Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hipertensi
2.1.1 Definisi
Hipertensi adalah kondisi medis kronis dengan tekanan darah di arteri yang
meningkat. Peningkatan ini menyebabkan jantung harus bekerja lebih keras dari biasanya
untuk mengedarkan darah melalui pembuluh darah. Tekanan darah melibatkan dua
pengukuran, sistolik dan diastolik, tergantung apakah otot jantung berkontraksi (sistole)
atau berelaksasi di antara denyut (diastole). Tekanan darah normal pada saat istirahat
adalah dalam kisaran sistolik (bacaan atas) 100140 mmHg dan diastolik (bacaan bawah)
6090 mmHg. Tekanan darah tinggi terjadi bila terus-menerus berada pada 140/90 mmHg
atau lebih.

2.1.2 Patofisiologi

Bagi kebanyakan orang dengan hipertensi esensial (primer), peningkatan


resistensi terhadap aliran darah (resistensi perifer total) bertanggung jawab atas tekanan
yang tinggi itu sementara curah jantung tetap normal.Ada bukti bahwa beberapa orang
muda yang menderita prahipertensi atau hipertensi perbatasan memiliki curah jantung
yang tinggi, denyut jantung meningkat, dan resistensi perifer yang normal. Kondisi ini
disebut sebagai hipertensi perbatasan hiperkinetik.Para penderita ini mengembangkan
fitur yang khas dari hipertensi esensial tetap di kemudian hari saat curah jantung menurun

dan resistensi perifer meningkat seiring bertambahnya usia.Masih diperdebatkan apakah


pola ini biasa dialami oleh semua orang yang pada akhirnya mengalami
hipertensi.Peningkatan resistensi perifer pada hipertensi tetap terutama disebabkan oleh
penyempitan struktur arteri dan arteriol kecil.Penurunan jumlah atau kepadatan pembuluh
kapiler juga bisa ikut berperan dalam resistensi perifer. Hipertensi juga dikaitkan dengan
penurunan kelenturan vena perifer,yang bisa meningkatkan venous return (volume darah
yang

kembali

ke

jantung),

meningkatkan preload jantung,

dan

akhirnya

menyebabkan disfungsi diastolik. Masih belum jelas apakah peningkatan konstriksi aktif
pembuluh darah memegang peranan dalam hipertensi esensial.
Tekanan nadi (perbedaan antara tekanan darah sistolik dan diastolik) sering
meningkat pada orang lanjut usia dengan hipertensi. Pada keadaan ini dapat terjadi
tekanan sistolik sangat tinggi di atas normal, tetapi tekanan diastolik mungkin normal
atau rendah. Kondisi ini disebut hipertensi sistolik terisolasi. Tekanan nadi yang tinggi
pada orang lanjut usia dengan hipertensi atau hipertensi sistolik terisolasi disebabkan
karena peningkatan kekakuan arteri, yang biasanya menyertai penuaan dan dapat
diperberat oleh tekanan darah tinggi.
Banyak mekanisme yang sudah diajukan sebagai penyebab peningkatan resistensi
yang ditemukan dalam sistem arteri pada hipertensi. Sebagian besar bukti menunjukkan
keterlibatan salah satu atau kedua penyebab berikut:

Gangguan dalam penanganan garam dan air pada ginjal, khususnya gangguan sistem
renin-angiotensin intrarenal

Abnormalitas sistem saraf simpatis


Mekanisme tersebut tidak berdiri sendiri dan tampaknya keduanya ikut berperan
sampai batas tertentu dalam kebanyakan kasus hipertensi esensial. Juga diduga
bahwa disfungsi

endotel (gangguan

fungsi

dinding

pembuluh

darah)

dan peradangan vaskular juga ikut berperan dalam meningkatkan resistensi perifer dan
kerusakan pembuluh darah pada hipertensi.

2.1.3 Klasifikasi
2.1.3.1 Hipertensi primer
Hipertensi primer (esensial) adalah jenis hipertensi yang paling umum,
meliputi sebanyak 9095% dari seluruh kasus hipertensi.Dalam hampir semua
masyarakat kontemporer, tekanan darah meningkat seiring penuaan dan risiko
untuk menjadi hipertensi di kemudian hari cukup tinggi.Hipertensi diakibatkan
oleh interaksi gen yang kompleks dan faktor lingkungan. Berbagai gen yang
sering ditemukan sedikit berpengaruh pada tekanan darah, sudah diidentifikasi,
demikian juga beberapa gen yang jarang yang berpengaruh besar pada tekanan
darah tetapi dasar genetik dari hipertensi masih belum sepenuhnya dimengerti.
Beberapa faktor lingkungan mempengaruhi tekanan darah. Faktor gaya hidup
yang menurunkan tekanan darah di antaranya mengurangi asupan garam dalam
makanan,meningkatkan konsumsi buah-buahan dan produk rendah lemak
(Pendekatan Diet untuk Menghentikan Hipertensi (diet DASH)). Olah Raga,
penurunan berat badan ,dan menurunkan asupan alkohol juga membantu
menurunkan

tekanan

darah.Kemungkinan

peranan

faktor

lain

seperti

stres, konsumsi kafein, dan defisiensi Vitamin D kurang begitu jelas. Resistensi
insulin, yang umum ditemukan pada obesitas dan merupakan komponen
darisindrom X (atau sindrom metabolik), juga diduga ikut berperan dalam
mengakibatkan hipertensi.Studi terbaru juga memasukkan kejadian-kejadian pada
awal kehidupan (contohnya, berat lahir rendah, ibu merokok, dan kurangnya air
susu ibu) sebagai faktor risiko bagi hipertensi esensial dewasa. Namun,
mekanisme yang menghubungkan paparan ini dengan hipertensi dewasa tetap
tidak jelas.
2.1.3.2 Hipertensi Sekunder
Hipertensi sekunder terjadi akibat suatu penyebab yang diketahui.
Penyakit ginjal adalah penyebab sekunder tersering dari hipertensi.Hipertensi juga
bisa disebabkan oleh kondisi endokrin, seperti sindrom Cushing, hipertiroidisme,
hipotiroidisme,

akromegali,

sindrom

Conn

hiperparatiroidisme, dan feokromositoma.Penyebab

atau

hiperaldosteronisme,

lain

dari

hipertensi

sekunder

tidur, kehamilan, koarktasio

aorta,

di

antaranya obesitas, henti


konsumsi akar

manis

nafas

saat

(licorice) yang

berlebihan, serta obat resep, obat herbal, dan obat-obat terlarang.


2.1.3.3 Hipertensi Krisis
Peningkatan tekanan darah yang sangat tinggi (sistolik lebih atau sama
dengan 180 atau diastolik lebih atau sama dengan 110, kadang disebut hipertensi
maligna atau akselerasi) sering disebut sebagai "krisis hipertensi." Tekanan darah
di atas tingkat ini memiliki risiko yang tinggi untuk terjadinya komplikasi. Orang
dengan tekanan darah pada kisaran ini mungkin tidak memiliki gejala, tetapi lebih
cenderung melaporkan sakit kepala (22% dari kasus)dan pusing dibandingkan
dengan populasi umum. Gejala lain krisis hipertensi mencakup berkurangnya
penglihatan atau sesak napas karena gagal jantung atau rasa lesu karena gagal
ginjal.Kebanyakan orang dengan krisis hipertensi diketahui memiliki tekanan
darah tinggi, tetapi pemicu tambahan mungkin menyebabkan peningkatan secara
tiba-tiba.
"Hipertensi emergensi", sebelumnya disebut sebagai "hipertensi maligna", terjadi
saat terdapat bukti kerusakan langsung pada satu organ atau lebih sebagai akibat
meningkatnya tekanan darah. Kerusakan ini bisa mencakup ensefalopati
hipertensi, disebabkan oleh pembengkakan dan gangguan fungsi otak, dan
ditandai oleh sakit kepala dan gangguan kesadaran (kebingungan atau rasa
kantuk). Papiledema retina dan perdarahan fundus serta eksudat adalah tanda lain
kerusakan organ target. Nyeri dada dapat merupakan tanda kerusakan otot jantung
(yang bisa berlanjut menjadi serangan jantung) atau kadang diseksi aorta,
robeknya dinding dalamaorta. Sesak napas, batuk, dan ekspektorasi dahak
bernoda darah adalah ciri khas edema paru. Kondisi ini adalah pembengkakan
jaringan paru akibat gagal ventrikel kiri, ketidakmampuan ventrikel kiri jantung
untuk memompa cukup darah dari paru-paru ke sistem arteri.Penurunan fungsi
ginjal secara cepat (cedera ginjal akut/acute kidney injury) dan anemia hemolitik
mikroangiopati (penghancuran sel-sel darah) juga mungkin terjadi.Pada

situasi ini, harus dilakukan penurunan tekanan darah secara cepat untuk
menghentikan kerusakan organ yang sedang terjadi.Sebaliknya, tidak ada bukti
bahwa tekanan darah perlu diturunkan secara cepat dalam keadaan hipertensi
emergensi bila tidak ada bukti kerusakan organ target. Penurunan tekanan darah
yang terlalu agresif bukan berarti tidak ada risiko.Penggunaan obat-obatan oral
untuk menurunkan tekanan darah secara bertahap selama 24 sampai 48 jam
dianjurkan dalam kedaruratan hipertensi.
2.1.4 Gejala dan Tanda Klinis
Hipertensi jarang menunjukkan gejala, dan pengenalannya biasanya melalui
screening, atau saat mencari penanganan medis untuk masalah kesehatan yang tidak
berkaitan.

Beberapa

orang

dengan

tekanan

darah

tinggi

melaporkan sakit

kepala (terutama di bagian belakang kepala dan pada pagi hari), serta pusing, vertigo,
tinitus (dengung atau desis di dalam telinga), gangguan penglihatan atau pingsan.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah di atas 120 (sistole) dan 80
(diastole), berdasarkan tahapannya dibagi di dalam table berikut ;

Selain dari hasil pemeriksaan tekanan darah, hipertensi juga dicurigai ketika
terdeteksi adanya retinopati hipertensi pada pemeriksaan fundus optik di belakang mata
dengan menggunakan oftalmoskop.Biasanya beratnya perubahan retinopati hipertensi
dibagi atas tingkat I-IV, walaupun jenis yang lebih ringan

mungkin sulit dibedakan antara satu dan lainnya.Hasil oftalmoskopi juga dapat memberi
petunjuk berapa lama seseorang telah mengalami hipertensi.
2.1.5 Diagnosis
Diagnosis hipertensi ditegakkan saat pasien menderita tekanan darah tinggi secara
persisten. Biasanya,untuk menegakkan diagnosis diperlukan tiga kali pengukuran
sfigmomanometer yang berbeda dengan interval satu bulan. Pemeriksaan awal pasien
dengan hipertensi mencakup anamnesis dan pemeriksaan fisik lengkap. Dengan
tersedianya pemantauan tekanan darah ambulatori 24 jam dan alat pengukur tekanan
darah di rumah, demi menghindari kekeliruan diagnosis pada pasien dengan hipertensi
white coat (jenis hipertensi yang disebabkan oleh stres saat bertemu dokter atau berada
dalam suasana medis) telah dihasilkan suatu perubahan protokol.
Hipertensi primer atau esensial lebih umum pada orang dewasa dan memiliki
berbagai faktor risiko, di antaranya

obesitas

dan riwayat hipertensi dalam

keluarga.Pemeriksaan laboratorium juga dapat dilakukan untuk mengidentifikasi


kemungkinan penyebab hipertensi sekunder, dan untuk menentukan apakah hipertensi
menyebabkan kerusakan pada jantung, mata, dan ginjal. Pemeriksaan tambahan
untuk diabetes dan kadar kolesterol tinggi dilakukan karena kondisi ini merupakan faktor
risiko terjadinya penyakit jantung dan mungkin memerlukan penanganan.
Kadar kreatinin darah diukur untuk menilai adanya gangguan ginjal, yang
mungkin merupakan penyebab atau akibat dari hipertensi. Kadar kreatinin darah saja
dapat memberikan dugaan yang terlalu tinggi untuk laju filtrasi glomerulus. Panduan
terkini menganjurkan penggunaan rumus prediktif seperti formula Modification of Diet in
Renal Disease (MDRD) untuk memperkirakan laju filtrasi glomerulus (eGFR).eGFR juga
dapat memberikan nilai awal/dasar fungsi ginjal yang dapat digunakan untuk memonitor
efek samping obat antihipertensi tertentu pada fungsi ginjal. Pemeriksaan protein pada
sampel urin digunakan juga sebagai indikator sekunder penyakit ginjal.
Pemeriksaan Elektrokardiogram (EKG/ECG) dilakukan untuk memeriksa tandatanda adanya beban yang berlebihan pada jantung akibat tekanan darah tinggi.
Pemeriksaan ini juga dapat menunjukkan adanya penebalan dinding jantung (hipertrofi
ventrikel kiri) atau tanda bahwa jantung pernah mengalami gangguan ringan seperti

serangan jantung tanpa gejala (silent heart attack). Pemeriksaan foto Rntgen
dada atau ekokardiogram juga dapat dilakukan untuk melihat tanda pembesaran atau
kerusakan pada jantung.

2.1.6 Tatalaksana
2.1.6.1 Non-medikamentosa
Dianjurkan perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah,
sebelum

memulai

terapi

obat.

Pedoman

British

Hypertension

Society

2004 mengajukan perubahan gaya hidup yang konsisten dengan pedoman dari US
National High BP Education Program tahun 2002untuk pencegahan utama bagi
hipertensi sebagai berikut:

Menjaga berat badan normal (misalnya, indeks massa tubuh 2025 kg/m2).

Mengurangi asupan diet yang mengandung natrium sampai <100 mmol/ hari (<6
g natrium klorida atau <2,4 g natrium per hari).

Melakukan aktivitas fisik aerobik secara teratur, misalnya jalan cepat (30 menit
per hari, pada hampir setiap hari dalam seminggu).

Batasi konsumsi alkohol tidak lebih dari 3 unit/hari pada laki-laki dan tidak lebih
dari 2 unit/hari pada perempuan.

Mengonsumsi makanan yang kaya buah dan sayuran (misalnya, sedikitnya lima
porsi per hari).
Perubahan gaya hidup yang efektif dapat menurunkan tekanan darah
setara dengan masing-masing obat antihipertensi. Kombinasi dari dua atau lebih
perubahan gaya hidup dapat memberikan hasil lebih baik.

2.1.6.2 Medikamentosa
Saat ini tersedia beberapa golongan obat yang secara keseluruhan
disebut obat antihipertensi, untuk pengobatan hipertensi. Risiko kardiovaskuler
(termasuk risiko infark miokard dan stroke) dan hasil pemeriksaan tekanan darah
menjadi pertimbangan ketika meresepkan obat.Jika pengobatan dimulai, Seventh

Joint National Committee on High Blood Pressure (JNC-7) dari National Heart,
Lung, and Blood Institute menyarankan agar dokter memonitor respons pasien
terhadap pengobatan serta menilai apakah terjadi efek samping akibat obat yang
digunakan. Penurunan tekanan darah sebesar 5 mmHg dapat mengurangi risiko
stroke sebesar 34% dan risiko penyakit jantung iskemik hingga 21%. Penurunan
tekanan darah juga dapat mengurangi kemungkinan demensia, gagal jantung,
danmortalitas yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler.
Pengobatan harus ditujukan untuk mengurangi tekanan darah hingga
kurang dari 140/90 mmHg untuk sebagian besar orang, dan lebih rendah lagi
untuk mereka yang memiliki diabetes atau penyakit ginjal. Sejumlah praktisi
medis menyarankan agar tekanan darah dijaga pada level di bawah
120/80 mmHg. Jika tekanan darah yang diharapkan tidak tercapai, maka
diperlukan pengobatan lebih lanjut.
Pedoman mengenai pilihan obat dan cara terbaik untuk menentukan
pengobatan untuk berbagai sub-kelompok pun berubah seiring berjalannya waktu
dan berbeda-beda di berbagai negara. Para ahli berbeda pendapat mengenai
pengobatan terbaik untuk hipertensi.Pedoman Kolaborasi Cochrane, World Health
Organization, dan Amerika Serikat mendukung diuretik golongan tiazid dosis
rendah sebagai terapi pilihan untuk lini pertama.Pedoman di Inggris
menekankan penghambat kanal kalsium (calcium channel blocker/CCB) untuk
orang yang berusia di atas 55 tahun atau yang berdarah Afrika atau Karibia.
Pedoman ini menyarankan penghambat enzim konversi angiotensin (angiotensinconverting enzyme inhibitor/ACEI) yang merupakan obat pilihan yang dianjurkan
untuk pengobatan lini pertama pasien berusia muda.Di Jepang, pengobatan
dianggap wajar apabila dimulai dengan satu dari 6 golongan obat termasuk: CCB,
ACEI/ARB, diuretik tiazid,penghambat reseptor beta, dan penghambat reseptor
alfa. Di Kanada semua obat ini, kecuali penghambat reseptor alfa, dianjurkan
sebagai lini pertama yang dapat digunakan.
Banyak orang memerlukan lebih dari satu obat untuk mengendalikan
hipertensi mereka. Pedoman JNC7dan ESH-ESC menyarankan untuk memulai

pengobatan dengan dua macam obat apabila tekanan darah lebih dari 20 mmHg di
atas target tekanan darah sistolik atau lebih dari 10 mmHg di atas target diastolik.
Kombinasi yang lebih dipilih adalah penghambat sistem reninangiotensin dengan
antagonis

kalsium,

atau

penghambat

sistem

reninangiotensin

dengan

diuretik.Kombinasi yang dapat digunakan adalah sebagai berikut:

Penghambat kanal kalsium dengan diuretik

Penghambat beta dengan diuretik

Penghambat kanal kalsium dihidropiridin dengan penghambat reseptor beta

Penghambat kanal kalsium dihidropiridin dengan verapamil atau diltiazem


Kombinasi yang tidak boleh digunakan adalah sebagai berikut:

Penghambat kanal kalsium non-dihidropiridin (seperti verapamil atau diltiazem)


dengan penghambat reseptor beta

Dua jenis penghambat sistem reninangiotensin (contohnya, penghambat enzim


konversi angiotensin + penghambat reseptor angiotensin)

Penghambat sistem reninangiotensin dan penghambat reseptor beta

Penghambat reseptor beta dan obat anti-adrenergik. [73]


Hindari kombinasi penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin
II, diuretik, dan OAINS (termasuk penghambat COX-2 selektif dan obat bebas
tanpa resep seperti ibuprofen) jika tidak mendesak, karena tingginya risiko gagal
ginjal akut. Istilah awam dari kombinasi ini adalah "triple whammy" dalam
literatur kesehatan Australia.Tersedia tablet yang mengandung kombinasi tetap
dari dua golongan obat tersebut. Meskipun nyaman dikonsumsi, obat-obatan
tersebut sebaiknya tidak diberikan untuk pasien yang biasa menjalani terapi
dengan komponen obat tunggal.

2.1.7 Komplikasi
Hipertensi adalah faktor risiko yang bisa dicegah yang terpenting bagi kematian
prematur

di

seluruh

iskemik strokes, penyakit


termasuk gagal

dunia.Hipertensi
periferal

jantung, aneurisma

meningkatkan

vaskular, dan
aorta,

risiko penyakit

penyakit

aterosklerosis

jantung

kardiovaskular
difus,

lain,

dan emboli

paru. Hipertensi juga merupakan faktor risiko terjadinya gangguan kognitif, demensia,
dan penyakit ginjal kronik. Komplikasi lain di antaranya:

Retinopati Hipertensi

Nefropati hipertensi

2.2 Kepatuhan
2.2.1 Definisi
Kepatuhan adalah derajat dimana pasien mengikuti anjuran klinis dari dokter yang
mengobatinya (Caplan dkk, 1997). Kepatuhan berasal dari kata patuh yaitu suka menurut
perintah, taat kepada perintah/aturan dan disiplin yaitu ketaatan melakukan sesuatu yang
dianjurkan atau yang ditetapkan (kamus Besar Bahasa Indonesia). Menurut Haynes (1997),
kepatuhan adalah secara sederhana sebagai perluasan perilaku individu yang berhubungan
dengan minum obat, mengikuti diet dan merubah gaya hidup yang sesuai dengan petunjuk
medis.
Menurut Cramer, kepatuhan penderita dapat dibedakan menjadi:1

Kepatuhan Penuh
Pada keadaan ini penderita tidak hanya berobat secara teratur sesuai batas waktu yang
ditetapkan melainkan juga patuh memakai obat secara teratur sesuai petunjuk.
Penderita yang Tidak Patuh
Yaitu penderita yang putus berobat atau tidak menggunakan obat sama sekali.
2.2.2 Cara Mengukur Kepatuhan
Beberapa ahli mengemukakan cara mengukur kepatuhan berobat antara lain
pengukuran kepatuhan berobat yang dinyatakan oleh Sacket, dkk (1985) dan Sarafino
(1990). Sacket, dkk (1985) menyatakan bahwa kepatuhan berobat dapat diketahui melalui
7 cara yaitu: keputusan dokter yang didasarkan pada hasil pemeriksaan, pengamatan
terhadap jadwal pengobatan, penilaian pada tujuan pengobatan, perhitungan jumlah
tablet/pil pada akhir pengobatan, pengukuran kadar obat dalam darah dan urin, wawancara
pada pasien dan pengisian formulir khusus. Pernyataan Sarafino (1990) hampir sama
dengan Sacket yaitu kepatuhan berobat pasien dapat diketahui melalui tiga cara yaitu
perhitungan sisa obat secara manual, perhitungan sisa obat berdasarkan suatu alat

elektronik serta pengukuran berdasarkan biokimia (kadar obat) dalam darah/urin).


Cara mengukur kepatuhan:2

Beberapa prediktor yang menyebabkan rendahnya kepatuhan minum obat:2

2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan


Menurut (Niven, 2008) faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kepatuhan
adalah:3

Akomodasi (Biaya Transportasi)


Suatu usaha harus dilakukan untuk memahami ciri kepribadian klien yang dapat
mempengaruhi kepatuhan pengobatan adalah jarak dan waktu, biasanya pasien cenderung
malas melakukan pengobatan pada tempat yang jauh.

Gejala Penyakit
Keteraturan pasien melakukan pengobatan juga dipengaruhi oleh keluhan yang dirasakan
oleh pasien. Keluhan yang diderita akan membuat pasien semakin aktif dalam kunjungan
pengobatan.

Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan klien


Meningkatkan interaksi profesional kesehatan dengan klien adalah suatu hal penting untuk
memberikan umpan balik pada klien setelah memperoleh infomasi tentang diagnosis. Suatu
penjelasan penyebab penyakit dan bagaimana pengobatan dapat meningkatkan kepatuhan,
semakin baik pelayanan yang diberikan tenaga kesehatan, semakin teratur pula pasien
melakukan kunjungan pengobatan.

Pengetahuan4,5
Pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu obyek tertentu, dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa
perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak
didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).
Menurut fungsinya pengetahuan merupakan dorongan dasar untuk ingin tahu, untuk
mencari penalaran, dan untuk mengorganisasikan pengalamannya. Adanya unsur
pengalaman yang semula tidak konsisten dengan apa yang diketahui oleh individu akan
disusun, ditata kembali atau diubah sedemikian rupa, sehingga tercapai suatu konsistensi.
Semakin tinggi tingkat pengetahuan, semakin baik pula pasien dalam mengikuti
pengobatan (Azwar, 2007).

Dukungan Keluarga6
Keluarga adalah unit terkecil masyarakat yang terdiri atas 2 orang atau lebih, adanya ikatan
persaudaraan atau pertalian darah, hidup dalam satu rumah tangga berinteraksi satu sama
lain, mempertahankan satu kebudayaan (Effendy, 2006).
Pasien yang sedang sakit sangat membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya,
yaitu keluarga, dukungan dapat ditujukan melalui sikap yaitu dengan:
o Memberikan perhatian, misalnya mempertahankan makanan meliputi porsi, jenis,
frekuensi dalam sehari-hari serta kecukupan gizi.
o Mengingatkan, misalnya kapan penderita harus minum obat, kapan istirahat serta

kapan saatnya kontrol.


o Menyiapkan obat yang harus diminum oleh pasien.
o Memberikan motivasi pada pasien untuk datang ke balai pengobatan.
Efek Samping Pengobatan
Efek samping obat yang dirasakan pasien, terutama pasien penyakit kronik yang harus
mengkonsumsi obat dalam jangka panjang, juga turut berperan dalam menentukan
keteraturan pasien mengkonsumsi obatnya. Apabila pasien merasa terganggu dengan efek
samping obat yang dikonsumsinya, maka pasien akan malas untuk melanjutkan

pengobatannya.
Motivasi
Keinginan pasien untuk sembuh merupakan salah satu motivasi yang kuat untuk membantu
kepatuhan pasien dalam pengobatannya. Dengan motivasi yang kuat, maka pasien tidak

akan beralasan seperti sibuk, lupa, atau tidak punya waktu dalam meneruskan

pengobatannya.
Biaya Pengobatan
Biaya pengobatan yang besar juga akan menjadi penghambat bagi pasien untuk
meneruskan pengobatannya.
Kemauan Membayar
Pasien dengan penyakit kronik harus teratur dan rutin untuk melakukan pengobatan jangka
panjang. Kebanyakan pasien akan merasa keberatan apabila harus membayar terus
menerus untuk melanjutkan pengobatannya.