Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG MASALAH

Garis – Garis Besar Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai ketetapan MPR

No.II/MPR/1993 pada Bab pendidikan menjelaskan bahwa ; Pendidikan Nasional

yang berakar pada kebudayaan kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan

pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD) diarahkan untuk kecerdasan dan

peningkatan harkat dan martabat manusia.

Untuk mencapai tujuan pendidikan ada beberapa hal yang dapat dipengaruhinya,

yakni faktor lingkungan, kemampuan ekonomi, kontrol orang tua, dan perhatian

orang tua, dan perhatian orang tua. Faktor ekonomi merupakan salah satu dari pemicu

berhasil atau tidaknya tujuan pendidikan.

Hal senada telah diungkapkan oleh HM.Arifin bahwa “ Keadaan orang tua,

kemampuan ekonomi, kontrol orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar atau

sangat dominan terhadap perkembangan jiwa anak secara integral”.1

Keluarga sebagai lingkungan yang pertama dikenal anak dituntut pula untuk

menyelenggarakan pendidikan bagi anggota keluarganya. Pendidikan itu sendiri dapat

1
HM. Arifin, Hubungan Timbal Balik Pendidikan Agama Islam Di Lingkungan Sekolah dan
Keluarga, Jakarta:t.np, 1978, hlm.103

1
2

dilaksanakan dalam lembaga persekolahan yang lazim disebut sebagai pendidikan

formal, selain itu ada pula pendidikan lainnya seperti kursus-kursus dan penataran-

penataran dan sebagainya yang disebut sebagai pendidikan non formal. Berkenaan

dengan kemampuan orang tua dalam membiayai pendidikan yang ada dewasa ini,

maka sesuai dengan pendapat dibawah ini :

Seringkali dikatakan bahwa pendapatan orang miskin rendah. karena rendahnya


pendidikan formal yang yang dialami. Rendahnya pendapatan keluarga
merupakan sebab utama mengapa anak-anak tidak disekolahkan atau hanya
menerima pendidikan minimal ….. bila masalah sosial ekonomi sedikit teratasi,
maka kemungkinan besar orang tua akan lebih memperhatikan pendidikan anak.2

Selanjutnya ahli pendidikan yang lain mengatakan:

“…….Kesempatan menyelesaikan pendidikan di indonesia sangat tergantung dari

kemampuan kantong orang tua…”3

Dari pendapat tersebut maksudnya yaitu faktor ekonomi orang tua merupakan

salah satu faktor vital bagi keberhasilan anak dalam menyelesaikan pendidikannya

Lebih lanjut lagi Zakiah Daradjat menegaskan bahwa “…Pendidikan dan

perlakuan orang tua terhadap anaknya hendaknya menjamin segala kebutuhan anak

baik fisik maupun psikis dan sosial sehingga si anak aman dan hidup tenang…”.4

Berdasarkan kutipan tersebut diatas ketenangan dan perkembangan anak dalam

keluarga dapat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi orang tua tersebut, yang pada
2
Martin Sardy, Identitas Pendidikan , Alumni Bandung, 1984. hlm.69-70
3
C.E. Beeby, Pendidikan di Indonesia, Alih Bahasa, BP3K, YIIS, LP3ES, Jakarta
4
Zakiah Deradjat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, Bandung: Rosda Karya,
1994, hlm.21
3

akhirnya akan ikut mempengaruhi konsentrasi anak-anak dalam menerima

pelajarannya. Tingkatan ekonomi keluarga merupakan keadaan kemampuan ekonomi

suatu keluarga dalam mencukupi kebutuhan sehari-hari. Dalam hal ini Bapak

Wagiman selaku KASI kependudukan pada tanggal 10 Januari 2002 membagi

kriteria tingkatan ekonomi keluarga dalam beberapa tingkatan pendapatan, yakni

sebagai berikut :

1. Golongan I (satu) dengan pendapatan kurang dari Rp.300.000 perbulan.


Golongan ini dikelompokan dalam suatu golongan rendah.
2. Golongan II (dua) dengan pendapatan antara Rp. 300.000 – Rp.500.000
perbulan. Golongan ini dikelompokan dalam satu golongan yang sedang.
3. Golongan III (Tiga) dengan pendapatan lebih dari Rp.850.000 perbulan.
Golongan ini dikelompokan dalam satu golongan yakni golongan tinggi5

Berdasarkan keterangan diatas bahwa tingkatan ekonomi keluarga mempunyai

daya pengaruh yang besar terhadap jiwa anak secara menyeluruh. Aspek kehidupan

keluarga termasuk didalamnya, tingkat ekonomi orang tua yang dapat mempengaruhi

prestasi belajar Mata Pelajaran Aqidah Akhlak yang diraih oleh anaknya.

Dengan demikian tinggi rendahnya keadaan tingkat ekonomi orang tua akan

mempengaruhi prestasi belajar mata pelajaran aqidah akhlak terhadap peserta didik,

hal ini merupakan kelengkapan pembelajaran yang memadai. Bagi ekonomi keluarga

yang tinggi akan memudahkan para pembelajaran anaknya untuk mencapai prestasi

ynag diharapkan. Sedangkan orang tua yang tingkat ekonominya rendah akan

5
Wagiman,Wawancara KASI Kependudukan Kantor Statistik Kota Metro Tanggal 10
Desember 2002
4

mengakibatkan sarana untuk belajar kurang, sehingga berakibat kurang baik.

Sebagaimana dijelaskan oleh Martin Sardy :

“Tidak mengherankan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga tingkat


pendapatan ekonomi rendah atau miskin pada umumnya sangat kurang berhasil
dalam dunia pendidikan disekolah. Sebabnya yang utama bukan kurang adanya
bakat atau ketekunan belajar, melainkan lingkungan sosial kemelaratan yang tidak
bisa menunjang.6

Dari kutipan diatas, jelaslah bahwa tingkat ekonomi orang tua dengan hasil

belajar (prestasi) belajar anak erat hubungannya, karena dalam belajar diperlukan

sarana yang cukup.

Apabila tingkat ekonomi keluarga rendah maka berakibat kurangnnya sarana

belajar, yang akhirnya prestasi belajar menurun.

Sebagaiman yang telah dikemukakan oleh Martin Sardy ;

Melihat latar belakang hidup seseorang miskin yang serba terbatas dan masih
berorientasi pada masalah bagaimana memperoleh sesuap nasi, layaknya jika anak-
anak merasa kurang berminat pada masalah pendidikan dan agamanya sehingga
orang tuanya kurang berminat dalam menyekolahkan anaknya sampai pada
kehidupan yang mapan.7
Ditegaskan oleh pendapat Oemar Hamalik sebagai berikut :

6
Martin Sardy, Mencari Identitas Pendidikan, Bandung, Alumni, 1981, hlm.53
7
Ibid, hlm.63
5

“…Biaya menjadikan sumber kekuatan didalam belajar, karena kurang biaya

akan sangat mengganggu kelancaran belajar “.8

Berdasarkan kutipan diatas, pendapat ekonomi keluarga yang lebih tinggi

dapat memberikan motivasi pembelajaran yang yang lebih tinggi pula, sehingga akan

memacu prestasi pembelajaran aqidah akhlak.

Dengan demikian tingkat ekonomi keluarga dapat memberikan pengaruh

terhadap prestasi belajar mata pelajaran aqidah akhlak. Dan yang tingkat ekonominya

rendah

8
Oemar Hamalik, Metode Belajar dan Kesulitan Belajar, Bandung, Tarsito, 1983, hlm.17
6

berakibat prestasi pembelajaran baik (Positif). Berdasarkan prasurvei melalui

wawancara kepada masing-masing wali murid serta kepada guru mata pelajaran

Aqidah akhlak, diperoleh sebagai berikut:

TABEL I
DATA HASIL PRASURVEI TENTANG TINGKAT EKONOMI
KELUARGA DAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN AQIDAH
AKHLAK SISWA MADRASAH ALIYAH DARUL A’MAL KELAS II TAHUN
2007/2008
Tingkat Prestasi Aqidah
No Nama Orang Tua Nama Siswa
Ekonomi Akhlak
1. Tumijan Rendah Aris susilo Baik
2. Samidi Rendah Ardiman Baik
3. Ibrahim Tinggi Aminudin Cukup
4. Hamid Sayadi Sedang Saiful hadi Cukup
5. Sudianto Sedang Barno Baik
6. Mahmud Tinggi Awiyah Rendah
7. Mursidi Rendah Baharudin Cukup
8. Naryo Rendah Budi Baik
9. Jamzuri Sedang Didi Rendah
10. Dawam Sedang Tastiyah Baik

Keterangan

a. Interval tingkat Ekonomi

1. Golongan rendah : pendapatan kurang dari Rp.300.000 perbulan.

2. Golongan yang sedang : pendapatan antara Rp. 300.000 – Rp.500.000

perbulan.

3. Golongan tinggi : pendapatan lebih dari Rp.850.000 perbulan.

b. Interval Nilai Prestasi Belajar Mata Pelajaran Aqidah Akhlak :

1. Nilai 10 – 50 disebut Rendah

2. Nilai 60 – 70 disebut Cukup


7

3. Nilai 80 – 100 disebut Baik

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa dari 10 sampel terdapat empat (4)

siswa yang tingkat ekonomi keluarganya rendah, dari keempat siswa tersebut ternyata

ada tiga (3) siswa yang memiliki prestasi baik, dan satu (1) prestasi belajarnya cukup.

Kemudian ada lima (4) siswa yang tingkat ekonomi keluarganya sedang, dari

keempat siswa tersebut dua diantaranya memiliki prestasi yang baik. Dan dua (2)

siswa memiliki tingkat ekonomi keluarga yang tinggi, 1 namun prestasi cukup.

A. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah tersbut, maka permasalahan timbul dalam

penelitian ini adalah:

1. Aplikasi pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah Darul A’mal

belum baik !

2. Ada peserta didik yang tingkat ekonominya rendah tetapi prestasi

belajarnya tinggi !

3. Ada peserta didik yang tingkat ekonominya tinggi tetapi prestasi

belajarnya rendah !

B. PEMBATASAN MASALAH
8

Untuk menghindari kaburnya pemahaman pada penelitian ini disebabkan begitu

banyaknya permasalahan yang muncul pada identifikasi masalah, maka penulis

memberikan batasan permasalahan sebagai berikut :

1. Ruang lingkup penelitian

a. Ruang Lingkup Masalah

1) Tingkat ekonomi orang tua

2) Prestasi belajar mata pelajaran aqidah akhlak siswa Madrasah

Aliyah Darul Amal

b. Ruang lingkup Obyeknya adalah siswa Madrasah Aliyah Darul A’mal

Kelas II

c. Lokasi Penelitian adalah Madrasah Aliyah Darul A’mal 16 B

kecamatan Metro Barat

d. Waktu Penelitian yakni antara bulan Agustus sampai dengan bulan

September 2002

C. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut diatas,

1. Bagaimanakah aplikasi pelajaran akidah akhlak di Madrasah Aliyah

darul A’mal
9

2. Mengapa peserta didik yang tingkat ekonominya rendah tetapi

prestasinya baik?

3. Mengapa peserta didik yang tingkat ekonominya tinggi tetapi prestasi

belajarnya rendah ?

maka sebagai rumusan masalah dalam penelitian ini ialah apakah ada hubungan

antara tingkat ekonomi orang tua dengan prestasi belajar pada mata pelajaran aqidah

akhlak di Madrasah Aliyah Darul A’mal 16 B kecamatan Metro Barat tahun

pelajaran 2001 – 2002

D. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN

1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan hipotesis yang penulis kemukakan diatas

maka tujuan yang akan dicapai dalam enelitian ini adalah:

Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat ekonomi keluarga

dengan prestasi belajar mata pelajaran aqidah akhlak siswa Madrasah Aliyah

Darul A’mal 16 B kecamatan Metro Barat kelas II tahun Pelajaran 2001 –

2003.

2. Kegunaan Penelitian
10

Adapun kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Meningkatkan prestasi belajar Aqidah akhlak di Madrasah

Aliyah Darul A’mal.

b. Untuk meningkatkan aplikasi pelajaran aqidah akhlak

c. Menigkatkan proses belajar mengajar mata pelajaran aqidah

akhlak..