tambah kedukaan. Memang hidup di dalam dunia
sukar mendapatkan kepuasan, maka lebih baik besok pergi main perahu! Eh, eh, tak sudi
aku minum arak bersama kau, tak sudi aku!"
Kelihatan nyata sintingnya mahasiwa ini.
Bingung juga In Lui. Ia maju, ia ingin pegang tubuhnya yang limbung di atas kuda itu. Atau
mendadak si mahasiswa jepit perut kudanya, hingga kuda itu melompat kabur.
Kuda In Lui adalah kuda Mongolia pilihan, akan tetapi ketika ia kaburkan kudanya untuk
menyusul, tidak dapat ia susul si anak muda.
"Dia tidak mengerti silat, tetapi kudanya jempolan sekali," pikirnya.
Terpaksa ia jalan terus seorang diri, pikirannya pepat.
Lama In Lui lanjutkan perjalanannya, sampai ia melihat matahari merah mulai condong ke
arah barat dan dari sana-sini mulai terlihat asap mengepul, tanda orang sudah mulai
menyalakan api. Ia memikir untuk singgah pada seorang tani, tapi ia sangsi, bukankah ia
sudah tidak punya uang?
Ia masih jalan terus, sampai mendadak ia mendengar kuda meringkik.
Nyata di sebelah depannya ada pohon-pohon yang lebat, di situ ada sebuah kuil, dan di
muka kuil itu seekor kuda putih sedang makan rumput, ia segera mengenali kuda itu.
"Eh, ia pun ada di sini!" pikirnya heran. "Orang-orang beribadat adalah orang-orang yang
murah hati, baik aku singgah di sini saja."
Ia tambat kudanya di luar, ia bertindak masuk ke dalam kuil setelah menolak daun pintu
yang tertutup rapat. Segera ia lihat mahasiswa lagi nongkrong di depan tabunan, dia
sedang menambus ubi.
Melihat si nona, atau lebih benar si anak muda, anak sekolah itu perdengarkan suaranya.
"Dimana hidup bisa tak bertemu denganmu? Ah, ah, kembali kita bertemu pula!"
In Lui mengawasi.
"Apakah kau telah sadar dari sintingmu?" dia tanya.
"Eh, kapan aku sinting?" si anak sekolah membaliki. "Aku tahu kau adalah si orang yang
menganglap."

47

Peng-Cong Hiap-Eng

In Lui mendongkol.
"Kau tahu apa?" katanya nyaring. "Ada orang jahat mencopet uangku!"
Berjingkrak si mahasiwa, ia melompat bangun.
"Apa?" serunya. "Ada orang jahat? Di kuil ini tidak ada pendetanya, kalau penjahat datang,
sungguh hebat! Tidak, aku tidak mau berdiam di sini."
In Lui mendongkol berbareng geli hatinya.
'Kau hendak pergi kemana?" dia tanya. "Begitu kau keluar dari sini, penjahat akan
membegal dirimu! Tidak ada orang yang dapat menolongi kau! Dengan ada aku di sini,
seratur penjahat pun aku tidak takut."
Si mahasiwa pentang matanya lebar-lebar, sekonyong-konyong ia tertawa.
"Jikalau kau mempunyai kegagahan seperti itu, kenapa kau anglap barang makanan orang?"
dia tanya.
"Sebab ada copet yang mencuri uangku," In Lui akui.
Mahasiwa itu tertawa terpingkal-pingkal, lantas dia tunjuk orang di hadapannya ini.
"Kau tidak takuti seratus penjahat, tetapi uangmu dicopet orang!" katanya. "Hahaha! Nyata
kepandaianmu mendusta ada terlebih lihai dari pada kepandaianmu menganglap!"
Nampaknya dia hendak berlalu, tetapi dia batal sendirinya. Dia tambahkan," Tak sudi aku
mendengar kau! Dunia begini aman, dimana ada segala tukang copet?"
Dan dia balik-balikkan ubi bakarnya.
Bukan kepalang mendongkolnya In Lui. Tak dapat ia gusar karena kata-kata orang itu
beralasan. Tapi tak dapat ia diam saja menahan kemendongkolannya.
"Kau tidak percaya, ya sudahlah!" katanya. "Akupun tak perlu kau mempercayaiku!"
Ubi bakar itu harum sekali, terseranglah nafsu makan In Lui. Ia memang telah melarikan
kudanya lama dan telah datang rasa laparnya, harum ubi itu menambah hebat nafsu
makannya. Ia menelan ludah tetapi tidak berani ia membuka muluntya. Orang sudah
mengatakan ia si tukang anglap. Tapi itu adalah satu kuil kosong, tidak ada pendetanya,
dimana disitu ia bisa cari makanan untuk menangsal perutnya?
In Lui menderita, apa pula ia melihat orang mulai makan ubinya yang harum itu. Sambil
makan, mahasiswa itu mengoceh seorang diri. "Arak memang dapat membuat orang
sinting. Ikan dan daging memang lezat. Sungguh wangi, sungguh wangi!"
In Lui deliki orang itu, lantas ia melengos.
Tiba-tiba si mahasiwa berkata," Eh, tukang anglap, aku bagi kau ubi ini!" Dan lantas ia
lemparka sepotong ubi yang masih panas.
"Siapa kesudian makan ubimu?" bentak In Lui. Ia tidak sambuti ubi itu, hanya sambil

48

Peng-Cong Hiap-Eng
menelan ludah, ia duduk bersila, matanya melihat hidung, hidungnya melihat hati. Dengan
begitu, sambil bersemedhi dapat ia kuasa rasa laparnya. Ia malah cepat merasa lega hati,
hingga ia bisa buka kedua matanya. Sekarang ia dapatkan si mahasiswa sedang rebah tidur,
ubinya terletak di sampingnya.
Melihat demikian, In Lui ulur lidahnya. Ia juga hendak ulur tangannya ketika ia lihat si anak
sekolah membalikkan tubuhnya. Dia tidak bangun, tapi dia tidur pula.
"Setan alas!" kata In Lui dalam hatinya. "Biar aku kelaparan satu malam, toh tidak jadi
apa!"
Si mahasiswa tidur dengan mengorok, suaranya sangat berisik. In Lui ingin tidur, tetapi
tidak bisa. Ia awasi tubuh orang itu.
"Tetapi dia ini aneh," ia pikir tentang anak sekolah ini. "Dia berpakaian indah, uangnya pun
nampaknya banyak. Kenapa ia membuat perjalanan tanpa ada pengantarnya? Kenapa ia
berani mondok di kuil ini, di tempat begini sepi? Kenapa dia justeru makan ubi yang idak
ada harganya? Apa mungkin dia mengerti silat tetapi ia sengaja berpura-pura? Melihat
romannya, tak mestinya dia mengerti ilmu silat."
In Lui bangkit. Timbul di otaknya pikiran untuk menggeledah anak sekolah itu. Justeru itu,
kembali si anak mudah membalikkan tubuhnya.
"Jikalau ia mendusin, bukankah ia akan sangka aku hendak mencuri uangnya? " ia raguragu. Ia sudah maju tiga tindak, kemudian mundur lagi dua tindak.
Tiba-tiba terdengar satu suara keras dari luar kuil, entah suara apa itu.
In Lui menoleh, ia tidak melihat apa-apa, ketika ia berpaling kepada si mahasiwa, dia ini
tetap tidur mendengkur bagaikan babi.
"Sebenarnya aku tidak mau ambil mumat padamu," pikirnya kemudian, " akan tetapi aku
kasihan padamu. Hitung saja untungmu bagus, baiklah nonamu akan talangi kau menangkis
si orang jahat!"
Tanpa ragu-ragu, In Lui lari keluar, kemudian ia lompat naik ke atas sebuah pohon, di atas
itu ia sembunyikan diri sambil memasang mata. Ia mencurigai suara itu.
Ketika itu cahaya rembulan tampak remang-remang dbantu sinar bintang, In Lui segera
melihat datangnya dua orang, muka mereka ditutupi topeng.
"Dengan melihat kuda putih itu, terang sudah dia ada di sini," begitu terdengar seorang
berkata.
"Bagaimana jika dia tidak suka menurut?" tanya yang lain.
"Jikalau tak dapat dengan cara baik, terpaksa kita mesti ambil batok kepalanya!"
menyatakan orang yang pertama bicara.
"Bagaimana dapat kita berbuat begitu?" berkata pula kawannya. "Apakah tak cukup kita
lukai saja padanya?"
In Lui gusar mendengar pembicaraan itu.

49

Peng-Cong Hiap-Eng

"Sungguh jahat kamu!" pikirnya. "Sudah hendak merampas harta orang, juga kamu
menghendaki jiwanya!"
Tiba-tiba salah satu di antaranya berseru," Awas! Di atas pohon itu ada orang!"
In Lui berlaku sebat, dua batang piauwnya, Ouw-tiap-piauw (piauw kupu-kupu) telah
dilepaskan.
Dua orang bertopeng itu gesit, mereka berhasil berkelit.
In Lui penasaran, sambil hunus pedangnya, ia lompat turun, untuk serang dua orang yang
ia percayai merupakan orang-orang jahat.
Dua orang itu, yang satu mencekal tongkat besi, yang lain sepasang gaetan, menangkis
serangan itu. Maka bentroklah pelbagai senjata itu. Mereka lantas saja menjadi kaget.
Sebab yang bersenjatakan tongkat, tongkatnya somplak, yang mengenggam gaetan,
gaetannya tersampok mental, syukur tidak sampai terlepas dari cekalan.
"Mereka lihai juga," begitu pikir In Lui yang merasakan tangkisan keras.
Kedua orang itu kaget, mereka hendak tanya lawannya ini, tetapi tidak punya kesempatan.
In Lui sudah lantas menyerang dengan gencar.
Pedang In Lui adalah pedang Ceng-beng, salah satu dari sepasang pedang Hian-Kee It-su,
pedang ini tajam dan biasanya dapat membabat kutung senjata biasa, tetapi karena
tongkat itu besi tua, tongkat si orang bertopeng tak bisa dibabat kutung, sedang sepasang
gaetannya hanya kena tersampok.
Orang yang bersenjatakan gaetan sebat sekali, bagus juga permainan gaetannya, karena
mengetahui pedang lawan tajam, ia tidak mau membuat gaetannya kena tabas. Ia
membalas menyerang, ia lebih banyak berkelit daripada menangkis.
In Lui berkelahi dengan gunakan ilmu silat Hui-hoa pok tiap atau Bunga terbang
menyambar kupu-kupu. Ia pun senantiasa menyingkir dari kedua macam senjata lawan itu,
yang mencoba mendesaknya.
Belum lama kedua orang bertopeng itu sudah kewalahan, tidak perduli mereka dua orang
dan mendapat ketika baik untuk mengepung, terpaksa mereka main mundur, akan tetapi
karena mereka licin, tidak lantas mereka kena dipecundangkan.
In Lui menjadi penasaran hingga ia kertak giginya. Kalau tadinya ia tidak memikir untuk
mengambil jiwa orang, sekarang ia tak gentar untuk melakukan itu. Begitulah, satu kali, ia
serang orang yang menggenggam sepasang gaetan dengan tipu silat Toat-beng-sin atau
Malaikat mencabut jiwa yang ia peroleh dari Hui-thian Liong Lie. Ia ingin rubuhkan lawan
yang satu dulu, baru nanti yang kedua.
Di luar dugaan nona ini, orang bertopeng itu perlihatkan kelicinannya. Dia loloskan diri dari
tikaman, berbareng dengan itu, ia membalas dengan gaetannya yang kanan, yaitu selagi
pedang lewat, tidak mengenai gaetan kiri, gaetan kanan dipakai menggaet dan menarik
dengan keras.
Si nona kaget, hampir saja pedangnya terlepas dari pegangannya. Ia kenali tipu silat

50

Peng-Cong Hiap-Eng
gaetan itu adalah salah satu dari tipu Tantai Mie Ming.
"Hai, apakah kamu murid-murid Tantai Mie Ming?" ia tegur mereka. Ia desak yang
memegang tongkat sambil menyingkir dari orang yang menggenggam gaetan.
Orang yang pegang gaetan itu menyahut dengan seruannya," Nyata kau ketahui kita siapa!
Karena itu, lain tahun pada hari ini adalah hari peringatan satu tahun kematianmu!"
Dan seruan itu disusul dengan serang hebat.
Merah mata In Lui, ia jadi sangat gusar.
"Orang Tartar bernyali besar! Cara bagaimana kamu berani nyelundup masuk ke Tionggoan?
Apakah kamu sangka Tionggoan sudah tidak ada manusianya?" dia berteriak. Dia pun balas
menyerang dengan dashyat.
Pertempuran berjalan seru. Akan tetapi selang sekian lama, In Lui jeri sendiri. Ia lapar dan
kurang tidur, selang seratus jurus, ia menjadi lelah. Keringatnya pun mulai keluar. Di luar
sangkaannya, kedua musuh tangguh, rapi kepungan mereka. Dengan sendirinya, ia jadi
kena dikurung, percuma agaknya ia mempunyai pedang yang tajam itu.
"Pedang bocah ini bagus," kata lawan yang pegang tongkat," bolehkah sebentar pedang itu
diberikan kepadaku?"
"Boleh, boleh sekali!" sahut kawannya. "Aku suka mengalah, suka aku berikan pedang itu
kepada kau, akan tetapi kau mesti berjanji, kalau sebentar kita bekuk dia, dia mesti
diserahkan padaku, kau mesti dengar perkataanku!"
In Lui mendongkol mendengar ocehan itu, lebih-lebih perkataannya orang yang bersenjata
gaetan itu. Kata-kata bisa bermaksud buruk. Karenanya, ia ulangi serangannya yang
dashyat, ia desak lawan yang bersenjatakan tongkat itu.
"Aduh!" teriak lawan ini ketika satu kali ia tangkis serangan-serangan dari tipu silat Hui
pauw liu coan atau Air tumpah terbang mengalir jadi selokan dan tangannya pun
diturunkan.
In Lui gunakan ketikanya yang paling baik, ia tunjukkan kesebatannya, meyusul itu,
pedangnya menyambar ke tenggorokan.
Tak sampai menjerit lagi, lawan itu rubuh binasa.
Kaget lawan yang menggenggam gaetan itu. Inilah hebat untuknya, sebab selagi ia berdiri
ternganga, pedang sudah menyambar pula, hingga gaetannya yang kiri kena terbabat
kutung. Kali ini ia tidak tercengang lagi, lantas ia melompat mundur, untuk memutar diri
dan angkat kaki panjang.
In Lui sedang murka, ia menyerang dengan tiga batang Bwee-hoa Ouw-tiap-piauw, ia arah
punggungnya, akan tetapi terdengarlah suara nyaring beruntun, lantas ketiga piauw runtuh
sendirinya, entah kena terhajar apa. Maka dalam sekejap saja, musuh sudah lenyap di
tempat gelap.
Nona ini tak mengerti sendirinya. Tak mengerti ia kenapa lawan yang bersenjata tongkat
itu gampang dikalahkan, mestinya ia masih sanggup bertahan.

51

Peng-Cong Hiap-Eng

"Apakah ada orang yang membantu aku secara diam-diam?" ia berpikir. Ia juga heran atas
runtuhnya piauwnya barusan. Apa benar ada orang yang membantu dan berbareng
menolong juga lawannya itu? Tapi tampaknya tak beralasan, dugaan ini bertentangan
dengan kenyataan.
Lantas In Lui hampiri korbannya, kemudian topengnya ia singkap dengan pedang. Ia lihat
benar, orang itu adalah orang Tartar. Maka terang sudah, orang ini bukan sembarang
penjahat. Siapa dia? Apa maksud mereka berdua?
Tanpa pikir panjang lagi, In Lui menggeledah tubuh orang. Tapi ia tidak dapatkan apa-apa
kecuali beberapa tail perak hancur serta rangsum kering.
"Inilah kebetulan untukku!" kata si nona, yang jadi tertawa sendirinya. Maka dia simpan
uang dan makanan rangsum kering itu.
Tidak lama, dari tempat pohon-pohon lebat terdengar pula suara aneh seperti tadi, lalu
muncul lagi dua orang bertopeng, yang berlari-lari ke arah kuil.
"Sahabat sekawan, air semangkok mesti diminum bersama!" demikian suara yang terdengar
dari satu di antara dua orang itu. Itu artinya, kedua orang itu mau minta bagian.
In Lui jadi mendongkol.
"Baik!" jawabnya. "Kamu berjumlah berapa orang? Mari semua sama-sama minum!" Tapi
mendadak ia sadar bahwa ia sedang menyamar maka ia mengubahnya.
Kedua orang bertopeng itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha! Ini barulah sahabat baik! Kita harus sama-sama kalau punya makanan!"
Orang yang berkata-kata itu, yang sudah lantas datang dekat, segera mengulurkan
tangannya, untuk dipakai menanggapi bagiannya.
In Lui tertawa dingin, ia menyabet dengan pedangnya.
Orang bertopeng itu terkejut, ia tarik kembali tangannya sambil lompat mundur. Tapi
begitu ia lolos dari bahaya, mendadak ia maju menyerang, tangannya merupakan bacokan.
Sebab yang ia gunakan adalah tipu silat Toa Kim-na-ciu atau Tangkapan tangan. Ia
bertangan kosong, lain dari kawannya yang mencekal sebilah golok.
In Lui terkejut, ia sodorkan pedangnya guna menangkis sambaran itu.
"Awas, dia lihai!" berseru orang yang pegang golok, yang terus membacok.
In Lui bela dirinya dengan tipu silat Coan hoa jiauw sie atau Menembusi bunga dengan
mengitari pohon, dengan begitu ia dapat jauhkan diri dari lawannya yang pertama itu.
Nyata kedua lawan itu bukan lawan-lawan yang ringan, syukur pedangnya lihai, hingga
mereka itu kewalahan.
"Baiklah!" berseru lawan yang bertangan kosong sesudah melalui lima puluh jurus. "Biarlah
kau yang menelannya sendiri. Tapi kau mesti beritahu she dan namamu agar kemudian kita

52

Peng-Cong Hiap-Eng
bisa menjadi sahabat!"
"Siapa sudi bersahabat dengan kamu?" bentak In Lui. "Kejahatanmu hendak merampas
barang dapat dimaafkan, tetapi yang hebat adalah kamu telah bersekongkol dengan musuh
untuk mencelakakan negara!"
Kata-kata ini dibarengi dengan serangan Hun-hoa hoat lie atau Memecah bunga, mengebut
pohon, ujung pedangnya menyambar ke kiri tetapi agaknya seperti menikam ke kanan.
Tipu ini membuat musuh bingung, hingga orang yang mencekal golok lantas saja berkaok
keras, karena lengannya kena tertikam, sampai goloknya jatuh terlempar.
Lawan yang bertangan kosong itu licin, dengan ciutkan diri, ia lolos dari serangan yang
saling susul, tapi ia mash diserang berulang-ulang.
In Lui membuat orang tidak berdaya, di saat ujung pedangnya hendak menusuk
punggungnya, tiba-tiba ia rasakan lengannya seperti digigit semut besar, karena mana, tak
lurus lagi serangannya, maka lawannya itu dapat berkelit pula, kali ini dia berkelit untuk
terus kabur, disusul kawannya yang terluka itu. Keduanya terus lenyap di antara pohonpohon yang lebat.
"Bangsat tukang bokong, keluar kamu!" berteriak In Lui, yang tidak berniat mengejar
musuh-musuhnya itu. Tahulah ia sekarang bahwa ia telah dibokong orang yang tidak
dikenal.
Tidak ada jawaban atas cacian itu, di sekitarnya keadaan sunyi.
Masih In Lui menanti sebentar, apabila tetap tidak ada yang menyahuti, ia lihat lengannya
yang terasa digigit semut itu. Disitu ada sekelumit daging muncul, bengkak sebesar kacang
kedelai. Teranglah itu adalah hasil serangan gelap dari semacam senjata rahasia, hanya
entah siapa penyerang yang bersembunyi itu, dia terus tidak sudi perlihatkan diri.
Tidak puas In Lui sekalipun ia peroleh dua kali kemenangan, karena orang telah
membokong dirinya, maka itu ia kembali ke dalam kuil dengan perasaan mendongkol
berbareng lesu. Tiba di dalam, ia dapatkan si mahasiswa masih rebah tidur, napasnya
masih menggeros keras.
'Hai, orang mampus!" ia menegur. "Sungguh senang kau tidur!"
Mahasiswa itu membalikkan tubuhnya, ia perdengarkan dua kali suara ngulet.
"Ada penjahat!" In Lui berteriak pula.
Si anak sekolah membuka kedua matanya, dengan malas ia bangkit duduk.
"Impian sedap, siapakah yang lebih dahulu merasai?" katanya seperti orang ngigo. "Itulah
aku, aku yang mengetahui."
"Kau ketahui apa?" kata In Lui dengan dingin, sambil tertawa tawar. "Ada penjahat datang
kemari!"
Mahasiswa itu kucak-kucak matanya.
"Tengah malam buta kau ganggu orang sedang mimpi," katanya. "He, engko kecil, mengapa

53

Peng-Cong Hiap-Eng
sih kau selalu ganggu aku?"
Sama sekali ia tidak percaya In Lui, bukan saja ia tidak menyatakan terima kasih, malahan
ia menyesalinya.
"Jikalau kau tidak percaya, kau keluar melihatnya," kata In Lui.
Anak sekolah itu ngulet pula.
"Umpama kata benar ada penjahat datang, toh buktinya tidak terjadi apa-apa," katanya
kemudian, sambil tertawa. "Buat apa kau bangunkan aku?"
In Lui mendongkol berbareng merasa lucu
"Akulah yang pukul mundur mereka itu!" katanya sengit.
"Apakah itu benar?" tanya si mahasiswa. "Sungguh bagus! Sungguh bagus! Kau makan
sepotong ubi, kali ini kau bukannya menerima upah tanpa jasa, tidak mau aku mengatakan
kau menganglap lagi!"
Dan plok, ia lemparkan sepotong ubi padasi pemuda tetiron, yang menyampok dengan
mendongkol.
"Siapa main-main denganmu?" dia menegur. "Eh, aku tanya kau, kau she apa dan namamu
siapa? Kau datang darimana?"
Mahasiswa itu mainkan kedua biji matanya. Tiba-tiba ia ikuti teladan orang, sebelah
tangannya dipakai menuding.
"Eh, kau tanya kau, kau she apa, namamu siapa? Kau datang darimana?" demikian
pertanyaannya.
In Lui jadi sangat mendongkol, ia gusar.
"Apa?" tanyanya.
Tapi si anak muda tertawa tawar.
"Kau tanya aku seperti kau memeriksa, mustahil aku pun tak dapat menanya padamu." ia
jawab. "Apakah kau hakim tukang periksa orang?"
In Lui mendongkol tetapi ia bungkam. Anak muda itu berkepala batu tapi dia benar juga.
"Mana dapat aku beritahu tentang diriku?" In Lui berpikir.
Mahasiswa itu melirik, sikapnya ngguh membuat In Lui sangat mendelu. Meski demikian,
nona ini masih dapat memikir. "Tentang diriku tidak dapat aku beritahukan dia, tentang
dirinya mungkin juga tak dapat diberitahukan padaku! Kalau sendiri tak suka, kenapa mesti
paksa orang lain? Tentang dua orang Tartar itu, mereka datang dari tempat ribuan lie,
bukankah mereka sedang mencari orang seperti yayaku yang kabur dari Mongolia, yaitu
anak sekolah ini!"
Menerka demikian, tiba-tiba In Lui jadi ingin menghargai mahasiswa itu, cuma ketika ia

54

Peng-Cong Hiap-Eng
lirik orang itu, kembali ia merasa jemu. Tetap tingkah pola si mahasiwa itu sangat
menyebalkan, dia mengawasi dengan wajah tertawa tapi bukan tertawa, matanya
dikecilkan.
Masih In Lui berpikir. Akhirnya ia keluarkan bendera Jit-goat-kie dari Ciu Kian, ia
lemparkan itu pada si mahasiwa.
"Nih, aku berikan kau ini!" katanya. "Tak mau aku jalan sama-sama kau!"
Mahasiswa itu melirik.
"Aku toh bukannya anak wayang!" katanya. "Perlu apa aku dengan benderamu ini yang dua
mukanya?"
"Kau berjalan sendirian, kau terancam bahaya," berkata In Lui. Terpaksa ia berikan
keterangan. "Dengan adanya bendera ini, orang jahat nanti tak berani ganggu padamu."
"Apa?" tanya si mahasiswa. "Apakajh bendera itu adalah suatu firman?"
Mau tak mau In Lui tertawa.
"Mungkin ini lebih berpengaruh daripada firman raja!" ia jawab. "Ini adalah Jit-goat-kie
dari Kim-too Ceecu. Kau datang dari Utara, mustahil kau tidak pernah dengar nama Ceecu
itu. Kim-too Ceecu mirip dengan kepala penjahat di Utara, di kalangan Rimba Hijau,
semua orang menghormatinya!"
Maksud In Lui baik menyerahkan bendera bulan sabit itu.
Tetapi si anak muda, wajahnya berubah dengan tiba-tiba. Ia jemput bendera itu,
mendadak ia tertawa dingin.
"Satu laki-laki yang hendak bangkit berdiri, mana dapat ia mengharapkan perlindungan
orang lain?" katanya jumawa. "Apakah kau pernah baca Khong Cu atau Beng Cu?"
Mendadak ia gunakan tangannya, di antara suara berebet, bendera Jit-goat-kie itu robek
menjadi empat bagian.
Merah padam wajah In Lui, kegusarannya bukan kepalang besarnya.
"Kim-too Ceecu sangat terkenal, dia satu laki-laki sejati, kau berani menghina dirinya?" dia
berteriak, lalu sebelah tangannya melayang ke arah kuping orang. Justeru itu ia lihat kulit
muka orang yang putih dan halus, bagaikan kulit telur, ia ingat," Tidakkah tanganku akan
membuat mukanya bengkak? Tidakkah itu hebat?" Karenanya ia segera tahan tangannya
itu. Lantas ia berkata dengan sengit. "Aku tidak mau berlaku seperti kau, anak sekolah
busuk! Baik, baiklah, suka aku memberi ampun padamu kali ini! Kalau besok lusa kau
dibegal dan dibunuh orang jahat, bukankah itu karena kau mencari mampus sendiri?
Baiklah, aku tak mau perdulikan lagi padamu!"
Lantas ia putar tubuhnya, dengan cepat dia lari keluar. Ia sangat menyesal karena maksud
hatinya yang baik tidak diterima orang. Ia jadi merasa tak enak sendirinya.
Si mahasiswa mengawasi orang dengan sepasang matanya yang tajam, ketika ia tampak
orang sudah keluar dari pintu, ia bangkit dengan perlahan-lahan. Nampaknya ia hendak

55

Peng-Cong Hiap-Eng
memanggil tetapi ia batal sendirinya, sebaliknya ia tertawa dingin.
Sekeluarnya dari kuil, In Lui lompat naik ke atas kudanya yang ia terus larikan. Ia baru
sampai di tempat yang lebat dengan pohon-pohonan tatkala ia dengar satu suara
menyambar di atasan kepalanya. Ia lantas tahan kudanya.
"Bangsat tukang membokong, jikalau ada nyalimu, mari keluar!" ia berseru.
Kembali terdengar satu suara seperti tadi, atas itu, In Lui tarik kepala kudanya, untuk
berkelit. Menyusul itu sebatang pohon jatuh di depannya, pada cabang itu diikatkan satu
bungkusan dari sapu tangan sulam.Ia lantas menjadi kaget, ia kenali, itulah bungkusannya
yang lenyap. Ia segera mengambil, untuk membuka bungkusannya, maka di situ ia
dapatkan uang dan permata bekalan Ciu Kian berikut uangnya hasil mencopet.
Heran dan penasaran, dari atgas kudanya, In Lui lompat menyambar pohon untuk naik ke
atasnya, lalu ia melihat ke sekitarnya. Tidak ada orang di dekat situ, ada juga sinar
bintang-bintang yang sudah guram dan angin bersiur-siur.
"Sudahlah," akhirnya ia menghela napas. "Benarkah pepatah di luar langit ada lagi langit
lainnya. Siapa sangka di sini aku bertemu dengan orang lihay."
Ia lantas larikan kudanya, sampai di luar rimba, fajar sedang mendatangi. Menggunakan
ketika pagi, ia larikan kudanya maju terus ke barat. Segera ia melihat ada orang-orang
yang menunggang kuda, yang romannya gagah. Ia percaya, mereka itu adalah orang-orang
kangouw. Ia teringat akan ajaran Ciu Kian tentang kaum kangouw.
"Kelihatannya mereka ini hendak menghadiri suatu upacara besar atau sedikitnya
pertemuan kaum rimba persilatan," ia menduga-duga.
Mereka itu melewati nona ini, sama sekali mereka tidak menaruh perhatian. Mungkin
mereka anggap mereka hanya bertemu satu pemuda biasa saja.
Setelah jalan serintasan, In Lui merasa lapar, ia segera mampir pada tukang bubur di tepi
jalan yang juga menjual the. Ia lantas isi perutnya.
"Hari ini perdagangan ramai," kata ia pada tukang teh, yang tengah masak dua panci teh.
"Tuan, apakajh tuan hendak pergi ke Hek-cio-chung?" tanya tukang teh itu sambil tertawa.
"Apa itu Hek-cio-chung?" In Lui balik menanya.
"Kalau begitu, tuan orang dari luar," sahut tukang teh itu. "Hari ini Cio toaya dari Hek-sekchung merayakan ulang tahunnya, banyak sekali sahabatnya yang datang untuk memberi
selamat.
In Lui ingat sesuatu.
"Apakah kau maksudkan Hong-thian-lui Cio Eng, Cio Loo-enghiong?" ia tegaskan.
Segera tukang teh itu perlihatkan sikap menghormat.
"Oh, kiranya tuan sahabat Cio Toaya," katanya.

56

Peng-Cong Hiap-Eng
"Siapakah yang tidak tahu Cio Loo-enghiong?" kata In Lui. "Aku memang berasal dari lain
propinsi tapi pernah aku dengar nama Cio Loo-enghiong itu."
Tukang teh itu manggut.
"Benar! Cio Toaya itu luas pergaulannya, semua orang dari berbagai kalangan, kenal atau
tidak, asal datang ke rumahnya, tidak ada yang tidak disambut secara baik."
In Lui pun manggut. Tentang Cio Eng itu, ia dengar dari Ciu Kian. Katanya Cio Eng terkenal
dengan pedangnya, pedang Liap-in-kiam dan senjata rahasianya, batu Hui-hong-sek.
Adalah karena senjata rahasia ini Cio Eng peroleh julukan Hong-thian-lui (Geledek
menggetarkan langit). Sebab bila mengenai tubuh orang, senjata rahasia itu perdengarkan
suara nyaring. Cio Eng gagah dan gemar bergaul, akan tetapi toh tabiatnya aneh.
"Siapa tahu dia tinggal di luar kota Yang-kiok ini," pikir In Lui. "Baiklah aku pun pergi
memberi selamat padanya. Di sana ada banyak orang, mungkin juga ada si orang lihai yang
telah permainkan aku."
Karena ini, ia pinjam pit dan minta kertas dari tukang teh, untuk menuliskan karcis
pemberian selamatnya.
Aku tidak tahu loo-enghiong merayakan ulang tahunnya, inilah kebetulan," katanya sambil
tertawa. Terus ia tanyakan letak Hek-cio-chung setelah membayar uang teh, ia naik ke
atas kudanya, akan menuju ke rumah Hong-thian-lui.
Sudah banyak tamu di rumah Cio Eng. Setelah In Lui serahkan karcis namanya, ia diterima
dengan tak ditanya ini dan itu, terus ia diantar ke taman bunga dimana pesta diadakan,
justeru perjamuan hendak dimulai. Ia dipersilahkan duduk di meja pojok, kawan-kawan
semejanya adalah orang yang tidak ia kenal, hingga ia mesti dengarkan saja mereka itu
berbicara.
"Hari ini Cio Loo-enghiong tidak saja merayakan ulang tahunnya, kabarnya ia hendak
memilih juga mantu," kata seorang diantaranya.
"Bisa pusing kepala orang tua itu," kata seorang yang lain. "Aku dengar See Ceecu, Han Tocu dan Lim Chungcu berbareng memajukan lamaran! Bagaimana mereka hendak dilayani?"
Orang yang ketiga tertawa.
"Mau apa kau pusingkan kepala?" ujarnya. "Pasti sekali Hong-thian-lui mempunyai caranya
sendiri!" ia lantas menunjuk," Kau lihat!"
In Lui berpaling ke arah yang ditunjuk orang itu, maka ia tampak sebuah lui-tay (panggung
untuk pertempuran) yang besar dan tingginya dua tombak lebih.
Orang itu tertawa, ia menambahkan," Hong-thian-lui telah berlaku terus terang, dia
adakan pertandingan untuk pilih menantu, siapa yang menang, dialah mantunya itu, untuk
ini, ia tidak pandang sanak atau sahabat, karenanya ketiga pelamar itu tak dapat berkata
apa-apa."
"Kalau begitu, pasti bakal ramai!" kata yang lain.
In Lui tertawa dalam hati.

57

Peng-Cong Hiap-Eng

"Inilah cara aneh," demikian ia pikir. "Kalau yang menang seorang yang jelek, apa tidak
kasihan anak gadisnya?"
Selagi matahari condong ke barat, lantas terdengar ucapan-ucapan selamat yang riuh, di
sana-sini orang pada bangkit. In Lui pun bangun, ia mengawasi ke arah dimana suara
ucapan itu terdengar.
Seorang tua, yang mukanya merah, kelihatan muncul, ia menuntun satu nona. Ia minta
jalan di antara orang banyak, terus dia lompat naik ke atas luitay, perbuatannya diikuti si
nona.
In Lui lihat satu nona yang cantik, wajahnya seperti tersungging senyuman, alisnya lentik
dan panjang hampir melekat pada ujung rambutnya. Untuk melihat lebih jelas, ia maju
mendekati. Ia dapatkan nona itu polos, tidak pemaluan, tidak jengah berhadapan dengan
banyak tamu.
Dari pembicaraan orang banyak, In Lui tahu orang tua muka merah itu adalah tuan rumah,
yaitu Hong-thian-lui Cio Eng, dan si nona adalah puterinya, yang bernama Cui Hong.
"Heran juga," pikir pemuda tetiron ini," Cio Eng bermuka bagaikan Lui Kong, tetapi ia
mempunyai anak dara yang begini elok."
Lui Kong = Malaikat Geledek.
Tidak sempat In Lui berpikir lebih jauh, ia lihat Cio Eng tengah memberi selamat pada para
tamunya, kemudian terdengarlah suaranya yang keras," Hari ini adalah hari ulang tahunku,
aku berterima kasih pada saudara-saudara yang telah datang mengunjungi. Sebagai
hormatku, marilah minum dahulu tiga cangkir!"
"Bagus!" seru sekalian tamunya, terus mereka keringkan cawan mereka masing-masing.
Cio Eng urut-urut kumis dan jenggotnya, ia tertawa.
"Hek-cio-chung adalah satu desa yang sepi, tidak ada keramaian apa-apa disini, tetapi
saudara-saudara telah datang kemari, harap saudara-saudara jangan menertawakan!" kata
pula tuan rumah melanjutkan. "Anakku ini mengerti ilmu silat kasar, baiklah dia
pertunjukkan beberapa jurus, sebagai hidangan saudara-saudara minum arak!"
Kembali orang-orang berseru. "Bagus! Bagus!" suatu tanda persetujuan.
Cio Eng tertawa pula.
"Akan tetapi, bersilat seorang diri saja tidak menarik hati," ia menambahkan," maka itu
aku persilahkan putera-putera dari See Ceecu, Han Tocu, dan Lim Chungcu untuk naik ke
panggung untuk memberi pengajaran kepada anakku itu. Aku ingin lihat siapa yang
permainannya paling bagus, kepadanya hendak aku hadiahkan sesuatu yang tidak berarti.
Samwi sieheng, bagaimana pikiranmu?"
Dengan samwi sieheng, tiga kakanda, tuan rumah maksudkan ketiga tamunya yang
disebutkan itu, See Ceecu, Han Tocu, dan Lim Chungcu.
Tuan rumah ini tidak mengatakan terang-terangan, bahwa pertandingan itu untuk memilih

58

Peng-Cong Hiap-Eng
menantu, akan tetapi semua tamunya sudah mengerti maksudnya itu.
"Bagus, bagus!" Han Tocu dan Lim Cungcu menyatakan akur. Lalu keduanya dengan masingmasing mengajak anaknya minta jalan di antara para tamu, dengan saling susul mereka
lompat naik. Tampak nyata kegesitan mereka.
See Ceecu bersang
i sedetik saja, ia pun ajak puteranya lompat naik. Ia dapat melompat dengan sempurna,
tapi puteranya, ujung kakinya kena membentur pinggiran panggung, hampir saja ia
tergelincir. Melihat ini, semua tamu heran.
Untuk kalangan Hek-too, jalan hitam, See Ceecu terkenal terutama tentang ilmu silatnya,
orang percaya puteranya telah mewarisi kepandaiannya itu, karena putera ini pun sudah
tersohor menyusul nama ayahnya, maka ada yang menduga, anak itu pasti akan peroleh
kemenangan, siapa tahu, dalam hal melompat, dia kalah dengan putera Han Tocu dan Lim
Chungcu. See Ceecu kerutkan alisnya, dia hendak bicara tapi batal, cuma mulutnya kemakkemik.
Putera dari Han Tocu, yaitu Han Toa Hay, sudah lantas maju ke tengah, untuk memberi
hormat pada tuan rumah.
"Cio Loopee berlaku baik sekali, aku pun tak sungkan-sungkan lagi," berkata anak muda ini.
"Baiklah aku ingin menerima pelajaran beberapa jurus dari Cio Sie-moay, asal siemoay suka
berlaku murah hati."
"Bagus, bagus!" tertawa Cio Eng. "Memang aku senang pada orang yang berlaku terus
terang! Sekarang ini siapa juga tak usah sungkan-sungkan, silahkan keluarkan semua
kepandaianmu, siapa yang terluka, aku sediakan obatnya!"
"Baik, loopee," kata Toa Hay, yang terus rangkapkan kedua tangannya, untuk memberi
hormat dengan sikap "Tong-cu pay Koan Im" atau "Kacung suci menghormat Dewi Koan Im".
"Bagus!" Cio Eng memuji.
See Ceecu melihat hal itu, ia menoleh pada puteranya, yang juga berpaling kepadanya,
keduanya lantas menyeringai. Ayah ini hendak bicara, kembali ia batalkan.
Segera pertandingan dimul, Toa Hay menyerang lebih dulu.
Cui Hong berlaku tenang tetapi gesit, waktu diserang ia tidak menangkis, ia hanya berkelit
ke samping, terus ia lompat ke belakang penyerang itu. Lincah sekali tubuhnya itu.
Toa Hay segera putar tubuhnya, ia menyerang pula, apabila ini pun gagal, terus ia
menyerang ke depan, ke kiri dan kanan, akan tetapi, sebegitu jauh, tidak ia peroleh hasil,
malah menyentuh baju orang pun tidak.
"Eh, pelajaran dia sama dengan pelajaranku," kata In Lui dalam hatinya apabila ia lihat
gerak-geriknya Nona Cio. Itulah ilmu silat "Pat-kwa yu sin ciang" yang bergerak ke delapan
penjuru. "Coan hoa jiauw sie" yang ia pelajari adalah salah satu tipu silat daripada Pat-kwa
Yu-sin-ciang itu.
Toa Hay lantas juga merasakan matanya berkunang-kunang, karena ia seperti dilibat si
nona, yang seperti berada di empat muka dan delapan penjuru, bayangannya saja yang

59

Peng-Cong Hiap-Eng
nampak berkelebatan.
Diam-diam In Lui tertawa di dalam hatinya.
Masih Toa Hay berputaran masih menyerang, walaupun tiap-tiap kali ia serang sasaran
kosong, tak sudi dia berhenti.
Han Tocu kerutkan alisnya.
"Anak tolol!" akhirnya dia berseru. "Kau bukan tandingan Nona Cio! Apakah kau tidak
hendak undurkan diri?"
Mendengar suara Han Tocu, Cio Cui Hong segera perlambat gerakannya, tapi justeru itu,
Toa Hay lompat menyerang, kedua kepalannya menyambar saling susul.
In Lui lihat serangan itu, ia tertawa dalam hati, pikirnya," Orang tolol yang tidak tahu
mundur atau maju! Orang sudah mengalah, dia masih belum tahu."
Atas desakan itu Cui Hong melejit ke samping, sikut kirinya dilonjorkan untuk dipakai
membentur tubuh Toa Hay, atas mana tubuh besar dari putera Han Tocu segera terhuyung,
rubuh terbanting.
Cio Eng lompat maju guna membangunkan pemuda itu.
"Hong-jie, lekas haturkan maaf!" kata tuan rumah ini.
"Tidak apa," kata Toa Hay," Nona Cio, kau lihai sekali, aku..aku.."
Nyata pemuda ini tolol dan polos, hampir ia mengatakan,"....aku tidak berani ambil kau
sebagai isteriku." Baiknya Han Tocu awasi dia dengan mata melotot dan ia melihatnya,
hingga tak jadi dia berbicara terus.
Begitu Toa Hay mundur, ia digantikan oleh Too An, putera Lim Chungcu. Pemuda ini maju
dengan perlahan, sambil mengoyang-goyangkan kipasnya.
"Aku juga ingin menerima pelajaran beberapa jurus, harap kau suka mengalah, siemoay,"
kata dia, suaranya seram dan luar biasa. Nampaknya ia halus bagaikan wanita, demikian
juga lagu suaranya. Tapi ia mengerti Tiam-hiat-hoat, ilmu menotok jalan darah, maka
setelah dilipat kipasnya, tahu-tahu kipas itu dipakai menyodok iga si nona.
Cui Hong berkelit, terus saja ia bersilat pula dengan "Pat-kwa Yu-sin-ciang" untuk membuat
lawan itu lelah dan kabur matanya, seperti tadi ia berbuat terhadap Toa Hay.
Too An cerdik, tidak mau ia menyerang sembrono, sebaliknya, dengan tenang ia lindungi
dirinya. Ia pun tiak gencar putar tubuhnya seperti Toa Hay tadi, ia cuma memasang mata,
maka juga, sewaktu-waktu dapat ia balas menyerang dengan totokannya.
Nona Cio menjadi hilang sabar.
"Dia pasti bukan orang benar," ia pun berpikir. "Lihat matanya yang demikian lihai! Dia
menjemukan, tidak boleh dia dibiarkan mencapai maksudnya.'
Nona ini tidak sudi menikah dengan pemuda lawannya itu, ia pun lantas perhebat

60

Peng-Cong Hiap-Eng
serangannya, tubuhnya bergerak sangat lincah mengitari si anak muda.
Too An benar-benar lihai, ia tabah dan teliti, dengan sabar ia jaga dirinya.
Lima puluh jurus sudah lewat, Cui Hong tetap belum berhasil menjatuhkan lawan ini, Too
An dalam ketenangannya telah berpikir," Aku hendak lihat, berapa banyak kau punya
tenaga untuk melayani aku." Dan ia terus berlaku sabar.
Mereka bertempur terus sampai tiba-tiba selagi ia merangsak, Cui Hong tersenyum, hingga
tampak kedua baris giginya yang putih halus dan sepasang sujennya yang manis. Sebagai
orang cantik, dengan senyumnya, tentu sekali nona ini kelihatan sangat menggiurkan.
Hati Too An goncang, ia sangat tertarik, hingga ia berpikir," Orang seperti aku, yang
berkepandaian silat tinggi, pasti aku membuat hatinya kagum." Maka ia anggap nona itu
tentu menaruh hati padanya, nona itu mungkin suka mengalah, karenanya, di waktu ia
menutup diri, ia pun tersenyum.
Sekonyong-konyong saja Cui Hong berseru," Maaf!" Lalu dengan mendadak kedua tangannya
dimajukan ke muka Too An, tangan yang satu menyusul yang lain, hingga si anak muda
terperanjat. Ia kaget waktu tamparannya kena ditekan si nona, sampai ia berkaok,
matanya pun kabur, tanpa ampun lagi, ia rubuh di lantai panggung.
Lim Chungcu mendongkol bukan main menyaksikan puteranya, yang sedikit lagi akan
menang, dengan mendadak kena dikalahkan, akan tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Pertandingan tlah dilakukan secara adil.
"Tidak apa, tidak apa!" Cio Eng cepat berkata. "Eh, anak Hong, kenapa kau gerakkan
tanganmu secara sembrono sekali?"
Justeru itu Too An bangkit.
"Nona Cio, aku terima pengajaranmu!" katanya sambil tertawa dingin, lalu tanpa berkata
apa-apa, berbareng dengan ayahnya ia melompat turun dari panggung.
Melihat itu Cio Eng menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi kemudian sambil urut-urut
kumisnya dan tertawa ia berkata," Anakku telah beruntung menangkan dua pertandingan,
maka sekarang adalah giliran Bu ki Sieheng yang memberikan pengajaran padanya, supaya
dia jangan jadi terlalu besar kepala."
Bu Ki adalah nama putera See Ceecu. Cio Eng kenal baik sekali dengan anak muda itu, baik
kepandaiannya maupun tabiatnya. Pemuda itu telengas, di dalam Rimba Hijau, dia
terkenal tanpa kebijaksanaan. Mesi demikian, jago tua ini sadar, manusia tak ada yang
seratus persen sempurna, maka ia anggap tidak terlalu mengecewakan ia mendapat
menantu seperti Bu Ki.
Cio Eng juga pikir, pastilah Bu Ki senang sekali dengan pertandingan ini, karena anak muda
itu pasti berada di atas angin, akan tetapi kesudahannya ia menjadi heran sekali.
Tiba-tiba saja Bu Ki kerutkan alisnya dan berkata," Sudahlah, tak usah aku turut bertanding
lagi, karena akhirnya aku akan kalah."
Semua tamu terkejut karena herannya, mereka melongo.

61

Peng-Cong Hiap-Eng
"Cio Hiantit, mengapa kau mengatakan demikian?" ia tegur. "Mungkinkah anakku tak dapat
diajar?"
Bu Ki tertawa meringis, dengan perlahan ia angkat lengannya, lalu ia gulung lengan
bajunya, maka tampaklah tanda bekas luka yang panjang dan dalam pada lengannya
sampai tulangnya kelihatan.
"Kau kenapa Hiantit?" tanya Cio Eng terperanjat.
Bu Ki memandang sekelebat ke bawah pangggung.
"Kemarin ini perahuku karam di dalam sungai," ia menjawab, suaranya menyatakan
penasarannya. "Hm! Aku telah dicurangi satu bangsat tidak dikenal!"
See Ceecu yang bernama To melanjutkan cerita puteranya," Kemarin aku titahkan Ouw Lojie bersama dia pergi mengejar seekor kambing dari Utara. Tapi tak disangka, kambing itu
dengan diam-diam dilindungi satu piauwsu yang lihai sekali dan Bu Ki kena dilukai."
Dengan "kambing" See To maksudkan orang yang ia hendak jadikan korban pembegalan.
Cio Eng terperanjat, ia heran sekali, ia tahu Ouw Loo-ji itu adalah bawahan Hu-ceecu, dan
kepandaiannya adalah lebih tinggi daripada See Bu Ki. Ini adalah luar biasa jika mereka
berdua kena dikalahkan satu piauwsu.
"Nah, Cio Toako, bagaimana pendapatmu?" tiba-tiba See To menanya.
Cio Eng berdiam sebentar, kemudian ia tertawa.
"Nyatakah piauwsu itu seorang pandai!" katanya. "Entah siapa dia itu dan dimana adanya
dia sekarang?" Ingin sekali aku menemui dia itu, supaya dapat aku mengadakan perdamaian
di antara kamu kedua pihak."
Wajah See Bu Ki berubah padam.
"Belum pernah aku diperhina secara begini, di sini tidak ada perdamaian!" katanya nyaring.
Terang ia sangat sengit. Tiba-tiba ia memandang ke bawah panggung, tangannya segera
menuding, dengan keras ia menambahkan," Binatang itu nyata telah makan jantung
serigala dan nyali macan tutul, dia sangat berani, dia sekarang ada di sini!"
See Tio lantas berseru," Kami ayah dan anak ingin menemui kau, orang pandai! Kemana kau
hendak pergi?'
Bagaikan bayangan kedua orang segera lompat turun dari panggung.
"Dimana dia?" terdengar orang bertanya. Dia adalah sahabat See To dan karenanya ia
berniat membantu ceecu itu.
Waktu itu juga, See To telah lompat ke depan In Lui, dengan sebelah tangannya, yang
semua jerijinya terbuka, ia menyambar kepala orang.
In Lui sudah lantas berkelit, tapi justeru ia berkelit, tikaman pisau belati dari See Bu Ki
telah sampai kepadanya. Ia tidak kaget atau takut, malah sambil menangkis ia kata sambil
tertawa," Oh, kiranya kau penjahat yang bertopeng itu?"

62

Peng-Cong Hiap-Eng

Di antara satu suara nyaring, pisau belati Bu Ki terlepas dan jatuh.


Hampir berbareng dengan itu, dengan gerakan susul-menyusul dengan sikut dan
tendangannya, nona dalam penyamaran ini sudah merubuhkan dua penyerang lain, yang
menjadi sahabat kedua orang she See itu, habis mana dia lompat naik ke atas sebuah
meja.
See To hunus goloknya, dia lompat untuk menyerang.
"Orang tidak tahu malu, kamu main keroyok!" teriak In Lui. Ia lompat turun, untuk
membalikkan meja hingga piring dan mangkok jatuh pecah berhamburan.
See To tidak dapat berkelit, ia tersiram kuah, bajunya basah. Tentu saja ia menjadi
bertambah gusar, maka ia ulangi serangannya. Ia sangat sebat.
In Lui terpaksa cabut pedangnya dengan apa ia tangkis bacokan itu.
See To tarik kembali goloknya lalu ia menunduk untuk membabat ke bawah.
"Orang kejam!" teriak In Lui sambil melompat dengan tipu "Yan-cu sia hui" atau "Burung
walet terbang menyamping". Dengan begitu ia lolos dari bahaya, setelah mana, pedangnya
menikam dada lawan.
See To terperanjat, ia menangkis sambil berkelit, maka kedua senjata jadi bentrok dengan
keras, dengan kesudahannya golok kena terpapas kutung.
In Lui tidak berniat membunuh, tidak demikian dengan See To, walaupun dia terperanjat,
dia tidak mundur, sebaliknya dia menyerang pula dengan sambarannya. Maka si nona
sambut tangannya dengan satu babatan hingga ia menjadi kaget, terpaksa dia tarik
kembali tangannya itu. Dia jeri terhadap pedang orang yang tajam, karenanya, dia siap
sedia. Masih dia tidak mau menyingkir, dia melawan terus dengan lincah, hingga sukar bagi
In Lui untuk memukul mundur ceecu ini, yang sementara itu telah dibantu pula oleh
beberapa sahabatnya.
"Kau rasakan!" seru See To ketika ia kirim serangannya yang berbahaya.
In Lui awas, ia terkejut melihat tangannya merah. Tahulah ia ceecu ini pernah
mempelajari Tok-see-ciang atau Tangan Pasir Beracun. Pantas ia berani sekali dengan
tangannya itu. Maka untuk menolong dirinya, ia tarik satu musuh di sampingnya guna
dipakai membentengi dirinya.
See To batalkan serangannya itu, untuk tidak mencelakai kawannya. Kesempatan ini
dipakai In Lui untuk melompat sebuah meja, lalu dari meja sebelah ia sambar mangkok
yang kemudian ia lemparkan hingga ada beberapa sahabat See To yang matang biru
mukanya tersiram sayur.
"Hebat! Hebat!" lalu terdengar beberapa seruan.
Memang, keadaan sangat kacau.
See Bu Ki sambar sebuah kursi, dengan itu ia merangsak, berulang kali ia menyerang, tapi
In Lui telah membabat kutung kursi itu.

63

Peng-Cong Hiap-Eng

Pada waktu itu, See To menyerang pula.


Di saat In Lui hendak melayani ceecu itu, satu bayangan berkelebat di antara mereka
berdua, dengan pentang kedua tangannya, bayangan itu membuat kedua musuh mundur
dua tiga tindak.
"See Toako, coba pandang padaku!" demikian suara si tuan rumah," Dan kau engko kecil,
coba kau berhenti dulu!"
"Toako, aku mohon keadilan darimu!" kata See To. "Muka kami ayah dan anak bergantung
pada sepatah katamu!"
Cio Eng pandang In Lui, ia heran dan kagum.
"Apa benar ada pemuda begini cakap?" katanya di dalam hati. "Jikalau bukan aku lihat
sendiri, sungguh aku tidak percaya dia dapat mengalahkan Bu Ki dan membuat ayah dan
anak kewalahan."
"Cio Chungcu, maafkan aku," berkata In Lui. "Aku telah bentrok dengan tamumu yang
mulia. Aku sebenarnya datang untuk memberi selamat, tidak kusangka sekarang terjadi
perkara ini. Tentu saja aku tidak berani turun tangan kalau tidak terpaksa. Sekarang
terserah pada chungcu, kau hendak hukum aku atau bagaimana."
Menurut aturan kamu kang-ouw, In Lui adalah tamu Cio Eng, maka dalam segala hal, Cio
Eng sebagai tuan rumah harus memegang semua tanggung jawab. Maka itu, mendengar
perkataan orang itu, See To mendongkol bukan kepalang.
"Manusia licin!" ia mendamprat dalam hatinya, matanya pun mendelik. Tapi tiba-tiba ia
dapat daya, ia lantas menghadap tuan rumah.
"Toako, apakah she dan nama engko kecil ini?" demikian ia tanya. "Siapakah gurunya?"
Cio Eng melengak ditanya begitu.
"Aku tidak tahu," sahutnya terpaksa.
Maka tertawalah See To berkakakan.
"Kiranya toako tidak kenal dia siapa?" katanya puas. "Saudara-saudara hadirin, siapakah
yang kenal engko kecil ini?" dia tanya semua tamu.
Semua orang datang berkerumun, tidak satu pun diantara mereka yang kenal anak muda
ini, mereka itu membungkam atau menggelengkan kepala.
Kembali See Ceecu tertawa, sekarang ia tertawa dingin.
"Baiklah toako ketahui," kata ia pada tuan rumah. "Jahanam ini sudah sengaja mengaku
jadi tamu, namanya saja dia datang untuk memberi selamat, sebenarnya dia hendak
menyingkirkan diri. Tidak apa dia datang makan di sini, makan tanpa membayar, tetapi
perbuatannya ini merusak kaum Hek-to di Shoasay ini!"
Cio Eng menjadi bingung, ia pun tidak senang.

64

Peng-Cong Hiap-Eng

"Habis, bagaimana menurut See Toako?" dia tanya.


"Mesti diminta supaya dia keluarkan semua barang berharga dari orang yang dia lindungi!"
jawab See Ceecu. "Suruh dia serahkan kuda Ciauw-ya Say-cu-ma! Habis itu, dia mesti
dipaksa menyerah untuk Bu Ki tikam lengannya seperti dia tikam lengan Bu Ki! Dengan
begitu barulah urusan dapat diselesaikan."
Tercekat In Lui mendengar orang menyebut nama kuda Ciauw-ya Say-cu-ma. Memang sejak
lama ia sudah dengar nama kuda jempolan asal Mongolia itu, yang tak dapat dibeli dengan
uang seribu tail emas. Maka tidak ia sangka kuda si mahasiswa adalah kuda jempolan itu.
Lantas saja, di depan matanya, terbayang tampang si mahasiswa yang cakap dan sikapnya
yang sangat polos. Ia pun jadi semakin mencurigai mahasiswa itu.
Melihat orang diam saja, Cio Eng sangka si anak muda kaget, maka ia tepuk pundaknya.
"Engko kecil, apa pembelaanmu?"
In Lui bukannya tidak sadar.
"Dia membegal orang, aku menolong orang itu, demikian duduk perkaranya!" sahut ia
dengan tenang. "Apa lagi yang hendak dikatakan? Jikalau mereka tidak puas, silahkan
mereka maju! Asal mereka ayah dan anak dapat mengalahkan aku, jangan kata baru
dibacok satu kali lenganku, enam kali mereka tikam tubuhku, masih boleh, tidak nanti aku
lari!"
Hati tuan rumah itu bergetar.
"Nyatalah dia anak ayam yang baru menetas," pikirnya. "Dia tidak tahu, dalam urusan
seperti ini, akulah yang berkuasa atas dirinya. Dia menantang mereka, bukankah itu sama
artinya dengan menantangku?"
See To pun tertawa berkakakan mendengar perkataan orang itu.
In Lui mendelik.
"Kau tertawakan apa?" dia tegur. "Kamu ayah dan anak, silahkan kamu maju! Apakah kamu
sangka aku jeri terhadapmu? Hm!"
Dengan mengucap demikian, In Lui ingat pesan Ci Kian, yaitu kalau menghadapi musuh
banyak, terutama musuh tersohor, mesti dijaga supaya musuh itu sendirilah yang mesti
ditantang, untuk bertempur satu lawan satu. Ia pun merasa, ayah dan anak itu bukan
tandingannya, jadi dia tidak perlu takut, ia jadi senang dapat menantang aya dan anak itu.
Ia hanya tidak tahu, pesan Ciu Kian tidak mengenai urusan seperti kali ini.
"Cio Toako, kau dengar tidak?" tanya See To pada Cio Eng. "Di mata bocah ini tidak saja
tidak ada aku, juga tidak ada kau!"
Wajah tuan rumah kembali berubah.
"Aku tahu!" ia menjawab. Terus ia hadapi si anak muda. "Eh, engko kecil, kau mau adu
pedang atau adu kepalan?" dia tanya.

65

Peng-Cong Hiap-Eng
"Apa? Bertanding dengan kau?" In Lui tegaskan. "Chungcu, Lian-in-kiammu kesohor di
kolong langit, cara bagaimana aku yang muda berani melawan kau? Aku hanya hendak
main-main dengan mereka berdua!"
"Tutup mulutmu!" Tiba-tiba Cio Eng membentak. "Siapa yang ingin bertempur di tempatku
ini? Kau lihat!" Dan sinar matanya menyapu.
Kata-kata ini dikeluarkan di depan In Lui tapi sebenarnya ditujukan kepada See To ayah
dan anak.
Kembali In Lui melengak, tak tahu ia bagaimana menjawab.
Cio Eng tidak gubris orang berdiam.
"Jikalau kau jeri terhadap pedangku, nah mari kita bertanding dengan tangan kosong saja!"
Cio Eng berkata pula.
"Aku yang rendah tidak berani," In Lui menyahuti.
"Tidak bertanding, itulah tidak bisa!" dia berkata. "Tapi mengingat kau satu anak muda,
baik, aku memberi kesempatan, aku tidak melayani kau. Eh, anak Hong, mari! Coba kau
wakilkan aku melayani dia beberapa jurus! Anak, lekas kau naik ke panggung!"
Sikap Cio Eng membuat hadirin heran, malah See To dan anaknya jadi mendongkol, hingga
wajah mereka merah pada. Tahulah semua orang, mengapa Cio Eng menyuruh gadisnya
melawan anak muda itu. Itu adalah pertandingan untuk memilih jodoh untuk gadisnya itu.
Cio Eng melirik, ia tetap bersikap tak memperdulikan. Ia hanya mendesak si anak muda.
"Eh, bocah bila kau punya nyali untuk menyelinap ke salam Hek-cio-chung ini, kau juga
harus punya nyali untuk naik ke panggung!" demikian katanya. "Eh, apakah kau masih tidak
mau naik? Apakah kau ingin paksa aku nanti melemparkan tubuhmu?"
Desakan orang tua ini membuat romannya jadi bengis sekali. Tapi di dalam hatinya semua
tamu tertawa. Semakin jelas saja tuan rumah menyukai anak muda itu.
In Lui berpaling ke atas panggung, di sana ia lihat wajah Cio Cui Hong, dengan muka merah
dadu, matanya mengawasi ke bawah panggung liutay, hingga mata mereka berdua jadi
bentrok. Tiba-tiba saja ia dapat satu pikiran. Maka lekas-lekas ia angkat bajunya.
"Baiklah aku turut perintah, aku nanti naik ke panggung untuk terima pengajaran dari
siocia," ia kata. Habis itu, orang banyak sudah membuka jalan, ia bertindak ke arah luitay
dan lantas ia lompat naik.
Cio Eng segera bicara dengan beberapa pembantunya, kemudian ia duduk menemani See
To.
"See Toako," katanya sambil tertawa dan mengurut-urut kumisnya, "kita bersahabat sudah
bertahun-tahun, tidak nanti u membuat kau malu."
Ceecu itu berdiam, ia sedang mendongkol, tak dapat dia bicara, dia pun tak dapat
mengutarakan kegusarannya.

66

Peng-Cong Hiap-Eng
Cio Eng tersenyum.
"Biar bagaimana anak-anak muda tak dapat tidak dipupuk," katanya pula. "Jikalau anak
muda mesti dibunuh, sungguh kita jadi menunjukkan pandangan yang cupat."
Cio Eng adalah pemimpin Rimba Persilatan di dua propinsi Shoasay dan Siamsay, karenanya
See To mesti menahan sabar.
"Toako benar," ia kata. "Ak terima pengajaran dari kau. Sekarang ingin aku pamitan."
Baru ia hendak bangkit tapi Cio Eng telah menekannya.
"Kita saksikan dulu pertandingan ini, masih ada waktu," katanya. "Lihat, mereka sedang
seru!"
Memang di atas panggung, "pemuda" dan pemudi itu tengah bertempur tubuh mereka
berkelebatan bagaikan bayangan, karena pesatnya mereka bergerak-gerak. Pakaian
mereka sangat menarik, yaitu In Lui berbaj putih dan Cio Cui Hong berbaju hijau dan
celana merah hingga nampak bagaikan awan putih yang berseling sinar layung merah di
antara laut hijau.
Dengan kepandaiannya, In Lui dapat rubuhkan si nona dalam waktu tiga puluh jurus, akan
tetapi ia ingin saksikan ilmu silat "Liap-in-pouw" si nona, dari ituia tidak segera berlaku
keras. Liap-in-pouw merupakan jurus tangan kosong, sedangkan Liap-in-kiam memakai
pedang.
"Baik permainannya, sayang belum sempurna," pikir In Lui kemudian. Waktu itu mereka
sudah melalui seratus jurus.
Cui Hong sementara itu telah berpikir juga. Ia lihat bagaimana si "anak muda" melayani ia
seperti sedang bermain-main.
"Aku perlihatkan kepandaianku, kalau tidak, setelah menikah nanti, ia bisa pandang enteng
padaku," berpikir ia lebih jauh. Ia lantas tertarik pada anak muda itu, sedang maksud
ayahnya dapat dia duga.
Benar saja, habis berpikir demikian, si nona menyerang dengan dashyat. Ia telah keluarkan
kepandaiannya, yaitu ilmu silat Liap-in-pouw (Tindakan mengejar mega). Gesit
gerakannya, berat tangannya, baik bacokannya, maupun totokannya.
In Lui gentar juga menyaksikan perubahan itu, ia lantas melayani dengan ilmu silat Pekpian Hian-kee, ilmu pedang yang ia ubah menjadi bertangan kosong. Maka ia pun jadi
bergerak sangat lincah.
Sebentar saja, pemuda ini telah menguasai pertempuran, akan tetapi, ketika si pemudi
melihatnya, hatinya menjadi rawan.
"Akhirnya dapat juga aku paksa kau keluarkan kepandaianmu," pikirnya.
Lalu si nona paksakan berkelahi terus, ia seperti berlaku nekad, ia merangsak, begitu rupa
sampai akhirnya ia msuk ke dalam pelukan orang. Di pihak lain ia mencoba memegang
lengan In Lui.

67

Peng-Cong Hiap-Eng
Kaget juga pemuda tetiron itu, sampai ia menjadi bingung. Mau atau tidak, ia terpaksa
merangkul dengan tangan kiri, lalu dengan jari tangannya ia pegang iganya, hingga Cui
Hong rasakan tubuhnya bergetar.
Karena jengah In Lui keluarkan seruan tertahan. Tapi, dengan kemalu-maluan di bawah
panggung penonton telah bersorak-sorai. Maka lekas ia totok pula si nona, untuk
menghidupkan pula jalan darahnya, habis mana ia tolak tubuh nona itu, ia sendiri
melompat mundur.
"Maaf, nona!" katanya sambil memberi hormat.
Cio Eng perlihatkan wajah berseri-seri, ia urut-urut kumisnya. Tapi sahabatnya See Ceecu
merah mukanya.
"Kionghi Toako, kau telah pilih menantumu!" katanya sambil memberi hormat. "Nah,
ijinkanlah aku pulang!"
Cio Eng panggil pembantunya yang tadi.
"See Hiantee, toakomu memohon maaf," ia kata. "Di sini ada sebungkus mutiara, hitunglah
sebagai pengganti kerugian. Tentang kuda Ciauw-ya Say-cu-ma harap kau tidak buat pikiran
pula, karenanya silahkan kau pergi ke istalku, pilihlah sepuluh ekor yang paling baik untuk
dijadikan gantinya. Hiantee, aku minta sukalah kau berlaku murah hati, untuk
membebaskan piauw yang ia lindungi itu."
Tuan rumah mengatakan demikian karena ia percaya perkataan See To bahwa In Lui telah
menjadi piauwsu diam-diam.
See Ceecu tertawa tawar.
"Terima kasih, toako," katanya. "Aku masih punya harta, tidak berani aku memiliki
kepunyaanmu. Aku melainkan minta kau suka menaati undang-undang Golongan
Hitam.Dalam hal ini, aku minta toako memberi maaf padaku."
Habis berkata, ceecu ini menjura dalam pada tuan rumah, lalu ia tarik tangan Bu Ki untuk
diajak berlalu.
Cio Eng menjadi sangat tidak puas, tetapi ia tidak bisa berbuat lain, maka setelah
menyuruh pembantunya mengantar tamu, ia sendiri lantas lompat naik ke atas panggung.
Cui Hong merah wajahnya, melihat ayahnya naik, ia menunduk, tangannya memainkan
ujung bajunya.
In Lui menyeringai, ia jengah.
Orang tua itu tertawa terbahak-bahak.
"Inilah yang dikata, gelombang sungai Tiang Kang yang belakang mendorong gelombang
terdepan, atau orang baru menggantikan orang lama!" katanya. "Kau adalah satu pemuda
gagah, kau adalah seorang yang sukar dicari bandingannya."
Sekaranga Cio Eng sudah mengetahui she dan nama orang ini. Tadi ia telah titahkan
pembantunya memeriksa karcis nama. Maka sambil tertawa ia meneruskan berkata," In

68

Peng-Cong Hiap-Eng
Siangkong, kau mempunyai kepandaian, buat apa kau menjadi piauwsu?"
"Sama sekali aku tidak menjadi piauwsu," In Lui menyangkal. "Kemarin di tengah
perjalanan aku berkenalan dengan satu sahabat, aku menolong dia menolak penjahat, aku
tidak tahu karenanya aku jadi bentrok dengan See Ceecu ayah dan anak."
Lega hati Cio Eng mendengar keterangan ini.
"Oh, begitu," katanya. "Di rumah aku masih ada siapa lagi? Apakah kau sudah mengikat
jodoh?"
In Lui bersangsi sedetik ketika ia mejawab.
"Aku punya satu kakak," sahutnya. "Aku belum mengikat jodoh."
Tuan rumah itu tertawa.
"Biasanya anak muda, bila ditanya hal jodohnya, dia jadi jengah!" katanya.
"Kau telah peroleh kemenangan, hendak aku berikan hadiah padamu!" berkata pula Cio
Eng. Ia keluarkan sebuah cincin batu giok hijau yang ditaburkan dengan dua butir permata
mata kucing yang cahayanya berkilauan. "Ini adalah peninggalan ibu Cui Hong yang
diberikannya di waktu dia hendak menutup mata, sekarang aku haturkan ini padamu."
"Karena barang itu milik si nona, tidak berani aku terima," In Lui menampik dengan
merendah.
Cio Eng tertawa bergelak
"Ini adalah tanda mata untuk pertunangan kamu, mengapa kau tidak mau terima?" ia kata.
"Sebenarnya aku tidak berani terima kehormatan itu," In Lui menolak pula.
Mendadak saja wajah tuan rumah itu menjadi merah padam.
"Apakah kau cela anakku?" tanyanya, tetapi dengan perlahan.
"Mana berani aku mencela," sahut si anak muda. "Aku hanya tak dapat menuruti kehendak
loopeh."
Cio Eng menjadi tidak senang.
"Mengapa?" ia tanya, mendesak.
In Lui melirik kepada Cui Hon, ia lihat si nona, yang pegangi ujung celananya, merah
mukanya, kedua matanya yang besar dan bundar diarahkan kepadanya, pada matanya
tampak air mata yang berlinang. Tiba-tiba saja ia mendapat satu pikiran.
"Baiklah, aku terima dia sampai nanti datang waktunya aku menggesernya," demikian
pikirnya. Ia menyahuti tapi ia masih pura-pura. "Aku belum dapat izin dari orang yang lebih
tua, cara bagaimana aku dapat diam-diam mengikat jodoh?"
"Dimanakah kakakmu sekarang?" tanya Cio Eng.

69

Peng-Cong Hiap-Eng

"Aku tak tahu ia berada dimana," jawab In Lui. "Dengan saudaraku, aku berpisah sewaktu
kami masih kecil."
Cio Eng kerutkan alisnya.
"Habis, pada siapa kau hendak beritahukan hal ini, untuk memohon perkenan?" dia tanya
pula.
"Ayah dan ibuku tealah menutup mata, yang masih ada hanya ceekong," sahut In Lui.
"Ceekong perlakukan aku seperti cucunya sendiri, maka ingin aku beritahukan padanya
urusan perjodohanku ini."
"Siapakah nama ceekongmu itu?"
"Tak dapat aku menyebutkan nama ceekong disini," jawab In Lui. "Dia seorang kenamaan
dalam Rimba Persilatan."
Cio Eng heran, ia tertawa.
"Kalau dia seorang kenamaan, mesti dia tahu namaku!" katanya dengan gembira. "Atau
sedikitnya dia kenal aku. Maka baiklah kau jangan kuatir suatu apa."
In Lui terdesak, ia lantas memberi hormat sambil berlutut pada "bakal mertua" yang ia
panggil "gak-hu", habis mana dari sakunya ia keluarkan sepotong batu permata untuk
diserahkan.
Cio Eng terima tanda mata itu, yang ia terus serahkan pada anak daranya, setelah mana ia
pimpin bangun babah mantunya, untuk disuruh berdiri di tengah panggung.
"Sejak ini, In Siangkong ini adalah bagaikan setengah anakku," ia berkata pada tetamunya,
"maka itu aku berharap, kalau nanti dia membuat perjalanan, sukalah saudara-saudara
membantu melihat-lihat padanya."
Riuh suara para tetamu menyambut pernyataan it, mereka pun memberi selamat.
Cio Eng tunggu sampai reda, lalu ia berkata pula, "Aku telah berusia lanjut, dan justeru
saudara-saudara berada di sini, baiklah sekarang saja pernikahan dirayakan! Secara begini
di kemudian hari tidak usah aku mengundang pula saudara-saudara, yang mana membikin
berabe saja!"
Orang banyak lantas bertepuk tangan.
"Bagus! Bagus!" mereka berseru. Malah seroang lantas menghampiri In Lui dengan Arak di
tangan, untuk memberi selamat.
"Usiaku masih terlalu muda, baiknya pernikahan ditunda dulu," kata In Lui. Ia terdesak,
ingin ia mengelak.
"Aku ingin dapat mendampingi kau, maka itu pernikahanmu perlu dirayakan siang-siang,"
Cio Eng mendesak. "Aku Hong-thian-lui seorang sederhana, aku mengadakan luitay untuk
memilih mantu, sekarang mantu telah aku dapatkan, baik sekarang juga pernikahan
dilangsungkan! Dengan begini kita tak usah dipersulit segala adat-istiadat."

70

Peng-Cong Hiap-Eng

Semua tetamu tertawa, mereka puji cara sederhana ini. Maka In Lui dipaksa menjalankan
upacara yang sederhana, yaitu berdua Cui Hong ia memberi hormat pada langit dan bumi,
lalu pada Cio Eng, habis mana banyak orang memberi selamat dengan arak.
Bukan main masgulnya In Lui, ia mengeluh dalam hatinya. Tak dapat ia meloloskan diri.
Inilah main-main menjadi sungguhan. Ia pun tak dapat menolak pemberian selamat dengan
arak itu. Ketika ia telah tenggak belasan cawan arak, ia gunakan tenaga dalamnya, lalu
dengan suara keras, ia muntahkan itu. Maka kupingnya lantas dengar teriakan orang
banyak, "In Siangkong mabuk!"
Memang In Lui tidak kuat minum, sedikitnya susu macan telah mempengaruhi dia, maka
selagi berpura-pura sinting, yang orang percaya, sengaja ia terhuyung kepada Cui Hong.
"Anak muda tidak biasa minum, dia pun tidak tahu aturan," berkata Cio
Eng, yang juga kena dikelabui babah mantunya itu. "Anak Cui, pergi kau bawa ia ke
dalam," Lalu pada orang banyak dia tambahkan," Aku girang, aku tidak pakai aturan lagi!
Saudara-saudara, mari, mari kita minum!"
In Lui pejamkan kedua matanya, ia letakkan kepalanya di pundak Cui Hong, ia biarkan
dirinya dipapah ke dalam terus ke kamar dimana ia rebahkan diri tanpa salin pakaian lagi.
Mulanya ia berpura-pura mabuk, tapi karena pusing dan lelah, ia tertidur sendirinya.
Ketika ia mendusin, ia lihat kamar sudah terang dengan cahaya api, tanda sudah malam. Ia
lihat Cui Hong duduk di tepi pembaringan, si nona tidak salin pakaiannya, rupanya dia
terus menemani.
Melihat orang membuka matanya, nona ini tertawa.
"Kau mabuk siangkong?" dia tanya. Lantas dia suguhkan secangkir teh tua, katanya, "Inilah
teh Sin-kiok untuk menghilangkan rasa mabuk. Tidak usah siangkong bangun, aku nanti
meminumkan."
Benar-benar ia angkat sedikit tubuh In Lui, ke mulut siapa ia bawakan cangkir tehnya itu.
In Lui merasa segar sehabis minum air teh itu yang harum. Sekarang ia dapat melihat jelas
kamar yang dihias rapi. Dupa mengepulkan asap di atas sebuah meja kecil, pendupaannya
berkaki tiga dan bagus sekali.
Menampak perhatian orang itu Cui Hong tertawa.
"Menurut kata ayah, inilah pendupaan jaman Ciu," katanya," Tapi dimataku, aku tidak
melihat perbedaannya. Pun meja kecil itu, katanya terbuat dari kayu wangi asal Lamhay."
Heran In Lui. Pendupaan tua dari jaman Ciu dan meja kayu wangi dari Lamhay? Sungguh itu
barang-barang yang mahal sekali harganya. Tapi si nona pandang barang itu sebagai barang
biasa saja. Disitu pun terdapat lain-lain barang berharga, seperti batu giok, mutiara, dan
lainnya, yang indah adalah pohon karang.
"Cio Eng satu jagoan silat, siapa tahu, ia pun hartawan besar," pikir babah mantu ini.
Cui Hong dampingi "suaminya" ini.

71

Peng-Cong Hiap-Eng
"Siangkong, kau sebenarnya dari keluarga mana?" dia tanya.
"Ayah dan ibu menutup mata waktu aku masih kecil sekali," jawab In Lui. "Menurut
keterangan kita adalah dari keturunan keluarga berpangkat."
Nona itu mengawasi, alisnya agak mengkerut.
"Siangkong, apa benar kau mencintai aku?" ia tanya perlahan.
"Kau cantik sekali, kau juga gagah, bukan cuma aku, setiap pemuda yang melihat pasti
mencintai kau," jawab In Lui.
"Ah, apakah kau kata?"
"Aku punya satu saudara angkat, baik roman maupun kepandaiannya, dia melebihi aku," In
Lui sahuti.
Heran si nona, alisnya sampai bangun.
"Saudara angkatmu itu mempunyai hubungan apa denganku?" dia tanya. "Ah, aku tahu
sekarang, tadi kau berulang-ulang menampik, kau sebenarnya tak suka menikah dengan
aku."
In Lui pandang nona itu.
"Bukannya aku tidak suka," katanya. "Kau dengar dulu omonganku. Saudara angkatku
itu"
Mendadak saja Cui Hong menangis.
"Bagaimana pandanganmu terhadapku?" dia tanya, gusar. "Kalau kau sebut-sebut pula
tentang saudara angkatmu itu, nanti aku bunuh diri di hadapanmu! Jikalau kau tidak suka
padaku, katakanlah terus terang! Memang aku tahu kamu bangsa pembesar negeri, kamu
pandang rendah orang sebangsa kami."
"Ah, mengapa kau ngaco?" berkata In Lui. "Sebenarnya kau bangsa apa? Aku tidak tahu."
Si nona mengawasi.
"Apa benar-benar kau tidak tahu?" tanyanya. "Aku adalah anak tunggal dari satu penjahat
besar!"
In Lui tersenyum.
"Itulah tidak berarti apa-apa!" dia kata. "Saudara angkatku itu juga ada satu penjahat
besar."
Bukan main mendongkolnya Cio Cui Hong.
"Kau selalu sebut saudara angkatmu itu, sebenarnya, apakah maksudmu?" dia tanya.
Melihat orang murka, In Lui berpikir. Memang tak tepat pada malam pengantin berbicara
tentang seorang lelaki lain.

72

Peng-Cong Hiap-Eng

"Aku hendak jodohkan paman San Bin, tidak dapat aku terburu nafsu," ia berpikir pula.
"Kau belum kenal aku!" kata si nona. "Sejak kecil aku telah ikuti ayah merantau, selama itu
entah berapa banyak orang yang telah melamar aku, akan tetapi aku sendiri telah
bersumpah, tidak mau aku menikah kecuali pada orang yang aku penuju! Kalau ada orang
yang aku penuju tetapi dia tidak suka padaku, tidak ada jalan lain daripada mengorbankan
jiwaku! Tadi diatas luitay, kau telah berlaku ceriwis terhadapku, dan sekarang, setelah kita
menikah, kenapa kau tidak pandang aku sebagai isterimu? Apakah memang kau sengaja
hendak perhina aku?"
In Lui tidak sangka orang berhati demikian keras. Maka kembali ia berpikir, "Dia belum
pernah lihat paman San Bin, apakah dia penuju pada paman itu?" demikian ia beragu-ragu.
"Kalau begini, tidak boleh aku sembarang timbulkan niatku menggeser pernikahanku ini."
"Katakan!" Cui Hong mendesak, "sudikah kau mengambil aku sebagai isterimu?" dia
membaliki. "Jangan kau menangis, Kau ingin aku berbuat bagaimana supaya aku
membikikn kau puas?"
Cui Hong hendak mengatakannya tetapi batal, ia malu sendirinya. Cuma air matanya yang
mengalir.
In Lui cekal tangan orang, untuk ditarik. Ia tersenyum.
"Enci, berapa usiamu?" ia tanya.
"Delapan belas tahun," sahut Cui Hong dengan ringkas.
"Kalau begitu, kau lebih tua satu tahun daripadaku," menerangkan nona In. "Benar-benar
aku mesti panggil enci padamu. Enci, adikmu."
Dengan kata adik itu ia maksudkan moa-moay (adik perempuan).
Cui Hong heran, hingga ia mengawasi.
"Apakah kau belum sadar betul dari mabukmu?" dia tanya. "Bukankah tadi telah aku
terangkan bahwa aku tidak punya adik perempuan?"
In Lui melengak. Untuk sedetik, ia lupa bahwa ia tengah menyamar. Lalu ia tertawa
sendirinya.
"Benar gila!" katanya. "Enci, bolehkan aku jadi adikmu yang lelaki? Enci, adikmu ini tidak
pandai bicara, aku minta kau tidak persalahkan dia."
Dengan perlahan ia usap-usap tangannya.
Cui Hong tertawa.
"Benar-benar kau anak tolol!" katanya. "Baiklah! Sekarang kau mesti dengar perkataan
encimu! Lekas kau salin pakaianmu, baru kau tidur pula! Kau lihat, kau tidak loloskan
sepatumu! Ah, ini seprei mesti ditukar."
Kalau tadi si nona masih malu, sekarang ia menjadi berani. Melihat orang tidak mau

73

Peng-Cong Hiap-Eng
bangkit, ia kata, "Apakah kau inginkan encimu yang menukarkan pakaianmu?" Ia lantas
tertawa, mukanya menjadi merah. Ia merasa bahwa ia telah kelepasan bicara.
In Lui berdiam, ia benar-benas sangsi.
Tiba-tiba ada pertanyaan dari luar, budak perempuan, "Apa babah mantu sudah sadar dari
mabuknya?"
"Sudah," sahut Cui Hong.
"Looya minta nona dan babah mantu menemuinya," kata pula budak itu.
"Oh, ya, aku sampai lupa!" kata si nona. Terus ia menambahkan dengan perlahan, "Adikku,
mari bangun. Tak usah kau salin pakaian dulu."
Lega hati In Lui. Ia singkap selimutnya lalu lompat turun.
Cui Hong membuka pintu kamar.
"Kau tukar sepreinya!" ia perintahkan budaknya.
Budak itu lihat seprei bertapakkan sepatu kotor, ia tertawa sambil menutup mulutnya.
Cui Hong ambil lentera, sambil bawa itu, ia tarik tangan In Lui, untuk diajak keluar.
Mereka mesti melewati beberapa ruangan, untuk sampai di sebuah loteng besar, yang
tingginya lima tingkat.
Tingkat kelima itu merupakan satu ruangan, ada meja dan kursinya. Di atas meja, In Lui
lihat banyak barang permata. Cio Eng duduk dengan ditemani empat orang di kiri dan
kanannya.
Menampak babah mantunya, Cio Eng tertawa.
"Anak Cui! Anak Lui!" katanya. "Mari kamu pilih ini, masing-masing ambil satu rupa, yang
selebihnya adalah untuk sahabat-sahabatku ini!"
In Lui heran, ia berdiam.
"Inilah aturan kami yang tertentu," Cui Hong beritahu. "Kau turut perkataan ayah. Kau pilih
satu rupa!"
In Lui ambil satu singa-singaan dari batu giok dan Cui Hong mengambil sebatang tusuk
konde dari giok juga. Habis itu In Lui pandang ruang itu, yang sangat sederhana, sebab
kecuali sebuah lemari besi, perabotan lainnya tidak ada, melainkan di tembok tergantung
sebuah gambar yang besar dimana terlukis sebuah kota yang dikitari air, kota itu ada
pesebannya, ranggonnya, tamannya, dan penduduknya. Dilihat dari romannya, itu adalah
sebuah kota di Kanglam.
"Apakah kau suka pada gambar itu?" tanya Cio Eng sambil tertawa. "Besok akan aku
tuturkan kau tentang kota itu. Sekarang kembalilah kamu."
Cui Hong ajak suaminya undurkan diri, selagi keluar dari kamar, ia masih dengar kata-kata
salah satu tetamu," Harus sangat disayangkan, ini adalah perdagangan kita yang terakhir."

74

Peng-Cong Hiap-Eng

Cio Eng tertawa, ia kata," Di dalam dunia dimana ada bunga yang tak rontok dalam seratus
tahun? Usiaku telah lanjut, aku pun tidak ingin melakukan perdagangan semacam ini.
Baiklah kita pakai cara lama, kamu boleh taksir harganya."
In Lui heran, ia ingin mendengar lebih jauh tapi Cui Hong sudah menarik tangannya,
mengajak ia turun dari loteng.
Setibanya di kamar, mereka tampak seprei sudah ditukar dengan yang baru, hingga
pembaringan itu nampaknya lebih indah. Pada saat itu dari kejauhan terdengar suara
kentongan.
"Ah, sudah jam tiga!" kata Cui Hong.
"Sekarang ini aku tidak ingin tidur," kata In Lui. "Baik kau beritahukan aku, urusan apakah
sebenarnya urusan ayahmu tadi?"
"Ayah adalah satu penjahat tunggal," Cui Hong menjawab dengan terus terang, "setiap
tahun ia cuma bekerja satu kali. Penduduk sini tidak ketahui perbuatan ayah itu. Sudah
menjadi kebiasaan, setiap habis bekerja, ayah menyuruh aku memilih salah satu barang
hasil kerjanya, yang lainnya lantas dijual habis."
"Barang boleh merampas bagaimana dapat dijual?" tanya In Lui.
"Sudah tentu dapat, untuk itu ada pembelinya. Begitulah keempat orang tadi, mereka
biasa membeli barang dari ayah. Mereka itu lihai, barang asal utara mereka jual di selatan,
demikian sebaliknya. Belum pernah mereka itu gagal. Uang yang ayah dapatkan dari
penjualan itu, yang sebagian kecil ia tahan untuk dijadikan harta benda, selebihnya ia
pakai menolongi sahabat-sahabat kang-ouw yang kesusahan."
In Lui heran dan kagum.
"Begitu?" katanya. "Pantas ayahmu diberi gelar Say Beng Siang."
"Say Beng Siang" berarti "Melebihi Beng Siang" dan "Beng Sian" itu adalah Beng Siang Kun,
seorang kenamaan yang biasa mengumpulkan banyak tetamu, dermawan, dan berharta
besar.
Cui Hong tersenyum pada "suaminya" itu.
Tidak lama terdengar pula suara kentongan satu kali.
"Apakah kau ingin aku bicara terus sepanjang malam?" sang isteri tanya "suaminya" itu
sambil melirik dengan tajam dan manis.
"Hendak aku menanyakan lagi," In Lui jawab. "Tentang gambar lukisan tadi. Adakah
ceritanya mengenai gambar itu?"
"Aku tidak tahu. Tentang itu, belum pernah ayah berkata padaku." Ia berdiam sebentar.
"Aku pun merasa aneh. Segala apa ayah beritahukan padaku, cuma gambar itu belum
pernah ia menyebutkannya."
Tak lama, kembali terdengar kentongan.

75

Peng-Cong Hiap-Eng

"Nah, apa lagi kau hendak tanya? tanya Cui Hong sambil tertawa.
In Lui berpikir, tidak ia dapatkan daya untuk memperlambat waktu. Tanpa alasan, tentu
tak dapat ia bicara terus dengan "isterinya" itu. Maka ia jadi sibuk sendirinya.
"In Siankong," akhirnya Cui Hong tanya, perlahan, "apakah benar-benar kau tidak cela aku?"
"Untuk selamanya kau akan menjadi enciku, bagaimana dapat aku cela padamu?" In Lui
baliki.
"Baiklah!" kata si nona, suaranya halus. "Besok saja kita bicara pula, sekarang kau perlu
beristirahat."
In Lui raba kancing bajunya.
"Benar, sekarang sudah waktunya tidur," katanya. Tapi tangannya cuma meraba kancing,
tidak ia membukanya. Justeru itu, di luar terdengar berisiknya suara banyak orang, di
antaranya ada yang berteriak-teriak," Tangkap penjahat! Tangkap penjahat!"
Di rumah Hong-thian-lui ada penjahat, itulah lucu.
Di antara tetamunya Cio Eng, ada yang numpang bermalam di rumahnya, mereka ini
terkejut mendengar teriakan itu, lantas mereka memburu keluar, guna mencari penjahat
itu.
In Lui tidak kaget, sebaliknya ia tertawa.
"Kita bakalan tak dapat tidur!" katanya. "Penjahat itu tentu datang sebab ayahmu
mempunyai banyak barang permata."
Cui Hong tidak menjawab, dia hanya lari keluar, untuk kabur ke loteng tempat menyimpan
permata itu. In Lui ikuti "isterinya" itu.
In Lui sempurna ilmu enteng tubuhnya, ia berada di atas kebanyakan orangain, maka itu
kecuali ia telah lombai bujang-bujang dan tetamu, ia pun telah tinggalkan Cui Hong jauh
di sebelah belakang. Hal ini membuat "isteri" itu girang berbareng mendongkol. Girang
sebab "suami"ini lihai dan kelihatannya membela betul keluarga Cio, dan mendongkol
karena dipanggil-panggil, dia tidak mau kembali atau menunggu.
Luas pekarangan Cio-kee-chung itu, letak loteng tempat menyimpan barang berharga ada
di pojok timur, di sana In Lui sampai dalam tempo yang cepat sekali, ketika ia menoleh, ia
lihat Cui Hong baru tiba di atas genteng dari rumah besar. Ia tidak mau menantikan, sambil
hunus pedangnya, ia lompat untuk sambar payon dimana terus ia cantelkan kakinya, akan
ayunkan tubuhnya dengan dibantu oleh tekanan sebelah tangannya, dengan begitu ia
sampai di loteng kedua. Di sini ia pasang kuping, hingga ia dengar suara seperti suara
setan.
"Bangsat kau mainkan lelakon iblismu untuk menakut-nakuti aku!" In Lui kata di dalam
hatinya. Ia dengar suara dari dalam loteng, untuk masuk ke dalamnya, terlebih dahulu ia
nyalakan sumbu bekalannya, yang ia sulut dengan api tekesan. Sebentar kemudian ia sudah
berada di dalam, terus tetangga dari loteng ketiga. Ketika ia angkat kepalanya melihat ke
atas, ia tampak bayangan dari empat orang yang tubuhnya besar, mereka itu berdiri

76

Peng-Cong Hiap-Eng
dengan sebelah kaki masing-masing, agaknya mereka sedang bertindak untuk lari turun,
hanya, seperti dipengaruhi "Teng-sin-hoat" yaitu ilmu mendiamkan diri, mereka jadi berdiri
diam, cuma mata mereka mendelong dan tenggorokan mereka perdengarkan suara tak
nyata. Yang hebat adalah wajah mereka, daging muka mereka pada mengkerut, hingga
mereka mirip iblis-iblis bengis dan jahat.
Terkejut juga In Lui setelah dia melihat dengan tegas, tapi ia hunus pedangnya, dia lari
naik di tangga, niatnya menyerang mereka itu, yang dia duga adalah si orang-orang jahat.
Dia baru hendak menikam, atau dia batalkan maksudnya. Tiba-tiba saja dia menduga,
keempat orang itu tentu telah jadi korban totokan, sedang dia belum mendapat kepastian
mereka itu ada "lawan atau kawan". Maka dia lantas suluhi mereka, mereka mengawasi.
Tidak peduli wajah orang itu jelek, tapi dia kenali, mereka itu adalah orang-orang yang
tadi siang menjadi pembeli-pembeli dari barang-barangnya Cio Eng. Dia menjadi heran,
sebab dia percaya, walaupun mereka saudagar, mereka tentunya pandai silat. Kenapa
mereka kena ditotok Siapakah yang menotoknya?
"Belum pernah aku saksikan ilmu totokan lihai seperti ini," In Lui berpikir pula. "Jikalau aku
gunakan kepandaianku, dapatkah aku membebaskan mereka ini?"
Ia awasi mereka terlebih jauh, ia selidiki dengan teliti. Ia duga orang telah ditotok urat
"moa-hiat" nya atau "ah-hiat". Totokan di urat itu bisa menyebabkan tubuh orang seperti
mati atau gagu. Ia masih mengawasi sekian lama, baru ia mencobanya menotok mereka.
"Aduh!" mereka itu menjerit setelah kena ditotok, terus mereka rubuh.
In Lui lompat minggir.
Menyusul itu terdengar suara berisik, dari batu-batu permata yang jatuh dari kantong
keempat orang itu, yang berhamburan di lantai. Itulah harta yang berharga lebih dari
sepuluh laksa tail.
In Lui melengak. Terang baginya sekarang, penyerang keempat orang ini bukannya hendak
mengambil harta itu. Kalau tidak, harta itu pasti sudah dirampas.
"Apakah penyerangmu sudah pergi?" ia tanya keempat saudagar itu.
Keempat orang itu masing-masing menekan dadanya, dengan sebelah tangan yang lain,
mereka menunjuk ke atas. Tidak dapat mereka bicara, napas mereka sesak.
Dengan berani In Lui lompat keluar jendela, untuk naik ke loteng keempat, setibanya di
payon, dari atas wuwungan ia dengar suara nyaring dari Cio Eng. "Kami dua turunan sudah
menantikan enam puluh tahun. Apakah benar kau tidak sudi perlihatkan wajahmu terhadap
kami?"
In Lui naik terus, ia segera tampak bayangan orang, yang telah perdengarkan suaranya.
"Mari!" Itulah suara yang ia pernah dengar, entah dimana, ia lupa.
Cio Eng ambil gambarnya, ia gulung itu, atas mana si bayangan ulurkan kedua tangannya,
ia menyambut dengan tangan yang satu, sedang tangan yang lain, agaknya menepuk ke
arah kepala tuan rumah.
Menampak demikian, In Lui membentak, tubuhnya naik ke genteng, tapi berbareng dengan

77

Peng-Cong Hiap-Eng
itu, ia diserang senjata rahasia. Ia menyampok dengan pedangnya, lantas ia rasakan satu
dorongan tenaga yang kuat sekali. Benar senjata rahasia itu hancur dan menyemburkan
lelatu, tapi nona ini tak dapat pertahankan diri, tubuhnya terhuyung jatuh. Syukur ia
masih dapat mencantelkan kakinya ke payon, dengan begitu ia tidak jatuh terus ke bawah
loteng.
Malam itu gelap.
Kembali datang senjata rahasia yang kedua, yang perdengarkan sambarang angin seperti
yang pertama.
Dengan pedangnya, In Lui tangkis pula senjata rahasia itu, yang kembali hancur dan
lelatunya meletik berhamburan. Sekarang ternyata, senjata rahasia itu adalah sepotong
batu.
Pada saat itu, Cio Eng tongolkan kepalanya.
"Siapa?" dia menegur.
Belum In Lui menjawab, atau ia dengar suara yang berubah, suara yang agak terkejut.
"Anak Lui disitu? Ini bukan urusanmu, lekas kau menyingkir!"
Itulah suara Cio Eng. Mendengar itu, In Lui heran. Sudah terang penjahat itu hendak
merampas barangnya, kenapa Cio Eng, si "mertua" membantu pencuri itu? Kenapa Cio Eng
menyerang dengan batu hui-hong-sek untuk mencegah dia membantui?
Waktu itu di bawah loteng terlihat beberapa tetamu yang datang untuk memberikan
bantuan mereka. Cio Eng lihat mereka itu, tidak tunggu sampai In Lui menyingkir, ia sudah
lompat keluar, sambil berkata dengan nyaring," Penjahat telah aku usir, sudah tidak ada
apa-apa lagi! Saudara-saudara, silahkan kembali!"
Tapi In Lui bermata awas, ia lihat si pencuri lompat keluar dari belakang jendela, pesat
sekali gerakannya. Tanpa sangsi lagi, ia pun lompat ke lain arah. Dengan sebat si penjahat
sudah sampai di tembok pekarangan. Masih In Lui menyusul, ia juga tunjukkan
kesebatannya.
Selagi hendak lompat dari tembok, orang yang disangka penjahat itu berpaling, tangannya
dilambaikan pada si nona. Nyata ia memakain topeng, sepasang matanya bersinar tajam.
Tanpa melihat tegas, In Lui lompat mengejar terus.
Di luar tembok pekarangan ada pohon-pohonan lebat, dari sana terdengar suara kuda
berbenger, lalu di antara cahaya rembulan, tampak muncul seekor kuda putih.
Melihat kuda itu, In Lui terkejut. Ia kenali itu adalah kuda putih dari si mahasiswa. Ia jadi
menjublak, ia tak mengerti. Bukankah ia telah uji dan si anak sekolah tidak mengerti silat?
Kenapa sekarang dia datang mencuri? Adakah benar orang bertopeng itu si mahasiswa
adanya dan dia datang bukan untuk mencuri? Kalau dia benar mencuri, kenapa dia biarkan
harta besar di tangan keempat saudagar itu dan dia cuma ambil gambar lukisan saja,
meskipun gambar itu berharga besar sekali. Tapi anehnya, kalau benar si pencuri adalah si
mahasiswa, kenapa Cio Eng mengatakan sudah menantikan enam puluh tahun?
In Lui masih tercengang terus kalau ia tidak diganggu suara berisik di arah belakangnya,
disusul dengan suara Cio Eng yang nyaring. "Jangan kejar penjahat yang sudah kabur! Anak

78

Peng-Cong Hiap-Eng
Lui, lekas kembali!"
Masih In Lui terbenam dalam keheranan, sebab sikap aneh dari "mertuanya" ini. Terang
sudah, Cio Eng tengah melindungi si penjahat, si orang bertopeng. Karena ini, ia tidak
perdulikan panggilan orang tua itu, ia justeru lompat keluar tembok, ke arah pohonpohonan lebat. Tapi disini lagi-lagi ia hadapi kejadian yang membuatnya sangat heran.
Suara seekor kuda lain terdengar pula, apabila In Lui sudah melihat, ia tercengang. Itulah
kuda berbulu merah, kudanya sendiri. Kuda itu, ia tahu benar, ditambatkan di depan
kampung. Kenapa kuda itu sekarang berada di dalam rimba?
Ketika itu si orang bertopeng sudah duduk di atas kudanya. Ia tidak segera lari, hanya
kembali ia menoleh, tangannya menggape kepada si nona.
Sekarang In Lui merasa pasti, orang itu adalah si mahasiswa. Tiba-tiba saja ia jadi tidak
senang.
"Hai, binatang, kenapa kau berulang kali mempermainkan aku?" bentaknya. Terus ia lompat
naik ke atas kudanya, ia jepit perut kudanya, untuk mengejar. Kuda putih telah kabur
pesat di sebelah depan.
Dari suara banyak kuda di sebelah belakang, In Lui percaya Cio Eng beramai juga mengejar,
akan tetapi mereka ini juga ketinggalan jauh.
Kuda putih kabur terus, kuda merah tetap menyusul, maka itu dari Yang-kiok, tak lama
kemudian, keduanya mengambil jalan besar ke kota raja.
Jarak antara kedua kuda ada kira-kira setengah lie, sampai disitu, kuda putih kendorkan
larinya.
In Lui mendongkol berbareng heran, ia penasaran, dari itu, ia keprak kudanya untuk
mengejar terus. Malam itu diterangi hanya oleh sisa rembulan.
Tanpa diketahui seratus lie lebih telah dilalui, dan tanpa merasa sang fajar telah
mendatangi. Entah dimana mereka berada, cuma tahu-tahu di depan mereka ada sebuah
rimba
"Maaf, tak dapat aku menemani lebih lama!" terdengar suara si orang bertopeng, habis
berkata dia larikan kudanya masuk di antara pohon-pohonan yang lebat.
"Walaupun kau lari ke ujung langit, akan aku menyusulnya!" teriak In Lui dalam murkanya.
Benar saja, ia kaburkan terus kudanya untuk memasuki rimba. Akan tetapi baru dia sampai
di tepian atau ia dengar kuda putih berbunyi nyaring, disusul dengan seruan orang. Ia
terkejut dan heran, dengan tiba-tiba ia tahan kudanya. Berbareng dengan itu, tampaklah
kuda putih lari keluar tanpa penunggangnya di bebokongnya.
In Lui terkejut, si orang bertopeng mestinya lihai, apa mungkin orang telah mencelakai
dia, dengan membokong hingga tinggal kudanya saja yang lari keluar?
Setelah seruan itu, di dalam rimba itu menyusul terdengar teriakan-teriakan. Cuma sedetik
In Lui bersangsi, atau ia sudah lompat turun dari kudanya, untuk lari masuk ke dalam
rimba itu, untuk lompat naik ke atas sebuah pohon.

79

Peng-Cong Hiap-Eng
Segera juga tertampak beberapa orang memburu keluar rimba.
"Sayang, sayang!" kata mereka. "Kuda putih itu lolos! Eh, eh, ada kuda merah! Ah, ah,
sayang dia juga kabur!"
In Lui tidak kuatirkan kudanya itu, yang jinak dan mengerti. Ia tahu, kudanya telah lari
menyingkir. Ia percaya, bila sebentar ia panggil, kuda itu akan kembali. Karena ini, dengan
gunakan ilmu enteng tubuhnya,ia melapai dan berlompatan di pohon-pohon itu, dari yang
satu kepada yang lain hingga di lain saat ia telah sampai di dalam rimba.
Di sana terdengar suara berisik sekali.
Dengan hati-hati In Li maju terus, lalu ia umpetkan diri, untuk mengintai. Ia lantas
saksikan satu pemandangan yang membuatnya heran, yang kesudahannya memberikan
penerangan padanya.
Di atas sebuah batu besar tampak si mahasiswa berdiri, dia telah melucuti topengnya. Di
sekitarnya, di bawah batu, mengurung delapan orang, tubuh siapa tinggi dan rendah tak
rata. Dua orang segera In Lui kenali ialah See To dan puteranya. Yang menyolok mata
adalah dua orang lain, ialah satu tauwto yang rambutnya terurai, dan satu imam berjubah
hijau. (Tauwto adalah pendeta yang piara rambut).
Terdengarlah suara Ceecu See To, suaranya yang dingin," Meskipun kau sangat licin,
binatang, tak nanti kau lolos dari tanganku! Apakah kau masih mengharap jiwam?'
Si mahasiswa menggeleng-gelengkan kepala.
"Sekalipun semut masih menyayangi jiwanya, apapula manusia?" katanya dengan sabar.
"Jikalau begitu," kata See Ceecu," lekas kau panggil kembali kuda Ciauw-ya Say-cu-mamu!
Tentang barang-barang permata, biarlah, tak aku inginkan itu, tidak demikian dengan
kudamu!"
Mahasiswa itu tetap menggelengkan kepalanya.
"Kuda itu ada kuda jempolan, dia tidak mudah berpindah tangan," dia kata.
See To tertawa dingin.
"Pembelamu telah nmenjadi tamu agung di Hek-see-chung, disini siapa yang akan
menolong kamu?" katanya mengejek.
Anak muda itu tiba-tiba menunjuk.
"Kau mana tahu, orang sasterawan!" katanya. "Pembelaku itu telah datang" Lalu dengan
tiba-tiba ia perdengarkan seruan nyaring. "Pembelaku kenapa kau tidak lekas-lekas turun
untuk menolongi tuanmu!"
In Lui mendongkol bukan main. Tidak ia sangka, tibanya disitu telah diketahui si mahasiwa.
Mau atau tidak, terpaksa ia lompat turun dari tempatnya sembunyi di atas pohon itu.
Si tauwto kaget, tapi dia tabah, dengan lantas dia menyerang memakai senjata rahasia,
ialah tiga batang piauw, yang menyambar dengan beruntun.

80

Peng-Cong Hiap-Eng

In Lui terkejut. Ia tengah lompat turun, waktu itu ia belum hunus pedangnya, ia jadi serba
salah. Tidak bisa ia menangkis, tidak mampu ia berkelit.
Justeru itu dengan perdengarkan suara nyaring, ketiga piauw dari si tauwto jatuh ke tanah
saling susul, hingga si tauwto jadi kaget. Dengan cepat dia merogoh pula sakunya.
"Tunggu dulu!" berseru See To. "Biar dia punya sayap, bocah ini, tidak nanti mampu
terbang!" Terus dia memberi tanda dengan gerakan tangannya, maka In Lui lantas dikurung
deapan orang itu.
Merah mata See To Bu Ki menyaksikan si anak muda, yang ia pandang bagaikan jarum di
biji matanya. Ia jelus dan mendongkol. Dengan tertawa aneh, dia membentak, "Binatang,
bukannya kau berdiam di Hek-sek-chung sebagai tamu, apa perlunya kau datang kemari?
Kau tahu, meski tangan Hong-thian-lui panjang, tangan itu tidak nanti dapat diulur sampai
disini untuk melindungi kamu!"
Lantas dia angkat goloknya, hendak dia maju.
See To tarik puteranya itu.
"Apakah Cio Eng yang menitahkan kau datang kemari?" ceecu itu tanya. Dia jeri terhadap
tuan dari Hek-sek-chung, tanpa penjelasan, tak berani dia berlaku lancang.
Mendahului In Lui, si mahasiswa, yang bercokol di atas batu, perdengarkan tertawanya
yang nyaring. Dia menggantikan menjawab, "Apakah kamu tidak dengar perkataanku
barusan? Akulah yang panggil dia datang kemari! Dialah piauwsu pembelaku! Kamu hendak
merampas uangku, kamu juga hendak ambil jiwaku, cara bagaimana dia bisa tidak datang?
Eh, pembelaku!" dia teruskan berkata kepada In Lui, "kau makan dariku, kau minum dari
aku juga, sekarang aku mendapat susah kenapa kaumasih tidak hendak turun tangan?"
"Apakah benar-benar kamu tidak mempunyai hubungan dengan Hong-thian-lui?" tanya See
To dengan bentakannya.
In Lui mendongkol bukan main terhadap mahasiwa itu, akan tetapi, dalam keadaan seperti
itu, tidak dapat ia tidak turun tangan untuk orang yang pernah ia lindungi itu, maka ia
hunus pedangnya sambil terus membentak, "Perlu aka kau sebut-sebut Hong-thian-lui? Aku
cuma andalkan pedangku ini untuk pergi kemana aku suka, pergi sendirian saja, tanpa
main gila, licik-licikan, cuma bisa menyuruh lain orang turun tangan!"
Dengan kata-kata ini, dengan menyindir In Lui tegur si mahasiswa. Si mahasiswa tertawa
terbahak-bahak.
"Bagus! Bagus!" serunya. "Inilah piauwsu yang tak kecewa untuk diundangnya! Dia benarbenar satu piauwsu laki-laki!"
"Binatang!" See To menjerit. "Karena kau tidak punya hubungan dengan Hong-thian-lui,
tibalah saatnya kau mampus!" Lalu dengan menggerakkan sepasang tangannya, dia lompat
maju.
Si tauwto dan si imam, juga turut maju, untuk mengepung.
Dengan berani In Lui layani tiga lawan, ketika ia lompat, ia barengi menikam pundak See

81

Peng-Cong Hiap-Eng
To, tapi si tauwto menalangi kawannya menangkis, dengan goloknya, golok kaytoo, dia
bentur pedang orang hingga si nona terperanjat. Keras sekali benturan itu, sampai ia
rasakan tangannya gemetar. Justeru itu, si imam menusuk dengan pedangnya, hingga ia
mesti berkelit, sebab buat menangkis, ia tak punya kesempatan.
"Bret!" demikian terdengar suara yang menyusuli tusukan si imam, ujung pedang siapa
mengenai baju si pemuda tetiron.
Sementara si tauwto serukan kawan-kawannya, "Awas pedangnya, itulah pedang mustika!"
Sebab ia dapat kenyataan, goloknya kena terpapas sedikit.
Si imam tidak takut, dia malah tertawa besar.
"Bagus!" dia berseru. "Pedang mustika, kuda pilihan, itulah kepunyaan kita!" Terus saja dia
menyerang pula.
In Lui menangkis.
Licin imam ini, ketika ia ditangkis, mendadak saja ia tarik kembali pedangnya, untuk
dibalikkan, dipakai menikam terus. Dia pun berseru, "Kena!"
In Lui tidak jadi kaget. Melihat orang demikian gesit, ia pun berlaku tak kurang sebatnya.
Ia teruskan menikam perut orang sambil berseru pula, "Kena!"
Itulah serangan Teng-to im yang atau Memutarbalikkan im dan yang. Itulah satu nama lain
dari ilmu pedang Hian Kee It-su yang nama lengkapnya "Pek-pian Im Yang Hian-kee-kiam"
yang banyak perubahannya, yang diciptakan berbareng dengan satu ilmu pedang lainnya
"Ban-liu Tiauw-hay Goan-goan-kiam".
Kaget si imam, kesatu, sebab tikamannya gagal, kedua karena datangnya serangan
membalas itu. Ia sebenarnya gesit, ia sudah lantas berkelit, tapi tidak urung, ikat jubahnya
kena disambar juga hingga putus, hingga ia mandi keringat dingin.
In Lui kecewa karena gagalnya serangan itu, apapula di lain pihak ia mesti tangkis goloknya
si tauwto, yang sudah merangsak pula, sedang dari sambarannya See To yang tangannya
lihai, ia mesti egoskan tubuhnya. Si imam juga sangat bengis, habis itu, dia maju pula.
Selagi dikeroyok See Bu Ki berteriak, "Jikalau dia tidak dapat dibekuk hidup-hidup, mati
pun boleh! Mari maju, kita cincang tubuhnya!"
Benar-benar In Lui segera dikurung dengan rapat.
See To dan puteranya tak dapat dipandang ringan, si tauwto dan si imam juga liai, malah si
tauwto menggunakan sepasang golok, maka itu In Lui menjadi repot, dia mesti berlaku
sangat gesit dan sebat untuk menangkis sesuatu serangan. Bu Ki merangsak dengan hebat,
rupanya ia sangat penasaran karena tidak dapat memiliki nona Cio.
Begitulah kejadian, selagi banyak alat meluruk, Bu Ki membacok dengan golok Kwie-tauwtoo nya. Ia kertakkan giginya, ia gunakan seluruh tenaganya. Tapi tiba-tiba ia menjerit
keras sekali dan goloknya pun terlepas, terlempar, karena ia merasakan sikutnya sakit
sekali seperti tertusuk jarum.
In Lui terperanjat menampak golok melayang ke arah kepalanya, dengan sebat ia berkelit.

82

Peng-Cong Hiap-Eng

Berbareng dengan itu satu penyerang yang bersenjatakan tombak gaetan seperti arit, juga
menjeri seperti Bu Ki, malah dia terus rubuh tanpa bangun lagi, karena dia juga merasa
dirinya tertusuk jarum, sampai gaetannya, yang terlepas, menyambar dadanya sendiri.
"Bagus! Bagus! " si mahasiswa berseru dengan pujiannya sambil tertawa, apabila dia
saksikan "piauwsunya" lolos dari bahaya dan dua lawannya terluka. "Hai piauwsuku yang
baik, senjata rahasiamu bagus sekali!"
Mendengar teriakan itu, In Lui sadar dengan mendadak.
"Musuh banyak, au sendirian, tidak dapat tidak, mesti aku gunakan senjata rahasia!"
demikian ia pikir. Maka ketika ia sedang bebas, tangan kirinya merogo ke sakunya, untuk
meraup piauw Bwee-hoa Ouw-tiap-piauwnya. Itu segera ia menyerang.
Belum lama In Lui muncul di dunia kangouw, ia sudah mendapat julukan "San Hoa Lie-hiap"
itulah karena pandainya ia menggunakan piauwnya, ini kali ia gunakan senjata rahasia itu,
dalam sekejap saja ia membuat musuh-musuhnya kaget dan repot. Berulang kali terdengar
suara nyaring dari bentroknya pelbagai piauw dengan senjata-senjata lawan, yang
mengadakan penangkisan, sebagai kesudahannya, kecuali See To, si imam dan tauwto,
yang lainnya rubuh sebagai korban.
Tauwto dan imam itu adalah orang-orang lihai undangan See To untuk membantu ceecu ini,
mereka heran melihat senjata-senjata rahasia. Mereka insyaf bedanya senjata rahasia In
Lui dari senjata rahasia yang bermula. Mereka tiba-tiba mengerti, selagi dikepung rapat,
bagaimana In Lui dapat kesempatan akan mengunakan senjata rahasianya itu. Tapi, kalau
senjata itu bukan dilepaskan In Lui, mesti disitu bersembunyi seorang lihai lain yang
membantu pemuda ini.
Akhirnya si tauwto berseru, "Siong Sek Tooheng, kau tahan dia, libat padanya! See Ceecu,
kau rampas pedangnya! Hendak aku melihat-lihat!"
Dan "Sret!" terdengar suara halus atau lengan si tauwto kena tertusuk.
Si imam berbaju hijau adalah orang terlihai di antara tiga orang ini, ia telah memasang
mata sejak tadi, maka kali ini ia dapat lihat si mahasiswa yang sedang bercokol di atas
batu, telah bergerak tubuhnya. Tidak tempo lagi, ia berseru, "Suheng, itu kambing yang
main gila!" Lalu ia lompat melewati In Lui, guna menyeranga anak sekolah itu.
"Tolong! Tolong!" si mahasiswa menjerit-jerit, tubuhnya gemetar.
Siong Sek Tojin ada satu murid tingkatan kedua dari Bu Tong Pay, partai yang tersohor
dengan ilmu pedang Citcapji-ciu Lin-hoan Toat-beng-kiam, maka itu bisa dimengerti
bagaimana hebatnya ketika ia tikam si mahasiswa, akan tetapi kali ini, ujung pedangnya
lewat di dekat iga, sama sekali tidak mengenai atau menyinggung bajunya. Karena itu, ia
lantas ulangi serangannya, beruntun sampai empat kali.
Bukan main repotnya si mahasiswa, dia berteriak-teriak, dia berlompatan, untuk
menyingkir dari ancaman sasarannya, kelihatannya dia seperti sedang bermain-main.
In Lui terkejut mendengar jeritan si mahasiswa. Ia sekarang menjadi rinan karena Siong
Sek Tojin meninggalkan padanya, akan tetapi meski demikian, ia mesti berkelahi secara
sungguh-sungguh, sebab si tauwto lihai dengan goloknya dan See Ceecu berbahaya dengan

83

Peng-Cong Hiap-Eng
tangannya.
"Apakah aku keliru melihat orang?" nona ini berpikir. "Benar-benarkah si mahasiswa tidak
mengerti silat?"
Karena ia berpikir, ia jadi alpa, maka satu kali, hampir ia kena bacok si tauwto. Ia jadi
sangat mendongkol terhadap si mahasiswa itu, maka juga, di dalam hatinya, ia berkata
pula, "Menjemukan mahasiswa itu! Aku tolongi dia, dia sebaliknya permainkan aku! Biar,
habis ini tak akan aku perdulikan lagi padanya."
Nona ini mendelu, ia tak tahu, Siong Sek Tojin terlebih mendelu pula menghadapi
mahasiswa itu hingga dia seperti kalap. Sebab setiap kali dia menikam, setiap kali juga dia
gagal, sasarannya senantiasa meleset. Dan si mahasiswa sendiri masih saja berteriak
"Tolong! Tolong!"
Kemudian dengan mendadak si mahasiswa tertawa terbahak-bahak.
"Ha, kiranya kau sedang permainkan aku?" dia berseru. Terus saja dia menghitung. "Satu!
Dua! Tiga!" terus sampai "Dua puluh!" Dia menghitung setiap kali dia ditikam.
Disaat dia menghitung sampai dua puluh, Bu Ki yang terkena jarum tetapi tidak parah
lukanya, sudah merayap bangun, terus ia ambil goloknya, lantas ia menghampiri dengan
diam-diam pada si anak sekolah.
Anak sekolah ini berkelahi sambil tiap-tiap kali kelitkan diri, ia tidak melihat ke kiri dan
kanannya. Maka leluasa Bu Ki mendekatinya, untuk lantas lompat dibarengi dengan
bacokannya. Tapi mendahului itu, tangan si mahasiswa melayang ke belakang, tepat
mengenai hidung orang, hingga hidung itu menyemburkan darah hidup.
"Manusia tolol!" bentak si mahasiswa. "Telah aku tolongi kau, kau sebaliknya menghendaki
jiwaku, jikalau aku tidak hajar padamu, kau tidak akan insyaf! Apakah kau tidak diajar
aturan? Apakah si bangsat tua she See mengajar kau membalas kebaikan dengan
kejahatan?"
Bu Ki kelabakan karena hidungnya bercucuran darah, ia mesti bekap hidungnya itu.
Gagallah bokongannya. Tapi kata-kata si mahasiswa membuat See To, Bu Ki dan In Lui
menjadi sadar. Ketika malam itu Bu Ki bersama Hu-cee-cu membokong di kuil tua, dia
mestinya terbinasa di ujung pedang In Lui, akan tetapi secara menggelap ada orang
menolongnya, tangan In Lui kena dihajar senjata rahasia hingga ujung pedangnya nyasar,
dan Bu Ki lolos dari bencana. Tentang kejadian itu, Bu Ki telah katakan pada ayahnya,
mereka menduga-duga, sama sekali mereka tidak menyangka si mahasiswalah yang
menolongnya. Karena ini, See To jadi melengak. Tapi justeru itu, In Lui menyerang, ia kena
dibacok kopiahnya hingga rusak. Ia jadi sangat gusar. Di dalam hatinya, ceecu ini berpikir,
"Aku hendak mencuri permata dan kudanya, dia sebaliknya diam-diam membantu aku!
Tidakkah ini aneh?" Ia tidak berpikir lama, dia sudah lantas sambar muka In Lui. Juga si
tauwto turut menyerang, sebab tauwto ini panas hatinya. Dia satu jago di Jalan Hitam
tetapi hampir dia celaka di tangan "pemuda" ini. Tauwto ini telah berpikir, In Lui mesti
dirubuhkan dulu, baru nanti mereka kepung si mahasiswa.
Repot In Lui didesak secara hebat, sampai tak sempat ia memperhatikan si anak sekolah,
lebih-lebih ketika See To menyambar dadanya dan si tauwto membacok mukanya. Tapi
justeru itu, bentrokan senjata terdengar keras dan lelatu api muncrat, dibarengi dengan
jeritan si tauwto yang kemudian disusul dengan teriakan si mahasiswa. "Hai, pendeta,

84

Peng-Cong Hiap-Eng
kaulah yang paling menjemukan, hendak aku berikan tanda mata padamu!" Setelah ini,
tidak ayal lagi, si tauwto lari kabur, diikuti oleh See To.
Pada saat si "pemuda" itu terancam bahaya, si mahasiswa sudah tunjukkan kesebatannya
yang luar biasa, ia lompat ke arah si tauwto, golok siapa ia tangkis dengan pedang Siong
Sek Toojin yang ia rampas. Hebat ta
gkisan itu, golok kaytoo menjadi kutung karenanya. Tauwto itu kaget dan jeri, begitu juga
See Ceecu, maka keduanya segera angkat kaki.
Si mahasiswa lantas tertawa berkakakan, lalu sambil melemparkan pedangnya kepada
Siong Sek Toojin, dia berkata dengan logat anak sekolah, "Menipu uang dan merampas
jiwa, itulah perbuatan tak berperikemanusiaan, dan tidak tahu tenaga sendiri, itu
namanya tolol. Manusia tak berperikemanusiaan dan tolol, bukankah perbuatannya onar
belaka? Ini, aku kembalikan pedangmu, supaya kau belajar lebih jauh lagi sepuluh tahun!"
Imam itu menjadi sangat lesu.
"Tolong kau sebutkan namamu," ia minta.
Si mahasiswa tertawa.
"Apakah kau berniat balas dendam kepadaku?" dia tanya.
"Tidak," sahut si imam.
"Jikalau tidak, untuk apa kau tanya namaku? Aku tidak berani bermusuh dengan kau, aku
juga tidak ingin bersahabat denganmu, karena kita bukan musuh dan bukan sahabat, buat
apa kita saling berkenalan?"
Siong Sek Toojin membungkam, ia menghela napas, tapi karena ia sangat mendongkol, ia
patahkan pedangnya itu, sesudah mana ia ngeloyor pergi. Seorang diri ia bersumpah untuk
selanjutnya tidak lagi menggunakan pedang.
Kembali si mahasiswa tertawa besar.
"Baik, pergilah kamu semua!" katanya sambil terus mendekati sekalian lawannya, untuk
mendupak pergi.
Orang-orang yang diserang senjata rahasia In Lui terkena urat-uratnya hingga mereka tak
dapat bergerak, sekarang setelah didupaki si mahasiwa, darahnya jalan pula, hingga
mereka dapat bergerak lagi.
In Lui heran yang si anak muda dapat menyadarkan orang-orang itu sedang ia tahu, totokan
piauwnya adalah totokan istimewa.
Si mahasiswa rupanya dapat melihat keheranan orang, sambil tertawa, dia berkata,
"Kemarin kau pecahkan totokanku, sekarang aku pecahkan kepunyaanmu, tidakkah itu
sama saja?"
Tapi tetap In Lui heran.
See Bu Ki telah saksikan perbuatan si anak sekolah, seperti lupa pada hajaran si anak
sekolah tadi, ia lantas menghampiri, untuk memberi hormat sambil menjura, "Kau telah

85

Peng-Cong Hiap-Eng
menolongi jiwaku, kau telah hajar aku dengan tanganmu, maka itu di belakang hari, aku
pun hendak memberi ampun satu kali pada jiwamu dan menghajar kau satu kali juga!"
Mendengar itu dan melihat kelakuan orang, si anak sekolah tertawa.
"Aku tolong kau karena aku pandang muka si bangsat tua she See, dari itu tidak usah kau
ingat budi," ia kata. "Kau hendak memberi ampun satu kali pada jiwaku, itulah tidak usah,
tetapi bahwa kau hendak membayar satu tanganmu, untuk itu aku menanti. Kau kalah dari
Siong Sek Toojin, kau mestinya pulang dulu untuk belajar lagi dua puluh tahun! Nah,
pergilah lekas!"
See Bu Ki itu cupat pandangannya, bisa dimengerti bagaimana ia mendongkolnya. Ia
pandang si mahasiswa dan In Lui dengan mata mendelik, lalu ia ajak kawan-kawannya
berlalu.
Si mahasiswa menggeleng-gelengkan kepala, ia tertawa melenggak.
"Orang she See itu mempunyai nama kosong belaka di jalan hitam," katanya, "maka aku
tidak sangka dia demikian tak berguna!"
Ia nampaknya jadi sangat kecele.
In Lui sebenarnya berniat berlalu, akan tetapi mendengar perkataan orang itu, ia menoleh.
Ia anggap orang telah menghina golongan Jalan Hitam.
"Bagaimana dengan Kim-to Ceecu dari Gan-bun-kwan luar?" dia tanya. "Apakah dia tak
dapat dihitung sebagai satu orang gagah?"
Berubah wajah si mahasiswa, tetapi cepat sekali, ia tersenyum. Ia menggoyang-goyangkan
kepala pula.
"Kim-too Ceecu dan See Bu Ki, ayah dan anak, tak dapat dipandang sama," sahutnya.
"Mengenai mereka itu ada perbedaan waktunya. Untuk menyebut dia sebagai orang gagah
itulah belum dapat!"
Mendongkol In Lui.
"Baiklah!" serunya, "di kolong langit ini rupanya cuma kau seorang yang gagah!"
Karena tetap masih mendongkol, ia lantas bertindak pergi, akan berlalu dari rimba itu.
Belum jauh ia berlalu atau satu bayangan orang berkelebat di depannya.
"Saudara kecil, perlahan sedikit!" demikian suara bayangan itu, ialah si mahasiswa.
"Menurut aku, kaulah si orang gagah!"
In Lui melengak tapi segera ia angkat kakinya, untuk pergi terus. Ia bertindak ke kiri, si
mahasiswa cegat ia , ia bertindak ke kanan, masih ia dihalangi. Ia bertindak pula ke kiri
dan ke kanan, tetap ia dirintangi. Si mahasiswa bergerak dengan sebat sekali.
"Kenapa kau cegat aku?" bentak si "pemuda" hatinya panas sekali. Kali ini ia terus lompat,
untuk dengan mendadak melewati si mahasiswa itu.
Maka gusarlah si "pemuda" hingga ia mendelik.

86

Peng-Cong Hiap-Eng

"Kau..kau berani menghina." Bentaknya. Hampir ia mengatakan "nonamu". Syukur dapat


ia cegah itu di tenggorokannya, habis mana terus saja dengan pedangnya ia tikam
tenggorokan si mahasiswa, hingga orang menjadi kaget, baiknya dia dapat lompat mundur.
Menyusul tikamannya itu, si "pemuda" perdengarkan seruan kaget, terus ia meringis.
Tangan kanannya, yang mencekal pedang, telah turun sendirinya. Begitu hebat tikamannya
itu, ketika tikaman itu tidak mengenai sasarannya, tangannya terlonjorkan kaget sekali,
sedang tubuhnya tertahan kuda-kudanya. Tiba-tiba saja ia merasakan sakit karena
lengannya bagaikan copot dari pundaknya.
Si mahasiswa lihat itu.
"Mari aku tolong sambung lenganmu," katanya sambil maju, dengan niat memberikan
pertolongannya.
"Jangan kau pedulikan aku!" bentak si "pemuda". Ia mencekal lengan kanannya itu dengan
tangan kiri, ia mendorong dengan dikagetkan, dengan begitu, ia sambung pula lengan itu,
kemudian dengan membalik tubuh, membelakangi si mahasiswa, ia buka tangan bajunya,
terus ia obati lengan yang seperti copot itu. Sebenarnya ia ingin lantas berlalu dari situ,
baru ia berniat angkat kaki, untuk berlari pergi, atau sekonyong-konyong ia rasakan
tubuhnya lemah. Segera ia insaf, karena telah bertempur terlalu lama, tenaganya menjadi
habis sendirinya.
Si mahasiswa mendekati, ia menjura.
"Aku mohon maaf," katanya perlahan. "Saudara kecil, hatimu polos dan baik, kau dapat
menolong sesamanya, ingin aku bersahabat denganmu. Sekian lama, baru aku ketemukan
orang dengan pribadi sepertimu ini. Aku biasa beradat tinggi, andai kata aku telah berbuat
salah terhadapmu, sukakah kau memaafkannya."
Dengan matanya yang bersinar hidup, ia awasi wajah orang.
Mukanya In Lui bersemu dadu, Di matanya, di dalam hatinya, ia merasa si mahasiswa ini
luhur budi pekertinya, kelakuannya dapat membuat orang kagum.
"Kenapa kau mencaci Kim-too Ceecu?" akhirnya ia tanya, sambil tunduk.
Tertawa anak sekolah itu.
"Orang yang kau kagumi belum tentu dikagumi juga olehku," katanya. "Kenapa kau seperti
hendak memaksakan supaya orang turut padamu? Lagi pula, aku tidak mencaci dia.
Mungkin dia mempunyai bagian-bagian yang membuatnya orang kagum, akan
tetapi..Sudahlah, terlalu panjang untuk diuraikan, lebih baik aku tidak mengatakannya."
Tergerak hati In Lui.
"Apakah kau datang dari luar Gan-bun-kwan?" dia tanya.
Si mahasiswa mendongak, ia tertawa.
"Sang kapu-kapu terumbang-ambing karena tak ada gunanya, dia terhanyut sampai di
sungai dan telaga, tak usahlah tuan menanyakan sebabnya," ia bersenandung, seorang diri.

87

Peng-Cong Hiap-Eng
Lalu ia tertawa pula, suaranya mengharukan.
"Mestinya dia punyakan riwayat sedih," pikir In Lui, "riwayat yang sama dengan lelakon
hidupku. Aku tak sudi orang mengetahui tentang diriku, maka buat apa aku menanyakan
tentang dia?"
Oleh karena ini, dengan tiba-tiba nona ini menaruh rasa simpati terhadap si anak sekolah.
"Baik," katanya kemudian, "tak nanti aku ganggu pula padamu. Disini kita berpisah!"
Si mahasiwa tertawa pula.
"Saudara kecil," katanya, "hari ini kau telah menjadi piawsuku, sudah seharusnya aku
undang kau minum arak. Kali ini kau telah berjasa, wajib kau menerima hadiah, dan tidak
lagi aku mengatakan kau penganglap!"
In Lui tidak menjadi gusar. Ia anggap biasa saja seperti orang sedang bersenda gurau. Ia
lantas memandang ke sekitarnya.
"Di hutan sebagai ini dimana ada arak?" tanyanya kemudian.
Si anak muda tidak menjawab, dia hanya perdengarkan suitan nyaring dan panjang,
setelah itu terdengar jawaban yang berupa bengernya kuda, habis mana, dalam sekejap
saja, tampak dua ekor kuda lari muncul dari dalam rimba. Itulah kuda putih dari si
mahasiswa disusul kuda merah si nona.
"Lihat, mereka telah mendahului bersahabat!" kata si anak sekolah sambil tertawa.
Kuda putih itu menghampiri majikannya, dan si mahasiswa lantas mengulurkan tangannya,
guna menurunkan satu kantong kulit dari bebokongnya, dari dalam kantong itu ia
keluarkan satu gendul arak warna merah.
"Kau telah lelah, silahkan kau minum lebih dahulu," katanya seraya mengangsurkan gendul
itu kepada si nona.
In Lui sambuti gendul itu, ia irup araknya. Tiba-tiba ia kerutkan alisnya.
"Ah, kiranya benar kau datang dari Mongolia!" ia kata.
Arak itu ada arak susu dari Mongolia, arak yang keras sifatnya dan sarinya agak asam. In
Lui kenali arak ini, karena semasa kecilnya pernah ia turut ayahnya meminumnya. Ia tidak
suak arak yang keras, karenanya, tak dapat ia melupakan arak ini.
Dengan sepasang matanya yang jeli, si mahasiswa mengawasi.
"Apakah kau juga datang dari Mongolia?" ia Tanya. "Melihat kau begini lemah lembut,
mestinya kau kelahiran daerah Kanglam yang indah."
Tersenyum In Lui karena pujian itu.
Tiba-tiba si mahasiswa bertepuk tangan hingga menerbitkan suara nyaring. Terus ia
tertawa.

88

Peng-Cong Hiap-Eng
"Kapu-kapu telah hanyut, untuk apa menanyakan tentang sumber asalnya?" katanya.
"Bukankah air mengalir dan mega yang melayang harus dibiarkan sekehendak hatinya? Kau
tak usah bertanya aku, aku juga tak usah bertanya perihalmu. Dalam halku ini, keliru aku
sudah menanyakan kau berasal darimana."
In Lui heran, hingga tak dapat ia kendalikan hatinya.
"Pada malam itu, apakah kedua orang Tartar itu hendak paksa kau pulang?" dia tanya tanpa
merasa.
Si anak muda tenggak araknya, ia tersenyum, tidak ia menjawab.
In Lui tidak mendesak, hanya seorang diri, ia berkata, "Di antara Watzu dan Tiongkok akan
terbit perang, karena kau satu putera Tiongkok, kau telah lari dari wilayah Tartar itu,
bukankah begitu?"
Si mahasiswa tertawa meringis. Ia tenggak pula araknya, ia tidak menjawab, ia seperti
membiarkan si "pemuda" menduga-duga.
In Lui angkat mukanya, ia tatap wajah orang.
"Dua orang Tartar itu mengejar kau untuk ditawannya, kenapa kau bantui aku membunuh
yang satu dan sebaliknya kau tolongi yang lainnya?" tanyanya.
Lagi-lagi si mahasiswa tenggak araknya. Tiba-tiba saja ia tertawa.
"Saudara kecil, sungguh kau gemar menanya!" katanya. "Tahukah kau, orang macam apa
yang telah aku tolongi?"
"Dialah murid Tantai Mie Ming!" sahut In Lui cepat. Dia seperti keterlepasan buka mulut.
Si mahasiswa melirik orang di hadapannya, nampaknya ia merasa aneh. Ia lalu tertawa
tawar.
"Yang terbinasa adalah salah satu pahlawannya To Hoan," katanya perlahan. Dan begitu ia
berkata, terus ia tutup mulutnya.
In Lui heran. Ia berpikir," Tantai Mie Ming adalah pahlawan paling tangguh dan paling
dipercaya dari Thio Cong Ciu dan yang mati itu adalah pahlawan To HoanThio Cong Ciu
dan To Hoan adalah menteri-menteri dari Watzu, apakah bedanya antara kedua menteri
itu? Kenapa sekarang pahlawan To Hoan dibinasakan dan pahlawan Thio Cong Ciu
dilepaskan?"
Benar-benar si nona tidak mengerti, hingga ia ingin menanyakannya. Akan tetapi, ketika ia
tampak orang repot menenggak susu macannya, ia batalkan niatnya itu, ia anggap percuma
saja untuk menanyakannya pula.
Masih si mahasiswa menenggak araknya, lalu ia goyang-goyangkan gendulnya, nampak ia
terkejut.
"Ah, tinggal separuh lagi," katanya. Ia nampaknya menyesal.
"Apa sih lezatnya arak itu?" kata In Lui tertawa. Dimana-mana di Tiongkok ada orang yang

89

Peng-Cong Hiap-Eng
menjual arak! Apakah itu semua tak cukup banyak untuk kau minum?"
Berduka nampaknya si anak sekolah, ia kata, "Orang meninggalkan kampung halamannya,
rendah terpandangnya, barang-barang meninggalkan tempat asalnya, mahal harganya,
itulah sebabnya kenapa aku hargakan arak ini."
Ia bawa gendulnya ke hidungnya dan menciumnya.
Melihat kelakukan orang itu, In Lui ingat halnya semasa kecil, selagi berumur tujuh tahun.
Itu waktu bersama engkongnya, ia baru balik ke Tionggoan. Setibanya di luar kota Ganbun-kwan, engkongnya meraup tanah, berulang kali tanah itu diciumnya, romannya sangat
bersungguh-sungguh. Ingat ini, tiba-tiba ia tanya si mahasiswa, "Apakah kau orang Han?"
Agaknya heran anak sekolah itu.
"Kau lihat aku, apakah aku tak mirip orang Han?" dia balik menanya.
In Lui menatap muka orang. Ia dapatkan orang beralis kereng dan mata jeli, romannya
sangat ganteng, jangan kata di Mongolia, sekalipun di Kanglam sukar untuk mencari orang
secakap dia. Menatap wajah orang, mukanya menjadi dadu sendirinya.
"Biar kau telah menutup mata dan menjadi abu, kau tetap orang Han!" ia kata. Tiba-tiba ia
menjadi jengah sendirinya, ia insyaf bahwa ia telah kelepasan berbicara.
Kedua mata si mahasiswa bersinar.
"Benar, benar sekali!" katanya. "Meski aku mati menjadi abu, tetap aku seorang Han! Mari
minum!"
Ia buka tutup gendulnya itu, kembali ia menenggak.
In Lui tertawa menampak kelakuan orang itu.
"Kau minum bagaikan ikan lodan atau kerbau, dengan beberapa ceguk saja, arakmu kering,
apakah tidak saying?" dia tanya.
Memain mata si anak muda, terus ia tertawa bergelak.
"Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan bagiku, sudah seharusnya aku minum
sampai puas!" katanya.
"Apakah itu yang paling menyenangkan kau?"
Si mahasiswa tertawa.
"Pertama-tama aku dapat bersahabat dengan orang semacam kau, dan kedua karena aku
peroleh mustika yang langka!" sahutnya. "Mari, mari, saudara kecil! Aku undang kau minum
arak sambil memandang gambar yang indah!"
Ia rogoh kantong kulitnya, akan keluarkan segulung kertas, yang mana, ia beberkan di
antara sampokan angin, terus ia gantung di cabang sebuah pohon.
"Kau lihat!" katanya pula. "Bukankah ini mustika yang langka?" Dengan "mustika" ia

90

Peng-Cong Hiap-Eng
maksudkan gambar yang ia anggap berharga itu ia maksudkan gambar yang ia anggap
berharga itu.
In Lui ada turunan orang berpangkat, engkongnya pernah menjadi hamba negeri kelas satu
dan bertanggung jawab sebagai satu utusan, sedang ayahnya, mulanya satu pembesar sipil
kemudian menjadi seorang peperangan, maka ayah itu pandai ilmu surat. Demikian In Lui,
sejak ia masih kecil sudah ia belajar surat, sudah ia mengenal gambar-gambar lukisan,
maka tahulah ia gambar mana yang berharga, mana yang tidak. Sedang gambar ini adalah
gambar yang Cio Eng gantung di Eng Chong Lauw, loteng tempat menyimpan barang-barang
berharga. Tadi malam ia tak lihat nyata gambar itu, sekarang dapat ia memandangnya
dengan tegas. Itu ada pemandangan alam di dalam kota, ada airnya, pepohonan, dan ada
juga orangnya, lukisannya bagus, mirip karya satu pelukis pandai, hanya bila dipandang
terlebih lama, masih ada kekurangannya. Maka itu, ia tertawa di dalam hatinya.
"Mahasiswa ini masih kurang pemandangannya tentang seni lukis," pikirnya.
Si mahasiswa tenggak habis araknya yang terakhir, ia tertawa.
"Apakah kau tak nampak keindahan pada gambar ini?" dia tanya.
In Lui belum menyahuti atau si mahasiswa sudah menghampiri gambar itu, untuk terus
diusap-usap, untuk dipandang dan dipandang pula, kemudian ia bernyanyi dengan nada
tinggi. "Siapakah yang menyanyikan lagu Souwcu dan Hangciu? Bunga teratai menyiarkan
harumnya sepuluh lie dan kembang kui-hoa tiga musim, tetapi rumput dan pohon kayu
tidak kekal, mereka mengenangkan penderitaan sungai Tiang-kang dari berlaksa tahun! Ya,
ya , penderitaan sungai Tiang-kang dari berlaksa tahun"
Kata-kata yang terakhir itu diucapkan secara bersenandung.
In Lui berpikir, "Orang-orang tua dahulu mengatakan, bernyanyi keterlaluan menyebabkan
tangisan, sekarang mendengar nyanyian ini, itu sama hebatnya seperti mendengar
tangisan."
Ia tengah berpikir begitu atau di luar dugaannya, benar-benar si mahasiswa menangis,
tangisannya keras dan menyedihkan sekali, hingga umpama kata menyebabkan "daun-daun
rontok dan burung-burung terbang pergi".
Bingung In Lui, tak tahu ia, kenapa si mahasiswa berduka, kenapa ia menangis, begitu
sedih.
Hebatnya, lama anak sekolah ini menangis, hingga si nona menjadi tambah bingung.
Bukankah anak sekolah ini orang asing baginya? Bukankah dia satu anak muda? Cara
bagimana ia dapat menghiburnya? Ia pun tidak dapat meninggalkannya, itulah perbuatan
tidak pantas. Habis, apa yang mesti dilakukan?
Masih si mahasiswa menangis, makin lama makin sedih, mengenaskan mendengarnya,
hingga tanpa merasa, si nona turut mengucurkan air mata di luar keinginannya.
Si mahasiswa lihat orang menangis, ia lantas seka air matanya, dengan tiba-tiba ia ia
berhenti menangis, ketika ia angkat kepalanya, mendongak, dengan tiba-tiba pula ia
tertawa terbahak-bahak.
"Fui!" In Lui berseru. "Apakah kau telah mabuk?" tegurnya. "Kenapa kau tertawa dan

91

Peng-Cong Hiap-Eng
menangis tidak keruan? Apakah sebabnya?"
Si mahasiswa mengawasi orang, ia menunjuk.
"Kau juga sudah mabuk!" katanya. "Toh, sama saja bukan?"
In Lui tunduk, ia lihat bajunya, yang pun basah dengan air mata. Ya, tanpa alas an, ia turut
orang menangis. Ia jengah sendirinya, tetapi segera ia tertawa.
Si mahasiswa tertawa pula, bergerak-gerak, lalu ia bersenandung pula, "Makin kalap,
makin gagah, itu baharulah orang kenamaan sejati. Bia menangis, bisa tertawa, itulah
bukannya orang yang biasa.Kalau mestinya menangis, menangislah, kalau mestinya
tertawa, tertawalah! Kenapa mesti malu-malu tak ada perlunya? Kita adalah orang-orang
dari satu golongan, kita menangis, kita tertawa, apakah anehnya?"
Dengan kedua tangannya, ia gulung gambar itu, kembali ia bersenandung, "Sungai
Tiangkang terus-menerus mengalir ke timurmenaruh kaki di tanah daerah asing, tetapi
cita-cita belum tercapai.Bila memandang kembali kepada enam puluh tahun yang
lampau, sungai di Selatan, di padang pasir di Utara, tidakkah itu sangat mendukakan
orang?"
Tergerak hati In Lui mendengar itu. Ia berpikir pula, "Ketika tadi malam si mahasiswa ini
pergi ke Hek-sek-chung mengambil gambar, Cio Eng mengatakan sudah menanti enam
puluh tahun. Kenapa jumlah tahun itu akur satu dengan lain? Teka-teki apakah tersembunyi
di dalam ini? Si mahasiswa baharu berumur dua puluh lebih, dan usianya Cio Eng belum
lewat enam puluh tahun, maka apakah yang diartikan dengan enam puluh tahun itu?"
Ia pikirkan, ia pikirkan pula, masih ia tidak mengerti, sampai ia dengar pula kata-kata
perlahan dari si mahasiswa.
"Hari ini aku tertawa puas, menangis pun puas, sayang sekali, araknya sudah habis"
demikian katanya. Rupanya dia sangat menyesal atau sengit, dia banting gendul araknya ke
tanah hingga gendul itu pecah hancur.
Aneh kelakuan si mahasiswa ini, tetapi pada itu In Lui lihat suatu tenaga menarik yang luar
biasa.
Waktu itu, matahari sudah menunjukkan lewat tengah hari.
"Ah, sudah waktunya kita berpisah" kata si nona. Tapi, ia mengatakan ini dengan agak
sedih. Ia seperti merasa berat untuk berpisahan.
"Kau hendak pergi kemana?" Tanya si mahasiswa. "Apa kau hendak kembali ke Hek-sekchung?"
"Tak perlu kau ketahui itu," jawab In Lui.
Si mahasiswa tertawa.
"Apa yang kau perbuat tadi malam, semua telah aku lihat!" katanya.
Teringat pada kejadian di dalam kamar, muka In Lui menjadi merah.

92

Peng-Cong Hiap-Eng
"Nona Cio cantik luar biasa," kata si mahasiswa, "dia juga mengerti ilmu silat. Saudara
kecil, mengapa kau menampik, tak mau kau menikah dengannya?"
"Aku mau atau tidak, apa sangkutannya dengan kau?" In Lui balik menjawab.
Mahasiswa itu tertawa pula.
"Jikalau malam itu aku tidak mengacau, tidak nanti kau dapat lolos dari Hek-sek-chung,"
dia kata. "Kenapa kau tidak menghaturkan terima kasih terhadapku?"
Mau atau tidak, In Lui tersenyum.
"Kita, bangsa orang gagah, kita memang tak boleh terjeblos dalam jebakan sang cinta,"
berkata si mahasiswa. "Imanmu teguh, saudara kecil, aku kagum terhadapmu."
Kembali merah wajah In Lui. Ia jadi jeri untuk bicara lebih lama dengan anak muda ini, ia
kuatir rahasianya nanti terbuka, maka tanpa berkata suatu apa lagi, ia lompat ke atas
kudanya, yang terus dikaburkan.
Baharu ia keluar dari rimba, atau di belakangnya, ia dengar suara kelenengan kuda, hingga
ia mesti berpaling, rupanya kuda putih si mahasiswa telah menyandak padanya.
"Saudara kecil, aku ingin bicara padamu!" kata si mahasiswa.
In Lui tahan kudanya.
"Bicaralah!" katanya.
Si mahasiswa perlambat jalan kudanya, hingga berendeng dengan kuda si "pemuda".
"Di dalam wilayah Shoasay ini, Cio Eng dan See To sangat berpengaruh," kata si mahasiswa
sambil tersenyum, "maka bila kau berjalan seorang diri saja, pada akhirnya kau bukannya
dicandak Cio Eng, untuk dibawa pulang untuk dijadikan babah mantunya, melainkan kau
akan dibekuk si orang she See ayah dan anak itu, untuk disiksa mereka. Karenanya, baiklah
kau berjalan bersama-sama aku, aku akan menjadi piauwsu pembelamu."
In Lui anggap, berjalan bersama itu ada alasannya, akan tetapi, belum sempat ia
menjawab, si anak muda sudah menanya pula kepadanya, "Sebenarnya kemana kau hendak
pergi?"
"Ke Pakkhia," jawab In Lui.
"Sungguh kebetulan!" seru si anak sekolah. "Aku juga hendak pergi ke kota Pakkhia! Baiklah
kita mengaku engko dan adik satu sama lain."
In Lui tertawa, ia anggap orang lucu.
"Aku belum tahu she dan namamu, mana dapat kita berbasa secara demikian?" katanya.
"Apa aku mesti selalu panggil engko saja padamu?"
Anak sekolah itu tersenyum.
"Aku she Thio, namaku Tan Hong," jawabnya. "Tan dari tan-sim (putih bersih) dan Hong dari

93

Peng-Cong Hiap-Eng
pohon hong."
In Lui tertawa.
"Satu nama yang bagus!" pujinya. "Akan tetapi di Mongolia tidak ada pohon hong, maka itu,
dari mana kau ambil namamu ini?"
"Hiantee, namamu?" Tanya si anak sekolah, yang tidak menjawab. Ia pun sudah lantas
berbasa "hiantee" (adik).
"Aku orang she In dan namaku cuma satu, Lui," sahut si "pemuda". "Lui dari pwee-lui (pusuh
bunga)."
"Sungguh nama yang indah!" tertawa si mahasiswa. "Cuma nama itu sedikit berbau nama
wanita. Di perbatasan tanah asing dimana ada es dan salju jarang tertampak busu bunga,
dari itu, dari arti apa namamu diambil?"
Wajah In Lui berubah.
"Cara bagaimana kau ketahui aku menjadi besar di perbatasan tanah asing yang ber es dan
bersalju itu?" dia tanya.
Si anak sekolah tertawa.
"Dari arakku!" sahutnya. "Begitu kau ceguk arakku, aku mengetahuinya. Bukankah caramu
tadi membeber sendiri tentang asal-usulmu?"
In Lui berpikir, lantas ia tertawa sendirinya, ia merasa kurang senang hatinya. Dilihat dari
sikap anak sekolah itu, mungkin dia masih mengetahui terlebih banyak tentang dirinya.
Dengan berbicara terlebih jauh maka tahulah In Lui bahwa Thio Tang Hong ini luas
pengetahuannya, tentang ilmu bumi, perihal ilmu alam begitupun pengetahuan ilmu surat,
syair, dan ilmu silatnya. Dengan sendirinya, ia jadi merasa sangat tertarik, hingga tanpa
merasa, ia kurang akan penjagaan atas dirinya. Selama berjalan, asyik sekali mereka
pasang omong.
Tanpa merasa, sang sore telah datang pula.
Thio Tan Hong menunjuk dengan cambuknya.
"Di depan sana ada sebuah dusun," katanya, " sudah tiba saatnya untuk kita bermalam."
Ia bunyikan cambuknya untuk melarikan kudanya.
In Lui telad anak sekolah itu, maka kaburlah kuda mereka, hingga sebentar kemudian
tibalah mereka di tempat yang ditunjuk anak sekolah itu. Dengan lantas mereka cari
rumah penginapan.
"Berikan kami sebuah kamar besar yang menghadap ke selatan," Tan Hong minta.
"Kita inginkan dua kamar!" In Lui campur bicara.
Kuasa hotel menggeleng-gelengkan kepala.

94

Peng-Cong Hiap-Eng

"Yang betul, satu atau dua?" ia tegaskan.


"Dua kamar!" sahut In Lui cepat dan keras. "Dua kamar!"
Thio Tan Hong mengawasi juga, ia tertawa.
"Baiklah, dua kamar!" sahutnya.
"Apakah tuan-tuan berdua saja?" masih pengurus hotel itu menanya.
"Ya, Cuma kita berdua," jawab si anak sekolah.
Pengurus itu heran, ini tampak pada wajahnya. Akan tetapi dua kamar ada terlebih banyak
daripada satu kamar, sewanya jadi bertambah, maka ia tidak menegaskan terlebih jauh. Ia
lantas ajak kedua tetamunya untuk periksa kamarnya, habis mana, ia undurkan diri untuk
menyediakan barang santapan bagi mereka.
Di dalam kamarnya, Thio Tan Hong tertawa.
"Hiantee, bukannya aku pelit mengeluarkan lagi beberapa potong perak," kata dia. "Dengan
berada berdua kita dapat pasang omong. Tidakkah itu lebih baik? Kenapa kau menghendaki
dua buah kamar?"
"Kau tidak tahu, hian-heng," sahut In Lui, yang pun berbasa "kakak", "seumurku paling takut
aku tidur bersama-sama orang lain."
Tan Hong tertawa pula.
"Pantas di Hek-sek-chung kau tak mau tidur sama-sama Cio-siocia!" katanya.
Merah wajahnya In Lui, lantas ia alihkan pembicaraannya.
Si anak sekolah juga tidak menanyakan lebih jauh.
Habis bersantap malam, dua sahabat ini tidur dalam kamarnya masing-masing.
In Lui tidak tengan hatiny, ia palang pintu kamarnya, ia tutup jendelanya, malah di waktu
merebahkan diri, ia tidak salin pakaian. Tidak dapat ia lantas tidur nyenyak, masih ia
pikirkan si anak sekolah, ia ingat akan kata-katanya dan tertawanya. Ia malah tidak
rapatkan matanya.
Ketika terdengar kentongan tiga kali, hotel sudah sangat sunyi. Sampai saat itu, baharu In
Lui merasakan hatinya tak terlalu tegang lagi, ia merasa lega, ia malah tertawa sendirinya.
"Tampaknya anak sekolah itu, walaupun ia berandalan, ia bukannya seorang ceriwis" ia
berpikir.
Oleh karena hatinya lega dan merasa ngantuk, In Lui lantas saja tidur pulas. Tidak tahu ia,
berapa lama ia sudah tidur, tiba-tiba secara layap-layap ia tampak si anak sekolah
mendatangi, mendekati pembaringannya, sambil membungkuk ia tersenyum. Ia kaget, ia
hunus pedangnya, berbareng mana, si anak sekolah menjerit, lalu dalam sekejap saja, dia
bermandikan darah seluruh tubuhnya. In Lui kaget sekali, hingga ia berseru. Adalah pada

95

Peng-Cong Hiap-Eng
waktu itu, ia dengar ketokan pada jendela.
"Hiantee, lekas kemari!" demikian suaranya Thio Tan Hong.
In Lui berbangkit, ia kucek-kucek matanya. Insyaflah ia bahwa ia sedang bermimpi. Ia
dengar suaranya Thio Tan Hong, ia kenali. Ia menjadi heran, hingga ia ragu-ragu, ia tengah
bermimpi atau bukan.
Kembali terdengar suara Tan Hong, kali ini disusul dengan ringkikan kuda yang berirama
sedih. Maka tak ayal lagi ia lompat turun. Syukur untuknya, ia tidur tanpa salin pakaian.
Dengan lantas ia dapat buka pintu, untuk lari keluar.
Dari wuwungan rumah, terdengar Thio Tan Hong berseru, "Orang telah mencuri kuda kita!
Mari lekas, kita kejar! Lekas!"
Kuda Ciauw-ya Say-cu-ma dan kuda merah dari Thio Tan Hong dan In Lui ada kuda-kuda
pilihan, tidak sembarang orang dapat mendekati kedua binatang itu, malah kuda Tan Hong
bengis sekali dan mengerti, kecuali tuannya, lain orang tidak dapat mengendalikannya.
Karena itu, Tan Hong sangat percaya kudanya itu, barangnya yang berharga pun ia biarkan
di bebokong kuda, sama sekali ia tidak kuatirkan apa-apa, maka itu, adalah di luar
sangkaan, kali ini ada orang yang mencuri kuda itu. Pastilah pencurinya seorang yang
sangat cerdik atau suatu ahli. Tidak perduli ia bernyali besar dan tabah, Tan Hong toh
gentar juga.
In Lui lompat naik ke atas genteng.
"Dapatkah kita susul mereka?" ia Tanya.
"Kuda kita tentu tak sudi turut lain orang, mesti dapat kita susul," jawab Tan Hong. Ia rogo
sakunya, akan keluarkan sepotong perak, yang mana ia lemparkan ke dalam rumah. Sampai
pengurus hotel itu mendusin, mendengar suara yang berisik.
"Uang sewa kamarmu di lantai!" teriak Tan Hong, habis mana ia lompat pergi.
In Lui segera ikuti kawan ini.
Di sebelah depan mereka masih terdengar ringkiknya kuda.
Pengejaran dilakukan terus sampai di sebuah tegalan. Di bawah rembulan yang remangremang, dibantu dengan cahaya bintang-bintang, segera tertampak kedua kuda-kuda itu,
kuda merah di sebelah depan, kuda putih di sebelah belakang. Kedua kuda itu lari dengan
berjingkrakan, terang keduanya tak sudi lari, keduanya berontak.
Pun si pencuri kuda tampak juga. Mereka mengenakan pakaian biru, muka mereka ditutupi
topeng. Masing-masing memegang sebatang hio, yang apinya menyala, hingga sinar api itu
mirip dengan cahaya bintang, terutama di tempat yang gelap tampak tegas. Dan dengan
hio itu, tiap kali mereka suluti tubuh kuda. Itulah cara paksaan untuk membikin kuda lari,
tidak perduli kuda itu meringkik kesakitan dan terus berjingkrakan. Kedua pencuri itu
mengepitkan kaki mereka dengan keras, hingga kuda jadi tidak berdaya, saking sakitnya,
mau juga kuda itu lari. Disebabkan sering berjingkrak, kedua kuda itu tak dapat lari jauh,
atau segera Tan Hong dan In Lui dapat menyusul.
Sakit hati Tan Hong dan In Lui mendengar suara kuda mereka yang tersiksa, itu, sambil

96

Peng-Cong Hiap-Eng
mengejar, mereka memanggil-manggil.
Ciauw-ya Say-cu-ma sudah lantas dengar suara majikannya, dia berjingkrak keras, karena
mana, si penjahat lagi-lagi menyulut tubuhnya.
Selagi mengejar terus, Thio Tan Hong perdengarkan seruannya yang nyaring, menyusul
mana tangannya terayun, hingga belasan sinar perak menyambar ke arah kedua pencuri
kuda itu. Tapi mereka seperti punya mata di batok kepala mereka, atas datangnya
serangan itu mereka jatuhkan diri, akan sembunyi di perut kuda.
Thio Tan Hong sayangi kudanya, ia tidak mau serang kudanya itu, ia cuma serang si
pencuri, karenanya, serangan senjata rahasia itu jadi gagal, tidak ada sebuah jua dari
jarumnya yang mengenai sasarannya.
Oleh karena sakitnya, kedua kuda itu kabur keras, ke arah gunung.
Berdua In Lui, Tan Hong mengejar terus, sampai tiba-tiba terdengar kedua pencuri kuda itu
tertawa berkakakan, iramanya seperti tertawa wanita. Tentu saja In Lui jadi terperanjat
bahna herannya.
Di atas tanjakan pun segera terlihat cahaya api berkelap-kelip bagaikan kunang-kunang
bermain di antara gombolan rumput. Tanjakan itu sunyi dan seram nampaknya, sampai In
Lui bergidik sendirinya.
Tiba-tiba saja Tan Hong tertawa nyaring.
"Apakah benar ada si cantik manis yang menjadi pencuri dan di tengah malam buta
berkawan dengan iblis?" katanya nyaring. "Kembalikan kudaku! Tidak sudi aku bertempur
dengan wanita!"
Ia lantas lompat, untuk mendaki tanjakan itu, In Lui ikuti padanya.
Sementara itu terdengar suara nyaring dari wanita, "Eh, besar juga nyali si pencuri
mustika!"
In Lui lantas lihat dua ekor kuda, yang mengangkat tinggi kaki depannya, hingga kedua
binatang itu bagaikan orang tengah berdiri di tanjakan yang satu di depan, yang lain di
belakang. Kedua kuda itu tidak berbunyi juga tidak bergerak, maka di bawah sinar
rembulan yang suram, nampaknya aneh dan luar biasa. Tanpa merasa, In Lui perdengarkan
suara tertahan.
Thio Tan Hong sebaliknya, tertawa dingin.
"Oh, kiranya kamu yang main gila!" demikian si mahasiswa.
In Lui tenangkan dirinya, ia pasang matanya. Kali ini ia dapat melihat lebih tegas. Ia
tampak empat orang tengah berdiri di tanjakan, masing-masing mengangkat sebelah
kakinya, sebagai orang sedang menindak turun di tangga loteng, akan tetapi wajah mereka
"diam", mereka bagaikan patung-patung saja. Mereka adalah empat saudagar barang
permata yang sedang berurusan dagang dengan Cio Eng, keadaan mereka sekarang ini
mirip benar dengan keadaan mereka tadi malam setelah mereka ditotok Tan Hong.
Melihat keadaan orang itu, In Lui menghela napas lega. Ia kagum untuk orang yang pandai

97

Peng-Cong Hiap-Eng
menotok itu, yang dapat menotok orang-orang ini tanpa mereka ini bisa berdaya. Ia
menduga, mereka ini adalah pencuri-pencuri kuda, rupanya mereka mencuri untuk
membalas dendam yang kemarin mereka ditotok.
Tanpa kuatir suatu apa, In Lui segera hampirkan keempat saudagar itu.
"Tadi malam aku telah membebaskan kamu dari totokan, kenapa sekarang kamu berbalik
mengganggu kuda kami!" ia tegur mereka itu.
Empat saudagar itu tidak menjawab, mereka tetap diam sebagai patung.
Tiba-tiba dari atas tanjakan terdengar suara, "Apakah tetamu sudah datang? Bawa mereka
ke dalam kuburan!"
Meneliti suara itu, seolah-olah datangnya dari dalam tanah, seperti jauh, seperti dekat.
Mendengar itu, In Lui treperanjat. Itulah suara yang menandakan bahwa orang yang
berkata-kata itu mempunyai iweekang (ilmu dalam) yang sempurna. Menduga orang itu
tentulah musuh, In Lui lantas bayangkan bahwa ia tengah menghadapi lawan yang
merupakan memedi.
Menyusul mana suara dalam itu, dari antara tumpukan batu-batu gunung segera tampak
munculnya dua tubuh bagaikan bayangan. Mereka ini mengenakan baju hijau, mata mereka
masing-masing menyorot tajam. Karena muka mereka ditutupi topeng, mata mereka pun
mirip dengan kunang-kunang yang bercahaya di tempat gelap. Mereka tak mirip wanita
Tionghoa. Tapi keduanya terus menekuk lutut mereka, untuk memberi hormat.
"Silahkan!" demikian mereka mengundang.
"Lebih dahulu tolongi kuda kita, baharu kita bicara!" kata Tan Hong.
"Tuan kami pesan supaya tuan jangan berkecil hati," kata salah satu penyambut ini.
"Katanya tanpa diambilnya tindakan ini, tidak nanti kita dapat pimpin tuan dan kawanmu
datang kemari."
"Siapa tuan kamu itu?" Tanya In Lui, karena ia lihat orang bersikap hormat.
Salah satu penyambut itu tertawa, ia menoleh pada kawannya.
"Ya, aku sampai lupa pada aturan kamu kaum Rimba Hijau dari Tionggoan," katanya. "Ji-so,
tolong serahkan karcis undangan kita!"
Penyambut yang kedua itu, yang berada di sebelah belakang, sudah lantas putar tubuhnya,
kemudian setelah berbalik pula, ia serahkan apa yang dinamakan karcis undangan, ialah
dua potong tulang kepala manusia.
Melihat kartu nama semacam itu, wajah Tan Hong berubah.
In Lui juga terperanjat, akan tetapi ia kuasai dirinya.
"Kartu undangan ini istimewa sekali!" katanya.
Kedua penyambut itu tidak menjawab, terus mereka jalan di sebelah depan.

98

Peng-Cong Hiap-Eng
Tan Hong dekati In Lui, di kuping siapa ia segera berbisik, "Lekas kau singkirkan diri!
Majikan mereka adalah Hek Pek Mo-ko!"
"Hek Pek Mo-ko." In Lui ulangi, lalu dalam sekejap saja, ia sadar. Ia segera ingat
keterangannya Ciu San Bin tentang kedua orang aneh dari kaum kangouw pada jaman itu,
dua "manusia aneh" yang paling ditakuti.
Hek Pek Mo-ko itu katanya berayah orang India, yang datang ke See-chong atau Tibet,
untuk berniaga, lalu ia masuk kebangsaan Tibet, dia menikah dengan satu nona Tibet, dari
siapa dia peroleh sepasang anak kembar, yang masing-masing berkulit putih dan hitam,
yang romannya luar biasa. Menurut bahasa Hindu tua, iblis jahat dipanggil "mo-ko"
karenanya orang memanggil kedua anak itu, sang kakak Hek Mo-ko dan sang adik Pek Moko. Ayah mereka pandai ilmu silat India, mereka dapat mewariskan kepandaian ayah
mereka itu, yang dicampur dengan ilmu silat Tibet dan Mongolia juga, maka mereka
mempunyai rupa-rupa ilmu silat hingga kesudahannya mereka jadi lihai sekali. Katanya
setelah memasuki umur belasan tahun, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko pergi berpesiar sampai di
Tionggoan dimana kabarnya, di Kwie-ciu (Canton) mereka telah menikah dengan anak
seorang saudagar hartawan bangsa Iran. Untungnya kedua saudara ini, mereka juga pandai
bahasa Tionghoa, Iran, Tibet, dan Mongolia disamping bahasanya sendiri, bahasa India.
Mereka seperti dapat keluar dan masuk tanpa ketentuan.
Di beberapa tempat mereka mempunyai rumah, hingga mereka bisa tinggal dan berdiam
dimana mereka suka. Mereka mempunyai banyak harta dan barang permata, umpama kata
ada pembesar Rimba Hijau rakus yang menginginkan permata mereka, pasti mereka akan
mendapat bagian, setelah disiksa, dia baharu dibinasakan. Maka kaum Jalan Putih dan
Jalan Hitam pandang mereka ini sebagai bintang bencana. Apa sebabnya mereka suka
membawa-bawa barang permata, tidak ada orang yang ketahui jelas, orang cuma bisa
duga, permata itu berasal curian atau memangnya barang dagangan. Tidak ada orang yang
berani menanyakannya. Sedang sebenarnya, mereka adalah tukang-tukang tadah, mereka
bisa beli permata dari begal tunggal, yang mereka biasa jual ke India atau Iran, hingga
mereka menjadi aman. Maka itu, mereka kenal baik banyak begal atau penjahat tunggal.
Demikian, Hon-thian-lui Cio Eng adalah langganan mereka. Empat saudagar, yang malam
itu In Lui lihat, ada pembelinya. Tentu sekali in Lui, juga Thio Tan Hong, tidak ketahui
rahasianya Cio Eng serta tukang tadah itu. Walaupun demikian, Tan Hong tahu tanda
rahasia dari Hek Pek Mo-ko, ialah tengkorak manusia, karena mana, ia kisiki In Lui untuk
lari menyingkir.
Tapi In Lui berpikir lain, bukan dia kabur, dia justeru tersenyum.
"Bukankah tadi kau menyuruh aku menjadi piauwsu?" katanya. "Maka sekarang, tak dapat
tidak, aku mesti menyertai kau!"
Tan Hong percaya orang tak tahu lihainya Hek Pek Mo-ko, ia memikir untuk
menjelaskannya, akan tetapi, untuk itu, ketikanya tidak ada. Untuk itu, ia mesti bicara
banyak. Ia lihat tegas, kedua wanita Iran itu tiap-tiap kali berpaling ke arahnya.
Karenanya, ia jadi mengeluh sendirinya.
"Ah, kau belum tahu lihainya kedua hantu itu" demikian keluhnya dalam hati.
Tan Hong keliru apabila ia menduga In Lui tidak tahu ancaman bahaya, In Lui justeru tak
hendak meninggalkan dia pada saat seperti itu. Ia ingin turut bersama.
Kedua wanita Iran itu jalan di muka untuk memimpin, mereka melalui jalan belukar yang

99

Peng-Cong Hiap-Eng
banyak batunya, di antara pelbagai kuburan, sesaat kemudian tibalah mereka di depan
sebuah kuburan besar luar biasa.
Segera terdengar suara nyaring dari dalam kuburan itu, "Apakah yang datang itu dua bocah
cilik?"
Kedua wanita itu tertawa.
"Benar!" terdengar pula suara dari dalam kuburan itu. "Bawa mereka masuk!"
Satu wanita mendekati pintu kuburan, ia gunakan sebelah tangannya untuk menekan, atas
itu terdengarlah suara berisik pada daun pintu.
"Brak!" demikian terdengar suara nyaring dan berisik, karena daun pintu itu segera rubuh
menggabruk. Dia terus tertawa, dia pun berkata, "Tidak usah kau mengundang lagi, aku
sendiri dapat datang!"
Kuburan itu mempunyai thia, yaitu ruang muka, yang indah perabotannya, yang mirip
dengan ruang suatu istana. Disini dipasang dua puluh empat lilin yang besar, yang membuat
ruangan menjadi sangat terang. Rupanya itu adalah suatu istana di dalam tanah, yang ada
hubungannya dengan dunia luar, karena dengan berada di dalam ruang itu, orang tidak
bernapas sesak.
In Lui segera lihat sebuah meja besar di tengah ruangan itu. Meja itu adalah meja marmer.
Di tengah-tengah meja duduk dua orang, yang romannya benar-benar luar biasa. Rambut
mereka bergelintir, hidung mereka bengkung, muka mereka, yang satu putih meletak, yang
lain hitam legam, hingga perbedaan antara kedua orang itu sangat tegas. Di kedua sisi
mereka duduk masing-masing dua orang Han, yaitu keempat saudagar barang permata itu.
Maka, mengenal mereka itu, In Lui berkata dalam hatinya, "Terang sudah, kuburan ini
mempunyai pintu belakang."
"Apakah mereka berdua ini yang mencuri permata?" Tanya Hek Pek Mo-ko, kedua orang
dengan roman luar biasa itu.
"Itulah yang usianya terlebih tua," sahut satu saudagar. "Yang lebih muda itu ada babah
mantunya Cio Eng, dia tidak turut mencuri, dia malah telah menolongi kami dengan
membebaskan kami dari bekas totokan."
Hek Moko manggut.
"Kau berdiri di pinggir!" kata dia pada In Lui, tangannya menunjuk.
Tapi In Lui membangkang.
"Aku datang bersama-sama dia," katanya. "Kenapa aku mesti berdiri di pinggir?"
Pek Moko kerutkan alisnya.
"Bocah cilik, kau tidak tahu apa?" katanya.
Hek Moko menuding Tan Hong.
"Eh, bocah gede, besar nyalimu!" katanya. "Kenapa kau berani datang-datang ke Hek-sek-

100

Peng-Cong Hiap-Eng
chung untuk mencuri permata dan melukai orang? Kenapa kau pun berani menghajar rubuh
pintuku ini? Apakah kau anggap kami dapat dibuat permainan?"
Thio Tan Hong tidak menjawab, dia hanya balik menanya.
"Berapa lama sudah kamu sampai di Tionggoan?" demikian pertanyaannya.
"Apakah maksudmu?" Tanya kedua hantu ini, dengan murka.
"Pernahkah kamu dengar satu pepatah Tionghoa yang mengatakan dendam ada kepalanya,
hutang ada tuannya?" Tan Hong tanya pula. "Jangan kata aku memang tidak pergi ke Heksek-chung untuk mencuri, taruh kata benar apa hubungannya dengan kamu berdua? Cio Eng
toh tidak menginginkan kamu yang campur tahu perkara itu?"
Muka kedua hantu itu mendadak berubah.
Thio Tan Hong tak menggubris, ia hanya menambahkan, "Adalah kamu yang mencuri kuda
kami, kenapa sekarang kamu herankan yang aku hajar rusak daun pintumu? Lagi pula
tempat ini bukannya tempatmu, tempat ini adalah tempat orang mati!"
"Apakah kamu kira cuma kamu sendiri yang boleh menguasai lain orang?" Tan Hong
tertawa. "Aku lihat, lebih baik kau tutup rapat pintu kuburanmu ini, jangan kau pergi
keluar lagi!"
"Apa katamu?" tegaskan Pek Moko, si Hantu Putih.
"Ini adalah kuburan suatu pangeran!" kata Tan Hong.
"Ia ada pangeran dari kerajaan Chin. Habis kau hendak apa?" tanya Pek Moko.
"Ada pepatah yang mengatakan. Menutup pintu besar untuk menjadi raja" sahut Thio Tan
Hong, "maka itu jikalau sekarang kamu tutup kuburan ini, bukankah kamu pun boleh
menjadi raja, sedikitnya kamu bisa menjadi pangeran Chin! Sebenarnya, untuk menjadi
raja tidak ada artinya."
Murka kedua hantu itu dipermainkan secara demikian. Tanpa terlihat gerakan mereka,
tahu-tahu mereka sudah mencelat dari kursi mereka masing-masing sampai kepada Tan
Hong, empat tangan mereka menyambar ke arah batok kepala orang.
In Lui terkejut hingga ia keluarkan seruan tertahan.
Menyusul sambaran empat tangan itu, terlihatlah berkelebatnya satu sinar putih bagaikan
rantai. Sebab Thio Tan Hong, dengan kesebatannya, telah hunus pedangnya, yang
berkelebat mirip bianglala.
Kedua hantu Hitam dan Putih ini perdengarkan seruan, "Pedang yang bagus!" Diantara satu
suara "Bret!" terlihat tubuh mereka bergerak-gerak bagaikan bayangan.
Pada saat itu juga terdengar tertawanya Thio Tan Hong, yang menyambungi, "Bagus, bagus!
Hek Moko dan Pek Moko mengerubuti satu bocah!"
Mendengar ejekan itu, kedua hantu itu sudah lantas jumpalitan mundur, hingga di lain saat
keduanya sudah duduk bercokol pula di kursi mereka masing-masing, muka mereka

101

Peng-Cong Hiap-Eng
menyeringai. Mereka ini tidak pandang Thio Tan Hong sebagai tandingan mereka, barusan
mereka menyerang disebabkan hawa amarah mereka yang meluap dengan tiba-tiba, hingga
mereka melakukan sesuatu yang melanggar hokum rimba persilatan. Mereka percaya,
dengan satu kali turun tangan, mereka dapat mencekik si "bocah gede" itu. Tidak tahunya,
meleset dugaan mereka, hingga mereka menjadi malu sendirinya, mereka jadi jengah.
Luar biasa sebat Tan Hong menghunus pedang, cepat sekali ia gerakkan pedangnya itu,
meskipun sekali berkelit, bajunya kena disambar hingga baju itu robek, di lain pihak,
pedangnya sudah memapas kopiah orang sampai rambutnya ikut terpapas pula. Dan
hebatnya, karena perbuatannya itu, Hek Pek Moko pun akan tercela karena mereka telah
menghina orang yang terlebih muda.
Hek Moko, si Hantu Hitam, lantas mengawasi Tan Hong.
"Bagus ilmu pedangmu!" katanya. "Mari, mari kita mencoba-coba!"
Kali ini hantu itu tidak lagi memandang orang sebagai "bocah", ia anggap sekarang boca itu
adalah pantarannya, maka itu, ia telah ubah sikapnya, ia sudah lantas menantang.
Thio Tan Hong tersenyum, ia awasi kedua hantu itu.
"Bagaimana kehendakmu?" ia tanya. "Kamu berdua hendak maju berbareng atau melayani
satu dengan satu? Bagaimana kalau kalah? Dalam hal ini, perlu mengatur terlebih dahulu!"
Hek Moko gusar sekali.
"Kamu berdua, kita juga berdua, tidakkah itu berimbang?" katanya.
Hek Moko kesohor, sekarang ia ingin bertanding satu sama lain, itu artinya ia sudah lantas
merasa agak jeri.
Akan tetapi Thio Tan Hong kata, "Urusanku ini tidak ada hubungannya dengan saudaraku
ini! Adalah aku seorang diri yang akan melayani kami.."
"Jikalau demikian," kata Hek Moko, "baik, aku sendiri yang melayani kau."
Tapi In Lui campur bicara.
"Kita datang berdua, maka itu aku juga hendak melayani kamu!" demikian katanya.
"Bagus, bagus!" Pek Moko turut berbicara, "Jikalau kamu turun tangan berbareng, aku suka
turut menemani kamu!"
"Sudahlah, jangan terlalu banyak omong!" Hek Moko menjadi tidak sabaran. "Aku akan
layani kau seorang!" ia maksudkan Thio Tan Hong, "Jikalau saudaramu tidak turun tangan!
Tidakkah ini jelas?"
In Lui masih hendak bicara, tetapi Tan Hong cegah dia.
"Sudahlah, saudara yang baik! Kau biarkan aku yang mencoba-coba dulu. Umpama kata aku
tidak berdaya, baharulah kau turun tangan. Apakah itu tidak terlambat?"
Hek Moko tidak perdulikan kedua saudara itu sedang berebut omong, ia ulurkan sebelah

102

Peng-Cong Hiap-Eng
tangannya ke arah tembok, dari situ ia menarik sebatang tongkat kemala, yang
mengeluarkan sinar terang bercahaya hijau, setelah itu ia berbangkit dari kursinya, ia
bertindak ke ruang yang lega.
"Mari, mari!" ia menantang. "Jikalau aku menang maka kuda dan permatamu, semua itu
akan menjadi kepunyaanku!"
"Jikalau kau yang kalah, bagaimana?" tanya Tan Hong.
"Jikalau aku yang kalah, maka tempat ini akan menjadi kepunyaanmu!" hantu itu berjanji.
Kuburan itu adalah tempat Hek Pek Moko menyimpan harta besar mereka, di antaranya
ada barang berharga yang hampir semahal sebuah kota. Hek Moko anggap, taruhan ini
adalah taruhan yang pantas sekali.
Akan tetapi Thio Tan Hong berpikir lain. Dia tertawa.
"Siapa kesudian menjadi tuan dari guha hantu ini!" katanya mengejek.
"Habis, apa yang kau kehendaki?" tanya si Hantu Hitam.
"Kau mesti obati kuda kami hingga sembuh!" dia menjawab.
Hek Moko juga tertawa bergelak.
"Inilah gampang!" jawabnya. "Aku biasa berdagang, aku hargakan perkataanku. Baik kita
omong secara pantas. Aku pun tidak menginginkan bendamu. Di antara banda kita, sukar
untuk menetapkan harganya. Sekarang terserah kepadamu! Nah, majulah!"
Thio Tan Hong lantas rapikan dandanannya. Ia loloskan baju panjangnya, yang kena dirobek
kedua hantu itu.
"Dengan dandananku ini, aku mirip dengan satu pengemis."katanya, yang terus merobek
baju panjangnya itu. Ia sekarang dandan dengan singset, nyata ia telah pakai baju kutang
yang tersulamkan dua ekor naga emas tengah bertarung di tengah laut yang bergelombang.
Di antara cahaya lilin, baju kutang itu nampaknya indah.
In Lui lihat baju kutang itu, ia heran.
"Apakah benar di Mongolia juga ada sulaman Souwciu?" tanya ia pada dirinya sendiri. Tapi
ia tak sempat berpikir lama, atau pertandingan sudah lantas dimulai.
"Kau yang mulai!" Tan Hong tantang lawannya, setelah ia selesai dandan dan beri hormat
sambil menjura.
Hek Moko dapat kesan baik untuk kelakuan dan kesopanan orang itu, ia merasa puas hingga
ia tersenyum, akan tetapi meskipun demikian, denan tiba-tiba saja ia mulai dengan
serangannya, tongkatnya menyambar ke arah muka.
Thio Tan Hong tidak menjadi kaget karena serangan mendadak itu, malah dengan gesit ia
telah angkat pedangnya, untuk menangkis, hingga tidak ampun lagi, kedua senjata telah
beradu satu sama lain hingga terdengar suara yang keras dan nyaring. Sinar pedang pun
menyilaukan mata.

103

Peng-Cong Hiap-Eng

***

In Lui terperanjat melihat bentroknya kedua senjata itu.


"Aku tidak sangka, tongkat kemala itu, ada barang mustika juga," pikirnya.
Kedua senjata seperti menempel satu dengan lain, karena masing-masing tidak menarik
kembali tangan mereka, sebaliknya, mereka saling menekan.
Kedua pihak berdiri tegak dengan kuda-kuda mereka, keduanya sama-sama empos
semangat, untuk mengerahkan tenaga mereka. Karena ini, dalam sekejap saja, keduanya
mulai mengalirkan keringat di jidat mereka.
Tegang hati In Lui menyaksikan pertempuran adu tenaga dan keuletan itu.
"Secara begini, tidakkah keduanya akan sama-sama bercelaka?" demikian ia pikir pula. Ia
jadi berkuatir.
Tak lama kemudian terdengar seruan Hek Moko, tubuh siapa terus mencelat. Menyusul itu
terdengar pula suara kedua senjata.
Di pihak lain Thio Tan Hong pun mencelat mundur, dengan begitu, senjata mereka jadi
terlepas dan terpisah. Selagi lompat, Tan Hong perdengarkan seruan, "Celaka!"
In Lui terkejut hingga hendak ia hunus pedangnya, Cuma sebelum ia sampai berbuat
begitu, ia segera dengar tertawanya Tan Hong.
"Tidak apa, tidak apa!" demikian Tan Hong buka mulutnya. "Kiranya kau adalah seekor
keledai tua! Sekian lama senjata kita sudah bentrok tapi kau tidak mampu berbuat suatu
apa! Haha haha! Namamu kosong belaka! Nyata kau tidak sanggup memukul mundur satu
bocah! Hahahaha! Haha haha!"
Suara tertawa itu belum berhenti atau Hek Moko, dalam murkanya yang hebat, sudah
berseru nyaring sekali.
"Bocah, kau tidak tahu mampus!" Lalu tubuhnya mencelat maju, sinar hijau dari
tongkatnya pun berkelebat, sinar itu menyambar ke arah jidat si orang she Thio.
Sebenarnya In Lui ingin tertawa mendengar kata-kata Tan Hong, tapi ia terhenti di tengah
jalan, sebaliknya ia menjerit, "Oh!" disebabkan serangan si hantu yang sangat dashyat itu.
Tiba-tiba terdengar pula tertawa nyaring dari Tan Hong yang terus berkata dengan keras,
"Lihat, lihat! Si bocah akan kemplang kepala si keledai tua!"
Atas datangnya serangan dashyat itu, Tan Hong menyamping satu tindak, sambil mundur ia
angkat pedangnya, dengan itu ia membalas menabas ke arah lengan orang.
Hek Moko pun sangat awas dan gesit sekali, lekas-lekas ia tarik kembali tangannya.

104

Peng-Cong Hiap-Eng

Tan Hong tahu orang lihai, sengaja ia mainkan lidahnya guna membikin orang mendelu. Ia
dapat menduga, Hek Moko mulanya tidak pandang mata padanya, maka ia dipanggil bocah,
dari itu, sengaja ia gunakan perkataan bocah itu untuk membuat orang panas hati. Dalam
hal ini, ia berhasil membakar hatinya si Hantu Hitam.
Menuruti hawa amarahnya, Hek Moko menyerang pula, secara kalap. Bukan main
gencarnya serangan itu. Terang ia lupa pantangan bergusar untuk orang yang tengah
berkelahi, nyata ia sudah kena terjebak lawannya itu.
Satu kali Tan Hong menabas lengan orang, untuk herannya, pedangnya merosot di antara
lengan itu. Ia tidak tahu, lawannya mempunyai ilmu silat India yang dinamakan jie-kee,
yang membuat lengannya jadi kuat dan licin.
Gusar Hek Moko karena serangan itu, hingga dia berteriak, Bocah, akan aku adu jiwaku
dengan jiwamu! Terus saja dia lompat sambil menyerang dengan tongkatnya.
Dengan berani Tan Hong tangkis serangan itu, lalu ia membalas.
Hek Moko berlaku cerdik, ia berkelit sambil lompat jumpalitan, waktu ia menaruh kakinya
di lantai, ia barengi dengan merubuhkan diri, kemudian menyusul itu, dengan
kesebatannya, ia balas menyerang, ujung tongkatnya menyambar lawannya, yang ia sodok
hebat sekali.
Untung bagi Tan Hong, ia telah berlaku waspada, jeli matanya, lincah gerakannya, maka
itu ketika serangan sampai, ia sempat egoskan tubuhnya. Tentu saja, ia pun tidak mau
diam, habis berkelit, ia maju menyerang.
In Lui telah saksikan satu pertarungan yang dashyat sekali. Kedua belah pihak tidak mau
menyerah satu pada lain, itulah yang hebat. Sinar hijau dari tongkat kemala seperti
bersaing dengan sinar putih dari pedang. Kalau si Hantu Hitam nampaknya ganas, lawannya
berlaku tenang, sekarang ini tidak lagi si orang she Thio bersenyum-senyum, sebaliknya, ia
berlaku sungguh-sungguh.
Sebenarnya Hek Moko telah bersilat dengan ilmu tongkat Thian-mo-thung, Tongkat
Iblis, ia andalkan ilmu tongkatnya itu, akan tetapi kali ini, ia kecele. Sudah seratus jurus
lebih ia layani Tan Hong, sama sekali ia tidak peroleh hasil, maka akhirnya, ia sedot hawa
dingin.
Pek Moko, si Hantu Putih, telah saksikan pertempuran itu, ia lihat saudaranya berkecil
hati, tetapi karena di antara mereka sudah ada janji, tidak bisa ia nyerbu ke dalam
kalangan, untuk membantu saudara itu. Maka ia Cuma bisa menonton saja.
Selagi pertempuran berjalan terus, tiba-tiba terdengar suara ayam berkokok dan burungburung berkicau di luar kuburan. Itulah tanda bahwa sang malam sudah lewat dan sang
fajar telah datang menggantikan tugas alam.
Hek Moko menjadi tegang sendirinya, karena ia tidak dapat peroleh hasil, saking
penasaran, ia coba menyerang dengan terlebih dashyat pula, hingga pertarungan menjadi
lebih hebat.
Thio Tan Hong berlaku tenang, ia tidak biarkan dirinya dipengaruhi kekalapan orang. Ia
berlaku waspada, matanya awas, gerakannya sebat. Ia menangkis dan berkelit dengan
beraturan. Ia membalas menyerang setiap ada ketikanya.

105

Peng-Cong Hiap-Eng

In Lui terus menonton dengan hati tertarik. Sejak masih kecil ia telah belajar silat kepada
Hui-thian Liong-lie Yap Eng Eng, karena sekarang ia telah berusia tujuh belas tahun, tepat
lamanya sepuluh tahun ia menuntut ilmunya itu. Di samping itu, berkat didikan gurunya, ia
juga kenal pelbagai ilmu silat pedang dari lain kaum, hingga ia bisa dianggap sudah ulung
juga. Hanya kali ini, heran ia atas ilmu pedangnya Thio Tan Hong. Ia sudah mengawasi
begitu lama, ia telah memperhatikannya dengan seksama, tapi tidak juga ia ketahui, dari
golongna mana ilmu silat pedang itu. Ia merasa ada persamaannya dengan ilmu pedangnya
sendiri, ia pun merasakan ada perbedaannya. Ia merasa seperti pernah lihat ilmu silat itu,
akan tetapi tak pernah ia dengar gurunya menceritakannya. Karenanya, ia jadi bersangsi,
ia jadi heran.
Ah, mestinya ada hubungannya antara ilmu pedang itu dengan ilmu pedangku, akhirnya
In Lui ambil kesimpulan sesudah ia mengawasi pula sekian lama. Karena ini, ia seperti
tenggelam dalam pikirannya sendiri, hingga ia tidak perhatikan jalannya pertempuran.
Tiba-tiba saja ia ingat kata-kata gurunya pada malam sebelum ia turun gunung.
Hari itu adalah malam Tiesek, satu malam sebelum tahun baru, di puncak bukit Siauw Han
San di Su-coan Utara, di dalam sebuah guha batu, dinyalakan dua belas batang lilin besar.
Dan lilin itu sama rupanya dengan lilin yang ia saksikan sekarang. Ketika itu, di antara
cahaya lilin, yang mengitarinya ada duduk seorang wanita dari usia pertengahan serta satu
nona yang cantik sekali bagaikan bunga. Mereka itu adalah Hui-thian Liong-lie Yap Eng Eng
dan murid satu-satunya yang dia sayangi, ialah In Lui. Di dalam guha itu telah disediakan
barang makanan, tetapi bukan untuk pesta menyambut tahun baru, hanya guna perjamuan
perpisahan antara guru dan muridnya itu. Pelajaran si nona dianggap sudah sampai pada
batasnya dan sang guru menitahkan muridnya turun gunung, untuk mencari pengalaman. In
Lui terima titah itu, besoknya hendak ia meninggalkan rumah perguruan.
Dari gurunya itu, In Lui telah ketahui asal-usulnya, tentang sakit hati yang hebat sekali,
bagaikan laut yang berdarah. Ia senantiasa memikirkannya, ia selalu memikir untuk
melampiaskannya. Untuk itu ia mesti turun gunung. Untuk itu perlu ia sempurnakan dahulu
ilmu silatnya. Adalah di luar sangkaannya, sang guru menjamu ia malam itu dan ia
diharuskan turun gunung besok paginya. Kenapa guru itu tidak menyebutkannya,
menerangkannya, sejak siang-siang? Kenapa demikian mendadak?
Maka itu, selagi menerima titah, In Lui berpikir, pada wajahnya tampak roman heran.
Yap Eng Eng telah lihat tegas roman muridnya itu, ia diam saja, cawan demi cawan ia
keringkan dan setelah menghabiskan yang ketiga, tiba-tiba ia menghela napas.
Satu tahun akan dilewatkan dalam satu malam, katanya, perlahan. Pada dua belas
tahun yang lampau telah aku antarkan satu orang, bukan, hanya telah aku usir, dan pada
malam ini, kembali hendak aku mengantar kau pergi
In Lui berdiam. Tak mengerti akan kata-kata gurunya itu, kata-kata yang ia anggap tidak
keruan juntrungannya. Ia melainkan awasi gurunya itu.
Habis mengucap, Hui-thian Liong-lie menghela napas pula, terus ia tatap muridnya.
Dengan sekonyong-konyong ia berkata kepada muridnya itu, Setelah kau turun gunung,
kalau nanti kau tiba di Mongolia, apabila kau menemui seseorang, kau katakan padanya
bahwa aku menyuruh dia pulang
Siapakah orang itu, Suhu? tanya In Lui, setelah ia berdiam sekian lama.

106

Peng-Cong Hiap-Eng

Ditanya muridnya, tiba-tiba Hui-thian Liong-lie tertawa. Setelah itu, segera wajahnya
menjadi merah.
Itulah Sam-supehe Chia Thian Hoa mu, katanya, dengan perlahan. (Sam-supee ialah
paman guru lebih tua yang ketiga)
Sam-supee Chia Thian Hoa? In Lui ulangi. Bukankah samsupee telah pergi ke Mongolia
untuk menolongi aku membalas dendam kakekku, ialah guna membinasakan Thio Cong
Ciu?
Benar! sahut sang guru. Ketika dia pergi ke Mongolia, itu adalah kejadian pada sepuluh
tahun yan glalu, akan tetapi waktu dia berpisah dari aku, itu ada pada malam seperti ini
pada dua belas tahun yang lampauIlmu silatnya sudah sempurna, dia pun pendiam tetapi
cerdas. Dia mengatakan dia hendak membalas sakit hati kakekmu, pasti dia telah
mewujudkan maksud hatinya itu, malah untuk itu, tak usah dia tunggu sampai sepuluh
tahun
Kalau begitu, kenapa setelah pergi sepuluh tahun lamanya, dari dia tidak ada kabar
ceritanya? tanya In Lui.
Sang guru menghela napas pula.
Aku duga ia memang tidak berniat kembali, sahutnya.
Kenapa begitu, suhu?
Sang murid benar-benar tidak mengerti.
Hui-thian Liong Lie tidak menjawab, ia hanya menyimpang.
Semua ilmu silat pedang dari pelbagai partai telah aku ketahui, berkata guru ini. Partai
banyak sekali jumlahnya. Melainkan satu macam ilmu pedang dari satu partai, belum
pernah aku melihatnya. Kau katakana, tidakkah ini aneh?
In Lui berdiam, akan tetapi hatinya berpikir. Memang jumlah partai ada sangat banyak,
dari itu apa yang dibuat heran kalau ada ilmu silat suatu partai yang belum diketahui. Akan
tetapi, setelah ia dengar lebih jauh perkataan gurunya, ia menjadi heran sekali, hingga ia
terkejut.
Dengan sungguh-sungguh, guru itu menambahkan, Itu adalah ilmu silat pedang dari kaum
kita sendiri.
Karena herannya, In Lui jadi melongo.
Ketika itu, api lilin di dalam ruangan tengah memain, dalam keadaan seperti itu, teringat
In Lui pada gurunya, pada kata-kata gurunya itu. Ia seperti nampak pula wajah menyesal
dari gurunya. Ketika itu, ia telah minta penjelasan pada gurunya. Dan gurunya itu
menjawab, Kau tidak tahu, pelajaranmu sekarang ini memang ada dari partai kita, akan
tetapi sebenarnya, apa yang kau dapatkan baru sebagian, separuhnya.
Bagaimana, suhu? In Lui ingat ia telah menanya gurunya, karena benar-benar ia sangat
tidak mengerti. Bukankah aneh yang ia baharu dapat kepandaian separuhnya saja.

107

Peng-Cong Hiap-Eng

Hui-thian Liong-lie telah memberikan keterangan terlebih jauh kepada muridnya itu.
Duduknya hal adalah disebabkan tabeat dari Hian Kee It-su, yaitu couwsee atau kakek guru
In Lui. Kakek guru ini diantaranya mempunyai dua macam ilmu pedang Ban-liu Tiauw-hay
Goan Goan Kiam-hoat atau ringkasnya Goan Goan Kiam-hoat dan Pek-pian Im-yang
Hian Kee Kiam-hoat. Dan kedua ilmu pedang itu diturunkan masing-masing kepada guru
dan paman guru yang ketiga dari In Lui. Namanya saja mereka telah mewariskan penuh,
sebenarnya baharu separuh. Kakek guru itu memberi penjelasan bahwa dengan susah
payah ia telah meyakinkan kedua ilmu pedang itu, yang tidak dapat berbareng diwariskan
kedua-duanya kepada satu murid saja.
Menurut kakek itu, bila kedua ilmu pedang dipadu satu dengan lain, maka Goan Goan
Kiam-hoat dapat diumpamakan sebagai naga tidur dan Hian Kee Kiam-hoat bagaikan
burung hong. Katanya, kalau kedua ilmu pedang diyakinkan oleh satu orang, akibatnya
adalah ancaman marah bahaya. Maka itu kedua muridnya dilarang saling mengajarkan satu
kepada lain.
Selagi pikiran In Lui melayang kepada hal kedua ilmu pedang itu, tiba-tiba ia dengar Thio
Tan Hong tertawa berkakakan, yang mana disusul dengan seruan Pek Moko. Ia terkejut,
segera ia awasi kedua orang yang tengah bertempur itu. Nyata tertawa dan sesruan itu
disebabkan mereka menghadapi saat yang berbahaya. Pek Moko telah menyerang secara
dashyat, tongkatnya menyambar melintang, tapi serangan itu tak memberi hasil,
sebaliknya, ia kena ditikam pada iganya oleh Thio Tan Hong. Maka Tan Hong tertawa dan ia
berseru. Karena ini, tidak berani Pek Moko berlaku sembarangan lagi.
Mengawasi gerak-geriknya Thio Tan Hong, tiba-tiba In Lui sadar, Bukankah ilmu pedang
Tan Hong ini ada ilmu pedang yang guruku belum pernah lihat dan pelajarkan? Mungkinkah
selama di Mongolia, samsupee telah mendapatkan satu murid? Inilah kepandaian yang tak
nanti bisa didapatkan kecuali dengan menyakinkan belasan tahun. Samsupee bertujuan
mewakilkan kakekku membalas dendam, tidak mungkin begitu ia tiba di Mongolia lantas ia
terima murid.
Lantas In Lui ingat juga surat dari paman gurunya yang kesatu, yaitu Toasupee Tang Gak,
surat yang dikirim kepada Kim Too Ceecu Ciu Kian. Maka berpikirlah ia terlebih jauh,
Kabarnya samsupee telah ditawan musuh dan telah dipenjarakan di dalam istana bangsa
Tartar, maka itu mana bisa terjadi dalam tempo yang pendek ia telah menerima murid
dalam istana Mongol itu? Dan umpama kata benar ia terima murid, pastilah bukan bangsa
Han yang ia terima. Sebenarnya bagaimanakah duduknya hal?
Maka ia menjadi sangat bingung.
Guruku sangat puji kepandaian samsupee dan katanya samsupee bertabiat sangat keras,
apa yang dia katakana mesti dia jalankan, maka itu setelah ia berjanji akan mencari balas
untuk kakekku, pastilah sakit hati itu sudah terbalaskan, malah tentu telah dijalankan
sebelum sampai sepuluh tahun
In Lui berpikir demikian, ia tidak tahu, sampai pada saat itu, Thio Cong Ciu masih ada di
Mongolia, musuh itu masih hidup dan berkuasa besar, sedang samsupeenya, paman guru
yang ketiga itu, entah bagaimana nasibnya.
Di kepala In Lui segera terbayang keadaan pada malam perpisahan itu. Ia bayangkan
gurunya minum puas-puasan, dengan memakai cawan yang besar pula, sampai tanpa

108

Peng-Cong Hiap-Eng
merasa, guru itu sinting. Adalah waktu itu, sang guru telah menggulung tangan bajunya
hingga pada lengannya tampak tapak luka bekas guratan pedang, yang merupakan
setangkai bunga merah. Dengan sedih, guru itu berkata pada muridnya, Anak Lui, satu
manusia tak dapat dia umbar adatnya. Siapa yang umbar adatnya, satu kali dia berbuat
salah, dia akan menyesal sesudah kasip. Pada dua belas tahun yang lampau, aku telah
mengusir samsupeemu, setelah itu setiap malam Tie-sek, aku jadi menyesal dan berduka
sekali, sakit hatiku bagaikan disayat-sayat, sampai tak dapat aku bertahan, aku hunus
pedang Ceng-beng-kiam dan mengguratnya di lenganku ini. Hahaha! Nyata itu adalah obat
mujarab sekali! Begitu aku merasa kesakitan, begitu juga kedukaanku menjadi berkurang,
lalu aku gurat-gurat menjadi tangkaian bunga ini.Kau lihat! Tidakkah bunga merah ini,
bunga darah, ada indah?
Ketika In Lui coba menghitung guratan bunga itu, benar jumlahnya ada dua belas, tanpa
merasa, ia bergidik. Selagi ia tercengang, ia dengar gurunya melanjutkan kata-katanya,
Sudah sepuluh tahun kau ikuti aku, untuk belajar silat, selama itu belum pernah kau
dengar aku tuturkan kau lelakon ini. Kau tahu, pada tiga belas tahun yang lampau, aku
mirip dengan kau, aku adalah satu nona yang bergembira, malah aku ada terlebih bebas,
hingga dengan merdeka dapat aku turuti adatku. Umpama ada sesuatu yang aku tidak
ketahui, mesti aku gunakan segala daya untuk mencari tahu. Suhu melarang kita saling
mengajari ilmu kepandaian, sampai di waktu berlatih kita dipisahkan, tetapi semakin keras
larangan guru, sesmaki keras juga niatku untuk mengetahui keanehan itu. Thian Hoa dan
aku ada bagaikan saudara kandung, maka dapatlah kau mengerti adanya persahabatan
kita. Kakek gurumu mempunyai lima murid, kecuali ayahmu, In Teng yang keluar dari
perguruan sebelum tamat dan pergi ke Mongolia, kita berempat telah mendapatkan
masing-masing satu macam ilmu kepandaian. Maka itu, sekeluarnya kita dari rumah
perguruan, seolah-olah mempunyai satu partai tersendiri. Sudah kukatakan, pergaulanku
dengan Thian Hoa adalah yang paling rapat, maka selama beberapa hari telah aku desak ia
supaya ia perlihatkan ilmu kepandaiannya itu, tapi ia selalu menampiknya. Sebetulnya
tidak ada niatku akan pelajari kepandaiannya itu, aku melainkan ingin melihatnya, guna
menambah pengetahuan. Biasanya Thian Hoa selalu menuruti kehendakku, tapi bila kita
bicara tentang ilmu kepandaian, lantas ia bungkam. Pernah pada malaman tahun baru ia
datang padaku di gunungku ini, Siauw Han San, selagi pasang omong, aku kembali minta ia
mempertunjukkan ilmu silatnya itu, aku malah mendesak. Atas desakan itu, ia tetap pada
sikapnya seperti dahulu, ia Cuma tertawa, tak mau ia menjawabnya. Aku menjadi tidak
senang, hingga aku tegur padanya. Aku katakana padanya kau mengatakan bahwa kau
sangat sayangi aku, nyata semua itu palsu belaka! Ditegur begitu, pucat mukanya,
beberapa kali bibirnya bergerak, tetapi akhirnya, tetap ia membungkam. Dalam sengitku,
aku cabut pedangku, aku tikam dia pada dadanya. Adalah maksudku mengancam dia
supaya dia menangkis dengan ilmu silatnya yang ingin aku lihat itu, tapi dugaanku meleset.
Dia nyata tidak berkelit juga. Maka pedang yang tak sempat aku tarik kembali, sudah
mengenai lengannya, hingga darahnya menetes jatuh ke salju yang putih meletak, hingga
salju itu jadi bercacat dengan titik-titik merah, mirip dengan permata mulus bertotolkan
merah sebesar kacang kedele. Aku melengak. Selagi aku berdiam, tiba-tiba dia tutup
mukanya, ia menjerit satu kali, habis itu, tanpa perdulikan lukanya, dia lari turun gunung.
Beberapa hari sejak itu, kakek gurumu datang padaku, dia umbar hawa amarahnya
terhadapku, hampir saja dia hajar mati padaku, syukur toasuheng yaitu toasupeemu, yang
datang bersama, dapat mencegah dan membujuk padanya, dengan begitu baharulah aku
bebas dari kematian. Meski begitu, aku telah dihukum batin, yaitu selama lima belas
tahun, aku dimestikan bertapa menghadap tembok, selama lima belas tahun itu, aku
dilarang turun gunung, tak boleh sekalipun dengan mencuri berlalu. Selama lima belas
tahun itu, aku diperintahkan melakukan dua hal. Kesatu aku dimestikan mempelajari dua
rupa ilmu silat yang paling sulit untuk diyakinkan. Kedua aku dimestikan mendidik satu
murid yang mesti pandai ilmu silat pedang Pek-pian Imyang Hian Kee Kiam-hoat . Untuk

109

Peng-Cong Hiap-Eng
mendapatkan murid itu, suhu titahkan orang-orang kamu kita tolong mencarikannya.
Padaku diberitahukan, apabila aku telah selesai melakukan dua hal itu, muridku akan
diberikan pedang Ceng-beng-kiam. Sekarang sudah dua belas tahun, belum dapat aku
selesaikan dua rupa ilmu silat itu. Adalah murid yang mengerti ilmu pedang Hian Kee Kiamhoat telah aku berhasil mendidiknya.
Adalah mendengar keterangan itu, In Lui baharu mengerti kenapa Hui-thian Liong Lie Yap
Eng Eng, gurunya itu, telah mengambil ia sebagai muridnya.
Waktu itu, gurunya masih menerangkan lebih jauh, Kau tahu, pergaulanku dengan
Toasuheng Tang Gak juga ada baik sekali. Tiga tahun setelah perkaraku itu, pada suatu
waktu atas titahnya kakek gurumu, dia pergi ke perbatasan Mongolia dan Tibet untuk suatu
tugas. Belum lama sekembalinya dia dari Tibet, kembali dia lakukan perjalanan yang kedua
kali. Kali ini, sebelumnya dia berangkat, dia ambil tempo untuk sambangi aku. Dia nasihati
aku untuk bersabat, akan menyakinkan ilmu silat di atas Siauw han San. Dia kata, mungkin
karena kesabaranku, aku peroleh keberuntungan. Dia tanya aku tahukah kenapa suhu
melarang demikian keras kau dan sutee Thian Hoa saling menukar kepandaian? Tahukah
kau kenapa suhu jadi demikian gusar? Atas itu aku jawab mana aku tahu? Apa yang aku
ketahui, adalah kebiasaan suhu yang ia suka melakukan sesuatu yang berada di luar
sangkaan. Hanya pernah satu kali aku dengar suhu berkata, kedua ilmu silat itu bagaikan
naga tidur dan burung hong, bahwa naga dan burung hong tak dapat berada bersama-sama
pada satu majikan, bahwa bila berada bersama mereka berdua dapat mendatangkan
bencana. Rupa-rupanya itu adalah suatu ramalan dari suhu, kata-katanya aku tidak
mengerti. Mendengar keteranganku toasuheng tertawa. Dia tanya aku tahukah kau
bahwa pada dua puluh tahun yang lalu, suhu pernah berebut kedudukan kepala Rimba
Persilatan dengan satu hantu? Bahwa karena itu, suhu dan hantu itu sudah bertempur di
puncak gunung Ngo Bie San selama tiga hari dan tiga malam tanpa ada keputusan siapa
menang dan siapa kalah? Aku jawab aku tahu Memang aku ketahui tentang pertempuran
suhu itu. Toasuheng lantas menjelaskan pula Hantu itu adalah seorang she rangkap Siangkoan, namnya Thian Ya. Dia adalah satu begal besar dari Rimba Hijau. Setelah
pertempuran itu, Siangkoan Thian Ya lantas menghilang, orang tak tahu dimana ia
sembunyikan diri. Sejak itu, selama dua puluh tahun suhu tak pernah berhati tenang
mengenai hantu itu. Begitulah aku pergi ke perbatasan Mongolia dan Tibet atas titah suhu,
tugasku itu tak lain tak bukan untuk mencari tahu tentang Siangkoan Thian Ya.
Kataku setelah aku dengar penjelasan toasuheng itu Hantu itu sederajat dengan suhu, dia
juga sangat jumawa, maka itu, andaikata benar dia ketahui sepak terjangmu, aku percaya
tidak nanti dia sudi melayani aku, orang dari golongan muda.
Keterangan ini membuat hatiku tetap. Sampai ketika itu, masih belum jelas, bagiku apa
hubungannya urusan suhu itu dengan si hantu dengan soal larangan kita saling menukar
kepandaian, maka karena ingin mengetahui, aku tanya toasuheng. Toasuheng tertawa, lalu
ia menjawab menurut sangkaanku, mungkin suhu menghendaki kau dan sutee Thian Hoa
nanti pergi menghadapi hantu itu, supaya si hantu kena dikalahkan kamu berdua, supaya
kekalahannya itu diketahui oleh orang-orang gagah dari seluruh negara. Rupanya suhu
hendak perlihatkan, tidak usah suhu turun tangan sendiri, cukup dengan murid-muridnya
saja yang mempunyai kepandaian lihai. Terperanjat aku dengan keterangan itu.
Bagaimana itu bisa terjadi, toasuheng? aku kata kalau kepandaiaan kita dipadu dengan
kepandaian suhu, itu adalah seumpama terangnya kunang-kunang dengan sinar matahari
atau rembulan! Mana dapat kita dibandingkan dengan suhu? Suhu sendiri tidak sanggup
mengalahkan hantu itu, sekarang kita yang dititahkan mewakilkan suhu, apa itu tidak sama
saja dengan mengantarkan jiwa? Ah, toasuheng, tidakkah kau tengah bergurau?

110

Peng-Cong Hiap-Eng
Toasuheng tertawa berkakakan, ia kata Jikalau suhu tidak punya kepercayaan, mustahil
dia nanti biarkan kamu pergi untuk mengantarkan jiwa secara Cuma-Cuma. Kau cerdik
sekali, akan tetapi kau tak nanti ketahui maksud suhu!
Waktu itu aku benar-benar tidak mengerti. Toasuheng rupanya dapat melihatnya, maka
toasuheng berkata pula Goan Goan Kiam-hoan itu, bersama-sama Hian Kee Kiam-hoat,
adalah ilmu silat yang suhu ciptakan dan yakinkan dengan susah payah sesudah ia
perhatikan ilmu silat pelbagai partai lainnya, yang semuanya ia gabung menjadi satu. Dari
kedua ilmu silat itu, bila satu saja orang dapat menguasainya, dia sudah menjagoi dalam
dunia kangouw, apalagi kalau orang pandai dua-duanya, maka tak akan ada tandingannya
di kolong langit ini. Apa yang luar biasa dari kedua ilmu pedang itu, bertentangan
nampaknya, sebenarnya ada bersatu. Dua orang tak usah melatih diri lagi, bila
menggunakannya dengan berbareng, asal menggunakannya dengan cocok dan tepat. Maka
aku percaya, inilah sebab mengapa suhu melarang kamu berdua saling menukarnya. Suhu
tentunya kuatir, bila kamu sudah saling mengetahui, pemusatan pikiranmu terpecah.
Tidakkah kemampuan sesuatu orang ada batasnya masing-masing? Kedua ilmu silat itu
sangat sulit, untuk mempelajari yang satu saja, orang harus memusatkan seluruh
pikirannya, atau orang akan gagal. Orang pun membutuhkan tempo lebih daripada sepuluh
tahun. Dari itu, bila mempelajari kedua-duanya dengan berbareng, kesukaran tentu sampai
di puncaknya. Lagi pula harus diingat, kedua ilmu pedang itu diperuntukkan dua orang,
maka itu, tak usah orang mendapatkan dua-duanya. Masih ada satu persoalan. Siangkoan
Thian Ya itu sangat lihai, pasti sekali suhu kuatir dia mengetahui lebih dahulu yang suhu
telah meyakinkan suatu ilmu kepandaian untuk mengalahkan dia.
Baharu sekarang dapat aku menginsafinya. Terang sudah, suhu kuatirkan kita yang masih
berusia muda, menuruti nafsu hati kita yang muda itu. Umpama kalau kita tahu kita bisa
menjagoi, mungkin kita dapat menerbitkan onar. Atau nanti rahasia bocor dan Siangkoan
Thian Ya mengetahuinya, hingga dia bersiap-siap untuk membuat perlawanan. Sampai
disitu, aku tidak menanyakan terlebih jauh lagi.
Pada esok harinya, toasuheng lantas berangkat jauh ke perbatasan Mongolia dan Tibet itu.
Lalu selang dua tahun lagi, Thian Hoa juga pergi ke Mongolia. Aku tahu sekarang, kedua
ilmu pedang itu dapat dipakai bersama-sama, akan tetapi belum pernah aku mencobanya.
Malah pedang dari Thian Hoa itu, satu jurus pun aku tak mengerti.
Itulah semua yang terbayang di kepala In Lui selagi ia awasi kedua orang bertempur
dengan seru dan ulet. Karena ia sangat cerdas, tiba-tiba ia ingat suatu hal. Ia pikir, Kalau
anak muda ini benar-benar sedang menggunakan Goan Goan Kiam-hoat, bila aku turut
turun tangan, tidakkah musuh dapat segera dikalahkan?
Tengan In Lui berpikir demikian, ia dengar seruan Hek Moko, disusul dengan suaranya Thio
Tan Hong, maka ia lantas awasi pula mereka itu. Sekarang ia tampak suatu perubahan. Hek
Moko tidak lagi bergerak dengan lincah dan hebat seperti tadi, sebaliknya, dia ayal
bagaikan dia sedang menarik suatu benda berat seribu kati, tongkatnya bergerak-berak ke
timur dan barat dengan lambat, seolah-olah ia harus menggunakan sangat banyak tenaga.
Di samping si hantu itu, Thio Tan Hong sudah lintangkan pedangnya di depan dadanya,
wajahnya bersungguh-sungguh, terang dia tengah memusatkan semangatnya kepada
tongkat lawan.
Kedua lawan itu masih saling menyerang, tapi sekarang serangannya sama ayalnya. Mereka
bagaikan tengah menghadapi hujan angin hebat yang baharu saja menjadi reda. Sedang
sebenarnya, mereka benar-benar sedang adu kepandaian, mereka tengah memperlihatkan
kelihaian mereka masing-masing. Setiap serangan merupakan serangan dari bahaya maut.

111

Peng-Cong Hiap-Eng

Ilmu pedangnya Thio Tan Hong lihai tapi dia tak dapat menembus pembelaan tongkat
kemala. Menampak itu, In Lui insaf, orang she Thio itu masih kalah dalam hal iweekang
atau ilmu dalam disbanding dengan si hantu, hingga dia agaknya cuma bisa melindungi diri
saja.
Ketika itu matahari dari musim semi sudah mulai naik, cahayanya menembus masuk dari
pintu kuburan yang digempur Thio Tan Hong, yang belum sempat ditutup pula, maka itu,
cahayanya menembus masuk dari pintu kuburan yang digempur Thio Tan Hong, yang, yang
belum sempat ditutup pula, maka itu, cahayanya jadi mengganggu mata, lebih-lebih Thio
Tan Hong, yang matanya tersorot sinar tepat sekali.
Hek Moko dengan tongkatnya mendesak lawannya, serangan tongkat itu tiap-tiap kali
perdengarkan suara angin. Di pihak sana, cahaya pedang dari Tan Hong jadi semakin kecil,
sampai cahaya itu seperti berputaran di atas kepalanya saja. Adalah setelah itu, sambil
berseru keras, si hantu hitam segera turunkan tangan jahatnya ke arah batok kepala orang.
In Lui kaget, sampai ia menjerit, Celaka! Tanpa berpikir panjang lagi, ia menyerang
dengan tiga batang Bwee-hoa Ouw-tiap-piauw.
Justeru itu, Tan Hong pun berteriak, Hiantee, lekas lari!
Ketiga batang piauw menyambar dengan hebat, akan tetapi kesudahannya, tidak ada
hasilnya. Ketiga piauw itu terpental ke lain arah, terkena sampokan pedang dan tongkat
yang sedang bergumul.
Adalah pada waktu itu Pek Moko, si Hantu Putih, yang sedari tadi diam saja, sudah
perdengarkan tertawa yang nyaring, berbareng dengan mana tubuhnya mencelat bagaikan
terbang, menyambar ke arah In Lui, kedua tangannya yang panjang mencengkeram kepala
orang.
In Lui tangkis serangan itu, atau segera ia rasakan pinggangnya kaku, maka dengan gesit ia
lompat sejauh setombak lebih. Ia keluarkan napas lega, dengan lintangkan pedangnya, ia
memasang mata.
Cepat luar biasa, pada tangan Pek Moko sudah tercekal sebatang Pek-giok-thung, tongkat
putih, dengan itu ia ulangi serangannya pada si orang she In ini. Maka itu, berdua mereka
jadi bertempur.
Pek Moko tidak tahu bahwa lawannya mencekal pedang mustika, ia baru terkejut ketika
ujung pedangnya menyambar pundaknya, hingga bajunya pecah, daging pundaknya turut
terluka. Hasil In Lui ini didapat karena ilmu enteng tubuhnya yang dapat bergerak dengan
gesit dan lincah. Meski begitu, ia juga tak luput dari tangan si hantu putih, urat cek-simhiat di bebokongnya telah tersapu. Syukur, karena kedua-duanya sama lihai, luka-luka
mereka tidak berarti, mereka lanjutkan terus pertempuran mereka.
Tongkat Pek-giok-thung dari Pek Moko sama tangguhnya seperti tongkat Lek-giok-thung dari
Hek Moko, asalnya dari batu-batu kemala dari India, di samping itu, tenaga dalam dari si
Hantu Putih ini ada terlebih kuat daripada In Lui, maka itu, mengetahui tenaga besar dari
lawannya tak mau si nona melayani keras dengan keras. Begitu, waktu ia diserang hebat,
ia kelitkan diri.
Pek Moko lihai, ia pun penasaran, ia perhebat serangannya. Ia desak lawannya hingga In

112

Peng-Cong Hiap-Eng
Lui seperti terkurung cahaya putih dari tongkatnya itu. Tongkat itu panjangnya tujuh kaki,
tetapi waktu digunakan, nampaknya seperti bertambah panjang satu tombak.
Dengan tubuhnya yang enteng, In Lui berkelit dan mengegos tak hentinya dari hujan
serangan, tetapi lama-lama ia kewalahan juga.
Adalah di luar dugaan Thio Tan Hong yang In Lui turun tangan, ia menjadi berkuatir untuk
si nona. Itu pun sebabnya mengapa berulang kali ia anjurkan pemuda itu untuk lekas
angkat kaki. Melayani Hek Moko, ia kalah tenaga dalam, ia jadi andalkan ilmu pedangnya
yang lihai, dengan itu, dapat ia bela dirinya. Tapi kalangan pedangnya menjadi ciut, itulah
daya pembelaannya yang istimewa, dengan begitu ia membuat Hek Moko, si lawan, jadi
kewalahan mendesak padanya. Dalam keadaan itu, ia mesti saksikan In Lui, kawannya,
yang juga terdesak musuh. Bagaimana ia tak jadi kuatir? Maka ia lantas kuatkan hatinya,
dengan tiba-tiba ia balas menyerang si Hantu Hitam dengan hebat sekali. Dari terdesak, ia
berbalik mendesak. Ia berpendirian, Untukku In Lui menghadapi bencana, karenanya, tak
dapat aku membiarkan dia terancam, mana boleh aku hidup sendiri?
Hek Moko tertawa terbahak-bahak.
Apakah kamu berdua, bocah-bocah, berniat angkat kaki? katanya secara mengejek. Lalu
ia mencoba mendesak pula. Ia telah lihat In Lui berkelahi, ia percaya Pek Moko,
saudaranya, tidak bakal kalah, dari itu, tabah hatinya untuk kedua pihak bertempur satu
lawan satu.
Selagi ia sendiri didesak, mendadak Thio Tan Hong dengar teriakan gembira dari In Lui.
Nyata nona itu, setelah dia mendesak dengan dua serangannya, berhasil menikam kaki kiri
dan kaki kanan dari si Hantu Putih, tidak perduli tikaman itu tidak membuat orang rubuh.
Hek Moko pun mendesak, ia menyerang hebat, tapi tongkatnya kena disampok terpental,
hingga ia jadi terkejut. Dalam sekejap itu, Tan Hong dan In Lui telah bekerja sama seperti
juga mereka berdua sudah berjanji.
Kurung mereka! Hek Moko berteriak, sambil menganjurkan saudaranya, Ambil jalan lie,
injak jalan sun!
Lie dan sun adalah garis-garis Pat-kwa, Delapan Segi, garis-garis mana sudah dicangkok
ilmu silat untuk tindakan kaki.
Ilmu silat tongkat dari Hek Pek Moko, yang dinamakan Thian Mo Thun atau tongkat Hatu
Langit, juga bisa dipakai bersilat secara bergabung, jadi mirip dengan ilmu pedang Tan
Hong dan In Lui itu. Ilmu silat ini berpokok pada garis-garis dari Pat-kwa, maka juga Hek
Moko perdengarkan anjurannya itu kepada saudaranya. Biasanya, dengan kurungan ini,
kedua hantu itu sukar membuat musuh lolos, tidak perduli lawan tangguh. Mereka berdua
adalah saudara-saudara kembar, yang hatinya atau firasatnya sama.
Pek Moko tahan rasa sakitnya, ia turut anjuran saudaranya, ia maju untuk mengurung,
malah ia berlaku bengis dengan serangan-serangannya.
Pertempuran ini membikin mata keempat saudagar permata menjadi seperti kabur, mereka
ini menonton dengan tubuh seperti terpaku.
Hek Moko menyontek dengan tongkatnya ke arah tenggorokan In Lui. Ia gunakan tipu silat
tongkatnya yang bernama Thian Mo hian ciu, atau Hantu Langit menyuguhkan arak, habis

113

Peng-Cong Hiap-Eng
mana ia meneruskan tusukannya ke lain arah.
In Lui mainkan tipu-tipu silat dari Pek-pian Hian Kee Kiam-hoat untuk menghindarkan diri
dari mara bahaya, mula-mula dengan To coan Im-yang atau Memutarbalikkan imyang, ia
tangkis sontekan itu, lalu ia balas mendesak penyerangnya itu. Tapi hek Moko dapat
selamatkan diri berkat pengalamannya.
Di pihak lain, Pek Moko telah menghajar Thio Tan Hong dengan tongkatnya, apa mau Tah
Hong menangkis, demikian keras, hingga kedua senjata beradu sambil perdengarkan suara
nyaring. Begitu rupa bergeraknya pedang orang she Thio ini, hingga terus menyambar ke
arah leher Hek Moko.
Si Hantu Hitam terkejut, terpaksa ia biarkan In Lui, ia segera tangkis pedang ke arah
lehernya itu. Ia ada cukup sebat untuk menghindarkan diri dari serangan yang tidak
disangka-sangka itu. Setelah ini, ia geser tubuhnya ke garis kian, sedang Pek Moko
menyamping ke garis twee. Secara begini, kedua saudara ini bisa berbareng menyerang
Thio Tan Hong.
Celaka! teriak Thio Tan Hong, yang belum sempat perbaiki dirinya.
Akan tetapi berbareng dengan itu, In Lui telah siap dengan tangkisannya, hingga dapat ia
talangi kawannya itu, hingga Tan Hong jadi bebas dari ancaman. Malah setelah itu, dengan
bergeraknya kedua pedang itu, adalah Hek Pek Moko yang menjadi repot.
Bagus! teriak In Lui, air muka siapa menjadi bercahaya terang. Sepasang pedang telah
bergabung, benar lihai! Dan kembali ia menyerang, ditimpali serangan Tan Hong, hingga
kedua pedang bergerak-gerak bagaikan naga lincah sampai kedua hantu itu mesti
berulang-ulang mundur.
Thio Tan Hong merasa sangat heran, ia menjadi bercuriga, ketia ia mengawasi si nona,
yang ia lirik, In Lui tertawa.
Lihat! kata pemuda itu. Bukankah tidak kecewa aku menjadi pelindungmu? Tak dapat
kita memberi ampun, mari kita maju bersama!
Luar biasa gembiranya nona ini, hingga ia ucapkan kata-kata maju bersama dalam arti
pundak rata ialah kata-kata kaum kang-ouw yang ia peroleh dari Ciu San Bin.
Tan Hong kaget dan heran, ia juga merasa lucu. Tapi ia turut anjuran orang, ia ulangi
desakannya, karena mana, Hek Pek Moko mesti keluarkan seluruh kepandaiannya guna
membela diri mereka, walaupun demikian, tetap mereka kena dibikin repot.
Bagus, bagus! berkata Tan Hong kemudian. Dengan kita bekerja sama, benar-benar kita
ada bagaikan batu permata yang digabung menjadi satu!
Mendengar kata-kata orang itu, In Lui terkejut hingga tanpa merasa wajahnya menjadi
merah. Tapi ketika ia tampak Tan Hong tertawa bergelak-gelak dan pedangnya dimainkan
hebat sekali, ia tidak dapat anggapan jelek mengenai kawan ini, sebab nyata si kawan
bukannya hendak berlaku ceriwis menggoda ia. Sambil tertawa, Tan Hong terus mengawasi
Hek Pek Moko, yang ia rangsek.
Kedua hantu berkelahi dengan ambil kedudukan Pat-kwa, kalau tadinya mereka menang
diatas angin, sekarang setelah kedua pedang bergabung menjadi satu, mereka terus

114

Peng-Cong Hiap-Eng
terdesak, mereka jadi repot sekali, hingga mereka kewalahan melayani runtunan serangan
lawan.
Sanngat rapi desakan In Lui dan Tan Hong, ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah,
semua serangan mereka ada hubungannya satu dengan lain, pedang mereka bergerakgerak bergelombang, saling susul, naik dan turun.
Heran Hek Pek Moko, tidak perduli mereka telah luas pengalamannya, mereka umpama
kata menjadi bengong dengan mulut ternganga. Maka itu tidak heran kalau Pek Moko
kembali terkena satu tusukan, dan Hek Moko kena dipapas gelang emasnya untuk
menggelung rambutnya.
Akhirnya Hek Moko menghela napas panjang, ia kata, Ini dia yang dikatakan tua bangka
umur delapan puluh tahun kena dipermainkan bocah cilik. Sudah, sudahlah! lantas saja,
dengan mendadak, ia tarik Pek Moko, untuk diajak lompat keluar kalangan, sedang
tongkatnya, ia lintangkan. Ia pun terus berseru, Kamu menang! Tempat ini dapat kamu
kuasai!
Kata-kata ini disambung dengan seruan yang panjang, sesudah mana mereka, berikut
kedua wanita Iran dan tukang belinya, begitu juga si empat saudagar permata, yang
mukanya pucat pasi, tanpa berkata suatu apa, terus saja ngeloyor keluar dari kuburan itu.
Thio Tan Hong tertawa.
Dua saudara itu benar-benar ada orang aneh! katanya. Sayang mereka tak dapat
dihitung sebagai orang-orang gagah! Eh, saudara kecil
Baru ia hendak tanya In Lui, ia terhenti karena kupingnya segera mendengar suara
meringkiknya kuda di luar pintu kuburan, menyusul mana kedua kuda mereka, bergantian
lari masuk ke dalam kuburan. Sebab Hek Pek Moko menepati janji, mereka sudah
mengobati kedua kuda itu, yang terus mereka lepas untuk dikembalikan kepada
pemiliknya. Kuda putih yang masuk terlebih dahulu, berjingkrakan, dia jilati majikannya.
In Lui segera hampiri kudanya, untuk diusap-usap lehernya.
Kudaku yang baik, kau disiksa makhluk aneh itu! katanya. Eh, toako.
Ia berhenti dengan tiba-tiba sedang sebenarnya henda ia tanya Thio tan Hong dari mana
dia dapatkan ilmu silat pedangnya itu. Ia berhenti tiba-tiba saja ia rasakan dadanya sesak.
Thio Tan Hong berpaling dengan segera, hingga ia tampak muka orang, ia kaget.
Eh, saudara kecil, apakah kau tadi kena terpukul tangan Pek Moko? ia tanya. Jangan,
jangan kau bicara.
In Lui mengerti, ia manggut.
Lekas empos napasmu! Tan Hong berkata pula. Nanti aku obati kau! Kau telah terluka
di dalam Ia lantas ulurkan tangannya.
Dengan tiba-tiba, In Lui geser tubuhnya, ia berbalik, ia menggeleng-gelengkan kepala,
habis itu, ia terjatuh duduk, terus ia muntahkan darah.

115

Peng-Cong Hiap-Eng
Tak usah! katanya. Aku dapat mengobati diriku.
Tan Hong tercengang, tapi segera ia tertawa.
Saudara kecil, sampai saat ini apa kau masih hendak kukuhi pantanganmu? katanya.
Kau tahu, sejak siang-siang aku telah melihatnya.
Merah muka In Lui, akan tetapi segera ia singkap kopiahnya, hingga terlihat rambutnya
yang panjang dan gomplok.
Sebenarnya tak selayaknya aku mendustai kau, toako, katanya malu. Memang aku ada
seorang perempuan
Tan Hong tersenyum, tapi ketika ia berkata, ia bersungguh-sungguh.
Kita cocok satu dengan lain, kita dapat bersahabat, karenanya untuk apa kita ambil
mumat bahwa kita ada pria atau wanita? katanya. Saudara kecil, apakah benar kau
masih tetap berpandangan cupat sebagai mereka yang kebanyakan?
Melihat sikap orang itu, In Lui tersenyum. Tan Hong itu tidak ceriwis. Walaupun demikian,
di dalam hatinya, masih hendak ia katakana, Bukankah kita belum kenal baik riwayat
masing-masing?
Tan Hong awasi nona itu, ia bersenyum. Kemudian ia goyangkan tangannya.
Saudara kecil, katanya, aku tahu masih ada kesangsian, seperti aku. Aku berniat untuk
menanyakan kau beberapa hal. Tapi sekarang kau tengah terluka, tidak selayaknya kau
banyak bicara. Biarlah nanti kita bicara pula, lagi tiga atau lima hari. Kau setuju, bukan?
In Lui manggut, tapi tidak membuka mulut.
Kembali Tan Hong bersenyum. Ia terus awasi si nona.
Saudara kecil, katanya pula, bagaimana lukamu? Bagaimana itu harus disembuhkan?
Seharusnya aku mesti omong terus terang padamu.
In Lui tersenyum, kembali ia manggut. Ia bungkam, tetapi di dalam hatinya, ia pikir, Ini
engko polos sekali, aku cocok dengannya. Cuma, mengapa ia selalu bersenyum?
Tan Hong tidak tunggu orang membuka mulutnya, ia berkata pula, Aku lihat lukamu ini
disebabkan Pek Moko telah berhasil menggempur urat cek-sim-hiat di punggungmu,
karenanya napasmu jadi tak jalan lancar, hatimu terasa panas, muka dan matamu merah,
nadimu berdenyut keras. Inilah luka di dalam, yang dilihat dari luar nampaknya enteng,
tetapi sebenarnya berbahaya, jikalau tidak lekas disembuhkan, jalan napasmu bisa
terganggu untuk selamanya, hingga akhirnya, jikalau orang tidak menemui ajalnya, pasti ia
akan bercacat seluruhnya. Syukur untukmu, kau mempunyai dasar iweekang yang baik,
dapat kau Bantu dirimu dengan menyalurkan napasmu perlahan-lahan dan beraturan.
Saudara kecil, akan aku Bantu kau dengan sam-im dan sam-yang.
Engko ini ada luar biasa, pikir In Lui, tanpa menjawab perkataaan orang. Kemarin ini
dia menangis dan tertawa tidak keruan juntrungannya, aku sangka dia orang aneh yang
tengah menjelajah di tengah-tengah masyarakat, akan tetapi sekarang dia bicara perihal
luka di dalam, nampaknya ia kenal baik ilmu ketabiban.

116

Peng-Cong Hiap-Eng

Apakah benar ia pandai segala apa?


Habis bicara, Tan Hong berhenti sebentar, terus ia tertawa.
Aku hendak mohon sesuatu dari kau! katanya kemudian.
Silahkan, toako, sahut In Lui dengan perlahan.
Kembali Tan Hong tertawa.
Saudara kecil, permintaanku adalah ini, ia kata, waktu aku mengobati kau, kau mesti
melupakan bahwa aku adalah pria, begitu juga kau, kau mesti melupakan dirimu adalah
wanita. Sanggupkah kau berjanji?
In Lui berpikir, Dia hendak Bantu aku dengan sam-im dan sam-yang, itu artinya tak dapat
tidak, ia mesti meraba-raba tubuhkuTapi kita telah angkat saudara, apakah halangannya
untuk itu? Kenapa dia mesih mengatakan demikian? Lantas ia bersenyum, ia awasi
pemuda itu.
Thio Tan Hong pun awasi si nona, kedua matanya bersinar jeli, wajahnya tersungging
senyuman. Menampak itu, malu In Lui, hingga air mukanya menjadi merah dadu.
Tan Hong segera menoleh ke sekitarnya.
Suasana di dalam lobang kubur ini mirip dengan Taman Bunga Toh, berkata dia, tempat
ini cocok untuk kau berobat dan beristirahat, Cuma kedua kuda itu tak dapat berdiam
bersama.
Ia lantas perdengarkan seruan panjang, tangannya pun ditepuk. Menyusul itu kuda Yaciauw Say-cu-ma, yang telah mengerti benar majikannya sudah lantas lari keluar.
Kuda merah In Lui, yang sudah menjadi sahabat kuda putih itu, sudah lantas turut lari
keluar gua.
Tan Hong melongok keluar kuburan, akan perhatikan letak perkuburan itu, habis itu ia
masuk pula ke dalam, untuk menutup rapat pintunya. Sekarang ia perhatikan keadaan di
dalam kuburan dimana terdapat ruangan tengah dan juga kamar. Pantas kuburan itu jadi
kuburan raja-raja muda dari jaman Ahala Chin. Kemudian ia raba-raba sekitar tembok, ia
ketok-ketok itu. Akhirnya ia tertawa.
Ada kamar rahasia disini! katanya. Ia dongko, untuk menjemput sepotong batu panjang,
dengan itu ia menekan pada tembok dimana ada ceglokan, terus ia memutar, ke kiri dan ke
kanan. Sebentar saja, tembok itu bergerak, hingga di lain saat terbentanglah satu pintu
rahasia, hingga sekarang tertampak sebuah ruangan dalam.
Tanpa mensia-siakan tempo, Thio Tan Hong payang In Lui masuk ke dalam kamar rahasia
itu dimana terdapat sinar terang bergemerlapan dari barang-barang permata, malah meja
dan kursi terbuat dari batu kemala diatas mana tertumpuk barang-barang permata itu.
Tan hong tidak perdulikan barang berharga itu, ia sampok hingga jathu ke tanah, lalu
dengan kakinya, ia kumpulkan di pojok tembok. Sebaliknya, ia dudukkan In Lui di meja itu.

117

Peng-Cong Hiap-Eng
Meja ini hawanya adem, inilah baik untuk membantu menghisap hawa panas dari dalam
tubuhmu, kata si anak muda, yang segera mulai dengan pengobatannya, bukan dengan
makan obat, hanya dengan menguruti tangannya, dari lengan sampai ke jari-jari, ia mulai
dengan tangan kanan si nona.
In Lui merasa aneh, belum lama ia diuruti, ia rasakan hawa panas mendesak ulu hatinya,
setelah itu, hawa panas itu mereda dengan perlahan dan akhirnya lenyap diganti dengan
hawa dingin di seluruh tubuhnya.
Sekarang jalan darahmu telah kembali semua, kata Tan Hong, yang segera melepaskan
tangannya, akan tunda urutannya. Baiklah kau beristirahat supaya kembali kesehatanmu.
Nanti aku mulai lagi.
Dalam ruang itu ada tersedia pelbagai macam barang makanan, yang ditinggalkan pergi
oleh Hek Pek Moko, maka Tan Hong dengan merdeka dapat mendahar apa yang ia suka. Ia
pun minum banyak, habis mana, tanpa merasa, ia bernyanyi seorang diri. Ia nyanyi tentang
peperangan, perihal manusia tak dapat hidup untuk selama-lamanya.
Ya, kalau nanti bangsa Mongolia menerjang masuk, kita semua baik pria maupun wanita,
anak-anak, semua mesti angkap senjata, In Lui perdengarkan suaranya. Kalau kita
berkorban untuk negara, biar kita mati, tidaklah nama kita hidup untuk selama-lamanya?
Menggetar tubuh Tan Hong mendengar pengutaraan itu, tanpa merasa, isi cawan
ditangannya tumpah. Lekas-lekas ia bepaling.
Saudara kecil, kau beristirahat, jangan kau bicara! ia kata. Aku telah minum sampai
aku lupa akan dirimu, hingga aku mengganggu kau. Saudara, terus kau tenangkan dirimu.
Tetapi, toako, katakanlah, benar atau tidak kata-kataku itu? In Lui tanya.
Tan Hong ceguk araknya.
Benar, benar, sahutnya. Sudah, saudara kecil, kita bicara lagi nanti saja. Teruskan
istirahatmu.
In Lui berdiam, tetapi hatinya berpikir. Ia dapat kesan yang baik terhadap mahasiswa ini.
Ia hanya merasa aneh, agaknya orang berduka mendengar disebutnya Mongolia, kalau
bangsa Mongolia menerjang Tionggoan. Maka itu, ia terus awasi anak muda ini.
Tan Hong lihat sikap orang, ia menghampiri.
Saudara kecil, katanya, sebenarnya ingin aku bicara dengan kau nanti sesudah kau
sembuh, akan tetapi nampaknya kau kurang puas, kau rupanya, masih tidak mengerti,. Kau
tahu, dengan banyak berpikir, istirahatmu bisa terganggu.
In Lui tunduk. Kau benar, sahutnya, perlahan.
Tetapi lukamu, melarang kau banyak bicara, Tan Hong menyatakan pula. Kau harus
mengerti, soal-soal yang akan kita perbincangkan tak dapat diakhiri dalam tempo pendek.
Sekarang begini saja, sekarang kau lanjutkan istirahatmu sebentar, waktu kita bersantap
malam, nanti aku ceritakan sebuah dongeng padamu. Kau tahu, dalam satu hari, kau mesti
dahar satu kali saja, di waktu malam. Menurut dugaanku, setelah tiga hari, kau akan
sembuh seluruhnya. Maka itu, dengan setiap hari aku dongeng satu kali, di hari keempat,

118

Peng-Cong Hiap-Eng
kau akan sudah sehat kembali seperti sediakala. Sampai waktu itu, saudara kecil, nanti
kita saling menuturkan riwayat kita masing-masing. Saudara, jikalau kau tidak dengar
kata-kataku ini, maka dongeng pun tak nanti aku tuturkan kepadamu. Nah, cukup sudah,
sekarang aku larang kau bicara lagi! Lekas kau bersemedhi!
Di mata In Lui, sinar mata Thio Tan Hong seperti mempunyai pengaruh apa-apa. Ia ingat,
semasa kecilnya, setiap malam, waktu ia mau tidur, ibunya selalu mengeloni ia di
pembaringan, ibu itu menyanyikan sebuah lagi Mongolia, untuk menidurkan dia. Ia juga
ingat sinar mata kakeknya setiap kali kakek itu memberi pengajaran kepadanya, sekarang
sinar mata Tan Hong mengingatkan ia kepada sinar mata kakek itu. Sinar mata Tan Hong ini
menjadi halus dan keren, keren tak dapat ditentang. Dan In Lui, tanpa ia merasa, ia
bagaikan kena terpengaruh, hingga hatinya menjadi tenang dan lantas saja ia beristirahat.
Sudah diketahui, kuburan itu menyender pada gunung, maka juga samping lainnya dari
kamar rahasia itu adalah lamping gunung, lamping yang batunya licin dan mengkilap
bagaikan kaca. Di sebelah atas, atau bagian wuwungan ruang rahasia itu, ada dua lobang
yang merupakan lobang angin, dari situ hawa udara menembus masuk. Sedang di tembok,
yang menghadapi pitu, ada dipasang sebuah kaca kecil dari kuningan. Dari kaca ini orang di
dalam dapat memandang keluar, sebaliknya, dari luar, orang tak dapat melihatnya.
Ketika itu sinar matahari sudah menembus lobang di wuwungan itu, melihat bayangannya,
bisa diduga sang waktu sudah lewat tengah hari. Adalah waktu itu dengan tiba-tiba
terdengar satu suara dari luar, suara seperti orang membongkar pintu. Karena pintu bekas
digempur, dengan hanya membongkar landasannya saja, pintu sudah dengan mudah dapat
dibuka.
In Lui dengar tegas suara itu, ia memasang mata kepada kaca. Ia tampak satu bayangan
orang, samar-samar ia seperti kenal bayangan itu, bayangan dari satu nona. Segera
tergeraklah hatinya. Dengan tangan bajunya, ia gosok kaca itu, hingga di lain saat,
dapatlah ia melihat lebih jelas. Nona itu tak lain daripada Cio Cui Hong, gadisnya Hongthian-lui Cio Eng.
Bagaikan orang meraba-raba Cui Hong bertindak masuk.
In Siangkong! In Siangkong! ia memanggil-manggil.
In Lui tertawa di dalam hati.
Kita bersuami-isteri hanya setengah malaman, siapa sangka ia pikirkan aku begini rupa,
demikian pikirnya. Ia terus memasang mata.
Ruang kuburan itu guram, tiba-tiba berbareng dengan suara tekesan, api telah menyala.
Cui Hong, yang menyalakan api. Ketika ia tampak dua belas batang lilin, segera ia sulut
semua, hingga di lain saat, ruangan jadi terang bagaikan siang. Karena ini, pada kaca di
dalam kamar rahasia, terlihat tegas wajah Nona Cio. Menampak roman orang, In Lui
terkejut. Beberapa hari saja ia berpisah dari nona itu, atau sekarang si nona telah menjadi
perok dan kumal.
Masih In Lui mengawasi kepada kacanya. Ia lihat Cui Hong jalan mondar-mandir di ruang
besar, rupanya si nona tengah mencari dia. Tiba-tiba nona itu berjongkok, lalu menyusul
tangisnya.
Cui Hong telah mendapatkan tanda darah di tanah. Itulah tanda darah dari Pek Moko, yang

119

Peng-Cong Hiap-Eng
terluka kena pedang. Rupanya si nona sangka, itu adalah darah In Lui suaminya. Ia tahu
Hek Pek Moko ada langganan dari ayahnya, ia tahu juga lihainya kedua hantu itu. Mungkin,
kalau tidak terbinasa, suami itu terluka parah atau bercacat. Maka itu, ia jadi sangat
berduka.
Tak tega In Lui menyaksikan orang berduka, ia mau lompat turun, untuk membukakan
pintu kamar rahasia, guna menemui. Tapi Tan Hong di sisinya menekan padanya.
Tidak perduli apa akan terjadi di luar, tak dapat kau perdengarkan suara! si mahasiswa
bisiki. Lalu ia tekan telapak tangan orang, untuk membantu si nona mengempos
semangatnya, untuk membikin darahnya tetap berjalan sempurna.
Cui Hong menangis sekian lama, lantas dari sakunya ia keluarkan sepotong batu san-hu,
terus ia letakkan di atas meja. Itulah batu yang merupakan tanda mata dari in Lui.
Berulang kali ia raba batu itu, setiap kali ia menangis pula.
Adik, adik, aku sangat bersengsara keluh si nona kemudian.
In Lui dengar itu, ia merasa kasihan.
Enci, aku belum mati, aku belum mati, ia menjawab dalam hatinya.
Tentu sekali Cui Hong tidak dengar itu, ia masih menangis pula.
Habis menangis, tiba-tiba nona Cio hunus golok yang tergantung di pinggangnya, dengan
itu ia mengancam ke udara.
Adik Lui! ia berseru, tidak perduli bagaimana lihainya kedua hantu itu, akan aku minta
ayah membalaskan sakit hatimu ini!
Ia jalan beberapa tindak, mendadak ia berjongkok pula. Dari tanah, ia pungut dua buah
gelang emas. Itulah gelang rambut Hek Moko, yang kena dipapas Thio Tan Hong. Ia awasi
gelang itu dengan mendelong. Ah, apakah benar hantu itu tidak mendustai aku? katanya
seorang diri. Gelang itu ia balik-balikkan, terus ia awasi. Kembali ia bengong.
Malam itu seberlalunya In Lui, Cui Hong menyusulnya dengan menunggang kuda, di tengah
jalan, ia berpapasan dengan Hek Pek Moko, ia tanya kedua hantu itu apa mereka melihat
satu anak muda, roman siapa ia petakan. Ia lukiskan potongan tubuh In Lui serta wajahnya.
Siapa dia itu? tanya kedua hantu itu sambil tertawa dingin.
Cui Hong berikan keterangan atas mana, Hek Moko perdengarkan suara di hidung, Hm!
Terus dia berkata, Bagus, keponakanku yang baik, kau telah mendapatkan pasangan yang
bagus sekali, ilmu silatnya pun tak ada celanya!
Nona Cio heran, ia terkejut.
Bagaimana kau ketahui itu? tanyanya.
Kembali Hek Moko tertawa dingin.
Dia telah menalangi kau memenangkan sejumlah harta besar! sahutnya, tetap dingin.
Semua bandaku disini telah terkalahkan olehnya! Hong-thian-lui telah mendapatkan baba

120

Peng-Cong Hiap-Eng
mantu semacam dia itu, sungguh, bolehlah dia mencuci tangan, tidak usah dia teruskan
pekerjaannya1
Cui Hong bertambah kaget.
Apa? Dia berani tempur kamu? ia tanya menegaskan.
Hek Moko mengawasi dengan sinar mata bengis. Ia menyangka si nona hendak
mempermainkan dia. Tapi ia tidak gubris pertanyaan itu, dengan tetap masih mendongkol,
ia ajak Pek Moko melanjutkan perjalanan mereka.
Cui Hong tahu kuburan yang menjadi istana kedua hantu itu, ia langsung menuju ke sarang
orang itu. Tidak pernah ia bermimpikan bahwa In Lui dpat mengalahkan Hek Pek Moko.
Maka itu, mendapatkan gelang kepala itu, ia menjadi bersangsi.
Hek Pek Moko ada sangat lihai, tidak bisa jadi mereka terkalahkan In Luikatanya di
dalam hati. Akan tetapi Hek Pek Moko ada orang-orang kenamaan yang jujur, tidak nanti
mereka mendusta! Sebenarnya, apa yang telah terjadi? Mungkinkah ada lain orang yang
mencelakai adik Lui?
Ia bersangsi pula, kekuatirannya tak segera lenyap. Ia menduga, darah itu ada darahnya In
Lui. Tengah ia berpikir keras, ia dengar meringkiknya kuda di luar kuburan, menyusul mana
ia tampak satu anak muda bertindak masuk dengan sebelah tangannya menuntun seekor
kuda merah. Ia kenali, itulah kuda In Lui. Bahna kaget dan heran, hampir ia berseru.
Anak muda itu tidak lain daripada Ciu San Bin, puteranya Kim-too Ceecu, dia tengah
menerima titah ayahnya untuk suatu tugas, kebetulan ia dapat endus halnya In Lui, selagi
lewat di tempat itu, dia tampak kuda orang, yang asalnya adalah kuda tunggang sendiri,
maka dia lantas tuntun kuda itu. Dan kuda itu lantas perdengarkan suaranya, seperti juga
ia hendak memberitahukan bekas majikannya ini bahwa majikannya yang baru berada di
lobang kubur itu.
San Bin heran, apabila ia ingat pekuburan itu adalah sarang Hek Pek Moko, kedua hantu
yang aneh itu. Tanpa merasa, ia keluarkan keringat dingin. Tapi ia tidak takut, maka sambil
menuntun kuda merah itu, ia bertindak masuk ke dalam pekuburan. Ia tampak sinar terang
dari api, ia tidak lihat seorang juga, ia menjadi heran dan ragu-ragu. Ia maju terus. Di saat
ia pikir untuk buka suara, untuk memanggil-manggil, tiba-tiba ia tampak satu nona dengan
rambut terurai muncul dari pojok yang gelap, dan dengan goloknya mendadak nona itu
lompat membacok padanya.
Cui Hong menjadi sangat bingung dan berkuatir, ia tengah bersedih, pikirannya jadi seperti
was-was, maka itu, begitu melihat kuda In Lui, ia sangka San Bin ada seorang penjahat,
tanpa sangsi lagi, ia lompat menerjang.
San Bin terkejut, dia lompat berkelit.
Cui Hong bagaikan kalap, gagal dalam bacokannya yang pertama, ia susul itu dengan yang
kedua.
San Bin menjadi berkuatir, terpaksa ia hunus goloknya untuk menangkis.
Cui Hong membacok untuk ketiga kalinya, lalu untuk keempat kalinya.

121

Peng-Cong Hiap-Eng
Hai, tahan! seru San Bin. Kita tidak bermusuh, kenapa kau bokong aku?
Setelah serangannya yang keempat kali itu, Cui Hong mulai heran, di dalam hatinya dia
kata, Kelihatannya kepandaian orang ini berimbang dengan kepandaianku, mana pantas
dia jadi lawan In Lui? Tapi ia masih membacok dua kali, membacok dengan sia-sia, setelah
itu, ia menegur, Binatang, lekas kau bicara! Dari mana kau dapatkan kuda merah itu?
Ditanya begitu, San Bin mendadak tertawa. Ia lompat kepada kudanya, yang tadi ia
lepaskan dari tuntunannya, ia usap-usap kuda itu.
Kuda ini asalnya kudaku, untuk apa kau tanyakan? ia balik menanya.
Kuda merah itu diam saja diusap-usap, ia tunjukkan kejinakannya terhadap bekas
majikannya terhadap bekas majikannya itu, ia seperti mau unjuk, San Bin tidak bicara
dusta.
Cui Hong telah perdengarkan suara Hm! dan pedangnya sudah digerakkan pula, baru ia
mau lompat, atau ia membatalkannya. Ia dengar pertanyaan orang, ia saksikan kelakuan
kuda itu, ia heran.
Aku tahu kuda merah ini binal, kenapa dia sekarang jadi begini jinak? demikian ia
berpikir.
Selagi orang berdiam, San Bin mengawasi kesekitarnya. Ia lantas lihat sepotong san-hu di
atas meja, ia terkejut, hingga wajahnya berubah, dengan cepat ia lompat maju, untuk
mengambil batu permata itu.
Cui Hong lihat gerak-gerik orang, dia lompat untuk mencegah.
Kau hendak bikin apa? dia tegur dengan bengis.
Hai, kau sendiri hendak bikin apa? San Bin baliki.
Si nona tertawa dingin.
Adakah sanhu itu kepunyaanmu? dia Tanya.
San Bin tertawa, dia melengak.
Bicara terus terang, sanhu ini ada kepunyaanku! ia jawab. Lalu dengan bengis, dia
membentak, Orang perempuan, lekas kau bicara terus terang! Darimana kau peroleh batu
ini? Kau mencuri atau merampas?
Memang sanhu itu adalah tanda mata dari San Bin kepada In Lui, dan In Lui telah
memberikannya kepada Cui Hong. Menampak batu itu, pasti sekali San Bin heran dan
bercuriga.
Cui Hong murka sekali, ia merasa diperhina. Ia lompat dan membacok tanpa mengucap
sepatah kta juga.
Kali ini San Bin menangkis tanpa segan-segan lagi, dia telah menggunakan tenaga besar,
hingga golok Cui Hong tertangkis hampir terpental. Dalam sengitnya si nona bergerak
dengan lincah, sesaat saja, ia telah berada di belakang si anak muda.

122

Peng-Cong Hiap-Eng

San Bin ketahui gerakan orang, ia mendahului membacok ke belakang sambil ia putar
dirinya, atas mana, Cui Hong menangkis. Maka disitu, mereka jadi bergebrak, sekarang
secara sungguh-sungguh, sebab mereka saling membalas, bukan seperti tadi, San Bin hanya
menangkis dan main berkelit.
In Lui dari tempat sembunyinya menyaksikan pertempuran itu, ia menjadi gelisah
sendirinya, hingga tidak dapat ia tenangkan diri, untuk bersemedhi terus.
Thio Tan Hong gunakan kedua tangannya, guna menekan telapakan tangan si nona, sambil
berbuat begitu, ia bisiki, Jangan kau sibuk tidak keruan! Mereka berdua tidak akan dapat
menangkan satu dari lain. Apakah kau kenal anak muda itu?
In Lui manggut. Tiba-tiba ia ingat halnya Tan Hong merobek bendera Jit Goat Kie, maka ia
awasi pemuda itu sambil mendelik. Sikapnya membikin pemuda itu heran.
Pertempuran antara Cui Hong dan San Bin berjalan terus, sebentar saja sudah melalui tiga
puluh jurus lebih. Benar seperti dugaan Thio Tan Hong, tidak ada satu yang kalah atau
menang. Kalau si anak muda kuat tenaganya, adalah si nona lincah tubuhnya.
Cui Hong telah membacok pula, habis mana, dia Tanya, Kau kata sanhu itu ada
kepunyaanmu, dapatkah kau membuktikan?
San Bin tertawa terbahak pula.
Kiranya pembegal, kau pun tidak tahu apa-apa! katanya. Coba kau periksa itu, lihat di
bawah daun yang ketiga. Tidakkah disitu ada ukiran satu huruf Ciu?
Cui Hong menyayangi sanhu itu, ia bulak-balikkan entah berapa ratus kali, tidak heran
kalau ia tahu benar adanya ukiran huruf itu, ia menjadi heran atas pertanyaan si anak
muda. Ia tanya dalam hatinya, kenapa In Lui memberikan ia tanda mata yang berukiran
huruf Ciu itu? Tapi ia cerdas, dengan lekas ia sadar. Maka, ia lompat keluar kalangan.
Eh, bukankah kau ada saudara angkat dari In Lui? ia tanya.
San Bin terkejut saking heran ia pun mundur.
Jikalau kau tahu aku ada saudara angkat dari In Lui, dia tanya, kenapa kau tidak tahu
bahwa sanhu itu akulah yang memberikannya kepadanya?
Teringatlah Cui Hong pada saat-saat malam pengantin, waktu itu In Lui seperti tak hentihentinya menyebut nama saudara angkatnya itu. Maka itu, tanpa merasa, ia lirik anak
muda ini.
San Bin kalah cakap dari In Lui, tapi romannya gagah, ini dapat lantas dilihat oleh nona
Cio. Selagi orang lirik padanya, ia pun melihat si nona, maka sinar mata mereka bentrok
satu pada lain. Ia tampak wajah si nona bersemu dadu.
Fui! berseru si nona dalam hatinya, menyusul mana,ia mendongkol terhadap In Lui.
Tentu sekali, San Bin tidak ketahui apa yang si nona pikirkan itu.
Aku adalah saudara angkat dari In Lui, habis kau mau apa? tanya pemuda ini kemudian.
Lekas kembalikan sanhu itu kepadaku!

123

Peng-Cong Hiap-Eng

Tidak, tidak, teriak Cui Hong.


Ah, bangsat perempuan, kata San Bin, Kau sendirian saja, berani kau membegal
barangku?
Apa barangmu? bentak Nona Cio. Sanhu ini ada tanda mata dari In Lui untukku! Jikalau
aku tidak pandang saudara In Lui, tentu aku sudah bacok belak tubuhmu! Untuk sesaat
San Bin melengak.
Tanda mata? dia ulangi. Pernah apakah kau dengan In Lui?
Dia adalah suamiku! sahut Cui Hong. Tak takut aku mengatakannya ini kepadamu.
Dengan sekonyong-konyong San Bin tertawa terbahak-bahak. Dengan lantas, ia ingat yang
In Lui tengah menyamar, sebab sendirian ia mesti pergi ke kota raja. Tentu sekali, nona itu
mesti merahasiakan dirinya. Rupanya, sampai pun terhadap nona ini, dia tidak membuka
rahasia.
Maka aku, baiklah aku juga tidak membuka rahasianya itu, segera ia dapat pikiran. Maka
itu, sehabis berpikir demikian, ia berhenti tertawa. Ia pun lantas tanya, Nona, kau she
apa dan namamu siapa? Kapan kau menikah dengan saudara In Lui?
Cui Hong tidak jengah, dia malah mendongkol. Dengan cekal keras goloknya, dia
mengawasi dengan bengis.
Hong-thian-lui Cio Eng adalah ayahku! sahutnya dengan nyaring. Kami menikah tiga hari
yang baru lalu. Kenapa, apakah puterinya Cio Eng tidak sepadan dengan adik angkatmu
itu?
Di luar dugaan si nona, San Bin masukkan goloknya ke dalam sarung, ia lantas angkat kedua
tangannya, untuk memberi hormat.
Teehu, harap kau tidak gusar, dia berkata. Sebenarnya tidak ada maksudku untuk
mempermainkan kau! Apakah Cio-looenghiong baik?
Baik, sahut si nona dengan suara yang menyatakan ia masih mendongkol.
Kamu telah menikah tiga hari, adakah selama itu kamu berdiam di Cio-kee-chung? San
Bin tanya pula. Dia tidak mau tanya langsung tentang malam pengantin, dia gunakan katakata kiasan.
Malam itu dia kejar seorang penjahat berkuda putih, sejak itu tidak ada kabar-kabarnya
lagi, sahut Cui Hong.
Terkejut San Bin mendengar keterangan ini. Dia membuat perjanjian justeru karena
penjahat berkuda putih itu.
Apakah penjahat itu satu pemuda berkuda putih yang romannya sebagai mahasiswa? dia
tanya, menegaskan.
Belum pernah aku lihat romannya, jawab Cui Hong.

124

Peng-Cong Hiap-Eng
Kuda putihnya hebat sekali, bukan? San Bin masih menanya.
Betul, si nona sahuti. Kuda pilihan dari Cio-kee-chung tidak sanggup mengejar kuda
putih itu
Kalau begitu, mari lekas antar aku kepada Cio Looenghiong, kata San Bin. Hendak aku
lepaskan panah Liok-lim-cian untuk membekuk penjahat berkuda putih itu! Ah, janganjangan In Lui telah kena dicelakai pengkhianat itu!
Cui Hong terkejut, juga In Lui yang berada di dalam kamar. Nona Cio kuatirkan dugaan San
Bin benar, sedang In Lui kuatir anak muda ini benar-benar melepaskan Liok-lim-cian, ialah
panah Rimba Persilatan, suatu cara paling cepat untuk menyampaikan berita. Ia pun
kuatir si mahasiswa benar-benar ada satu pengkhianat.
Pengkhianat? kata Cui Hong. Yang aku ketahui dia adalah satu penjahat tukang rampas
di antara penjahat-penjahat, cuma ayah menyangkalnya. Pernah aku tanya ayah siapa dia,
tetapi ayah tidak hendak menerangkannya, malah sebaliknya, ayah seperti menghormati
dia. Betul-betul aku heran.
San Bin tertawa dingin.
Tentang dia? Hm!
Tapi she Ciu ini tidak dapat melanjutkan perkataannya. Bayangan tampak berkelebat di
pintu kuburan, lalu terlihat bertindak masuknya satu orang.

In Lui terperanjat apabila ia sudah pandang muka orang yang baru datang ini. Ia kenali
orang itu adalah si orang Tartar, si bangsat dengan siapa ia pernah bertempur di luar kuil
tua pada malam itu. Dia adalah murid Tantai Mie Ming.
Ketika Ciu San Bin sudah melihat tegas, ia lompat sambil membacok, mulutnya pun
mengucapkan Orang Tartar bernyali besar! Kau telah nyelundup ke Tionggoan, kau hendak
berbuat apa?
San Bin segera kenali musuh negaranya, sebab Tantai Mie Ming bersama muridnya itu
pernah membawa pasukan tentara menyerang Ciu Kian dan dia pernah bertempur dengan
musuh ini.
Murid Tantai Mie Ming itu, yang bernama Katalai, begitu dia masuk ke dalam pekuburan,
lantas dia memanggil dengan suara keras, Thio Siangkong! Dia kaget apabila tiba-tiba dia
dibentak dan diserang. Akan tetapi dia tabah dan sebat, maka dia sempat mencabut
sepasang gaetannya, untuk dipakai menangkis, hingga kedua senjata bentrok keras,
suaranya nyaring.
Apakah kau telah membunuh Thio Siangkong? tanya Katalai dengan bentakannya.
Sekalipun kau, hendak aku mencincangnya! jawab San Bin sengit, kembali dia
membacok.
Katalai menangkis, lalu ia balas menyerang, maka dengan begitu, mereka jadi bertempur.
Tapi orang Tartar itu menyerang hebat, ia sudah lantas mendesak, dari itu tidak lama, ia

125

Peng-Cong Hiap-Eng
telah membikin San Bin kewalahan, sampai orang she Ciu ini cuma bisa menangkis, tidak
mampu ia membalas menyerang. Hingga pertempuran jadi tidak seimbang.
Cui Hong berkuatir melihat pemuda itu bakal kena dikalahkan, di dalam hatinya, dia kata,
Toapeh ini kurang ajar, akan tetapi mesti aku bantu dia! Dengan sendirinya, ia akui orang
sebagai toapehnya, paman dari pihak suaminya. Maka lantas ia hunus goloknya, terus ia
maju menerjang, hingga orang Tartar itu kena dikepung berdua.
Dibanding dengan Katalai, Cui Hong kalah tenaga, akan tetapi dia menang enteng tubuh,
dia jauh terlebih gesit, maka dengan andalkan kegesitannya itu dapat dia berikan bantuan
berharga pada San Bin, hingga San Bin tidak lagi terdesak, malah sesaat kemudian,
keadaan jadi berbalik, Katalai adalah yang kena didesak mereka itu.
Katalai tahu diri, selagi berkelahi, dia berseru keras, sepasang gaetannya juga bekerja,
untuk menyerang dengan hebat kedua lawannya. Nyata ia telah gunakan siasat. Sebab
begitu mendesak, dia lantas lompat mundur, dia putar tubuhnya, untuk segera lari keluar
kuburan.
San Bin lompat untuk mengejar, di belakang dia, Cui Hong menyusul, dari itu, sebentar
saja, ketiga orang itu sudah lenyap dari dalam kuburan.
In Lui yang menyaksikan pertempuran itu, goncang hatinya. Ia lantas angkat kepalanya,
untuk memandang Thio Tan Hong. Justeru itu, si anak muda pun memandang padanya
sambil tersenyum, agaknya dia hendak bertanya, Kau lihat, adakah aku satu pengkhianat
atau bukan?
In Lui sangat percaya Ciu Kian dan puteranya, coba ia tidak berada bersama Tan Hong
selama beberapa hari, hingga ia dapat menyaksikan kelakuan orang, begitu mendengar
ucapan pengkhianat dari San Bin, tentu ia sudah tikam pemuda di sisinya ini. Akan tetapi
sekarang, pikirannya jadi berlawanan satu dengan lain. Tidak nanti San Bin lancang
menuduh, tapi juga Tan Hong tidak pantas ia menjadi pengkhianat bangsa. Selama bergaul
rapat beberapa hari, dari jemu ia menjadi gemar bergaul dengan orang she Thio ini, malah
agaknya ia menaruh penghargaan.
Dia baru kembali dari Mongolia, demikian ia berpikir lebih jauh, mungkin dia telah
menyingkirkan diri dari negara asing, karena mana bangsa Mongolia jadi hendak membekuk
dia kembali ... Mungkin karena itu, San Bin menyangka dia ada satu pengkhianat.
Tidak lama In Lui berada dalam kesangsian, lantas ia dapat tenangkan diri. Begitulah ia
tersenyum sendirinya.
Toako, aku percaya kau, katanya kemudian dengan perlahan.
Wajah Tan Hong pun menjadi terang, nyata sekali ia gembira.
Hiantee, katanya, dengan perlahan, seumurku kau adalah sahabatku satu-satunya yang
mengenal diriku. Sekarang lanjutkan semedhimu. Malam ini hendak aku perdengarkan kau
dongeng yang kesatu.
Tan Hong bertindak keluar dari kamar rahasia, ia pergi menutup pintu depan, yang ia
ganjal dengan dua potong batu besar yang panjang, hingga tanpa tenaga seribu kati, sulit
untuk orang membuka pintu kuburan itu.

126

Peng-Cong Hiap-Eng
In Lui melanjutkan istirahatnya, semedhinya. Ia rasakan darahnya mengalir dengan
sempurna, ia merasa tubuhnya jadi sehat sekali.
Waktu telah berlalu, tidak ada sinar terang lagi yang molos masuk dari sela-sela di atas
wuwungan, itu tandanya bahwa sang magrib telah datang.
Hek Pek Moko mempunyai persediaan barang makanan di dalam istananya itu, maka Thio
Tan Hong bisa menyalakan api, untuk masak bubur, untuk memanaskan daging dan ayam.
Lalu ia suguhkan makanan itu pada In Lui, hingga si nona menjadi bersyukur sekali.
Tan Hong mengawasi sambil tersenyum ketika ia berkata, Kesehatanmu telah maju baik,
akan tetapi kau masih belum boleh bicara banyak. Kau cuma harus dengarkan aku, tidak
boleh kau banyak menanya. Sekarang hendak aku mulai dengan dongengku yang pertama.
Nanti setelah selesai aku ceriakan tiga dongengan, baru aku tuturkan jelas tentang diriku
kepadamu.

VII

In Lui angkat kepalanya, akan pandang anak muda di depannya itu.


Thio Tan Hong sudah lantas mulai dengan dongengnya.
Pada jaman dahulu maka adalah dua orang bersengsara yang bekerja sebagai tukang
meluku sawah dari satu tuan t
nah. Belakangan, karena malapetaka alam, hidup mereka jadi semakin sukar, hingga
kesudahannya, yang satu menukar penghidupannya sebagai pengemis, yang satu lagi
menjadi tukang selundup garam gelap. Kedua orang ini hidup sangat akur satu pada lain,
hingga mereka mengangkat saudara.
Pada waktu itu, Tionggoan telah diduduki oleh bangsa asing. Karena ini pencinta-pencinta
negara, yang hidupnya terpencar, bercita-cita membuat perlawanan. Juga kedua saudara
itu berangan-angan besar, mereka mirip dengan Tan San dan Gouw Kong di jaman Liat Kok
yang hendak merubuhkan kerajaan Cin. Mereka angkat saudara dengan bertepuk tangan,
mereka saling berjanji, apabila mereka berhasil dan menjadi orang besar, mereka tak akan
melupai satu pada lain.
Berbareng dengan itu, bersama dua saudara angkat itu ada satu hweesio. Dia berusia jauh
terlebih tua daripada dua saudara itu, dia ajarkan mereka ilmu silat, maka itu, ia dipanggil
guru.
Garam itu ada usaha negara, maka kalau rakyat membikin dan menjualnya dengan diamdiam, dia bakal ditangkap pembesar negeri dan dihukum mati. Apa mau si pengemis, si
saudara muda, tidak berani bekerja sebagai kakak angkatnya itu, sebaliknya, dia pergi ke
sebuah kuil dimana ia sucikan diri sebagai hweesio. Apa celaka, datanglah musim paceklik,
tidak ada dermawan yang menunjang kuil, telah kejadian, dari sepuluh hweeshio, tujuh
atau delapan diantaranya mati kelaparan. Dalam kesukaran itu, si kakak, yang jadi penjual
garam gelap, menunjang adik angkatnya ini. Karena sisa-sisa hweeshio bubar, si pengemis
juga ikut merantau, ia pergi kemana saja untuk hidup sambil menerima amal.

127

Peng-Cong Hiap-Eng
Belakangan, guru dari kedua saudara itu telah berhasil angkat senjata. Si adik, si
hweeshio asal pengemis, turut gerakan gurunya itu, dia ikut dalam pasukan tentara. Dalam
satu pertempuran besar, si hweeshio guru lenyap tak keruan paran, ada yang mengatakan
dia terbinasa, ada yang mengatakan dia lolos dan kembali menuntut penghidupan sebagai
hweeshio. Bagaimana sebenarnya dengan hweeshio guru ini, pada akhirnya tak ada yang
mengetahuinya.
Sekarang diceritakan tentang si tukang garam. Dia telah berusaha jauh sampai di Kangpak
Utara, disana dia dapat kemajuan hingga dia dapat mengumpulkan beberapa ratus
pegawai. Dia pun lantas berontak, dia angkat dirinya sebagai raja. Selama beberapa tahun,
dia terus berhasil, hingga pengaruhnya jadi tambah besar. Begitulah ia angkat dirinya jadi
kaisar di kota Souwciu.
Beberapa propinsi di sepanjang sungai Tiang Kang adalah wilayahnya raja bekas
penyelundup garammini, maka itu ia gunakan pengaruhnya untuk mencari adik angkatnya.
Sekian lama, tidak pernah ia peroleh hasil.
Sementara itu, kaum pergerakan muncul disana-sini, diantaranya rombongan Pelangi
Merah. Dia pun pengaruhnya besar. Dua tahun kemudian, pemimpin Pelangi Merah itu telah
menutup mata, dia digantikan oleh satu pemuda kosen, yang berhasil merampas pelbagai
kota hingga daerahnya meluas di Tiangkang Selatan.
\'Kaisar di Souwciu itu terus mencari keterangan perihal adiknya, ia lantas dapat dengar,
pemimpin Pelangi Merah itu sebenarnya berasal dari satu hweeshio. Tapi berberang dengan
itu, ia dengar lelakonnya adiknya ini. Katanya, ketika adik ini turut gurunya memberontak
dan gurunya itu kalah, diam-diam ia telah jual gurunya pada pemerintah, musuh, dia
sendiri berpura-pura menjadi orang baik-baik, dia melanjutkan memimpin pasukan gurunya
itu, yang dia robah menjadi Pelangi Merah. Dia berjasa dalam pasukan Pelangi Merah itu,
sampai akhirnya ia diangkat menjadi pemimpin utama. Lelakokn ini tidak dipercaya si
kakak angkat, tapi dia kirim utusan, untuk mengajak bekerja sama, yang mana diterima
baik. Adalah setelah ini, ia dapat kepastian pemimpin Pelangi Merah benar-benar ada adik
angkatnya itu.
Segera juga ada pertentangan pengaruh di wilayah Tiangkang antara kedua saudara ini. Si
kakak mengirim utusan menyeberangi sungai, ia kirim surat yang berbunyi \'Kita berdua
bersaudara, siapa pun yang menjadi kaisar, sama saja. Mari kau seberangi sungai, untuk
kita bertemu, lebih dahulu kita bicara sebagai saudara, kemudian kita rundingkan dan
tetapkan rencana bekerja untuk bersama-sama melawan musuh asing\'. Di luar dugaan,
adik itu merobek surat itu, dia tidak mau menyeberang, malah dia sebaliknya memotong
kuping si pembawa surat, siapa disuruh pulang sambil memberikan pesan \'Diatas langit
tidak ada dua matahari, dimuka bumi tidak ada dua raja, maka itu, sama-sama kita adalah
orang-orang gagah dari jaman ini, baiklah jikalau bukan kau yang mati, akulah yang
binasa!\'.
Kakak itu jadi sangat gusar, maka terjadilah peperangan antara mereka berdua. Selama
beberapa tahun, mereka bergantian menang dan kalah. Pertempuran terakhir terjadi di
Tiangkang. Kesudahannya, sang adik yang menang, si kakak kena ditawan, di dipaksa untuk
menyerah, supaya dia suka jadi hamba dan akui si adik sebagai junjungannya. Si kakak
tidak sudi tunduk, sambil tertawa bekakakan, dia kata \'Pengemis, jikalau kau dapat
menurunkan tanganmu, kau bunuh saja aku!\' Adik itu tidak menyahuti kakaknya, dia hanya
perintahkan orang mengemplangi kakaknya hingga binasa, lalu mayatnya ditenggelamkan
di dalam sungai Tiangkang. Habis memusnahkan kakaknya, adik ini angkat dirinya menjadi
kaisar. Beberapa tahun kemudian, raja ini berhasil mengusir bangsa asing dari Tionggoan,

128

Peng-Cong Hiap-Eng
dia dapat membasmi lain-lain jago, hingga dia berhasil juga mempersatukan negara.
Dengan begitu, jadilah dia satu kaisar yang membuka satu jaman baru. Nah, adikku, coba
kau katakan kaisar ini jahat atau tidak?
Demikian Tan Hong akhiri dongengnya yang pertama itu.
Adik itu tidak ingat saudara, pasti dia jahat, sahut In Lui, yang mendengarkan dengan
perhatian. Tetapi dia dapat mengusir bangsa asing, dia dapat merampas kembali negara,
dia dapat dikatakan satu orang gagah, enghiong atau hoo-kiat.
Mendengar itu, air muka Tan Hong sedikit berubah.
Hiantee, kau juga mempunyai pemandangan begini? kata dia dengan tawar. Pengemis
itu, setelah dia menjadi kaisar, dia bunuh menteri-menteri yang berjasa, dan terhadap
turunan kakaknya, dia tak sudi berlaku murah hati, dia sudah kirim orang keempat penjuru
untuk mencarinya, turunan si kakak itu hendak dihabiskan. Maka juga, turunan si kakak
itu, bersama-sama turunan beberapa menteri berjasa, sudah kabur jauh sekali, mereka
telah berpencaran. Eh, adikku, kau telah dahar habis buburmu, bagus! Dongengku juga
telah tamat.
In Lui angkat kepalanya, akan pandang kawannya itu.
Toako, katanya, tentang dongengmu ini, dapat aku menduganya. Kau bicara tentang
permulaan berdirinya kerajaan kita. Si pengemis itu adalah Beng-thay-couw Cu Goan
Ciang, dan si kakak penjual garam gelap itu adalah orang yang menamakan dirinya Thio Su
Seng, kaisar dari kerajaan Ciu. Hanya belum pernah aku mendengarnya yang mereka itu
berdua telah angkat saudara satu sama lain. Dalam buku hikayat juga tidak ditulis
demikian, sebaliknya ada dicatat bahwa Thio Su Seng itu asalnya orang yang rendah
martabatnya dan Thay Couw membunuh dia adalah untuk membantu rakyat menghukum
pemberontak.
Tan Hong tertawa dingin.
Siapa berhasil, dia menjadi raja, siapa gagal, dia jadi berandal, demikian bunyi sebuah
pepatah, dia kata. Inilah pepatah yang dari jaman purba sampai sekarang ini tetap
menjadi kenyataan. Mengenai mereka mengangkat saudara, jangan kata hikayat tidak
berani menuliskan Cu Goan Ciang asal pengemis, asal hweeshio perantauan, malah dalam
hikayat buatan negara tak disebutnya sama sekali. Sebenarnya, orang menjadi pengemis,
orang jadi hweeshio melarat, bukankah itu tidak menghina leluhur mereka? Hm!
Halnya Beng-thay-couw Cu Goan Ciang pernah menjadi pengemis dan di kuil Hong Kak Sie
menjadi hweeshio, di kolong langit ini tidak ada orang yang tidak mengetahuinya. Tapi
setelah Cu Goan Ciang menjadi kaisar, hal ikhwalnya itu ia jadikan pantangan untuk
diceritakan orang, karena pantangannya itu, hingga ia telah menghukum mati beberapa
orang yang dianggap sudah melanggar larangannya itu. Tentang ini, In Lui pernah dengar
engkongnya bercerita, ia pun ketahui itu. Sekarang, mendengar cerita Thio Tan Hong, ia
jadi ingat kepada bencana yang dialami engkongnya itu sendiri, yang teraniaya dan
terbinasa secara kecewa. Maka di dalam hatinya ia berkata, Dasar mereka yang menjadi
raja semua bukan orang baik-baik, peduli apa kau dengan Cu Goan Ciang atau Thio Su Seng
itu? Cuma, apa maksud toako menceritakan dongeng ini? Kenapa dia kelihatannya
membenci kepada Beng Thay Couw pendiri dari kerajaan kita ini?
Sudah, jangan kau bicara banyak, kata Tan Hong, melarang orang banyak omong, dan ia

129

Peng-Cong Hiap-Eng
teruskan menguruti pemuda itu.
In Lui terdiam, ia berdiam terus, karena ia tertidur. Ketika besok pagi ia mendusin, ia
dapatkan Thio Tan Hong tengah berduduk di sisinya, apabila ia lihat tubuh orang, ia
dapatkan orang belum merapikan pakaiannya. Yang membuatnya heran, ialah mata si
mahasiswa tampak bengkak, suatu tanda bahwa tadi malam kawannya ini banyak
menangis. Ia terharu, ia merasa berkasihan.
Pasti dia berduka, sebentar telah ia selesai menutur padaku, aku mesti hibur dia, ia
ambil putusan.
Ketika Thio Tan Hong lihat kawannya itu telah bangun dari tidurnya, ia tersenyum.
Adakah kau merasa baikan? dia tanya.
Banyak baik, sahut In Lui cepat. Tentunya semalam toako tidak tidur?...
Tan Hong tertawa.
Bagiku tidak tidur beberapa hari atau sekalipun tidur hingga beberapa hari ada sama saja,
biasa saja, sahutnya. Tak usah kau pikirkan aku. Sekarang mari lonjorkan kakimu.
In Lui menurut, ia majukan kaki kanannya itu.
Tan Hong loloskan sepatu orang, habis itu ia mulai menguruti kaki itu, dari ujung sampai ke
mata kaki, ke seputarnya, lalu naik hingga ke betis. Selama itu, In Lui merasakan sedikit
sakit. Itulah tanda bahwa urutan itu tepat sekali. Lalu, setelah itu, ia merasakan hatinya
lega.
Sekarang cukup sampai disini! kata Tan Hong, yang menghentikan urutannya pada apa
yangdia namakan samyang. Besok akan kuurut pula, supaya pulih kesehatanmu.
Sekarang kau boleh beristirahat pula, kau bersemedhi.
Habis berkata, ia geser tubuhnya, untuk kemudian keluarkan gambarnya. Ia gunakan
terang api lilin untuk memandang gambar itu. Lama ia mengawasi, ia meneliti, seperti ia
tengah mencari sesuatu dalam gambar itu. Begitu lama In Lui beristirahat, begitu lama
juga ia memandangi gambar itu. Sampai tiba-tiba terdengar tindakan kaki di luar
pekuburan. Baru setelah itu, pemuda ini menghela napas, lantas ia gulung pula gambar itu.
Kenapa sih ada orang yang sangat menyukai tempat hantu ini? katanya perlahan, setelah
mana, ia pesan kawannya. Tidak perduli apa yang kau saksikan, jangan kau buka suara!
Rupanya di luar kubur itu bukan berada cuma satu orang, itulah ternyata dari suara dan
caranya tanah digali, dibongkar. Tidak lama kemudian terdengar suara menggabruk keras,
dari terbukanya daun pintu. Ini juga menandakan usahanya suatu tenaga yang besar sekali.
Segera ternyata, mereka itu berjumlah lima orang. Mereka membawaobor. Dengan
melerot, mereka masuk ke dalam kuburan.
In Lui pasang matanya. Ia kenali, yang keempat adalah si saudagar barang-barang permata.
Mereka ini, dua jalan di depan, dua lagi di sebelah belakang. Yang jalan di tengah adalah
Hek-sek-chung Chungcu, atau tuan rumah dari Hek-sek-chung atau Cio-kee-chung, ialah
Hong-thian-lui Cio Eng. Ia terkejut.

130

Peng-Cong Hiap-Eng

Empat saudagar itu mestinya ketahui kamar rahasia ini, ia berpikir. Jikalau Cio Eng
menitahkan aku pulang, bagaimana?
Ia menjadi bingung.
Mereka berdua mesti masih berada di dalam sini, terdengar satu saudagar berkata. Cio
Loo-chungcu, kami mohon pertimbanganmu.
Menuruti hawa amarahnya, Hek Pek Moko sudah lantas menuju pulang ke Tibet, karena
kepergiannya itu, mereka titahkan keempat saudagar pergi berusaha ke Selatan, untuk
menyelesaikan usaha mereka. Dua hantu ini, dengan sudah menyerahkan harta bendanya,
tidak ingin melanjutkan pekerjaannya itu. Tidak demikian dengan keempat saudagar ini,
mereka ini tidak puas, maka kebetulan sekali untuk mereka, di tengah jalan, mereka
bertemu dengan Cio Eng yang tengah menyusul gadisnya. Mereka tuturkan pada Cio Eng
apa yang mereka alami, tentang Hek Pek Moko juga, setelah mana, mereka minta jago tua
ini membantu mereka. Mereka pun sebut-sebut nama Thio Tan Hong yang mereka tunjuk
adalah pencuri di rumah Cio Eng pada malam itu. Mereka tahu, Cio Eng kalah lihai
daripada Hek Pek Moko, akan tetapi chungcu ini besar pengaruhnya, kalau Liok-lim-cian
diumumkan, mereka percaya, Thio Tan Hong, tidak akan dapat terbang lolos.

Mohon sesuatu dari lain orang. Lagi pula, menindih orang dengan kekuatan pengaruh, itu
membuat mukaku tidak terang. Bicara terus terang, jikalau aku takut orang menyiarkan
Liok-lim-cian, tadi begitu aku keluar, begitu lekas juga dapat aku menghabiskan jiwa kakak
angkatmu itu. Aku justeru hendak membiarkan orang mencobanya, ya Cio Cui Hong dengan
Ciu San Bin itu memang setimpal sekali, pantas kau di dalam kamar pengantin selalu
menyebut-nyebut kakak angkatmu itu!
Tan Hong ucapkan kata-katanya yang terbelakang itu secara wajar.
Biar bagaimana, In Li toh berduka, ia berkuatir. Tidak tahu ia, diantara Tan Hong dan Ciu
Kian ada urusan apa, mungkin antara mereka itu ada ganjalan.
Thio Tan Hong awasi si nona, ia tersenyum.
Melihat wajahmu, kau maju banyak, ia kata. Sekarang lanjutkanlah istirahatmu.
Sebentar, selagi bersantap malam, akan aku ceritakan kau dongeng yang kedua.
In Lui turut nasihat itu, karena ia berbakat baik, pada waktu hendak bersantap malam,
kesehatannya telah pulih tujuh atau delapan bagian, hingga dapat ia makan rangsum
kering.
Thio Tan Hong layani orang dahar, sambil melayani, ia ceritakan dongengnya.
Pada jaman dahulu kala, ada sebuah negara, demikian ia memulai. Di dalam negara itu
ada seorang menteri yang setia. Apa she dan nama menteri itu, tidak usah aku
menyebutkannya. Sebab tidak peduli di jaman atau kerajaan apa, mesti ada saja semacam
menteri setia itu. Mungkin dia she Thio, mungkin dia she Lie, bisa jadi juga dia she Ong
atau she In...
Di samping negera itu, ada sebuah negara lain yang bertetangga dengannya. Kedua

131

Peng-Cong Hiap-Eng
negara itu sering berperang satu pada lain. Suatu waktu, negara yang satu yang menyerbu,
ada kalanya, negara yang lain yang menerjang, tapi, tidak peduli negara yang mana yang
menerjang masuk, kesudahannya yang celaka adalah di rakyat jelata.
Ketika terjadinya dongengku ini, kebetulan negara dari si menteri besar yang setia dan
berpengaruh itu, menghendaki negara yang lain itu membayar upeti setiap tahun dan
setiap tahun harus mengirim utusan selaku tanda hormat dan setia. Negara ini, yang kalah
pengaruh, menjadi sangat tidak puas, maka itu ia mengumpulkan orang-orang cerdik
pandai, hingga perlahan-lahan ia pun menjadi kuat. Negara si menteri besar dan setia itu
tak senang melihat tetangganya menjadi kuat, dia berkuatir, segera dia kirim si menteri
besar dan setia selaku utusan dengan tugas, di satu pihak untuk mempererat persahabatan
katanya, di lain pihak untuk dengan cara diam-diam menyelidiki keadaaan yang besar dari
negara taklukannya ini. Diluar sangkaan, menteri besar dan setia itu telah pergi dua puluh
tahun lamanya...Eh, saudara kecil, kau kenapa?..Kau tahu, kenapa dia pergi sampai
lamanya dua puluh tahun itu? Kiranya....Eh, adik Lui, adik Lui!
Thio Tan Hong dongeng sambil mengawasi sahabatnya itu, selama hampir setiap detik, ia
tampak air muka orang berubah sedikit demi sedikit, sampai waktunya ia menyebutkan
dua puluh tahun, wajah In Lui menjadi pucat sekali dan tubuhnya pun bergoyang,
bagaikan hendak rubuh, ia menjad kaget, maka dengan lantas ia ulurkan tangannya, untuk
pegang tubuh orang, untuk cegah dia jatuh.
Walaupun keadaannya sedemikian rupa, bagaikan kesehatannya sangat terganggu dengan
tiba-tiba, In Lui masih dapat bicara, malah ketika ia buka mulutnya, ia seperti
menyambungi dongeng Tan Hong itu. Ia kata, Kau tahu, kenapa menteri besar dan setia
itu pergi sampai dua puluh tahun? Kiranya orang telah menahan dia, dia dipaksa
menggembala kuda di tempat dimana ada banyak es dan salju! Sudah, toako, tak usah kau
lanjutkan dongengmu ini, tak usah aku mendengarnya...
Wajah Tan Hong juga lantas berubah menjadi pucat, sepasang alisnya dikerutkan. Agaknya
dongengnya ini, dongeng yang tua, sekarang telah berubah menjadi kenyataan.
Nampaknya, ia seperti telah sadar dengan tiba-tiba dari mimpinya. Dengan tajam ia terus
awasi In Lui.
Saudara kecil, katanya kemudian, kiranya kau telah ketahui dongeng ini. Kalau begitu,
baiklah, besok malam aku akan ceritakan dongeng yang ketiga, nanti kau dapat mengerti
semuanya. Saudara kecil, sekarang apapun kau tidak usah tanyakan, apa juga tidak usah
kau mengatakannya. Kau harus beristirahat, tak dapat kau banyak bergerak dan banyak
berpikir, nanti kau gagal memulihkan kembali kesehatanmu. Saudara kecil, mari aku bantu
pula padamu.
Ia cekal kedua telapak tangan In Lui, tangan itu, ia rasakan, berhawa panas. Ia juga lihat
bahwa sinar mata si nona guram.
Saudara kecil, hatimu sedang pepat, ia kata. Baiklah kau menunda sebentar untuk
bersemedhi.
Ia lepaskan cekalannya, lantas ia jalan mondar-mandir di dalam kamar rahasia itu, atau ia
jalan mengitari ruangan.
In Lui mesti tenangkan hati, kalau tidak kesehatannya tak akan pulih. Ia lihat kelakuan
orang itu, ia insyaf Tan Hong sedang berduka. Beberapa kali hendak ia menanya, ia batal,
masih dapat ia kendalikan diri. Akhirnya, ia singkap rambutnya, ia tersenyum.

132

Peng-Cong Hiap-Eng

Toako, perlu kau tidur siang-siang, ia kata. Akan aku sabarkan diri, untuk menanti
sampai besok, guna mendengarkan dongengmu yang ketiga.
Setelah mengucap demikian, hati si nona benar-benar menjadi tenang.
Thio Tan Hong pun tersenyum, ia angkat ouw-kimnya dari atas meja kemala, lantas ia
akurkan talinya, terus ia menabuh, yang mana ia iringi dengan nyanyiannya sendiri.Ia
nyanyikan sebuah syair pujian untuk kota Hangciu yang indah, syair dari jaman Kerajaan
Song. Pandai ia menabuh, merdu ia bernyanyi.
Mendengar itu, lega hati In Lui, lenyap kedukaannya.
Habis memainkan lagu dan bernyanyi Tan Hong letakkan ouwkimnya di atas meja, terus ia
hampirkan si nona. Ia usap-usap rambut orang.
Adik kecil, kau tidur, tidurlah, katanya perlahan.
Bagaikan kena pengaruh sihir, In Lui meramkan matanya, tidak lama, ia tertidur.
Besok pagi-pagi apabila ia mendusin, In Lui merasakan tubuhnya segar. Semalam ia tidur
dengan nyenyak, tanpa gangguan. Girang Tan Hong menampak keadaan In Lui.
Adik kecil, hari ini kau beristirahat pula, katanya. Habis ini, kesehatanmu akan kembali
seluruhnya, malah tenaga dalammu bukannya berkurang, tapi bertambah!
In Lui menurut, ia terus beristirahat, ia terus bersemedhi. Tan hong pun tak bosan-bosan
selang setiap satu jam, dengan tetap ia berikan bantuannya, untuk mengempos semangat
si nona. Demikian, selewatnya tengah hari, selesailah ia dengan cara pengobatan sam-yang
dan sam-im nya. Wajah In Lui telah bersemu merah sekarang.
Saudara kecil, kata Tan Hong dengan girang. Lewat lagi dua jam, kau akan pulih
seanteronya!
In Lui girang, ia tersenyum. Selagi ia terus bersemedhi, Tan Hong duduk sendirian di
sisinya, memandangi gambarnya.
Berselang setengah jam, tiba-tiba Tan Hong kerutkan alis. Dengan kupingnya yang tajam
sekali, ia dengar suara orang di luar pekuburan itu.
Kenapa ada lagi orang datang mengacau? ia berpikir.
Dengan sekonyong-konyong terdengarlah kuda Ciauw-ya Say-cu-ma berbenger, lalu disusul
dengan satu suara sangat keras dan nyaring, yang mengakibatkan gempurnya pintu
pekuburan, hingga debu pun mengepul. Lalu menyusul itu terlihatlah seekor kuda putih lari
masuk, di punggungnya ada seorang dengan pakaian hitam.
Tanah dimana nancap tiang pintu memang telah lenyap kekuatannya, akan tetapi walaupun
demikian, tidak sembarang orang dapat menggempurnya, sekarang orang berpakaian hitam
itu dapat melakukannya, itulah suatu tanda bahwa tenaganya besar sekali. Dan yang
lainnya yang mendatangkan keheranan adalah si kuda putih, kuda Ciauw-ya Say-cu-ma,
kuda yang istimewa karena binalnya. Kuda ini tidak akan menurut kecuali pada
majikannya, akan tetapi aneh, sekarang dia dapat dikendalikan orang lain.

133

Peng-Cong Hiap-Eng

Maka itu, di dalam kamar rahasia, In Lui dan Tan Hong terkejut.
Di ruang dalam, kuda putih itu berbenger pula dengan keras, berulang kali. Mulai dari
pintu, dia sudah lari keras, sampai di dalam dia lari berputar-putar.
Di ruang dalam itu, si penunggang kuda lompat turun dari punggung kuda, begitu dia injak
tanah, dia berulang kali perdengarkan panggilannya, Tan Hong! Tan Hong!
Sekarang diantara kaca rahasia, Tan Hong kenali orang itu, ialah Tantai Mie Ming, panglima
dari negara Watzu.
In Lui kaget sekali, sampai ia menjerit, lalu ia gerakkan tubuhnya, untuk lompat turun,
tetapi, belum sampai ia bergerak, ia segera rasakan pinggangnya lemah, kaku, hingga tak
dapat ia bergerak.
Dengan sebat luar biasa Thio Tan Hong totok kawan ini menyusul mana dia berbisik di
kuping si nona, Saudara kecil, jangan bergerak, lanjutkan semedhimu! Aku hendak keluar,
segera aku kembali. Kau sabar, kau tunggu, nanti aku tuturkan kau dongeng yang ketiga
itu...
Tan Hong, kau ada bersama siapa di dalam?
In Lui, yang terus memandangi kaca, dapat melihat dengan tegas. Kuda putih berdiri di
samping Tantai Mie Ming, kuda itu seperti telah kenal baik pahlawan asing itu.
Tan Hong sudah lantas membuka pintu rahasia, dia lompat keluar. St! katanya.
Milihat si anak muda, Tantai Mie Ming berkata pula, Tan Hong, Siangya...... Lalu
mendadak, ia berhenti.
St! demikian suara Tan Hong pula.
Tan Hong, ayahmu menyuruh kau pulang! terdengar Tantai Mie Ming berkata. Tidak lagi
ia menyebut Siangya, Sri Paduka, panggilan untuk perdana menteri.
Tantai Ciangkun, Tan Hong menyahuti, tolong kau sampaikan kepada orangtuaku,
setelah aku meninggalkan Mongolia, untuk selanjutnya hidupku adalah sebagai bangsa
Tionghoa, dan aku tidak akan kembali lagi!
Tantai Mie Ming tidak segera undurkan diri.
Kau ingat, Tan Hong, katanya, sekalipun kau tidak memikirkan lagi ayahmu, kau toh
mesti pikirkan dirimu sendiri. Seorang diri kau memasuki Tionggoan, diantara orang-orang
gagah dari Tionggoan itu, siapakah yang ketahui dirimu, siapa yang tahu hatimu?
Tapi Tan Hong menjawab dengan suara pelan.
Walaupun tubuhku hancur lebur menjadi laksaan keping, akhirnya, tubuhku mesti dikubur
di tanah Tionggoan! Inilah terlebih baik daripada mayatku dipendam di negara asing,
hingga aku meninggalkan bau busuk di negara lain! Aku minta tolong kau sampaikan
kepada orang tuaku, pesanlah agar dia rawat dirinya baik-baik.

134

Peng-Cong Hiap-Eng
Mendengar sampai disitu, bukan main herannya In Lui.
Kalau Tan Hong ada orang Tionghoa yang bertempat di Mongolia, kenapa Tantai Mie Ming
berlaku begini baik padanya? ia berpikir. Tantai menyebutnya
Siangya.Siangya.Mungkinkah Tan Hong ada?.
Tak dapat nona ini berpikir terus, pikirannya itu terganggu oleh seruan Tantai Mie Ming.
Panglima Watzu ini mengayunkan tangannya ketika ia menegaskan, Apakah benar-benar
kau tidak hendak turut aku pulang?
Tantai Ciangkun, katanya dengan sangat masgul, kenapa kau begini mendesak padaku?
Kembali tangan Tantai melayang, kali ini ke arah dada.
Tan Hong tidak berkelit pula, ia menangkis, tapi karena ini, ia diserang pula, terusmenerus, setiap serangan panglima Watzu itu mendatangkan suara angin, satu kali dia
menyambar batang leher orang, secara hebat.
Kalut pikiran In Lui. Ia heran, ia kaget, ia pun girang. Ia kaget karena serangan dashyat
dari Tantai Mie Ming, serangan yang jauh melebihi hebatnya serangan dari Hek Pek Moko.
Ia girang karena akhirnya Tan Hong membuat perlawanan, hingga teranglah sudah, Tan
Hong itu bukan orang segolongan Mie Ming. Yang membikin ia heran dan curiga, adalah
kata-kata Siangya, Sri Paduka Perdana Menteri. Ia sampai merasa ulu hatinya bagaikan
ditikam pisau tajam. Ia jadi ragu-ragu untuk dirinya orang she Thio ini.
Oleh karena perlawanan Tan Hong itu, pertempuran jadi berlangsung hebat, tubuh mereka
berdua melesat pergi datang, mendatangkan sambaran angin tak putusnya. Tubuh mereka
bagaikan bayangan-bayangan yang bergerak-gerak cepat tak hentinya.
Tantai Mie Ming gesit bagaikan kera, kepalannya berat bagaikan tubrukan harimau. Nyata
ia sangat kuat dan lincah. Dengan serbuannya itu ia membuat Tan Hong tiap-tiap kali
mundur.
In Lui bertegang hati, ia sangat berkuatir. Mau ia lompat, tapi tak dapat ia berbuat. Ia
coba empos dirinya akan bebaskan diri dari totokan Tan Hong, ini pun tidak berhasil. Ia
jadi mengawasi dengan mendelong, hatinya berdenyut keras.
Tiba-tiba Tantai Mie Ming ulur sebelah tangannya, menyambar tubuh Tan Hong, sambil
menyambar, ia berseru nyaring, Pergilah kau!
Tan Hong kena disambar, lalu tubuhnya dilemparkan ke atas, dilepaskan dari cekalan.
In Lui kaget hingga ia meramkan matanya dan berseru tertahan. Begitu ia buka pula
matanya, hatinya menjadi lega.
Tubuh Tan Hong terlempar, ketika jatuh ke tanah, ia perdengarkan suara, tetapi In Lui
dapatkan ia tengah berdiri dengan tidak kurang suatu apa. Benar Tan Hong telah
dilemparkan, tetapi ia dilemparkan hingga tubuhnya jumpalitan, maka itu, waktu tubuh
itu turun, kakinya yang tiba lebih dahulu di tanah.
Sampai disitu, Tantai Mie Ming maju dua tindak kepada si anak muda. Ia tampak
bersenyum.

135

Peng-Cong Hiap-Eng
Tan Hong, tidak kecewa gurumu mengajari kau dengan susah payah! katanya dengan
kagum. Kau benar-benar lihai! Karena kau sanggup melayani aku selama lima puluh jurus,
kau boleh menjagoi di kalangan kang-ouw. Baiklah, kau boleh bawa dirimu, berlakulah
hati-hati! Di depan ayahmu nanti, akan aku talangi kau bicara, kau jangan kuatir.
Baru sekarang Tan Hong ketahui orang sebenarnya mencoba padanya, orang bermaksud
baik. Karenanya, ia lantas menjura.
Tantai Ciangkun, dalam segala hal, aku mengandal pada kau! ia kata.
Tantai manggut, atau mendadak ia tanya, Siapa itu di dalam kamar?
Dia adalah satu sahabatku, Tan Hong beritahu. Dia tidak ingin bertemu denganmu, dari
itu aku mohon, dengan memandang aku, jangan kau membuat dia kaget.
Jikalau dia tidak sudi menemui, tak usah dia dipaksa, kata Tantai. Kau tahu, adalah
maksud Thaysu bahwa pada bulan sepuluh.
St! Tan Hong perdengarkan pula cegahannya.
Tantai berhenti dengan tiba-tiba, lalu ia tertawa.
Setelah sekarang ini, tak dapat diketahui di belakang hari kita akan bertemu pula atau
tidak, kata dia, menyambungi, maka marilah kau keluar, untuk kita bicara sebentar.
Tanpa tunggu jawaban, Tantai sambar tubuh Tan Hong, untuk dibawa lompat naik ke atas
kuda, kuda mana segera dikeprak untuk dilarikan keluar kuburan.
In Lui bernapas lega, atau segera ia merasa tertekan pula, seolah-olah jantungnya ditindih
batu seberat seribu kati. Bukankah Tan Hong diajak keluar dengan paksa? Tapi karena ia
tidak berkuatir, cuma hatinya yang tidak tenteram, lekas-lekas ia bersemedhi, untuk
tenangkan diri. Ia empos semangatnya, ia mencoba kerahkan tenaga dalamnya. Kali ini, di
luar dugaannya, ia berhasil. Ia bebas dari totokan. Maka lantas saja ia lompat turun.
Kau tunggu, akan aku pecahkan rahasia dirimu! ia kata di dalam hatinya. Ia melihat ke
sekitarnya. Ia dapatkan pedang Tan Hong masih tergantung di tembok. Ia hampirkan
pedang itu dan menurunkannya. Ia periksa gagangnya, ia dapatkan ukiran dua huruf Pek
In, Mega Putih. Lantas hatinya memukul.
Pek In beserta Ceng Beng adalah dua pedang atau sepasang pedang yang menjadi
peryakinannya Hian Kee It-su. Ceng-beng-kiam telah diwariskan kepada Cia Thian Hoa,
pedang Pek-in-kiam kepada Yap Eng Eng. Inilah sebab yang menggoncangkan hati si nona.
Darimana Tan Hong peroleh pedang ini? dia tanya dirinya sendiri. Apa mungkin dia
murid sam-supeh?
Ia awasi pula pedang itu, yang bergantungkan sepotong batu kemala dan berukirkan naganagaan. Ia meneliti batu itu, yang pun ada ukiran-ukiran huruf-huruf Yu Sin-siang-hu,
artinya Istana perdana menteri muda. Di samping ukiran itu masih ada lain ukiran hurufhuruf yang halus sekali, yang menjelaskan darimana asal pedang itu. Huruf-huruf halus itu
berbunyi, Hadiah dari Raja ketika anak Hong dilahirkan.
Kaget In Lui, lemas kaki tangannya, hingga dengan menerbitkan suara nyaring, pedang Pek-

136

Peng-Cong Hiap-Eng
in-kiam itu terlepas dari cekalannya dan jatuh ke lantai.
Terang sudah sekarang bagi In Lui, pemuda itu dengan siapa ia berada sekian lama adalah
putera Thio Cong Ciu yang dipandang sebagai pengkhianat besar dan menjadi musuh besar
dari kaum keluarga In. Maka itu, untuk sejenak, kosonglah hatinya, tak sanggup ia berpikir,
ia seperti bukan lagi berada di dalam dunia.
Tiba-tiba In Lui, dengan membawakan tangannya ke dada, tanpa merasa, telah membentur
suatu barang yang kecil tapi keras. Ia ingat, itu adalah warisan dari kakeknya, surat darah
kulit kambing. Selama sepuluh tahun selalu ia bawa warisan istimewa itu, yang bunyinya
Turunan keluarga In, dimana saja ia bertemu dengan turunan keluarga Thio Cong Ciu, tak
perduli lelaki atau perempuan, turunan keluarga Ciu itu mesti dibinasakan. Sudah sepuluh
tahun surat wasiat itu disimpan, rasanya masih saja ada bau bacinnya.
In Lui rasakan tubuh dan hatinya gemetar. Ia menjadi ngeri tidak keruan. Surat wasiat
berdarah itu bagaikan es yang sangat dingin, yang mengurung dirinya. Ia pun merasakan
bagaikan ada tenaga yang tak dapat ia melawannya, yang menitahkan ia membunuh Thio
Tan Hong dengan tangannya sendiri.
Tiba-tiba terdengar suara kuda dari luar liang kubur, itulah tanda bahwa Thio Tan Hong
telah kembali. In Lui segera tetapkan hati, ia sampai kertakkan gigi, ia menggigitnya
dengan keras. Dengan cepat ia kembali ke tempatnya beristirahat, ia duduk sambil tunduk,
bagaikan ia tengah bersemedhi, padahal ia sedang umpetkan mukanya yang pucat pasi itu,
supaya Tan Hong tidak dapat melihatnya. Hatinya memukul keras, ia coba
menenangkannya.
Thio Tan Hong menolak pintu dengan perlahan-lahan, ia bertindak masuk.
Dongengku yang ketiga segera akan aku tuturkan, katanya sambil tertawa. Kali ini aku
mempercepat waktunya. Eh, saudara kecil, kau kenapa?
Kendati ia menanya demikian, Tan Hong sebaliknya hampirkan kaca, di depan mana ia
rapikan rambutnya yang kusut. Tiba-tiba saja pada kaca itu terlihat bayangan In Lui, kedua
mata siapa mendelik berapi, tangannya tengah menikam dengan pedang.
Bergetar tangan In Lui itu, tapi hebat serangannya, hingga kaca perunggu itu pecah
karenanya. Tan Hong lolos dari ancaman bencana, pedang itu lewat di samping lehernya, di
atas pundak, langsung mengenai kaca itu.
Saudara kecil, saudara kecil, kau dengar aku.... kata Tan Hong sambil berpaling.
In Lui tidak memperdulikannya, ia menikam pula, kali ini sambil meramkan mata, ketika
ternyata ia kembali gagal, terus ia mengulangi hingga tiga kali.
Tan Hong masih berkelit, yang terakhir ia lompat melewati meja.
Segera juga terdengar tangis In Lui.
Aku sudah tahu semua! teriaknya. Tak usah lagi kau tuturkan dongengmu yang ketiga!
ia lompat maju, lagi-lagi ia menyerang.
Tan Hong egoskan tubuhnya, ia menghela napas.

137

Peng-Cong Hiap-Eng
Kau toh cucu perempuan dari In Ceng? dia tanya.
Dan kaulah anak musuh keluargaku! teriak si nona, seraya menikamkan pedangnya
kearah ulu hati.
Dengan sekonyong-konyong saja Tan Hong pasang dadanya.
Baiklah, saudara kecil, tikamlah! berkata dia. Tak mau aku minta maaf padamu!
Pedang menyambar, tetapi menyimpang ke kanan Tan Hong, dengan begitu bahu pemuda
itu lantas saja mengeluarkan darah. Pemuda ini benar-benar tidak berkelit dari tikaman
itu, adalah si nona yang tak dapat menarik pula pedangnya, telah menggeser incarannya.
Masih Tan Hong tidak menyingkir.
Adik kecil, berkata pula si anak muda, kalau sebentar kau telah binasakan aku, kau
jangan terus turuti hawa amarahmu, jangan gusar, hanya duduklah diam-diam kira-kira
satu jam. Di atas meja kemala itu ada satu botol kecil dari perak, yang berisikan obat,
itulah obat yang sengaja aku sediakan untukmu, guna menguatkan tubuhmu. Nah, sudah,
adik kecil, tak mau aku mohon maafmu, kau tikam pula padaku!
Kedua mata In Lui lantas mencucurkan air mata, tangannya gemetar, hatinya dirasakan
sakit, hampir saja terlepas pedang Ceng-beng-kiam dari cekalannya. Berbareng dengan itu,
ia juga merasakan seperti surat wasiat darah di dadanya menjadi besar bagaikan bukit,
seperti menindih sangat berat kepada hatinya, sebagai juga ia dipaksa untuk melakukan
pembalasan sakit hati.
Sesaat saja Nona In berdiam, lantas ia acungkan pedangnya.
Ambillah pedangmu! ia kata kepada anak muda di depannya. Aku tidak hendak
membinasakan seorang yang tidak memegang senjata di tangannya!
Nona ini tahu baik Tan Hong ada terlebih kosen daripadanya, jikalau mereka berdua
bertanding, yang akan terbinasa bukannya si anak muda, tapi dia sendiri, setahu kenapa,
dia menghendaki Tan Hong tempur padanya, dia seperti ingin terbunuh Tan Hong. Dia
seperti percaya, dengan binasanya dia di tangan Tan Hong, tidak nanti dia merasa kecewa
terhadap kakeknya.
Tan Hong berdiri di tempatnya, tanpa bergerak, cuma wajahnya yang berubah daripada
biasanya. Ia kelihatan nangis bukan, tertawa bukan. In Lui tak berani mengawasi air muka
orang itu.
Melihat orang terus berdiam, si nona kertak giginya, ia jemput Pek-in-kiam yang terletak di
tanah, terus ia lemparkan itu kepada si anak muda.
Permusuhan kita kedua keluarga ada permusuhan sangat besar bagaikan langit! ia kata.
Maka itu, jikalau bukannya kau yang mati, tentulah aku! Lekas kau hunus pedangmu!
Thio Tan Hong sambuti pedannya itu.
Adik kecil, berkata dia, dengan suara duka, aku telah angkat sumpah, selama hidupku
ini, tidak hendak aku bertempur dengan kau, maka itu jikalau kau hendak bunuh aku,
bunuhlah! Saudara kecil, jikalau kau tidak hendak turun tangan, aku akan pergi dari sini!

138

Peng-Cong Hiap-Eng
In Lui membabat ke arah muka Tan Hong, akan tetapi pedang cuma berkelebat di depan
muka, lalu ditarik kembali.
Menampak demikian, Tan Hong menghela napas, lantas ia lompat keluar dari kamar rahasia
itu, setibanya di luar segera ia lompat naik ke atas kuda putih.
Adik kecil, rawatlah dirimu baik-baik! terdengar ia berkata dengan nyaring. Saudara,
aku pergi!
Dengan bengernya kuda satu kali, sunyilah istana Hek Pek Moko itu, malah sedetik
kemudian, Tan Hong sudah berada jauhnya beberapa lie. Di lain pihak, In Lui berdiri
menjublak, pedangnya telah jatuh ke lantai. Di hadapan nona ini, segala apa ada suram,
gelap.

VIII

Di luar pekuburan terdengar kuda berbenger, lalu keadaan menjadi sunyi dan Thio Tan
Hong telah lenyap.
Biarlah Thio Tan Hong lenyap untuk selama-lamanya! Misalkan saja di dunia ini belum
pernah ada Thio Tan Hong itu!
Demikian pikiran aneh yang melayang di kepala In Lui. Tapi Thio Tan Hong yang berdarah
daging, yang telah berdiam bersama ia di dalam kamar rahasia, bagaimana bisa dia tidak
ada di dunia? Tiga hari mereka berada bersama.
Ya, Thio Tan Hong telah pergi jauh, Thio Tan Hong tak tertampak pula. Benarkah dia telah
menghilang? Oh, tidak, tidak! Lihat! Kau lihat, dia telah kembali, dia kembali, dia kembali!
Bayangannya, secara sangat samar, secara perlahan sekali, telah nelusup masuk ke dalam
hati In Lui, dan surat wasiat berdarah itu, telah hilang dialingi bayangan Thio Tan Hong itu.
In Lui berada dalam kegelapan, ia bagaikan meraba-raba. Membencikah ia? Mencintakah
ia? Girangkah ia? Atau, berdukakah ia? Inilah ia tidak ketahui, tak dapat ia membedabedakannya. Kebaikan budi dan permusuhan sudah melibat menjadin satu, begitupun sang
cinta dan kebencian, tak dapat itu diputuskan dengan gunting, hendak dibereskannya,
tetap kusut.
Pada saat itu, tak dapat In Lui memikir apa jua, otaknya bagaikan kosong, tak suatu apa
ketinggalan di kepalanya. Tapi dalam keadaanya seperti itu, dengan lapat-lapat ia seperti
tampak Thio Tan Hong tengah mendatangi ke arahnya, dan akhirnya pemuda itu berbisik di
telinganya, Adik kecil, adik kecil...
In Lui seperti mendengar kebengisan yang agung dari kakeknya, ia seperti melihat mata
yang menyinta dari ibunya...Ia mendengar satu suara yang halus sekali, yang memanggilmanggil padanya. Di dunia dimana ada suara si lemah itu? Dimana ada sinar mata sehalus
itu?
Itulah suara Tan Hong tadi. Itulah sinar mata Tan Hong tadi.

139

Peng-Cong Hiap-Eng
Kedua mata In Lui dengan perlahan-lahan menggeser, berpindah ke arah meja berbatu
kemala, di atas mana Tan Hong telah meletakkan botol peraknya yang kecil. Itulah botol
yang berisikan obat yang Tan Hong sediakan untuknya.
Bukankah itu ada barang musuh? Tidak, tidak, tak dapat aku memakannya. Tetapi ini ada
barang yang menandakan kebaikan terakhir dari Tan Hong. Tidak, tidak selayaknya aku
menolaknya.
Kembali dua macam pikiran bertentangan satu pada lain. Kembali dengan sayup-sayup si
nona seperti melihat sinar mata menyinta dari Tan Hong tengah mengawasi ia, lalu di
kupingnya terdengar suara yang halus dan merdu. Adik kecil, meski benar lukamu telah
sembuh, akan tetapi tenaga dalammu belum pulih seanteronya, maka, adikku, makan,
makanlah obat itu..
Itulah sinar mata yang tak dapat ditentang, itulah suara halus yang tak dapat dibangkang.
Tanpa merasa, In Lui ulur tangannya, menjemput botol itu, dari dalamnya ia keluarkan tiga
butir obat warna merah terus ia masukkan ke dalam mulutnya.
Sekonyong-konyong dari luar kuburan terdengar kuda meringkik.
In Lui terperanjat, hatinya goncang. Dengan gesit dia lompat bangun, hatinya pun berpikir,
Mustahilkan dia kembali?
Tiba-tiba terdengar satu seruan dari kegirangan yang meluap-luap, lalu disana, di lorong
kuburan, tampak Ciu San Bin lari mendatangi dengan keras sekali.
Adik In! Oh, sungguh benar kau berada disini? demikian seru she Ciu itu. Tapi segera
suara itu disusul suara kaget dan sangat berkuatir, Eh, eh, adik In, apakah kau terkena
tangan jahat binatang itu?
In Lui perlihatkan senyuman tawar, ia mengeleng-gelengkan kepalanya.
San Bin sudah lantas sampai pada si nona, malah segera ia duduk di sampingya, terus ia
tatap muka orang. Ia tampak satu wajah yang kumal, roman yang lesu, seperti orang
kehilangan semangat, maka itu, ia merasa kuatir untuk nona itu.
In Lui berdiam, ia coba menenangkan diri.
Kiranya kau dan dia bersembunyi di dalam kuburan, kata San Bin. Apakah dia tidak
mengganggu padamu? Tahukah kau, siapa dia? Dia adalah putera pengkhianat besar Thio
Cong Ciu! Ya, dia adalah musuh besar dari kakekmu!
San Bin menyangka, mendengar perkataanya itu, si nona akan kaget, tapi sangkaannya
meleset.
Ya, aku sudah tahu, sahut si nona, perlahan sekali.
Maka itu, adalah San Bin yang terperanjat bahna herannya, hingga ia lompat berjingkrak.
Apa? tanyanya separuh berteriak. Kau telah ketahui? Bila kau ketahui itu?
Tubuh In Lui tetap tidak bergerak.

140

Peng-Cong Hiap-Eng
Baru saja aku mengetahuinya, ia menyahut, tetap dengan perlahan. Tantai Mie Ming
barusan datang kemari...
San Bin keluarkan napas lega.
Begitu? katanya. Aku heran, kalau kau tahu dia ada musuhmu, kenapa kau ada bersama
dia. Apakah kau telah bertempur dengannya? Apakah kau tidak terluka?
Aku terluka di tangan Pek Moko, kata In Lui beritahu. Dia justeru yang mengobati
aku
San Bin heran.
Dia? ia ulangi. Dia siapa?
Ialah dia musuhnya kakekku.
San Bin melengak.
Apakah dia tidak tahu bahwa kau cucu perempuan In Ceng? tanyanya.
Aku telah menikam dia dengan pedang. Dia telah mendapat tahu.
Kembali San Bin melengak. Tapi kali ini segera ia sadar.
Oh, aku tahu sudah! ia kata. Mulanya anak pengkhianat itu tidak tahu bahwa kau
adalah musuhnya, maka itu ia berdaya mengambil hatimu, supaya kau dapat digunakan
untuk keuntungan dia, kemudian setelah kau tikam padanya, dan ia tahu bukannya
tandinganmu, ia lari kabur! Sayang kau tengah terluka, tenagamu belum pulih, jikalau
tidak, pasti kau dapat membunuhnya. Coba kau ketahui, tidak usah kau berdaya demikian
keras.
In Lui tunduk, ia tidak berkata suatu apa.
Tapi San Bin, sambil tertawa, berkata pula, Jikalau aku tahu ilmu silatnya tidak lihai,
tidak nanti aku berdaya keras, hingga aku minta Hong-thian-lui Cio Eng mengirimkan Loklim-cian
In Lui terkejut.
Apa? Lok-lim-cian? dia Tanya.
San Bin tertawa.
Pengalamanmu mengenai kaum kang-ouw masih belum banyak, ia berikan
keterangannya. Apakah benar kau masih belum tahu apa itu lok-lim-cian? Itulah panah
titah yang dikirim pemimpin kaum Lok-lim kepada jago-jago Lok-lim, siapa yang melihat
itu, dia tentu akan datang untuk memberikan bantuannya walaupun dia mesti terjang api.
Adik In, inilah pengaruh malaikat atau iblis yang membuat anak Thio Cong Ciu berani
seorang diri saja masuk ke Tionggoan. Adik, pastilah sakit hatimu akan dapat dibalas,
dilampiaskan.
Pada mata In Lui, surat wasiat berdarah itu tampaknya seperti melar semakin besar. Pada

141

Peng-Cong Hiap-Eng
saat itu, tak tahu ia, warta San Bin ini harus diterima dengan kegirangan atau kedukaan. Ia
tahu, pesan kakeknya, yang mewajibkan dia menuntut balas, tidak dapat diabaikan, bahwa
musuh she Thio itu tidak boleh diberi ampun. Bolehkah dia membiarkannya pembalasan itu
dilakukan oleh lain orang? Pantaskah kalau ia tidak turun tangan sendiri?
Tapi, ketika ia bayangkan halnya Thio Tan Hong nanti tercincang golok kaum Rimba Hijau,
tidak berani ia membayangkannya terlebih jauh, tidak berani ia memikirkannya.
Adik In, terdengar pula San Bin berkata, sejak kau meninggalkan gunung, aku selalu
pikirkan kau
Suara itu sangat perlahan, manis terdengarnya.
Banyak terima kasih untuk perhatianmu, katanya, lemah.
Kecewa San Bin melihat orang lesu.
Sejak perpisahan kita itu, aku selalu ingin bertemu pula dengan kau, berkata pula
pemuda she Ciu. Itu, sayang, aku senantiasa repot. Mana bisa aku segera cari kau? Baru
satu bulan yang lalu mata-mataku di perbatasan dapat mengendus bahwa putera Thio Cong
Ciu sendirian saja masuk ke Tionggoan, bahwa dia telah menyamar sebagai satu mahasiswa
dengan menunggang seekor kuda putih, kuda jempolan. Lantas ayahku berdamai dengan
orang-orang kita. Rata-rata orang anggap kedatangan Thio Tan Hong ke Tionggoan tidak
nanti ia mengandung maksud baik, pasti dia mengandung tujuan untuk mengacau-balau
Tiongkok, maka itu ayah menugaskan aku pergi mencari, guna mengintai dia. Aku dipesan
supaya bekerja sama dengan semua saudara Rimba Hijau, untuk bersama membekuk dia.
Begitulah lok-lim-cian telah disiarkan. Tempat ini termasuk wilayah Shoasay, pemimpin
Rimba Hijau dari kedua propinsi Shoasay dan Siamsay adalah Cio Eng, dari itu aku sudah
lantas cari ketua she Cio itu. Sayang, ketika aku sampai di rumahnya, Cio Loo-enghiong
kebetulan tidak ada di rumah, aku Cuma dapat bertemu dengan puterinya. Dari Nona Cio
aku mendapat keterangan, kau telah menjadi baba mantu Cio Loo-enghiong itu. Selagi aku
cari Cio Loo-enghiong, dia sendiri sedang mencari kau. Haha, adik in, sandiwaramu ini
membikin aku tertawa geli sampai perutku mulas! Kau tahu, Nona Cio itu sungguh-sungguh
menyintai kau!
In Lui tersenyum.
Bagaimana kau lihat Nona Cio itu? dia Tanya.
Ilmu silatnya cukup baik, sahut San Bin.
Yang lainnya lagi? Tanya pula In Lui.
Aku kenal dia sebentar saja, mana aku ketahui sifatnya yang lain lagi? San Bin
membaliki.
In Lui bersenyum pula. Hendak dia berkata pula, tapi ia tercegah halnya lok-lim-cian,
panah Rimba Hijau itu. Ia bingung, Cio Eng begitu menghormati Thio Tan Hong, kenapa dia
bekerja sama dengan San Bin menyiarkan panah istimewa itu? Inilah satu soal, yang perlu
ia ketahui jelas.
San Bin tidak ketahui apa yang si nona pikirkan, menerkanya pun tidak. Ia bicara terus.

142

Peng-Cong Hiap-Eng
Itu hari bersama-sama nona Cio aku telah kejar muridnya Tantai Mie Ming, kata dia.
Murid Mie Ming itu menunggang seekor kuda pilihan, kita kejar dia sampai kira-kira lima
puluh lie, tapi tak dapat kita menyandaknya. Kuda kita semua telah kehabisan tenaga.
Kuda dia lari bagaikan terbang, tak dapat disusul terus.
Bagaimana dengan Nona Cio? Tanya In Lui.
San Bin tertawa.
Hai, nyonya, rupa-rupanya terhadap aku, kau kandung suatu maksud! katanya. Terusmenerus kau angkat aku, dari suaramu, agaknya kau merasa kurang puas terhadap kakak
angkatmu ini, hingga kau membuatnya aku tidak mengerti! Aku toh kakak angkatmu? Ada
hubungan apa antara Nona Cio itu dengan aku?
Di dalam hatinya, In Lui tertawa. Ia ingat halnya sendiri pada malam pengantin, terhadap
Cui Hong berulang kali ia menyebut-nyebut San Bin.
San Bin mengangkat pundak, ia berkata pula, Oleh karena kita gagal mengejar musuh itu,
Cui Hong dan aku berselisih mulut sebentar, katanya dia hendak pulang sendirian saja,
tidak ingin dia mengajak aku untuk menemui ayahnya. Dia pun membikinn banyak ribut,
dia ingin aku kembalikan batu sanhu kepadanya, seperti juga dia anggap sanhu itu
bagaikan jiwamu.
Tanpa merasa, In Lui tertawa.
San Bin berkata pula, Aku tahu, batu itu engkaulah yang memberikan padanya selaku
tanda mata terhadapmu, dia sangat menyinta, pantas ia sangat menyayangi batu itu.
In Lui tertawa.
Tetapi kali ini adalah kau memberikan dia tanda mata, bukannya aku yang
memberikannya! katanya.
Ah kau, setan cilik! Kau ngaco belo! Nanti, aku robek mulutmu! Dan ia ulur tangannya.
In Lui palingkan mukanya, masih ia tertawa.
Mari kita bicara dari hal urusan yang benar, ia kata kemudian. Nona Cio tidak sudi
mengajak kau menemui ayahnya, habis dari manakah kau dapatkan panah Lok-lim-cian
itu?
Itu adalah kejadian yang kebetulan saja, jawab San Bin. Sesudah nona Cio tidak mau
mengajak aku, dia berangkat, kemudian aku pun berangkat. Aku menuju ke barat. Tidak
lama kemudian, aku bertemu dengan Hong-thian-lui Cio Eng, ayahnya itu. Cio Eng belum
tahu bahwa barusan aku berada bersama gadisnya. Rupanya ayah dan anak itu mengambil
jalan yang berlainan, hingga mereka tak bertemu satu dengan lain.
Bukankah Cio Loo-enghiong itu ada bersama empat saudagar barang permata? In Lui
tanya.
Benar! Dia jalan terburu-buru, seperti mempunyai urusan sangat penting, hingga dia tak
sempat bicara banyak denganku. Aku minta lok-lim-cian padanya. Sebenarnya hendak aku
bicara lebih banyak padanya, untuk menceritakan gadisnya, tapi dia sudah mendahului

143

Peng-Cong Hiap-Eng
mengoyang-goyangkan tangannya dan berkata nama Kim-too Ceecu sangat kesohor,
siapakah yang tidak ketahui? Kau hendak bekuk seseorang, dia tentunya ada seorang yang
jahat tak berampun, maka tentang dia, tak usah kau menjelaskannya. Kau perlu Lok-limcian, kau boleh dapatkan itu. Aku mempunyai urusan penting, maafkan aku, tidak dapat
aku menemani kau. Siauwceecu, kalau urusanmu telah selesai, aku undang kau datang ke
Hek-sek-chung, nanti kita pasang omong dengan asyik. Tanpa tanya apa-apa lagi, ia
serahkan Lok-lim-cian padaku, terus ia ajak keempat saudagar itu melanjutkan
perjalanannya.
Oh, demikian duduknya hal. In Lui berpikir. Coba Cio Eng menanyakan nya dan ia
ketahui siapa yang hendak dibekuk orang she Ciu ini, tidak nanti akan terjadi kekeliruan
semacam ini.
Aku bertemu dengan Cio Loo-enghiong di ekeat tanjakan Beng-liang-kong, berkata pula
San Bin, tempat itu adalah daerah pengaruhnya Ceecu Na Thian Sek. Aku lantas pergi
menemui Thian Sek, aku serahkan Lok-lim-cian kepadanya sambil menitahkan dia agar
dalam tempo tiga hari, panah itu sudah sampai kepada seluruh kaum Rimba Hijau. Aku
berdiam satu hari di pesanggrahannya, untuk mendengar-dengar kabar. Lancar jalannya
urusan itu. Dengan bekerja sama antara Cio Eng dan ayahku, ada beberapa orang yang
tadinya tidak sudi mendengar titah, yang biasa menjagoi di tempatnya masing-masing
telah menyatakan sudi memberikan bantuannya. Adik In, kali ini pastilah sakit hatimu
dapat dibalaskan! Eh, eh, kau kenapa? Kenapa kelihatannya tidak gembira?
San Bin terkejut, ia ucapkan kata-katanya yang terakhir ini karena tiba-tiba saja ia tampak
wajah si nona menjadi pucat. Akan tetapi nona itu, begitu ditegur, dia paksakan diri untuk
tertawa.
Sebenarnya aku merasa kurang sehat, ia kata. Tapi sekarang aku sudah sehat, aku, aku
girang sekali.
Tentang Lok-lim-cian itu tidak usah aku memperhatikannya terlebih jauh, San Bin
menerangkan pula. Satu kali panah telah dikirimkan, orang-orang Lok-lim sendiri masingmasing tahu bagaimana harus mengurusnya. Aku ingat hari itu di tempat ini aku bertemu
dengan kuda merahmu, karenanya aku kembali untuk mencari kau. Thian mengasihani aku,
beruntung aku telah bertemu denganmu!
In Lui berdiam.
San Bin masih hendak bicara lebih jauh, tapi ia seperti dengar suatu apa, lantas ia
jatuhkan diri, untuk mendekam di tanah seraya memasang kupingnya.
Apakah ada orang tengah mendatangi? tanya In Lui menyaksikan kelakuan orang itu.
Kenapa aku tidak dengar apa-apa?
San Bin lantas bangkit pula.
Ada orang datang, tapi masih jauh, sahutnya. Lantas ia lari keluar, untuk coba menutup
pintu, kemudian ia kembali.
Itulah Hek-tee teng-seng atau ilmu memasang kuping sambil mendekam di tanah yang
San Bin gunakan, itu adalah suatu ilmu istimewa. Pernah In Lui pelajari ilmu itu tetapi
belum sempurna.

144

Peng-Cong Hiap-Eng
San Bin awasi si nona, lalu ia bersenyum.
Bukankah baik kau salin pakaian? katanya.
Merah wajah In Lui. Kata-kata San Bin seolah-olah teguran untuknya. Sambil tunduk, ia
bertindak masuk ke dalam kamar rahasia, yang pintunya terus ia tutup.
Ditinggal seorang diri San Bin berpikir keras. Ia sangsikan nona ini, ia bercuriga. Bukankah
selama ia belum ketahui Thio Tan Hong ada musuhnya, In Lui telah bergaul rapat sekali
dengan Tan Hong? Sampai dimana pergaulan mereka?
In Lui sendiri, selagi ia buka bungkusan pakaiannya, di kepalanya seperti terbayang wajah
Thio Tan Hong yang seolah-olah sedang tertawa, kupingnya seperti berulang kali
mendengar, Adik kecil, adik kecil suara itu halus dan manis yang menggoncangkan
semangat. Ia menjadi tidak keruan rasa, hingga ketika ia angkat bajunya, baju untuk
wanita, ia merobeknya. Kenapa ia menjadi sengit? Bencikah ia pada bajunya itu? Tidak. Tak
tahu kenapa dengan mendadak ia jadi sengit. Lalu timbul keinginan untuk menjadi seorang
lelaki! Ia percaya, kalau ia menjadi seorang pria, mungkin tak akan dialaminya segala
kesukaran ini.
Tengah memeriksa pakaiannya, nona ini lihat sepotong baju merah tua. Ia ingat, inilah
baju yang pertama kali ia pakai setelah Tan Hong ketahui bahwa dia adalah satu nona.
Ketika itu, Tan Hong, yang mengawasinya dengan tajam padanya, sangat mengagumi dan
memuji kecantikannya. Ia lantas menghela napas. Ia terus pandang bajunya itu. Ya, tidak
salah, itulah baju yang dipuji Tan Hong. Ia lantas usap-usap baju itu, lalu disimpan secara
hati-hati juga.
Di luar kamar rahasia, terdengar tindakan kaki San Bin, yang rupanya sedang jalan mondarmandir. Mendengar itu, mendadak In Lui sadar dari lamunannya.
Pastilah tak sabara Ciu Toako menantikan aku! pikirnya, maka ia lantas pilih seperangkat
pakaian pria dan segera dipakainya dengan cepat, lalu dengan cepat juga ia bertindak
keluar.
San Bin tengah sandarkan tubuh di pintu batu.
Kau dengar tidak tindakan kaki kuda itu? dia berkata. Orang telah datang semakin
dekat. Orang yang datang ke tempat pekuburan ini, mestinya bukan sembarang orang.
Bagaimana dengan kesehatanmu? Dapatka kau menggunakan pedangmu?
Rasanya aku dapat, jawab In Lui. Ciu toako, coba kau tuturkan pula adanya tentang
Lok-lim-cian.
Itulah pertanyaan yang San Bin tidak sangka, ia menjadi heran. Bagaimana dalam keadaan
demikian si nona masih sempat menanyakan urusan panah kaum
Rimba Hijau itu?
Aku percaya, sekarang ini, panah itu sudah tersiar luas, ia menjawab. Apa lagi yang
hendak dibicarakan mengenai panah itu?
Di dalam propinsi Shoasay ini, siapakah jagonya Lok-lim? In Lui tanya.

145

Peng-Cong Hiap-Eng
San Bin mengawasi, ia tertawa.
Ah, apakah kau sangsi tak akan dapat menuntut balas? dia bali menanya. Di dalam
propinsi ini, ada banyak jago Lok-lim! Ya, aku sampai lupa memberitahukan kau satu hal.
Kau tahu, Ji-supeeh Tiauw Im Taysumu, yang belum lama ini baru kembali dari Mongolia,
sekarang berada di daerah ini. Jangan-jangan dia pun telah mendapat tahu tentang panah
kita itu.
In Lui heran.
Adakah itu benar? dia tanya. Kapan ji-supeeh pergi ke Mongolia? Apakah kau telah
bertemu padanya?
Aku sendiri tidak menemuinya, aku dengar pembicaraan orang, sahut San Bin. St,
jangan kau bicara pula! Dengar, di luar ada suara orang memanggil kau!
Memang benar kata-kata orang she Ciu ini.
In Lui! In Lui! demikian suara panggilan di luar pekuburan.
Itulah suara Cui Hong.
In Lui heran hingga ia tercengang. Baru ia hendak berkata, Jangan bukakan pintu, San
bin sudah pentang pintu kuburan, hingga nona Cio bisa lari masuk, larinya keras sekali.
Begitu ia lihat In Lui, Cui Hong girang bukan kepalang.
In Siangkong, kau benar ada disini! dia berseru. Cuma itu yang ia dapat katakana, lantas
saja ia menangis tersedu-sedu, menangis karena girangnya.
Luka In Siangkong baru baikan, kau jangan ganggu dia, San Bin peringatkan.
Baru sekarang Cui Hong lihat pemuda she Ciu itu, untuk sedetik ia tercengang, habis itu,
sepasang alisnya berdiri, wajahnya menunjukkan kegusaran.
Kita ada suami-isteri, kenapa kau usilan? dia bentak. Tapi terus ia hampirkan In Lui.
In Siangkong, adakah kau terkena tangan jahat Hek Pek Moko? dia tanya dengan perlahan
sekali.
In Lui manggut.
Kau jangan kuatir, sekarang ini aku sudah sembuh, ia jawab. Ia pegang tangan si nona,
untuk ditarik. Benar apa yang dikatakan Ciu Toako, perlu aku beristirahat. Kau lihat, hari
sudah sore.
Muka Cui Hong menjadi bersemu merah.
Kau bantu kakak angkatmu, kau tidak perhatikan aku..katanya dalam hati, saking
mendongkol. Ia Cuma bisa berpikir, tidak berani ia utarakan kemendongkolannya itu.
San Bin disamping mereka tertawa perlahan.

146

Peng-Cong Hiap-Eng
Eh, kau tertawakan apa? tegur Cui Hong, matanya mendelik.
In Lui menyelak tanpa tunggu jawaban San Bin yang bersenyum.
Aku sudah lapar, Nona Cio, tolong kau masakkan aku makanan, demikian katanya. Disini
ada beras, ada daging. Ingin aku beristirahat, maka kalau nanti makanan itu sudah sedia,
baru kau panggil aku
Habis berkata terus ia masuk ke dalam kamar rahasia.
San Bin hendak ikuti si nona, baru ia jalan dua tindak, Cui Hong sudah perdengarkan
suaranya yang kaku, Eh, mari kau bantui aku ambil air untuk cuci beras!
Biar bagaimana, pemuda ini jengah, urung ia masuk ke dalam kamar rahasia.
In Lui menoleh, ia bersenyum kepada pemuda itu. Ia bagaikan anak nakal yang merasa
sangat puas karena berhasil mengodai orang.
San Bin masgul sekali, dengan mulut membungkam ia bantui Cui Hong mengambil air untuk
cuci beras, lalu menyalakan api, untuk memasak nasi.
Cui Hong juga bungkam terus, tidak ia perdulikan anak muda itu, suatu tanda ia murka.
Adalah In Lui, yang katanya hendak beristirahat, di dalam kamar rahasia sudah mengasah
otaknya. Ia pikirkan, dengan cara bagaimana dapat ia menjodohkan kedua pemuda dan
pemudi mitu. Ia tersenyum bila ia dengar orang tidak perdengarkan suara satu pada lain.
Cui Hong sangat membenci dia, itulah tentu disebabkan karena ia menyangka aku sangat
berpihak pada toako San Bin, ia pikir. Tapi kalau nanti ia ketahui aku pun seorang wanita
sebagai dia, pastilah dia akan tertawa. Adakah ini yang dikatakan, kalau bukan musuh
tidak berkumpul menjadi satu?
Selagi memikir demikian, Nona In ini jengah sendiri. Tidakkah ia pun demikian ketika
pertama kali ia bertemu dengan Tan Hong? Tidakkah ia juga semula menpunyai perasaan
jemu? Karena ini, ia menghela napas sendirinya.
In Lui tidak tahu berapa lama ia telah melamun, tahu-tahu dia dengar Cui Hong mengetok
pintu kamar.
In Siangkong, nasi sudah matang! kata isteri itu.
Bagaikan baru sadar dari mimpinya, dengan gugup In Lui buka pintu. Ia lantas dapat
tenangkan diri. Tapi begitu lekas ia tampak sikap San Bin dan Cui Hong berdua, yang tetap
masih saling membungkam dan tak perdulikan satu sama lain, tak tertahan lagi, ia
tertawa.
Cui Hong dan San Bin berebut hendak menyajikan nasi untuk In Lui. Karenanya, nona itu
kembali deliki si anak muda, hingga dia ini dengan jengah mesti mengalah.
In Lui tersenyum, ia sambuti nasi dari Nona Cio.
San Bin jengah, kuatir ia nanti ditertawakan In Lui, ia diam dengan muka yang merah.

147

Peng-Cong Hiap-Eng
Cui Hong, berkata In Lui kemudian, Ciu Toako adalah Jit Goat Siang-kie Kim Too Siauw
Ceecu. Ia ada seorang yang banyak pemandangannya, luas pengetahuannya. Maka, itu
pantaslah kalau kau meminta pengajaran darinya.
Dengan sengaja In Lui menyebutkan lengkap Jit Goat Siang-kie Kim Too Siauw Ceecu
atau Ceecu muda berjuluk Kim Too, si Golok Emas, dari pesanggrahan yang berbendera Jit
Goat Siang-kie, bendera sepasang matahari dan rembulan.
Mendengar itu Cui Hong perdengarkan suara di hidung, Hm!
Memang telah aku ketahui kakak angkatmu itu ada seorang gagah yang luar biasa,
demikian katanya secara memandang enteng. Jikalau bukannya begitu, cara bagaimana
kau begini mendengar kata terhadapnya?
Mendengar demikian, San Bin menjadi sangat jengah. Tidak demikian dengan si nona In,
yang tak perdulikan ejekan itu. Ia telah menduga yang ia akan mendapat sambutan
demikian. Sambil tertawa, ia berkapa pada si nona, Turut katanya Ciu Toako, itu hari kau
terburu-buru pulang, kenapa sekarang kau keluar pula?
Memang, jawab Cui Hong. Tidak lama setibanya aku di rumah, ayah pun pulang. Wajah
ayah muram sekali, ia seperti tengah menghadapi soal yang sangat sulit. Aku tanya ayah
apa ia dapat menemui kau, ayah jawab tidak. Ayah tahu betul kau masih berada di dalam
kuburan Hek Pek Moko, tetapi ada orang yang mencegah dia menemui kau. Hal itu
membuat aku heran sekali.
San Bin pun heran, hingga ia campur bicara.
Ayahmu ada seorang gagah, ia disegani kaum Rimba Hijau, siapa yang berani merintangi
dia? demikian ia tanya.
Mendengar orang memuji ayahnya, kesan jelek Cui Hong terhadap pemud itu berkurang
dengan segera. Tapi masih ia tidak mau melayani orang berbicara, ia hanya memandang In
Lui.
Berulang kali aku tanya ayah, siapa itu orang yang mencegah dia, ayah tetap tidak
hendak mengatakannya, kata Cui Hong. Ayah katakana ia tidak takuti siapa pun juga,
melainkan perkataan orang itu tak dapat ia tidak mendengarnya. Ayah pun berkata,
tentang jodohmu, itu ditanggung olehnya serta In Siangkong. Ia kata tidak usah aku
pusingkan kepala lagi.
Berkata sampai disitu, merah muka Cui Hong, hingga tidak berani ia bertemu mata dengan
In Lui, tangannya pun membuat main ujung bajunya saja.
In Lui tertawa di dalam hati, ia girang, ia pun berduka. Ia girang menyaksikan kemalumaluan Cui Hong dan Cio Eng yang demikian menghargai Thio Tan Hong. Tapi ia berduka
untuk nasibnya sendiri, yang belum tahu bagaimana jadinya nanti. Bukankah Tan Hong itu
musuhnya? Ia tahu benar, orang yang dimaksudkan Cio Eng itu adalah Thio Tan Hong, tapi
tentang pemuda she Thio itu, tidak hendak ia menyebutkannya.
Selama belasan hari ini, sikap ayah menjadi luar biasa sekali, Cui Hong menambahkan,
Biasanya, dalam hal apa juga, ayah selalu bicara denganku, hanya selama ini, semua
gerak-geriknya ia rahasiakan. Tentang siapa adanya si bangsat cilik berkuda putih itu,
perihal selembar gambar lukisan, juga mengenai orang yang mencegah padanya, semua itu

148

Peng-Cong Hiap-Eng
ayah tak hendak beritahukan sedikit jua padaku. Ayah sampai tidak mempedulikannya yang
aku menjadi gusar. Sebaliknya ayah menghendaki aku segera mengantarkan surat..
Mengantarkan surat? tanya In Lui. Mengantar surat untuk siapa? Ia perlihatkan roman
heran dan sangat ingin mengetahuinya.
Cui Hong sebaliknya bersenyum.
Surat itu mesti disampaikan kepada seorang kangouw yang kenamaan, yang aneh, ia
beritahu. Tapi Cuma sampai disitu ia memberitahukannya, lalu ia tambahkan, Sekarang
ini tidak hendak aku beritahukan dulu kepadamu. Jikalau kau ingin bertemu dengan orang
aneh itu, besok kau boleh turut aku pergi bersama!
Di propinsi Shoasay ini dimana ada orang kenamaan yang aneh seperti yang kau
maksudkan itu? San Bin campur bicara pula. Apakah dia itu Na Tayhiap? Ataukah Cek
Chungcu? Atau?
Hm! Cui Hong memotong. Tak usah kau menduga-duga tidak keruan! Kau memang ada
Kim Too Siauw ceecu yang kenamaan akan tetapi tidak nanti kau ketahui orang kangouw
kenamaan yang aneh itu!
San Bin ketemu batunya, ia bungkam pula.
In Lui tertawa.
Sudahlah, jangan kau main sandiwara! kata dia. Akan aku turut perkataanmu. Besok
bersama-sama Ciu Toako, aku akan turut kau! Sekarang sudah malam, hendak aku tidur!
Dia tolak pintu kamar rahasia ke dalam mana ia bertindak masuk.
Cui Hong Cuma bersangsi sebentar, ia turut masuk juga ke dalam kamar itu.
Enci Hong, disana masih ada sebuah kamar, berkata In Lui dengan perlahan pada nona
ini.
Cui Hong jengah dan mendongkol, hingga ia berhenti bertindak. Ketika ia hendak buka
mulutnya, dari luar ia dengar suara San Bin berkata seorang diri, Hebat kuburan ini,
bagaikan satu dunia baru saja! Ruang di dalam tanah bagaikan istana, sudah ada ruang
besar, masih ada beberapa kamar lainnya, sungguh bagus! Kamu berdua boleh tidur
masing-masing di kamar, aku sendiri, aku tidur di ruang besar ini, untuk berjaga malam.
Hiantee, kau baru sembuh, perlu kau beristirahat, mesti kau tidur siang-siang, jangan kau
terlalu banyak bicara.
Muka Cui Hong merah hingga ke kupingnya, ia lompat keluar kamar rahasia. Di ruang
tengah itu, ia tampak San Bin mengawasi ia, wajahnya seolah-olah bersenyum. San Bin
menutup mulut.
Mendongkol Nona Cio, hingga ingin ia bacok pemuda itu sampai tubuhnya kutung. Dengan
mendongkol, ia tolak keras daun pintu dari kamar yang ditunjukkan In Lui, ke dalam mana
ia bertindak masuk. Karena terus mendongkol, sampai jauh malam belum dapat ia tidur
pulas.
Besoknya, pagi-pagi, bertiga mereka itu telah mendusin dari tidurnya. Mereka berkumpul

149

Peng-Cong Hiap-Eng
di ruang tengah. In Lui bicara dengan San Bin, tapi San Bin dan Cui Hong tidak bicara satu
pada lain. Tidak lama, mereka duduk bersantap bersama-sama. Habis dahar, ketika mereka
mau keluar dari kuburan itu, tiba-tiba terdengar di kejauhan suara kuda berbunyi.
San Bin lompat bangun.
Cepat sekali datangnya kuda itu! kata dia. Ia bicara seperti tanpa juntrungannya. Baru ia
tutup mulutnya, atau suara kuda terdengar makin dekat. Dua kali binatang itu berbenger.
Eh! Cui Hong berseru, tanpa ia merasa. Suara kuda itu seperti suara si kuda putih!
Mendadak wajah In Lui menjadi pucat, tubuhnya pun limbung bagaikan hendak jatuh.
Ciu San Bin sudah lantas cabut goloknya.
Bagus! Dia telah mendahului datang mencari kita! ia kaa. Mari kira gabung tenaga kita
untuk tempur dia!
In Lui raba pedangnya, tangannya gemetar. Belum lagi ia hunus pedangnya itu,
terdengarlah suara berisik dari tubuhnya pintu depan, menyusul mana seekor kuda putih
menyerbu masuk.
San Bin berseru, kaget campur girang, terus ia lompat menyambut sambil memberi hormat
kepada orang yang menunggang kuda putih itu.
In Lui pasang matanya, ia dapatkan orang itu bukannya Thio Tan Hong yang ia harap-harap,
hanya di luar sangkaannya orang itu adalah Tiauw Im Hweeshio! Ia menjadi girang
berbareng kecewa, hingga ia berdiri menjublak di hadapan pendeta itu, tak dapat ia
bicara.
Si pendeta pun heran menampak orang dandan bagaikan satu pemuda, hingga ia keluarkan
suara tertahan, Ah! Kemudian, selagi ia hendak minta keterangan, Ciu San Bin telah
menarik ujung bajunya, mengajaknya ke pinggir, untuk dibisiki. Akhirnya ia tertawa
berkakakan.
Anak Lui, mari! ia memanggil sambil melambaikan tangannya. Baru beberapa tahun aku
tidak lihat kau, sekarang kau telah menjadi demikian rupa.
Susiok! In Lui memanggil, yang maju seraya memberi hormat.
Cui Hong turut di belakang In Lui, ia pun memberikan hormatnya.
Tiauw Im melirik kepada nona Cio, lalu ia tertawa berkakakan pula.
Sungguh cantik! katanya gembira. Anak Lui, jangan kau sia-siakan padanya!
Apa susiok ada baik? tanya Cui Hong. Ia agak malu.
Tiauw Im mengawasi, ia tertawa pula.
Kau begini cantik, apakah kau juga bisa masak nasi? dia tanya.
Melengak Nona Cio ditanya begitu.

150

Peng-Cong Hiap-Eng

Teehu sangat cerdik! San Bin menyelak, untuk mewakilkan si nona menjawab paman
guru yang jenaka itu. Ia bukan Cuma pandai masak nasi, ia pun pandai masak sayur!
Bagus, bagus! seru pendeta itu. Selama dua hari aku telah melakukan perjalanan tujuh
atau delapan ratus lie, sekarang perutku lapar sekali, maka itu, lekas matangkan aku nasi
dan sayurnya!
Cui Hong melengak, di dalam hatinya, ia kata, Walaupun kau lapar, tidak selayaknya kau
berlaku demikian terhadapku! Ayahku sendiri belum pernah menitahkan aku begini
rupa..
Tiauw Im sudah lantas tambatkan kudanya, habis mana itu ia jatuhkan diri untuk duduk.
San Bin Hiantit, kata dia pada pemuda she Ciu itu, yang ia panggil Hiangit atau
keponakan, kau juga pergi bantui iparmu masak nasi! Kau masak kira-kira tiga kati beras.
Sayurnya tak usah banyak, cukup enam atau tujuh rupa!
Tanpa ragu-ragu lagi Tiauw Im berikan titahnya itu, ia membuat Cui Hong tak dapat
menangis dan tertawa. Di dalam hatinya ia mengeluh, Kenapa paman guru In Lui begini
keterlaluan? Akan ttapi ia mesti pandang In Lui, walaupun sambil jebikan bibir, ia toh
pergi ke belakang.
San Bin sudah lantas susul nona itu.
Tak mau aku dibantui kau! kata Cui Hong dengan bengis. Ia tengah mendongkol, tak
dapat ia sabarkan diri lagi.
St, perlahan sedikit. San Bin berbisik. Kau tidak tahu, paman guru In Lui ada seorang
sembrono. Jikalau kau berbisik dan ia mendengarnya, nanti di depan In Lui dia ceritakan
tentang dirimu.
Benar-benar Cui Hong membungkam.
San Bin tidak perdulikan orang gusari dia sambil dideliki, malah sambil tertawa ia berkata
pada nona itu, Kau dengar apa kata pendeta itu, bukan? Dia berperut besar sekali, dia
mengatakannya tujuh macam sayur masih belum banyak. Coba kau pikir, seorang diri saja,
dapatkah kau matangkan semua sayur itu?
Cui Hong mendongkol, tetapi kata-kata pemuda itu benar. Ia menoleh kearah si pendeta.
Cis! ia meludah.
St! San Bin mencegah pula. Paman guru dan keponakan muridnya itu asyik pasang omo
g, jangan kau ganggu mereka. Pendeta sembrono itu beradat aneh sekali, terhadap dia kau
mesti berhati-hati.
Cui Hong mendongkol, hingga ia ingin menangis.
Bagus ya, kamu paman dan keponakan! katanya sengit. Kau perhina aku sebagai orang
luar! Nanti aku tegur In Lui!
Justeru itu dari dalam ruang, terdengar Tiauw Im batuk-batuk.

151

Peng-Cong Hiap-Eng
Mendengar suara orang, Cui Hong berdiam, dengan masih mendongkol, ia lantas bekerja
bersama-sama San Bin.
San Bin geli di dalam hati, ia layani si nona, supaya dengan begitu in Lui dapat kesempatan
untuk pasang omong dengan paman gurunya itu. Ia berbuat demikian, tak tahu ia, bahwa
ia juga tengah dipermainkan In Lui. Karena Nona In bermaksud supaya mereka berada
berdua agak lamaan.
Selagi pemuda dan pemudi itu berada di dapur, In Lui tuturkan Tiauw Im bagaimana
caranya ia menikah di Hek-sek-chung, hingga mendengar kejadian lucu itu, paman guru
itu tertawa tak hentinya. Tapi, setelah ia berhenti tertawa, mendadak ia perlihatkan
roman sungguh-sungguh.
Kau berjenaka disini! katanya nyaring. Kau tak tahu, untukmu, aku telah berusaha di
Mongolia setengah mati setengah hidup!
In Lui terkejut, mendelong ia mengawasi paman guru itu.
Anak Lui, kata si pendeta kemudian, dengan samar, masih ingatkah kau ketika itu tahun
kau bersama kakekmu kembali ke Tionggoan?
Aku masih ingat, sahut keponakan murid itu. Ketika itu ada tahun Ceng-tong ketiga.
Dan sekarang? Tiauw Im Tanya sambil mengawasi.
Sekarang tahun Ceng-tong ketiga belas.
Pendeta itu menghela napas.
Pesat sekali jalannya sang waktu! dia mengucap. Sekejap saja sudah sepuluh tahun!
Pada sepuluh tahun yang lampau, aku ada bersama Samsupeh Cia Thian Hoamu, kita
berada di luar kota Gan-bun-kwan dimana kita bersumpah sambil menepuk tangan! Kita
telah bersumpah, yang satu melindungi si anak tunggal, yang lain harus menuntut balas.
Akulah yang bertugas membawa kau ke gunung Siauw Han San untuk diserahkan kepada susumoay untuk dirawat dan dididik, dan sam-supehmu itu bertugas pergi jauh ke Mongolia
untuk membunuh Thio Cong Ciu si pengkhianat! Tentang sakit hatimu ini dan tindakan
untuk membuat pembalasan, mestinya gurumu telah menuturkan kepadamu, bukan?
In Lui segera mencucurkan air mata.
Ya, suhu menuturkannya, sahutnya, dengan perlahan. Aku berterima kasih sangat yang
supeh telah bekerja banyak sekali untukku
Tiauw Im Hweeshio menghela napas pula.
Terlalu siang kau ucapkan terima kasihmu ini, ia berkata. Ia berhenti sebentar, lalu ia
teruskan. Dengan sutee Thian Hoa itu aku telah membikin perjanjian, setelah sepuluh
tahun, kita harus membuat pertemuan di suatu tempat di luar kota Gan-bun-kwan. Di luar
dugaanku, dia tidak dating untuk memenuhi janji kita itu. Menurut kabar angin, tidak
dapat dipastikan apakah dia masih hidup atau telah meninggal dunia. Ada yang
mengatakan dia telah kena ditawan Thio Cong Ciu. Untuk memperoleh kepastian, dengan
menunggang kuda, aku berangkat seorang diri jauh ke tanah Ouw, masuk ke dalam wilayah
Watzu. Aku telah mengambil keputusan, jikalau benar sutee Thian Hoa nampak bahaya,

152

Peng-Cong Hiap-Eng
akulah yang mesti mewakili dia, guna membalaskan juga sakit hatinya.
Suhu katakana, Cia supeh lihai ilmu silatnya, dia gagah dan cerdik, berkata In Lui,
maka itu, aku sangsikan jikalau dia terbinasa di tangan musuh! Mungkinkah itu?
Tiauw Im tertawa dingin.
Memang benar ilmu silatnya Cia Thian Hoa ada lihai sekali, jikalau tidak demikian, sudah
pasti aku telah membalaskan dendammu! katanya dengan sengit.
In Lui heran hingga ia mendelong mengawasi supeh itu.
Ji-supeh, aku tidak mengerti, katanya. Apakah yang supeh maksudkan?
Tiauw Im menepuk meja, hingga ujungnya gempur.
Aku juga sangat tidak mengerti! dia berseru.
Maka heranlah In Lui.
Paman guru itu menghela napas panjang-panjang.
Setelah aku tiba di Watzu, segera aku mengadakan penyelidikan, ia melanjutkan.
Sekian lama aku telah bekerja, tidak aku peroleh hasil, tidak aku ketahui dimana adanya
sutee Thian Hoa atau apa yang telah terjadi atas dirinya. Aku lantas piker untuk
membalasnya seorang diri. Dalam hal ini, aku pun terhalang. Thio Cong Ciu terlindung kuat
oleh Tantai Mie Ming, sedang gedungnya ada tangguh dan rapat penjagaannya. Tidak bias
aku sembarang turun tangan. Aku menjadi tidak sabaran, hingga aku rasa, satu hari sama
lamanya dengan satu tahun.
Akhirnya, datang juga hari yang aku tunggu-tunggu. Aku dapat mengendus bahwa Tantai
Mie Ming tidak berada di dampingnya Thio Cong Ciu. Mungkin dia dititahkan si pengkhianat
pergi ke suatu tempat jauh untuk suatu tugas penting. Segera aku selidiki kebenaran itu,
sesudah mana aku ambil kepastian untuk memasuki gedung si pengkhianat itu. Aku lakukan
ini pada suatu malam yang gelap dan angin tengah menderu keras. Aku datang sendirian,
tentu saja, aku juga bekerja seorang diri. Besar sekali gedung si pengkhianat itu, yang
menjadi Yu-sinsiang, perdana menteri muda. Luas sekali pekarangan gedung itu. Melihat
gedung itu nyatalah dia hidup mewah dan mulia. Negara asing di utara gobi itu adalah
tempat yang dingin dan sulit, tetapi disana telah dibangun suatu gedung mirip gedunggedung di Kanglam, ada lotengnya, ada ranggonnya, yang mengambil contoh dari Hangciu
dan Souwciu. Boleh dikatakan setengah malaman aku berkeliaran di luar gedung itu, aku
baru berhasil memergoki dan mencekik satu kacung dari siapa aku ketahui, tempat
kediamannya si pengkhianat, yaitu di loteng di pojok timur kanan.
Ketika itu jam sudah menunjukkan pukul lima, akan tetapi sangatlah aneh, sampai pada
saat itu si pengkhianat masih belum tidur. Aku dapatkan dia berada seorang diri, tengah
duduk menulis di dalam kamarnya itu. Ia terus tunduk dan menulis, tidak ia menyangka
bahwa di luar jendela kamarnya ada orang yang sedang menghadang jiwanya.
Aku menggenggam tiga batang kim-chie-piauw. Aku pun tidak hendak menyia-nyiakan
ketika yang baik ini. Begitulah, melalui jendela aku lakukan penyeranganku, penyerang
yang saling susul terhadap tiga jalan darah ciang-tay-hiat, soan-kee-hiat, dan kim-coanhiat. Biasanya, dalam jarak tiga tombak, tidak pernah aku gagal dengan piauwku itu. Dan

153

Peng-Cong Hiap-Eng
biasanya, jangan kata orang yang tengah duduk menulis dan lengah, walaupun orang yang
pandai silat dan siap sedia, sukar dapat meloloskan diri dari serangan ketiga piauwku itu.
Akan tetapi kali ini, kesudahannya membuat aku melengak. Begitu piauwku menyambar,
begitu juga aku dengar suara trang-trang tiga kali, lalu ketiga piauw itu jatuh di atas
lantai. Di dalam kamar itu ada kamar rahasianya, aku lihat si pengkhianat lari minggir ke
tembok, ketika aku menyambar, tubuhnya nyeplos lenyap ke dalam tembok rahasia itu,
aku melainkan dapat menjambret ujung bajunya, yang menjadi robek. Selagi aku
menyambar, tiba-tiba ada orang yang lompat kepadaku dan menolak tubuhku hingga aku
jatuh ke atas meja. Anak Lui, dapatkah kau menerka, siapa orang itu?
Mungkin Tantai Mie Ming tidak pergi kemana-mana dan ia hanya menggunakan tipu daya
untuk mendustai orang? In Lui balik menanya. Tapi baru selesai ia menjawab demikian,
tiba-tiba ia sadar sendirinya. Bukankah pada permulaan bulan yang lampau ia bersama
Kim-too Ciu Kian di luar kota Gan-bun-kwan, telah mengerubuti Tantai Mie Ming itu?
Karenanya, ia lants menambahkan, Mungkinkah Tantai Mie Ming mempunyai ilmu
memecah tubuhnya? Tapi jikalau bukan Tantai Mie Ming, siapakah yang ilmu silatnya
demikian lihai?
Tiauw Im Hweeshio tertawa dingin.
Jikalau dia ada Tantai Mie Ming, itulah tidak aneh! katanya dengan keras. Dia adalah
orang yang perhubungannya dengan aku bagaikan kaki dengan tangan! Dia adalah saudara
seperguruanku, Cia Thian Hoa!
In Lui heran bukan kepalang, hingga ia menjerit.
Samsupeh? dia tegaskan.
Tidak salah! Dialah Cia Thian Hoa! Tiauw Im pastikan. Dia membuat aku tegur padanya
Apakah kau telah melupakan janji kita sepuluh tahun yang lalu? Kau hendak menuntut
balas atau bekerja sama dengan musuh? Dia mendelik terhadapku, terus ia menyerang,
beruntun tiga kali. Dia telah gunakan pedangnya. Dia mendesak aku mundur hingga keluar.
Aku lari, dia mengejar. Diantara saudara-saudara seperguruanku, dialah yang paling lihai,
aku tahu aku bukan tandingannya, akan tetapi aku ada demikian gusar, akhirnya aku
berhenti berlari, aku putar tubuhku, hendak aku tempur dia.
Aneh sekali sikapnya waktu itu. Di dalam kamar, dia sangat bengis terhadapku, setelah
berada diluar, dia sebaliknya tidak gunakan kepandaiannya. Dia Cuma berkelit dari
serangan-seranganku. Malah dengan perlahan, dia berkata padaku kau tahu Thio Cong Ciu
itu orang macam apa?
Aku sedang murka, aku damprat dia. Bagaimana kau dapat bicara begini? aku tegur dia.
Tidak nanti pengkhianat she Thio itu seorang baik-baik. Kembali aku bacok dia.
Aku melakukannya pada malam hari, karenaya tidak dapat aku bawa tongkat sian-thungku,
maka itu aku bawa golok pendek. Senjata itu kurang tepat untukku. Dengan senjata itu,
mana dapat aku bacok jitu kepadanya? Baru aku ulangi bacokanku dua kali, dari yang mana
ia selalu egoskan diri, ia berkata dengan perlahan, Hai, suheng yang tolol! Dengan
mendadak dan sebat sekali, ia desak aku, sebelah tangannya menyambar hingga aku
tertotok, lalu dia panggul tubuhku untuk dibawa pergi.
Waktu itu, aku dengar suara mulai gempar. Terang sudah bahwa pengawal-pengawal telah
sadar dan mengendus adanya bahaya. Tapi dia telah membawa lari aku berlompatan,

154

Peng-Cong Hiap-Eng
berputaran, hingga tak lama kemudian kita sudah berada di dalam taman bunga, di suatu
pojok yang semak, gelap dan sunyi. Disitu pun ada sebuah kandang kuda yang bagus, dari
dalam kandang itu dia tuntun keluar seekor kuda putih, yang ia serahkan padaku.
Aku tidak mau naiki kuda itu. Aku katakana padanya: Jikalau kau tidak berikan aku
keterangan yang jelas, tidak mau aku pergi dari sini! Wajahnya menjadi berubah pucat,
lalu merah. Dia bentak aku: Jikalau kau tidak pergi, jangan sesalkan aku berlaku kejam!
Bukan Cuma aku inginkan kau berlalu dari gedung ini, aku juga berikan kau tempo tiga hari
untuk meninggalkan Mongolia! Atau aku nanti ambil jiwamu!
Aku menjadi sangat gusar, aku sambar dia dengan golokku. Tapi dia rampas golokku itu, di
depanku, dia membuatnya patah dua. Belum sempat aku mengatakan sesuatu, dia sudah
angkat tubuhku, untuk digabrukkan ke atas kuda. Dia pun membentak pula: Apakah benar
kau tidak menghendaki lagi jiwamu?
Benar-benar aku tidak sangka dia menjadi demikian rupa. Maka aku pun pikir: Dia ada
begini tidak berbudi, apabila aku korbankan jiwaku, siapa nanti ketahui dia adalah satu
murid yang murtad? Baiklah aku menyingkir dulu, biar di belakang hari aku cari pula dia
untuk membuat perhitungan. Karena ini, aku lantas angkat kaki.
Kuda putih itu benar-benar satu kuda jempolan, tanpa dikendalikan dia telah bawa aku
kabur. Syukur aku pandai juga menunggang kuda. Sia-sia saja aku mencoba kendalikan dia.
Dia telah membawa aku menyingkir dari kalangna gedung perdana menteri itu. Di
belakangku ada ratusan penunggang kuda yang mengejar aku, mereka pun berteriakteriak, diantaranya aku dengar ada yang mengatakan: Besar nyalinya penjahat itu, dia
berani curi kuda Yang Mulia Perdana Menteri!
Hai, kiranya kuda itu ada kuda pilihan kepunyaan si pengkhianat she Thio. Besar hatiku.
Aku lari terus sampai dapat aku mengendalikannya. Kuda itu kabur bagaikan terbang,
hingga dalam sekejap saja semua pengejar tertinggal jauh di belakang, tidak dapat mereka
mengejar terus kepadaku. Malam itu aku mendongkol bukan main, tetapi di luar dugaanku,
aku mendapatkan kuda yang jempolan.
Kuda putih itu ditambat di ruang itu, dia seperti mengerti perkataan si pendeta, dia
berbenger.
In Lui pandang kuda itu, ia dapatkan itulah kuda yang mirip betul dengan kuda Ciauw-ya
Say-cu-ma kepunyaan Thio Tan Hong. Cuma pada leher kuda ini ada tumbuh segumpal bulu
kuning. Teranglah, kedua kua itu ada sebangsa.
Anak Lui, kau diam memikirkan apa? Tiauw Im tegur si nona.
Aku pikirkan sikap aneh dari sam-supeh, sahut keponakan murid ini. Jikalau benar
samsupeh kesudian menjadi hamba musuh kita, kenapa dia serahkan kuda Thio Cong Ciu
ini?
Maka itu, aku pun sangat tidak mengerti! sahut si pendeta. Tanpa kuda ini, tidak nanti
aku lolos dari Mongolia.
In Lui menggelengkan kepala.
Benar-benar ruwetkatanya. Sebenarnya Thio Cong Ciu itu orang macam apa? Mustahil
dia.

155

Peng-Cong Hiap-Eng

Plok! demikian suara yang diterbitkan Tiauw Im, yang kembali mengeprak gempur ujung
meja kemala. Dia gusar, dia berkata dengan nyaring, Thio Cong Ciu itu ada dari keluarga
pengkhianat, turun-menurun dia menghamba pada negeri Watzu, dia yang mengatur
tentara Watzu itu. Watzu bercita-cita menelan Tionggoan! Pengkhianat besar yang
diketahui umum oleh dunia, adakah dia satu manusia baik-baik?
In Lui teringat pada kakeknya yang tersiksa, yang mesti menggembala kuda dua puluh
tahun lamanya di lading yang ber-es dan bersalju, hatinya menjadi sakit. Maka
menggetarlah suaranya ketika ia memberikan jawabannya.
Dia ada satu pengkhianat besar yang sangat jahat dan tak berampun! Dialah musuh besar
keluargaku! Tapi, supeh, kau lihat, apakah dia mempunyai suatu maksud lain?
Kedua biji mata Tiauw Im berputar. Tiba-tiba saja ia ingat suatu apa. Maka lantas ia
merogoh ke dalam sakunya, darimana ia keluarkan segumpal kertas. Ia buka itu sambil
berkata, Ketika malam itu aku serang pengkhianat she Thio dan aku dijoroki Thian Hoa
hingga menubruk meja, tanganku kena pegang surat ini yang terus aku tak lepaskan lagi.
Inilah surat yang sedang ditulis si pengkhianat itu. Dia menulis tengah malam, aku duga
urusan sangat penting, maka itu, aku bawa surat itu. Sayang dia menulis dalam huruf Cojie, yang aku tidak mengerti. Inilah suratnya, coba kau lihat. Setiap barisnya terdiri dari
tujuh huruf, tidak kurang tidak lebih, maka itu, semua huruf ada dua puluh delapan.
Apakah ini surat biasa atau syair?
In Lui anggap paman guru itu lucu, tak tahan dia tidak tertawa. Tapi dia terima surat itu,
untuk dibaca. Sekian lama dia diam saja.
Apakah kura-kura itu tulis? Tanya Tiauw Im.
Syair, sahut In Lui. Terus dia bacakan:

Siapakah yang menyanyikan lagu-lagu Souwciu dan Hangciu? Bunga teratai harum sepuluh
lie, bunga kui di musim Ciu. Siapa tahu, rumput dan kayu dasarnya tidak berperasaan!
Menyebabkan sungai Tiangkang jadi laksaan tahun kedukaan.

Itulah syair yang diucapkan Thio Tan Hong ketika Tan Hong menggelar gambarnya,
memandang itu ia rupanya telah mendapat suatu perasaan.
Tiauw Im kerutkan alisnya.
Sampai jauh malam pengkhianat itu tidak tidur, adakah syair semacam ini saja yang dia
tulis? ia kata. Ia menyebut-nyebut kedukaan, kedukaan apakah itu? Kenapa sungai
Tiangkang dapat menerbitkan kedukaan? Hm, aku tak mengerti, tak mengerti!
In Lui merasa geli hingga tak dapat ia tidak tertawa pula. Ia tertawa perlahan.
Inilah syairnya satu penyair di jaman Song, ia kata. Sungai Tiangkang itu sejak jaman
dulu adalah daerah peperangan antara pihak selatan dan utara. Menurut penglihatanku,
syair ini bermaksud dalam sekali

156

Peng-Cong Hiap-Eng

Tiauw Im merasa jengah, ia tertawa menyeringai.


Kalau begitu, dasar aku yang tidak mengerti apa-apa, katanya. Coba kau jelaskan
padaku, apa maksud dia menulis syair ini?
In Lui berpikir sekian lama.
Syair ini adalah karya penyair Cia Cie Houw di jaman Song itu, katanya kemudian. Ada
bagian depan dan belakang, yang Cong Ciu rubah. Syair yang asli menyebut-nyebut lagu
Hangciu tapi dia ubah dan tambah menjadi Hangciu dan Souwciu. Pada akhirnya ia tulis
laksaan tahun kedukaan sedang aslinya adalah kedukaan dari laksaan lie. Jadi jarak jauh,
lie, dia ubah menjadi waktu, tahun. Terang sudah, itu adalah lamunan dari suatu orang
yang tengah terluka hatinya. Tetapi Hangciu, kenapa itu ditambah dengan Souwciu? Apakah
artinya? Ah, ya, Cong Ciu, Cong Ciu, Cong Ciu
Eh, mengapa kau sebut-sebut nama pengkhianat itu? Tanya si pendeta heran.
In Lui tiba-tiba seperti teringat suatu apa, ia tidak menjawab paman guru ini, sebaliknya,
dia Tanya, Bukankah jiesupeh mengatakan bahwa gedung Thio Cong Ciu itu dibangun
mirip dengan gedung-gedung di Kanglam? Belum pernah aku pergi ke Souwciu, akan tetapi
aku tahu, gedung-gedung berikut tamannya disana ada kesohor sekali. Apakah gedung Cong
Ciu itu dibuat mirip dengan gedung-gedung di Souwciu?
Memang sama, sahut Tiauw Im. Nampaknya pengkhianat itu suka sekali akan kota
Souwciu.
In Lui berpikir pula, ia berdiam sekian lama. Kemudian, sambil tunduk, dengan perlahan,
ia menyebut pula, Cong Ciu, Cong Ciu, Cong Ciu.
Tiauw Im terperanjat, ia heran.
Eh, anak Lui, apakah kau kemasukan iblis? dia tegur.
In Lui sebenarnya sedang teringat akan dongengnya Tan Hong, pada otaknya berkelebat
suatu ingatan. Ia lantas angkat kepalanya.
Aku mengerti sekarang! katanya tiba-tiba. Thio Cong Ciu adalah turunan Thio Su Seng!
Pada ketika itu sang waktu belum lewat tujuh atau delapan puluh tahun dari mulainya Cu
Goan Ciang membangun kerajaan Beng, lelakon Thio Su Seng itu masih tersiar di antara
rakyat jelata.
Tiauw Im Hweeshio melengak.
Thio Su Seng? katanya. Apakah kau maksudkan Thio Su Seng, yang bersama Beng Thay
Couw telah memperebutkan negara?
Thio Su Seng mengangkat dirinya menjadi raja di Souwciu dan dia pakai nama kerajaan
Tay Ciu, Ciu yang besar! kata In Lui. Dan Thio Cong Ciu itu, bukankah terang-terang
berarti apa yang dia junjung adalah kerajaan Ciu yang besar itu dari leluhurnya? Sama
sekali ia bukannya menjunjung kerajaan Beng yang besar dari Cu Goan Ciang!

157

Peng-Cong Hiap-Eng
Dengan cong dari Cong Ciu itu, In Lui artikan leluhur.
Hai, budak cilik! seru paman guru yang kedua itu. Kenapa kau bicara putar-balik hingga
pengertianmu itu, seperti teka-teki saja?
In Lui tunduk, kata-kata paman guru itu seolah-olah ia tidak mendengarnya.
Sang pendeta nampaknya habis sabar.
Aku tidak perduli dia turunan Thio Su Seng atau bukan! dia kata dengan nyaring. Dia
membantu bangsa Watzu dia pasti bukan manusia baik-baik!
In merasakan ruwetnya soal.
Supeh benar juga, katanya. Tapi meski di mulutnya mengucap demikian, di hatinya, ia
kenangkan segala apa selama ia berada bersama-sama Tan Hong beberapa hari.
Pastilah Tan Hong telah sengaja menyingkir dari Mongolia.demikian ia berpikir.
Karena dia pasti bukan sebangsa ayahnya ituAkan tetapi, supeh Thian Honga, dia
kesohor gagahJikalau Thio Cong Ciu benar ada saru pengkhianat yang terkutuk dan tak
berampun, kenapa dia tidak membunuhnya? Kenapa sebaliknya dia melindunginya?
Soal ada demikian sulit, pada waktu itu, tak dapat si nona memecahkannya. Kemudia ia
pikir pula,tidak perduli Thio Cong Ciu dan Thio Tan Hong buruk atau baik, mereka adalah
musuh-musuh besar dari keluarga In, mereka adalah yang kakeknya pesan dalam surat
wasiatnya yang berdarah untuk dibasmi habis.
Tiauw Im Hweeshio menghela napas.
Aku tidak dapat memikirnya yang sutee Thian Hoa telah tergoda iblis, katanya. Karena
sudah terang dia telah membantu pengkhianat, sekarang ini habis sudah persaudaraan
antara dia dan aku. Sekarang aku berniat pergi kepada suhu, untuk minta suhu
mempersingkat waktu dengan tiga tahun, supaya ia ijinkan gurumu segera turun gunung.
Kepandaian gurumu itu, disbandingkan dengan kepandaian Thian Hoa, ada berimbang,
maka aku percaya, jikalau dia bekerja sama dengan aku mengepung Thian Hoa, pasti kita
dapat menyingkirkan Thian Hoa itu.
Mendengar perkataan jiesupeh ini, tiba-tiba In Lui teringat kejadian itu malam sebelum ia
turun gunung. Ketika itu gurunya telah mengadakan perjamuan perpisahan, di waktu
mabuk, guru itu menuturkan tentang penderitaannya selama sepuluh tahun meyakinkan
ilmunya, guru itu tak dapat melupakan Thian Hoa, suatu bukti dia sangat menyayangi
saudara seperguruan itu. Maka sekarang, kalau gurunya itu ketahui hal ikhwalnya Thian
Hoa, yang tersesat itu, tidak tahu betapa besar kedukaannya.
Sementara itu, Tiauw Im tertawa sendirinya.
Thian Hoa memberikan aku kuda ini, inilah kuda yang berguna! katanya. Jikalau aku
pakai ini untuk pergi ke Siauw Han San, tak sampai satu bulan, aku akan udah tiba disana!
Sungguh, ini seekor kuda jempolan! Ha-ha-ha!
Selagi paman guru dan keponakannya berbicara, San Bin dan Cui Hong telah selesai dengan
makanan mereka, yang terus mereka sajikan, sesudah mana, San Bin pergi memandangi
kuda si pendeta, kuda mana ia puji tak hentinya, ia sangat mengaguminya.

158

Peng-Cong Hiap-Eng

Tiauw Im Hweeshio dahar secara rakus sekali, itulah tanda bahwa ia sangat lapar. Ia hajar
daging, ia tenggak arak, ia sapu nasi hingga habis.
Akhirnya, ia usap-usap perutnya.
Hai, cucu mantu yang baik! ia memuji. Tak tercela masakanmu ini! Nasinya harum,
sayurnya lezat!
Kemendongkolan Cui Hong belum lenyap, ia Cuma tersenyum tawar. Ia berpaling, untuk
memandang kuda putih, yang juga ia kagumi.
Kembali terdengar si pendeta tertawa.
Kuda ini kuda jempolan, ia kata, akan tetapi masih ada lain kuda yang terlebih
jempolan pula, aku si hweeshio harus mengaku kalah terhadapnya!
San Bin pandai melihat kuda, ia heran.
Apa? katanya. Ada kuda lainnya yang melebihi ini?
Tiauw Im pandang keponakan murid itu.
Benar! sahutnya. Memang di kolong langit ini ada seekor kuda lainnya yang melebihi
kejempolannya! Keponakan San Bin, kau telah memakai nama Kim Too Ceecu yang kesohor
dan menggabung itu dengan nama Cio Eng, untuk menyiarkan panah Lok-lim-cian. Hal ini
baru saja kemarin dahulu aku mengetahuinya. Di dalam propinsi Shoasay ini, aku kenal
semua orang kenamaan dari Jalan Hitam, maka itu menuruti kegemaranku, dengan
menunggang kuda putih ini, aku pergi mengunjungi mereka. Nyatalah, orang yang hendak
kau bekuk itu adalah satu mahasiswa yang menunggang kuda putih. Dia sungguh seorang
yang nyalinya sangat besar, dia sudah membuat dunia Rimba Hijau menjadi gempar!
Apakah yang dia lakukan? tanya mereka berbareng. Wajah mereka pun menunjukkan
bagaimana tergeraknya hati mereka.
Tiauw Im adukan jeriji tengahnya dengan jeriji manisnya, hingga perdengarkan suatu
suara, habis itu, ia menghela napas. Itu bukanlah helaan napas dari kedukaan atau
kemasgulan, hanya dari kekaguman.
Ciu Hiantit, tahukah kau, orang macam apa si mahasiswa berkuda putih yang kamu
sedang cari itu? dia tanya. Menurut penglihatanku, dia adalah satu enghiong, seorang
gagah! Kalau orang lain, apabila terhadapnya disiarkan panah Lok-lim-cian, hingga
karenanya ia mesti menghadapi jago-jago Rimba Hijau, sebenarnya untuknya, untuk
menyingkirkan diri saja sudah sulit, akan tetapi lain halnya dengan dia. Dia bukannya pergi
bersembunyi, dia justeru pergi menyatroni jago-jago Rimba Hijau!
San Bin heran bukan main.
Dia datang menyatroni? dia ulangi. Siapakah yang dia telah satroni itu?
Mungkin sudah dia satroni semua orang yang telah kau kirimkan panah Lok-lim-cian itu!
sahut Tiauw Im. Kemarin dulu aku pergi pada Na Tayhiap, dia baru saja terima surat golok
yang ditinggalkan mahasiswa berkuda putih itu, dia telah tantang untuk tujuh hari

159

Peng-Cong Hiap-Eng
kemudian pergi ke rumah Cin-sam-kay Pit To Hoan untuk membuat pertemuan.
San Bin dan Cui Hong terperanjat.
Cin-sam-kay Pit To Hoan, mereka ulangi.
In Lui tidak tahu siapa itu Pit To Hoan yang berjulukan Cin-sam-kay, orang yang
menggetarkan tiga dunia, akan tetapi dari sikapnya San Bin dan Cui Hong itu, tahulah dia
bahwa orang itu mestinya sangat terkenal.
Benar, Cin-sam-kay Pit To Hoan! Tiauw Im jawab. Bukankah itu berarti si mahasiswa
berkuda putih telah gegaras hati serigala dan jantung macan tutul? Setelah pamitan dari
Na Tayhiap, lohornya aku pergi pada Liong Ceecu. Dia juga baru saja menerima surat
goloknya si mahasiswa berkuda putih, yang pun menjanjikan dia untuk tujuh hari kemudian
pergi berkumpul di rumah Cin-sam-kay Pit To Hoan. Na Tayhiap dan Liong Ceecu ada orangorang kenamaan kaum Rimba Persilatan, tapi toh si mahasiswa berani masuk ke dalam
rumah mereka itu untuk meninggalkan suratnya yang tertusukkan golok itu. Dan itu baru
diketahui sesudah golok ditimpukkan. Maka itu, benar lihai si mahasiswa itu!
Mendengar perkataan supeh ini, In Lui tidak heran. Beberapa kali ia telah dipermainkan
Tan Hong, keentengan tubuh siapa ia telah saksikan. Tidak demikian adalah San Bin dan Cui
Hong, yang menjadi heran dan kagum.
Karena aku merasa sangat heran, ingin aku cari si mahasiswa, Tiauw Im meneruskan.
Aku percaya betul pada kudaku. Begitulah aku pergi. Aku girang ketika sampai di utara
kecamatan Kok-koan, di satu tegalan, aku telah melihat dia. Aku menduga dia, karena
dandanan dan kudanya itu. Lantas aku bedal kudaku, untuk susul dia, guna menyandaknya.
Dia melihat aku, rupanya dia dapat menerka aku hendak menyusul dia, berulang kali ia
berpaling, tiap-tiap kali aku dengar suaranya tertawa. Dari kejauhan, dia pun teriaki aku,
Apakah kau juga menerima panah Lok-lim-cian dari Hong-thian-lui? Maafkan aku, aku
belum tahu dimana letak pesanggrahanmu, hingga belum aku kunjungi padamu! Baiklah,
lagi tujuh hari, silahkan kau pergi ke rumah Cin-sam-kay Pit To Hoan! Rupanya dia
menyangka aku adalah salah seorang yang hendak membekuk dia. Kudaku lari keras,
kudanya lari lebih keras lagi, tidak dapat aku menyandaknya. Tak ada makanan di tanah
datar itu, dia telah jauh meninggalkan aku, hingga aku dapat melihat hanya titik-titik
putih. Sorenya tibalah aku di barat kecamatan Tay-koan, di rumah Cek Chungcu. Nyata Cek
Chungcu pada tadi magrib, telah juga menerima surat dari si mahasiswa berkuda putih itu.
Jadi teranglah, kudanya dapat lari setengah hari lebih cepat daripada kudaku.
San Bin heran.
Cin-sam-kay Pit To Hoan ada seorang kenamaan di Jalan Hitam dan Jalan Putih, kata dia,
dia biasanya tak ketentuan sepak terjangnya, maka itu, si mahasiswa berkuda putih yang
baru saja sampai dari Mongolia, cara bagaimana dia bisa ketahui tempat tinggal orang itu?
Inilah benar, maka itu, Tiauw Im dan Cui Hong turut merasa heran, mereka terperanjat,
wajah mereka berubah. Tiauw Im pun heran mendengar disebutnya Mongolia. Cui Hong
juga merasa heran terhadap San Bin, yang ketahui jelas tentang Pit To Hoan.
Pit To Hoan tinggal di sebuah desa kecil yang dinamakan Hok-lok antara perbatasan kedua
propinsi Hoopak dan Shoasay, kata Tiauw Im. Aku pun baru mengetahuinya setelah aku
pergi ke rumah Na Tayhiap. Si mahasiswa berkuda putih baru saja datang dari Mongolia,
kenapa dia ketahui jelas tentang orang-orang kenamaan dari Tionggoan? Hal ini aneh sekali

160

Peng-Cong Hiap-Eng
dan mencurigakanAh, bukankah?
Pendeta ini berhenti dengan tiba-tiba, ketika ia hendak melanjutkan, In Lui mendahului
dia.
Kamu menyebut Cin-sam-kay Pit To Hoan berulang-ulang, dia sebenarnya orang macam
apa? tanya nona ini.

IX

Walaupun kau tidak menanyakannya, hendak aku menuturkannya, berkata Tiauw Im.
Keluarga Cin-sam-kay Pit To Hoan adalah satu keluarga paling aneh dalam kalangan Rimba
Persilatan. Keluarga itu, turun-temurun, memegang kukuh semacam aturan rumah tangga
yang aneh sekali untuk kita semua. Setiap anak lelaki she Pit, setelah masuk usia enam
belas tahun, dia harus mencukur rambutnya untuk menjadi pendeta, dia mesti hidup
merantau. Setelah hidup suci sepuluh tahun, anak itu diijinkan memelihara rambut pula.
Sampai waktu itu, ia tidak diperkenankan mendirikan rumah tangga, sebaliknya, dia mesti
menuntut lain macam penghidupan selama sepuluh tahun. Kali ini dia mesti menderita
sebagai pengemis. Adalah sesudah selesai menjalankan tugas sepuluh tahun sebagai tukang
minta-minta itu, baru dia merdeka untuk menikah, untuk berumah tangga, memelihara
anak. Oleh karena ini, seorang putera keluarga itu, untuk menikah, dia mesti lebih dahulu
berusia tiga puluh enam tahun. Mungkin juga disebabkan kelambatan pernikahan ini,
keluarga itu jadi tak banyak jumlah anggota-anggota keluarganya. Pit To Hoan sendiri lihai,
sepuluh tahun ia jadi pendeta, sepuluh tahun ia jadi pengemis, setelah kembali jadi
manusia biasa, banyak penderitaannya, luas pengalamannya. Itulah sebabnya kenapa ia
diberi gelar Cin-sam-kay, Menggetarkan Tiga Dunia. Dengan dunia diartikan juga kalangan
atau golongan, yaitu dunia pendeta, dunia pengemis, dan dunia manusia biasa. Maka itu,
orang semacam dia, setelah menerima panah Lok-lim-cian, dapatkan dia campur tangan?
Mana aku berani mengirim panah Lok-lim-cian kepada jago itu? sahut San Bin. Hanya,
kalau Pit Loo-cianpwe sudi membantu, itulah pengharapanku.
Kau minta ayahku turut bersama mengirim panah Lok-lim-cian, untuk apakah itu? Cui
Hong tanya si pemuda she Ciu. Dan itu bangsat cilik berkuda putih, dia sebenarnya orang
macam apa?
Ditanya begitu, San Bin bersenyum.
Untuk membalaskan dendam suamimu, ia jawab. Bangsat cilik berkuda putih itu adalah
putera tunggal dari pengkhianat besar Thio Cong Ciu, dia adalah musuh besar dari saudara
In Lui ini, ia berhenti sebentar, segera ia menambahkan, turut penglihatanku,
kebanyakan Pit Loo-cianpwee dapat turun tangan untuk memberikan bantuannya, sayang
tadinya aku tidak tahu dia tinggal di Hok-lok, jikalau tidak sudah tentu aku sudah minta
Cio Loo-enghiong turut mengundang dia.
Cui Hong segera menoleh kepada suaminya.
In Siangkong, benarkah bangsat cilik berkuda putih itu musuh besarmu? dia tegaskan.

161

Peng-Cong Hiap-Eng
Oh, ya. Sahut In Lui, yang mukanya pucat. Benar, dia adalah musuh keluargaku.
Sepasang alis Nona Cio berdiri dengan tiba-tiba.
Kalau begitu, haruslah kau mengucap terima kasih padaku! katanya. Ia rogoh sakunya, ia
keluarkan sesampul surat. Terus ia berkata pula, Nyata ayahku telah dapat
memikirkannya! Kamu tidak berani mengundang Pit Loo-cianpwee itu, bolehlah aku yang
menalangi!
San Bin lihat alamat surat itu, benar itu adalah untuk Pit To Hoan. Saking girang, ia
tertawa sambil menepuk tangan.
Sempurna sekali apa yang Cio Loo-cianpwee pikir! ia memuji, Ah, bangsat cilik itu
bagaikan melemparkan dirinya ke dalam jala! Hiantee, segera kau dapat lampiaskan
dendammu dengan tanganmu sendiri!
Cui Hong sangat puas, ia gembira sekali.
Begitu lekas aku pulang, ayah sudah lantas menulis surat ini dan menitahkan aku segera
mengirimkannya, ia terangkan lebih jauh. Sebenarnya aku heran kenapa ayah menjadi
demikian tak sabaran, kiranya bangsat cilik itu menjadi satu musuh besar kita. Sebentar
kita pergi bersama, akan aku perkenalkan kamu dengan Cin-sam-kay Pit To Hoan yang
kenamaan itu!
In Lui terkejut di dalam hatinya.
Pernahkah kau baca surat ini? dia tanya isterinya.
Eh, apa kau tidak dengar perkataanku barusan? Cui Hong baliki. Bukankah ayah telah
permainkan aku? Apabila aku telah baca surat ini, mustahil sekarang aku masih belum tahu
akan duduknya hal? Tapi sekarang ini, dengan tidak usah membaca lagi surat ini, sudah
tahu aku akan isinya. Pastilah itu ada permintan bantuan Cin-sam-kay!
In Lui penuh dengan keragu-raguan. Cio Eng tidak tahu Thio Tan Hong itu musuhnya. Dan ia
telah menyaksikan dengan mata sendiri, terhadap Tan Hong, Cio Eng bersikap bagaikan
pegawai terhadap majikannya. Mustahil sekali Cio Eng nanti menulis surat kepada Pit To
Hoan, guna meminta bantuan untuk menghadapi Thio Tan Hong, guna membinasakan Tan
Hong itu. Habis, apa isi surat itu? Sungguh sukar untuk menerkanya.
Eh, In Siangkong, kau sedang memikirkan apa? Cui Hong menegur. Ia heran. Ayahku
telah menolongi kau membalas dendam, apakah benar kau masih tidak gembira?
In Lui paksakan diri untuk tertawa.
Aku merasa girang luar biasa! ia jawab. Nona Cio, apakah ayahmu serta Cin-sam-kay Pit
To Hoan itu bersahabat erat sekali?
Bukan! sahut Cui Hong. Dia justeru lawan dari ayahku! Dia berlaku sewenang-wenang.
Belum pernah aku saksikan ada orang yang berani menghina ayahku seperti yang
diperbuatnya itu!
Siapa kata Pit To Hoan berlaku sewenang-wenang? tanya Tiauw Im.

162

Peng-Cong Hiap-Eng
Eh, ya, cara bagaimana dia menghina ayahmu? In Lui pun tanya.
San Bin pun kurang mengertinya.
Jikalau demikian adanya, mengapa ayahmu menulis surat kepadanya? dia tanya.
Dikepung tiga orang, Cui Hong tertawa geli.
Memang dia telah menghina ayahku, akan tetapi ayahku sangat mengagumi dia,
jawabnya, masih ia tertawa. Kamu menanya bagaimana caranya dia menghina ayahku?
Untuk menutur itu, aku mesti kembali pada kejadian pada sepuluh tahun yang lampau!
Semua orang lantas awasi nona ini.
Cui Hong tidak berayal untuk memberikan keterangannya.
Ketika itu aku baru berumur tujuh atau delapan tahun, ia mulai. Benar usiaku masih
sangat muda, akan tetapi peristiwa itu aku ingat baik-baik. Pada suatu hari kami
kedatangan satu pengemis busuk. Orangku memberikan dia nasi, tapi dia tolak. Dia diberi
uang, dia menampik. Dia minta ayah menghadiahkan dia semacam barang permata. Siapa
yang tidak tahu ayah adalah seorang saudagar barang permata di kalangan Jalan Hitam?
Orang-orangku anggap dia hendak memeras, dia segera diserang. Kesudahannya aneh.
Tidak kelihatan dia menggerakkan tubuhnya, tetapi orang-orangku, penyerangnya,
terpental sendirinya setombak lebih. Barulah kemudian aku ketahui dia telah gunakan ilmu
silat Ciam-ie Sip-pat-tiat yang sempurna sekali.
Waktu itu ayah tengah mengajarkan aku membaca buku dan menulis surat. Seorang bujang
datang masuk, memberitahukan ayah tentang perbuatan dan tingkah laku pengemis jahat
itu. Ayah kaget dan heran, mukanya menjadi pucat.
Baik, silahkan dia masuk! ia titahkan. Sesudah ia masuk, siapa juga tak boleh turut
masuk. Umpama kata aku akan dihajar mati olehnya, jika aku masuk! Ayah pun menitahkan
aku menyembunyikan diri di kamar tidur, aku dilarang keluar. Aku menjadi takut sekali,
tetapi aku masih tidak gubris larangannya itu. Ketika si pengemis masuk, aku sembunyikan
diri di satu pojok di luar kamar, untuk mengintai.
Luar biasa roman si pengemis itu. Rambutnya kusut, kulit mukanya hitam seperti pantat
kuali. Dia membawa-bawa sebatang tongkat panjang. Dipandang seluruhnya, dia mirip
dengan satu memedi. Begitu dia masuk, terus dia duduk di depan ayah. Dia mengawasi
dengan sepasang matanya yang bersinar tajam dan bengis. Sampai sekian lama, keduanya
tidak bicara satu dengan lain.
Akhirnya ayah menghela napas, ia bertindak masuk ke kamar dalam, untuk mengambil
permata. Ayah tumpukkan barang itu di depan si pengemis, Tuan Pit, inilah semua apa
yang aku miliki, kata ayah.
Pengemis itu tertawa dingin, dia sampok semua barang permata itu.
Hong-thian-lui, untuk apa kau berpura-pura? dia tegur ayah. Keluargaku telah mencari
kau berulang-ulang, sampai beberapa puluh tahun, baru sekarang kau dapat dicari. Barang
itu terang ada padamu, apakah kau masih tidak hendak mengeluarkannya untuk diserahkan
kepadaku?

163

Peng-Cong Hiap-Eng
Barang itu juga bukan kepunyaanmu! kata ayah. Alasan apa kau punyai untuk memaksa
aku menyerahkannya?
Pengemis itu tertawa dingin.
Mungkinkah barang itu ada kepunyaanmu sendiri? dia membaliki. Kau ketahui asalusulnya barang itu, secara bagaimana kau berani mengatakan aku bukan pemiliknya?
Belum pernah aku saksikan ada orang yang berani bicara demikian rupa terhadap ayah.
Ayah menjadi lain waktu itu. Bagaikan orang yang memohon sesuatu, ayah katakana pada
orang itu, Memang barang ini pernah kau memegangnya, tetapi itu bukan alas an untuk
mengatakan kaulah pemilik seluruhnya. Aku mendapat pesan dan pesan itu harus aku
jalankan. Aku boleh tak menghendaki rumah tanggaku, tetapi permata itu, Tuan Pit, aku
minta sudilah kau lepaskan dari tanganmu!
Pengemis itu lantas menjadi gusar, dia lompat bangun.
Rumah tanggamu! Rumah tanggamu! dia berteriak-teriak. Siapakah yang kemaruk
dengan rumah tanggamu? Katakanlah, hendak kau serahkan atau tidak barang itu padaku?
Tidak! sahut ayah dengan tetap.
Si pengemis tertawa pula, dengan tawar. Dia putar-putar tongkatnya itu.
Baik! akhirnya dia berseru.
Karena kau tidak sudi memberikan, sekarang ingin aku menerima pengajaran darimu,
pelajaran ilmu silat pedang Liap-in Kiam-hoat yang menjagoi sendirian di kolong langit
ini!
Ayah terim tantangan itu. Dia kata, Jikalau begitu, maafkan aku untuk kelancanganku!
Ayah lantas hunus pedangnya, maka disitu mereka lantas bertempur, secara bengis sekali.
Ketika itu aku masih belum belajar ilmu silat pedang, aku menonton saja dengan
perhatian. Ayah bergerak bagaikan harimau kalap, sinar pedangnya bergemerlapan. Terang
ayah berkelahi secara mati-matian. Tongkat panjang si pengemis telah terkurung sinar
pedang, tapi dia dapat bergerak dengan leluasa bagaikan seekor ular besar. Mataku
menjadi seperti kabur karenanya.
Sengit sekali mereka bertanding. Sampai sekian lama, masih belum ada keputusannya. Lalu
dengan mendadak terdengar bentakan si pengemis, Kau serahkan atau tidak? Menyusul
itu ayah kena terpukul pundaknya.
Tidak! Segera ayah pun membalas, hingga pundak pengemis itu mengeluarkan darah.
Satu laki-laki! seru si pengemis.
Masih mereka bertempur. Satu kali, kembali ayah kena terpukul, sesaat kemudian, berhasil
tongkat si pengemis yang ketiga kali. Kali ini ayah kena tersampok hinga dia
berjumpalitan. Tanpa mengeluh, ayah merayap bangun, untuk menyerang pula. Lalu tidak
lama kemudian ayah dapat menikam pula pengemis itu. Seperti ayah, dia juga tidak
berteriak kesakitan.
Pertempuran berjalan terus, tak kurang dashyatnya. Darah telah berceceran di tanah.

164

Peng-Cong Hiap-Eng
Beruntun beberapa kali ayah kena dibikin jumpalitan pula, malah jidanya telah diserempet
tongkat hingga kulitnya pecah dan berlumuran darah. Berbareng dengan itu, si pengemis
juga tidak unggul banyak, rambutnya yang kusut kena terpapas pendek, tubuhnya terluka
beberapa lobang.
Setelah lama bertempur, kedua-duanya telah menjadi sangat lelah. Masih ayah kena
terpukul pula dan si pengemis kena tertikam lagi. Habis itu keduanya terhuyung rubuh,
tidak dapat mereka merayap bangun. Tentu sekali aku tidak berani muncul atau bersuara,
sekarang ini aku menjerit dan menangis.
Ayah bergulingan beberapa kali, lalu aku dengar ia paksakan berkata, Baik, Tuan Pit, kau
ambillah! Aku menyerah.Menggetar suara ayah, suara itu seram, menakutkan.
Tidak, kau tidak kalah, si pengemis pun berkata. Kau setia kepada pesan yang menjadi
tugasmu. Seumurku baru kali ini aku lihat kau sebagai satu laki-laki! Untuk sementara,
permata itu boleh kau simpan terus, tidak hendak aku mengambilnya secara paksa. Sejak
ini, apabila kau mendapatkan sesuatu kesukaran, yang harganya seimbang kalau ditukar
dengan permata itu, asal kau buka mulutmu, tidak nanti aku tidak berbuat segala apa
untukmu.
Habis berkata, dia merayap bangun, dia balut sendiri luka-lukanya, dengan gunakan
tongkatnya, untuk menahan tubuhnya, dia bertindak keluar dengan limbung. Ayah tidak
dapat bangun, aku pergi panggil orang, untuk membantu mengangkat ayah naik ke
pembaringan. Setengah bulan lebih ayah berobat, baru dia dapat turun dari
pembaringannya, untuk berjalan.
Suatu hari dengan berpegangan tembok, seorang diri ayah naik ke loteng tempat ia
menyimpan barang-barang permata. Disana di hadapan sebuah gambar ia keluarkan air
mata. Biasanya tidak pernah aku berkisar dari samping ayah, tapi untuk naik ke loteng, aku
sembunyi-sembunyi. Aku lihat segala apa, aku tidak berani menanyakannya. Aku tidak
berani karena usiaku yang muda sekali. Adalah kemudian, setelah banyak tahun, aku Tanya
ayah. Ayah tidak mau memberikan keterangan.
Hati In Lui tergerak.
Gambar apakah itu? dia Tanya.
Itulah gambar lebar yang pada harian nikah kita kau melihatnya diatas loteng, sahut Cui
Hong.
Oh. Kata In Lui, yang terus berdiam.
Belakangan baru ayah mengatakan padaku, Cui Hong menambahkan. Ayah katakan si
pengemis jahat sebenarnya bukan seorang jahat, dia malah seorang luar biasa. Dari lagu
dan suaranya, ternyata ayah sangat kagumi pengemis itu. Tak mau aku percaya ayah. Hari
itu aku saksikan sendiri dia sangat menghina ayah, dia berbuat terlalu sewenang-wenang.
Orang semacam dia bagaimana bukan orang jahat? Ayah menjadi saudagar permata di
Jalan Hitam, ancaman bahaya terhadapnya banyak dan besar sekali, beberapa kali ia
menghadapi bahaya maut. Akhirnya ayah beritahukan padaku bahwa si pengemis jahat
dahulu kala adalah Cin-sam-kay Pit To Hoan sekarang ini. Ayah katakan juga, di dalam
segala hal, kalau kita minta bantuan Tuan Pit itu, ancaman bahaya bias berubah menjadi
keselamatan. Ayah mengatakan demikian, tapi sebegitu jauh, belum pernah ayah
memohon bantuan Pit To Hoan. Tapi In Siangkong, kali ini untuk urusan kau, ayah telah

165

Peng-Cong Hiap-Eng
menulis suratnya ini. Ini membuktikan bahwa ia menyayangi kau melebihi dirinya sendiri,
malah melebihi daripada aku juga. Maka itu, sekarang, tidak perduli dia orang jahat atau
bukan, orang luar biasa atau siluman, asal dia suka Bantu kau, aku merasa girang sekali,
selanjutnya tidak lagi aku ingat-ingat kejahatannya dahulu itu!
In Lui tengah berpikir keras, perkataan Cui Hong itu seolah-olah tidak ia mendengarnya.
Tentang Cin-sam-kay Pit To Hoan itu, berkata Tiauw Im, jikalau kau katakana dia jahat,
dia memang jahat sekali, tetapi jikalau kau katakan dia orang baik, dia memang baik
sekali. Pada dua puluh tahun yang lalu, pernah aku bertemu dengan dia itu. Ketika itu,
dia ada bersamaku, dia ada satu hweeshio, dia belum menjadi pengemis.
Pada waktu itu aku baru keluar dari rumah perguruan, aku telah pergi merantau ke segala
penjuru, aku selalu hidup di luaran. Pada suatu hari sampailah aku di Hong-yang, dalam
propinsi Shoatang. Itulah tempat yang menjadi kampung asalnya kaisar Beng-thay-couw Cu
Goan Ciang. Mengenai kota Hongyang ini, ada cerita burung yang bunyinya demikian,
Bicara tentang kota Hongyang, mengatakan perihal kota Hongyang, kota Hongyang
asalnya ada suatu tempat yang baik, tetapi sejak munculnya kaisar she Cu, dalam sepuluh
tahun, kota Hongyang mengalami sembilan tahun paceklik, kalau si orang hartawan
menjual barang makanannya, si orang melarat menjual anak-anaknya, dan siapa yang tidak
mempunyai anak, pasti dia menggondol tamburnya pergi merantau keempat penjuru. Maka
itu, meskipun Hongyang merupakan kota tempat kelahiran satu raja, kotanya sendiri
sedikit juga tak dapat kebaikan raja itu, sebaliknya raja telah mengadakan berbagai
macam pajak yang berat-berat, hingga rakyat hidup sengsara dan celaka, satu kali datang
musim kemarau, rakyat terlunta-lunta ke segala jurusan. Demikian tahun itu, Hongyang
kebetulan sedang menderita musim kering, dari sepuluh rumah, sembilan yang kosong.
Bahaya paceklik mengancam demikian hebat, tetapi ada sebuah tempat yang indah luar
biasa. Kamu tahu, tempat apakah itu? Itu adalah sebuah biara!
In Lui heran sekali hingga ia segera buka mulutnya.
Biara? katanya. Bukankah biara itu tempat kediaman hweeshio?
Tidak salah, biara itu adalah tempat kediaman hweeshio, jawab Tiauw Im. Tapi
hweeshio yang mendiami biara itu bukan hweeshio seperti aku ini. Dia adalah satu
hweeshio besar yang banyak uangnya, yang besar pengaruhnya. Disini tak usah takut
mengatakannya. Kaisar kerajaan kita sekarang ini, Cu Goan Ciang, di masa mudanya
adalah satu hweeshio di biara tersebut. Mulanya biara itu ada sebuah biara kecil, sesudah
Cu Goan Ciang menjadi kaisar, biara itu dirombak, diperbaharui menjadi besar dan indah,
yang menjadi biara paling besar di seluruh negara. Oleh karena satu raja pernah
menyucikan dirinya di sana, maka nama biara itu memakai nama Hong Kak Sie, artinya
biara raja.
San Bing mendengarkan dengan perhatian.
Bahwa hweeshio-hweeshio dari Hong Kak Sie menjadi galak dan berbuat sewenangwenang, tidak usahlah aku ceritakan lagi, Tiauw Im lanjutkan. Mereka itu tidak pantang,
mereka tidak hormati aturan suci. Begitulah pada saat paceklik itu, mereka membeli
banyak anak-anak perempuan dari orang-orang yang bersengsara dan hendak mengungsi,
anak-anak itu dipelihara di dalam biara, mereka dijadikan korban-korban perkosaan. Di
sepanjang jalan telah aku dengar orang banyak berbicara tentang anak-anak perempuan
yang dijual pada biara itu, ada yang menjualnya buat lima ratus chie, ada yang cuma tiga
ratur chie. Dan uang sebanyak itu tidak cukup untuk ongkos belanja sepuluh hari. Malah
yang lebih hebat lagi, yaitu tidak apa anaknya tidak dibeli, asal saja dapat menumpang di

166

Peng-Cong Hiap-Eng
dalam biara itu. Panas hatiku mendengar hal itu! Di kolong langit ini ada semacam biara,
ada semacam hweeshio, maka hweeshio sebagai aku ini, yang makan daging, sungguh
lenyap muka terangku!
Memang kejadian itu sangat memanaskan hati.
Usiaku waktu itu belum cukup tiga puluh tahun, Tiauw Im melanjutkan pula.
Waktu itu aku berdarah panas melebihi sekarang ini. Aku tidak perdulikan lagi bahwa biara
itu ada biara raja, dengan membawa tongkatku, aku pergi ke biara itu, aku cari hweeshio
kepalany, yang terus aku damprat habis-habisan. Diluar sangkaanku, rata-rata hweeshio
disitu mengerti ilmu silat, malah kepalanya ada satu ahli. Semua hweeshio muncul hendak
membekuk aku, untuk menyiksa dan membinasakan aku. Aku layani mereka, hingga dapat
aku membinasakan beberapa diantaranya, akan tetapi lama-kelamaan aku kehabisan
tenaga, ini berbahaya bagiku. Disaat aku sangat terancam, datanglah satu hweeshio
perantauan. Dia menabuh bok-hie, lalu dia berkata dengan nyaring, Di waktu langit
terang benderang ini, hai kamu kawanan murid murtad dari Sang Buddha, bagaimana kamu
berani menganiaya orang? Habis itu, sambil tetap masih berdoa, ia turun tangan ia serang
hweeshio dari biara itu, hingga banyak hweeshio jahat yang terbinasa atau terluka.
Melihat perbuatan hweeshio itu aku menjadi girang, aku jadi mendapat hati, tetapi
berbareng dengan itu hatiku menjadi lemah. Suheng ampunilah mereka itu! aku teriaki
hweeshio perantauan yang kosen itu. Tapi dia menjawab, Hweeshio dari lain-lain biara
boleh diberi ampun, hweeshio-hweeshio disini adalah yang aku paling benci! Jikalau kau
merasa kasihan, biarkan aku saja yang turun tangan sendirian! Dan ia lanjutkan terus
serangannya.
Di dalam biara itu digantungkan gambar Beng-thay-couw, gambar itu lebih tinggi daripada
orang biasa. Adalah lucu di dalam sebuah biara dipajang gambar satu raja. Lebih lucu lagi,
gambar itu bukannya gambar hweeshio yang gundul kepalanya. Di hadapan gambar itu,
hweeshio pengembara itu tertawa tiga kali, lalu ia meludah!
Terhadap raja, perbuatan itu merupakan perbuatan sangat kurang ajar. Terhadap segala
pembesar jahat dan ok-pa, yang biasa menindas rakyat jelata, aku sangat membenci, akan
tetapi melihat dia demikian menghina raja, aku gentar juga.
Jangan kau takut! kata hweeshio itu padaku. Dahulu waktu Cu Goan Ciang belum
menjadi raja, dia adalah sama sebagai kita. Dia takut sekali orang mengatakannya dia
pernah menjadi hweeshio. Aku benci pada sikapnya itu, itulah penghinan untuk kita
hweeshio seumumnya. Kau berani bunuh hweeshio murtad dan cabul ini, kenapa tidak
benci pada raja yang pernah jadi hweeshio yang mengumbar hweeshio-hweeshio jahat dan
busuk melangsungkan kejahatan dan kebusukannya? Dia jadi sengit sekali, akhirnya dia
robek gambar raja itu, dihancurkan. Aku sendiri, mendengar teguran itu, bagaikan
mendengar pengajaran Sang Buddha, aku jadi sadar dan tidak takut lagi. Bagus! Bagus!
aku berteriak-teriak sambil takepkan kedua tanganku. Puas! Puas!
Membunuh orang memuaskan, tetapi menolong orang, banyak kesulitannya, berkata pula
hweeshio itu. Siapa mendjadi manusia, dia tidak boleh cuma merasa puas, tetapi jeri
terhadap kesulitan. Dengan berkata demikian, hweeshio itu maksudkan halnya banyak
wanita yang disembunyikan di dalam biara Hong Kak Sie itu. Ayah bunda mereka itu sudah
mengungsi, dimana mereka dapat dicari, kemana kaum wanita itu hendak diserahkan?
Tentu saja tidak dapat mereka dibiarkan pergi seorang diri.
Menolong orang harus secara sungguh-sungguh sampai pada akhirnya, berkata hweeshio
itu pula. Mari kita berdua bekerja sama, untuk mengantar mereka, untuk menolongi
mereka mencari orang tuanya. Itulah benar. Membunuh orang gampang, tetapi menolong
orang sulit. Syukur untuk kami, setelah bersusah payah dua bulan, berhasil juga kami
menolong kaum wanita itu. Tentang harta yang tersimpan di dalam Hong Kak Sie, kita
amalkan itu kepada rakyat yang bersengsara. Inilah jasaku yang pertama setelah aku turun
gunug, peristiwa itu tak nanti aku lupakan seumur hidupku.
Dua bulan lamanya aku diam bersama hweeshio itu, kita sangat cocok satu dengan lain.
Dalam hal ilmu silat, kepandaian kita juga berimbang. Kita lantas ikat persahabatan.

167

Peng-Cong Hiap-Eng
Hweeshio itu adalah Cin-sam-kay Pit To Hoan yang sekarang ini. Dengan sesungguhnya, aku
kangen kepadanya. Sayang, sejak pertemuan yang pertama kali itu, selanjutnya kita belum
pernah bertemu pula satu pada lain.
Tergerak hati In Lui, ia berkesan baik mengenai peristiwa itu, mengenai sikap Pit To Hoan.
Memikirkan perbuatan Pit To Hoan, bagaikan membayangkan pula waktu To Hoan meludahi
gambar Cu Goan Ciang. Kenapa Pit To Hoan begitu membenci kaisar pendiri dari kerajaan
Beng itu? Inilah hal yang harus dipikirkan masak-masak.
Tiba-tiba In Lui ingat Thio Tan Hong. Ia ingat, waktu berbicara tentang Cu Goan Ciang, Thio
Tan Hong memperlihatkan sikap sangat jemu. Kenapa? Ini juga hal yang memusingkan
kepala memikirkannya.
Tiba-tiba Ciu San Bin tertawa.
Taysu, kali ini kau akan bertemu dengannya! kata orang she Ciu ini. Pit To Hoan sendiri
sudah cukup untuk melayani bangsat kecil itu, maka ditambah kau, biar dia punya tiga
kepala dan enam tangan, tidak nanti dapat dia terbang pergi! Ha-ha, hiantee, sakit hatimu
pasti akan terbalaskan! dia tambahkan kepada In Lui. Kakekmu di tanah baka tentulah
akan meramkan mata........
In Lui berdiam, matanya mendelong jauh ke depan. Ia tidak menjawab perkataan San Bin.
Sikap ini membuat Tiauw Im dan Cui Hong menjadi heran.
Ketika bayangan matahari menunjukkan sudah dekat tengah hari, Tiauw Im lompat
berjingkrak.
Janji atau tantangan si mahasiswa berkuda putih itu tinggal empat hari lagi, dia kata,
maka itu sekarang sudah seharusnya kita cepat-cepat berangkat.
Pengutaraan ini dapat persetujuan, maka itu, berempat mereka berlerot keluar dari dalam
kuburan. In Lui dongak, ia memandang ke langit, ia rasakan seperti baru habis bermimpi.
Tiauw Im Hweeshio dengna kuda putihnya adalah yang larinya paling pesat, yang kedua
ialah kuda merah dari In Lui, tetapi si hweeshio tidak bedal kudanya itu, maka itu, dapat
ia rendengkan binatang itu dengan kuda In Lui. San Bin dan Cui Hong jauh tertinggal di
belakang, Cui Hong jadi sangat tidak puas. Akan tetapi, ia tak dapat berbuat suatu apa.
Dekat magrib rombongan ini telah sampai di sebuah dusun kecil di timur kecamatan Himkoan, disini mereka kebetulan bertemu dengan dua rombongan lain, yaitu satu rombongan
dari Hwee-sin-tan Cek Chungcu, dan yang lainnya rombongan dari Na Ceecu dari Im-ma-ce.
Tiauw Im dan San Bin kenal kedua rombongan itu, kedua pihak lantas membuat
pertemuan. Nyata kedua rombongan itu juga tengah menuju ke rumah Pit To Hoan.
Tiauw Im segera mencari sebuah penginapan yang paling besar, ia minta tiga kamar
untuknya, yaitu ia bersama San Bin mengambil sebuah kamar, In Lui dan Cui Hong masingmasing satu kamar. Cui Hong menjadi tidak puas, tetapi disitu banyak orang lain, ia
terpaksa bungkam.
Malam itu, In Lui tidak dapat tidur, ia bergelisah di atas pembaringannya, sampai ia dengan
ketokan perlahan sekali, pada pintu kamarnya.
Siapa? tanyanya,
Aku...
Itulah suara Cui Hong, suaranya perlahan.
Supaya tidak menerbitkan peristiwa yang bisa jadi buah tertawaan, In Lui lantas rapikan
pakaiannya, ia pakai kopiahnya, habis mana ia buka pintu untuk menemui isterinya itu.
Cui Hong bermandikan air mata pada mukanya, ia lantas tubruk In Lui hingga nona In ini
mesti peluk padanya, lantas ia bawa ke pembaringan.
Kau kenapa? tanya In Lui.
Cui Hong mengawasi, sinar matanya mengandung sinar penasaran.
In Siangkong, ia jawab. aku bukannya seorang hina, tak dapat aku menahan sabar...
Kau sebenarnya kenapa? Siapa yang menghina kau? tanya pula In Lui.
Paman gurumu itu serta kakak angkatmu, kenapa seperti hendak merenggangkan hubungn
kita? kata Cui Hong. Mereka seperti tidak pandang aku adalah isterimu. Apakah mereka
anggap aku tidak pantas untuk jadi pasanganmu? Mungkinkah mereka hendak mencarikan

168

Peng-Cong Hiap-Eng
lain pasangan untukmu?
Setelah ketahui urusan itu, In Lui tertawa cekikikan.
Hai, kau memikirkan apa? dia tanya. Sebenarnya mereka bermaksud baik.
Cui Hong mendongkol.
Bagus betul! katanya. Mereka hendak mencarikan kau lain jodoh, kau kata mereka
bermaksud baik! Apakah salahku, hingga kau hendak ceraikan aku?
Ia lantas saja menangis.
Sibuk juga In Lui.
Apa? Apa katamu? tanyanya. Kapan aku hendak ceraikan kau?
Habis, kau....kau...
Tak dapat si nona mengatakan terus, agaknya ia malu.
In Lui berpikir keras.
Bagaimana aku harus bersikap sekarang? dia bingung.
Kau dengar, ia kata. Kakak angkatku itu....
Fui! Cui Hong memotong. Kakak angkatmu itu! Jikalau kau sebut-sebut dia pula, nanti
aku segera cari ayahku untuk minta keputusannya! Kau nikah aku atau kakak angkatmu?
Hm! Aku benci dia!
In Lui tetap bingung, hingga ia memikirkan untuk membuka rahasia saja. Ia belum sempat
membuka mulutnya, ketika ia dengar suara berdehem di luar kamar.
Hiantee, kau bicara dengan siapa? terdengar San Bin menanya.
Hatinya menjadi lega. Ia segera tolak tubuh Cui Hong.
Ciu Toako diluar? tegurnya. Lekas kau keluar! Kau seka air matamu, supaya dia tidak
dapat melihat....
Cui Hong mendongkol bukan main, ia lantas lari keluar, tanpa apa mau, ia justeru
bersomplokan dengan San Bin, dalam sengitnya, ia joroki anak muda itu sampai hampir
jatuh. Ia lari terus ke dalam kamarnya, ia tutupi kepalanya dengan selimut, ia menangis.
In Lui heran yang San Bin datang malam-malam padanya.
Hian-moay, ia dengar San Bin, kita ada bagaikan orang sendiri, tidak ada halangannya
untuk kau bicara terus terang. Sebenarnya kau mempunyai kesulitan apa?
Sejenak In Lui terperanjat. Tapi segera ia tertawa.
Memang ada kesulitanku, ia jawab. Apakah kau tidak lihat nona Cio gerembengi aku? Ini
sulit, kesulitan ini tidak dapat aku pecahkan. Aku lihat, toako, cuma kau yang dapat
membantu aku.
San Bin terperanjat, wajahnya berubah.
Cui Hong adalah satu anak yang baik, berkata pula In Lui, ia sesuai dengan kau. Toako,
kau telah berjalan bersama-sama dia, apakah kau tidak pikir suatu apa mengenai dia?'
Pemuda itu melengak, ia merasa tak enak.
Adakah In Lui telah melihat lain orang, maka hendak ia serahkan Cui Hong padaku? ia
menduga-duga, ia mulai cemburu.
In Lui polos, tidak ia menyangka akan kesangsiannya San Bin itu, maka itu, heran ia
menampak air muka orang menjadi pucat. Ia tercengang.
Adik In, jangan kau dustakan aku, San Bin berkata pula. Bukankah kau mempunyai
orang lain?
Apa toako? In Lui tanya.
San Bin menatap.
Anak Thio Cong Ciu telah melakukan perjalanan bersama-sama kau, bukankah ia baik
sekali terhadapmu? tanyanya, tiba-tiba.
Tubuh In Lui gemetar.
Ya, baik sekali, ia menjawab.
Tapi ia ada dari keluarga musuhmu! San Bin peringatkan.
Tentang itu tak usah kau memperingatkannya, sahut In Lui, surat wasiat kakekku telah
menjelaskannya terang sekali.
Apakah yang ditulisnya?'

169

Peng-Cong Hiap-Eng
Surat wasiat itu menghendaki supaya aku membunuh habis keluarga Thio, tidak perduli
lelaki atau perempuan!
Tetapi ia berlaku baik sekali terhadapmu! San Bin kata pula.
Baik atau tidak sama saja. Aku....aku....aku tidak bisa tentangi pesan kakekku!
In Lui menangis tersedu-sedu, tak dapat ia bicara terus.
San Bin bingung, hatinya separuh lega. Ia awasi si nona, pikirannya ruwet. Ia merasa tak
tega, ia merasa kasihan terhadap nona ini. Ia ulur tangannya, niatnya menghibur si nona,
akan tetapi ketika tangannya membentur lengan orang, segera ia menarik kembali. Ia
merasakan getaran.
Justeru itu di luar penginapan terdengar bentakan keras.
Oh, bangsat! demikian suara Tiauw Im Hweeshio.
Besar nyalimu! Aku ada disini, kau berani datang menyatroni!
San Bin kaget, tapi segera ia lompat keluar, tangannya mencabut golok. Ia terus lompat
naik ke atas genteng.
Di bawah sinar rembulan yang permai, disana tampak satu mahasiswa yang putih bersih,
seolah-olah ia sedang tersenyum, dengan tegak ia berdiri diantara siuran angin halus. Ia
adalah si bangsat kecil berkuda putih untuk melayani siapa San Bin bersama Cio Eng
sudah menyiarkan panah Lok-lim-cian.
Waktu itu Na Ceecu dan Cek Chungcu pun telah muncul di pojok payon.
Menampak San Bin, Tiauw Im berkata, Aku tidak mau melayani anak muda, akan aku
gantikan kau mengurus kuda putih itu! Hati-hatilah kamu, supaya dia tidak sampai lolos!
San Bin tidak sahuti paman guru itu, ia hanya berkata, Adik Lui, lekas kemari!
Cek Chungcu, yang bernama Po Ciang dan bergelas Hwee-sin-tan, si Peluru Malaikat, sudah
lantas menimpuk dengan tiga biji hwee-cu, peluru api, mengarah muka orang.
Dengan mengegoskan tubuhnya si mahasiswa lolos dari sasaran peluru lihai itu.
Na Ceecu, yang bernama Thian Sek, sudah lantas maju menyerang dengan sepasang Poankoan-pitnya, yaitu alat semacam pit, alat tulis.
Si mahasiswa tidak hunus senjatanya, sambil menyamping sedikit, dengan sebelah
tangannya ia menangkis, tangan yang lain dipakai membalas menyerang. Secara demikian
ia membuat serangan Na Ceecu gagal, yang terpaksa mundur dua tindak.
Waktu itu, San Bin lompat dengan bacokan goloknya.
Gesit sekali mahasiswa itu, ia tidak menangkis atau lari, hanya selagi golok menyambar, ia
berkelit sambil memutar diri, tangannya yang sebelah diayunkan, hingga ketika ia berbalik
pula, lengan San Bin kena tersampok, sampai lengan itu bengkak dan terasa sakit.
In Lui sudah lantas muncul diatas genteng, pedang Pek-in-kiam pun sudah dihunus, segera
ia lihat si mahasiswa, mata siapa seperti menyinarkan api. Ia kertak giginya, terus ia
menikam.
Si mahasiswa kelitkan dirinya sambil berseru, Telah aku dengar semua pembicaraanmu!
Kiranya kamu semua membenci aku! Ia tidak membalas serangan si nona.
Tikam dia! Jangan kasih hati! berseru San Bin.
Cek Po Ciang kembali menyerang dengan pelurunya, menyusul mana, Tan Hong dikepung
bertiga.
Dalam saat yang sangat mengancam itu, Thio Tan Hong masih sempat bersendung, Tubuh
yang kecil boleh pulang ke dalam tanah, akan tetapi bagaimana, budi permusuhan masih
belum jelas?
Pemuda ini berkelit pula dari pedang In Lui, berbareng dengan itu ia serang muka Na Thian
Sek dengan tangan kosong. Na Ceecu berkelit sambil lompat nyamping, untuk membela
dirinya. Gerakan ini digunakan sebagai ketika oleh Tan Hong, yang sudah lompat turun.
Kejar dia! berteriak San Bin.
Semua orang lantas mengejar, tidak terkecuali In Lui, tetapi nona ini cuma ikut-ikutan
saja, ia sebenarnya tidak punya tujuan.
Thio Tan Hong perdengarkan suara nyaring, ia rupanya memanggil kudanya. Sebagai
jawaban ia dapatkan kuda itu berbenger, yang berada jauh daripadanya. Ia lari

170

Peng-Cong Hiap-Eng
menghampiri.
Tiauw Im Hweeshio, diatas kuda putihnya, menghalang antara Tan Hong dan Ciauw-ya Saycu-ma. Kuda putih itu seperti kenal baik satu pada lain, maka juga, meski dia dengar
panggilan, kuda si mahasiswa tidak mau menghampiri majikannya.
Tan Hong perdengarkan pula suara panggilannya, yang panjang. Kali ini Ciauw-ya Say-cuma perdengarkan jawabannya sambil berdiri pada kedua kaki belakangnya.
Tiauw Im lihat sikap kuda itu, ia serang batang lehernya. Atas mana, kuda tersebut rubuh.
Sakit hati Tan Hong menyaksikan kudanya disakiti, ia menjadi gusar sekali.
Hweeshio bangsat, kau berani lukai kudaku? dia berteriak. Terus ia maju, menyerang si
hweeshio itu, atau segera ia tercandak Cek Chungcu, Na Ceecu, San Bin, dan In Lui, yang
terus mengurung padanya. Ia menjadi mendongkol, tidak bisa ia lantas loloskan diri. Ia pun
tidak sempat mencabut pedangnya.
Tiauw Im tertawa, dia berkata, Tanpa kudamu, cara bagaimana kau dapat meloloskan
diri?
Belum pendeta ini menutup mulutnya, sekonyong-konyong kudanya berbenger dan
berjingkrak, kedua kaki depannya diangkat tinggi, hingga ia menjadi kaget, sebab hampir
ia terpelanting dari atas kudanya itu. Inilah ia tidak sangka, sebab sekian lama, dapat ia
menjinakkan kuda itu.
Pendeta ini tidak tahu, kudanya dengan Ciauw-ya Say-cu-ma mempunyai hubungan yang
sangat erat. Ciauw-ya Say-cu-ma itu adalah anak kuda putih putih itu! Thio Cong Ciu
sangat menyayangi puteranya, ia berikan Ciauw-ya Say-cu-ma kepada sang putera. Tiauw
Im telah hajar kuda itu, tidak heran kudanya menjadi kaget dan marah, setelah
berjingkrak, kuda itu lari kabur. Ia mesti mendekam dan pegangi keras kuda itu, yang tak
dapat segera dikendalikan. Ia dibawa kabur sampai beberapa lie.
Ciauw-ya Say-cu-ma berbenger pula, terus dia lompat bangun, terus dia lari ke arah
majikannya.
Bagus! Bagus! seru Thio Tan Hong.
Na Thian Sek maju dengan pitnya, Cek Po Ciang dengan cambuknya, dan Ciu San Bin
dengan goloknya, bertiga mereka hendak rintangi si anak muda menghampiri kuda itu.
Tan Hong lihat sikap orang, ia justeru lompat kearah In Lui.
Nona In kertak giginya, ia segera serang anak muda itu, akan tetapi dengan mengegoskan
mukanya, Tan Hong dapat mengelakkan pedang itu ke samping mukanya.
Adalah pada saat itu, Ciauw-ya Say-cu-ma telah datang dekat pada majikannya.
San Bin tidak mau diterjang kuda, ia berkelit. Ketika ini digunakan Tan Hong untuk lompat
ke punggung kudanya itu.
Cek Chungcu menyerang dengan pelurunya, ia sebat, akan tetapi Ciauw-ya Say-cu-ma
sangat gesit, dia membuat peluru lewat di belakangnya.
Sambil kaburkan terus kudanya, dari kejauhan, si mahasiswa telah perdengarkan suaranya
yang nyaring, Maafkan aku, tidak dapat kau menemani lebih lama! Nanti saja, lagi tiga
hari, kami bertemu pula!
Kata-kata itu, yang seperti ejekan, diakhiri dengan suara tertawa, yang segera lenyap di
udara terbuka, diantara sampokan angin, yang kemudian disusul menghilangnya si
penunggang kuda dan kudanya.
In Lui berdiri menjublak, sedang Cek Chungcu, Na Ceecu dan San Bin lesu sekali, mereka
menyesal sekali, mereka jengah sendirinya. Beramai mereka tak sanggup membekuk satu
orang.
Tidak lama diantaranya, tiba-tiba Tiauw Im Hweeshio. Pendeta ini kembali sesudah ia
dapat kuasai kudanya, ia merasa kecele, karenanya ia larikan kudanya perlahan-lahan.
Ketika ia saksikan roman kawan-kawannya, sambil menyeringai, ia berkata, Malam ini kita
rubuh! Nanti, setelah tiga hari, terpaksa aku mesti turun tangan.
Besok paginya, perjalanan dilanjutkan.
Cui Hong mendongkol berbareng berduka, karena kejadian semalam itu. Tak mau ia bicara
dengan In Lui.

171

Peng-Cong Hiap-Eng
San Bin pun berdiam, akan tetapi ia pikirkan pertempuran semalam. Terang ia dapat
melihat, sekalipun In Lui, dia masih kalah terhadap Thio Tan Hong yang lihai itu. Ia juga
dapat melihat, Tan Hong tidak berniat mencelakai si nona walaupun nona ini ada
musuhnya. Bukankah itu tandanya bahwa antara mereka berdua telah ada perhubungan
yang erat? Maka akhirnya, ia menjadi masgul sekali, pikirannya pepat. Ia tidak punya
kegembiraan untuk bicara dengan nona In.
Nona ini lihat sikap pemuda she Ciu itu, ini membuatnya ia berlega hati. Meski demikian,
teringat halnya Tan Hong, ia berduka juga.
Perjalanan dilanjutkan terus, sesudah tiga hari, sampailah mereka di Hok-lok.
Perkampungan tempat kediamannya Cin-sam-kay Pit To Hoan dikitari air dan bukit, bagus
letaknya.
Tiauw Im Hweeshio maju di depan, ia temui pengawal pintu, untuk perkenalkan diri dan
utarakan maksud kedatangannya, setelah mana, mereka dipersilahkan masuk.
Nyata di dalam telah ada lain-lain tetamu, roman mereka umumnya tegang.
Sudah dua puluh tahun Pit To Hoan dan Tiauw Im tidak pernah bertemu, pertemuan ini
membuat mereka girang sekali, banyak yang mereka omongkan, tentang kenangankenangan mereka, perihal kesehatan dan lainnya, hingga untuk sesaat itu, tak sempat Pit
To Hoan melayani lain-lain tetamunya, yang semua datang karena menerima panah Loklim-cian atau diundang langsung oleh Thio Tan Hong.
Kemudian orang menanyakan Ciu San Bin tentang Thio Tan Hong, mereka ingin ketahui
jelas perihal orang she Thio itu.
Ayahmu, Kim Too Ceecu, berkata Pit To Hoan, meskipun dia belum pernah bertemu
denganku, akan tetapi telah lama aku dengar tentang dia, aku tahu dia orang macam apa,
maka aku percaya orang yang dia ingin bekuk mesti ada seorang yang jahat sekali.
Sekarang pun terbukti, melihat sepak terjangnya, penjahat itu sangat cerdik dan
berbahaya. Maka itu, tidak usah kau menjelaskan banyak, aku berniat turun tangan
terhadapnya.
Kemudian, menampak Cio Cui Hong, tuan rumah urut-urut kumisnya.
Maafkan aku, aku tak tahu sekarang telah muncul seorang wanita gagah, ia kata.
Segera San Bin memperkenalkan.
Nona ini puteri Hong-thian-lui, katanya.
Cui Hong segera maju, untuk memberi hormatnya, seraya memberitahukan yang ayahnya
telah mengirim surat untuk menanyakan kesehatan tuan rumah itu.
Pit To Hoan girang sekali, ia tertawa.
Jikalau Hong-thian-lui menitahkan sesuatu, walaupun harus menerjang api, tidak nanti
aku menolak! dia kata. Sudah belasan tahun aku nantikan suratnya itu!
Cui Hong serahkan surat ayahnya, tuan rumah menerimanya, untuk terus dibuka dan
dibaca, habis mana mendadak air mukanya berubah menjadi pucat.
Hati In Lui goncang. Tak tahu ia, apa bunyi surat Cio Eng itu.
Pit To Hoan berlaku tenang, dengan perlahan ia lipat pula surat itu, terus ia masukkan ke
dalam sakunya.
San Bin mengawasi, ingin ia bicara, untuk menjelaskan perihal si mahasiswa berkuda putih,
atau To Hoan, yang memandang padanya, mendahului dia.
Tidak usah kau menjelaskannya, sudah aku ketahui, katanya. Ia segera memandang
kepada In Lui kearah siapa ia berpaling.
Tuan ini adalah keponakan murid dari Tiauw Im Tauysu, ia juga menjadi menantu dari Cio
loo-enghiong, San Bin cepat memperkenalkan.
Menantu Hong-thian-lui telah datang, sayang Hong-thian-lui tidak, kata To Hoan. Aku
kuatir urusan tidak akan dapat diselesaikan.
Ia lantas angkat kepalanya, hingga tampak sinar kedua matanya yang hitam dan bengis.
Habis itu terdengar tertawanya yang kering.
Mari turut aku! kata ia kemudian sambil melambaikan tangan pada In Lui dan Cui Hong.
Ia pun memesan, Kalau si mahasiswa berkuda putih datang dengan tiba-tiba, Tiauw Im

172

Peng-Cong Hiap-Eng
suheng, tolong kau wakilkan aku melayani dia.
Sudah lama To Hoan kembali menjadi orang biasa, bukan hweeshio lagi, tapi kepada Tiauw
Im tetap ia memanggil suheng, panggilan cara keagamaan.
In Lui dan Cui Hong turut tuan rumah itu. Mereka melewati lorong dan naik keatas sebuah
loteng kecil, disitu kedapatan sehelai gambar lukisan kota dan air, dengan pohon-pohon
bunga. Mestinya gambar ini dibuat oleh satu pelukis dengan gambar yang ada di rumah Cui
Hong, bedanya ialah gambar ini jauh terlebih kecil.
Belum lagi tuan rumah dan tetamu-tetamunya duduk, atau satu bocah telah datang
berlarian, terus saja dia tunjuk gambar itu sambil berseru, Ayah, berikan padaku, berikan
padaku buat main!
Bocah itu berumur kira-kira delapan tahun, gesit dan manis, siapa saja tentu menyukai
dia.
To Hoan urut-urut kumisnya, ia turunkan gambar itu, lalu ia berikan pada bocah itu.
Pergi ambil! katanya. Hari ini akan terlihat barang aslinya, maka barang tiruan ini tak
usah aku menghargainya lagi!
Mendapat gambar itu, bocah itu tertawa dan berjingkrakan, lantas dia pergi. Kelihatannya,
dia seperti sudah sering minta gambar itu kepada orang tuanya dan baru kali ini diberikan.
Dengan matanya, To Hoan antar bocah itu turun dari loteng, habis itu ia menoleh kepada
Cui Hong. Ia tertawa.
Nona Cio, katanya, ketika tahun itu aku pergi ke rumahmu, kau masih sebesar dia.
Masihkah kau ingat?
Dua bulan ayahku rebah di pembaringan, mana aku dapat melupainya? jawab nona Cio.
To Hoan menghela napas.
Hari itu aku sangat ganas, katanya, sampai pada hari ini, apakah kau masi membenci
aku? Apakah yang ayahmu katakan padamu?
Sedikit juga ayah tidak membenci kau, sahut Cui Hong. Kali ini, apabila kau bisa
membantu membalas sakit hati, ayah akan sangat berterima kasih padamu.
Membalas sakit hati? To Hoan heran. Sakit hati apakah itu?
Cui Hong berbalk menjadi heran.
Apakah ayah tidak menjelaskan dalam suratnya? ia tanya. Bukankah si mahasiswa
berkuda putih itu ada musuh besar dari In Siangkong?
To Hoan awasi nona itu.
Begitu? dia tegaskan.
Muka In Lui menjadi pucat sekali.
Benar apa yang nona Cio ini katakan, ia turut bicara. Memang itu ada urusan sakit hati.
Hanya dalam hal itu, tidak mau aku pinjam tangan lain orang!
Bagus, itulah bersemangat! puji Pit To Hoan. Tapi aku lihat, di dalam urusan ini terlibat
lain urusan lagi, yang menjadi sulit bagiku...
Apa? tanya Cui Hong heran. Inilah aku tidak pikir. Apakah yang ayahku tulis dalam
suratnya itu?
To Hoan tertawa tawar, separuh berpaling, ia pandang nona itu.
Sekarang aku undang kau kemari, ini adalah untuk menuturkan kau sebuah dongeng,
katanya kemudian. Dongeng ini tentunya ayahmu belum ketahui semuanya.
Dan ia lantas mulai dengan dongengnya itu.
Dahulu kala ada satu hweeshio yang pandai ilmu silat, dan pintar sekali dalam soal agama.
Pada masa itu masuklah satu bangsa lain ke Tionggoan dan memerintahnya. Karena itu
negara menjadi kalut sekali.
Waktu itu hidup dua saudara angkat, si kakak hidup sebagai pedagang garam gelap, si adik
menjadi pengemis. Kedua saudara ini berangan-angan besar. Mereka bercita-cita
mengumpulkan tentara guna mengusir bangsa asing itu. Akan tetapi si hweeshio telah
mendahului mereka, di Hoaysee dia telah mengerek bendera pemberontakan suci.
Hweeshio tua itu mempunyai dua murid, ialah si penjual garam gelap sebagai kakak dan si
pengemis sebagai adiknya, In Lui menyelak.

173

Peng-Cong Hiap-Eng
Bersinar mata To Hoan, dia pandang tamu ini. Lantas ia tersenyum.
Kau juga belum mengetahui jelas, ia beritahu. Hweeshio itu bukan mempunyai cuma
dua murid, tetapi tiga. Siapa menuturkan kau dongeng yang tidak lengkap itu?
Untuk bicara terus terang, yang mendongengkan ialah orang yang hari ini kamu semua
hendak menghadapinya, sahut In Lui. Dia sebenarnya hendak ceritakan aku tiga buah
dongeng. Dongeng yang pertama ialah apa yang baru saja kau tuturkan. Dongeng yang
kedua aku pun sudah ketahui. Tinggal dongeng yang ketiga, yang ia belum ceritakan
padaku.
Cui Hong menjadi heran, hingga ia awasi suaminya itu serta To Hoan dengan bergantian.
To Hoan bersikap tenang, malah dia seperti sudah ketahui atau telah menduganya.
Benar, kata To Hoan kemudian. Dibanding denganku, dia itu mengetahui terlebih
banyak. Dongengku ini mungkin ada dongeng yang ketiga, tapi hanya sebagian saja.
Cui Hong bertambah heran, wajah padam. Ia melirik pada In Lui, ia agaknya hendak
sesalkan suami itu mengada dia sekian lama sudah bungkam saja terhadapnya.
Oleh karena dia telah menceritakan dongeng itu, baiklah akupun tidak usah
menyembunyikan lagi, berkata pula To Hoan kemudian. Penjual garam gelap itu adalah
Thio Su Seng, dan si pengemis adalah Cu Goan Ciang. Dan si hweeshio tua, yang menjadi
guru mereka adalah Peng Eng Giok.
In Lui dan Cui Hong mengawasi, keduanya diam. Cui Hong nyata masih bingung.
Pit To Hoan lanjutkan ceritanya.
Peng Eng Giok itu masih mempunyai satu murid lain yang bernama Pit Leng Hie. Murid ini
mengerti ilmu perang, dia cerdas sekali. Dia pernah ikuti gurunya merantau, dia pandai
menyamarkan diri. Begitulah dia pernah menyamar sebagai hweeshio dan juga sebagai
pengemis.
Cu Goan Ciang itu, sebelum dia masuk ke dalam kalangan Ang Kin Koan, Tentara Pelangi
Merah, pernah dia bekerja dalam pasukan suka rela gurunya itu, yang menjabat sebagai
satu pemimpin kecil. Mungkin hal ini telah dituturkan orang itu kepadamu, ia tambahkan
pada In Lui.
Pada masa itu tentara kerajaan Goan ada tangguh. Sebaliknya tentara kaum pemberontak,
yang bergerak dengan berbareng, jumlah tenaganya Peng Eng Giok tidak besar. Begitulah,
beberapa kali Peng Eng Giok kena dikalahkan pasukan perang Goan, hingga keadaannya
menjadi terancam bahaya besar. Cu Goan Ciang telah berpikir lain, untuk mewujudkan
pikirannya itu, ia menanti ketikanya.Kembali Peng Eng Giok mendapat pukulan yang hebat.
Inilah ketika yang baik bagi Cu Goan Ciang. Dengan akal muslihatnya, ia jual gurunya
kepada musuh, ia sendiri, dengan air mata bercucuran, memperlihatkan diri sebagai
seorang baik. Habis itu dengan membawa sisa tentara gurunya, ia pergi kepada pasukan
Ang Kin Kun yang paling kuat, dengan siasat ni ia gunakan tentara itu sebagai modalnya
untuk merebut negara.
Cu Goan Ciang menduga gurunya mesti terbinasa. Dugaan ini meleset. Gurunya itu diantar
ke Pakkhia, kota raja bangsa Goan. Di tengah jalan, guru itu disusul Pit Leng Hie. Murid
yang setia ini menggunakan segala macam akal, akhirnya berhasil juga dia menolongi
gurunya, yang dia ajak menyingkir. Tentang pengalaman Pit Leng Hie itu, yang sulit sekali,
tidak usah aku jelaskan disini.
Keadaan negara telah menjadi kacau sekali ketika itu. Peng Eng Giok dan muridnya tidak
dapat kembali ke Kanglam, tapi mereka masih dapat mengumpulkan pengikut baru, untuk
bangun pula. Di Utara ada tempat kedudukan tentara Goan, begitu Peng Eng Giok
bergerak, begitu ia diserbu. Dalam satu pertempuran Peng Eng Giok terluka parah. Selagi
hendak menghembuskan napasnya yang penghabisan, Peng Eng Giok berkata pada
muridnya, Seorang tak dapat lolos dari kematian, sekarang aku terbinasa di medan
perang, inilah kemenangan yang terhormat. Cuma ada satu hal yang belum aku selesai
lakukan, untuk itu aku minta kau yang menggantikan mengurusnya. Melihat keadaan, aku
percaya bangsa Han akan bangun pula. Inilah sudah pasti. Diantara jago-jago yang
sekarang sedang bergulat, yang mempunyai harapan untuk naik di tahta, menurut

174

Peng-Cong Hiap-Eng
pandanganku, mesti kedua adik seperguruanmu, kalau bukan si Cu, tentu si Thio. Yang
lain-lainnya tidak ada yang mempunyai ketika. Cu Goan Ciang berambekan besar dan
cerdik sekali, tetapi dia bersifat buruk, dia tidak kenal budi kebaikan. Bukannya aku benci
padanya, yang telah menjual aku, tapi sebenarnya aku tidak ingin dia yang menjadi raja.
Dia dapat mencelakai rakyat negeri. Sejak muda aku telah merantau, mengembara di
seluruh negeri, karenanya aku ketahui letak tempat, yang mana yang baik untuk
mengumpulkan tentara. Maka itu aku telah menyiapkan sebuah peta bumi yang dibutuhkan
oleh pergerakan tentara. Aku percaya, siapa memperoleh peta itu, dialah yang akan
berhasil dalam usaha menjadi jago. Sekarang aku minta kau serahkan peta itu kepada Thio
Su Seng.
Pit Leng Hie terima pesan itu, dengan menerjang bahaya, dia berangkat ke Selatan. Sayang
dia terlambat, waktu dia tiba di Selatan, perebutan kekuasaan sudah memberikan roman
baru, yaitu Thio Su Seng telah terkurung di daerah Souwciu, dalam setiap saat dia dapat
dimusnahkan. Tapi Thio Su Seng tidak ingin mati terkurung, dia hendak coba ketikanya
yang terakhir. Dia telah tantang Cu Goan Ciang untuk melakukan pertempuran yang
memutuskan di sungai Tiangkang.
Pit Leng Hie menganjurkan Thio Su Seng untuk menggunakan seantero kekuatannya yang
masih ada, untuk menerjang keluar dari kurungan itu. Thio Su Seng tertawa dan berkata,
Mana bisa aku menghilang kepercayaanku terhadap si pengemis? Dia lantas perintahkan
memanggil tukang lukis yang kenamaan yang disuruh melukis panorama kota Souwciu. Dia
gemar main catur, malam itu dengan sikap tenang, seperti biasa, dia ajak Pit Leng Hie
main catur sambil menghadapi arak. Dia main terus sampai fajar menyingsing, pada waktu
itu, selesailah gambar itu. Gambar itu dibuatnya indah dan jelas sekali, sampai bukit-bukit
dan menara kota pun terlukis lengkap.
Sesudah itu Thio Su Seng menyembunyikan semua sisa harta bendanya, berikut pelbagai
permata dan gambar pesan dari gurunya. Dia sembunyikan itu di suatu tempat yang dia
rahasiakan. Tempat itu cuma terlihat di dalam gambar panorama itu. Gambar itu
diserahkan pada seorang yang dipercaya, yang ia tugaskan untuk mengajak puteranya
menyingkir di waktu malam. Pit Leng Hie berkesan sangat akan putusan dan perbuatan
Thio Su Seng ini, dari itu ia mengambil keputusan untuk tidak meninggalkan kota. Dalam
pertempuran yang memutuskan di Tiangkang itu, Pit Leng Hie mendahului Thio Su Seng
terbinasa. Pit Leng Hie mempunyai satu putera, anak itu menyingkir diantara serdaduserdadu yang lari kalang kabut. Syukur untuknya, pada akhirnya dia sampai di tempat yang
selamat. Harta benda Thio Su Seng itu ada satu soal, akan tetapi yang sangat berharga
adalah gambar panorama itu. Umpama ada seseorang yang mendapatkan itu, dia dapat
bergerak dan nantin dapat perebutkan negara melawan anak cucu Cu Goan Ciang.
Cui Hong heran.
Bagaimana dengan gambar itu? dia tanya.
Belum nona ini menutup mulutnya, tiba-tiba, srett! lalu terlihat sebuah panah api warna
biru melayang naik ke udara, pertandaan itu disusul dengan teriakan-teriakan, Si
mahasiswa berkuda putih telah datang!
Suasana menjadi tegang, genting, akan tetapi Pit To Hoan bersikap tenang sekali. Ia
berbangkit dengan ayal-ayalan. Sambil tersenyum, ia jawab si nona, Gambar itu a di
rumahmu, nona Cio. Mungkin sekarang gambar itu sudah berada di tangan si mahasiswa
berkuda putih itu!
Cui Hong ternganga, matanya mendelong.
Pit To Hoan tersenyum, dia berkata pula, Isi surat ayahmu itu adalah menghendaki aku
menemui si mahasiswa berkuda putih itu, sama sekali ayahmu tidak memohon bantuanku,
lebih-lebih tidak untuk meminta aku membantu menuntut balas. Di dalam segala hal,
ayahmu serahkan segala apa kepada keputusanku. Sebenarnya masih ada beberapa soal
yang masih kurang jelas bagiku, sayang ayahmu tidak mau datang sendiri menemui aku.
Maka itu, hari ini ia membuatnya aku sukar mengambil keputusan.
Cui Hong melengak, In Lui pun terdiam. Justeru itu lalu terdengar suara tertawa dari Thio

175

Peng-Cong Hiap-Eng
Tan Hong.
Si mahasiswa berkuda putih itu sungguh seorang yang luar biasa! berkata Pit To Hoan.
Ada baiknya untuk menemui dia.
Lantas dia gerakkan kedua tangannya, tangan kiri menarik Cui Hong, untuk dengan
perlahan-lahan mengajak mereka turun dari loteng.
Hati In Lui gelisah, ia merasa sangat tegang, karena selagi mendekati keluar, ia sudah
mulai dengar riuhnya suara pertempuran. Segera sesampainya di luar, ia tampak Tiauw Im
Hweeshio tengah bertarung dengan Thio Tan Hong.
Pendeta itu tersohor Gwa-kee kang-hunya, ialah ilmu luar yang telah sempurna, maka itu
semua tetamunya Pit To Hoan berkumpul untuk menyaksikan pertempuran itu, yang
dashyat sekali. Sian-thung dari si pendeta telah perdengarkan suara angin yang keras. Di
pihak sana, tubuh si mahasiswa berkuda putih telah bergerak berkelebatan lincah sekali
dan sinar pedangnya bergemerlapan bagaikan bianglala.
Untuk sekian lama, tidak ada tanda-tandanya akan ada keputusan siapa terlebih tangguh,
siapa terlebih lemah. Tiauw Im Hweeshio kemudian perdengarkan seruannya, menyusul
mana, ia perhebat gerakan tongkat panjangnya. Atas mana lawannya telah mengubah
sikapnya, pedangnya tidak lagi bergerak sama cepatnya, kakinya juga mengambil
kedudukan Ngo-heng Pat-kwa, ialah ia main mundur secara teratur.
Apabila ia telah menonton sekian lama, Pit To Hoan bersenyum.
Ilmu tongkat Hok Mo Thung-hoat dari Tiauw-im Suheng telah mau pesat sekali, katanya.
Ia memberi nilai. Akan tetapi ilmu pedang dari si mahasiswa berkuda putih, belum pernah
aku melihatnya.
Pertempuran berlangsung terus, sampai dua puluh jurus, selagi Tiauw Im tetap mendesak
setindak demi setindak, sekonyong-konyong, terdengar suara Trang! dari beradunya
senjata yang disusul dengan meletiknya lelalu-lelatu api.
Sungguh pedang yang bagus! memuji orang banyak.
Kedua senjata, tongkat dan pedang, telah bentrok dengan keras, sebagai kesudahan,
tongkat si pendeta telah sempoak, hingga semua penonton menjadi terperanjat dan
kagum, hingga tanpa merasa, mereka memberikan pujiannya.
Tiauw Im Hweeshio tampak lompat merangsak, tongkatnya menyambar lurus ke depan.
Serangan tiba-tiba ini adalah suatu ilmu pukulan mematikan dari Hok Mo Thung-hoat, ilmu
tongkat Menaklukkan Hantu. Itulah ilmu tongkat yang telah diyakinkan selama beberapa
puluh tahun. Maka segera juga si mahasiswa berkuda putih seperti dikurung tongkat, di
kiri-kanan, di atas dan dibawah, dia bagaikan tertutup.
In Lui berkuatir sekali, hingga tanpa disengaja ia perdengarkan seruan.
Mengakhiri deskannya itu, sekonyong-konyong Tiauw Im Hweeshio tertawa berkakakan.
Sebab dengan tiba-tiba pedang si mahasiswa telah terlepas dari tangannya dan mental ke
udara.
Karena kagum dan girang, semua penonton, yang terdiri dari jago-jago Rimba Hijau, telah
perdengarkan seruan mereka yang gemuruh.
Tiauw Im sudah lantas tarik kembali tongkatnya, ia lompat keluar kalangan.
Thio Tan Hong juga lompat, akan tetapi ia mencelat tinggi, guna mengulur tangannya,
guna menjemput pedangnya yang tengah jatuh turun, dengan demikian ia dapat ambil
kembali pedangnya yang tajam itu.
Segera terdengar suara nyaring dari si pendeta, Gurumu menjemukan! Tapi kau adalah
orang muda dari kaum kita, maka itu tak dapat aku seorang yang tua, menghina yang
muda. Nah, pergilah kau!
Kata-kata itu membuat semua jago-jago Rimba Hijau heran, mereka saling mengawasi,
sinar mata mereka semua merupakan tanda tanya satu dengan lain. Mereka juga lantas
berbisik, saling menanya.
Cuma Pit To Hoan, yang nampak girang. Dia tersenyum.
Makin lama soal menjadi makin aneh! katanya. Bagaimanakah maka mahasiswa berkuda
putih ini bisa menjadi orang yang terlebih muda tingkatannya dalam kaum Tiauw Im

176

Peng-Cong Hiap-Eng
Suheng? Tongkat tercacatkan, pedang telah terlempar, mereka ada paman guru dan
keponakan murid, tetapi mereka bertempur seri. Sungguh-sungguh menarik!
Thio Tan Hong sudah lantas masukkan pedangnya ke dalam sarungnya, ia usap-usap gagang
pedang itu. Dengan sikap yang tenang sekali, ia berkata dengan nyaring, Aku yang muda,
Thio Tan Hong, telah datang untuk memenuhi janji. Aku mohon bertemu dengan Pit Looenghiong!
Cek Chungcu serta Kong Ciong, yang menjadi begal tunggal di Tay-koan, adalah orangorang yang paling keras adatnya diantara hadirin itu, mereka tidak tunggu tuan rumah
memberikan jawabannya, mereka sudah lantas mendahului muncul. Mereka ini masingmasing mencekal cambuk dan tiat-pay, dengan itu mereka maju menyerang, yang satu
seperti menggulung, yang lain dari atas turun menindih.
Thio Tan Hong sudah siap dengan pedangnya, akan tetapi ia tidak melakukan perlawanan
atau balas menyerang, ia hanya berkelit. Ia melejit di antara dua senjata jago-jago itu.
Tahan! Pit To Hoan segera perdengarkan suaranya. Siapa pun jangan turun tangan!
Saudara Thio, silahkan turut aku!
Nyaring suara tuan rumah ini.
Semua jago Rimba Hijau menduga, Cin-sam-kay hendak menandingi si anak muda.
Pit To Hoan lantas bertindak, untuk memimpin Thio Tan Hong ke belakang, ke taman
bunga. Disini mereka jalan memutari gunung buatan, untuk menghampiri sebuah paseban
di dalam mana ada stau meja batu. Di atas meja itu ada sehelai papan catur serta bijibijinya yang letaknya tidak teratur, seolah-olah permainan belum berakhir.
Lekas ambil dua poci arak! To Hoan titahkan hambanya, kemudian dia tambahkan.
Panglima kenamaan gemar catur, ahli surat mencintai gambar lukisan, kesukaan ini,
dahulu dan sekarang sama saja. Saudara, punyakah kau kegembiraan menemani aku si
orang tua main catur untuk satu rintasan? Sayang disini aku tidak mempunyai lukisan indah
yang dapat dipandang.
Thio Tan Hong mengiringi tuan rumah itu, dia bersenyum, lalu ia menjura dengan dalam.
Boanseng adalah seorang bodoh, dia kata dengan merendah. Dia menggunakan kata-kata
boanseng itu, yang berarti orang yang muda. Tapi dengan mendengarkan nyanyian,
tahulah aku maksudnya yang bagus itu. Boanseng membawa sehelai gambar, walaupun itu
bukannya karya dari satu pelukis yang kenamaan, mungkin itu ada harganya juga untuk
ditonton.
Lantas ia keluarkan gambar yang ia ambil dari rumah Cio Eng, ia pajang itu di paseban
tersebut.
Ketika Pit To Hoan memandang gambar itu, ia menghela napas panjang.
Bila negara tak kurang suatu apa, aku kan kembali..... katanya denga perlahan. Terus
dia menambahkan, Ketika dahulu gambar ini dilukis, mungkin orang telah menemaninya
sambil main catur dan minum arak. Saudara Thio, kau ada dari keluarga terpelajar,
silahkan kau pegang biji putih/
Tingkah pola kedua orang ini membuat heran orang banyak. Bagaimana penting artinya
Lok-lim-cian yang disiarkan, akan tetapi sekarang ini, mereka berdua bercokol
memandangi gambar, bermain catur.
Tiauw Im tidak kurang herannya.
Keponakan muridku ini sebenarnya belum pernah aku melihatnya, kenapa Cin-sam-kay
ketahui dia ada dari keluarga sasterawan? ia berpikir. Kenapa dia ketahui orang pandai
main catur?
In Lui berada di samping pendeta itu, dia berpaling kepadanya seraya berkata, Pasti saja
dia mengetahuinya, oleh karena gambar itu ada gambar kota Souwciu!
Tiauw Im terlebih heran.
Kau belum pernah pergi ke Souwciu, kenapa kau pun ketahui itu? dia tanya.
Cui Hong ada bersama mereka ini, dengan dingin dia berkata, Pasti sekali dia ketahui!
Dengan dia, dia maksudkan In Lui.
Tiauw Im berdiam, ia terbenam dalam kegelapan.

177

Peng-Cong Hiap-Eng
Di paseban sebaliknya, kedua orang yang sedang main catur dengan tenang, asyik
menceguk arak mereka. Semua orang mengawasi mereka dari kejauhan, semua terbenam
dalam keheranan, hingga mereka jadi masgul sendirinya.
Pit To Hoan dengan biji hitamnya yang telah mengatur siasat Yan siang hui, Burung
walet terbang berpasangan. Ia ambil kedudukan di satu pojok. Atas itu Tan Hong segera
menyerang ke tengah, mengambil kedudukan Thian-goan, Asalnya langit.
Ah, saudara, tak segan kau berebut sepotong daerah denganku? kata Pit To Hoan yang
terdesak. Ia berpikir lama, baru ia geser pula satu bijinya, akan tetapi Tan Hong bertindak
seperti tanpa berpikir pula. Kembali dia pengaruhi lawannya.
Pertandingan berjalan terus, sampai setengah jam, habis itu, dengan keringatnya
mengetel, Pit To Hoan berbangkit, dengan tangannya, ia sampok biji caturnya.
Tak dapat aku lawan terus padamu.... katanya masgul.
Tan Hong berbangkit sambil tertawa.
Terima kasih, kau mengalah! katanya. Terus ia gulung gambar yang dipajang itu.
Semua orang heran, tetapi mereka bergerak.
Pit To Hoan dapat melirik sikap tetamunya itu.
Saudara Thio, bukannya aku si orang tua tak tahu aturan, ia lantas berkata, karena kau
telah mengundang begini banyak sahabat, tidak dapat tidak, mesti aku bertindak dengan
turuti aturan. Saudara, ingin aku meminta pengajaran beberapa jurus ilmu pedang
darimu..
Sepasang mata Tan Hong bercahaya. Baginya, permintaan To Hoan ini seperti diluar
sangkaannya. Tetapi tetap ia bersikap tenang. Terus ia menjura.
Jikalau begitu, baiklah, ia kata. Aku minta loocianpwee menaruh belas kasihan
terhadapku.
Dari pojok tembok, To Hoan turunkan sepotong tongkat panjang.
Tongkat pengemis ini dapat juga digunakan! katanya.
Tan Hong sudah lantas ambil kedudukan di sebelah bawah.
To Hoan tahu orang tidak berani turun tangan terlebih dahulu, maka dia tak mau buang
tempo lagi.
Awas! ia peringatkan. Terus ia menyambar pinggangnya si anak muda.
Bagus! seru Tan Hong sambil lompat, hingga tongkat Han-liong-pang, yang terbuat dari
kayu hangliong yang kuat, lewat di bawah kakinya. Habis itu, tidak tunggu sampai
tubuhnya turun menginjak tanah, pedangnya sudah menggantikan menyambar, menikam ke
arah jalan darah hoa-khay-hiat. Itulah serangan 'Pek-hong koan-jit, Bianglala putih
mengalingi matahari.
Bagus! berseru To Hoan, sambil mundur, seraya menarik kembali tongkatnya, untuk
dipakai menotok nadi orang.
Itulah serangan saling balas yang dashyat sekali.
Tan Hong tarik kembali tangannya berikut tubuhnya, akan menyingkir dari ancaman To
Hoan. Ia telah gunakan tipu Jit goat keng thian, Matahari dan rembulan melewati
garis.
Bagus, saudara Thio! Pit To Hoan memuji pula. Sungguh lihai ilmu pedangmu!
Selagi memberi pujian, jago tua ini ulangi serangannya dengan gerakan yang cepat.
Nampaknya tidak ada jalan untuk Tan Hong berkelit atau menangkis, ia sudah sangat
terdesak, akan tetapi di saat ujung tongkatnya mengancam, tahu-tahu, Trang! demikian
terdengar. Karena keberaniannya, si anak muda toh menangkis juga. Maka itu lelatu api
pun muncrat.
Pit To Hoan kaget, hingga ia mencelat mundur, kalau tidak, ujung pedang yang menyambar
terus, bisa mengenai tubuhnya.
Semua tetamu berseru kaget dalam hati mereka. Malah Tiauw Im Hweeshio turut merasa
heran juga. Mungkinkah Tan Hong tidak dapat mempengaruhi pula pedangnya?
Melainkan To Hoan sendiri yang mendahului bahwa anak muda itu telah mengalah
terhadapnya. Ia lantas periksa tongkatnya, tongkat itu tidak gompal. Ia tertawa.

178

Peng-Cong Hiap-Eng
Pedangmu dan tongkatku sama-sama tidak rusak, mari, tak usah kau sungkan-sungkan! ia
menantang. Malah ia yang mendahului menyerang pula. Kali ini, ia berlaku lebih bengis
pula.
Dengan sebat tetapi tenang Thio Tan Hong mengadakan perlawanan. Tongkatnya sangat
mendesak, ia melayaninya dengan kegesitan tubuhnya, yang enteng sekali.
Cepat jalannya pertempuran, sebentar saja sudah lima puluh jurus.
Satu kali Tan Hong menyerang dengan tipu Liong-bun kouw liong di saat ujung pedang
hampir bentrok dengan tongkat, mendadak To Hoan menarik kembali, akan balik
menyambar ke arah pinggang.
Diserang secara demikian rupa, Tan Hong mendak, terus ia mencelat ke samping.
Sayang! Sayang! mengeluh orang banyak dalam hatinya.
Tiauw Im kembali heran. Ia tahu, bila tongkat diturunkan sedikit lagi, punggung atau
kempolan Tan Hong mesti kena tersapu. Mungkinkah To Hoan juga tak dapat menguasai
tongkatnya itu?
Cuma Tan Hong yang tahu, jago tua itu mengalah terhadapnya, seperti tadi ia mengalah
terhadap orang tua itu. Selagi ia belum tahu pasti apa baik ia ulangi serangannya atau
tidak, tiba-tiba ia dengar tuan rumah tertawa terbahak-bahak.
X
Saudara Thio, ilmu pedangmu lihai, tetaplah hatiku ini orang tua! To Hoan mengucap
habis tertawa. Terus ia menikam dengan tongkatnya ke arah perut si anak muda, di depan
mana ada melintang pedangnya.
Tan Hong menolak dengan pedangnya, untuk mengelakkan diri, dengan begitu kedua
senjata jadi membentur satu dengan lain.
Tapi inilah gerakan untuk menyudahi pertempuran, untuk mengubah permusuhan menjadi
persahabatan.
Selagi orang banyak heran, Pit To Hoan telah berkata dengan nyaring, Saudara Thio, kau
adalah sahabatku, maka itu, urusan bagaimana besar juga, dengan memandang mukaku,
sukalah kau menghabiskannya!
Terus ia lemparkan tongkatnya, lalu ia cekal tangan Tan Hong, untuk dituntun sampai di
pintu luar, untuk mengantar sendiri orang pergi.
Sepasang mata Ciu San Bin berputar, semua jago Rimba Hijau pun menjadi tegang sendiri.
Dengan sikapnya yang tenang tetapi angker, To Hoan jalan berendeng dengan Thio Tan
Hong. Ia tahu sikapnya San Bin dan tetamu-tetamunya, seperti tidak mengambil mumat, ia
jalan terus. Ini ada cara agung dari orang kang-ouw mengantarkan tetamunya pergi pulang.
Biar mereka tidak puas, San Bin dan tetamu-tetamunya membiarkan To Hoan mengantar
Thio Tan Hong berlalu.
Di luar, kuda putih berjingkrakan dan berbenger.
Tan Hong hampiri kudanya itu, dengan sebelah tangan memegang gagang pedang, ia
menjura kepada Pit To Hoan.
Loopeh, terima kasih! ia mengucap, menyusul mana tubuhnya mencelat naik ke
punggung kudanya. Terus ia bersandung, Di saat terancam dari Tiong-ciu, akan aku
kembali, semoga negera nanti mengeluarkan jago yang pandai. Jikalau nanti datang hari
dari gelombang tenang, ingin aku bersama kau mendaki panggung orang-orang
cendekiawan.
Ketika itu, mata pemuda she Thio ini bentrok dengan sinar mata In Lui, yang mengawasi
kepadanya, tetapi terus ia keprak kudanya, untuk dilarikan, hingga sejenak kemudian
hilanglah ia ari pandangan mata orang banyak, untuk melalui beberapa lie jauhnya.
Pit To Hoan terus mengawasi tetamunya yang muda dan gagah itu, akhirnya dia tunjukkan
jempolnya dan memuji, Sungguh agung! Dia dapat menangkan leluhurnya! Tidak kecewa
Cio Eng mewakilkan dia menjaga selama beberapa puluh tahun!
Ceecu Na Thian Sek lampaui orang banyak, akan menghampiri tuan rumah.
Siapakah sebenarnya anak muda berkuda putih itu? dia tanya. Hong-thian-lui bersama
Kim Too Ceecu telah mengirimkan panah Lok-lim-cian, adakah itu diakhiri secara begini

179

Peng-Cong Hiap-Eng
saja?
To Hoan alihkan pandanganya ke arah Cui Hong, ia tertawa.
Nona Cio, mengertikah kau sekarang? dia tanya. Kakek guruku itu, Peng Hweeshio,
mempunyai tiga murid. Murid yang kedua, Cu Goan Ciang, mulia kedudukannya, dia
menjadi kaisar yang membangun Kerajaan Beng yang besar. Murid yang kesatu, Thio Su
Seng, telah terbinasa dalam peperangan di Tiangkang, tetapi si anak muda berkuda putih
ini adalah turunannya. Di antara ketiga muridnya itu, akulah yang paling tidak berguna,
turun-temurun, kami tetap hidup sebagai orang biasa saja..
Semua tetamu belum pernah mendengar riwayat keluarga she Pit ini atau dongengnya itu,
mereka semua tidak mengerti.
Apa? Apa kau kata? tanya mereka. Jadi si mahasiswa berkuda putih itu turunan Thio Su
Seng? Hubungan apa yang ada antar Hong-thian-lui dengan dia itu?
Cui Hong tidak perdulikan pertanyaan orang banyak itu, ia menghela napas.
Ya, mengertilah aku sekarang, ia sahuti tuan rumah itu. Rupanya leluhurku dulu adalah
orang kepercayaan yang menerima tugas dari Thio Su Seng untuk menyimpan gambar itu.
Akan tetapi dia ini, adalah musuh besar dari In Siangkong....
Pit To Hoan kerutkan alisnya.
:Maka itu telah kukatakan, masih ada sesuatu yang belum jelas bagiku, ia berkata, dan
ini adalah satu diantaranya. Dalam surat ayahmu itu tidak dituliskan sesuatu.....In
Siangkong, bagaimana caranya maka kau jadi bermusuhan degnan dia itu? ia terus tanya
In Lui.
Pucat muka orang yang ditanya itu, air matanya berlinang. Sekian lama, ia berdiam saja.
Semua orang makin heran, ada pula yang bertanya.
Marilah kita berbicara di dalam, akhirnya To Hoan mengajak.
Mereka kembali ke ruang dalam, untuk duduk. Sekarang ia ingin memberikan
keterangannya.
Pada waktu dahulu, tiga saudara angkat telah bersama-sama mengangkat senjata, ia
jelaskan, lalu belakangan, cuma satu yang berhasil membangun negara. Berbicara
sebenarnya, aku pun tidak puas. Adalah aturan dalam keluargaku, anak-anak kami mesti
hidup sepuluh tahun sebagai pendeta dan sepuluh tahun sebagai pengemis. Inilah
peringatan leluhur kami yang pertama, kedua kami diberi ketika untuk merantau di seluruh
negeri, guna mencari gambar yang mempunyai hubungan dengan usaha pembangunan
negara, supaya setelah mendapat gambar itu, kami bisa berdaya untuk dengan anak
cucunya Cu Goan Ciang memperebutkan kegagahan. Sekarang ini tidak usah aku bersusah
hati pula, selanjutnya anakku tak usah lagi menjadi hweeshio, tak usah lagi menjadi
pengemis!
Apakah artinya kata-kata kau ini, Pit Loo-enghiong? tegas Na Ceecu.
Pit To Hoan tertawa sedih, ia menyahut, Pada jaman dahulu Hong Jiam Kek bercita-cita
mengendalikan negara, dia telah main catur dengan Lie Si Bin, belum sampai satu rintasan,
atau dia telah mengaduk-aduk biji caturnya, dia kata, tak dapat lagi dia memperebutkan
negara. Nyata ia telah putus asa, kalah dari Lie Sie Bin. Aku tidak berangan-angan besar
sebagai Hong Jiam Kek itu, sebab dahulunya aku tidak tahu diri, aku masih memikir,
setelah aku berhasil mendapatkan gambar itu, hendak aku bergerak, untuk memburu
menjangan di Tionggoan. Tapi sekarang ini, ikhlas aku, aku menyerah kalah terhadap Thio
Tan Hong. Gambar itu telah bertemu dengan pemiliknya yang sah! Bukankah kamu telah
mendengar syair Thio Tan Hong itu, yang ia ucapkan tadi. Bagaimana besarnya citacitanya! Dengan menuruti petunjuk dalam gambar itu, Thio Tan Hong hendak menggali
harta besar yang dipendam leluhurnya dulu, dengan menggunakan peta buminya itu, dia
mencoba bergerak, untuk sekali lagi memperebutkan negara dengan anak cucunya
keluarga Cu!
San Bin habis sabar, ia berjingkrak.
Hanya aku kuatir dia nanti persembahkan negara kepada bangsa asing! katanya dengan
dingin.

180

Peng-Cong Hiap-Eng
Apa kau kata? tanya To Hoan dengan tenang.
Pit Loo-cianpwee, apakah kau masih belum ketahui? San Bin balik menanya, hatinya
masih sangat mendongkol. Ayah si pemuda berkuda putih itu, Thio Cong Ciu, berada di
negara Watzu dimana dia menjadi perdana menteri muda. Sekarang ini usaha negara
Watzu untuk menerjang masuk ke negeri kita di depan mata, dia telah datang seorang diri
kemari, jikalau dia bukannya mata-mata, habis lebih berbahaya daripada mata-mata
umumnya! Coba pikir, kalau dia berhasil mendapatkan peta negeri itu, mungkin wilayah
kita yang bagus letaknya, akan berada dalam telapak tangannya, dia dapat melihat dengan
tegas, jikalau peta itu diserahkan kepada bangsa Watzu dan bangsa itu mengerahkan
angkatan perangnya menuruti petunjuk peta itu, dapatkan Tionggoan melakukan
perlawanan?
Wajah Pit To Hoan berubah menjadi pucat.
Benarkah apa yang kau katakan ini? tanyanya.
Sedikitpun aku tak dusta! sahut San Bin. Kami ayah dan anak telah mengerek bendera
Jit Goat Kie, kami menentang bangsa Tartar, umum telah ketahui, maka dalam urusan
demikian besar, mana dapat aku omong kosong! Demikian sakit hati yang besar dari In
Siangkong ini, itupun disebabkan si pengkhianat besar Thio Cong Ciu! Adik Lui, coba kau
ceritakan semua kepada orang-orang gagah ini!
Tak tahan In Lui akan kedukaannya, mendengar perkataan San Bin itu, ia menangis, hingga
tak dapat ia bicara.
Jangan berduka, adik Lui, San Bin menghibur. Pit Loo-cianpwee dan semua orang gagah
ini pastilah akan berbuat sesuatu untukmu. Baiklah aku yang mewakilkan kau
menuturkannya.
Segera San Bin ceritakan halnya In Ceng disiksa menggembala kuda di negara asing,
bagaimana In Ceng itu teraniaya dalam perjalanan pulang dan lainnya.
Mendengar semua itu, To Hoan rubuhkan diri dalam kursinya.
Pantas keluargaku mencari turunan Thio Su Seng dengan sia-sia saja, katanya selang
sekian lama, sedikit juga kita tidak dapat mengendus, kiranya dia telah pergi jauh ke
padang pasir.
Tiba-tiba jago tua ini lompat bangun, nampaknya ia murka.
Benarkah Thio Su Seng mempunyai anak cucu demikian buruk? tanya dia. Melihat roman
Thio Tan Hong, mana pantas dia menjadi satu pengkhianat?'
Ada bapaknya mesti ada anaknya! kata San Bin. Dengan melihat tabiatnya saja mana
bisa diputuskan dia sebenarnya manusia macam apa?
Muka To Hoan menjadi merah, matanya menyala, seolah-olah hendak menyemburkan api.
Jikalau demikian, akulah yang keliru! akhirnya dia berseru.
Baru San Bin hendak melanjutkan, Tiauw Im telah menyambungi dia.
Loo-toako, aku katakan kau keliru, kata pendeta ini. Thio Cong Ciu itu memang benar
satu pengkhianat besar! Pernahg aku mendatangi negara Watzu itu dan karenanya pernah
aku tercelakai dia!
Pit To Hoan tunduk, tapi masih ia mengatakan dengan perlahan, Aku salah! Apa benar aku
salah?
Melihat sikap orang, San Bin berkata pula.
Pit Loo-cianpwee, katanya, mungkin karena kekeliruan kau, dan kurang perhatian, kau
kena dikelabui pengkhianat itu. Thio Tan Hong telah mengundang semua orang gagah
datang ke rumahmu, ia tentunya telah perhitungkan masak-masak, mungkin ia pergunakan
kau sebagai tameng, supaya kau dapat menolongi dia memberi keterangan, untuk
memecahkan kesulitannya, supaya selanjutnya kaum Rimba Hijau tidak lagi menyusahkan
padanya.
Hm! jago tua itu perdengarkan suaranya, apabila dia benar-benar pengkhianat, pasti
akan aku binasakan dia dengan tanganku sendiri!
Matnaya lantas bersinar, tapi wajahnya tetap penuh keragu-raguan.
San Bin tahu orang tentu belum percaya penuh padanya, masih ia hendak meyakinkannya,

181

Peng-Cong Hiap-Eng
tetapi selagi ia hendak membuka mulutnya, ia lihat tuan rumah itu pergi keluar sambil
memanggil, Mana orang! terus dia perintahkan satu pegawainya, Lekas kau selidiki,
apakah orang yang aku titahkan sudah kembali atau belum? Habis itu, ia kembali ke
dalam sambil mengatakan, Kalau dilihat begini, mungkin di depan mata kita ini akan
terbit ancaman bahaya besar!
Semua hadirin menjadi heran.
Ancaman bencana apakah? tanya mereka yang tak mengerti. Kita berjumlah banyak
disini, bencana apakah itu? Mungkinkah kita tidak dapat menentangnya?
Saudara-saudara, kamu masih belum mengetahui jelass, sahut Pit To Hoan dengan
penjelasannya. Keluargaku adalah keluarga yang menjadi musuh turunan besar dari kaisar
Kerajaan Beng. Di masa hidupnya Cu Goan Ciang pernah mengumumkan titah rahasia untuk
membasmi sampai di akarnya kedua keluarga Thio dan Pit. Keluarga kami menjadi pendeta
dan pengemis selama turun-temurun, sebabnya, kecuali alasan-alasan yang pernah aku
sebutkan, satu alasan lainnya adalah guna melindungi diri dari ancaman bahaya itu.
Bersyukur kepada leluhurku, berkat perlindungannya, beberapa turunan kami telah
selamat tidak kurang suatu apa dan belum pernah kami dapat diendus pemerintah. Atau
mungkin karena aku pernah merantau, nama kosongku telah mengundang ancaman
bahaya. Ialah sejak beberapa tahun yang lalu, aku tahu ada 'elang dan anjing' yang
memperhatikan diriku. Itulah sebabnya kenapa aku mengambil tempat yang sepi ini untuk
menyembunyikan diri. Tapi aku rasa aku belum bebas. Beberapa hari yang lalu, telah
datang beberapa orang asing yang tidak dikenal. Menurut orang-orang kampung, mereka
itu telah menanyakan asal-usulku. Aku percaya, mereka adalah kaki-tangan pemerintah.
Baiklah aku bicara terus-terang, beberapa hari yang lalu, aku berniat untuk pindah dari
sini, akan tetapi karena Thio Tan Hong menjanjikan untuk membuat pertemuan disini, aku
telah menunda kepindahanku itu. Umpama kata pemerintah mengetahui kita akan
berkumpul disini, pasti kaisar she Cu itu mengirimkan orang-orangnya yang pandai untuk
membekuk kita! Bukankah mereka dapat menggunakan jaring untuk meringkus kita
semua?
Mendengar ini, semua tetamu-tetamu jago Rimba Hijau, jadi bimbang. Dugaan To Hoan
masuk diakal.
Cek Po Tiang, yang pernah dikalahkan Thio Tan Hong lantas berkata, Apakah betul urusan
begini kebenaran? Ya, aku percaya, inilah jebakan yang diatur si bangsat kecil berkuda
putih itu!
To Hoan berpikir keras, tidak dapat ia bicara.
Sungguh mencurigakan! Na Ceecu turut mengutarakan pikirannya.
Bagaimana anak cucunya Thio Su Seng dapat bekerja sama dengan pemerintah? To Hoan
kemukakan pula kesangsiannya.
Jangan ragu-ragu, loo-cianpwee! kata Ciu San Bin. Thio Cong Ciu ayah dan anak bisa
menjadi mata-mata bangsa Watzu, maka itu, mereka pasti juga bisa menjadi mata-mata
pemerintah! Orang sebangsa dia, apa yang dia tidak dapat lakukan?'
Benar! Tiauw Im campur bicara. Thio Cong Ciu itu pernah berhubungan surat-menyurat
dengan dorna kebiri Ong Cin, inilah aku ketahui!
Pit To Hoan buat main kumisnya, ia berpikir keras.
Sebenarnya aku tidak menduga jelek terhadapnya, katanya kemudian, tapi sekarang,
mendengar keteranganmu, Ciu Hiantit, benar-benar sulit untuk aku mengambil keputusan.
Ah, urusan ada begini suram, sulit untuk dipecahkannya. Mungkinkah Thio Tan Hong
menggunakan akal memperlambat gerakan pasukan guna mencegah kepindahanku supaya
kaki tangan pemerintah keburu datang untuk melakukan penangkapan? Ah, benar-benar,
tahu manusia, tahu mukanya, tak tahu hatinya! Apakah aku telah keliru melihat orang?
Pit To Hoan cerdas, ia pandai melihat segala apa, hari ini adalah untuk pertama kalinya ia
terbenam dalam kesangsian hingga tak dapat ia segera mengambil keputusan.
Ciu San Bin mengumbar hawa amarahnya.
Urusan ini jangan disangsikan pula! katanya dengan nyaring. Pastilah sudah, ini ada

182

Peng-Cong Hiap-Eng
jebakan yang dipasang Thio Tan Hong! Maka sekarang marilah kita bicarakan daya untuk
mengadakan perlawanan terhadapnya!
Riuh suara para tetamu itu, mereka masing-masing mengutarakan pikiran mereka. Ada
yang menghendaki menunggu datangnya musuh, untuk memberikan perlawanan. Ada yang
menganggap, lebih baik menyingkir terlebih dahulu, supaya nanti mereka dapat lantas
menyiarkan panah Lok-lim-cian secara luas, guna mengumpulkan semua anggota Jalan
Hitam di Selatan dan Utara, guna bersama-sama menghadapi Thio Tan Hong itu, sedikitnya
Thio Tan Hong harus dikurung, hingga sulit baginya untuk angkat kaki satu tindak saja.
Pit To hoan menjadi bergelisah, masih ia bersangsi, sedang suara para hadirin itu, hampir
semuanya menentang Thio Tan Hong. Diantaranya, cuma In Lui seorang, yang duduk diam
diatas kursinya. Dia sangat berduka, air matanya masih berlinang. Menampak sikap orang
itu, ia menjadi curiga.
Bicara tentang permusuhan, dialah yang bermusuh paling hebat dengan Thio Tan Hong,
ia berpikir. Kenapa sekarang dia diam saja? Apakah disini terselip suatu urusan lain?
Tiba-tiba ingin To Hoan menghampiri In Lui, untuk bicara dengannya, bicara berdua saja,
tetapi waktu itu, orang ramai berbicara, ruang menjadi berisik, tak ada kata-kata yang
terdengar nyata. Maka itu, tuan rumah ini kerutkan sepasang alisnya.
Dalam keriuhan itu, sekonyong-konyong orang mendengar kuda berbenger.
Si bangsat kecil berkuda putih datang pula! tiba-tiba ada yang bersuara.
Sekejap saja, ruang menjadi sunyi, ketegangan muncul sebagai gantinya.
Suara kelenengan kuda pun lantas terdengar nyata, makin lama makin dekat.
Pit To Hoan lompat bangun, dia lari keluar.
Satu penunggang kuda tengah mendatangi! Dialah Thio Tan Hong! Mukanya pucat, penuh
dengan keringat. Begitu sampai, ia lompat turun dari kudanya, menghampiri tuan rumah.
Sie-peh, lekas lari! katanya cepat, singkat.
To Hoan mengawasi dengan mata mendelik.
Bagus! ujarnya dingin. Lelakon apa lagi kau mainkan?
Tan Hong melengak, mukanya menjadi pucat, tapi segera ia dongak, akan tertawa
bergelak-gelak.
Langit yang tinggi, siapakah yang kenal aku? katanya, lalu ia teruskan, Tuan Pit, pada
saat ini tak ingin aku memainkan lidah, untuk kau mempercayai aku, aku cuma mohon,
lekas kau pergi, untuk menyingkirkan diri! Tentara negeri terpisah kurang lebih sepuluh lie
lagi dari sini!
Inilah To Hoan tidak sangka, ia menjadi sangat gusar.
Bagus! serunya. Aku akan adu jiwaku, akan aku siram tanah dengan darah! Untuk
membuat kau.....
Dalam keadaan yang sangat murka, tak dapat To Hoan melanjutkan kata-katanya.
Sebenarnya hendak ia mengucapkan, ....berhasil! Tapi berbareng dengan itu, sekarang ia
dapat melihat lebih nyata. Ia tampak pakaiannya kecipratan darah, mukanya tegang. Maka
itu, dapatkah pemuda ini mendusta.
Selagi orang berdiam, Tan Hong berkata pula, Aku baru sampai belasan lie di luar
kampung ini ketika aku berpapasan dengan pasukan serdadu pemerintah. Kita bentrok. Aku
rubuhkan dua diantaranya! Mengandal kepada kudaku ini, yang larinya keras, aku kembali
kesini, untuk menyampaikan kabar...
Sret! demikian terdengar satu suara, yang disusul dengan suara menghembus. Dan panah
api sudah menyambar ke arah Thio Tan Hong.
Hwee-sin-tan Cek Po Ciang sangat gusar, maka itu, belum sampai ia lompat maju, panah
apinya, coa-yam-cian, telah ia lepaskan.
Menyusul ini beberapa orang lompat maju, diantaranya Na Ceecu dari Im-ma-coan.
Bocah cilik! dia mendamprat. Apakah kau sangka kami bertiga anak-anak kecil, hingga
dapat kau permainkan? Dan tidak memberikan ketika untuk orang membela diri, ia maju
terlebih jauh.
Empat-lima orang lainnya juga merangsek maju.

183

Peng-Cong Hiap-Eng
Binatang cilik, kau ngaco belo! mereka itu mencaci. Siapa yang hendak kau dustai? Kau
mesti dibunuh dulu, baru kita labrak tentara negeri! Jangan harap kau bisa jaring kita
semua! Tak gampang!
Cacian ini membikin yang merangsek makin banyak, di lain saat, Tan Hong telah dikurung,
diserang pelbagai macam senjata.
Mau atau tidak, terpaksa pemuda itu harus menggunakan pedangnya, untuk membela diri.
Diantar suara trang...trang banyak kali, terlihatlah beberapa senjata terbabat kutung
oleh pedang pemuda itu, hingga kurungan itu nampak sia-sia saja. Siapa tak bersenjata, ia
terpaksa mesti muncul.
Menampak demikian, San Bin tolak tubuh In Lui.
Lekas maju! dia menganjurkan. Gunakan pedangmu untuk melawan dia!
Tanpa merasa orang she In ini menghunus pedangnya, ia menyerbu ke dalam kurungan.
Tan Hong berkelebatan di antara pengepung-pengepungnya, baju putihnya pun
beterbangan, sambil terus melindungi diri, ia berteriak-teriak pula, Kamu lihat kudaku!
Jikalau benar aku memihak tentara negeri, mana bisa kudaku terluka demikian?
Orang-orang menoleh dan mereka dapatkan, pada sebelah kaki kuda itu tertancap dua
batang anak panah. Itulah anak panah tentara negeri.
Orang-orang kaum Rimba Persilatan sangat menyayangi kuda itu, apapula poo-ma, kuda
mestika atau jempolah seperti Ciauw-ya Say-cu-ma, maka itu, tertarik hati mereka.
Mereka sayangi kuda itu, yang anak panahnya belum sempat dicabut Tan Hong, sebab perlu
ia lekas-lekas memberi kabar.
Siapa tahu jikalau ia tidak lagi menggunakan akal menyiksa diri? teriak Hwee-sin-tan Cek
Po Ciang, yang ingat kepada Kouw-ciok-kee, tipu daya mempersakiti kulit daging. Dan
dengan cambuknya, ia menyerang.
Tan Hong tangkis serangan itu, yang hebat, menyusul mana, cambuk itu terpapas kutung
ujungnya.
Maju! San Bin menganjurkan pula.
Adalah di saat itu, In Lui telah datang dekat si anak muda, yang terus ia serang dengan
pedangnya.
Tan Hong terkejut, mukanya menjadi pucat. Ia tidak mau melayani berkelahi, malah
menangkis pun tidak, dengan kesebatannya, ia berkelit, terus ia menjauhkan diri.
Poo Ciang lihat cara orang berkelahi, ia menyangka orang telah mulai jerih, dengan sengit,
ia merangsek pula. Mulanya ia putar cambuknya, habis itu, ia menyerang. Mulanya ia
mengancam keatas, dengan tipu Soat hoa kay teng, Kembang salju menutupi kepala,
setelah itu, ia menyambar kebawah dengan Kouw sie poan kin, Pohon tua terbongkar
akarnya.
Tan Hong tangkis serangan itu. Akibatnya adalah satu suara nyaring terdengar dari
terkutungnya cambuk itu menjadi dua potong, hingga selanjutnya, senjata itu tidak dapat
digunakan lagi.
In Lui menghampiri pula si anak muda, seperti orang tak sadar akan dirinya, kembali ia
menyerang, tapi pedangnya kali ini seperti tertahan di udara, turun tidak, ditarik pun
tidak.
Thio Tan Hong berteriak pula, Api sudah membakar alis, kenapa kamu masih belum
hendak angkat kaki? Kenapa kamu masih libat aku?
Cis, kau hendak gertak kita dengan tentara negeri? Na Ceecu mengejek. Kita justeru
ada orang-orang yang menjadi besar diantara golok dan tombak tentara negeri itu! Maju!
Dan ia maju sambil anjurkan kawan-kawannya.
Thio Tan Hong memutar diri, pedangnya pun berputaran. Dengan cara itu hendak dia
mencegah serangan.
Mereka yang datang itu adalah rombongan pahlawan Kim-ie-wie dari kota raja! dia masih
berteriak, memperingatkan. Apa kamu sangka mereka ada pasukan serdadu yang biasa?
Mungkin juga bersama mereka datang tiga ahli silat terbesar dari kota raja!
Kim-ie-wie adalah pasukan pahlawan berjubah sulam, dan tiga jago yang Tan Hong

184

Peng-Cong Hiap-Eng
maksudkan adalah Kim-ie-wie Cie-hui Thio Hong Hu, komandan barisan pahlawan
berseragam sulam itu, gie-cian Siewie Hoan Tiong, pahlawan pengiring raja dan Lwee-teng
Wie-su Khoan Tiong, pahlawan dari keraton. Mereka asalnya tiga jago Rimba Persilatan,
mereka kosen dan sangat terkenal, hingga mereka disebut Keng-su Sam Toa Kho-ciu yaitu
tiga jago silat dari kota raja.
Mendengar seruan orang yang terakhir ini, barulah orang-orang Rimba Hijau itu
terperanjat. Memang berbahaya kalau di pihak pahlawan Kim-ie-wie, yang tidak boleh
dipandang ringan, terdapat juga tiga jago kenamaan itu. Mereka tercengang.
Waktu itu kuda Thio Tan Hong memperdengarkan suara nyaring. Ia telah dirintangi Tiauw
Im Hweeshio, yang menghalang di depannya. Ia berbunyi karena luka dikakinya terasa
sakit.
Melihat kuda itu terluka, Pit To Hoan berpikir.
Kuda ini kuda pilihan, larinya pesat dan kencang sekali, sekarang dia kena panah sampai
dua kali, benar heran! Orang yang sanggup memanah kuda ini, kalau bukan ketiga jago
yang barusan disebutkan itu, mesti ada orang gagah luar biasa lainnya! Maka itu, apa yang
dikatakan bocah ini, lebih baik dipercaya daripada tidak!
Dalam kesangsian itu, To Hoan masih dengar pula keterangan Tan Hong.
Di belakang pasukan Kim-ie-wie itu masih ada satu barisan besar tentara Gie-lim-kun!
demikian si mahasiswa. Jikalau yang hendak ditawan cuma Tuan Pit seorang saja, untuk
apa dikerahkan begitu banyak tentara? Jikalau Gie-lim-kun memecah kekuatannya, untuk
menyerbu pesanggrahan tuan masing-masing, bagaimana nanti tuan-tuan melayani
mereka?
Benar pengaruh perkataan ini, lantas sebagian kecil tetamu yang dengan tersipu-sipu
pamitan dari Pit To Hoan, dengan naiki kudanya masng-masing mereka kabur pulang.
Tapi San Bin menjadi sangat mendongkol dan murka.
Pengkhianat, kau main gertak! dia berteriak. Kau bukannya pemimpin pasukan Gie-limkun itu, cara bagaimana kau ketahui siasat mereka mengatur tentara? Pastilah kau koncoh
mereka!
Thio Tan Hong melengak, dia tertawa terbahak-bahak. Lalu dengan gerakan Pat-hong
hong ie, Hujan angin di empat penjuru, ia halau senjata Na Thian Sek, Cek Po Cun, dan
San Bin sekaligus. Ia masih tertawa pula dan berkata, Kecewa ayahmu yang pernah
menjadi panglima perbatasan! Andaikata kau benar belum pernah membaca kitab perang,
mestinya kau mengerti ilmu perang walupun hanya sedikit! Siapa menjadi panglima
perang, dia harus dapat menerka peraturan musuh, dia mesti faham akan pertahanan
pihak sendiri, atau paling sedikit ia mesti melihat gelagat. Kau menyebut aku pengkhianat,
tapi sekarang kita berhadapan dengan musuh yang berjumlah besar, apa tidak bodoh kalau
kamu mencelakai diri sendiri karena aku seorang?
Belum sempat Tan Hong menutup mulutnya, sebagian pengurungnya telah mengundurkan
diri, untuk angkat kaki.
Muka Ciu San Bin menjadi merah, ia malu dan mendongkol.
Pesanggrahanku bukan disini, aku juga tidak takut tentara negeri nanti mengurung aku!
ia berteriak dalam murkanya. Masih hendak aku mencoba ilmu pedangmu! Adik Lui,
maju!
In Lui tangkis pedang Tan Hong, untuk disampok, atas mana San Bin membacok.
Tan Hong tersenyum. Pedangnya tidak mental atas sampokan In Lui, sebaliknya, dengan
dibantu gerakan tangan kiri, ia sambarkan itu ke arah San Bin, dari bacokan siapa ia
berkelit. Suara Trang! segera terdengar, lalu tanpa dia merasa, orang she Ciu itu
kehilangan goloknya, yang telah terlepas dari cekalannya dan jatuh ke tanah.
Pit To Hoan saksikan pertempuran itu, ia mengerti, maka diam-diam ia angguk-anggukkan
kepalanya.
Jikalau Thio Tan Hong turun tangan sungguh-sungguh, San Bin mesti terbinasa atau
sedikitnya terluka, ia berpikir. Semua orang yang mengepung Tan Hong, tertabas
senjatanya, dari sepuluh, sembilan yang terkena.

185

Peng-Cong Hiap-Eng
Sementara itu si kuda putih masih terhalang Tiauw Im, tak henti-hentinya dia
perdengarkan suaranya. Menampak demikian, To Hoan maju, mulutnya perdengarkan suara
meniru benger kuda, kemudian sambil menggerakkan tangan kirinya, ia lompat untuk
mendekati kuda itu.
Kuda putih itu cerdas sekali, dia seperti tahu orang bermaksud baik, dia taruh keempat
kakinya di tanah, tidak lagi dia berlompatan atau berjingkrakan, maka To Hoan dapat
menghampiri untuk segera mengusap-usap lehernya, setelah mana, dengan tangan kanan,
cepat bagaikan kilat, orang she Pit ini mencabut kedua anak panah yang nancap dipahanya
dan kemudian dengan tak kurang sebatnya, ia obati luka itu.
Sebagai seorang kang-ouw ulung, Pit To Hoan mengerti segala apa, sampai sifat kuda dan
cara mengobatinya.
Tiauw Im tercengang bahna kagumnya.
San Bin di lain pihak sudah memungut pula goloknya, untuk bersama Thian Sek mengepung
pula lawannya. In Lui pun, dengan bengis, melakukan serangannya berulang-ulang.
Tak tenang hati To Hoan menyaksikan pertempuran macam itu.
Saudara Thio, ini kudamu! akhirnya ia teriaki Tan Hong. Lekaslah kau berlalu!
San Bin terkejut, ia berpaling, ia lihat To Hoan tengah menolak minggir pada Tiauw Im
Hweeshio, akan membiarkan kuda putih lari ke arah majikannya.
Cek Po Ciang menjadi gelisah.
Pit Loo-enghiong, harap kau pikir masak-masak! ia serukan tuan rumah itu. Membekuk
harimau mudah, melepaskannya berbahaya! ia peringatkan.
Pit To Hoan seperti tidak mendengar perkataan orang.
Saudara Thio, aku mengerti kau, aku terima kebaikanmu! masih ia berkata pada Tan
Hong. Luka kudamu tidak parah, lekaslah kau pergi!
Karena heran, Na Thian Sek mundur, untuk menghentikan serangannya. Melihat demikian,
In Lui pun lompat kesamping. Karena ini, Ciu San Bin turut mundur beberapa tindak.
Thio Tan Hong tersenyum, separuh bersenandung, ia berkata, Persahabatan dari beberapa
turunan benar berharga, tapi persahabatan pada suatu saat lebih berharga pula....Pit
Loopeh, jangan kau perdulikan aku, lekas-lekas kau singkirkan dirimu!
Keluargaku besar, aku pun masih harus berbenah, sahut Pit To Hoan. Baiklah kau sendiri
yang menyingkir terlebih dahulu! Eh, Na Ceecu, Cek Chungcu, juga engkau Ciu Hiantit,
lekas-lekas kamu angkat kaki! Tentang Tan Hong, tak usah kau pedulikan pula!
Na Thian Sek bingung, akan tetapi tanpa mengucap sepatah kata, ia naik keatas kudanya,
untuk segera berlalu.
Cek Po Ciang berdiri menjublak, masih ia belum mengerti.
San Bin juga berdiri diam dengan goloknya di tangan, ia masih memikir, kemudian, selagi ia
berniat membuka mulutnya, sekonyong-konyong ia dengar suara sangat riuh dari datangnya
pasukan tentara dan tindakan ratusan ekor kuda, menyusul mana, anak-anak panah sudah
lantas menyambar saling susul, suaranya keras menderu-deru. Bagaikan bukit ambruk,
demikian seruan tak putusnya dari tentara negeri, yang mendatangi sangat pesat.
Wajah Pit To Hoan menjadi pucat pasi.
Lekas! ia teriaki pengurus rumah itu. Kemudian, dengan suara sangat berduka, ia
menambahkan, Kamu semua tidak mau siang-siang angkat kaki, sekarang sungguh sukar!
Kampung halaman si orang she Pit dikurung bukit-bukit, dari suatu jalan bukit terlihat tiga
orang mendatangi dengan cepat seperti bayangan, di belakang mereka ada beberapa puluh
penunggang kuda yang muncul dari antara lembah. Lantas ketiga penunggang kuda itu
menghampiri mereka, untuk perlihatkan diri di depan mereka. Habis itu, mereka semua
lantas menuju kearah rumah Pit To Hoan.
Jauh di belakang seperti terdengar adanya banyak tentara lainnya, yang tengah
mendatangi.
Menampak datangnya musuh, Pit To Hoan tertawa berkakakan. Segera ia maju, untuk
memapak ketiga penunggang kuda itu serta barisan mereka.
Apakah harganya aku si orang tua she Pit dengan beberapa potong tulang-tulangnya yang

186

Peng-Cong Hiap-Eng
telah tua? berkata ia. Sam-wie tayjin, berhubung dengan kunjunganmu itu, aku merasa
beruntung!
Dari ketiga perwira itu, yang di tengah mempunyai alis pedang dan mata harimau,
romannya bengis. Ia adalah Thio Hong Hu, ciehui atau komandan dari pasukan pahlawan
bersulan Kim-ie-wie. Ia kesohor dengan ilmu golok Ngo-houw Toan-bun-too, Lima harimau
mencegat pintu.
Orang yang berada di sebelah kiri komandan ini bermuka hitam bagaikan pantat kuali,
kumisnya pendek dan kaku. Dia adalah Gie-cian Sie-wie Hoan Tiong, pahlawan kaisar.
Sedang yang berada di sebelah kanan, yang wajahnya kuning gelap dengan mata yang belo,
adalah ahli silat dari keraton ialah Khoan Tiong yang kenamaan.
Hoan Tiong pada belasan tahun yang lampau pernah mengenal Pit To Hoan, maka itu ialah
yang mulai bicara.
Pit Toaya, kami datang atas titah Sri Baginda, demikian katanya, maka itu, aku minta
janganlah kau sesalkan aku. Kami minta sukalah kau turut berjalan bersama kami. Tidak
nanti kami membuat kau susah.
Pit To Hoan menyambut dengan tertawa dingin, ia telah memikir untuk memberikan
jawabannya ketika ia dengar Thio Hong Hu tertawa bergelak-gelak sendirinya, setelah
mana, dia berkata jumawa, Hoan Hiantee, bukankah sia-sia belaka kata-katamu ini? Kau
tahu macam apa Cin-sam-kay yang kenamaan itu? Mana dia mau menyerah begitu saja?
Maka baiklah kita bicara terus terang kepadanya! Lalu dia pandang Pit To Hoan dan
melanjutkan, Pit Toaya, untuk urusan kita hari ini, tak dapat tidak mesti kita turun
tangan! Oleh karena itu, silahkan kau hunus senjatamu, mari kau berikan pengajaranmu
beberapa jurus! Jikalau kau dapat layani golokku ini, tak perduli urusan bagaimana besar
pun, aku berani bertanggung jawab, untuk membiarkan kau angkat kaki! Tentang saudarasaudara kaum Rimba Hijau, yang kebetulan turut hadir disini, aku pun mengundangnya
untuk mereka turun tangan juga, sedang mereka yang termasuk bukan saudara-saudara
Rimba Hijau, aku persilahkan mereka untuk lekas menyingkir. Kami datang tidak untuk
menawan mereka yang tidak bersalah dan berdosa!
Habis mengucap demikian, tiba-tiba mata ciehui dari Kim-ie-wie ini menyapu, sambil
menggerakkan goloknya, dia menegur, Eh, tuan mahasiswa, kau sebenarnya ada hoohan
dari golongan apa?
Thio Tan Hong tertawa atas teguran itu.
Kau adalah ciehui yang hendak melakukan penangkapan, aku adalah cinsu yang hendak
membekuk setan! dia menjawab.
Thio Hong Hu tertawa bergelak.
Jikalau demikian adanya, kita juga harus mengadu kepandaian! ia kata. Ia sangat
menantang.
Khoan Tiong adalah yang tadi mendahului rombongan, dialah yang telah memanah kuda
putih, maka itu, ia sudah lantas melirik pada Thio Tan Hong.
Ah, kiranya kau juga berada disini! kata dia dengan jumawa. Bagus, bagus! Sahabat,
kuda putih itu mesti ditinggalkan disini untuk aku!
Ia pun segera siapkan busur dan anak panahnya, untuk memanah pula.
Khoan Hiantee, tahan! seru Hoan Tiong, yang suka sekali pada kuda pilihan itu. Jangan
kau memanah pula, lebih baik kuda itu ditangkap hidup-hidup!
Dan Gie-cian siewie ini sudah lantas mengajak barisannya untuk maju menangkap kuda
putih yang dimaksudkan itu.
Tiba-tiba saja beberapa anggota Kim-ie-wie perdengarkan jeritan mereka, jeritan dari
kesakitan. Tanpa mereka ketahui apa sebabnya, bahu mereka itu telah diserang senjata
bagaikan jarum halusnya, yang membuatnya mereka merasa sangat sakit.
Khoan Tiong sudah lantas mengerti.
Ah, kiranya kau pandai menggunakan jarum Bwee-hoa-ciam! ia tegus Thio Tan Hong.
Kalau ada kehormatan tetapi tidak dibalas, itu namanya tidak hormat. Nah, kau lihat
panahku!

187

Peng-Cong Hiap-Eng
Busur segera ditarik, dan anak panah melesat bagaikan bintang jatuh, nyaring bunyinya.
Sret!
Thio Tan Hong tidak berani menyambuti anak panah itu, ia hanya berkelit.
Anak panah itu melesat menjurus ke muka Tiauw Im. Maka pendeta ini menggunakan
tongkatnya, hingga kedua senjata bentrok keras dan lelatu apinya muncrat. Karena
serangan ini, dia menjadi murka sekali.
Ciu Hiantit, mari maju! dia berteriak dengan anjurannya, lalu dengan memutar
tongkatnya itu, dia menyerbu ke dalam pasukan Kim-ie-wie.
Hoan Tiong menggunakan sepasang gembolan, ia maju, untuk cegat pendeta itu. Karena
ini, senjata mereka berdua jadi bentrok dengan menerbitkan suara keras.
Tongkat Tiauw Im kena tersampok hingga sedikit mental ke samping, tetapi di lain pihak,
telapak tangan Hoan Tiong terasa sakit dan kesemutan, hampir saja ia lepaskan
gembolannya. Tentu saja pahlawan kaisar ini menjadi kaget sekali, sebab di dalam istana,
diantara kawannya, ialah yang tersohor sebagai toa-leksu, orang yang terkuat. Tapi ia tidak
menjadi jerih, dengan cepat ia maju pula, untuk melawan pendeta itu.
Pit To Hoan saksikan pertempuran itu, ia tertawa terbahak-bahak. Ia lantas ambil toya
Hang-liong-pangnya.
Thio Tayjin, kau sangat memandang mata padaku, marilah kita coba! ia tantang Thio
Hong Hu.
Bagus, bagus! Hong Hu pun tertawa seraya memutar goloknya. Mari kita pakai aturan
kaum kang-ouw, kita bertempur satu lawan satu! Jikalau kau dapat lolos dari golokku ini,
aku suka menjelaskannya, disini tidak akan ada orang yang nanti berani menghalanghalangi pula padamu!
Masih komandan Kim-ie-wie itu memperlihatkan kejumawaannya.
Dalam murkanya, Pit To Hoan maju untuk segera menyerang.
Thio Hong Hu bertindak kesamping, untuk melewatkan serangan itu, berbareng dengan
tindakannya, goloknya menyambar, untuk membalas. Tanpa dapat dicegah, toya dan golok
bentrok keras, hingga mereka masing-masing mundur tiga tindak.
Bagus! seru Pit To Hoan. Tak kecewa ahli silat nomor satu dari kota raja!
Sambil mengucap demikian, ia ulangi serangannya.
Dengan ujung goloknya, Hong Hu menyambut toya secara enteng, waktu goloknya mental
keatas, tiba-tiba saja ia membacok, dari atas kebawah, membabat batang leher.
Hebat serangan yang berbahaya itu, hingga To Hoan, untuk menghindarkan diri, sudah
menggunakan ilmu silat Thie Poan Kiu atau Jembatan papan besi. Ialah dengan kaki
kiri menahan diri, kaki kanannya diangkat lurus, tubuhnya berbareng melenggak ke
belakang, hingga ia jadi terlentang dengan bantuan kaki kirinya itu. Dengan begitu,
sambaran golok lewat tanpa mengenai sasarannya. Habis itu, dengan lompatan Lee hie ta
teng atau Ikan gabus meletik, ia bangkit bangun, hingga golok lawan hampir saja kena
didupak.
Nama Cin-sam-kay bukan nama kosong belaka! Thio Hong Hu memuji, sambil maju
menyerang pula, dengan desakan Lian-hoan sam too atau Bacokan tiga kali beruntun.
Didesak secara demikian, Pit To Hoan main mundur.
Di pihak lain, Khoan Tiong sudah bertempur dengan Thio Tan Hong. Pahlawan dari keraton
ini menggunakan sam-ciat joan-pian, karena ia mengandalkan kepandaiannya, sedang ia
juga belum kenal si mahasiswa, ia memandang enteng kepada musuh yang menyerupai
anak sekolah itu. Begitulah ia mulai, dengan menindak maju, ia menyerang dengan Ouwliong jiauw cu atau Naga hitam melilit tiang, untuk melibat lengan orang dengan
cambuknya guna merampas pedangnya.
Thio Tan Hong perdengarkan tertawa menghina beberapa kali, ia kumpulkan tenaganya di
lengannya, berbareng dengan itu, ia membabat berulang-ulang, tanpa mensia-siakan
waktu.
Khoan Tiong terkejut, hingga ia mesti lompat mundur. Karena dia seorang ahli, dengan
cepat dia dapat perbaiki diri, hingga di saat itu, dia lolos dari bahaya, malah dia dapat

188

Peng-Cong Hiap-Eng
gunakan Kim-na-hoat, ilmu Menangkap untuk menjambak rambut orang.
Tan Hong elakkan diri dengan membabat tangan orang, tetapi karena ini, sam-ciat-pian
dari lawan itu menjadi bebas, hingga kembali cambuk itu dapat dipakai menyerang pula.
Kali ini sasaran adalah pinggang si mahasiswa.
Thio Tan Hong tidak mau mengalah, setelah berkelit dari jambakan itu, bacokannya
menyambar berulang kali, hingga Khoan Tiong mesti mundur.
Pahlawan dari keraton itu menggunakan senjata panjang, akan tetapi ia tidak mendapat
kesempatan mengambil keuntungan dari genggamannya itu.
Selagi begitu, sejumlah anggota Kim-ie-wie telah lari ke arah rumah Pit To Hoan.
Sambil bertempur, Thio Tan Hong melirik kearah kawan-kawannya. Tiauw Im dan Hoan
Tiong ada seimbang, tidak demikian dengan Pit To Hoan, yang terdesak Thio Hong Hu.
Komandan itu terutama menang diatas angin karena golok Bian-toonya tajam luar biasa
dan dia ada terlebih muda dan sedang gagahnya. To Hoan cuma dapat membela diri, maka
itu, lama kelamaan ia bisa menghadapi bencana.
Melirik ke pihak lain lagi, Tan Hong dapatkan In Lui dengan pedangnya telah membabat
kutung senjata pelbagai anggota Kim-ie-wie, dengan carai itu si nona lindungi Ciu San Bin
dan Cek Po Ciang. Tentu saja, mereka itu berkelahi sambil mundur. Hingga akhirnya
mereka mendekati Tiauw Im Hweeshio.
Hoan Tiong tengah melawan si pendeta dengan hebat, sampai ia berulang kali berseru,
tatkala tiba-tiba ia lihat sebatang pedang berkilau menyambar ke arah dadanya. Ia lantas
gunakan gembolan kirinya, guna menjaga diri, dengan gembolan kanan, ia menangkis.
In Lui berlaku gesit dan cerdik, tidak sudi ia membentur senjata berat dari lawannya itu,
maka itu, kecewalah Hoan Tiong, yang menyangka dapat membuat pedang musuh
terpental. Selagi ia sibuk mengawsi pedang berkelebatan, gembolannya yang kiri telah
kena ditahan tongkat Tiauw Im Hweeshio, hingga tak dapat ia berbuat suatu apa. Maka
pada akhirnya, pundaknya kena tertusuk pedang, dalam murkanya, ia berteriak keras,
terus ia menimpuk dengan gembolan kirinya.
In Lui berlaku sangat sebat, begitu gembolan melayang, begitu ia egoskan tubuhnya, maka
gembolan itu melayang terus. Lalu menyusul suatu suara sangat keras, batu gunung pecah
berhamburan. Sebab batu itu kena terhajar gembolan, yang menyambar beberapa tombak
jauhnya.
Ketika si penyerang berpedang itu berkelit, Hoan Tiong lompat keluar kalangan, guna
menyingkir dari kepungan.
In Lui tidak mau mengejar, hanya bersama Tiauw Im Hweeshio, ia pun menerjang keluar
kurungan, hingga dilain saat, ia telah dihampirkan kudanya, keatas mana ia lompat naik,
hingga seterusnya dapat ia membuka jalan.
Tan Hong lega menampak In Lui lolos dari kepungan, karenanya dengan semangat
bertambah-tambah, terus ia desak Khoan Tiong, hingga Giecian siewie itu mesti mundur
pula beberapa tindak. Ia segera gunakan ketikanya, akan teriaki To Hoan tentang ancaman
bencana, supaya Cin-sam-kay angkat kaki.
Pit To Hoan tengah berkelahi dengan hebat, ia berdiam, ia tidak sahuti teriakan orang itu.
Tan Hong kerutkan alis. Ia tahu, orang tua itu sudah nekad, perigatannya itu tidak digubris.
Ketika ia memandang pula kearah In Lui, ia tampak si nona tetap membuka jalan, dikirinya
ada Tiauw Im Hweeshio, dikanannya ada Cui Hong bersama San Bin. Cek Po Ciang bersama
lain-lain orang Rimba Hijau mengikuti di belakang pembuka jalan itu. Kelihatannya mereka
segera akan lolos dari kepungan.
Jikalau tidak sekarang aku menyingkir, aku hendak tunggu kapan lagi? pikir anak muda
ini. Maka dengan nyaring ia teriaki pula Pit To Hoan, Biarkan gunung tetap hijau, jangan
kuatirkan tak ada kayu bakar! Pit Loo-enghiong, mari kita bersama menerjang!
Cin-sam-kay tetap tidak menyahuti, hanya dengan Hang-liong-pangnya ia layani musuhnya
bertarung. Nampaknya ia telah menjadi benar-benar nekad.
Dalam masgulnya, tiba-tiba Tan Hong ingat janji tadi diantara Pit To Hoan dan Thio Hong
Hu. Yaitu apabila jago tua itu tak dapat lolos dari golok musuh, atau tegasnya, tak dapat

189

Peng-Cong Hiap-Eng
dia kalahkan komandan Kim-ie-wie itu, tidak mau dia angkat kaki, karenanya, walaupun
dia terdesak, masih dia ngotot melayani musuh yang tangguh. Itulah berbahaya.
Dalam keadaan seperti ini, mana dapat orang berkepala batu? pikir Tan Hong terlebih
jauh. Tapi tetap ia tidak peroleh daya. Ia tahu, umpama kata ia bantui To Hoan dan
mereka menang, tentu To Hoan tidak mau mengakhiri karena mereka itu telah berjanji
satu lawan satu.
Tiba-tiba terdengar satu suara keras, Turunkan aku! Hendak aku menghajar penjahat!
Dengan segera tergeraklah hati Tan Hong. Orang yang bicara itu adalah putera To Hoan.
Putera itu tengah digendong koan-kee, kuasa rumah. Si koankee sendiri, bersama sejumlah
orang To Hoan, asyik melawan musuh, untuk menoblos kurungan. Bocah itu belum tahu
suatu apa, ia berani, maka itu ingin ia turun dari gendongan untuk membantu melabrak
musuh.
Tanpa bersangsi pula, Tan Hong tinggalkan lawannya, dengan berlompatan, ia menerjang
kearah rombongan Kim-ie-wie-su. Ia putarkan pedangnya hingga tidak ada orang yang
dapat merintangi padanya. Pada lain saat sampailah kepada si koankee. Dengan tidak
berkata suatu apa, ia jambrek anak To Hoan, hingga koankee itu kaget dan berteriak.
Lekas kamu menyerbu keluar! Tan Hong serukan si koankee dan kawan-kawannya.
Sementara itu ia telah bunuh seberapa musuh, yang mencoba menerjang kepadanya. Ia
pun menerobos keluar, akan akhirnya perdengarkan suitan mulut yang nyaring.
Kuda Ciauw-ya Say-cu-ma sedang dikurung, dia menerjang kesana-sini tanpa hasil, ketika
dia dengar suitan tuannya dengan tiba-tiba dia lompat, akan menerjang hebat sekali. Maka
kali ini dia berhasil, sebab dua musuh dihadapannya kena ditubruk rubuh dan terinjak
tubuhnya.
Duduklah diatasnya! seru Tan Hong kepada si bocah, tubuh siapa ia naikkan ke atas
punggung kudanya itu, yang telah datang padanya. Pegang dengan keras!
Bocah itu baru berumur tujuh atau delapan tahun, dia benar bernyali besar sekali, begitu
duduk di punggung kuda, dia mendekam, dia pegangi surai kuda, yang membawa dia kabur.
Thio Tan Hong masih bekerja. Ia pun tunjukkan kegesitannya. Dengan berlompatan, dia
hampiri Pit To Hoan.
Justeru itu beberapa wiesu mencoba menahan kuda putih, atas itu si bocah berteriak,
kuda itu juga berbenger keras.
Tan Hong gunakan ketikanya.
Pit Loopeh, kau dengar! dia berseru. Apakah masih tak hendak melindungi puteramu
itu?
Sambil mengucap demikian, Tan Hong pakai pedangnya akan membentur golok Bian-too
dari Thio Hong Hu yang dipakai membacok si jago tua.
To Hoan menghela napas, masih ia menyerang musuhnya hingga dua kali, habis itu ia lari
kearah tengah, kearah kuda putih beserta kudanya. Karena ini, Tan Hong kembali
perdengarkan suitannya, yang ditujukan kepada kudanya, hingga kuda itu tidak lagi
menyerbu keras mendobrak rintangan.
Dengan cepat To Hoan menghampiri Ciauw-ya Say-cu-ma, dengan tiga batang senjata
rahasianya, ia rubuhkan tiga wiesu yang mengepung kuda, hingga ia dapat ketika akan
datang dekat sekali pada kuda itu, ke punggung siapa ia segera lompat. Yang paling dulu ia
lakukan ialah memondong puteranya.
Kuda putih itu berbenger keras dan panjang, terus dia lompat, untuk lari kabur, hingga
sesaat kemudian keluarlah dari kepungan.
Thio Hong Hu menjadi sangat gusar. Ia merasa orang telah permainkan padanya. Maka
dengan sebat ia serang Tan Hong, si pengacau itu.
Tan Hong tangkis bacokan golok Toan-bun-too, ia merasakan satu benturan keras sekali,
hampir saja pedangnya terlepas dari cekalannya. Ia segera insyaf akan ketangguhan
komandan ini.
Dia bukannya bernama kosong, dia benar lihai, demikian ia pikir. Tidak kecewa dia
menjadi jago silat nomor satu dari kota raja.

190

Peng-Cong Hiap-Eng
Tapi mahasiswa ini tidak jerih, waktu ia tangkis pula lain bacokan ia kerahkan tenaga di
tangannya hingga kedua senjata beradu dengan keras. Tapi suara yang diperdengarkan
tidak nyaring seperti semula tadi. Kesudahannya pun membuat Hong Hu kaget sebab
goloknya telah dibikin sempoak pedang lawannya itu.
Tak takut aku dengan pedangmu! dia berseru kemudian, sambil tertawa. Lagi-lagi ia
menyerang.
Tan Hong tangkis serangan itu, kali ini, ia menjadi heran. Begitu rupa lawan menggunakan
goloknya, hingga golok Toan-bun-too itu seperti nempel dengan pedangnya, sulit pedang
itu ditarik kembali dan sukar untuk digerakkan terlebih jauh. Itulah ilmu yang dinamakan
ilmu tempel.
Bagus! Mari kita adu kepandaian!
Itulah suara nyaring dari Tan Hong, yang telah tertawa besar, karena ia tidak menjadi jerih
pedangnya hendak dibikin mati. Dengan satu gerakan lain, pedangnya lantas lolos dari
tempelan. Ia tahu tipunya bagaimana melepaskan diri.
Waktu itu terdengar suara mengaungnya anak panah, disusul dengan berbengernya kuda
putih dan pula dengan teriak Khoan Tiong, Toako, lekas kejar! Si bangsat tua she Pit
sudah kabur!
Hong Hu sadar dalam sekejap itu. Tahulah ia bahwa ia telah diperdayai Thio Tan Hong,
yang menggunakan akal Wie Gui Kiu Tio yaitu mengurung negeri Gui untuk menolongi
negeri Tio. Mahasiswa itu melibat ia untuk memberi ketika supaya To Hoan dapat
menyingkirkan diri.
Meskipun ia sangat mendongkol, Hong Hu toh lompat keluar kalangan, akan tetapi
disamping ia, Thio Tan Hong tidak diam saja, mahasiswa ini pun lompat sambil menikam
padanya. Ia putar tubuhnya, ia tangkis pedang, dilain pihak, dengan tangan kiri ia
menyerang ke dada lawan.
Thio Tan Hong berkelit dengan cepat, tidak urung ia terkena juga angin serangan itu, yang
membuatnya merasa sakit, hingga ia mesti empos semangatnya, menjalankan napasnya,
guna menghindarkan diri dari akibat serangan itu.
Thio Hong Hu berlompat pula, malah segera ia dapat rampas seekor kuda dengan apa ia
terus kejar Pit To Hoan atau si kuda putih Ciauw-ya Say-cu-ma.
Thio Tan Hong tertawa menampak musuh mengejar itu. Di dalam hatinya, ia kata,
Walaupun kudaku telah terkena tiga batang anak panah, tidak nanti kau sanggup kejar
dan candak dia!
Akan tetapi, ia sendiri pun tidak segera dapat lolos. Selagi ia hendak toblos kepungan, ia
menghadapi kepungan berlapis sebab Hoan Tiong sambil memutar gembolannya,
menghadang di tengah jalan, dia cegat orang, terus ia menyerang. Hingga Tan Hong
menghadapi kesukaran. Sepasang gembolan lawan sangat berat, sulit dilawa dengan
pedang. Disamping orang she Hoan itu ada lagi pelbagai pahlawan, anggota-anggota dari
Kim-ie-wie, yang menerjang sambil mengurung. Hoan Tiong itu gagah, dia berimbang
dengan Tiauw Im, maka dia pun setanding dengan Tan Hong.
In Lui sudah lolos dari kepungan ketika ia dengar suara riuh di belakangnya, ketika ia
menoleh, ia tampak Tan Hong tengah dikepung musuh yang berseru-seru. Tanpa merasa, ia
menjadi berkuatir sekali, hingga untuk sesaat, ia berduduk diam diatas kudanya. Justeru
itu Khoan Tiong telah melepaskan anak panahnya yang lihai. Dalam kagetnya, In Lui masih
dapat berkelit, tapi celaka, leher kudanya terkena anak panah musuh, hingga pada ketika
itu juga kuda rubuh terguling, dan penunggangnya pun turut rubuh juga.
Belum sempat ia bangun, beberapa wiesu sudah maju, untuk menubruk, guna menyerbu
musuh ini. In Lui masih sempat membalikkan tubuh, begitu berbalik, begitu ia menyabet
dengan pedangnya. Hebat tangkisan ini, hingga banyak senjata lawan terbabat kutung.
Sekalian musuh itu terkejut, selagi mereka tercengang, In Lui lompat bangun untuk
berdiri. Tapi begitu lekas ia bangun, begitu lekas juga datang serangan Khoan Tiong,
dengan sam-ciat-pian yang mengarah ke pinggangnya. Dengan kesusu ia menangkis.
Lihai cambuk sambung tiga dari Khoan Tiong, setelah serangan pertama itu gagal, ia

191

Peng-Cong Hiap-Eng
mengulanginya, terus ia mendesak.
In Lui repot juga, tidak dapat ia membabat kutung cambuk itu, yang dimainkan dengan
sempurna oleh pemiliknya. Ia jadi penasaran, ia juga mencoba mendesak.
Satu kali, Khoan Tiong lompat mundur tiga tindak, begitu mundur, ia kerahkan tenaganya,
ia mencambuk pula.
In Lui lompat dari sambaran itu, ia lolos dari bahaya.
Keduanya lantas bertarung dengan seru. Sayang bagi In Lui, ia kalah tenaga, maka itu,
berselang kira-kira tiga puluh jurus, keringatnya lantas mengucur, karenanya, tenaganya
menjadi berkurang sendiri.
Khoan Tiong lihat keadaan musuhnya, ia tertawa besar, ia ulangi desakannya. Ia mengharap
segera dapat merubuhkan lawan itu.
Belasan anggota Kim-ie-wie sementara itu telah memecah diri di sekitar kedua orang yang
sedang bertanding itu, mereka menjaga supaya In Lui tak dapat kabur dan lolos.
Di pihak lain, Thio Tan Hong telah berada dalam kepungan, pedangnya yang tajam itu
dibikin tak berdaya oleh sepasang gembolan yang berat dari Hoan Tiong, disamping itu, ia
pun harus waspada terhadap senjata kawan-kawan Hoan Tiong itu. Selagi ia terkepung itu,
Tan Hong lihat In Lui rubuh dari kudanya, hingga ia menjadi kaget sekali. Karena ni,
mendadak ia memutar tubuh dan pedangnya dibabatkan dengan hebat kepada musuhnya,
dengan tangan kirinya ia sambar satu anggota Kim-ie-wie yang dengan berani merangsak
padanya. Ia menyambar leher bajunya, ia tarik musuh itu, hingga tubuhnya terangkat. Ini
ada baiknya untuknya hingga musuh lainnya menjadi jerih karena takut menikam kawan
sendiri.
Hoan Tiong penasaran, dia membalas menyerang.
Tan Hong berlaku cerdik, bukannya ia menangkis, ia hanya majukan tubuh musuh yang
telah ia bekuk itu.
Hoan Tiong kaget, terpaksa dengan cepat ia tarik kembali gembolannya. Ketika ini dipakai
Tan Hong untuk menerjang keluar, tubuh mangsanya tetap ia gunakan sebagai tameng.
Hoan Tiong penasaran sekali, ia mengejar.
Tan Hong lihat kelakuan musuh, ia tertawa berkakakan.
Kau sambutlah! ia berseru, lantas ia lemparkan musuhny ke arah si orang she Hoan.
Hoan Tiong tidak dapat berbuat lain daripada menyambut tubuh anggota Kim-ie-wie itu.
Tan Hong sebaliknya, sambil masih tertawa sudah menyerbu ke dalam kepungan In Lui.
Nona In sedang terancam bahaya ketika ia tampak munculnya Tan Hong. Tiba-tiba saja
hatinya tercekat. Dengan lantas ia ingat surat wasiat kulit kambing yang berdarah. Siapa
sangkat musuhnya ini, yang ia benci, tapi yang ia sayangi, kembali datang untuk
menolongnya. Maka bimbanglah ia. Apakah orang mesti dipandang sebagai sahabat atau
tetap sebagai musuh besar? Apakah ia mesti terima bantuannya musuh ini?
Oleh karena ia sedang menggunakan otaknya, In Lui terperanjat sekai ketika cambuk
Khoan Tiong menyambar kepalanya, akan tetapi sebelum ia menangkis atau berkelit,
kupingnya mendengar seruan yang ia kenal baik, Adik kecil, lekas kau menangkis! Atas
ini, benar-benar ia gerakkan pedangnya dan menangkis dengan hebat. Satu suara nyaring
terdengar atas tangkisan itu, yang membuat Khoan Tiong kaget dan mendongkol tidak
kepalang, sebab sam-ciat-piannya kena terbabat kutung menjadi empat potong.
Segera juga Tan Hong dan In Lui bertempur berdampingan, senjata mereka dapat
digunakan masing-masing dikiri dan kanan. Sekarang mereka dapat bergerak dengan
leluasa.
Sebentar saja belasan anggota Kim-ie-wie rubuh terluka.
Hoan Tiong, dengan memutar gembolannya datang memburu. Khoan Tiong lihat kawan itu,
ia berteriak dengan peringatannya, Jieko, hati-hati!
Dengan tetap berdampingan, Tan Hong dan In Lui berbareng menyerang musuh kosen ini
yang bersenjatakan genggaman berat itu.
Disambut secara demikian rupa, Hoan Tiong kaget, sampai ia menjadi gugup, bukannya ia
menangkis, ia hanya melempar kedua gembolannya, ia sendiri lompat bergulingan, akan

192

Peng-Cong Hiap-Eng
tetapi walaupun demikian, meskipun jiwanya tertolong, rambutnya toh terbabat juga
hingga putus sebagian.
Belum pernah Hoan Tiong dikalahkan begini macam, ketika ia lompat bangun, a menjadi
sangat gusar.
Serbu mereka dengan pasukan kuda! ia berteriak dengan titahnya.
Beberapa puluh anggota Kim-ie-wie taati titah itu, mereka mencari kuda mereka, untuk
lompat naik keatasnya, habis mana, dengan mengatur diri menjadi empat baris, mereka
maju untuk menerjang.
Lekas naik ke gunung! berseru Tan Hong, yang melihat sikap musuh. Kalau mereka
sampai kena diterjang, pasti mereka tidak berdaya.
In Lui turut nasihat itu, ia sudah lantas lompat mundur, akan seterusnya lari ke arah
gunung. Ia lari dengan cepat sekali. Di depan rumah Pit To Hoan, kira-kira satu lie jauhnya
memang ada sebuah bukit. Dengan cepat ia sudah sampai di kaki bukit itu.
Tan Hong terus dampingin si nona dengan siapa ia lari bersama.
Pasukan kuda musuh juga lari cepat, sebentar kemudian mereka sudah mendatangi dekat.
Satu penunggang kuda dapat melampaui kawan-kawannya, ia telah datang dekat sekali.
Tan Hong lihat bahaya, ia sambar tubuh In Lui, terus ia lemparkan ke arah gunung. Ia
sendiri segera memutar tubuh, untuk lompat minggir, hingga musuh melewati ia. Tapi,
begitu musuh lewat, begitu ia lompat mencelat, naik ke punggung kuda di belakang
musuh, dan belum sempat musuh berdaya, ia sudah menjambak, ia menarik dengan keras,
ia melemparnya, hingga tubuh musuh terpental beberapa tombak di belakang.
Masih syukur untuk anggota Kim-ie-wie ini, coba ia dilemparkan ke depan kuda, pasti dia
kena terinjak-injak kuda yang tengah lari kencang itu,
Dengan kuda musuh itu, Tan Hong lari terus sampai di tepi gunung. Disitu terdapat
beberapa pohon kayu besar. Dari atas kudanya, dengan berani Tan Hong lompat, untuk
menyambar sebatang pohon. Oleh karena gerakan itu, tubuhnya menjadi terayun. Justeru
ia sedang terayun, ia lepaskan cekalannya, maka dilain saat, tubuhnya telah sampai di
tanjakan bukit dimana ia ia bisa menaruh kaki dengan tepat hingga ia tidak kurang suatu
apa. Kemudian ia menoleh ke arah In Lui, si nona tengah berdiri mengawasi padanya.
Nona In telah berada di tengah bukit.
Ketika itu hari sudah magrib, maka pasukan berkuda Kim-ie-wie tidak berani mencoba
mengejar terus, hingga mereka cuma bisa berteriak-teriak di kaki bukit.
Hoan Tiong masih penasaran, dia mendatangkan sejumlah pasukan Gie-lim-kun untuk
membuat penjagaan di kaki bukit yang bersiap sedia dengan panah mereka. Dia pun
tertawa dan berkata secara mengejek, Hendak aku lihat, berapa lama kamu dapat
berdiam di atas bukit!
Tan Hong telah menyusul In Lui, mereka naik ke atas, dari sana mereka memandang ke
sekitarnya. Mereka tampak bukit itu telah terkurung musuh. Yang paling nyata tertampak
adalah bendera-bendera Gie-lim-kun, pasukan kaisar.
Sesudah bertempur mati-matian sekian lama, Tan Hong dan In Lui merasakan sangat lelah
dan juga lapar. Hal ini membuat mereka berpikir..
Ketika itu adalah musim pertama, dan seperti biasanya di musim pertama itu, pada siang
hari sang siang jadi terang benderang, maka pada magrib atau selewatnya suka turun
hujan. Demikian hari itu, tiba-tiba air dari langit mulai turun.
Adik kecil, mari kita cari tempat berlindung! Tan Hong mengajak. Tentang barang
makanan, kau jangan kuatir, aku masih membekal sedikit ransum kering.
In Lui bungkam ia cuma menoleh. Tak tahu ia, harus bicara atau tidak dengan musuh
turunan ini.
Disana ada sebuah guha, Tan Hong berkata pula. Mari kita pergi kesana.
Mahasiswa ini bukan cuma mengajak, tapi tanpa menunggu jawaban lagi, ia sambar
sebelah tangan orang untuk dituntun.
Beradu tangan dengan si anak muda, In Lui merasakan tubuhnya mengkirik, tangannya
dingin.

193

Peng-Cong Hiap-Eng
Tan Hong merasakan tangan dingin itu, ia dapat menerka hati si nona tentu sedang
bimbang, pikirannya tidak tenteram.
Guha itu bukan sewajarnya, hanya tanah berlubang saja, karena di atasnya terdapat dua
potong batu besar yang ujungnya lebih, yang tidak mengenai tanah atau batu karang,
hingga dibawahnya ada tempat yang luang, cukup untuk dua orang dan mereka tak akan
tertimpa air hujan.
Tan Hong tuntun kawannya memasuki guha itu, disitu mereka berdiri berhadapan, hati
mereka sama-sama memukul, di dalam hati, mereka saling Tanya, apa yang mereka harus
lakukan.
Adalah Tan Hong, yang hatinya terlebih tenang.
Adik kecil, berkata si anak muda kemudian, sesudah mereka sama-sama bungkam sekian
lama, benarkah permusuhan kita kedua keluarga tak dapat diselesaikan?
Cuaca waktu itu suram, walaupun mereka berdekatan, Tan Hong tak dapat melihat tegas
air muka si nona. Meski begitu, kupingnya dapat menangkap suara baju nona itu, yang
disebabkan tangannya telah meraba gagang pedangnya.
Tan Hong menghela napas.
Inilah yang dikatakan, kita tak dapat berkumpul bersama! katanya dengan duka. Adik
kecil, baiklah kau bunuh saja aku! Binasa ditanganmu, mati pun aku tak menyesal, tak
penasaran.
Justeru itu geledek menggelegar, kilat menyambar, dengan terangnya cahaya kilat itu, Tan
Hong tampak wajah In Lui pucat pasi, sedang matanya berlinangkan air mata. Dengan
menyender pada batu, si nona pegangi tali bajunya, sedang pedangnya telah tercabut
separuh, suatu tanda ia ingin menghunusnya tetapi tertunda.
Dengan lenyapnya cahaya kilat itu, guha pun menjadi gelap kembali.
Dalam kegelapan itu, terdengarlah suara napasnya si nona In. Sampai sekian lama, masih
tidak terdengar jawabannya atas perkataannya si anak muda.
Tan Hong keluarkan ransum keringnya.
Adik kecil, mari dahar, ia mengundang.
In Lui tetap menyender, sedikit jua tubuhnya tak bergeming.
Masgul Tan Hong menampak sikap orang itu, tetapi dengan paksakan diri, ia tertawa geli.
Adik kecil, kali ini tidak akan aku katakan kau menganglap makanan! katanya bergurau,
Mari dahar!
Pemuda ini mengharap si nona gembira, tidak tahunya, Plok! tangannya kena disampok
nona itu, rangsum keringnya jatuh ke tanah. Ia jadi sangat menyesal, dengan tertawa
meringis, ia punguti rangsum kering itu, yang terus ia letakkan di atas batu.
In Lui sangat berduka, hatinya pepat sekali, hingga ingin ia menangis, tetapi tidak dapat ia
perdengarkan suaranya, air matanya pun tidak mau mengucur keluar. Di dalam kegelapan
itu, ia dengar helaan napas dari anak muda di depannya.
Pembalasan sakit hati.pembalasan sakit hati. Kata si anak muda, suaranya perlahan,
Sakit hati saling balas, bilakah itu akan berakhir? Leluhurku dengan Cu Goan Ciang telah
memperebutkan negara, dia telah mewariskan surat wasiat yang memesan supaya anak
cucunya mewakilkan dia menuntut balas..Meskipun demikian, pesan pembalasan
keluargaku itu bukannya dimaksudkan menuruti hawa napsu saja membunuh musuh, tetapi
yang paling utama adalah berdaya untuk merampas kerajaan Beng!
In Lui dengar itu, tubuhnya bergidik.
Memang benar, saling balas ini ada hebat sekali, begitu dahulu, begitu sekarang ia
berpikir. Jikalau keluarga Thio dapat membalas sakit hatinya, bukankah mereka akan
membinasakan segenap orang kota, hingga darah mengalir di seluruh tegalan..
Jikalau Thio Tan Hong, untuk pembalasannya itu, bersekutu dengan bangsa Watzu,
tentara siapa ia bawa masuk ke Tionggoan untuk menggempur kerajaan Beng, maka dia
adalah satu manusia yang paling berdosa ia memikir pula. Jikalau itu sampai terjadi,
aku pun tidak akan memberi ampun padanya!
Hebat nona ini berpikir, tanpa merasa, tangannya telah meraba pula gagang pedangnya.

194

Peng-Cong Hiap-Eng
Tapi segera ia dengar suara orang.
Leluhurku menyingkir ke negeri Watzu, demikian Tan Hong berkata, seorang diri. Ketika
itu bangsa Mongolia sedang lemahnya, di bagian dalam, mereka terpecah-belah. Ketika itu
juga tentara kerajaan Beng berulang kali dating menyerbu, melakukan perampasan. Di
samping itu, kerajaan Beng juga meminta bangsa Mongolia setiap tahun mengantar upeti.
Hal ini membuatnya bangsa Mongolia menjadi sangat bersakit hati, merasa penasaran dan
bergusar sangat, hingga mereka memikir untuk mencari balas. Ha, manusia terhadap
manusia, negara terhadap negara, mengapa diantara mereka ada demikian banyak
dendam? Mengapa mereka hendak saling menuntut balas? Sungguh aku tidak mengerti!
Kenapa mereka tidak hendak saling memperlakukan sama rata, sama derajat, untuk hidup
damai satu dengan lain?
Tertarik hati In Lui mendengar kata-kata itu.
Leluhurku dan marhum raja Watzu sama-sama memikir untuk mencari balas, Tan Hong
berkata pula,mereka hendak mencari balas terhadap kerajaan Beng. Oleh karena
minatnya itu, leluhurku telah memangku pangkat di dalam negeri Watzu. Setiap hari
bangsa Watzu itu jadi semakin kuat. Berbareng dengan itu, pangkat leluhurku juga setiap
waktu menjadi terlebih tinggi. Demikian, setelah turun sampai pada ayahku, bukan saja
ayah telah diwariskan pangkat leluhurku itu, malah belakangan dia diangkat menjadi Yusinsiang, perdana menteri muda.
Belum selesai Tan Hong dengan kata-katanya itu, tidak peduli tidak ada orang yang
melayani ia bicara, karena si nona tetap bungkam, ia melanjutkan pula, Ayahku ingat
baik-baik sakit hati itu, maka itu terhadap anak-cucu Cu Goan Ciang, juga terhadap
mereka yang sangat mencintai kerajaan Beng, dia mendendam hebat sekali, sampai
meresasp ke tulang-tulangnya! ..Pada tiga puluh tahun yang lampau ketika engkongmu
diutus ke negeri Watzu, ia menambahkan kepada In Lui, disana ia selalu mengutarakan
bahwa dia adalah menteri yang sangat setia dari kerajaan Beng. Mendengar itu, ayahku
menjadi naik darah, maka ayah segera menahan engkongmu itu, engkongmu itu dipaksa
berdiam di daerah es dan salju, ia hidup dengan menggembala kuda sampai dua puluh
tahun lamanya!
In Lui kertakkan giginya. Kata-kata Tan Hong membuat ia berpikir keras.
Engkong telah menderita selama dua puluh tahun, ia berpikir, karena sakit hati itu,
engkong menginginkan supaya sekeluarga Thio dibunuh semua. Tapi kerajaan Beng telah
merampas negara leluhurnya, tidak heran kalau keluarga Thio jadi sangat bersakit hati,
sampai karenanya, engkongku turut terlibat. Sungguh ini ada dendam turun-temurun
Dapatkah aku tak memperdulikan sakit hati leluhurku itu? Engkong ingin turunannya
membalas dendam, bolehkah aku membiarkannya?
In Lui cekal gagang pedangnya, akan tetapi pikirannya sangat ruwet.
Engkongmu itu menggembala kuda diantara es dan salju sampai dua puluh tahun lamanya,
selama itu tidak pernah ia hendak tunduk, terdengar Tan Hong mulai berkata pula, Oleh
karena itu kemudian ayahku pun tertarik hatinya dan mengagumi kekerasan hati dari
engkongmu itu. Ayahku pernah bercerita kepadaku tentang hikayat engkongmu itu. Ayah
katakana ketika engkongmu secara diam-diam minggat pulang ke negerinya, sebelumnya
ayahku telah mengetahuinya, sekalipun demikian, ayah sengaja tidak mengirim pasukan
tentara untuk mencegah, engkongmu dibiarkan dapat menyingkir. Malah ayahku pun
berkata, ketika itu ayah telah tugaskan Tantai Ciangkun menyampaikan kepada engkongmu
tiga pucuk surat tertutup untuk menolong engkongmu dari ancaman bahaya maut. Hanya
sayang sekali, engkongmu tidak sudi mempercayainya, hingga dengan begitu engkongmu
telah menyia-nyiakan maksud hati baik dari ayahku itu hingga ayah merasa kecewa.
In Lui mendengar, ia bersangsi. Benarkah cerita Tan Hong ini? Masih ia membungkam. Masih
ia pegangi gagang pedangnya.
Tan Hong menghela napas.
Memang perbuatan ayahku terhadap engkongmu ada keterlaluan, ia berkata pula, maka
itu tidaklah heran kalau engkongmu tidak mempercayai maksud baik dari ayahku itu.

195

Peng-Cong Hiap-Eng
Orang tua marhum telah berhutang, sudah selayaknya turunannya membayar hutang itu!
Maka juga tidak mengherankan bahwa kau jadi membenci sangat padaku! Ah
In Lui tetap membungkam.
Si anak muda melanjutkan pula, Negeri Watzu itu setiap hari bertambah kuat, karenanya
kerajaan Beng selanjutnya tidak berani menghina pula. Malah kemudian, keadaan menjadi
berbalik. Pada sepuluh tahun yang lalu, guruku telah datang ke negeri Watzu. Mulanya
mendengar kabar, guruku itu hendak melakukan pembalasan untuk engkongmu itu, akan
tetapi kemudian, ia berbalik menjadi guruku. Dialah yang mengingatkan aku bahwa aku
adalah bangsa Tionghoa, bahwa karenanya tidak dapat aku pandang Tionggoan sebagai
musuh! Belakangan, setelah datangnya guruku itu, perangai ayahku telah berubah. Sering
aku lihat ayahku di waktu malam, menumbuki dadanya sendiri, seorang diri ia suka jalan
mengitari kamarnya. Pernah ayahku mengoceh seorang diri, katanya membalas dendam!
Membalas dendam! Harus atau tidak aku membalas dendam? Dalam keadaan itu ayah
tampak beringas, sikapnya menakutkan. Pernah beberapa kali aku hiburi ayah, tapi ia
menjadi gusar, dia deliki aku! Dia kata anak, kau mesti ingat sakit hati leluhurmu yang
bagaikan gunung besarnya!
Kau tahu dengan cara bagaimana aku sekarang aku pulang ke Tionggoan? Sebenarnya aku
telah membolos. Dari semua orang, melainkan guruku seorang yang mengetahuinya.
Guruku telah menjelaskan segala apa mengenai kaum Rimba Persilatan di Tionggoan. Kau
harus ketahui, aku adalah bangsa Tionghoa, pasti aku tidak akan membantu bangsa Watzu
menyerbu Tionggoan! Akan tetapi, aku juga hendak menuntut balas
Bagaimana kau hendak membalasnya?
In Lui tergerak hatinya, hingga ia bertanya demikian.
Setelah aku sampai di Tionggoan, yang pertama-tama aku lakukan ialah membuat
penyelidikan, sahut Tan Hong. Aku telah melihat jelas, pemerintahan kerajaan Beng
sesungguhnya telah menjadi buruk sekali. Maka itu, untuk menuntut balas, tampaknya
tidak ada kesukarannya. Apabila aku mendapatkan peta bumi serta harta yang terpendam,
maka dengan menggunakah pengaruh uang itu aku kumpulkan kawan sekerja, untuk
kemudian mengerek bendera, dengan demikian tidaklah sukar untuk merampas kerajaan
Beng!
In Lui terperanjat.
Apakah kau berniat menjadi kaisar? dia tanya.
Thio Tan Hong tertawa.
Kaisar pun asalnya rakyat jelata! dia kata. Negara dari satu keluarga, dari satu she,
dapatkah itu dipegang kekal untuk beratus abad? Jikalau aku dapat merampas kerajaan
Beng, bukan saja aku hendak menjadi raja..
Apakah itu untuk mencari balas? In Lui tanya pula.
Juga bukan hanya untuk membalas dendam! jawab Tan Hong. Andaikata berlaksa
negara di kolong langit ini tidak menggerakkan senjata, bagaimana baiknya? ia berhenti
sebentar, ia tertawa bergelak. Lalu ia bersenandung, Berapakah usianya manusia? Negara
aman, bagaimana dapat ditunggu? Coba muncul satu nabi, bukankah persamaan kekal
abadi untuk berlaksa abad? Haha! Jikalau dapat aku mencapai keinginan hatiku, untuk apa
aku mesti menjadi kaisar?
Di tempat gelap seperti itu, In Lui tidak tampak wajah orang, akan tetapi dapat ia
merasakah hati besar orang itu.
Kau menjadi kaisar atau tidak, itulah tidak aneh! ia campur bicara. Tak sanggup dia
untuk terus membungkam. Hanya jikalau kau bercita-cita merampas negara yang luasnya
sembilan laksa lie dari kerajaan Beng, maka kau menghendaki atau tidak, aku kuatir kau
toh akan membunuh seluruh orang kota hingga darah mengalir seluas tegalan! Sekarang ini
bangsa Mongolia hendak menyerbu, jikalau kau memusuhi kerajaan Beng, bukankah kau
jadi membantu bangsa Watzu itu?
Ditanya begitu, Tan Hong berdiam sebentar.
Adik kecil, kata-katamu beralasan juga, ia menyahut dengan perlahan. Adik kecil,

196

Peng-Cong Hiap-Eng
kakakmu suka mendengar perkataanmu. Jikalau kau tidak mengizinkan aku menjadi kaisar,
aku suka tidak menjadi kaisar. Adik kecil, katakanlah, akan aku turut kau.
Halus suara pemuda ini, enak didengarnya. Maka merahlah muka In Lui, ia jengah tetapi ia
pun girang. Tiba-tiba saja ia gerakkan sebelah tangannya, akan tolak tubuh orang.
Siapakah yang inginkan kau dengar perkataanku! dia bentak, suaranya gusar.
Bagaimana? Kembali kau gusar. Kata Tan Hong.
Si nona diam, tidak ia menyahuti.
Tan Hong menghela napas, tangannya diulurkan ke batu dimana ia taruh rangsum
keringnya. Ia dapatkan batu telah kosong. Rangsum itu telah dimakan si nona! Selama
mendengarkan orang bercerita, tanpa merasa, In Lui dahar rangsum itu. Pernah ia sadar
bahwa tidak selayaknya ia makan rangsum itu, tidak tahunya ia telah dahar hingga
potongan yang terakhir.
Diam-diam Tan Hong tertawa dalam hatinya. Ketika ia awasi si nona, di tempat yang gelap
itu ia hanya tampak sepasang mata yang bersinar hidup bagaikan bintang di malam gelap
gulita.
Adik kecil, sudah waktunya untuk kau tidur, Tan Hong kata kemudian. Lalu dengan
perlahan, ia nyanyikan sebuah lagu halus.
In Lui lelah dan ngantuk, ia telah dahar cukup, hatinya tertarik, di luar tahunya, ia
meramkan matanya.
Tan Hong, dengan pedang ditangan, bertindak ke mulut guha, untuk menjadi centeng.
Hujan telah berhenti, akan tetapi di malam buta, tentara pahlawan tidak berani mendaki
bukit untuk mengejar terus orang-orang yang menyingkirkan diri itu.
Pemuda itu pun lelah dan ngantuk, akan tetapi untuk menjaga In Lui, ia kuatkan hati untuk
tinggal melek. Tidak berani ia tidur.
Sekonyong-konyong terdengar teriakan In Lui, Engko! Engko!Engkong, engkong!
Ya, sahut si anak muda. Habis itu, ia tidak dengar apa-apa lagi. Ia berpaling ke dalam
tapi In Lui diam terus, Cuma suara napasnya terdengar perlahan.
Dia ngigo.kata si anak muda, yang terus bertindak ke dalam, akan membuka baju
luarnya, baju mana ia pakai menyelimuti tubuh si nona, tanpa nona itu sadar. Kemudian ia
kembali ke mulut guha, dimana ia duduk mendeprok.
In Lui tengah bermimpi. Ia lihat Thio Tan Hong melenggakkan kepalanya dan tertawa
panjang, tetapi ketika si anak muda mengusap-usap gambar lukisannya, tiba-tiba ia
menangis sedih dan kemudian, dia berjanji dengan nada tinggi. Heran In Lui atas tingkah
laku orang, ia pun merasa kasihan. Maka ia menghampirinya, ia pegang pundak orang. Di
saat itu ia tampak engkongnya menghampiri dia, tangan engkong itu mencekal tongkat
bambu yang ada bulunya. Bengis roman si engkong ketika ia nyelak diantara kedua orang
itu, terus dia angkat tongkatnya, dipakai mengemplang!
Engko, tolong! teriak In Lui dalam mimpinya itu.
Segera nona ini lihat suciat, yaitu tanda kebesaran di tangan engkongnya, telah berubah
menjadi surat wasiat kulit kambing yang berdarah, dengan surat wasiat itu, sang engkong
tutupi kepala cucunya, sambil mendamprat, Siapakah engkomu? Lekas kau bunuh dia!
Waktu itu In Lui endus baunya yang berbau bacin, yang berulang kali menyerang
hidungnya, hingga hampir tak kuat ia menahannya. Lebih celaka lagi, ia tidak dapat
berteriak, maka akhirnya, sadarlah ia dari tidurnya, dari mimpinya yang hebat itu.
Mengawasi ke mulut guha, si nona tampak sorot matahari yang melusup di sela-sela. Ia
mengawasi, ia tenteramkan hatinya, yang berdenyut. Begitu ia merasa tenang, ia dapatkan
tubuhnya berkerudung baju Tan Hong. Segera ia rasakan pipinya panas, hatinya pun
memukul. Lantas ia turunkan baju itu, terus ia jalan perlahan, menuju ke mulut guha.
Tan Hong tengah duduk di batu, ujung pedangnya menunjang tanah, kepalanya
ditundukkan. Karena ngantuknya anak muda ini tidak sanggup bertahan lagi, ia ngelenggut,
mendekati terang tanah, ia tertidur juga
Kembali surat wasiat kulit kambing yang berdarah berkelebat di mata In Lui, terus saja ia
cekal keras gagang pedangnya. Di dalam hatinya, nona ini berkata, Jikalau aku hendak

197

Peng-Cong Hiap-Eng
tikam dia, inilah ketikanya yang baik. Ah, ah, mengapa aku berpikir begini macam?
Engkong, engkong, ia mengeluh, engkong, jangan paksa aku, jangan paksa aku
Samar-samar In Lui seperti lihat engkongnya mendatangi dengan tangannya masih
memegang su-ciat, tepat seperti di waktu ia bermimpi, mata engkongnya itu bengis.
Mustahilkah aku masih bermimpi?
Sambil menanya begitu dalam hatinya, In Lui terus gigit jari tangannya. Kontan ia
merasakan sakit, maka terang sudah, ia bukan tengah bermimpi pula. Tapi, kalau itu bukan
impian, kenapa ia seperti sedang bermimpi, ia bagaikan belum sadar? Kalau ia sadar,
sungguh hebat penderitaannya ini. Ia tengah menghadapi musuhnya, yang engkongnya
titahkan ia bunuh.
Jikalau aku lepaskan ketika yang baik ini, aku tidak binasakan orang keluarga Thio,
apakah engkong di alam baka tidak sesalkan aku? demikian ia Tanya dirinya.
Dengan tangan pada gagang pedang, In Lui maju lagi dua tindak, tiba-tiba ia masukkan
satu jari tangannya ke dalam mulut, ia menggigit, kembali ia sadar benar-benar, di depan
matanya tidak lagi terbayang engkongnya. Maka pedang, yang ia telah cabut, ia masukkan
pula ke dalam sarungnya. Sebaliknya daripada menikam pemuda itu, adalah baju orang
yang ia keredongkan kepada pemiliknya.
Thio Tan Hong merasa tubuhnya tersentuh, ia segera lempangkan tubuhnya, lantas ia
lompat bangun. Segera ia tertawa.
Eh, adik kecil, pagi-pagi begini kau sudah bangun? dia Tanya. Kenapa kau tidak tidur
pula?
In Lui gigit bibirnya, mukanya menjadi pucat.
Tan Hong awasi pemudi ini, matanya bersinar halus, ia nampaknya sangat mengasihani si
nona.
Nona In lihat sinar mata orang itu, ia tampak wajahnya sangat simpati, luka hatinya,
hingga hampir ia menangis. Lekas-lekas ia putar tubuhnya, untuk tidak mengawasi lebih
jauh pemuda itu.
Tan Hong menghela napas, terus ia memandang ke arah bawah bukit. Ia lihat beberapa
puluh pahlawan Kim-ie-wie, bersama-sama dengan serdadu-serdadu Gie-lim-kun, mereka
terpecah dalam beberapa rombongan, mereka tengah mendaki bukit. Terang sekali mereka
hendak mencari terlebih jauh kedua orang yang mereka sedang kepung.
Bingung juga si anak muda. Tidak sukar menggempur beberapa puluh pahlawan. Tidak
demikian dengan kurungan di bawah bukit itu, dimana, tertampak bendera-bendera dari
pengurungan yang rapat. Cara bagaimana kurungan itu dapat ditoblos?
Selagi anak muda ini berpikir keras, ia lihat kawanan pahlawan sudah sampai di tengah
bukit. Ia lantas sambar tangan In Lui, untuk diajak lari ke belakang satu batu besar.
Makin lama rombongan pahlawan datang makin dekat. Sekonyong-konyong terdengar
seruan Thio Hong Hu.
Keluar! Keluar kamu! Aku telah melihat padamu! Hendak aku bicara dengan kamu!
Hati Tan Hong tercekat, Thio Hong Hu adalah satu jago dari kota raja. Ia tidak sangka
orang dapat datang demikian cepat, malah dialah yang pimpin rombongan pahlawan dan
serdadu istana itu untuk menggeledah bukit.
Dengan golok Biantoonya, Thio Hong Hu menuding ke atas bukit, kembali ia perdengarkan
suaranya yang nyaring, Kenapa kamu main sembunyi-sembunyian? Begitukah kelakuannya
satu hoohan?
Kali ini belum Hong Hu menutup mulutnya atau satu orang, bagaikan bayangan, telah
lompat muncul, bajunya berkibar-kibar ditiup angin. Ditangannya terhunus pedang.
Thio Tayjin gagah perkasa! demikian orang itu, ialah Thio Tan Hong, berkata sambil
tertawa, kau telah pimpin beribu-ribu serdadu dan kuda, kau juga telah menyerang bukit
ini, sungguh kau satu hoohan!
Melengak Thio Hong Hu, mukanya menjadi merah secara mendadak. Itulah sindiran hebat.
Jangan kau memancing kemurkaanku! katanya kemudian. Dapat ia tenangkan diri.
Meski benar dibawah gunung ini ada pasukan perang yang berjumlah besar, kamu

198

Peng-Cong Hiap-Eng
sebenarnya boleh berurusan dengan aku si orang she Thio saja!
Thio Tan Hong kibaskan pedangnya, ia tertawa.
Bagus, bagus! katanya dengan gembira. Kalau begitu, silahkan kau kemukakan syaratsyaratmu!
Thio Hong Hu tidak lantas sambut tantangan itu, ia hanya mengawasi dengan tajam kepada
dua orang itu. Waktu itu In Lui pun turut munculkan diri.
Aku lihat kamu bukan orang-orang Jalan Hitam, katanya. Sebenarnya kamu mempunyai
hubungan apa dengan Cin-sam-kay Pit To Hoan?'
Tentang hubungan itu, tak usah kau mengetahuinya, jawab Tan Hong, baik kita jangan
ngobrol saja! Mari kita bertempur sampai tiga atau lima ratus jurus! Bagaimana andaikata
kau tidak mampu mengalahkan aku?
Tan Hong merasa, dalam tenaga dalam, ia kalah dari komandan Kim-ie-wie itu, akan tetapi
dalam hal ilmu pedang, ia menang diatas angin, maka ia percaya, dengan bertanding
sekian banyak jurus, mestinya mereka seri. Ia tahu Thio Hong Hu kagumi dirinya sendiri,
sengaja dia gunakan kata-kata itu untuk membangkitkan kemendongkolan orang.
Kembali Thio Hong Hu lirik kedua orang itu.
Tidak usah kita bertanding satu lawan satu! katanya dengan jumawa. Kamu boleh maju
berdua berbareng!
Tan Hong tertawa dingin.
Kalau begitu maka sejak ini Keng-su Sam Toa-kho-ciu akan tinggal dua orang saja!
katanya secara menghina. (Keng-su Sam Toa-kho-ciu berarti tiga jago terbesar dari kota
raja)
Dengan perkataan ini Tan Hong artikan bahwa ia berdua In Lui mengerubuti komandan Kimie-wie itu, sudah pasti si komandan akan terbinasa.
Thio Hong Hu tidak kena dipancing, ia tertawa.
Aku lihat itulah tidak mudah! katanya. Ilmu silat kamu berdua telah aku lihat, jikalau
kita bertanding satu lawan satu, mungkin kau dapat bertahan lima ratus jurus. Kau
majukan tantanganmu ini, mengerti aku maksudmu. Sudah tentu aku tidak sudi
diperdayakan!
Sungguh orang ini lihai! kata Tan Hong dalam hatinya, ia tercekat. Tahu pihak sana,
tahu pihak sendiri, demikian pepatah. Pikiran dia sama dengan pikiranku. Lantas dia
menyahuti, Kalau begitu baiklah kita tidak mengadakan batas lima ratus jurus itu! Mari
kita bertempur satu lawan satu. Kau boleh utarakan syaratmu!
Thio Hong Hu sebutkan syaratnya, ia kata, Tentang sahabatmu ini, dengan ilmu silatnya,
mungkin dia dapat bertahan sampai seratus jurus, maka itu, baiklah kita atur begini,
Kamu berdua maju bersama, kita bertempur sebanyak lima puluh jurus. Jikalau kamu
yang peroleh kemenangan, nanti aku pujikan kamu supaya kamu diangkat bu-kiejin tahun
ini, untuk itu kamu tidak usah diuji pula!
Thio Tan Hong tertawa bergelak.
Untuk kami berdua menangkan kau, itulah gampang, sama seperti kita membalikkan
tangan! katanya. Perlu apa menunggu sampai lima puluh jurus? Malah dalam lima jurus,
bila kami tidak dapat mengalahkan kau, kau boleh perbuat sesukamu atas diri kami!
Jikalau dalam lima jurus kami menangkan kau, kami tidak kemaruk dengan gelaran buconggoan-mu, apapula bu-cinsu! Untuk kami, air ada biru, gunung ada hijau, di belakang
hari masih dapat kita bertemu pula!
Inilah ejekan untuk Hong Hu, dia dipancing kegusarannya. Dengan itupun Tan Hong
maksudkan, andaikata mereka berdua yang menang, maka Thio Hong Hu mesti
membiarkan mereka angkat kaki tanpa gangguan.
Sementara itu Hong Hu mempunyai maksud, ia berkeras hendak tempur kedua orang ini.
Kemarin ia tidak berhasil mengejar Pit To Hoan, ketika ia kembali, ia tampak Hoan Tiong
dan Khoan Tiong mendapat luka, ia menjadi kaget.
Apa yang telah terjadi? ia tanya kedua kawan itu.
Hoan Tiong dan Khoan Tiong tuturkan pengepungannya terhadap Tan Hong dan In Lui, mau

199

Peng-Cong Hiap-Eng
atau tidak, mereka mesti puji ilmu silat kedua orang yang hendak ditawan itu. Pada waktu
berkata-kata, mereka ini nampaknya masih jerih.
Mendengar itu, Thio Hong Hu menjadi sangat heran, hingga ia berpikir.
Dari mereka berdua, si mahasiswa berkuda putih nampaknya yang lebih lihai,
kelihatannya dia melebihi satu tingkat daripada Hoan Tiong dan Khoan Tiong, tetapi,
dengan berkelahi bersama, dalam tujuh puluh jurus, tidak heran apabila mereka dapat
mengalahkan kedua sahabat ini. Yang aneh adalah mereka dapat merebut kemenangan
dalam beberapa jurus saja!
Hong Hu adalah ahli silat kenamaan, ia tahu bagaimana peryakinan ilmu silatnya, maka,
mendengar ada orang yang demikian lihai, timbullah keinginannya untuk mencoba-coba
kepandaian orang itu. Demikian ia majukan tantangannya. Benar-benar ia tidak percaya, di
dalam lima puluh jurus ia akan dapat dikalahkan. Tapi sekarang ia dengar Tan Hong
mengatakan lima jurus, bukan main mendongkolnya ia. Meski demikian, ia tertawa
terbahak-bahak, goloknya diacungkan.
Baiklah! serunya. Sekarang jurus yang pertama! Kamu sambut!
Segera golok berkelebat, kelihatannya seperti kekiri dan kekanan. Hong Hu telah
menggunakan jurus Liu-seng sian tian atau Bintang sapu menyambar, kilat berkelebat.
Serangan itu ditujukan kearah kedua lawannya.
In Lui menyender di lamping batu, ia bagaikan orang tak sadar akan dirinya, Tan Hong lihat
keadaan orang, dia menyerukan, Adik kecil, lekas keluarkan kepandaianmu!
Tan Hong tidak hanya berteriak, berbareng dengan kata-katanya itu, tubuhnya mencelat ke
depan In Lui, pedangnya digerakkan dalam gerakan Memotong Sungai. Dengan itu ia
tangkis serangan pertama dari Hong Hu.
Golok menyerang, pedang menangkis, maka itu, keduanya bentrok keras, suaranya
nyaring, tetapi golok Hong Hu benar-benar lihai, sekalipun ditangkis, sambarannnya tak
kehilangan sasarannya, masih ujung golok bergerak kearah In Lui.
Nona In sudah lantas menangkis, habis itu tubuhnya limbung, ia mundur dua tindak. Tidak
berhasil ia mencegah serangan Hong Hu itu. Coba Tan Hong tidak mendahului menangkis,
mungkin pedangnya terlepas dan terpental dari cekalannya.
Thio Hong Hu lihat ia berhasil, ia tertawa bekakakan.
Kiranya ilmu pedang kamu cuma sebegini! katanya dengan mengejek.
Hati-hati, kamu sambut golokku! Inilah jurusku yang kedua, namanya Pat hong hong ie,
yaitu Angin dan hujan di delapan penjuru! Kamu mesti menyambutnya dengan pedang
berbareng! Aku memberitahukan ini supaya jangan nanti kamu sesalkan aku!
In Lui tidak sadar akan adanya bahaya meskipun ia telah dihajar hingga sempoyongan dan
mundur, sepasang matanya yang tadinya hidup sekarang lenyap sinarnya.
Tan Hong lihat keadaan orang itu, ia segera membisiki, Adik kecil, meskipun kau
membenci aku, tapi sekarang mesti kita mundurkan dulu musuh ini! Kau boleh sayangi
jiwamu, agar di belakang hari dapat kau mencari balas terhadapku! Oh, adik tolol...
Adalah di saat itu, serangan yang kedua dari Hong Hu telah tiba, sinar golok itu
berkelebatan menyilaukan mata. Serangan itu ada jurus yang paling lihai dari ilmu silat
Ngo-houw toan-bun-to atau Lima ekor harimau mencegat pintu. Sudah tentu jurus ini
ada terlebih lihai daripada yang pertama.
Tergerak hati In Lui, tetapi air matanya segera mengembeng. Tapi sekarang ia tidak lagi
sedungu tadi. Ia angkat pedangnya, dengan putarkan itu, ia menangkis. Perbuatannya ini
diturutkan dengan gerakan serupa dari Thio Tan Hong. Maka itu, berangkaplah pedang
mereka masing-masing. Dan gagallah serangan Hong Hu yang kedua kali itu.
Bagus! seru komandan Kim-ie-wie itu, Benar-benar bagus cara kamu menangkis ini!
Sekarang sambutlah lagi yang ketiga!
Hong Hu maju satu tindak, golok Bian-too dimajukan, bukan sejurus, tapi kembali kekiri
dan kekanan, cepatnya luar biasa. Itupun ada jurus, Hun hoa hut liu yaitu Memisah
bunga, mengebut yangliu. Halus mulanya, keras akibatnya. Dengan cara ini, ia menyerang
sambil membela diri. Serangan juga disusul dengan tertawa nyaring dan panjang.

200

Peng-Cong Hiap-Eng
In Lui gerakkan tangannya, maka menyambarlah Ceng-beng-kiam diikut berbareng dengan
pedangnya Tan Hong, hingga kedua pedang kembali berangkap menjadi satu dengan apa
golok lawan dapat ditutup.
Kali ini barulah Thio Hong Hu terkejut, hatinya tercekat. Lekas-lekas ia tarik goloknya,
untuk dipakai melindungi diri. Ia telah kerahkan tenaganya, karena goloknya itu terjepit
keras. Ia berhasil juga menarik goloknya akan tetapi ia mesti mundur dengan limbung,
napasnya pun memburu.
Bagus, tak kecewa ia menjadi orang kosen nomor satu di kota raja, Tan Hong memuji di
dalam hatinya. Sementara itu ia telah memasang mata tajam. Hong Hu telah memasang
kuda-kuda Put-teng put-pat goloknya melintang di depan dada, kedua matanya dibuka
lebar-lebar, sinar matanya masih menunjukkan kagetnya tadi.
Tan Hong kerutkan alisnya, ia berpikir, Orang ini luas pengalamannya, sekarang ia ambil
sikap membela diri, dengan lagi satu jurus, belum tentu dia dapat dikalahkan..
Setelah memasang kuda-kudanya itu, tenang hatinya Thio Hong Hu.
Aku telah menyerang tiga kali, masih ada satu kali lagi! ia berseru dengan nyaring.
Habis itu, akan aku biarkan kamu berlalu terlebih dahulu! Kamu sudah siap? Bagus!
Sambutlah!
Thio Tan Hong melirik pada In Lui, kali ini ia tampak kedua matanya bersinar tajam. Itulah
sinar mata yang wajar, nyata keadaan si nona telah pulih kembali. Dengan sinar mata
demikian, In Lui tengah mengawasi musuh.
Menampak demikian, Tan Hong dapat harapan. Tiba-tiba saja ia berseru, terus ia maju
menyerang. Perbuatan ini dengan serentak diturut In Lui, hingga mereka jadi maju
berbareng, kedua pedang berkelebatan, ujungnya menikam.
Thio Hong Hu mendak, goloknya dilintangkan, dipakai menangkis kedua pedang lawan.
Habis itu, ia putar tubuhnya, goloknya tergerak pula, disusul dengan mencelatnya
tubuhnya.
Tan Hong tak sangka orang ada demikian sebat, di dalam hatinya, ia mengeluh,
Celaka....kalau ini gagal, dia lolos, dengan begitu lewatlah jurus keempat, kita mesti
mengaku kalah...
Maka itu, hendak ia lanjutkan serangannya. Untuk itu hendak ia menangkis dulu, baru ia
menikam.
Selagi Tan Hong memikir demikian, In Lui telah bekerja.
Sekonyong-konyong Hong Ju menjerit, disusul dengan rubuhnya tubuhnya.
In Lui telah berlaku sangat sebat, selagi pedang Tan Hong melayani golok lawan, ia
menyambar kaki orang, tepat ujung pedang itu mengenai sasarannya, maka bahna kaget
dan sakit, jago dari kota raja itu tak dapat injak tanah lagi.
Tan Hong terkejut karena herannya. Ia menduga, dengan mencelatnya Hong Hu, pedang In
Lui akan menemui tempat kosong seperti pedangnya sendiri.
Dengan lompatan Le hie ta teng atau Ikan gabus meletik Hong Hu mencelat bangun,
terus ia pandang kedua lawannya dengan menyeringai. Ia mengibas sebelah tangannya,
lalu ia berkata, Benar lihai sepasang pedang kamu! Sekarang kamu boleh pergi!
Khoan Tiong sudah mendampingi kawannya ini.
Toako, secara demikian mudah kau membebaskan mereka? ia menegur.
Ya, jawab Hong Hu. Kun-cu it gan, koay-ma it pian! Biarkan mereka pergi!
Khoan Tiong seperti menggerutu Kun-cu It gan, koay-ma it pian - Gentleman dengan
sepatah kata, kudan jempolan dengan satu cambukan, tapi ia berdiam tidak berani
mengucapkan kata-kata.
Mereka bukannya orang-orang Jalan Hitam! kata Hong Hu pula. Dengan melepaskan
mereka, kita tidak mendapat salah. Kenapa kita mesti serakahkan jasa semacam ini?
Merah wajah Khoan Tiong.
Oleh karena kau yang menanggung jawab, toako, kita tidak dapat berkata apa-apa lagi,
katanya.
Hong Hu segera berikan titahnya untuk memberi jalan kepada kedua anak muda itu.

201

Peng-Cong Hiap-Eng
Thio Tan Hong menghormat pada komandan Kim-ie-wie itu.
Dua kali kita telah bertempur, masih belum tahu aku she dan namamu, berkata Hong Hu,
sebenarnya kau datang darimana?
Tan Hong bersikap lesu, ia menguap.
Kau orang she Thio, aku juga orang she Thio, sahutnya, Thio kau tidak sama dengan
Thio aku, akan tetapi pada lima ratus tahun yang lalu kita berasal dari satu keluarga. Maka
itu, baiklah aku panggil kau toako. Toako, ia tambahkan, adikmu telah lelah sekali, disini
pun banyak orang dan berisik, tidak dapat aku tidur disini, karenanya, maafkan aku, tak
dapat kami temani kau lebih lama pula..
Wajah Khoan Tiong berubah pula menjadi merah, tidak demikian dengan Thio Hong Hu,
dengan sikap wajar, dia malah tertawa.
Kau jumawa, kau juga gagah, tidak kecewa aku mendapatkan saudara satu she sebagai
kau! ia kata. Bailah saudara, kau boleh pergi!
Tan Hong segera bersenandung.
Jikalau masih ada sifat orang kang-ouw, orang menjadi jenderal pun tidak kecewa... Air
biru, gunung hijau, di belakang hari nanti kita bertemu pula, saudara, aku pergi! ia
tambahkan. Terus ia tuntun tangan In Lui untuk diajak turun gunung dimana tidak ada satu
serdadu juga yang merintangi mereka.
Di sepanjang jalan, In Lui terus bungkam. Setelah melalui kira-kira tujuh lie, mereka
tinggalkan tentara negeri jauh sekali di belakang mereka. Di depan mereka terdapat jalan
simpang tiga, disitu Tan Hong menguap.
Adik kecil, mari kita cari tempat untuk beristirahat dulu, ia kata pada kawannya. Jalan
yang di tengah ini untuk ke kota Ceng-teng, yang di kiri untuk ke kota Loan-shia. Aku pikir,
baik kita menuju ke Ceng-teng saja.
In Lui kebutkan bajunya.
Kau ambil jalanmu, aku ambil jalanku! ia menyahut dengan dingin.
Tan Hong melengak.
Demikian rupa kau benci aku? dia tanya.
In Lui menyingkir dari pandangan orang, ia kerutkan alisnya.
Aku haturkan terima kasih yang kau telah menolong aku, si nona berkata pula, akan
tetapi permusuhan kita kedua keluarga, tidak ada jalan untuk memecahkannya!..Ah, siapa
surut engkong menutup mata siang-siang, coba ia masih hidup, mungkin aku dapat
menasehati supaya dia mengubah pikirannya...Sekarang sudah tidak dapat lagi...Pesan dari
leluhur, cara bagaimana turunannya dapat menentangnya? ....Ah, ini dia takdir...
Aku tidak percaya takdir! kata Tan Hong tegas.
Kalau kau tidak percaya, habis kau mau apa? si nona tanya. Baiklah kau boleh pergi!
Jikalau kau menuju ke timur, nanti aku menuju ke barat!
Wajah Tan Hong tampaknya muram.
Jikalau sudah pasti kau hendak menuntut balas, kenapa kau tidak lakukan itu sekarang
saja? dia tanya. Ia lesu sekali.
Merah mata In Lui, kakinya terus menindak. Ia berjalan dengan sangat cepat, tidak ia
menoleh.
XI
Walaupun ia berlari-lari, In Lui toh dengar helaan napas panjang di belakangnya, helaan
mana disusul dengan kata-kata, Melihat kau menyebabkan kau berduka, tidak melihat
kau, maka akulah yang bersusah hati....Ah, daripada kau yang berduka, baiklah aku
saja.... Adik kecil, baik-baiklah kau jaga dirimu. Kau pergi adik, kau pergi!
Nona in keras hati meskipun ia rasakan hatinya itu sakit. Ia masih dapat kuatkan hati,
untuk tidak menoleh. Akan tetapi, air matanya, tak dapat ditahan.
Dengan terbawa angin, In Lui masih dengar kata-kata orang, Saling melihat, tetapi tidak
seperti saling melihat, merasa cinta toh tidak merasa cinta.
Dalam usianya tujuh belas tahun, belum pernah In Lui memikir halnya kasih sayang antara
pemuda dan pemudi, mendengar itu, merah mukanya. Di dalam hatinya, ia jadi memikir,

202

Peng-Cong Hiap-Eng
Apakah benar aku telah terjerumus ke dalam jala cinta?
Lantas hatinya menjadi bimbang, mukanya merah sampai ke kupingnya. Ia lari terus,
setelah beberapa puluh tombak, baru ia berani berpaling ke belakang. Sekarang ini ia tidak
lihat sekalipun bayangan Thio Tan Hong!
Akhirnya tibalah In Lui di kota Ceng-teng, sebelum matahari terbenam. Ia langsung
mencari sebuah hotel besar dimana, dengan mengunci pintu rapat-rapat ia segera
rebahkan diri di atas pembaringan.
Tak tahu nona ini, berapa lama ia telah pulas, waktu ia sadar, ia dengar suara gembreng
diiringi dengan kata-kata nyaring, seperti orang tengah membentak-bentak, yang
mengetuk pintu setiap kamar untuk memberitahukan, Hotelku telah disewa seluruhnya
oleh pembesar negeri, menyesal sekali aku minta tuan meninggalkan hotelku ini untuk
mencari rumah penginapan. Tentang uang sewa, itu akan aku kembalikan. Inilah terpaksa,
harap tuan sudi memaafkannya.
Seperti sudah menjadi kebiasaan, satu kali sebuah hotel diborong oleh pembesar negeri,
penumpang-penumpang itu puas atau tidak, mereka harus pindah. Demikianlah tindakan
terpaksa dari pemilik hotel.
Kamar In Lui diketok paling belakang, ia sudah dandan, sudah siap sedia, begitu ia
membuka pintu, ia katakan pada jongos yang mengetoknya, Kau tidak usah menjelaskan
lagi, aku sudah tahu, sekarang aku pergi!
Maaf, kata jongos itu, yang terus mengawasi tetamunya, dari atas ke bawah, dari bawah
keatas.
In Lui heran atas dikap orang.
Apakah yang kau awasi? dia tanya.
Aku lihat tuan bukan penduduk sini, sahut jongos itu, maka itu, dalam keadaan begini
mungkin sulit bagi kau mencari lain rumah penginapan.
In Lui makin heran.
Apa? dia tegaskan. Kenapa jadi sulit?
Jongos itu menutup pintu.
Apakah tuan tahu kenapa pembesar negeri hendak pakai hotel kami ini? kata ia perlahan
sekali.
In Lui menggelengkan kepala.
Suara tadi sangat berisik, aku tidak dapat dengar nyata, ia kata.
Apa yang aku ketahui, inilah persiapan untuk melayani utusan dari Mongolia, terang
jongos itu, suaranya tetap perlahan. Sampai Sri Baginda menugaskan pasukan Gie-lim-kun
guna mengiringi utusan itu. Berhubung dengan itu, semua hotel di Ceng-teng, tengah hari
telah mendapat pemberitahuan bahwa kalau hotelnya menumpang tetamu yang dapat
menimbulkan kecurigaan, dia atau mereka itu mesti dilaporkan pada polisi. Maka itu, aku
kuatir dengan pindah ke lain hotel, tuan bisa menemui kesulitan yang memusingkan
kepala.
Mendengar itu, In lui tertawa.
Habis, cara bagaimana kau berani membiarkan aku tetap menumpang disini? katanya.
Apakah aku tidak mendatangkan kecurigaan itu?
Jongos itu berdiam, tiba-tiba ia ingat suatu apa.
Bukankah tuan she In? tanyanya.
In Lui tercekat. Waktu mendaftarkan nama, ia memakai she dan nama palsu. Ia heran
kenapa jongos itu ketahui she nya. Maka segera ia sambar tangan orang, yang nadinya
terus ia pegangi.
Kau siapa? dia tanya dengan bengis.
Jangan kuatir, tuan, sahut jongos itu, agaknya ia tidak takut. Kita ada orang sendiri.
Jikalau tuan tidak percaya padaku, aku mempunyai suatu barang yang tuan telah
tinggalkan disini, kalau tuan melihat itu, tuan akan segera ketahui duduknya hal.
In Lui tidak takut. Ia pikir, kalau toh mesti menggunakan kekerasan, jongos ini tidak akan
lolos dari tangannya. Karena itu ia lepaskan cekalannya, ia biarkan jongos itu pergi

203

Peng-Cong Hiap-Eng
mengambil barang yang dia sebutkan itu.
Jongos itu ngeloyor pergi, tidak lama kemudian kembalilah ia bersama kuasa hotel, siapa
memegang satu bungkusan kecil yang terbungkus oleh kain sutera, terus ia berikan kepada
tetamunya.
In Siangkong, inilah barang yang tetamuku tinggalkan untukmu, ia kata.
In Lui terima bungkusan itu, dengan hati-hati ia membukanya. Ia lantas lihat sepotong sanhu biru-hijau, yang mempunyai sembilan tangkai. Ia menjadi tercengang. Karena itulah
san-hu kepunyaannya sendiri yang ia berikan kepada Cio Cui Hong selaku tanda mata.
Apakah dia juga datang kemari? tanyanya. Dengan dia ia maksudkan dia wanita.
Apakah dia juga berdiam disini?
Nona Cio sampai disini kemarin, jawab kuasa hotel itu. Dia telah melukiskan jelas
padaku tentang roman dan potongan In Siangkong, dia minta kami memperhatikannya.
Sungguh kebetulan, benar-benar In Siangkong datang ke hotel kami!
In Lui berdiam. Ia segera ingat cintanya Cui Hong terhadapnya, yang nona itu tidak dapat
lupakan. Karena ini, ia jadi mengeluh sendirinya.
Baiklah aku menjelaskan, tuan, si kuasa hotel berkata pula Hotel kami ini adalah milik
partai Hay Yang Pang, dan usaha kita adalah dengan cara diam-diam melayani keperluan
orang kang-ouw yang menjadi kaum kita. Hong-thian-lui Cio Loocianpwee itu adalah
kenalan baik kami, dan Nona Cio datang kesusu kemarin malam, terus dia titipkan
barangnya ini. Nona itu juga memesan supaya kau besok pergi ke Ceng-liong-kiap, untuk
menantikan dia. Si nona pesan, bila Siangkong sampai disana, nanti ada orang yang
menyambut padamu untuk diantarkan.
In Lui manggut.
Habis, sekarang aku harus bermalam dimana? dia tanya.
Oleh karena siangkong ada orang kita sendiri, sahut si kuasa hotel, aku minta siangkong
suka serahkan kamar itu, untuk kami menggantinya dengan kamar kerjaku sendiri. Aku
harap siangkong suka memaafkan sikap kami ini.
Tetapi In Lui menunjukkan kegirangannya.
Bagus, bagus! katanya. Sekalian aku hendak tengok macamnya utusan dari Mongolia
itu, bagaimana keangkerannya hingga ia mesti dilayani secara begini!
Maka malam itu, habis bersantap, In Lui berpura-pura tidur. Dengan begitu, ia jadi dapat
beristirahat.
Segera juga terdengar tindakan kaki-kaki kuda dan suara bengernya, pun suara manusia
terdengar riuh menjadi satu. Dan hamba-hamba hotel lantas berlari-lari keluar untuk
mengadakan penyambutan.
In Lui tidak berani munculkan diri, maka itu ia cuma mengintai dari sela-sela pintu.
Segera juga tampak empat perwira mengantarkan delapan orang Mongolia memasuki hotel,
yang berjalan di tengah, diiringi di kedua sampingnya. Dengan segera In Lui kenali orang
yang jalan di tengah-tengah, yang istimewa menarik perhatiannya. Dia adalah si pangeran
asing yang pernah bertempur dengannya ketika terjadi penyerbuan kepada Ciu Kian.
Hotel itu adalah yang terbesar di kota Ceng-teng, banyak kamarnya, keempat perwira Gielim-kun memeriksa semua kamar, habis itu mereka tanya kuasa hotel, Apakah disini tak
ada orang lain lagi?
Paduka tuan telah sudi pakai hotel kita, mana kita berani menerima lain penumpang,
kuasa itu menjawab dengan hormat.
Tadinya masih hendak dilakukan pemeriksaan ke dalam, tempat keluarga kuasa hotel dan
orang-orangnya, tetapi si pangeran asing mencegah.
Tak usah tong-nia demikian teliti, katanya sambil tertawa, Walaupun Tionggoan besar,
mungkin belum ada orang yang berani menjadi lawan kami! Atau andaikata ada juga yang
berani, dia tentunya ingin mencari mampusnya sendiri, untuk itu tak usah tongnia beramai
turun tangan, cukup asal kamu bertanggung jawab atas penguburan mereka itu!
Benar, benar! memuji keempat perwira Gie-lim-kun itu. Memang orang-orang gagah
dari negeri Tuan, semua tak ada tandingannya di kolong langit ini. Adalah kami yang terlalu

204

Peng-Cong Hiap-Eng
berhati-hati.
Mendongkol In Lui mendengar perkataan orang itu.
Sebentar akan aku berikan kamu pengertian apa yang dinamakan lihai! pikirnya. Ia
anggap orang menghina diri sendiri, sedang disini ada soal kebangsaan.
Sebentar kemudian, selesai sudah utusan itu mengambil kamar, lalu dua orang Mongolia
serta dua perwira Gie-lim-kun ditugaskan bergantian berjaga malam.
In Lui tunggu saatnya, untuk salin ya-heng-ie, pakaian untuk keluar malam, begitu lekas ia
dengar suara kentongan tiga kali, dengan hati-hati ia keluar dari kamarnya, untuk
mendekam dulu di ujung payon. Tapi ia siap sedia dengan senjata rahasianya, Bwee-hoa
Ouw-tiap-piauw (Kupu-kupu yang bermain diantara bunga-bunga Bwee). Ia tunggu waktu,
bila kedua cinteng Mongolia itu membalik belakang terhadapnya, hendak ia serang mereka
itu.
Tiba-tiba diatas wuwungan berkelebat satu bayangan putih. In Lui lihat itu, ia terkejut.
Sekejap saja ia lihat berkelebatnya satu tubuh manusia, orang itu memakai topeng,
bajunya putih dan panjang, maka di dalam gelap tampak tegas warna putih dari
pakaiannya itu. Segera juga hati In Lui berdenyut. Sekelebatan ia ingat kejadian pada
malam itu, waktu Thio Tan Hong nyelundup masuk ke Cio-kee-chung. Karena ini, ia lantas
goyangkan tangannya, untuk memberi tanda.
Orang bertopeng itu membalikkan tubuhnya, ia rupanya melihat tanda yang diberikan,
malah ia membalas menggerakkan kedua tangannya, menunjuk ke arah luar, maksudnya
menyuruh si nona lekas berlalu.
Belum sempat In Lui berpikir, untuk mengambil keputusan, ia tampak orang itu sudah
lompat turun, menyusul mana ia dengar dua jeritan dari kesakitan. Sebab dengan
kesebatannya, orang bertopeng itu sudah menyerang dan membinasakan kedua pahlawan
itu.
Itulah serangan Kim-kong-ciu yang lihai! memuji In Lui, kagum, Belum pernah aku
tampak Tan Hong menggunakan semacam pukulanApakah dia adanya atau lain orang?
Tengah si nona berpikir, dari dalam telah lompat keluar kedua cinteng Gie-lim-kun, tetapi
kembali dengan kesebatannya, bukan ia menyingkir, si orang bertopeng justeru menerjang,
ketika kedua tangannya bergerak, tidak ampun lagi ia menotok urat lemah di pinggangnya.
Itulah perwira Gie-lim-kun yang di sebelah kiri, tetapi yang di sebelah kanan,
kepandaiannya tidak selemah kawannya, dengan gerakan Cui hui pie pe atau Tangan
mementil pie-pee dapat ia egoskan diri dari bahaya.
Si orang bertopeng segera berseru, Kenapa anak cucunya Oey Tee mesti jual jiwa untuk
bangsa Tartar?
Suara itu perlahan, In Lui tidak dapat mendengar dengan nyata. Ia hanya heran kenapa
dari pukulan kematian, orang itu mengubahnya dengan totokan jalan darah, hingga orang
Gie-lim-kun itu tidak dibinasakan.
Tidak lama mereka itu bertempur, lantas perwira Gie-lim-kun itu mundur, atas mana si
orang bertopeng lompat ke dalam, ke arah kamar dari si pangeran asing.
Belum sampai orang itu di muka pintu, dengan tiba-tiba daun pintu terpentang lebar,
disusul dengan suara tertawa yang nyaring, dan munculnya satu bayangan, gerakan tubuh
bayangan itu mendatangkan siuran angin.
Mau atau tidak, si orang bertopeng mundur tiga tindak.
In Lui tidak pergi ketika diberi tanda oleh si orang bertopeng, ia diam di tempatnya
mendekam, dari situ ia dapat lihat siapa adanya orang yang keluar dari dalam kamar itu,
ialah Tantai Mie Ming.
Jago Mongolia itu telah memasuki Tionggoan, entah dengan cara bagaimana, sekarang ia
menemani si pangeran asing yang menjadi utusan itu.
Segera In Lui lihat, setelah mundur, si orang bertopeng maju pula, dia menyerang.
Tantai Mie Ming gerakkan tangannya berikut tubuhnya, atas mana si orang bertopeng rubuh
terjungkal, jumpalitan, tapi sekejap saja, ia sudah berdiri pula.
Kaget sekali In Lui, hingga ia berteriak, Lekas menyingkir! sedang tiga batang senjata

205

Peng-Cong Hiap-Eng
rahasianya dengan saling susul ditimpukkan kepada Tantai Mie Ming. Ia tujukan ke atas,
untuk membuatnya orang repot.
Tantai Mie Ming kibaskan kedua tangannya, belum lagi senjata rahasia tiba pada tubuhnya,
tiga-tiganya suah jatuh ke lantai.
Selagi jago asing itu menangkis piauw, si orang bertopeng sudah maju pula dengan
serangan kedua tangannya. Masih sempat Tantai Mie Ming menangkis, juga dengan kedua
tangannya, maka itu keempat tangan jadi beradu dengan suara keras hingga terbit suara
nyaring. Sebagai akibatnya, si orang bertopeng mundur dengan tubuh limbung, tapi tidak
sampai rubuh.
Bagus! seru Tantai Mie Ming. Siapa sanggup lawan tanganku, dia terhitung satu hoohan
juga!
Setelah kegagalannya ini, si orang bertopeng lari keluar, berniat lompat naik ke atas
genteng.
Perwira Gie-lim-kun yang tadi menyaksikan jalannya pertempuran, ketika ia lihat orang
hendak lari, dengan mendadak ia membokong dengan joan-piannya, cambuk yang lemas.
In Lui saksikan perbuatan orang itu, ia menjadi gusar, serta merta tangannya terayun,
sebatang piauwnya terbang menyambar.
Perwira itu tidak sepandai Tantai Mie Ming, lengannya terkena piauw, tak ampun lagi, ia
rubuh dengan tak sadarkan diri, cambuknya turut jatuh.
Pada saat itu si orang bertopeng pun sudah naik ke atas tembok, darimana ia lompat terus
ke atas genteng.
Terima kasih! ia mengucap dengan perlahan kepada nona kita, ia tidak berhenti lari atau
menghampiri, ia berlalu terus dengan cepat sekali.
Karena In Lui tercengang menyaksikan kelakuan orang itu, ia hanya melihat bagian
belakangnya saja. Ia jadi berpikir. Mendengar suaranya dan melihat punggungnya, seolaholah ia pernah kenal orang itu, orang itu tak mirip dengan Thio Tan Hong.
Sedang ia diam berpikir, beberapa pahlawan Mongolia serta anggota-anggota Gie-lim-kun
tampak mendatangi, malah Tantai Mie Ming menjurus ke arah tempatnya sembunyi, hingga
ia menjadi terkejut. Lebih-lebih ketika Mie Ming, sambil memandang ke arahnya,
perdengarkan tertawanya.
Mana si orang jahat? pahlawan-pahlawan itu saling menanya.
Sekonyong-konyong Tantai Mie Ming putar tubuhnya dan ia melepaskan panah ke lain arah
daripada In Lui, habis mana ia kata, Orang-orang jahat banyak jumlahnya, diantara kamu,
dua orang melindungi ong-ya, yang lainnya semua turut aku!
Inilah diluar sangkaan In Lui, maka ia menjadi heran atas sikap Tantai Mie Ming. Bukankah
Mie Ming telah dapat mencari ia? Kenapa dia justeru mengajak rombongannya pergi ke lain
jurusan? Sungguh ia tidak mengerti.
Setelah orang-orang pergi, In Lui turun dari tempatnya sembunyi, dengan matanya yang
awas ia segera tampak jongos hotel, yang menyembunyikan dia di pojok yang gelap,
melambaikan tangannya. Ia lantas menghampiri.
Mari turut aku! kata jongos itu. Selagi keadaan kalut, kita mesti menyingkir.
In Lui ikut dengan tidak banyak omong. Ia percaya jongos itu. Untung bagi mereka, mereka
tidak menemui siapa juga.
Ketika itu pintu kota masih belum ditutup, si jongos mengajak tetamunya sampai di suatu
tanjakan di luar kota.
Sebentar jam lima, ada orang yang akan menjemput siangkong, kata jongos itu lega.
In Lui keluarkan napas.
Sungguh berbahaya! ia kata.
Dalam cahaya rembulan dan bintang-bintang yang samar-samar, si nona tampak wajah si
jongos berseri-seri. Dia pun berkata, Nona Cio memesan supaya siangkong ingat untuk
membawa sanhu. Apakah siangkong telah sediakan itu?
In Lui menjadi masgul, ruwet pikirannya. Baru tenang satu gelombang, sudah dating
gelombang yang lain.

206

Peng-Cong Hiap-Eng
Aku tahu sudah, katanya dengan terpaksa.
Menampak wajah si pemuda berubah, jongos itu tidak berani tertawa lagi.
Berselang kira-kira setengah jam, dua ekor kuda tampak mendatangi, yang satu ada
penunggangnya, yang lain kosong. Setelah penunggang kuda itu datang dekat, ia kenali
orang itu adalah Cek Po Ciang.
Hwee-sin-tan Cek Po Ciang ini sangat membenci Thio Tan Hong, terhadap In Lui ia juga
tidak berkesan terlalu baik, akan tetapi bertemu kali ini, ia girang juga, maka sambil
memberi hormat, ia kata, Kau juga dapat lolos? Bagaimana dengan si bangsat berkuda
putih itu? Bukankah itu hari dialah yang datang membawa pasukan negeri?
Orang she Cek itu tetap menyangka Tan Hong mencelakai mereka.
In Lui menyahut dengan dingin sekali, Dia justeru mengorbankan segala apa untuk
menolongi Pit Loo-enghiong! Apakah Pit Loo-enghiong tidak menceritakannya padamu?
Adakah itu benar? ia menegaskan. Aku belum bertemu dengan Pit Loo-enghiong. Cuma
Nona Cio yang menyuruh aku menyambut kau, supaya dengnan menunggang kuda kita
mencari dia.
Tanpa menjawab kata-kata orang, In Lui menanya.
Dimana adanya Pit Loo-enghiong sekarang? demikian pertanyaannya.
Menurut nona Cio, setelah Pit Loo-enghiong lolos dari bahaya, dia bernaung di tempat Na
Thian Sek di Im-ma-coan. Tempat itu terpisah dari sini kira-kira sepuluh lie. Ah, cahaya
terang sudah mendatangi, kita mesti lekas berangkat!
Po Ciang lantas serahkan kuda yang kosong, ia silahkan In Lui menaikinya, sesudah mana ia
jalan di sebelah depan sebagai pengantar.. Mereka kaburkan kuda mereka dan pada waktu
fajar sampailah mereka di sebuah lembah.
Inilah selat Ceng-liong-kiap, Cek Po Ciang memberitahukan. Terus ia bersuit tiga kali
beruntun.
Itulah nona Cio sedang mendatangi, kata Po Ciang. Pergi kau masuk ke lembah untuk
papaki dia. Aku sendiri masih hendak pergi kepada Pit Loo-enghiong.
In Lui menurut, ia turun dari kudanya, ia lantas bertindak ke dalam lembah. Belum jauh ia
jalan atau dari satu tikungan ia tampak munculnya satu orang, ialah Cio Cui Hong.
Nona itu mendatangi sambil berlari-lari, air matanya bercucuran, ia lompat menubruk, ia
merangkul dengan keras.
Ah, akhirnya kita bertemu pula serunya.
In Lui pegangin orang, untuk diajak duduk.
Kau telah janjikan aku untuk bertemu dengan kau, katanya tertawa, tentunya itu
bukan untuk bicara tentang cinta.
Cui Hong cemberut, matanya melotot, tapi ia seka air matanya.
Thian telah melindungi hingga kita telah bertemu pula, katanya dengan perasaan
bersyukur, akan tetapi engko Ciu.engko Ciu
In Lui terkejut.
Engko Ciu kenapa? dia Tanya.
Aku berkesan keliru terhadap kakak angkatmu itu, dia sebenarnya orang baik hati Cui
Hong jawab.
Katakan lekas, engko Ciu kenapa? tegas In Lui tanpa perdulikan pengutaraan orang.
Ketika itu hari kau rubuh dari kuda hingga kau kena terkurung, sahut Cui Hong dengan
ceritanya, kami telah kembali dengan niat menolongi kau. Tapi kami telah dipotong
musuh. Belakangan muncul Thio Hong Hu. Dia gagal mengejar Pit Loo-enghiong, dia
rintangi aku dan Ciu Toako. Kami berdua bukan tandingan dari Hong Hu, baru belasan
jurus, aku telah kena tersampok belakang goloknya hingga aku rubuh dari kudaku, pada
saat itu hampir aku kena dibekuk musuh, Ciu Toako telah berlaku mati-matian menolongi
aku. Ia lompat turun dari kudanya, dengan menerjang bahaya terinjak-injak kaki kuda, ia
sambar paha Thio Hong Hu, ia gigit. Karena ini, Thio Hong Hu mengemplang dengan
goloknya, hingga ia pingsan, habis itu, dia naik ke kudanya untuk lari pergi, mungkin untuk
mengobati lukanya, hingga kau tidak dikejarnya terlebih jauh.

207

Peng-Cong Hiap-Eng
Diantara In Lui dan Ciu San Bin ada perasaan yang tidak menyenangkan mereka, akan
tetapi meskipun demikian, mereka menyayangi satu pada lain bagaikan saudara sendiri,
maka itu, mendengar keadaan San Bin itu, In Lui kaget dan kuatir.
Kalau begitu, perlu kita lekas pergi menolong! katanya.
Aku minta kau datang kemari justeru untuk mencari daya buat menolongi dia, kata Cui
Hong. Dengar dulu perkataanku. Masih ada satu hal yang aneh sekali. Setelah hari itu aku
lolos dari bahaya, lalu kemarin dulu aku bermalam di kecamatan Kee-koan. Disitu, pada
waktu tengah malam, aku dibikin sadar karena kaget oleh seorang yang bertopeng, yang
memancing aku pergi ke luar kota. Turut penglihatanku ilmu silat dia itu ada terlebih lihai
daripada aku, tetapi dia tidak mencelakai aku. Setibanya di luar kota, dia lanta tinggalkan
aku pergi. Perbuatannya itu membuat aku menjadi heran dan berpikir. Baru besok siang,
aku mengerti perbuatannya si orang bertopeng itu. Kiranya malam itu, polisi di kota Keekoan telah dikerahkan tenaganya untuk melakukan penggeledahan umum. Hotel-hotel
diperiksa teliti, mereka yang berlalu lintas juga ditanyai melit-melit. Menurut kabar,
tindakan itu diambil untuk persiapan menyambut seorang besar, untuk menjaga keamanan.
Terang sudah, si orang bertopent itu memancing aku keluar kota karena ia telah
mengetahui terlebih dahulu tentang akan dilakukannya penggeledahan itu. Dan tentu
sekali, dia bermaksud baik.
In Lui menjadi heran sekali.
Orang bertopeng.orang bertopeng? katanya tak tegas. Bagaimana tentang potongan
tubuhnya, dia mirip atau tidak dengan orang yang telah nyelusup masuk ke rumahmu
dahulu, yaitu si mahasiswa berkuda putih?
Di waktu malam gelap seperti itu, aku tidak dapat melihat dengan nyata, sahut Cui
Hong. Lain dari itu, aku juga tidak memikir tentang mahasiswa berkuda putih itu.
Karenanya, tak dapat aku berkata suatu apa.
Dengan sendirinya, wajah In Lui menjadi bersemu dadu.
Aku tahu siapa si orang besar yang hendak disambut di Kee-koan itu, ia beritahu.
Mereka adalah utusan bangsa Mongolia serta sekalian pengiringnya. Oleh karena Kee-koan
ada sebuah kota besar, rupanya dipandang perlu untuk melakukan penggeledahan umum
itu.
Cui Hong heran.
Bagaimana kau ketahui itu? tanyanya.
Tadi malam aku juga telah melihat orang yang bertopeng itu, jawab In Lui. Tentang ini,
belakangan saja kita perbincangkan pula. Baiklah kau bicara terlebih dahulu, tentang
kau.
Cui Hong menurut.
Kemarin malam aku telah bertemu dengan satu sahabat dari ayahku, ia bercerita. Dari
sahabat itu, aku dapat tahu Pit Loo-enghiong sudah lolos dari ancaman marah bahaya.
Lantas aku cari Pit Loo-enghiong itu. Tidak tahunya, Pit Loo-enghiong juga telah bertemu
dengan si orang bertopeng dan si orang bertopeng itu telah menitipkan sepucuk surat
padanya. Pit Loo-enghiong berkata, si orang bertopeng mirip seperti Thio Tan Hong yang
kedua. Kemudian Pit Loo-enghiong tiba di rumah keluarga Na, disana pun si orang
bertopeng telah meninggalkan suratnya. Oleh karena ia baru saja terlepas dari bahaya, Pit
Loo-enghiong tidak berniat untuk mencari tahu tentang orang bertopeng itu.
Bagaimana bunyi surat si orang bertopeng itu? Tanya In Lui.
Surat itu mengatakan bahwa si orang bertopeng ketahui rombongan utusan bangsa Watzu
itu pergi ke Pakkhia, yang menjadi pemimpin adalah satu pangeran. Dia menduga bangsa
Watzu hendak mengajukan suatu permintaan. Benar perhubungan antara Kerajaan Beng
dan negara Watzu telah menjadi buruk, tetapi kaisar Beng berniat memperbaiki itu, maka
juga terhadap utusan Watzu itu, ia menyambutnya dengan gembira, dalam hal tindakan
memberi perlindungan ia sangat berhati-hati. Surat itu juga mengatakan, si orang
bertopeng ketahui Ciu Toako berada di tangan tentara negeri. Untuk menolong Ciu Toako,
dia usulkan supaya kita berkumpul, supaya kita cegat rombongan utusan bangsa Watzu itu,

208

Peng-Cong Hiap-Eng
untuk menawan si pangeran juga. Dengan tindakan kita ini, jikalau kita berhasil, kesatu
kita dapat menolongi Ciu Toako, dan kedua pemerintah juga tak usah dengan tundukkan
kepala memohon perdamaian dari bangsa asing itu. Lebih jauh surat itu menunjuk, selat
Ceng Liong Kiap bagus letaknya, berbahaya, maka ia anggap, disini dapat kita umpetkan
diri, untuk mencegat rombongan utusan itu. Si orang bertopeng berjanji, pada saat
pencegatan mungkin dia bias datang untuk memberikan bantuannya.
Bagaimana pikiran Pit Loo-enghiong? In Lui tanya pula.
Ketika Pit Loo-enghiong ketahui Ciu Toako tertawan musuh, ia kaget dan kuatir bukan
main. Ia tahu, tidak ada waktu lagi untuk mengirim panah lok-lim-cian, sebab air yang
jauh tidak dapat dipakai menolong kebakaran yang dekat, maka itu ia setuju akan daya
yang disarankan si orang bertopeng, tidak perduli tindakan ini sangat berbahaya. Baiklah
kita mencobanya. Karena itu Pit Loo-enghiong minta kita bergantian memasang mata
disini, untuk menunggu ia datang bersama kawan-kawannya.
In Lui berpikir, hingga tak dapat ia bicara. Ia tahu Tantai Mie Ming gagah luar biasa,
sungguh sulit merampas orang dibawah perlindungan dia. Selagi ia masih berpikir, si nona
tegur padanya.
Apakah jongos hotel telah menyerahkan sanhu padamu? demikian tanyanya.
Ya, sudah, jawab In Lui.
Justeru sekarang masih ada tempo, ingin aku tanya kau suatu hal, kata pula Nona Cio.
Apakah itu? In Lui balik menanya.
Cui Hong mengawasi.
Sepanjang jalan ini, bagaimana sikapmu terhadapku kau tahu sendiri, ia kata.
Meskipun kita ada suami-isteri, yang benar adalah tak pernah kau perlakukan aku sebagai
isterimu bukan?
Ah, mengapa di waktu begini kau menanyakan urusan itu? Tanya In Lui, romannya tidak
wajar, agaknya dia bingung.
Sudah sekian hari hatiku pepat, Cui Hong akui. Aku adalah seorang dengan perangai
terburu napsu, maka urusan ini tidak bias aku tidak menanyakannya dengan jelas.
In Lui kewalahan.
Ketika itu matahari sudah mulai muncul, maka dapat dipercaya, perutusan Watzu akan
segera tiba di selat. Karena ini, In Lui jadi bertambah tidak bernapsu akan bicara tentang
perhubungan mereka sebagai suami-isteri. Tiba-tiba ia tertawa, kedua biji matanya pun
berputar.
Encie Hong! katanya riang gembira, aku mengerti maksudmu. Kau suruh si jongos
menyampaikan sanhu padaku ialah agar. Ia berhenti, agaknya ia tengah berpikir.
Cui Hong memotong, Ialah untuk menanyakan pikiranmu. Umpama kata kau tidak suka
padaku, sanhu itu kau simpan, untuk diserahkan pada lain orang. Seandainya kau
In Lui pun memotong.
Encie Hong, sanhu ini adalah kepunyaanku untuk kau, selaku pesalin, cara bagaimana itu
dapat diserahkan kepada lain orang? Sekarang, dengan tanganku sendiri, aku serahkan pula
padamu.
Cui Hong terhibur, ia menerima batu permata itu.
Tiba-tiba saja In Lui berkata secara sembarangan, Ah, Ciu Toako benar-benar seorang
yang baik.bukankah aku tidak mendustai kau?
Cui Hong tercengang, lekas ia tunduk, hingga ia tampak pada sanhu itu, di lembaran bunga
yang ketiga ukiran huruf Ciu. Lantas saja wajahnya berubah.
Tadinya nona Cio ini hendak bicara, segera ia tercegah oleh berisiknya suara serombongan
kuda dan orang yang mendatangi di luar selat, yang terus memasuki selat itu.
Dengan lantas In Lui dan Cui Hong sembunyikan diri diantara batu besar yang berdiri tegak
bagaikan rebung, dari situ mereka tampak serombongan kecil barisan serdadu sebagai
pembuka jalan. Disana terlihat si pangeran Mongolia berjalan dengan merendengkan
kudanya bersama Tantai Mie Ming.
Celaka, mereka telah tiba! berbisik Cui Hong pada In Lui, agaknya ia terkejut.

209

Peng-Cong Hiap-Eng
Pit To Hoan sendiri masih belum datang.
Si pangeran mainkan cambuknya, diatas kudanya itu, ia tampak bangga atas dirinya
sendiri.
Selagi rombongan itu berjalan terus, tiba-tiba terdengar orang menyanyikan satu lagu
rakyat Mongolia, si penyanyi tengah mendatangi dari arah depan, memapaki rombongan
itu.
Aku adalah garuda dari tanah datar berumput
Sayapku terbuka membiak angin dan mega
Di waktu pagi, aku terbang ke sungai Onan
Di waktu malam, aku menginap di kota Karim
Tiga bulan telah aku terbang,
Tak dapat aku bebas dari tangan Khan terbesar!
Itulah nyanyian rakyat Mongolia yang memuji Khan mereka yang terbesar, yaitu Genghis
Khan. Mendengar itu, si pangeran jadi gembira bukan main. Tidak ia sangka, di tempat
asing ini, dapat ia menemui bangsanya sendiri dan mendengar nyanyian yang paling
dibanggakan. Maka segera ia tahan kudanya, ia lompat turun.
Untuk membangun pula kebesaran Khan Terbesar, itu harus dilihat dari kita! kata ia pada
Tantai Mie Ming. Kemudian ia berikah titahnya, Coba panggil orang Mongolia itu.
Masih orang itu bernyanyi pula.
Tangan Khan Terbesar menangkrap bumi
Dimasa hidunya dia sangat kenamaan
Tetapi dia toh mati dan kembali ke tanah
Luas tanahnya tak lebih daripada satu kuburan
Lagu ini dinyanyikan dalam bahasa Mongolia, akan tetapi itu bukannya nyanyian rakyat
Mongolia seperti yang pertama itu. Inilah lagu karya si penyanyi sendiri.
Mendengar itu, pucat muka si pangeran.
Sementara itu si penyanyi telah datang dekat.
Apakah kau datang dari Mongolia? Tanya pangeran ini. Lagumu yang belakangan itu
belum pernah aku mendengarnya. Dari mana kau dapat nyanyian itu?
Penyanyi itu memakai karpus Mongolia, yang pinggirannya terbuat dari kulit kambing
hingga menutupi mukanya dan yang tampak hanya sepasang matanya yang tajam.
Pakaiannya pun pakaian rakyat Mongolia, hanya dipakainya di tanah daerah Tionggoan
hingga nampaknya asing dan menyolok mata sekali. Tapi ditanya demikian, ia menjura.
Itulah lagi yang istimewa yang kubuat untuk kau mendengarnya, demikian jawabannya.
Lalu habis berkata begitu, sebelah tangannya bergerak bagaikan kilat, menyambar lengan
bawah dari si pangeran, bagian nadinya.
Tantai Mie Ming telah siap sedia untuk segala kejadian, dia sangat teliti dan cerdik, dia
mempunyai mata yang tajam sekali, begitu ia tampak orang bergerak, begitu dia bergerak
juga dengan sikutnya.
Si penyanyi itu rubuh sambil menarik si pangeran, sampai setelah jatuh bersama, masih ia
tidak hendak melepaskannya.
Tantai Mie Ming bergerak pula, pesat bagaikan angin, menendang, tangan kanannya
menyambar.
Si penyanyi menggulingkan tubuhnya, untuk mengegoskan diri dari dua serangan
berbareng, akan tetapi dia kalah sebat, tangan Mie Ming telah menyambar lehernya.
Si pangeran sendiri juga lihai, dengan gunakan ketika yang baik itu, ia menyerang dengan
tangan kirinya yang bebas dari cekalan, sedang dengkulnya dipakai mendengkul perut
orang.
Diserang secara demikian, terpaksa si penyanyi lepaskan cekalannya, dia lompat, justeru
untuk menyambut kepalan Mie Ming, yang telah menyerang pula padanya. Ia berhasil
loloskan lehernya dari jambakan. Waktu lompat dan menginjak tanah, tubuhnya limbung,

210

Peng-Cong Hiap-Eng
akan tetapi atas desakan, ia melawan terus hingga dua tiga gebrak. Nyata ia pandai ilmu
silat Mongolia, ilmu Tay-lek Kim-kong-ciu!
In Lui kaget dan heran tidak terkira.
Dialah si orang bertopeng! serunya. Ia tidak lihat tegas roman orang, tapi ia seperti
mengenalnya, cuma tak ingat ia, siapa orang itu dan dimana mereka pernah bertemu.
Tantai Mie Ming bergerak lincah bagaikan kera, kepalannya menyambar-nyambar bagaikan
tubrukan harimau, dengan cara itu dia membuat si penyanyi tidak dikenal itu mesti
senantiasa mundur dengan terpaksa. Cuma kepalannya perdengarkan suara angin tak kalah
hebatnya, tak kalah berbahayanya, walaupun ia main mundur ilmu silatnya tidak menjadi
kacau.
In Lui menjadi gelisah memikirkan orang yang tak dikenal ini.
Dia tak mirip dengan Thio Tan Hong.. katanya dalam hatinya. Dia dapat melayani Tantai
Mie Ming secara begini gigih, kepandaiannya tidak ada dibawah Tan Hong.
Juga aneh, si nona berpikir terlebih jauh. Bukankah kemarin malam Tantai Mie Ming
seperti memberi ketika untuk dia menyingkirkan diri, tapi kenapa sekarang Mie Ming
membela mati-matian pangeran Mongolia itu? Sungguh aneh.
Setelah dia menang diatas angin, Tantai Mie Ming lanjutkan terus desakannya.
Pahlawan-pahlawan Mongolia ketahui baik lihainya Mie Ming dan sifatnya juga, tak sudi Mie
Ming dibantu, maka itu, mereka tonton pertempuran itu. Tidak demikian dengan dua
anggota Gie-lim-kun, mereka ini hendak mencari muka, dengan lantas mereka maju dari
kiri dan kanan, untuk menyerang secara curang.
Dengan sekonyong-konyong Tantai Mie Ming berhenti menyerang.
Minggir! dia berseru.
Akan tetapi selagi jago Mongolia ini membentak, si penyanyi dengan tidak menyia-nyiakan
sedetik juga ketikanya yang baik itu, sudah bergerak pula dengan ilmu silat Tay-lek Kimkong-ciu. Maka sekejap saja, kedua serdadu Gie-lim-kun itu kena disambar, untuk terus
dilemparkan ke lembah.
Habis itu, tak menunda pula, penyanyi ini kembali maju, untuk tempur Tantai Mie Ming. Ia
tidak menjadi jerih walaupun tadi ia kena didesak hebat lawannya yang tangguh itu.
Setelah beberapa jurus, Tantai Mie Ming berseru dengna nyaring sekali, seruan itu
dibarengi dengan gerakan tangannya.
Dengan telak si penyanyi kena dihajar pundaknya, atas itu, dia rubuh terguling, mental
sampai sejauh satu tombak, ketika ia lompat bangun pula, tubuhnya limbung dan
terhuyung.
Tantai Mie Ming tidak maju pula untuk meneruskan serangannya, dia cuma tertawa riang.
Adalah beberapa pahlawan Mongolia lainnya, yang maju dengna berbareng untuk
mencekuk si penyanyi itu.
Adalah di saat itu, mendadak terdengar suara sangat riuh, dari muncul dan merangsaknya
serombongan orang, hingga pasukan depan si pangeran menjadi kacau dengan lantas.
Itulah rombongan Pit To Hoan yang telah datang dengan tepat adan membuat tentara
negeri tak dapat merintangi mereka.
Tantai Mie Ming lompat maju, segera ia cegat Pit To Hoan, hingga mereka jadi bertempur
satu sama lain. Dengan tipu silat Mega melintang, memotong puncak gunung jago
Mongolia ini menurunkan tangan jahat.
Pit To Hoan, yang bersenjatakan tongkat Hang-liong-kun, membebaskan diri, habis mana,
ia pun membalas dengan menotok jalan darah ciang-bun-hiat, mengarah kedua mata
lawannya.
Gelaran Cin-sam-kay tersohor selama beberapa puluh tahun karena lihai ilmu silat
tongkatnya.
Bagus! berseru Tantai Mie Ming. Dengan gerakan tubuhnya, ia membuat tongkat To Hoan
kehilangan sasarannya. Malah sebaliknya, hampir Cin-sam-kay kena dijambret, syukur dia
keburu tancap kaki dengan ilmu Cin-kin-twie, Berat seribu kati, berbareng dengan
mana, tongkatnya menyambar pula.

211

Peng-Cong Hiap-Eng
Mau atau tidak, Mie Ming terkejut juga.
Selagi keadaan kacau itu, si penyanyi dapat melabrak pengepungnya, hingga beberapa
orang kena dirubuhkan, hingga ia mendapat ketika untuk lolos dari kepungan.
In Lui kerutkan alis, ia sangat tidak mengerti. Penyanyi itu demikian bernyali besar, sorang
diri dia serang si pangeran, tapi sekarang, justeru datang bala bantuan, mengapa dia
singkirkan diri. Dan kaburnya pun sangat cepat seperti angin menuju kearah ia.
In Lui tak dapat menahan lagi hatinya, dia lompat keluar dari tempatnya sembunyi.
Kau siapa? ia menegur selagi ia papaki penyanyi itu.
Orang itu tidak membuka mulutnya, dia justeru menyahuti dengan atu kepalannya.
Dalam herannya, In Lui berkelit, sesudah mana, ia hunus pedangnya.
Tidak membantu kawan, itulah perbuatan tidak cerdik! kata In Lui. Mari kita maju
untuk membasmi musuh!
Melihat In Lui menghunus Ceng-beng-kiam yang tajam luas biasa, si penyanyi juga cabut
goloknya, dengan sepasang mata mencorong, ia terus saja membacok.
Kembali In Lui menjadi heran, akan tetapi ia menangkis.
Habis menyerang, si penyanyi memutar tubuhnya, untuk lari.
Cui Hong juga lompat keluar.
Sungguh seorang aneh! katanya.
In Lui memandang ke kalangan pertempuran.
Baik kita jangan memperhatikan dia, kata nona In. Mari kita bantui Pit Loo-enghiong!
Waktu itu Tantai Mie Ming dan Pit To Hoan bertarung seru selama beberapa puluh jurus,
bedanya adalah Mie Ming bertangan kosong, To Hoan bersenjatakan toya.
Bagus! seru Mie Ming selagi mereka bertempur terus. Sejak aku menginjak tanah
daerah Tionggoan, kau adalah hohan yang pertama-tama aku menemuinya. Sekarang
hendak aku menggunakan senjata! Dan segera ia cabut sepasang gaetannya dengan apa ia
tangkis toya Pit To Hoan hingga terpental, setelah itu, ia balas menyerang, terus ia
mendesak.
Nampaknya To Hoan repot, hingga melihat itu, In Lui berseru, Celaka! Lantas ia maju
menerjang. Apa mau ia telah dicegat beberapa musuh, benar ia dapat menabas golok
musuh, tapi ia toh kena dilibat oleh dua pahlawan Mongolia, hingga ia mesti melayani dulu
mereka itu, yang dua-duanya bersenjatakan gegaman berat yang sulit untuk ditabas
kutung.
Na Thian Sek, Cek Po Ciang, dan Cio Cui Hong beramai juga menemui tandingannya
masing-masing, mereka telah dikurung hingga tak dapat mereka rapatkan diri, untuk
berkumpul menjadi satu.
Pit To Hoan telah mengeluarkan seantero kepandaiannya, masih ia tidak mampu undurkan
Tantai Mie Ming, siang-kauwnya, sepasang gaetan, bergerak-gerak cepat bagaikan ular naga
keluar dari laut atau burung garuda mengejar mega. Beberapa kali Hang-liong-pang hampir
saja kena digaet terlepas.
Aku tidak sangka aku akan terbinasa di tangan orang Ouw ini kata To Hoan dalam
hatinya, saking berduka.
Dalam saat sangat tegang itu bagi pihak penyerbu, mendadak serdadu-serdadu pengiring
pangeran berteriak-teriak, semua lari berserabutan, diantara itu terdengar suara
menggelugur berulang-ulang, yang menggetarkan selat.
Ketika In Lui memandang keatas bukit, ia tampak perbuatan luar biasa dari si penyanyi
yang dandan sebagai orang Mongolia itu, siapa dengan tenaganya yang kuat, satu demi satu
batu-batu yang besar dia tolak hingga menggelinding jatuh ke bawah bukit hingga
melanggar para tentara pengiring, yang menyebabkan mereka berlarian menyingkirkan
diri.
Selat Ceng Liong Kiap terletak diantara kedua bukit yang tinggi, selatnya sempit, dengan
bergelantungan batu-batu besar, maka bahaya itu sangat mengancam, siapa kena
dilanggar, tak dapat dikira-kirakan bencana yang dia dapatkan, maka musuh semua buyar,
lari berserabutan.

212

Peng-Cong Hiap-Eng
Juga pahlawan-pahlawan Mongolia jadi kaget dan ketakutan.
In Lui gunakan ketikanya, ia rubuhkan satu diantara dua lawannya, setelah yang kedua
mundur, ia lari kearah Tantai Mie Ming, siapa terus ia serang, malah dengan cara
mendesak.
Ha, kembali kau, nona cilik! seru Mie Ming, yang dengan gaetan kirinya mencoba
menempel Ceng-beng-kiam.
Mari kita mundur! kata Pit To Hoan pada In Lui. Sambil mengucap begitu, ia tangkis
serangannya Mie Ming, lalu ia mundur dengan cepat, sedang In Lui dapat ketika untuk
mundur bersama.
Tantai Mie Ming lompat untuk mengejar, tapi baru ia lari dua tindak, di sebelah depannya,
sebuah batu besar menggelinding turun, tepat menjurus padanya. Dalam keadaan seperti
itu, ia pasang kuda-kudanya, ketika batu sampai, ia menahan dengan kedua tangannya,
lalu dengan mengerahkan tenaganya, ia tolak batu itu, hingga batu itu terpental, menimpa
batu lainnya yang menerbitkan terbang ke segala penjuru.
Ketika ini digunakan oleh Pit To Hoan beramai akan singkirkan diri ke atas bukit.
Tantai Mie Ming masih hendak mengejar, ia dicegah si pangeran.
Tantai Ciangkun, sudahlah, jangan kejar mereka! kata pangeran ini, yang hatinya ciut. Ia
juga kuatirkan musuhnya mengatur barisan sembunyi.
Pit To Hoan beramai telah lari terus mendaki bukit.
Hoohan, tunggu! ia teriaki penolongnya.
Si orang tidak dikenal yang dandan sebagai orang Mongolia itu telah menantikan sampai To
Hoan semua tiba di tengah bukit, tiba-tiba ia perdenarkan suitan panjang, habis mana, ia
lari turun ke belakang bukit. Maka ketika To Hoan sampai diatas, orang aneh itu sudah
pasti Cek Laotee terancam bahaya besar.
Mungkin, untuk menghindarkan tentara negeri bercelaka, maka dia berbuat demikian,
kata Cek Po Ciang.
Mendengar semua pembicaraan itu, In Lui tertawa.
Dia bukannya orang Ouw, dia adalah Tantai Mie Ming! ia beritahu. Dia adalah orang Han
yang menjadi besar di Mongolia.
Pit To Hoan kerutkan alisnya.
Walaupun aku benci sangat turunannya Cu Goan Ciang, berkata jago tua ini, akan
tetapi siapa membantu bangsa Ouw, apapula dia bernama Mie Ming, dia sungguh
menyebalkan! Aku benci padanya!
Mie Ming itu atau Biat Beng artinya Memusnahkan Ahala Ming (Beng)
In Lui juga tuturkan halnya Tantai Mie Ming yang sengaja membiarkan dia dapat loloskan
diri.
Kembali orang ramai bicarakan sikap Mie Ming itu.
Tentang si orang aneh, lain kali saja kita selidiki asal-usulnya. kata To Hoan kemudian.
Tentang sikap Tantai Mie Ming, kita juga baik tunda dulu. Sekarang ini yang paling perlu
adalah dengan cara bagaimana kita dapat menolong San Bin.
Mereka itu bungkam, tidak ada yang mendapat pikiran baik.
Oleh karena kita tidak peroleh daya, terpaksa kita mesti gunakan kekerasan. Kata In Lui
akhirnya. Kita merampas kereta pesakitan di tengah jalan!
Jumlah tentara pengiring sangat besar, Cek Po Ciang peringatkan, juga terdapat tiga
pahlawan nomor satu dari kota raja, aku kuatir bukan saja kita tidak akan berhasil,
mungkin kita akan nampak kerugian.
Sekarang baiklah kita selidiki dulu, To Hoan usulkan kemudian.
Demikianlah mereka bekerja.
Pada waktu magrib, penyelidik telah kembali dengna warta yang diperolehnya Thio Hong
Hu telah menugaskan Khoan Tiong mengepalai sebagian besar serdadu-serdadu Gie-lim-kun
serta anggota Kim-ie-wie, untuk membantu menyapu pelbagai pesanggrahan, sedang dia
sendiri bersama Hoan Tiong, dengan mengajak kira-kira tujuh puluh serdadu Gie-lim-kun,
sudah berangkat mengiringi orang-orang tawanan pulang ke kota raja.

213

Peng-Cong Hiap-Eng
Besok mereka akan lewat disini, demikian mata-mata itu mengakhiri laporannya.
Bagus! seru To Hoan dengan girang. Biarlah besok kita ambil sikap keras terhadap
mereka itu!
XII
Malam itu In Lui merasa gelisah, tak dapat ia tidur pulas. Ia sangat berduka mengingat San
Bin berada dalam tangan musuh.
Besok, sekalipun mesti mengadu jiwa, aku mesti tolongi dia! ia berpikir.
Segera ia bayangkan bagaimana San Bin menghendaki supaya mereka berdua bersikap
sebagai kakak beradik satu dengan lain. Ia pun merasa tidak tenteram mengenai kesan San
Bin terhadap dirinya.
Untukku berkorban guna menolongi dia, ada urusan gampang, ia berpikir lebih jauh,
akan tetapi untuk aku terima cintanya, itulah tak dapat.
Waktu itu ia dengar suara batuk-batuk dari Cui Hong yang tidur di kamar sebelah. Ia duga,
nona Cio juga sedang berpikir keras, maka nona itu masih belum tidur pulas.
Tertawalah In Lui seorang diri ketika ia ingat tingkah laku Cui Hong yang sangat menyintai
ia, yang tergila-gila padanya. Karena ini, terbayanglah Cui Hong dan San Bin di depan
matanya. Maka ia tertawa dalam hatinya, dan berkata, Baik, begini harus aku bekerja!
Mereka itu mesti dipadukan satu pada lain, dengan begitu terhindarlah aku dari segala
kesulitan.
Baru lenyap bayangan San Bin dan Cui Hong, atau sekarang berpetalah bayangan dari Thio
Tan Hong, si mahasiswa berkuda putih. Ini bukan lagi satu kesulitan, ini adalah hal yang
sangat hebat.
Bimbang hati In Lui, sampai ia tak dapat memikir suatu apa, ia rasakan otaknya seperti
kosong. Tidak mau ia memikirkannya terlebih jauh, tidak berani ia mengingat-ingat pula si
anak muda.
Di hari kedua pagi-pagi Pit To Hoan sudah siap sedia. Ketika In Lui muncul di thia, ruang
luar, disana telah berkumpul kawan-kawan mereka.
Kami telah mendapat keterangan jelas, berkata To Hoan, Thio Hong Hu bersama Hoan
Tiong telah pimpin lima puluh serdadu Gie-lim-kun, mereka mengiring enam buah kereta
pesakitan, diantaranya ada sebuah yang besar istimewa, selama dalam perjalanan, Hong
Hu diatas kudanya tak pernah berpisah jauh dari kiri kanan kereta istimewa itu. Maka itu
aku duga, tawanan dalam kereta itu mestinya keponakan San Bin. Mengenai usaha kita ini,
tak keburu kita mengirim pula berita lok-lim-cian. Jumlah orang-orangnya saudara Na serta
saudara-saudara yang berada di dekat sini ada lebih daripada empat puluh jiwa, aku
anggap jumlah ini sudah cukup. Thio Hong Hu memang lihai, tetapi aku rasa, dengan aku
berdua In Siangkong yang melayani padanya, mungkin kita dapat mempertahankan diri.
Ceng Liong Kiap ada selat berbahaya, maka kita pun dapat menggunakan akalnya si orang
aneh yang kemarin menggelindingkan batu-batu dari atas bukit.
Jika kita menyerang pakai batu yang besar-besar, apa tak kuatir kita nanti mengenai
kereta-kereta pesakitan? Tanya Na Thian Sek.
Jangan kita pakai batu yang besar-besar, To Hoan beritahu. Kita pakai batu-batu koral
sebesar telur angsa, dengan itu kita melempari kalang kabutan pada tentara negeri.
Maksud kita adalah untuk membuat mereka kalut, supaya perhatiannya menjadi kacau
balau. Na Ceecu, Nona Cio, silahkan kamu pimpin belasan saudara, untuk mendaki bukit,
guna mengacau musuh itu. Barangkali tentara negeri itu akan sampai di lembah pada
waktu tengah hari, maka sekarang juga kita boleh bersiap-sedia. Mari kita berangkat!
Segera rombongan itu keluar dari thia, akan naiki kudanya masing-masing dan mulai
berangkat. In Lui larikan kudanya berdampingan dengan Cin-sam-kay Pit To Hoan.
Pit Loo-cianpwee, kenapa kau tidak pakai kuda putih? Tanya nona ini.
Memang To Hoan tidak pakai kuda putih itu. Ia tertawa.
Telah aku kembalikan kuda itu pada pemiliknya! ia jawab sambil tertawa.
Apa? Kapan Thio Tan Hong bertemu pula dengan loocianpwee? Tanya In Lui heran.
Ciauw-ya Say-cu-ma benar-benar kuda yang sangat luar biasa, jawab To Hoan. Sifatnya

214

Peng-Cong Hiap-Eng
cerdas sekali. Hari itu dia dititahkan majikannya untuk membawa aku kabur, dia telah
meloloskan aku dari bahaya, habis itu dia berbenger tiada hentinya, tak mau dia tunduk
lagi terhadap aku. Tahulah aku, dia ingat pada majikannya, maka aku lepaskan dia pergi
sendirian.
Bagaimana loocianpwee bisa ketahui dia pasti akan dapat mencari majikannya? In Lui
tanya pula. Apakah tidak saying umpama kata dia dicegat orang jahat di tengah jalan?
To Hoan kembali tertawa.
Adalah biasanya kuda perang yang baik dapat mencari majikannya sendiri, ia kata,
apapula Ciauw-ya Say-cu-ma ada seekor kuda yang luar biasa sekali. Lagi pula, siapa yang
tidak lihai luar biasa, tidak nanti dia sanggup mencegat kuda jempolan itu!
In Lui memang ketahui kecerdikan kuda itu, akan tetapi karena ia pikirkan sangat Tan
Hong, ia jadi berkuatir juga.
Habis berbicara, To Hoan tertawa pula.
In Siangkong, kata dia, kalau nona Cio tidak memberitahukannya kepadaku, sungguh
aku tidak ketahui Thio Tan Hong itu adalah musuh besarmu turun-temurun.
Muka In Lui merah. Ia tidak menjawab. Untuk menyingkir dari To Hoan, ia bunyikan
cambuknya hingga kudanya lompat kabur.
Heran To Hoan menyaksikan kelakuan orang itu. Ia lantas menduga pada sesuatu hal.
Karena ini, ia tidak menanyakan terlebih lanjut.
Tidak lama berselang, sampailah mereka di selat, lantas mereka masuk ke dalam lembah.
Seperti telah direncanakan, To Hoan lantas atur rombongan yang mesti sembunyikan diri,
habis mana mereka terus menantikan sang waktu.
Tepat selagi matahari mulai condong ke barat, dari arah depan datang warta
pemberitahuan dari juru pengintai. Sudah datang! Sudah datang!
Semua orang segera menyiapkan senjatanya masing-masing, tegang hati mereka selagi
mereka memasang mata, menanti-nanti. Mereka tidak usah menunggu lama atau mereka
lantas nampak lerotan dari enam buah kereta pesakitan serta barisan serdadu
pengiringnya. Perlahan bergeraknya lerotan itu.
Itulah kereta yang di tengah! To Hoan kata pada In Lui sambil menunjuk.
In Lui mengawasi dengan tajam.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa nyaring dari Thio Hong Hu, sambil berkata dengan keras,
Untuk merampas pesakitan, inilah saatnya!
To Hoan dan In Lui jadi terperanjat. Nyata, dengan begitu, komandan Kim-ie-wie itu telah
menduga maksud mereka dan telah bersedia untuk menyerbu tukang cegat. Tapi anak
panah telah dipasang busurnya, tak dapat jikalau tidak terus dipanahkan. Maka To Hoan
memberikan isyaratnya.
Segera rombongan yang bersembunyi munculkan diri.
Thio Hong Hu dengan sebat mengatur barisannya, untuk melindungi kereta-kereta, guna
menyambut serangan.
Dengan berani To Hoan maju di muka rombongannya, untuk menyerbu.
Barisan Gie-lim-kun adalah barisan yang terpilih, maka itu rapi perlawanan mereka, tidak
perduli rombongan dari Na-kee-chung ada tangguh, mereka tidak dapat segera digempur
hancur, mereka dapat membuat perlawanan yang gigih.
Kembali terdengar tertawa nyaring dari Thio Hong Hu.
Cin-sam-kay, orang tua she Pit! demikian suaranya itu, yang berupa ejekan. Kemarin ini
aku telah membiarkan kau lolos, kenapa sekarang kau berani antarkan diri masuk ke dalam
nyaring?
Pit To Hoan tahan kudanya, ia pun bersikap dingin.
Lihat saja siapa yang masuk ke dalam jarring! sahutnya. Lalu dengan mendadak ia
perdengarkan suitan nyaring, yang berkumandang di dalam lembah sampai umpama kata
burung-burung kaget dan pada terbang.
Itulah tanda rahasia untuk rombongan tersembunyi diatas bukit, tanda untuk mereka itu
mulai turun tangan.

215

Peng-Cong Hiap-Eng
Menyambut tanda rahasia itu, Na Po Ciang segera perlihatkan diri, di belakangnya ada
rombongannya.
Belum lagi Poo Ciang bergerak, atau sekonyong-konyong terdengar suara dari sambarmenyambarnya pelbagai senjata rahasia, hingga ia jadi kaget sekali.
Cekala! serunya.
Juga banyak batu-batu ditimpukkan kearah rombongan Na-keechung ini.
Nyata pihak penyerang dipimpin Hoan Tiong, Gie-cian Sie-wie yang menjadi slah salah satu
dari tiga jago nomor satu dari kota raja. Dia mempunyai senjata rahasia bor terbang huicui.
Cek Poo Ciang adalah ahli senjata rahasia, walaupun demikian, tidak dapat ia tidak berlaku
hati-hati untuk melayani musuh, sedang orang-orangnya menjadi repot, karena mereka
kalah desak.
Pertempuran dilakukan terutama dengan main saling timpuk batu.
Oleh karena serangan diluar dugaan itu, barisan bersembunyi ini jadi tidak mampu
membantu kawannya di dalam lembah, untuk membokong tentara negeri.
Thio Hong Hu merasa sangat puas, hingga ia tertawa bekakakan.
Satu panglima, mana boleh tidak memeriksa keletakan tempat! katanya. Satu panglima
mesti senantiasa berjaga-jaga! Cin-sam-kay, dalam ilmu silat kau lihai, tetapi kurang
membaca kitab perang!
Pit To Hoan menjadi sangat mendongkol, ia seperti ngamuk dengan toya Han-liongpangnya, setelah menyampok beberapa senjata musuh, sambil maju, tangan kirinya
menyambar satu musuh yang ia cekuk, habis mana bagaikan entengnya rumput, tubuh itu
dilemparkan jauh.
In Lui dilain pihak juga sudah menerjang hebat, dengan dua bacokan, ia rusakkan seragam
besi orang, hingga musuh-musuh yang berada di depannya terpaksa harus mundur. Dengan
begitu, dapat ia merangsak seperti Pit To Hoan.
Thio Hong Hu memimpin dengan tabah, dengan memberikan isyaratnya, barisannya
terpecah dua, membiarkan To Hoan dan In Lui menyerbu diantara mereka. Satu pasukan
lainnya mencegat majunya rombongan pesakitan itu.

216

Anda mungkin juga menyukai