Anda di halaman 1dari 2

KHOTBAH 79

Setelah pertempuran Jamal,[1] Amirul Mukminin a.s. berkata tentang wanita

Wahai manusia! Perempuan berkekurangan dalam iman, kekurangan dalam pembagian, dan
kekurangan dalam akal. Kekurangan dalam iman karena pantangan mereka dari shalat
dan puasa dalam masa haidnya. Kekurangan dalam akal adalah karena kesaksian dua
perempuan sama dengan satu laki-laki. Berhati-hatilah Anda bahkan dari antara
mereka yang (dikabarkan sebagai yang) baik. Jangan Anda mengikuti mereka (secara
membuta) sekalipun dalam hal-hal yang baik supaya mereka tidak menyeret Anda
kepada kemungkaran. �

[1] 'Amirul Mukminin mengucapkan khotbah ini setelah kerusakan yang ditimbulkan
oleh Perang Jamal. Karena kerusakan itu adalah akibat mengikuti perintah seorang
wanita dengan membuta, dalam khotbah ini ia menggambarkan kekurangan fisik wanita
serta sebab dan akibatnya. Demikianlah, kelemahan mereka yang pertama ialah selama
beberapa hari dalam sebulan mereka tak boleh salat dan puasa, dan larangan
beribadah ini sendiri merupakan tanda kekurangan mereka dalam agama. Walaupun
makna iman yang sesungguhnya ialah pem-benaran hati dan keyakinan batin, namun
secara kias hal itu pun mengandung makna tindakan dan watak. Karena perbuatan
adalah pantulan keimanan maka tindakan dan watak itu juga merupakan bagian dari
iman. Maka, diriwayatkan dari Imam 'AII ibn Musa ar-Ridha a.s. bahwa:

Iman adalah pembenaran oleh hati, ikrar dengan lidah dan tindakan dengan anggota
badan.

Kelemahan yang kedua ialah kecenderungan alamiya tidak mengizinkan penggunaan


pikiran mereka sepenuhnya. Alam telah memberikan kepada mereka kecenderungan
berpikir yang sesuai dengan bidang kegiatan mereka yang me-nuntun mereka dalam
kehamilan, melahirkan, mengasuh anak dan urusan rumah tangga. Atas dasar kelemahan
ini, status kesaksian mereka tidak disamakan dengan kesaksian pria, sebagaimana
sabda Allah,

... Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari dua orang lelaki. Jika tak ada
dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua perempuan dari saksi-saksi
yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa yang seorang lagi mengingatkannya ....
(QS. 2:282)

Kelemahan yang ketiga ialah bagian mereka dalam warisan setengah dari bagian
warisan lelaki,

Allah mensyaratkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu, yaitu:


bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua anak perempuan. (QS. 4:11)

Ini menunjukkan kelemahan wanita. Karena penyebab bagiannya dalam warisan hanya
setengah ialah tanggung jawab nafkah untuk wanita terletak pada lelaki. Karena
kedudukan lelaki ialah pemberian nafkah dan pengurusan wanita, maka jelaslah
posisi lelaki yang memberi nafkah dan mengurusi kebutuhan wanita itu.

Setelah menggambarkan kelemahan-kelemahan alami mereka itu, Amirul Mukminin


menunjukkan buruknya mengikuti mereka secara membuta dan batil. la mengatakan itu
bukan setalian dengan hal-hal yang buruk saja; sekaitan dengan hal baik pun tak
seharusnya dilakukan menurut hasrat mereka. Orang harus menyadari perbuatan yang
baik itu karena baiknya, dan bahwa kesenangan atau keinginan mereka tak ada
hubungannya dengan itu. Apabila mereka (wanita) merasa bahwa kesenangan mereka
telah menjadi tujuan di dalamnya, berangsur-angsur mereka akan semakin menuntut
dan menginginkan agar mereka ditaati dalam hal-hal yang bagaimanapun buruknya;
akibatnya ialah kehancuran dan keruntuhan, sebagaimana dikatakan Syekh Muhammad
'Abduh mengenai pan-dangan Amirul Mukminin ini,
Amirul Mukminin telah mengatakan suatu hal yang sesuai dengan pengala-man berabad-
abad.