Anda di halaman 1dari 127

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AUDITOR

SWITCHING
(Studi Empiris pada Perusahaan Real Estate dan Properti yang Terdaftar di
Bursa Efek Indonesia)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Disusun Oleh:
FRIDA AURORA PRAHARTARI
NIM: 109082000164

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1434 H/2013 M

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


Identitas Pribadi

Nama

: Frida Aurora Prahartari

Tempat Tanggal Lahir

: Jakarta, 19 Juni 1992

Jenis Kelamin

: Perempuan

Alamat

: Jl. Pepaya Gg. Pahala No. 41 RT 012


RW 05 Jagakarsa Jakarta Selatan 12620

Agama

: Islam

No.Telp/Hp

: 0217864852/085710535417

E-mail

: miss_catfish@yahoo.co.id

Pendidikan Formal

S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta

: 2009 - 2013

SMAN 38 Jakarta

: 2006 - 2009

SMPN 166 Jakarta

: 2003 - 2006

SDN 06 Jagakarsa Jakarta Selatan

: 1997 - 2003

TK Harapan Utama Jakarta

: 1996 - 1997

Pendidikan Non-Formal

Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Brevet AB IAI, Des 2012 - Apr 2013

Pendidikan Musik (Biola) Bina Vokalia Pranadjaya, 2005-2008

Lembaga Bahasa Inggris BBC Pondok Labu, 2001-2004

Pengalaman Organisasi

BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis sebagai anggota Div. Forum


Akuntansi, 2010-2011

Anggota Foreign Language Association UIN Jakarta, 2009 2012

Anggota Tae Kwon Do SMAN 38 Jakarta, 2006-2008

Marching Band SMPN 166 Jakarta sebagai Horn Line, 2003-2004

vi

Pengalaman Kepanitiaan

Panitia Propesa UIN 2011

Panitia FLAT Orientation (FLO) 2010

Seminar dan Workshop

Pelatihan Sekolah Pasar Modal - Basic Training of Fundamental &


Technical Analysis, 2012

Seminar Umum: Bongkar Skandal Century Menuju Indonesia Tanpa


Korupsi 2012

Seminar oleh Dirjen Pajak: Potret Perpajakan Indonesia Menuju Sistem


Perpajakan yang Transparan, 2011

Seminar oleh International Islamic Youth: Unity in Diversity, 2010

Seminar Nasional: Peran Asuransi dalam Era Globalisasi, 2010

Pelatihan Manajemen Kualitas Diri, 2010

Talkshow Pemberantasan Korupsi bersama KPK, 2009

Think Acct 2009, To Be Happy In Community Of Accounting, 2009

Latar Belakang Keluarga

Ayah

: Pramudjito

Ibu

: Sri Hartatiningsih

vii

ABSTRACT
THE ANALYSIS OF THE DETERMINANT FACTORS THAT AFFECT
AUDITOR SWITCHING
The purpose of this research is to examine the effect of change in
management, audit opinion, client size, and change in audit fee on the auditor
switching. This research used the sample of real estate and property industries which
listed in Indonesian Stock Exchange during 2006-2012 period. The number of real
estate and property industries sampled in this study were 14 companies with 6 years
observation. Based on purposive sampling method, sample consist of 84 financial
statements in this research. Hypothesis in this research are tested by logistic
regression analytical method.
Data analysis show that client size has significantly effect on auditor switching
with negative direction. Otherwise, change in management, audit opinion, and change in
audit fee do not have significantly effect on the auditor switching.
Keywords: Change in management, audit opinion, client size, audit fee, and auditor
switching

viii

ABSTRAK
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AUDITOR
SWITCHING
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pergantian manajemen, opini
audit, ukuran perusahaan klien, dan perubahan fee audit terhadap auditor switching.
Penelitian ini menggunakan sampel perusahaan real estate dan properti yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006-2012. Jumlah perusahaan real estate
dan properti yang dijadikan sampel penelitian ini adalah 14 perusahaan dengan
pengamatan selama 6 tahun. Berdasarkan metode purposive sampling, total sampel
penelitian adalah 84 laporan keuangan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini
menggunakan analisis regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan klien berpengaruh
signifikan dengan arah negatif terhadap auditor switching. Sedangkan pergantian
manajemen, opini audit, dan perubahan fee audit tidak berpengaruh signifikan
terhadap keputusan perusahaan untuk melakukan auditor switching.
Kata kunci: Pergantian manajemen, opini audit, ukuran perusahaan klien, fee audit,
dan auditor switching

ix

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Segala puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Sumber Ilmu Pengetahuan,
Sumber Cahaya yang mampu menerangi jalan menuju kepada kebenaran, yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya yang tiada henti hingga detik ini
sehingga penulis dapat meyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Faktorfaktor yang Mempengaruhi Auditor Switching (Studi Empiris pada
Perusahaan Real Estate dan Properti yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia) dengan baik. Shalawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang merupakan teladan, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Skripsi ini disusun dalam rangka untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Pada

kesempatan

ini,

dengan

segala

kerendahan

hati

penulis

menyampaikan terima kasih atas bantuan, bimbingan, dukungan, semangat dan


doa, baik langsung maupun tidak langsung dalam penyelesaian skripsi ini, kepada:
1. Kedua

orangtuaku

tercinta

yang

tidak

hentinya

melantunkan

doa,

mencurahkan kasih sayang, semangat, dukungan, dan perhatian yang tidak


sedikitpun berongga kepada penulis. Terimakasih atas doa, saran, didikan
serta nasehatnya sehinggan membuat penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Kakak-kakakku Dian Aurora Pramawati, Pratiwi Wahyu Hidayati, dan Pratitis
Wahyu Kusuma Anggraeni yang selalu mendoakan, memberikan inspirasi,
dan dukungan untuk kesuksesan penulis. Terutama untuk Mbak Rora,
terimakasih untuk saran dan motivasinya, semoga kita menjadi anak yang
dapat membanggakan kedua orangtua di dunia dan akhirat kelak.
3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan
Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Ibu Dr. Rini, SE., Ak., M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan juga sebagai Dosen
Pembimbing Skripsi I yang telah bersedia meluangkan waktu untuk
x

berdiskusi, memberikan pengarahan dan bimbingan dalam penulisan skripsi


ini. Terima kasih atas ilmu, saran, dan bimbingan yang telah Ibu berikan
selama ini.
5. Pak Hepi Prayudiawan, SE., Ak., MM selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Ibu Reskino, SE., Ak., M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi II yang telah
meluangkan waktu, mencurahkan perhatian dan kesabaran, membimbing dan
memberikan pengarahan kepada penulis. Terima kasih atas saran yang Ibu
berikan selama proses penulisan skripsi sampai terlaksananya sidang skripsi.
7. Seluruh dosen yang telah memberikan ilmu dan karyawan Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bantuan kepada
penulis.
8. Teman-teman seperjuangan Lyta, Aya, Una, Nabila, Asad, Heru, Fauzi Raziz,
Tege, Dellia, Aris, Eva, Arci, Tsaurah, Fahmi, serta teman-teman yang masih
bergulat dengan skripsi yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, terimakasih
banyak atas doa dan dukungannya. Ayo wisuda bareng.
9. Teman seangkatan Fadlun Usman, Via, Nila, Niday, Imma, Dinda, Destia, Isil,
serta Erna dan Fauzi yang memberikan bantuan, masukan dan doa kepada
penulis. Terimakasih atas dukungannya.
10. Ka Ipul, Ka Ocid, Heri, Ka Ardi, dan Ka Anna, yang telah memberikan
bantuan, saran dan masukannya kepada penulis. Terimakasih atas doa dan
dukungannya.
11. Teman-teman angkatan 2009 akuntansi yang tidak bisa penulis sebutkan satu
per satu, terima kasih atas semua persahabatan, doa, dan motivasinya.
12. Lyna dan Retno, teman-teman sejak mengenal rok abu-abu, terimakasih atas
doa dan dukungannya.
13. Semua pihak yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu atas bantuannya
dalam terselesainya penyusunan skripsi ini. Semoga amal kebaikan kalian
semua dapat dibalas oleh Allah SWT.

xi

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna
dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran, masukan, maupun kritik
yang membangun dari berbagai pihak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Jakarta, 30 Juni 2013

Frida Aurora Prahartari

xii

DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................... i
Lembar Pengesahan Skripsi ................................................................. ii
Lembar Pengesahan Ujian Komprehensif ........................................... iii
Lembar Pengesahan Ujian Skripsi....................................................... iv
Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ....................................... v
Daftar Riwayat Hidup .......................................................................... vi
Abstract ................................................................................................. viii
Abstrak.................................................................................................. ix
Kata Pengantar ..................................................................................... x
Daftar Isi .............................................................................................. xiii
Daftar Tabel ........................................................................................ xvii
Daftar Gambar ................................................................................... xviii
Daftar Lampiran.................................................................................. xix
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1
B. Perumusan Masalah ..................................................................... 12
C. Tujuan dan Manfaat penelitian ..................................................... 12
1. Tujuan Penelitian.................................................................... 12
2. Manfaat Penelitian.................................................................. 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................... 14
A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil ................. 14

xiii

1. Teori Agensi........................................................................... 14
2. Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008 ................ 16
3. Auditor Switching ................................................................... 17
4. Pergantian Manajemen ........................................................... 20
5. Opini Audit ............................................................................ 22
6. Ukuran Perusahaan Klien ....................................................... 27
7. Perubahan Fee Audit .............................................................. 28
B. Penelitian Sebelumnya................................................................. 30
C. Kerangka Berpikir ....................................................................... 35
D. Keterkaitan Antar Variabel dan Perumusan Hipotesis .................. 37
1. Pergantian Manajemen dengan Auditor Switching .................. 37
2. Opini Audit dengan Auditor Switching ................................... 38
3. Ukuran Perusahaan Klien dengan Auditor Switching .............. 39
4. Perubahan Fee Audit dengan Auditor Switching ..................... 41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ........................................... 43
A. Ruang Lingkup Penelitian ........................................................... 43
B. Metode Penentuan Sampel ........................................................... 43
C. Metode Pengumpulan Data .......................................................... 44
D. Metode Analisis Data .................................................................. 44
1. Definisi Regresi Logistik ........................................................ 45
2. Tahapan Regresi Logistik ....................................................... 46
a. Statistik Deskriptif .............................................................. 46
b. Pengujian Hipotesis Penelitian ............................................ 47
xiv

E. Operasionalisasi Variabel Penelitian ............................................ 51


1. Variabel Dependen ................................................................. 51
2. Variabel Independen............................................................... 52
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................. 57
A. Sekilas Gambaran Umum Objek penelitian ................................. 57
1. Deskripsi Objek Penelitian ..................................................... 57
2. Deskripsi Sampel Penelitian ................................................... 59
B. Hasil Uji Instrumen Penelitian ..................................................... 60
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif................................................... 60
2. Hasil Uji Hipotesis Penelitian ................................................. 62
a. Hasil Uji Keseluruhan Model (Overall Model Fit) .............. 62
b. Hasil Uji Koefisien Determinasi (Nagelkerke R. Square) ... 64
c. Hasil Uji Kelayakan Model Regresi .................................... 65
d. Hasil Uji Multikolinieritas .................................................. 66
e. Hasil Matriks Klasifikasi .................................................... 66
f. Hasil Uji Regresi Logistik ................................................... 67
1) Pengaruh Pergantian Manajemen (CEO) terhadap
Auditor Switching (CHANGES) ........................................ 69
2) Pengaruh Opini Audit (OPINI) terhadap Auditor
Switching (CHANGES) .......................................................70
3) Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien (LnTA) terhadap
Auditor Switching (CHANGES) ......................................... 72
xv

4) Pengaruh Perubahan Fee Audit (FEE) terhadap Auditor


Switching (CHANGES) ...................................................... 73
BAB V PENUTUP ............................................................................... 76
A. Kesimpulan ................................................................................. 76
B. Implikasi ..................................................................................... 77
C. Keterbatasan ................................................................................ 79
D. Saran ........................................................................................... 80
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................... 82
LAMPIRAN ......................................................................................... 86

xvi

DAFTAR TABEL
No.

Keterangan

Halaman

1.1

Kasus ......................................................................................... 8

2.1

Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu ............................................... 31

3.1

Operasionalisasi Variabel dan Pengukurannya ........................... 54

4.1

Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria ................................... 58

4.2

Sampel Penelitian ...................................................................... 59

4.3

Statistik Deskriptif .................................................................... 61

4.4

Menilai Keseluruhan Model ...................................................... 63

4.5

Koefisien Determinasi ............................................................... 65

4.6

Menguji Kelayakan Model Regresi ........................................... 65

4.7

Hasil Uji Multikolinieritas ......................................................... 66

4.8

Matriks Klasifikasi .................................................................... 67

4.9

Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik ......................................... 68

4.10

Ringkasan Hasil Penelitian ........................................................ 75

xvii

DAFTAR GAMBAR
No.
2.1

Keterangan

Halaman

Skema Kerangka Pemikiran........................................................... 36

xviii

DAFTAR LAMPIRAN
No.

Keterangan

Halaman

Data Sampel............................................................... 87

Hasil Output SPSS......................................................................... 102

xix

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian


Laporan keuangan adalah alat utama untuk menginformasikan informasi
keuangan perusahaan kepada pihak luar suatu badan usaha. Laporan ini menampilkan
sejarah, kejadian, maupun peristiwa dalam perusahaan yang dikuantifikasi dalam
nilai moneter. Menurut PSAK nomor 1 (revisi 2009), laporan keuangan adalah suatu
penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan
laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan,
kinerja, dan perubahan posisi keuangan suatu entitas yang bermanfaat bagi sejumlah
besar pemakai dalam pengambilan keputusan dan sebagai pertanggungjawaban
manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya oleh para pemegang
saham.
Perusahaan yang terkena kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangan
tahunan merupakan perusahaan yang telah memenuhi kriteria berikut, yaitu
merupakan bentuk usaha, melakukan kegiatan secara tetap dan terus menerus,
bertujuan mencari untung/laba, diselenggarakan oleh perseorangan atau badan, serta
didirikan dan berkedudukan di wilayah Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1998 menyebutkan bahwa laporan keuangan
tahunan yang telah diaudit oleh akuntan publik harus disampaikan oleh perusahaan

yang merupakan perseroan terbuka, bidang usaha perseroan berkaitan dengan


pengerahan dana masyarakat, perseroan mengeluarkan surat pengakuan utang, serta
memiliki jumlah aktiva paling sedikit Rp 50.000.000.000. Pelaporan keuangan ini
diperkuat dengan adanya Pasal 66 ayat (4) Undang-Undang Republik Indonesia
No.40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) yang mengsyaratkan
keharusan bagi perseroan yang bidang usahanya berkaitan dengan pengerahan dana
masyarakat, mengeluarkan surat pengakuan hutang, atau merupakan perseroan
terbatas terbuka, untuk menyerahkan perhitungan tahunan perseroan kepada akuntan
publik untuk diperiksa, sebelum perhitungan tahunan tersebut disetujui oleh Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS). Perusahaan dengan kriteria yang disebutkan diatas
wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan. Laporan keuangan yang
disampaikan berupa laporan posisi keuangan perusahaan, laporan laba rugi, laporan
perubahan modal, laporan arus kas, serta catatan atas laporan keuangan.
Informasi keuangan yang asimetris atau informasi keuangan yang salah
berpotensi menimbulkan konflik kepentingan antar pihak manajemen perusahaan
dengan pihak pengguna laporan keuangan yang berasal dari luar perusahaan. Audit
yang dilakukan oleh pihak ketiga yang independen (KAP) terhadap laporan keuangan
dapat meningkatkan kualitas laporan keuangan seperti yang dilaporkan oleh pihak
manajemen serta dapat meningkatkan kualitas informasi keuangan tersebut sehingga
investor akan mendapatkan nilai dari perdagangan sekuritas yang dilakukannya.

Menurut Boynton (2008:19), auditor independen di Amerika biasa disebut


dengan Certified Public Accountant (CPA) bertindak sebagai praktisi perseorangan
ataupun anggota kantor akuntan publik yang memberikan jasa auditing professional
kepada klien. Menurut Agoes (2004), akuntan publik adalah akuntan yang memiliki
izin dari menteri keuangan atau pejabat yang berwenang lainnya untuk menjalankan
praktik akuntan publik. Sedangkan menurut penulis, akuntan publik adalah badan
ataupun perseorangan yang telah mendapat izin dari menteri keuangan Republik
Indonesia untuk memberikan assurance services dan jasa atestasi terhadap laporan
keuangan suatu perusahaan, serta dapat memberikan jasa non-atestasi seperti jasa
kompilasi, jasa konsultasi, dan jasa-jasa lainnya yang berhubungan dengan akuntansi
dan keuangan.
Pentingnya peran akuntan publik membuat kebutuhan akan jasa dari akuntan
publik semakin banyak dibutuhkan, terlebih lagi dengan berkembangnya perusahaan
publik. Meningkatnya kebutuhan jasa audit berpengaruh terhadap perkembangan
profesi akuntan publik di Indonesia. Bertambahnya jumlah kantor akuntan publik
(untuk selanjutnya disebut KAP) yang beroperasi dapat menimbulkan persaingan
antara KAP yang satu dengan lainnya, sehingga memungkinkan perusahaan untuk
berpindah dari satu KAP ke KAP lain (Damayanti dan sudarma, 2007:2).
Masa perikatan audit yang lama menyebabkan perusahaan merasa nyaman
dengan hubungan yang terjalin selama ini antara auditor (KAP) dengan pihak
manajemen perusahaan, yang akan mencapai tahap dimana auditor akan terikat secara

emosional dan mengancam independensinya. Giri (2010:5) juga menyatakan bahwa


hubungan dalam waktu yang lama antara auditor dan klien akan menyebabkan
kualitas dan kompetensi kerja auditor cenderung menurun dari waktu ke waktu.
Hubungan yang semakin dekat antara auditor dan manajemen dapat menyebabkan
auditor lebih mempercayai klien dalam mengaudit sehingga menurunkan kualitas
auditnya. Disamping itu, dengan adanya hubungan yang semakin dekat tersebut
membuat auditor lebih mengidentifikasikan dirinya dengan kepentingan manajemen
daripada dengan kepentingan publik.
Dalam melaksanakan tugasnya, auditor mengalami peran konflik yang
substansial karena mereka harus menjaga profesionalisme dan pada saat yang sama
mempertimbangkan harapan manajer. Mautz dan Sharaf (1961) dalam Nasser, et al.
(2006) percaya bahwa hubungan yang panjang bisa menyebabkan auditor memiliki
kecenderungan kehilangan independensinya. Auditor yang memiliki hubungan yang
lama dengan klien diyakini akan membawa konsekuensi ketergantungan tinggi atau
ikatan ekonomik yang kuat antara auditor terhadap klien. Semakin tinggi keterikatan
auditor secara ekonomik dengan klien, makin tinggi kemungkinan auditor
membiarkan klien untuk memilih metode akuntansi yang ekstrim.
Dalam entitas atau perusahaan go public, manajemen memiliki peranan
penting dalam memilih KAP yang akan mengaudit perusahaan tersebut. Pihak
manajemen ingin mempengaruhi keputusan pemilihan auditor untuk kepentingan
mereka sendiri (Williams, 1998 dalam Chadegani et al., 2011:161). Dengan adanya

pergantian manajemen, manajemen yang baru akan memilih auditor yang dapat
mengakomodasi pilihan mereka dalam kebijakan akuntansi (Schwartz dan Menon,
1985 dalam Chadegani et al., 2011:161).
Krishnan dan Ye (2005) dalam Damayanti dan Sudarma (2007:6) menyatakan
bahwa penunjukan KAP oleh perusahaan, yang diwakili oleh pemegang saham,
berhubungan dengan total fees yang mereka bayarkan. Untuk KAP yang berukuran
besar, seperti KAP yang berafiliasi dengan big four, besarnya fee audit yang
ditetapkan tentunya menyesuaikan dengan nama besar serta image dari KAP tersebut.
Banyak ditemukan perusahaan yang melakukan perpindahan KAP, baik dari KAP
yang berafiliasi dengan the big four ke KAP yang tidak berafiliasi dengan the big four
dan sebaliknya. Pergantian kelas KAP ini dirasa perlu dilakukan oleh perusahaan
karena dapat memperkecil fee audit. Perusahaan dapat menyesuaikan KAP yang
dipilih dengan fee audit yang dapat dibayar oleh perusahaan pada KAP tersebut.
Timbulnya kajian mengenai masalah pergantian auditor ini berawal dari
terbongkarnya kasus enron ke ranah publik pada Desember 2001, dimana KAP nya
yang merupakan salah satu dari anggota KAP big five saat itu yakni Arthur Andersen
gagal mempertahankan independensinya dalam mengaudit kliennya, Enron. Akibat
dari kasus ini, lahirlah The Sarbanes-Oxley Act (SOX) tahun 2002 sebagai solusi dari
skandal perusahaan besar yang terjadi di Amerika. Di Indonesia, PT. Kimia Farma
Tbk. sempat tidak mendapatkan kepercayaan dari para pemegang sahamnya sendiri
yang disebabkan penyajian penjualan yang overstated yang tidak mampu dideteksi

oleh KAP Hans Tuanakotta dn Mustofa. The Sarbanes-Oxley Act (SOX) tahun 2002
merupakan pesan yang digunakan oleh banyak negara untuk memperbaiki struktur
pengawasan terhadap KAP dengan menerapkan rotasi KAP maupun auditor.
Menindaklanjuti The Sarbanes-Oxley Act (SOX) tahun 2002, Pemerintah
Indonesia, melalui Menteri Keuangan (KMK 423/KMK.06/2002 dan KMK
359/KMK.06/2003), mengharuskan perusahaan mengganti auditor yang telah
mendapat penugasan audit lima tahun berturut-turut. Perusahaan harus telah
menggantinya setelah tahun buku 2003 jika sebelumnya belum mengganti auditor
selama lima tahun (belakangan, tahun 2008 batasan itu dirubah menjadi enam tahun,
PMK 17/PMK.01/2008). Konkretnya, jika sebuah perusahaan telah menunjuk satu
auditor yang sama sejak tahun 1999, maka pada tahun 2004 mereka harus mengganti
auditornya dengan auditor yang lain. Menurut (Prastiwi dan Wilsya, 2009), manfaat
lain adanya rotasi KAP adalah meningkatkan lingkungan kompetitif audit akibat
meningkatnya kebutuhan akan jasa audit pada perusahaan-perusahaan go public
maupun yang non-go public, dan mengurangi biaya audit. Perusahaan mempunyai
banyak pilihan KAP mana yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, juga adanya
pilihan biaya audit (mencari KAP dengan audit fee yang lebih murah). Selain
memiliki manfaat, rotasi KAP juga memiliki beberapa kelemahan (Petty dan
Cuganesan, 1996 dalam Prastiwi dan Wilsya, 2009:63), yaitu (1) Hubungan baik
antara auditor dan klien berakhir secara premature akibat adanya pergantian auditor
secara mandatory, (2) Kemungkinan kehilangan kualitas kerja, (3) Meningkatnya

audit fees, (4) Rotasi KAP yang berakibat pada meningkatnya persaingan diantara
KAP dapat juga mengakibatkan solidaritas profesional yang rendah. Keadaan posisi
keuangan mungkin juga menjadi faktor dalam proses pergantian auditor.
Hubungan berakhir secara premature yang disebabkan adanya kewajiban
untuk mengganti auditor setelah jangka waktu tertentu berarti klien harus mencari
KAP lain yang sesuai dengan kebijakan akuntansi dan manajemen perusahaan. Klien
juga dapat kehilangan kualitas kerja dengan mengganti auditornya karena KAP baru
belum tentu memahami entitas bisnis dengan lebih baik dibanding dengan KAP yang
lama. Disamping itu, pergantian auditor akan membuat perusahaan mengeluarkan
biaya awal audit (start fee audit) yang lebih besar untuk pelaksanaan jasa audit dari
KAP baru. Rotasi KAP juga akan menyebabkan solidaritas profesional antar KAP
rendah yang disebabkan oleh tingkat persaingan yang tinggi untuk mendapatkan
klien.

Berikut merupakan kasus-kasus perusahaan yang memiliki hubungan yang


panjang dengan auditornya yang disajikan pada tabel 1.1 ini:
Tabel 1.1
Kasus
No.

Nama Perusahaan

Kasus

Enron Corporation

Diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Arthur Andersen


selama 16 tahun sejak 1985, yang menyebabkan tidak
independensinya Kantor Akuntan Publik tersebut karena
Arthur juga menyediakan jasa non-audit bagi Enron.
Banyak pihak berpendapat bahwa hal ini disebabkan
akibat adanya hubungan kerja yang panjang antara KAP
dan klien yang memungkinkan menciptakan suatu resiko
excessive familiarity (berlebihnya keakraban) yang dapat
mempengaruhi obyektivitas dan independensi KAP.

PT BAT Indonesia

PT BAT Indonesia hanya memiliki satu auditor yaitu


kantor akuntan yang sama dengan yang berafiliasi ke
PWC (Price Waterhouse Coopers) sekarang ini,
walaupun KAP tersebut telah berganti nama beberapa
kali sejak tahun 1979 hingga 2004. Artinya, selama 25
tahun mereka tidak pernah mengganti auditor.

PT Aqua Golden
Mississippi

Tahun 1989-2001 (13 tahun) Aqua diaudit oleh KAP


Utomo dan KAP Prasetio Utomo dimana kedua KAP ini
merupakan KAP yang sama. Tahun 2002 mereka pindah
ke KAP Prasetio, Sarwoko, dan Sanjaya. KAP ini adalah
kelanjutan dari KAP Prasetio Utomo yang bubar dan
menggabungkan diri ke KAP Sarwoko dan Sanjaya.
Sebagian orang berpendapat bahwa KAP yang baru ini
(yang berafiliasi ke Ernst & Young) adalah kelanjutan
dari KAP yang pertama (Arthur Andersen). Sehingga,
bisa dikatakan bahwa selama 14 tahun PT Aqua diaudit
oleh satu KAP.

Sumber: dari berbagai referensi

Penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Chadegani, et.al., (2011)


yang menguji 6 faktor (opini audit, kualitas audit, perubahan fee audit, pergantian
manajemen, financial distress, dan ukuran perusahaan klien) yang dianggap
berpengaruh terhadap auditor switching di Tehran Stock Exchange, dan hasilnya
menunjukkan bahwa hanya kualitas audit yang berpengaruh secara signifikan
terhadap auditor switching.
Penelitian yang dilakukan oleh Sulistiarini dan Sudarno (2012) menggunakan
variabel ukuran KAP, kesulitan keuangan perusahaan, kepemilikan oleh publik,
pergantian manajemen, serta pergantian komite audit terhadap auditor switching.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran KAP berpengaruh negatif terhadap
auditor switching dan pergantian manajemen berpengaruh positif terhadap auditor
switching.
Penelitian yang dilakukan oleh Prastiwi dan Wilsya (2009:62) menyatakan
bahwa tipe KAP dan pertumbuhan perusahaan (yang diukur dengan total asset)
berpengaruh secara signifikan terhadap kemungkinan pergantian KAP. Sedangkan
ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan (yang diukur dengan perubahan sales,
perubahan MVE dan perubahan income) dan masalah keuangan tidak berpengaruh
signifikan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pergantian auditor di
Indonesia. Kecenderungan untuk melakukan auditor switching telah ditemukan
dipengaruhi oleh pergantian manajemen (Sinarwati, 2010; Wijayani, 2011).

Penelitian Divianto (2011) menguji ukuran KAP dan opini auditor terhadap
auditor switching. Penelitian ini memberikan bukti bahwa opini audit berpengaruh
terhadap auditor switching, sedangkan ukuran KAP tidak berpengaruh terhadap
auditor switching.
Penelitan yang dilakukan oleh Damayanti dan Sudarma (2007) menguji
pengaruh pergantian manajemen perusahaan, opini akuntan, fee audit, kesulitan
keuangan perusahaan, ukuran KAP, dan persentase perubahan ROA sebagai variabel
independen, terhadap perusahaan go public di Indonesia berpindah KAP sebagai
variabel dependennya. Penelitian ini membuktikan bahwa fee audit memiliki
pengaruh positif terhadap auditor switching dan ukuran KAP memiliki pengaruh
negatif terhadap auditor switching di Indonesia.
Dalam penelitian Nasser, et al,. (2006), ukuran klien serta financial distress
berpengaruh secara signifikan terhadap audit switching. Beberapa penelitian yang
dilakukan menemukan bahwa perusahaan kecil yang lebih sering menerima opini
wajar dengan pengecualian (qualified) dibanding dengan perusahaan besar cenderung
untuk melakukan pergantian auditor (Gul et al., 1992; Krishnan et al., 1996 dalam
Chadegani et al., 2011:162). Karena hasil yang berbeda-beda tersebut, peneliti akan
menguji mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi auditor switching pada
perusahaan real estate dan properti yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Sebenarnya faktor apa saja yang mempengaruhi mempengaruhi auditor switching di
Indonesia, mengingat beragamnya hasil dari penelitian-penelitian sebelumnya.

10

Disamping itu, auditor switching masih sangat menarik untuk diteliti karena
banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan
auditor switching. Faktor tersebut dapat berasal dari klien ataupun dari auditor.
Faktor penyebab pergantian auditor yang berasal dari klien, seperti adanya pergantian
manajemen, initial public offering, kondisi keuangan perusahaan, dan sebagainya.
Sedangkan faktor yang berasal dari auditor seperti fee audit, opini audit yang
diberikan, kualitas audit, dan sebagainya.
Penelitian ini mengacu pada penelitian-penelitian sebelumnya terutama pada
penelitian yang dilakukan oleh Chadegani et.al (2011) dan Divianto (2011).
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu:
1. Penelitian ini menggunakan 4 variabel independen serta 1 variabel dependen,
dimana variabel dependen merupakan auditor switching, sedangkan variabel
independennya berupa pergantian manajemen, opini audit, ukuran perusahaan
klien, serta perubahan fee audit, dimana variabel penelitian ini berbeda dengan
penelitian yang dilakukan Divianto (2011) dimana penelitian ini menambah
jumlah variabel seperti pergantian manajemen, ukuran perusahaan klien, serta
perubahan fee audit.
2. Penelitian ini dilakukan di Indonesia, sedangkan pada penelitian Chadegani et.al
(2011) dilakukan di Malaysia.

11

3. Penelitian ini mengambil sampel tahun penelitian yang lebih baru, yaitu dengan
menggunakan laporan keuangan dari tahun 2006-2012, sedangkan penelitian
Chadegani et al., (2011) mengambil sampel dari tahun 2003-2007.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka penulis
merumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Apakah pergantian manajemen, opini audit, ukuran perusahaan klien, dan perubahan
fee audit berpengaruh secara signifikan terhadap auditor switching?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan perumusan masalah, tujuan penulis
melakukan penelitian ini adalah untuk menguji secara empiris pengaruh
pergantian manajemen, opini audit, ukuran perusahaan, dan perubahan fee audit
terhadap auditor switching.
2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat serta berguna bagi
berbagai pihak, antara lain:
a. Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan akuntansi
khususnya dalam bidang auditing dengan memberikan bukti empiris mengenai
pengaruh pergantian manajemen, opini audit, ukuran perusahaan klien, serta

12

perubahan fee audit terhadap auditor switching. Disamping itu, penelitian ini
diharapkan dapat memperkuat temuan-temuan dari penelitian sebelumnya.
b. Bagi Auditor
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi praktik bagi
auditor dan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan klien
melakukan auditor switching serta sebagai referensi agar auditor dapat selalu
menjaga profesionalitas serta independensinya saat melakukan hubungan kerja
dengan klien.
c. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dan
wawasan penulis mengenai pengaruh pergantian manajemen, opini audit,
ukuran perusahaan klien, serta perubahan fee audit terhadap auditor switching
sebagai kajian dalam bidang akuntansi, khususnya auditing.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi penelitian yang
akan datang serta dapat memberikan perbandingan dalam mengadakan
penelitian terkait dengan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan
dalam melakukan auditor switching.

13

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil


1. Teori Agensi
Hubungan agensi muncul ketika satu orang atau lebih (principal)
mempekerjakan orang lain (agent) untuk memberikan suatu jasa, kemudian
mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kepada agen tersebut.
Penyebab timbulnya masalah agensi ini yaitu adanya konflik kepentingan antara
principal dan agent, akibat tidak bertemunya tujuan yang sejalan diantara mereka.
Pada saat pemegang saham (principal) menunjuk manajer (agent) sebagai
pengelola dan pengambil keputusan bagi perusahaan, pada saat itulah muncul
hubungan keagenan antara pemegang saham dengan manajer. Manajer
mengemban tanggung jawab moral untuk mengoptimalkan kepentingan
pemegang saham (principal). Namun, di sisi lain manajer juga memiliki tujuan
untuk memaksimumkan kesejahteraan dan kepentingannya sehingga terdapat
kemungkinan agent tidak selalu bertindak untuk kepentingan terbaik principal
(Jensen dan Meckling, 1976:5).
Manajer sebagai pihak yang mengelola perusahaan, dimana ia memiliki
informasi internal yang lebih banyak mengenai keadaan serta prospek perusahaan
di masa yang akan datang dibandingkan dengan informasi yang dimiliki oleh

14

14

pemegang saham. Ketidakmampuan atau keenggsanan manajemen untuk


mengoptimalkan kepentingan pemegang saham menimbulkan apa yang disebut
dengan masalah keagenan (agency problem). Jensen (1986) menyatakan bahwa
masalah keagenan timbul karena orang cenderung untuk mementingkan dirinya
sendiri serta munculnya konflik ketika beberapa kepentingan bertemu dalam suatu
aktivitas bersama.
Manajer (agent) yang memiliki informasi yang lebih banyak dibandingkan
dengan pemegang saham (principal) harus mengungkapkan informasi akuntansi
yang memaparkan keadaan perusahaan melalui laporan keuangan. Permasalahan
akan muncul saat informasi yang diterima pihak yang berkepentingan tidak sama
dengan keadaan perusahaan yang sesungguhnya. Keadaan ini dikenal sebagai
asimetri informasi yang terjadi karena agent lebih unggul dalam mengetahui dan
memahami informasi dibanding dengan principal. Principal menginginkan
pengembalian secepatnya serta menguntungkan atas investasi yang telah
dilakukannya terhadap perusahaan. Sedangkan agent memiliki tujuan untuk
memperoleh kesempatan menerima bonus dan insentif yang lebih besar atas
pencapaian kinerjanya.
Penilaian prestasi agent dinilai oleh principal berdasarkan kemampuan
agent memperbesar keuntungan yang akan dibagikan pada pembagian dividen.
Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh perusahaan, maka agent dianggap
sukses sehingga dapat memperoleh bonus dan insentif yang lebih besar. Oleh

15

karena itu, agent berusaha untuk memenuhi tuntutan principal untuk memperoleh
insentif yang memadai. Jika tidak dilakukan pengawasan yang cukup, agent bisa
melakukan berbagai cara sehingga seolah-olah target perusahaan tercapai. Agent
dapat melakukan perubahan-perubahan di beberapa kondisi perusahaan untuk
membuat laba yang seolah-olah naik, padahal pada kenyataannya perusahaan
merugi ataupun mengalami penurunan laba.
Bukti teoritis mengenai pergantian auditor didasarkan pada teori agensi.
(Sulistiarini dan Sudarno, 2012:2). Baik principal maupun agent ingin
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya serta ingin terhindar dari resiko yang
mungkin terjadi dalam perusahaan. Dalam teori agensi, auditor independen
berperan sebagai penengah kedua belah pihak (agent dan principal) yang berbeda
kepentingan. Auditor independen juga berfungsi untuk mengurangi biaya agensi
yang timbul dari perilaku mementingkan diri sendiri yang dilakukan oleh manajer.
Teori ini digunakan sebagai dasar hipotesis pertama dan ketiga dimana pergantian
manajemen dan ukuran perusahaan klien dapat mempengaruhi keputusan
perusahaan untuk melakukan auditor switching.
2. Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008
Di Indonesia, peraturan mengenai rotasi KAP telah diterapkan dalam
Keputusan Menteri Keuangan. Pasal 4 ayat 1 dan 2 UU Nomor 5 tahun 2011
tentang akuntan publik menyebutkan bahwa pemberian jasa audit oleh Akuntan
Publik dan/atau KAP atas informasi keuangan historis suatu klien untuk tahun

16

buku yang berturut-turut dapat dibatasi dalam jangka waktu tertentu. Ketentuan
mengenai pembatasan pemberian jasa audit atas informasi keuangan historis
diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Dimulai
diamandemen

dengan
menjadi

KMK
KMK

No.423/KMK.06/2002
No.359/KMK.06/2003.

yang
Aturan

kemudian
tersebut

disempurnakan dengan dikeluarkannya PMK No.17/PMK.01/2008. Dalam pasal 3


ayat 1 Peraturan Menteri Keuangan tahun 2008 disebutkan bahwa pemberian jasa
audit umum dalam suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama enam tahun
berturut-turut dan oleh seorang akuntan publik paling lama tiga tahun buku
berturut-turut pada satu klien yang sama. Disamping itu, dalam pasal 3 ayat 2 dan
3 diatur bahwa akuntan publik dan kantor akuntan dapat menerima kembali
penugasan audit setelah satu tahun buku tidak memberikan jasa audit kepada klien
yang seperti yang disebutkan di atas.
Keputusan

Menteri

Keuangan

Republik

Indonesia

Nomor

359/KMK.06/2003 dan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor


17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik merupakan dasar yang
digunakan dalam penelitian karena periode waktu penelitian ini adalah tahun
2006-2012.
3.

Auditor Switching
Auditor switching merupakan perilaku yang dilakukan oleh perusahaan
untuk berpindah auditor. Hal itu muncul karena adanya kewajiban rotasi audit.

17

Berdasarkan bukti teoritis, dengan adanya rotasi auditor mengakibatkan masa


perikatan audit (audit tenure) yang lebih pendek dan perusahaan akan melakukan
perpindahan auditor (Nasser et al, 2006:4). Dalam menerima suatu perikatan,
seorang auditor memiliki tanggung jawab profesional terhadap masyarakat, klien,
dan anggota profesi akuntan publik lainnya. Oleh karena itu, keputusan untuk
menerima klien audit baru atau melanjutkan hubungan dengan klien yang telah
ada tidak boleh dianggap remeh.
Auditor perlu memperhatikan dengan cermat setiap penugasan audit
terutama audit atas klien baru. Klien baru ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
(1) klien yang sama sekali belum pernah diaudit dan (2) klien pindahan dari KAP
lain. Auditor harus memahami terlebih dahulu latar belakang serta informasiinformasi yang berhubungan dengan entitas bisnis klien untuk memperoleh
pemahaman yang memadai sebelum menandatangani kontrak penugasan audit.
Pemerintah

Indonesia

melalui

Keputusan

Menteri

Keuangan

No.423/KMK.06/2002 yang diubah menjadi Keputusan Menteri Keuangan


No.359/KMK.06/2003 mengharuskan agar perusahaan mengganti KAP yang telah
mendapat penugasan audit selama lima tahun berturut-turut. Perusahaan yang
mengganti KAP-nya yang sudah mengaudit selama lima tahun tidak akan
menimbulkan pertanyaan karena perpindahan auditor bersifat mandatory.
Peraturan tersebut diperbarui dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik pasal

18

3. Peraturan ini mengatur tentang pemberian jasa audit umum atas laporan
keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama untuk enam tahun
buku berturu-turut dan oleh seorang akuntan publik paling lama untuk tiga tahun
buku berturut-turut.
Pergantian auditor secara wajib dengan secara sukarela bisa dibedakan
atas dasar pihak mana yang menjadi fokus perhatian dari isu independensi auditor.
Jika pergantian auditor terjadi secara sukarela, maka perhatian utama adalah pada
sisi klien. Sebaliknya, jika pergantian terjadi secara wajib, perhatian utama beralih
kepada auditor (Febrianto, 2009). Perhatian pada sisi klien seperti kesulitan
keuangan perusahaan, manajemen yang gagal, perubahan kepemilikan/ownership,
initial public offering, ukuran perusahaan klien, dan sebagainya. Perhatian dari
sisi auditor seperti fee audit, kualitas audit, opini audit, dan sebagainya.
Perusahaan yang mengganti auditor akan mengeluarkan biaya yang
seharusnya tidak perlu dikeluarkan apabila dia tetap menggunakan auditor yang
sama. Contohnya, auditor yang baru ditugaskan atas perusahaan klien, hal
pertama yang harus dilakukan adalah memahami lingkungan kerja klien dan
menentukan resiko audit. Bagi auditor yang sama sekali belum mengerti dengan
keadaan tersebut, maka auditor akan memerlukan biaya awal (start-up) yang lebih
tinggi, yang akhirnya dapat menaikkan fee audit. Selain itu, auditor yang
menjalankan tugasnya ditahun awal terbukti memiliki kemungkinan kekeliruan
yang tinggi (Pratitis, 2012:28).

19

Akibat lain dari adanya rotasi auditor yang terlalu sering adalah dari sisi
klien, yaitu auditor yang melaksanakan tugas audit di perusahaan klien di tahun
pertama sedikit banyak akan mengganggu kenyamanan kerja karyawan, dengan
bertanya semua persoalan tentang perusahaan yang seharusnya tidak dilakukan
apabila auditor tidak berganti. American Institute of Certified Public Accountans
(AICPA) menyatakan bahwa kelemahan dari rotasi auditor adalah bahwa
pengetahuan yang diperoleh selama meningkatkan kualitas pekerjaan audit akan
sia-sia dengan pengangkatan auditor baru, dengan kata lain kualitas audit akan
menurun.
Klien mengganti auditornya ketika tidak ada aturan yang mengharuskan
pergantian dilakukan, yang terjadi adalah salah satu dari dua hal yaitu auditor
mengundurkan diri atau auditor diberhentikan oleh klien. Manapun di antara
keduanya yang terjadi, perhatian adalah pada alasan mengapa peristiwa itu terjadi
dan ke auditor mana klien tersebut akan berpindah. Jika alasan pergantian tersebut
adalah karena ketidaksepakatan atas praktik akuntansi tertentu, maka diekspektasi
klien akan pindah ke auditor yang dapat bersepakat dengan klien.
4. Pergantian Manajemen
Teori yang berkaitan dengan pergantian manajemen adalah teori agensi
yang dikemukakan oleh Anthony dan Govindarajan (2002), yang menyatakan
bahwa hubungan agensi ada ketika salah satu pihak (principle) menyewa pihak
lain (agent) untuk melaksanakan suatu jasa dan dalam melakukan hal itu,

20

mendelegasikan wewenang untuk membuat keputusan kepada agen tersebut.


Hubungan antara auditor dengan klien merupakan hubungan timbal balik, dimana
klien menyewa jasa auditor untuk mengaudit laporan keuangannya sehingga
laporan tersebut dapat diandalkan dan relevan sehingga dapat menarik investor,
sedangkan auditor harus secara professional dalam mengaudit laporan keuangan
klien serta mengungkapkan secara transparan dan objektif. Jika manajemen
menilai auditor tidak kompeten dalam melaksanakan tugasnya, tentu akan
membuat manajemen berpikir untuk melakukan auditor switching.
Pergantian manajemen dalam suatu perusahaan memungkinkan manajer
yang baru untuk memilih auditor yang memiliki hubungan baik dengan
perusahaan ataupun memilih auditor yang dapat menghormati pilihan-pilihan serta
kebijakan akuntansi mereka (Schwartz dan Menon, 1985, dalam Chadegani et.al,
2011:161). Menurut Damayanti dan Sudarma (2007:9), pergantian manajemen
merupakan pergantian direksi perusahaan yang dapat disebabkan karena
keputusan rapat umum pemegang saham atau direksi berhenti karena kemauan
sendiri. Adanya manajemen yang baru mungkin juga diikuti oleh perubahan
kebijakan dalam bidang akutansi, keuangan, dan pemilihan KAP. Disini manajer
yang baru membutuhkan auditor yang mampu memenuhi tuntutan pertumbuhan
perusahaan yang cepat.

21

5. Opini Audit
Opini yang terdapat dalam laporan audit sangat penting sekali dalam
proses audit atapun proses atestasi lainnya karena opini tersebut merupakan
informasi utama yang dapat diinformasikan kepada pemakai informasi tentang
apa yang dilakukan auditor dan kesimpulan yang diperolehnya. Pemberian opini
audit dilakukan oleh auditor melalui beberapa tahap proses audit sehingga auditor
dapat memberikan kesimpulan atas opini yang harus diberikan terhadap laporan
kuangan klien yang telah diaudit.
Berdasarkan standar profesional akuntan publik seksi 508, pendapat
auditor dikelompokkan ke dalam lima tipe, yaitu :
a. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified)
Pendapat ini dikeluarkan auditor jika tidak adanya pembatasan
terhadap auditor dalam lingkup audit dan tidak ada pengecualian yang
signifikan mengenai kewajaran, tidak menemukan adanya kesalahan material
atau penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia,
serta penerapan standar akutansi keuangan dalam laporan keuangan disertai
dengan pengungkapan yang memadai dalam laporan keuangan. Laporan audit
tipe ini merupakan laporan yang paling diharapkan dan dibutuhkan oleh semua
pihak, baik oleh klien maupun oleh pihak-pihak berkepentingan lainnya.
Arens et. al., (2004:27) menyatakan bahwa terdapat beberapa kondisi
laporan keuangan yang harus dipenuhi untuk menilai laporan keuangan yang

22

dianggap menyajikan secara wajar kepada posisi keuangan dan hasil suatu
organisasi agar sesuai dengan standar akuntansi keuangan yaitu:
1) Standar akuntansi keuangan digunakan sebagai pedoman untuk menyusun
laporan keuangan,
2) Perubahan standar akuntansi keuangan dari periode ke periode telah
cukup dijelaskan,
3) Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan
dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan
standar akuntansi keuangan yang berlaku.
Pendapat wajar tanpa pengecualian ini dikeluarkan jika semua laporan
keuangan (neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus
kas, serta catatan atas laporan keuangan) telah lengkap diberikan dan tidak ada
keadaan yang mengharuskan auditor untuk menambah paragraf penjelas atau
modifikasi kata-kata dalam laporan audit. Dengan mengeluarkan pendapat
wajar tanpa pengecualian (unqualified), auditor menyatakan bahwa laporan
keuangan klien disajikan secara wajar dalam semua hal material sesuai dengan
prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.
b. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Paragraf Penjelas
(Unqualified Opinion with Explanatory Paragraph)
Suatu paragraf penjelas dalam laporan audit diberikan oleh auditor
dalam keadaan tertentu yang mungkin mengharuskannya melakukan hal

23

tersebut, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian


atas

laporan

keuangan.

Keadaan

yang

menjadi

penyebab

utama

ditambahkannya suatu kalimat penjelas atau modifikasi kata-kata dalam


laporan audit baku adalah:
1) Ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi berterima umum,
2) Keraguan besar tentang kelangsungan hidup entitas,
3) Auditor setuju dengan suatu penyimpangan dari prinsip akuntansi yang
dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan,
4) Penekanan atas suatu hal,
5) Di antara dua periode akuntansi terdapat suatu perubahan material dalam
penggunaan prinsip akuntansi atau dalam metode penerapannya,
6) Pendapat wajar sebagian didasarkan pada laporan audit yang melibatkan
auditor lain.
Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelas diberikan
ketika auditor merasa perlu memberikan informasi tambahan mengenai
laporan keuangan yang disajikan klien. Meskipun suatu proses audit telah
dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan serta laporan keuangan telah
disajikan secara wajar, jika auditor merasa perlu untuk memberikan informasi
tambahan, maka dikeluarkanlah pendapat wajar tanpa pengecualian dengan
paragraf penjelas.

24

c. Pendapat Wajar dengan Pengecualian (Qualified)


Ada beberapa kondisi yang mengharuskan seorang auditor memberikan
pendapat wajar dengan pengecualian, diantaranya yaitu:
1) Klien membatasi ruang lingkup audit,
2) Kondisi-kondisi yang ada diluar kekuasaan klien ataupun auditor
menyebabkan auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting,
3) Laporan keuangan tidak disusun berdasarkan standar akuntansi keuangan,
4) Ketidakkonsistenan

penerapan

standar

akuntansi

keuangan

yang

digunakan dalam menyusun laporan keuangan.


Auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan keuangan memang
telah disajikan secara wajar, tetapi lingkup audit telah dibatasi secara material
atau terjadi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum pada
saat penyiapan laporan keuangan. Dengan adanya kondisi-kondisi tersebut,
auditor dapat mengeluarkan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified).
d. Pendapat tidak Wajar (Adverse)
Pendapat

ini

merupakan

kebalikan

dari

pendapat

wajar

tanpa

pengecualian. Auditor memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan


klien tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan
ekuitas dan arus kas perusahaan klien. Hal ini disebabkan karena laporan
keuangan tidak disusun berdasar standar akuntansi keuangan.

25

Selain itu, pendapat tidak wajar disebabkan karena ruang lingkup auditor
dibatasi sehingga bukti kompeten yang cukup untuk mendukung pendapatnya
tidak dapat dikumpulkan. Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar oleh
auditor maka informasi yang disajikan klien dalam laporan keuangan sama sekali
tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi
keuangan untuk pengambilan keputusan.
e. Pernyataan tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer)
Jika auditor tidak memberikan pendapat atas objek audit, maka laporan ini
disebut laporan tanpa pendapat (disclaimer). Hal ini disebabkan beberapa kondisi,
yaitu adanya pembatasan yang sifatnya luar biasa terhadap lingkungan auditnya,
kemudian karena auditor dan manajemen tidak mencapai kata sepakat dalam
aspek kinerja, maka kondisi ini dapat menyebabkan auditor untuk memberikan
opini disclaimer.
Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat
tidak wajar adalah pendapat tidak wajar ini diberikan dalam keadaan auditor
mengetahui adanya ketidakwajaran dalam laporan keuangan klien, sedangkan
auditor menyatakan tidak memberikan pendapat (disclaimer) karena ia tidak
cukup memperoleh bukti atau kurang memiliki pengetahuan mengenai kewajaran
laporan keuangan auditan atau karena adanya ketidaktercapaian kata sepakat
dengan klien.

26

6. Ukuran Perusahaan Klien


Variabel ini menunjukkan besar kecilnya perusahaan klien. Ukuran
perusahaan dapat diukur dengan menggunakan total aktiva, nilai pasar saham,
nilai penjualan, dan lain-lain. Umumnya, perusahaan dikategorikan menjadi tiga
kelompok berdasarkan total aset perusahaan, yaitu perusahaan besar, perusahaan
menengah, dan perusahaan kecil. Menurut Machfoedz (1994) dalam Febrianty
(2011:297) mengemukakan bahwa penentuan perusahaan ini didasarkan pada
total aset perusahaan. Berikut disajikan kategori ukuran perusahaan:
a. Perusahaan Besar
Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih lebih
besar dari Rp 10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki penjualan
lebih dari Rp 50 Milyar/tahun.
b. Perusahaan Menengah
Perusahaan menengah adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih Rp
1-10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki hasil penjualan lebih
besar dari Rp 1 Milyar dan kurang dari Rp 50 Milyar/tahun.
c. Perusahaan Kecil
Perusahaan kecil adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih paling
banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan dan memiliki hasil
penjualan minimal Rp 1 Milyar/tahun.

27

Selain itu, ukuran perusahaan yang didasarkan pada total aset diatur
dengan ketentuan BAPEPAM No. 11/PM/1997, yang menyatakan bahwa:
Perusahaan menengah atau kecil adalah perusahaan yang memiliki jumlah total
aset tidak lebih dari 100 milyar rupiah. Ukuran perusahaan dalam penelitian ini
dilihat berdasarkan besarnya total aset yang dimiliki perusahaan karena nilai
aktiva relatif lebih stabil dibandingkan dengan nilai kapitalisasi pasar dan
penjualan dalam mengukur ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan ini dihitung
dengan menggunakan logaritma natural (Ln) dari total aktiva. Semakin besar total
aset yang dimiliki perusahaan, semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut.
7. Perubahan Fee Audit
Fee audit adalah honorarium atau upah yang dibebankan oleh akuntan
publik kepada perusahaan auditee atas jasa audit yang dilakukan akuntan publik
terhadap laporan keuangan. Fee audit merupakan hal yang tidak kalah pentingnya
dalam penerimaan penugasan audit. Besarnya fee anggota dapat bervariasi
tergantung oleh risiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat
keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya KAP
yang bersangkutan, dan pertimbangan profesional lainnya. Anggota KAP tidak
diperkenankan mendapatkan klien dengan cara menawarkan fee yang dapat
merusak citra profesi. Masyarakat pada umumnya cenderung mengasosiasikan
harga yang mahal sebanding dengan kualitas yang didapatkan, dan sebaliknya.

28

Menurut Halim (2008:36), ada beberapa cara dalam penentuan atau


penetapan fee audit antara lain: (1) per diem basis, (2) flat atau kontrak basis dan
(3) maksimum fee basis. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Per diem basis
Pada cara ini fee audit ditentukan dengan dasar waktu yang digunakan
oleh tim auditor. Pertama kali audit fee per jam ditentukan, kemudian
dikalikan dengan jumlah waktu atau jam yang dihabiskan oleh tim. Tarif fee
audit per jam untuk tiap tingkatan staf tertentu dapat berbeda-beda.
b. Flat atau Kontrak basis
Pada cara ini audit fee dihitung sekaligus secara borongan tanpa
memperhatikan waktu audit yang dihabiskan. Yang penting pekerjaan
terselesaikan sesuai dengan aturan atau perjanjian.
c. Maksimum fee basis
Cara ini menggunakan gabungan dari kedua cara diatas. Pertama kali
tentukan tarif per jam, kemudian dikalikan dengan jumlah waktu tertentu
tetapi dengan batasan maksimum. Hal ini dilakukan agar auditor tidak
mengulur-ulur waktu sehingga menambah jam atau waktu kerja.
Seorang auditor tentunya bekerja untuk memperoleh penghasilan yang
memadai. Oleh sebab itu, penentuan fee audit harus disepakati bersama baik oleh
klien maupun auditor tersebut. Pengurangan fee audit telah diidentifikasi dalam
penelitian sebelumnya sebagai alasan utama dalam auditor switching.

29

Eichenseher dan Shields (1983) dalam Chadegani et.al (2011:163) menemukan


bahwa fee audit dan hubungan kerja yang baik merupakan dua faktor penting
yang dapat mempengaruhi keputusan pemilihan auditor yang dilakukan
perusahaan. Perusahaan tentunya dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru
yang muncul setiap waktu yang dapat memicu kenaikan dalam fee audit.
Ketika fee audit melampaui batas toleransi yang ditetapkan perusahaan,
perusahaan akan mencari auditor dengan penawaran fee audit yang lebih rendah
meskipun mereka harus melepas auditor yang biasa mereka gunakan untuk
mengaudit laporan keuangan perusahaan. Saat manajer merasa tidak nyaman
dengan fee audit yang mereka bayarkan, mereka akan mencoba untuk melakukan
auditor switching sehingga dapat menemukan penawaran yang lebih baik dengan
fee audit yang mereka tawarkan.
B. Penelitian Sebelumnya
Adapun hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan penelitian ini
dapat dilihat pada tabel 2.1.

30

Tabel 2.1
Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Pergantian Manajemen (X1), Opini Audit (X2), Ukuran Perusahaan Klien (X3),
Perubahan Fee Audit (X4), Auditor Swtiching (Y)
No
1

Judul & Peneliti


The Determinant Factors
of Auditor Switch among
Companies Listed on
Tehran Stock Exchange
(Arezoo A.Chadegani,
Zakiah M.Mohamed, dan
Azam Jari, 2011)

Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Pergantian
Auditor: Studi Empiris
Perusahaan Publik di
Indonesia (Andri Prastiwi
dan Frenawidayuarti

Wilsya, 2009)

Metodologi
Jenis data: Sekunder
Responden: 182
perusahaan yang terdaftar
di Tehran Stock
Exchange
Metode analisis data:
Metode regresi logistik
Variabel lain: qualified
audit opinion, ukuran
KAP, dan financial
distress.
Jenis data: Sekunder
Responden: Perusahaan
manufaktur yang
terdaftar di BEI tahun
2002-2006
Metode analisis data:
Metode regresi logistik
Variabel lain: Masalah
keuangan perusahaan,
pertumbuhan perusahaan,
dan ukuran KAP

Hasil
Ukuran KAP
berpengaruh
signifikan terhadap
auditor switching

X1

X2
-

X3

X4

Ukuran KAP dan


pertumbuhan
perusahaan
berpengaruh secara
signifikan terhadap
auditor switching

Bersambung pada halaman selanjutnya

31

Tabel 2.1 (Lanjutan)


No
3

Judul & Peneliti


Analisis Pengaruh Opini
Audit Going Concern dan
Pergantian Manajemen
pada Auditor Switching
(Nur Wahyuningsih dan I
Ketut Suryanawa, 2012)

Faktor-faktor yang

Mempengaruhi

Perusahaan dalam
Melakukan Auditor
Switch. Studi Kasus
Perusahaan Manufaktur di
BEI (Divianto, 2011)

Metodologi
Jenis data: Sekunder
Responden: Perusahaan
manufaktur yang
terdaftar di BEI tahun
2005-2009
Metode analisis data:
Metode regresi logistik
Variabel lain: Opini audit
going concern
Jenis data: Sekunder
Responden:
Perusahaanmanufaktur
yang terdaftar di BEI
tahun 2007-2009
Metode analisis data:
Metode regresi berganda
Variabel lain: Ukuran
KAP

Hasil
Hanya pergantian
manajemen yang
berpengaruh secara
signifikan terhadap
auditor switching.

X1

X2
-

X3
-

X4
-

Ukuran KAP dan


opini auditor
berpengaruh positif
dan signifikan
secara simultan
terhadap auditor
switching

Bersambung pada halaman selanjutnya

32

Tabel 2.1 (Lanjutan)


No
5

Judul & Peneliti


Analisis Faktor-faktor
Pergantian Kantor
Akuntan Publik. Studi
Empiris pada Perusahaan
Manufaktur di BEI
Periode 2006-2010
(Endina Sulistiarini dan
Sudarno, 2012)

Faktor-faktor yang

Mempengaruhi Pergantian
Auditor Oleh Klien (R.M
Aloysius Pangky Wijaya,
2013)

Metodologi
Jenis data: Sekunder
Responden: Perusahaan
manufaktur yang
terdaftar di BEI tahun
2006-2010
Metode analisis data:
Analisis regresi logistik
Variabel lain: Ukuran
KAP, financial distress,
kepemilikan publik, dan
pergantian komite audit
Jenis data: Sekunder
Responden: Perusahaan
manufaktur yang
terdaftar di BEI tahun
2007-2010
Metode analisis data:
Analisis regresi logistik
Variabel lain: Ukuran
KAP, pertumbuhan
perusahaan, financial
distress, kepemilikan
publik, dan peluang
manipulasi income

Hasil
Ukuran KAP dan
pergantian
manajemen
berpengaruh
signifikan terhadap
auditor switching

X1

X2
-

X3
-

X4
-

Opini auditor,
ukuran KAP, dan
pertumbuhan
perusahaan
berpengaruh
signifikan terhadap
pergantian auditor

Bersambung pada halaman selanjutnya

33

Tabel 2.1 (Lanjutan)


No
7

Judul & Peneliti


Analisis Empiris
Pergantian Kantor
Akuntan Publik Setelah
Ada Kewajiban Rotasi
Audit (Andayani dan
Suparlan, 2010)

Faktor-faktor yang
Mempengaruhi
Perusahaan Berpindah
Kantor Akuntan Publik
(Damayanti dan Sudarma,
2007)

Metodologi
Jenis data: Sekunder
Responden: Perusahaan
non-keuangan dan
investasi yang terdaftar di
BEI tahun 2006-2008
Metode analisis data:
Analisis regresi logistik
Variabel lain:
Kepemilikan
institusional, kepemilikan
publik, share growth,
dewan komisaris,
leverage, dan ROE
Jenis data: Sekunder
Responden: Perusahaan
go public yang terdaftar
di BEJ tahun 2003-2005
Metode analisis data:
Analisis regresi logistik
Variabel lain: kesulitan
keuangan perusahaan,
ukuran KAP, dan ROA

Hasil
Kepemilikan
publik, share
growth, dan ukuran
perusahaan
memiliki pengaruh
terhadap auditor
switching.

X1

X2
-

X3

X4
-

Fee audit dan


Ukuran KAP
berpengaruh
terhadap auditor
switching.

34

C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah
penting. Faktor-faktor tersebut yaitu pergantian manajemen, opini audit, ukuran
perusahaan klien, dan perubahan fee audit yang dianggap dapat mempengaruhi
perusahaan dalam melakukan auditor switching. Penelitian ini menguji pengaruh
pergantian manajemen (X1), opini audit (X2), ukuran perusahaan klien (X3), serta
perubahan fee audit (X4) terhadap auditor switching (Y).
Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas, gambaran menyeluruh
penelitian ini yang mengangkat tentang pengaruh yang terjadi pada pergantian KAP
dapat disederhanakan dalam bentuk kerangka berpikir sebagai berikut:

35

Gambar 2.1
Skema Kerangka Pemikiran
Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Auditor Switching
Adanya tingkat kedekatan antara auditor dengan klien yang menyebabkan skandal
akuntansi yang dilakukan oleh Akuntan Publik.
Dikeluarkannya The Sarbanes-Oxley Act tahun 2002 dan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002 tentang pembatasan praktik jasa akuntan
publik yang diperbaharui dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 tentang jasa akuntan publik
Basis Teori
Variabel Independen

Variabel Dependen

Pergantian Manajemen
Variabel Independen

Variabel Dependen

Opini Audit
Auditor
Switching
Ukuran Perusahaan Klien
Perubahan Fee Audit

Metode Analisis: Regresi Logistik

Hasil Pengujian dan Pembahasan

Kesimpulan, Implikasi, Keterbatasan, dan Saran

36

D. Keterkaitan Antar Variabel dan Perumusan Hipotesis


1. Pergantian Manajemen dengan Auditor Switching
Pergantian manajemen perusahaan terjadi jika perusahaan mengubah
jajaran dewan direksinya. Damayanti dan Sudarma (2007:9) menyatakan bahwa
pergantian manajemen merupakan pergantian direksi perusahaan yang dapat
disebabkan karena keputusan rapat umum pemegang saham atau direksi berhenti
karena kemauan sendiri. Apabila perusahaan mengubah dewan direksi, baik
direktur maupun komisaris akan menimbulkan adanya perubahan dalam
kebijakan perusahaan. Setiap manajemen memiliki gaya kepemimpinan dan
tujuan masing-masing. Jadi, jika terdapat pergantian manajemen secara langsung
atau tidak langsung mendorong auditor switch karena manajemen perusahaan
yang baru cenderung akan mencari KAP yang sesuai dengan kebijakan-kebijakan
manajemen.
Berdasarkan teori agensi yang mengasumsikan bahwa manusia itu
memiliki sifat self interest, maka pihak agen lebih cenderung memilih KAP yang
sesuai dengan keinginan agen. Schwartz dan Menon (1985) dalam Chadegani
et.al. (2011:161), serta Wahyuningsih dan Suryanawa (2012:7) menyatakan
bahwa perusahaan yang melakukan pergantian manajemen akan mengganti KAPnya karena manajemen akan mencari KAP yang sesuai dengan keinginan
perusahaan.

37

Berdasar statistik tersebut bahwa ketika terjadi pergantian CEO di dalam


perusahaan, maka pihak CEO cenderung memilih KAP yang sesuai dengan
keinginannya. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Zadeh dan Roohi
(2010), Wijayani dan Januarti (2011), Wahyuningsih dan Suryanawa (2012),
Sulistiarini dan Sudarno (2012) menemukan bukti bahwa pergantian manajemen
berpengaruh secara signifikan terhadap auditor switching. Sedangkan penelitian
yang dilakukan oleh Damayanti dan Sudarma (2007) serta Chadegani et al.,
(2011) tidak menemukan pengaruh yang signikan antara pergantian manajemen
dengan auditor switching. Berdasarkan hasil yang berbeda-beda tersebut, maka
dirumuskan hipotesa sebagai berikut:
Ha1: Pergantian manajemen berpengaruh positif terhadap auditor switching.
2. Opini Audit dengan Auditor Switching
Setelah mengaudit laporan keuangan klien, auditor memberikan opininya
terhadap laporan keuangan tersebut. Opini yang diberikan oleh auditor dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para pihak yang
berkepentingan, misalnya investor. Investor akan merasa lebih yakin untuk
menanamkan modalnya pada perusahaan yang memiliki opini WTP pada laporan
keuangan.
Jika auditor tidak dapat memberikan opini wajar tanpa pengecualian (tidak
dengan harapan perusahaan), perusahaan akan berpindah KAP yang mungkin
dapat

memberikan

opini

sesuai

dengan

yang

diharapkan

perusahaan

38

(Tandirerung, 2006 dalam Damayanti dan Sudarma, 2007:5). Manajemen akan


memberhentikan auditornya atas opini yang tidak diharapkan perusahaan atas
laporan keuangannya dan berharap untuk mendapatkan auditor yang lebih
lunak/more pliable (Carcello dan Neal, 2003 dalam Damayanti dan Sudarma,
2007:5). Divianto (2011) mendapatkan bukti empiris bahwa perusahaan
cenderung berpindah KAP setelah menerima qualified opinion atas laporan
keuangannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa klien yang mendapat opini audit yang
tidak diharapkan atas laporan keuangannya akan cenderung mengganti KAP.

Hal ini didukung oleh penelitian Chow dan Rice (1982), Hudaib dan
Cooke (2005) dan Divianto (2011) menemukan bukti empiris bahwa opini audit
meningkatkan tingkat auditor switching, sedangkan penelitian yang dilakukan
oleh Chadegani, Mohamed, dan Jari (2011) menemukan bahwa opini audit tidak
berpengaruh secara signifikan pada perusahaan go public di Malaysia. Dengan
adanya hasil penelitian yang beragam tersebut, maka dirumuskan hipotesa sebagai
berikut:
Ha2: Opini audit berpengaruh positif terhadap auditor switching.
3. Ukuran Perusahaan Klien dengan Auditor Switching
Ukuran perusahaan klien merupakan suatu skala di mana dapat
diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan yang dihubungan dengan keadaan
keuangan perusahaan. Perusahaan yang besar dipercayai dapat menyelesaikan
kesulitan-kesulitan keuangan yang dihadapinya daripada perusahaan kecil
(Mutchler, 1985). Untuk mengukur ukuran perusahaan dapat diproyeksikan pada
39

total aset. Francis et al. (1988), Naaser et al. (2006), serta Suparlan dan Andayani
(2010) menunjukkan bahwa ukuran perusahaan klien memiliki pengaruh
signifikan terhadap pemilihan kantor akuntan publik. Sedangkan penelitian yang
dilakukan oleh Chadegani, Mohamed, dan Jari (2011) menemukan bahwa ukuran
perusahaan klien tidak berpengaruh signifikan terhadap auditor switching.
Sinason et al., (2001:4) mengemukakan bahwa perusahaan besar mungkin
memerlukan biaya awal yang lebih besar untuk auditor baru. Kenaikan biaya
(baik langsung dan tidak langsung) dapat menyebabkan peningkatan hubungan
auditor-klien, sehingga meningkatkan penguasaan auditor. Klien juga dikenai
biaya awal saat terlibat auditor baru. Misalnya, personil klien banyak
menghabiskan waktu dengan auditor baru untuk memberikan informasi mengenai
bisnis klien. Hal itu menimbulkan biaya tidak langsung ketika membina
hubungan baru dengan auditor baru.
Auditee yang lebih besar, karena kompleksitas operasi mereka dan
peningkatan pemisahan antara manajemen dan kepemilikan, sangat memerlukan
KAP yang dapat mengurangi agency cost dan ancaman kepentingan pribadi
auditor (Hudaib dan Cooke, 2005:8). Hal ini berarti, klien besar memiliki
kecenderungan lebih rendah untuk berganti auditor dibandingkan klien yang
kecil. Berdasarkan penemuan tersebut, dapat dirumuskan hipotesa sebagai
berikut:
Ha3: Ukuran perusahaan klien berpengaruh negatif terhadap auditor switching.

40

4. Perubahan Fee Audit dengan Auditor Switching


Pengurangan fee audit telah diidentifikasi dalam penelitian-penelitian
sebelumnya sebagai alasan utama dalam auditor switching. Menurut Eichenseher
dan Shields (1983) dalam Chadegani et al. (2011:163), fee audit dan hubungan
kerja yang baik merupakan dua faktor penting yang dapat mempengaruhi
keputusan pemilihan auditor yang dilakukan perusahaan. Perusahaan tentunya
dihadapkan dengan persoalan-persoalan baru yang muncul setiap waktu yang
dapat memicu kenaikan dalam fee audit. Ketika fee audit melampaui batas
toleransi yang ditetapkan perusahaan, perusahaan akan mencari auditor dengan
penawaran fee audit yang lebih rendah meskipun mereka harus melepas auditor
yang biasa mereka gunakan untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan. Saat
manajer merasa tidak nyaman dengan fee audit yang mereka bayarkan, mereka
akan mencoba untuk melakukan auditor switching sehingga dapat menemukan
penawaran yang lebih baik dengan fee audit yang mereka tawarkan.
Auditor

menetapkan fee audit

yang sesuai dan wajar dengan

mempertimbangkan tugas yang akan dikerjakan, apakah dalam pelaksanaannya


membutuhkan biaya yang tinggi, tingkat kesulitan, serta waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan proses auditnya. Tinggi rendahnya fee audit yang ditetapkan
menggambarkan image kantor akuntan publik di masyarakat dan apakah auditor
professional dalam bidangnya. Dorongan untuk melakukan auditor switching
dapat disebabkan oleh fee audit yang terlalu tinggi yang ditawarkan oleh suatu

41

KAP terhadap suatu perusahaan sehingga tidak tercapainya kesepakatan antara


perusahaan klien dengan KAP mengenai besarnya fee audit yang akan diterima
oleh auditor tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Chadegani, Mohamed, dan Jari (2011)
menemukan bahwa perubahan fee audit tidak berpengaruh signifikan terhadap
auditor switching di Malaysia. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
Calderon dan Ofobike (2008), Damayanti dan Sudarma (2007), Zadeh dan Roohi
(2010), Wijayanti (2010) memperoleh bukti bahwa fee audit berpengaruh secara
signifikan terhadap auditor switching. Oleh karena itu, dapat dirumuskan hipotesa
sebagai berikut:
Ha4: Perubahan fee audit berpengaruh positif terhadap auditor switching.

42

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Ruang Lingkup Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kausalitas yang bertujuan
untuk menjelaskan hubungan serta pengaruh antara dua atau lebih gejala atau
variabel. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh pergantian manajemen,
opini audit, ukuran perusahaan klien, serta perubahan fee audit terhadap auditor
switching dengan menggunakan data laporan keuangan perusahaan real estate dan
properti yang terdaftar di BEI dengan periode 2006-2012.
B. Metode Penentuan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah laporan keuangan perusahaan real estate
dan properti yang terdaftar di BEI periode 2006-2012. Penentuan populasi selama
enam tahun ini berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tentang auditor swiching
yang mengatur pemberian jasa audit oleh KAP paling lama selama 6 tahun berturutturut. Metode penentuan sampel dalam penelitian ini termasuk dalam purposive
sampling karena terlebih dahulu sudah ditentukan kriteria-kriteria sampel yang akan
diambil. Purposive sampling adalah teknik mengambil sampel dengan menyesuaikan
diri berdasar kriteria atau tujuan tertentu (disengaja). Dalam penelitian ini, peneliti
ingin melihat faktor-faktor yang mempengaruhi auditor switching pada perusahaan
real estate dan properti yang terdaftar di BEI sehingga hanya perusahaan-perusahaan

43

43

yang bergerak di bidang tersebut yang dapat dijadikan sampel. Oleh karena itu,
penelitian ini menggunakan metode purposive sampling.
C. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua cara dalam memperoleh data,
yaitu:
1. Penelitian Pustaka
Peneliti memperoleh data mengenai masalah yang diteliti melalui buku, jurnal,
tesis, internet, serta perangkat lain yang berkaitan dengan judul penelitian.
2. Penelitian Lapangan
Data yang digunakan merupakan data sekunder dengan mengambil data laporan
keuangan perusahaan real estate dan properti yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2006-2012. Pertimbangan pengambilan data sekunder ini karena
data sekunder lebih mudah didapat, lebih murah, dan efisien sesuai dengan bidang
yang diteliti oleh penulis.
D. Metode Analisis Data
Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis
kuantitatif. Analisis kuantitatif dilakukan dengan cara menganalisis permasalahan
yang diwujudkan dengan data yang dapat dijelaskan secara kuantitatif. Dalam
penelitian ini, analisis kuantitatif dilakukan dengan cara mengkuantifikasi data-data
penelitian sehingga menghasilkan informasi yang dibutuhkan dalam analisis data.

44

1. Definisi Regresi Logistik


Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi
logistik (logistic regression). Alasan penggunaan alat analisis regresi logistik
(logistic regression) adalah karena variabel dependen bersifat dikotomi
(melakukan auditor switching dan tidak melakukan auditor switching). Ghozali
(2006:333) menyatakan bahwa metode regresi logistik sebenarnya mirip dengan
analisis diskriminan. Analisis ini ingin menguji apakah terjadinya variabel terikat
(dependen) dapat diprediksi dengan variabel bebasnya (independen). Penelitian
ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang merupakan penekanan pada
pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan
melakukan analisis data dengan prosedur statistik.
Asumsi multivariate normal distribution tidak dapat dipenuhi karena
variabel bebasnya merupakan campuran antara kontinyu (metrik) dan kategorikal
(non-metrik). Menurut Ghozali (2011:333) penggunaan metode regresi tidak
memerlukan asumsi normalitas pada variabel bebasnya. Artinya, variabel
penjelasnya tidak harus memiliki distribusi normal, linear, maupun memiliki
varian yang sama dalam setiap kelompok. Gujarati (2003) menyatakan bahwa
logistic regression juga mengabaikan masalah heteroscedacity. Variabel
dependen tidak memerlukan homoscedacity untuk masing-masing variabel
independennya, sehingga tahapan analisis hanya akan terdiri dari penjelasan
statistik deskriptif dan pengujian hipotesis penelitian.

45

2. Tahapan Regresi Logistik


Tahapan dalam analisis regresi logistik terdiri dari statistik deskriptif dan
pengujian hipotesis penelitian yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Statistik Deskriptif
Statistik

deskriptif

digunakan

untuk

menggambarkan

dan

mendeskripsikan variabel-variabel dalam penelitian. Statistik deskriptif dalam


penelitian pada dasarnya merupakan proses transformasi data penelitian dalam
bentuk tabulasi sehingga mudah dipahami dan di interpretasikan. Tabulasi
menyajikan ringkasan, pengaturan atau penyusunan data dalam bentuk tabel
dan grafik. Statistik deskriptif umumnya digunakan oleh peneliti untuk
memberikan informasi mengenai karakteristik variabel penelitian yang utama.
Penelitian statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskriptif
suatu data yang dapat dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi,
varians, dan maksimum-minimum (Ghozali, 2011:19). Mean digunakan untuk
memperkirakan besar rata-rata populasi yang diperkirakan dari sampel.
Maksimum-minimum

digunakan untuk

melihat

nilai

minimum

dan

maksimum dari populasi. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat gambaran
keseluruhan dari sampel yang brhasil dikumpulkan dan memenuhi syarat
untuk dijadikan sampel penelitian.

46

b. Pengujian Hipotesis Penelitian


Uji Wald digunakan untuk menguji parameter i secara parsial
pengaruh masing-masing

variabel independen (x)

terhadap variabel

dependennya (y). Hipotesis yang diuji adalah:


Ho: i = 0
Ha: i 0
Hipotesis nol menyatakan bahwa variabel independen (x) tidak
mempunyai pengaruh terhadap variabel respon yang diperhatikan (dalam
populasi). Pengujian terhadap hipotesis dilakukan dengan menggunakan =
5%. Umumnya, untuk ilmu sosial, termasuk ekonomi dan keuangan, besarnya
adalah 5% (Nachrowi dan Usman, 2006:15). Nilai dinyatakan sebagai
besarnya tingkat kesalahan yang dapat ditolerir. Kaidah pengambilan
keputusan adalah:
a) Jika nilai probabilitas (sig.) < = 5% maka hipotesis alternatif didukung.
b) Jika nilai probabilitas (sig.) > = 5% maka hipotesis alternatif tidak
didukung.
Untuk melakukan pengujian terhadap hipotesis, dalam penggunaan
regresi logistik digunakan analisis sebagai berikut:
1) Menilai Keseluruhan Model (Overall Model Fit)
Menurut Ghozali (2011:340), langkah pertama adalah menilai
overall model fit terhadap data. Beberapa tes statistik diberikan untuk
47

menilai hal ini. Hipotesis yang digunakan untuk menilai model fit adalah
sebagai berikut:
H0 = Model yang dihipotesiskan fit dengan data
HA = Model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data
Dari hipotesis ini jelas bahwa kita tidak akan menolak hipotesis
nol agar model fit dengan data. Statistik yang digunakan berdasarkan pada
fungsi likelihood. Likelihood L dari model adalah probabilitas bahwa
model yang dihipotesiskan menggambarkan data input. Untuk menguji
hipotesis nol dan alternatif, L ditransformasikan menjadi -2LogL.
Penurunan likelihood (-2LL) menunjukkan model regresi yang lebih baik
atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.
2) Koefisien Determinasi (Nagelkerke R Square)
Menurut Ghozali (2011:341), Cox dan Snells R Square
merupakan ukuran yang mencoba meniru ukuran R2 pada multiple
regression yang didasarkan pada teknik estimasi likelihood dengan nilai
maksimum kurang dari 1 (satu) sehingga sulit diinterpretasikan.
Nagelkerkes R square merupakan modifikasi dari koefisien Cox dan
Snell untuk memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0 (nol) sampai 1
(satu). Hal ini dilakukan dengan cara membagi nilai Cox dan Snells R2
dengan nilai maksimumnya. Nilai Nagelkerkes R2 dapat diinterpretasikan
seperti nilai R2 pada multiple regression. Nilai yang kecil berarti

48

kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi


variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti
variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
3) Menguji Kelayakan Model Regresi
Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer
and Lemeshows Goodness of Fit Test. Hosmer and Lemeshows
Goodness of Fit Test menguji hipotesis nol bahwa data empiris cocok atau
sesuai dengan model (tidak ada perbedaan antara model dengan data
sehingga model dapat dikatakan fit). Jika nilai statistik Hosmer and
Lemeshows Goodness of Fit Test sama dengan atau kurang dari 0,05,
maka hipotesis nol ditolak yang berarti ada perbedaan signifikan antara
model dengan nilai observasinya sehingga Goodness fit model tidak baik
karena model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika nilai
statistic Hosmer and Lemeshows Goodness of Fit Test lebih besar dari
0,05, maka hipotesis nol tidak dapat ditolak dan berarti model mampu
memprediksi nilai observasinya atau dapat dikatakan model dapat
diterima karena cocok dengan data observasinya.
4) Uji Multikolinieritas
Model regresi yang baik adalah regresi dengan tidak adanya gejala
korelasi yang kuat di antara variabel bebasnya. Pengujian ini

49

menggunakan matrik korelasi antar variabel bebas untuk melihat besarnya


korelasi antar variabel independen. Jika variabel independen saling
berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal
adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel
independen sama dengan nol (Damayanti dan Sudarma, 2007).
5) Matriks Klasifikasi
Matriks klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model
regresi untuk memprediksi kemungkinan pergantian KAP yang dilakukan
oleh perusahaan.
6) Model Regresi Logistik yang Terbentuk
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
regresi logistik (logistic regression), yaitu dengan melihat pengaruh
pergantian manajemen, opini audit, ukuran perusahaan klien, dan
perubahan fee audit terhadap pergantian KAP pada perusahaan real estate
dan properti. Model regresi dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berkut:
CHANGES = o + CEO+ OPINI + LnTA + FEE + e
1

Dimana:
CHANGES

= Auditor Switching

= Konstanta

-
1

= Koefisien Arah Regresi


50

CEO

= Pergantian Manajemen

OPINI

= Opini Audit

LnTA

= Ukuran Perusahaan Klien

FEE

= Perubahan Fee Audit

= Error (variabel lain yang tidak dijelaskan dalam model)


Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara membandingkan

antara probabilitas (sig.) dengan tingkat signifikansi (). Untuk


menganalisis pengaruh variabel pergantian manajemen (X1), opini audit
(X2), ukuran perusahaan klien (X3), dan perubahan fee audit (X4)
terhadap auditor switching (Y) digunakan analisisa regresi logistik
dengan tingkat taraf signifikansi sebesar 5%. Auditor switching,
pergantian manajemen, opini audit, serta perubahan fee audit merupakan
varibel berpasangan serta dapat diukur menggunakan dummy. Untuk
ukuran perusahaan klien diukur berdasarkan total asetnya.
E. Operasionalisasi Variabel Penelitian
Pada bagian ini akan diuraikan definisi dari masing-masing variabel yang
digunakan berikut dengan operasional dan cara pengukurannya.
1. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah auditor switching. Auditor
switching merupakan perilaku yang dilakukan oleh perusahaan untuk berpindah
auditor. Pengukuran variabel ini telah dilakukan oleh Prastiwi dan Wilsya (2009),

51

dan Chadegani et al. (2011) yang mengukur variabel ini menggunakan variabel
dummy. Perusahaan yang melakukan auditor switch termasuk kategori nilai 1 dan
yang tidak melakukan auditor switch termasuk kategori nilai 0.
2. Variabel independen
Variabel independen (variabel bebas) adalah tipe variabel yang
menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lain (Indriantoro dan Supomo,
2002:65). Variabel independen dalam penelitian ini adalah pergantian
manajemen, opini audit, ukuran perusahaan klien, serta perubahan fee audit.
Adapun penjelasan variabel-variabel tersebut sebagai berikut:
a) Pergantian Manajemen
Pergantian

manajmen

adalah

pergantian

pihak-pihak

yang

bertanggung jawab terhadap pengelolaan perusahaan, seperti direksi,


komisaris, maupun manajer senior lainnya. Pergantian manajemen dalam
suatu perusahaan memungkinkan manajer yang baru untuk memilih auditor
yang memiliki hubungan baik dengan perusahaan ataupun memilih auditor
yang dapat menghormati pilihan-pilihan serta kebijakan akuntansi mereka
(Schwartz dan Menon, 1985, dalam Chadegani et.al, 2011). Pengukuran
variabel ini sebelumnya telah digunakan oleh Chadegani et al. (2011) serta
Damayanti dan Sudarma (2007). Variabel pergantian manajemen diukur
menggunakan variabel dummy. Jika terdapat pergantian direksi dalam

52

perusahaan maka diberikan nilai 1. Sedangkan jika tidak terdapat pergantian


direksi dalam perusahaan, maka diberikan nilai 0.
b) Opini Audit
Opini audit merupakan opini yang dikeluarkan oleh auditor setelah
selesai mengaudit laporan keuangan suatu perusahaan. Opini yang terdapat
dalam laporan audit sangat penting sekali dalam proses audit atapun proses
atestasi lainnya karena opini tersebut merupakan informasi utama yang dapat
diinformasikan kepada pemakai informasi tentang apa yang dilakukan auditor
dan kesimpulan yang diperolehnya. Pengukuran variabel ini sudah digunakan
oleh Damayanti dan Sudarma (2007) dan Wijaya (2013). Variabel opini audit
menggunakan variabel dummy. Jika perusahaan klien menerima selain opini
wajar tanpa pengecualian (unqualified) maka diberikan nilai 1, sedangkan jika
perusahaan klien menerima opini wajar tanpa pengecualian (unqualified),
maka diberikan nilai 0 (Wijaya, 2013:14).
c) Ukuran Perusahaan Klien
Ukuran klien merupakan besarnya ukuran sebuah perusahaan yang
diukur berdasarkan total aset. Semakin besar total aset sebuah perusahaan
mengindikasikan bahwa ukuran perusahaan tersebut besar, begitu juga
sebaliknya, semakin kecil total aset sebuah perusahaan mengindikasikan
bahwa ukuran perusahaan tesebut kecil. Variabel ukuran klien dalam

53

penelitian ini dihitung dengan melakukan logaritma natural (Ln) atas total aset
perusahaan (Nasser et al., 2006:729).
d) Perubahan Fee Audit
Fee audit merupakan besarnya biaya yng dibayar oleh perusahaan
kepada auditor atas jasa mengaudit laporan keuangannya. Variabel fee audit
menggunakan variabel dummy. Jika klien melakukan change class atau
perpindahan kelas Kantor Akuntan Publik (KAP), maka diberikan nilai 1.
Sedangkan jika klien tidak melakukan perpindahan kelas (change class)
Kantor Akuntan Publik (KAP), maka diberikan nilai 0 (Damayanti dan
Sudarma, 2007:9)
Variabel dan skala pengukuran yang terdapat dalam penelitian disajikan
secara ringkas dalam Tabel 3.1 di bawah ini.
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel dan Pengukurannya
No

Variabel

Auditor
Switching
(Prastiwi
dan
Wilsya,
2009)

Jenis Variabel

Indikator

Skala
Pengukuran

Dependen

Variabel dummy,
nilai 1 diberikan
jika perusahaan
mengganti KAP,
dan 0 untuk
perusahaan yang
tidak mengganti
KAP

Nominal

Bersambung pada halaman selanjutnya

54

Tabel 3.1 (Lanjutan)


No

Variabel

Pergantian
Manajemen
(Chadegani
et.al, 2011)

Opini
Audit
(Wijaya,
2013)

Jenis Variabel

Indikator

Skala
Pengukuran

Independen

Variabel dummy,
nilai 1 diberikan
jika perusahaan
mengganti
direktur utama
(CEO), dan 0
untuk
perusahaan yang
tidak mengganti
direktur utama
(CEO)

Nominal

Independen

Variabel dummy,
nilai 1 diberikan
jika perusahaan
menerima opini
selain wajar
tanpa
pengecualian,
dan 0 untuk
perusahaan yang
menerima opini
wajar tanpa
pengecualian

Nominal

Logaritma
natural (Ln) atas
total aset
perusahaan

Rasio

Ukuran
Perusahaan
4
Klien
Independen
(Nasser
et.al, 2006)
Bersambung pada halaman selanjutnya

55

Tabel 3.1 (Lanjutan)


No

Variabel

Perubahan
Fee Audit
(Damayanti
dan
Sudarma,
2007)

Jenis Variabel

Indikator

Skala
Pengukuran

Independen

Variabel dummy,
jika klien
melakukan
perpindahan kelas
(change class)
KAP dari big four
ke non big four
maupun dari non
big four ke big
four maka
diberikan nilai 1,
jika klien tidak
melakukan
perpindahan kelas
(change class)
KAP maka
diberikan nilai 0

Nominal

56

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian


1. Deskripsi Objek Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan real estate dan properti
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai tahun 2006-2012. Perusahaan
industri real estate dan Properti tersebut telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia
sebelum 1 Januari 2006 dan selama periode penelitian tersebut tidak keluar dari
Bursa Efek Indonesia atau mengalami delisting. Industri real estate dan properti
dipilih karena penelitian auditor switching di industri tersebut masih tergolong
sangat sedikit. Penelitian mengenai auditor switching lebih banyak mengambil
sampel pada perusahaan manufaktur. Selain itu juga untuk menghindari adanya
industrial effect, yaitu resiko industri yang berbeda antara sektor industri yang
satu dengan yang lain. Fokus penelitian ini adalah ingin melihat pengaruh
pergantian manajemen, opini audit, ukuran perusahaan klien, serta fee audit
terhadap pergantian KAP pada industri real estate dan properti.
Alasan penggunaan data mulai tahun 2006-2012 adalah karena tahun
2006-2012 merupakan data perusahaan yang dapat memberikan gambaran tentang
kondisi keuangan perusahaan industri real estate dan properti yang berkaitan
dengan Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 423/KMK.06/2002 tentang
57

57

jasa akuntan publik yang diperbaharui dengan Peraturan Menteri Keuangan


Republik Indonesia Nomor 17/PMK.01/2008 pasal 3 tentang jasa akuntan publik.
Peraturan terbaru menyebutkan bahwa pemberian jasa audit umum atas laporan
keuangan dari suatu entitas dilakukan oleh KAP paling lama untuk 6 (enam)
tahun buku berturut-turut dan oleh seorang akuntan publik paling lama untuk 3
(tiga) tahun buku berturut-turut. Namun, dalam analisa statistik peneliti hanya
menggunakan data enam tahun (2007-2012) karena ada beberapa variabel yang
membutuhkan data dari tahun sebelumnya (t-1), yaitu variabel audit fee dan
auditor switching, sehingga untuk tahun 2006 tidak dimasukkan dalam analisis
statistik karena beberapa data yang dibutuhkan dari tahun 2005 tidak dipakai.
Data tahun 2006 hanya untuk melengkapi data tahun 2007.
Tabel 4.1 berikut menyajikan tahapan seleksi sampel berdasarkan kriteria
yang telah ditetapkan.
Tabel 4.1
Tahapan Seleksi Sampel dengan Kriteria
Jumlah perusahaan yang listing di BEI tahun 2006-2012
Terdaftar sebelum 1 Januari 2006
Perusahaan tidak melakukan pergantian KAP
Perusahaan tidak menerbitkan laporan keuangan dan informasi tidak
lengkap
Jumlah perusahaan sampel
Tahun pengamatan (tahun)
Jumlah sampel total selama periode penelitian
Sumber: data diolah

43
27
10
3
14
6
84

58

Jumlah perusahaan industri real estate dan properti yang terdaftar di


Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2006-2012 berjumlah 43 perusahaan.
Dari 43 perusahaan real estate dan properti tersebut terdapat 27 perusahaan yang
terdaftar sebelum 1 Januari 2006, dan dari 26 perusahaan real estate dan properti
tersebut terdapat 10 perusahaan yang tidak melakukan auditor switching dan 3
perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangannya secara lengkap sehingga
perusahaan real estate dan properti yang dijadikan sampel adalah sebanyak 14
perusahaan. Sedangkan total pengamatan yang dijadikan sampel penelitian ini
adalah sebanyak 84 pengamatan.
2. Deskripsi Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini, sampel dipilih dengan metode purposive sampling
dengan menggunakan kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Sampel dipilih bagi
perusahaan industry real estate dan properti yang menyajikan data yang
dibutuhkan dalam penelitian ini, seperti nama KAP, opini audit, total aset, dan
perubahan fee audit. Ringkasan sampel penelitian disajikan dalam Tabel 4.2.
Tabel 4.2
Sampel Penelitian
No
1

Nama Perusahaan
Sentul City Tbk

Kode
BKSL

Bintang Mitra Semestaraya Tbk.

BMSR

Ciputra Development Tbk.

CTRA

4
Ciputra Surya Tbk.
Bersambung pada halaman selanjutnya

CTRS

59

Tabel 4.2 (Lanjutan)


5

Intiland Development Tbk.

DILD

Gowa Makassar Tourism Development Tbk.

GMTD

Kawasan Industri Jababeka Tbk.

KIJA

Global Land Development Tbk.

KPIG

Lamicitra Nusantara Tbk.

LAMI

10

Modernland Realty Tbk.

MDLN

11

Metro Realty Tbk.

MTSM

12

Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk.

RBMS

13

Royal Oak Development Asia Tbk.

RODA

14
Suryamas Dutamakmur Tbk.
Sumber: data diolah

SMDM

B. Hasil Uji Instrumen Penelitian


Hipotesis dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan model regresi
logistik (logistic regression). Tujuannya adalah untuk memperoleh gambaran yang
menyeluruh mengenai pengaruh variabel independen (pergantian manajemen, opini
audit, ukuran perusahaan klien, dan perubahan fee audit terhadap variabel dependen
yaitu auditor switching.
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Berdasarkan hasil uji statistik deskriptif diperoleh sebanyak 84 data
observasi yang berasal dari perkalian antara periode penelitian (6 tahun; dari
tahun 2006 sampai 2012) dengan jumlah perusahaan sampel (14 perusahaan).
Hasil uji statistik deskriptif dapat dilihat pada tabel 4.3 berikut ini.

60

Tabel 4.3
Statistik Deskriptif

N
84
84
84
84
84

Descriptive Statistics
Minimum Maximum
Mean
0
1
.27
0
1
.19
0
1
.67
25.02
30.34
27.83
0
1
.12

CHANGES
CEO
OPINI
LnTA
FEE
Valid N
84
(listwise)
Sumber: output SPSS

Std. Deviation
.449
.395
.474
1.3651945
.326

Tabel 4.3 menunjukkan statistik deskriptif masing-masing variabel


penelitian. Berdasarkan Tabel 4.3, hasil analisis dengan menggunakan statistik
deskriptif terhadap auditor switching (CHANGES) menunjukkan nilai minimum
sebesar 0, nilai maksimum sebesar 1 dengan rata-rata sebesar 0,27 dan standar
deviasi 0,449. Hasil analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap
pergantian manajemen (CEO) menunjukkan nilai minimum sebesar 0, nilai
maksimum sebesar 1 dengan rata-rata sebesar 0,19 dan standar deviasi 0,395.
Hasil analisis dengan menggunakan statistik deskriptif terhadap opini audit
(OPINI) menunjukkan nilai minimum sebesar 0, nilai maksimum sebesar 1
dengan rata-rata sebesar 0,67 dan standar deviasi 0,474. Hasil analisis dengan
menggunakan statistik deskriptif terhadap ukuran perusahaan klien (LnTA)
menunjukkan nilai minimum sebesar 25,02, nilai maksimum sebesar 30,34
dengan rata-rata sebesar 27,83 dan standar deviasi 1,365. Hasil analisis dengan
menggunakan statistik deskriptif terhadap fee audit (FEE) menunjukkan nilai
61

minimum sebesar 0, nilai maksimum sebesar 1 dengan rata-rata sebesar 0,12 dan
standar deviasi 0,326. Variabel ukuran perusahaan klien yang menggunakan skala
pengukuran rasio, memiliki nilai rata-rata lebih besar dari nilai standar deviasi.
Hal ini menunjukkan bahwa kualitas data dari variabel tersebut cukup baik,
karena nilai rata-rata yang lebih besar dari nilai standar deviasinya
mengidentifikasikan bahwa standar error dari variabel tersebut kecil. Sedangkan
untuk variabel auditor switching, pergantian manajemen, opini audit, dan fee
audit yang menggunakan skala pengukuran nominal, nilai rata-rata dan standar
deviasi tidak tepat digunakan sebagai alat analisis kualitas data, karena kode
angka yang digunakan dalam skala pengukuran nominal hanya berfungsi sebagai
label kategori semata tanpa nilai intrinsik dan tidak memiliki arti apa-apa
(Ghozali, 2011:4).
2. Hasil Uji Hipotesis Penelitian
Karena variabel dependen bersifat dummy (melakukan auditor switching dan
tidak melakukan auditor switching), maka pengujian terhadap hipotesis dilakukan
dengan menggunakan uji regresi logistik. Tahapan dalam pengujian dengan
menggunakan uji regresi logistik dapat dijelaskan sebagai berikut (Ghozali,
2011:340):

a) Hasil Uji Keseluruhan Model (Overall Model Fit)


Berdasarkan tabel 4.4, diperoleh informasi bahwa pengujian dilakukan
dengan membandingkan nilai antara -2 Log Likelihood (-2LL) pada awal
(Block Number=0) dengan nilai -2 Log Likelihood (-2LL) pada akhir (Block
62

Number=1). Nilai -2LL awal adalah sebesar 98,618. Setelah dimasukkan


keempat variabel independen, maka nilai -2LL akhir mengalami penurunan
menjadi 48,669. Penurunan Likelihood (-2LL) ini menunjukkan model regresi
yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan
data. Hasil uji keseluruhan model dapat dilihat pada tabel 4.4 berikut ini:

Tabel 4.4
Menilai Keseluruhan Model
Iteration Historya,b,c,d

Iteration

-2 Log
likelihood

Coefficients
Constant

CEO

OPINI

LnTA

FEE

Step 1 1

58.846

10.315

.582

-.335

-.414

3.503

50.889

17.930

1.153

-.581

-.706

5.486

49.103

22.502

1.555

-.760

-.882

7.167

48.799

23.985

1.687

-.822

-.939

8.420

48.716

24.121

1.699

-.828

-.944

9.454

48.687

24.124

1.699

-.828

-.944

10.460

48.676

24.124

1.699

-.828

-.944

11.462

Bersambung pada halaman selanjutnya

63

Tabel 4.4 (Lanjutan)


8

48.672

24.124

1.699

-.828

-.944

12.463

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

13.463

10

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

14.463

11

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

15.463

12

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

16.463

13

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

17.463

14

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

18.463

15

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

19.463

16

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

20.463

17

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

21.463

18

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

22.463

19

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

23.463

20

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

24.463

Initial -2 Log Likelihood: 98.618


Sumber: output SPSS
b) Hasil Uji Koefisien Determinasi (Nagelkerke R. Square)
Besarnya nilai koefisien determinasi pada model regresi logistik
ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R Square. Nilai Nagelkerke R Square
adalah sebesar 0,649 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat
dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 64,9%, sedangkan sisanya

64

sebesar 35,1% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian,


seperti ukuran KAP, opini going concern, financial distress, dan pertumbuhan
perusahaan. Tabel 4.5 berikut menyajikan hasil uji koefisien determinasi
(Nagelkerke R Square):

Step
1

Tabel 4.5
Koefisien Determinasi
Model Summary
-2 Log
Cox & Snell Nagelkerke
likelihood
R Square
R Square
a
48.669
.448
.649
Sumber: output SPSS

c) Hasil Uji Kelayakan Model Regresi


Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer and
Lemeshows Goodness of Fit Test. Pengujian menunjukkan nilai Chisquare sebesar 10,676 dengan signifikansi (p) sebesar 0,221. Berdasarkan
hasil tersebut, karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka model
dapat disimpulkan mampu memprediksi nilai observasinya. Hasil uji
kelayakan model regresi disajikan pada tabel 4.6 berikut ini:
Tabel 4.6
Menguji Kelayakan Model Regresi
Hosmer and Lemeshow Test
Step
1

Chi-square
10.676

df

Sig.
8

.221

Sumber: output SPSS


65

d) Hasil Uji Multikolinieritas


Model regresi yang baik adalah regresi dengan tidak adanya gejala
korelasi yang kuat di antara variabel bebasnya. Pengujian ini menggunakan
matriks korelasi antar variabel bebas untuk melihat besarnya korelasi antar
variabel independen. Hasil Tabel 4.7 menunjukkan tidak ada nilai koefisien
korelasi antar variabel yang nilainya lebih besar dari 0,8, maka tidak ada
gejala multikolinieritas yang serius antar variabel bebas (Damayanti dan
Sudarma, 2007:14).
Tabel 4.7
Hasil Uji Multikolinieritas
Correlation Matrix
Constant
CEO
OPINI
Constant
1.000
.314
.273
CEO
Step 1 OPINI
LnTA
FEE

.314
.273
-.998
.000

1.000
-.092
-.330
.000

-.092
1.000
-.300
.000

LnTA
-.998

FEE
.000

-.330
-.300
1.000
.000

.000
.000
.000
1.000

Sumber: output SPSS


e) Hasil Matriks Klasifikasi
Matriks klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi
untuk memprediksi kemungkinan auditor switching yang dilakukan oleh
perusahaan sektor real estate dan properti. Matriks klasifikasi disajikan pada
tabel 4.8 berikut.

66

Tabel 4.8
Matriks Klasifikasi
Classification Tablea
Observed

Step 1

Predicted
CHANGES
Percentage
Correct
0
1

0
1
Overall Percentage
CHANGES

57
7

4
16

93.4
69.6
86.9

Sumber: output SPSS


Kekuatan

prediksi

dari

model

regresi

untuk

memprediksi

kemungkinan perusahaan melakukan pergantian KAP adalah sebesar 69,6%.


Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model regresi yang
digunakan, terdapat sebanyak 16 perusahaan (69,6%) yang diprediksi akan
melakukan auditor switching dari total 23 perusahaan yang melakukan
auditor switching. Kekuatan prediksi model perusahaan yang tidak melakukan
pergantian KAP adalah sebesar 93,4%, yang berarti bahwa dengan model
regresi yang digunakan ada sebanyak 57 perusahaan (93,4%) yang diprediksi
tidak melakukan auditor switching dari total 63 perusahaan yang tidak
melakukan auditor switching. Dapat disimpulkan bahwa kekuatan prediksi
dari model regresi sebesar 86,9%.
f) Hasil Uji Regresi Logistik
Model regresi logistik yang terbentuk disajikan pada tabel 4.9 sebagai
berikut:

67

Tabel 4.9
Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik
Variables in the Equation
B
S.E.
Wald df
Sig.
Keterangan
1.699
.926 3.369
1
.066 Tidak Signifikan

CEO
OPINI
Step
LnTA
1a
FEE
Constant

-.828
.801
-.944
.333
24.463 11828.739
24.124
8.730

1.068
8.054
.000
7.636

1
1
1
1

.301 Tidak Signifikan


.005
Signifikan
.998 Tidak Signifikan
.006
-

Sumber: output SPSS


Hasil pengujian terhadap koefisien regresi logistik menghasilkan
model berikut ini:
CHANGES = 24.124 + 1.699 CEO 0.828 OPINI 0.944 LnTA+24.463 FEE
Berdasarkan

pengujian

regresi

logistik

(logistic

regression)

sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, interpretasi hasil


disajikan dalam empat bagian. Bagian pertama membahas pengaruh
pergantian manajemen terhadap auditor switching (CHANGES) (Ha1). Bagian
kedua membahas pengaruh opini audit

terhadap auditor switching

(CHANGES) (Ha2). Bagian ketiga membahas pengaruh ukuran perusahaan


klien terhadap auditor switching (CHANGES) (Ha3). Bagian keempat
membahas pengaruh perubahan fee audit terhadap auditor switching
(CHANGES) (Ha4). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

68

1. Pengaruh Pergantian Manajemen (CEO) terhadap Auditor Switching


(CHANGES)
Variabel pergantian manajemen menunjukkan koefisien positif sebesar
1,699 dengan tingkat signifikansi () sebesar 0,066. Karena tingkat
signifikansi () lebih besar dari = 5%, maka hipotesis pertama tidak berhasil
didukung. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan bahwa pergantian
manajemen berpengaruh terhadap auditor switching. Hasil penelitian ini tidak
mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sulistiarini dan
Sudarno (2012), Hudaib dan Cooke (2005), dan Sinarwati (2010). Meskipun
demikian, hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Wahyuningsih dan Suryanawa (2012), Damayanti dan
Sudarma (2007), Wijaya (2013), serta Chadegani et al., (2011).
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pergantian manajemen tidak
selalu diikuti dengan pergantian kebijakan perusahaan dalam menggunakan
jasa suatu Kantor Akuntan Publik (KAP). Hal tersebut menunjukkan bahwa
kebijakan dan pelaporan akuntansi KAP lama tetap dapat diselaraskan dengan
kebijakan manajemen baru dengan cara melakukan negosiasi ulang antara
kedua pihak (Damayanti dan Sudarma, 2007).
Hasil pengujian ini diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan oleh
peneliti mengenai pergantian manajemen dan auditor switching PT Sentul
City Tbk (BKSL) yang melakukan pergantian manajemen pada tahun 2010 ke

69

2011. Pada tahun 2010, direktur utama dijabat oleh Charles Sidik Jonan dan
pada tahun 2011 diganti oleh Kwee Cahyadi Kumala. Pergantian manajemen
pada BKSL juga terjadi pada tahun 2009 ke 2010, dimana pada tahun 2009
direktur utama dijabat oleh Albert C.J.D Inkiriwang. Pergantian direktur
utama ini tidak diikuti dengan auditor switching karena sejak tahun 2008 PT
Sentul City Tbk (BKSL) menggunakan jasa KAP Tanubrata Sutanto dan
Rekan untuk mengaudit perusahaannya.
2. Pengaruh Opini Audit (OPINI) terhadap Audior Switching (CHANGES)
Variabel OPINI menunjukkan koefisien regresi negatif sebesar 0,828
dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,301, lebih besar dari = 5%. Karena
tingkat signifikansi (p) lebih besar dari =5% maka hipotesis ke-2 tidak
berhasil didukung. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan adanya
pengaruh opini audit terhadap auditor switching. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Damayanti dan Sudarma (2007), Wijayani dan Januarti
(2011), dan Widiawan (2011) yang menyatakan bahwa opini audit tidak
berpengaruh terhadap auditor switching. Meskipun demikian hasil penelitian
ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Divianto (2011) dan
Wijaya (2013).
Tidak didukungnya hipotesis yang diuji karena perusahaan yang
menggunakan jasa KAP big four dan non big four cenderung tidak melakukan
pergantian KAP ketika mendapat opini selain wajar tanpa pengecualian

70

(unqualified opinion). Pergantian kelas KAP dari big four ke non big four
dikhawatirkan dapat menyebabkan adanya sentimen negatif dari pelaku pasar
terhadap kualitas pelaporan keuangan dari perusahaan (Damayanti dan
Sudarma, 2007). Sebaliknya, pergantian kelas KAP dari non big four ke big
four dikhawatirkan dapat menyebabkan tidak adanya kemungkinan untuk
mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian karena pertimbangan kualitas
audit yang lebih baik.
Dalam penelitian ini, perusahaan yang mendapatkan opini audit wajar
tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan banyak disebabkan karena
induk perusahaan dan anak perusahaan tidak diaudit oleh auditor yang sama
dan pendapat wajar sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain
sehingga

auditor

harus

mengungkapkannya

dalam

laporan

auditor

independen. Hal seperti ini menyebabkan perusahaan mendapatkan laporan


auditor independen yang menyimpang dari format laporan audit bentuk baku
sehingga banyak perusahaan industri real estate dan properti yang mendapat
opini wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan.
Hasil pengujian ini diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan oleh
peneliti mengenai opini audit dan auditor switching. PT Ciputra Surya Tbk
(CTRS) pada tahun 2011 yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian
dengan paragraf penjelas, CTRS tetap menggunakan KAP Purwantono,
Suherman, dan Surja (Ernst & Young) pada tahun 2012.

71

3. Pengaruh Ukuran Perusahaan Klien (LnTA) terhadap Audior Switching


(CHANGES)
Variabel LnTA menunjukkan koefisien regresi negatif sebesar 0,944
dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,005, lebih kecil dari = 5%. Karena
tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari =5% maka hipotesis ke-3 berhasil
didukung. Penelitian ini berhasil membuktikan adanya pengaruh ukuran
perusahaan klien terhadap pergantian KAP. Hasil yang sama juga ditemukan
dalam penelitian Nasser et al. (2006), Suparlan dan Andayani (2010). Hasil
penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pratitis
(2012), dan Chadegani et al. (2011).
Sinason et al., (2001:4) mengemukakan bahwa perusahaan besar
mungkin memerlukan biaya awal yang lebih besar untuk auditor baru. Dalam
penelitian ini, koefisien regresi ukuran perusahaan klien (LnTA) memiliki
pengaruh negatif terhadap auditor switching, dimana klien yang total asetnya
kecil lebih sering untuk melakukan auditor switching, sedangkan perusahaan
klien yang lebih besar cenderung untuk tidak melakukan auditor switching
dibandingkan dengan klien yang lebih kecil dikarenakan klien menganggap
bahwa mereka akan mengeluarkan biaya awal untuk proses audit yang lebih
besar jika terlalu sering melakukan auditor switching. Disamping itu, dengan
adanya

kompleksitas

auditee,

klien

yang

lebih

besar

cenderung

mempertahankan auditornya karena klien menganggap auditor yang lama

72

dapat lebih mudah memahami situasi dan kondisi perusahaan. Sedangkan


semakin kecil ukuran perusahaan klien mendorong klien melakukan
pergantian KAP dan mencari KAP yang harga sewanya tidak mahal (Suparlan
dan Andayani, 2010:19).
Hasil pengujian ini diperkuat dengan pengamatan yang dilakukan oleh
peneliti mengenai ukuran perusahaan klien dan auditor switching. PT Bintang
Mitra Semestaraya Tbk (BMSR) yang termasuk perusahaan real estate dan
properti dengan ukuran perusahaan kecil yang dihitung dari logaritma natural
(ln) terhadap total asetnya, selama kurun waktu tiga tahun sejak tahun 2007
sampai dengan 2009 selalu melakukan auditor switching. Tahun 2007
perusahaan menggunakan jasa KAP Yansen Pasaribu, kemudian pada tahun
2008 menggunakan jasa KAP Achmad, Rasyid, Hisbullah dan Jerry,
sedangkan pada tahun 2009 perusahaan menggunakan jasa KAP Eddy
Prakarsa Permana dan Siddharta.
4. Pengaruh Perubahan

Fee

Audit

(FEE)

terhadap

Audior Switching

(CHANGES)
Variabel FEE menunjukkan koefisien regresi positif sebesar 24,463
dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,998, lebih besar dari = 5%. Karena
tingkat signifikansi (p) lebih besar dari = 5% maka hipotesis ke-4 tidak
berhasil didukung. Penelitian ini tidak berhasil membuktikan bahwa fee audit
berpengaruh terhadap pergantian auditor switching. Hasil penelitian ini tidak

73

mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Damayanti dan


Sudarma (2007), dan (Mardiyah, 2002 dalam Damayanti dan Sudarma, 2007).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chadegani
et al., (2011).
Pembayaran audit fee yang mahal pada beberapa kondisi tertentu tidak
membebani perusahaan indutri real estate dan properti, sehingga tidak
terbukti audit fee mempengaruhi pergantian KAP di Indonesia, khususnya
dari KAP big four ke non big four pada industri real estate dan properti. Hal
ini mungkin disebabkan adanya penilaian subjektif perusahaan mengenai
nama baik KAP yang mengaudit perusahaannya. Tingginya audit fee yang
ditetapkan oleh KAP selama ini tidak menyebabkan perusahaan melakukan
pergantian KAP kepada KAP yang menetapkan audit fee lebih rendah.
Persetujuan fee audit yang besar dan wajar sesuai dengan profesi akuntan
publik dalam jumlah yang pantas dapat memberikan jasa sesuai dengan yang
diatur dalam Standar Profesi Akuntan Publik (SPAP) yang berlaku.

74

Ringkasan hasil penelitian disajikan dalam tabel 4.10 sebagai berikut:


Tabel 4.10
Ringkasan Hasil Penelitian
Variabel Independen

Variabel Dependen
(Auditor Switching)

CEO

(+)X

OPINI

(-)X

LnTA

(-)

FEE

(+)X

Keterangan:
:

Variabel

independen berpengaruh signifikan terhadap variabel

dependen atau hipotesis diterima.


X : Variabel independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel
dependen atau hipotesis ditolak.

75

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penelitian ini meneliti tentang pengaruh pergantian manajemen, opini audit,
ukuran perusahaan klien, dan fee audit terhadap auditor switching. Analisis dilakukan
dengan menggunakan analisis regresi logistik dengan program Statistical Package for
Social Science (SPSS). Data sampel perusahaan sebanyak 84 pengamatan perusahaan
real estate dan properti go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
selama periode 2006-2012.
Berdasarkan hasil pengujian dan pembahasan yang dijelaskan pada bagian
sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa
tidak terdapat pengaruh pergantian manajemen terhadap auditor switching
selama tujuh tahun pengamatan (2006-2012). Hasil penelitian ini tidak
mendukung penelitian yang dilakukan oleh Hudaib dan Cooke (2005),
Wahyuningsih dan Suryanawa (2012), serta Sulistiarini dan Sudarno (2012).
2. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa
opini audit secara statistik tidak berpengaruh terhadap auditor switching selama
tujuh tahun pengamatan (2006-2012). Hasil penelitian ini tidak mendukung

76

76

penelitian yang dilakukan oleh Hudaib dan Cooke (2005), Wijaya (2013),
Divianto (2011), dan Chadegani et al. (2011).
3. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa
ukuran perusahaan klien secara statistik berpengaruh negatif terhadap auditor
switching selama tujuh tahun pengamatan (2006-2012). Hasil penelitian ini
mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nasser et al (2006) serta
Andayani dan Suparlan (2010).
4. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa
fee audit secara statistik tidak berpengaruh terhadap auditor switching selama
tujuh tahun pengamatan (2006-2012). Hasil penelitian ini tidak mendukung hasil
penelitian yang telah dilakukan oleh Damayanti dan Sudarma (2007).
B. Implikasi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat

memberikan kontribusi pada

pengembangan ilmu pemeriksaan akuntansi yang khususnya membahas mengenai


auditor switching. Serta diharapkan dapat memberikan informasi tambahan mengenai
faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi perusahaan dalam melakukan
auditor switching, pada penelitian ini, faktor yang mempengaruhi adalah ukuran
perusahaan klien.
Berdasarkan kesimpulan yang menunjukkan bahwa pergantian manajemen
tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap auditor switching pada perusahaan real
estate dan properti. Hal tersebut menunjukkan bahwa kebijakan dan pelaporan akuntansi
KAP lama tetap dapat diselaraskan dengan kebijakan manajemen baru dengan cara
77

melakukan negosiasi ulang antara kedua pihak. Adanya fenomena seperti ini erat
kaitannya dengan keadaan perusahaan publik di Indonesia yang mayoritas dikuasai dan
dijalankan bersama oleh orang-orang dalam satu keluarga sehingga dengan adanya
pergantian manajemen tidak terlalu mengubah kebijakan yang telah ada di perusahaan.
Implikasinya, perusahaan sebaiknya tetap menggunakan KAP lama meskipun dalam
perusahaan telah terjadi pergantian manajemen karena manajemen tetap dapat
menyelaraskan kebijakan akuntansinya dengan KAP lama dengan melakukan negosiasi
ulang. Penggunaan KAP lama ini sepanjang masih dalam jangka waktu yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan dan kebijakan akuntansi dapat diselaraskan serta lebih efisien
bagi klien karena KAP yang lama telah mengenal lingkungan bisnis klien dengan lebih
baik dibanding dengan KAP baru.

Opini audit tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pergantian


KAP, sehingga perusahaan akan tetap menggunakan KAP yang sama walaupun opini
audit yang diterima pada tahun sebelumnya bukanlah opini wajar tanpa pengecualian.
Pergantian kelas KAP dari Big Four dikhawatirkan dapat menyebabkan adanya sentimen
negatif dari pelaku pasar terhadap kualitas pelaporan keuangan dari perusahaan.
Sebaliknya, pergantian kelas KAP ke Big Four dikhawatirkan dapat menyebabkan tidak
adanya kemungkinan untuk mendapatkan opini unqualified karena pertimbangan kualitas
audit yang lebih baik. Implikasinya adalah pengguna laporan keuangan yang telah

diaudit tidak hanya menilai kualitas pelaporan keuangan hanya berdasarkan opini
audit semata, namun harus mempertimbangkan alasan-alasan mengapa auditor
mengeluarkan opini tersebut.
78

Ukuran perusahaan klien memiliki pengaruh yang signifikan terhadap auditor


switching. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran perusahaan klien memiliki
hubungan yang negatif terhadap auditor switching sehingga mengindikasikan bahwa
klien yang total asetnya kecil lebih sering untuk melakukan auditor switching,
sedangkan perusahaan klien yang lebih besar cenderung untuk tidak melakukan
auditor switching dibandingkan dengan klien yang lebih kecil. Implikasinya,
perusahaan dengan total aset yang besar akan memilih untuk mempertahankan
auditornya agar kualitas dari laporan keuangannya tetap terjaga dengan diaudit oleh
KAP lama yang telah memahami bisnis klien.
Fee audit tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pergantian KAP pada
perusahaan real estate dan properti. Perusahaan sektor real estate dan properti tidak
melakukan perpindahan kelas dari big four berarti telah sepakat dengan fee audit yang
ditawarkan oleh KAP. Implikasinya perusahaan dan Akuntan Publik dalam penetapan
fee audit seharusnya mematuhi Surat Keputusan No.KEP.024/IAPI/VII/2008, yaitu
mempertimbangkan tahapan-tahapan audit

(tahap perencanaan audit,

tahap

pelaksanaan audit, dan tahan pelaporan), serta memenuhi kebutuhan klien, tanggung
jawab hukum, independensi, tingkat keahlian, dan waktu yang dibutuhkan.
C. Keterbatasan
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang mungkin dapat
melemahkan hasil penelitian. Keterbatasan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:

79

1. Objek penelitian hanya menggunakan perusahaan industri real estate dan properti
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2006-2012.
2. Penelitian ini hanya menguji pengaruh variabel-variabel pergantian manajemen,
opini audit, ukuran perusahaan klien, dan fee audit terhadap auditor switching.
Variabel-variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap auditor switching,
seperti ukuran KAP, financial distress, pergantian dewan komisaris, dan
sebagainya tidak diuji dalam penelitian ini.
3. Pengukuran variabel ukuran perusahaan klien menggunakan proksi logaritma
natural (ln) dari total aset. Untuk menggambarkan ukuran perusahaan klien,
terdapat proksi lain yang dapat digunakan sehingga memungkinkan adanya hasil
yang berbeda jika menggunakan proksi lain tersebut.
4. Jumlah sampel yang digunakan relatif sedikit, yaitu hanya 14 perusahaan real
estate dan properti yang dijadikan sampel dalam penelitian karena jmlah
perusahaan real estate dan properti yang terdaftar di BEI tidak sebanyak sektor
industri lainnya dan tidak semua perusahaan real estate dan properti di BEI
memiliki data keuangan yang lengkap pada tahun 2006-2012.
D. Saran
Penelitian mengenai auditor switching dimasa yang akan datang diharapkan
mampu

memberikan

hasil

penelitian

yang

lebih

berkualitas

dengan

mempertimbangkan saran sebagai berikut:

80

1. Penelitian selanjutnya mungkin dapat memperluas sampel penelitian dengan


mempertimbangkan penggunaan seluruh perusahaan yang terdaftar di BEI
sebagai populasi penelitian.
2. Penelitian

selanjutnya

dapat

mempertimbangkan

beberapa

variabel

independen lain, seperti financial distress, ukuran KAP, pergantian komite


audit, dan sebagainya yang mungkin dapat mempengaruhi pergantian KAP
untuk meningkatkan pengetahuan mengenai auditor switching di Indonesia.
3. Pengukuran terhadap variabel ukuran perusahaan klien pada penelitian
selanjutnya dapat menggunakan alternatif proksi lain, seperti menggunakan
total penjualan.

81

DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Sukrisno. Auditing: (Pemeriksaan Akuntan) oleh Kantor Akuntan Publik.


Edisi Ketiga, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta, 2004.
Anthony, Robert dan Vijay Govindrajan. Sistem Pengendalian Manajemen, Edisi
Terjemahan, Salemba Empat, Jakarta, 2002.
Arens, Alvin A, Randal J Elder dan Mark S Beasley. Auditing dan Pelayanan
Verifikasi: Pendekatan Terpadu. Edisi Kesembilan, Indeks, Jakarta,
2004.
Boynton, William C., Raymon N. Johnson, dan Walter G. Kell. Modern Auditing.
Edisi Ketujuh, Erlangga, Jakarta, 2008.
Bursa Efek Indonesia. Indonesia Stock Exchange (IDX) Fact Book 2012. Bursa
Efek Indonesia, Jakarta, 2012.
Bursa Efek Indonesia. Indonesian Capital Market Directory 2006-2012. Bursa
Efek Indonesia, Jakarta, diakses April 2013.
Calderon, Thomas G. dan Emeka Ofobike. Determinants of Client-Initiated and
Auditor Initiated Auditor Changes. Managerial Auditing Journal, Vol.
23 No.1, 2008.
Chadegani, Arezoo A., Zakiah M.M dan Azam Jari. The Determinant Factors of
Auditor Switch among Companies Listed on Tehran Stock Exchange.
International Research Journal of Finance and Economics. 2011.
Damayanti, S. dan M. Sudarma. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perusahaan
Berpindah Kantor Akuntan Publik. Simposium Nasional Akuntansi 11,
Pontianak. 2007.
Divianto. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perusahaan dalam Melakukan Auditor
SWITCH, Jurnal Ekonomi dan Informasi Akuntansi, Vol. 1, No. 2, Mei
2011.
82

82

Febriana, Irma. Pengauditan I, 2012, artikel ini diakses tanggal 20 Januari 2013,
dari http://missmabriana.blogspot.com/2012/10/pengauditan-i.html?m=1
Febrianto, Rahmat. Pergantian Auditor dan Kantor Akuntan Publik, 2009, artikel
ini
diakses
tanggal
2
Februari
2013,
dari
http://rfebrianto.blogspot.com/2009/05/pergantian-auditor-dan-kantor
akuntan
Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 19.
Edisi Kelima, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang, 2011.
Giri, Efraim Ferdinan. Pengaruh Tenur Kantor Akuntan Publik (KAP) dan Reputasi
KAP Terhadap Kualitas Audit: Kasus Rotasi Wajib Auditor di Indonesia,
Jurnal Seminar Akuntansi Nasional 13, Purwokerto, 2010.
Gujarati, D. Ekonometrika Dasar. Edisi Terjemahan, Erlangga, Jakarta, 2003.
Halim, Abdul. Auditing: Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan, Edisi Keempat
Cetakan Pertama, Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu
Manajemen YKPN, Yogyakarta, 2008.
Hamid, Abdul. Buku Panduan Penulisan Skripsi. Fakultas Ekonomi dan Ilmu
Sosial Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2007.
Holmes, Arthur W. dan David C. Burns. Auditing: Norma dan Prosedur, Edisi
Kesembilan, Erlangga, Jakarta, 1996.
Hudaib, Mohammad. dan T.E. Cooke. The Impact of Managing Director Changes
and Financial Distress on Audit Qualification and Auditor Switching.
Journal of Business Finance & Accounting, Vol. 32, No. 9/10, pp. 170339. 2005.
Hudaib, Mohammad dan T.E. Cooke. Qualified Audit Opinions and Auditor
Switching. Paper Number 02/05, University of Exeter. 2007.
Ikatan Akuntan Indonesia. Kode Etik Akuntan Indonesia. IAI, Jakarta, 2009.

83

Ikatan Akuntan Indonesia. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Revisi 2009.


IAI, Jakarta, 2009.
Ikatan Akuntan Indonesia. Standar Profesional Akuntan Publik Seksi 508:Laporan
Auditor atas Laporan Keuangan Auditan , IAI, Jakarta, 2011.
Indriantoro, Nur dan Supomo, Bambang. Metodologi Penelitian Bisnis Untuk
Akuntansi dan Manajemen, BPFE, Yogyakarta, 2002.
Jensen, M.C. dan W. H. Meckling. Theory of the Firm: Managerial Behaviour,
Agency Cost and Capital Structure, Journal of Financial Economics,
Vol. 3, 1976.
Menteri Keuangan. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 423/KMK.06/2002 jo
359/KMK.06/2003 tentang Jasa Akuntan Publik, Jakarta, 2003.
Menteri Keuangan. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor
17/PMK.01/2008 pasal 3 tentang Jasa Akuntan Publik, Jakarta, 2008.
Nachrowi, Djalal dan Hardius Usman, Pendekatan Populer dan Praktis
Ekonometrika untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan, Lembaga Penerbit
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2006.
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1998 tentang Informasi Keuangan Tahunan
Perusahaan.
Prastiwi, Andri dan Frenawidayuarti Wilsya. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pergantian auditor: Studi Empiris Perusahaan Publik di Indonesia. Jurnal
Dinamika Akuntansi, Vol. 1, No. 1, pp. 62-75. 2009.
Pratitis, Yanwar Titi. Auditor Swtching: Analisis Berdasar Ukuran KAP, Ukuran
Klien dan Financial Distress. Jurnal Akuntansi FE Uiversitas Negeri
Semarang. 2012.
Sekaran, Uma. Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Salemba Empat, Jakarta, 2009

84

Sinarwati, N. Mengapa Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Melakukan


Pergantian Kantor Akuntan Publik?. Simposium Nasional Akuntansi 13,
Purwokerto. 2010
Sinason, David H., Jones Jefferson P., dan Shelton Sanda Waller. An Investigation
of Auditor and Client Tenure, American Journal of Bussiness, Vol. 16
No. 2, 2001.
Sulistiarini, Endina dan Sudarno. Analisis Faktor-Faktor Pergantian antor Akuntan
Publik. Diponegoro Journal of Accounting, Vol. I, No. 2, Hal 1-12, 2012.
Suparlan, dan W. Andayani. Analisis Empiris Pergantian Kantor Akuntan Publik
Setelah Ada Kewajiban Rotasi Audit. Simposium Nasional Akuntansi 13,
Purwokerto. 2010.
Udaramaya. Informasi Keuangan Tahunan Perusahaan. Udaramaya, 9 Juni, 2010.
Diakses tanggal: 7 Mei 2013 dari http://www.udaramaya.com/beritaudaramaya/ekonomi-dan-keuangan-udaramaya/informasi-keuangantahunan-perusahaan-udaramaya.html
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan
Terbatas.
Wahyuningsih, Nur dan I Ketut Suryanawa. Analisis Pengaruh Opini Audit Going
Concern dan Pergantian Manajemen pada Auditor Switching. Jurnal
Akuntansi FE Udayana. 2011.
Wijaya, R.M Aloysius Pangky. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pergantian
Auditor Oleh Klien. Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Brawijaya. 2013.
Wijayani, Evi Dwi dan Indira Januarti. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Perusahaan di Indonesia Melakukan Auditor Switching. Simposium
Nasional Akuntansi 14, Aceh. 2011.

85

LAMPIRAN

86

Lampiran 1
Data Sampel

87

Daftar Nama Perusahaan Real Estate dan Properti yang Terdaftar


No

Nama Perusahaan

Tahun

Kode

2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012

1 Agung Podomoro Land Tbk.

APLN

2 Alam Sutera Realty Tbk.

ASRI

3 Bekasi Asri PemulaTbk.

BAPA

4 Bumi Citra Permai Tbk.

BCIP

5 Bhuwanatala Indah Permai Tbk.

BIPP

6 Bukit Darmo Property Tbk.

BKDP

7 Sentul City Tbk

BKSL

8 Bintang Mitra Semestaraya Tbk.

BMSR

9 Bumi Serpong Damai Tbk.

BSDE

10 Cowell Development Tbk.

COWL

11 Ciputra Development Tbk.

CTRA

12 Ciputra Property Tbk.

CTRP

13 Ciputra Surya Tbk.

CTRS

14 Duta Anggada Realty Tbk.

DART

15 Intiland Development Tbk.

DILD

16 Duta Pertiwi Tbk.

DUTI

17 Bakrieland Development Tbk.


Megapolitan Developments
18 Tbk.

ELTY

EMDE

19 Fortune Mate Indonesia Tbk.


Gowa Makassar Tourism
20 Development Tbk.

FMII

GMTD

21 Perdana Gapuraprima Tbk.

GPRA

22 Greenwood Sejahtera Tbk.


Jakarta International Hotel &
23 Development Tbk.

GWSA

JIHD

24 Jaya Real Property Tbk.

JRPT

25 Kawasan Industri Jababeka Tbk.

KIJA

88

26 Global Land Development Tbk.

KPIG

27 Lamicitra Nusantara Tbk.

LAMI

28 Laguna Cipta Griya Tbk.

LCGP

29 Lippo Cikarang Tbk.

LPCK

30 Lippo Karawaci Tbk.

LPKR

31 Modernland Realty Tbk.

MDLN

32 Metropolitan Kentjana Tbk.

MKPI

33 Metro Realty Tbk.

MTSM

34 Indonesia Prima Property Tbk.

OMRE

35 New Century Development Tbk.

PTRA

36 Pakuwon Jati Tbk.

PWON

37 Panca Wiratama Sakti Tbk.


Ristia Bintang Mahkotasejati
38 Tbk.
Royal Oak Development Asia
39 Tbk.

PWSI

RBMS

RODA

40 Danayasa Arthatama Tbk.

SCBD

SIIP

42 Suryamas Dutamakmur Tbk.

SMDM

43 Summarecon Agung Tbk.

SMRA

41 Suryainti Permata Tbk.

Daftar Perusahaan Real Estate dan Properti yang Tereliminasi


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Perusahaan yang Tereliminasi


Agung Podomoro Land Tbk.
Alam Sutera Realty Tbk.
Bekasi Asri PemulaTbk.
Bumi Citra Permai Tbk.
Bhuwanatala Indah Permai Tbk.
Bukit Darmo Property Tbk.
Bumi Serpong Damai Tbk.
Cowell Development Tbk.
Ciputra Property Tbk.

Kode
APLN
ASRI
BAPA
BCIP
BIPP
BKDP
BSDE
COWL
CTRP
89

10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28

Duta Anggada Realty Tbk.


Duta Pertiwi Tbk.
Bakrieland Development Tbk.
Megapolitan Developments Tbk.
Fortune Mate Indonesia Tbk.
Perdana Gapuraprima Tbk.
Greenwood Sejahtera Tbk.
Jakarta International Hotel & Development Tbk.
Jaya Real Property Tbk.
Laguna Cipta Griya Tbk.
Lippo Cikarang Tbk.
Lippo Karawaci Tbk.
Metropolitan Kentjana Tbk.
Indonesia Prima Property Tbk.
New Century Development Tbk.
Pakuwon Jati Tbk.
Panca Wiratama Sakti Tbk.
Danayasa Arthatama Tbk.
Suryainti Permata Tbk.

DART
DUTI
ELTY
EMDE
FMII
GPRA
GWSA
JIHD
JRPT
LCGP
LPCK
LPKR
MKPI
OMRE
PTRA
PWON
PWSI
SCBD
SIIP

29

Summarecon Agung Tbk.

SMRA

Daftar Nama Sampel Penelitian


No
1

Nama Perusahaan
Sentul City Tbk

Kode
BKSL

Bintang Mitra Semestaraya Tbk.

BMSR

Ciputra Development Tbk.

CTRA

Ciputra Surya Tbk.

CTRS

Intiland Development Tbk.

DILD

Gowa Makassar Tourism Development Tbk.

GMTD

Kawasan Industri Jababeka Tbk.

KIJA

Global Land Development Tbk.

KPIG

Lamicitra Nusantara Tbk.

LAMI

10

Modernland Realty Tbk.

MDLN
90

11
12
13

Metro Realty Tbk.


Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk.
Royal Oak Development Asia Tbk.

MTSM
RBMS
RODA

14

Suryamas Dutamakmur Tbk.

SMDM

Proses Seleksi Sampel Berdasarkan Kriteria


Jumlah perusahaan yang listing di BEI tahun 2006-2012
Terdaftar sebelum 1 Januari 2006
Perusahaan tidak melakukan pergantian KAP
Perusahaan tidak menerbitkan laporan keuangan dan informasi
tidak lengkap
Jumlah perusahaan sampel
Tahun pengamatan (tahun)
Jumlah sampel total selama periode penelitian

43
27
10
3
14
6
84

91

Real Estate dan Properti (Manajemen)


No

Kode

2006

BKSL

Suhartono Lili

2
3
4

BMSR
CTRA
CTRS

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

DILD
GMTD
KIJA
KPIG
LAMI
MDLN
MTSM
RBMS
RODA
SMDM

Ir. Lukman Purnomosidi


Candra Ciputra
Harun Hajadi
Hendro S.
Gondowokusumo
Soeparmadi
Setyono D. Darmono
Elizabeth Jane
Pranowo Kartika
Luntungan Honoris
Simon Maruli
Martinus Tulojo
Richard Wiriahardja
Kenneth Lian

2007
Yusuf Valent
Ir. Lukman
Purnomosidi
Candra Ciputra
Harun Hajadi
Leonard Ho Kian Guan
Soeparmadi
Setyono D. Darmono
M. Budi Rustanto
Pranowo Kartika
Edwyn Lim
Simon Maruli
Martinus Tulojo
Richard Wiriahardja
Kenneth Lian

2008
Antonius Hanifah
Komala

2009
Albert C.J.D. Inkiriwang

Robinson
Candra Ciputra
Harun Hajadi

Robinson
Candra Ciputra
Harun Hajadi

Leonard Ho Kian Guan


Soeparmadi
Setyono D. Darmono
M. Budi Rustanto
Pranowo Kartika
Edwyn Lim
Simon Maruli
Martinus Tulojo
Subianto Satmaka
Kenneth Lian

Leonard Ho Kian Guan


Soeparmadi
Setyono D. Darmono
M. Budi Rustanto
Pranowo Kartika
Edwyn Lim
Simon Maruli
Martinus Tulojo
Subianto Satmaka
Kenneth Lian

92

Real Estate dan Properti (Manajemen)


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Kode
BKSL
BMSR
CTRA
CTRS
DILD
GMTD
KIJA
KPIG
LAMI
MDLN
MTSM
RBMS
RODA
SMDM

2010
Charles Sidik Jonan
Robinson
Candra Ciputra
Harun Hajadi
Lennard Ho Kian Guan
Andi Anzhar Cakra Wijaya
Setyono Djuandi Darmono
M. Budi Rustanto
Pranowo Kartika
Edwyn Lim
Simon Maruli
Parningotan Okto Luther
Subianto Satmaka
Kenneth Lian

2011
Kwee Cahyadi Kumala
Welly Thomas
Candra Ciputra
Harun Hajadi
Hendro S. Gondokusumo
Andi Anzhar Cakra Wijaya
Setyono Djuandi Darmono
Hary Tanoesoedibjo
Pranowo Kartika
Edwyn Lim
Sani Juli Maruli
Parningotan Okto Luther
Nio Yantony
Kenneth Lian

2012
Kwee Cahyadi Kumala
Welly Thomas
Candra Ciputra
Harun Hajadi
Hendro S. Gondokusumo
Andi Anzhar Cakra Wijaya
Setyono Djuandi Darmono
Hary Tanoesoedibjo
Pranowo Kartika
Edwyn Lim
Sani Juli Maruli
Parningotan Okto Luther
Nio Yantony
Kenneth Lian

93

Real Estate dan Properti (Opini)


No
Perusahaan
1 Sentul City Tbk
Bintang Mitra Semestaraya
2 Tbk.
3 Ciputra Development Tbk.
4 Ciputra Surya Tbk.
5 Intiland Development Tbk.
Gowa Makassar Tourism
6 Development Tbk.
Kawasan Industri Jababeka
7 Tbk.
Global Land Development
8 Tbk.
9 Lamicitra Nusantara Tbk.
10 Modernland Realty Tbk.
11 Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang Mahkotasejati
12 Tbk.
Royal Oak Development
13 Asia Tbk.
14 Suryamas Dutamakmur Tbk.

Kode
BKSL

2007
Wajar Tanpa Pengecualian

2008
Wajar Tanpa Pengecualian

2009
WTP dengan kalimat penjelas

BMSR
CTRA
CTRS
DILD

Wajar Tanpa Pengecualian


WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas

Wajar Tanpa Pengecualian


WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas

Wajar Tanpa Pengecualian


WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas

GMTD

Wajar Tanpa Pengecualian

Wajar Tanpa Pengecualian

Wajar Tanpa Pengecualian

KIJA

WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas

KPIG
LAMI
MDLN
MTSM

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian
WTP dengan kalimat penjelas
Wajar dengan pengecualian

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian
WTP dengan kalimat penjelas
Wajar dengan pengecualian

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian
Wajar Tanpa Pengecualian
Wajar Tanpa Pengecualian

RBMS

WTP dengan kalimat penjelas

Wajar Tanpa Pengecualian

Wajar Tanpa Pengecualian

RODA
SMDM

Wajar Tanpa Pengecualian


WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas


WTP dengan kalimat penjelas

Wajar dengan pengecualian


WTP dengan kalimat penjelas

94

Real Estate dan Properti (Opini)


No
Perusahaan
1 Sentul City Tbk
Bintang Mitra Semestaraya
2 Tbk.
3 Ciputra Development Tbk.
4 Ciputra Surya Tbk.
5 Intiland Development Tbk.
Gowa Makassar Tourism
6 Development Tbk.
Kawasan Industri Jababeka
7 Tbk.
Global Land Development
8 Tbk.
9 Lamicitra Nusantara Tbk.
10 Modernland Realty Tbk.
11 Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang Mahkotasejati
12 Tbk.
Royal Oak Development
13 Asia Tbk.
14 Suryamas Dutamakmur Tbk.

Kode
BKSL

2010
WTP dengan kalimat penjelas

2011
WTP dengan kalimat penjelas

2012
WTP dengan kalimat penjelas

BMSR
CTRA
CTRS
DILD

Wajar Tanpa Pengecualian


WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas


WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas


WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas
WTP dengan kalimat penjelas

Wajar Tanpa Pengecualian

WTP dengan kalimat penjelas

GMTD Wajar Tanpa Pengecualian


KIJA

WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas

KPIG
LAMI
MDLN
MTSM

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian
WTP dengan kalimat penjelas
Wajar Tanpa Pengecualian

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian
WTP dengan kalimat penjelas
Wajar Tanpa Pengecualian

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian
WTP dengan kalimat penjelas
Wajar Tanpa Pengecualian

RBMS

WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas

Wajar Tanpa Pengecualian

RODA Wajar dengan pengecualian


SMDM WTP dengan kalimat penjelas

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian

WTP dengan kalimat penjelas


Wajar Tanpa Pengecualian

95

Real Estate dan Properti (Ukuran Perusahaan Klien)


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Perusahaan
Sentul City Tbk
Bintang Mitra Semestaraya Tbk.
Ciputra Development Tbk.
Ciputra Surya Tbk.
Intiland Development Tbk.
Gowa Makassar Tourism
Development Tbk.
Kawasan Industri Jababeka Tbk.
Global Land Development Tbk.
Lamicitra Nusantara Tbk.
Modernland Realty Tbk.
Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk.
Royal Oak Development Asia Tbk.
Suryamas Dutamakmur Tbk.

Kode
BKSL
BMSR
CTRA
CTRS
DILD

2007
Rp2,524,873,004,045
Rp188,287,312,651
Rp7,484,109,406,649
Rp1,921,279,990,099
Rp2,015,697,387,214

2008
Rp2,543,182,987,219
Rp543,472,914,016
Rp8,108,443,360,876
Rp2,159,220,314,884
Rp2,111,152,441,704

2009
Rp2,784,021,782,133
Rp780,671,839,151
Rp8,553,946,343,429
Rp2,268,629,009,246
Rp2,140,126,674,921

GMTD
Rp278,543,367,878
Rp287,040,432,423
Rp305,635,686,223
KIJA Rp2,506,341,173,188 Rp2,961,051,648,319 Rp3,193,997,429,182
KPIG
Rp900,919,394,787 Rp2,019,232,332,119 Rp2,088,221,069,234
LAMI
Rp634,587,026,000
Rp639,351,512,000
Rp610,489,273,000
MDLN Rp1,752,492,270,151 Rp1,846,259,737,784 Rp1,770,704,521,774
MTSM
Rp98,976,263,517
Rp95,558,557,641
Rp97,913,906,622
RBMS
Rp220,746,874,587
Rp118,304,745,665
Rp119,183,355,777
RODA
Rp73,807,393,082 Rp1,594,813,607,122 Rp1,494,416,508,472
SMDM Rp2,021,932,008,075 Rp2,031,549,057,065 Rp2,048,242,028,932

96

Real Estate dan Properti (Ukuran Perusahaan Klien)


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Perusahaan
Sentul City Tbk
Bintang Mitra Semestaraya Tbk.
Ciputra Development Tbk.
Ciputra Surya Tbk.
Intiland Development Tbk.
Gowa Makassar Tourism
Development Tbk.
Kawasan Industri Jababeka Tbk.
Global Land Development Tbk.
Lamicitra Nusantara Tbk.
Modernland Realty Tbk.
Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk.
Royal Oak Development Asia
Tbk.
Suryamas Dutamakmur Tbk.

Kode
BKSL
BMSR
CTRA
CTRS
DILD

2010
Rp4,814,315,153,733
Rp736,913,618,738
Rp9,378,342,136,927
Rp2,609,229,793,505
Rp4,599,239,260,454

2011
Rp5,290,382,916,872
Rp665,415,859,006
Rp11,524,866,822,316
Rp3,529,028,283,751
Rp5,691,909,741,708

2012
Rp6,154,231,305,371
Rp670,168,566,886
Rp15,023,391,727,244
Rp4,428,210,643,555
Rp6,091,751,240,542

GMTD
KIJA
KPIG
LAMI
MDLN
MTSM
RBMS

Rp358,990,245,785
Rp3,335,857,281,974
Rp2,091,913,170,503
Rp604,528,491,000
Rp2,032,644,356,215
Rp110,799,166,772
Rp117,301,086,414

Rp487,193,845,496
Rp5,597,356,750,923
Rp1,948,666,123,846
Rp591,979,523,000
Rp2,410,399,588,075
Rp122,140,554,026
Rp135,937,211,458

Rp900,597,066,316
Rp7,077,817,870,077
Rp2,728,806,704,532
Rp614,717,410,000
Rp4,591,920,046,013
Rp108,481,953,974
Rp152,811,855,863

RODA
SMDM

Rp1,317,110,188,203
Rp2,063,046,866,205

Rp2,231,729,483,607
Rp2,454,961,990

Rp2,442,055,005,634
Rp2,637,664,776,000

97

Real Estate dan Properti (Perubahan Fee Audit dan Auditor Switching)
No

Perusahaan

Kode

Sentul City Tbk


Bintang Mitra
Semestaraya Tbk.
Ciputra Development Tbk.
Ciputra Surya Tbk.
Intiland Development
Tbk.
Gowa Makassar Tourism
Development Tbk.
Kawasan Industri
Jababeka Tbk.
Global Land Development
Tbk.
Lamicitra Nusantara Tbk.
Modernland Realty Tbk.
Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang
Mahkotasejati Tbk.
Royal Oak Development
Asia Tbk.
Suryamas Dutamakmur
Tbk.

BKSL

Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst & Young)

Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst & Young)

BMSR
CTRA
CTRS

Junarto Tjahjadi BAP


Aryanto Amir Jusuf & Mawar (RSM AAJ)
Aryanto Amir Jusuf & Mawar (RSM AAJ)

Yansen Pasaribu
Aryanto Amir Jusuf & Mawar (RSM AAJ)
Aryanto Amir Jusuf & Mawar (RSM AAJ)

DILD

Osman Bing Satrio & Rekan (Deloitte)

Mulyamin Sensi Suryanto (Moore Stephens)

GMTD

Drs. Daniel Hassa & Rekan

Drs. Daniel Hassa & Rekan

KIJA

Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst & Young)

Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst & Young)

KPIG
LAMI
MDLN
MTSM

Aryanto Amir Jusuf & Mawar (RSM AAJ)


Adi Jimmy Arthawan
Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst & Young)
Drs. Binsar B. Lumbanradja

Osman Bing Satrio & Rekan (Deloitte)


Adi Jimmy Arthawan
Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst & Young)
Drs. Binsar B. Lumbanradja

RBMS

Junarto Tjahjadi BAP (Morison International)

Yansen Pasaribu

RODA

Junarto Tjahjadi BAP

Anwar & Rekan

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

2006

SMDM Osman Bing Satrio & Rekan (Deloitte)

2007

Osman Bing Satrio & Rekan (Deloitte)

98

Real Estate dan Properti (Perubahan Fee Audit dan Auditor Switching)
No
Perusahaan
1 Sentul City Tbk
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Bintang Mitra
Semestaraya Tbk.
Ciputra Development
Tbk.
Ciputra Surya Tbk.
Intiland Development
Tbk.
Gowa Makassar Tourism
Development Tbk.
Kawasan Industri
Jababeka Tbk.
Global Land Development
Tbk.
Lamicitra Nusantara Tbk.
Modernland Realty Tbk.
Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang
Mahkotasejati Tbk.
Royal Oak Development
Asia Tbk.
Suryamas Dutamakmur
Tbk.

Kode

2008

2009

BKSL

Tanubrata Sutanto & Rekan (BDO)

Tanubrata Sutanto & Rekan (BDO)

BMSR

Achmad, Rasyid, Hisbullah & Jerry (ARH & J)

Eddy Prakarsa Permana & Siddharta (EPPS)

CTRA
CTRS

Aryanto Amir Jusuf & Mawar (RSM AAJ)


Aryanto Amir Jusuf & Mawar (RSM AAJ)

Purwantono, Sarwoko, dan Sandjaja (Ernst & Young)


Purwantono, Sarwoko, dan Sandjaja (Ernst & Young)

DILD

Mulyamin Sensi Suryanto (Moore Stephens)

Mulyamin Sensi Suryanto (Moore Stephens)

GMTD

Drs. Daniel Hassa & Rekan

Drs. Daniel Hassa & Rekan


Tanubrata Sutanto & Rekan (BDO)
Kosasih, Nurdiyaman, Tjahjo & Rekan (Geneva
Group International)
Hadori Sugiarto Adi & Rekan (HLB)

MDLN
MTSM

Tanubrata Sutanto & Rekan (BDO)


Kosasih & Nurdiyaman (Geneva Group
International)
Adi Jimmy Arthawan
Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst &
Young)
Ishak, Saleh, Soewondo & Rekan

RBMS

Anwar & Rekan (DFK)

Anwar & Rekan (DFK)

RODA

Rama Wendra (Parker Randall)

Rama Wendra (Parker Randall)

KIJA
KPIG
LAMI

SMDM Osman Bing Satrio & Rekan (Deloitte)

Purwantono, Sarwoko, & Sandjaja (Ernst & Young)


Achmad, Rasyid, Hisbullah & Jerry

Osman Bing Satrio & Rekan (Deloitte)

99

Real Estate dan Properti (Perubahan Fee Audit dan Auditor Switching)
No

Perusahaan

Kode

Sentul City Tbk


Bintang Mitra
Semestaraya Tbk.
Ciputra Development
Tbk.
Ciputra Surya Tbk.
Intiland Development
Tbk.
Gowa Makassar
Tourism Development
Tbk.
Kawasan Industri
Jababeka Tbk.
Global Land
Development Tbk.
Lamicitra Nusantara
Tbk.
Modernland Realty Tbk.
Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang
Mahkotasejati Tbk.
Royal Oak Development
Asia Tbk.
Suryamas Dutamakmur
Tbk.

BKSL

Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)

BMSR

Eddy Siddharta & Rekan (Kreston International)

CTRA
CTRS

Purwantono, Suherman, & Surja (Ernst & Young)


Purwantono, Suherman, & Surja (Ernst & Young)

DILD

Mulyamin Sensi Suryanto (Moore Stephens)

Purwantono, Suherman, & Surja (Ernst & Young)


Purwantono, Suherman, & Surja (Ernst & Young)
Mulyamin Sensi Suryanto & Lianny (Moore
Stephens)

GMTD

Hasnil, M. Yasin, & Rekan

Benny, Tony, Frans, & Daniel (BTFD)

Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)


Kosasih, Nurdiyaman, Tjahjo & Rekan (Crowe
Horwath)

Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)


Kosasih, Nurdiyaman, Tjahjo & Rekan (Crowe
Horwath)

LAMI
MDLN
MTSM

Hadori Sugiarto Adi & Rekan (HLB)


Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)
Maksum, Suyamto, Hirdjan & Rekan (HMS)

Hadori Sugiarto Adi & Rekan (HLB)


Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)
Maksum, Suyamto, Hirdjan & Rekan (HMS)

RBMS

Anwar & Rekan (DFK)

RODA

Rama Wendra (Parker Randall)

Anwar & Rekan (DFK)


Mulyamin Sensi Suryanto & Lianny (Moore
Stephens)

SMDM

Osman Bing Satrio & Rekan (Deloitte)

Hadori Sugiarto Adi & Rekan (HLB)

2
3
4
5

6
7
8
9
10
11
12
13
14

KIJA
KPIG

2010

2011
Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)
Hendrawinata Eddy & Siddharta (Kreston
International)

100

Real Estate dan Properti (Perubahan Fee Audit dan Auditor Switching)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Perusahaan
Sentul City Tbk
Bintang Mitra Semestaraya Tbk.
Ciputra Development Tbk.
Ciputra Surya Tbk.
Intiland Development Tbk.
Gowa Makassar Tourism Development Tbk.
Kawasan Industri Jababeka Tbk.
Global Land Development Tbk.
Lamicitra Nusantara Tbk.
Modernland Realty Tbk.
Metro Realty Tbk.
Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk.
Royal Oak Development Asia Tbk.
Suryamas Dutamakmur Tbk.

Kode
BKSL
BMSR
CTRA
CTRS
DILD
GMTD
KIJA
KPIG
LAMI
MDLN
MTSM
RBMS
RODA
SMDM

2012
Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)
Hendrawinata Eddy & Siddharta (Kreston International)
Purwantono, Suherman, & Surja (Ernst & Young)
Purwantono, Suherman, & Surja (Ernst & Young)
Mulyamin Sensi Suryanto & Lianny (Moore Stephens)
Benny, Tony, Frans, & Daniel (BTFD)
Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)
Kosasih, Nurdiyaman, Tjahjo & Rekan (Crowe Horwath)
Hadori Sugiarto Adi & Rekan (HLB)
Tanubrata Sutanto Fahmi & Rekan (BDO)
Maksum, Suyamto, Hirdjan & Rekan (HMS)
Anwar & Rekan (DFK)
Mulyamin Sensi Suryanto & Lianny (Moore Stephens)
Hadori Sugiarto Adi & Rekan (HLB)

101

Lampiran 2
Hasil Output SPSS

102

Case Processing Summary


Unweighted Cases

N
Included in Analysis

Selected Cases

Missing Cases
Total

Unselected Cases
Total

Percent
84

100.0

.0

84

100.0

.0

84

100.0

a. If weight is in effect, see classification table for the total number of


cases.

Dependent Variable Encoding


Original Value

Internal Value

Iteration Historya,b,c
Iteration

-2 Log likelihood

Coefficients
Constant

98.702

-.905

98.618

-.974

98.618

-.975

98.618

-.975

Step 0

a. Constant is included in the model.


b. Initial -2 Log Likelihood: 98.618
c. Estimation terminated at iteration number 4
because parameter estimates changed by less than
.001.

103

Classification Table

a,b

Observed

Predicted
Auditor Switching
0

Percentage
Correct

61

100.0

23

.0

Auditor Switching
Step 0
Overall Percentage

72.6

a. Constant is included in the model.


b. The cut value is .500

Variables in the Equation


B
Step 0

Constant

-.975

S.E.
.245

Wald

df

15.890

Sig.
1

.000

Exp(B)
.377

Variables not in the Equation


Score

df

Sig.

CEO

2.663

.103

OPINI

5.059

.024

LnTA

5.753

.016

FEE

30.106

.000

42.652

.000

Variables
Step 0

Overall Statistics

104

Iteration Historya,b,c,d
Iteration

-2 Log likelihood

Coefficients
Constant

CEO

OPINI

LnTA

FEE

58.846

10.315

.582

-.335

-.414

3.503

50.889

17.930

1.153

-.581

-.706

5.486

49.103

22.502

1.555

-.760

-.882

7.167

48.799

23.985

1.687

-.822

-.939

8.420

48.716

24.121

1.699

-.828

-.944

9.454

48.687

24.124

1.699

-.828

-.944

10.460

48.676

24.124

1.699

-.828

-.944

11.462

48.672

24.124

1.699

-.828

-.944

12.463

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

13.463

10

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

14.463

11

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

15.463

12

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

16.463

13

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

17.463

14

48.670

24.124

1.699

-.828

-.944

18.463

15

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

19.463

16

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

20.463

17

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

21.463

18

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

22.463

19

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

23.463

20

48.669

24.124

1.699

-.828

-.944

24.463

Step 1

a. Method: Enter
b. Constant is included in the model.
c. Initial -2 Log Likelihood: 98.618
d. Estimation terminated at iteration number 20 because maximum iterations has been reached.
Final solution cannot be found.

105

Omnibus Tests of Model Coefficients


Chi-square

Step 1

df

Sig.

Step

49.948

.000

Block

49.948

.000

Model

49.948

.000

Model Summary
Step

-2 Log likelihood

Cox & Snell R

Nagelkerke R

Square

Square

48.669a

.448

.649

a. Estimation terminated at iteration number 20 because


maximum iterations has been reached. Final solution cannot
be found.

Hosmer and Lemeshow Test


Step
1

Chi-square
10.676

df

Sig.
8

.221

106

Contingency Table for Hosmer and Lemeshow Test


CHANGES = tidak melakukan

CHANGES = melakukan auditor

auditor switching

switching

Observed

Expected

Observed

Total

Expected

7.933

.067

7.863

.137

7.780

.220

7.727

.273

7.444

.556

6.742

1.258

6.390

1.610

5.204

2.796

3.483

4.517

10

.433

10

11.567

12

Step 1

Classification Tablea
Observed

Predicted
CHANGES

Percentage

tidak melakukan

melakukan

auditor switching

auditor

Correct

switching
tidak melakukan auditor
CHANGES
Step 1

switching
melakukan auditor switching

57

93.4

16

69.6

Overall Percentage

86.9

a. The cut value is .500

107

Variables in the Equation


B

S.E.

Wald

df

Sig.

Exp(B)

CEO

1.699

.926

3.369

.066

5.469

OPINI

-.828

.801

1.068

.301

.437

LnTA

-.944

.333

8.054

.005

.389

FEE

24.463

11828.739

.000

.998

Constant

24.124

8.730

7.636

.006

Step 1

42087814731.4
76
29984688198.6
05

a. Variable(s) entered on step 1: CEO, OPINI, LnTA, FEE.

Correlation Matrix
Constant
Constant

Step 1

CEO

OPINI

LnTA

FEE

1.000

.314

.273

-.998

.000

CEO

.314

1.000

-.092

-.330

.000

OPINI

.273

-.092

1.000

-.300

.000

LnTA

-.998

-.330

-.300

1.000

.000

FEE

.000

.000

.000

.000

1.000

Descriptive Statistics
N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

CHANGES

84

.27

.449

CEO

84

.19

.395

OPINI

84

.67

.474

LnTA

84

25.0247247407

30.3406295508

27.8299647849

1.36519453125

98

37

0018

6273

FEE

84

.12

.326

Valid N (listwise)

84

108