Anda di halaman 1dari 16

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di seluruh Indonesia tersebar sekitar 40 jenis (spesies) tanaman atsiri yang
berpotensi dikembangkan seperti akar wangi, nilam, serai wangi, kenanga, daun
cengkeh, jahe, dan pala. Namun, sampai kini yang bisa diolah untuk diekspor baru
12 jenis. Di seluruh pasar dunia terdapat sekitar 80 jenis minyak untuk berbagai
bahan baku.
Nilam termasuk tumbuhan semak yang mempunyai tinggi mencapai satu
meter. Nilam akan tumbuh subur pada keadaan lingkungan yang teduh, hangat
dan lembab. Nilam biasanya dikembangbiakan dengan cara vegetatif.
Untuk mendapatkan minyak atsiri dilakukan penyulingan pada tanaman
yang mengandung minyak atsiri. Penyulingan dapat dilakukan dengan beberapa
cara, yaitu cara direbus, dikukus, dan penyulingan dengan uap.
Kegunaan essential oil ini boleh dibilang sangat luas mulai sebagai bahan
baku parfum, antiseptik, kosmetik, obat-obatan, flavour agent dalam makanan
atau minuman, serta pencampur rokok kretek. Beberapa jenis di antaranya
digunakan sebagai bahan analgesic, haemolitic atau sebagai antizymatic, serta
sedavita dan stimulan untuk obat sakit perut.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui proses penyulingan minyak atsiri dari nilam.
2. Untuk mengetahui kandungan yang tersimpan dalam minyak atsiri
terutama nilam.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah


suatu semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri
yang dinamakan minyak nilam. Dalam perdagangan
internasional, minyak nilam dikenal sebagai minyak
patchouli (dari bahasa Tamil patchai (hijau) dan ellai
(daun), karena minyaknya disuling dari daun). Aroma
minyak nilam dikenal 'berat' dan 'kuat' dan telah
berabad-abad digunakan sebagai wangi-wangian (parfum) dan bahan dupa atau
setanggi pada tradisi timur. Harga jual minyak nilam termasuk yang tertinggi
apabila dibandingkan dengan minyak atsiri lainnya.
. Tanaman nilam sendiri termasuk famili Labiatea yaitu kelompok
tanaman yang mempunyai aroma mirip satu sama lain. Dan tanaman yang
ditemukan oleh orang Perancis (1845) dan disebut sebagai Pagostemon Patcholi
sesuai dengan nama mereka, awalnya diusahakan di Malaysia, kemudian di
Sumatera Utara khususnya di Aceh. Tapi nilam yang dari Aceh ketika ditanam di
Jawa tidak memberikan hasil yang sama. Sifat-sifat minyak yang dihasilkan
menurun dan mirip dengan nilam yang ada di Jawa
Tumbuhan nilam berupa semak yang bisa mencapai satu meter. Tumbuhan
ini menyukai suasana teduh, hangat, dan lembab. Mudah layu jika terkena sinar
matahari langsung atau kekurangan air. Bunganya menyebarkan bau wangi yang
kuat. Bijinya kecil. Perbanyakan biasanya dilakukan secara vegetatif.
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil),
minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar
minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah
menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan
dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami. Di dalam
perdagangan, sulingan minyak atsiri dikenal sebagai bibit minyak wangi.
Minyak Atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile
oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus
alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Minyak atsiri
dapat diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun,
bunga, maupun biji tumbuhan, selain itu diperoleh juga
terpen yang merupakan senyawaan hidrokarbon yang
bersifat tidak larut dalam air dan tidak dapat disabunkan.
Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak cengkeh,
minyak sereh, minyak kayu putih, minyak lawang dan dan
lain-lain.
Para ahli biologi menganggap, minyak atsiri merupakan metabolit
sekunder yang biasanya berperan sebagai alat pertahanan diri agar tidak dimakan
oleh hewan (hama) ataupun sebagai agen untuk bersaing dengan tumbuhan lain
(lihat alelopati) dalam mempertahankan ruang hidup. Walaupun hewan kadang-
kadang juga mengeluarkan bau-bauan (seperti kesturi dari beberapa musang atau
cairan yang berbau menyengat dari beberapa kepik), zat-zat itu tidak digolongkan
sebagai minyak atsiri.
Minyak atsiri bersifat mudah menguap karena titik uapnya rendah. Selain
itu, susunan senyawa komponennya kuat mempengaruhi saraf manusia (terutama
di hidung) sehingga seringkali memberikan efek psikologis tertentu (baunya
kuat). Setiap senyawa penyusun memiliki efek tersendiri, dan campurannya dapat
menghasilkan rasa yang berbeda.
Secara kimiawi, minyak atsiri tersusun dari campuran yang rumit berbagai
senyawa, namun suatu senyawa tertentu biasanya bertanggung jawab atas suatu
aroma tertentu. Sebagian besar minyak atsiri termasuk dalam golongan senyawa
organik terpena dan terpenoid yang bersifat larut dalam minyak/lipofil.
Minyak nilam tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya
adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang
biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun
keringnya (seperti pada minyak cengkeh). Di Indonesia minyak nilam juga
disuling dari kerabat dekat nilam yang asli dari Indonesia, nilam Jawa
(Pogostemon heyneani), yang memiliki kualitas lebih rendah.
Minyak nilam yang baik umumnya memiliki kadar PA di atas 30%,
berwarna kuning jernih, dan memiliki wangi yang khas dan sulit dihilangkan.
Minyak nilam jenis ini didapat dengan menggunakan teknik penyulingan uap
kering yang dihasilkan mesin penghasil uap (boiler) yang diteruskan ke dalam
tangki reaksi (autoklaf) selanjutnya uap akan menembus bahan baku nilam kering
dan uap yang ditimbulkan diteruskan ke bagian pemisahan untuk dilakukan
pemisahan uap air dengan uap minyak nilam dengan sistem penyulingan. Minyak
nilam yang baik dihasilkan dari tabung reaksi dan peralatan penyulingan yang
terbuat dari baja tahan karat (stainless steel) dan peralatan tersebut hanya
digunakan untuk menyuling nilam saja (tidak boleh berganti-ganti dengan bahan
baku lain).
Karena sifat aromanya yang kuat, minyak ini banyak digunakan dalam
industri parfum. Sepertiga dari produk parfum dunia memakai minyak ini,
termasuk lebih dari separuh parfum untuk pria. Minyak ini juga digunakan
sebagai pewangi kertas tisu, campuran deterjen pencuci pakaian, dan pewangi
ruangan. Fungsi yang lebih tradisional adalah sebagai bahan utama setanggi dan
pengusir serangga perusak pakaian. Aroma minyak nilam dianggap 'mewah'
menurut persepsi orang Eropa, tetapi orang sepakat bahwa aromanya bersifat
menenangkan.
III. METODELOGI

A. Alat Dan Bahan


1. Kertas
2. Alat tulis

B. Prosedur Kerja
1. Tempat penyulingan minyak nilam dikunjungi
2. Proses penyulingan minyak nilam diamati dan
dicatat
3. Alat-alat penyulingan digambar pada kertas
4. Jika ada yang kurang jelas mengenai proses
penyulingan, menanyakan kepada pekerja setempat
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
-terlampir-

B. Pembahasan
Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil
sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam. Ditilik dari segi botani
tanaman, nilam termasuk tanaman herba semusim. Tumbuh tegak setinggi 0,5m –
1 m. Percabangannya banyak dan bertingkat mengitari batang (ada 3 – 5 cabang
tiap tingkat), dan berbulu. Radius cabang melebar sekitar 60 cm. Batangnya
berkayu dan berbentuk segi empat dengan diameter 10 – 20 cm, berwarna
keungu-unguan. Sedangkan daunnya hijau tersusun dalam pasangan berlawanan.
Berbentuk bulat lonjong, panjang 10 cm, lebar 8 cm, dengan ujung agak
meruncing. Tangkai daun sekitar 4 cm berwarna hijau kemerahan.
Nilam bisa tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun dataran
tinggi (0 – 1.200 m dpl). Tapi ia akan tumbuh baik pada ketinggian 10 m – 400 m
dpl. Nilam tidak haus air, tapi juga tidak tahan kering. Menghendaki suhu 24°C –
28°C, tapi lembab (lebih dari 75%). Curah hujan merata sepanjang tahun (2.000 –
3.500 mm per tahun).
Untuk pertumbuhan optimal, nilam perlu cukup sinar matahari. Namun
bisa tumbuh baik di tempat yang agak terlindung. Karena itu bisa saja ditanam
secara tumpang sari dengan tanaman lain.Biasanya ditumpangsarikan dengan
tanaman jagung, tapi juga masih dapat tumbuh di sela-sela lamtoro gung, kelapa,
atau karet.
Kondisi tanah datar atau miring (lereng) tidak masalah bagi pertumbuhan
nilam. Yang penting subur dan berdrainase baik. Tanah liat, tanah berpasir, dan
berkapur kurang disukai. Tanah tergenang memudahkan tanaman nilam diserang
cendawan Phytoptora. Musuh lainnya yakni serangga perusak daun, nematoda,
penyakit buduk, busuk batang, luka batang, dan gejala defisiensi. Juga ulat
pemakan daun, ulat penggulung daun, dan belalang.
Nilam diperbanyak dengan stek yang diambil dari batang atau cabang
cukup tua, berdiameter 0,8 – 1 cm. Panjang stek 15 – 23 cm. Setidaknya berisi 3 –
5 mata tunas atau tiga helai daun. Stek bisa langsung ditanam di kebun. Lebih
baik ditanam dulu di tempat pembibitan, baru dipindahkan ke kebun begitu
muncul akar dan tunas baru (3 – 4 minggu). Satu lubang tanam diisi 1 – 3 stek
(bibit). Jarak tanamnya mulai dari 30 x 100 cm, 50 x 100 cm, hingga 100 x 100
cm, tergantung kesuburan dan jenis tanah. Sebaiknya, dilakukan pada awal musim
hujan.
Tanaman dianggap matang dan siap panen kalau sudah berumur enam
bulan atau 5 – 8 bulan. Bagian yang dipanen, cabang dari tingkat dua ke atas.
Sekitar 20 cm di atas tanah. Biasanya disisakan satu cabang di tingkat pertama
untuk mempercepat tumbuhnya tunas baru.
Tiga bulan kemudian (bulan ke-9),
cabang dan anakan baru dipanen kedua
kalinya. Periode panen berikutnya setiap
selang tiga bulan. Hasil panen bisa
mencapai 3,5 – 4 ton daun nilam kering,
kalau kondisi tanaman bagus.
Pemanenan daun nilam sebaiknya dilakukan pagi hari, atau menjelang
petang, ketika musim kering. Maksudnya agar daun tetap mengandung minyak
atsiri tinggi (2,5 – 5%). Pemetikan siang hari membuat daun kurang elastis dan
mudah robek. Juga transpirasi (penguapan air) daun lebih cepat sehingga kadar
minyak atsirinya berkurang. Alatnya bisa berupa sabit, gunting, atau parang tajam.
Nilam yang sudah dipanen dipotong-potong 3 – 5 cm, kemudian dijemur
di bawah sinar matahari selama empat jam (pukul 10.00 – 14.00). Setelah itu
diangin-anginkan di atas para-para yang teduh, sambil dibolak-balik 2 – 3 kali
sehari selama 3– 4 hari hingga kadar airnya tinggal 15%. Pengeringan tidak
terlalu cepat atau terlalu lambat. Terlalu cepat membuat daun rapuh dan sulit
disuling. Terlambat kering, daun menjadi lembap dan mudah ditumbuhi jamur.
Akibatnya, rendemen atau mutu minyak yang dihasilkan menurun.

gambar penjemuran nilam


Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara
direbus, penyulingan dikukus, dan penyulingan dengan uap. Penyulingan direbus,
daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi. Kapasitas ketel
penyulingan bervariasi, mulai dari 200 liter - 2.000 liter. Ketel dibuat dari bahan
antikarat, seperti stainless steel, besi, atau tembaga berlapis aluminium.
Dari ketel akan keluar uap, kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung
dengan kondensor (pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang sesungguhnya
merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di ujung pipa dan
ditampung dalam wadah. Selanjutnya, dilakukan proses pemisahaan sehingga
diperoleh minyak nilam murni. Penyulingan cara kedua, mirip cara pertama,
hanya saja antara daun nilam dan air dibatasi saringan berlubang. Daun nilam
diletakkan di atas saringan, sementara air berada di bawahnya.
Sementara sistem penyulingan uap menjamin kesempurnaan produksi
minyak atsiri. Pada sistem ini bahan tidak kontak langsung dengan air maupun
api. Prinsipnya, uap bertekanan tinggi dialirkan dari ketel perebus air ke ketel
berisi daun nilam (ada dua ketel). Uap air yang keluar dialirkan lewat pipa menuju
kondensor hingga mengalami proses kondensasi. Cairan (campuran air dan
minyak) yang menetes ditampung, selanjutnya dipisahkan untuk mendapatkan
minyak nilam.
Pengusaha minyak nilam biasanya memakai cara pertama, karena
biayanya relatif murah. Sedang cara yang kedua memerlukan modal besar dan
teknologi yang rumit. Prosesnya, daun nilam dibersihkan kemudian dimasukkan
ke dalam ketel penyulingan dan dipanaskan dengan brander melalui dapur
dialirkan melalaui celah-celah daun kering, dimana uap tersebut membawa serta
uap minyak yang berasal dari daun kedalam sebuah pendingin.
Tempat penyulingan minyak nilam biasanya berada tidak jauh dari tempat
pembudidayaan tanaman nilam. hal ini dikarenakan efisiensi dalam pengangkutan
dan pegolahan hasil panenan. Semakin cepat diolah, maka kadar hasil minyak
nilam akan semakin baik.
Praktikum satuan opersi industri acara ketiga ini dilakukan di tempat
penyulingan minyak nilam dan minyak cengkeh yang berlokasi di Kedung
Banten, Kebumen. Dikawasan ini penyulinagn dilakukan dengan cara
penyulingan uap karena memang biayanya yang relatif murah. Tempat ini
berlokasi strategis karena dekat dengan jalan raya dan ketersediaan air yang
melimpah. Ketersediaan air merupakan salah astu faktor yang penting dalam
penyulingan minyak nilam karena air yang bersih dan banyak akan mempengaruhi
kualitas minyak.

gambar tempat penyulingan minyak atsiri


Penyulingan uap merupakan proses pisahkan komponen yang berupa
cairan berdasarkan perbedaan titik uapnya. Awal penyulingan, menghasilkan
komponen minyak yang bertitik didih rendah, lalu disusul dengan komponen yang
bertitik didih lebih tinggi. Jumlah minyak yang menguap bersama-sama dengan
uap air ditentukan oleh tiga faktor, besarnya tekanan uap yang digunakan, bobot
molekul dari masing-masing komponen dalam minyak, dan kecepatan minyak
yang keluar dari bahan yang disuling.
Pertama-tama, nilam dikeringkan dengan cara dijemur hingga mempunyai
basis basah 15% yaitu basis basah standar untuk suap disuling. Semua bagian
tanaman nilam dapat disuling, akan tetapi kandungan yang terbesar adalah pada
daun nilam. Tanaman nilam kering dimasukkan kedalam ketel yang dipanaskan
menggunakan bahan bakar kayu.

gambar ketel penguapan nilam

Ketel terus dipanaskan selama beberapa jam. Ketel ini dihubungkan


dengan bak pendinginan melalui pipa-pipa. Air dalam ketel yang menguap akan
masuk kedalam pipa yang kemudian menuju bak pendinginan. Didalam bak
pendingin, uap air akan mengalami kondensasi karena perbedaan suhu didalam
pipa dan diluar pipa.
gambar bak pendingin dan pipa penghubung
Dari alat pendingin campuran air dan minyak pada tempertur 40 – 50° C
(suam-suam kuku) mengalir ke alat pemisah minyak dari air. Minyak nilam yang
lebih ringan dari air akan mengapung di atas air dan dialirkan melalui bagian atas
alat pemisah kealat pengumpul minyak. Sedangkan air yang dihasilkan dari proses
penyulingan dapat digunakan kembali pada proses penyulingan berikutnya,
dengan memasukkan kembali ke dalam ketel uap, agar minyak yang masih
terdapat dalam air dapat diambil kembali.

gambar proses pemisahan air dan minyak nilam


Limbah dari proses penyulingan adalah air sisa penyulingan dan ampas
penyulingan. Air penyulingan ini dapat dibuang aatu dapat juga digunakan
sebagai campuran air mandi jika wangi nilam masih ada. Sedangkan ampas yang
kering, dapat dipakai untuk pupuk. Pada pengolahan minyak atsiri dengan
menggunakan cengkeh sendiri, ampasnya dapat diolah lagi untuk keperluan lain.

gambar limbah dari proses penyulingan minyak atsiri cengkeh

Minyak atsiri ini terbentuk melalui proses metabolisme di dalam tanaman.


Bagi tanaman nilam, minyak atsiri ibarat feromon yang mampu menarik
kehadiran serangga penyerbuk. Sekaligus aromanya dapat mengusir serangga
perusak tanaman. Yang pasti, ia berfungsi sebagai makanan cadangan bagi
tanaman itu. Pada dasarnya semua bagian tanaman nilam, sejak dari akar, batang,
cabang, dan daun mengandung minyak atsiri (Ketaren dan Mulyono, 1987).
Minyak nilam terdiri dari campuran persenyawaan terpen dengan alkohol-
alkohol, aldehid, dan ester-ester yang memberikan bau khas, misalnya patchaoli
alkohol, dimana patchaoli alkohol ini merupakan senyawa yang menentukan bau
minyak nilam(Albert, 1980) dan merupakan komponen terbesar (Hardjono, 2002).
Menurut Trifilieff yang memberikan bau pada minyak nilam adalah
norpatchoulenol yang terdapat dalam jumlah sedikit. Kandungan yang terdapat di
dalam minyak nilam meliputi : patchouli alkohol, patchouli camphor, eugenol,
benzaldehyde, cinnamic aldehyde, kariofilen, α-patchaolena, dan bulnessen
(Santoso, 1990).
Menurut suryono (2003), kadar minyak atsiri nilam bervariasi, tergantung
pada varietasnya. Nilam Aceh (Pogostemon cablin), karena tidak berbunga, kadar
minyaknya tinggi (2,5 – 5%). Begitu pula sifat minyaknya disukai pasar. Nilam
Jawa (P. heyneanus) karena berbunga, kadar minyaknya rendah (0,5 – 1,5%).
Komposisi minyak atsirinya kurang diminati. Sedangkan nilam sabun (P.
hortensis), kadar minyaknya 0,5 – 1,5%, dan jenis ini kurang disukai pasar. Kadar
Patchouli alkohol dalam minyak nilam ± 50-60% (Guenther, 1949).
Komponen penyusun nilam dari beberapa penelitian
Penelitian Komponen senyawa
Department of Pharmaceutical Biology Alpha-Patchoulene
University of Hamburg Caryophyllene
Alpha-Guaiene
Alpha-humulene
Patchouli alcohol
Beta-pathoulene
Alpha Bulnesene
Menurut Penelitian Hermani dan Budi caryophyllene
Tangandjaja (1988) Alpha-Patchoulene
Patchouli alcohol
Bulnesen
Minyak nilam punya sifat susah dicuci sekalipun dengan air sabun, tapi
larut dalam alkohol hanya saja sukar menguap. Karena sifat-sifatnya itu, minyak
nilam digunakan sebagai bahan baku dalam industri wangi-wangian (parfum),
kosmetik, dan bahan dupa atau setanggi pada tradisi timur. Selain itu minyak
nilam juga dapat digunakan sebagai fiksatif terhadap bahan pewangi lain,
sehingga sering dicampurkan dalam pembuatan suatu kompond. Pemakaian
minyak nilam sebagai fiksatif (unsur pengikat) wangi-wangian dalam dunia
parfum tidak bisa digantikan dengan minyak lain, sehingga minyak ini merupakan
salah satu minyak atsiri yang cukup berperan dalam dunia parfum. Di Eropa dan
Amerika, minyak nilam digunakan sebagai bahan baku industri pembuatan
minyak wangi sebagai pengikat bau atau fikative parfum, kosmetik, dll.
Sebuah referensi menyebutkan, minyak nilam bisa untuk bahan antiseptik,
antijamur, antijerawat, obat eksem dan kulit pecah-pecah, serta ketombe. Juga
bisa mengurangi peradangan. Bahkan dapat juga membantu mengurangi
kegelisahan dan depresi, atau membantu penderita insomnia (gangguan susah
tidur). Makanya minyak ini sering dipakai untuk bahan terapi aroma. Juga bersifat
afrodisiak: meningkatkan gairah seksual.
Bukan cuma minyak nilamnya yang bermanfaat. Di India daun kering
nilam juga digunakan sebagai pengharum pakaian dan permadani. Air rebusan
atau jus daun nilam, kabarnya, dapat diminum sebagai obat batuk dan asma.
Remasan akarnya untuk obat rematik, dengan cara dioleskan pada bagian yang
sakit. Bahkan juga manjur untuk obat bisul dan pening kepala. Remasan daun
nilam dioleskan pada bagian yang sakit.
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Nilam (Pogostemon cablin Benth.) adalah suatu semak tropis penghasil
sejenis minyak atsiri yang dinamakan minyak nilam
2. Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara
direbus, penyulingan dikukus, dan penyulingan dengan uap. Penyulingan
direbus, daun nilam kering dimasukkan dalam ketel berisi air dan dipanasi.
Dari ketel akan keluar uap, kemudian dialirkan lewat pipa yang terhubung
dengan kondensor (pendingin). Uap berubah menjadi air. Air yang
sesungguhnya merupakan campuran air dan minyak itu akan menetes di
ujung pipa dan ditampung dalam wadah. Selanjutnya, dilakukan proses
pemisahaan sehingga diperoleh minyak nilam murni.
3. Kandungan utama minyak nilam berupa pachoully alcohol 45-50%,
sedangkan kandungan yang lain adalah Alpha-Patchoulene,
Caryophyllene, Alpha-Guaiene, Alpha-humulene, Patchouli alcohol, Beta-
pathoulene, dan Alpha Bulnesene.
4. Manfaat utama minyak nilam adalah sebagai bahan baku dalam industri
parfum. Selain itu, minyak nilam bermanfaat juga dalam bidang obat-
obatan.

B. Saran
Sebaiknya ada lebih dari dua orang yang bertugas menjelaskan
penyulingan minyak secara terperinci di tempat pengamatan mengingat jumlah
praktikan yang cukup banyak.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1986. Penelitian dan Pengembangan Minyak Atsiri


Indonesia. Bogor : Balai Penelitian Tanaman Rempah dan
Obat.

Balitro.2002. Perkembangan Minyak Atsiri di Indonesia Berikut


Alat Pegolahannya. Diskusi Minyak Atsiri. Jakarta :
Departemen Pertanian.

Wikandi. E.A, Ariful Asman dan Pasril Wahid, 1990.


Perkembangan Penelitian Nilam. Edisi Khusus Littro. Vol.
VI.9

Firdaus, Ikhsan. 2009. Analisis Total Minyak Atsiri. www.chem-is-


try.org/author/ikhsan-firdaus

www.wikipedia.org/nilam

www.wikipedia.org/minyak_atsiri