Anda di halaman 1dari 15

PADI ORGANIK SRI

CARA BERTANI SEKSAMA DAN ALAMI ( CBSA )

Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan (nasib) satu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri ( Al-Quran : AR RAD ayat 11 ) I. BUDIDAYA PADI METODA SRI SRI ( System of Rice Intensification ) adalah cara budidaya padi yang pada awalnya diteliti dan dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu di Pulau Madagaskar dimana kondisi dan keadaannya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Karena kondisi lahan pertanian yang te rus menurun kesuburannya, kelangkaan dan harga pupuk kimia yang terus melambung serta suplai air yang terus berkurang dari waktu ke waktu, maka dikembangkanlah metoda SRI untuk meningkatkan hasil produksi padi petani Madagaskar pada saat itu, dengan hasil yang sangat mengagumkan. Saat ini SRI telah berkembang di banyak negara penghasil beras seperti di Thailand, Philipina, India, China, Kamboja, Laos, Srilanka, Peru, Cuba, Brazil, Vietnam dan banyak negara maju lainnya. Melalui presentasinya Prof. Norman Uphoff dari universitas Cornell, USA, pada tahun 1997 di Bogor, SRI diperkenalkan di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 penerapan dilapangan oleh para petani kita di Sukabumi, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan daerah lainnya memberikan lonjakan hasil panen yang luar biasa. Cara budidaya SRI sebenarnya tidak asing bagi para petani kita, karena sebagian besar prosesnya sudah dipahami dan biasa dilakukan petani. Metoda SRI ini dinamakan bersawah organik dan menghasilkan padi/beras organik karena mulai dari pengolahan lahan, pemupukan hingga penanggulangan serangan hama sama-sekali tidak menggunakan bahan-bahan kimia . Metoda SRI seluruhnya menggunakan bahan organik disekitar kita ( petani ) yang ramah lingkungan, dan bersahabat dengan alam serta mahluk hidup di lingkungan persawahan. Dari hasil penelitian dan percobaan oleh para ahli selama bertahun -tahun di berbagai negara menunjukan bahwa hasil yang diperoleh dengan metoda SRI sangat tinggi jika sepenuhnya tidak memakai bahan -bahan sintetis( kimia/anorganik) baik untuk pupuk maupun untuk pembasmi hama dan penyakit padi. Prinsip dasar budidaya padi organik SRI terdiri dari beberapa kegiatan kunci dan prosesnya mutlak harus dilakukan agar hasil yang dicapai petani optimal. 1. Proses Pembibitan. 2. Proses Pengolahan Lahan. 3. Proses Penanaman Bibit Padi. 4. Proses Pemeliharaan. 5. Proses Pemupukan. 6. Proses Pengendalian Hama. 1.Proses Pembibitan. Tahapan proses pembibitan dimulai dari proses pemilihan ( seleksi ) bibit padi serta penyemaian sebagai mana uraian berikut: a. Siapkan air tawar dalam ember secukupnya lalu masukkan sebutir telur ayam/bebek, kemudian secara perlahan-lahan masukan garam dapur sambil diaduk-aduk dengan hati-hati sehingga telur yang semula tenggelam akhirnya terapung. Artinya air tersebut sudah siap dipakai untuk seleksi bibit padi. 1

c.

e.

2 oses engola a n La an. a. Kondisi lahan sawah kita umumnya sudah miskin bahan organik dan banyak residu pupuk kimia serta pestisida kimia, sehingga lahan miskin unsur hara dan agregatnya sangat kuat . Karena itu perlu dimasukkan bahan -bahan organik minimal sama volume jerami dan dan bobotnya dengan yang keluar dari sawah padi ) atau setara -10 ton kompos/Ha. Jerami dan sekam harus dimasukkan kembali ke sawah setelah dilakukan pengomposan ) terlebih dahulu. ntuk fermentasi mempercepat proses fermentasi/pengomposan, jerami ditumpuk berlapis-lapis dan diberikan kotoran hewan kohe n ) dan hijauan sekitar seperti ki rinyu dsb serta mik oba dalam bentuk cairan atau kompos

' & &

f.

d.

  

Masukan i i adi ke dalam embe ang be isi ai +garam adi ibi adi ang enggelam i u bibi adi ang baik sedangkan ang erapung/melayang adalah bibi padi yang elek. Ambil bibi padi yang baik ersebut lalu di uci dengan air bersih beberapa kali hari lalu kemudian direndam diperam dengan kain basah selama malam hingga muncul lembaga bintil putihnya untuk disemai esok atu hektar sawah harinya. diperlukan lebih-kurang Kg bibit yang baik. Buatlah adukan tanah sawah + kompos/pupuk kandang setelah mer ata masukan adukan dengan perbandingan tanah + kompos tadi ke dalam besek pipiti atau gedebog pisang atau fasilitas tempat lain yang praktis setinggi cm tinggi pipiti yang alasnya telah dilapisi plastik atau dedaunan atau di petak sawah langsung yang telah dilapisi plastik. Direkomendasikan adukan ditambah sekam padi yang sudah % untuk penyubur dan memudahkan penarikan benih padi muda satu per satu lapuk ketika penanaman. Sirami tanah + kompos dalam pipiti atau gedebog pisang tadi agar lembab sebelum ditebar bibit padi yang sudah didiamkan selama malam hingga keluar kecambah.Jumlah tebaran bibit padi per pipiti berkisar -250 butir. utupi tebaran tersebut dengan lapisan tipis adukan tanah+kompos dan potongan erami kemudian disirami sedikit agar persemaian tetap lembab. Selama persemaian dianjurkan malam hari diberi penerangan lampu pijar 5W dengan jarak lampu ke persemaiain -2 meter dan bebas dari gangguan hewan. ntuk menjaga kelembabannya, persemaian disirami setiap harinya dengan campuran larutan air dan mol dengan perbandingan 0 . Setelah persemaian berumur antara -10 hari sejak dari hari pertama persemaian) bibit a us padi akan berdaun dua helai dan bibi t padi suda ditanam pada petak sawah. Inilah perbedaan pertama cara penanaman metoda SRI dengan cara konvensional.

!!

$  

 %



&

& 0    ! )

"

') (

mikroba ). Setiap lapisan jerami tebalnya 10 -20 cm lalu ditaburi kohe atau mikroba , umpukan kemudian disiram hingga basah sebelum ditumpuk lapisan jerami berikutnya. jerami ditutup dengan plastik atau bahan bahan lain aga r tidak terlalu basah oleh air pekan atau lebih, hujan atau kekeringan oleh teriknya sinar matahari . Setelah fermentasi jerami selesai menjadi kompos dasa . Ketika petak sawah akan dibajak, sebarkan 50% kompos dasar merata ke seluruh petak sawah dan separuhnya lagi disebarkan waktu perataan tanah . ntuk mendapatkan hasil yang optimal maka sela in kompos dasar tersebut diperlukan tambahan kompos mikroba yang volume atau beratnya sebanding dengan gaba yang di a silkan sebelumnya. enangi petak sawah beberapa hari lalu dibajak dengan kedalaman 30 40 cm. Semakin dalam pengolahan lahan semakin baik karena akar padi yang sehat dapat mencapai kedalaman 60 cm. anjang malai padi akan sebanding dengan kedalaman panjang akar ) padi. b. Buatlah pa it kecil sekeliling dalam dari petak sawah dan melintang di tengah sawah. arit ini fungsinya untuk pengendalian air drainase) dalam petak sawah. Lebar parit 20 cm dan kedalamannya tidak kurang dari 0 cm. ntuk mendapatkan sistem aerasi yang baik dan hasil yang optimal,airi petak sawah 2 hari sekali hanya hingga macak -macak agar mikroba dapat berfungsi maksimal karena memperoleh udara oksigen) yang cukup. embuatan parit sebaiknya dilakukan dalam keadaan tanah yang tidak berair dan agak kering agar pembentukannya mudah serta tidak turun longsor ) lagi. c. Setelah permukaan petak sawah rata dan dibuat selokan -selokan, dalam kondisi petak sawah macak-macak, lalu dibuat garutan untuk jarak penanaman bibit padi. Hentikan pemasukan air ke petak sawah , demikian pula hentikan pengeluaran air dari petak sawah. Jika hal ini sulit dilakukan karena georafi lokasi petak sawah atau karena sistem pengairan berjenjang lakukanlah usaha sedemikian rupa hingga petak sawah tidak sampai tergenang air karena walaupun butu air tapi padi bukan tanaman air. 3.Proses Penanaman ibit Padi. a. Pada saat penanaman bibit padi ke petak sawah, kondisi petak sawah tidak boleh tergenang tetapi hanya macak-macak saja. Lama jarak waktu dari pencabutan bibit padi dari persemaian hingga ke penanaman di petak sawah tidak boleh melebihi 5 menit. Penundaan penanaman lebih dari 15 menit dapat menurunkan kemampuan pertumbuhan anakan rumpun padi. b. Gunakan hanya satu bibit padi per posisi tanam, penanaman bibit padi sangat dangkal, hampir tidak dibenamkan sama sekali, hanya sedalam 0,5 -1,0 cm saja. Posisi akar bibit padi sejajar dengan permukaan tanah sehingga batang bibit padi dan akarnya berbentuk huruf L. Kalau penanaman bib it padi dibenamkan batang dan akar akan membentuk huruf J sehingga akan mengurangi kemampuan bibit padi untuk tumbuh, berkembang dan memiliki akar yang banyak serta kuat. Ini adalah hal yang kedua yang membedakan bertani cara RI dengan cara tradisional . c. Selain cara persemaian dan penanaman tersebut, petani dapat menggunakan cara tanam benih langsung tabela . Proses seleksi benih tetap sama, dan benih didiamkan selama 2 dua ) hari hingga keluar kecambah. Kemudian benih terseb ut ditanam tunggal dengan jarak tanam tidak boleh kurang dari 5 cm. Sisakan bibit padi sekitar 2 % dari kebutuhan seluruh bibit padi yang ditanam sebagai tanaman cadangan dan disemai dipinggir petak sawah. Dari berbagai pengalaman di lapangan, bibit yang mati karena berbagai sebab tidak akan melebihi angka 2 %. d. ntuk menekan pertumbuhan gulma,setelah penanaman, sawah agak direndam sedikit diatas macak-macak 1 2 cm diatas pangkal batang padi ) selama 10 hari. Setelah 10 hari lalu di keringkan kembali ke keadaan macak-macak,taburlah kompos mikroba merata

G F

9 T

E E U

per 2 baris tanaman padi lalu dibuat kamalir setiap 2 baris tanaman dengan maksud agar semua rumpun tanaman padi mendapat posisi pinggir kamalir (parit). 4.Proses Pemeliharaan. a. Selama bertani padi secara SRI kondisi tanah petak sawah hanya lembab dan macak macak hingga 2 pekan sebelum panen baru benar-benar di keringkan sama sekali. b. Bila bibit yang ditanam ada yang rusak atau kurang baik pertumbuhannya dalam 10 hari pertama setelah penanaman, lakukanlah penyulaman. Penyulaman harus dilakukan hati-hati jangan sampai ada akar yang rusak, prosedur dan caranya sama seperti penanaman awal bibit padi, dangkal saja dan jangan terlalu dalam. c. Cara bersawah SRI sangat hemat pemakaian air (berkurang kebutuhan air lebih dari 50 ). Air dijaga hanya ada di dalam parit sekitar dan tengah sawah saja. d. Penyiangan (ngarambet) sangat penting dilakukan dalam metoda RI karena produksi S gabah akan berkurang 1-2 ton untuk setiap kali kelalaian penyiangan. Penyiangan dilakukan setiap 2 pekan sekali. Penyiangan pertama harus dilakukan 10 hari setelah bibit padi ditanam. Tujuan utama penyiangan adalah untuk meningkatkan aerasi udara bagi tanah sawah sehingga terjadi suplai udara (oksigen) yang cukup memadai ke dalam tanah, tanah akan lebih subur, dan gas-gas beracun di dalam tanah bisa keluar, sehingga tanah akan lebih gembur. Gulma pengganggu tanaman padi dicabut dan kemudian dibenamkan saja kedalam tanah. Penyiang an dilakukan dengan menggunakan alat penyiang yang didorong berputar, sekaligus menggali dan mengaduk tanah. . Proses Pemupukan. Penerapan pemakaian yang tinggi dari pupuk, pestisida dan insektisida kimia pada lahan sawah untuk pertanian padi selama ini yang tidak terkendali sudah memberikan dampak sangat negatip pada kesuburan lahan sawah kita. Baik secara struktur phisik tanah maupun secara bioorganisme tanah, tanah sawah kita kebanyakan mengalami tingkat kerusakan ang tinggi. Hal ini diperlihatkan dengan terus menurunnya hasil panen padi per musim tanam dan seringnya terjadi serangan hama & penyakit yang luas dan dalam waktu yang singkat. Karena itu pada tahap awal kondisi sawah harus direhabilitasi agar memperoleh hasil yang optimal. Untuk mendapatkan ha sil yang optimal diperlukan bahan organik setidaknya 8-10 ton/Ha serta pupuk kompos organik 2-3 ton /Ha. Bahan organik terbesar ( 8-10 ton/Ha) diharapkan dapat dibuat sendiri oleh petani dengan memanfaatkan jerami (sisa panen) dan bahan organik yang bisa diperoleh disekitar sawah mereka ( lihat Proses Pengolahan Lahan ). Jika hal tersebut sudah dilakukan (terpenuhi), sebenarnya tidak diperlukan pemupukan lagi dalam sistem SRI, namun karena kebiasaan petani melakukan pemupukan lebih dari sekali maka dapat digunakan pupuk organik cair sebagai pelengkap dengan cara disemprotkan.

6.Proses Pengendalian ama & Penyakit. Cara bertani padi secara SRI, selain untuk meningkatkan produkri padi dengan memanfaatkan bahan-bahan organik yang ramah lingkungan, relatif murah, mudah diperolehnya, juga untuk memperbaiki struktur maupun kondisi lahan persawahan secara berkesinambungan. Artinya dengan ber SRI kita bukan saja dapat mempertahankan tingkat produktivitas padi yang tinggi tetapi juga meningkatkan struktur dan kondisi lahan sawah serta membaiknya lingkungan hidup biotik di persawahan . Itulah sebabnya dari data para petani di Sumedang, asikmalaya, Sukabumi dll melaporkan adanya peningkatan produktivitas bertani padi secara SRIdari musim tanam ke musim tanam berikutnya. Dengan semakin membaiknya sistem lingkungan hidup biotik tadi berarti semakin dapat ditekan resiko kerusakan ak ibat serangan . hama dan penyakit karena setiap hama padi akan munc ul musuh alaminya Metoda SRI yang diterapkan adalah menggunakan bahan -bahan organik seluruhnya dan tidak menganjurkan sama sekali pemakaian pupuk maupun obat -obatan kimia. Pemakaian air yang sangan minim 50% ) dari pada cara konvensional akan dapat menekan berkembang biaknya keong emas karena secara praktis sawah tidak pernah tergenang air, pangkal batang padi tidak pernah terendam air, kondisi sawah hanya lembab dan macak macak saja. Kalau masih terdapat serangan hama keong emas yang cuk up banyak, itu mengindikasikan masih ada genangan air, itu berarti belum menerapkan SRI sepenuhnya. Tikus salah satu hama yang sangat dikhawatirkan para petani selama ini karena serangannya sangat cepat dengan jumlah kerusakan yang sangat luas. Batang padi metoda SRI relatif lebih besar dan lebih keras sehingga kurang disenangi hama tikus. Hama siklus tikus sebenarnya hanya bulan setelah itu ia akan mati, namun setelah usia kurang dari bulan hama i ni sudah dapat berkembang biak. Itulah sebabnya hama tikus ini sangat cepat bertambah populasinya. Hama tikus tidak menyukai bau yang menyengat seperti bau jengkol dan rasa yang pahit seperti brotowali, sehingga secara mandiri para petani dapat membuat sen diri ramuan pengusir tikus lalu disemprotkan ke tanaman padi. Cara ini selain sangat murah dan praktis, juga ramah lingkungan karena ramuan tadi tidak membunuh musuh alami dari hama yang lain. Hama capung dan burung dapat diatasi dengan memperbanyak ajir/tonggak yang dipancangkan di sawah. Sifat hama ini sangat menyenangi sesuatu yang bersifat menjulur/tegak/muncul, untuk ia

d fe

bertengger. Pancangkanlah ajir dari bambu atau kayu sebanyak mungkin di sawah untuk menekan kerugian akibat hama ini. ntuk hama wereng, jika ada indikasi serangan taburkan abu bekas pembakaran terutama pada telur dari hama ini. Dari pengalaman, penaburan abu ini akan lebih efektif pada saat telur wereng telah menetas.

II. SRI

Dari berbagai informasi dan laporan yang kami dapatkan tentang penerapan penanaman padi organik SRI baik di negara -negara lain maupun di Indonesia, saat ini telah terjadi lonjakan hasil produksi yang cukup fantastis. Di Jabar, petani belum menerapkan prinsip prinsip secara utuh karena berbagai faktor budaya, kebiasaan dan non teknis lainnya ) namun demikian dari data produktivitas rata-rata hasil produksi sudah ada peningkatan 50 % sampai 00 %. Sedangkan di negara lain teruta ma di Madagaskar, peningkatan produksi mereka sudah mencapai 500 %, dari semula rata-rata 2,6 ton/ha, saat ini sudah ada yang mencapai 21 ton/ha. Banyak pihak mengakui bahwa lahan -lahan sawah di Jabar paling subur dibandingkan lahan di daerah lainnyadi Indonesia,apalagi dibandingkan dgn negara lain. Dengan potensi lahan tersebut bila metoda SRI dapat diterapkan secara utuh produksi padi di Jabar diprediksi dapat mencapai rata-rata 30 ton ha. Bila hal itu dapat dicapai, selain dapat meningkatkan kesejahteraan para petani, juga akan ikut meningkatkan harkat, martabat bangsa. Dan peran Jabar tidak saja sebagai lumbung padi nasional, tetapi tidak mustahil menjadi satu-satunya propinsi yang dapat mengekport beras pada tahun 2010. Harus diakui bahwa untuk mencapai kemajuan itu tidak mudah, para petani di Jabar termasuk yang paling sulit menerapkan konsep padi SRI. Hal-hal yang menjadi penyebabnya antara lain: 1. Petani umumnya enggan untuk melaksanakan hal -hal yang baru mereka ketahui, termasuk metoda penanaman padi organik SRI. Selain itu mereka merasa belum yakin dan ingin melihat contoh terlebih dahulu. 2. Ada semacam fanatisme di petani untuk selalu menggunakan pupuk maupun obat-obatan kimia atau anorganic syndrom, dan sudah termanjakan dengan cara-cara pengolahan praktis serta biaya pupuk pestisida yang boleh dipinjam sampai panen. . Petani-petani yang mengolah sawah saat ini sebagian besar tidak memiliki sa wah sendiri, mereka umumnya penggarap saja. Mereka menganggap cara baru beresiko, mereka sudah puas dan menerima saja hasil yang dicapai sekarang sebagai kodrat/nasib mereka. . Masih ada anggapan masyarak at petani yang memandang penana man padi hanya sebagai kegiatan tradisional petani untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga saja. Karena kenyataannya selama ini kegiatan penanaman padi tidak memberikan keuntungan yang memadai. Kalau saat ini petani masih melaksanakan penanaman padi, itu semata-mata agar mereka tidak perlu membeli beras dan juga mereka tidak memiliki kegiatan yang lain.

Sesungguhnya keengganan petani tadi untuk menerapkan metoda SRI dalam bercocok tanam padi sangatlah disayangkan, mengingat metoda tersebut telah terbukti memberikan

vr u r s st s

PAN PETANI.

peningkatan produksi padi petani dan sekaligus pendapatan mereka . Sebagai ilustrasi kami sajikan simulasi perhitungan usaha pola bersawah SRI untuk beberapa alternatif hasil produksi.

Analisa produksinya dapat digambarkan sebagai berikut : ntuk produksi 6 ton per gabah kering pungut GKP ) per Ha, maka produksi malai per rumpun adalah : 6 ton GKP = 6000 Kg GKP =100.000 rumpun.(jarak tanam 0 Cm). 6 Kg GKP = 100 rumpun. 60 g GKP = 1 rumpun = (60/25) x (1000/200)/0,7 = 18 malai, jadi 1 rumpun = 20 malai n tuk produksi 12 ton GKP per Ha, produksi malai per rumpun = 0 malai. ntuk produksi 18 ton GKP per Ha, produksi malai per rumpun = 80 malai. Analisa arget Pendapatan Petani Sri/Ha : GKP = Gabah Kering Pungut GKG = Gabah Kering Giling Konversi GKG : GKP = 0,80 : 1 Beras : GKG = 0,65 : 1 (Konvensional/Non SRI) 0,70 : 1 (SRI) Harga : GKG Konvensional = Rp 2.000,-Kg GKG SRI = Rp 2.500,-/Kg Beras SRI Organik = Rp 7.000, -/Kg Penjualan untuk 6 ton GKP Pemasukkan : 0,80 x 0,70 x 6.000 x Rp 7.000,= Rp 23.520.000,-

0.000,= Rp = Rp 2.800.000,= Rp 200.000, = Rp 200.000,= Rp 1.000.000,= Rp 360.000,= Rp 1.200.000, = Rp 600.000, = Rp 600.000, = Rp 600.000, 50.000, = Rp = Rp 1.500.000,= Rp 300.000, = Rp 50.000,= Rp .900.000,-

otal Biaya operasional

Penghasilan bersih/Ha Rp 23.520.000,- - Rp 9.900.000,- = p 13.620. 000,-/panen a) Jika hasil panen 6 ton dan penggarapan sawah tersebut dengan sisterm bagi hasil antara pemilik dan penggarap maka pendapata n masing-masing pemilik dan petani penggarap sebagai berikut :

Pengeluaran : Benih 5 kg Kompos mikroba 7 ton Mikroba 1.200lt Pestisida hayati ( organik ) 20 0 lt raktor ( pengholahan lahan ) Biaya penanaman ( tandur ) Biaya pengolahan&penyiangan Biaya supervisi Biaya inspeksi Biaya pemanenan Biaya pengeringan padi Biaya penggilingan padi Biaya Karung Biaya pengangkutan ke penggilingan

Panen 2 x setahun : Hasil panen 6 bulan Rp 13.620.000,- maka rata-rata penghasilan tiap bulannya adalah Rp 13.620.000,-: 6 = Rp 2.270.000,- Dengan demikian penghasilan pemilik dan penggarap adalah Rp 2.270.000,- = p 1.135.000,-/bulan. 2

P dan penggarapan sawah tersebut dengan sistem bagi hasil b) Jika hasil panen 12 ton antara pemilik dan penggarap maka pendapatan masing -masing pemilik dan petani penggarap sebagai berikut : Panen 2 x setahun : Hasil panen 6 bulan : 0,8 0 x 0,70 x 12.000 Kg x Rp 7.0 00,- = Rp 7.040.000,- dikurangi biaya operasional Rp 12.100.000,- = Rp 34.940.000,- maka rata-rata penghasilan tiap bulannya adalah Rp 34.940.000,-: 6 = Rp 5.823.300,- Dengan demikian penghasilan pemilik dan penggarap adalah = p 2.911.650,-/bln. atatan : (1) Dari simulasi perhitungan tersebut bisa memberikan gambaran kepada kita bahwa usaha pertanian padi bisa memberikan penghasilan cukup bagus baik bagi pemilik, penggarap, apalagi bagi petani yang memiliki sawah dan menggarapnya sendiri. (2) Hasil panen sebesar 6 ton/Ha dalam satu kali panen merupakan hasil awal dan akan terus meningkat selama petani/penggarap disipli n dalam menerapkan sesuai dengan petunjuk metoda penanaman padi SRI. Dengan kesuburan lahan yang sangat luar biasa, di wilayah Jawa Barat ( khususnya di Priangan ) hasil produksi padi diprediksi dapat mencapai 30 ton/ha ! .Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Depatemen Pertanian produksi padi nasional rata-rata hanya 3,7 ton/ha. (3) Petani penggarap dapat memperoleh penghasilan tambahan dari upah kerja yang telah dialokasikan, jika petani tersebut mengerjakan serta ikut bekerja menggarap sawah tersebut. Selain itu petani dapat memperoleh hasil tambahan jik a ia rajin menanam palawija di sekitar pematang sawah. (4) Penanaman padi dengan metoda SRI memiliki manfaat dan keunggulan lain, yaitu : y Ramah lingkungan. y Beras lebih pulen dan tidak cepat basi. y Harga jual lebih mahal dari beras konvensional (anorganik). ANI SRI III. PEN EMBAN AN BUDI DAYA PADI Meskipun padi organik SRI ini merupakan solusi dan masa depan bagi petani, baik petani yang memiliki sawah dan menggarap sendiri atau pemilik sawah dengan petani penggarapnya, tetapi kami menyadari bahwa unt uk mengembangkannya tidak mudah. Cukup banyak kendala serta tantangan, baik dari sisi para petani maupun masih kurangnya perhatian dan dukungan pemerintah. Dari sisi petani, s elain pemahaman konsep, kultur, kemauan, motivasi serta kerja keras petani yang tidak sama, juga sistem bisnis atau tata niaga baik pada pupuk -pestisida kimia maupun padi atau beras yang sudah berjalan bertahun-tahun menjadi kendala tersendiri. Diperkirakan metoda SRI ini akan memporak porandakan kemapanan sistem bisnis dan tata niaga pupuk dan pestisida kimia, sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada pihak-pihak yang merasa terganggu kemapanan bisinisnya oleh metoda SRI ini. Bagaimanapun perubahan harus dilakukan untuk masa depan bangsa ini, dan dengan niat yang tulus untuk membantu nasib para petani, pemilik sawah serta masa depan pertanian serta bangsa kita agar tidak terus menerus hanya bisa mengimpor beras saja, kami akan terus mengsosialisasikan metoda SRI kepada para petani dan pemilik sawa h. Karena di dunia saat ini SRI sudah berkembang pesat, kami tidak ingin petani dan bangsa ini semakin tertinggal dan bergantung pada bangsa lain dalam hal pengadaan pangannya.

Padahal kita memiliki potensi lahan yang lebih subur dibanding negara manapun . Prinsip kami, petani harus sejahtera dan mandiri. Petani harus menjadi contoh bagi komponen masyarakat lainnya dalam hal kerja keras serta kemandirian. Kondisi para petani saat ini, mereka umumnya belum mandiri, baik dari sis i permodalan maupun menentukan harga jualnya. Kami mengetahui bahwa saat ini hampir semua petani membeli secara kredit seluruh kebutuhan saprotan (sarana produksi pertanian), baik dari K D, agen pupuk atau bandar padi ( tengkulak ). Dengan pemberian full kredit tersebut secara tidak sadar telah menjerumuskan petani pada sikap yang manja, keenakan dan akhirnya menjadi kebiasaan. idak sedikit petani yang terjebak pada kondisi tersebut, akibatnya jika hasil panen baikpun petani akan terus membeli secara kredi t, mereka tetap tidak mau membayar kontan. Keuntungan yang didapat digunakan untuk kebutuhan konsumtif, sementara bila hasil panen jelek tidak mustahil petani malahan memiliki sisa utang. ntuk mencapai kesejahteraan dan kemandirian, diperlukan pengorbanan waktu, biaya dan siap bekerja keras. Petani tidak boleh lagi ingin untung tapi enteng dan berharap hasil panen akan baik tanpa upaya yang mak simal. ntuk membantu petani men capai tujuan tersebut kami memiliki program pengembangan padi organik dengan metoda SRI sebagai berikut: (1) Penyediaan pupuk organik, mikroba (starter) serta pestisida organik (2) Bimbingan dan pendampingan teknis langsung kepada petani (3) Jika petani mengalami kesulitan penj ualan, kami dapat membantu mencarikan pembeli hasil produksi padi organik SRI dengan harga yang pantas sesua varietas padi yang diminati pasar. IV.SYARAT DAN UN I EBERHASILAN METODA SRI Meskipun bersawah secara SRI tidak memerlukan air yang banyak d an kontinyu bahkan dapat menghemat pemakaian air 50% dari pemakaian air bersawah secara tradisional, namun jaminan ketersediaan air setiap saat mutlak diperlukan karena mikro organisme yang diinvestasikan pada lahan sawah memerlukan kondisi tanah yang sela lu harus lembab sehingga dapat berperan dan berfungsi maksimal dalam menguraikan senyawa komplek menjadi senyawa yang lebih sederhana untuk dapat diserap oleh bulu -bulu akar padi. Peran survey awal pemilihan lokasi sawah menjadi hal yang sangat strategis d alam hal keberhasilan metoda SRI ini. Hampir semua hama dan penyakit padi yang ada dapat dicegah dan ditanggulangi secara organik ( MOL & POL ), namun ketidak tersediaan air yang memadai belum ada cara yang dapat menggantikan peran air apalagi membuatnya secara artifisial. Agar program atau rencana SRI berhasil secara agrobisnis maka perlu dipilih lokasi sawah yang tersedia air irigasinya paling tidak untuk 2 kali musim tanam, tidak terkena limbah industri serta dekat dengan akses infrastruktur jalan kendaraan roda empat. Dari gambaran analisa pendapatan dan produksi, penanaman padi organik SRI betulbetul merupakan harapan dan masa depan petani. Secara bisnis, usaha tersebut bisa memberikan keuntungan, baik bagi pemiliki maupun penggarap. Apalagi ba gi petani yang memiliki dan menggarap sawahnya sendiri. Syaratnya, petani terlebih dahulu harus memahami secara mendalam metoda SRI, bersedia bekerja keras dan scara konsisten menerapkan metoda tersebut dalam budi daya padi. Dalam kondisi kehidupan masya rakat yang terpuruk khususnya masyarakat tani saat ini, masih ada secercah harapan akan masa depan petani kita. Metoda SRI bukan sesuatu yang istimewa apalagi aneh walaupun bisa menghasilkan padi sangat luar biasa, 2 sampai 4 kali dari hasil yang dicapai petani kita saat ini. Bukan pula klenik karena semua dikerjakan secara logis dan alami. Metoda SRI diperoleh melalui proses penelitian yang memakan waktu puluhan tahun, jadi sangat rasional dan bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Misalnya saja, mengapa harus menggunakan pupuk kompos organik, mengapa jarak tanam harus diatas 25 cm, penanaman harus tunggal, dan lain-lainnya, semua bisa dijelaskan dan bisa diterima dengan nalar kita. Sementara petani

f g

kita saat ini umumnya menanam padi tanpa berfikir apa-apa, hanya melanjutkan kebiasaan cara penanaman sebagaimana pendahulunya. Dan kalau boleh jujur, petani saat ini pun sebenarnya tidak seutuhnya melanjutkan tradisi leluhurnya, misalnya saja penanaman bibit tunggal dan pemberian bahan organik dalam bentuk pupuk kandang dan memasukan kembali jerami ke dalam sawah, sebenarnya sudah dilakukan petani kita puluhan tahun yang lalu. Justru petani kita saat ini tidak konsisten melanjutkan tradisi leluhurnya sehingga hasil padi mereka dari tahun ketahun terus menurun. Jadi, pada dasarnya metoda SRI ini sebenarnya melanjutkan kebiasaan leluhur kita dengan penyempurnaan lebih lanjut, sesuai dengan hasil penelitian para ahli di luar Indonesia, yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan petani kita. Kita harus mengakui bahwa penelitian pertanian di Indonesia ini masih sangat lemah, padahal negara kita jauh lebih subur dibandingkan dengan Madagaskar, tempat penelitian SRI pertama kali dilakukan. ntuk mendapatkan hasil panen yang optimal maka dalam mengimplementasi kan metoda SRI ada hal-hal teknis dan non teknis yang harus diketahui dan dipahami para petani. Hal-hal teknis ada yang mutlak harus dilakukan, serta hal yang boleh diuba h sesuai dengan situasi kondisi. Hanya saja bila perubahan itu dilakukan, meski ada peningkatan tetapi hasilnya tidak seoptimal bila petunjuk-petunjuk SRI dilaksanakan seutuhnya. Sedangkan persyaratan non teknis yang mutlak harus mereka miliki diantaranya: (1) Petani harus memilki motivasi untuk maju dan berubah dengan tekad yang kuat dalam rangka memperbaiki kehidupan dan kesejahteraannya . (2) Petani bersedia bekerja keras karena dengan metoda SRI akan membuat pekerjaan lebih banyak, serta harus ulet sehingga tidak cepat putus asa bila mendapatkan tantangan dalam melaksanakan kegiatan penanaman padinya. (3) Petani harus mau untuk terus belajar, jangan miskin pengetahuan dan informasi serta mau bertanya sana sini agar dapat menambah pengetahuan dan wawasannya. (4) Petani jangan mudah tertarik serta terjebak dengan harga saprotan yang murah, persayaratan pembayaran yang ringan tanpa memperhitungkan akibat -akibat yang lebih jauh baik pada tanamannya ma upun kemandiriannya. (5) Petani tidak boleh terkecoh dengan informasi yang menyatakan bahwa kompos bisa dicampur dengan pupuk kimia, atau pupuk organik cair saja sudah cukup untuk menyuburkan tanaman. Kunci utama metoda SRI terletak pada konsistensi petani dalam melaksanakan aturan serta petunjuk yang telah digariskan , tetapi bila kondisi tidak memungkinkan maka petani masih bisa mengubahnya. ntuk itu mereka harus mengetahui hal -hal apa yang mutlak, yang bisa digantikan, serta yang sama sekali tidak diperbolehkan. Pupuk dan pestisida sintetis (kimia) mutlak tidak boleh digunakan , pupuk organik cair masih boleh tidak digunakan , tetapi pupuk organik kompos mutlak harus digunakan. Karena itu petani SRI tidak boleh terkecoh, dengan informasi yang me nyebutkan bahwa pupuk organik akan lebih baik bila dicampur dengan pupuk kimia, atau pupuk organik cair saja sudah cukup tanpa harus menggunakan kompos. Karena dari pengalaman terbukti tanaman akan sangat baik bila menggunakan pupuk kompos organik tanpa unsur kimia sedikitpun seperti yang dianjurkan dalam metoda SRI. Yang harus di waspadai, m asyarakat kita yang latah dan gemar meniru (menjiplak) tidak mustahil akan mendompleng sesuatu yang sedang populer atau laku. Misalnya saja label organik yang ditawarkan untuk produk pupuk mungkin saja benar, tetapi seberapa besar kandungan mikrobanya sehingga memenuhi syarat untuk digunakan dengan hasil sesuai harapan. Pada dasarnya pupuk organik kompos yang diberikan pada saat awal sudah memadai asalkan jumla hnya cukup, tetapi karena kebiasaan memberi pupuk lebih dari sekali, petani boleh menambahkan pupuk organik cair sebagai pelengkap saja. Petani perlu mengetahui mengapa pupuk organik kompos begitu mutlak harus digunakan, karena ada beberapa kebaikan pupuk organik kompos yang tidak bisa tergantikan, diantaranya:

10

BSA V. PADI ORGANIK SRI ADALAH ARA BERTANI SEKSAMA DAN ALAMI Buku petunjuk ini disusun dengan tujuan untuk memberikan tuntunan lahir batin guna mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan dunia akhirat dengan lindungan dan Ridlho Allah SWT. Selain petunjuk teknis yang telah diuraikan , ada beberapa hal yang patut direnungkan oleh kita semua, termasuk para petani yaitu : 1) Negara kita adalah negara agraris yang dikaruniai kekayaan dan kesuburan luar biasa, tetapi kita masih harus mengimpor kebu tuhan perut, seperti beras, kedele, jagung, dll. Sementara kemiskinan , pengangguran serta keterpurukan menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. 2) Berbagai musibah yang berasal dari alam terus menerus menimpa bangsa ini, seakan akan Allah ingin memberikan peringatan serta menurunkan azab kepada kita , agar menjadi sadar atas segala kesalahan dan kekurangan serta perilaku kita yang tidak mensyukuri karunia yang telah diberikan kepada bangsa ini. 3) Mayoritas bangsa ini hidup dari usaha tani dan notebene adalah kaum muslimin. Kehidupan mereka umumnya masih jauh dari sejahtera baik lahir maupun batin , tidak sedikit orang masih kelaparan di tengah orang -orang yang kekenyangan. Hal-hal tersebut merupakan indikasi sekaligus bukti betapa ironisnya negeri ini , sebagai akibat tidak mensyukuri karunia Allah yang telah memberikan alam yang sedemikian kaya, tidak adanya solidaritas sosial diantara sesama, bersikap dzolim terhadap alam dan sesama. Dalam melaksanakan cara bertani kita telah keluar dari pakem nenek moyang kita yang akrab dengan alam. Alam telah kita perlakukan hanya sebagai obyek dan benda mati semata. Selama ini kita hanya mau meminta tapi tidak pernah memberi, mengambil tapi tidak pernah mengembalikan, mengeksploitasi tapi tidak pernah merehabilita si. Rezeki yang kita dapatkan dari kegiatan usaha pertanian, masih belum seluruhnya dikeluarkan untuk berzakat. Ada bagian yang seharusnya untuk kaum miskin tidak kita keluarkan. Dengan uraian yang cukup lengkap ini, diharapkan petani dapat mengerti, mema hami serta melaksanakannya, baik hal-hal yang bersifat teknis maupun nilai-nilai keislaman yang

11

kl

Memperbaiki struktur tanah Tanah yang baik bagi tanaman teksturnya harus remah, pori -porinya besar sehingga memudahkan proses aerasi (keluar masuknya udara/gas di dalam tanah), serta mudah menyerap dan menyimpan air. Kompos dan pupuk organik kompos memiliki tekstur seperti itu. Menyuburkan tanah Tanah yang subur adalah tanah yang mampu memberikan nutrisi dan hara bagi tanaman secara alami. Kompos dan pupuk organik ko mpos adalah sumber makanan sekaligus media bagi untuk berkembang biaknya Mikro Organisme (MO) yang akan mengurai bahan organik menjadi nutrisi dan hara bagi tanaman. Selain itu kompos dan pupuk organik kompos mampu menahan/menyimpan air dan nutrisi yang ti dak digunakan. Dengan demikian kompos dan pupuk organik kompos dapat dikatakan sebagai pabrik dan bank nutrisi bagi tanaman . Menambah volume tanah Selama ini tanaman menyerap makanan dari tanah dan pupuk kimia. Dapat kita bayangkan bahwa secara perlaha n-lahan volume tanah akan berkurang jika tidak pernah ditambah. Dengan pemberian kompos serta pupuk organik kompos setiap penanaman, maka secara perlahan volume tanah akan bertambah. Menciptakan musuh alami bagi hama Penggunaan pupuk organik yang dikombinasikan dengan penggunaan pestisida alami akan menciptakan lingkungan alami yang merangsang munculnya binatang -binatan sebagai Musuh Alami (MA) bagi hama tanaman. Laba -laba, capung, urung adalah sebagian dari binatang yang adapt berfungsi menjadi MA bagi hama.

harus menjadi ciri petani SRI. Meskipun metoda SRI diyakini dapat meningkatkan kesejah teraan dan kemandirian petani, hendaknya disertai dengan tata cara pelaks naan yang islami. a Mulailah usaha tani kita dengan niat yang tulus dan senantiasa memohon pada Allah agar usaha yang akan dilaksanakan selalu dalam perlindunganNya. Dan bersykurlah kepada Allah bila kita akan melaksanakan panen padi, dengan tidak melupakanbahwa dalam rezeki ( padi ) tersebut melekat hak orang lain yang wajib dikeluarkan. Di tengah keterpurukan bangsa ini, diharapkan petani mampu menjadi contoh dan keteladanan dalam hal kerja keras, keuletan dan kemandirian serta nilai -nilai islami agar bangsa ini segera keluar dari kesulitan serta musibah yang terus menerus menerpa kita. Petani diharapkan menjadi lokomotif kemajuan dan jati diri bangsa yang bisa kita mulai dari pedesaan. Karena Allah tidak akan merubah nasib bangsa ini, jika kita sendiri tidak mau merubahnya. Semoga gambar-gambar di bawah ini akan menjadi inspirasi serta memotivasi para petani untuk mewujudkannya.

Meningkat terus hasil panen padinya.

Meningkat cara bertaninya.

Meningkat cara pengolahan lahannya.

Meningkat ekonominya.

VI. MENOREH SEJARAH. Berdasarkan pengalaman empiris di lapangan di berbagai tempat di Jawa Barat dan di Yogyakarta dalam kurun waktu lebih 2 tahun, secara sosio -ekonomi baik petani penggarap maupun petani pemilik sawah, metoda SRI baru memberikan impak dan memiliki daya pemikat untuk berkembang dan meluas diikuti oleh para petani tadi jika diterapkan secara Corporate Farming . Corporate Farming yang dimaksud adalah pengelolaan sawah diambil alih langsung secara keseluruhan, petani penggarap menjadi pekerja di lahan sawah ybs, mendapat upah sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanaka dan rate yang berlaku setempat, sedangkam pemilik sawah mendapat sewa lahan sawah yang dipakai. Untuk mencapai nilai ekonomis di satu hamparan atau lokasi minimum dicapai areal 5 -10 Ha untuk jangka waktu minimum 5 tahun dengan pembayaran sewa lahan ke pemilik dilakukan setiap 12

awal tahun penggarapan. Agar termonitor secara total hari per hari perkembangan budidaya SRI yang benar dan optimum, setiap lokasi ( 5 -10 Ha ) ditempatkan seorang supervisor SRI yang telah berpengalaman sekaligus sebagai pendamping para petani para petani di lokasi tersebut. Jadi dengan Corporate arming, petani penggarap mempunyai pendapatan yang rutin, demikian pula petani pemilik mendapat hasil sewa yang pasti dan lahan sawahnya akan semangkin subur, sedangkan pengelola memperoleh hasil dari penjualan beras organik yang setiap panen cenderung meningkat. Dari pengalamn 2 tahun tersebut jika kondisi minimum SRI terpenuhi,maka hasil terendah pada awal penerapannya di sua tu lokasi adalah sekitar 6ton gabah kering panen per Ha per musim tanam( 6 ton GKP/Ha/MT ). Hasil ini akan terus meningkat sesuai dengan meningkatnya unsur organik tanah dan hara tanah paling sedikit 1 ton GKP/Ha setiap musim tranam berikutnya. Tujuan budidaya padi organik SRI bukan hanya mengutamakan pada keuntungan da n peningkatan produksi padi saja tetapi memiliki misiyang lebih luas lagi yaitu tercapainya keseimbangan lingkungan dan pemulihan lahan sawah serta budidaya padi yang lebih akrab dan sesuai dengan alam padi itu sendiri. Oleh sebab itu, para investor SRI selain akan mendapatkan keuntungan juga memperoleh nilai -nilai di atas. Analisa Cost/Benefit disusun berd asarkan pengalaman praktis selama lebih dari 2 tahun, disajikan pada tabel berikut ini untuk 5 Ha dengan 7 kali musim tanam.

Tabel Analisa Cost/Benefit bagi investor untu luas lahan 5 Ha dari Musim Tanam I s/d ke VI M U S I M Jenis Biaya Benih 5Kg/Ha/MT Kompos 7ton/Ha/MT MOL 1200lt/Ha/MT POL 200lt/Ha/MT Traktor Tangan /Ha/MT Biaya Penanaman /Ha/MT Biaya Penyiangan /Ha/MT Biaya Supervisi /Ha/MT Biaya Inspeksi /Ha/MT Biaya Pemanenan /Ton/Ha/MT Biaya Pengeringan /Ton/MT Biaya Penggilingan /Ton/MT Biaya Karung /Karung/MT Biaya Angkut ke Penggilingan /5Ton/MT Sewa Lahan /Ha/MT TOTAL BIAYA Hasil Beras Unit-Harga Rp. 40.000,I = 30 Ton Rp 200.000,II = 35 Ton Rp. 200.000,T A N A M III = 40 Ton Rp. 200.000,K E IV = 45 Ton Rp. 200.000,V = 50 Ton Rp. 200.000,VI = 55 Ton Rp. 200.000,-

1 2 3 4

Rp.2.800.000,Rp. 200.000,Rp. 200.000,-

Rp.14.000.000,Rp. 1.000.000,Rp. 1.000.000,-

Rp.14.000.000,Rp. 1.000.000,Rp. 1.000.000,-

Rp.14.000.000,Rp. 1.000.000,Rp. 1.000.000,-

Rp.1.000.000,-

Rp. 5.000.000,-

Rp. 5.000.000,-

Rp. 5.000.000,-

Rp. 360.000,-

Rp. 1.800.000,-

Rp. 1.800.000,-

Rp. 1.800.000,-

Rp.1.200.000,-

Rp. 6.000.000,-

Rp. 6.000.000,-

Rp. 6.000.000,-

Rp

600.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 600.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

10

Rp. 600.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 3.600.000,-

Rp. 4.200.000,-

11

Rp.

75.000,-

Rp. 2.250.000,-

Rp. 2.625.000,-

Rp. 3.000.000,-

12 13

Rp Rp

250.000,2.500, -

Rp. 7.500.000,Rp. 1.500.000,-

Rp. 8.750.000,Rp. 1.750.000,-

Rp. 10.000.000,Rp. 2.000.000,-

14 15

Rp.

50.000,-

Rp.

250.000, -

Rp.

300.000, -

Rp.

350.000,-

Rp. 5.000.000,-

Rp. 25.000.000,-

Rp. 25.000.000,-

Rp. 25.000.000,-

16 17

Rp. 9.900.000,3,36 Ton

Rp. 74.500.000,16,8 Ton

Rp. 77.025.000,19,6 Ton

Rp. 79.550.000,22,4 Ton

13

Rp. 14.000.000,Rp. 1.000.000,Rp. 1.000.000,-

Rp. 14.000.000,Rp. 1.000.000,Rp. 1.000.000,-

Rp. 14.000.000,Rp. Rp. 1.000.000,1.000.000,-

Rp. 5.000.000,-

Rp. 5.000.000,-

Rp.

5.000.000,-

Rp. 1.800.000,-

Rp. 1.800.000,-

Rp.

1.800.000,-

Rp. 6.000.000,-

Rp. 6.000.000,-

Rp.

6.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp.

3.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp. 3.000.000,-

Rp.

3.000.000,-

Rp. 4.800.000,-

Rp. 5.400.000,-

Rp.

6.000.000,-

Rp. 3.375.000,-

Rp. 3.750.000,-

Rp.

4.125.000,-

Rp. 11.250.000,Rp. 2.250.000,-

Rp. 12.500.000,Rp. 2.500.000,-

Rp. 13.750.000,Rp. 2.750.000,-

Rp.

400.000, -

Rp.

450.000, -

Rp.

500.000, -

Rp. 25.000.000,-

Rp. 25.000.000,-

Rp. 25.000.000,-

Rp. 82.075.000,25,2 Ton

Rp. 84.600.000,28,0 Ton

Rp. 87.125.000,30,8 Ton

Organik /Ha/MT Hasil Penjualan Beras Organik Proyeksi Keuntungan

18

Rp.23.520.000,-

Rp.117.600.000,-

Rp.137.200.000,-

Rp.156.800.000,-

Rp.176.400.000,-

Rp.196.000.000,-

Rp.215.600.000,-

19

Rp. 9.220.000,-

Rp. 43.100.000,-

Rp. 60.175.000,-

Rp. 77.250.000,-

Rp. 94.325.000,-

Rp.111.400.000,-

Rp.128.475.000,-

Sistem penyewaan sawah yang berlaku di masyarakat petani pada umumnya satuannya adalah tahun, bukan musim. ntuk jangka waktu 5 tahun pembayaran sewa dilakukan per awal setiap tahun penyewaan dan kesemuanya dilakukan berdasarkan Surat Perjanjian Sewa menyewa Lahan Sawah, ditandatanga ni oleh Pemilik (kuasa pemilik) dan Pengelola (penyewa) disaksikan oleh aparatur desa setempat (lurah) di atas materai. Dari analisa Cost/Benefit memberikan gambaran bahwa diperlukan modal kerja dari investor sebesar Rp 151.525.000, - diproyeksikan keuntungan bersih total sebesar Rp 103.275.000,- dalam kurun waktu 1 tahun. ntuk 5 Ha investor diproyeksikan akan memperoleh keuntungan selama 3 tahun sbb: Tahun I : investasi Rp 151.525.000, - keuntungan Rp 51.637.500,- 34% Tahun II : investasi Rp 161.625.000, - keuntungan Rp 85.787.500,- 53% Tahun III: investasi Rp 171.725.000, - keuntungan Rp 119.937.500, - 70% Sedangkan jika investor mulai dengan luas yang lebih besar maka proyeksi keuntungan yang akan diperoleh pad a tahun pertama sbb: Luas 5 Ha : investasi Rp 151.525.000, - keuntungan Rp 51.637.500, Luas 10Ha : investasi Rp 303.050.000, - keuntungan Rp 103.275.000, Luas 20Ha : investasi Rp 606.100.000, - keuntungan Rp 206.450.000, Luas 30Ha : investasi Rp 909.150.000, - keuntungan Rp 309.725.000, Selain keuntungan finansial seperti tergambar di atas, agrobisnis padi organik SRI meskipun masih berskala kecil ( 5 Ha ) akan memberikan benefit non material kepada investor & pengelola sbb: 1. Membuka cakrawala baru buat generasi muda bahwa berusaha di sawah organik dapat menguntungkan. 2. Ada suatu rasa kepuasan dapat berperan mempelopori langsung sebagai anak bangsa memajukan para petani yang selama ini berada di dasar piramida kemiskinan. 3. Turut serta secara aktip memulihkan kesuburan lahan sawah yang pada saat ini umumnya sudah sangat lelah oleh deraan penerapan persawahan kimia yang tidak terkendali. 4. Memberikan contoh harkat kebebasan petani yang hakiki dari berbagai pihak luar non agraris yang sel ama ini justru dominan mengatur dan menentukan nasib para petani. 5. Mempelopori langsung membuka peluang menjadikan negeri ini menjadi pengeksport beras organik di dunia. Pertanyaan yang selalu menggelitik bagi para investor adalah ; Kalau memang metoda SRI ini begitu menjanjikan, mengapa sampai saat ini para petani belum banyak menerapkannya ?. Mengapa pula instansi yang bertanggung jawab seperti Dept.Pertanian tidak mengarah ke sana ?. Jawabannya bisa sangat panjang dan penuh berisi berbagai argumentasi kepentingan & kebijakan yang kelihatannya belum mau dikoreksi. Namun satu hal yang paling mendasar dan pasti yaitu secara struktural dan sistematis kondisi sosial -

14

ekonomis masyarakat petani di pedesaan saat ini sangat sulit dan memprih atinkan sehingga tanpa ditopang dan dimulai oleh tangan-tangan kepeloporan hampir tidak mungkin mereka ntuk dapat bangkit dan berubah apalagi berinovasi untuk peningkatan produksi padi. bertahan hidup saja para petani sudah sangat sulit saat ini. Jelas sudah negeri ini baru dapat mulai bicara martabat jika pangan pokok (beras) rakyatnya tersedia cukup dan berlimpah. Peningkatan produksi padi telah terbukti beberapa dekade ini gagal dicapai dengan mengutak -atik bibit, takaran pupuk kimia bahkan hibridisasi tanaman padi. Justru yang terjadi sampai hari ini adalah penurunan produksi padi karena penyusutan lahan persawahan, merosotnya proktivitas sawah, makin rentannya tanaman padi terhadap hama & penyakit, makin kritisnya ketersediaan air irigasi yang kontinyu dan tidak memiliki akses pasar . Keadaan menjadi sangat mengkhawatirkan ketahanan pangan terutama ketersediaan beras neg eri ini ketika negara-negara penyuplai beras dunia seperti Thailand, ietnam, China dll memberikan sinyal kuning akan adanya pembatasan suplai dari mereka ditahun-tahun mendatang karena mengantisipasi gejala perubahan iklim global dan pengamanan stok beras nasional mereka masing -masing. Kinilah waktunya untuk berbuat sesuatu perubahan untuk peningkatan produksi padi yang lebih tinggi, lebih baik mutunya, lebih sehat dan berkesinambungan. Perubahan membutuhkan dan menuntut kepeloporan. Apakah kita mau menoreh sejarah bahwa negeri ini adalah bangsa yang besar ?. Atau kita biarkan budaya instan membenamkan negeri yang penuh karunia Sang Maha Pencipta ini tetap terus berputar mengarah ke bawah dalam spiral kehinaan. Dimana panggilan hidup kita ?. Itu pilihan !!!.

15