Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKAAN

A. KONSEP DASAR PENELITIAN

1. Pengertian pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang

terhadap objek melalui indera yang dimilikinya untuk tahu. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2005, hlm. 50).

Pengetahuan merupakan hasil dari usaha manusia untuk tahu. Sidi Gazalba,

mengungkapkan bahwa pengetahuan ialah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu.

Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari; kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai

(Salam, 2003, hlm. 28).

Pengetahuan (knowledge) adalah merupakan hasil tahu dari manusia yang

sekedar menjawab ”what” misal: apa air, apa manusia apa alam dan sebagainya

(Notoatmodjo, 2002.

2. Sumber pengetahuan masalah

a. Empirisme

Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dengan jalan observasi atau dengan

penginderaan.

b. Rasionalisme

Pengetahuan diperoleh dari pikiran (akal budi) manusia sehingga mampu

mengetahui kebenaran alam semesta.

Universitas Sumatera Utara


6

c. Intusionisme

Secara etimiologi istilah intuisi berarti langsung melihat. Intuisi dapat digunakan

sehingga kita mengetahui diri kita, karakter, perasaan, dan motif orang lain serta

kita mengetahui, mengalami hakikat sebenarnya tentang waktu, gerak, dan aspek

yang mendasar dalam jagat raya.

d. Wahyu Allah

Pengetahuan yang disampaikan oleh allah SWT kepada manusia lewat para nabi

yang diutusnya (Salam, 2003,hlm.99-104).

Pengukuran pengetahuan yaitu dengan cara mengajukan pertanyan-pertanyaan

secara langsung (wawancara) atau melalui pertanyaan-pertanyaan tertulis atau

angket. Pertanyaan-pertanyaan yang direncanakan untuk memperoleh informasi

tentang atribut pendidikan (Notoatmodjo, 2003).

Universitas Sumatera Utara


7

B. KONSEP DASAR NIFAS

1. Pengertian Masa nifas

Pasca partum adalah masa kira-kira 6 (enam) minggu setelah kelahiran bayi,

selama tubuh beradaptasi keadaan sebelum hamil, disebut dengan puerperium (Ladewig,

Patricia W, 2005, hlm. 227).

Masa puerpurium atau masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir

setelah kira-kira 6 (enam) minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali

seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 ( tiga ) bulan (Sarwono, 2006, hlm. 237).

Pada awal tahun kehamilan dapat terjadi perubahan besar pada otot rahim yang

mengalami pembesaran ukuran karena pembesaran selnya dan pembesaran ukuran-

ukuran karena pertambahan jumlah selnya sehingga dapat menampung pertumbuhan dan

perkembangan janin sampai cukup bulan dengan berat lebih dari 2500 gram. Berat rahim

menjadi sekitar 1 kg , yang semula hanya 30 g setelah persalinan terjadi proses

sebaliknya yang disebut “involusi” ( kembalinya rahim keukuran semula ) dimana

secara berangsur-angsur otot rahim mengecil kembali sampai berat semula pada minggu

ke tujuh ( 42 hari )

Pemeriksaan setelah kala nifas tidak banyak mendapat perhatian para ibu karena

sudah merasa baik dan selanjutnya semua berjalan lancar. Pemeriksaan setelah kala nifas

sebenarnya sangat penting dilakukan untuk mendapatkan penjelasan yang berharga dari

bidan atau dokter yang menolong persalinan itu. Diantara masalah penting tersebut

adalah melakukan evaluasi secara menyeluruh tentang alat kelamin dan terutama mulut

rahim yang mungkin masih luka akibat proses persalinan. Penyembuhan yang

Universitas Sumatera Utara


8

menyebabkan mulut rahim kaku, dan menyulitkan persalinan yang akan datang

(Manuaba, Ida Bagus Gde, 1999, hlm. 151).

2. Perubaham anatomi dan fisiologi pada masa nifas

Untuk memberikan perawatan yang menguntungkan ibu, bayi, dan keluarganya,

seorang perawat harus memanfaatkan pengetahuannya tentang anatomi dan fisiologi

ibu antara lain:

a. Uterus

Proses involusi ialah proses kembalinya uterus ke keadaan sebelum hamil

setelah melahirkan disebut involusi. Proses ini dimulai segera setelah plasenta

keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus.

Pada akhir tahap ketiga persalinan, uterus berada di garis tengah, kira-kira 2

cm dibawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium

sakralis. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu

usia kehamilan 16 minggu (kira-kira sebesar grapefruit ( jeruk asam )) dan

beratnya kira-kira 1000 g.

Dalam waktu 12 jam , tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm di atas

umbilikus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan evolusi berlangsung

dengan cepat. Fundus turun kira-kira 1 sampai 2 cm setiap 24 jam. Pada hari

pascapartum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilikus

dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9

pascapartum. Uterus yang pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat

sebelum hamil, berinvolusi menjadi kira-kira 500 g 1 minggu setelah melahirkan

dan 350 g (11 sampai 12 ons) 2 minggu setelah lahir. Seminggu setelah

Universitas Sumatera Utara


9

melahirkan uterus berada di dalam panggul sejati lagi. Pada minggu keenam,

beratnya menjadi 50 sampai 60 g. Subinvolusi ialah kegagalan uterus untuk

kembali pada keadaan tidak hamil. Penyebab subinvolusi yang paling sering

ialah tertahannya fragmen plasenta dan infeksi (Bobak, 2004, hlm. 493).

b. Lokia

Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir seringkali disebut lokia, mula-

mula berwarna merah, kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat.

Rabas ini dapat mengandung bekuan darah kecil. Selama dua jam pertama

setelah lahir, jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah

maksimal yang keluar selama menstruasi. Setelah waktu tersebut, aliran lokia

yang keluar harus semakin berkurang.

Lokia rubra terutama mengandung darah dan debris desidua serta debris

trofoblastik. Aliran menyembur, menjadi merah muda atau coklat setelah 3

sampai 4 hari (lokia serosa). Lokia serosa terdiri dari darah lama (old blood),

serum, leukosit, dan debris jaringan. Setelah 10 hari setelah bayi lahir, warna

cairan ini menjadi kuning sampai putih (lokia alba).

Lokia alba mengandung leukosit, desidua, sel epitel, mucus, serum, dan

bakteri. Lokia alba bisa bertahan selama dua sampai enam minggu setelah bayi

lahir.

Lokia rubra yang menetap pada awal periode pascapartum menunjukkan

perdarahan berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau membrane yang

tertinggal. Terjadinya perdarahan ulang setelah hari ke-10 pascapartum

menandakan adanya perdarahan pada bekas tampat plasenta yang mulai

Universitas Sumatera Utara


10

memulih. Namun, setelah 3 sampai 4 minggu, perdarahan mungkin disebabkan

oleh infeksi atau subinvolusi. Lokia serosa atau lokia alba yang berlanjut bisa

menandakan endometritis, terutama jika disertai demam, rasa sakit, atau nyeri

tekan pada abdomen yang dihubungkan dengan pengeluaran cairan. Bau lokia

menyerupai bau cairan menstruasi; bau yang tidak sedap biasanya menandakan

infeksi.

Perlu diingat bahwa tidak semua perdarahan pervaginaan post partum adalah

lokia. Sumber umum lain ialah laserasi vagina atau serviks yang tidak diperbaiki

dan perdarahan bukan lokia (Bobak ,2004 ,hlm. 493).

c. Serviks

Servik menjadi lebih tebal dan lebih keras; pada akhir minggu pertama post

partum, serviks masih akan berdilatasi sekitar 1 cm. involusi serviks yang

lengkap bisa berlangsung 3 sampai 4 bulan. Kelahiran anak bisa mengakibatkan

perubahan permanen pada ostium serviks dari bulat menjadi memanjang

(Straight, Barbara R, 2004, hlm. 190).

Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. Delapan belas (18) jam

postpartum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan

kembali ke bentuk semula. Serviks setinggi segmen bawah uterus tetap

edematosa, tipis, dan rapuh selama beberapa hari setelah ibu melahirkan.

Ektoserviks (bagian serviks yang menonjol ke vagina) terlihat memar dan ada

sedikit laserasi kecil kondisi yang optimal untuk perkembangan infeksi. Muara

serviks, menutup secara bertahap. Dua jari mungkin masih dapat dimasukkan ke

dalam muara serviks pada hari ke-4 sampai ke-6 postpartum, tetapi hanya

Universitas Sumatera Utara


11

tangkai kuret terkecil yang dapat dimasukkan pada akhir minggu ke-2. Muara

serviks eksterna tidak akan berbentuk lingkaran seperti sebelum melahirkan,

tetapi terlihat memanjang seperti suatu celah, sering disebut seperti mulut ikan.

Laktasi menunda produksi estrogen yang mempengaruhi mucus dan mukosa

(Bobak, 2004, hlm. 493).

d. Vagina dan Perineum

Segera setelah melahirkan, vagina tetap terbuka lebar. Mungkin mengalami

beberapa derajat edema dan memar, dan celah pada introitus. Setelah satu

hingga dua hari pertama pascapartum, tonus otot vagina kembali, celah vagina

tidak lebar dan vagina tidak lagi edema. Sekarang vagina menjadi berdinding

lunak, lebih besar dari biasanya, dan umumnya longgar. Ukurannya menurun

dengan kembalinya rugae vagina sekitar minggu ketiga postpartum. Ruang

vagina selalu sedikit lebih besar daripada sebelum kelahiran pertama. Akan

tetapi, latihan pengencangan secara perlahan mengencangkan vaginanya.

Pengencangan ini sempurna pada akhir puerperium dengan latihan setiap hari

(Varney, Helen, 2007, hlm. 960).

Pada masa postpartum, kadar estrogen menurun mengakibatkan penipisan

mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula teregang akan kembali

secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, enam sampai 8 minggu setelah bayi

lahir. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat, walaupun tidak

akan semenonjol pada wanita nulipara. Pada umumnya rugae akan memipih

secara permanen. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi

ovarium. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina

Universitas Sumatera Utara


12

dan penipisan mukosa vagina. Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat

koitus (dispareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembli normal dan

menstruasi dimulai lagi. Biasanya wanita dianjurkan menggunakan pelumas larut

air saat melakukan hubungan seksual untuk mengurangi nyeri.

Proses penyembuhan luka episiotomi sama dengan luka operasi lain. Tanda-

tanda infeksi (nyeri, merah, panas, bengkak, atau rabas) atau tepian insisi tidak

saling mendekat bisa terjadi. Penyembuhan harus berlangsung dalam dua sampai

tiga minggu.

Hemoroid (varises anus) umumnya terlihat. Wanita sering mengalami gejala

terkait, seperti rasa gatal, tidak nyaman, dan perdarahan berwarna merah terang

pada waktu defecator. Ukuran hemoroid biasanya mengecil beberapa minggu

setelah bayi lahir (Bobak, 2004, hlm. 495).

e. Payudara

Ibu menyusui, untuk dua puluh empat jam sampai tujuh puluh dua jam

pertama sesudah melahirkan, payudara akan mengeluarkan kolostrum suatu

cairan kuning jernih yang merupakan susu pertama untuk bayi. Air susu yang

lebih matang akan muncul antara hari kedua sampai kelima. Pada saat ini

payudara akan membesar (penuh, keras, panas, dan nyeri) yang dapat

menimbulkan kesulitan dalam menyusui. Menyusui dengan interval waktu yang

sering akan dapat mencegah pembengkakan payudara atau membantu

meredakan.

Ibu yang tidak menyusui, payudara dari ibu yang tidak menyusui

kemungkinan akan mengalami perubahan awal yang sama dengan ibu yang

Universitas Sumatera Utara


13

menyusui. Mengikat payudara, memberi kompres es, dan menghindari stimulasi

pada payudara adalah cara-cara efektif untuk mengurangi produksi air susu dan

meningkatkan kenyamanan. Tindakan ini sama membantunya seperti

penggunaan obat-obat penghenti ASI yang dahulu biasa diberikan, tetapi

sekarang sudah dihentikan karena efek sampingnya serius (Simkin, Penny, 2007,

hlm. 321).

Laktasi dimulai pada semua wanita dengan perubahan hormon saat

melahirkan. Apakah wanita memilih menyusui atau tidak, ia dapat mengalami

kongesti payudara selama beberapa hari pertama post partum karena tubuhnya

mempersiapkan untuk memberikan nutrisi kepada bayi. Wanita yang menyusui

berespons terhadap menstimulus bayi yang disusui akan terus melepaskan

hormon dan stimulasi alveoli yang memproduksi susu. Bagi wanita yang

memilih memberikan makanan formula, involusi jaringan payudara terjadi

dengan menghindari stimulasi (Varney, Helen, 2007, hlm. 960).

Universitas Sumatera Utara


14

C. KONSEP SENAM NIFAS

1. Pengertian senam nifas

Senam nifas adalah gerakan untuk mengembalikan otot perut yang kendur karena

peregangan selama hamil. Tak ada yang perlu dikhawatirkan dalam melakukan latihan

ini jika timbul rasa nyeri sebaiknya dilakukan perlahan tapi jangan tidak melakukannya

sama sekali.

Senam ini dilakukan sejak hari setelah melahirkan hingga hari kesepuluh, dalam

pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap yang dimulai dari tahap yang paling

sederhana hingga yang dengan mengulang gerakan (Hariningsih, 2004)

Senam nifas adalah senam yang dilakukan untuk mengembalikan kekendoran

otot dinding perut dan mengembalikan kekencangan otot dasar panggul dan otot liang

senggama (Mochtar, Rustam, 1998, hlm. 229).

Senam nifas adalah senam yang dilakukan sejak hari pertama melahirkan setiap

hari sampai hari yang kesepuluh. Tentu saja senam ini dilakukan pada saat sang ibu

benar-benar pulih (Muhammad Taufik, 2008, Seputar senam nifas, ¶ 1,

http://www.ibudananak.com diperoleh tanggal 19 September 2008).

Setelah persalinan seorang ibu baru memasuki masa pemulihannya dan perlahan

kembali kekondisi semula, tindakan tirah baring dan senam pasca persalinan membantu

proses fisiologis ini secara perlahan. Senam nifas adalah untuk mempertahankan dan

untuk meningkatkan sirkulasi ibu pada masa post partum segera ketika ia mungkin

beresiko mengalami trombosis vena atau komplikasi sirkulasi lain (Eileen Brayshaw,

2007, hlm. 105).

Universitas Sumatera Utara


15

2. Manfaat senam nifas

Adapun beberapa manfaat senam nifas adalah :

a. Memperbaiki elastisitas otot-otot yang telah mengalami penguluran.

b. Meningkatkan ketenangan dan mempelancar sirkulasi darah.

c. Mencegah pembuluh darah menonjol, terutama di kaki.

d. Menghindari pembengkakan pada pergelangan kaki.

e. Mencegah kesulitan buang air besar dan buang air kecil.

f. Mengembalikan rahim pada posisi semula.

g. Mempertahankan postur tubuh yang baik.

h. Mengembalikan kerampingan tubuh.

i. Membantu kelancaran pengeluaran ASI (Huliana,Mellyana, 2003, Hlm. 95)

Manfaat senam nifas adalah untuk membantu memperbaiki sirkulasi darah,

memperbaiki sikap tubuh dan punggung setelah melahirkan, memperbaiki otot tonus,

pelvis, dan perenggangan otot abdomen atau disebut juga pasca persalinan dan

memperbaiki juga memperkuat otot panggul (Muhammad Taufik, 2008, Senam Nifas, ¶

4, http://www.ibudananak.com diperoleh tanggal 19 September 2008).

Umumnya, wanita yang habis melahirkan kerap mengeluhkan bentuk tubuhnya

yang melar. Meski harusnya dimaklumi, akibat membesarnya otot rahim karena

pembesaran sel maupun pembesaran ukurannya selama hamil. Selain otot perut pun jadi

memanjang sesuai pertumbuhan kehamilan. Setelah melahirkan, otot-otot tersebut akan

mengendur. Belum lagi kondisi tubuh yang kurang prima lantaran letih dan tegang.

Sementara peredaran darah dan pernapasan belum kembali normal. Hingga untuk

Universitas Sumatera Utara


16

membantu mengembalikan tubuh ke bentuk dan kondisi semula, tak bisa lain harus

dengan latihan senam nifas yang teratur .

Manfaat lain senam nifas juga untuk mengencangkan otot perut, liang sanggama,

otot-otot sekitar vagina maupun otot-otot dasar panggul, disamping melancarkan

sirkulasi darah. Senam nifas sebaiknya dilakukan dalam waktu 24 jam setelah

melahirkan, lalu secara teratur setiap hari. Sayangnya, para ibu kerap merasa takut

melakukan gerakan demi gerakan setelah persalinan. Padahal 6 jam setelah persalinan

normal atau 8 jam setelah operasi sesar, ibu sudah boleh melakukan mobilisasi dini,

termasuk senam nifas. Dengan melakukan senam nifas segera mungkin, hasil yang

didapat pun diharapkan bisa optimal. Tentunya lakukan secara bertahap (Khasanah,

2008, senam nifas,¶ 2, http://www.tabloid-nakita.com diperoleh tanggal 2 September

2008).

Dengan melakukan senam nifas, kondisi umum ibu jadi lebih baik. Rehabilitasi

atau pemulihan jadi bisa lebih cepat, contohnya kemungkinan terkena infeksi pun kecil

karena sirkulasi darahnya bagus.

Selain menumbuhkan atau memperbaiki nafsu makan, hingga asupan makannya bisa

mencukupi kebutuhannya. Paling tidak, dengan melakukan senam nifas, ibu tak terlihat

lesu ataupun emosional.

Bentuk latihan senam antara ibu yang habis melahirkan normal dengan yang

sesar tidaklah sama. Pada mereka yang sesar, beberapa jam setelah keluar dari kamar

operasi, pernapasanlah yang dilatih guna mempercepat penyembuhan luka. Sementara

latihan untuk mengencangkan otot perut dan melancarkan sirkulasi darah di tungkai baru

Universitas Sumatera Utara


17

dilakukan 2-3 hari setelah ibu dapat bangun dari tempat tidur. Sedangkan pada

persalinan normal, bila keadaan ibu cukup baik, semua gerakan senam bisa dilakukan.

Secara umum melahirkan adalah peristiwa berdurasi panjang, yang berarti bahwa

ibu mungkin merasa lelah dan sakit serta sistem reproduksinya akan memerlukan waktu

untuk pulih dari melahirkan itu sendiri (Helen, Varney, 2003, hlm. 197)

3. Cara dan metode senam nifas

Umumnya, para ibu post partum takut melakukan banyak gerakan. Sang ibu

biasanya khawatir gerakan-gerakan yang dilakukannya akan menimbulkan dampak yang

tidak diinginkan. Padahal, apabila ibu bersalin melakukan ambulasi dini, itu bisa

memperlancar terjadinya proses involusi uteri (kembalinya rahim ke bentuk semula).

Salah satu aktivitas yang dianjurkan untuk dilakukan para ibu setelah persalinan adalah

senam nifas. Senam ini dilakukan sejak hari pertama setelah melahirkan hingga hari

kesepuluh. Dalam pelaksanannya, harus dilakukan secara bertahap, sistematis, dan

kontinyu. Tujuan senam nifas ini di antaranya memperbaiki sirkulasi darah,

memperbaiki sikap tubuh setelah hamil dan melahirkan, memperbaiki tonus otot pelvis,

memperbaiki regangan otot abdomen atau perut setelah hamil, memperbaiki regangan

otot tungkai bawah, dan meningkatkan kesadaran untuk melakukan relaksasi otot-otot

dasar panggul.

Ada beberapa cara senam nifas :

a. Asuhan senam nifas atau latihan fisik:

1) Mengajarkan latihan ringan tertentu yang membantu memperkuat tonus

otot jalan lahir dan dasar panggul.

Universitas Sumatera Utara


18

2) Menjelaskan pentingnya pengembalian otot-otot perut dan panggul

kembali normal. Ibu akan merasa telah kuat dan menyebabkan otot

perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit pada punggung.

Jelaskan bahwa latihan atau senam beberapa menit setiap hari sangat

membantu, seperti:

a) Latihan pernapasan dan otot perut:

(1) Dengan tidur telentang

(2) Lengan disamping

(3) Menarik otot selagi menarik nafas

(4) Tahan napas kedalam dan angkat dagu ke dada; tahan 1 hitungan

sampai 5

b) Latihan memperkuat tonus otot vagina (latihan kegel)

(1) Kerutkan otot vagina dan anus seperti menahan kencing dan

buang air besar dan tahan sampai hitungan 5.

(2) Kendurkan dan ulangi latihan sebanyak 5 kali.

(3) Mulai dengan menggerakkan 5 kali latihan untuk setiap gerakan,

setiap minggu naikkan jumlah latihan 5 kali lebih banyak.

(4) Pada minggu ke 6 setelah persalinan ibu harus mengerjakan setiap

gerakan sebanyak 30 kali.

b. Menurut Mellyna Huliana :

1). Pakaian dilonggarkan, tidur telentang dengan satu bantal kedua lutut lurus

dan tangan disamping badan.

Universitas Sumatera Utara


19

2). Letakkan kedua telapak tangan diatas perut, yaitu di sekitar pusat sebagai

perangsang.

3). Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah

tinggi dan telapak kaki rata pada kasur.

4). Tidur telentang dengan satu bantal, kedua lutut dibengkokkan setengah

tinggi, lurus dan dirapatkan. Tangan terentang di samping dengan bahu lurus.

5). Duduk tegak berdiri, kedua tangan saling berpegangan pada lengan bawah

dekat siku. Angkat siku sejajar dengan bahu.

6). Berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.

7). Tidur terlentang tanpa bantal dan tangan di samping badan, kerutkan

pantat, kempeskan perut sehingga bahu menekan kasur, ulurkan leher dan

lepaskan.

8). Posisi duduk atau berdiri, kedua tangan diletakkan di atas sendi bahu.

9). Berdiri dengan kaki sedikit direnggangkan. (Mellyna, Huliana, 2003, hlm.

96-103)

c. Menurut Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, latihan senam nifas terdiri

dari :

1). Latihan menarik nafas.

Bantal kecil diletakkan dibawah bahu dengan kedua tangan dibawah kepala,

wanita menarik nafas panjang dan pelan-pelan.

2). Berulang-ulang mengangkat dan menurunkan tungkai, untuk memperkuat

otot-otot perut.

3). Mengangkat tungkai untuk kemudian secara pelan-pelan menurunkannya.

Universitas Sumatera Utara


20

4). Mengangkat kepala dan bahu untuk memperkuat tonus otot-otot perut.

5). Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan meluruskan kedua

lengan.

6). Bangun dari sikap berbaring ke sikap duduk dengan menarik kedua tangan

dibelakang kepala (Biro Hukum Dan Humas Dep.Kes. RI, 1997, hlm. 162-

163)

Latihan senam post partum harus dilakukan sesegera mungkin. Ibu harus

mulai dengan latihan senam yang sederhana kemudian dilanjutkan dengan

gerakan yang lebih berat, yang dijelaskan dalam bentuk lampiran.

(Bobak, 2002, hlm. 533).

Universitas Sumatera Utara