Anda di halaman 1dari 10

PELANGGARAN BERAT HAM dan

KEBIJAKAN NASIONAL
UNTUK PENANGANAN dan PENYELESAIAN NYA

Oleh : Abdul Hakim G Nusantara

Istilah pelanggaran berat hak asasi manusia (ham) atau dalam bahasa
Inggris disebut gross violation of human rights tidak diterangkan dalam satu difinisi
yang secara memadai memuat unsur-unsur tindak pidana tersebut. Istilah
pelanggaran berat ham muncul untuk menggambarkan dahsyatnya akibat yang
timbul dari perbuatan pidana tersebut terhadap raga, jiwa, martabat, peradaban,
dan sumberdaya kehidupan manusia. Tindak kejahatan tersebut dilakukan oleh
pelakunya dengan maksud (intent) dan tujuan yang jelas untuk menyerang dan
menghancurkan orang-orang tertentu atau sekelompok manusia sehingga
membawa akibat atau dampak yang luas. Tindak pidana pelanggaran berat ham
biasanya bersifat meluas atau sistimatik. Kejahatan yang dilakukan oleh Adolf
Hitler dan rezim Nazinya dinilai sebagai suatu pelanggaran berat ham, oleh karena
dampaknya yang luar biasa terhadap jiwa, raga, martabat, peradaban dan
sumberdaya kehidupan manusia. Piagam Pengadilan Militer Internasional
Nuremberg mendifinisikan kejahatan yang dapat dikatagorikan pelanggaran berat
ham sebagai berikut :

1. Kejahatan terhadap perdamaian (Crimes against peace) yang tediri atas


perbuatan merencanakan, mempersiapkan, memulai, atau menjalankan
perang agresi, atau perang yang melanggar perjanjian-perjanjian
internasional, persetujuan-persetujuan atau jaminan-jaminan; atau turut
serta di dalam rencana bersama atau komplotan untuk mencapai salah satu
daripada tujuan perbuatan-perbuatan tersebut di atas.

Makalah ini disampaikan dalam Konfrensi tentang Rekonsiliasi Nasional yang


diselenggarakan oleh PPRP di Jakarta, 21 Oktober 2003

1
2. Kejahatan Perang (War Crimes), yaitu pelanggaran terhadap hukum atau
kebiasaan-kebiasaan perang, seperti pembunuhan (murder), perlakuan
kejam terhadap penduduk sipil dengan mengasingkan mereka,
mengerjakan mereka secara paksa, atau diwilayah pendudukan
memperlakukan tawanan-tawanan perang dengan kejam, membunuh
mereka, atau memperlakukan orang di laut secara demikian; merampas
milik Negara atau milik perseorangan, menghancurkan kota atau desa
dengan secara berkelebihan atau semau-maunya, atau membinasakannya
tanpa adanya alasan keperluan militer.

3. Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crimes against humanity). Termasuk


dalam pengertian kejahatan ini adalah, pembunuhan, membinasakan,
memperbudak, mengasingkan dan lain-lain kekejaman di luar
perikemanusiaan terhadap penduduk sipil, yang dilakukan sebelum atau
sesudah perang; perkosaan hak-hak dasar berdasarkan alasan-alasan
politik, ras atau agama. Pemimpin atau orang yang mengorganisir,
menghasut dan membantu mereka yang turut serta dalam membentuk atau
melaksanakan rencana bersama komplotan untuk melakukan kejahatan-
kejahatan tersebut bertanggungjawab atas perbuatan orang-orang yang
melakukan rencana tersebut.

Kejahatan-kejahatan pelanggaran berat ham tersebut di atas didakwakan


kepada para panglima dan pemimpin Nazi di pengadilan militer internasional di
Nuremberg. Sebagian besar dari para terdakwa itu terbukti bersalah melakukan
pelanggaran berat ham dan di hukum mati dengan cara digantung. Sebagian
lainnya dikenakan hukuman seumur hidup atau hukuman sementara sepuluh
hingga duapuluh tahun. Pasal 6 Piagam Pengadilan Militer Internasional itu
menegaskan, para pemimpin, organisator, instigator (agitator) dan mereka yang
membantu berperanserta untuk merencanakan atau melaksanakan atau
berkonspirasi untuk melakukan kejahatan tersebut di atas tetap bertanggungjawab

2
atas tindak pidana yang dilakukan oleh setiap orang yang melaksanakan rencana
tersebut. (Dr. H. Eddy Djunaedi Karnasudirdja, SH, MCJ dari Pengadilan Militer
Internasional Nuremberg ke Pengadilan Hak Azasi Manusia Indonesia PT. Tata
Nusa 2003-halaman 12).
Statuta pendirian pengadilan ad hoc internasional untuk pelanggaran berat
ham yang terjadi di wilayah bekas Yugoslavia memasukkan sebagai pelanggaran
berat ham, yaitu, pelanggaran berat terhadap konvensi Jenewa tahun l949,
pelanggaran hukum atau kebiasaan perang, kejahatan genosida, dan kejahatan
terhadap kemanusiaan. Hal yang sama dengan Statuta pendirian pengadilan ad
hoc internasional Rwanda menyebutkan sebagai pelanggaran berat ham kejahatan
genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan pelanggaran atas Pasal 3
konvensi Jenewa dan protocol tambahan II (pasal 4).
Kejahatan pelanggaran berat ham sebagaimana telah kita lihat dalam
berbagai peristiwa sejarah umat manusia telah menimbulkan dampak yang
menghancurkan bagi jiwa, raga, martabat, peradaban dan sumberdaya kehidupan
manusia. Karena itu siapapun pelakunya dan di manapun ia berada tidak bisa
dibiarkan (impunity) tanpa pertanggungjawaban dan penghukuman. Oleh karena
era impunity yang dinikmati oleh para penguasa buas dan kejam yang telah
berjalan beberapa dasa warsa setelah pengadilan Nuremberg harus diakhiri. Untuk
itulah pada tanggal 17 Juli l998 di Roma, 120 (seratus duapuluh) negara hadir
dalam suatu konferensi guna mengadopsi suatu Undang-undang internasional
(statuta) tentang Pengadilan Kejahatan Internasional. Pembukaan Statuta Roma
tersebut menegaskan, antara lain hal-hal sebagai berikut :

- Menyadari, bahwa selama abad ini, jutaan anak, pria dan wanita telah
menjadi korban kejahatan-kejahatan yang tidak dapat dibayangkan yang
sangat mengguncang kesadaran manusia,

- Mengakui bahwa tindakan-tindakan kejahatan ini mengancam perdamaian,


keamanan dan keselamatan dunia,

3
- Menegaskan bahwa kejahatan yang paling serius yang perlu diperhatikan
masyarakat internasional secara keseluruhan tidak boleh dibiarkan dan
bahwa pidana yang efektif harus ditegakkan/ dijamin dengan mengambil
tindakan-tindakan pada tingkat nasional dan dengan mengupayakan
kerjasama internasional.

(Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional Elsam tahun 2000).

Statuta Roma mempunyai yurisdiksi atas kejahatan-kejahatan yang


merupakan pelanggaran berat ham, yaitu, a. Kejahatan genosida ; b. Kejahatan
terhadap kemanusiaan ; c. Kejahatan perang ; d. Kejahatan agresi.
Katagori tindak pidana yang dirumuskan dalam Statuta Roma itu
sebenarnya sudah dikenal sebelumnya, misalnya dalam Piagam Pembentukan
Pengadilan Militer Internasional, di Nuremberg dan di Tokyo, serta pengadilan-
pengadilan adhoc internasional untuk bekas wilayah Yugoslavia dan Rwanda.
Statuta Roma mendifinisikan tindak pidana genosida sebagai setiap
perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk menghancurkan, seluruhnya atau
untuk sebagian, suatu kelompok nasional, etnis, ras atau keagamaan, seperti
misalnya :
a. Membunuh anggota kelompok tersebut;
b. Menyebabkan luka-luka fisik atau mental yang sangat serius terhadap para
anggota kelompok;
c. Secara sengaja menimbulkan kondisi kehidupan atas kelompok tersebut
yang diperhitungkan akan menyebabkan kehancuran fisik secara
keseluruhan atau untuk sebagian;
d. Memaksakan tindakan-tindakan yang dimaksud untuk mencegah kelahiran
dalam kelompok tersebut;
e. Memindahkan secara paksa anak-anak dari kelompok itu kepada kelompok
lain.

4
Sementara tentang kejahatan terhadap kemanusiaan, Statuta Roma
mengatur sebagai berikut :
kejahatan terhadap kemanusiaan berarti salah satu dari perbuatan berikut ini
apabila dilakukan sebagai bagian dari serangan meluas atau sistematik yang
ditujukan kepada suatu kelompok penduduk sipil, dengan mengetahui serangan itu
:

a. Pembunuhan;
b. Pemusnahan;
c. Perbudakan;
d. Deportasi atau pemindahan paksa penduduk;
e. Memenjarakan atau perampasan berat atas kebebasan fisik dengan
melanggar aturan-aturan dasar hukum internasional;
f. Penyiksaan;
g. Perkosaan, perbudakan seksual, pemaksaan prostitusi, penghamilan paksa,
pemaksaan sterilisasi, atau suatu bentuk kekerasan seksual lain yang cukup
berat;
h. Penganiayaan terhadap suatu kelompok yang dapat diidentifikasi atau
kolektivitas atas dasar politik, ras, nasional, etnis, budaya, agama, gender
sebagai didifinisikan dalam ayat 3, atau atas dasar lain yang secara
universal diakui sebagai tidak diijinkan berdasarkan hukum internasional,
yang berhubungan dengan setiap perbuatan yang dimaksud dalam ayat ini
atau setiap kejahatan yang berada dalam Jurisdiksi Pengadilan;
i. Penghilangan paksa;
j. Kejahatan apartheid;
k. Perbuatan tak manusiawi lain dengan sifat sama yang secara sengaja
menyebabkan penderitaan berat, atau luka serius terhadap badan atau
mental atau kesehatan fisik.
(Elsam, supra halaman 6-7).

5
Kategori tindak pidana pelanggaran berat ham, khususnya kejahatan
genosida dan kejahatan kemanusiaan yang tertuang dalam Statuta Roma,
kemudian diadopsi oleh UU No.26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi
Manusia. (Pasal 7, Pasal 8 dan Pasal 9 UU No.26 Tahun 2000).
Sebagaimana diuraikan di atas, kejahatan terhadap kemanusiaan
merupakan salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan
yang meluas atau sistematik. Apakah yang dimaksud dengan serangan yang
meluas atau sistematik itu? hal ini tidak dijelaskan oleh Statuta Roma maupun UU
Pengadilan Ham. Pengertian serangan meluas atau sistematik itu berkembang
dalam praktek pengadilan yang tertuang dalam putusan-putusan Hakim. Hakim
Pengadilan Ham Ad hoc di Jakarta Pusat, dalam kasus atas nama terdakwa Abilio
Jose Osorio Soares berpendapat sebagai berikut :

yang dimaksud dengan serangan adalah bahwa serangan tersebut tidak


harus selalu merupakan serangan militer, seperti yang diartikan oleh
International Humanitarian Law dalam arti bahwa serangan tersebut tidak
perlu harus mengikut sertakan kekuatan militer atau penggunaan senjata,
dengan perkataan lain apabila terjadi pembunuhan sebagai hasil dari suatu
pengerahan kekuatan atau operasi yang dilakukan terhadap penduduk sipil.
Keadaan bentrokan semacam ini dapat masuk ke dalam terminologi
serangan (attack);

bahwa yang dimaksud dengan serangan terhadap penduduk sipil tidak


berarti bahwa serangan harus ditujukan terhadap penduduk (population)
secara keseluruhan, tetapi cukup kepada sekelompok penduduk sipil
tertentu yang mempunyai keyakinan politik tertentu;

Yang dimaksud meluas karena pada peristiwa-peristiwa yang didakwakan


terbukti terjadi pembunuhan secara besar-besaran, berulang-ulang, dalam
skala yang besar (massive, frequent, large scale), yang dilakukan secara

6
kolektif dengan akibat yang sangat serius berupa jumlah korban nyawa
yang besar;

Yang dimaksud dengan sistematik adalah terbentuknya sebuah ide atau


prinsip berdasarkan penelitian atau observasi yang terencana dengan
prosedur yang sudah umum. Dalam kaitannya dengan pelanggaran berat
ham, definisi sistematik dapat berarti kegiatan yang berpola sama dan
konsisten (berulang-ulang). Pola disini berarti struktur atau design yang
saling berhubungan. Sedangkan konsisten di sini berarti sebuah gagasan
yang ditandai dengan tidak berubahnya posisi atau saling berhubungan,
bisa juga karakter tertentu yang sudah terbentuk dan ditunjukan secara
berulang-ulang.

Bahwa pengertian sistematik memiliki 4 (empat) elemen sebagai berikut :


- adanya tujuan politik, rencana dilakukannya penyerangan, suatu
ideology, dalam arti luas menghancurkan atau melemahkan suatu
komunitas;
- melakukan tindak pidana dengan skala yang besar terhadap suatu
kelompok penduduk sipil, atau berulang-ulang dan terus-menerusnya
tindakan tidak manusiawi yang saling berhubungan antara yang satu
dengan yang lainnya;
- adanya persiapan dan penggunaan yang signifikan dari milik atau
fasilitas publik atau perorangan;
- adanya implikasi politik tingkat tinggi atau otoritas militer dalam
mengartikan atau mewujudkan rencana yang metodologis.
(PUTUSAN No.01/PID.HAM/AD.HOC/2002/PH.JKT.PST. halaman 103-
104).

Berkenaan dengan pertanggungjawaban komandan atau pimpinan UU


Pengadilan Ham mengatur sebagai berikut :

7
(1) Komandan militer atau seseorang yang secara efektif bertindak sebagai
komandan militer dapat dipertanggungjawabkan terhadap tindak pidana yang
berada di dalam yurisdiksi Pengadilan Ham, yang dilakukan oleh pasukan yang
berada di bawah komando dan pengendaliannya yang efektif, atau di bawah
kekuasaan dan pengendaliannya yang efektif dan tindak pidana tersebut
merupakan akibat dari tidak dilakukannya pengendalian pasukan secara patut,
yaitu :

a. komandan militer atau seseorang tersebut mengetahui atau atas dasar


keadaan saat itu seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang
melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran ham yang berat ; dan

b. komandan militer atau seseorang tersebut tidak melakukan tindakan yang


layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekuasaannya untuk mencegah
atau menghentikan perbuatan tersebut atau menyerahkan pelakunya
kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan,
dan penuntutan.

(2) Seorang atasan, baik polisi maupun sipil lainnya, bertanggung jawab secara
pidana terhadap pelanggaran ham yang berat yang dilakukan oleh bawahannya
yang berada di bawah kekuasaan dan pengendaliannya yang efektif, karena
atasan tersebut tidak melakukan pengendalian terhadap bawahannya secara patut
dan benar, yakni:

a. atasan tersebut mengetahui atau secara sadar mengabaikan informasi yang


secara jelas menunjukkan bahwa bawahan sedang melakukan atau baru saja
melakukan pelanggaran ham yang berat; dan

b. atasan tersebut tidak mengambil tindakan yang layak dan diperlukan dalam
ruang lingkup kewenangannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan

8
tersebut atau menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk
dilakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan.

(Pasal 42 UU No.26 Tahun 2000)

Menurut ketentuan UU Pengadilan Ham, pelanggaran Ham berat yang


terjadi sebelum berlakunya UU tersebut dapat diselesaikan melalui Pengadilan
Ham Ad hoc yang dibentuk dengan Keputusan Presiden atas usul DPR atau
melalui Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Berkenaan dengan penyelesaian
pelanggaran Ham masa lalu, Jose Zalaquett berpendapat, bahwa negara pada
dasarnya mempunyai diskresi untuk menetapkan substansi kebijakan untuk
menangani pelanggaran Ham masa lalu. Namun di dalam semua kasus substansi
kebijakan itu harus memenuhi syarat-syarat legitimasi tertentu sebagai berikut:
Pertama, kebenaran harus diketahui atau diungkapkan secara lengkap, dan
diekspos serta diumumkan kepada publik;
Kedua, Kebijakan Ham tersebut harus mewakili kehendak rakyat, misalnya
kebijakan nasional itu harus memperoleh persetujuan rakyat melalui referendum;
Ketiga, kebijakan ham tersebut tidak melanggar hukum hak asasi manusia
internasional. Yang berarti pada satu sisi menjadi kewajiban setiap negara untuk
bertindak sesuai dengan hukum internasional. Bila negara mengambil langkah
untuk memberikan pengampunan bagi pelanggar ham, kebijakan tersebut harus
tunduk pada batas-batas yang diatur oleh hukum internasional. Pada sisi yang lain,
jika kebijakan Ham itu mengarah pada penghukuman, standar-standar
internasional yang berkenaan dengan penyelenggaraan pengadilan yang fair,
perlakuan terhadap para tersangka dan penghukuman wajib dihormati;
Keempat, kebijakan ham tersebut mengandung tujuan-tujuan untuk
mereparasi kerugian yang diderita korban dan pencegahan berulangnya
pelanggaran Ham di kemudian hari.
Bila perspektif Jose Zalaquett digunakan untuk mengkaji kebijakan nasional
Ham Indonesia, khususnya berkenaan dengan penanganan pelanggaran berat
ham masa lalu sebagaimana tertuang dalam Tap MPR No.V/ MPR / 2000 dan UU

9
No.26 Tahun 2000 tentang Pengadilan Ham, dapatlah dikatakan rezim
pemerintahan Transisi di Indonesia menganut kebijakan moderat dalam
menangani pelanggaran berat ham masa lalu, yaitu disediakannya dua Avenue
yaitu, Forum Pengadilan Ham Ad Hoc atau Forum KKR.

Jakarta 17 Oktober 2003

Bahan Rujukan :

1. Statuta Roma, Elsam tahun 2000


2. Tap MPR Nomor V / MPR / 2000
3. UU No.26 Tahun 2000
4. Neil J. Kritz Editor Transitional Justice Volume I l995
5. Dr. H. Eddy Djunaidi Karnasudirja, SH, MCJ dari Pengadilan Militer
International Nuremberg ke Pengadilan Hak Azasi Manusia Indonesia
Tatanusa 2003
6. Abdul Hakim G Nusantara Kebijakan Rezim Penguasa Transisi Dalam
Menangani Pelanggaran Ham Masa lalu di Indonesia: Sebuah Telaah Kritis
Ulang tahun Elsam 2003.

10