Anda di halaman 1dari 241

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i



RELE PROTEKSI
PRINSIP DAN APLIKASI



















HENDRA MARTA YUDHA

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i























Hendra Mart a Yudha
Pro t eksi Rele: Prinsip dan Aplikasi


@2 0 0 8, Dipublikasikan o leh Jurusan Teknik Elekt ro Fakult as Teknik Universit as
Sriwijaya

TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU IN I DAPAT DIREPRODUKSI DALAM
BEN TUK APAPUN TAN PA IZIN


DITULIS OLEH : Hendra Mart a Yudha, Ir, MSEE.
ALAMAT : Jurusan Teknik Elekt ro Fakult as Teknik Unsri
Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya
OI 30 662; Telp ( 0 711) 580 283- 318373
E- mail : hmymsc@yaho o .co m
hmymsc@fkkpsdm.u n sri.ac.id
Websit e : ht t p:/ / hendra_ft eunsri.dikt i.net /



RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi ii
KATA PEN GANTAR




Rele Pro t eksi merupakan bagian pent ing dalam sebuah sist em t enaga elekt rik, t idak
memiliki manfaat pada saat sist em berada dalam ko ndisi no rmal, namun sangat
dibut uhkan bilamana sist em t engah mengalami gangguan dan ko ndisi t idak no rmal.
Rele Pro t eksi dibut uhkan unt uk men ginisiasi pemut usan dan mengiso lasi daerah yan g
mengalami gan gguan dan menjaga agar daerah yang t idak men galami gangguan t et ap
dapat menjalankan fungsinya.

Penulis,
Hendra Mart a Yudha, Ir, MSEE






























RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi iii
DAFTAR ISI

KATA PEN GAN TAR
BAB 1 PEN DAHULUAN DAN PHILOSOFI UMUM
1. 1 PEN DAHULUAN DAN PHILOSOFI UMUM
1. 2 TIPIKAL RELE PROTEKSI DAN SISTEM RELE
1. 3 KEAN DALAN
1. 4 SELEKTIVITAS
1. 5 ZONA PROTEKSI
1. 6 STABILITAS
1. 7 KECEPATAN
1. 8 SEN SITIVITAS
1. 9 PROTEKSI UTAMA DAN PROTEKSI CADAN GAN
1.10 FAKTOR- FAKTOR YAN G MEMPEN GARUHI SISTEM PROTEKSI
1.11 KLASIFIKASI RELE
1.12 UN JUK KERJA RELE
1.13 IN FORMASI UNTUK APLIKASI RELE
1. 14 TATANAMA DAN N OMOR PERALATAN
1.15 DEFIN ISI DAN TERMIN OLOGI
1.16 SISTEM KON TAK RELE
1. 17 IN DIKATOR OPERASI
1. 18 TIPIKAL HUBUN GAN RELE DAN PMT
BAB 2 SATUAN - SATUAN DASAR: HARGA PERUN IT DAN PERSEN
2. 1 PEN DAHULUAN
2. 2 DEFIN ISI PERUN IT DAN PERSEN
2. 3 ALJABAR VEKTOR
2. 4 MAN IPULASI BESARAN - BESARAN KOMPLEKS
2. 5 BESARAN RAN GKAIAN DAN KON VEN SI
2. 6 N OTASI IMPEDAN SI
BAB 3 PERHITUN GAN GAN GGUAN
3. 1 PEN DAHULUAN
3. 2 KOMPON EN SIMETRIS - AN ALISIS JARIN GAN TIGA FASA
3. 3 PERSAMAAN DAN RAN GKAIAN
EKIVALEN UN TUK BERBAGAI TIPE GAN GGUAN
3. 4 DISTRIBUSI TEGANGAN DAN ARUS DALAM
SISTEM AKIBAT GAN GGUAN
3. 5 PEN GARUH SISTEM PEN TAN AHAN PADA BESARAN
URUTAN NOL
BAB 4 SUMBER- SUMBER MASUKAN RELE
4. 1 PENDAHULUAN
4. 2 RAN GKAIAN EKIVALEN CT DAN VT
4. 3 APLIKASI TRAN SPORMATOR ARUS UNTUK PROTEKSI
4. 4 UN JUK KERJA CTS PADA KOMPON EN AC SIMETRIS
4. 5 BURDEN SEKUN DER SELAMA GAN GGUAN
ii
1
1
3
6
7
8
9
9
10
11
12
13
15
16
18
21
24
24
25
28
28
29
29
31
34
41
44
44
44

50

56

60
69
69
71
73
73
77
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi iv
4. 6 RIN GKASAN EVALUASI UN JUK KERJA CT
PADA KEADAAN TUNAK
4. 7 CON TOH UN JUK KERJA CT PADA KEADAAN TUN AK
4. 8 UN JUK KERJA CT AKIBAT PEN GARUH UN - EN ERGIZE
4. 9 TRANSFORMATOR ARUS PEN JUMLAHAN FLUKS TOROIDA
4.10 UN JUK KERJA CT PADA KOMPON EN ARUS DC
4.11 EVALUASI UN JUK KERJA CT
4.12 FLUKS RESIDU CT DAN TRANSIEN SUSIDEN CE
4.13 CT BAN TU PADA RAN GKAIAN SEKUN DER CT
4.14 APLIKASI TRANSFORMATOR TEGAN GAN DALAM PROTEKSI
BAB 5 DASAR- DASAR PROTEKSI
5. 1 PEN DAHULUAN
5. 2 PRIN SIP DIFERENSIAL
5. 3 MASALAH DASAR SISTEM PROTEKSI
5. 4 RELE- RELE ARUS LEBIH- WAKTU
5. 5 RELE- RELE ARUS- TEGAN GAN IN STAN TAN EOUS
5. 6 RELE- RELE DAYA PEN GINDERA ARAH
5. 7 RELE- RELE JARAK DAN DIAGRAM R X
5. 8 PROTEKSI CADAN GAN : JARAK JAUH vs LOKAL
BAB 6 PROTEKSI ARUS LEBIH DAN GAN GGUAN TAN AH
6. 1 PEN DAHULUAN
6. 2 PROSEDUR KOORDINASI
6. 3 PRINSIP- PRIN SIP TIN GKATAN ARUS WAKTU
6. 4 MARJIN TINGKATAN
6. 5 STAN DAR RELE ARUS LEBIH I.D.M.T
6. 6 KOMBIN ASI I.D.M.T DAN ELEMEN INSTAN TAN EOUS
SETELAN TIN GGI
6. 7 RELE ARUS LEBIH VERY IN VERSE ( VI)
6. 8 RELE ARUS LEBIH EXTREMELY IN VERSE ( EI)
6. 9 RELE ARUS LEBIH IN DEPENDEN T ( DEFIN ITE) TIME
6.10 PERHITUN GAN PEN YETELAN RELE ARUS LEBIH
6.11 PROTEKSI GAN GGUAN TAN AH
6.12 RELE ARUS LEBIH BERARAH
BAB 7 PROTEKSI GEN ERATOR
7. 1 PEN DAHULUAN DAN POTEN SI MASALAH
7. 2 HUBUN GAN- HUBUN GAN GEN ERATOR
7. 3 PROTEKSI UTAMA GAN GGUAN FASA- STATOR
7. 4 PROTEKSI UTAMA GAN GGUAN FASA UN IT
TRAN SFORMATOR
7. 5 PROTEKSI CADAN GAN GAN GGUAN FASA
7. 6 PROTEKSI CADAN GAN ARUS URUTAN N EGATIF
7. 7 PROTEKSI GAN GGUAN TAN AH STATOR
7. 8 PROTEKSI PEN URUN AN ATAU KEHILAN GAN PEN GUATAN
7. 9 PROTEKSI GEN ERATOR TERHADAP GAN GGUAN

78
79
82
83
84
86
87
88
89
92
92
92
95
96
99
10 1
10 1
10 5
10 7
10 7
10 7
10 8
10 6
118

120
122
122
123
123
129
134
137
137
138
139

145
147
148
149
155

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi v
SISTEM DAN BAHAYA OPERASION AL.
7.10 PROTEKSI GROUN D FIELD
7.11 PROTEKSI GEN ERATOR PADA KON DISI OFF- LIN E
7.12 PROTEKSI OUT- OF- STEP
7.13 BEBERAPA GEN ERATOR TERHUBUN G LAN GSUN G
PADA SEBUAH TRAN SFORMATOR
7. 14 PROTEKSI GEN ERATOR TURBIN PEMBAKARAN
7. 15 PROTEKSI SIN KRON OUS KON DEN SER
7.16 SISTEM TRIPPIN G PADA GEN ERATOR
7.17 RIN GKASAN PROTEKSI
BAB 8 PROTEKSI TRAN SFORMATOR, REAKTOR DAN KAPASITOR
SHUN T
8. 1 TRAN SFORMATOR
8. 2 FAKTOR- FAKTOR YAN G MEMPEN GARUHI
PROTEKSI DIFEREN SIAL
8. 3 IN RUS MAGN ETISASI
8. 4 KARAKTERISTIK RELE DIFEREN SIAL TRAN SFOR MATOR
8. 5 APLIKASI DAN HUBUNGAN RELE DIFEREN SIAL PADA
TRAN SFORMATOR
8. 6 CON TOH HUBUN GAN PROTEKSI DIFEREN SIAL UN TUK BANK
TRAN SFORMATOR DUA BELITAN HUBUN GAN WYEI
DELTA
8. 7 PERUBAH TAP BEBAN TRANSFORMATOR
8. 8 CON TOH: PROTEKSI DIFEREN SIAL UN TUK BAN K
TRAN SFORMATOR MULTI BELITAN
8. 9 APLIKASI ALAT BAN TU UN TUK MEN YEIMBAN GKAN ARUS
8.10 PARALEL CT PADA RAN GKAIAN DIFEREN SIAL
8.11 HUBUN GAN KHUSUS RELE DIFEREN SIAL TRAN SFORMATOR
8.12 PROTEKSI DIFEREN SIAL BANK TRAN SFORMATOR TIGA FASA
DARI UN IT TRAN SFORMATOR SATU FASA
8. 13 PROTEKSI DIFEREN SIAL TANAH ( URUTAN N OL)
TRAN SFORMATOR
8.14 PERALATAN GUNA PEMIN DAHAN SISTEM PEMUTUSAN
8.15 DETEKSI GAN GGUAN MEKAN IS TRAN SFORMATOR
8.16 PROTEKSI PEN TAN AHAN TRANSFORMATOR
8.17 PROTEKSI DIFERENSIAL TAN AH DEN GAN RELE TAN AH
8.18 PROTEKSI BAN K TRANSFORMATOR DEN GAN
PEN GGESER FASA TERKENDALI
8.19 PROTEKSI ARUS LEBIH PADA TRAN SFORMATOR
8.20 BEBAN LEBIH PADA TRAN SFORMATOR MELALUI STAN DAR
KETAHAN AN GAN GGUAN
8. 21 CON TOH: PROTEKSI ARUS LEBIH PADA TRANSFORMATOR
8.22 PROTEKSI THERMAL SEBUAH TRANSFORMATOR
8.23 TEGAN GAN LEBIH PADA TRANSFORMATOR
159
163
164
164

164
165
165
166
166
167
167

167
168
170

171

172
176

176
180
180
182

184

184

184
185
186
187
187

193
193

194
197
20 3
20 4
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi i

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi vi
8.24 RINGKASAN : TIPE PROTEKSI TRAN SFORMATOR
8.25 REAKTOR
8.26 KAPASITOR
BAB 9 PROTEKSI MOTOR
9. 1 PEN DAHULUAN
9. 2 POTEN SI- POTEN SI BAHAYA PADA MOTOR
9. 3 KARAKTERISTIK MOTOR YAN G MEMPEN GARUHI PROTEKSI
9. 4 RAN GKAIAN EKIVALEN MOTOR INDUKSI
9. 5 PROTEKSI MOTOR SECARA UMUM
9. 6 PROTEKSI GANGGUAN FASA
9. 7 PROTEKSI DIFEREN SIAL
9. 8 PROTEKSI GAN GGUAN TAN AH
9. 9 PROTEKSI THERMAL DAN ROTOR TERKUN CI
9.10 PROTEKSI ROTOR TERKUN CI PADA MOTOR MOTOR BESAR
9.11 MOTOR DAN KETIDAK SEIMBAN GAN SISTEM
9.12 KETIDAK SEIMBAN GAN DAN PROTEKSI PERUBAHAN FASA
9.13 PROTEKSI TEGAN GAN KURAN G
9.14 PEN UTUP BALIK DAN BUS PEN GALIH
9.15 PEN GASUTAN BERULAN G DAN PROTEKSI JOGGIN G
9.16. PROTEKSI MOTOR SIN KRON
9.17. RIN GKASAN : TIPIKAL PROTEKSI UNTUK MOTOR
DAFTAR ACUAN
LAMPIRAN
20 5
20 9
211
213
213
213
214
215
217
217
219
221
222
224
225
230
230
231
232
233
233
234
235






Pendahul uan dan Phi l osof i Umum

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 1
BAB 1
PENDAHULUAN DAN PHILOSOFI UMUM



1. 1 PEN DAHULUAN DAN PHILOSOFI UMUM

Kegunaan sist em t enaga elekt rik adalah unt uk mendist ribusikan energi elekt rik ke
berbagai t it ik beban. Sist em t enaga elekt rik harus didesain dan dikelo la sehingga dapat
mendist ribusikan energi elekt rik dengan t ingkat ket ersedian yang t inggi dan eko no mis.
Dua hal ini merupakan suat u yan g sangat ko nt radikt if, hal ini dapat dilihat dari
hubungan keduanya sepert i yang disajikan dalam Gambar 1- 1. Dalam gambar
diperlihat kan relasi ant ara keandalan dan biaya unt uk berbagai jumlah pelanggan.
Sangat pent ing unt uk dipahami bahwa sist em hanya viable ant ara dua t it ik
persinggu ngan A dan B. Diagram dalam Gambar 1- 1 memperlihat kan hubungan
pent ing ant ara desain dan t ingkat keandalan sist em dan besarnya biaya yang
dibut uhkan unt uk mencapai t ingkat keandalan yang diinginkan. Dengan kat a lain
t ingkat keandalan t idak dapat dicapai dengan cara mengurangi biaya, t et api dibut uhkan
ko mpro mi ant ara keduanya, dengan t et ap mempert imbangkan fakt o r- fakt o r lainnya.














Gambar 1- 1: Hu bu n gan an t ara kean dalan su plai, biaya dan harga bagi ko n su men


Jaminan ket ersediaan suplai daya dapat lebih baik dengan cara memperbaiki desain,
meningkat kan margin kapasit as dan men gat ur rangkain alt ernat if unt uk mensuplai
beban. Membagi sist em kedalam beberapa subsist em dengan kendali dan sist em
pro t eksi yang baik, memiliki fleksibilit as dalam o perasi no rmal dan memberi jaminan
pemut usan minimum pada saat sist em mengalami gangguan at au ko ndisi t idak no rmal.
Sist em Tenaga Elekt rik memerlukan invest asi yang san gat besar. Guna mempero leh
t ingkat pengembalian invest asi yang memadai, sist em harus dibebani seo pt imal
mungkin. Unt uk alasan inilah perlu disadari bahwa o perasi sist em t enaga elekt rik harus
berada dalam kisaran t it ik A dan B sepert i dalam Gambar 1- 1, namun demikian sangat
Pendahul uan dan Phi l osof i Umum

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 2
pent ing unt uk t et ap menjaga ket ersediaan sist em sebaik mungkin, sehingga t ingkat
layanan kepada ko nsu men dapat t ercapai, dengan demikian dapat dipero leh t ingkat
pengembalian invest asi yang diharapkan. Terbebas dari gan gguan dan kegagalan sist em
t idak mungkin dapat dihindari secara t o t al, semakin luas sist em berart i semakin banyak
ko mpo nen sist em yang t erlibat , sehingga kemungkinan t erjadinya gangguan dan
kegagalan juga menin gkat . Sebuah sist em t idak didesain dan dikelo la secara baik
bilamana sist em t ersebut t idak dipro t eksi secara baik. Hal ini merupakan ukuran
t ent ang pent ingnya suat u sist em pro t eksi.

Jenis gan gguan yang serin g kali t erjadi pada sist em t enaga elekt rik yang men ggu nakan
saluran udara t erbuka adalah hubung singkat sat u fasa ke t anah yang diakibat kan o leh
induksi t egangan akibat sambaran pet ir at au akibat gangguan dahan at au po ho n yang
menyent uh ko n dukt o r. Dalam sist em dist ribusi yang menggunakan saluran udara,
gangguan akibat t umbangnya dahan at au po ho n merupakan penyebab ut ama
munculnya gangguan jenis ini. Dalam banyak kasus flasho ver yang t erjadi akibat
ko ndisi- ko ndisi diat as t idak men ghasilkan kerusakan permanen bila sirkit yan g
mengalami gangguan dengan cepat dapat diiso lir. Pada umumnya, set elah sirkit
t ersebut diiso lir, arc yang t erjadi dapat dipadamkan secara alami, dan sirkit kemudian
dihubungkan kembali. Dalam banyak kasus, kejadian ini hanya men gakibat kan
gangguan sement ara dan dip t egangan. Tipikal wakt u gangguan adalah ant ara 0 ,5
sampai 2 menit . Gangguan yang t erjadi, umumnya mengakibat kan perubahan yang
cukup berart i pada besaran sist em, sehingga dapat digunakan unt uk membedakan
ant ara ko ndisi yang dapat dit o lerir at au t idak dapat dit o lerir. Perubahan besaran ini
meliput i: arus lebih, t egangan lebih at au kurang, daya, fakt o r daya at au sudut fasa,
impedansi frekuensi, t emperat ur, t ekanan dan besaran lainnya. Indikat o r umum yan g
menunjukkan adanya gan gguan adalah perubahan arus yang t erjadi secara t iba- t iba,
sehingga pro t eksi arus lebih adalah jenis pro t eksi yang paling luas penggunaan nya.

Pro t eksi adalah science, skill dan seni dalam aplikasi dan set t ing rele dan at au fuse unt uk
mendapat kan sensit ivit as maksimum dalam mendet eksi ko ndisi yang t idak no rmal,
t et api t et ap bero perasi pada ko ndisi no rmal at au ko ndisi yang masih dapat dit o lerir.
Pendekat an dasar yang digunakan dalam buku ini adalah bagaimana mendefinisikan
ko ndisi yang dapat dit o lerir dan t idak dapat dit olerir yang mungkin mu ncul dan unt u k
mendefinisikan perbedaan ( penanganan) o leh rele at au fuse sehingga dapat mendet eksi
keadaan t ersebut .

Sangat pent ing unt uk disadari bahwa t ime windo w dalam mengambil keput usan pada
suat u sist em pro t eksi sangat sempit , dan bila t erjadi gangguan, pemeriksaan u nt uk
verifikasi at au pro sedur pengambilan keput usan yang memerlukan t ambahan wakt u
t idak diperkenankan. Sangat vit al:

1. Bahwa sistem proteksi harus melakukan keputusan secara benar baik pada saat
gangguan yang terjadi tidak dapat ditolerir sehingga aksi seketika harus
dilaksanakan, atau pada saat gangguan dapat ditolerir atau pada keadaan transien
yang dapat diabsorsi sistem tenaga; dan
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 3
2. Bahwa sistem proteksi hanya beroperasi bila diharuskan untuk mengisolir areal yang
mengalami gangguan secepat mungkin dengan tetap melayani areal yang tidak
mengalami gangguan semaksimum mungkin.

Wakt u gangguan ini mun gkin dan seringkali berhubungan dengan high ext raneo us
no ise yang seharusnya t idak menjadikan peralat an fo o l at au mengakibat kan kesalahan
o perasi. Kegagalan o perasi dan kesalahan o perasi, keduanya dapat mengakibat kan
bert ambah banyak peralat an yang men galami kerusakan, menin gkat kan jumlah bahaya
bagi manusia, dan kemungkinan pemut usan pelayanan yang lebih lama. Keadaan ini
membuat Insinyur Pro t eksi menjadi ko nservat if, dan mereka cenderung menggunakan
peralat an pro t eksi yang memiliki sejarah keandalan yang baik. Masalah dan kegagalan
peralat an pro t eksi selalu mungkin t erjadi, karena t idak ada hal yang sempurna. Unt uk
meminimisasi kemungkinan kerusakan dan kegagalan akibat gagalnya sist em pro t eksi
dalam prakt ek seringkali digu nakan beberapa rele at au sist em rele yang bero perasi secara
paralel. Hal ini dapat dit empat kan pada lo kasi yang sama ( primary backup) , at au pada
Gardu yang sama ( lo cal backup) , dan at au pada Gardu yang berbeda ( remo t e backup) .
Dalam banyak aplikasi ket iga cara dapat digunakan secara bersama. Pada sist em t enaga
list rik t egangan t inggi, ko nsep ini diperluas lagi dengan men ggu nakan peralat an
pengukur arus/ t egangan yang t erpisah, belit an pemut us ( t ripping co il) yang t erpisah,
dan sumber bat ere yang t erpisah pula. Semua peralat an pro t eksi yang t erpasang harus
diko o rdinasikan dengan baik sehingga pada saat t erjadi gangguan rele ut ama harus
bero perasi lebih dahulu bila gangguan yang t erjadi berada dalam zo na o perasi rele
ut ama t ersebut . Apabila sist em pro t eksi ut ama gagal, sist em pro t eksi cadan gan haru s
bekerja unt uk mengiso lir gan gguan yang t erjadi, o leh karena it u dibut uhkan suat u
sist em pro t eksi yang memiliki kapabilit as redundan yang t inggi.


1. 2 TIPIKAL RELE PROTEKSI DAN SISTEM RELE

Tipikal represent asi lo gic dari rele diberikan dalam Gambar 1- 2. Ko mpo nen- ko mpo nen
sist em dapat berupa elekt ro mekanik, so lid st at e, at au ko mbinasi keduanya. Fungsi lo gic
yang digu nakan sangat umum, sehin gga dalam set iap unit dapat berupa ko mbinasi
keseluruhan at au dalam banyak kasus t idak dibut uhkan keseluruhan nya.






Gambar 1- 2 : Presen t asi lo gig dari sebu ah Rele Pro t eksi

Desain khusus dan fit ure yang ada sangat variat if dan t ergant ung kebut uhan, fabrikasi
berbeda, dan prio da desain part icular yang berbeda. Awalnya, semua rele pro t eksi
memiliki t ipe yang sama, yait u t ipe elekt ro mekanis yang sampai sekarang masih banyak
digunakan, namum t ipe so lid st at e juga semakin luas penggunaannya.
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 4
Meski kecenderun gan ini semakin menin gkat , mungkin membut uhkan wakt u yan g
lama sebelum t ipe elekt ro mekanis bet ul- bet ul dit inggalkan. Peralat an t ipe so lid st at e
memiliki keunggulan dalam akurasi wakt u, senso r frekuensi, dan unt uk sist em yan g
but uh keput usan lo gic yang lebih dari sat u, sepert i pro t eksi pilo t . So lidst at e umumnya
digunakan pada sist em t enaga t egangan rendah dimana rele dan PMT keduanya
merupakan sat u kesat uan.













Gambar 1- 3: Tipikal represent at ip rele pro t eksi yang dipergunakan bagi pro t eksi sist em
t enaga

Penggunaan rele elekt ro mekanis dalam sist em ini dirasakan kuran g akurat , kadangkala
t idak sensit if, dan sukar melaku kan pen gujian. Saat ini rele t ipe so lidst at e semakin
banyak dipakai dalam sist em t enaga list rik. Karakt erist ik dasar dari desain rele perlu
dipahami, penjelasan lebih det il mengenai hal ini diberikan pada bab berikut nya. Bagi
yang belum mengenal rele pro t eksi, sebuah ko leksi rele t ipe elekt ro mekanis
diperlihat kan dalam Gambar 1- 3. Rele- rele ini t elah dilepaskan dari kasingnya. Unit -
unit rele maupun kasingn ya, sama sepert i yang diperlihat kan pada Gambar 1- 3.
Penyambungan rele den gan sirkit - sirkit penduku ng dan sirkit lainnya dilakukan melalui
plug at au saklar yang t ersedia.

Ket iga bagian dari suat u pengendali- papan saklar sist em pro t eksi bagi sirkit 50 0 kV
diperlihat kan Gambar 1- 4. Gambar 1- 4 ini men gilust rasikan ko mbinasi dari rele so lid
st at e dan elekt ro mekanis. Rele so lid st at e pada umumnya t erpasang dalam rak- rak
sepert i dit unjukkan dalam gambar. Pint u- pint u yang t ersedia memungkinkan akses
guna memperbaiki at au menggant i sirkit pada papan sirkit yang ada dan selain it u
dilengkapi dengan fasilit as pengujian.


Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 5
















Gambar 1- 4 : Tipikal rele pro t eksi, ken dali dan saklar in st ru men t asi pada Gardu sist em t en aga
mo dern
Dua panel rele so lid st at e yang sedang dalam pengujian diperlihat kan Gambar 1- 5.
Penut up muka dari panel t engah dibuka sehingga bagian dalam dari panel dapat diakses.
Salah sat u bagian dari rele sedang dikeluarkan


















Gambar 1- 5: Tipikal rele so lid st at e u n t u k pro t eksi salu ran Tran smisi pada saat sedan g dalam
pen gu jian pabrik
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 6
1. 3 KEANDALAN

Pent ingnya mempert ahankan t ingkat keandalan sist em t enaga elekt rik t elah
dikemukakan dalam subbab 1.1. Kesalahan o perasi pada suat u sist em t enaga elekt rik
dapat t erjadi disebabkan o leh salah sat u dari keadaan berikut :
a. Kesalahan desain
b. Kesalahan Inst alasi
c. Penuaan


1. 3.1 Desain

Hal ini merupakan sesuat u yang san gat pent ing. Keadaan sebuah sist em t enaga elekt rik
harus dipahami den gan baik u nt uk men ghasilkan sebuah desain yan g baik. Pengujian
secara ko mprehensif sangat dibut uhkan, dan pengujian ini harus mencakup semua
aspek dari suat u sist em pro t eksi sedekat mungkin sebagaimana ko ndisi sesun gguhnya.
Unt uk sist em pro t eksi umum nya, sangat perlu unt uk melakukan pengujian pada rele,
t ransfo rmat o r arus dan peralat an bant u lainnya. Pengujian harus dapat mensimulasikan
ko ndisi gan gguan yan g mungkin t erjadi.


1. 3.2 Inst alasi

Inst alasi sebuah sist em pro t eksi yang baik sangat dibut uhkan, t et api ko mpleksit as
rangkaian dalam sebuah inst alasi sist em pro t eksi akan menyulit kan dalam melakukan
pemeriksaan dan pengujian sist em. Pengujian menjadi hal yang mut lak diperlukan
unt uk menguji apakah inst alasi t erpasang secara benar dan seluruh ko mpo nen sist em
bekerja sesuai dengan fungsinya. Mengin gat san gat sulit unt uk mensimulasikan seluruh
ko ndisi gangguan secara benar, pengujian ini harus dilaksanakan unt uk melihat ko ndisi
inst alasi sist em. Inilah gunanya pengujian dit empat , yang dapat dilakukan secara
t erbat as dan sederhana dan langsung gu na mem bukt ikan bahwa ko neksi yang dilakukan
t elah benar dan bebas dari kemungkinan kerusakan peralat an.


1. 3.3 Penuaan Dalam Operasi

Set elah bagian- bagian sist em diinst al dengan sempurna, penuaanpun dapat t erjadi
sejalan dengan wakt u yan g akan men ggan ggu fungsi sist em. Sebagai co nt o h, ko nt ak-
ko nt ak mu ngkin menjadi rusak dan at au t erbakar akibat seringnya bero perasi at au
akibat ko nt aminasi dari lingkun gan sekit ar. Ko il at au bagian lain dari rangkaian menjadi
t erbuka, ko mpo nen- ko mpo nen bant u mungkin gagal dan sist em mekanist ert ut up
dengan debu at au mengalami ko ro si yan g akan menghambat pergerakan sist em. Salah
sat u kesulit an dalam sebuah sist em pro t eksi adalah menent ukan kapan sebuah sist em
dibut uhkan, dan hal ini baru dapat diket ahui saat sist em mengalami kegagalan dalam
merespo n gangguan yan g t erjadi pada sist em t enaga t ersebut . Karena alasan inilah maka
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 7
rele pro t eksi harus selalu diuji dari wakt u kewakt u unt uk menjamin agar sist em t et ap
dapat bekerja pada saat dibut uhkan.

Pengujian sist em pro t eksi dilaksanakan t anpa harus menggan ggu hubungan- hubungan
permanen ran gkaian. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melakukan pen gujian perblo k
at au pengalihan. Bila diperlukan pemut usan t empo rer, maka unt uk menghindari
kesalahan penyambungan ulang digunakan bendera penanda yang dilet akkan pada
t it ik- t it ik at au t erminal penyambungan. Kualit as perso nel yang melaksanakan
pengujian juga sangat menent ukan. Perso nel harus benar- benar menguasai t ugasnya
dan memiliki ko mpet ensi yang dibut uhkan dan bekerja mengikut i st andar kerja yang
diharuskan. Sirkit - sirkit yang pent ing, khususnya yang vurnerable harus dipant au secara
ko nt inyu sepert i rangkaian pemut us Pemut us Tenaga dan sirkit pengendalinya.


1. 4 SELEKTIVITAS

Pro t eksi disusun dalam zo na o perasi t ert ent u, yang mencakup keseluru han sist em
t enaga elekt rik t anpa t erkecuali sehingga t idak ada daerah yang t idak t erlindungi. Bila
t erjadi gangguan, sist em pro t eksi dibut uhkan unt uk memilih dan memut uskan
Pemut us Tenaga yang t erdekat dengan t it ik gangguan. Sifat pemut usan yang selekt if ini
dikenal juga dengan sebut an diskriminasi yang dapat dicapai dengan dua met o da, yait u:

a. Sist em Tingkat an Wakt u
Sist em pro t eksi pada zo na yang berdekat an diat ur unt uk bero perasi dengan
t ingkat an wakt u o perasi yang berbeda- beda melalui pengat uran urut an kerja
peralat an, sehingga pada saat t erjadi gangguan, meski sejumlah peralat an pro t eksi
akan bero perasi merespo n adanya gan gguan, namun han ya peralat an pro t eksi yan g
relevan dengan zo na gangguan yan g akan menyelesaikan keseluruhan urut an pro ses
pemut usan, sedangkan sist em lain t idak akan menyelesaikan urut an pemut usannya
dan akan kembali kepo sisi awalnya.

b. Sist em Unit
Dimungkinakan u nt uk mendesain sist em pro t eksi yang hanya akan merespo n
ko ndisi gangguan yan g berada dalam zo na yan g didefinisikan. Pro t eksi sepert i ibi
at au daerah pro t eksi ini dapat dit erapkan dalam suat u sist em t enaga elekt rik,
mengingat bahwa o perasi sist em t idak dipengaru hi o leh wakt u, maka o perasi sist em
dapat lebih cepat . Pro t eksi Unit umumnya dicapai dengan membandingkan
besaran- besaran sist em dalam bat asan daerah o perasi t ert ent u. Beberapa sist em
pro t eksi dit urunkan dari sifat ket erbat asan dari ko nfigurasi sist em t enaga dan
mungkin saja dapat diklasifikasikan sebagai pro t eksi unit .

Met o da manapun yang digunakan harus selalu diingat bahwa selekt ifit as bukanlah
bagian dari desain rele, hal ini merupakan suat u fungsi penerapan ko o rdinasi yang benar
ant ara Transfo mat o r Arus ( CT) dan rele den gan suat u pilihan penyet elan yang t epat
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 8
dengan mempert imbangkan beberapa hal, sepert i arus gangguan, arus beban
maksimum, impedansi sist em dan sebagainya sesuai dengan kebut uhan.


1. 5 ZONA PROTEKSI

Idealnya, zo na pro t eksi sepert i yang disebut kan t erdahulu harus o verlap melewat i
Pemut us Tenaga ( PMT at au CB) sepert i yang diperlihat kan dalam Gambar 1- 6, dimana
PMT menjadi bagian dari kedua zo na.











Gambar 1- 6: Lo kasi CT pada kedu a sisi PMT


Karena alasan fisis, ko ndisi ideal ini kerapkali sukar dicapai, sehingga dalam beberapa
kasus hanya dimun gkin kan CT berada pada salah sat u sisi PMT, sepert i pada Gambar 1- 7.
Keadaan ini mengakibat kan bagian ant ara CT dan PMT A menjadi t idak t erlindungi
dengan baik bilamana t erjadi gangguan didaerah t ersebut . Dalam Gambar 1- 7,
gangguan pada t it ik F akan mengakibat kan pro t eksi busbar bekerja dan membuka PMT,
namun demikian gan gguan t et ap berlanjut karena suplai dat ang dari arah penyulang.










Gambar 1- 7: Lo kasi CT pada sat u sisi PMT


Pro t eksi Penyulang, bila merupakan pro t eksi t ipe Unit t idak akan bereaksi, karena
gangguan ini t idak berada dalam zo na o perasinya. Masalah ini diat asi dengan
membent uk zo na t ambahan, yang akan bereaksi bilamana pembukaan PMT t idak
sepenuhnya dapat menghent ikan aliran arus gan gguan. Wakt u t unda dibut uhkan dalam
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 9
mengat asi gangguan ini, meski dengan pem bat asan o perasi ini unt uk memberi
kesempat an bagi pro t eksi busbar bero perasi dan wakt u t undapun dapat dikurangi.

Tit ik penyambungan dari sist em pro t eksi den gan sist em t enaga elekt rik umum nya
menjadi bat asan bagi set iap zo na o perasi dan berhubungan den gan lo kasi CT. Sist em
pro t eksi dapat saja menggunakan t ipe Unit , dan dalam kasus ini bat asan set iap zo na
didefinisikan dengan jelas dengan lo o p t ert ut up. Gambar 1- 8 memperlihat kan t ipikal
pengat uran zo na pro t eksi yang o verlap. Alt ernat if lainnya, zo na o perasi t idak t erlalu
ket at , t it ik awal t erdefinisi secara jelas, t et api zo na t ambahan t ergant ung pada
bagaimana pengukuran besaran sist em dan karenaya akan bervariasi t ergant ung pada
sist em t ersebut dan kesalahan yang mungkin t erjadi.















Gambar 1- 8: Zo n a t u mpan g t in dih dari su at u sist em pro t eksi


1. 6 STABILITAS

Termino lo gi ini berlaku juga dalam sist em pro t eksi sebagai pembeda dari jaringan
sist em t enaga, yang mengacu pada kemampuan sist em unt uk t et ap lebam dalam segala
ko ndisi beban dan gangguan ekst ernal diluar zo na pro t eksinya


1. 7 KECEPATAN

Fungsi ut ama dari suat u sist em pro t eksi adalah mengiso lir gangguan dari sist em t enaga
sesegera mungkin yang dapat dilakukan. Tujuan ut amanya adalah unt uk menjaga
ko nt inyuit as suplai dengan cara memut uskan set iap gangguan sebelum gangguan
t ersebut menyebabkan sist em kehilangan sinkro nisasinya, yang akan mengakibat kan
penghent ian o perasi pemban gkit . Pembebanan pada sist em akan menghasilkan
pergesran fasa ant ara t egangan pada berbagai t it ik pembebanan dan karenanya dapat
meningkat kan pro babilit as kehilangan sinkro nisasi pada saat sist em mengalami
guncan gan akibat adanya gangguan. Semakin cepat gangguan diiso lir semakin besar
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10
kemungkinan pembebanan sist em. Dalam Gambar 1- 9 diperlihat kan t ipikal relasi ant ara
pembebanan sist em dan wakt u pemut usan gangguan unt uk berbagai t ipe gangguan.
Dapat dilihat bahwa, gangguan fasa memiliki pengaruh yang lebih besar t erhadap
st abilit as sist em bila dibanding dengan ganggu an t anah. Oleh karena it u diperlukan
wakt u pemut usan yang lebih cepat .















Gambar 1- 9: Tipikal besar daya yan g dapat dit ran smisikan sebagai fu n gsi dari wakt u pemu lihan


Tidak cukup hanya u nt uk menjaga st abilit as sist em, kerusakan yang t idak diharapkan
harus pula dihindari. Daya rusak dari semburan akibat gangguan membawa arus yan g
sangat besar yang dapat mengakibat kan ko ndu kt o r t embaga t erbakar at au melelehkan
laminasi int i t ransfo rmat o r at au mesin- mesin elekt rik dalam wakt u singkat . Meski
lo kasinya jauh dari sumber gangguan it u sendiri, arus gangguan yang san gat besar
dapat menimbulkan kerusakan pada pembangkit bilamana gangguan ini dibiarkan lebih
dari beberapa menit . Terlihat bahwa peralat an pro t eksi harus bero perasi sesegera
mungkin. Kecepat an menjadi hal pent ing, namun pert imbangan eko no mis t et ap
menjadi perhat ian. Oleh karena alasan t ersebut , sist em dist ribusi yang t idak begit u
t erpengaruh o leh kecepat an o perasi sist em pro t eksi biasanya menggunakan met o da
perbedaan wakt u pada sist em pro t eksinya, namun pada sist em t ransmisi EHV
memerlukan peralat an pro t eksi yang memiliki kecepat an o perasi t ingggi, pert imbangan
penent uan kecepat an o perasi hanya dipengaruhi o leh fakt o r kebenaran o perasi rele.


1. 8 SEN SITIVITAS

Sensit ivit as adalah sebuah t ermino lo gi yang kerap dipergunakan yan g mengacu pada
arus o perasi minimum yang diperlukan unt uk dapat mengo perasikan sist em pro t eksi.
Sist em pro t eksi dikat akan sensit if bila arus o perasi ut ama yang dibut uhkannya rendah.
Bilamana t ermino lo gi ini dit erapkan pada rele individual, maka sensit ifit as ini t idak
mengacu pada penyet elan arus at au t egangan, namun pada besarnya ko nsumsi VA pada
arus o perasi minimum. Berbagai t ipe elemen rele umumnya merupakan ku mparan yan g
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 11
memiliki range penyet elan arus yang cukup lebar, ko il yang ada memiliki impendasi
yang berbanding t erbalik t erhadap kuadrat harga arus penyet elan, sehingga VA u nt uk
set iap penyet elan t et ap sama. Hal ini merupakan masukan yang benar yang dibut uhkan
unt uk menggerakkan rele dan juga menjadi ukuran sensit ifit as rele t ersebut .


1. 9 PROTEKSI UTAMA DAN PROTEKSI CADAN GAN

Keandalan sist em t enaga elekt rik t elah didiskusikan pada subbab sebelumnya. Banyak
kasus dapat menjadi fakt o r penyebab kegagalan pro t eksi dan selalu ada kemungkinan
kegagalan PMT. Karena alasan inilah, sangat umum unt uk selalu menambahkan pada
sist em pro t eksi ut ama suat u sist em pro t eksi lain sebagai cadangan bagi sist em ut ama
dan unt uk menjamin bahwa pro ses pengiso liran gangguan dapat t erlaksana. Prot eksi
cadangan mu ngkin dipero leh secara o t o mat is sebagai bagian dari skema pro t eksi ut ama,
at au t erpisah sebagai sebuah peralat an t ambahan. Skema pro t eksi dengan perbedaan
t ingkat an wakt u sepert i pada pro t eksi arus lebih at au jarak adalah co nt o h dari pro t eksi
cadangan yang menjadi bagian dari pro t eksi ut amanya. Seksi at au bagian dari daerah
yang mengalami gan gguan yan g akan didiso lir dibedakan berdasarkan t ingkat an wakt u,
t et api bilaman rele gagal at au PMT gagal unt uk membuka, maka rele berikut nya yang
t erlet ak paling dekat dengan daerah gangguan diharapkan dapat menyelesaikan urut an
o perasi pemut usannya sehingga PMT dapat t erbuka, dengan cara int eripsi sat u seksi
lebih jauh, maka cadangan pro t eksi dapat dipero leh. Met o da pembukaan sat u seksi
kebelakang dimungkinkan, namu n hal ini t idak berguna bila gangguan just ru t erjadi
pada PMT. Unt uk sist em int erko neksi, hal ini menjadi lebih rumit , o perasi diat as akan
dilakukan berulang sehingga semua jaringan paralel dapat diiso lir keseluruhan.

Jika sist em t enaga dipro t eksi dengan pro t eksi ut ama menggu nakan skema unit , pro t eksi
cadangan t idak akan dipero leh secara langsu ng, o leh karena it u hal biasa bila sebagai
t ambahan bagi pro t eksi ut ama dipasang pula pro t eksi arus lebih t ingkat an wakt u sebagai
pro t eksi cadangan lo kal u nt uk mengant isipasi kemungkinan gagalnya pro t eksi ut ama,
yang akan memut us PMT t erdekat bilamana PMT yang mengalami gangguan.
Bagaimanapun pro t eksi cadangan bekerja lebih lambat dari pro t eksi ut amanya,
t ergant ung pada ko nfigurasi sist em t enaga elekt rik t ersebut dan mungkin sedikit t idak
selekt if. Unt uk beberapa sirkit pent ing kinerja sepert i ini t idaklah cukup baik, meski
hanya sebagai pro t eksi cadangan at au dalam beberapa kasus t idak saja memiliki efek dari
masukkan yan g beragam. Dalam kasus sepert i ini, biasanya dipasang duplikasi sist em
pro t eksi kecepat an t inggi. Cara sepert i ini akan menghasilkan cadangan bersama yan g
sempurna gu na menut upi kegagalan peralat an pro t eksi akibat kegagalan PMT at au
menguran gi wakt u penundaan. Pro t eksi bagi kegagalan PMT dapat diuji dengan melihat
bahwa arus gangguan menin gkat dalam int erval wakt u yang sempit dari pro t eksi ut ama.
Jika ini t erjadi, maka sambungan lain ke seksi busbar akan diiso lir, keadaan ini dapat
dit angani sebagai suat u kegagalan busbar. Ko ndisi ini membut uhkan pro t eksi cadangan
dengan wakt u penundaan minimum, dan membat asi o perasi pemut usan hanya pada
sat u Gardu, bandingkan dengan alt ernat if pemut usan sat u seksi lebih jauh.

Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 12
Tambahan dan t ipe pro t eksi cadangan yang akan digunakan t ergant un g pada resiko
kegagalan yan g mu ngkin t erjadi dan berhubun gan den gan masalah eko n o mis sist em.
Pada sist em Dist ribusi dimana wakt u pemut usan gangguan t idak krit is, pro t eksi
cadangan remo t e dengan wakt u t unda sudah cukup, t et api unt uk sist em Transmisi EHV
dimana st abilit as sist em menjadi sesuat u yang pent ing, kecuali bila gangguan dapat
diiso lir secepat mungkin, maka pro t eksi cadangan lo kal diperlukan. Idealnya pro t eksi
cadangan t erpisah dengan pro t eksi ut ama. CT, PT , rele bant u, ko il pemut usan dan
suplai dc juga digandakan. Ko ndisi ini sedikit sukar dit erapkan. Tipikal ko mpro mi yang
sering menjadi pilihan adalah sebagai berikut :

a. CT Terpisah ( hanya belit an sekunder dan int i) digunakan u nt uk masing- masin g
rele pro t eksi. Cara ini hanya memerlukan t ambahan dan ruang yang lebih besar
akibat penggunaan ko mbinasi burden.
b. Menggunakan PT Bersama. Mengingat bahwa keamanan keluaran PT sangat
pent ing, karena it u dibut uhkan supali daya t erpisah unt uk masing- masing rele dan
dilengkapi dengan sist em pemant au kegagalan suplai daya dengan memasang rele
pemant au yang akan mengakt ifkan alarm bila t erjadi kegagalan pada suplai daya dan
juga o perasi yang t idak diharapkan pada sist em pro t eksi.
c. Suplai Pemut us Terpisah bagi kedua sist em pro t eksi. Duplikasi bat ere dan ko il
pemut us pada PMT juga diperlukan. Rangkaian harus dipant au secara ko nt inyu.
d. Pro t eksi Ut ama dan Cadangan ( at au duplikasi pro t eksi ut ama) harus bero perasi
dengan prinsip yang berbeda, sehingga pada saat t erjadi gangguan yang
mengakibat kan kegagalan pada salah sat u sist em, maka sist em lainnya t idak
mengalami hal yang sama.


1.10 FAKTOR- FAKTOR YAN G MEMPEN GARUHI SISTEM PROTEKSI

Ada 4 fakt o r ut ama yang mempengaruhi suat u sist em pro t eksi, yait u:

1. 10 . 1 Eko no mi

Masalah eko no mi merupakan masalah pent in g. Pro t eksi t idak menghasilkan sesuat u
dan t idak dibut uhkan pada ko ndisi no rmal, sayangnya gangguan dan masalah t idak
selalu muncul, jadi dapat dengan mudah diput uskan unt uk t idak membuang- buan g
uang unt uk pro t eksi bila t idak ada masalah. Set iap engineer berharap sist em pro t eksi
t idak dibut uhkan, namun bila muncul ganggu an, pro t eksi menjadi sangat vit al dan
berart i.


1. 10 . 2 Fakt o r Perso nalit as

Apa, bilamana, dan dimana ko ndisi yang t idak diharapkan akan t erjadi pada sist em
t enaga hampir t idak mun gkin diramalkan, dan kemun gkinan t erjadi sangat t idak
t erbat as. Dengan demikian engineer harus mampu mendesain suat u sist em pro t eksi
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 13
yang dapat men gat asi semua kemu ngkinan yan g t erjadi berdasarkan perhit ungan dan
pengalaman masa lampau. Hal ini menjadikan pro t eksi sebagai sebuah SEN I selain
sebagai SCIEN CE. Meskipun t elah banyak t ekno lo gi yang dikembangkan, dan sist em
pro t eksi yang disarankan namu n belum ada st andard yang berlaku u nt uk it u. Jadi
sist em pro t eksi sangat merepleksikan perso nalit as dari engineer yang mendesainnya.


1. 10 . 3 Lo kasi Pemut us dan Peralat an Masukan

Pro t eksi hanya dapat dit erapkan dimana PMT at au peralat an pemut us lain dan CT
besert a PT berada guna mengiso lir dan meman t au info rmasi mengenai gangguan dan
masalah dalam sist em t enaga.


1. 10 . 4 Indikasi Gangguan

Masalah, gangguan dan ko ndisi yang t idak dapat dit o lerir harus memiliki perbedaan
yang signifikan dengan ko ndisi no rmal dan mampu dit o lerir. Beberapa sinyal at au
perubahan besaran harus mampu dit angani dan rele dapat mendet eksi perubahan it u.
Besaran- besaran yang harus dit angani ant ara lain : arus, t egangan, impedansi, reakt ansi,
daya, fakt o r daya, arah arus at au daya, frekuensi, t emperat ur, dan t ekanan. Perubahan
yang cu kup signifikan dari besaran diat as mun gkin menjadi indikasi adanya masalah
at au ko ndisi t idak no rmal dan rele harus dapat bero perasi.

Kunci dari selekt ivit as dan aplikasi pro t eksi yang pert ama adalah menent ukan besaran
apa yang harus dit angani unt uk membedakan keadaan no rmal dan t idak no rmal. Dari
info rmasi ini, rele at au sist em rele dapat menent ukan apakah harus bereaksi at au t idak.
Jika t idak t erdapat perbedaan yang cukup signifikan ant ara ko ndisi no rmal dan t idak
no rmal, maka pro t eksi t idak mungkin bereaksi. Co nt o h yan g serin g t erjadi pada sist em
dist ribusi. Pada saat t erjadi accident at au keadaan yang mengakibat kan jaringan t er-
energize at au t erjadi hubung t anah, hal ini t idak bo leh t erjadi, namun bila gangguan ini
sangat kecil at au mendekat i no l, sedangkan besaran lain t idak berubah, maka dalam
ko ndisi ini t idak sat upun rele yang mampu mendet eksinya.


1.11 KLASIFIKASI RELE

Rele dapat diklasifikasikan dengan berbagai cara, sepert i berdasarkan fungsi, masukan,
karakt erist ik kerja at au berdasarkan prinsip o perasi. Berdasarkan fungsi, ada 5 fungsi
dasar rele, yait u:

1. 11. 1 Rele Pro t eksi

Rele pro t eksi dan sist em pendukungnya sert a fuse bero perasi bila t erjadi ket idak
no rmalan pada sist em. Rele pro t eksi digunakan pada semua bagian dari sist em t enaga
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 14
list rik, yait u mulai dari generat o r, bus, t ransfo rmat o r, sist em Transmisi, sist em Dist ribusi
dan Penyulang, Mo t o r, Beban, Bank kapasit o r, Reakt o r, dan sebagainya.


1. 11. 2 Rele Regulasi

Rele jenis ini berhubungan dengan sist em pengendalian peubah Tap t ransfo rmat o r dan
gaverno r. Rele ini digunakan pada ko ndisi no rm al dan t idak bereaksi bila ada gangguan
kecuali bila gangguan yan g t erjadi berlangsung cukup lama.


1. 11. 3 Rele Sinkro nisasi dan Reclo ser

Rele sinkro nisasi, penguji sinkro nisasi, dan reclo ser adalah t ipe rele yang t ermasuk
sebagai pro gramming. Rele jenis ini digunakan unt uk keperluan energize at au
rest o ring jaringan set elah gangguan guna men ghubungkan bagian sist em set elah sist em
deenergize.


1. 11. 4 Rele Pemant au

Rele jenis ini dipergunakan u nt uk verifikasi ko ndisi sist em at au ko ndisi rele pro t eksi.
Rele digunakan unt uk memant au gangguan, t egangan sist em, arah daya/ arus, namu n
t idak secara langsung mendet eksi gangguan. Dalam sist em pro t eksi, rele ini dibut uhkan
unt uk memant au ko nt inuit as sirkit sepert i pada pilo t wire at au sirkit t riping. Alarm juga
memiliki fungsi mo nit o ring pula.


1. 11. 5 Rele Bant u

Unit - unit bant u yang digunakan sepenuhnya pada sist em prot eksi pemakaiannya
sangat bervariasi. Secara umum ada 2 kat ago ri, yait u: co nt act mult iplicat io n dan circuit
iso lat io n. Dalam sist em rele dan sist em kendali rele bant u diperlukan unt uk:

a. Memperbanyak keluaran gu na keperluan m ult i t ripping, alarm, dan mengo perasikan
peralat an lain.
b. Ko nt ak- ko nt ak yang akan melayani arus dan t egangan t inggi pada sist em sekunder.
c. Iso lasi elekt rik dan mekanik pada sirkit sekunder.


1. 11. 6 Klasifikasi Lain Rele

Rele dapat pula diklasifikasikan berdasarkan masukan yang diberikan, sepert i arus,
t egangan, frekuensi dan t hermis. Rele dapat juga diklasifikasikan berdasarkan prinsip
o perasinya, sepert i: elekt ro mekanik, so lid st at e, digit al, diferensial percent age,
mult ist raint dan unit pro duct . Berdasarkan karakt erist ik kerja rele dapat dibedakan at as:
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 15
rele jarak, reakt ansi, direct io nal o vercurrent , inverse t ime, phase, gro und, definit e, high
speed, slo w speed, phase co mpariso n, o ver- current , under/ o ver vo lt age.


1.12 UN JUK KERJA RELE

Sangat lah sulit unt uk menent ukan secara specifik at au mengevaluasi unjuk kerja rele
dengan t eknik st at ist ik. Sepert i yang dikemukakan, rele t erhubung pada sist em t enaga
dan energize, t et api rele t idak akt if ( dalam mo de diam) sampai suat u ko ndisi yang t idak
diinginkan t erjadi pada zo na o perasin ya. Jadi t idaklah mun gkin unt uk menget ahui dari
pengalaman at au ko ndisi no rmal apakah sebuah rele akan bereaksi dengan benar dan
bero perasi dengan benar pada keadaan yang dibut uhkan. Hal ini menjadi alasan ut ama
mengapa pemeliharaan sist em rele sangat dibut uhkan. Dengan t ingkat gangguan yan g
relat if rendah, muncul pert anyaan akankah rele bekerja secara benar bila gangguan
t erjadi ?Apabila t erjadi kegagalan at au ko ndisi yang t idak diinginkan pada sist em
t enaga, maka bukt i bahwa rele bekerja belum akan didapat sampai kejadian berikut nya
t erjadi. Oleh karena it u, pemeliharaan rele hanyalah unt uk menjamin rele dapat bekerja,
bukan unt uk memperbaiki kesalahan. Tidak heran bila ada rele yang t elah digunakan
lebih dari 40 t ahun.

Apabila t erjadi gangguan pada sist em t enaga, rele ut ama diharapkan bekerja dan
mengiso lir gangguan. N amun demikian, rele- rele yang daerah o perasinya berada
disekit ar t it ik gangguan akan menerima sinyal gangguan dan mulai pula bereaksi. Rele-
rele ini t idak akan menginisiasi pembukaan PMT apabila rele ut ama mampu bekerja
secara benar. Info rmasi mengenai unjuk kerja rele cadangan ini t idak akan didapat
apabila rele t idak t rip, namun demikian rele ini t et ap pent ing. Hampir semua sist em
pro t eksi mampu merespo n gangguan yan g t erjadi, t et api hanya 1 rele yang sebet ulnya
mengakt ifkan t riping ko il dari PMT meski t idak ada bukt i t ent ang ini. Unjuk kerja rele
t erdo kument asi apabila ada bukt i yang memperlihat kan t ent ang it u. Unjuk kerja dapat
digo lo ngkan dalam 3 kat ago ri ut ama, yait u:

1. 12. 1 Operasi Benar

Operasi benar diperlihat kan o leh:

Paling sedikit t erdapat 1 buah rele primer yang bero perasi dengan benar.
Tidak ada sat upun rele cadangan yang bekerja karena gangguan yan g sama.
Areal gangguan dapat diiso lir secepat yang diharapkan.

Hampir 99% at au hampir semua rele bero perasi dengan benar dan diingin kan, yait u
sesuai dengan ren cana dan pro gram. Operasi yang benar t api t idak diingin kan
menjelaskan beberapa kasus rele dan peralat an pendukungnya bekerja namun
o perasinya t idak diharapkan. Sebagai co nt o h t erjadinya black- o ut t ot al pada suat u
sist em, hal ini sebet ulnya t idak diharapkan.


Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 16
1. 12. 2 Operasi Salah

Operasi yang salah dapat t erjadi akibat kesalahan at au kegagalan fungsi at au o perasi
sist em pro t eksi yang t idak diharapkan. Ko ndisi ini dapat menyebabkan pengiso liran
yang t idak dibut uhkan. Alasan t erjadinya o perasi t idak benar dapat berupa sat u at au
beberapa ko mbinasi hal- hal berikut ini:

Aplikasi rele yang salah.
Set t ing yang salah
Kesalahan perso nal
Masalah peralat an at au kegagalan ( rele, breaker, CT, PT, bat ere, wiring, pilo t
channel, auxilliary, et c) .


1. 12. 3 Tanpa Kesimpulan

Tanpa kesimpulan merujuk kepada kasus dimana sat u at au beberapa rele nampaknya
bero perasi yang dibukt ikan den gan t erbukanya PMT, t et api t idak ada penyebab yang
dapat dipast ikan. Tidak ada bukt i sist em mengalami masalah at au gangguan, t idak ada
kerusakan peralat an. Kasus t anpa kesimpulan membut uhkan invest igasi yang cuku p
lama dan pada umu mnya kasus ini t idak dicat at dan dilapo rkan. N amun demikian,
penggunaan peralat an mo dern, sepert i o scillo graph dan dat a reco rding membukt ikan
at au menjadi kunci bukt i t erjadinya hal t ersebut .


1.13 IN FORMASI UN TUK APLIKASI RELE

Aspek t ersulit yang kerap dit emui dalam penggunaan rele adalah akurasi yang
dibut uhkan. Hal ini sangat berart i dan meno lo n g dalam so lusi prakt is dan dibut uhkan
bagi perso nal yang t erlibat dalam menyelesaikan masalah yan g mu ngkin ada. Beberapa
info rmasi yang dibut uhkan, ant ara lain:
1. 13. 1 Ko nfigurasi Sist em

Diagram segaris dari sist em t enaga, at au diagram t iga fasa dan wiring diagram sist em
secara lengkap dibut uhkan. Lo kasi PMT, CT, VT, Generat o r, Bus/ Rel, dan sebagainya
harus t ergambar secara jelas dan lengkap.


1.13. 2 Impedansi dan Hubungan Ant ar Peralat an, Frekuensi, Tegangan
Dan Urut an Fasa Sist em

Info rmasi mengenai besaran frekuensi, t egangan dan urut an fasa sert a paramet er lain
dibut uhkan pula dalam aplikasi rele. Info rmasi ini umumnya t ergabun g dalam
ko nfigurasi sist em

Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 17
1. 13. 3 Masalah dan Pro t eksi Terpasang

Apabila inst alasi sist em t enaga baru t erpasang, maka dat a ini mungkin t idak ada, namu n
harus diket ahui. Info rmasi mengenai pro t eksi yang t elah ada dan masalah yang ada
harus diket ahui agar updat e at au penambahan yang dilakukan dapat lebih baik.


1. 13. 4 Pro sedur Operasi dan Pemakaian

Penambahan at au perubahan harus diko nfirmasikan pada sist em yang ada, pro sedur dan
keinginan yan g akan mempen garuhi pro t eksi.


1. 13. 5 Pent ingnya Peralat an Yang Dipro t eksi

Hal ini seringkali diperlihat kan o leh ukuran dan level t egangan sist em. Co nt o h, sist em
Transmisi t egangan t inggi umum nya dipro t eksi o leh pilo t pro t ect io n kecepat an t inggi
dan sist em t egangan rendah dipro t eksi dengan t ime o vercurrent . N amun demikian, hal
ini harus diklarifikasi sebagai kebut uhan sist em. Secara umum dapat dikat akan, semakin
pent ing peralat an yang dilindungi semakin cepat pro t eksi yang dibut uhkan.


1. 13. 6 Analisis Gangguan Sist em

St udi gangguan sangat pent ing dalam aplikasi sist em pro t eksi. Unt uk pro t eksi gangguan
fasa dibut uhkan st udi gangguan t iga fasa, sedangkan unt uk pro t eksi gan gguan- t anah
diperlukan st udi gangguan sat u fasa ke t anah. St udi harus mencakup t egan gan urut an
no l dan t egan gan/ arus urut an negat if. Hal ini dibut uhkan t erut ama bila senso r arah
gangguan t anah diperlukan. Pada jaringan, info rmasi mengenai besar gangguan dari sisi
ujung jarin gan pada saat breaker t erbuka diperlukan dalam banyak kasus. Arus yan g
t ercat at haruslah arus yang akan melalui rele at au fuse bukan arus gangguan t o t al yang
t erjadi. St udi harus mencant umkan sat uan dan besaran yang ada dan digunakan.


1.13.7 Beban Maksimum dan Bat asan Ayunan Sist em

Beban maksimum yang diperbo lehkan lewat pada peralat an dalam wakt u singkat at au
dalam o perasi darurat , dimana peralat an pro t eksi t idak bo leh bekerja harus dinyat akan
secara khusus. Apabila diket ahui, maksimum ayu nan sist em dimana sist em t enaga dapat
bert ahan set elah t erjadi gangguan t ransien t ersebut perlu dicant umkan.


1.13. 8 Lo kasi CT dan PT, Rat io dan Hubungannya

Dat a ini biasanya t elah diperlihat kan pada diagram sat u garis sist em, namun dat a yang
ada biasanya t idak lengkap at au kurang jelas. Apabila t erdapat peralat an mult i rat io ,
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 18
maka rat io at au t ap yang harus digu nakan harus pula dinyat akan den gan jelas.
Pent anahan dari PT at au peralat an lain yang bert egangan harus din yat akan dengan jelas
pula.


1. 13. 9 Pengembangan Sist em Kedepan

Perkembangan sist em at au perubahan yang mu ngkin akan diren canakan t erjadi harus
pula t erident ifikasi.

1. 14 TATAN AMA DAN N OMOR PERALATAN

Tat anama dan singkat an sering digunakan di Amerika. Fungsi dari berbagai t ipe rele dan
peralat an lain diident ifikasikan dengan menggunakan st andar t at anama AN SI/ IEEE
sebagai berikut . Fasa dari sist em t iga fasa dit andai dengan huruf A, B, C at au a, b, c at au
r, s, t ( Ero pa) . Penggunaan angka 1, 2, 3 dihindarkan, karena angka- angka ini
dipergunakan pula unt uk mengident ifikasi hal lainnya. Angka 1 unt uk men gident ifikasi
urut an po sit if, angka 2 u nt uk urut an negat if. Huruf kapit al dipergunakan disisi
masukan dari bank t ransfo rmat o r, sedangkan pada sisi lain digunakan huruf kecil.

Peno mo ran dengan menggunakan akhiran ( suffix) lebih disukai dalam ident ifikasi
fungsi dasar dari peralat an list rik, sepert i: PMT, rele, saklar dan set erusnya. Bila peralat an
dengan t ipe sama digunakan dalam sirkit at au sist em yang sama, maka unt uk
membedakannya dit ambahkan an gka/ n o mo r unt uk ident ifikasinya. Huruf yang
disert akan set elah no mo r ident ifikasi peralat an merupakan info rmasi t ambahan dalam
penggunaan peralat an t ersebut . Sayangnya hal ini men yebabkan huruf yang sama
digunakan den gan ko no t asi dan art i yang sangat berbeda. Namun demikian hal ini
dapat diket ahui dengan mudah dari aplikasinya.

Huruf- huruf dan singkat an berikut sering digunakan sebagai berikut :
A Alarm
AC o r ac Arus bo lak balik
B Rel, bus, bat ere, blo wer
PB Bypass
BT Bus t ie
C Arus, clo se, co nt ro l, capacit o r
CC Clo sing co il, co upling capcit o r
CS Co nt ro l swit ch, co nt act o r swit ch
CT Current t ransfo rmer
CCTV Co upling capacit o r vo lt age device
D Do wn, direct , discharge
DC/ dc Direct current
E Excit er, excit at io n
F Field, feeder, fan
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 19
G* Gro und, generat o r
GN D Gro und
H Heat er, ho using
L Line, lo wer, level, liquid
M Mo t o r, met ering
MOC Mechanism- o perat ed co nt act
MOS Mo t o r- o perat ed swit ch
N * N eut ral, net wo rk
N C N o rmally clo sed
N O N o rmally o pen
O Open
P Po wer, pressure
PB Pushbut t o n
PF Po werfact o r
R Raise, react o r
S Speed
T Transfo rmer, t rip
TC Trip Co il
U Up
V Vo lt age, vacuum
VAR React ive Po wer
VT Vo lt age Transfo rmer
W Wat t s, wat er
X,Y,Z Auxiliary relay

N o mo r peralat an yang sering digunakan diberikan dalam daft ar berikut ini. Secara
lengkap no mo r peralat an yang umum digunakan diberikan dalam st andar IEEE C37.2-
1979.
1 Mast er element : umumnya digunakan unt uk peralat an yang dio perasikan
manual. Yang u mum menggunakan adalah PMT t ipe spring ret urn t o cent er
co nt ro l swit ch, dimana ko nt ak saklar adalah 10 1T ( t rip) , 10 1c ( clo se) , 10 1SC
( t ert ut up bila t urned t o clo se dan t et ap t ert ut up bila dibuka, t erbuka bila t urned
t o t rip dan t et ap t erbuka bila dibuka) . Apabila t erdapat beberapa breaker,
breaker ini diident ifikasikan dengan menggunakan no mo r 10 1, 20 1, 30 1 dan
set erusnya.
2 Time delay st art ing at au clo sing relay: kecuali unt uk fun gsi- fungsi peralat an
dengan no mo r ident ifikasi 48, 62 dan 79.
3 Checking at au int erlo cking relay.
4 Mast er co nt act o r
5 St o ping device
6 St art ing circuit breaker.
7 Ano de circuit breaker
8 Co nt ro l po wer disco n nect ing device
9 Reversing device
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20
10 Unit sequence swit ch
11 Overspeed device
12 Synchro n o us- speed device
13 Underspeed device
14 Speed at au frequency mat ching device
17 Shunt ing at au discharge swit ch
18 Accelerat ing at au decelerat ing device
19 St art ing t o running t ransit io n co nt act o r
20 Elect rically o perat ed valve
21 Dist ance relay
22 Equalizer circuit breaker
23 Temperat ure co nt ro l device
24 Synchro nizing at au synchro nism check device
25 Apparat us t hermal device
26 Undervo lt age relay
27 Flame det ect o r
28 Iso lat ing co nt act o r
29 Annunciat o r relay
30 Separat e excit at io n device
31 Direct io nal po wer relay
32 Po sit io n swit ch
33 Mast er sequence device
36 Po larit y at au po larizing vo lt age device
37 Undercurrent at au underpo wer relay
40 Field relay
41 Field circuit breaker
42 Running circuit breaker
43 Manual t ransfer o r select o r device
46 Reverse- phase at au phase balance relay
47 Phase sequence vo lt age relay
48 Inco mplet e sequence relay
49 Machine at au t ransfo rmer t hermal relay
50 Inst ant aneo us o vercurrent at au rat e o f rise relay
51 Ac t ime o vercurrent relay
52 Ac circuit breaker: dengan mekanisme pembukaan ko nt ak sebagai berikut :
a) 52a, 52aa: t erbuka bila ko nt ak- ko nt ak breaker t erbuka, t ert ut up bila
ko nt ak- ko nt ak breaker t ert ut up.
b) 52b, 52bb : t ert ut up bila ko nt ak- ko nt ak breaker t erbuka, t erbuka bila
ko nt ak- ko nt ak breaker t ert ut up. ( 52aa dan 52 bb bero perai hanya sebagai
mekanisme pergerakan st art dan dikenal sebagai ko nt ak berkecepat an t inggi)
53 Excit er at au dc generat o r relay
55 Po wer fact o r relay
56 Field applicat io n relay
57 Sho rt circuit t ing o r gro unding device
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 21
58 Overvo lt age relay
59 Vo lt age at au current balance relay
62 Time delay st o pping at au o pening relay
63 Pressure swit ch
64 Gro und det ect o r relay
65 Go verno r
66 N o t ching at au jo gging device
67 AC direct io nal o vercurrent relay
68 Blo cking relay
69 Permissive co nt ro l device
70 Rheo st at
71 Level swit ch
72 DC circuit breaker
73 Alarm relay
76 DC o vercurrent relay
77 Pulse t ransmit t er
78 Phase angle measuring at au o ut o f st ep pro t ect ive relay
79 AC reclo sing relay
80 Flo w swit ch
81 Frequency relay
82 DC reclo sing relay
83 Aut o mat ic select ive co nt ro l at au t ransfer relay
84 Operat ing mechanism
85 Carrier at au pilo t wire receiver relay
86 Lo cko ut relay
87 Different ial pro t ect ive relay
88 Line swit ch
89 Regulat ing device
90 Vo lt age direct io nal relay
91 Vo lt age and po wer direct io nal relay
92 Field changing co nt act o r
93 Tripping at au t rip free relay.


1.15 DEFIN ISI DAN TERMIN OLOGI

Beberapa definisi dan t ermino lo gi pent ing yang sering digunakan dalam pembahasan
t ent ang sist em pro t eksi ant ara lain:

Burden
Pengenaan beban o leh rangkaian rele pada sumber daya at au sumber yang
dinyat akan dengan perkalian ant ara t egangan dan arus ( VA at au Wat t ) dalam
berbagai ko ndisi, baik dalam penyet elan at aupun dalam rat ing arus at au t egangan.
Rat ing keluaran dari t ransfo rmat o r pengukuran dinyat akan dengan VA dan selalu
dalam rat ing arus at au t egangan. Besaran sangat pent ing, yang menyat akan
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 22
kemampuan pengenaan beban o leh rele, dan pengenaan ini harus selalu dalam
bat asan rat ing arus yang ada.

Diskriminasi
Kualit as dimana sist em pro t eksi mampu membedakan ant ara ko ndisi dimana rele
bero perasi at au rele t idak harus bero perasi.

Dro p- Out
Rele dikat akan dro p- o ut bila rele bergerak dari po sisi energise kepo sisi sebaliknya.

Dro p- Out at au Rat io Pick- up
Rat io ant ara harga bat as dari besaran karakt erist ik dimana rele reset dan bero perasi.
Harga ini seringkali disebut harga diferensial rele.

Kuant it as Energisin g
Besaran elekt rik, baik arus at au t egangan baik secara t erpisah at aupun ko mbinasi
keduanya yan g dapat menjadi besara energising yan g dapat dit erapkan sebagai
penggerak rele agar rele dapat pick- up.

Karakt erist ik Wakt u Operasi
Kurva yang memperlihat kan hubungan ant ara berbagai perbedaan harga dari
besaran karakt erist ik yang dapat dit erapkan kepada rele dan relasi wakt u o perasi dari
besaran yang dit erapkan t ersebut .

Kurva Karakt erist ik
Kurva yang memperlihat kan besaran- besaran o perasi dari besaran karakt erist ik yang
berhubungan dengan berbagai variasi harga at au ko mbinasi dari besaran- besaran
energising

Penyet elan Efekt if
Penyet elan dari sebuah sist em pro t eksi yang t elah mempert imbangkan pengaruh
CT. Penyet elan efekt if dapat dinyat akan dalam t ermino lo gi besaran arus primer at au
arus sekunder dari CT yang didesain unt uk keperluan t ersebut ..

Pro t eksi Ut ama
Sist em pro t eksi yang diharapkan akan bero perasi pada saat t erjadi gangguan dalam
daerah pro t eksinya.

Pick- Up
Rele dikat akan pick- up bila rele berubah dari un- energise menjadi energise.

Peralat an Pro t eksi
Peralat an, t ermasuk rele pro t eksi, t ransfo rmat o r dan peralat an bant u lain yan g
dipergunakan dalam suat u sist em pro t eksi.
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 23
Penyet elan
Harga t erendah dari besaran karakt erist ik at au energising yan g diperlukan rele unt uk
dapat bero perasi dalam berbagai ko ndisi khusus. Beberapa harga biasanya dinyat akan
unt uk rele t ersebut dan dinyat akan dalam harga langsung, persen at au rat ing at au
mult iples.

Pro t eksi Unit
Suat u sist em pro t eksi yang didesain unt uk hanya bero perasi pada ko ndisi t idak
no rmal dengan zo na perlindun gan yang t erdefinisi secara jelas.

Rele Inst ant aneo us
Sebuah rele yang bero perasi dan reset t anpa memerlukan wakt u t unda.
Cat at an: Set iap rele memerlukan wakt u unt uk bero perasi, karena it u definisi diat as
dapat didiskusikan sesuai dengan karakt erist ik o perasinya.

Rele Inverse Time Delay
Rele t ipe ini memiliki wakt u o perasi berbanding t erbalik dengan fungsi besaran
karakt erist ik elekt rik rele t ersebut .

Rele Bant u
Beban yang dit imbulkan o leh rangkaian yang t erhubung

Rele Pro t eksi
Suat u rele yang didesain unt uk dapat menginisiasi pemut usan bagan sist em t enaga
elekt rik at au unt uk memberikan sinyal, pada saat t erjadi gangguan at au ko ndisi
t idak no rmal. Rele pro t eksi juga t ermasuk lebih dari sat u unit rele elekt rik dan
aseso ries lainnya.

Sist em Pro t eksi Gangguan Tanah
Suat u sist em pro t eksi yang didesain hanya akan bereaksi bilamana t erjadi gangguan
t anah pada sist em t ersebut .

Wakt u Operasi
Dengan rele de- energisi dan dalam ko ndisi awalnya, wakt u yang dibut uhkan ant ara
saat besaran karakt erist ik dirasakan dan saat dimana rele bero perasi.

Wakt u Tunda
Wakt u yang dibut uhkan unt uk menunda o perasi sebuah sist em rele.

Zo na Pro t eksi
Bagian dari suat u pro t eksi sist em t enaga yang diberi suat u sist em pro t eksi at au
bagian dari suat u sist em pro t eksi.


Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 24
1. 16 SISTEM KON TAK RELE

Terdapat dua t ipe sist em ko nt ak rele, yait u:

a. Reset Sendiri
Ko nt akt o r t et ap bekerja selama besaran pengendalinya dit erapkan dan akan kembali
kepo sisi awal bilamana besaran pengendali hilang at au berkurang

b. Reset Elekt ris at au Manual
Ko nt akt o r akan t et ap dalam po sisi o perasi meskipun besaran pengen dali t elah hilang
at au berkurang. Ko nt ak dapat dikembalikan kepo sisi awal dengan cara manual at au
dengan bant uan elemen elekt ro magnet is
















Gambar 1- 10 : In dikasi dari ko n t ak- ko n t ak dalam sebu ah diagram

Kebanyakan elemen rele pro t eksi merupakan t ipe reset sendiri dan bila diperlukan dapat
dibuat ko nt ak keluaran yang reset manual. Rele dengan ko nt ak t ipe reset manual
dibut uhkan unt uk menjaga sinyal t et ap ko nt inyu at au unt uk pengun cian. Ko nt ak-
ko nt ak pada diagram digambarkan dalam po sisi yang berhubungan dengan t idak
bero perasinya at au de- energise. Ko nt ak pembuat adalah suat u po sisi t ert ut up bila rele
pick- up, dimana ko nt ak membuka adalah ko ndisi menut up pada saat rele de- energise
dan t erbuka saat rele pick- up. Co nt o h dari ko nvensi ini diperlihat kan pada Gambar 1- 10


1. 17 IN DIKATOR OPERASI

Sebagai pet unjuk bagi perso nel sist em t enaga elekt rik, sist em pro t eksi dilengkapi pula
dengan indikat o r. Menurut st andar Inggris indikat o r ini disebut flag, sedangkan
Amerika menyebut nya sebagai t arget . Tidak set iap keadaan rele diberi indikat o r.
Hanya ko ndisi o perasi pemut usan saja yang diberi indikat o r. Dengan beberapa
pengecualian, umumnya digu nakan ko mpo nen bist able unt uk keperluan ini, baik yang
bero perasi secara mekanis maupun elekt ris. Indikat o r mekanis t erdiri dari sebuah jendela
kecil yang dapat membuka at au menut up guna menunjukkan ko ndisi o perasi rele.
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 25
Sebagai flag biasanya digunakan st riping diago nal berwarna merah den gan lat ar
belakang put ih. Indikat o r elekt rik sederhana berupa elemen jangkar yang akan t ert arik
bila rele energise. Jangkar akan membuka jen dela unt uk menandai o perasi t ersebut .
Alt ernat if indikat o r lain berupa silinder magnet is permanen.


1. 18 TIPIKAL HUBUN GAN RELE DAN PMT

Rele pro t eksi yang digunakan dihubungkan ke sist em t enaga elekt rik melalui CT dan
at au VT. Peralat an masukkan ini at au t ransfo rmat o r- t ransfo rmat o r ini digunakan
unt uk memisahkan rele dari sist em yang bert egangan t inggi dan mengu rangi
magnit ude t egangan at au arus sampai level sekunder sesuai dengan kemampuan rele
pro t eksi. Secara skemat is t ipikal hubungan rele pro t eksi dan PMT diperlihat kan dalam
Gambar 1- 11 berikut . Dalam Gambar dit unjukkan diagram skemat ik dari o n line ac
dan skemat is sirkit t riping dc.

Sist em rele pro t eksi dihubungkan ke sist em t enaga elekt rik melalui CT yang umumnya
disert ai dengan PMT dan bila dibut uhkan juga dilengkapi VT ( PT) . Dalam gambar
keduanya digu nakan pada rel daya Gardu, namun pada sist em t egan gan t inggi, VT
dihubungkan pada jaringan Transmisi. PMT didalam gambar diberi no mo r 52 sesuai
dengan sist em peno mo ran st andar AN SI/ IEEE.

Pada dc skemat ik, ko nt ak- ko nt ak selalu diperlihat kan dalam po sisi de- energise Dengan
demikian bila PMT t ert ut up dan dalam keadaan bero perasi, ko nt akt o r 52a t ert ut up.
Pada saat t erjadi gangguan yang diikut i dengan bero perasinya sist em rele, ko nt ak
keluaran rele menut up dan akan menyebabkan ko il t rip PMT 52T energize, yang
fungsinya membuka ko nt ak- ko nt ak PMT dan memut uskan sirkit daya yan g
dihubungkan o leh PMT t ersebut .
















Gambar 1- 11: Tipikal hu bu n gan rele pro t eksi dan Pemu t u s Ten aga

Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 26
Ko nt ak- ko nt ak rele t idak didesain unt uk memut uskan arus ko il t riping PMT, jadi
dalam prakt eknya digunakan rele bant u CS yang berfungsi sebagai seal in at au bypass
dari ko nt ak- ko nt ak rele sepert i diperlihat kan dalam gambar. Bila PMT t erbuka, saklar
52a akan t erbuka unt uk deenergize ko il t riping 52T. Int erupsi gangguan yan g
dikerjakan o leh PMT akan membuka ko nt ak- ko nt ak rele pro t eksi sebelum membuka
ko nt ak 52a.

Ko nt akt o r Bant u ( CS) yang dipergunakan sebagai suplemen dalam sebuah sist em
pro t eksi rele dapat dihubungkan dengan t iga cara, yait u:

a. Series sealing
Ko il dari ko nt akt o r serial membawa arus pemut us yang diinisiasi o leh rele pro t eksi
dan ko nt akt o r akan menut up ko nt ak- ko nt ak yang t erpasang paralele dengan
ko nt ak- ko nt ak rele pro t eksi. Keadaan ini mem buat ko nt ak- ko nt ak rele pro t ekt if
t et ap pada po sisinya dan menjaga agar rangkaian pemut us t et ap t ert ut up, meski
t erjadi get aran pada ko nt ak ut amanya. Tidak ada wakt u t ambahan unt uk o perasi dan
indikat o r t idak akan bero persai sampai arus bet ul- bet ul melewat i ko il pemut usan.
Kelemahan dari met o da ini adalah semua elemen seri harus memiliki keco co kan
dengan rangkaian pemut us.

b. Shunt reinfo rced
Disini dipergunakan ko nt ak sensit if yang diat ur unt uk memut us PMT dan secara
simult an meng- energise unit t ambahan, yang kemudian mendo ro ng ko nt ak-
ko nt ak yang akan meng- energise ko il pemut u s. Harus dicat at bahwa dibut uhkan
dua ko nt ak unt uk kebut uhan rele pro t eksi, karena t idak diperkenankan unt uk
mengenergise ko il pemut us dan ko nt akt o r penguat secara paralel. Jika hal ini
t erjadi, dan lebih dari sat u rele pro t eksi yang t erhubung pada ko il pemut us PMT
yang sama, seluruh rele bant u akan energise secara paralel unt uk set iap o perasi rele
dan indikat o r akan membingu ngkan. Duplikasi ko nt ak ut ama kerap dipergu nakan
unt uk menguran gi jumlah t it ik ko nt ak.

c. Shunt reinfo rced wit h sealing.
Ini adalah pengembangan dari cara b, agar memungkin kan rele dengan t o rka rendah
dapat digunakan at au dimana dapat t erjadi kemungkinan munculnya lo ncat an
bunga api pada ko nt ak at au unt uk alasan lain.

Tipe- t ipe peralat an int erupt o r yang bero perasi secara baik berdasarkan arus lebih yang
lewat selama gangguan at au at as dasar o perasi dc t rip ko il. Tipe pert ama didesain sebagai
t rip seri, direct act ing, direct release, indirect release dan o ver current release. Pada
mumnya semua built - in pada unit rele arus lebih, dimana level arus yan g dipilih dapat
disesuaikan. Tipe- t ipe ini umumnya digunakan pada sist em t egangan rendah. Pada
sist em t egangan t inggi, set iap Gardu dimana rele t erpasang dilengkapi dengan bat ere
yang berfungsi sebagai cat u daya bagi t rip ko il. Suplai dc ini menjadi salah sat u bagian
yang amat pent ing dalam sist em pro t eksi dan memerlukan perhat ian dan t ingkat
pemeliharaan yang t inggi u nt uk menjaga t in gkat keandalannya. Kebanyakan rele
Satuan-Satuan Dasar
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 27
pro t eksi dikemas sebagai suat u unit fasa individual dan unit gro und, sehingga unt uk
sist em t iga fasa dan gangguan t anah dibut uhkan 4 buah rele. Dalam Gambar 1- 12
diperlihat kan t ipikal hubungan rele t ersebut .



















Gambar 1- 12 : Tipikal hu bu n gan rele- rele Fasa dan rele Tan ah u n t u k pro t eksi sist em t en aga



















Satuan-Satuan Dasar

RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 28
BAB 2
SATUAN- SATUAN DASAR: HARGA PERUN IT DAN PERSEN



2. 1 PEN DAHULUAN

Sist em t enaga elekt rik bero perasi pada t egangan t ert ent u. Umumnya sat uan yang
dipergunakan u nt uk menyat akan besaran t egangan ini adalah kilo vo lt ( kV) . Sist em
sepert i ini berfungsi pula unt uk unt uk mendist ribusikan sejumlah besar daya elekt rik.
Sat uan yang dipergu nakan unt uk menyat akan daya elekt rik ini adalah kilo vo lt - ampere
( kVA) dan megavo lt - ampere ( MVA) . Besaran- besaran ini, dan besaran lain sepert i
kilo wat t ( kW) , kilo vars ( kVAR) , ampere ( A) , Ohm ( ) , fluks dan lainnya biasanya
dinyat akan dalam per- unit ( pu) at au dalam persen ( %) dari harga dasarnya at au harga
acuannya. Penggunaan besaran pu dan persen kerap digunakan karena mudah
menyat akan dan menghit un gnya, t erut ama bila t erdapat perbedaan level t egangan dan
ukuran peralat an dalam sist em t ersebut .



























Gambar 2 - 1: Tipikal jarin gan Sist em Ten aga Elekt rik

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 29
Ko mpo nen ut ama dari sebuah sist em t enaga elekt rik adalah sist em pembangkit an,
sist em Transmisi dan sist em Dist ribusi. Tipikal sebuah sist em t enaga elekt rik
diperlihat kan dalam Gambar 2- 1. Insinyur sist em t enaga elekt rik sangat memperhat ikan
o perasi sist em dan pengaruh gangguan t erhadap sist em yang bila t erjadi dapat
menyebabkan kerusakan pembangkit dan menghent ikan suplai energi elekt rik.
Gangguan- gan gguan ini dapat berupa hubun g singakat , ko ndukt o r t erbuka at au
ayunan sist em yang disebabkan o leh sambaran pet ir, kegagalan pembangkit at au
kesalahan manusia. Unt uk dapat sesegera mungkin dalam mengiso lir gan gguan yan g
t erjadi, sist em t enaga elekt rik dibagi- bagi dalam zo na pro t eksi t ert ent u dan rele
digunakan unt uk memant au besaran- besaran elekt rik pada zo na- zo na t ersebut . Bila
t erjadi perubahan besaran elekt rik di zo na t ert ent u, rele akan menginisiasi pro ses
pemut usan guna mengiso lir zo na t ersebut .


2. 2 DEFIN ISI PERUN IT DAN PERSEN

Persen art inya 10 0 kali pu. Keduanya dapat digunakan dan pilihan sist em yan g akan
digunakan t ergant ung kepada pemakainya, penggu naan % at au pu harus dinyat akan
dalam set iap analisis yang dikerjakan.

Harga pu dari besaran elekt rik yang digunakan merupakan rat io besaran t ersebut
t erhadap besaran acuan at au besaran dasar, rat io ini t anpa dimensi dan merupakan
bilangan desimal. Besaran akt ual, sepert i t egangan ( V) , arus ( I) , daya ( P) , daya reakt if
( Q) , vo lt - ampere ( VA) , resist ansi ( R) , reakt ansi ( X) dan impedansi ( Z) dapat
dinyat akan dalam pu at au % sebagai berikut :

acuan atau Dasar Besaran
Aktual Besaran
pu dalam Besaran 2- 1

100 pu x dalam besaran % dalam Besaran 2- 2

Dimana besaran akt ual merupakan harga skalar at au ko mplek dari besaran elekt rik
t ersebut yang dinyat akan dengan sat uan yan g sesuai, sepert i: vo lt , ampere, o hm at au
wat t , sedangkan besaran dasar at au acuan adalah besaran t ert ent u yang dipilih sesuai
dengan kebut uhan dan dit et apkan sebagai acuan. Jadi sist em pu at au % adalah besaran
t anpa dimensi yang dapat berupa bilangan skalar at au ko mplek.


2. 3 ALJABAR VEKTOR

Suat u vekt o r menggambarkan suat u besaran baik dalam magnit ud maupun arah.
Gambar 2- 2 memperlihat kan vekt o r OP yang memiliki magnit ud sebesar Z dengan
sudut sebesar t erhadap sumbu axis OX. Besaran ini dapat dipecah menjadi dua
ko mpo nen x dan y. Magnit ud at au harga skalar dari vekt o r Z disebut dengan mo dulu s
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 30
Z dan sudut disebut argumen at au amplit udo . Met o da ko nvensio nal unt uk
mengekspresikan vekt o r Z adalah Z . Bent uk ini merupakan represent asi yang
spesifik dari suat u vekt o r unt uk penggabaran secara grafis at au diko nversikan dalam
bent uk lain.













Gambar 2 - 2 : Vekt o r Z Z OP

Agar sebuah vekt o r dapat berguna, maka vekt o r t ersebut harus diekspresikan dalam
bent uk aljabar. Vekt o r Z pada Gambar 2- 2 merupakan penjumlahan secara vekt o ris
ko mpo nen x dan y. Secara aljabar vekt o r ini dapat dit ulis sebagai berikut :

jy x Z + 2- 3

Dimana j menu njukkan bahwa ko mpo nen y t egak lurus t erhadap ko mpo nen x.
Tat anama dalam sist em kelist rikan, sumbu axis OX adalah sumbu REAL at au sefasa, dan
sumbu vert ikal OY disebut sumbu imaginer at au sumbu kuadrat ur. Simbo l j, yang
bersat u dengan ko mpo nen y, dapat pula dikat akan sebagai sebuah o perat o r yang
memperlihat kan perput aran sebesar 90
0
berlawanan dengan arah put aran jarum jam.
Jika vekt o r t ersebut diput ar 180
0
, art inya fungsi o perat o r j bekerja dua kali, dengan
kat a lain bilamana j = 1 , maka jj at au j
2
= - 1

Represent asi dari sebuah besaran vekt o r secara aljabar dalam ko o rdinat rekt angular
disebut besaran ko mplek, o leh karena it u x + jy adalah besaran ko mplek dan dalam
bent uk rekt angular Z , dimana:


2 2
y x Z + sedangkan
x
y
1
tan

2- 4a
Dan

cos Z x dengan sin Z y 2- 4b

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 31
Dalam bent uk lain vekt o r Z dapat juga dinyat akan dalam bent uk sebagai berikut :

( ) sin j cos + Z Z 2- 5

Mengingat bahwa cos dan sin dapat dinyat akan dalam bent uk ekspo nensial
dimana:


2j
e e
sin
-j j


dan
2
e e
cos
-j j

+


Sehingga vekt o r Z dapat dinyat akan dalam bent uk sebagai berikut :


j
e Z Z 2- 6

Oleh karena it u sebuah besaran vekt o r dapat pula dit uliskan dalam bent uk t rigo no met ri
at aupun ekspo nensial.


2. 4 MAN IPULASI BESARAN - BESARAN KOMPLEKS

Besaran ko mpleks dapat dinyat akan dalam salah sat u dari empat bent uk berikut :
a. Ko nvensio nal Z
b. Rekt angular jy x +
c. Trigo no met rik ( ) sin j cos + Z
d. Ekspo nen sial
j
e Z

Mo do lus Z dan argumen keduanya dikenal sebagai ko o rdinat po lar, sedangkan x
dan y disebut sebagai ko o rdinat kart esian. Dapat dilihat bahwa, jika dipero leh besaran
dalam salah sat u ko o rdinat , maka besaran dalam ko o rdinat lainnyapun dapat dipero leh.
Manipulasi besaran ko mples dapat dilakukan dengan menggunakan salah sat u bent uk
ko o rdinat diat as.


2. 4.1 Penjumlahan dan Pengurangan

Gambar 2- 3 memperlihat kan penjumlahan dua vekt o r
1 1 1
Z Z dan
2 2 2
Z Z .
Vekt o r result an adalah penjumlahan masing- masing ko mpo nen dari kedua vekt o r,
sehingga dengan menggunakan ko o rdinat kart esian dipero leh:


( ) ( )
( ) ( )
2 1 2 1
2 2 1 1 2 1
y y j x x
jy x jy x Z Z
+ + +
+ + + +
2- 7
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 32













Gambar 2 - 3: Pen ju mlahan du a vekt o r


Sedangkan unt uk pengu rangan, dengan cara yan g sama dipero leh:

( ) ( )
( ) ( )
2 1 2 1
2 2 1 1 2 1
y y j x x
jy x jy x Z Z
+
+ +
2- 8

Dari diagram yang disajikan dalam Gambar 2- 3 dan persamaan diat as dapat dilihat
besaran ko mplek dalam bent uk rekt angular dapat dimanipulasi secara aljabar.


2. 4.2 Pembagian dan Perkalian

Menggunakan bent uk rekt angular dan berdasarkan hukum- hu kum aljabar, perkalian
dua buah vekt o r dapat dilaksanakan sebagai berikut :


( )( )
2 1
2
1 2 2 1 2 1
2 2 1 1 2 1


y y j y jx y jx x x
jy x jy x Z Z
+ + +
+ +


Mengingat bahwa 1
2
j , maka

( ) ( )
1 2 2 1 2 1 2 1 2 1
y x y x j y y x x Z Z + + 2- 9

Dari persamaan diat as dapat dilihat bahwa
2 1
x x adalah fungsi co sinus dan
2 1
y y adalah
fungsi sinus. Jadi bagian real dari vekt o r result an hasil perkalian sama dan ident ik
dengan ( )
2 1 2 1
cos + Z Z dan bagian imaginer sama dan idekt ik dengan
( )
2 1 2 1
sin + Z Z . Bila diko nversi dalam bent uk ko nvensio nal, menggunakan
ko o rdinat po lar, maka:

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 33

2 1 2 1 2 1
+ Z Z Z Z 2- 10

Dengan kat alain perkalian dua buah vekt o r, dilakukan dengan cara mengalikan kedua
mo dulusnya dan menju mlahkan kedua argumen, sedangkan unt uk pembagian
dilakukan den gan cara membagi kedua mo dulus dan memperkuran gkan kedu a
argumennya sebagai berikut :

2 1
2
1
2
1

Z
Z
Z
Z
2- 11



2. 4.3 Bilangan Ko mplek

Bilangan ko mplek mun gkin didefinisikan sebagai sebuah ko nst ant a yang
merepresent asikan ko mpo nen- ko mpo nen real dan imaginer dari suat u besaran fisis.
Paramet er impedansi dari sebuah rangkaian elekt rik adalah sebuah bilangan ko mplek
yang memiliki ko mpo nen real dan imaginer yang masing- masing menyat akan besaran
resist ansi dan reakt ansi. Kerapkali kit a dibingun gkan o leh vekt o r dan bilangan
ko mplek. Sebuah vekt o r, sepert i yang didefinisikan pada bagian t erdahulu mungkin saja
merupakan bilangan ko mplek. Dalam ko nt eks ini, vekt o r merupakan penyederhanaan
dari suat u besaran fisis yang memiliki magnit ud ko nst an dan arah yang ko n st an.
Bilangan ko mplek, bila merupakan sebuah besaran fisis, rangsangan dan respo n dari
sebuah o perasi yang dikenal sebagai o perat o r ko mplek. Dalam ko nt eks ini, t erlihat jelas
bedanya dengan vekt o r. Karena bilangan ko mplek dalam set iap kalkulasi diasumsikan
mengikut i at uran pasif, met o da unt uk merepresent asikannya dit ent ukan o leh
bagaimana bent uk variabel t ersebut .


2. 4.4 Operat o r- Operat o r

Operat o r- o perat o r adalah bilangan ko mplek yang dipergunakan unt uk men ggerakkan
suat u vekt o r melewat i sudut t ert ent u t anpa merubah magnit ud at au karakt er dari
vekt o r t ersebut . Suat u o perat o r bukanlah sebuah besaran fisis dan t idak memiliki
dimensi. Simbo l j, yang t ergabung dengan ko m po nen kuadrat ur dari besaran ko mplek,
merupakan sebuah o perat o r yang memut ar sebuah vekt o r sebesar 90
0
berlawanan
dengan arah put aran jarum jam. Operat o r lainnya yang kerap dipergu nakan adalah
sebuah o perat o r yang dapat memut ar sebuah vekt o r sebesar 120
0
, yang dinyat akan
dengan simbo l- simbo l a, h dan . Simbo l a adalah simbo l yang lebih sering
dipergunakan unt uk menyat akan o perat o r t ersebut dan dalam buku ini hanya akan
menggu nakan simbo l a.

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 34
Operat o r- o perat o r dibedakan o leh sat u fit ur lebih. Operat o r adalah akar dari sat uan.
Menggunakan t eo rema De Mo ivres, akar ke n dari sat uan diberikan dengan
menyelesaikan ekspresi berikut :

( )
n n 1 1
m 2 sin j m 2 cos 1 +

Dimana m adalah bilangan int eger. Darimana:


n
m 2
sin j
n
m 2
cos 1
1

+
n


Dimana m merupakan bilangan 1, 2, 3,........( n- 1) . Dari ekspresi diat as j adalah akar ke 4
dan a adalah akar ke 3 dari kesat uan, dimana masing- masing memeiliki empat dan t iga
harga nyat a. Berikut ini diberikan beberapa fungsi yang berguna dari o perat o r a.

3
2
j
e
2
3
j
2
1
- a

+
3
4
j
2
e
2
3
j
2
1
- a


j0
e j0 1 1 + 3 j a - a
2

0 a a 1
2
+ +
3
a - a
j
2

2
3a j a - 1



2. 5 BESARAN RAN GKAIAN DAN KON VEN SI

Analisis rangkaian merupakan sebuah st udi mengenai respo n suat u rangkaian pada
ko ndisi t ert ent u, sebagai co nt o h t erjadinya hubung singkat . Variabel rangkaian adalah
t egangan dan arus. Secara ko nvensio nal, arus mengalir bila t egangan dit erapkan, t et api
dalam hal ini t erjadi dualit as ant ara variabel dan yang mana sebagai penyebab lainnya.
Bila t erdapat rangkaian, maka t erjadi pemindahan energi. Suat u rangkaian dapat dapat
dinyat akan sebagai sebuah sumber energi at au pemakai energi. Bagian- bagian dari
rangkaian disebut sebagai elemen. Sumber dapat dikat akan sebagai elemen akt if dan
pemakai sebagai elemen pasif. Beberapa elemen rangkaian bersifat disipat if, dimana
elemen ini secara ko nt inyu mengko nsumsi energi yang diberikan, misalnya resist ansi.
Elemen lain mungkin memiliki sifat sebagai sumber dan sekaligus pemakai energi,
co nt o hnya indu kt o r dan kapasit o r. Elemen- elemen rangkaian t erhubung sat u dan
lainnya membent uk suat u jaringan yang memiliki simpul ( t erminal) dan cabang-
cabang ( kumpulan elemen t erhubung seri) membent uk sebuah sirkit t ert ut up.
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 35

Gambar 2 - 4: Simbo l- simbo l umu m elemen ran gkaian


Dalam Gambar 2- 4 diperlihat kan beberapa simbo l elemen rangkaian. Dalam t eo ri
rangkaian ac t unak, kemampuan ran gkaian unt uk menerima aliran arus yang berasal
dari sumber t egangan yang diberikan disebut sebagai impendansi rangkaian. Karena
t egangan dan arus adalah dwiguna maka paramet er rangkaianpun dwiguna, yang
disebut dengan admit ansi. Tegangan dan arus merupakan fungsi sinuso idal t erhapap
wakt u dan memiliki frekuensi t unggal dan ko nst an. Paramet er rangkaian ( baik
impedansi maupun admit ansi) adalah sebuah sist em linear, bilat eral ( bebas arah arus)
dan ko nst an dalam harga unt uk frekuensi yang ko nst an.


2. 5.1 Variabel Rangkaian

Tegangan dan arus merupakan fun gsi sino so idal t erhadap wakt u, bervariasi pada
frekuensi t unggal dan ko nst an, keduanya berhubungan dengan vekt o r berput ar dan
dapat digambarkan sebagai sebuah vekt o r bidang ( vekt o r yang didefinisikan dengan dua
sumbu ko o rdinat ) pada sebuah vekt o r diagram. Sebagai co nt o h, harga sesaat dari e,
sebuah t egangan yang bervariasi t erhadap wakt u adalah:

) t ( sin E e
m
+ 2- 12

Dimana:
m
E adalah amplit udo maksimum dari gelo mbang
f 2 adalah kecepat an angular
f = merupakan frekuensi dan
= adalah argumen unt uk menyat akan amplit udo t egangan pada wakt u t = 0

Pada t = 0 , harga akt ual dari t egangan adalah sin E
m
. Sehingga bila
m
E merupakan
mo dulus dari suat u vekt o r dengan argumen , maka sin E
m
adalah ko mpo nen
imaginer dari vekt o r
m
E . Dalam Gambar 2- 5 diperlihat kan ilust rasi besaran ini
sebagai vekt o r dan juga sebagai fungsi sinuso idal.
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 36















Gambar 2 - 5: Represen t asi sebu ah fu n gsi sin u so idal


Arus yang dihasilkan dari penerapan t egan gan pada sebuah rangkaian elekt rik
t ergant ung pada impedansi rangkaian. Jika t egangan merupakan fungsi sinuso idal dan
diberikan dalam frekuensi t ert ent u, bila imedansi ko n st an maka arus akan mengalir
pada impedansi t ersebut juga bervariasi secara harmo nis pada frekuensi yang sama,
sehingga dapat diperlihat kan pada sebuah diagram vekt o r yang sama dan dapat
dit uliskan dengan persamaan berikut :

) - t ( sin
Z
E
i
m
+ 2- 13

Dimana

2 2
X R + Z

,
_

C
1
- L X

2- 14

R
X
tan
1 -


Dari persamaan 2- 13 dan 2- 14 dapat dilihat bahwa pergeseran angular ant ara vekt o r
arus dan t egangan dan magnit ud arus
Z
E
m

m
I , t ergant ung pada Z . Dalam bent uk
bilangan ko mplek impedan si Z dapat dit uliskan sebagai jX R Z + , bagian ko mpo nen
real R adalah resist ansi dan bagian ko mpo nen imaginer X adalah rekat ansi. Jika
reakt ansi rangkaian adalah indukt if ( dimana C 1/ L > ) arus t ert inggal ( lag) t erhadap
t egangan sebesar sudut , sebaliknya bilamana reakt ansi rangkaian kapasit if
( C 1/ L < ) , arus mendahului ( lead) t erhadap t egangan sebesar sudut .

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 37
Ko nvensi yang digunakan dalam menggambarkan kedua vekt o r diagram adalah dengan
memilih salah sat u vekt o r sebagai acuan dan merelasikan vekt o r lainnya dengan vekt o r
acuan ini berdasarkan sudut lag dan lead. Besaran Z yang disebut kan sebagai impedansi
rangkaian adalah sebuah o perat o r ko mplek dan dibedakan dari sebuah vekt o r karena
besaran ini t idak memiliki arah. Ko nvensi laian yang digunakan dalam menjelaskan
besaran- besaran sinuso idal ini, ant ara lain besaran efektif at au ro o t mean square ( rms) ,
yang kerapkali dit ulis dengan simbo l ( t anpa akhiran) sebagai berikut :

2
2
I
I
m
m
E
E

2- 15

Harga rms adalah harga yang memiliki efek pemanasan yang sama sepert i besaran arus
searah yang mengalir dalam rangkaian t ersebut .


2. 5.2 Tegangan Rise, Tegangan Jat uh, Arah Aliran Arus dan N o t asi

Unt uk menjelaskan ko ndisi suat u rangkaian elekt rik kerapkali mengacu pada perbedaan
po t ensial ant ara dua t it ik dalam rangkaian t ersebut . Bila t erdapat beda po t ensial, maka
arus akan mengalir dan energi elekt rik akan dit ransfer at au diserap o leh rangkaian
t ersebut . Oleh karena alasan t ersebut t ermino lo gi t egangan rise dan t egangan jat uh
akan digunakan unt uk mendefisinisikan secara akurat dan alamiah mengenai beda
po t ensial. Tegangan rise adalah suat u kenaikan po t ensial yang diukur ant ara dua t it ik
searah dengan aliran arus dalam suat u ran gkaian dan energi dit ransfer dari t it ik t ersebut
keseluruhan. Jadi t egangan rise adalah t egangan pengendali dari suat u rangkaian yan g
mengandu ng elemen akt if dan merupakan sumber energi elekt rik bagi rangkaian
t ersebut . Tegangan jat uh adalah suat u beda po t ensial yang diukur searah dengan aliran
arus ant ara dua t it ik dalam suat u rangkaian, dan energi diserap o leh elemen rangkaian
t ersebut . Dengan kat alain t egangan jat uh adalah t egangan pasif yang muncul pada
elemen rangkaian yang mengandu ng elemen pasif dan karenanya energi akan diserap
pada bagian elemen t ersebut .

Menurut Hukum Kirchho ff pert ama Dalam sebuah rangkaian t ert ut up jumlah
t egangan rise ( pengendali) sama dengan jumlah t egangan jat uh. Hal ini diperlihat kan
dengan persamaan dasar berikut ini:

e dt i
C
1
dt
di
L iR + +

2- 16

Bagian kiri dari persamaan diat as adalah represent asi t egangan jat uh pada elemen
rangkaian, masing- masing resist o r, indukt o r dan kapasit o r, sedangkan bagian kanan
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 38
adalah represent asi dari t egangan rise. Dalam bent uk t unak, persamaan diat as dapat
dit uliskan menjadi:



Z I E 2- 17

Persamaan diat as dikenal dengan persamaan kesamaan t egangan. Unt uk kebut uhan
analisis fo rmal at au perhit ungan, dibut uhkan no t asi yang menunjukkan arah aliran arus
po sit if dan menyat akan arah po sit if dari t egangan jat uh dan t egangan rise. Unt uk
kebut uhan ini, dikenal dua met o da, yait u: 1. Met o da dua akhiran, yang digunakan
unt uk analisis simbo lik dan 2. Met o da sat u akhiran at au met o da diagramat ik unt uk
kebut uhkan perhit ungan numeris.


















Gambar 2 - 6: Pemo delan Ran gkaian Elekt rik


Dalam met o da 2 akhiran, arah arus po sit if diasumsikan bergerak dari simpul a menuju
simpul b dan arus din yat akan dengan ab I . Dalam met o da digramat ik arah aliran arus
diperlihat kan o leh arah anak panah. Tegan gan rise adalah po sit if bila arahnya searah
dengan aliran arus. Hal ini dapat dilihat dari Gambar 2- 6, t erlihat bahwa 1 E dan
an E dalah t egangan rise po sit if. Dalam diagram, arah ini diperlihat kan dengan arah anak
panah, sedangkan unt uk met o da dua akhiran, an E dan bn E menunjukkan bahwa
t egangan rise dalam arah na dan nb. Tegangan jat uh juga dalam arah po sit if bilamana
searah dengan arah aliran arus. Dari Gambar 2- 6a dapat dilihat bahwa
( ) I Z Z Z 3 2 1 + + adalah t o t al t egangan jat uh dalam lo o p berdasarkan arah aliran arus
dan harus sama dengan 2 1 E E . Dalam Gambar 2- 6b, t egangan jat uh ant ara simpul a
dan b dinyat akan dengan ab V yang menunju kkan bahwa t egangan simpul b lebih
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 39
rendah dari simpul a dan berharga po sit if bila arus mengalir dari a ke b. Sebaliknya
dengan ba V adalah t egangan dengan harga yang berlawanan., secara simbo lik:

bn an ab
bn an ab
V V V
dan
V V V


2- 18

Dimana n adalah t it ik acuan bersama.


2. 5.3 Daya

Perkalian ant ara beda po t ensial yang membent ang dan arus yang melalui cabang sebuah
rangkaian t erukur sebagai perubahan energi persat uan wakt u ant ara kedua t it ik pada
cabang rangkaian t ersebut . Jika beda po t ensial ini adalah t egangan jat uh po sit if, cabang
t ersebut merupakan elemen pasif dan akan menyerap energi yang ada. Perubahan
energi persat uan wakt u ini dikenal dengan sebut an daya, dan berdasarkan ko nvensi,
daya berharga po sit if bila energi diserap dan negat if bila energi disuplai. Unt uk
menent ukan apakah energi diserap at au disuplai, diperlukan perhit ungan daya rat a- rat a
dari sat u siklus penuh. Jika ) t ( sin E e
m
+ dan ) t ( sin I i
m
+ , maka
persamaan daya rat a- rat a adalah:

) - t ( sin I ) t ( sin E i e p
m m
+ +
[ ] ) t 2( sin Q ) t ( 2 cos - 1 P p + + + 2- 19

Dimana: cos I E P dan sin I E Q

Dari persamaan diat as dapat dilihat bahwa dalam sat u sikuls besaran P bervariasi ant ara 0
ke 2P dan besaran Q bervariasi dari Q ke +Q dan bent uk gelo mbangnya menjadi dua
kali bent uk gelo mbang t egangan at au arus. Harga rat a- rat a dari perubahan daya dalam
sat u siklus ko nst an, yan g besarnya sama den gan P yang sephasa dengan t egangan
dikenal dengan sebut an daya akt if, sedangkan harga rat a- rat a dari Q adalah no l, yan g
berart i energi disimpan dalam set engah siklus pert ama dan disuplai kembali ke
rangkaian pada set engah siklus berikut nya dan dikenal sebagai daya reakt if. Bila P dan Q
ko nst an yan g menyat akan perubahan daya dalam sebuah rangkaian dan merupakan
hasil dari perkalian ant ara vekt o r t egangan dan arus, maka bila S merupakan vekt o r
perkalian I E dengan E sebagai vekt o r acuan dan sebagai sudut ant ara E dan I
didapat :

Q j P S + 2- 20

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 40
Besaran S dikenal sebagai daya semu dan t ermino lo gi ini dipergunakan unt uk
menjelaskan rat ing dari sebuah rangkaian.



















Gambar 2 - 7 Sist em Tiga Fasa


2. 5.4 Sist em Sat u Fasa dan Po lifasa

Suat u sist em dikat akan sat u fasa at au po lifasa t ergant ung kepada sumber daya yang
menjadi pemaso k sist em t ersebut apakah sat u fasa at au po lifasa. Suat u sumber dikat akan
sat u at au po lifasa t ergant ung apakah sumber t ersebut memiliki t egangan pengendali
sat u at au po lifasa. Sebagai co nt o h, suat u sumber t iga fasa adalah sebuah sumber yang
memiliki t iga t egangan pengendali bo lak balik dengan urut an fasa A, B, dan C. Set iap
t egangan pengendali fasa berhubungan dengan cabang- cabang t erkait sepet i
diperlihat kan dalam Gambar 2- 7a.

Jika sist em po lifasa memiliki t egangan seimbang yang ket iganya memiliki magnit ud
yang sama dan mencapai harga maksimu n pada int erval wakt u sama sert a memiliki
impedansi cabang yan g idekt ik, sist em sepert i ini disebut dengan sist em seimbang.
Sist em dikat akan t idak seimbang bilamana ko ndisi t ersebut t idak t erpenuhi.. Bilamana
sist em fasa banyak seimbang, perhit ungan m enjadi lebih sederhana karena hanya
membut uhkan perhit ungan pada salah sat u fasanya saja, penyelesaian bagi fasa lainnya
dilakukan secara simet ri. Sist em daya pada umumnya bero perasi sebagai suat u sist em
t iga fasa seimbang. Karena alasan t ersebut t egangan pada masing- masing fasa memiliki
magnit ud yang sama dan dapat direpresent asikan sebagai t iga buah vekt o r yang t erpisah
0
120 at au 3 / 2 radian, sepert i diperlihat kan dalam Gambar 2- 7b.

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 41
Karena ket iga t egangan simet ris, maka ket iganya dapat diekspresikan dengan salah sat u
dari ket iganya, sepert i:

a c
a
2
b
a a
E a E
E a E
E E

2- 21

Dimana adalah sebuah o perat o r vekt o r
j22
e . Lebih jauh, jika impedansi masing- masin g
fasa juga ident ik dalam suat u sist em seimbang, maka arus- arus yang dihasilkanpun
seimbang.


2. 6 NOTASI IMPEDANSI

Dari diagram sist em t enga elekt rik dapat dilihat bahwa t erdapat beberapa level t egangan
dalam sist em yang sama, sehingga t idaklah prakt is bila kit a menggunakan kapasist as
MVA pembangkit sebagai acuan unt uk menent ukan besaran pu at au persen sist em.
Sebelum kit a melakukan perhit ungan, paramet er sist em harus mengacu pada suat u
besaran dasar dan meresprensent asikan nya sebagai suat u besaran yang menyat ukan
impedansi sist em, baik dalam besaran o hmik, persen at au pu. Besaran dasar adalah daya
dan t egangan. Umumnya besaran yang digunakan adalah besaran daya t iga fasa dalam
MVA dan t egangan line dalam kV. Besaran dasar bagai impedansi merupakan hasil dari
kedua besaran dasar t ersebut , yait u:

MVA
(kV)
Z
2
b
2- 22

Impedansi dasar dapat dihit ung dalam besaran sat u fasa at au t iga fasa. Harga pu at au
persen dari set iap impedansi yang ada dalam sist em adalah rat io ant ara besaran akt ual
dan besaran dasar, karenanya:

100 x Z Z
) (kV
MVA
x Z Z
pu %
2
dasar
dasar
pu

2- 23

Dengan t ranspo sisi sederhana dari persamaan diat as dapat dit ent ukan harga o hmik
impedansi, harga pu dan persen. Sepert i dinyat akan diat as, sist em mungkin saja bekerja
dengan level t egangan yang berbeda dan sangat mungkin pula rat ing MVA pembakit an
berbeda pula. Sehingga pemilihan besaran dasar yang menjadi berbeda pula, karena it u
diperlukan perhit ungan unt uk merubah sebuah besaran sist em dari besaran dasar yan g
sat u ke besaran dasar yang baru, sebagai berikut :
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 42

lama - dasar
baru - dasar
ma) pu(dasarla baru) - r pu(MVAdasa
MVA
MVA
x Z Z
2- 24
2
baru - dasar
lama - dasar
ma) pu(dasarla baru) - dasar pu(kV
kV
kV
x Z Z

,
_



Pemilihan no t asi impedansi t ergant ung pada ko mpleksit as sist em, no t asi impedansi
pembangkit dan pert imbangan ko ndisi sist em. Jika sist em cukup sederhana dan
dido minasi o leh sist em t ransmisi dan dat a diberikan dalam o hmik, dengan demikian
met o da o hmik dapat digunakan dalam perhit ungan. N amun demikian, pemilihan
t egangan dasar dan menyat ukan impedan si dengan dasar ini, sebagai pendekat an
perhat ikan co nt o h berikut ini.












Gambar 2 - 8: Pemilihan Tegan gan Dasar, kVdasar


Dari Gambar 2- 8 dapat dilihat bahwa t egangan dasar dari ket iga rangkaian dipengaruhi
o leh rat io t ransfo rmat o r. Oleh karena it u dalam mengacu impedansi o hmik dari sat u
sisi ke sisi lain t ransfo rmat o r dilakukan dengan men galikan harga o hmik impedansi
dengan kuadrat rat io t egangan ant ara kedua belit an t ransfo rmat o r t ersebut . Met o da pu
merupakan met o da yang sangat co co k digunakan karena memiliki berbagai kelebihan.
Dua alasan ut ama kenapa sist em ini dipilih adalah:

i. Impedansi akan sama dilihat dari sisi manapun bila rat io t egangan dasar dari kedua
sisi t ransfo rmat o r sama dengan rat io belit an t ransfo rmat o r.
ii. Kebingungan akibat harus dilakukan perkalian dengan 10 0 dalam perhit ungan
menggu nakan persen dapat dit iadakana.

Sebagai co nt o h, dalam Gambar 2- 9, Generat o r
1
G dan
2
G mempunyai reakt ansi
subt ransien 26% pada rat ing 66,6 MVA, 11 kV dan Transfo rmat o r
1
T dan
2
T dengan rat io
t egangan 11/ 145 kV dengan impedansi 12,5% pada 75 MVA.

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 43










Gambar 2 - 9: Co n t o h Sist em Ten aga Elekt rik Sederhan a


Dengan memilih dasar MVA sebesar 10 0 MVA dan t egangan dasar 132 kV, t ent ukan
persen impedansi dari besaran dasar yang baru.

a. Reakt ansi Generat o r pada harga dasar yang baru:

( )
( )
47,1%
132
145
x
66,6
100
x 26
2
2


b. Reakt ansi Transfo rmat o r pada harga dasar yang baru:

( )
( )
20,1%
132
145
x
75
100
x 12,5
2
2


Tegangan dasar pada Generat o r dan Rangkaian masing- masing 11 kV dan 145 kV yang
merupakan rat io belit an Transfo rmat o r. Harga pu dari besaran diat as dapat pula dicari
dengan membagi besaran t ersebut dengan 10 0 , sedangkan besaran o hmic dapat
dihit ung menggu nakan persamaan 2- 19.













Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 44
BAB 3
PERHITUN GAN GANGGUAN



3. 1 PENDAHULUAN

Sist em t enaga pada umumnya diperlakukan sebagai suat u jaringan t iga fasa seimbang.
Bila t erjadi gangguan, keseimbangan sist em akan t erganggu, sehin gga menyebabkan
t imbulnya t egangan dan arus ket idakseimbangan dalam jarin gan t ersebut . Hal ini t idak
t erjadi pada gangguan t iga fasa, karena gan ggu an ini melibat kan ket iga fasa jaringan
yang sama pada lo kasi yan g sama, hal ini disebut sebagai gangguan seimbang. Dengan
menggu nakan met o da ko mpo nen simet ris dan menerapkan t eo ri dan ko nsep
pergant ian sist em sebelum dan set elah gangguan, sehingga dimun gkin kan unt u k
menganalisis berbagai ko ndisi sist em pada saat t erjadi gangguan.

Dari segi pemakaian peralat an prot eksi sangat pent ing unt uk menget ahui dist ribusi arus
gangguan yang melalui sist em dan perbedaan t egangan yan g t erjadi pada seluruh bagian
sist em akibat gangguan. Lebih jauh, bat asan harga dari arus pada set iap t it ik dimana
t erdapat rele pro t eksi harus diket ahui. Jika gangguan t ersebut harus diiso lir. Info rmasi
yang umum dibut uhkan adalah:

i. Arus gangguan maksimum pada t it ik dimana rele t erpasang.
ii. Arus gangguan minimum pada t it ik dimana rele t erpasang.
iii. Arus gangguan maksimum yang akan melalui rele t erpasang.

Unt uk mendapat kan info rmasi besaran- besaran diat as, bat asan st abilit as generat o r dan
ko ndisi o perasi yan g mun gkin t ermasu k met o da pent anahan sist em harus diket ahui dan
gangguan selalu diasumsikan den gan impedan si gangguan n o l gu na men dapat kan arus
maksimum pada ko ndisi sist em t ersebut .


3. 2 KOMPON EN SIMETRIS - ANALISIS JARIN GAN TIGA FASA

Dengan men ggu nakan prinsip super po sisi, dapat dilihat bahwa suat u vekt o r sist em t iga
fasa dapat digant ikan dengan t iga set vekt o r t iga fasa seimbang. Masing- masing t erdiri
dari dua set vekt o r t iga fasa yang memiliki urut an fasa berlawanan dan sat u set vekt o r
t anpa urut an fasa. Ket iga set vekt o r ini masing- masing disebut dengan vekt o r urut an
po sit if, negat if dan no l. Persamaan dan relasi ant ara besaran fasa dan besaran urut an
diberikan berikut ini:
0 2 1 c
0 2 1 b
0 2 1 a
E E a E a E
E E a E a E
E E E E
2
2
+ +
+ +
+ +
3- 1
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 45
dan
) E E E (
2
1
E
) E a E a E (
2
1
E
) E a E a E (
2
1
E
c b a 0
c b a 2
c b a 1
2
2
+ +
+ +
+ +
3- 2
Dimana semua besaran mengacu pada besaran fasa A. Hubungan yang sama didapat kan
unt uk besaran arus. Dalam Gambar 3- 1 diperlihat kan ilust rasi dari reso lusi sebuah vekt o r
sist em t iga fasa t ak seimbang.


















Gambar 3- 1: Ilu st rasi dari reso lu si dari sebu ah vekt o r sist em t iga fasa t ak seimban g.


Bila gangguan t erjadi pada suat u sist em t enaga, ket iga impedansi menjadi t idak sama
lagi ( kecuali dalam gangguan t iga fasa) dan menghasilkan arus dan t egangan yang t ak
seimbang pula, ket idak seimbangan t erbesar t erjadi pada t it ik gangguan. Sepert i
dikemukan diawal, gangguan dapat dipelajari dengan cara menghubung singkat seluruh
t egangan penggerak dalam sist em dan men ggant ikan hubungan pada t it ik gangguan
dengan seubah sumber t egan gan pen ggerak yan g sama den gan t egangan sesaat sebelum
gangguan t erjadi. Karenanya, impedansi sist em lainnya masih dianggap seimbang,
dilihat dari t it ik gangguan dan t it ik gangguan dapat dianggap sebagai t it ik dimana
injeksi arus dan t egangan t idak seimbang dilakukan kedalam sist em. Pendekat an ini
diperlukan unt uk mendefinisikan ko ndisi gangguan dan memu ngkinkan sist em
direpresent asikan dengan jaringan urut an dengan menggu nakan met o da ko mpo nen
simet ris. Jaringan kemudian dinyat akan dalam jaringan urut an po sit if, negat if dan no l
dan hanya t egangan dan arus urut an yang muncul didalam sirkit t ersebut ,
dimungkinkan pula t idak t erdapat hubungan ant ara ket iganya.

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 46
3. 2.1 Sumber- Sumber Urut an Po sit if

Diagram sat u garis dari sist em t enaga at au areal yang akan dikaji adalah t it ik awal unt uk
membent uk jaringan urut an. Dalam Gambar 3- 2 diperlihat kan diagram segaris sebuah
sist em t enaga list rik sederhana


Gambar 3- 2 : Diagram sat u garis sebu ah sist em t en aga list rik


Lingkaran menyat akan sumber urut an po sit if, dapat berupa Generat o r, Mo t o r sinkro n,
Ko ndenso r sinkro n dan mungkin saja Mo t o r indu ksi. Arus simet ris yang disuplai o leh
sist em t enaga akibat adanya gangguan akan berubah secara ekspo nensial dari harga awal
yang cukup t inggi sampai mencapai harga t unak. Selama prio da peralihan ini ada t iga
besaran reakt ansi yang dapat digunakan: 1) . Reakt asi ( sumbu langsung) subperalihan,
"
d
X ; 2) . Reakt ansi peralihan,
'
d
X ; dan 3) reakt ansi sinkro n,
d
X . Harga
"
d
X dinyat akan
dalam per- unit rat ing kVA mesin, yait u ant ara 0 ,7 sampai 3,0 p.u, den gan t ime
ko nst an ant ara 0 ,0 35 sampai 0 ,0 5 det ik, sedangkan
'
d
X berkisar ant ara 1,5 2,5 kali
harga
"
d
X , dengan t ime ko nst an 0 ,6 1,5 det ik. Harga
d
X adalah 4 15 kali
"
d
X ( harga
ini adalah harga sat urasi bila gangguan bert ahan) .

Unt uk st udi hubung singkat , digunakan
"
d
X unt uk reakt ansi jaringan urut an po sit if,
dan akan dipero leh arus gangguan maksimum yang diperlukan dalam penggunaan rele
berkecepat an t inggi. Unt uk rele berkecepat an rendah, rele baru akan bereaksi set elah
reakt ansi mencapai harga peralihan nya, namu n pada umum nya dalam suat u st udi
gangguan t et ap dipergunakan harga
"
d
X , kecuali pada kasus khusus, dapat pula
dipergunakan harga
'
d
X bilamana diperlukan pro gram khusus unt uk menent ukan besar
penurunan arus gangguan bagi rele- rele pro t eksi berkecepat an rendah, namun hal ini
sulit dan lamban sert a t idak memberikan keunt ungan yang berart i.

Perhat ikan Gambar 3- 3 yang mempelihat kan pengaruh mesin berput ar pada arus
gangguan simet ris. Kasus A dan B, adalah kasus yang kerap t erjadi, sehingga
penggunaan
"
d
X akan menghilangkan pengaruh pada sist em pro t eksi. Dalam kasus ini
besarnya ZS cenderun g men ghilangkan pen garuh sumber penuru nan. Kasus C
mempengaruhi wakt u o perasi rele pro t eksi kecepat an rendah, t et api secara umum
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 47
penurunan level arus gangguan t idak akan menimbulkan masalah dalam ko o rdinasi
kecuali karakt erist ik arus- wakt u dari rele pro t eksi yang digunakan sangat berbeda. Bila
ZM predo minan, maka arus gangguan cenderun g besar dan dapat melebihi arus beban
maksimum. Dalam prakt ek, set t ing rele dibuat sesensit if mungkin, t et api rele t idak
bo leh bero perasi pada beban maksimum dan harus memiliki sensit ivit as pro t eksi yang
baik pada prio da reakt ansi peralihan. Bila wakt u o perasi rele t erlampau lama sehingga
arus gangguan t elah mencapai prio da reakt ansi sinkro n, maka dibut uhkan rele fasa
khusus.


Gambar 3- 3: Pen garu h mesin berpu t ar pada aru s gan ggu an simet ris


Mo t o r Induksi t idak t ermasuk sumber arus gan gguan guna keperluan pro t eksi ( kasu s
D) , namun demikian perlu penekanan khusus bahwa Mo t o r ini harus diperhat ikan pada
aplikasi Pemut us Tenaga sesuai dengan st andar AN SI/ IEEE. Offset dc yang dapat
dihasilkan akibat perubahan arus bo lak balik yang san gat t iba- t iba dalam sirkit bo lak
balik pada ko mpo nen simet ris diabaikan. Hal ini perlu diperhat ikan pada semua sist em
pro t eksi. Sumber ekivalen yang direpresent asikan dengan lingkaran yang diberi no t asi S,
sepert i diperlihat kan Gambar 3- 2 merepresent asikan sirkit ekivalen dari sist em yang
t idak diperlihat kan pada t it ik at au bagian mana st udi dilakukan. Hal ini t ermasuk sat u
at au beberapa mesin berput ar berikut dengan Transfo rmat o r, jaringan, dan sebagainya
yang mu ngkin t erit erko neksi. Secara umum, sist em dapat direduksi menjadi dua
sumber ekivalen pada kedua ujung t it ik gangguan yang menjadi st udi dengan sirkit
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 48
ekivalen penghubung ant ara kedua sumber. Bila penghubung ini san gat besar at au t idak
t erbat as, hal ini memperlihat kan bahwa hampir t idak ada at au kecil kemungkinan
t erjadinya pengalihan daya ant ara keduanya. Akan lebih mudah bila ekspresi sumber
ekivalen ini dinyat akan dengan MVA hubung singkat nya.





















Gambar 3- 4 : Jarin gan uru t an po sit if dari sebu ah sist em sederhan a den gan gan ggu an di F


3. 2.2 Jaringan Urut an Po sit if

Dalam ko ndisi n o rmal hanya t egan gan dan arus urut an po sit if yang ada dalam sist em
dan karenanya hanya ada impedansi urut an po sit if pula. Bilamana t erjadi gangguan, arus
pada cabang yang mengalami gan gguan berubah dari 0 menjadi
1
I dan t eganan urut an
po sit if sepanjang cabang t ersebut berubaha dari V menjadi
1
V . Menggant i cabang yang
mengalami gangguan dengan sumber t egangan yang sama dengan t egangan gan gguan
dan menghubung sin gkat semua t egangan sist em pada ko ndisi n o rmal akan
mengakibat kan mengalirnya arus
1
I kedalam sist em dan

( )
1
1
Z
V V
I

3- 3

Dimana
1
Z adalah impedansi urut an po sit if dari sist em dilihat dari t it ik gangguan, arus
gangguan yan g mengalir dari sist em menuju t it ik gangguan sama dengan 1 I - o leh
karena it u:
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 49

1 1 1
Z I V V 3- 4

adalah relasi ant ara arus urut an po sit if dan t egangan pada cabang selama t erjadi
gangguan. Dalam Gambar 3- 4, yang menggambarkan sebuah sist em sederhana,
t egangan jat uh
'
1
'
1 Z I dan
' '
1
' '
1 Z I adalah sama dengan ( )
1
V V , dimana arus- arus
I
'
1 dan I
' '
1 menuju t it ik gangguan dari sebelah kiri dan kanan t it ik gangguan dan
impedansi
'
1 Z dan
' '
1 Z adalah impedansi t o t al dilihat dari masing- masing sisi t it ik
gangguan. Tegangan V umumnya sama dengan t egangan sirkit t erbuka pada sist em
dan dapat dilihat bahwa
' ' '
E E V . Jadi t egangan uru t an po sit if akibat adanya
gangguan adalah lebih besar dit it ik sumber sepert i diperlihat kan dalam diagram Gradien
pada Gambar 3.4b.


3. 2.3 Jaringan Urut an N egat if

Dengan alasan hanya besaran urut an po sit if yang mu ncul dalam sist em t enaga pada
ko ndisi no rmal dan besaran urut an negat if hanya akan muncul selama t erjadi gangguan
t idak seimbang. Jika t idak ada besaran urut an negat if yang muncul dalam cabang yang
mengalami gan gguan akibat gangguan t ersebut , maka kemudian bila gangguan
muncul, perubahan t egangan adalah
2
V , dan arus
2
I yang dihasilkan mengalir dari
jaringan menuju t it ik gangguan adalah:

2
2
2
Z
V
I


at au

2 2 2
Z I V 3- 5

Impedansi dalam jaringan urut an negat if adalah sama dengan impedansi dalam jaringan
urut an po sit if. Dalam mesin- mesin elekt rik
2 1
Z Z , namun pada sist em- sist em besar
perbedaan ini diabaikan. Diagram jaringan urut an negat if diperlihat kan dalam Gambar
3- 5 sama dengan diagram urut an po sit if, dengan dua perbedaan pent ing, yait u: t idak
ada sumber t egangan pengendali sebelum gangguan dan t egangan urut an negat if
2
V
lebih besar pada t it ik gangguan.


3. 2.4 Jaringan Urut an N o l

Relasi t egangan dan arus yang berlaku dalam jaringan urut an no l sama dengan pada
jaringan urut an negat if pada saat t erjadi gangguan, karenanya:
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 50
0 0 0
Z I V 3- 6

Demikian juga dengan diagram urut an no l sepert i diperlihat kan pada Gambar 3- 5,
dimana harga
0
I menggant ikan
2
I dan set erusnya. Arus dan t egangan dalam jaringan
urut an no l t anpa co - fasa, art inya semuanya dalam fasa yang sama. Sehingga u nt uk aru s
urut an no l agar dapat mengalir dalam sist em harus ada jalan balik penghubung, baik
melalui ko ndukt o r net ral at au melalui t anah. Dalah hal ini harus diingat pada saat
menent ukan rangkaian urut an no l. Secara umum
0 1
Z Z dan harga
0
Z sangat variat if
t ergant ung pada jenis pembangkit , cara dan hubungan lilit an dan met o da pent anahan
sist em.


















Gambar 3- 5: Jarin gan Uru t an N egat if den gan Gan ggu an dit it ik F


3. 3 PERSAMAAN DAN RAN GKAIAN EKIVALEN UN TUK BERBAGAI TIPE
GAN GGUAN

Tipe gangguan yan g pent ing yang sering t erjadi dalam suat u sist em t enaga elekt rik,
ant ara lain:

a. Sat u Fasa Tanah
b. Dua Fasa
c. Dua Fasa Tanah
d. Tiga Fasa ( t anpa at au melibat kan t anah)

Keempat t ipe gangguan diat as disebut sebagai gangguan shunt t unggal karena han ya
t erjadi pada sat u lo kasi dan hubungan jarin gan urut an sebagaimana gan gguan yan g
t erjadi sebagaimana ko ndisi gangguan t ersebut . Dari persamaan awal dan diagram
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 51
rangkaian dimu ngkinkan u nt uk menent ukan besaran t egangan dan arus pada set iap
cabang dari sist em t ersebut . Dengan mengabaikan arus beban dan dengan asumsi
gangguan yang t erjadi t anpa melibat kan impedansi gangguan, maka persamaan unt uk
mendefinisikan set iap gangguan dapat dinyat akan sebagai beikut :

a. Sat u Fasa Tanah ( A E)

0 V
0 I
0 I
a
c
b

3- 7

b. Dua Fasa
c
V V
I I
0 I
b
c b
a

3- 8

c. Dua Fasa Tanah
0 V
0 V
0 I
c
b
a

3- 9

d. Tiga Fasa ( t anpa at au melibat kan t anah)
c b
b a
c b a
V V
V V
0 I I I

+ +
3- 10

Dari persamaan- persamaan diat as dapat dilihat bahwa set iap t ipe gangguan t erdapat t iga
persamaan yang mendefinisikan set iap ko ndisi gangguan. Seluruh t egangan dan arus
adalah besaran sat u fasa ( fasa net ral) dan diasumsikan t idak t erdapat arus beban yang
mengalir. Bila t erdapat impedansi ganggua, maka besaran impedansi ini harus
dimasukkan kedalam persamaan. Sebagai co nt o h, bila t erjadi gangguan sat u fasa t anah
yang melibat kan impedansi gangguan
f
Z , maka persamaan 3- 7 menjadi:

f a a
c
b
Z I V
0 I
0 I

3- 11


3. 3.1 Gangguan Sat u Fasa Tanah ( A E)

Tinjau suat u gangguan yang didefinisikan o leh persamaan 3- 7 dan diagram rangkaian
pada Gambar 3- 6. Ko nversi persamaan 3- 7 kedalam besaran urut an dengan
menggu nakan persamaan 3- 1 dan 3- 2, didapat :
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 52
a
0 2 1
I
3
1
I I I 3- 12

) V V ( V 0 2 1 + 3- 13














Gambar 3- 6: Represen t asi Gan ggu an sat u fasa - t an ah


Subst it usi unt uk 1 V , 2 V dan 0 V kedalam persamaan 3- 13 dari persamaan 3- 4, 3- 5 dan
3- 6 didapat :

0 0 2 2 1 1 Z I Z I Z I V +

Tet api dari persamaan 3- 12, dimana
0 2 1
I I I , o leh karena it u:

( ) 0 2 1 1 Z Z Z I V + + 3- 14

Bat asan yang t erdapat didalam persamaan 3- 14 menunju kkan bahwa rangkaian
penggant i unt uk menunju kkan ko ndisi gangguan didapat dengan cara
menghubungkan jaringan- jaringan urut an secara seri sepert i diperlihat kan dalam
Gambar 3- 6b


3. 3.2 Gangguan Dua Fasa ( B C)

Dari persamaan 3- 8 dan menggunakan persamaan 3- 1 dan 3- 2, didapat :

0 I
I I
0
2 1


3- 15

2 1 V V 3- 16
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 53













Gambar 3- 7: Represen t asi Gan ggu an du a Fasa ( B C)


Dari persamaan jaringan 3- 4 dan 3- 5, persamaan 3- 16 dapat dit ulis menjadi sebagai
berikut :

2 2 1 1
Z I Z I V

Dengan mensubst it usi harga
2
I dari persamaan 3- 15 didapat :

( )
2 1 1
Z Z I V + 3- 17

Bat asan yang t erdapat didalam persamaan 3- 15 dan 3- 17 menu njukkan bahwa dalam
rangkaian pen ggant i unt uk menunju kkan ko n disi gangguan t idak t erdapat jaringan
urut an no l, dan jarin gan u rut an po sit if dan n egat if t erhubung secara paralel sepert i
diperlihat kan dalam Gambar 3- 7.


3. 3.3 Gangguan Dua Fasa Tanah ( B C E)

Kembali, dari persamaan 3- 9 dan persamaan 3- 1 dan 3- 2 didapat :

( )
0 2 1
I I I + 3- 18

dan

0 2 1
V V V 3- 19

Subst it usi harga
2
V dan
0
V menggunakan persamaan jaringan 3- 5 dan 3- 6:

0 0 2 2
Z I Z I
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 54
Maka, dengan menggunakan persamaan 3- 18, dipero leh:

2 0
1 2
0
Z Z
I Z
I
+
3- 20

2 0
1 0
2
Z Z
I Z
I
+
3- 21

Selanjut nya, menset arakan dengan
1
V dan
2
V sert a persamaan 3- 4, menghasilkan:

2 2 1 1
Z I Z I V

At au

2 2 1 1
Z I Z I V

Subst it usi
2
I dari persamaan 3- 21:

1
2 0
2 0
1
I
Z Z
Z Z
Z V
1
]
1

+
+
At au
( )
2 0 2 1 0 1
2 0
1
Z Z Z Z Z Z
Z Z
V I
+ +
+
3- 22

Dari persamaan diat as dapat dilihat bahwa gangguan dua fasa t anah dapat
direpresent asikan dengan cara menghubungkan ket iga jaringan urut an secara paralel
sepert i diperlihat kan dalam Gambar 3- 8b.














Gambar 3- 8: Represen t asi Gan ggu an du a Fasa Tan ah ( B C - E)

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 55
3. 3.4 Gangguan Tiga Fasa ( A B C at au A B C E)

Bila diasumsikan gangguan melibat kan t anah, dari persamaan 3- 10 dan 3- 1, 3- 2 didapat :

0 V
0 V
0 V
2
1
0

3- 23

Dan
0 I
0
3-24

Subst it usi 0 V
2
kedalam persamaan 3- 5 menghasilkan:

0 I
2
3-25

dan subst it usikan 0 V
1
kedalam persamaan 3.4 menghasilkan:

1 1
Z I V 0

at au

1 1
Z I V 3- 26

Lebih jauh, dari persamaan 3- 24, 0 I
0
, dan diikut i dengan persamaan 3- 6 bahwa
0
V
adalah no l bilamana
0
Z t erbat as. Rangkaian pen ggant i unt uk gan gguan t iga fasa
diperlihat kan dalam Gambar 3- 9.














Gambar 3- 9: Represen t asi Gan ggu an Tiga Fasa ( A - B C at au A - B C - E)


Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 56
3. 4 DISTRIBUSI TEGAN GAN DAN ARUS DALAM SISTEM AKIBAT GAN GGUAN

Dalam perhit ungan gangguan harus pula diperhat ikan pengaruh gan gguan t ersebut pada
cabang- cabang jaringan diluar daerah yang m engalami gangguan, sehingga pro t eksi
dapat dit erapkan secara t epat guna mengiso lir daerah yang mengalami gangguan. Oleh
karena, perhit ungan gangguan t idak hanya t erbat as pada arus gangguan it u sendiri,
dist ribusi arus gangguan juga harus diperhat ikan. Tegangan abno rmal mun gkin saja
muncul dalam sist em karena gangguan dan hal ini dapat mempengaruhi o perasi sist em
pro t eksi. Oleh karena it u penget ahuan mengenai dist ribusi t egangan dan aru s pada
sist em saat t erjadi gangguan diperlukan gu na penerapan sist em pro t eksi.. Pendekat an
yang dilakukan dalam st udi gangguan sist em guna penerapan peralat an pro t eksi dapat
diringkas sebagai berikut :

a. Dari diagram sist em dan dat a bat asan o perasi st abil Generat o r dan ko ndisi yang
munkin bagi sist em t ersebut . Bila t idak dipero leh dat a lengkap, dapat dilakukan
beberapa asumsi.
b. Dengan asumsi gangguan t erjadi pada set iap t it ik rele, maka perhit ungan arus
gangguan minimum dan maksimum u nt uk set iap t ipe gangguan dapat dilakukan.
Gangguan diasumsikan t anpa melalui impedansi gangguan.
c. Dengan menghit un g dist ribusi arus gangguan unt uk set iap t ipe gangguan pada
beberapa t it ik dalam sist em, dimana rele t erpasang.
d. Perhit ungan variasi t egangan yang t erjadi pada t it ik dimana rele t erpasang, at au
bat asan st abilit as sist em pada saat t erjadi gangguan dibut uhkan guna menent ukan
klas sist em pro t eksi yang akan dipergu nakan, co nt o h: rele kecepat an t inggi at au
t idak, rele unit at au lainnya dansebagainya.


3. 4.1 Distribusi Arus

Arus fasa pada set iap cabang jaringan dapat dihit ung dari dist ribusi arus urut an pada
rangkaian penggant i unt uk gan gguan t ersebut . Arus urut an umumnya dihit ung dalam
pu dalam cabang yang mengalami gangguan. Mengingat bahwa dalam sist em t enaga
pada ko ndisi no rmal impedansi urut an po sit if dan negat if sama, pembagian arus urut an
dalam kedua jaringan ident ik. Hargaimpedansi dan ko nfigurasi jaringan urut an no l
pada umumnya berbeda dengan urut an po sit if dan negat if, karenanya dist ribusi arus
urut an no l dihit ung secara t erpisah.

Jika
0
C dan
1
C adalah fakt o r dist ribusi urut an po sit if dan no l, maka arus akt ual dalam
cabang jaringan urut an didapat dengan mengalikan arus akt ual dalam cabang yang
mengalami gan gguan dengan fakt o r dist ribusi yang bersesuaian. Dengan alasan ini, jika

'
1 I ,
'
2 I dan
'
0 I adalah arus urut an pada cabang jaringan disebabkan gangguan pada
beberapa t it ik dalam jaringan, maka arus fasa pada cabang t ersebut dapat diekspresikan
dengan men ggu nakan ko nst ant a dist ribusi dan arus urut an. Berikut ini disajikan variasi
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 57
gangguan shunt , menggunakan persamaan 3- 1 dan persamaan gangguan yang ada
didapat :

a. Sat u Fasa Tanah ( A E)

0
I ) C (2C I
0 1
'
a +
0
I ) C (C I
0 1
'
b 3- 27
0
0 1
'
c I ) C (C I

b. Dua Fasa ( B C)
0 I
'
a
1 1
2
'
b I a)C - (a I 3- 28

1
I )C a - (a I
1
2
'
c

c. Dua Fasa Tanah ( B C E)
0
I ) C (C I
0 1
'
a
0
1
0
I ) C C a
Z
Z
)C a (a I
0 1
2
1
2
'
b
1
]
1

+ 3- 29
0
1
0
I ) C aC
Z
Z
a)C (a I
0 1 1
2
'
c
1
]
1

+

d. Tiga Fasa ( A B C at au A B C E)

1
I C I
1
'
a
1
I C a I
1
2
'
b 3- 30
1
I aC I
1
'
c

Sebagai co nt o h penggunaan t eknik arus dist ribusi, t injau sist em sepert i yang
diperlihat kan dalam Gambar 3- 10 a dan jaringan urut an ekivalen dalam Gambar 3- 10 b
dan 3- 10 c. Gangguan diasumsikan pada t it ik A dan diinginkan u nt uk menent ukan
besarnya arus pada cabang OB akibat adanya gangguan. Dalam set iap cabang diberikan
harga fakt o r dist ribusinya, dimana arus pada cabang yang mengalami gangguan
besarnya diambil 1,0 pu. Dari diagram diperlihat kan bahwa fakt o r dist ribusi urut an no l
0
C adalah 0 ,112 dan fakt o r dist ribusi urut an po sit if
1
C adalah 0 ,373. Unt uk gangguan
t anah pada t it ik A, besarnya arus fasa pada cabang OB, dengan menggunakan
persamaan 3- 27 adalah:

0
0 a
I 0,858
I 0,112) (0,746 I

+

dan
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 58
0
0 c b
I 0,261 -
I 0,112) (0,373 I I

+

































Gambar 3- 10 : Tipikal Sist em Ten aga Elekt rik


Dengan men ggu nakan met o da reduksi jarin gan dan asumsi bahwa seluruh impedansi
adalah reakt if, dapat dilihat bahwa j0,68 Z Z
0 1
. Oleh karena it u, dari persamaan
3- 14, maka arus pada cabang yang mengalami gangguan
0,68
V
I
a
, dengan asumsi
bahwa V 63,5 V , maka:

A 31,20
0,68 x 3
63,5
I
3
1
I
a 0

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 59
Jika V diambil sebagai vekt o r acuan, maka:

A 90 26,8 I
0
'
a
A 90 15 , 8 I I
0
'
c
'
b

Vekt o r diagram unt uk ko ndisi gan gguan diat as diperlihat kan dalam Gambar 3- 11



Gambar 3- 11: Diagram vekt o r aru s gan ggu an dan t egan gan pada caban g OB
akibat gan ggu an sat u fasa t an ah pada fasa A


3. 4.2 Dist ribusi Tegangan

Tegangan dist ribusi dalam set iap cabang jaringan dapat dit ent ukan dari dist ribusi
t egangan urut an. Sepert i diperlihat kan dalam persamaan 3- 4, 3- 5 dan 3- 6 dan diagram
Gradien, Gambar 3- 4b dan 3- 5b, t egangan urut an po sit if berharga minimum pada
daerah gangguan, sedangkan t egangan u rut an negat if dan no l berharga maksimu m.
Dengan demikian, t egangan urut an pada bagian sist em secara umum dapat dit ulis dalam
persamaan berikut :

1
]
1


1
]
1


1
]
1

0n
n
1
0n
0
1n
n
1
1n
1n
n
1
1n
Z C Z I V
Z C Z I V
Z C Z I V V
0 0
1 2 2
1 1 1
3- 31

Menggunakan persamaan diat as t egangan gangguan pada bus B dalam co nt o h
t erdahulu dapat dihit ung. Berdasarkan diagram dist ribusi urut an po sit if dalam Gambar
3- 10 c, dipero leh:

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 60
{ } [ ]
[ ] ,464 0 j Z I V
0,45 x (0,375 0,75) x (0,395 j Z I V V
1 1
1 1 1

+


[ ] ,464 0 j Z I V
1 2 2


Dari diagram dist ribusi urut an no l dalam Gambar 3- 7b, dipero leh:

{ } [ ]
[ ] ,608 0 j Z I
1,60 x (0,112 2,60) x (0,165 j Z I V
0 0
0 0 0

+


Akibat gangguan t anah pada t it ik gan gguan A j31,20 I I I 0 2 1 , bila
V 63,5 V dan besaran ini dijadikan vekt o r acuan, lebih lanjut j0,68 Z Z 0 1 ,
maka:

V 0 56,76
31,2) x (0,216 63,5 V
0
1



V 180 6,74 V
0
2
V 180 25 , 2 V
0
0

Dan menggunakan persamaan 3.1 didapat

V 0 47,80
) 25 , 2 74 , 6 ( 76 , 56
V V V V
0
0 2 1
'

+
+ + a


V 0 4 , 116 61,50
2,25) a (6,74 a 56,76
V V a V a V
0
2
0 2 1
2
'
b

+
+ +

V 116,40 61,50
2,25) a (6,74 a 56,76
V V a V a V
0
2
0 2
2
1
'
c

+
+ +


Vekt o r t egangan ini diperlihat kan dalam Gambar 3- 11.


3. 5 PEN GARUH SISTEM PEN TAN AHAN PADA BESARAN URUTAN N OL

Telah kit a lihat bersama pada pembahasan awal bahwa arus urut an no l mengalir ket anah
selama t erjadi gangguan t anah dan arus ini dipengaruhi o leh bagaimana sist em
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 61
pent anahan dilakukan. Karena besaran ini unik sesuai dengan gangguan t anah yang
t erjadi, besaran ini dapat dipakai dalam menent ukan peralat an pro t eksi.


3. 5. 1 Tegangan dan Arus Residu

Arus- arus dan t egangan- t egangan residu eksist ensinya t ergant ung kepada dua fakt o r,
yait u:

a. Hubungan sist em pent anahan pada dua at au lebih t it ik.
b. Perbedaan po t ensial ant ara t it ik pent anahan akibat mengalirnya arus ket anah.

Dalam ko ndisi o perasi no rmal t erdapat kapasit ansi ant ara fasa - fasa dan ant ara fasa -
t anah. Kapasit ansi ini mungkin simet ris dan t erdist ribusi secara unifo rm sepanjang
sist em. Jadi bila ko ndisi ( a) t erpenuhi, jika t egangan pengendali simet ris maka jumlah
vekt o r arus akan sama dengan no l dan t idak arus yang akan men galir pada kedua t it ik
pent anahan sist em. Pada saat t erjadi ganggu an t anah pada sist em, maka t erjadi
ket idakseibangan pada sist em, maka ko ndisi ( b) t erjadi. Dari definisi yang diberikan
diat as, maka t egangan dan arus residu adalah vekt o r penjumlahan dari arus fasa dan
t egangan fasa, karenanya:

c b a I I I I + + R

Dan

ce be ae
'
R
c b a
'
R
V V V V
dan
I I I I
+ +
+ +
3- 32

Dari persamaan
0
0
V 3 V
I 3 I

R
R
3- 33
Lebih jauh, harus diingat bahwa

ne cn ce
ne bn be
ne an ae
V V V
V V V
V V V
+
+
+
3- 34

Karenanya, jika an cn an
2
bn V a V , V a V , maka

ne R V 3 V 3- 35
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 62
dimana netral tegangan pergeseran Vne

Pengukuran besaran residu dilaksanakan menggunakan Transfo rmat o r t egangan
dan arus dengan cara ko neksi sepert i diperlihat kan dalam Gambar 3- 12. Bilamana rele
dihubungkan dit iit k mana vo lt met er dan amperemet er dihubungkan, maka rele ini
akan mampu mendet eksi gangguan t anah yang t erjadi.














Gambar 3- 12 : Pen gu ku ran besaran residu al


3. 5.2 Rat io Sist em
1 0
/ Z Z

Rat io sist em
1 0
/ Z Z disefinisikan sebagai rat io ant ara impedansi urut an no l dan urut an
po sit if yang dilihat dari t it ik gangguan. Rat io ini bervariasi t ergant ung pada bagaimana
met o da pent anahan sist em, po sisi gangguan dan pengat uran o perasi sist em. Bilamana
ingin menent ukan dist ribusi besaran residu yang melalui sist em dapat dilakukan dengan
menggu nakan t it ik gangguan sebagai t it ik acuan dan sebagai t it ik dimana injeksi
besaran- besaran t idak seimbang diberikan ke sist em. Residu t egangan diukur t erhadap
besaran t egangan fasa- net ral sist em dalam ko ndisi no rmal dan arus residu dibandingkan
dengan besaran arus gan gguan t iga fasa pada t it ik gangguan. Dapat dilihat bahwa
karakt erist ik dari besaran ini dapat diekspresikan menggu nakan t ermino lo gi rat io
1 0
/ Z Z sist em

Impedansi urut an po sit if sist em pada umumnya reakt ansi, dimana impedansi urut an no l
dipengaruhi o leh cara pent anahan sist em, yang mun gkin t erdiri dari ko mpo nen
resist ansi dan reakt ansi. Dengan demikian ekspresi dari rat io
1 0
/ Z Z dinyat akan dengan:

1
0
1
0
1
0
X
R
j
X
X
Z
Z
3- 36
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 63
Ekspresi arus residu dalam t ermino lo gi arus t iga fasa dan rat io
1 0
/ Z Z masing- masing
adalah:


a. Sat u Fasa Tanah ( A E)
1 0 1
R
Z
V
K) (2
3
Z Z 2
V 3
I
+

+


Dimana 1 0 / Z Z K

1
3
Z
V
I

Jadi

K) (2
3
I
I
3
R
+
3- 37


b. Dua Fasa Tanah ( B C E)


1
0 1
1
0 R I
Z Z
Z 3
I 3 I
+


2
1 0 1
0 1
1
Z Z Z 2
) Z Z ( V
I
+
+


Karena

1
2
1 0 1
1
R
Z
V
) 1 2 (
3
Z Z Z 2
Z V 3
I
+

+

K


Maka
1) K (2
3
I
I
3
R
+
3- 38

Dengan cara sama, t egangan residu dapat dit ent ukan dengan cara mengalikan
persamaan 3- 37 dab 3- 38 dengan V K , didapat :

a. Sat u Fasa Tanah ( A E)

V
) K (2
3
VR
+
3- 39

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 64
b. Dua Fasa Tanah ( B C E)

V
1) K (2
3
+
R V 3- 40

Kurva yang diperlihat akan dalam Gambar 3- 13 menunjukkan variasi dari besaran residu
t erhadap rat io
1 0
/ Z Z . Arus residu pada bagian- bagian sist em t enaga dapat dit ent ukan
dengan cara men galikan arus yang dipero leh dari kurva den gan fakt o r dist ribusi urut an
no l yang sesuai. Dengan cara yang sama, t egangan residu dihit ung den gan cara
memperkurangkan t egangan yang didapat dari kurva dengan t iga kali t egangan jat uh
urut an no l yang diukur dari t it ik yang diinginkan dan t it ik gangguan.



Gambar 3- 13: Variasi besaran residu al pada t it ik gan ggu an


3. 5.3 Variasi Besaran- Besaran Residu

Variasi besaran residu pada sist em yang disebabkan o elh perbedaan dalam sist em
pent anahan dapat dengan mudah dipahami den gan men ggunakan diagram vekt o r. Tiga
co nt o h t elah dipilih, masing- masing adalah gangguan so lid net ral t eriso lasi; gangguan
so lid pent anahan dengan resist ansi dan gangguan melalui resist ansi net ral dengan
pent anahan so lid. Ket iganya diperlihat kan pada Gambar 3- 14, 3- 15 dan 3- 16.

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 65
a. Gangguan So lid N et ral Teriso lasi

Dari Gambar 3- 14 dapat dilihat bahwa kapasit ansi ket anah pada gangguan fasa
t erhubung karena gangguan dan mengakibat kan ket idakseimbangan yan g
menimbulkan arus kapasit if mengalir menuju t it ik gangguan, kembali melalui fasa dan
melewat i kapasit ansi fasa menuju t anah.
Pada gangguan

0 VaF
Dan

an
cF bF R
E 3
V V V

+


Pada sumber

an ne R E 3 V 3 V

Karena

0 E E E cn bn an + +






















Gambar 3- 14 : Gan ggu an So lid N et ral Teriso lasi

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 66
Jadi, bila net ral sist em t eriso lasi, t egangan residu menjadi t iga kali dari t egangan fasa
net ral pada ko ndisi no rmal dari fasa yang mengalami gan gguan dan t idak t erdapat
variasi t egangan ant ara R V sumber dan R V pada gangguan. Dalam prakt ek, t erdapat
impedansi bo co r ant ara net ral dan t anah dan arus residu masih dapat didet eksi pada
t it ik X dengan menggunakan rele yang cukup sensit if.


Gambar 3- 15: Gan ggu an So lid N et ral dit an ahkan melalu i resist an si


b. Gangguan So lid Net ral Dit anahkan Melalui Resist ansi

Gambar 3- 15 memperlihat kan bahwa kapasist ansi dari fasa yang t erganggu dihubun g
singakt o leh gangguan dan ko mbinasi arus net ral dan arus kapasit ansi fasa memberikan
Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 67
a I pada fasa yang men galami gangguan. Dengan rele dilo kasi X, dengan hubungan
sepert i dalam Gambar 3- 12, arus residu an I adalah arus lo o p ant ara net ral t anah.

Pada t it ik gangguan:

cF bF R V V V + karena 0 VFe

Pada sumber:

cX bX aX R V V V V + +

Dari diagram t egangan residu, t erlihat jelas bahwa hanya t erjadi sedikit variasi pada
t egangan residu ant ara sumber dan gan gguan kebanyakan t egangan residu menu run
sepanjang resit o r net ral. Oleh karena it u derajat variasi dari besaran residu t ergant ung
pada resit o r net ral.


























Gambar 3- 16: Gan ggu an Melalui Tahan an Net ral So lid

Perhi tungan Gangguan
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 68
c. Gangguan Melalui Resist ansi Net ral Dit anahkan So lid

Kapasit ansi dapat diabaikan, karena kapasit ansi gangguan fasa t idak t erhubung, arus
sirkulasi kapasit if dapat diabaikan.
Pada t it ik gangguan:

cn bn Fn R V V V V + +

dan pada lo kasi rele:

cn bn Xn R V V V V + + .

Dari diagram t egangan residual yang diperlihat kan dalam Gambar 3- 16, t erlihat bahwa
t egangan residu lebih besar pada daerah gangguan dan mengecil mendekat i sumber.
Jika resist ansi gangguan mendekat i no l, dikat akan gan gguan adalah gangguan so lid dan
Fn V mendekat i no l dan t egangan jat uh pada s Z dan L Z menjadi besar. Harga ult imat e
dari Fn V akan t ergant ung pada efekt ivit as pent anahan dan merupakan fungsi rat io
1 0
/ Z Z sist em



























Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 69
BAB 4
SUMBER- SUMBER MASUKAN RELE



4. 1 PEN DAHULUAN

Rele pro t eksi membut uhkan repro duksi yan g akurat dari ko ndisi no rmal, keadaan layak
( dapat dipert ahankan) dan keadaan t ak layak ( t ak dapat dipert ahankan) dalam sist em
t enaga agar rele mampu mendet eksi dan beroperasi dengan benar. Info rmasi sist em
t enaga ini kebanyakan didapat melalui Transfo rmat o r- Transfo rmat o r t egangan dan
Transfo rmat o r- Transfo rmat o r arus, kecuali unt uk rele- rele jenis t emperat ur yang
menerima info rmasi mereka dari indikat o r- indikat o r t hermco uples at au indikat o r
t emperat ur.

Gambar 4 - 1: Tipikal CT t egan gan ren dah
( a) . Tipe bar dan ( b) . Tipe t hro u gh

Peralat an- peralat an diat as, sepert i: Transfo rmat o r- Transfo rmat o r arus ( CTs) ,
Transfo rmat o r- Transfo rmat o r t egangan ( VTs, dulunya PTs) , dan Transfo rmat o r-
Transfo rmat o r t egangan kapasit o r gandeng ( CCVTs) , merupakan pemisah at au
penyekat dari sist em t egangan t in ggi dan penuru n besaran primer menjadi besaran yan g
dapat dit erima rele pro t eksi. Jadi sisi primer dari Transfo rmat o r yang dihubun gkan
kedalam suat u sist em t enaga harus memiliki kemampuan iso lasi yang sesuai dengan
sist em t ersebut . Unt uk kesesuaian aplikasi dan disain rele, bagian sekunder
Transfo rmat o r dist andarkan. Sumber- sumber masukan rele ini merupakan bagian
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 70
pent ing dari sebuah t eam pro t eksi. Tipikal t ipe CT diberikan dalam Gambar 4- 1 sampai
Gambar 4- 5.

Gambar 4 - 2 : CT t ipe Oil- filled


Beberapa cara lain unt uk menyediakan info rmasi ut ama ke rele- rele pro t eksi dengan
menggu nakan peran gkat elekt ro nik, pipa cahaya, dan fiber o pt ic. Sejauh ini perangkat
t ersebut masih merupakan pro yek- pro yek penyelidikan ut ama yang belum diket ahui
kemampuannya dalam o perasi prakt is. Hasil pro yek- pro yek ini benar- benar
menjanjikan di masa depan


Gambar 4 - 3 : VT at au PT digu n akan pada Sist em t egan gan ren dah
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 71
Masalah- masalah sist em yang t idak dapat dit o lerir mungkin dalam ko ndisi peralihan
at au t et ap yang dapat menyebabkan perubahan besaran t egangan at au arus primer
dalam rent ang yan g san gat lebar, hal ini t erut ama t erjadi pada besaran arus , yang dapat
berubah secara t iba- t iba dari beberapa Ampere menjadi beberapa rat us Ampere pada
saat t erjadi gangguan. Sedangkan besaran t egangan selama gangguan dapat t urun yait u
dari nilai rat a- rat a menjadi no l.


Gambar 4 - 4 : Tipikal Gardu Hu bu n g 115 kV den gan VT yan g t erpasan g diat as pipa set in ggi 10 ft


Gambar 4- 5 : CCVT yang sedang dalam pengujian dan kalibrasi


4. 2 RANGKAIAN EKIVALEN CT DAN VT

Diagram ekivalen suat u Transfo rmat o r ( inst rumen Transfo rmat o r) dit unjukkan dalam
Gambar 4- 6. Impedansi penguat an ( permagnet an) Ze dalam Gambar 4- 6a dit unjukkan
dalam dua bagian. Ze

adalah impedansi yang merepresent asikan fluks linkage ant ara int i
Transfo rmat o r dengan reakt ansi bo co rnya X. Ze merepresent asikan fluks linkage yang
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 72
t idak mencapai int i. Xp adalah reakt ansi bo co r yang merepresent asikan fluksi yang t idak
dapat memo t o ng int i Transfo rmat o r. Rp dan Rs merupakan t ahanan- t ahanan lilit an
primer dan sekunder.


Gambar 4- 6: Diagram ekivalent sebuah CT

Unt uk Transfo rmat o r t egangan, nilai dari ( Rp + Rs) dan j( Xp + X) dijaga rendah guna
meminimisasi susut dan pergeseran sudut fasa dari primer ke sekunder. Transfo rmat o r
arus t erdiri dari dua t ipe : yait u Transfo rmat o r dengan fluks lin kage yang signifikan pada
int i ( Gambar 4- 6a) dan t ipe dengan fluk bo co r yang dapat diabaikan ( Gambar 4- 6b) .
Pada kedua t ipe, impedansi shunt Ze harus dijaga t et ap t inggi guna menekan susut arus
dari primer ke sekunder.

Transfo rmat o r sempurna at au Transfo rmat o r ideal yang dit unjukkan dalam diagram
adalah unt uk memperlihat kan perubahan perbandingan ( rat io ) t anpa susut at au
impedansi. Dalam Gambar semua impedansi berada pada basis sekunder dengan
t at anama perunit .

Besaran- besaran primer direduksi sebesar n perbandingan belit an unt uk mendapat kan
besaran t egangan dan arus sekun der yan g berfungsi sebagai sumber energi bagi rele- rele
pro t eksi dan perlengkapan lainya. Impedansi- impedansi beban ini biasa disebut burden.
Termino lo gi ini dapat mengacu pada sebuah peralat an at au t o t al beban yang
t erhubung, t ermasuk impedansi sekunder inst rumen Transfo rmat o r karena hal it u
pent ing. Unt uk peralat an t ersebut , burden sering diekpresikan dalam vo lt - ampere pada
besaran t egangan at au arus t ert ent u. Impedansi beban ZB adalah:

VTs untuk Ohm
VA
V
Z atau CTs untuk Ohm
I
VA
Z
2
B
2
B


Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 73
dimana VA adalah VA burden sedangkan I at au V adalah arus at au t egangan dimana
burden diukur.


4. 3 APLIKASI TRAN SPORMATOR ARUS UNTUK PROTEKSI

Di Amerika Serikat , sebagian besar Transfo rmat or arus mempunyai rat ing sekunder 5.A.
Rat ing lainnya, t et api t idak umum digunakan adalah 1A, namun demikian dibeberapa
negara lain rat ing 1A ini digunakan pula. Keunt ungan pen ggunaan rat ing yang redah in i
akan muncul bilamana dibut uhkan ko ndisi lead sekunder ant ara CTs dan rele- rele,
sepert i pada inst alasi t egangan t inggi ( HV) . Bagaimanapun, perubahan rat ing
Transfo rmat o r arus t anpa perlu mengurangi energi yan g dibut uhkan bagi
pengo perasian rele. Dengan VA ko nst an, penurunan arus berart i kenaikan t egangan
dan kebut uhan t ingkat iso lasi yang lebih t inggi ant ara primer dan sekunder. Secara
keseluruhan, unt uk sebagain besar sist em, keunt ungan- keunt un gan yan g ada
digant ikan o leh kerugian. Unt uk saat ini dan masa mendat ang kecenderungan
penggunaan rele so lid st at e dengan burden yan g sangat rendah dibut uhkan st andarisasi
lain agar dapat lebih berguna. Ukuran unjukkerja suat u Transfo rmat o r arus adalah
kemampuan dari CTs t ersebut unt uk menghasilkan/ merepro duksi besaran primer ke
besaran sekunder dengan akurat , baik dalam magnit ude maupun bent uk gelo mbang.
Terdapat dua bagian dari unjuk kerja, yait u :
1. Unjuk kerja pada ko mpo nen AC simet ris dan ;
2. Unjuk kerja pada ko mpo nen DC o ffset . CTs mo dern memiliki kemampuan
repro duksi bent uk gelo mbang yang benar selama CTs t idak mengalami
kejenuhan.


4. 4 UN JUK KERJA CTS PADA KOMPON EN AC SIMETRIS

Unt uk ko mpo nen simet ri, unjuk kerja dit ent ukan dengan melihat arus t erbesar yang
dapat direpro duksi t anpa men galami kejenuhan yan g akan men yebabkan kesalahan
perbandingan. Kesalahan sudut fasa umumnya t idak t erlalu krit is dan berpengaruh pada
kerja rele. Apabila CTs t idak mengalami sat urasi, diasumsikan bahwa Ie dapat diabaikan.

C
P
S
R
I
I Ampere at au IS = IP per Unit
dimana RC adalah perbandingan Transfo rmat o r arus at au sama dengan n dalam Gambar
4- 6. Unt uk CTs yang dihubungkan dalam lead fase pada sist em t enaga dengan beban
yang melewat inya, rat io RC dipilih sedemikian rupa sehin gga arus seku nder t idak
melebihi 5 A sekunder. Hal ini dipero leh berdasarkan pengalaman yan g dit unjukkan
dengan pen ggunaan t anda skala st andar 5A bagi inst rumen bergerak. Bila dipilih rat io
yang akan menghasilkan arus dibawah 5A pada beban maksimum, maka segala
inst rumen yang t erhubung pada sirkit t ersebut t idak akan mencapai skala yang sesuai.
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 74
Inst rumen dapat saja t erhubung at au t idak t erhubung melalui sirkit rele, namun
penggunaan ini t erus berlangsung, dimana st andar rat ing CTs dan rele selalu 5A.
N amun demikian, arus eksit asi CTs, Ie, t idak pernah no l apabila CT energise baik melalui
primer maupun sekunder. Oleh karena it u harus dipast ikan bahwa besaran ini diabaikan.
Hal ini dapat dilakukan dengan t iga met o da, yait u:
( 1) . Met o da klasik;
( 2) . Kurva unjuk kerja CT; dan
( 3) . Klas akurasi berdasarkan st andar ANSI / IEEE bagi rele.


4. 4. 1 Unjuk Kerja Berdasarkan Analisis Klasik

Fo rmula klasik dari suat u Transfo rmat o r adalah:

V 10 x A N f 44 , 4 V
8
maks
ef



dimana f adalah frekuensi dalam Hert z, N adalah jumlah lilit an sekunder, A adalah luas
penanmpang int i besi dalam inc
2
, dan
maks
adalah kerapat an fluks pada int i besi dalam
Garis/ inc
2
. N amun demikian, kebanyakan besaran ini t idak t ersedia, dan met o da ini
hanya digunakan o leh perancang CT. Vef adalah t egangan yang dibut uhkan o leh CT
unt uk dapat menghasilkan arus disisi sekunder menuju beban.

Beban yang t erhubung pada CT t erdiri dari t ahanan sekunder CT, RS,, impedansi leading
Zld, dan peralat an lain ( rele, dan sebagainya) , Zr. Tegangan yang diperlukan beban
adalah :

Vef = IS ( RS + Z1d + Zr) V


4. 4. 2 Unjuk Kerja Berdasarkan Kurva Karakt erist ik CT

Perhit ungan unjuk kerja dengan menggunakan rangkaian ekivalen dalam Gambar 4- 6a
sukar dilakukan, meskipun harga X diket ahui. St andar ANSI/ IEEE no mo r C57.13
t ent ang CTs menget ahui ko ndisi ini, o leh karena it u CTs yang memiliki fluks linkage
signifikant dengan t ipe int i dimasukkan dalam KLAS T. CTs yang memiliki sat u at au
beberapa belit an primer yang men gelilingi int i, juga dimasukkan dalam KLAS T. Unjuk
kerja CTs t ipe ini dapat dit ent ukan dengan baik melalui pengujian.
CTs dirancang agar dapat meminimisasi fluks linkage pada int i, sepert i pada t ipe
langsung, bar dan t ipe bushing ( Gambar 4- 1) , dimana rangkaian ekivalennya didapat
dari mo difikasi sirkit ekivalen Gambar 4- 6b. Sirkit ekivalent digambarkan dengan
menempat kan reakt ansi bo co r X didepan caban g reakt ansi permagnet an, dan cabang-
cabang ini dapat diparalel dengan Ze. Dengan sirkit ekivalen sepert i ini, unjuk kerja CT
dapat dihit ung. CTs ini dirancang sebagai CTs KLAS C.
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 75
Evaluasi berdasarkan kurva unjuk kerja m emerlukan pengujian kurva sepert i
diperlihat kan dalam Gambar 4- 7 unt uk KLAS T, at au kurva permagnet an ( eksit asi)
sepert i dalam Gambar 4- 8 unt uk KLAS C. B- 1 sampai B- 6 pada Gambar 4- 8
menunjukkan st andar burden. An gka memperlihat kan impedansi burden dalam OHM
pada fakt o r kerja 0 ,5. B- 1 adalah burden sebesar 1, B- 8 adalah burden 8, demikian
set erusnya.

Gambar 4 - 7 : Tipikal ku rva rat io arus lebih CT klas T


Lut ut at au t it ik efekt if sat urasi didefinisikan o leh st andar AN SI/ IEEEE sebagai
perpo t o ngan kurva dengan garis t angen 45
0
. N amun demikian, IEC mendifinisikan
daerah lut ut sebagai perpo t o ngan ant ara garis lu rus yang dit arik dari bagian t idak jenuh
dan bagian yan g t elah men galami kejenuhan dari kurva permagnet an. Daerah lut ut dari
IEC memiliki t egangan lebih t inggi dari daerah lut ut dari st andar ANSI.


4. 4. 3 Unjuk Kerja Berdasarkan Klas St andar Akurasi AN SI/ IEEE

Dalam beberapa applikasi, penggunaan gam baran klas akurasi dari AN SI/ IEEE
dibut uhkan unt uk menjamin unjuk kerja rele dengan baik. Sepert i dikemukakan, ada
dua kelas st andar, yait u : kelas T, dimana unjuk kerjanya t idak mudah unt uk dihit ung,
unt uk it u digunakan kurva pengujian pabrik ; dan kelas C, dimana unjuk kerjanya dapat
dihit ung. Penggambaran ini diikut i o leh indikat o r t egangan t erminal sekunder, Vgh,
dimana Transfo rmat o r dapat menghasilkan arus sekunder ke burden st andar 20 kali dari
rat ing arus st andar t anpa melampaui 10 % ko reksi rasio . Angka 10 % ini t idak akan
t erlampaui unt uk arus dari 1 sampai 20 kali rat ing arus st andar sekunder CT pada
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 76
burden st andar at au dibawah burden st andar. Unt uk rele, klas t egangan yang digunakan
adalah 10 0 , 20 0 , 40 0 dan 80 0 , sesuai den gan st andar burden B- 1, B- 2, B- 4 dan B- 8
secara bet urut - t urut . Beban- beban ini pada fakt o r daya sebesar 0 ,5, dengan sat uan
burden OHM, dipero leh dengan cara membagi rat ing t egangan dengan 20 kali rat ing
arus sekunder. Jadi bila rat ing t egangan adalah 80 0 Vo lt , dengan burden B- 8, maka:
8x5Ax 20 =80 0 V.

Gambar 4 - 8 : Tipikal ku rva eksit asi CT Klas C Mu lt irat io


Jika arus lebih rendah, maka pro po rsi burden m enjadi lebih besar, namun demikian hal
ini t idak t erpakai unt uk arus yang lebih t inggi karena impedansi int ernal yang diabaikan
akan mempengaruhi u njuk kerja. Dengan demikian unt uk rat ing t egangan 40 0 V, CT
akan mampu melalukan arus sebesar 10 0 A dengan burden 4 at au lebih kecil dengan
rat io kesalahan t idak lebih dari 10 %. CT t ersebut mampu melewat kan arus sebesar 50 A
dengan burden 8 dan kesalahan t idak lebih dari 10 %.

Unt uk rat ing t egangan t ersebut , lebih umum digunakan t egangan t erminal dibanding
t egangan eksit asi, at au :

Vgh = IS ( Zld + Zr) V

Unt uk klas t egangan lebih rendah sepert i 10 , 20 , dan 50 dengan st andar burden B- 0 ,1,
B- 0 ,2, dan B- 0 ,5 pada fakt o r daya sebesar 0 ,9 t erut ama digunakan unt uk pengukuran
dan unt uk keperluan pro t eksi harus digunakan secara hat i- hat i.

Dua CTs dengan rasio yang sama dan kedua sisi sekundernya dihubungkan secara seri
akan menaikkan ket elit ian menjadi lebih baik. Masing- masing CT hanya menyumbang
set engah dari t egangan yang dibut uhkan bu rden. Dua CTs dengan sirkit primer
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 77
t erhubung seri dan sekunder t erhubung paralel dapat menghasilkan rat io lebih rendah
dengan rat io individual t inggi dari CTs dan rat ing ket elit ian t inggi.

Harus dipahami bahwa klasifikasi ANSI hanya menunjukkan bahwa ko reksi rat io at au
kesalahan t idak akan melampaui 10 %; t idak memberikan info rmasi akt ual, yang dapat
berapa saja t et api t idak akan melebihi 10 %. Pent ing juga diingat bahwa klas ket elit ian ini
hanya berlaku unt uk belit an penuh, dan akan menurun bila digu nakan t ap yan g lebih
rendah. Kebanyakan Transfo rmat o r klas C adalah t ipe bushing mult i rat io dengan 5 t ap
sekunder, sepeert i diperlihat kan dalam Gambar 4- 8. Unjuk kerja pada t ap rendah akan
menurun secara signifikan dan t erbat as. Secara umum, penggunakan rasio t ap rendah
seharusnya dihindarkan, dan apabila t erpaksa digunakan harus diperiksa lebih dahulu.
Menurut st andar, pabrikasi CT dimaksudkan unt uk memehuhi kebut uhan rele akan: 1.
Klas ket elit ian; 2) . Rat ing t hermis dan sho rt - t ime mechanical; 3) . Tahanan; 4) . Kurva-
kurva sepert i dalam Gambar 4- 7 unt uk kelas T dan Gambar 4- 8 unt uk kelas C.


Gambar 4 - 9: Bu rden pada CT u n t u k beberapa t ipe hubu n gan dan gan ggu an


4. 5 BURDEN SEKUN DER SELAMA GAN GGUAN

Burden yang dirasakan o leh CT unt uk beberapa jenis gangguan dan hubungan
pengkawat an dit unjukkan dalam Gambar 4- 9. ZB adalah jumlah dari seluruh sirkit yang
t erhubung anat ara CTs dan rele dit ambah rele dan perangkat lain yang t erhubung.
Diasumsikan bahwa burden unt uk set iap fasa adalah sama, namun hal ini mun gkin t idak
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 78
seluruhnya benar. Bila CTs dihubungkan Delt a ( Gambar 4- 4b) , burden CT pada fasa A
adalah ( IA- IB) ZB- ( IC- IA) ZB dan dapat disederhanakan menjadi [ ] . ) ( 2
B C B A
Z I I I
Unt uk gangguan t iga fasa dimana IA + IB + IC = 0 , jadi ( IB + IC) = - IA . Selanjut nya
subst it usikan harga ini, burden menjadi 4IAZB.

Karena rele- rele fasa diat ur unt uk mendapat kan besaran pada arus gangguan t iga,
sedangkan rele gangguan t anah diat ur unt uk merasakan arus gangguan sat u fasa ke
t anah, diagram gangguan fasa- fasa jarang digunakan. Dari diagram t erlihat bahwa
burdennya sama dengan burden unt uk gangguan t iga fasa, dengan arus gangguan fasa-
fasa yang lebih kecil, arus gangguan t iga fasa adalah arus gangguan yan g t erbesar.


4. 6 RIN GKASAN EVALUASI UN JUK KERJA CT PADA KEADAAN TUN AK

Pert ama dengan asumsi arus eksit asi diabaikan dan t ent ukan arus sekunder maksimu m
dari persamaan 5- 2 unt uk gangguan maksimu m dimana pro t eksi diharapkan bekerja.
Tent ukanlah burden t o t al yang t erhubung ke CTs.
Jika est imasi unjuk kerja dilaku kan menggu n akan st andar AN SI, hit ung t egangan
maksimum yan g dibut uhkan CT berdasarkan persamaan 5- 5, dan bandingkan hasilnya
dengan rat ing CT sesun gguhnya. Agar lebih t elit i, t ent ukan dengan menggunakan CTs
t ipe T, t ent ukan unjuk kerja dari arus primer maksimum dan burden berdasarkan kurva
sepert i yang diperlihat kan dalam Gambar 4- 7 yang didapat dari pabrikasi CTs.

Unt uk t ipe C, hit ung t egangan yang harus dihasilkan pada gangguan maksimu m
menggu nakan persamaan 5- 4 dan t ent ukan magnit ude ku rva eksit asi yang ada
disert akan pada CT, sepert i diperlihat kan Gambar 4- 8. Perbandingan ant ara Ie dengan
arus sekunder yan g dibut uhkan menu njukkan u njuk kerja CT. Jika Vef lebih rendah dari
kemampuan CT, maka Ie akan kecil dan memiliki pengaruh minimum pada IS.
Sebaliknya apabila Vef melebihi kemampuan CT, maka Ie akan san gat berart i dan IS bagi
rele akan lebih rendah dari yang diharapkan at au dibut uhkan dan unjuk kerja CT akan
t erpengaruh. Dist o rsi dari bent uk gelo mbang akan t inggi bila CTs dio perasikan melebihi
lut ut kurva sat urasi. Hal ini mungkin mengganggu kerja at au o perasi dari beberapa
desain rele.

Dalam banyak kasus, dalam prakt ek penambahan impedansi burden dan arus secara
aljabar, t et api secara t eo rit is mereka harus digabungkan secara phaso r. Jika unju k kerja
adalah marjinal, penggabungan secara phaso r; sebaliknya, penjumlahan langsun g lebih
mudah dan memuaskan. Burden pada umumnya mendekat i unit i fakt o r daya bilamana
Ie t ert inggal 90
0
, sehingga ko mbinasi Ie dan IS pada sudut yang t epat adalah perkiraan
yang t epat .

Beberapa rele, sepert i pada rele arus lebih- wakt u elekt ro mekanik, cenderun g jenuh pada
arus t inggi, jadi impedansi int ernal menurun dan menjadi lebih resist iv. Unt uk rele jenis
ini pabrik menyediakan dat a burden pada beberapa t ingkat an arus. Sebagai co nt o h :
unt uk jenis rele dengan sensit ivit as 0 ,5 A memiliki impedansi 9,5 pada 0 ,5 A; 9,3
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 79
pada 1,5 A; 5,3 pada 5 A ; dan 3,5 pada 10 A ( dengan 20 TAP) . Penyusut an
burden membant u unjuk kerja sebuah CT.


4. 7 CON TOH UN JUK KERJA CT PADA KEADAAN TUN AK

Tinjau C10 0 , 60 0 :5 mult irat io CTs yang akan digunakan dengan rele arus lebih yang
akan dipergunakan unt uk pro t eksi jaringan dengan gan gguan t iga fasa maksimum
sebesar 250 0 A pada sisi primer dan minimum arus gangguan pada primer 350 A.
Beban maksimum pada penyulang adalah 90 A.
Dengan beban t ersebut maka akan lebih baik unt uk memilih CTs dengan rat io yang
lebih rendah, t et api sering kali CTs dipilih sebelum dat a sist em yang memadai diket ahui.
Pemilihan CT rat io t inggi t ap mult i dilakukan unt uk mengant isifasi daerah o perasi yang
memungkinkan. Bagaimanapun, hal t ersebut dapat memberikan masalah- masalah
dalam sist em pro t eksi.

Pilihan pert ama yang akan dipilih adalah CT dengan rat io t ap 10 0 : 5 ( 20 : 1) . Dengan
CT ini, arus maksimum beban pada sekunder adalah 90 / 20 = 4,5 A. Unt uk rele
gangguan fasa, dapat dipilih t ap 5, yang memberikan harga arus diat as arus beban
maksimum sepert i yang diperlukan u nt uk men ghindari o perasi dalam keadaan beban
maksimum. Pada t ap rele sepert i ini burden adalah 2,64 VA. Lead resist ansi mulai dari
rele sampai ke CT adalah 0 ,4. Dengan men gan ggap arus eksit asi no l, arus pick- up rele
disisi primer pada t ap 5 adalah 5 x 20 = 10 0 A.

Bagaimanapun, t anpa mengabaikan arus eksit asi, arus pick- up rele disisi primer akan
menjadi lebih besar. Tot al impedansi sekunder yang dit ambahkan secara langsun g
adalah :

Burden rele, 2,64/ 5
2
0 ,10 6
Resist ansi leading 0 ,40 0
CT resist ansi sekunder 0 ,0 82 ( lihat Gambar 4- 10 )
To t al CT sekunder 0 ,588

Tegangan yan g diperlukan unt uk menghasilkan arus sekunder sebesar 5A adalah: 5 x
0 ,588 = 2,94 Vo lt . Dari karakt erist ik CT pada Gambar 4.10 harga Ie unt uk t egangan 2,96
Vo lt pada kurva 10 0 / 5 sekit ar 0 ,22 A. Jika IS langsung dit ambahkan ke Ie, t o t alnya
adalah 5,22 dan arus primer yang dibut uhkan unt uk mengo perasikan rele hanya sebesar
20 x 5,22 at au 10 4,4 A.

Jika IS dan Ie dit ambahkan pada 90
o
, t o t alnya adalah 005 , 5 ) 22 , 0 ( ) 5 (
2 2
+ , yang
akan memberikan arus primer sebesar 20 x 5,0 0 5 = 10 0 ,10 A. Dengan arus gangguan
minimum sebesar 350 A, maka unt uk kedua cara penjumlahan didapat masing- masing
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 80
350 / 10 4,4 = 3,35 at au 350 / 10 0 ,10 = 3,5 kali arus pick- up rele. Angka ini dapat
dit erima. N amun demikian, mari kit a lihat unt uk arus gangguan maksimum. Dengan
mengabaikan arus sekunder maka Ie haruslah 2 50 0 / 20 = 125A. Dengan memilih t ap
20 kali burden rele adalah 580 VA, jadi unt uk arus yang lebih t inggi t o t al burden
adalah :

Burden rele, 580 / 10 0
2
0 ,0 58
Rerist ansi leading 0 ,40 0
CT resist ansi sekunder 0 ,0 82
To t al CT sekunder 0 ,540

Dan t egangan yang diperlukan unt uk melewat kan arus sebesar 125 A yang melalui rele
adalah 125 x 0 ,54 = 67,5 V. Sepert i yang dapat dilihat dari Gambar 4.10 , Hal ini t idak
mungkin, CTs pada 10 0 : 5 t ap hanya dapat menghasilkan 12 sampai 15 Vo lt sebelum
mencapai t it ik jenuh dan dari kurva maksimum sekit ar 20 sampai 25 Vo lt . Jadi
ko mbinasi ini t idak dapat digunakan.

Sekarang mari kit a lihat bila kit a pilih CT dengan rat io t ap 40 0 : 5. Dengan ini arus
beban maksimum pada sekunder adalah 90 / 80 = 1,13 A. Dengan memilih t ap rele pada
1,5 A, dimana burdennya adalah 3,5 VA. Dengan t ap ini dan dimisalkan t idak ada arus
eksit asi, arus pick- up primer akan menjadi 1,5 x 80 = 120 A. To t al burden adalah:

Burden rele, 3,5/ 1x5
2
1,556
Resist ansi leading 0 ,40 0
CT resist ansi sekunder 0 ,211 ( Gambar 3- 10 )
To t al CT sekunder 2,167

Tegangan yan g diperlukan unt uk melalukan aru s sebesar 1,5 A dalam rele adalah Vef =
1,5 x 2,167 = 3,25 V, dan dari gambar 5.10 , Ie = 0 ,0 24 A. Unt uk kasus t erburuk dengan
cara penambahan langsun g, arus pic- up primer adalah 80 x 1,524 = 121,92 A. Angka ini
dapat dit erima, karena besarnya masih dibawah arus gangguan minimum 350 A ; Arus
ganguan ini men ghasilkan 2,9 kali arus pick- up rele.

Unt uk arus gangguan maksimum, dengan men gabaikan arus eksit asi Ie, arus sekunder
akan menjadi 250 0 / 80 = 31,25 A dan diasumsikan bahwa burden rele pada t ingkat ini
t idak jauh berbeda, t egangan sekunder Vef yan g diperlukan adalah 31,25x 2,167 = 67,72
Vo lt . Harga ini mendekat i kurva lut ut sat urasi, Ie unt uk t egangan 68 V adalah sekit ar
0 ,16 A, harga ini t idak mengalami penurunan arus gangguan yan g dirasakan rele, yait u
20 kali arus pick- up rele.
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 81
Apabila t ap 1,5 A t idak t ersedia, maka dapat digunakan t ap 2,0 dari CT dengan rat io t ap
40 0 : 5. Dengan pemilihan ini dan dengan pengabaian Ie, arus pick- up primer adalah
sebesar 80 x 2 = 160 A. Dengan anggapan burden rele sama sepert i pada pemilihan t ap
1,5, t o t al burden adalah :

Burden rele, 3,5/ 2
2
0 ,875
Resist ansi leading 0 ,40 0
CT resist ansi sekunder 0 ,211
To t al CT sekunder 1,486

Vef = 2 x 1,486 = 2,972 Vo lt , dimana Ie = 0 ,0 22 A, jadi dengan penambahan langsung ,
arus pick- up primer menjadi 80 x 2,0 22 = 161,76 A. Harga ini dapat dit erima karena
arus gangguan minimum adalah 2,16 kali pick- up.

Unt uk arus gangguan maksimum, arus sekunder akan menjadi 250 0 / 80 = 31,25 A, Vef
= 31,25 x 1,486 = 46,438 V, dimana Ie = 0 ,11 A, dan besaran ini t idak men guran gi arus
yang dirasakan o leh rele. Evaluasi yang dilakukan dengan st andar AN SI mempero leh
hasil yang sama. Bila dipilih CT dengan rat io t ap 10 0 : 5 dan t ap rele 5, t egangan
t erminal berdasarkan analisis awal, dengan menggu nakan persamaan 5- 5, unt uk aru s
gangguan maksimum :

( ) V 25 , 57 4 , 0 058 , 0
20
2500
V
gh
+

t et api dengan CT C10 0 pada rat io t ap 10 0 : 5 yang hanya dapat mensuplai 10 0
( 10 0 / 60 0 ) = 16,7 Vo lt dan karena suplai yang dibut uhkan adalah 57,25 V, maka CT
akan mencapai t it ik jenuh sepert i dit unjukkan sebelumnya.. Apabila digunakan CT
dengan rat io t ap 40 0 : 5, CT C10 0 hanya dapat mensuplai 10 0 ( 40 0 / 60 0 ) = 66,67 V.
Bagaimanapun t egangan yang diperlukan adalah :

( ) V 25 , 61 4 , 0 56 , 1
80
2500
V
gh
+ , unt uk t ap rele 1,5
( ) V 25 , 57 4 , 0 875 , 0
80
2500
V
gh
+ , unt uk t ap rele 2,0
Keduanya ini t ermasuk dalam rat ing 66,67 Vo lt . Jadi rasio kesalahan <10 %.
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 82

Gambar 4 - 10 : Tipikal ku rva eksit asi u n t u k CT mult i rat io 60 0 : 5 Klas C10 0


4. 8 UN JUK KERJA CT AKIBAT PEN GARUH UN - EN ERGIZE

Suat u CT dengan sekunder t erhubung t et api dengan primer t idak dilalui arus at au arus
permagnet an dieksit asi dari sekunder dan akan m embut uhkan arus Ie. Hal ini t erjadi bila
CT diparalelkan dalam suat u sirkit diferensial at au selama t erjadi gangguan sat u fasa ke
t anah. Sebagai co nt o h kasus gan gguan sat u fasa ke t anah diilust rasikan sepert i dalam
Gambar 4- 11. Bila t erjadi gangguan pada fasa A, CT yang t erpasang pada fasa A akan
dialiri arus IA, t et api arus pada fasa B dan C adalah no l. Unt uk menget ahui pengaruh
t ersebut , misalkan digunakan perbandingan t ap 10 0 : 5 dari suat u CT t ipe C10 0 mult i
rat io dengan perbandingan 60 0 :5. Tahanan seku nder dari CT leading dan resist ansi rele
fasa 0 ,63 . Rele t anah memiliki resist ansi 16 pada t ap 0 ,5 A lagging 68
o
.

Dengan demikian unt uk melalukan arus pick- up melalui rele gan gguan t anah
dibut uhkan t egangan sebesar 0 ,5 x 16 = 8 vo lt . Tegangan ini, sedikit berkurang akibat
adanya rangkaian rele- rele fasa, yang akan t erjadi pada CT- CT yang t erdapat di fasa B
dan C yang akan men geksit asi keduanya. Tegangan Vef t ergant ung pada arus, yang
t ergant ung pada besarnya t egangan, jadi penent uan yang past i dilakukan den gan pro ses
cut dan t ry. Sebagai t ry pert ama, misalkan bahwa Vef = 8 V. Dari karakt erist ik CT ( lihat
Gambar 4- 6) , harga Ie unt uk 8 V adalah = 0 ,49 A. Arus ini akan melewat i impedansi
rele fasa yang akan mengakibat kan dro p t egangan sehingga harga Vef = 8 ( 0 ,49 x
0 ,63) = 7,69 V, dimana unt uk t egangan sebesar it u harga Ie = 0 ,47. It erasi berikut nya
menghasilkan harga Ie = 0 ,48 A yang dibut uhkan unt uk mengeksit asi CT pada fasa B
dan C. Arus primer lainya akan membant u mengo ffset ini.

Jadi arus yang mengalir pada rangkaian fasa A merupakan penjumlahan dari arus pickup
rele t anah dan arus eksit asi pada fasa B dan C. Dengan penjumlahan langsun g besar arus
ini adalah : 0 ,50 + 0 ,48 + 0 ,48 = 1,46 A, den gan penambahan secara faso r didapat :
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 83
0 ,568
o
+ j0 ,48 + j0 ,48 = 1,44 82,4
o
. dapat dilihat bahwa perbedaannya t idak t erlalu
berart i. Tegangan yang membangkit kan fasa A Transfo rmat o r arus dengan Veff = 8,0 +
1,46 x 0 ,63 = 8,92 V dimana dari gambar 5.10 , Ie= 0 ,51 A. Penambahan secara langsung
menghasilkan jumlah t o t al 1,46+ 0 ,51 = 1,97 A sekunder at au 20 x 1,97 = 39,4 A primer
yang hanya unt uk mendapat rele gro und. Hal ini sesuai unt uk 20 x 0 ,5 = 10 A primer
yang perlukan hanya unt uk men dapat rele gro und jika pembangkit an arus unt uk 3 CTs
diabaikan.


Gambar 4 - 11: Diagram ekivalen u n t u k hu bu n gan rele t iga fasa dan rele t an ah. Arus- arus yan g
diperlihat kan adalah aru s pada saat t erjadi gan ggu an sat u fasa ke t an ah

Perlu diket ahui bahwa CTs ini t idak memadai unt uk melindun gi kesalahan dalam CT
dan t ap rele gro nd yang digunakan. Sepert i dijelaskan pada bagian 4.4.3 t ap- t ap yang
lebih t inggi dapat memperbaiki penampilan dan akan mengurani efek langsiran yan g
digambarkan diat as. Efek ini akan dipert imbangkan secara khu sus dimana no mo r CTs
diparalelkan dengan hanya sat u at au dua arus yang dibawa, sepert i dalam perbedaan
bagan, sepert i yang t elah digambarkan sebelumnya.


4. 9 TRAN SFORMATOR ARUS PEN JUMLAHAN FLUKS TOROIDA

Jenis ini, juga dikenal dengan sebut an jenis cincin, t erdiri at as kawat melingkar
( To ro ida) magnet ik melingkari int i yang menjadi dist ribut o r pada lilit an sekunder yang
melingkar. Penghant ar t enaga melewat i sepanjang int i t erbuka. Hal ini sangat
dibut uhkan/ berguna dalam pro t eksi pada t egangan yang lebih rendah.
Kawat t iga fasa ko ndukt o r/ pengahant ar melalui pembukan pen gukuran seku nder Ia +
Ib + Ic =3 Io , arus t anah. Ket ika fasa ko ndu kt o r ko ndukt o r yang sama pada dua
pert emuan akhirmelalui sepanjang pembukaan arus bersih unt uk pengisian at au
keluaran arus yang melewat i sepanjang pert emuan = no l. Unt uk sebuah kesalahan
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 84
dalam dengan sat u at au kedua arus penyuplai yang bebeda besran dan sudut fasa, nilai
bersih at au penjumlahan seimbang = arus salah.

Penjumlahan arus gaya lebih baik dari pada penjumlahan t ersendiri dari Transfo rmat o r
arus sekunder t erpisah. Keunt ungannya bahwa perbandingan CT bebas dari pengisian
arus at au KVA dari jaringan sirkuit , dn menghindari kesulit an- kesulit an dari
ket idakseimbangan penjenuhan CT individual at au t ampilan dengan pararel CTs.
Kerugiannya adalah pembat asan ukuran ko ndukt o r dapat dilewat i sepanjang
pembukaan. Suat u co nt o h/ replika perbandingan dari CT ini adalah 50 :5, dan
pembukaan maksimum berkisar 8 inch unt uk diamet ernya.


Gambar 4 - 12 : Tipikal Pen ggu n aan CT jen is To ro id un t u k Pro t eksi Gan ggu an


Umumnya CT digu nakan dengan 0 ,25 A unt uk unit arus lebih. Penggabungan t erdapat
alat pemungut ( pick- up) primer unt uk 5 A yang lebih baik daripada 2,5 A jika arus
gugah ( excit ing mo ment ) diabaikan. Penerapan yang lebih mendalam akan dibicarakan
pada pelajaran selanjut nya.

Lo gam bersarung at au kabel berpelindung yang melewat i sepanjang CT To ro ida dapat
menyebebkan at au menghasilkan arus salah dalam pembat alan. Hal- hal ini
digambarkan pada Gambar 4- 12. Penerapan ini t erdapat t idak hanya unt uk kabel t iga
fasa yang dit unjukkan, t et api unt uk kabel sat u fasa. Pembat alan mungkin sebagian at au
keseluruhan, hal t ergant ung pada pelindung pembumian. Ko mpo nen pelindun g dari
arus salah dapat dipindahkan dengan melewat i sepanjang CT dengan cara
menghubungkan penghant ar/ ko ndu kt o r sepert i yang dit unjukkan.


4. 10 UN JUK KERJA CT PADA KOMPON EN ARUS DC

Sejak Transfo rmat o r dilimpahkan o leh arus lan gsung, t ampilan CT dirusak berat o leh
ko mpo nen DC unt uk arus AC. Ket ika perubahan arus t erjadi pada sist em AC primer,
sat u at au lebih arus t iga fasa akan mengalami beberapa geseran DC, walaupun t idak ada
yang mencapai maksimu m dan yang sat unya ( arus t iga fasa) t idak akan mengalami
pergeseran. DC ini dihasilkan dari keperluan u nt uk men ghilangkan dua syarat yan g
bert ent angan yang mungkin t erjadi:
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 85
Pada jaringan induksi t inggi, gelo mbang arus harus mendekat i maksimu8m ket ika
gelo mbang t egangan mendekat i at au sama dengan no l, dan
Arus sesungguhnya pada wakt u penggant ian adalah yang dihilangkan o leh ko ndisi
jaringan t erdahulu. Sebagai co nt o h, arus yang diperkuat dengan arus menjadi no l
dahulu ut nuk menut up ran gkaian sejenak ket ika gelo mbang t egan gan no l yang
menampilkan suat u masalah.

Pada syarat 1 arus harus mendekat i at au maksimum pada saat it u. Sehingga arus lawan
dihasilkan unt uk memenuhi no l sepert i yang dimint a o leh syarat 2 . Ini adalah
ko mpo nen DC yang seimbang dan berlawanan dengan yang dimint a o leh arus DC pada
syarat 1, dengan dua penambahan menuju no l pada saat penut upan rangkaian .
Karena t elah dilengkapi fungsi ini, DC t idak lagi syarat kan t et api ini dapat
menghilangkannya den gan penghilangan yan g t ergant ung pada wakt u ko nst an L/ R
dari sist em t enaga. Penghilangan DC mengakibat kan segala sesuat u sepert i arus AC
frekuensi rendah ket ika melewat i t ranfo rnmat o r arus. Hal ini dapat menjenuhkan besi
sehingga refro du ksi seku nder dari aru s primer dapat dibat asi dan diubah sama sekali. Hal
ini digambarkan pada Gambar 4- 13 u nt uk laju 2 0 wakt u pergeseran aru s penuh dengan
burden ( beban) menahan. Burden ( beban) jenis ini menyebabkan penuru nan yang
t ajam unt uk arus sekunder sepanjang t iap ro t ary/ lingkaran.

Set elah penjenuhan t erjadi, penghilangan dari ko mpo nen DC menyebabkan/
menghasilkan dalam pemulihan CT sehingga selama set iap put aran berikut nya arus
sekunder seakin mendekat i primer. Hal ini dapat diasumsikan bahwa t idak ada
penjumlahan AC. Hal t ersebut mungkin t erjadi t et api jarang t erjadi dimana arus
sekunder san gat jadi pada prakt ek nya mencapai no l unt uk beberapa put aran/ lingkaran
pada kasus yang sangat sederhana.

Gambar 4 - 13 : Tipikal kemu n gkin an dist o rsi pada arus seku n der CT akibat dari kejen u han DC :
( a) Beban resist if besar ; ( b) Beban resist if yan g lebih kecil


Indukt ansi pada burden ( beban) menghasilkan / t erjadi dalam penurunan yang lebih
t erat ur dan ko nt inyu, ket ika burden yan g lebih rendah mereduksi/ mengurangi cacat .
Beberapa akibat yang dapat t erjadi dit unjukkan pada Gambar 4- 13 sepert i yang
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 86
dit unjukkan, kejenuhan t idak t erjadi secara t iba- t iba, jadi pada mulanya arus sekunder
mengikut i arus primer, sebelum arus sekunder t ersebut mengalami pengurangan dan
cacat o leh penjenuhan.

Wakt u unt uk penjenuhan dan pengkalkulasian ( perhit ungan) dari arus seku nder sangat
ko mpleks dan t ergant ung pada banyak fakt o r kealamian dari arus salah, keko nst anan
dan arus ini disain dari t ranfo rmat o r arus dan burden ( beban) yang t erhubung. Met o de
yang mudah unt uk mengkalkulasikan t ampilan dari int i cicin CT t ersedia dsari lapo ran
IEEE Trancient respo n o f curent t ransfo rmer at au t anggapan sekilas unt uk
t ranfo rmat o r arus . Dari pendapat / asas prakt ik dan sebagai at uran ut ama dari asas ibu
jari, CTs yang digunakan unt uk penilaian dapat diharapkan u nt uk repro duksi dengan
keakurat an arus primer yang banyak unt uk sat u set engah lingkaran./ put aran at au lebih
sebelum penilaian penjenuhan DC.


4. 11 EVALUASI UN JUK KERJA CT

Umumnya, unjuk kerja CT paling krit is pada t it ik pengambilan keput usan bagi rele.
Pada Pro t eksi diferensial arus t it ik keput usan ini t erlet ak pada CT yang t erlet ak didekat
suat u gangguan ekst ernal, dengan frekuensi yang sangat t inggi nilai kesalahannya,
kesalahan maksimum. CT yan g t erdekat harus menghasilkan arus yang t inggi unt u k
perbandingan dengan arus sekunder pada CTs yang lain, Yang mana hanya dapat dibawa
sebagian dari arus t o t al. Bagan- bagan ini memerlukan perhat ian yang besar unt u k
penampilan CT.

Jika DC jenuh sepert i t erjadi pada kesalahan luar yang besar sehin gga rele t idak dapat
bero perasi, dan ini t idak prakt is unt uk menghindari dari kesalahan dalam desain CT,
macam- macam perbedaan mendisain rele menggunakan beberapa t eknik unt uk
mencegah kesalahan o perasi.

Pada banyak penerapan yang lain t idak t erlalu menurut at uran dan/ at au mencegah
perlindungan yang pent ing dari sudut prakt is. Bagaimanapun, ini seharusnya selalu
dipert imbangkan dan diamat i. Kesalahan- kesalahan ut ama cenderung t erjadi didekat
t egangan maksimu m dimana kesalahan arus rendah pada sist em t enaga indukt if.
Kekurangan DC diimbangi, maka nilai maksimum jarang t erjadi. Dibanyak bagian dari
sist em t enaga wakt u ko nst an akan pendek, maka ket ika keseimbangan DC t erjadi,
kerusakan akan cepat t erjadi. Juga, kesalahan yang lain dari perbedaan sist em pro t eksi
adalah t idak mencapai nilai maksimum pada keput usan krit is dari sist em pro t eksi.

Sebagai co nt o h pada pro t eksi saluran, keput usan rele dikendalikan dari CTs, sehin gga
kesalahan arus biasanya rendah, dan t ahanan saluran t ersedia unt uk membant u
menyederhanakan efek. Juga keput usan t idak m ungkin t erlalu krit is sejak wakt u t erlibat
unt uk men ghilangkan pen gendalian kesalahan. Umumnya kesalahan- kesalahan arus
yang t inggi akan beberapa kali lebih besar dan dengan kecepat an o perasi rele yang
t inggi dapat mengambil t empat sebelum penjenuhan Transfo rmat o r arus DC t erjadi.
Seharusnya penjenuhan t erjadi sebelum rele pro t eksi saluran bero perasi, umumnya
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 87
penundaan dalam o perasi t erjadi hingga CTs cukup unt uk mempero leh izin o perasi.
Dengan demikian kecenderu ngan u nt uk jenis sist em pro t eksi ini biasanya dibawah
jangkauan dan dalam wakt u dekat lebih baik dari jangkauan lebih.
Penjenuhan AC seharusnya selalu dihindari, khususnya pada saat rele bekerja. Pada
awalnya, efek dari arus sekunder dikurangi u nt uk mengurangi jangkauan rele. Ini
mungkin at au t idak mungkin menjadi krit is dibeberapa aplikasi. Unt uk kesalahan-
kesalahan yang besar, beberapa penjenuhan t idak mungkin membuat perso alan yang
serius selama perat uran- perat uran t idak cukup u nt uk mencegah at au menun da o perasi
rele secara pent ing. Bent uk gelo mbang dist o rsi umumnya t idak begit u krit is unt uk
disain rele elekt ro mekanik. Ini mun gkin at au t idak mungkin benar unt uk disain yan g
ko mpak.


4. 12 FLUKS RESIDU CT DAN TRANSIEN SUSIDEN CE

Ket ika Transfo rmat o r arus diberikan energi o leh beban unt uk awal t he excursio n dalam
lingkun gan hist eris adalah simet ris dengan variasi flux sepert i r dalam Gambar 4- 14
kesalahan dengan arus yang lebih t inggi menghasilkan penambahan flux dan a wider
excusio n. Jika kesalahan diabaikan dan arus prim er no l, secara t ak langsu ng aru s sin gkat
mengalirkan dalam sekunder ini adalah arus jat uh yang dikeluarkan, yang mana
merupakan fasa luar dengan kesalahan arus primer sekunder melalui beban resist ive
sebelum t erjadi gangguan.


Gambar 4 - 14 : Tipikal lo o p hist erisis dan flu ks residu pada CT

Wakt u ko nst an unt uk hal ini biasanya pendek t erhadap beban resist ive kecuali
digunakan celah udara dalam int i CT. Arus singkat dapat dit unda keluar pada sensit ivit as
t inggi rele- rele kecepat an harus lebih dalam bagan- bagan pemut us arus dan dapat
menyebabkan kesalahan o perasi unt uk wakt u singkat dipro gram dalam bagan ini
khususnya unt uk sist em pro t eksi t egangn t inggi gangguan kesalahan dan hilangnya Ic
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 88
sampai no l meninggalkan flux pada CT. Ini disebut flux sisa, sepert i pada bagian 5 dalam
Gambar 4- 14. Sekarang, jika CT dikuat kan kem bali dengan mengalirkan arus murni ke
beban, penyimpangan fluk dapat disimpulkan, t api dari flux sisa pada 5 dengan lo o p
sepert i ss, dimana variasi fluk ss =rr, bagaimanapun, hah ini t idak dapat dilanjut kan
dalam lo o p ss karena ini dapat memakai arus langsung unt uk mempert ahankan nya
dalam o rdinat ini. Jadi it u bergeser t urun k po sisi simet ris t t , dimana t t = ss = rr.
Selama pergeseran ini arus DC kecil/ ren dah mengalirka dalam ran gkaian seku nder
menurut wakt u ko nst an beban sekunder sampai beban berubah at au t erjadi kesalahan
lainnya, Flux akan berubah lo o p t t yang t idak t erbat as. Jika harus dibuka unt u k
menguat kan kembali arus primer ke no l, flux sisa akan bernilai t et ap pada sement ara
gangguan dan selama mengalami lo o p t t . Arus Transfo rmat o r ini, dalam pro ses
pengenergian akan mempun yai flux sisa yang t erdapat ant ara no l sampai t it ik jenuh
pada lo o p po sit if at au lo o p negat if.

Pada sebuah kesalahan t erdahulu sisa dapat menambah juga menguran gi capabilit as CT
sebagai co nt o h, fluks sisa t it ik s at au t adalah t ert ut up unt uk t ingkat an kejenuhan pada
penyimpangan fluks t et api jarak yang jauh dari pada penyimpangan penjenuhan adalah
kiri. Penampilan ini t ergant ung pada siklus kesalahan berikut nya t erjadi. Sejak t eo ri
ini t idak dapat diramalkan flux sisa dapat menyebabkan kejenuhan dan masalah
masalah pro t eksi. Bagaimanapun pengalaman secara umum di AS. Tidak bisa
menunjukkan bahwa ini t idak menjadi masalah yang serius hanya pada beberapa kasus
yang di uji. Dimana hal ini bisa men yebabkan masalah- masalah t ersebut celah udara CT
t elah digunakan unt uk meminimalkan residu ini, bagaimana dua perfo rmance mereka
unt uk aplikasi secara u mum t idak t erlalu baik dimana mereka t idak dengan cepat jenu h
sepert i desain no n celah.percepat an arusnya t erlalu t inggi sehingga t erdapat arus rugi-
rugi pada akurasi St eady St at e dan Transfo rmat o r dari t ransient DC. Secara t idak
langsung arus CT set elah kesalahan ini hilan g secara perlahan dengan celah udara dan in i
lebih menimbulkan suat u masalah dalam rele pemut us arus sepert i di sekelilingnya.
Pada saat ini CT dengan celah udara, paling sedikit digunakan di Amerika Serikat .


4. 13 CT BAN TU PADA RAN GKAIAN SEKUNDER CT

Transfo rmat o r arus bant u kadangkala dibut uhkan unt uk:
Rat io yang berbeda dari CT yang t elah ada.
Dan at au pergesaran fasa arus.
Iso lasi rangkaian.

CT t ambahan harus digunakan unt uk menuru nkan arus ke burden unt uk meminimisasi
impedansi pembebanan pada CT ut ama, sepert i diperlihat kan dalam Gambar 4- 15. ZB


adalah impedansi pada CT ut ama yang merepleksikan impedansi yang t erhubung pada
CT t ambahan, ZB. Dengan mengabaikan susut pada CT t ambahan, didapat :

Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 89

2
B '
B
N
Z
Z

dimana N adalah dari CT t ambahan. Jadi unt uk hubungan penurunan dengan
perbandingan P : S sebesar 10 : 5, N = 2 dan
'
B
Z = 0 ,25 ZB. N amun demikian, dengan
hubungan penaik dengan hubun gan penaik, dimana P : S adalah 5 : 10 ,
'
B
Z = 4,0 ZB.
Dengan t ahanan leading t inggi, dan CT penuru n t ambahan yang mendekat i CT ut ama
dapat digunakan unt uk mengu rangi/ meredu ksi t ahanan lead beban. CT t ambahan
t idak menyebabkan t ambahan susut pada CT ut amanya.


Gambar 4 - 15: CT Tambahan dipakai u n t u k meru bah rat io CT u t ama


4.14 APLIKASI TRAN SFORMATOR TEGANGAN DALAM PROTEKSI

Trannsfo rmat o r t egangan mempunyai gulungan primer yang t erhubung lan gsun g ke
sist em t enaga ( VTs) at au menyebrang ke bagian kapasit o r yang t erhubung ant ara fasa
dan gro u nd ( CCVTs) . Bent uk- bent uk unit diilust rasikan dalam Gambar 4- 1 sampai
dengan Gambar 4- 5, dengan skema hubungan pada Gambar 4- 16
Rele pelindung menggunakan t egangan biasanya dihubungkan dari fasa ke fasa sehingga
bat as no rmal Transfo rmat o r adalah 120 Vo lt line ke line. Pencabangan mungkin
menyediakan 69,3 Vo lt at au 120 Vo lt line ke net ral. Jika t ersedia, sekunder ganda
t erut ama menyediakan unt uk mendapat kan uruan t egangan fasa no l unt uk rele
gro und. Ini dit unjukkan pada Gambar 4- 16a. Jika hanya ada sebuah Tran sfo rmat o r
bagian sekunder yang sesuai. Pelengkap gro und bint ang pelengkap delt a t egangan
t ranfo rmat o r dapat dihubungakan ke sekunder bus a,b,c pada Gambar 4- 16a unt uk
3Vo , mirip dengan hubungan yan g dit unjukkan. Co nt o h t ipikal dit unjukkan dalam
gambar 1.10 . CCVTs secara umum mempunyai sekunder gan da unt uk kedua fasa dan
t egangan 3Vo .

Gambar 4- 16 Tipikal sumber t egangan unt uk rele rele rangkaian sekunder unt uk
kapasit o r perangkai Transfo rmat o r( CCVT) peralat an dengan skema sederhana hanya
unt uk ko nsep.
fasa sekunder dan t egangan net ral dengan t iga sekunder ganda ( VTs) pasa
dihubungkan kegro und
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 90
t egangan fasa sekunder dengan dua sekunder t unggal VTs dihubungkan delt a
t erbuka
fasa sekunder dan t egangan gro u nd dengan t iga CCVT3 dihubun gkan fasa
kegro un d.( hanya sat u fasa dit ujukan , b dan c fasa t iruan dengan dihubungkan
secara sekunder sepert i dalam ( a)



Gambar 4 - 16: Tipikal su mber t egan gan bagi Rele. Peralat an CCVT dalam gambar diagram
skemat ikn ya t elah disederhan akan

Tiga VTs at au t iga CCVT sepert i dit unjukkan dalam Gambar 4- 16 a dan c melalui po sit if
negat if dan t egangan urut an fasa no l hubungan delt a t erbuka pada Gambar 4- 16 b akan
melalui kedua urut an t egangan fasa po sit if dan negat if t et api t idak pada t egangan
urut an fasa no l. VTs digunakan semua t egangan pada sist im t enaga dan selalu
dihubungkan ke bus pada 115 kV jenis CCVT dapat dit erapkan dan secara umum lebih
eko no mis kemudian VTs pada t egangan yang lebih t inggi biasanya CCVTs lebih baik
dihubungkan ke line dari pada ke bus sedan gkan peralat an kapasit o r perangkai bisa juga
digunakan sebagai perangkai frekuensi ut ama ke line unt uk digunakan dalam rele
ut ama .

Jenis Transfo rmat o r lain nya menyediakan repro duksi yang bagus dari t egangan primer,
melewat i keduannya dan keadaaan t unak unt uk fungsi pengamanan, kejenuhan
bukanlah suat u masalah sedangkan sist em t enaga t idak bo leh dio perasikan diat as
t egangan no rmal danhasil kesalahan adalah jat uh at au t egangan reduksi. Keduannya
mempunyai kapasit as dan peralat an t inggi . VTs diinst al dengan sekering- sekering
primer yang mana t idak diperlukan den gan CCVTs. Sekering- sekering juga digunakan
dalam sekunder. Umumnya pengerjaaanya menggu nakan pengsekringan
sekundert erpisah unt uk supplai t egangan ke rele berbeda yang digunakan dalam
pengamanan t o t al. Sekering- sekering adalah sebuah hazard. Melalui po t ensial kerapat an
sebuah sekering dapat menghasilkan suesuat u yang t idak diinginkan, pengo perasian rele
yang t idak benar. Dalam beberapa kasus arus lebih mendet eksi kesalahan digunakan
unt uk meminimalkan kemu ngkinan ini.
Sumber-Sumber Masukan Rele
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 91
Beberapa CCVTs dapat menunjukkan penuru nan ket ika sist im t egangan t iba- t iba
dikurangi jadi t egan gan sekunder unt uk sement ra bukan gambaran primer.Hal ini
disebabkan o leh energi jat uh dalam ko mpensasi sekunder at au reakt o r t unang ( L) dan
rangkaian yan g disat ukan t ransient ini dapat menjadikan frekuensi berbeda dari sist em
frekuensi at au t idak direct io nal. Hal ini bukan suat u masalah bagi mekanik list rik rele
t api dapat menyebabkan masalah bagi t ipe keadaan t unak. Rancangan CCVTs m o dern
sesuai unt uk mengat asi masalah ini.





































Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 92
BAB 5
DASAR- DASAR PROTEKSI



5. 1 PEN DAHULUAN

Teknik pro t eksi t erbaik saat ini dan u nt uk lebih dari lima puluh t ahun lalu yang dikenal
adalah pro t eksi diferensial. Pada pro t eksi diferensial besaran elekt rik yang masuk dan
keluar dari daerah pro t eksi at au areal pro t eksi dibandingkan melalui t ransfo rmat o r arus
( CT) . Apabila selisih ant ara kedua besaran pada semua sirkit sama dengan no l, art inya
t idak ada gangguan at au diasumsikan t idak t erjadi masalah. Bila, selisihnya t idak no l,
art inya t erdapat masalah dan perbedaan arus dapat mengo perasikan rele- rele yang
bersangkut an. Secara umum, gangguan int ernal dapat menghasilkan arus o perasi yang
berart i, meskipun gangguan yan g t erjadi adalah gangguan rin gan.

Pro t eksi diferensial dapat dipakai pada hampir semua bagian sist em t enaga, sepert i :
generat o r, mo t o r- mo t o r, bus, t ransfo rmat o r, line, kapasit o r, reakt o r dan kadang kala
ko mbinasi dari ko mpo nen t ersebut . Apabila ingin memasang peralat an pro t eksi pada
salah sat u ko mpo nen t ersebut , maka rele diferensial menjadi pert imbangan pert ama,
dan dipilih sebagai pro t eksi primer.


5. 2 PRIN SIP DIFEREN SIAL

Teknik dasar dari pro t eksi diferensial diperlihat kan dalam Gambar 5- 1 dan guna
penyederhanaan hanya dua sirkit dari daerah pro t eksi yang diperlihat kan dalam gambar.
Sirkit - sirkit ganda mungkin saja digunakan, namun prin sip dasarnya adalah sama.
Jumlah arus yang menuju daerah pro t eksi akan sama dengan ju mlah arus yan g
meninggalkan daerah pro t eksi pada saat o perasi no rmal. Demikian pula halnya bila
digunakan sist em diferent ial t egangan.

Pada o perasi no rmal dan unt uk semua gan ggu an ekst ernal, arus- arus sekunder pada
Gambar 5- 1a dalam rele pro t eksi adalah perbedaan arus- arus eksit asi dari CT yang
t erhubung. Ip adalah arus primer yang menuju at au meninggalkan zo na pro t eksi. Ip Ie
adalah aru sekunder yang besarnya sama dengan arus primer dibagi dengan rat io CT
dikurang aru s eksit asi. Meski digunakan CT dari t ipe dan rat io yang sama, arus rele Io p
akan selalu ada meskipun kecil dan t idak pernah no l. Hal ini karena adanya susut ant ara
zo na pro t eksi dan perbedaan kecil ant ara CTs. Dengan asumsi bahwa t idak ada CT yang
mengalami kejenuhan berart i bila dilalui arus- arus ac simet ris maksimu m. Dengan CT
dan rat io yang berbeda, perbedaan yang cukup besar akan muncul dan harus
diminimisasi dan at au pengat uran arus pick- up ( angkat ) rele t idak akan bero perasi pada
set iap ko ndisi.
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 93
Selama gangguan ekst ernal unju k kerja t ransien dari beberapa CT akibat kenaikan arus
yang t iba- t iba dan ko mpo nen dc o ffset dapat menghasilkan arus- arus o perasi t ransien
yang besar. Oleh karena it u sukar dan t idak prakt is digunakan rele inst ant aneo us. Rele-
rele t ime- delay dapat digunakan dengan kehat i- hat ian yang t inggi.

Unt uk gangguan int ernal, Gambar 5- 1b memperlihat kan bahwa arus o perasi rele
diferensial esensinya adalah jumlah arus- arus masukan yang menuju gan gguan. Besaran
ini merupakan arus gan gguan t o t al dengan basis arus sekunder. Kecuali unt uk
gangguan int ernal yang sangat kecil, pemindaian yang baik dapat digunakan unt uk
mendet eksi masalah dalam zo na diferensial. Un t uk memicu agar rele diferensial dapat
bero perasi t idak memerlukan sumbangan arus gangguan dari semua sirkit , t erut ama
unt uk sirkit - sirkit yang t idak mengalami ganggu an.


Gambar 5- 1: Ilust rasi skema diferen sial aru s u n t u k mempro t eksi sebu ah zo n a den gan du a sirkit :
( a) . Ko n disi n o rmal; ( b) . Gan ggu an in t ern al


Unt uk mempero leh sensit ivit as yang t inggi t erhadap adanya gangguan int ernal ringan
dengan sekurit as yang t inggi t erhadap gangguan - gangguan ekst ernal, maka kebanyakan
digunakan rele diferensial t ipe persent ase. Gambar 5- 2 memperlihat kan skema
sederhana dari rele jenis ini. Sebagaimana diperlihat kan dalam Gambar 5- 1. Rangkaian
sekunder dari CT dihubungkan dengan belit an penahan dari rele. Arus- arus yang
merint angi o perasi rele t ersebut . Selain it u, yang berhubungan den gan ku mparan
penahan adalah kumparan kerja. Arus pada kumparan ini yang akan mengo perasikan
rele diferensial.Rele diferensial dapat berupa rele diferensial t et ap at au variabel
present ase. Tipikal karakt erist ik beberapa t ipe rele jenis ini diperlihat kan pada Gambar 5-
3. Absis dari kurva karakt erist ik t ersebut adalah arus penahan, yang dapat berupa arus
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 94
smaller
"
R
I at au arus larger
'
R
I t ergant ung desain. Ordinat dari kurva karakt erist ik adalah
arus o perasi
OP
I yang dibut uhkan u nt uk menggo perasikan / men ggerakkan rele. Rele
diferensial persent ase t ipe t et ap yang ada, yait u ant ara 10 dan 50 % dan memiliki Tap
unt uk merubah persent ase.


Gambar 5- 2: Rele Diferen sial Persen t age : ( a) . Gan ggu an Ekst ern al;
( b) . Gan ggu an in t ern al


Unt uk rele diferensial persent ase 50 %, arus gangguan ekest ernal 10 A membut uhkan
selisih at au arus o perasi sebesar 5A at au lebih agar rele dapat bero perasi. Unt uk t ipe 10 %,
diperlukan selisih at au arus o perasi sebesar 1A. Rele t ipe persent ase variabel t idak
memiliki Tap persent ase. Pada arus yang rendah, persent ase rendah pada t ingkat an ini
unjuk kerja CT berada pada t ingkat t erbaik. Pada arus- arus gangguan yan g besar,
dimana unjuk kerja rele t idak sebaik pada saat arus rendah, dibut uhkan persent ase yang
t inggi. Hal ini dapat meningkat kan sensit ivit as dan skurit as rele.


Gambar 5- 3: Tipikal Karakt erist ik beberapa t ipe Rele Diferen sial


Perlu unt uk dikenali bahwa karakt erist ik sepert i yang diperlihat kan dalam Gambar 5- 3
digunakan hanya unt uk gan gguan ekst ernal at au aliran arus langsu ng. Rele diferensial
sangat sensit if t erhadapa gangguan int ernal dimana arus- arus pada kumparan penahan
dalam arah berlawanan at au salah sat u arus N o l, sepert i dalam Gambar 5- 2. Rele- rele ini
dikalibrasi dengan arus langsung sat u kumparan penahan dan kumparan o perasi
sedangkan kumparan lain t idak dialiri arus. Tipikal arus- arus angkat unt uk rele- rel
diferensial dalam o rde 0 .14A sampai 3.0 A, t ergant ung dari t ipe, Tap, dan aplikasi.

Sepert i dapat dilihat , prinsip diferensial membandingkan keluaran- keluaran dari CTs
pada semua sirkit yang menuju at au meninggalkan daerah pro t eksi. Unt uk perlat an-
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 95
peralat an sepert i generat o r, bus, t ransfo rmat o r, mo t o r dan sebagainya, CT yang
digunakan berada pada areal yang sama, sehingga t idak sulit unt uk melakukan
int erko neksi ant ara sisi sekunder CT dengan rele. Unt uk line ( jaringan) , dimana
t erminal dan CTs t erpisah o leh jarak t ert ent u, t idaklah prakt is menggunakan rele
diferensial sepert i yang dikemu kakan diat as. N amun rele diferensial masih mun gkin
digunakan secara luas t erut ama pada t egangan t inggi. Penggunaan canel ko mu nikasi
sepert i pilo t wire, po wer line carrier, audio t o ne o ver wire, at au gelo mbang mikro
dimungkinkan unt uk membandingkan semua in fo rmasi dit erminal- t erminal t ersebut .


5. 3 MASALAH DASAR SISTEM PROTEKSI

Bagaimana dan dimana prinsip diferensial t idak dapat dipergunakan at au kurang prakt is
bila digunakan, masalah pro t eksi ini diperlihat kan dalam Gambar 5- 4. Rele- rele pada
st asiun G unt uk melindu ngi line GH harus bero perasi dengan cepat unt uk semua
gangguan yang t erjadi didaerah ant ara kedua t erminal jaringan. Daerah ini adalah daerah
pro t eksi primer dari rele- rele pada G dan sama halnya dengan rele- rele di H. Gangguan
F1 adalah gangguan yang berada di daerah ut ama, t et api gangguan F dan F2 adalah
gangguan- gangguan ekst ernal dan harus dihilangkan o leh o perasi rele- rele lain. N amun
demikian, unt uk rele di G, arus- arus yan g dirasakan o leh rele sama karena jarak ant ara
ket iga gangguan relat if sama dan berdekat an, sehingga IF = IF1 = IF2 . Oleh karena, rele-
rele di G t idak dapat menent ukan magnit ude arus ( t egangan) apakah gangguan
t ersebut F1, dimana rele- rele t ersebut harus bero perasi dengan cepat , at au gangguan
t ersebut F maupun F2 , dimana o perasi rele- rele harus dit unda. Masalahnya sekarang
adalah bagaiman membedakan ant ara gangguan int ernal F1 t erhadap gan gguan
ekst ernal F dan F2 . Ada dua cara penyelesaian yang dapat digunakan, yait u: 1) .
Penyelesaian dengan wakt u; 2) . Penyelesaian dengan ko mu nikasi


5. 3. 1 PEN YELESAIAN DEN GAN WAKTU

Penyelesaian dengan wakt u dilaksanakan dengan cara menunda o perasi rele- rele di G
unt uk gan gguan- gangguan yang t erjadi didekat at au pada bus H. Penundaan ini
memungkinkan rele- rele primer unt uk bus H dan line disebelah kanan bus H unt uk
bero perasi menghilangkan gan gguan sepert i F dan F2 . Sayangnya hal ini menyebabkan
pula penundaan o perasi rele bilamana gangguan int ernal pada line GH yang berada
didekat bus H, sepert i gangguan F1.

Pengat uran rele- rele, baik rele phasa maupun rele t anah, penanganan sepert i ini disebut
dengan ko o rdinasi at au selekt ivit as. Teknik ini dicapai dengan mengat ur rele- rele
primer unt uk dapat bero perasi dengan cepat bila t erjadi gangguan dekat ( N 1) , dan
dit unda unt uk kebut uhan ko o rdinasi dengan rele- rele di H bila gangguan t erjadi
didekat bus H. Hal ini umumnya dilakukan dengan menggunakan rele- rele arus lebih
wakt u t erbalik, dimana wakt u o perasi menin gkat bilamana magnit ude arus menuru n,
at au dapat pula digunakan rele- rele inst ant aneo us dan wakt u t unda t et ap.
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 96


Gambar 5- 4 : Masalah Pro t eksi pada Rele Pro t eksi pada Gardu G u n t u k melin du n gi salu ran GH


5. 3. 2 PEN YELESAIAN DEN GAN KOMUN IKASI

Penyelesaian cara kedua ini adalah t ipe pro t eksi diferensial sepert i dikemukakan diat as.
Rele- rele di H digunakan unt uk mempro t eksi line GH yang dit andai dengan arah aliran
daya at au info rmasi sudut phase relat if baik unt uk gan gguan int ernal ( F1) maupun
ekst ernal ( F2 dan F) . Info rmasi ini diko munikasikan melalui suat u kanal ke rele- rele di
G. Dengan cara sama, rele- rele di G mendapat kan info rmasi yang diko mu nikasikan ke
H. Bila gangguan berada dalam daerah ut ama ( Gangguan ant ara N 1 sampai F1) , rele- rele
pada G dan H keduanya bero perasi dengan kecepat an t inggi. Unt uk gangguan-
gangguan ekst ernal ( pada bus G at au H, disebelah kanan H, at au disebelah kiri G) , rele-
rele dikedua bus t idak bero perasi. Cara ini merupakan dasar pengenalan t erhadap pilo t
relaying yang akan dibahas kemudian.


5. 4 RELE- RELE ARUS LEBIH- WAKTU

Rele arus lebih, sat u dari rele pro t eksi pert ama yang dikenal dan dikembangkan 60
sampai 70 t ahun lalu dan digunakan secara luas dalam banyak aplikasi dari suat u sist em
t enaga. Asal mula rele ini merupakan suat u wat t ho ur met er yang digunakan unt uk
mengukur energi list rik, dilengkapi dengan ko nt ak- ko nt ak dan sebuah piringan yang
dapat berput ar. Saat ini, sebagaimana beberapa t ahun sebelumnya, desain rele t elah
berubah, kecuali penggunaan prinsip pirin gan in duksi. Salah sat u t ipe rele diperlihat kan
dalam Gambar 5- 5.

Arus bo lak balik at au t egangan diberikan ke ko il ut ama yang akan menghasilkan fluks
magnet ik, yang sebagain besar akan melalui celah udara dan piringan menuju penjaga
kemagnet an yang t erlet ak diat as piringan. Fluks ini akan kembali melalui piringan
menuju kaki- kai elekt ro magnet yan g berada disisi ko il ut ama. Jumlah lilit an dari
kumparan lag disalah sat u kaki yang lebih pendek akan menyebabkan pergeseran wakt u
dan phasa pada fluksi yan g akan men gakibat kan piringan berput ar. Put aran ini diredam
o leh sebuah magnet permanen. Pegas spiral dipergunakan unt uk mengembalikan po sisi
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 97
ko nt ak- ko nt ak set elah arus o perasi hilang at au menurun dibawah harga arus angkat
rele. Ko nt ak- ko nt ak akan menyent uh bat ang piringan pada keadaan no rmal dapat
membuka at au menut up pada keadaan t idak energise.


Gambar 5- 5: Rele arus lebih- wakt u- t erbalik t ipe piringan induksi : ( a) . pandangan at as;
( b) . pandangan sisi


Ko mbinasi ini menghasilkan o perasi yang san gat cepat pada arus- arus t inggi dan o perasi
yang lambat pada arus- arus rendah, dengan karakt erist ik wakt u t erbalik. Karakt erist ik-
karakt erist ik ini selalu diperbaiki, beberapa karakt erist ik arus wakt u dari rele arus lebih
diberikan dalam Gambar 5- 6.


Gambar 5- 6: Tipikal karakt erist ik Rele aru s lebih- wakt u - t erbalik


Versi rele so lid st at e juga t ersedia dengan karakt erist ik umum dan kurva- kurva yang
merupakan duplikat dari kurva karakt erist ik diat as, dengan burden rendah, range
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 98
penggunaan yan g lebar, dan kurva karakt erist ik yang bisa diat ur. Meskipun
penggunaan rele versi so lid st at e ini makin luas penggu naannya, rele t ipe
elekt ro mekanik masih t et ap akan dipakai unt uk wakt u- wakt u mendat ang.

Semua rele memiliki sejumlah Tap, masing- masing Tap mewakili arus minimum
( t egangan) dimana unit rele mulai bero perasi, yang disebut arus angkat minimum. Jadi
sebuah rele yang diat ur pada Tap 2, akan mulai bekerja pada saat arus mencapai 2.0 t
t o leransi pabrikasi. Dengan arus sebesar ini, wakt u akan sangat lama dan sukar unt uk
memeriksa kecuali arus dipert ahankan pada harga yang sangat akurat . Sedikit perubahan
at au deviasi perubahan pada level ini akan men ghasilkan perubahan wakt u yang sangat
berart i, karenanya dalam pabrikasi t idak diperlihat kan kurva wakt u dibawah 1,5 at au 2
kali arus angkat minimum. Dalam prakt eknya, bagian ini bukanlah merupakan bagian
kurva yang dipergunakan dalam pro t eksi.

Absis dari kurva karakt erist ik menunjukkan pen gali Tap at au arus angkat . Ini digunakan
agar mudah menggunakan sat u skala unt uk semua Tap. Sebagai co nt o h, dengan
penunjukkan Tap = 5, dengan pengali 5 pada kurva menunjukkan 25A, dengan Tap 2,
pengali 5 menunjukkan 10 A demikian set erusnya. Sebagai t ambahan dari Tap, spasing
bagi ko nt akt o r unt uk bergerak dapat diat ur dan dit andai o leh suat u skala yang dikenal
dengan sebut an t ime lever at au t ime dial. Dengan ini dapat dipero leh wakt u o perasi
yang berbeda unt uk level arus yang sama, kurva unt uk karakt erist ik ini t idak diberikan
disini. Set iap t ipe rele dilengkapi dengan kurva karakt erist ik arus wakt u, umumnya
dengan kurva t ime dial dari sampai 11. Kurva- kurva ini diberikan dalam kert as
semilo g at au kert as lo g- lo g guna ko o rdinasi berbagai t ipe fuse.

Rele- rele ini memiliki o vert ravel dan wakt u reset , yang mungkin sangat dibut uhkan
unt uk beberapa aplikasi. Overt ravel dari unit elekt ro mekanik adalah perjalanan dari
ko nt ak- ko nt ak set elah arus- arus menuru n dibawah harga arus angkat . Tipikal harga
yang ada dalam o rde ant ara 0 ,0 3 sampai 0 ,0 6 det ik, dalam kebanyakan aplikasi selalu
diabaikan. Wakt u reset sangat dibut uhkan dalam ko o rdinasi den gan penut up bailk
cepat at au pada gangguan yang berulang cepat . Wakt u reset ini sebagai fungsi dari
penyet elan t ime dial dan desain. Dat anya umumnya t ersedia dari pabrik. Harga ini
umumnya diabaikan pada rele- rele t ipe so lid st at e. Reset cepat mungkin berguna
apabila diperlukan ko o rdinasi dengan Fuse dan rele- rele yang t idak memiliki
karakt erist ik fast - reset .

Pada rele pro t eksi, pembukaan Pemut us Tenaga umumnya akan mengu rangi arus pada
rele sampai no l, hal ini t idak sepenuhnya benar bila rele diguanakan sebagai det eksi
gangguan dan diat ur agar bero perasi unt uk semua gangguan didalam daerah pro t eksi
ut amanya. Kebanyakan rele- rele arus lebih t ipe piringan induksi t idak akan mulai
mereset ulang sampai arus t urun mencapai 60 % dari arus angkat .
Rele- rele yang dikemukakan diat as adalah rele t anpa penunjuk arah, yan g akan
bero persai secara bebas t anpa t ergant ung arah arus. Bilamana hal ini t idak diharapkan,
sebuah elemen arah t erpisah dapat digunakan. Unit piringan induksi mendapat kan t o rka
ro t asio nal dengan membuat lo o ps lagging pada elekt ro magnet guna mempero leh
pergeseran fluksi. Selama kumparan lg at au ekivalennya t erbuka, t idak ada arus yang
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 99
mampu membuat piringan bero perasi. Apabila digunakan sirkit direkt io nal sebagai
penut up, o perasi sist em akan mengikut i kurva karakt erist ik. Piringan induksi t ipe ini
dan ekivalen so lid st at e dipergunakan u nt uk arus lebih, t egangan lebih, t egangan
kurang, ko mbinasi t egangan kurang dan lebih, dan daya at au t ipe lainnya.


5. 5 RELE- RELE ARUS- TEGAN GAN IN STAN TAN EOUS

Rele- rele ini digunakan pada banyak areal pro t eksi sebagai unit arus lebih at au unit
t egangan kuran g dan at au lebih unt uk keperluan t riping at au sebagai det ekt o r
gangguan unt uk sekurit i. Tipikal t ipe rele yang umum digunakan adalah t ipe clapper
at au rele t elepo n ( Gambar 5- 7) , rele plunger at au seleno id ( Gambar 5- 8) , dan rele cup
induksi at au silinder induksi ( Gambar 5- 9) .

Termino lo gi rele t elepo n muncul karena asal penggunaan nya yan g luas pada sist em
pert ukaran t elepo n. Saat ini sist em ini t elah digant ikan o leh saklar elekt ro nik so lid st at e
mo dern. N amun demikian rele jenis ini masih dipergunakan sebagai rele bant u, dalam
sist em ac maupun dc.

Gambar 5- 7: Rele t ipe clapper elekt ro mekan is at au rele t elepo n

Co nt o h t ipe so leno id yang dipergunakan dalam sist em dc adalah rele yang
dipergunakan sebagai penut up pada saklar ko nt ak ( CS) sepert i dit unjukkan dalam
Gambar 1- 9. Dengan suat u suat ukumparan ac dan ko nst ruksi seleno id, t ipe ini
digunakan sebagai unit t ripping inst ant aneo us. Prinsip o perasi dari t ipe seleno id diat as
berdasarkan hal berikut : Arus at au t egangan yang diberikan ke kumparan akan
menghasilkan fluks, yang akan menarik jangkar at au plunger, sehinggan ko nt ak
bergerak akan bero perasi. Ko nt ak- ko nt ak mult iple dapat digunakan, khusu snya pada
jenis t elepo n.

Pada jenis ac, rele memiliki Tap at au at au suat u bagian yang dapat digunakan unt u k
merubah harga angkat . Unt uk pelayanan t riping, seringkali dro po ut menjadi masalah,
dan kebanyakan dari unit ini t idak dro p o ut set elah menut up ko nt ak- ko nt ak pada
o perasi sampai arus ( Tegangan) t urun dalam o rde mencapai 60 % dari harga angkat . Ini
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 0
merupakan masalah, mo del dengan jenis dro po ut t inggi sepert i Gambar 5- 8 juga
t ersedia. Tipe ini akan reset pada harga angkat 90 % at au lebih t inggi. Umumnya,
det ekt o r gangguan harus men ggunakan t ipe dro po ut t inggi.


Gambar 5- 8: Tipikal rele plu n ger elekt ro mekan is


Unit cup induksi at au silinder induksi sepert i pada Gambar 5- 9, pada dasarnya adalah
sebuah mo t o r dua phasa dengan dua kumparan sepert i diperlihat kan pada
elekt ro magnet ik emepat kut ub. Dit engan- t engah t erdapat int i magnit , dikelilingi at au
diat asnya t erdapat silinder at au cup yang dapat bergerak, dengan ko nt ak- ko nt ak
bergerak dan pegas unt uk keperluan reset . Apabila fluksi yang dihasilkan o leh kumparan
1 dan 2 sephasa, t idak akan t erjadi perput aran. Sepert i halnya dengan unit arus lebih
inst ant aneo us, pergeseran phasa didesain pada sirkit salah sat u kumparan, dengan
demikian t o rka o perasi akan dihasilkan apaabila arus melebihi harga angkat . Ro t asi yang
t erjadi t erbat as hanya beberapa milimet er, naum cukup jauh unt uk dapat menut up
ko nt ak- ko nt ak yang ada. Tipikal wakt u yang t ersedia dalam o rde 16 sampai 20 mili
det ik.


Gambar 5- 9: Tipikal rele silin der at au cu p indu ksi elekt ro mekan is
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 1
5. 6 RELE- RELE DAYA PEN GIN DERA ARAH

Unit cup induksi dan silinder indu ksi digu nakan unt uk menent ukan arah aliran daya
dan magnit ude. Arus o perasi dilalukan pada salah sat u belit an, dan arus at au t egangan
acuan dilalukan pada belit an lainnya. Apabila relasi fasa t erident ifikasi, unit akan
bero perasi. Karena unit ini adalah suat u unit pengindera arah yang sensit if, o leh karena
it u unit ini banyak digunakan pada hampir semua aplikasi dengan unit pemindai
gangguan sepert i rele arus lebih wakt u at au arus lebih inst ant aneo us. Tipe lainnya
memiliki Tap belit an unt uk bero perasi bila level daya melebihi harga set ing.


5. 7 RELE- RELE JARAK DAN DIAGRAM R X

Pada dasarnya, rele- rele jarak membandingkan t egangan dan arus sist em t enaga. Rele
akan bekerja apabila rat io kedua besaran dibawah harga set ingnya. Pada ko ndisi
seimbang dan unt uk semua gan gguan fasa, rat io t egangan dan arus yan g dirasakan rele
adalah impedansi dari sirkit t ersebut , karena V/ I = Z. Jadi rele ini diset sebagai fungsi
dari impedansi t et ap sepanjang zo na pro t eksi sist em t enaga t ersebut . Desain rele
sekarang ( t idak dipro du ksi lebih lanjut ) memberikan pengert ian dasar yang baik
mengenai prinsip dan aplikasi yan g umum digunakan. Tipe t erbaru ini diperlihat kan
dalam Gambar 5- 10 . Sebuah bat ang seimbang memiliki kumparan t egan gan energise
unt uk menahan gerakan, dan ku mparan arus o perasi unt uk menut up ko nt ak- ko nt ak.
Dengan desain dan pengat uran t egangan pada kumparan penahan dapat diat ur sama
dengan daya yang dihasilkan o leh kumparan arus o perasi unt uk gan gguan t iga fasa
dit it ik pengat ur dit unjukkan sebagai nZL. Tit ik t resho ld ini disebut sebagai t it ik
keseimbangan at au t resho ld o perasi at au t it ik keput usan dari rele. Unt uk semua
gangguan ant ara rele dan t it ik n, arus I akan membesara dan V akan menurun at au
mendekat i sama dengan bila gangguan dit it ik n. Kenaikan arus I akan menyebabkan
ujung bat ang akan menyent uh dan menut up ko nt ak- ko nt aknya.

Gambar 5- 10 : Prinsip o perasi Rele jarak memakai nit beam impedansi- seimban g:
( a) . Aplikasi rele jarak pada alu ran GH; ( b) . Pen ggu naan u n it bat an g seimban g u n t u k
pen yederhan aan pen jelasan kerja rele
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 2
Unt uk gangguan ekst ernal disebelah kanan t it ik n, arus akan lebih kecil dari arus
gangguan pada t it ik n, dan t egangan akan lebih besar. Dengan demikian t o rka at au daya
t arik dari kumparan t egangan akan lebih besar dari daya t arik kumparan arus, sehin gga
rele t idak bekerja.

Dengan gangguan so lid t iga fasa dit it ik keseimbangan n, t egangan pada t it ik n sama
dengan N OL. Sehingga t egangan pada lo kasi rele akan menurup sepanjang sirkit sebesar
InZL. Dengan membagi harga t egangan ini dengan arus I, impedansi respo n adalah :

L
L
R
nZ
I
InZ
I
V
Z

Jadi pengat uran dan o perasi merupakan fun gsi impedansi yang diuku r dari rele sampai
ke t it ik keseimbangan n. Dengan desain dan hubungan yang dibuat , hal ini berlaku
unt uk semua gangguan fasa, t iga fasa, fasa- fasa, dan dua fasa ke t anah. Hal ini
menghasilkan pengat uran yang t et ap dan independen unt uk jan gkauan den gan ran ge
arus gangguan yang sangat luas, dan juga dipero leh rele pro t eksi dengan jangkauan
t et ap inst ant eneo us.

Rele jarak, t ipe so lid st at e maupun elekt ro mekanik, bero perasi dengan membandingkan
arus dan t egangan sist em, namun t eknik yang dipergunakan berbeda- beda, t ergant ung
pabrikasi dan pembuat annya. Rele jarak unt uk pro t eksi gangguan sat u fasa ke t anah
juga t ersedia, namun lebih rumit dan ko mplek.

Karakt erist ik rele jarak lebih mudah dipahami dalam bent uk diagram impedansi R- X,
dimana absis adalah resist ansi R dan o rdinat adalah rekt ansi X. Tipikal karakt erist ik
dalam bent uk ini diperlihat kan dalam Gambar 5- 11, dimana t it ik asal merupakan lo kasi
rele, dengan areal o perasi pada kuadran pert ama. Bila rat io ant ara arus dan t egangan
sist em jat uh didalam lingkaran at au dalan areal cro sshat chet , unit akan bero perasi.

Tipe element ary sepert i yang dikemukakan dalam Gambar 5- 10 memiliki karkat erist ik
impedansi sepert i pada Gambar 5- 11a. Desain ini t elah ket inggalan, o perasi rele dapat
t erjadi di keempat kuadran, o leh karena it u dibut uhkan rele arah agar o perasi rele han ya
unt uk gangguan didaerah sebelah kanan bus G pada Gambar 5- 10 .
Semua karakt erist ik yang diperlihat kan adalah dalam penggu naan prakt is, dimana rele
t ipe MHO merupakan rele yang umum dan universal. Aplikasi unt uk pro t eksi primer
pada line GH dalam Gambar 5- 10 membut uhkan dua unit pada bus G dan dua unit
pada bus H. Pada zo na 1, rele bero perasi inst ant eneo us dan n lebih kecil dari 1,
umumnya 0 ,9. Pada zo na 2, n diat ur lebih dari 1.0 sehingga diperlukan wakt u t unda
unt uk kebut uhan ko o rdinasi dengan pro t eksi pada bus H dan disebelah kanannya.

Kebanyakan rele jarak adalah rele jarak jenis sat u fasa, sehinggan dibut uhkan t iga buah
rele unt uk mengko ver semua kemun gkinan gangguan. Unt uk rele- rele sepert i in,
karakt erist ik, sepert i lingkaran MHO pada Gambar 5- 11b adalah valid unt uk semua unit
kecuali unt uk gangguan pada fasa khusus, masin g- masing bero perasi unt uk fasa ab dan
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 3
gangguan fasa ab ke t anah, fasa bc dan gangguan fasa bc ke t anah, dan fasa ca dan
gangguan fasa ca ke t anah. Ket iganya beo perasi unt uk gangguan t iga fasa.


Gambar 5- 11: Prinsip o perasi rele jarak dijelaskan dengan menggunakan u nit impedansi
bat ang seimbang : ( a) . Imedansi; ( b) . MHO; ( c) . Ofset MHOs; ( d) . Lens;
( e) . Do uble blinder; ( f) . Reakt ansi.


Jenis lainnya adalah t ipe t iga fasa, jadi hanya sat u rele dengan dua unit o perasi yan g
akan bekerja unt uk semua ko mbinasi gangguan ant ar fasa yang mungkin t erjadi. Salah
sat u bagian dari 2 unit o perasi dari rele t ipe t iga fasa ini memiliki karakt erist ik lingkaran
MHO sepert i pada Gambar 5- 11b dan bekerja unt uk semua gan gguan t iga fasa dan
beberapa gangguan fasa- fasa- t anah yang t erjadi dan masih berada didalam lingkaran.
Unit lainnya memiliki karakt erist ik arc sepert i yang disajikan dalam Gambar 5- 11b dan
hanya akan bekerja unt uk gangguan fas- fasa, sepert i ab- bc,ca dan fasa- fasa- t anah yang
t idak t ermasuk dalam unit pert ama. Areal kerja dari rele hanya pada kuadran pert ama
unt uk gan gguan didalam sekt o r ant ara vekt o r garis, karkat erist ik rele dan sumbu X. In i
sama dengan rele arah, sepert i pada unit MHO. Unit fasa- fasa t idak akan bereaksi pada
arus seimbang sehingga t idak mu ngkin bero perasi unt uk gan gguan t iga fasa, beban,
ayunan, dan sebagainya. Rele dapat diat ur bebas t erhadap beban dan ayunan, sedangkan
MHO dan unit yang sejenis harus diat ur t erhadap beban maksimum dan ayunan.

Apabila beban mengalir dari G ke H, maka rele pada G akan merasakan sebagai berikut :

sekunder 86 , 13
5 3
120
I
V
Z
load
LN
load
.

Dengan dasar beban 5A dan t egangan line- line 120 V pada sisi sekunder dari CT dan VT.
Dalam banyak kasus beban pada line memiliki arus yang t ert inggal ant ara 0
0
sampai
30
0
. Dalam diagram R- X, sepert i dalam Gambar 5- 12, beban ini merupakan sebuah
phaso r pada kuadran pert ama dengan sudut an t ara 0
0
sampai 30
0
berlawanan arah
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 4
jarumjam dari sumbu +R. Pada beban berat , Zlo ad kecil. Jadi pada beban berat phaso r
impedansi bergerak menuju t it ik asal. Pada beban ringan phaso r bergerak kekanan at au
menjauhi asal.


Gambar 5- 12: Rele jarak t ipe Mho digu n akan pada Gardu G gu n a perlin du n gan salu ran GH


Bila beban mengalir dari H ke G, at au keluar dari G, maka akan muncul pada kuadran
kedua, at au disebelah kiri pada diagram R- X dan diat as sumbu R unt uk beban
t ert inggal. Tit ik o perasi pada karakt erist ik lingkaran MHO dapat dit ent ukan dengan cara
berikut :

( )
X R R X
cos Z Z

dimana ZX adalah impedansi dari t it ik asal ke sembarang t it ik pada lingkaran dengan
sudut X, dan ZR adalah jangkauan rele pada sudut R. Sebagai co nt o h, berapa
kjangkauan unit MHO sepanjang line sudut 75
0
bila beban maksimum pada jarin gan
5A sekunder pada sudut 30
0
t ert inggal. Dari persamaan diat as, impedansi beban adalah
13,86 sekunder, harga ini adalah harga ZX dengan X = 30
0
, maka :


( )
sekunder 60 , 19 Z
30 75 cos Z 86 , 13
R
0 0
R




Harga ini dapat dit ransfer dalam harga primer dengan men ggunakan persamaan :


v
C ) pri ( R
(sec) R
R
R Z
Z

dimana Rc dan Rv adalah rat io CT dan PT. Bila t egangan line adalah 115 kV dengan
perbandingan CT 60 0 : 5, maka:
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 5
primer 3 , 163
1200
) 1000 ( 6 , 19
R
R Z
Z
c
v (sec) R
) pri ( R


Bila digunakan line dengan t ipikal impedansi 0 ,8 / mi, maka unt uk impedansi diat as
set ara dengan jaringan sepanjan g 20 4 km.. Cat at an menerik yan g perlu diingat bahwa
salah sat u jenis rele jarak memiliki jangkauan maksimum pada impedansi 20
sekunder, dari persamaan diat as. Daya MVA yang direpresent asikan o leh beban 5 A
adalah:
MVA 5 , 119
1000
) 120 ( ) 5 ( ) 115 ( 3
1000
I x kV 3
MVA

Apabila rele jarak diat ur unt uk menjangkau lebih beberapa line at au dit era
pkan pada line yang panjang, umumnya line t egangan ekst ra t inggi, sangat mungkin
unt uk impedansi maksimum beban berada pada lingkaran o perasi. Pada aplikasi, variasi
karakt erist ik rele, sepert i yang diperlihat kan dalam Gambar 5- 11c- e, digunakan unt uk
rest rict o perasi rele pada areal beban, t et api memiliki jangkauan line yang panjang.

Karakt erist ik rele jarak yang diperlihat kan dalam Gambar 5- 11f adalah t ipe reakt ansi.
Tipe ini memerlukan unit t ambahan, unt uk m enghindarkan u nit reakt ansi bero perasi
pada beban dan gangguan dibelakang releKarakt erisit ik blinder ganda sepert i pada
Gambar 5- 11e merupakan ko mpo sisi dari karakt erist ik dua rekat ansi dengan pergeseran
fasa. Unit sebelah kiri bero perasi unt uk mengko ver areal yang luas disebelah kanan,
sedangkan unit sebelah kanan bero perasi unt uk mengko ver areal disebelah kiri. Rele
bero perasi hanya bila kedua unit bero perasi, dan o perasi pada areal ant ara keduanya.


5. 8 PROTEKSI CADAN GAN : JARAK JAUH vs LOKAL

Pent ingnya cadangan dan redu ndansi dalam sist em pro t eksi t elah disebut kan dalam bab
I dan akan didiskusikan lagi pada bab lainnya. Cadangan didefinisikan sebagai pro t eksi
yang bero perasi secara bebas dalam ko mpo nen t ert ent u dalam sist em pro t eksi primer
at au ut ama. Cadangan dapat berupa duplikasi pro t eksi primer at au dapat pula
bero perasi hanya bila pro t eksi primer gagal at au dalam keadaan pemeliharaan ( IEEE
10 0 - 1984) . Beberapa t ipe dapat diilust rasikan dengan men gacu pada sist em pro t eksi
yang t erdapat pada bus G unt uk line GH sepert i diperlihat kan dalam Gambar 5- 4. Rele-
rele yang diaplikasikan pada bus G sepert i t erlihat pada prinsipnya unt uk mendapat kan
pro t eksi primer pada line GH. Unt uk gangguan yang t erjadi sepanjang line GH, pada
umumnya beberapa rele primer akan bero perasi. Hal ini merupakan cadangan primer
redundansi. Unt uk ko mpo nen sist em ut ama dan pent ing, khususnya pada sist em
t egangan t inggi dan ekst ra t inggi, memerlukan pro t eksi t erpisah, bero perasi berdasarkan
CTs yang berbeda ( dan kadangkala dengan VTs yang berbeda) , sumber DC berbeda, dan
berbeda o perasi sirkit t ripping pada PMT. Salah sat u sist em pro t eksi didesain sebagai
pro t eksi primer, dan yang lain sebagai sekunder, kadangkala ada salah kat a karena
keduanya akan bero perasi bersama pada kecepat an t inggi.
Dasar-Dasar Proteksi
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 6
Unt uk sist em jaringan sederhana sepert i dalam Gambar 5- 4, dapat dilihat bahwa rele
pada bus G harus diat ur unt uk dapat bero perasi bila gangguan eket ernal F, F2, dan
gangguan lain yan g t erjadi diluar line HS guna mendapat kan pro t eksi unt uk gangguan
F1. Jadi rele G merupakan pro t eksi primer unt uk line GH, dan merupakan pro t eksi
cadangan bagi bus H dan line HS. Hal ini disebut cadangan jarak jauh. Bila F, F2, dan
set erusnya adalah gangguan- gangguan yan g t idak dapat dibersihkan o leh rele primer
dan PMT yang t erhubung, rele- rele pada G harus bero perasi dan memisahkan sumber G
dari gangguan. Demikian pula halnya dengan semua sumber gangguan harus segera
diiso lir o leh o perasi cadangan rele pada t erminal- t erminal t erdekat .

Pada t ahun belakangan ini, dibut uhkan sist em pro t eksi cadangan pada bus lo kal dan
unt uk membuka semua pemut us disekeliling bus, dibanding dengan cadan gan jarak
jauh. Cara ini disebut cadangan lo kal, yang juga berhubungan dengan kegagalan
pemut us. Pada aplikasi t ipe ini, pemut us bus H pada line GH harus bekerja bukan
pemut us pada bus G unt uk membersihkan gangguan- gangguan F2 dan set erusnya,
harus rele- rele primer dan at au pemut us H pada line HS gagal bero perasi. Unt uk
cadangan lo kal harus t erpisah, pengat uran rele independen, sebagaimana layaknya
unt uk cadangan jarak jauh. Hal ini t ersedia bila sist em rele primer dan sekunder
independen sepert i yang dikemu kakan diat as. Hal ini mungkin t idak digunakan dalam
sist em t egangan rendah.
























Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 7
BAB 6
PROTEKSI ARUS LEBIH DAN GAN GGUAN TANAH



6. 1 PEN DAHULUAN

Pro t eksi t erhadap arus lebih merupakan sebuah sist em pro t eksi yang pert ama
dipergunakan. Darisini dikembangkan prinsip- prinsip t ingkat an arus lebih, yait u suat u
pemisahan pro t eksi gangguan. Hal ini seharusnya t idak dibingungkan dengan pro t eksi
beban lebih, yang umu mnya menggunakan rele dengan wakt u o perasi didasarkan at as
derajat kapabilit as t ermis dari elemen yang dipro t eksi. Sedangkan pro t eksi arus lebih
secara langsung akan mengiso lir gangguan, meski penyet elan umum nya t et ap
mengado psi pengu kuran dari pro t eksi beban lebih.


6. 2 PROSEDUR KOORDIN ASI

Agar aplikasi rele arus dapat dilakukan secara benar diperlukan penget ahuan mengenai
besarnya arus gangguan yang dapat mengalir pada set iap bagian dari jaringan sist em
t enaga. Mengingat bahwa pengujian skala besar umumnya t idak dilakukan karen a
alasan prakt is, maka digunakan analisis sist em. Pada umumnya dalam analisis sist em
t enaga pemo delan men ggunakan reakt ansi t ran sien dari mesin- mesin elekt rik
'
d
X dan
bekerja pada arus simet ris sesaat . Dat a yang dibut uhkan dalam st udi penyet elan rele,
ant ara lain:
a. Diagram segaris dari sist em yang menunjukkan rat ing dan t ipe peralat an pro t eksi
sert a CT yang dipergunakan.
b. Impedansi dalam besaran o hmik, persen at au pu dari Transfo rmat o r Daya,
mesin- mesin berput ar dan sirkit penyulang.
c. Besar arus gangguan minimum dan maksimum yang mun gkin akan men galir
pada masing- masing peralat an pro t eksi.
d. Arus pengasut an dari Mo t o r dan arus pengasut an sert a wakt u st alling dari Mo t o r
induksi.
e. Arus beban puncak maksimum yang akan melalui peralat an pro t eksi.
f. Kurva kinerja Transfo rmat o r Arus ( CT)

Penyet elan Rele dit ent ukan pert ama kali agar dapat memberikan wakt u o perasi
pemut usan t erpendek pada level gangguan maksimum dan kemudian diperiksa apakah
o perasi ini juga dapat memuaskan unt uk arus gangguan minimum yan g mungkin
t erjadi. Disarankan unt uk selalu menggambarkan kurva Rele dan peralat an pro t eksi
lainnya, sepert i Fuse yang bero perasi secara seri pada skala yang sama. Umumnya lebih
mudah bila dipergunakan suat u skala yang berhubungan den gan kemu ngkinan arus
yang t erjadi pada dasar t egangan yang rendah at au menggunakan dasar t egangan yan g
do minan. Alt ernat if lain adalah dalam
dasar
MVA yang sama at au skala arus yang
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 8
berbeda unt uk set iap t egangan sist em. At uran dasar unt uk mendapat kan ko o rdinasi
Rele yang benar dapat dinyat akan sebagai berikut :
i. Bila memungkinkan, gunakan Rele yang memiliki karakt erist ik o perasi yang
sama bila Rele t erpasang secara seri.
ii. Yakinkan bahwa Rele t erjauh dari sumber memiliki set elan arus yang sama at au
lebih rendah dari Rele dibelakangnya, mengin gat arus primer yang dibut uhkan
unt uk mengo perasikan Rele didepan adalah sama at au lebih kecil dari arus
primer yang diperlukan unt uk men go perasikan Rele berikut nya.


6. 3 PRIN SIP- PRIN SIP TIN GKATAN ARUS WAKTU

Dari sekian banyak met o de yan g mu ngkin digu nakan u nt uk mendapat kan ko o rdinasi
Rele yang benar ,baik menggunakan t ingkat an wakt u, arus at au ko mbinasi keduanya.
Tujuan ut ama dari met o de t ersebut adalah mempero leh pemisahan yang benar. Dengan
kat a lain, set iap met o de harus dapat memilih dan mengiso lasi hanya bagian sist em yang
mengalami gangguan dan menjaga bagian lainnya t et ap bero perasi.


6. 3. 1 Pemisahan Berdasarkan Wakt u

Pada met o de ini, pada set iap Rele yang mengendalikan suat u pemut us t enaga ( PMT)
diberikan int erval wakt u o perasi yang meyakinkan bahwa PMT yang palin g dekat
dengan t it ik gan gguan yang akan membuka pert amakali. Dalam Gambar 6- 1 diberikan
ilust rasi penggunaan met o de ini pada sebuah sist em dist ribusi radial sederhana. PMT
dilet akkan pada B, C, D dan E yan g merupakan t it ik- t it ik awal dari suat u seksi at au awal
dari t it ik injeksi set iap seksi dari sebuah sist em t enaga. Masing- masing unit pro t eksi
dilengkapi dengan Rele arus lebih t ipe definit e t ime delay dimana o perasi Rele
diinisiasi o leh elemen t ime delay.


Gambar 6- 1: Sist em Radial men ggu n akan pemisahan berdasarkan wakt u

Bila penyet elan elemen arus dilakukan berdasarkan arus gangguan maka elemen ini
t idak akan berperan dalam menent ukan pemisahan yang diinginkan. Karena alasan, Rele
jenis ini kerapkali dijelaskan sebagai Rele dengan independent definit e t ime delay relay
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 10 9
karena wakt u o perasinya dalam pemakaiannya t idak t ergant ung pada besar kecilnya
level arus gangguan. Elemen t ime delay yang akan menent ukan pemisahan.

Rele pada B diset el dengan wakt u t unda t erkecil yang memungkinkan Fu se yang
t erpasang disisi sekunder Tran sfo rmat o r A bekerja lebih dahulu bila gangguan yan g
t erjadi disisi sekunder Transfo rmat o r A. Tipikal besarnya wakt u t unda 0 ,25s sudah
memadai. Jika gangguan t erjadi dit it ik F, Rele pada B akan bero perasi dalam 0 ,25s dan
berdasarkan urut an o perasinya, PMT pada B akan membuka guna mengiso lir gangguan
sebelum Rele- Rele pada C, D dan E mempunyai cukup wakt u unt uk nyelesaikan urut an
o perasinya. Kelemahan ut ama dari pemisahan berdasarkan wakt u ini adalah bila
gangguan t erjadi dekat pada sumber t enaga, maka wakt u o perasi pemut usan
membut uhkan wakt u yang cu kup lama sedangkan arus gan gguan yang t erjadi dalam
level ( MVA) t ert inggi.


6. 3. 2 Pemisahan Berdasarkan Arus

Pemisahan berdasarkan arus didasarkan pada kenyat aan bahwa besar arus gangguan
bervariasi t erhadap lo kasi gangguan, karena perbedaan besarnya impedansi ant ara t it ik
gangguan dan sumber. Karenanya, t ipikali Rele yang mengendalikan PMT diset el unt uk
bero perasi pada besaran t ert ent u sehingga Rele yang t erdekat dengan t it ik gangguan
yang akan mengo perasikan PMT nya, sepert i disajikan dalam Gambar 6- 2.


Gambar 6- 2: Sist em Radial men ggu n akan pemisahan berdasarkan Aru s

Unt uk gangguan pada F1, arus gangguan hubung singkat yang t erjadi adalah:


L1 S
Z Z
6350
I
+


Dimana ZS dan ZL! Masing- masin g adalah impedansi sumber dan impedan si kabel ant ara
C dan B, dengan harga masing- masing sebagai berikut :


( )
0,485
250
11
Z
2
S
dan 0,24 Z
L1

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 110
Sehingga

8.800A
0,24 0,485
6350
I
+


Dengan demikian Rele yang mengendalikan PMT disisi C diset el unt uk bero perasi pada
arus gangguan sebesar 8.80 0 A yang secara t eo rit is akan mampu melindungi
keseluruhan kabel ant ara C dan B. N amun demikian, ada dua hal yang akan
mempengaruhi met o de ko o rdinasi dengan cara ini, yait u:

i. Sangat t idak prakt is unt uk membedakan gangguan yang t erjadi ant ara t it ik F1
dan F2 , mengingat jarak keduanya hanya beberapa met er karena it u perubahan
arus gangguan hanya sebesar 0 ,1%.
ii. Dalam prakt eknya akan t erdapat variasi dalam level sumber gangguan, t ipikali
ant ara 250 MVA dan 130 MVA. Pada level yang rendah arus gan gguan t idak akan
melebihi 6.80 0 A, meski gangguan t ersebut t erjadi pada kabel yang dekat
dengan C, sehin gga bila Rele di set el pada arus 8.80 0 A maka t idak akan ada
bagian kabel yang t erpro t eksi dengan baik.

Oleh karena it u pemisahan berdasarkan arus t idak mencapai t ingkat an pemisahan yan g
benar ant ara PMT pada C dan B, namun perso alan menjadi berbeda bila t erdapat
impedansi yang cu kup signifikan ant ara kedua PMT. Hal ini dapat dilihat bila kit a t injau
kembali t ingkat an yang dibut uhkan ant ara PMT pada B dan A, sepert i t erlihat pada
Gambar 6- 2. Misalkan gangguan t erjadi di F4 , besar arus gangguan yang t erjadi
diberikan o leh:


T L2 L1 S
Z Z Z Z
6.350
I
+ + +


Dimana ZS, ZL1, ZL2 dan ZT masing- masing adalah impedansi sumber, Impedansi Kabel
ant ara C dan B, Impedansi Kabel ant ara B dan Transfo rmat o r 4MVA dan Impedansi
Transfo rmat o r, dengan besaran sebagai berikut :


( )
0,485
250
11
Z
2
S
; 0,24 Z
L1
; 0,04 Z
L2
dan
( )
2,120
4
11
0,07 Z
2
T


Dengan demikian

2.200A
(2,12) (0,04) (0,24) (0,485)
6.350
I
+ + +


Berdasarkan ini, Rele yang mengendalikan PMT pada B diset el unt uk bero perasi pada
arus gangguan sebesar 2.20 0 A dit ambah dengan marjin keamanan agar t idak
bero perasi bila gangguan t erjadi di F4 dan harus dipisah dengan Rele di A. Bila
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 111
diasumsikan marjin keselamat an 20 % dan 10 % lagi unt uk variasi perbedaan impedansi
sist em, sangat masuk akal bila diset el pada 130 % x 2.20 0 A at au sebesar 2.860 A unt uk
Rele di B. Sekarang bila gangguan t erjadi di F3 yang merupakan bagian ujung dari kabel
yang memaso k Transfo rmat o r A, arus gangguan yang t erjadi adalah:


L2 L1 S
Z Z Z
6.350
I
+ +


Jika diasumsikan level MVA gangguan adalah 250 MVA, maka:

8.300A
(0,04) (0,24) (0,485)
6.350
I
+ +


Alt ernat if lain bila level MVA sebesar 130 MVA, maka:

0,93
130
(11)
Z
2
S


5.250A
(0,04) (0,24) (0,930)
6.350
I
+ +


Dengan kat a lain, unt uk kedua level sumber, rele di B akan bekerja secara benar u nt uk
semua gangguan yan g t erjadi sepanjang kabel 11 kV yang memaso k Transfo rmat o r A.


6. 3. 3 Pemisahan Berdasarkan Wakt u dan Arus

Dua met o de yang dikemukakan sebelumnya masing- masing memiliki kelemahan. Pada
kasus pemisahan berdasarkan wakt u, kelemahan dapat t erjadi unt uk gangguan pada t it ik
t ert ent u dimana wakt u pemut usan menjadi sangat lama unt uk level gangguan yan g
besar, sedangkan dalam pemisahan berdasarkan wakt u hanya dapat diaplikasikan pada
sist em yang memiliki perbedaan impedansi ant ara dua PMT yang dit injau.

Gambar 6- 3 memperlihat kan karakt erist ik dua rele dengan penyet elan arus/ wakt u yang
berbeda. Unt uk variasi arus gangguan yang cukup besar ant ara dua sisi ujung
penyulang, wakt u o perasi t ercepat dapat dicapai o leh rele yan g t erdekat dengan su mber,
dimana level gangguan t erbesar t erjadi. Dengan cara sepert i ini kelemahan diskriminasi
berdasarkan arus dan wakt u dapat diselesaikan.
Pemilihan karakt erist ik rele arus lebih umum nya diawali dengan pemilihan karkat erist ik
yang benar u nt uk masin g- masing rele, diikut i dengan pemilihan penyet elan arus rele
dan akhirnya margin perbedaan dan penyet elan wakt u dari rele dapat dit ent ukan.

Unt uk memberikan gambaran yang lebih baik, berikut ini diberikan ilust rasi lebih jelas
menggu nakan sist em pada Gambar 6- 4, yang merupakan sist em yang ident ik den gan
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 112
yang diperlihat kan dalam Gambar 6- 1, kecuali dengan t ambahan t ipikal paramet er
sist em .


Gambar 6- 3: Karakt erist ik rele u n t u k pen yet elan yang berbeda


Agar analisis sist em dapat dilaksanakan, sebelum st udi ko o rdinasi Rele dari sist em yang
dit unjukkan dalam Gambar 6- 4 dilaksanakan, maka semua impedansi sist em harus
mengacu pada besaran dasar yang sama. Bila digunakan MVAdasar 10 MVA, maka akan
dipero leh:

Impedansi Transfo rmat o r 4 MVA pada dasar 10 MVA adalah:

17,5%
4
10
x 7 Z
T4MVA


Impedansi kabel ant ara B dan A sert a ant ara C dan B, pada 11 kV dengan dasar 10 MVA:
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 113
0,33%
(11)
10 x 100 x 0,04
Z
2
LBA
dan 1,98%
(11)
10 x 100 x 0,24
Z
2
LCB



Gambar 6.4 : Tin gkat an Aru s dan Wakt u


Impedansi Transfo rmat o r 30 MVA pada dasar 10 MVA:

7,5%
30
10
x 5 , 2 2 Z
T30MVA


Impedansi jaringan 132 kV pada dasar 10 MVA:

0,36%
(132)
10 x 100 x 6,20
Z
2
LED

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 114
Impendasi sumber pada MVAdasar: 10 MVA dipero leh:

0,29%
3.500
10 x 100
Z
S


Grap dalam Gambar 6- 4 memperlihat kan penggunaan kurva pemisahan yang
merupakan bant uan pent ing dalam mempero leh ko o rdinasi pro t eksi yan g memuaskan.
Dalam co nt o h ini, dipilih t egangan dasar 3,3 kV dan kurva pert ama merupakan
gambaran kurva Fuse 20 0 A, yang diasumsikan dapat dipergunakan unt uk mempro t eksi
rangkaian Out go ing dari sist em 3,3 kV. Set elah kurva karakt erist ik o perasi Fuse dapat
digambarkan, selanjut nya t ingkat an dari Rele- Rele arus lebih unt uk masing- masing
Gardu dari sist em Radial t ersebut dapat dilakukan:

Gardu B; Rat io CT 250 / 5A

Karakt erisit ik Rele arus lebih diasumsikan berupa Rele ext remely inverse, misal Rele
CDG 14. Rele ini harus t erpisahkan dengan Fuse 20 0 A pada level gangguan sebesar:


( )
35,7MVA
0,29 0,36 7,5 1,98 0,33 17,5
100 x 10

+ + + + +


Yait u dengan arus sebesar 6.260 A pada t egangan 3,3kV at au 1.880 A pada t egangan
11kV. Dari Karakt erist ik o perasi Rele CDG 14 memperlihat kan bahwa pada penyet elah
plug ( PMS) sebesar 10 0 % arus adalah 250 A, 4,76 MVA pada t egangan 11kV dan pada
penyet elan pengali wakt u ( TMS) pada 0 ,2 didapat t ingkat an pemisahan yang cukup
dengan Fuse 20 0 A.

Gardu C; Rat io CT 50 0 / 5A

Karakt erisit ik Rele arus lebih diasumsikan berupa Rele ext remely inverse, misal Rele
CDG 14. Rele ini harus t erpisahkan dengan Rele pada Gardu B pada level gangguan
sebesar:


( )
98,7MVA
0,29 0,36 7,5 1,98
100 x 10

+ + +


Yait u dengan arus sebesar 17.280 A pada t egangan 3,3kV at au 5.180 A pada t egangan
11kV. Dari Karakt erist ik o perasi Rele CDG 14 memperlihat kan bahwa pada penyet elah
plug ( PMS) sebesar 10 0 % arus adalah 50 0 A, 9,52 MVA pada t egangan 11kV dan pada
penyet elan pengali wakt u ( TMS) pada 0 ,7 didapat t ingkat an pemisahan yang cukup
dengan Rele pada Gardu B.




Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 115
Gardu D; Rat io CT 150 / 1A

Karakt erisit ik Rele arus lebih diasumsikan berupa Rele ext remely inverse, misal Rele
CDG 14. Rele ini harus t erpisahkan dengan Rele pada Gardu C pada level gan gguan
sebesar:


( )
MVA 123
0,29 0,36 7,5
100 x 10

+ +


Yait u dengan arus sebesar 21.50 0 A pada t egangan 3,3kV at au 538A pada t egangan
132kV. Dari Karakt erist ik o perasi Rele CDG 14 memperlihat kan bahwa pada penyet elah
plug ( PMS) sebesar 10 0 % arus adalah 150 A, 34,2 MVA pada t egangan 132kV dan pada
penyet elan pengali wakt u ( TMS) pada 0 ,25 didapat t ingkat an pemisahan yang cukup
dengan Rele pada Gardu C.

Gardu E; Rat io CT 50 0 / 1A

Karakt erisit ik Rele arus lebih diasumsikan berupa Rele ext remely inverse, misal Rele
CDG 14. Rele ini harus t erpisahkan dengan Rele pada Gardu D pada level gangguan
sebesar:


( )
MVA 540 . 1
0,29 0,36
100 x 10

+


Yait u dengan arus sebesar 270 .0 0 0 A pada t egangan 3,3kV at au 6.750 A pada t egangan
132kV. Dari Karakt erist ik o perasi Rele CDG 14 memperlihat kan bahwa pada penyet elah
plug ( PMS) sebesar 10 0 % arus adalah 50 0 A, 114 MVA pada t egangan 132kV dan pada
penyet elan pengali wakt u ( TMS) pada 0 ,9 didapat t ingkat an pemisahan yang cukup
dengan Rele pada Gardu D. Perbandingan ant ara wakt u o perasi Rele pada Gambar 6- 1
dan pemisahan wakt u yang dipero leh dari kurva dalam Gambar 6- 4 pada ko ndisi
gangguan maksimum menunju kkan perbedaan t ingkat an wakt u yang cu kup signifikan.
Perbedaan ini dapat dilihat dalam ringkasan pada Tabel 6- 1 berikut ini:

Tabel 6- 1: Perban din gan wakt u o perasi Rele pada Gambar 6- 1 dan 6- 4

Let ak Rele
Level Gan ggu an
( MVA)
Wakt u Operasi Rele
dari Gambar 6- 1 ( s)
Wakt u Operasi Rele
dari Gambar 6- 3 ( s)
B 98,7 0 ,2 5 0 ,0 7
C 12 3 0 ,65 0 ,33
D 154 0 1,0 5 0 ,0 7
E 350 0 1,4 5 0 ,2 5

Gambaran ini menunjukkan bahwa unt uk gan gguan yang dekat dengan lo kasi Rele,
dengan karakt erist ik wakt u t erbalik dapat dicapai penurunan wakt u o perasi pengiso liran
gangguan yan g cukup besar, demikian pula un t uk gangguan yan g jlet aknya auh dari
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 116
lo kasi pro t eksi Rele, penurunan wakt u o perasi masih dipero leh, sepert i diperlihat kan
dalam Tabel 6- 2 berikut :

Tabel 6- 2: Pen uru n an Wakt u Operasi Rele

Let ak Rele Level Gan ggu an ( MVA)
Pen u run an Wakt u Operasi Rele dari
Gambar 6- 3 ( s)
B 98,7 0 ,17
C 12 3 0 ,32
D 154 0 0 ,86
E 350 0 0 ,39

Finalisasi dari st udi ko o rdinasi adalah menent u kan wakt u o perasi rat a- rat a bagi set iap
Rele arus lebih pada level gangguan aru s minimum dan maksimu m sert a
membandingkan hasil ini dengan wakt u o perasi sepert i yang dit unjukkan dalam
Gambar 6- 1 yang menggu nakan Rele arus lebih wakt u past i sepert i disajikan dalam
Tabel 6- 3 berikut :

Tabel 6- 3: Perban din gan Wakt u Operasi Rele pada level gan ggu an maksimu m/ min imum

Level Gan ggu an ( MVA)
Wakt u Operasi Rele dari Gambar
6- 3 ( s)
Let ak
Rele
Min Max Min Max
Wakt u Operasi
rat a- rat a ( s)
B 35,7 98,7 0 ,0 7 0 ,17 0 ,12
C 98,7 12 3 0 ,33 0 ,42 0 ,375
D 12 3 154 0 0 ,0 7 0 ,86 0 ,465
E 154 0 350 0 0 ,2 5 0 ,39 0 ,32

Dari perbandingan ini t erlihat jelas bahwa bila t erdapat variasi level gangguan sepanjan g
sist em, kinerja Rele arus lebih wakt u t erbalik jauh lebih baik dari rele arus lebih wakt u
past i.


6. 4 MARJIN TIN GKATAN

Int erval wakt u o perasi ant ara dua Rele yang let aknya berdekat an t ergant ung pada
beberapa fakt o r:

i. Wakt u int erupsi arus gangguan dari PMT.
ii. Wakt u o versho o t dari Rele.
iii. Kesalahan- Kesalahan.
iv. Final marjin dari o perasi lengkap.


6. 4. 1 Wakt u Int erupsi PMT

Unt uk mengint erupsi gangguan, PMT harus memut us arus gangguan sebelum Rele
pemisah berhent i energise.
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 117
6. 4. 2 Oversho o t

Bila Rele deenergise, o perasi mungkin berlanjut , dengan wakt u sedikit lebih panjang
sampai energi yang t ersimpan t erdisipasi. Co nt o h: Sebuah Rele piringan induksi akan
memiliki energi kinet ik yang t ersimpan dalam gerakan pirin gan. Rele st at ik memiliki
energi yan g t ersimpan dalam kapasit o r. Desain Rele dibuat agar dapat meminimisasi dan
mengabso rsi energi ini, t et api beberapa kelo nggaran masih dimungkinkan. Wakt u
o versho o t bukanlah wakt u sesungguhnya diman a o perasi Rele t erjadi, t et api wakt u yang
diperlukan o leh Rele masih dalam ko ndisi energise unt uk mencapai o perasi penuhnya.


6. 4. 3 Kesalahan- Kesalahan

Hampir semua peralat an pengindera, sepert i Rele dan CT memiliki derajat kesalahan
karakt erist ik wakt u o perasi. Karakt erist ik wakt u o perasi salah sat u dari keduanya yan g
t erlibat dalam t ingkat an Rele mempunyai kesalahan po sit if at au negat if, sepert i halnya
pada CT yang mungkin memiliki kesalahan phasa dan rat io akibat adanya arus eksit asi
yang dibut uhkan unt uk menginisiasi int i. Hal ini dit erapkan pada Rele arus lebih
dengan wakt u t unda past i. Penyet elan dan t ingkat an Rele dilaksanakan dengan asumsi
ket elit ian dari kurva kalibrasi yang dipublikasikan o leh pabrikan, t et api karena ada
beberapa kemungkinan kesalahan beberapa t o leransi diperbo lehkan.


6. 4. 4 Marjin Final

Set elah semua t o leransi dibuat , t ingkat an Rele t ent unya hanya gagal dalam melen gkapi
urut an o perasinya. Beberapa t ambahan t o leransi at au marjin keselamat an dibut uhkan
unt uk meyakinkan bahwa celah ko nt ak- ko nt ak ada ( at au sebagaimana adanya) .


6. 4. 5 Reko mendasi Wakt u

Jumlah t o t al wakt u yang diperbo lehkan unt uk memenuhi ko ndisi diat as t ergant ung
pada kecepat an o perasi PMT dan kinerja Rele. Tingkat marjin no rmal adalah 0 ,5s.
Unt uk PMT kecepat an t inggi dan Rele dengan wakt u o versho o t ren dah dapat
menggu nakan wakt u 0 ,4s dan dalam ko ndisi t erbaik wakt u t erbaik yang ada dan dapat
digunakan adalah 0 ,35s.

Dalam beberapa kasus, daripada menggunakan marjin t ingkat an t et ap, lebih baik
mengado psi besaran wakt u t et ap, memperhit ungkan wakt u o perasi PMT dan o versho o t
Rele, sert a menambahkan wakt u ini dengan variabel wakt u yang dibut uhkan akibat
kesalahan CT, Rele dan marjin keselamat an. Wakt u 0 ,25s dipilih unt uk besaran wakt u
t et ap, dit ambahkan 0 ,1s unt uk wakt u int erupsi arus gangguan PMT, 0 ,0 5s bagi wakt u
o versho o t Rele dan 0 ,1s unt uk marjin keamanan.

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 118
Oleh karenanya, unt uk int erval wakt u t yang dibut uhkan ant ara Rele- Rele arus lebih
wakt u t erbalik dapat menggunakan persamaan berikut :

t = 0 ,25t + 0 ,25s

dimana t adalah wakt u o perasi no minal dari Rele yang t erdekat dengan t it ik gangguan.

Sepanjang pembahasan Rele arus lebih dengan wakt u t unda past i, diasumsikan bahwa
Rele ini memiliki Klas kesalahan E10 , sebagaimana yang didefinisikan dalam st andar
Inggris BS 142:1966. Bat asan no rmal kesalahan bagi rele E10 adalah 10 %, t et api
t o leransi harus dilakukan t erhadap pengaruh t emperat ur, t egangan, frekuensi dan
berangkat dari referensi. Oleh karenanya, unt uk int erval wakt u t yang dibut uhkan
ant ara Rele arus lebih wakt u t unda t et ap dapat menggunakan persamaan berikut :

t = 0 ,2t + 0 ,25s

dimana t adalah wakt u o perasi no minal dari Rele yang t erdekat dengan t it ik gangguan.


Tabel 6- 4: Definisi Karakt erist ik rele st andard




6. 5 STAN DAR RELE ARUS LEBIH I.D.M.T

Karakt erist ik pemut usan arus/ wakt u rele I.D.M.T bervarisi sesuai dengan kebut uhan
wakt u pemut usan yang diperlukan dan karakt erist ik dari peralat an pro t eksi lain yang
dipergunakan dalam jaringan. Unt uk keperluan ini, IEC 60 255 mendefinisikan sejumlah
karakt erist ik st andar sebagai berikut :

St andard Inverse ( SI)
Very Inverse ( VI)
Ext remely Inverse ( EI)
Definit e Time ( DT)
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 119
Penjelasan mat emat is dari kurva diberikan dalam Tabel 6- 4 dan kurva berdasarkan
penyet elan dasar arus dan penyet elan t ime mult iplier 1 det ik diperlihat kan dalam
Gambar 6- 5( a) . Karakt erist ik pemut usan unt uk penyet elan TMS berbeda menggunakan
kurva SI dit unjukkan dalam Gambar 6- 6.

Tabel 6- 5: Definisi Karakt erist ik rele st andard



Meskipun pada kurva hanya menunjukkan harga diskret dari TMS, penyet elan lanjut
dapat dimungkinkan unt uk rele elekt ro mekanis.






















Gambar 6- 5a: Gambar 6- 5b:

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 120
Unt uk t ipe rele lainnya, langkah penyet elan mu ngkin san gat t erbat as unt uk
mendapat kan pengat uran yang ko nt inyu. Sebagai t ambahan, pada umumnya hampir
semua rele arus lebih dilengkapi dengan elemen penyet elan inst ant aneo us. Dalam
banyak kasus, penggunaan kurva st andar SI t elah memberikan hasil yang memuaskan,
namun bila diskriminasi yang diingin kan t idak dapat dicapai, maka dapat digunakan
kurva VI at au EI, penjelasan lebih lanjut akan diberikan.

















Gambar 6- 6:

Rele- rele unt uk desain ssist em t enaga bagi ut ilit as N o rt h Amercan menggunakan
kurva- kurva AN SI/ IEEE. Dalam Tabel 6- 5 diberikan penjelasan mat emat is dari
karakt erist ik ini dan pada Gambar 6- 5b diperlihat kan st andar kurva pada t ime dial
set t ing 1


6. 6 KOMBIN ASI I.D.M.T DAN ELEMEN IN STAN TAN EOUS SETELAN TIN GGI

Elemen inst ant aneo us set elan t inggi dapat dipergunakan bilamana impedansi sumber
kecil. Hal ini membuat reduksi wakt u pemut usan pada level gangguan t inggi
dimungkinkan. Hal ini juga meningkat kan diskriminasi keseluruhan sist em dengan
membiarkan kurva diskriminasi berada dibelakang penyet elan t inggi elemen
inst ant aneo us lebih rendah, sepert i diperlihat kan pada Gambar 6- 7. Salah sat u
keunt ungan dari elemen ini adalah unt uk menurunkan wakt u o perasi dari rangkaian
pro t eksi menjadi sebagaimana diperlihat kan dalam areal dibawah kurva diskriminasi.
Jika impedansi su mber ko nst an, maka dimun gkinkan unt uk mempero leh pro t eksi
kecepat an t inggi sepanjang seksi dari sirkit yang dipro t eksi. Wakt u pemut usan yang
cepat dapat meminimisasi kemungkinan keru sakan pada lo kasi gangguan. Dalam
Gambar 6- 7 ini pula diilust rasikan keunt un gan lain yang didapat dengan menggunakan
elemen ini
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 121


Gambar 6- 7

Sebagai co nt o h, dalam Gambar 6- 7, rele R2 t erdiskriminasi den gan rele R3 pada 50 0 A
dan bukan pada 110 0 A, memu ngkinkan rele R2 diset pada TMS 0 ,15 bukan 0 ,2 dengan
margin pemisah ant ar rele t et ap sebesar 0 ,4 det ik. Hal serupa unt uk rele R1
t erdiskriminasi t erhadap rele R2 pada 140 0 A bukan pada 230 0 A lain yan g didapat
dengan men ggunakan elemen ini


6. 6.1 TRAN SIEN JAN GKAUAN LEBIH

Jangkauan rele adalah bagian dari sebuah sist em pro t eksi jika gangguan t erjadi. Rele
yang bero perasi unt uk gan gguan yan g t erlet ak diluar zo na ut amanya disebut jangkauan
lebih. Bila menggunakan elemen arus lebih inst ant aneo us, kehat i- hat ian t erhadap
pemilihan penyet elan harus mempert imbangkan kemungkinan t erjadi hal sepert i ini.
Arus inisiasi yang disebabkan o leh adanya arus dc.o ffset pada gelo mbang arus gangguan
mungkin dapat melebihi harga pickup rele dan akan mengakibat kan rele bero perasi. Hal
ini mun gkin t erjadi meski harga rms wakt u t unak arus gangguan u nt uk gangguan yan g
t erjadi pada zo na pro t eksi rele lebih kecil dari harga penyet elan. Feno mena ini dikena
dengan sebut an jangkauan lebih dan didefinisikan sebagai:

100% x
I
I I
transien jangkauan %
2
2 1


Dimana:
I1 = arus pickup rele pada rms t unak
I2 = arus rms t unak pada wakt u dc o ffset menyebabkan rele pickup

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 122

Gambar 6- 8: ko mparasi ant ara kurva rele- rele SI dan VI


6. 7 RELE ARUS LEBIH VERY IN VERSE ( VI)

Rele arus lebih very inverse co co k dipergunakan bilamana t erdapat penurunan besar
arus gangguan sebagai fungsi jarak let ak ganggu an, yait u dimana t erjadi kenaikan yang
cukup subst ansial pada impedansi gangguan. Karakt erist ik o perasi VI memperlihat kan
penurunan wakt u o perasi hampir duakali lipat un t uk penurunan arus dari 7 kali menjadi
4 kali set ing arus rele. Hal ini memu ngkinkan pen ggunaan TMS yang sama u nt uk
beberapa rele yang t erpasang seri.

Gambar 6- 8 memperlihat kan ko mparasi ant ara kurva rele- rele SI dan VI. Kurva VI
lebih st eeper dan karenanya lebih cepat bila dibandingkan dengan kurva SI unt uk
penurunan arus yang sama. Hal ini dapat memungkin kan unt uk mempero leh margin
diskriminasi dengan TMS rendah unt uk set ing arus yang sama dan karenanya wakt u
pemut usan pada sumber dapat diminimisasi.


6. 8 RELE ARUS LEBIH EXTREMELY IN VERSE ( EI)

Dengan karakt erist ik sepert i ini, wakt u o perasi mendekat i berbanding t erbalik secara
kuadrat is t erhadap arus. Hal ini sangat co co k dipergunakan unt uk mempro t eksi
penyulang dist ribusi yang kerap mengalami arus puncak pada saat pensaklaran
sebagaimana sering t erjadi pada sirkit yang dipergunakan unt uk mensuplai refrigerat o r,
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 123
po mpa, pemanas air dan lainnya yang t et ap t erhubung meski t erjadi pemut usan yan g
cukup lama. Gambar 6- 9 memperlihat kan kurva karakt erist ik dari rele jenis ini


Gambar 6- 9: Kurva karakt erist ik rele arus lebih ext remely inverse


6. 9 RELE ARUS LEBIH INDEPEN DEN T ( DEFIN ITE) TIME

Rele arus lebih pada umumnya juga dilengkapi dengan elemen- elemen yan g memiliki
karkat erist ik independent at au definit e t ime. Karakt erist ik sepert i ini memungkin kan
rele yang t erpasang seri diko o rdinasikan dalam sit uasi dimana besar arus gangguan yang
t erjadi sangat variat if akibat perubahan impedansi sumber. Karakt erist ik arus/ wakt u dari
kurva sepert i ini diperlihat kan dalam Gambar 6- 10 , bersama dengan karakt erist ik
st andar I.D.M.T unt uk memperlihat kan bahwa wakt u o perasi singkat dapat dipero leh
dengan rele inverse pada harga arus gangguan t inggi, dimana rele definit e t ime memiliki
wakt u o perasi rendah unt uk arus gangguan rendah. Garis vert ikal T1, T2 , T3 dan T4
memperlihat kan penurunan wakt u o perasi dapat dipero leh dengan rele Inverse pada
level arus gangguan t inggi


6. 10 PERHITUN GAN PEN YETELAN RELE ARUS LEBIH

Ko o rdinasi yan g benar dari Rele arus lebih pada suat u sist em t enaga memerlukan
perhit ungan dan penggambaran pada kert as lo g yan g t epat dari perkiraan penyet elan
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 124
Rele, berkenaan dengan arus at au wakt u, unt uk mendapat kan marjin t ingkat an yan g
co co k ant ara Rele- Rele yang let aknya bersisian.

Gambar 6- 10 :


6. 10 .1 Rele- Rele Wakt u Past i

Pemilihan set elan bagi Rele wakt u past i menimbulkan sedikit kesulit an. Elemen arus
lebih harus diberi penyet elan yang rendah dengan marjin yang cu kup rasio nal daripada
arus gangguan yang mu ngkin men galir ket it ik gangguan dari bagian sist em sampai
kepada kebut uhan pro t eksi cadangan pada saat pelayanan minimum. Penyet elan harus
cukup t inggi unt uk menghindari o perasi Rele pada saat beban maksimum, marjin yan g
cukup unt uk melalukan arus pen gasut an mo t o r besar at au inrus peralihan
Transfo rmat o r. Penyet elan wakt u yang akan dipilih harus cukup bagi marjin t ingkat an
sepert i didiskusikan dalam bagian 6.4.


6. 10 .2 Rele- Rele Wakt u Terbalik

Apabila sist em t enaga t erdiri dari beberapa seksi kabel yang t erhubung seri sehingga
t o t al impedansinya rendah, besaran arus gangguan akan dikendalikan o leh impedansi
Transfo rmat o r at au Pembangkit dan t idak t erlalu bervariasi t erhadap lo kasi gangguan.
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 125



Gambar 6- 11: Sist em Dist ribu si Radial 11 kV


Dalam kasus sepert i ini, dimungkinkan unt uk membuat t ingkat an pada Rele wakt u
t erbalik dengan cara Rele Wakt u Past i, namun demikian bilamana arus gangguan cuku p
bervariasi t erhadap lo kasi gangguan, dimu ngkinkan menggunakan fakt a ini gu na
membuat t ingkat an dalam arus dan wakt u guna meningkat kan kinerja Rele. Hal ini
merupakan salah sat u kelebihan ut ama dari Rele Wakt u Terbalik t erhadap Rele Wakt u
Past i bila digunakan pada sist em dimana t erdapat variasi yang cukup besar pada arus
gangguan ant ara kedua ujung penyulang, karen a wakt u o perasi t ercepat dapat dicapai
o leh Rele yang t erdekat dengan sumber dimana level gangguan t ert inggi t erjadi.

Perhit ungan dalam bent uk t abulasi merupakan cara t erbaik dalam membuat t ingkat an
Rele arus lebih. Sist em dist ribusi dalam Gambar 6- 11 adalah co nt o h sist em yang akan
dipergunakan u nt uk memperlihat kan cara ini. Dalam co nt o h ini, Busbar A pada Gardu
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 126
11 kV dipaso k o leh dua Transfo rmat o r Grid yang t erhubung pada sist em EHV yan g
impedansi sumber dapat diabaikan. Jadi daya hubung sin gkat pada busbar 11 kV pada
Gardu A dengan kedua Transfo rmat o r bekerja adalah 150 MVA yang t erhubung dengan
impedansi sumber 0 ,81.

Gardu A sepert i diperlihat kan mensuplai Gardu B, C, D dan E melalui sist em dist ribusi
Radial t ermasuk bagian- bagian penyulang dengan impedansi sepert i dalam diagram.
Beban masing- masing disuplai o leh Gardu yang bersesuaian, dengan dist ribusi arus
sebagaimana diperlihat kan dalam diagram t ersebut .

Dat a sebagai bahan analisis disajikan dalam Tabel 6- 6. Impedansi t o t al t ermasuk
impedansi sumber, dari sumber menuju masin g- masing Gardu diberikan dalam ko lo m
kedua. Pada ko lo m ket iga diberikan besar impedansi yang berhubungan den gan
hubung sin gkat busbar pada Gardu A menuru n sampai asumsi harga minimum, dalam
co nt o h ini harga minimum dipero leh dalam o perasi sist em hanya dipaso k dengan
sebuah Transfo rmat o r. Dalam ko lo m empat dan lima berisi dat a arus gangguan
maksimum dan minimu m. Arus beban maksimum yan g dit ransmit melalui masing-
masing Gardu menuju penyulang berikut nya disajikan dalam ko lo m keenam.

Tabel 6- 6: Dat a sist em dalam Gambar 6- 11

Impedan si To t al
Aru s Gan ggu an
( A)
Set elan Aru s Rele
Lo kasi
Min Maks Maks Min
Maks L
I

( A) Rat io CT
Persen
primer
I ( A)
A 0 ,81 1,62 7.850 3.92 0 4 2 0 4 0 0 / 5A 12 5 60 0
B 1,4 1 2 ,2 2 4 .50 0 2 .860 30 0 4 0 0 / 5A 12 5 50 0
C 2 ,36 3,17 2 .690 2 .0 0 3 130 2 0 0 / 5A 10 0 2 0 0
D 4 ,56 5,37 1.395 1.182 50 10 0 / 5A 10 0 10 0


Dari dat a ini dapat dit ent ukan rat io CT yang t epat dan pemilihan penyet elan Rele arus
lebih. Perlu dicat at bahwa penyet elan arus primer harus diat as est imasi arus beban
maksimum, dan juga mempert imbangkan kem ungkinan penin gkat an beban kedepan,
beban t inggi yang t ak diduga, peralihan beban puncak dan reset ulang Rele set elah
gangguan, dengan pro spekt if sirkit pembawa arus beban maksimum. Penyet elan Rele
harus berada dibawah arus gangguan minimu m yang diberikan dalam ko lo m 5 dari
Tabel 6- 6.

Rele arus lebih diharapkan mempunyai t ingkat an pro t eksi guna melindu ngi sist em
t erhadap gangguan dan t idak memberikan pro t eksi beban lebih yang akurat . Paling
t idak pengukuran t erhadap pro t eksi beban lebih dit ujukan unt uk melindungi kabel
t erhadap pembebanan lebih. Karena alasan ini penyet elan Rele primer t idak selalu
dibuat set inggi mungkin jika hanya arus gan gguan yang menjadi pert imbangan. Sekali
set elah penyet elan arus Rele dipilih, berikut nya adalah menent ukan dan menghit ung
penyet elan pengali wakt u Rele ( TMS) sepert i diperlihat kan dalam Tabel 6- 7a dan 6- 7b.
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 127
Tabel 6- 7a: Perhit u n gan Pen yet elan Wakt u Rele pada D dan C

Lo kasi Gangguan
D C Rele
PSM Tc TMS Ta PSM Tc TMS Ta
D 13,95 2,6 0 ,0 5 0 ,13
C 6,975 3,6 0 ,175 0 ,63 13,45 2,6 0 ,175 0 ,455
B 5,38 4,1 0 ,233 0 ,955
A

Tabel 6- 7b: Perhit u n gan Pen yet elan Wakt u Rele pada D dan C

Lo kasi Gangguan
B A Rele
PSM Tc TMS Ta PSM Tc TMS Ta
D
C
B 9 3,15 0 ,233 0 ,735
A 7,5 3,45 0 ,358 1,235 13,0 8 2,65 0 ,358 0 ,95

Tingkat an dihit ung unt uk besaran arus gan gguan maksimu m yan g sesuai, dimana,
karena bent uk t erbalik dari kurva karakt erist ik Rele, yakinkan bahwa marjin t ingkat an
akan menin gkat sesuai dengan kenaikan set iap besaran arus gangguan t erendah.
Dimulai dari Rele pada D yang t erjauh dari sumber daya, PMS Rele dihit ung dari
kemungkinan besarnya arus gan gguan maksim um yang mu ngkin dirasakan o leh Rele
ini dan penyet elan arus Rele adalah:


Gardu D, Rat io CT 10 0 / 5A

Arus pada Rele CDG 11 ( st andar IDMT) , penyet elan 10 0 % adalah = 10 0 A
Level arus gangguan maksimum pada busbar Gardu D = 1,395A
Oleh karena it u PSM Rele:
13,95
100
1.395
PSM
D


Selanjut nya dari Gambar 6- 11 wakt u o perasi Rele st andar IDMT pada 13,95 kali PSM dan
TMS 1,0 adalah 2,6 s. Set elah Rele pada D t idak ada Rele lainnya, namun sedikt i wakt u
t unda dibut uhkan unt uk memberikan t ingkat an yang cu kup t erhadap sist em pro t eksi
disisi t egangan rendah. Lebih lanjut , lint asan penut upan ko nt ak- ko nt ak Rele D t idak
bo leh t erlalu kecil unt uk menghindari kemungkinan bero perasi akibat adanya
go ncan gan mekanis.

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 128
TMS sebesar 0 ,0 5 adalah harga t erendah yan g dapat digunakan dan akan diambil dalam
co nt o h ini dirasakan cukup u nt uk memberikan t ingkat an dengan pro t eksi t egangan
rendah. Karenanya, wakt u o perasi sesungguhn ya dari Rele pada D dipero leh sebagai
berikut :

0 ,0 5 x 2,6 = 0 ,13s

Marjin t ingkat an sebesar 0 ,0 5 akan digunakan dalam co nt o h ini, sehingga Rele pada
Gardu C memiliki wakt u o perasi bila t erjadi gangguan pada Gardu D sebagai berikut :


Gardu C, Rat io CT 20 0 / 5A

Arus pada Rele CDG 11 ( st andar IDMT) , penyet elan 10 0 % adalah = 20 0 A
Level arus gangguan maksimum u nt uk memberikan t ingkat an ant ara Rele pada C dan D
adalah = 1,395A, o leh karena it u PSM Rele:

975 , 6
200
1.395
PSM

Selanjut nya dari Gambar 6- 11, wakt u o perasi Rele st andar IDMT pada 6,975 kali PSM
dan TMS 1,0 adalah 3,6 s. Tingkat an wakt u yang diperlukan: t D + 0 ,5 = 0 ,13 + 0 ,50 =
0 ,63s. Oleh karena it u TMS Rele yang diperlukan:

0,175
3,6
0,63
TMS TMS

Perhit ungan berikut nya dilakukan unt uk Rele C dengan gangguan t erlet ak desekit ar
Gardu C, dipero leh harga PSM sebagai berikut :

Arus gangguan maksimun didekat busbar Gardu C adalah: 2.690 A

45 , 13
200
2.690
PSM
Selanjut nya dari Gambar 6- 11, wakt u o perasi Rele st andar IDMT pada 13,45 kali PSM
adalah 2,6 s. Dimana harga ini bersama dengan TMS yang dihit ung unt uk Rele C sebesar
0 ,175, memberikan harga akt ual dari wakt u o perasi Rele C pada saat t erjadi gangguan
yang dekat dengan Rele pada level gangguan maksimum, yait u:

0 ,175 x 2, 6 = 0 ,455s

Tingkat an unt uk Rele lainnya dihit ung dengan cara yang sama sepert i t elah
dikemukakan unt uk kedua Rele diat as. Dalam Tabel 6- 7a dan 6- 7b diberikan secara
lengkap harga- harga penyet elan unt uk keseluruhan Rele. Dalam t abel ini beberapa
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 129
harga diset el dengan t ingkat ket elit ian sangat t inggi bila dibanding dengan ko ndisi
prakt is, hal ini diberikan unt uk memperlihat kan co nt o h t eo rit is dari kecenderungan
pelaksanaan t ingkat an sesungguhnya dan t idak dibingungkan den gan met o de est imasi
yang dilakukan.

Dapat dicat at bahwa, meski t erjadi peningkat an wakt u pemut usan secara berurut an dari
D ke A, wakt u o perasi Rele A unt uk gangguan yang dekat dengan busbar lebih kecil
t iga langkah dibanding dengan Rele D, peningkat an kinerja ini dipero leh sebagai akibat
dari penggunaan karakt erist ik Rele arus/ wakt u t erbalik.

Dari Gambar 6- 11 dapat dilihat secara jelas bahwa pada level gangguan maksimum yan g
t erjadi pada set iap busbar Gardu, marjin t ingkat an sebesar 0 ,5s dapat dipenuhi dan Rele
juga dapat bero perasi secara memuaskan dalam level gangguan minimum.


6. 11 PROTEKSI GAN GGUAN TAN AH

Dalam deskripsi t erlebih dahulu, perhat ian sepenuhnya hanya kepada pro t eksi arus lebih.
Pro t eksi yang lebih sensit if t erhadap gangguan t anah dapat dilakukan menggu nakan
Rele yang hanya akan merespo n t erhadap adanya arus residu sist em, karena ko mpo nen
residual hanya mu ncul bilamana arus gan gguan mengalir ket anah. Oleh karena it u Rele
gangguan t anah t idak t erpengaruh sama sekali t erhadap arus beban, baik dalam ko ndisi
seimbang maupun t idak dan dapat diset el yang hanya dibat asi o leh desain peralat an.
Pernyat aan ini hanya berlaku dengan syarat jika perhat ian penyet elan hanya beberapa
persen dari rat ing sist em, karena kebo co ran t idak seimbang at au arus kapasit if menuju
t anah mungkin menimbulkan besaran residu dalam o rde ini.

Secara keseluruhan, penyet elan rendah memungkin kan bagi Rele Gangguan Tanah
menjadi sangat berguna, t idak hanya t erhadap gangguan t anah, t et api lebih jauh
t erhadap hampir semua gangguan, t et api mungkin dibat asi magnit udnya o leh besarnya
impedansi pent anahan at au o leh t ahanan pent anahan. Ko mpo nen residual diekst rasi
dengan cara menghubungkan CT jaringan secara paralel sepert i diperlihat kan dalam
Gambar 6- 12.

Hubungan sederhana sepert i diperlihat kan dalam Gambar 6- 12a dapat diperluas dengan
cara menghubungkan elemen- elemen aruslebih pada ujung- ujung t erminal masing-
masing phasa, sepert i diperlihat kan dalam Gambar 6- 12b dan menyisipkan Rele
Gangguan Tanah diant ara t it ik bint ang dari gro up Rele Phasa dan CT.

Rele Aruslebih kerapkali hanya dipasang pada dua dari t iga phasa yang ada, karena cara
ini sudah cukup mendet eksi set iap gangguan phasa yang t erjadi. Cara sepert i ini t idak
berpengaruh t erhadap Rele Gangguan Tanah. Hubungan sepert i ini diperlihat kan dalam
Gambar 6- 12c.
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 130

Gambar 6- 12: Hu bu n gan Residu dari CT u n t u k Rele Gan ggu an Tan ah


6. 11. 1 Penyet elan Efekt if Rele- Rele Gangguan Tanah

Penyet elan primer suat u Rele Aruslebih biasanya dapat diambil sebagai penyet elan Rele
dikali dengan rat io CT. CT diasumsikan mampu bekerja dengan rat io ket elit ian yang
t erjaga dan dinyat akan dengan persen rat ing arus, penyet elan primer akan sama dengan
penyet elan Rele. Rele Gangguan Tanah mungkin menggunakan elemen yang sama
dengan yan g dipergunakan dalam Rele Phasa dan akan memiliki ko nsumsi VA yan g
sama dalam penyet elan, t et api akan memiliki burden yang lebih t inggi pada arus
no minal at au rat ing, karena penyet elan yang rendah. Sebagai co nt o h, suat u Rele yang
diset el pada 20 % akan memiliki impedansi 25 kali lebih besar dibanding elemen yang
sama yang diset el 10 0 %. Seringkali burden ini melebihi rat ing burden dari CT. Hal ini
t ampaknya mengharuskan penggunaan CT yan g lebih besar, t et api hal ini mun gkin
t idak diperlukan, karena CT yang menangani burden phasa dapat mengo perasikan Rele
Gangguan Tanah dan kenaikan kesalahan dapat dit o lerir.
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 131

Tabel 6- 8: Perhit u n gan Pen yet elan Efekt if

Pen yet elan PMS Pen yet elan Efekt if
% Aru s ( A)
Teg. Ko il pd
set elan ( V)
Aru s
eksit asi
e
I
e
3I
Aru s ( A) %
5 0 ,2 5 12 0 ,583 1,75 2 ,0 4 0
10 0 ,50 6 0 ,40 5 1,2 15 1,715 34 ,3
15 0 ,75 4 0 ,30 0 ,90 1,65 33
2 0 1,0 3 0 ,2 7 0 ,81 1,81 36
4 0 2 ,0 1,5 0 ,17 0 ,51 2 ,51 50
60 3,0 1,0 0 ,12 0 ,36 3,36 67
80 4 ,0 0 ,75 0 ,10 0 ,30 4 ,3 86
10 0 5,0 0 ,60 0 ,0 8 0 ,2 4 5,2 4 10 5


Tidak hanya it u, arus eksit asi yang sebandin g u nt uk men genergise CT juga menin gkat
akibat burden yang besar dari Rele Gangguan Tanah, t et api t egangan jat uh pada Rele ini
mempengaruhi CT lain yan g t erpasang dalam gro up paralel, baik Rele ini membawa arus
primer at au t idak. Oleh karena it u arus eksit asi t o t al adalah hasil perkalian ant ara susut
dalam salah sat u CT dengan jumlah CT yang t erpasang paralel.


Gambar 6- 13: Pen yet elan Efekt ir Rele Gan ggu an Tanah

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 132
Penjumlahan susut permagnet an ini dapat lebih besar bila dibandingkan dengan arus
o perasi Rele, dan dalam kasus yang lebih ekst rim dimana set ing arus rendah at au CT
yang dipergu nakan memiliki kinerja yang kurang baik, mungkin menyebabkan
peningkat an Out put pada Rele. Arus penyet elan efekt if pada hubungan sekunder adalah
penjumlahan arus penyet elan Rele dan susut t o t al arus eksit asi. Dengan kat a lain,
penyet elan efekt if adalah jumlah vekt o r arus penyet elan Rele dan t o t al arus eksit asi,
t et api unt uk Rele elekt ro magnet ik lebih kurang adalah jumlah arit mat ik sudah cukup
mendekat i, karena kesamaan fakt o r kerja. Sebagai pelajaran, dalam menghit ung
penyet elan efekt if unt uk range besaran penyet elan dari sebuah Rele, pro ses
diperlihat kan dalam Tabel 6- 8 yang hasilnya disajikan dalam Gambar 6- 13.


6. 11. 2 Co nt o h Rele Gangguan Tanah

Rat io CT 30 0 / 5A
Tegangan knee- po int : 30 Vo lt
Arus eksit asi pada knee- po int : 1,5A
Burden CT pada set elan: 3 VA

Dapat dilihat bahwa penyet elan o pt imum Rele pada co nt o h diat as adalah 13%, t et api
sedikit peningkat an dalam penyet elan efekt if t erjadi at as Rele pada penyet elan 20 %.
Mungkin t erpikirkan bahwa bat asan penyet elen Rele dapat dilaksanakan ant ara 10 %
sampai dengan 40 %, penyet elan o pt imum dapat diket ahui dengan melaksanakan
pengujian sebelum pemasangan. Harus diingat bahwa, meski kemungkinan arus
gangguan t anah dibat asi o leh impedansi pent anahan net ral, namun Rele t et ap akan
merasakan arus yang cukup besar, khususnya jika CT memiliki harga emf sat urasi yan g
t inggi. Dalam kasus ini Rele mungkin men galami pemanasan selaman gangguan sist em.
Semakin rendah penyet elan Tap, semakin t inggi t ahanan belit an ko il, sehingga
pemanasan pada penyet elan Tap rendah cenderung t inggi. Berkenaan dengan hal
t ersebut , penyet elan Tap kat akanlah pada 20 % t idaklah sama jika dipero leh dari bat asan
10 % - 40 % dengan pada bat asan 10 % - 80 %. Hal ini berhubungan dengan lilit an yan g
digunakan, unt uk bat asan pert ama memiliki jumlah belit an dua kali dari jumlah lilit an
bat asan kedua dan ukuran ko ndu kt o r lebih kecil. Bila spemilihan Tap 20 % dipilih dari
bat asan 10 % - 40 %, hanya set engah lilit an yang akan dipergunakan dan t ahanan belit an
akan lebih besar jika dibanding den gan penet elan berdasarkan bat asan 10 % - 80 %,
dimana semua ko il akan digunakan.

Bat asan penyet elan t inggi co co k dipergu nakan u nt uk aplikasi pada umumnya dan harus
digunakan kecuali diket ahui bahwa ko ndisi pelayanan memerlukan penyet elan rendah.
Bilamana arus gangguan dapat dibat asi o leh t ahanan pent anahan net ral, penyet elan
bat asan rendah dapat dilakukan, meski pada umumnya t idak dilakukan. Pada daerah
dimana t ahanan pent anahan begit u t inggi dan sensit ifit as t inggi diperlukan, penyet elan
rendah harus digu nakan dan digunakan CT dengan arus eksit asi rendah. Juga perlu
dipert imbangkan besarnya arus gangguan t an ah maksimum dan dipert imbangkan
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 133
apakah diperlukan unt uk mendesain CT guna m embat asi arus Out put maksimumakibat
kejenuhan.


6. 11. 3 Tingkat an Wakt u pada Rele- Rele Gangguan Tanah

Tingkat an wakt u pada Rele- Rele Gangguan Tanah dapat diat ur dengan cara yang sama
sepert i halnya pada Rele- Rele Gangguan Phasa. Karkat erist ik arus primer/ wakt u t idak
dapat dijaga pro po rsio nal t erhadap karakt erist ik Rele dengan sesuat u sepert i ket elit ian
sepert i halnya pada Rele gangguan phasa. Sebagaimana diperlihat kan diawal, kesalahan
rat io dari CT pada penyet elan Rele mungkin sangat besar. Pengaruh impedansi Rele
yang relat if t inggi dan penjumlahan susut eksit asi Rele pada rangkaian residual
memperbesar kenyat aan yang ada t ersebut , pada penyet elan, kerapat an fluksi pada CT
berhubungan dengan belo kan bawah dari karakt erist ik eksit asi. Impedansi penguat an
pada ko ndisi ini relat if rendah, mengakibat kan kesalahan rat io menjadi t in ggi. Pada
kenyat aannya CT meningkat kinerjanya dengan kenaikan arus primer, sement ara
impedansi Rele menurun, dengan arus Input beberapa kali lebih besar dari penyet elan
primer, pengali arus set ing pada Rele meningkat t inggi dibanding dengan pengali arus
set ing primer yang berlaku pada rangkaian prim er, mengakibat kan wakt u o perasi Rele
lebih singkat dari yang diharapkan.

Dengan jelas dapat dipahami bahwa t ingkat an wakt u pada Rele gangguan t anah t idaklah
sesederhana sepert i dalam pro sedur yang dilaksanakan unt uk Rele Phasa sebagaimana
disajikan dalam Tabel 6- 7a dan 6- 7b. Meski fakt o r- fakt o r diat as t elah dijadikan bahan
pert imbangan dan kesalahan perhit ungan pada level masing- masing arus, membuat
pro ses menjadi lebih membo sankan, at au marjin t ingkat an yan g lebih lama harus
diperbo lehkan.


6. 11. 4 Sensit ivit as Pro t eksi Gangguan Tanah

Dalam beberapa daerah, resist ivit as dari lint asan t anah mungkin sangat t inggi
disebabkan kekeringan yang berlebihan dan sifat dari t anah it u sendiri. Gangguan sist em
ke t anah t idak melibat kan ko ndukt o r t anah yang hanya menghasilkan aliran arus yan g
kecil, t idak cukup unt uk men go perasikan sist em pro t eksi no rmal. Kesulit an yang sama
t erjadi dalam kasus kerusakan pada ko ndukt o r jaringan yan g set elah jat uh ke pagar at au
kejalanan yang kerin g, akan t et ap energise karena arus bo co r yang rendah dan sangat
membahayakan hidup manusia.

Unt uk mengurangi bahaya ini diperlukan sist em pro t eksi gangguan t anah den gan suat u
penyet elan yang lebih baik dari pro t eksi jaringan no rmal. Unt uk mendapat kan t ujuan
ini, Rele t idak hanya diset pada arus rendah, t et api juga dalam burden dasar rendah,
sepert i diperlihat kan dalam Gambar 6- 13, penyet elan arus rendah bagi suat u Rele
no rmal dapat berart i penyet elan efekt if yang t ak berguna.

Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 134
Rele- Rele didesain unt uk dapat memenuhi keperluan diat as. Menggunakan elemen
po larisasi yang sensit if. Burden yang cukup rendah dari Rele yang selalu dapat energise
o leh CT yan g sama yang dipergunakan unt uk rangkaian pro t eksi ko nvensio nal. Dapat
dilihat secara jelas bahwa pro t eksi gangguan t anah yang memiliki pen yet elan rendah
t idak dapat dibuat bert ingkat dengan sist em lain dan karena it u melahirkan at uran
t ambahan dengan menggunakan wakt u t unda yang cu kup lama, diat ur diat as 10 at au
15s. Meskipun t ingkat an dengan sist em pro t eksi yang lain t idak prakt is, sensit ifit as Rele
gangguan t anah dapat diat ur unt uk membent uk sebuah sist em t ingkat an independen
meningkat kan beberapa st age pemisahan.

Arus jat uh peralihan dari residu hubungan CT dapat diharapkan melebihi penyet elan
Rele selama gangguan phasa t et api fungsi yang t idak diharapkan dicegah dengan
memperpanjang wakt u t unda.

Penggunaan Rele dibat asi o leh arus residual n o rmal yang mun gkin mengalir selama
ko ndisi no rmal. Beberapa pengaruh residual dapat meningkat melebihi primer
menimbulkan kebo co ran t idak seimbang at au kapasit ansi, at au dapat arus jat uh
sekunder dari CT pada ko ndisi beban sist em no rmal. Besaran arus residu t unak yang
t erukur dilo kasi dan Rele diset el pada besaran yang lebih rendah yang akan
menghidarkan o perasi dalam keadaan t unak dan juga guna meyakin kan bahwa akan
t erjadi penyet elan balik set elah o perasi t ransien dari elemen pengukuran arus. Wakt u
t unda diat ur melebihi wakt u o perasi unt uk pro t eksi hubung sin gkat dan penyet elan
Rele bert urut - t urut diat ur dalam suat u urut an bert ingkat .


6. 12 KOORDIN ASI DEN GAN FUSE

Wakt u o perasi dari suat u Fuse adalah fungsi wakt u arcing dan pre- arcing dari penyat uan
elemen yang men gikut i Hukum t I
2
. Sehingga unt uk mendapat kan ko o rdinasi ant ara
dua Fuse yang t erpasang secara seri, harus diyakinkan bahwa t o t al t I
2
yang dibut uhkan
o leh Fuse yang lebih kecil t idak lebih besar dari wakt u pre- arcing t I
2
dari Fuse yan g
lebih besar. Dari pengujian yang dilakukan secara umum t ingkat an ant ara dua Fuse
dapat dipero leh dengan memuaskan bilamana rat io arus ant ara keduanya lebih dari dua.

Sejauh ini dalam penggunaannya t ingkat an ant ara Rele wakt u t erbalik dan Fuse sering
menjadi perhat ian. Pendekat an bilamana dimungkinkan, unt uk meyakin kan bahwa Rele
menjadi cadangan Fuse dan t idak sebaliknya. Karena sangat sulit unt uk menjaga
pemisahan yang benar pada besaran arus ganggu an t inggi karena kecepat an o perasi dari
Fuse. Karkat erisit k Rele t erbaik yang lebih co co k diko o rdinasikan dengan Fuse adalah
Rele Aruslebih ext remely inverse CDG 14 yang memiliki karakt erist ik t I
2
yang mirip.
Bila dipergunakan, perlu diingat selalu bahwa unt uk mencapai ko o rdinasi yan g
memuaskan ant ara Rele dan Fuse, penyet elan arus primer dari Rele harus mendekat i
t iga kali rat ing arus Fuse dan marjin t ingkat an unt uk keperluan ko o rdinasi, bila
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 135
dinyat akan sebagai sebuah besaran t idak bo leh kurang dari 0 ,4s at au bila dinyat akan
dalam suat u variabel, harus memiliki harga minimum sebesar:

0,15 0,4t t' +

Dimana t adalah wakt u o perasi no minal Fuse


6. 13 RELE ARUS LEBIH BERARAH

Bilamana arus gangguan dapat mengalir menuju lo kasi Rele dalam dua arah, unt uk ini
diperlukan suat u elemen yang dapat merespo n keadaan ini dengan menggunakan suat u
elemen pengindera arah. Elemen ini berdasarkan pada prinsip pengukuran daya dimana
t egangan sist em dipergunakan sebagai acuan guna mempert ahankan arah relat if at au
phasa dari arus gangguan.




Gambar 6- 14 : Tegan gan Phasa Un t u k Gan ggu an B C


Meski memiliki prinsip dasar peralat an pengukuran daya, elemen ini t idak didesain unt u
merespo n t erhadap aliran daya sist em dengan alasan sebagai berikut :
i. Sist em daya jauh dari beban, bersifat reakt if sehingga fakt o r daya gangguan
selalu rendah. Rele merespo n murni pada ko mpo nen akt if yang t idak akan
menimbulkan t o rka t inggi dan mungkin lebih rendah dan sedikit menent ukan
dari seharusnya.
ii. Tegangan sist em pada t it ik gangguan akan ko lap. Bila gangguan adalah
gangguan sat u phasa, t egangan sepanjang jaringan menuju t it ik gangguan
menurun. Jadi phasa gan gguan B C akan men yebabkan vekt o r t egangan phasa
B dan C bergerak bersama, kedudukan dari kedua ujung menjadi t it ik awal line
Proteksi Arus Lebi h dan Gangguan Tanah
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 136
bc unt uk sist em ho mo gen sepert i diperlihat kan dalam Gambar 6- 14. Pada t it ik
gangguan, vekt o r akan serupa, t egangan menjadi no l pada t it ik gangguan, t et api
t egangan gan gguan ke t anah akan menjadi separuh dari t egangan phasa- net ral.
Pada t it ik lain didalam sist em pergeseran vekt or lebih kecil, t et api pada lo kasi
Rele pada beberapa t it ik akan menerima t egangan yang t idak seimbang dalam
besar dan po sisi phasa.

Pengaruh ket idakseimbangan arus dan t egan gan yang cukup besar membuat t o rka yang
dihasilkan o leh perbedaan elemen phasa bervariasi cukup besar dan juga berbeda dalam
t anda bila besaran yang dipilih unt uk dit erapkan pada Rele t idak dipilih secara hat i- hat i.
Unt uk mengahiri hal ini, masin g- masing phasa dari Rele dipo larisasi dengan t egangan
yang t idak akan berkurang kecuali dengan cara menut up gangguan t iga fasa dan akan
menjaga agar hubungannya t erhadap arus t et ap memuaskan unt uk berbagai ko ndisi.
































Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 137
BAB 7
PROTEKSI GEN ERATOR



7. 1 PEN DAHULUAN DAN POTEN SI MASALAH

Generat o r adalah sebuah o bjek yang memiliki po t ensi bahaya yang sangat banyak,
unt uk it u dibut uhkan at ensi dan perhat ian lebih dalam hal pro t eksi. Po t ensi
bahaya/ masalah dalam Generat o r dapat dikelompo kkan dalam dua kat ego ri, yait u: 1) .
Gangguan int ernal dalam daerah pro t eksi, dan 2) . Ko ndisi sist em t idak no rmal dan at au
o perasi t idak no rmal. Diskusi mengenai pro t eksi yang dikemukakan dalam buku ini
diut amakan unt uk Generat o r yan g t erpisah dari penggerak mulanya. Jadi pada dasarnya
pro t eksi Generat o r akan sama, baik unt uk Gen erat o r dengan pen ggerak mula hydro ,
bat ubara, gas at au nuklir.

Ukuran Generat o r sangat bervariasi dan lo kasi Generat o r pada gardu at au pusat
pembangkit umumn ya dekat at au pada suplai penggerak mulanya dan at au sedekat
mungkin dengan pusat beban. Tipikal Generat o r dengan penggerak mula berupa PLTA
diperlihat kan dalam Gambar 7- 1. Pada umumnya, unt uk t ipe ini digu nakan shaft
vert ikal, at au ada juga yang menggunakan ho rizo nt al shaft .


Gambar 7- 1: Empat bu ah Gen erat o r hidro shaft vert ikal 10 0 MVA, 13,8 kV


Dalam buku ini dikemukakan aplikasi beberapa t ipe rele pro t eksi yang digunakan
sebagai pengaman Generat o r. Bagian pent ing dan vit al dari unit - unit ini adalah sist em
kendali dan regulasi. Dengan ini memiliki pro t eksi sendiri pembat as fit ure- fit ure
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 138
pengaman dan pada dekade t erakhir ini juga dilengkapi dengan pemindal dan sist em
digno st ik o nline unt uk kebut uhan pemindaian t emperat ur dari bagian- bagian
Generat o r, mendet eksi arc dengan frekuensi radio dan met o da lainnya, selai it u sist em
dilengkapi pula dengan pemin daian po lut an, dan kemampuan det eksi dini pada ko ndisi
t idak no rmal.

Masalah dan pro t eksi bahaya yang akan dikemukakan ant ara lain :

1. Gangguan Int ernal
a. Gangguan fasa dan at au gangguan t anah pada st at o r dan daerah pro t eksi yang
berhubungan.
b. Gangguan t anah pada ro t o r ( belit an medan)

2. Ko ndisi sist em dan at au o perasi t idak no rmal
a. Kehilangan eksit asi ( kehilangan medan) at au eksit asi kurang
b. Beban lebih
c. Tegangan lebih
d. Frekuensi kuran g at au lebih
e. Arus t idak seimbang- fasa t unggal
f. Kehilangan penggerak mula
g. Unit hubungan ket idak serempakan
h. Out - o f st ep ( kehilangan sinkro nisasi)
i. Osilasi subsinkro nisasi




Gambar 7- 2: Unit Gen erat o r t erhu bu n g lan gsu n g pada sebu ah bu s bersama


7. 2 HUBUNGAN - HUBUN GAN GEN ERATOR

Hubungan Generat o r umumnya adalah:

1. Terhubung langsun g ( sat u at au beberapa) melalui Pemut us Tenaga ke Bus aat au Rel
daya sepert i yang dit unjukkan pada Gambar 7- 2. Biasanya Generat o r t erhubung
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 139
Wyei, t et api dapat juga delt a. Biasanya digunakan unt uk Generat o r- Generat o r
dengan kVA dan MVA kecil, khususnya pada pembangkit air dan indust ri yan g
memiliki pembangkit sendiri. Generat o r- Generat o r mungkin t erhubung ke
pent anahan sist em t enaga secara langsung at au melalui iso lasi hubungan Delt a dari
Transfo rmat o r.
2. Hubungan Unit , dimana Generat o r dihubungkan langsung ke Transfo rmat o r t anpa
melalui Pemut us Tenaga sepert i dit unjukkan pada Gambar 7- 3. Hubungan t ipe ini
sering digunakan unt uk Generat o r uku ran besar. Kebanyakan Generat o r t erhubung
Wyei, sedikit sekali yang t erhubung Delt a. Hubungan ini dapat dilakukan unt u k
sat u at au beberapa Generat o r t erpisah ( cro ss- co mpo un d) yang digerakkan o leh
suat u sist em penggerak mula. Generat o r dapat pula dihubungkan ke sist em melalui
sebuah Aut o Transfo rmat o r.




Gambar 7- 3: Generat o r t erhubung sebagai sebuah unit


7. 3 PROTEKSI UTAMA GAN GGUAN FASA- STATOR

Gangguan fasa jarang t erjadi, dan bila t erjadi gangguan fasa, maka akan men galir arus
gangguan yan g sangat besar. Pro t eksi Differensial direko mendasikan unt uk digunakan
bagi pro t eksi segala t ipe Generat o r, kecuali bagi Generat o r kecil dengan ukuran dibawah
1 MVA.Pro t eksi Differensial sangat sensit if unt uk gangguan fasa, namun t idak dapat
diandalkan pada pro t eksi gangguan t anah, dan t ergant ung pada t ipe pent anahan.


7. 3. 1 Pro t eksi Diferensial Unt uk Generat o r Kecil

Met o da yang t ersedia unt uk Generat o r kecil dit unjukkan dalam Gambar 7- 4.
Kemampuan dibat asi o leh kemampuan unt uk melewat kan kedua ko ndu kt o r pada
lubang at au jendela dari CT yang dipakai. Tipikal diamet er lubang CT adalah maksimum
8 inchi. Apabila penggunaan pengaman t ipe ini dimungkinkan akan dipero leh
sensit ivit as dan kecepat an pro t eksi yang t inggi dan unjuk kerja CT t idak perlu mat ching,
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 140
karena CT hanya et rlibat per fasa. Rat io CT t ipe To ro idal yang u mum dipakai 50 :5, yang
t idak bergant ung pada arus beban Generat o r. Tipikal sensit ivit as kurang lebih 5 A arus
primer dapat dicapai. Hal ini memungkin kan pro t eksi yang baik unt uk arus gangguan
fasa dan t anah sepanjang level gangguan unt uk gangguan didalam daerah differensial
lebih besar dari sensist ivit as.

Gambar 7- 4 : Pro t eksi Differen sial u n t u k Gen erat o r uku ran kecil men ggu n akan
CT t ipe t o ro ida dan rele aru s lebih seket ika

Skema ini t idak memberikan pro t eksi unt uk hu bungan- hubungan dari CT ke pemut u s
Generat o r kecuali CT dipasang disisi rel dari pemut us dan sisi net ral Generat o r dipindah
ket it ik t ersebut .Cara ini kurang prakt is, sehingga pro t eksi lain dibut uhkan guna
melindungi area ant ara CT dan pemut us. Secara umum, skema yang dit unjukkan pada
Gambar 7- 4 lebih sensit if sepanjang rat io CT Generat o r lebih dari 150 : 5 sampai 20 0 :
5. Bila CT To ro idal t idak dapat digunakan, t et api masih ingin menggu nakan pro t eksi
Diffrensial, maka digunakan skema pada Gambar 7- 5.


7. 3. 3 Pro t eksi Diferensial Mult i CT Sebagai Pro t eksi Generat o r

Unt uk Generat o r- Generat o r ukuran menengah dan besar, guna mempero leh pro t eksi
yang sensit if dan cepat digunakan rele differensial ( 87G) . Skema ini menghasilkan
pro t eksi ut ama unt uk Generat o r dan sirkit ko leganya. Rele dihubungkan dengan dua
set CT, sat u set CT digunakan unt uk net ral, dan sat u lagi unt uk fasa. Unt uk Generat o r-
Generat o r dengan pemut us- pemut usnya ( lihat Gambar 7- 2) , pada CT di sisi fasa
umumnya t erlet ak sangat dekat dengan Generat o r, biasanya dilet akkan pada t erminal
Generat o r. Tipikal ko neksi unt uk t iga fasa dit unjukkan pada Gambar 7- 5, baik unt uk
hubungan Wyei maupun Delt a.

Apabila CT dapat dihubungkan pada masing- masing ujun g belit an bagi Generat o r
hubungan Delt a sepert i pada Gambar 7- 5b, maka Pro t eksi Differensial ( selanjut nya
disingkat PD) dapat digunakan unt uk pro t eksi belit an Generat o r. Hubungan ini akan
sama sepert i hubungan dalam Gambar 7- 5a. N amun hubungan ini t idak dapat
melindungi t it ik sambungan at au sirkit fasa yang berada didaerah pro t eksi.
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 141



Gambar 7- 5: Tipikal hu bu n gan rele diferen sial ( 87) un t u k pro t eksi Gen erat o r hu bu n gan Wyei
dan Delt a : ( a) . hu b


Biasanya CT differensial memiliki rat io yang sam a, dengan t ipe dan pabrikasi sama gu na
menguran gi kesalahan akibat ket idakco co kkan pada saat t erjadi gangguan ekst ernal. Hal
ini mungkin unt uk Generat o r den gan hubun gan bagian sepert i pada Gambar 7- 3, t et api
sangat sukar unut k Generat o r dengan hubun gan sepert i pada Gambar 7- 2, dimana CT
pada sisi net ral menggunakan t ipe yang sam a dan berhubungan den gan pemut us
dengan t ipe lainnya. Lebih baik t idak men ghubungkanperalat an lain pada sirkit
differensial dan menjaga agar burden serendah mun gkin. Umum nya, impedansi dari
belit an penahan pada rele differensial rendah, impedansi t o t al dari seluruh sirkit yang
t erhubungkan menjadi rendah dan akan menaikkan margin unju k kerja CT.

Rele differensial dengan karakt erist ik persent ase rendah direko mendasikan unt u k
dipakai agar mendapat kan sensit ivit as pro t eksi Generat o r, digunakan t ipe persent ase
t et ap t ipe 10 sampai 25 % at au ekivalennya, dan t ipe lebih rendah unt uk rele t ipe
variable persent age.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 142
Sensit ivit as rele at au arus angkat rele dalam o rde 0 ,14 sampai 0 ,18, unt uk t ipe 10 % dan
t ipe variable dan 0 ,5 A unt uk rele t ipe 25 %. Wakt u o perasi harus cepat unt uk
membuka Pemut us, memut us medan, dan mengio nisasi pengurangan masukkan
penggerak mula. Sayangnya, fluksi sisa pada mesin berlanjut t erus mensuplai gangguan
unt uk beberapa det ik ( dalam o rde 8 sampai 16 det ik) , jadi t idak mungkin memut us
seket ika sebuah gangguan Generat o r.

Masalah adanya aliran masuk magnet isasi, pada umunya t idak mengakibat kan
kerusakan, karena t egan gan pada mesin men ingkat secara gradual dan Generat o r
t erhubung serempak dengan sist em t enaga. N amun demikian, rele differensial harus
memilih imunit as yang baik unt uk menghindari o perasi t idak benar pada gangguan
ekst ernal yang mengakibat kan penerunan t egan gan, yang akan kembali no rmak set elah
gangguan dibebaskan. Hal ini akan menyebabkan suat u aliran masu k kembali. Hal
init idak t erjadi pada unit - unit yang dimaksudkan unt uk mengenergize Transfo rmat o r
dan at au sist em t enaga pada t egangan penuh ( black st art ) .


Gambar 7- 6: Tipikal hu bu n gan rele Diferen sial ( 87G) u n t u k pro t eksi Gen erat o r belit an t erpisah


Generat o r- Generat o r cro ss- co mpo u nd t erdiri dari 2 unit , umumnya t erhubung pada
Transfo rmat o r Daya. Unt uk sist em sepert i ini dibut uhkan rele differensial t erpisah
unt uk masing- masing Generat o r, sepert i dit unjukkan pada Gambar 7- 5a.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 143
Generat o r dengan belit an t erpisah, dimana set engah belit an sepert i dit unjukkan
Gambar 7- 6, dapat dipro t eksi dengan rele differensial t erpisah. Dengan membandingkan
set engah belit an t erhadap t ot al sepert i pada gambar, pro t eksi unt uk belit an pendek dan
belit an t erbuka dimungkin kan. Hal ini sulit dilakukan dan hampir t idak mu ngkin
dilakukan unt uk rele differensial ko nvensio nal sampai gangguan yang t erjadi
berkembang ke fasa lain dan at au t anah. Bilamana CT dengan rat io 2:1 t idak ada maka
dapat dipakai CT bant u sehingga didapat rat io yang diingin kan.


7. .3..3 Pro t eksi Diferensial Tegangan Tinggi Unt uk Pro t eksi Generat o r

Skema pro t eksi differensial t ipe ini dapat pula digunakan sebagai alt ernat if dari t ipe
differensial arus yang t elah dijelaskan lebih dahulu. Rele dihubungkan ant ara fasa dan
net ral meleui paralel CT. Unt uk gangguan ekst ernal, t egangan yang melalui CT akan
rendah, karena sirkulasi arus ant ara kedua set CT, sebagaimana dit unjukkan pada
Gambar 7- 5. Unt uk gangguan int ernal, arus gan gguan akan melalui masin g- masing CT
mengeksit asi cabang dan ele impedansi t inggi sehingga CT sat urasi unt uk semua
gangguan, menghasilkan t egangan yan g cu ku p t inggi u nt uk dapat mengo perasikan
rele. Skema pro t eksi cara ini kebanykkan digu nakan unt uk pro t eksi busbar. CT yang
dibut uhkan harus dipilih lebih t elit i. CT harus mempunyai karakt erist ik yan g ident ik.
Dan memiliki belit an sekunder t erdist ribusi penuh.


7. .3..4 Co nt o h Diferensial Arus Generat o r

Tinjau sebuah unit Generat o r yang t erhubung pada sist em t enga 345 kV, sepert i pada
Gambar 7- 7. Unt uk gangguan 3 fasa yang t erjadi pada bus 18 kV pada t it ik F1, jaringan
urut an po sit if diperlihat kan dalam gambar dan reakt ansi t o t al dari t it ik gangguan dapat
dihit ung sebagai berikut :

pu 064 , 0
255 , 0
0,124 x 131 , 0
X
1 F 1


Harga ini dihit ung pada MVA dasar 10 0 MVA. Harga yang dit ulis dalam t anda kurun g
memperlihat kan dist ribusi arus pada masing- masing bagian, unt uk gangguan t iga fasa
so lid :

76 , 15
064 , 0
1
I I
1 aF 1F1
pu
kV 18 pada A 5 , 3207
18 x 3
000 . 100
I
pu 1


kV 18 tegangan pada A 50.357,3 3207,5 x 76 , 15 I I
1 aF 1F1


Beban maksimum pada unit t ersebut adalah:
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 144
kV 18 tegangan pada A 5132
18 x 3
000 . 160
I
beban maks.



Gambar 7- 7: Tipikal co n t o h dari sebu ah Gen erat o r un it


Dengan arus maksimum beban sebesar ini dapat dipilih CT dengan rat io 550 0 :5 at au
80 0 0 :5. Rat io lebih rendah diperlukan u nt uk meningkat kan sen sit ivit as, jadi dapat
dipakai CT t ersebut , arus sekunder beban penuh menjadi 5132/ 110 at au 4,67 A Arus
gangguan t iga fasa disisi sekunder menjadi :

s - A 78 , 45
1100
3 , 357 . 50
I I
1 aF 1 F 1


Apabila gangguan F1 berada dalam zo na o perasi rele differensial 87G ( lihat Gambar 7-
7) , maka arus sebesar 45,78 A ini akan mengalir menuju ko il o perasi.

Unt uk gangguan ekst ernal F1 sepert i t erlihat , arus yang mengalir melalui belit an
penahan rele differensial hanya arus gangguan yang merupakan arus gangguan yan g
dat ang dari Generat o r, yakni:

s - A 2 , 22
1100
0,485 x 3 , 357 . 50
I
gen Fi 1



Ini menunjukkan gan gguan int ernal dan arus gangguan t o t al bila gangguan t iga fasa
t erjadi sebelum Generat o r diparalel ke sist em 345 kV. Unt uk keadaan ini, arus gangguan
dapat dihit ung dengan cara lain, yait u:
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 145
62 , 7
131 , 0
0 . 1
I
Gen 1 F 1

pu


s - A 2 , 22
1100
24.438,1

kV 18 tegangan pada A 24.438,11 3207,5 x 7,62 I
Gen 1 F 1



Teknik dan pro sedur yang sama dapat dilakukan bagi Generat o r yang dihubungkan
secara langsung sepert i Gambar 7- 2, unt uk pro t eksi Diferensial sepert i diperlihat kan
Gambar 7- 9.



7. 4 PROTEKSI UTAMA GAN GGUAN FASA UN IT TRAN SFORMATOR

Kembali, pro t eksi Diferensial direko mendasikan dan diperlihat kan sebagai rele 87TG
pada Gambar 7- 8. Karena t idak ada pemut us ant ara Generat o r dan Transfo rmat o r, rele
differensial dihubungkan dengan cara memasukkan Generat o r sebagai bagian yang
harus diamankan. Karena kedua u nit harus diput us pada saat t erjadi gangguan baik disisi
Generat o r maupun Transfo rmat o r. Hal ini menjadikan sebuah pro t eksi t ambahan bagi
Generat o r. Unt uk Generat o r, gangguan fasa akan mengo perasikan 87G dan 87TG secara
paralel. Pada unit Generat o r yang lebih besar t ambahan rele differensial 87T kadangkala
diperlukan unt uk pengaman Transfo rmat o r. Jadi dua sist em pro t eksi ut ama diberikan
baik unt uk Generat o r maupun unt uk Transfo rmat o r.

Pada Gambar 7- 8, sisi t egangan t inggi dari CT pada unit Transfo rmat o r bant u t ercakup
pada differensial 87TG, jadi pada unit ini dan bus 4,16 kV dirasakan sebagai gangguan
ekst ernal. Alt ernat if lain, bagian t egangan rendah dari CT Transfo rmat o r bant u
digunakan, sehin gga Transfo rmat o r ini menjadi bagian dari daerah pro t eksi rele 87TG.
Alt ernat if yang sama juga dipakai bila t erdapat pro t eksi differensial t ambahan 87T.

Pent ing diingat bahwa memasukkan unit Transfo rmat o r bant u baik unt uk rele 87TG
maupun 87T dalam daerah perlindungannya umumnya t idak memperbaiki at au
menambah pro t eksi Transfo rmat o r. Hal ini dapat dilihat dengan cara berikut . Misal
t erjadi gangguan t iga fasa so lid pada sisi t egangan rendah 4,16 kV baik Transfo rmat o r
at au pada t it ik F2 dalam Gambar 7- 7. Unt uk gangguan pada t it ik ini, reakt ansi urut an
po sit if sist em dit ambah Transfo rmat o r adalah:

pu 597 , 0 533 , 0 064 , 0
15
100
x 08 , 0 064 , 0 X
2 F 1
+ +


kV 18 tegangan pada A 5372,7 3207,5 x 1,675
pu 675 , 1
597 , 0
0 . 1
I I
2 aF 2 F 1



Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 146


Gambar 7- 8: Tipikal pro t eksi majo r u n t u k Gen erat o r Un it dan Gen erat o r besar pada sist em
u t ilit as


Bila digunakan rat io CT yang sama, dengan perbandingan 110 0 :1 .Maka arus gangguan
pada sisi sekunder menjadi 5372,7/ 110 0 = 4,88 A sekunder. Rele differensial
Transfo rmat o r t idak sesensit if pada Generat o r, karena pada Transfo rmat o r digunakan
t ipe dan rat io CT yang berbeda, pengaruh o perasi aliran masuk magnet isasi, dan
set erusnya. Unt uk kebanyakan rele, arus sebesar 4,88 A mungkin berada diat as arus
angkat minimu m, t et api rendahnya harga gan gguan memberikan sensit ivit as marjinal
dan harga angkat mult iples yang sangat rendah.

Ilust rasi diat as memperlihat kan perlunya dilakukan pemisahan rele differensial bagi unit
Transfo rmat o r bant u, yang dit unjukkan sebagai rele 87ST pada Gambar 7- 8. Unt uk
aplikasi sepert i ini arus maksimum Transfo rmat o r menjadi:

kV 18 tegangan pada A 13 , 481
18 x 3
000 . 15
I
beban max ST


Jadi CT dengan rat io 50 0 : 5 harus digunakan unt uk 87ST, bukan CT dengan 110 0 : 1
yang dipakai pada 87TG. Dengan rat io 50 0 : 5 ( 10 0 :1) gangguan F2 men ghasilkan aru s
o perasi sebesar 5372,7/ 10 0 = 53,73 A yang m enghasilkan sensit ivit as dan kecepat an
o perasi yang baik bagi pengaman Transfo rmat o r. Rele 87ST juga harus mampu men
shut - do wn Generat o r sert a melepas pemut us 345 KV.

Unt uk Generat o r yang dihubun gkan sepert i pada Gambar 7- 2, unit Transfo r- mat o r
bant u dihubungkan pada bus Generat o r , dalam banyak kasus, menggunakan at au
t anpa menggunakan pemut us ke Bus. Rele differensial t erpisah dapat digunakan unt uk
pengaman Transfo rmat o r, at au bila t anpa pemut us disisi t egangan t inggi, pro t eksinya
t ermasuk pada pro t eksi differensial Transfo rmat or dan Bus.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 147
7. 5 PROTEKSI CADAN GAN GAN GGUAN FASA

Pro t eksi cadangan unt uk gangguan yan g t erjadi pada Generat o r dan Transfo rmat o r, dan
t erut ama set elah pro t eksi Generat o r dan at au Transfo rmat o r pada saat gangguan t idak
dibebaskan pada sist em Bus Generat o r dan sist em t erhubung , dapat menggunakan rele
jarak ( 21) . Rele ini dapat dihubungkan sepert i dalam Gambar 7- 8, rele diat ur unt uk
melindungi Transfo rmat o r sampai ke sist em, at au sampai kesist em unt uk unit sepert i
diperlihat kan pada Gambar 7- 2. Pewakt u t et ap memberikan wakt u t unda yang
dibut uhkan o leh rele jarak unt uk berko o rdinasi dengan seluruh rele lainnya yang diat ur
melebihi jangkauannya.

Sepert i diperlihat kan pada Gambar 7- 8 penggunaan CT pada ujung net ral dari
Generat o r memberikan pro t eksi cadan gan bagi Generat o r. Hal ini bila t ersedia, t et api
bila CT t idak t ersedia at au t idak memungkin kan , rele 21 dapat dihubungkan ke CT
yang t erhubung kesisi t egangan t inggi dari Generat o r. Dengan t egangan yang dipero leh
dari VT yang t erhubung pada Bus Generat o r sebagaimana dit unjukkan. Penyet elan rele
dilakukan dari t it ik ini t erbebas dari lo kasi CT, jadi hanya impedansi dari unit
Transfo rmat o r dalam Gambar 7- 8 dit ambah impedansi sist em bila dibut uhkan.

Unt uk pro t eksi unit Generat o r saja , rele jarak ( 21) dapat dihubungkan ke CT dan VT
pada Bus sit em Generat o r dan diat ur hanya unt uk mendet eksi Generat o r. Hal ini hanya
memberikan pro t eksi pada Generat o r at au unit Generat o r Transfo rmat o r, dan t idak
ada cadangan unt uk gangguan sist em yang t idak dibebaskan , t idak diperlukan wakt u
t unda unt uk aplikasi dengan cara ini, sehingga didapat pro t eksi yang lebih cepat . Kedua
cara penggunaan diat as dipakai pada Generat o r besar dan sangat pent ing.

Alt ernat if yang lebih mahal dan umum digunakan pada Generat o r ukuran mediumdan
kecil adalah pengendali t egangan at au rele arus lebih wakt u- t erbalik penahan t egangan
, 51 V. Rele ini dapat dihubungkan pada CT yang t erhubung ke N et ral sepert i dalam
Gambar 7- 8 at au Generat o r sepert i pada Gambar 7- 9. Fungsi dari t egan gan adalah
unt uk menjaga at au cakupan o perasi arus lebih sampai t egangan Generat o r menuru n
akibat gangguan. Operasi no rmal adalah disekit ar lut ut kurva sat urasi besi Generat o r.
Jadi reakt ansi sinkro n menent ukan beban. Xd ( sat ) menjadi lebih rendah dari gangguan
yang bert ahan , yait u Xd( n o n sat ) , dengan demikian arus gan gguan t iga fasa bert ahan lebih
rendah dari arus beban maksimum. Hal ini t erjadi bila regulat o r t idak menaikkan
t egangan saat t egangan menurun akibat gangguan bert ahan. Sat u t ipe penahan unit
arus lebih t idak bekerja sampai t egangan t urun mencapai harga t ert ent u, umumnya
berkisar 80 % dari t egangan no rmal. Tipe lain yait u dengan cara merubah karakt erist ik
wakt u arus lebih dengan t egangan . Rele t idak akan merespo n pada saat beban
maksimum bila t egangan no rmal, t et api akan bero perasi pada arus rendah bila mana
gangguan mengakibat kan t egangan t urun. Pada umumnya , rele jenis ini ( 51V)
digunakan pada salah sat u dari ket iga fasa unt u k cadangan gan gguan t iga fasa dengan
rele urut an negat if ( 46) unt uk gangguan t idak simet ri.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 148


Gambar 7- 9: Tipikal pro t eksi u n t u k Gen erat o r yan g t erhu bu n g den gan bu s


7. 6 PROTEKSI CADAN GAN ARUS URUTAN N EGATIF

Arus urut an negat if dalam sebuah Generat o r melint asi celah udara dan muncul pada
ro t o r at au medan sebagai arus dengan frekuensi ganda . Arus ini cenderung mengalir
dipermukaan st rukt ur ro t o r, jepit an no n magnet ik, dan areal lain yang memiliki
impedansi rendah. Mengakibat kan panas lebih dan pada akhirnya melelehkan jepit an
sehingga masuk ke celah udara, mengakibat kan kerusakan.

St andar AN SI mensyarat kan bat asan yang diekspresikan sebagai I2
2
t = K, dimana I2
adalah int egrasi arus urut an negat if yang mengalir dalam wakt u t det ik. K adalah suat u
ko nst ant a yang besarnya t ergant ung pada desain mesin yang bersangkut an. Tipikal
harga K unt uk ko ndenso r sinkro n dan t urbin Generat o r t ua berkisar ant ara 40 sampai
50 , t et api unt uk Generat o r besar harga K berkisar 5 sampai 10 . Generat o r harus
bero perasi berdasarkan bat asan spesifik dan bila bat asan melebihi 20 0 % akan
mengakibat kan kerusakan , dan inspeksi menyeluruh direko men dasikan . Bila diat as
20 0 % kemungkinan kerusakan dapat diharapkan.

Rele arus lebih- wakt u t erbalik bero perasi berdasarkan arus urut an negat if danbila
dimungkinkan dengan sat u pengat uran karakt erist ik wakt u t erhadap I2
2
t = K, hal ini
direko mendasikan unt uk semua Generat o r. Sepert i rele ( 46) yang dit unjukkan pada
Gambar 7- 8 dan Gambar 7- 9. Rele rele t ersebut diat ur unt uk bero perasi sebelum
bat as harga K mesin t ersebut dicapai. Selain it u t erdapat pula t ambahan unt uk level I2
rendah, yang bero perasi t ipikali sekit ar 0 ,0 3 sampai 0 ,2 Pu I2 guna mengakt ifkan alarm
ket idakseimbangan berlanjut .

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 149
Pada dasarnya , pro t eksi ini merupakan cadangan ut ama unt uk gangguan sist em yan g
t idak dibebaskan , t et api juga cadangan pro t eksi unt uk unit Generat o r dan peralat an
pendukun gnya t erhadap gangguan t idak simet ri dan ko ndisi.


7. 7 PROTEKSI GAN GGUAN TAN AH STATOR

Kegagalan iso lasi merupakan kasus ut ama kegagalan Generat o r. Gangguan dapat saja
diawali dengan gangguan ant ar belit an dan berkembang menjadi gangguan t anah at au
dimulai dengan gan gguan t anah, jadi pro t eksi gangguan t anah sangat pent in g, meski
sayangnya gangguan ini sangat jarang t erjadi.

Beberapa pembat as gangguan digunakan kecuali unt uk Generat o r ukuran kecil,
t egangan rendah. Hal ini dapat membat asi gangguan. Secara umum reakt ansi urut an
no l Generat o r lebih rendah dari reakt ansi urut an + dan - , karenanya arus gangguan
t anah akan lebih besar dari gangguan t iga fasa bila Generat o r t idak diket anahkan
melalui impedansi.


7. 7. 1 Pro t eksi Gangguan Den gan Pent anahan Impedansi Tinggi

Pent anahan Impedansi Tinggi merupakan st andar bagi Generat o r kecil dan digunakan
pada sist em indust ri. Pada bab ini diskusi akan dipusat kan pada pent anahan t ahanan
t inggi dimana arus gan gguan dibat asi sekit ar 1 sampai 10 A primer , Harga ini
merupakan harga bat as t erbakarnya besi pada Generat o r unt uk menghin dari biaya
perbaikan.

Skema sist em pent anahan yang digu nakan diperlihat kan pada Gambar 7- 8. Sebuah rele
t egangan lebih- wakt u- t erbalik, 59G dihubungkan melalui t ahanan guna merespo n
t egangan 3Vo yang merupakan akibat adanya gangguan pada Generat o r dan sist em
sampai kebelit an Delt a dari Transfo rmat o r. Sebagai co nt o h lihat kasus 75.3. Dari co nt o h
kasus didapat t egangan sebesar 138 V bila t erjadi gangguan fasa t anah So lid, sehingga
rele 59G dapat bero perasi . Hal ini sangat t ipikal, harga angkat rele 59G berkisar 5
sampai 16 V agar didapat sensit ivit as yang t inggi . Rele harus dit ala at au t idak sensit if
t erhadap harmo nisa ket iga, yamg mengalir ke net ral dan sist em bersamaan dengan
urut an no l.

Bilamana beberapa Generat o r dihubungkan pada sebuah Bus bersama, at au sepert i pada
suat u sist em indust ri, maka direko mendasikan u nt uk menggunakan skema pent anahan
t ahanan- t inggi ( lihat 7.8) keunt ungan cara ini pent anahan t ersedia secara bebas t idak
masalah mesin mana yang sedang o perasi , lihat kembali co nt o h pada kasus 75.4
( Gambar 7- 11), t egangan 20 8 V cukup unt uk dapat mengakt ifkan rele 59G yang
dihubungkan melalui t ahanan pent anahan gu na mendapat kan sensit ivit as gangguan
yang baik.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 150
Bagi sist em pent anahan Reso nan, yang hanya dipakai pada beberapa kasus unit
Generat o r, Rele 59G harus dipasang melalui reakt o r pent anahan dan melalui VT yang
sesuai bila digunakan suat u reakt o r primer.

Dengan cara pent anahan sepert i ini, sensit ivit as rele 59G harus diko o rdinasikan den gan
VT fuse ut ama . Bila hal ini t idak t ersedia at au t idak prakt is, maka unit dapat saja t rip
akibat gangguan pada VT. Meskipun gangguan t ersebut mungkin saja t erjadi, namun
pro babilit asnya sangat kecil. Ko o rdinasi merupakan hal pent ing dalam beberapa aplikasi
guana menghindari kesalahan o perasi akibat gangguan t anah pada sisi t egangan t inggi
dari Transfo rmat o r t enaga. Hal ini akan didiskusikan berikut .

Dalam banyak kasus hubun gan VT adalah Wye wye, namun VT hubun gan delt a
t erbuka dapat pula dipakai unt uk t egangan 3 fasa. Bila digunakan VT hubungan Wye-
wye, sisi primer harus dit anahkan, kecuali bila sekunder diperlukan u nt uk penunju k
urut an no l, sisi sekunder VT t idak dit anahkan dan diiso lasi. Pent anahan salah sat u cara
memberikan sebuah pengamanan. Sebaliknya, rele 59G mungkin bero perasi akibat
gangguan t anah sirkit sekunder VT, dan 59G harus diko o rdinasikan dengan seku nder
fuse VT.

Rele arus lebih wakt u t erbalik ( 50 / 51) pada sirkit sekunder ( Gambar 7.8)
merupakan alt ernat if dan at au pro t eksi gangguan t anah cadangan . Rat io CT sekunder
dipilih agar dapat memberikan arus rele yang sama sepert i yang mengalir pada N et ral
Generat o r unt uk suat u gangguan t anah . Jadi dengan men ggunakan co nt o h 7- 9, CT
dengan rat io 40 0 :5 ( 80 :1) akan memberikan :

A 80 , 5
80
38 , 464
I
51 / 50


Dimana arus gangguan primer pada net ral adalah 6,19 A, yang direpleksikan melalui
Trafo dist ribusi arus sebesar 464.38 A

Rele ini harus diset diat as arus ket idakseimbangan maksimum yang mengalir pada sirkit
net ral pada saat no rmal Tipikal arus biasanya lebih kecil dari 1 A pada Net ral Generat o r
, Set t ing rele 51 harus 1,5 sampai 2 kali arus ini. Rele 50 menyediakan pro t eksi seket ika
dan harus diat ur diat as arus ket idakseimbangan no rmal net ral sebagaiman arus
maksimum diat as yang merupakan hasil dari sist em gangguan t anah primer, kadangkala
lebih besar. Pada bagian 7.7.2 diberikan diskusi lebih lanjut mengenai t ipe gangguan.
Tipikal set t ing rele 51 harus 2 sampai 3 kali maksimum. Dalam beberapa aplikasi
digunakan dua rele 51, sat u unt uk menyediakan cadangan pemut usan unit , lainnya
unt uk menginisiasi pemut us kegagalan rele ( bila digunakan) berhubungan dengan
pemut us ut ama, sepert i dapat dilihat pada Gambar 7- 8, at au pemut us pemut us bila
primer dihubungkan ke Ring at au pemut us dan pengat uran set engah.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 151
Rele 59G pada sist em pent anahan impedansi t inggi menyediakan pro t eksi gangguan
t anah unt uk sekit ar 90 95 % belit an st at o r .

Tambahan pro t eksi diperlukan unt uk gangguan t anah yang mungkin t erjadi dibagian
ujung N et ral bagian st at o r. Beberapa met o da dapat digunakan dengan dua t ipe dasar,
yait u : 1) mengunakan t egangan harmo nisa keiga at au 2) infeksi t egangan
subharmo nik. Ket idakseimbangan pada ko ndisi no rmal pada N et ral Generat o r
mungkin mengandu ng beberapa t ingkat harmo nisa, dan harm o nisa ket iga yang paling
do minan. Harmo nik harm o nik ini berlalu sama sepert i urut an no l, dan dapat
mengalir melalui t ahanan pent anahan at au VT hubungan delt a t erbuka yang dipakai
unt uk mendapat kan 3Vo . Salah sat u skema pro t eksi menghubun gkan rele t egangan
kurang ( 27) t anggap t erhadap harmo nisa ket iga yang diparalel dengan rele 59G sepert i
diperlihat kan dalam Gambar 7- 8. Ko nt ak no rmal t ert ut up rele 27 t erpasang seri dengan
rele pengindera t egangan dihubungkan den gan VT Generat o r . Apabila t egangan
no rmal at au mendekat i no rmal dihasilkan Generat o r., ko nt ak- ko nt ak rele 27 t erbuka
o leh t egangan no rmal harmo nisa ket iga, dan ko nt ak ko nt ak supervisi rele t ert ut up.
Bilamana t erjadi gangguan t anah didekat N et ral Generat o r, gangguan ini meredu ksi
t egangan harmo nisa ket iga, sehingga rele 27 reset menunjukkan adanya gan gguan .

Skema lain menerapkan sebuah rele t egangan lebih 27 yang t anggap t erhadap
harmo nisa ket iga yanng melewat i VT Generat or hubungan delt a t erbuka, rele harus
diat ur diat as maksimum t egangan no rmal harmo nisa ket iga. Unt uk gan gguan -
gangguan t anah N et ral, t egangan harmo nisa ket iga akan t erdist ribusi ulang dan
meningkat pada t erminal Generat o r. Skema ini memberikan pro t eksi t erbat as dimana
t egangan harmo nisa ket iga beban penuh no rm al t inggi, dan ko o rdinasi wakt u gun a
menghindari o perasi akibat t egangan harmo nisa ket iga yang t inggi pada saat t erjadi
gangguan gangguan ekst ernal.

Tegangan harmo nisa ket iga pada t erminal dan net ral Generat o r dapat bervariasi pada
beban maksimum dan minimum. Umumn ya , t egangan harmo nisa ket iga pada beban
penuh paling t idak 50 % lebih besar pada saat beban rendah, den gan variasi ant ara 2 :1
sampai 5 :1 . Dalam banyak kasus, perbandingan ant ara t egangan harmo nisa ket iga
pada t erminal dan N et ral adalah ko nst an t erhadap perubahan beban, jadi t erdapat
skema lain o perasi pada t egangan differensial ant ara kedua belit an. Gangguan t anah
yang t erjadi di dekat t erminal dan net ral merusak keseimbangan, dengan menuru nnya
t egangan harmo nisa ket iga pada ujung gangguan. Hal ini menyebabkan bero perasinya
rele t egangan lebih 59D ( Gambar 7- 8) .

Skema- skema diat as membut uhkan dat a spesifik mengenai t egangan harm o nisa ket iga
sepanjang jangkauan o perasi Generat o r, baik besaran daya akt if maupun reakt if,
sebelum rele dapat diset dengan baik. Sebuah skema mungkin akan sensit if buat
Generat o r, namun kurang sensit if unt uk Generat o r lain. Injeksi arus frekuensi
subharmo nik dapat dengan cara net ral Transfo rmat o r t erpisah at au melalui hubungan
delt a t erbuka dat i VT. Beberapa sist em menyediakan pengko dean guna menin gkat kan
pengamanan gangguan t anah menurun kan kapasit ansi Generat o r mengakibat kan
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 152
kenaikan pada arus unt uk didet eksi. Skema ini memberikan kemungkinan pro t eksi
belit an 10 0 % dan kemampuan pemindaian. Pro t eksi net ral at au pro t eksi belit an 10 0 %
t erhadap gangguan t anah menrupakan hal baru, beberapa kajian masih t erus dilakukan.


Gambar 7- 10 : Ko plin g kapasit o r yan g melalu i ban k Tran sfo rmat o r u n t u k gan ggu an t an ah sisi
primer : ( a) . diagram sist em 3 fasa; ( b) . sirkit ekivalen


7.7.2 Ko pling Gangguan Tanah Tegan gan Tinggi Guna Mepero leh
0
V PAda
Sist em Pent anahan Impedansi Tin gggi

Gangguan t anah pada sist em primer menghasilkan suat u t egangan pada sirkit sekunder
Generat o r melaluiprimer ke kapasit ansi sekunder dari unit bank Transfo rmat o r. Sirkit
diperlihat kan dalam Gambar 7- 10 . Dengan menggu nakan rele t egangan ( 796) yan g
sensit if pada sist em pent anahan resist ensi t inggi, t egangan ini dapat mengakibat kan
o perasi. Jadi rele 59G harus memiliki wakt u t unda agar rele gangguan t anah ut ama
dapat membebaskan gangguan disisi t egangan t inggi bilamana ko plin g t egangan lebih
t inggi dari harga angkat rele 59G.

Hal ini apat diilust rasikan dengan co nt o h Gambar 7- 7. Bila diasumsikan kapasit ansi
Transfo rmat o r ant ara belit an primer dan sekunder, XCT adalah 0 ,0 12 F/ fasa. Dengan
mengguanakan harga 3R = 50 19 o hm dari Gambar 7- 9, t egangan melalui t ahanan
pent anahan dapat dihit ung sepert i dalam Gambar 8- 11. Perhit ungan arus- arus gangguan
t anah ke fasa 9 pada sisi primer bus 345 kV diperlihat kan pada Gambar 7- 11a. Gambar 7-
11b memperlihat kan perhit ungan unt uk t egangan gangguan primer V0 sebesar 81,467
V, yang direpleksikam melalui kapasit ansi ant ar belit an yang menghasilkan t egangan
sebesar 1293 V sepanjang pent anahan sisi primer Transfo rmat o r dist ribusi.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 153


Gambar 7- 11: Co n t o h gan ggu an line- n et ral yan g men imbu lkan t egan gan dian t ara sist em
pen t an ahan impedansi t in ggi. : ( a) . Jarin gan uru t an ; ( b) . Jarin gan pen t an ahan dan perhit u n gan
t egan gan



Dengan suat u rat io 18:240 kV, rele 59G akan merasakan t egan gan sebesar 17,24 V.
Harga ini diat as harga an gkat rele, sehingga rele akan menerima energi o perasi sampai
gangguan pada bus 345 kV dibebaskan. Gangguan t egangan t inggi, dibebaskan dengan
kecepat an t inggi, t et api rele 59G harus diko o rdinasikan dengan wakt u cadangan
maksimum. Bila Generat o r menggunakan pent anahan Reso nan gan gguan t anah
primer dapat mempengaruhi sist em pro t eksi. Unt uk sist em bert egangan rendah,
ko pling t egangan ini t idak akan cukup berart i, dimana V0 unt uk gangguan- gan gguan
sisi primer akan jauh lebih rendah dari t egangan EHV sist em.


7.7.3 Pro t eksi Gangguan Tanah Dengan Pent anahan Impedansi Rendah

Generat o r- Generat o r yang dihubungkan sepert i pada Gambar 7- 2, pada umumnya
dit anahkan melalui impedansi rendah, pro t eksi gangguan t anah pada kasus Generat o r
mungkin dilaku kan dengan rele differensial 87G, t ergant ung t ingkat gangguan dan
sensit ivit as rele differensial.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 154
Sensit ivit as t inggi dan kecepat an o perasi u nt uk gangguan t anah dapat dipero leh den gan
menmbahkan differensial urut anno l. Sebuah t ipe yang relat if bebas dari rat io dan unjuk
kerja CT diperlihat kan dalam Gambar 7- 12. Rele arus lebih t ipe pengali, 87GD,
bero perasi berdasarkan perkalian dua arus. Sepert i dapat dilihat dari gambar, unt uk
gangguan ekst ernal arus- arus pada rele dalam arah berlawanan dan rele t idak akan
bekerja. Unt uk gangguan t anah int ernal, arus urut an no l dari sist em berbalik sehingga
rele bero perasi. Salah sat u t ipe rele memiliki arus angkat minimum 0 ,25 dikali 0 ,5 A
pada masing- masing ko il. Dengan energi o perasi maksimum dipero leh bila arus- arus ini
sefasa, rele akan bero perasi dengan arus- arus t inggi keluar fasa sebesar t 90
0
dan
dengan magnit ude yang berbeda sepanjang perkalian wakt u dari co sinus sudut ant ara
arus- arus lebih besar dari perkalian Tap. Bila sist em t idak dit anahkan, maka skema yan g
dit unjukkan pada Gambar 7- 12 t idak akan bero perasi, karena sisit em t idak mensuplai
arus urut an no l pada gan gguan int ernal t erjadi. Pada kasus sepert i ini CT t ambahan
dapat digunakan unt uk mendapat kan energi o perasi int ernal dengan harga sat u sumber
arus urut an no l.

Tambahan dan pro t eksi cadangan digunakan rele 51 G sepert i dit unjukkan pada Gambar
7- 9 dan Gambar 7- 12. Rat ing arus primer CT harus sat u set engah arus gangguan t anah
maksimum dengan rele 51G diset mendekat i 0 ,5 A. Dibut uhkan ko o rdinasi wakt u
dengan rele- rele lain yang dihubungkan ke bus Generat o r.



Gambar 7- 12 : Pro t eksi Diferen sial t an ah ( u ru t an no l) u n t u k Gen erat o r men ggu n akan rele aru s
lebih t an ah- berarah


Apabila beberapa Generat o r hubungan Wyei dihubungkan pada sebuah bus bersama,
sepert i dalam Gambar 7- 2. Hal ini dapat menimbulkan kesulit an unut k secara selekt if
mengiso lir gan gguan dengan minimum gangguan. Meski sat u at au seluruh net ral
Generat o r dit anahkan dengan cara sama, arus gangguan pada net ral yang dit anahkan
pada dasarnya adalah sama bebas dari lo kasi gangguan pada areal t ersebut . Oleh
karenanya, unt uk gangguan pada areal ant ara Generat o r ke pemut us, pada bus, pada
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 155
sist em dibawah bus, t ingkat gangguan pada dasarnya sama. Hal ini benar unt uk semua
sist em pent anahan.

Dengan pent anahan impedansi rendah dan arus gan gguan yang cukup u nt uk
mengo perasikan rele- rele differensial dari bus dan Generat o r, maka akan dipero leh
iso lasi minimum, lalu rele 51G pada net ral Generat o r memberikan cadangan at au
pro t eksilast reso rt yang mungkin t idak selekt if. Kemungkinan lain adalah
menempat kan rele pengindera arah gangguan t anah sensit if pada t erminal Generat o r
unt uk memindai Generat o r. Dengan ini o perasi rele hanya ada bila gangguan t erjadi
pada mesin bersangkut an dan t idak bereaksi bila gangguan dari mesin lain, bus at au
sist em. Kembali erle 51G yang t erpasang pada net ral dit anahkan menghasilkan cadan gan
t idak selkt if. Aplikasi ini mungkin must ahil at au sulit dilakukan den gan sist em
pent anahan impedansi t inggi. Pent anahan yang sdilakukan hanya pada salah sat u dari
Generat o r dengan sebuah sist em t idak dit anahkan men gakibat kan kecendreun gan
o perasi t idak dit anahkan apabila unit Generat o r t ersebut dikeluarkan dari o perasi baik
secara manual at au akibat kerja sist em pro t eksi. Jadi pent anahan mult iple pada masing-
masing unit lebih baik guna menghindarkan keadaan t anpa dit anahkan akibat t ripping
gangguan at au kegagalan memindahkan sist em pent anahan. Kemungkinan lain adalah
menggu nakan sist em pent anahan dist ribusi delt a t erbuka dengan sebuah t ahanan guna
memberikan level arus gangguan t anah primer t inggi.


7. 8 PROTEKSI PEN URUNAN ATAU KEHILANGAN PEN GUATAN

Pro t eksi unt uk menghindarkan ket idakst abilan o perasi, po t ensi kehilangan sinkro nisasi,
dan kemun gkinan kerusakan adalah pent ing dan berlalu unt uk semua mesin sinkro n,
pro t eksi sist em penguat an merupakan bagian yang t elah t ersedia pada saat pembelian
unit Generat o r, t et api prot eksi t ambahan direko mendasikan unt uk diberikan sebagai
pro t eksi cadangan at au t ambahan. Rele jarak biasanya digunakan u nt uk keperluan
t ersebut .

Biasanya, medan Generat o r diat ur sedemikian rupa sehingga daya lagging diberikan
kesist em t enaga. Pada diagram yang disajikan dalam Gambar 7- 13 diberikan ringkasan
o perasi sist em sinkro n. Dengan t egan gan t ermin al V diberikan pada sumbu ho rizo nt al,
arus Generat o r lagging diberikan / dit unjukkan pada kuadran IV, daerah ini adalah
daerah o perasi no rmal Generat o r. Apabila penguat an berkurang at au hilang, faso r arus
bergerak menjadi leading at au pada kuadran I.

Pada keadaan ini, st abilit as Generat o r berkurang at au rendah. Apabila Generat o r
kehilangan penguat an t o t al dan sist em dapat mensuplai cukup daya reakt if t anpa
menyebabkan t egangan jat uh yang cukup besar pada t erminal Generat o r, maka
mungkin Generat o r akan bero perasi sebagai Generat o r induksi. Sebaliknya, Generat o r
kehilangan sinkro nisasi. Perubahan ini t idaklah seket ika t et api memerlukan perio da
wakt u yang t ergant ung pada unit dan sist em t erhubung. Bilamana medan Generat o r
t rip akibat gangguan, alarm dini memungkin kan o perat o r mengembalikan medan
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 156
Generat o r dan menghindarkan kehilangan biaya dan wakt u akibat penghent ian dan
pengasut an ulang. Bila medan Generat o r t idakdapat dikembalikan lagi, maka Generat o r
harus dihent ikan.


Gambar 7- 13: Arus dan diagram relasi daya pada sebuah mesin sin kro n


Generat o r memiliki suat u karakt erist ik yang dikenal den gan sebut an kurva
kemampuann. Tipikal ku rva kemampuan Generat o r dit unjukkan pada Gambar 7.14a,
zo na o perasi pada dasarnya dibat asi o leh t emperat ur, pada kurva ini didesain
berdasarkan bat asan t ermis, karena pemanasan lebih bervariasi sesuai o perasi. Tiga
lengkun gan lingkaran mendefinisikan bat asan t ersebut . Pada salah sat u area o perasi
bat asannya adalah pemanasan lebih pada belit an ro t o r ; area kedua belit an st at o r, dan
yang ket iga int i besi st at o r.

Sepert i disebut diawal, Generat o r harus dio perasikan berhat i- hat i pada leading at au zo na
reakt if negat if. Bat asan t ambahan disini adalah bat asan st abilit as t unak ( ist ilah asingnya
SSSL) , yang didefinisikan sebagai sebuah lengkungan lingkaran , dimana t it ik pusat dan
jari jari adalah:

,
_


d s
2
X
1
X
1
V
2
1
Pusat

,
_

+
d s
2
X
1
X
1
V
2
1
jari - Jari

Dimana V adalah t egangan fasa net ral t erminal Generat o r , Xs impedansi ekivalen
t o t al sist em , dan Xd reakt ansi sinkro n t idak jenu h. Bat asan ini adalah bat asan daya yang
dinyat akan dalam perunit , dengan Xd dan Xs pada dasar Generat o r.
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 157
Tipikal kurva st abilit as t unak yang diberikan pada Gambar 7- 14a, bervariasi sesuai
dengan Generat o r dan sist em t erhubung , sepert i halnya dengan t egangan akan
bervariasiselama o perasi variasi ini kecil dibanding sist em sist em penguat Generat o r
memiliki pembat as penguat an minimum guna mencegah regulat o r penguat penguat
memberikan penguat an dibawah ambang bat asnya. Regulat o r ini t ipikali diset diat as
st abilit as t unak sepert i dit unjukkan pada Gambar 7- 14.

Dalam penggunaan rele jarak, kurva daya ini harus diko nversikan kebent uk impedansi
yang diplo t pada sumbu R X. Ko nversi persamaan t ersebut adalah :


B
pu
2
B
MVA
Z kV
Z


v
c ) pri ( R
(sec) R
R
R Z
Z


v
c
2
rele
R MVA
R kV
Z

Rc dan Rv, Masing masing rat io CT dan VT yan g dugu nakan pada rele jarak . Bila kurva
diplo t dalam impedansi Ohm primer fakt o r Rc/ Rv t idak perlu digunakan . Dari harga
MVA pada sudut yang t erindikasi dari kurva kemampuan , persamaan diat as
mengko nversi besaran it u dalam OHM. Harga ko nversi ini kemudian diplo t kedalam
diagram R- X pada sudut t ersebut . Ko nversi ini dit unjukkan pada Gambar 7- 14b, baik
unt uk kurva kemampuan u nderexit ed dan kurva st abilit as. Unt uk kurva st abilit as
ko nversi dapat dilakukan dengan lebih mudah bila harga Xs dan Xd diket ahui.
Selanjut nya, Pusat lingkaran st abilit as dari t it ik asal adalah ( Xs - Xd) dengan jari- jari
( Xs + Xd) . Bila diplo t pada sisi OHM sekunder, Xs dan Xd harus dalam besaran OHM
sekunder.

Perlu dicat at bahwa diagram R- X pada Gambar 7- 14b, t it ik asal adalah t erminal
Generat o r , dengan diplo t dibawah t it ik asal dan Xs diat as ; Juga t erlihat bahwa
kenaikan at au daya lebih t inggi diindikasikan dengan jarak yang lebih panjang dari t it ik
asal sepert i t erlihat pada Gambar 7- 14a, t et api dengan vekt o r impedansi lebih
pendek pada Gambar 7- 14b. Jadi dalam diagram daya, o perasi daya yan g aman adalah
diant ara kurva kemampuan dan kurva st abilit as, t et api diluar kurva pada Gambar 7-
14b. Eksit ansi minimum membat asi o perasi pada level daya rendah dari bat as st abilit as.
Area o perasi no rmal sepert i diperlihat kan pada Gambar 7- 14b, bilamana t erjadi
kehilangan at au kekurangan penguat an, faso r impedansi bergerak perlahan men gikut i
penurunan fluk menuju kuadran IV. Rele jarak ( 40 ) melingkupi areal ini memberikan
suat u fungsi pendet eksi yang baik unt uk keadaan t ersebut . Beberapa mo de set t ing
yang mun gkin, ant ara lain:

Unt uk keadaan kehilangan pen guat an t o t al, rele jarak diat ur sebagaimana dit unjukkan
pada lingkaran kecil pada Gambar 7- 14b. Garis t engah lingkaran dalam o rde Xd, dengan
bagian at as lingkaran 50 sampai 70 % dan X
1
d dibawah t it ik asal. X
1
d adalah reakt ansi
peralihan Generat o r. Rele akan bero perasi bilamana vekt o r impedansi bergerak menuju
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 158
lingkaran.Wakt u o perasi ant ara 0 ,2 sampai o ,3 det ik unt uk dapat menghent ikan
Generat o r secara penuh. Unt uk mendet eksi penguat an rendah, kehilangan sebagian
at au kehilangan t o t al, garis t angan diset t ersedia didalam set t ing bat asan eksit asi
minimum, t et api diluar kurva bat as st abilit as dan kemampuan Generat o r.


Gambar 7.14 : Tipikal ku rva kapabilit as dan st abilit as Gen erat o r dan ko n versin ya ke diagram R- X
u n t u k aplikasi rele ( 4 0 ) : ( a) . Ku rva kapabilit as dan st abilit as pada su mbu daya; ( b) . Ku rva daya
yan g t elah dialihkan dalam diagram R- X den gan pro t eksi rele jarak


Disini dit unjukkan o leh lin gkaran diamet er besar garis put us- put us. Tidaklah mudah
unt uk membuat set t ing sepert i disarankan; penelian yang baik dan ko mpro mi mu ngkin
diperlukan . Unit pengindera arah diperlukan unt uk menghindarkan o perasi gangguan
didekan dan ayunan t ransien st abil.

Operasi rele ( 40 ) adalah dibawah garis put us- put us pengindera arah dan diant ara garis
put us lingkaran o perasi. Apabila t ersedia, unit t egangan ku rang diat ur akan jat uh ant ara
87 dan 80 % t egangan no rmal digunakan u nt uk mensupervisi o perasi rele. Bila sist em
daya dapat mensuplai daya reakt if ke Generat o r t anpa menyebabkan penurunan
t egangan , Alarm dibunyikan sehingga dapat dilakukan upaya perbaikan , diikut i
dengan penghent ian set elah wakt u t unda dilampau. Tipikal wakt u t unda yang
digunakan bervariasi t ergant ung sist em dan mesin, berkisar ant ara 10 det ik sampai 1
menit . Bila t egangan t urun sampai dibawah t egangan set t ing, dimulai pro sedur t ripping
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 159
dengan wakt u o perasi ant ara 0 ,2 sampai 0 ,3 det ik Unt uk Generat o r besar dan unit - unit
pent ing, ko mbinasi ( 1) dan ( 2) digu nakan dengan menerapkan dua rele kehilangan
medan ( 40 ) .


7.9 PROTEKSI GEN ERATOR TERHADAP GAN GGUAN SISTEM DAN BAHAYA
OPERASION AL.

Pada subbab sebelumnya t elah didiskusikan pro t eksi cadangan unt uk mengat asi
kemungkinan t idak t erbebasnya at au penundaan gangguan menggunakan rele 21, 46
dan 51V. Dalam subbab berikut ini akan dikemukakan beberapa masalah dan pro t eksi
unt uk keadaan lain yang mun gkin t erjadi. Secara umum, hal ini t erjadi pada sist em at au
unit Generat o r yang t erhubung ke sist em besar. Pembahasan diawali dengan Generat o r
kecil.


7.9.1 Generat o r- Generat o r Indust ri

Generat o r ukuran kecil, khususnya yang digunakan pada pembangkit yang
dipergunakan pada indust ri at au sumber daya sendiri, mungkin men galami beberapa
masalah berikut , karena unit selalu t erhubung ke ut ilit as, t indakan pert ama pada
masalah sist em penghubung adalah memisahkan dari penghubung dengan cepat . Dalam
banyak kasus, hal ini dapat dilakukan den gan rele frekuensi kurang, kecuali bila
penghubung men gambang ( yait u, Generat o r lo kal mensuplai semua beban lo cal) . Hal
ini merupakan ko ndisi o perasi no rmal yan g jarang dilakukan .Tipekal set ing rele UFR
adalah ant ara 59 sampai 59,5 Hz pada sist em 60 Hz dengan wakt u t indak yang cukup
unt uk menghilangkan set iap o perasi t ransien t et api lebih kecil dari set iap wakt u
penut upan ulang yang dipergunakan o leh sist em. Rela pengindera arah daya pada
bagian penghubung mungkin at au mungkin t idak berguna, t ergant ung pada sist em dan
o perasinya.


7.9.2 Operasi Diluar Frekuensi

Pada Generat o r ut ilit as, gangguan pada sist em seringkali dapat menghasilkan pemisahan
yang mengakibat kan ket idakseimbangan ant ara Generat o r dan beban. Hal ini
disebabkan o leh ket idakseimbangan ant ara Generat o r dan beban. Hal ini disebabkan
o leh kelebihan at au kekurangan daya unt uk men supplai beban. Pada kasus pert ama, rele
frekuensi lebih dengan kemungkinan mengakibat kan t egangan lebih sebagai akibat
penurunan demand baban. Operasi dalam mo de sepert i ini t idak akan menghasilkan
pemanasan lebih kecuali rat ing daya dan t egangan mencapai 10 5 % lebih. Pengemdali
Generat o r harus dengan cepat mengat ur penyesuaian unit t erhadap beban.

Dengan pembangkit an yang t idak mencuku pi beban t erhubung, mengakibat kan
penurunan frekuensi, pada wakt u demand beban berat . Penurunan t egangan
menyebabkan regulat o r t egangan menaikan penguat an. Hal ini cepat menimbulkan
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 160
t erjadinya pemanasan lebih pada ro t o r maupun st at o r. Pada saat bersamaan lebih
banyak demand daya dibut uhkan, dengan Generat o r yang t idak mampu memenuhi
kebut uhan pada wakt u frekuensi menuurun. Sist em pelepasan beban harus mampu
mengat ur pembebanan sesuai kemampuan pembangkit an sebelum ko ndisi krit is
t erjadi.

Pro t eksi arus lebih akan mengamankan ro t o r, t et api pro t eksi bahan bahar dibut uhkan
unt uk mengamankan st at o r. Pengaman yang digunakan adalah rele arus lebih wakt u
t erbalik ekt rim ( 50 / 51) yang diat ur unt uk memenuhi dan bero perasi sebelum bat as
t ermis wakt u singkat armat ur Generat o r dicapai. Hal ini dapat dikendalikan dengan
suat u high dro p o ut unit arus lebih seket ika yang diset sekit ar 115 % dari rat ing arus
Generat o r unt uk mencegah o perasi dibawah bat asan arus t ersebut .

Diskusi diat as berhubungan dengan maslah elekt ik Generat o r. Masalah lain yang ada,
yait u masalah yang t erjadi pada o perasi t urbin uap pada saat frekuensi berbeda dari
sikro no us. Sudu t urbin didesain dan dit ala guna mendapat kan o perasi yang efisien pada
rat ing frekuensi ro t asi. Operasi dengan beban yang memilki frekuensi berbeda dapat
mengakibat kan reso nansi pada sudu dan kerusakan kelelahan pada sudu- sudu panjang
( 18 sampai 44 inc) dari unit t urbin t ekanan rendah. Tipikal bat asan frekuensi unt uk
mesin unit t ekanan rendah 60 Hz dengan penjang sudu ant ara 18 sampai 25 inchi
adalah sekit ar 58,5 sampai 61,5 Hz unt uk o perasi ko nt inyu, t et api dapat pula nat ara 56
dan 58,5 Hz, hanya unt uk o perasi singkat yang t idak lebih dari 10 menit dapat
diperbo lehkan. Unt uk t urbin dengan sudu sepanjang 25 samapi 40 inchi, t ipikal range
frekuensi ant ara 59,5 dan 60 ,5 Hz unt uk o perasi ko nt inyu, unt uk o perasi sin gkat
sepanjang umur pakai t urbin dalam wakt u 60 menit dengan frekuensi ant ara 58,5 dan
59,5, dan hanya 10 menit bila frekuensi ant ara 56 dan 58,5 Hz. Unt uk unit sepert i ini,
disarankan dipakai rele frekuensi kuran g. Sat u aplikasi menggu nakan unit t iga langkah,
t ingkat pert ama t anpa wakt u t unda diat ur pada frekuensi 56 Hz, t ingkat kedua dengan
wakt u t unda 2 menit di set pada frekuensi 58,4 Hz, dan t ingkat ket iga dengan wakt u
t unda 6 menit diset pada frekuensi 59,4 Hz.


7.9.3 Tegangan Lebih

Generat o r sebagaimana Transfo rmat o r harus dihndarkan t erhadap t egangan lebih
kecuali unt uk sesaat at au peralihan. Dengan o peraasi no rmal dekat lut ut kurva
kejenuhan besi t egangan lebih kecil saja menyebabkan arus eksit asi yang cu kup besar
pada Transfo rmat o r, dan meningkat kan kerapat an fluks dan mengakibat kan po la fluksi
menjadi t idak no rmal pada Generat o r. Hal ini akan menyebabkan kesulit an dan
kerusakan yang berkemban g. Arus eksit asi medan pada rat ing keluaran akan lebih besar
dari pada saat t anpa beban, jadi sangat pent ing unt uk menguran gi penguat an sesuai
dengan pengu rangan beban. Biasanya, hal ini dikerjakan o leh sist em pengat uran, t et api
sinyal t egangan yang salah, kehilangan fuse VT, at au kegagalan lain pada sist em dapat
t erjadi pada t egangan lebih t inggi.

Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 161
Prio da bahaya ut ama adalah wakt u Generat o r dilepas dari sist em dan put aran berubah.
Tegangan Generat o r secara pro po sio nal berhubungan den gan frekuensi dan flu k
magnet ic sehingga pro t eksi t egangan lebih harus memiliki suat u harga angka ko nst an
sebagai fungsi dari rat io t egangan t erhadap frekuensi, t ipe v/ f, pro t eksi t ambahan yang
dapat dit ambahkan pada kendali Generat o r disarankan menggu nakan dua t ingkat an u nt
v/ f. sat u t ingkat diset ing berkisar 110 % rat ing t egangan unt uk mengakt ifkan alarm
dengan sub ururt an t rip mendekat i 1 menit . Tingkat lainnya diset berkisar 120 % rat ing
t egangan unt uk t rip pada o rde 6 menit . Sebuah supplai VT lebih disukai.


7.9.4 Operasi Mo t o ring

Apabila supplai penggerak mula mengalami kerusakan at au t idak t ersedia sement ara
Generat o r t erhubung pada sist em t enaga dan penguat an gen t ersedia, sit em t enaga akan
mengendalikan unit Generat o r sebagai mo t o r sinkro n . Hal ini sangat berbahaya
t erut ama bila pengerak mula yang digunakan adalah t urbin uap dan air. Unt uk t urbin
uap hal ini akan mengakibat kan pemanasan lebih dan berpo t ensi merusak t urbin dan
sudu- sudu t urbin. Rendahnya aliran air pada t urbin air dapat menyebabkan kavit asi
pada sudu- sudu t urbin. Hal ini dapat pula t erjadi bila dilakukan penut upan aliran uap
dan air secara t iba- t iba pada wakt u pengurangan beban fasa at au o leh t riping t urbin
yang t idak disert ai pembukaan pemut us Generat o r.

Sejumlah cara pemindahan disert ai sebagai bagian Generat o r dan pen gendalinya, t et api
direko mendasikan u nt uk menambahkan rele daya balik ( 32) sepert i diperlihat kan pada
Gambar 7- 8, pengaman t ersebut adalah rele pengindera arah daya dihubungkan agar
dapat bero perasi apabila daya mengalir menuju Generat o r. Tipikal sensit ivit as adalah
% dari rat ig daya o perasi pada o rde 2 det ik.


7.9.5 Generat o r Keluar Dari Sinkro nisasi

Pada beberapa t ahun t erakhir beberapa kasus kerusakan Generat o r yang diakibat kan
kekurang hat i.hat ian dalam menghubungkan Generat o r ke sist em t enaga. Hal ini dapat
t erjadi o leh penut upan pemut us t enaga yang salah pada saat unit penyusunan gigi, at au
o leh sinkro nisasi yang t idak semest inya. Pro t eksi biasanya mungkin bero perasi pada
kebanyakan kasus t et api t idak perlu unt uk segala kemungkinan. Hal ini meningkat kan
bahaya- bahaya bila sebagian dari pro t eksi t idak t ersedia at au berguna pada frekuensi
rendah dari st ar up at au shut do wn. Karena u nit at au pemut us Generat o r mungkin
merupakan masalah, sangat pent ing bahwa pemut us t erdekat dibuka secepat nya o leh
kegagalan pemut us lo kal dan at au dengan t riping jarak jauh. Tambahan pro t eksi unt u k
ini adalah dengan men ggunakan 3 u nit rele arus lebih- wakt u t erbalik- pengindera arah
( 67) . Sat u pada fasa dihubungkan unt uk bero perasi pada daya balik ke Generat o r.

Dengan basis arus yang mengalir keluar dari Generat o r ke sist em t enaga, karakt erist ik
rele dan hubungannya harus memberikan suat u zo na o perasi dari sekit ra 30 sampai
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 162
60 melalui perput aran 180 menjadi 210 sampai 240 mendahului. Tipikal angkat
arus haruslah berkisar 0 ,5 pu dengan aru s 2,0 pu, wakt u o perasi berkisar 0 ,25 det ik.
Aplikasi ini dapat menggant ikan pro t eksi mo t o ring ( 32) dan lebih sensit ive t erhadap
ko ndisi yang diuraikan diat as.


7.9.6 Kut ub Pemut us Falsho ver

Dimana po t ensi t erjadi flasho ver pada kut ub- kut ub pemut us t enaga sebelum
sinkro nisasi at au set elah pemisahan dari sist em t enaga, t ambahan pro t eksi
ket idakco co kan kut ub direko men dasikan. Ko n disi ini sepert inya unt uk t erjadi t anpa
gangguan dan beban rendah, sehingga arus demikian rendah. Pada suat u kasus flasho ver
kut ub pemut us 50 0 kV suat u jaringan 150 mile yang dibuka disuat u ujung
memberikan arus kecepat an rat ingnya. Arus urut an negat if I2 berada 12 % diat as arus
rat ing Generat o r. Hal ini dapat dibebaskan hanya o leh pengurangan penguat an den gan
cepat . Cadangan lo cal dan pemut usan jarak jauh pada sisi lain dari jaringan akan
membebaskan sist em, t et api t idak Generat or pro t eksi urut an negat if mungkin
merespo n, t et api dengan wakt u respo n lama, at au mungkin t idak bereaksi.

Pro t eksi kagagalan kut ub pemut us ( GI) yang sensit ive bila ada digunakan unt uk
membandingkan level magnit ud dari ket iga fasa rele akan bero perasi bila salah sat u arus
pada fasa berada dibawah harga set ing, sedangkan arus paada fasa lain diat as harga set ing
t ipikal sensit ivit as memberikaan reaksi bilamana arus salah sat u fasa lebih kecil 20
sampai 60 mA, lainnya dit as 40 sampai 20 0 mA. Besaran ini dilihat dari
sisi t egangan t in ggi t ranfo rmat o r . Suat u rele dengan level perbedaan 3 : 1 dan dengan
wakt u o perasi berkisar det ik disarankan.
Bilamana digunakan dua pemut us Generat o r pada sist em t egangan t inggi, sepert i pada
rel ko nfigurasi Rin g at au rel den gan pemut us set angah. Maka akan dapat dipenuhi
sirkulasi arus ket idakseimbangan pada bus unt u k dapat mengo perasikan pro t eksi yan g
sensit ive ini. Unt uk aplikasi sepert i ini o perasi t idak seimbang harus disupervisi o leh
det ect o r level t egangan urut an no l, at au dengan set ing lebih t inggi.


7.9.7 Osilasi Subsinkro no us

Aplikasi ko mpensat o r seri pada jaringan t ransmisi EHV menghasilkan peningkat an
t ransmisi daya dan st abilit as t et api mungkin men gakibat kan o silasi subsinkro no us. Hal
ini mungkin t erjadi pada Generat o r yang dihubungkan pada jaringan t ransmisi HVDC.

Frekuensi nat ural sist em fn dengan reakt ansi kapasit if Xc dan reakt ansi indukt if Xl
didapat hubungan :


1
c
s n
X
X
f f


Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 163
Dimana fs adalah frekuensi sinkro n o us at au frekuensi no rmal sist em. Karena Xc lebih
kecil dari Xl , maka fn subsinkro no us. Hal ini menimbulkan masalah pada sist em,
t erut ama pada Generat o r ro t asi ro t o r pada frekuensi sinkro no us berput ar lebih cepat
dari medan magnet ik yang dihasilkan o leh frekuensi subharmo nik. Hal ini
mengakibat kan slip negat if dan memperngaruhi resist enasi negat if, dengan Generat o r
cenderung bero perasi sebagai mo t o r induksi. Bilamana fn mendekat i fs, slip menjadi
kecil dan reisit ansi negat if besar. Bila resist ansi ini lebih besar dari resist ansi sist em, sirkit
akan mengalami eksit asi sendiri, dan arus subsinkro no us membesar. Hal ini akan
mengakibat kan pemanasan lebih pada sist em. Sat u penyelesaian yait u menggunakan
belit an penahan muka t ahanan rendah unt uk menguran gi resist ansi ro t o r. Pengaruh
lain dari frekuensi ini adalah menghasilkan t o rka o silasi pada Generat o r dengan t o rka
peralihan t ambahan akibat o perasi pensaklaran dan gangguan pada jaringan sist em. Hal
ini berbahaya karena t o rka ini mungkin mengakibat kan kerusakan pada ro t o r.

Beberapa pengukuran dapat diambil unt uk men gurangi hal t ersebut , dan rele pro t eksi
dapat dikembangkan unt uk mendet eksi reso nansi subsinkro no us. Salah sat u
pengukuran, yait u men gukur pergerakan t o rsio n al, lainnya memindai t ingkat arus- arus
subsinkro no u s pada jangkar. Hal ini merupakan sebuah feno mena ko mplek dan diuku r
dari apa yang akan dibahas dalam buku ini, t erlebih lagi hal ini t erjadi hanya pada
beberapa sist em dengan kapasit ansi serie.


7.10 PROTEKSI GROUN D FIELD

Det eksi gangguan t anah pada eksit er dan m edan sangat pent ing dan umum nya
merupakan bagian dari yang diberikan o leh pabrik, bukan dit at a o leh pengguna.
N amun bila peralat an ini t idak diberikan, at au dibut uhkan t ambahan sist em pengaman,
rele pro t eksi sebagai pengaman dapat dipakai.

Unt uk unit - unit dengan sikat , rele ( 64) dengan sikuit pembagi t egangan dapat
dihubungkan melalui medan dan eksit er dengan rele sensit ive t ipe DC t erhubung ant ara
jaringan jembat an dan t anah. Apabila t erjadi gangguan t anah pada medan dan eksit er,
maka pada rele akan merasakan t egan gan yang dapat menyebabkan o perasi rele
t ersebut . Unt uk menghindari t idak bero perasinya rele pada gangguan t anah dit it ik no l,
salah sat u cabang jaringan mengandung resist o r no n linear yang akan merubah t it ik
but a ini dengan variasi t egangan dari medan.

Generat o r dengan eksit er t anpa sikat dilengkapi dengan suat u peralat an penggant i sikat
pada slip ring unt uk mengukur t ingkat iso lasi medan secara perio dik. Iso lasi medan
eksit er diperiksa secara berkala/ ko nt inyu. Keadaan yang t idak no rmal akan
mengakt ifkan alarm sehingga o perat o r bisa melakukan t indakan, t et api dapat pula
digunakan unt uk perint ah t ripping.


Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 164
7. 11 PROTEKSI GEN ERATOR PADA KONDISI OFF- LIN E

Seluruh sist em pro t eksi Generat o r harus dipelajari/ dit elit i apakah dalam ko ndisi mampu
o perasi selama pro ses membawa Generat o r ke rat ing dan t egangan dalam o perasi
sinkro nisasi dengan sist em t enaga. Unt uk beberapa t ipe sist em, sepert i t urbin uap,
pro ses ini men cakup pula o perasi penu runan dalam beberapa jam. Jadi pro t eksi harus
akt if ant ara sampai rat ing frekuensi dan diat asnya . Apabila rela dan at au unjuk
kerja inst rumen Transfo rmat o r dirusak pada frekuensi ini, maka pro t eksi suplemen
sement ara dibut uhkan.


7. 12 PROTEKSI OUT- OF- STEP

Pada kebanyakan Generat o r, kehilangan langkah merupakan masalah bagi sist em
dengan pusat elekt rik keluar dari areal t ransmisi . Sekali t egangan dari sumber Generat o r
berayun sebesar 180 , maka t idak mungkin unt u k memulihkan kembali sist em t ersebut
dan pemisahan harus dilakukan. Det eksi kehilangan langkah dan t rippin g t idak dibahas
disini . Tidak ada rele pada Generat o r yang dapat dipergunakan unt uk kasus ini.

Bagi Generat o r- Generat o r besar dan sist em t ransmisi t egangan t inggi, pusat kelist rikan
sist em dapt dipindah ke unit Transfo rmat o r at au ke Generat o r. Pada sist em sepert i ini,
pro t eksi kehilangan langkah harus dit ambahkan pada Generat o r, karena t idak ada
peralat an pro t eksi lain yang cukup mampu merespo n gangguan t ersebut . Pengat uran
lingkaran besar dari unit kehilangan medan ( 40 ) akan bero perasi unt uk ayu nan
mendekat i melewat i dan pada bus.


7. 13 BEBERAPA GEN ERATOR TERHUBUN G LAN GSUN G PADA SEBUAH
TRAN SFORMATOR: PEN TAN AHAN DAN PROTEKSI

Kebanyakan met o da ini digunakan pada Generat o r t andens yang penggerak mulanya
berupa t urbin uap. Dua unit Generat o r dapat diparalel dan dihubungkan pada belit an
delt a bersama unit Transfo rmat o r, at au set iap Generat o r mungkin dihubungkan secara
t erpisah pada belit an delt a sebuah unit Transfo rmat o r t iga belit an. Unt uk hubungan
paralel, hanya salah sat u Generat o r saja dit anahkan, umumnya dengan pent anahan
impedansi t inggi. Generat o r lain dibiarkan t idak dit anahkan. Gangguan t anah pada salah
sat u unit akan mengakibat kan o perasi rele gan gguan t anah pada salah sat u unit akan
mengakibat kan o perasi rele gangguan t anah sepert i yang t elah dikemukakan diat as.
Lo kasi gangguan t idak akan sama, unt uk semua gangguan t anah dimanapun. Kedua
unit Generat o r harus dihent ikan, karena t idak ada pemut us yan g memisahkan
keduanya.

Dengan Generat o r dihubungkan secara t erpisah pada belit an Transfo rmat o r, masing-
masing unit harus dit anahkan unt uk pro t eksi gangguan t anah. Pro t eksi Generat o r
dilakukan t episah. Dengan t idak adanya pemut us ant ara Generat o r dan t rasfo rmat o r,
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 165
pro t eksi differensial t rnsfo rmat o r menyeluruh digunakan dengan memakai t ipe
mult irest raint dan dihubungkan sepert i pada bab 7.8.

Masing- masing unit harus memiliki pro t eksi kehilangan medan ( 40 ) . Dan hanya
membut uhkan sat u rele urut an negat if ( 46) , dan sat u rele jarak ( 21) at au rele t iga fasa
sebagai pro t eksi cadangan. Pro t eksi ini dapat dihubungkan ke unit mana saja. Hal ini
dapat digunakan apabila kedua unit selalu dioperasikan bersama. Bila salah sat u unit
dapat bero perasi sedangkan unit lainn ya dihent ikan, maka masin g- masing unit harus
dilengkapi dengan semua pro t eksi yang diperlukan, sepert i dijelaskan diat as dan
ringkasan nya diberikan dalam Gambar 7- 8.


7. 14 PROTEKSI GEN ERATOR TURBIN PEMBAKARAN

Unit t ipe ini meningkat kan sumber daya, khususnya didaerah dimana bat u bara at au air
t erbat as at au mahal dan gas sert a minyak mudah dipero leh. Pada awalnya, unit t ipe ini
relat if kecil dalam ukuran dan digunakan pada beban puncak, t et api unit ini ikut juga
digunakan unt uk beban dasar t erut ama unt uk ukuran 10 0 MVA keat as. Pro t eksi yang
digunakan sepert i yang dit unjukan dalam Gambar 7.9. Pro t eksi suplemen t ambahan
seprt i yang diberikan dalam Gambar 7.8.

Unit ini dapat mengalami ko ndisi mo t o ring bilamana sist em kahilangan pembakaran
pada t urbin. Umumnya keadaan ini t idak sekuirit is bila penggerak mulanya adalah uap
at au hidro , kecuali bila digunakan penguran g kecepat an. Sist em t idak didesain unt uk
mengalami put aran balik. Tipikal pengat uran unt uk pro t eksi mo t o ring ( 32) diat ur pada
o rde 7 sampai 8 % dari rat ing daya mesin.



7. 15 PROTEKSI SIN KRON OUS KON DEN SER

Sinkro no u s ko ndeser selalu bero perasi sebagai sebuah mo t o r t anpa beban yang
berfungsi sebagai pensuplai reakt ansi kapasit if ke sist em ( Gambar 7- 13) . Pro t eksi unt uk
unit ini dit unjukan pada Gambar 7- 9, dengan t ambahan diperlihat kan dalam Gambar
7- 8 sebagaimana diperlihat kan o leh sist em dan o perasi yang dibut uhkan. Pro t eksi
kehilangan medan harus diat ur dengan lingkaran o perasi agar dipero leh suat u
impendansi yang dilihat dari t erminal dengan eksit asi no l at au


pu
I
1
Z
singkat hubung



Operasi unt uk mensuplai reakt ansi kapasit if akan men gakibat kan unit rele jarak
bero perasi, t et api t ripping dikendalikan o leh unit t egangan. Tidak ada pro t eksi bagi
reakt ansi indukt if menuju sist em ( o vereksit er) , karena unit pengindera arah t erbuka
dan unit jarak dapat at au t idak dapat bero perasi.
Proteksi Generator
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 166
7.16 SISTEM TRIPPIN G PADA GEN ERATOR

Secara umum t ripping secepat nya direko mendasikan bila t erjadi gangguan pada
Generat o r. Art inya pembukaan pemut us ut ama dan pemut us medan sert a menut up
kat ub- kat ub t urbin at au gerbang aksi ini men gakibat kan pelepasan beban yang t iba-
t iba, yang bilamana dilakukan pada beban penuh akan mengalami keru sakan pada
sist em mekanis. Unt uk gan gguan fasa dan t anah, kecuali mun gkin dengan impedansi
t inggi at au sist em pent anahan reso nan, t ripping secepat nya merupakan suat u
keharusan. Karena ket erbat asannya arus gan gguan t anah, kadangkala dilaku kan
penundaan t ripping. Masalahnya adalah, set iap gangguan berindikasi kerusakan dan
berkembang menjadi gangguan fasa, dan at au t erjadi gangguan kedua yan g akibat nya
lebih merusak dan berbahaya. Meski t ripping seket ika t elah dilakukan energi pada masa
berput ar akan t erus menyebabkan gangguan dan kerusakan berlanjut unt uk beberapa
perio da.

Alt ernat if lain unt uk menghasilkan t ripping seket ika secara penuh adalah:
a. Mengizinkan penghent ian dimana pemut us ut ama dan medan di t ripping set elah
t urbin menghent ikan kat ub at au gerbang di t ut up
b. Alarm dengan wakt u t unda t et ap agar t ersedia wakt u bagi o perat o r melakukan
t indakan
c. Hanya alarm

Perlu diingat lagi, hal ini hanya bo leh dilakukan hanya unt uk gangguan t anah dimana
sist em menggunakan pent anahan impedansi t inggi dan sebagai sebuah sist em individual
pilihan.



7.17 RIN GKASAN PROTEKSI

Generat o r khususn ya Generat o r- Generat o r berukuran besar, sangat krit is t erhadap
sist em pro t eksi dan int egrit as. Oleh karena it u pro t eksi sangat pent ing mengenai
sekurit i ket erandan. Meski kemu ngkinan gangguan yan g t erjadi sangat kecil, namu n
pro t eksi lengkap dengan cadangan nya harus t et ap dipert imbangkan. Ini merupakan
sebuah o psi yang sangat t ergant ung pada sist em dan ko ndisi individual, jadi set iap
inst alasi menunjukan variasi perbedaan sat u dengan lainnya.

Sepert i t elah dikemukakan, peralat an pro t eksi yang t elah didiskusikan pada Gambar 7- 8
dan Gambar 7- 9, keseluruhannya dit erapkan o leh pengguna, berlainan dengan pro t eksi
yang t elah diberikan o leh pabrikan Generat o r m aupun penggerak mula. Peralat an yang
diberikan t idak umum dan mewakili pemakaian umum suat u indust ri. Gambar 7.8,
memeperlihat kan pro t eksi maksimum yang no rmal digunakan pada Generat o r besar
dan menen gah. Gambar 7- 9 menunju kan pro t eksi minimum yang direko mendasikan
o leh Generat o r kecil, khususnya bagi Generat or yang digunakan pada indust ri, yang
umunya t eriso lasi dari sist em t enaga yang besar.
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 167
BAB 8
PROTEKSI TRAN SFORMATOR, REAKTOR DAN KAPASITOR SHUN T



8. 1 TRANSFORMATOR

Transfo rmat o r hampir ada disemua bagian sist em t enaga elekt rik, ant ara semua
t ingkat an t egangan dan dengan t ipe, ukuran dan hubungan yan g berbeda.
Transfo rmat o r kecil dengan daya ant ara 3 sam pai 20 0 kVA dapat dilihat t ergant ung
pada t iang- t iang dibanyak daerah. Sebuah Ot o t ransfo rmat o r 325 MVA dengan
t egangan 230 / 115/ 13,8 kV pada belit an t ersier diperlihat kan dalam Gambar 8- 1.















Gambar 8- 1: Ban k Ot o t ransfo rmat o r 3 fasa 32 5 MVA, 2 30 / 115 kV

Biasanya, Pemut us Tenaga at au peralat an Pemut us lain yang berada pada at au didekat
t erminal belit an bank Transfo rmat o r. N amun, fakt o r eko no mis kadangkala
mengharuskan t idak digunakannya Pemut us, dengan demikian bank Transfo rmat o r
dapat dihubungkan lan gsun g ke Rel at au Bus, Line at au Generat o r. Pro t eksi diferensial,
bilamana memungkin kan, memberikan pro t eksi t erbaik unt uk gangguan fasa dan
gangguan t anah, kecuali pada sist em yang t idak dit anahkan at au dimana arus gangguan
dibat asi dengan pent anahan impedansi t inggi. Pada keadaan ini, pro t eksi Diferensial
hanya memberikan pro t eksi gangguan fasa. Umumnya, pro t eksi Diferensial digunakan
pada bank Transfo rmat o r 10 MVA dan lebih besar. Kuncinya adalah seberapa
berharganya Transfo rmat o r it u didalam sist em. Jadi pro t eksi Diferensial mungkin
diperlukan unt uk unit Transfo rmat o r kecil.


8. 2 FAKTOR- FAKTOR YAN G MEMPEN GARUHI PROTEKSI DIFEREN SIAL

Beberapa fakt o r yang harus diperhat ikan dalam penggunaan pro t eksi Diferensial, ant ara
lain:
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 168
1. Arus inrus magnet isasi. Ini merupakan feno men a umum yang dapat t erjadi pada
suat u gangguan int ernal ( arus menuju t et api t idak keluar dari Transfo rmat o r) .
2. Level t egangan yang berbeda dan karenanya CT yang digunakan dari t ipe, rat io
dan karakt erist ik unjuk kerja yang berbeda pula.
3. Pergeseran fasa pada bank Transfo rmat o r hubungan Y -
4. Tap Transfo rmat o r unt uk kendali t egangan.
5. Pergeseran fasa dan at au Tap t egangan pada Transfo rmat o r regulasi


8. 3 IN RUS MAGN ETISASI

Apabila t egangan sist em diberikan pada sebuah Transfo rmat o r pada wakt u dimana fluks
t unak no rmal akan memiliki perbedaan dari yang ada pada Transfo rmat o r, maka akan
t erjadi t ransien arus yang disebut inrus magnet isasi. Feno mena ini dit unjukkan pada
Gambar 8- 2, unt uk Transfo rmat o r t anpa magnet sisa. Dalam gambar diperlihat kan
Transfo rmat o r energise pada wakt u t egangan sist em no l. Dengan rangkaian reakt if
t inggi, fluks akan pada at au mendekat i harga maksimum negat if, t et api Transfo rmat o r
t idak memiliki fluks, maka fluks dimulai dari n o l dan mencapai harga 2 pada prio da
siklus pert ama. Unt uk mendapat kan fluksi yang dibut uhkan arus eksit asi yang sangat
besar sepert i dit unjukkan. Unt uk mencapai efisiensi maksimum, Transfo rmat o r
dio perasikan mendekat i kejenuhan sehingga harga fluks lebih besar dari no rmal yan g
menghasilkan kejenu han hebat dan suat u arus eksit asi yang besar.

Bila sebuah dienergise kembali, t erdapat kemungkinan yang sangat besar meskipun
deenernergise beberapa fluks R t ert inggal pada int i besi. Fluks ini dapat po sit if at au
negat if. Bila Gambar 8- 2, fluks sisa adalah +R yang ada karena pro ses energise
sebelumnya, fluks maksimum yang dibut uhkan akan menjadi 2 + R menghasilkan
arus inrus magnet isasi t erbesar maksimum. Bila R negat if, fluks maksimum yang
diperlukan adalah 2 - R dengan arus inrus yang lebih kecil. Feno mena ini acak.
Bilamana Transfo rmat o r t elah energise didekat at au pada t egangan po sit if maksimum
( kurva d pada Gambar 8- 2) , fluks yang dibut uhkan pada wakt u ini adalah no l. Jadi aru s
penguat an no rmal yang mengalir den gan meniadakan at au t anpa inrus t ransien. Arus
penguat an no rmal pada suat u Transfo rmat o r dalam o rde 2 sampai 5 % arus beban
penuh. Maksimum inisial arus inrus, mungkin paling t inggi 8 sampai 30 kali arus beban
penuh. Tahanan pada rangkaian pensuplai dan Transfo rmat o r dan susut besi pada
Transfo rmat o r menguran gi puncak arus inrus, sehingga pada akhirnya menurun kan
kembali keharga arus eksit asi no rmal. Ko nst ant a wakt u, bervariasi mulai dari 10 siklus
sampai maksimum 1 menit pada rangkaian indukt if sangat t inggi.

Fakt o r- fakt o r ini akan berpengaruh t erhadap inrus, ant ara lain: ukuran Transfo rmat o r,
ukuran dan sifat sumber sist em t enaga, t ipe int i besi Transfo rmat o r, sejarah sebelumnya
dan rat io L/ R dari sist em dan Transfo rmat o r. Pada sirkit t iga fasa beberapa inrus akan
selalu t erjadi pada sat u at au beberapa dari ket iga fasa dengan t egangan berbeda fasa
120
0
, meskipun hal ini mungkin at au mungkin t idak maksimum at au no l pda salah sat u
fasa. Gambar 8- 3 menunjukkan suat u t ipikal t ransien arus inrus apabila bank
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 169
Transfo rmat o r energise dari t erminal Y at au . Suat u st udi yang pernah dilaku kan
memperlihat kan ko mpo nen harmo nisa kedua dari gelo mbang arus inrus 15% at au lebih
dari arus dasar. Akhir- akhir ini peningkat an desain int i dan int i baja mengahsilkan
penurunan seluruh arus harm o nisa pada Transfo rmat o r, dengan kemu ngkinan aru s
harmo nisa kedua paling rendah 7%.

Inrus dapat t erjadi pada 3 ko ndisi dan ket iganya dijelaskan sebagai: 1) . Awal pert ama; 2) .
Receiver dan; 3) . Simpat it ik.


Gambar 8- 2 : Pen o men a aru s in rus magn et isasi


8. 3. 1 Awal Pert ama Inrus

Hal ini mungkin t erjadi bilamana Transfo rmat o r dienergise set elah prio da lebih dahulu
deenergise. Ini t elah dikemukakan diat as dan memiliki po t ensi menghasilkan arus inrus
maksimum.

8. 3. 2 Pemulihan Inrus

Selama gangguan at au sesaat t egangan dip, inrus mungkin t erjadi bila t egangan kembali
no rmal. Hal ini disebut pemulihan inrus. Kasus t erburuk adalah gangguan ekst ernal t iga
fasa so lid didekat bank Transfo rmat o r. Selama gangguan t egangan menu run mendekat i
no l pada Transfo rmat o r, dan pada saat gangguan t elah dibebaskan, t egangan mendadak
kembali keharga no rmalnya, hal ini dapat menimbulkan inrus magnet isasi, namun
harga maksimumn ya t idak akan lebih besr dari permulaan inrus karena Transfo rmat o r
energise sebagian.


8. 3. 3 Inrus Magnet isasi Simpat it ik

Inrus magnet isasi dapat t erjadi pada sebuah Transfo rmat o r energise bila Transfo rmat o r
didekat nya sedang energise. Kasus umum yang kerap t erjadi yait u saat memparalel
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 170
Transfo rmat o r kedua t erhadap bank Transfo rmat o r yang t elah bero perasi. Ko mpo nen
dc dari arus inrus dapat pula membuat jenuh Transfo rmat o r energise, mengakibat kan
arus inrus nyat a. Arus peralihan ini, bilamana dijumlahkan dengan arus inru s dari bank
Transfo rmat o r yang t en gah energise, men ghasilkan suat u keseimbangan arus simet ris
t o t al yang rendah pada harmo nisa. Arus ini adalah arus yang men galir pada sumber ke
kedua bank Transfo rmat o r.


Gambar 8- 3: Tipikal aru s in rus magn et isasi Transfo ramt o r
a) . Arus fasa ke belit an t erhu bu n g wyei
b) . Aru s fasa ke belit an t erhu bu n g delt a



8. 4 KARAKTERISTIK RELE DIFEREN SIAL TRAN SFOR MATOR

Prinsap dasar pro t eksi dari Rele Diferensial t elah dikemukakan pada bab sebelumnya.
Unt uk penggu naan pada Transfo rmat o r Rele Diferensial menjadi sedikit kurang sensit if
dan dengan karakt erist ik Rele Diferensial t ipe Persent age ant ara 20 dan 60 %. Hal ini
memungkinkan penggunaan CT dengan rat io , t ipe, karakt erist ik berbeda, perbedaan
level arus energise primer, dan perbedaan Tap Transfo rmat o r bila digunakan t ipe ini.
Unt uk menghindarkan o perasi yang t idak diinginkan akibat t erjadi arus inrus
magnet isasi Rele harus:

1. Didesain t idak sensit if t erhadap t ransien arus inrus.
2. Menggunakan arus inrus harmo nik unt uk mencegah o perasi.
3. Mencegah o perasi unt uk sement ara selama prio da energise.

Unt uk bank Transfo rmat o r kecil, yang digunakan pada subt ransmisi t egangan rendah
dan sist em dist ribusi, digunakan Rele Diferensial elekt ro mekanik dengan piringan
induksi den gan karakt erist ik t ipikal 50 % dan dengan wakt u o perasi ant ara 0 ,0 8 sampai
0 ,10 det ik ( 5 sampai 6 sikle unt uk frekuensi 60 Hz) . Tipe ini cukup imum t erhadap arus
inrus. Umumnya pada sist em seperet i ini, arus inrus t idak membahayakan dan t ransien
yang t erjadi dapat diredam dengan cepat karena adanya resist ansi sist em. Rele
Diferensial piringan induksi t idak dapat bero perasi dengan efisien bilamana t erdapat
dist o rsi gelo mbang o ffset yang t inggi, dan Rele juga t idak mampu bero perasi pada
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 171
sist em dc. Keunt ungan dari Rele jenis ini adalah selain desain yang sederhana harganya
relat if rendah. N amun demikian, adalah t idak mungkin unt uk meyakini bahwa Rele
benar- benar t idak akan bekerja pada arus inrus, meski dari pengalaman Rele ini bet ul-
bet ul imum. Salah seo rang penelit i pernah mengat akan bahwa Rele jenis ini memiliki
cat at an panjang dan pat ut dit iru dalam hal unjuk kerja yang baik sepanjang
penggunaan nya. Tipikal arus angkat Rele adalah 2,5 sampai 3,0 A.

Unt uk bank Transfo rmat o r ukuran besar, bank Transfo rmat o r pada sist em t egangan
t inggi dan at au dimana diperlukan Rele yang t idak akan bero perasi pada saat t erjadi arus
inrus, maka digunakan Rele Diferensial yang t ahan t erhadap harmo nisa. Unt uk
gangguan dimana t in gkat harmo nisa rendah, sehingga penanganan harmo nisa
memberikan fungsi yan g efekt if unt uk menekan arus inrus dari arus- arus gangguan.
Harmo nisa kedua, yang merupakan ko mpo nen ut ama pada gelo mbang in rus
digunakan u nt uk menahan at au mencegah o perasi Rele. Pada beberapa t ipe desain
digunakan sendiri, pada desain lain, diko mbinasikan dengan harm o nisa lain. Tipikal arus
angkat unt uk Rele- Rele jenis ini bervariasi ant ara 0 ,75 sampai 2,5 A dengan wakt u
o perasi 0 ,0 15 sampai 0 ,0 3 det ik.

Ket idak pekaan sement ara at au pemut usan Rele Diferensial t idak direko mendasikan
sebagai pro t eksi t erbat as. Kadangkala digunakan unt uk memecahkan masalah sampai
didapat kan sebuah penyelesaian yang dapat lebih memuaskan, dapat lebih efekt if.
sebuah ko nt ak t ipis pada saklar pengendali pemut us dapat dimasukkan sebuah resist o r
pada sirkit ko il o perasi guna mengurangi kepekaan Rele at au menghubung singkat
sement ara ko il o perasi Rele selama pemut us dalam keadaan t ert ut up. Sebuah unit t rip
high- set inst ant aneo us dapat dipakai unt uk dio perasikan pada wakt u t erjadi arus
gangguan int ernal pada saat energise.


8. 5 APLIKASI DAN HUBUN GAN RELE DIFEREN SIAL PADA TRANSFORMATOR

Zo na pro t eksi Diferensial unt uk semua kasus mencakup seluruh sirkit yang masuk at au
keluar daerah, dengan sat u Rele unt uk set iap fasa unt uk semua daerah t ersebut . Unt uk
Transfo rmat o r dua belit an dengan sat u set CT yang berhubungan dengan belit an, dua
Rele dengan kumparan penahan dapat dipakai. Unt uk Transfo rmat o r mult i belit an,
sepert i bank Transfo rmat o r 3 belit an, Aut o Transfo rmat o r dengan belit an t ersier
t erhubung ke rangkaian ekst ernal, at au dimana Pemut us ganda dan CT mensuplai suat u
belit an t unggal ( sepert i pada rel t ipe Ring at au ko nfigurasi Pemut us dan 1/ 2) maka
digunakan Rele dengan ku mparan mult i pen ahan. Rele Diferensial, t ersedia dalam
berbagai jumlah belit an penahan, mulai dari 1, 2, 3, 4 dan lebih dari 6 dengan sat u
belit an o perasi. Karakt erist ik Rele t ersebut hampir sama.

Aplikasi dasar ut ama dari Rele adalah:

1. Menggunakan belit an penahan unt uk masing- masing sirkit sumber gangguan.
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 172
2. Hindarkan memparalel CT dari penyulang dengan CT dari sumber gangguan.
3. Paralel CT penyulang dengan hat i- hat i.

Alasan dan lo gika dari ket iga hal diat as akan nampak pada bahasan nant i. Arus yang
melalui belit an penahan Rele Diferensial harus sefasa dan harus memiliki perbedaan
minimum ant ara arus beban dan gangguan ekst ernal. Idealnya perbedaan pada kedua
keadaan adalah no l, namun dengan rat io CT dan level t egangan yang berbeda, dalam
prakt ek hampir t idak mungkin membuat perbedaan ini sama dengan no l. Ada dua
langkah yan g disarankan guna men dapat kan hubungan yang benar dan penyet elan
yang baik.

1. Phasing: menggunakan unit Y - , unt uk meyakinkan arus sekunder dari Rele
pada fasa yang sama.
2. Rat io Adjusment : pemilihan rat io CT dan at au Tap Rele unt uk mengurangi arus
perbedaan yang akan mengalir pada sirkit o perasi Rele.

Reko mendasi dan krit eria yang diberikan diat as akan lebih baik dijelaskan den gan
co nt o h.


8. 6 CON TOH HUBUN GAN PROTEKSI DIFEREN SIAL UNTUK BAN K
TRAN SFORMATOR DUA BELITAN HUBUN GAN WYEI - DELTA

Tinjau bank Transfo rmat o r hubungan Y - sepert i diperlihat kan pada Gambar 8- 4.
Tegangan ABC hubungan mendahului t egan gan/ arus ABC hubungan Y sebesar 30 0 ,
mengikut i st andar AN SI, fasa ABC di sisi t egangan t inggi dan abc disisi t egangan
rendah. Arus- arus fasa sekunder pada Rele Diferensial dapat dipero leh dengan
menghubungkan sat u set abc CT dalam hubun gan Y at au dan sat u set ABC CT dalam
hubungan dan Y bert urut - t urut . Meski hubungan Y abc CT akan menghasilkan
o perasi yang salah unt uk gangguan t anah ekst ernal. Arus urut an no l yang disuplai o leh
pent anahan Y Transfo rmat o r ke gangguan ekst ernal pada sisit em abc dapat mengalir
melalui hubungan Y CT abc ke kumparan pen ahan Rele kembali melalui kumparan
o perasi. Hal ini karena arus urut an no l bersirkulasi pada hubungan Transfo rmat o r dan
t idak mengalir pada sist em ABC unt uk menghasilkan penahan balansing gangguan
eket ernal yang t epat , karenanya CT belit an Transfo rmat o r yang t erhubung Y haru s
dihubungkan secara . Hal ini akan menyebabkan sirkulasi arus urut an no l hanaya pada
hubungan CT dan t idak melalui Rele.


8. 6. 1 Langkah Pert ama: Phasing

Kedua set CT harus dihubun gkan sehingga arus sekunder yang menuju belit an penahan
Rele sefasa unt uk set iap arus beban at au gangguan ekst ernal. Bila diasumsikan arus t iga
fasa seimbang mengalir melalui Transfo rmat o r. Arah arus t idaklah pent ing selama arus-
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 173
arus t ersebut mengalir menuju bank Transfo rmat o r. Hal ini diperlukan sekali dan
memudahkan u nt uk men gawali sisi wyei Transfo rmat o r, dalam Gambar 8- 4, bila Ia , Ib ,
dan Ic mengalir disisi Y dan menuju kekanan kedalam sist em abc, dengan po larit as
Transfo rmat o r sepert i dalam gambar, arus- arus t ersebut akan mengalir pada belit an
t egangan t inggi ABC sebagai Ia - Ib ,Ib - Ic dan Ic - Ia , mengalir kekanan pada fasa A,B
dan C bert urut - t urut .

Gambar 8- 4 : Hu bu n gan Rele Diferen sial u n t u k pro t eksi ban k Tran sfo rmat o r du a belit an



Dengan CT abc t erhubung delt a sepert i dijelaskan diat as, CT ABC harus dihubungkan
wyei, dengan po larit as masing- masing CT diperlihat kan dalam gambar, arus sekunder Ia
- Ib ,Ib - Ic dan Ic - Ia men galir menuju belit an penahan Rele Diferensial. Unt uk
gangguan ekst ernal arus- arus ini harus men galir keluar kesisi lain belit an penahan dan
t erus kekanan kembali kesisi wyei abc, sedankgan Ia , Ib , dan Ic mengalir kearah kiri
sekunder CT. Bagian t erakhir adalah men ghubungkan CT abc dalam hubungan delt a
unt uk mempero leh arus- arus sekunder yang t epat . Ini adalah langkah pert ama phasing.

Secara ringkas, phasing dilakukan den gan asumsi arus seimbang mengalir disirkit wyei
Transfo rmat o r. Arus dit ansfer melalui Transfo rmat o r kesisi delt a, hubungkan CT disisi
delt a dalam hubungan wyei dan ke ko il penahan Rele membawa arus t ersebut melalui
Rele keko il penahan lain, dan hubungan CT pada sisi wyei Transfo rmat o r dalam
hubungan delt a guna mendapat kan arus- arus ko il penahan. Apabila bank
Transfo rmat o r dihubungkan delt a pada kedu a sisinya, maka CT pada kedua sisi
Transfo rmat o r harus dapat dihubungkan wyei ke Rele Diferensial. Unt uk wyei
dit anahkan, bank Transfo rmat o r wyei - dit anahkan t anpa t ersier, at au dengan t ersier
yang t idak dihubungkan ke t erminal, maka hubungan CT yan g dibut uhkan adalah
hubungan delt a unt uk kedua sisi Transfo rmat o r. Mungkkin saja digunakan CT
hubungan wyei jika bank Tran sfo rmat o r t erdiri dari 3 Transfo rmat o r 2 belit an
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 174
independen dihubungkan Wyei - Wyei dit anahkan keduanya. Meski jenis Transfo rmat o
yang digu nakan adalah bank Transfo rmat o r 3 fasa, maka direko mendasikan
menggu nakan CT hubungan delt a. Pada bank Transfo rmat o r yang dihasilkan dari
int eraksi fluksi karena ko nst ruksi.

Pada t it ik ini mun cul sebuah pert anyaan dapat kah Rele Diferensial memberikan pro t eksi
unt uk gan gguan t anah bilamana CT t erhubung delt a. Jawabannya adalah, unt uk
gangguan t anah Rele dapat bero perasi bilamana arus- arus urut an po sit if dan negat if
t erlibat pada gangguan t ersebut . Rele Diferensial bero perasi pada ko mpo nene gangguan
t o t al pada gangguan int ernal jadi pada saat t erjadi gangguan sat u fasa ket anah arus
gangguan t o t al adalah I1 + I2 + I0 dan I1 = I2 = I0 , sehingga Rele dengan CT
t erhubung delt a akan menerima I1 + I2 at au 2 I1 , unt uk gan gguan int ernal. Dengan
mengacu pada Gambar 8- 4, sebuah gangguan int ernal sat u fasa ket anah disisi 69 kV
akan memberi masukan arus urut an po sit if dan neat if dari sisi 138 kV, dan arus urut an
po sit if, negat if dan no l dari sisi 69 kV. CT yang t erhubung delt a disisi 69 kV akan
mengeliminir arus urut an n o l dari sisi 69 kV, namun penjumlahan dari arus- arus u rut an
po sit if dan negat if dari kedua sisi penju mlahan keduan ya men galir melalui belit an
o perasi pada Rele Diferensial. Unt uk gangguan int ernal sat u fasa ke t anah pada sisi 138
kV, arus- arus urut an po sit if, dan negat if disuplai dari sisi 69 kV, dan ko mpo nen urut an
po sit if, negat if, dan no l disuplai dari sisi 138 kV. Pada keadaan ini, Rele Diferensial akan
menerima penjumlahan semua arus- arus u rut an I1 + I2 + I0 , karena CT t erhubun g
Wyei.

8.6.2 Langkah Kedua: Pemilihan Tap dan Rat io CT

Sangat pent ing unt uk mengurangi ket idak seim bangan arus yang men galir melalui ko il
o perasi pada wakt u o perasi no rmal dan gangguan ekst ernal. Kebanyakan Rele
Diferensial Transfo rmat o r memiliki Tap unt uk memudahkan t ujuan diat as. Hal ini
unt uk memberikan perbedaan pada arus penahan dalam o rde 2 at au 3 sampai L. Persen
ket idak seimbangan M, dapat dinayat kana sebagai berikut :

S
T T I I
x 100 = M
L H L H

8- 1

dimana IH dan TL adalah arus sekunder dan Tap Rele. H dan L menunju kkan sisi
Transfo rmat o r. H ut uk sisi t egangan t inggi, dan L unt uk sisi t egangan rendah dari
belit an Transfo rmat o r, sedangkan S adalah rat io Tap sisi t egangan t inggi t erhadap Tap
sisi t egangan rendah. Tanda minu s t idaklah pent ing, sehingga bila TH/ TL lebih besar dari
IH/ IL, t anda minus akan t et ap memberikan angka po sit if. Rat ing arus unt uk
Transfo rmat o r 50 MVA adalah:

A 209,18
138 3
50.000
I
H
8- 2

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 175
bilamana dipilih rat io CT 250 :5, maka

A 4,18
5 250
209,18
I
H
8- 3

arus ini adalah arus sekunder disisi kiri belit an penahan pada Gambar 8- 4 :

A 418,37
69 3
50.000
I
L
arus prime pada t egangan 69kV 8- 4

bila CT yang dipakai adalah CT dengan rat io 50 0 :5, maka:

A 4,18
5 500
418,37
I
L

ini adalah arus sekunder pada sisi 69 kV di sekunder CT at au:

A 7,25 3 x
5 500
418,37
I
L
8- 5

adalah arus sekunder disisi kanan belit an penahan pada Gambar 8- 4, dengan demikian :

0,577
7,25
4,18
I
I
L
H
8- 6

seandainya Tap yang t erdapat pada Rele dapat siset pada TH = 5 dan TL = 9, maka:

0,556
95
5
T
T
L
H
8- 7

dengan demikian persen ket idak co co kan M adalah :

3,78%
0,556
0,556 - 0,577
x 100 = M 8- 8

Hasil ini menunjukkan keco co kan yan g baik dengan karakt erist ik Rele Diferensial
ant ara 20 dan 60 %. Angka 3,78% memberikan margin keamanan yang cukup u nt uk
mengant isipasi kesalahan yang dapat t erjadi pada Rele dan CT. Teo rit is, persen
ket idakco co kan ini dapat mendekat i persent ase dari Rele Diferensial, namun t ent u saja
hal ini akan menguran gi margin keamanan yang ada. Dalam pemilihan rat io CT ini,
sangat pent ing unt uk menjaga rat io ini serendah mungkin unt uk mendapat kan
sensit ivit as yang t inggi, t et api ( 1) . Tidak mengizinkan beban maksimu m melebihi rat ing
arus ko nt inyu Rele at au CT sebagaimana dinyat akan o leh pabrikan, dan ( 2) . Gangguan
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 176
ekst ernal simet ris maksimum t idak menyebabkan kesalahan rat io arus Transfo rmer
lebih dari 10 %.

Unt uk ( 1) , beban maksimum harus merupakan arus t ert inggi t ermasuk o perasi darurat
jangka wakt u pendek. Transfo rmat o r biasanya m emiliki beberapa rat ing, yait u: no rmal,
dengan fan, dengan sirkulasi paksa, dan sebaginya. Pada kebanyakan Rele Diferensial
Transfo rmat o r ko il penahan memiliki rat ing ko nt ino us 10 A at au lebih. Unt uk ( 2) ,
unjuk kerja CT t elah dikemukakan pada bab sebelumnya. Secara umum, burden dari
Rele Diferensial unt uk keadaan gangguan ekst ernal sangat rendah. Lebih prakt is unt uk
memakai CT t erpisah dalam pro t eksi Diferen sial dan t idak menghubungkan at au
menguran gi Rele- Rele lain at au peralat an lain pada sirkit t ersebut . Hal ini memberikan
burden minimum dan t o t al yang rendah unt uk membant u unjuk kerja CT.

Meskipun, arus yang melalui Rele Diferensial pada wakt u gangguan ekst ernal hanya
merupakan bagian arus gan gguan t o t al yang mengalir melalui bank Transfo rmat o r
menuju t it ik gangguan. Jadi arus ini dibat asi o leh impedansi bank Transfo rmat o r.
Sebaliknya, pada gangguan int ernal, arus gangguan adalah t o t al arus gangguan, t et api
pada keadaan ini t idak semua arus mengalir melalui CT, kecuali pada kasus gangguan
t unggal. Beberapa CT mungkin men galami sat urasi pada saat gangguan int ernal. Meski
hal ini t idak diinginkan, namun hal ini t idak menjadikan masalah dalam o perasi Rele
kecuali sat urasi t ersebut sangat mengganggu, selama arus o perasi gangguan biasanya
beberapa kali lebih besar dari arus angkat Rele.


8. 7 PERUBAH TAP BEBAN TRAN SFORMATOR

Biasanya, Tap yang ada memun gkin kan unt uk memo difikasi rat io t egangan 10 % dari
t egangan dan at au unt uk kendali VAR. Rele Diferensial dapat digunakan sepert i diat as.
Rat io CT dan pemilihan Tap Rele harus dibuat pada harga t engah dari range perubah Tap
dan dengan harga M yan g rendah. Penjumlahan harga M dan set engah dari range Tap
pengubah harus berada diant ara karakt erist ik Rele persent age. Jadi dalam co nt o h pada
Gambar 8- 4, misalkan bank Transfo rmat o r memiliki Tap 10 % unt uk merubah t egangan
69 kV menjadi maksimu m 10 % at au minimu m - 10 %. Dengan memilih rat io dan Tap
dipilih pada harga t engah dari range Tap yang ada dengan harga M = 3,78%, maka
maksimum ket idakco co kan akan menjadi 10 % + 3,78%, yait u 13,78%, yang akan t erjadi
pada Tap t egangan maksimum at au minim um. Harga ini masih berada pada
karakt erist ik Diferensial persent age.


8. 8 CON TOH: PROTEKSI DIFEREN SIAL UN TUK BANK TRAN SFORMATOR
MULTI BELITAN

Pada Gambar 8- 5 diperlihat kan bank Transfo rmat o r 3 belit an hubungan Y - - Y.
Diskusi ini juga berlaku unt uk sebuah Aut o t ransfo rmat o r dengan t ersier . Dengan
ket iga belit an t erhubung ke rangkaian ekst ernal, diperlukan Rele Diferensial
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 177
Transfo rmat o r dengan 3 belit an penahan. Hal ini memerlukan sat u set CT unt uk
masing- masing ran gkaian, t erhubung pada belit an penahan berbeda, jadi zo na pro t eksi
adalah areal daiant ara beberapa CT. Rele Diferensial t ipe 2 belit an dapat pula digunakan
pada Transfo rmat o r mult i belit an bila:

1. Belit an ket iga adalah belit an t ersier dan t idak t erhubung ke rangkaian ekst ernal.
2. Sirkit yang t erhubung ke belit an t ersier dipandang sebagai bagian zo na pro t eksi.
Hal ini mungkin bilamana t idak t erdapat Pemut us t ambahan, at au belit an
digunakan unt uk mensuplai Transfo rmat o r t ambahan, dan set erusnya.
3. Belit an t ersier memiliki reakt ansi sangat t inggi sehingga gangguan pada sist em
bersangkut an t idak akan cukup besar unt uk mengo perasikan Rele Diferensial
Transfo rmat o r.

Kedua langkah, phasing dan Pemilihan Tap dan rat io CT juga dapat dipakai pada mult i
belit an. Sangat pent ing, bahwa langkah kedua dilakukan berpasangan, yait u: hubungkan
dan set CT dan Rele pada kedua belit an Transfo rmat o r, abaikan dan diasumsikan arus
pada belit an lain no l. Lnjut kan dengan pasangan belit an yang lain. Pada co nt o h hal ini
akan co ba dit erapkan. Pada Gambar 8- 5, t erdapat dua belit an wyei dit anahkan dan sat u
belit an delt a. Dari diskusi sebelumnya, CT pada belit an yang t erhubung wyei harus
dihubungkan delt a unt uk men ghindari o perasi pada wakt u gangguan t anah ekst ernal.
CT pada belit an yang t erhubung delt a harus dihubungkan secara bint ang unt u k
mengako mo dasi pergeseran fasa 30 0 . Langkah pert ama phasing adalah memilih kedua
pasangan. Meskipun ini berubah- ubah pada co nt o h ini pasangan harus t ermasuk delt a
dan salah sat u dari wyei.

Diawali dengan belit an wyei sebelah kiri, diasumsikan bahwa arus seimbang Ia , Ib , dan Ic
mengalir kekanan rangkaian. Arus t ersebut melalui pasangan belit an wyei - delt a dan
menuju sist em ABC menjadi Ia - Ib , Ib - Ia dan Ic - Ib . Arus- arus disisi kanan belit an
wyei diasumsikan no l, CT t erhubun g wyei pada sist em ABC memberikan arus- arus yan g
sama di sekunder pada belit an penahan Rele Diferensial. Arus- arus sekunder harus
disuplai melalui sebelah kiri belit an penahan. Hal ini dapat dicapai dengan jalan
menghubungkan CT dalam hubun gan delt a. Bilamana langkah phasin g ini t elah selesai,
pasangan kedua adalah belit an bint ang disebelah kiri dan belit an wyei disebelah kanan
dengan no l pada rangkaian delt a.

Sekarang Ia - Ic pada ko il penahan belit an wyei; hal sama unt uk Ib - Ia dan Ic - Ib .
Dengan Ia , Ib , dan Ic men galir kekanan m enuju kanan belit an wyei, CT dapat
dihubungkan sepert i kebut uhan dalam hubungan delt a. Hal ini melengkapi langkah
pert ama. Bank Transfo rmat o r mult i belit an umumnya memiliki rat ing MVA berbeda
unt uk belit an yang berbeda, dan hal ini dipergunakan u nt uk menent ukan rat io CT.
Misalkan rat ing Transfo rmat o r pada Gambar 8- 5 masing- masing 60 , 40 , dan 25 MVA
dengan t egangan 2 30 / 69/ 13,8 kV. Maka rat ing arus unt uk masing- masing belit an akan
menjadi:
A 150,61
230 3
60.000
I
H
8- 9

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 178

Gambar 8- 5: Hu bu n gan Rele Diferensial u n t u k pro t eksi belit an ban k
Tran sfo rmat o r 3 fasa


bilamana dipilih rat io CT 150 : 5, maka arus sekunder menjadi

A 5,02
5 150
150,61
I
H

at au

A 8,70 3
5 150
150,61
I
H
pada belit an penahan 8- 10

sedangkan:

A 334,70
69 3
40.000
I
M
8- 11

bila CT yang dipakai adalah CT dengan rat io 40 0 :5, maka arus sekunder menjadi:

A 4,18
5 400
334,7.0
I
M
sekunder
at au

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 179
A 7,25 3
5 400
334,70
I
M
pada belit an Rele 8- 12
dan

A 1045,92
13,8 3
25.000
I
L
pada t egangan 13,8 kV 8- 13

bila dipilih rat io CT 120 0 : 5, maka arus sekunder menjadi:

A 4,36
5 1200
1045,92
I
L
pada CT dan Rele 8- 14

Rat ing arus ini berguna dalam memilih rat io CT, t et api t idak dapat digunakan sepert i
pada pemilihan Tap Rele dan menghit ung ket idak co co kan. Sangat esensial dalam hal ini
unt uk memilih harga MVA dan melaku kannya pada pasangan den gan MVA belit an lain
N OL. Hanya bila hal ini dilakukan akan dipero leh keseimbangan arus Rele Diferensial
yang benar unt uk semua ko mbinasi arus selama pembebanan dan gangguan, juga pada
wakt u salah sat u belit an t idak digunakan. Harga yang dipilih t idak pent ing pada bagian
ini. Jadi unt uk co nt o h, diasumsikan bahwa daya 40 MVA pert ama mengalir dari 230
kV menuju 69 kV dengan MVA no l pada sist em 13,8 kV. Hal ini lebih menyenangkan
dan persamaan 8- 12 memberikan arus pada ko il penahan kiri. Pada sisi 230 kV, ko il
penahan kanan, arus yang seimbang adalah:

A 5,80 3 x
(30) 230 x 3
40.000
I
230
sekunder 8- 15

Seandainya bahwa Rele memiliki Tap t ermasuk 5 dan 6, dengan menggunakan Tap
t ersebut , % ket idak co co kan adalah:

4,17% = 100
0,8
0,83 - 0,8
= 100
5/6
6 5 7,25 5,8
x 100 = M

8- 16

Hal ini masih berada pada karakt erist ik Rele Diferensial Transfo rmat o r. Dengan memilih
Tap 5 pada belit an penahan sisi 230 kV, dan Tap 6 pada sisi 69 kV belit an penahan
t erbent uk. Selanjut nya unt uk pasangan lain, misal dipilih daya 25 MVA dari sist em 230
kV menuju 13,8 kV, yang akan memberikan 4,36 A pada belit an penahan 13,8 kV,
sedang pada sisi 230 kV adalah:

A 3,60 3 x
(30) 230 x 3
25.000
I
230
8- 17

dengan memilih Tap 6 pada sisi 13,6 kV, harga ket idak co co kan adalah :

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 180
0% = 100
0,83
0,83 - 0,83
= 100
1,67
6 5 4,36 3,62
x 100 = M

8- 18

CT co co k. Pada pemilihan Tap yang t ersedia pada bagian Rele Diferensial Transfo rmat o r,
pemeriksaan harus dilakukan unt uk melihat bahwa arus beban maksimum t idak
melebihi rat ing arus ko nt inyu sesuai pabrikasi. Hal ini melengkapi langkah kedua. Sekali
lagi pemilihan set ing dalam pasangan akan memberikan o perasi benar [ t idak ada
pemut usan/ t rip] unt uk set iap beban campuran at au gangguan ant ara beberapa belit an.
Langkah t erakhir adalah unt uk meyakinkan bahwa unjuk kerja CT t erhadap gangguan
int ernal sebagaimana pada gangguan ekst ernal sepert i dikemukakan pada 8. 6. 2.


8. 9 APLIKASI ALAT BAN TU UN TUK MEN YEIMBAN GKAN ARUS

Pada suat u saat , mungkin sukar u nt uk men dapat kan harga keco co kan M yan g dapat
dit erima pada wakt u menggunakan CT dan at au Tap Rele Diferensial t ert ent u. Dalam
kasus ini dibut uhkan pen ggunaan CT pembant u at au Transfo rmat o r penyeimbang arus.
Lebih baik menggunakan ini unt uk mengu rangi arus ke Rele bila mungkin. Mengurangi
arus sekunder ke Rele berart i mengurangi burden Rele sebesar kuadrat rat io arus.
Apabila arus meningkat menuju Rele, burden Rele meningkat sebesar kuadrat rat io
arus. Hal ini t idak t ermasuk burden dari alat bant u, yang harus dit ambahkan ke beban
t o t al sekunder pada CT.


8. 10 PARALEL CT PADA RAN GKAIAN DIFEREN SIAL

Pada bagian 8. 5, direko mendasikan bahwa sebuah ko il penahan dipergunakan u nt uk
set iap sumber dan memparalel sebuah sumber dan penyulan g harus dihindarkan. Hal ini
kadangkala dilakukan at au dipert imbangkan unt uk digunakan pada bank Transfo rmat o r
mult i belit an at au dua bank pada zo na pro t eksi sama. Kesulit an yang mungkin dialami
diilust rasikan pada Gambar 8- 6. Tidak ada masalah dalam memparalel dua set CT sepert i
dit unjukkan selama sirkit ket iga belit an Transfo rmat o r digunakan. N mu n, dengan
kemungkinan o perasi darurat , dimana Pemut us sebelah kiri t erbuka, penahan hilang
dari Rele dan Rele Diferensial bero perasi sebagai unit arus lebih yang sensit if, sepert i
dit unjukkan dalam Gambar 8- 6a, arus men galir dari sumber disebelah kanan menuju
penyulang harus no l. Hal ini sulit dilakukan dengan CT dan level t egangan yan g
berbeda, meski dengan t ingkat keco co kan sempurna.

Perbedaan pada arus- arus penguat CT akan mengalir ke Rele Diferensial sebagaimana
dijelaskan pada bab sebelumnya. Dengan kat a lain, t idak ada penahan yang efekt if unt uk
keadaan ini. Hubungan ini mungkin secara marginal aman unt uk aliran beban, namun
sangat rent an akan kesalahan o perasi pada saat t erjadi gangguan ekst ernal pada
penyulang. Memparalel CT mu ngkin dilakukan jika Transfo rmat o r t idak akan pernah
bero perasi dengan Pemut us sebelah kiri t erbuka. Ini t idak direko mendasikan, karena
selalu ada kemungkinan dalam o perasi t erjadi sit uasi t idak biasa, sehingga memaksa
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 181
o perat o r melakukan pembukaan Pemut us kiri t anpa direncanakan. Sebaliknya dengan
reko mendasi penahan unt uk set iap sirkit sepert i dalam Gambar 8.6b. Penggunaan
penahan penuh sepert i dit unjukkan.


Gambar 8.6. Po t en si kehilan gan belit an pen ahan akibat paralel su at u sirkit pada
pro t eksi Diferensial: ( a) . Tan pa belit an pen ahan ; ( b) . Den gan belit an pen ahan pen u h


Rangkaian CT pada penyulang mungkin diparalel pada skema diferensial selama
dianggap t idak ada arus gangguan yang disuplai melalui sirkit . Perhat ian harus
diberikan, perlu disadari bahwa pada saat t erjadi gangguan ekst ernal pada salah sat u
penyulang, beberapa arus sekunder dibut uhkan guna men yeimbangkan perbedaan
unt uk mengalirkan magnet isasi ke CT penyulang lain yang t idak mensuplai arus primer.


Gambar 8.7. Hu bu n gan sat u lin e sebu ah pro t eksi Diferen sial u n t u k mu lt i hu bu n gan pada
Tran sfo rmat o r

Tipikal co nt o h Transfo rmat o r dengan sirkit diperlihat kan pada Gambar 8- 7. Sepert i
direko mendasikan dan dit unjukkan, set iap sirkit harus dihubungkan kesuat u belit an
penahan individu pada Rele Diferensial mengikut i pro sedur sepert i dijelaskan.
Memparalel sirkit dan CT harus dihindarkan, t et api bila diperlukan, masalah yang
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 182
dikemukakan harus dit injau secara seksama dan dido kument asikan kepada perso nal
o perasi.


8. 11 HUBUN GAN KHUSUS RELE DIFEREN SIAL TRAN SFORMATOR

Kadangkala, mungkin diperlukan unt uk menggunakan CT hubungan bint ang pada
sebuah sirkit wyei yan g dit anahkan pada skema diferensial, dibanding menggu nakan CT
hubungan delt a. Hal ini dapat t erjadi pada aplikasi dimana zo na diferensial dit erapkan
pada beberapa bank Transfo rmat o r. Unt uk it u, perhat ian pert ama adalah kemungkinan
suat u inrus simpat it ik. Zo na harus dipelajari unt uk melihat apakah ada kemungkinan
bero perasi dalam ko ndisi dimana salah sat u bank dapat energise, diikut i o leh energise
bank Transfo rmat o r kedua. Apabila kedua bank Transfo rmat o r dalam zo na pro t eksi
selalu energise secara bersamaan, inrus simpat it ik t idak akan t erjadi. Kebanyakan dari
kasus yang t erjadi merupakan hasil dari pengurangan Pemut us Tenaga dan CT unt u k
penghemat an, t et api mengakibat kan penurunan fleksibilit as sist em.


Gambar 8- 8: Hu bu n gan Rele Diferen sial khu su s menggu n akan CT hu bu n gan bin t an g pada
t ermin al Tran sfo rmat o r hu bu n gan wye - dit an ahkan

Gambar 8- 8 memperlihat kan hubungan peran gkap urut an no l u nt k men galihkan arus
urut an no l dari Rele diferensial dengan CT t erhubung wyei pada sisi pent anahan
Transfo rmat o r. Esensi dari hubungan jenis ini adalah bahwa ada suat u jalan unt uk aru s
urut an no l men galir menuju dan keluar dari sebuah bank pada sekunder CT. Hal ini
dilakukan o leh jebakan sepeert i dit unjukkan. Apabila jalan t idak t ersedia pada sekunder
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 183
CT, sama dengan t erdapat sirkit sekunder t erbuka yang mengakibat kan sat urasi dan
t egangan t inggi dan membahayakan. Hal ini berlaku pula pada arus urut an po sit if dan
negat if; ket idak t ersediaan jalan unt uk urut an no l akan muncul hanya pada saat t erjadi
gangguan t anah pada sist em seimbang.

Jebakan urut an no l, t erdiri dari 3 CT bant u. Rat io nya t idak pent ing sepanjang CT
t rsebut sama. Perlu diingat bahwa ko il o perasi net ral t idak t erhubung ke CT net ral at au
pent anahan t idak diperlukan unt uk arus urut an no l
mengalir unt uk mendapat kan o perasi Rele yang benar. Menghubungkan ko il o perasi
net ral ke CT net ral menempat kan ko il belit an o perasi dan penahan menjadi paralel
dengan belit an primer dari jebakan. Hal ini dapat menyebabkan penyimpangan aru s
pada saat t erjadi gangguan t anah ekst ernal dan kesalahan o perasi Rele.

Dengan CT disebelah kiri t erhubung wyei sepert i dit unjukkan pada Gambar 8.8,
diperlukan unt uk menghubungkan CT disebelah kanan t erhubung delt a guna
mempero leh arus pada fasa melalui Rele diferensial unt uk arus primer ekst ernal
mengalir. Pro sedur phasing harus dikerhakan sepert i yang dijelaskan diat as, dimulai
dengan menyeimbangkan arus- arus Ia , Ib , dan Ic menuju belit an wyei Transfo ramt o r.
Membawa arus- arus ini melalui Transfo rmat o r, dapat dilihat dengan diagram faso r
bahwa Ia - Ic - ( Ib - Ia) sefasa dengan Ia , dan demikian pula unt uk fasa- fasa lain. Harga
perunit magnit ude arus t igakali lebih besar, t et api hal ini dapat diat ur dengan CT dan
Tap Rele. Gangguan t anah diant ara zo na diferensial akan men go perasikan Rele melalui
ko mpo nen- ko mpo nen arus gangguan po sit if dan negat if. Hal ini dapat dit unjukkan
pada Gambar 8- 8.


Gambar 8- 9: Hu bu n gan Rele Diferen sial u n t u k pro t eksi t iga Tran sfo rn at o r sat u fasa hu bu n gan
wyei delt a men ggu n akan CT pada bu shin g Tran sfo rmat o r
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 184
8. 12 PROTEKSI DIFEREN SIAL BAN K TRANSFORMATOR TIGA FASA
DARI UN IT TRANSFORMATOR SATU FASA

Unit Transfo rmat o r sat u fasa dihubungkan dalam berbagai variasi ko nfigurasi t iga fasa
yang umu mnya wyei - delt a dan den gan CT dan PMT pendukung sepert i pada Gambar
8- 4. Jika dibut uhkan at au diperlukan u nt uk men ggu nakan CT pada bushin g
Transfo rmat o r, maka hubungan diferensial biasa t idak dapat dipergunakan bilamana CT
t erdapat didalam delt a, sepert i pada Gambar 8- 9. Dua set CT t erhubung paralel
diperlukan unt uk mendapat kan pro t eksi bagi gangguan t anah pada belit an ini. CT
t erhubugn bint ang dapat digunakan pada kedua sisi faso r arus pada Gambar 8- 9
menunjukkan keseimbangan bagi arus- arus sim et ris mengalir melalui bank. Dalam hal
ini suat u rat io perbedaan 2:1 dalam perunit dari CT pada kedua sisi. Hal ini dapat diat ur
dengan CT at au Tap Rele at au dengan ko mbinasi keduanya. Karena masing- masin g
Transfo rmat o r merupakan unit t erpisah, t idak ada kemungkinan t erjadinya efek t ersier
hant u yang mengganggu o perasi diferensial.

Unt uk bank t iga fasa dimana ket iga belit an dan int erko neksi ket iganya pada t angki
bersama, st andar hubungan diferensial yang dit unjukkan Gambar 8- 4, 8- 5, 8- 7 at au 8-
8 dapat digunakan den gan CT sepert i diperlihat kan at au dengan CT sepert i pada bushing
Transfo rmat o r t iga fasa pada sisi lain.


Gambar 8- 10 : Pro t eksi Diferen sial t an ha ( u ru t an no l) u n t u k ban k Transfo rmat o r hu bu n gan
delt a wye dit an ahkan men ggu n akan Rele Diferen sial ko n ven sio n al


8. 13 PROTEKSI DIFEREN SIAL TAN AH ( URUTAN N OL) TRAN SFORMATOR

Skema diferensial t anah memberikan pro t eksi yang dapat dit erima unt uk bank
Transfo rmat o r delt a - wyei dit anahkan. Hal ini berguna bilamana t idak t erdapat at au
t idak ada CT pada sisi delt a, ini merupakan kasus umum unt uk sist em dist ribusi dan
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 185
pengikat pada indust ri dengan hubungan delt a pada sisi t egangan t inggi dan mungkin di
pro t eksi menggu nakan Fu se. Skema ini hanya melindungi belit an wyei dit anahkan dan
sirkit pendukungnya dan hanya unt uk gan ggu an t anah, yang merupakan gangguan
yang umu m t erjadi dan sering t erjadi. Tipikal aplikasinya diperlihat kan pada Gambar 8-
10 menggu nakan Rele diferensial ko nvensio nal. Zo na diferensial t ermasuk sirkit ant ara
kedua set CT. Sirkit delt a menahan o perasi unt uk gangguan yang t erjadi pada areal
t ersebut . Teknik phasing dan rat io ning sepert i pada bab sebelumnya kecuali hanya
menggu nakan arus urut an no l mengalir ke gangguan ekst ernal. Arus- arus ini
diperlihat kan dalam Gambar 8- 10 , Rele arus lebih- wakt u, 51N diperlihat kan
dihubungkan pada CT t erpisah. Reko mendasi in i berlaku unt uk semua Tran sfo ramt o r
yang dit anahkan. Hal ini adalah usaha t erakhir pro t eksi gangguan t anah dan harus
diset el unt uk ko o rdinasi dengan Rele lain yang t ermasuk jangkauan lebih Rele t ersebut .
Hal ini akan didiskusikan lebih det il. Rele t ersebut dapat dihubungkan ke sirkit
diferensial, yang akan menambah burden sirkit diferensial dan dapat mempengaruhi
o perasinya.

Bilamana sisi delt a diprot eksi dengan Fuse, gangguan t anah pada zo na diferensial
mungkin t idak memberikan arus yan g cu kup unt uk dapat memut uskan at au
membersihkan gan gguan yang dat ang dari sum ber sisi delt a. Sebagaimana dinyat akan
dimuka gan gguan sat u fasa ke t anah sebesar 1 pu disisi wyei dirasakan sebagai gan gguan
fasa ke fasa sebesar 0 ,577 pu disisi delt a, yang akan men yulit kan det eksinya. Set iap
gangguan dibat asi o leh impedansi net ral dan at au resist ansi gangguan yang menguran gi
magnit ude gangguan. Jadi dalam banyak kasus, hampir t idak mungkin unt uk
membersihakan gangguan dengan Fuse sisi t egangan t inggi. Dengan demikian
diferensial t anah sangat berguna unt uk mengat asi gangguan t anah dalam zo na
o perasinya, masalahnya adalah unt uk membersihkan gan gguan dari su mber sisi delt a
t anpa Pemut us lo kal, dan dimana Pemut us t erdekat berada pada Gardu yang lain.


8. 14 PERALATAN GUNA PEMIN DAHAN SISTEM PEMUTUSAN

Tanpa adanya peralat an Pemut us, gangguan pada t erminal primer Transfo rmat o r ada
beberapa kemungkinan u nt uk pemut usan. Pemut us jarak jauh guna membersihkan
gangguan. Kesemua met o da ini t idak prakt is bila digunakan.


8. 14. 1 Saklar Gangguan

Saklar gangguan - spring - lo aded dihubungkan kesisi suplai delt a. Operasi Rele pro t eksi
Transfo rrmat o r unt uk melepasa Saklar dan sumber gangguan sist em. Rele prot eksi pada
Pemut us jauh akan merasakan gangguan t ersebut dan akan bero perasi unt uk
membersihkan gan gguan, dan membuka sum ber. Umumnya sebagian besar adalah
Saklar t unggal yang menggunakan gan gguan sat u fasa ke t anah unt uk men go perasikan
Rele t anah jauh. Kerapkali, Rele jauh ini dapat bero perasi seket ika guna mendapat kan
iso lasi secepat nya. Hanya ada sedikit inst alasi Saklar gangguan 3 fasa ke t anah yan g
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 186
menggu nakan gangguan so lid t iga fasa sebagai penggerak. Keunt ungannya adalah
redundan t inggi; sat u at au dua Saklar dapat gagal dan masih mampu membersihkan
gangguan. Apabila salah sat u Sklar fasa dan Sklar t anah gagal, Rele t anah pada lo kasi
jauh dapat membebaskan gangguan. Kelemahannya adalah biaya t inggi, pemeliharaan
mahal dan menyebabkan arus gangguan t iga fasa menjadi besar. Teknik Saklar t anah
prakt is dan relat if sederhana, namun demikian, beberapa rasa t ak suka menempat kan
secara sengaja gangguan pada sist em.


8. 14. 2 Kanal Ko munikasi

Rele pro t eksi Transfo rmat o r menginisiasi suat u sinyal pemut usan yang dit ransmisikan
melalui suat u kanal pemindah pemut usan guna mengo perasikan
Pemut us jauh. Kanal ini mungkin melalui po wer line carrier, sirkit t elepo n at au kanal
gelo mbang mikro at au suat u pilo t wire langsung. Sekurit as t inggi sangat pent ing unt u k
menghindari o perasi pemut usan yang t idak didinginkan akibat sinyal asing pada kanal.
Keadaan ini dan biaya yang t inggi adalah kelemahan ut ama. Tidak mungkin
meningkat kan sekurit as den gan det eksi ganggu an pada t erminal pemut usan Pemut us,
mengingat gan gguan disisi rendah umum nya akan berada pada level yang rendah pula.


8. 14. 3 Peralat an Pemut us Gangguan Terbat as

Suat u rangkaian Saklar at u Pemut us dengan kem ampuan pemut usan gan gguan t erbat as
diinst al pada Transfo rmat o r disisi sumber delt a. Rele pro t eksi Transfo rmat o r
menginisiasi pemut usan dari peralat an t ersebut langsung at au dengan wakt u t unda.
Skema disusun berdasarkan pro babilit as t inggi bahwa Rele jauh akan bero perasi dan
membersihkan set iap arus gangguan yan g t inggi dengan kecepat an t inggi dan sebelum
Pemut us sirkit at au pemut us dapat membuka. apabila Rele jauh t idak merasakan
gangguan at au bero perasi lambat level arus gangguan berada pada kapabilit as
pemut usan dari peralat an lo kal.


8. 15 DETEKSI GAN GGUAN MEKAN IS TRAN SFORMATOR

Akumulasi gas at au perubahan t ekanan didalam t angki Transfo rmat o r adalah indikat o r
adanya gangguan int ernal at au masalah. Peralat an berikut direko mendasikan unt uk
dipakai, meski peralat an ini dapat digunakan sebagai pro t eksi suplemen yang baik.
Dalam banyak kasus, peralat an ini lebih sensit if, sehingga dapat bekerja pada saat t erjadi
gangguan int ernal kecil yang t idak dapat didet eksi o leh Rele Diferensial at au Rele
lainnya. N amun perlu diingat bahwa o perasi peralat an ini t erbat as unt uk masalah
didalam Transfo rmat o r. Peralat an ini t idak akan bero perasi pada saat t erjadi gangguan
pada bushing Transfo rmat o r dan hubungan ke CT ekst ernal. Jadi zo na pro t eksinya
hanya didalam t angki, berlawanan dengan zo na pro t eksi Rele Diferensial Gambar 8- 4.

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 187
8. 15. 1 Det ekt o r Gas

Peralat an pendet eksi Gas dapat dit erapkan pada Transfo rmat o r yang dibangun dengan
t angki ko nservat o r. Tipe ini banyak digunakan di Ero pa, t et api t idak banyak dipakai di
USA. Unt uk unit Transfo rmat o r dengan t anpa ruang gas, bila didalam t angki
Transfo rmat o r, peralat an akumulat o r gas disebut Rele Bucho lz yang dihubungkan
ant ara t angki ko nservat o r den gan t angki ut ama. Rele akan mengumpulkan set iap gas
yang naik melalui minyak Transfo rmat o r. Salah sat u bagian Rele akan mengakumulasi
gas selama prio da wakt u t ert ent u unt uk mendapat kan indiksi sensit ivit as dari adanya
busur api energi rendah. Rele umumnya digunakan unt uk menyalakan alarm, selaman
gas masih dalam bat as yang diizinkan. Bagian lain dari Rele akan bereaksi pada gangguan
berat , yang akan memaksa Rele membuka Pemut us pada kecepat an t inggi. Digunakan
unt uk memut uskan secara paralel dengan peralat an pro t eksi Transfo rmat o r yang lain.



Gambar 8- 11: Pro t eksi Diferen sial t an ah u n t u k ban k Tran sfo rmat o r hu bu n gan Zigzag
men ggu n akan Rele Diferen sial ko n vensio n al


8. 15. 2 Perubahan Tekanan

Dit erapkan pada Transfo rmat o r t ipe o il immersed. Salah sat u t ipe akan bero perasi
bilamana t erjadi perubahan t iba- t iba pada gas diat as minyak, jenis lain akan bero perasi
bila t erjadi perubahan pada minyak it u sendiri. Keduanya memeiliki alat penyeimbang
unt uk perubahan yang lamban, dimana t erjadi perubahan pembebanan dan t emperat ur.
Keduanya sensit if t erhadap busur api energi t inggi maupu n rendah didalam
Transfo rmat o r dan memiliki karakt erist ik wakt u - t erbalik. Cepat unt uk gangguan berat
dan lambat pada wakt u gangguan rin gan. Umumnya, peralat an ini digunakan unt u k
memut us dengan ko nt ak- ko nt ak paralel dengan ko nt ak- ko nt ak pemut us Rele
Diferensial sert a Rele lain. N amun dapat pula hanya unt uk memberikan sinyal alarm.
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 188
8. 16 PROTEKSI PEN TANAHAN TRAN SFORMATOR

Unt uk mendapat kan suat u sist em pent anahan pada sisi delt a suat u bank Transfo rmat o r
sisit em t enaga digunakan suat u hubungan shu nt pent anahan wyei - delt a at au bank
Transfo rmat o r zig- zag. Dengan unit delt a - wyei, sisi delt a dio perasikan sebagai sebuag
belit an t ersier t anpa beban unt uk mensirkulasikan arus urut an no l. Apabila sisi t ersier
ini memiliki CT didalam delt a, CT ini dapat dihubungkan den gan Rele arus lebih -
wakt u 51N . Rele ini akan menerima I0 u nt uk gangguan- gangguan t anah keluar dan
sist em, o leh karenanya harus diko o rdinasikan dengan Rele t anah lainnya. Pro t eksi
Diferensial t anah, sebagaimana diperlihat kan pada Gambar 8- 10 t ersedia unt uk unit
pent anahan delt a - wyei, dan sebagaimana diperlihat kan Gambar 8- 11 digunakan unt uk
unit zigzag sebuah alt eernat if dapat digunakan Rele arus lebih - wakt u t iga fasa, 51,
masing- masing dihubungkan pada sat u dari CT disisi jaringan. Karena beban t idak
melalui unit ini, rat io CT dan Tap Rele dapat dipilih berdasarkan arus gangguan t anah.

Bank zigzag pada dasarnya mengandung 3 Transfo rmat o r dengan rat io 1:1 yang
t erit erko neksi sepert i pada Gambar 8- 11. Sirkulasi arus urut an no l diperlihat kan pada
gambar t ersebut . Arus urut an po sit if dan negat if t idak akan mengalir, karena arus- arus
ini berbeda fasa 120 0 . Rele yang diakt ifkan o leh t ekanan t iba- t iba at au gas
direko mendasikan dipakai unt uk pro t eksi gan gguan int ernal kecil. Gangguan ant ar
lilit an selalu sulit unt uk didet eksi. Pada unit zigzag, hal ini dapat dibat asi o leh impedansi
magnet isasi dari fasa yang t idak t erganggu. Pent anahan Transfo rmat o r kerapkali
dihubungkan lan gsung ke Rel at au Transfo rmat o r daya bersangkut an t anpa peralat an
pembat as at au Pemut us gangguan. Co nt o h t ipikal akan hubungan unit pent anahan
ant ara Transfo rmat o r daya delt a dan Pemut us Tenaga disisi kanan sepert i pada Gambar
8- 8. Aplikasi ini membut uhkan penggu naan penyebab arus urut an no l sepert i
dit unjukkan dalam gambar, mengingat adanya sumber urut an no l pada kedua sisi bank
Transfo rmat o r wyei - delt a dengan pergeseran sebesar 30 0 melint asi bank.

Dengan pent anahan bank ant ara zo na diferensial Transfo rmat o r sebagaimana
diindikasikan, alt ernat if hubungan yang dapat dit erapkan pada Gambar 8- 8 adalah
menghubungkan CT disebelah kanan dalam hubungan wyei dengan perangkap urut an
negat if dan CT sebelah kiri dalam hubungan delt a. Sat u set CT bant u dapat dipakai
sebagai penggant i perangkap urut an no l unt u k mendapat kan iso lasi t erhadap arus
urut an no l dan pergeseran 30 0 . Perangkap yang disiapkan hanya t erlibat bilamana
t erjadi gangguan t anah. Beberapa aransemen dapat dilakukan. Unt uk melakukan ini,
jangan men ghubungkan CT ut ama dalam hubungan wyei dan ke delt a - hubungan
bant u, maka t idak ada lint asan urut an no l unt uk arus- arus gangguan primer.


8. 17 PROTEKSI DIFEREN SIAL TAN AH DEN GAN RELE TAN AH

Bilamana rat io CT dan at au karakt erist ik CT t idak co co k unt uk pemakaian pada Rele
Diferensial ko nvensio nal, dapat digunakan sebuah Rele arus lebih berarah dihubungkan
secara diferensial. Hal ini dapat digunakan bilamana arus gangguan t anah dibat asi o leh
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 189
impedansi net ral at au bilamana digunakan CT net ral rendah unt uk men dapat kan
sensit ivit as yang t inggi unt uk gangguan jauh pada penyulang dist ribusi. Dua buah
penerapan diperlihat kan dalam Gambar 8- 12 dan 8- 13. Pada Gambar 8- 14 dan 8- 15
digunakan sebuah Transfo ramt o r bant u 1:N . Salah sat u dari dua diagram
memperlihat kan o perasi pada saat t erjadi gangguan ekst ernal, lainnya unt uk gangguan
int ernal. Kedua t ipe adalah ekivalen dimana N
n
n - 1
.
Dua t ipe Rele dapat digunakan pada kedua skema, yait u Rele arus lebih pro duct dan
arus lebih berarah. Rele t ipe pert ama dapat berupa sebuah unit piringan induksi, dimana
t o rka pengendali at au sirkit lag merupakan salah sat u dari sirkit yang ada dan belit an
lain merupakan belit an ut ama. Hal ini diperlihat kan dalam diagram sebagai dua ko il
dengan t anda po larit as +. Operasi Rele merupakan perkalian dari arus pada kedua sirkit
dengan co sinu s dari sudut ant ara keduanya.


Gambar 8.12
( a) . Pro t eksi Diferen sial t an ah pada ban k Tran sfo rmat o r delt wyei dit an ahkan men ggu n akan
Rele aru s lebih berarah den gan aru s u ru t an n o l men galir akibat gan ggu an t an ah ekst ern al;
( b) .Co n t o h aliran aru s u ru t an no l u n t u k gan ggu an t an ah ekst ern al ( t an pa elemen Rele arah)
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 190
Apabila arus sefasa mengalir menuju t anda po larit as ( Co s 0 0 = 1) , Rele memiliki t o rka
o perasi maksimum unt uk menut up ko nt ak. Bila salah sat u arus menuju t anda po larit as
pada salah sat u ko il sedangkan lainnya keluar dari t anda po larit as ( Co s 180 0 = - 1) , Rele
memiliki t o rka penahan maksimum.


Gambar 8.13
( a) . Operasi sist em Rele Diferen sial Gambar 8- 12 u n t u k gan ggu an in t ern al den gan aru s u ru t an
n o l men galir u n t u k gan ggu an in t ern al; ( b) . Co n t o h aliran aru s u ru t an no l pada gan ggu an
t an ah in t ern al den gan arus lin e n o l; ( c) . Co n t o h aliran aru s u ru t an n o l pada gan ggu an t an ah
in t ern al den gan aru s lin e t idak sama den gan n o l
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 191
To rka akan sama dengan no l bilamana kedua arus berbeda t 90 0 . Rele ini dapat
bero perasi dengan magnit ude arus yang jauh berbeda selama perkalian ini lebih besar
dari minimum angkat dan dengan kebebasan relat if dari variasi sudut fasa ant ara t 90 0 .
Rele memiliki karakt erist ik wakt u t erbalik, bero perasi sangat cepat pada wakt u
gangguan int ernal besar.



Gambar 8.14 . Pro t eksi Diferensial t an ah u n t u k ban k Tran sfo rmat o r delt a wyei dit an ahkan
men ggu n akan Rele arus lebih berarah den gan CT ban t u : ( a) . aliran arus u ru t an n o l u n t u k
gan ggu an t an ah ekst ern al; ( b) . co n t o h aliran aru s u ru t an n o l pada gan ggu an t an ahn berarah
ekst ern al
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 192
Rele arus lebih berarah memiliki suat u unit arah t erpisah yang bero perasi sebagai unit
pengali. Unit arus lebih dari Rele adalah t anpa arah dan bero perasi pada magnit ude arus
yang melalui ko il ut amanya. Pada gambar adalah ko il t anpa po larit as dan dihubungkan
menyeberangi CT, memiliki karakt erist ik wakt u t erbalik, bero perasi cepat pada arus
besar, t et api hanya bila unit arah bero perasi.


Gambar 8.15. Operasi sist em Rele Diferen sial Gambar 8.14 : ( a) . aru s u ru t an no l men galir u n t u k
gan ggu an in t ern al; ( b) . co n t o h aliran arus uru t an n o l pada gan ggu an t an ah in ert al den gan aru s
lin e n o l; ( c) . co n t o h aliran aru s u ru t an n o l pada gan ggu an t an ah in t ern al den gan arus lin e t idak
sama den gan n o l
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 193
Transfo rmat o r bant u dibut uhkan unt uk mendapat kan o perasi diferensial yang benar,
t idak bero perasi bila t erjadi gangguan ekst ernal diluar zo na diferensial, bero perasi bila
t erjadi gangguan t anah dalam zo na diferensial.

Diperlihat kan bahwa skema o perasi unt uk kasus dimana t idak ada arus gangguan t anah
yang berasal dari sist em menuju t it ik gangguan int ernal. Hal ini biasa unt uk aplikasi
pada indust ri dan dist ribusi. Tanpa arus, sepert i pada Gambar 8.13b dan 8.15b, perlu
diingat bahwa beberapa dari arus sekunder net ral akan dibelo kkan unt uk mengeksit asi
CT jaringan dan CT bant u. Sebagaimana didiskusikan pada bab sebelumnya.

Apabila arus t anah disuplai dari sist em pada gangguan int ernal, Rele pro duct dapat
dit erapkan dengan salah sat u ko il dihubungkan melewat i CT jaringan dan ko il lain
dihubungkan ke CT net ral t anpa Rele bant u. Sebagaimana t ert era, t elah dikemukakan,
Rele dapat bero perasi dengan perbedaan yang besar pada arus dan unjuk kerja CT. Rele
arus lebih berarah dapat dihubungkan hanya pada CT jaringan u nt uk dapat bero perasi
pada saat t erjadi gangguan pada bank Transfo rmat o r t anpa ada hubungan ke Ct net ral.
Dalam banyak kasus penyambun gan cara t erakhir t idak memberikan sensit ivit as t inggi,
karena sumber t anah jauh umumnya t erlampau lemah.


8.18 PROTEKSI BAN K TRAN SFORMATOR DEN GAN
PEN GGESER FASA TERKEN DALI

Transfo rmat o r yang dilengkapi den gan ken dali pergeseran fasa didesain unt uk
digunakan pada pemin dahan dua sist em t enaga. Desainnya ko mplek dan khusus unt u k
penggunaan t ert ent u. Pro t eksi diferensial sukar at au hampir t idak mungkin dipakai pada
sist em sepert i ini, sehingga Rele yang digerakkan o leh t ekanan at au gas digunakan
unt uk melayani pro t eksi jaringan, dengan cadangan menggunakan Rele arus lebih.
Bilamana dimungkin kan penggunaan Rele Diferensial; mungkin dibut uhkan CT yang
diinst al didalam unit t ersebut , jadi pro t eksi sudah menjadi rencana dan bagian dari unit
t ersebut .


8. 19 PROTEKSI ARUS LEBIH PADA TRAN SFORMATOR

Pro t eksi arus lebih unt uk gangguan fasa dan at au gangguan t anah umum digunakan
pada Transfo rmat o r. Pro t eksi ini dipakai sebagai pro t eksi ut ama unt uk Transfo rmat o r
kecil at au unit Transfo rmat o r lain yang t idak menggu nakan pro t eksi diferensial at au
sebagai pro t eksi cadangan unit Transfo rmat o r besar yang dipro t eksi dengan Rele
Diferensial. Unt uk Transfo rmat o r 10 MVA at au dibawahnya, Fuse ut ama juga sering
digunakan. Pro t eksi lain adalah Rele arus lebih - wakt u - t erbalik unt uk t egangan
t inggi, Rele jarak digunakan unt uk memberikan pro t eksi pada Transfo rmat o r dan sirkit
pendukun gnya. Karena jenis pro t eksi ini dapat bero perasi dengan baik diluar zo na
pro t eksi Transfo rmat o r, aplikasi dan penyet elannya adalah sebauah ko mbinasi ant ara
pro t eksi Transfo rmat o r dan pro t eksi bagian sist em yang lain. Penekanan disini adalah
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 194
pro t eksi Transfo rmat o r dan pembahasan akan diperluas pula dengan pro t eksi peralat an
t erhubung, sepert i penyulang primer dan pro t eksi jaringan.

Diinginkan u nt uk menset peralat an pro t eksi sesensit if mungkin, t et api Fuse dan Rele
arus lebih fasa harus t idak bero perasi pada keadaan yang mash dapat dit o lerir. Rele- Rele
diat ur agar t idak bero perasi pada saat t erjadi inrus magnet isasi ( kecuali digunakan
penahan harmo nik) , beban maksimum jangka pendek ( co ld lo ad) , at au pada gangguan
maksimum t iga fasa sekunder. Tipikal set ing ant ara 150 sampai 20 0 % dari arus t erbesar.
Hal ini mungkin membat asi o perasi Rele pada gangguan primer.

Dengan kat a lain, Rele dan at au Fuse harus mengaman kan Transfo rmat o r t erhadap
kerusakan akibat gangguan. Arus gangguan yang besar yang melewat i Transfo rmat o r
akan mengakibat kan kerusakan t ermis dan mekanis. Temperat ur t inggi dapat
mempercepat kerusakan iso lasi daya fisik dari arus- arus t inggi dapat menyebabkan
t ekanan pada iso lasi, iso lasi usang, dan gesekan- gesekan menyebabkan pergeseran pada
belit an. ANSI/ IEEE mendefinisikan bat asan unt uk gangguan t ersebut .

8. 20 BEBAN LEBIH PADA TRAN SFORMATOR MELALUI STAN DAR
KETAHAN AN GAN GGUAN

St andar AN SI/ IEEE bagi Transfo rmat o r daya dan dist ribusi menyat kan beban lebih
Transfo rmat o r - melalui - kapabilit as t erhadapa gangguan t elah dirubah sekit ar t ahun
1977. Perbandingan perubahan t ersebut diberikan pada Tabel 8- 1. Pengali arus rat ing
merepresent asikan maksimum arus yan g mu ngkin dan berasal dari suat u sumber infinit .
Jadi maksimum arus gangguan simet ris yan g melalui bank Transfo rmat o r yang
mempunyai impedansi 4% adalah 1.0 / 0 .0 4 = 25 pu at au 25 kali rat ing arus
Transfo rmat o r.

Tabel 8- 1: St an dar Kapabilit as Aru slebih Transfo rmat o r men uru t AN SI/ IEEE

Maximu m cu rren t wit st an d ( s) Mult iples o f rat ed
cu rren t
Tran sfo rmer impedance
( % o f rat ed VA 1977( 1980 ) 1973
2 5 4 2 2
2 0 5 2 3
16 6 2 4
14 8 2 5

Impedansi sumber t idak pernah no l, t et api dapat saja sangat kecil dibanding impendansi
Transfo rmat o r, t erut ama unt uk indust ri dan Gardu dist ribusi kecil yang t erhubung ke
sist em t enaga besar. Pada ko ndisi ini, pengali merepresent asikan bat asa maksimum
Segera set elah semua bat asan dirubah menjadi 2s en gineer yan g berkecipun g dalam
bidang pro t eksi menemukan bahwa mereka harus menggu nakan kurva pembebanan
lebih t hermis ( Gambar 8- 16a) yang dipublikasikan pada st andar AN SI guna dipakai
sebagi penunt un dalam penerapan Rele pro t eksi pada Transfo rmat o r daya, khususnya
pro t eksi arus lebih pada Transfo rmat o r, dan bat asan 2s yan g merupakan st andar baru ini
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 195
akan membat asi sama sekali pro t eksi arus lebih Transfo rmat o r. Dilema ini memberikan
perubahan kedepan yang dit erima akhir t ahun 1982 dan ringkasan nya diberikan dalam
Tabel 8- 2 dan Gambar 8- 16. Perubahan ini t egabung pada st andar yang ada. Ko mplik
muncul karena C37.91 men ggu nakan suat u kurva kerusakan t ermal, sedangkan
C57.12.0 0 lebih ut ama mement ingkan kerusakan mekanis dari gan gguan langsu ng.
Perubahan t erakhir sepert i pada Gambar 8- 16 yang men cakup kedua bat asan t ermis dan
mekanis.

Tabel 8- 2 : Kat ago ri St an dar Gan ggu an Melalu i beban lebih Tran sfo rmat o r men u ru t AN SI/ IEEE

kVA t ran sformer rat in gs
Cat ego ry
Sin gel- phase Three- phase
Use curve fig
9.16
Frequen t
fault s
Do t t ed curves apply from
I 5 50 0 15 50 0 a -
2 5 t o 50 1, where
t = 12 50 f/ I
2
II 50 1 1667 50 1 50 0 0 a at au a + b 10
70 t o 10 0 % o f m axim u m
po sible fau lt where I
2
t = K
K is det erm in ed at
m axim u m I where t = 2
III 1668 10 .0 0 0 50 0 1 30 .0 0 0 a at au a + c 5
50 t o 10 0 % o f m axim u m
po sible fau lt where I
2
t = K
K is det erm in ed at
m axim u m I where t = 2
IV >10 MVA >30 MVA a + c - Sam e as cat ago ri III

St andar yang baru memiliki 6 kurva; masing- masing sat u unt uk kat ago ri I dan IV, dan
sisanya unt uk kat ago ri III dan IV. Kurva dasar dit unjukkan dengan garis penuh pada
Gambar 8- 16 dan sama unt uk semua kat ago ri dan berlaku unt uk seluruh impedansi
Transfo rmat o r 4%.

Transfo rmat o r akan mampu menahan arus 25 kali rat ing arusnya dalam wakt u 2s.
Mo difikasi kurva dit unjukkan o leh garis put us- put us dan dipakai pada Transfo rmat o r
dengan impedansi t 4%, t ergant ung seberapa sering frekuensi gan gguan yang t erjadi
sepanjang umur Transfo rmat o r. Frekuensi gangguan yan g mu ngkin t erjadi selama
o perasi Transfo rmat o r adalah est imasi yang didasari pengalaman masa lampau dan
keput usan yang dit et apkan. Tunt unan unt uk membant u menent ukan ini diberikan
pada Gambar 8- 17. Dalam kasus yang menimbulkan keraguan, maka digunakan kurva
frekuensi gangguan.

Aplikasi pro t eksi Transfo rmat o r unt uk memenuhi st andar baru ini dapat dilakukan
sebagai berikut :
1. t ent ukan kat ago ri Transfo rmat o r berdasarkan Tabel 8- 2.
2. jika kat ago ri II at au III, t ent ukan apakah po ko k pelayanan kerapkali at au jarang
mengalami gangguan Gambar 8- 17.
3. pilih kurva yang sesuai dari Gambar 8- 16
4. plo t ulang kurva ini pada kert as- lo g- lo g menggunakan ampere berhubungan
dengan Transfo rmat o r. Dapat digunakan arus primer maupun sekunder.
Umumnya, arus sisi sekun der digu nakan u nt uk ko o rdinasi den gan peralat an
sekunder lain.
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 196
5. pilih Fuse dan at au Rele dengan Tap dan t ime dial, demikian set erusnya guna
melindungi Transfo rmat o r dan ko o rdinasi dengan peralat an lain.
Lebih baik dan lengkap akan diilust rasikan dengan co nt o h berikut ini


Gambar 8- 16a: Ku rva gan ggu an lan gsu n g u n t u k Transfo rmat o r kat ago ri I yan g serin g at au
jaran g men galami gan ggu an dan u n t u k kat ago ri II dan III yan g serin g men galami gan ggu an
Gambar 816b dan c : ( b) . u n t u k Tran sfo rmat o r Kat ago ri II serin g men galami gan ggu an dan ;
( c) . u n t u k Kat ago ri II serin g gan ggu an dan IV serin g dan jaran g gan ggu an
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 197


Gambar 8- 17: Acu an yan g disaran kan u n t u k menen t u kan zo n a yan g po t ensial serin g/ jaran g
men galami gan ggu an


8. 21 CON TOH: PROTEKSI ARUS LEBIH PADA TRAN SFORMATOR

Beberapa co nt o h yang diambil dari revisi IEEE C37.91 merupakan penunt un u nt uk
penggunaan Rele pro t eksi pada Transfo rmat o r daya. Penggunaan ini baik dan
merupakan t ipikal aplikasi sist em t ersebut .


8. 21. 1 Sebuah Gedung Indust ri At au Fasilit as Yang Sama Dilyani
Oleh Transfo rmat o r 250 0 kVA ,12 kV/ 480 V Dengan Impedansi 5,75%

Pro t eksi t erdiri dari Fuse t enaga pada sisi primer dan Pemut us Tenaga t egangan rendah
dengan u nit pemut us arus lebih series pada sisi sekunder dan penyulang- penyulang
disisi sekunder. Dari Tabel 8- 2 Transfo rmat or yang akan dipro t eksi t ermasuk dalam
kat ago ri II dan dengan swit chgear met al clad at au met al end clust ed, frekuensi
gangguan dapat dianggap jarang t erjadi, maka digunakan Gambar 8- 16a. Kurva ini
diplo t ulang sepert i dalam Gambar 8- 18, dimana absis adalah arus sekunder ( ampere) .
Translasi ini adalah:

Volt 480 tegangan pada A 3007
0,48 x 3
2500
I I
rated pu
8- 19

dan set erusnya unt uk variasi wakt u:

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 198

Wakt u ( s)
dari Gambar 8.16a
Per- u n it I
dari Gambar 8.16a
Ekivalen I ampere pada
4 80 V ( pu x 30 0 7)
10 0 0 2 .3 6.916
30 0 3.0 9.0 2 1
10 0 4 .0 12 .0 2 8
50 5.0 15.0 35
12 .5 10 .0 30 .0 70
4 .13 17.39 52 .2 96

Unt uk 50 det ik at au kurang

detik 50
5
1250
seperti ,
I
1250
= t
2 2
8- 20

Sepert i dit unjukkan, arus maksimum yang mun gkin dengan sumber infinit adalah:

pu 39 , 17
0,0575
1
= I 8- 21
dimana

detik 4,13
(17,39)
1250
= t
2
8- 22

jadi hal ini adalah t erminasi dari kurva pro t eksi gangguan - melalui - Transfo rmat o r.
Pada sisi primer rat ing arus adalah:

I I
x 12
120,3 A pada tegangan 12 kV
pu rated

2500
3
8-23


Unt uk menghindari o perasi pada saat inrus magnet isasi, peralihan beban jangka pendek,
dan lainnya, namun membut uhkan pro t eksi unt uk ganguan sekunder. Tipikal rat ing
Fuse dipilih berkisar 150 % dari rat ing arus. Jadi 1,5 x 120 ,3 A = 180 ,4 A, sehingga dapat
dipilih Fuse 20 0 A dan karakt erist ik arus - wakt unya dapat dilihat dapat digambarkan,
kurva wakt u pemut usan dan minimum wakt u leleh dapat diperlihat kan. Karena
magnit ud arus pada sisi primer hanya 57,7% dari arus seku nder u nt uk gangguan fasa ke
fasa, kurva Fuse digerakkan kesebelah kanan dengan mengalikan semua harga dengan
1,73 at au (
3
) sebagai t ambahan dari rat io belit an Transfo rmat o r. Hal ini diperlihat kan
pada Gambar 8- 18. Magnit ud gangguan t iga fasa keduanya sama dalam perunit . Hal ini
diperlihat kan pada Gambar 8- 19. Kurva Fuse diperbesar sampai arus- arus t erbesar yang
mungkin t erjadi pada sisi ant ara Fuse dan Transfo rmat o r dimana gangguan t erjadi.
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 199



Gambar 8.18. Pro t eksi arus lebih u n t u k Tran sfo rmat o r kat ago ri II yan g melayan i sist em
seku n der yan g serin g men galami gan ggu an


Sekunder Transfo rmat o r dan penyulang dilengkapi dengan Pemut us Tenaga yang
dilengkapi dengan unit arus lebih direct act ing yang memiliki elemen inst ant aneo us
( sho rt t ime) dan lo ng t ime. Karakt erist iknya berupa sebuah pit a nat ara wakt u
pembersihan t o t al dan wakt u reset , sepert i dit unjukkan pada Gambar 8- 18. Unt uk
co nt o h ini, unit lo n g t ime dari Pemut us Transfo rmat o r diset pick- up pada 1,2 Irat ing
at au 1,2 x 30 0 7 A = 360 8 A pada t egangan 40 8V, dimana wakt unya adalah 450 det ik.
Inst ant aneo us diset pada 2,5Irat ing at au 2,5 x 30 0 7 A = 7518 A pada t egangan 480 V.
Wakt u t unda yang dipilih adalah 0 ,35 det ik guna mendapat kan ko o rdinasi dengan
penyulang. Pemut us pada penyulang diset pada 1,2 x 80 0 = 960 A, unt uk wakt u lo n g
t ime dan sho rt t ime diset pada 6 x 80 0 A = 4 80 0 A pada 480 V, u nt uk lebih det il
dapat dilihat pada bahasan dalam bab berikut nya.

Gambaran pro t eksi yang dit unju kkan dalam Gambar 8- 18 memperlihat kan pro t eksi dan
ko o rdinasi yang baik, kecuali unt uk gangguan ringan disisi sekunder. Kurva Fuse primer
memo t o ng Transfo rmat o r melalui kurva pro t eksi gangguan pada 13 kA gan gguan t iga
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 0
fasa, at au pada 23 kA unt uk gangguan sat u fasa ke t anah. Ini berart i bahwa
Transfo rmat o r t idak dilindungi berdasarkan st andar unt uk gangguan den gan magnit ude
sebesar harga diat as at au kurang o leh Fuse. Gangguan mun gkin saja t erjadi. Bilaman hal
ini t erjadi pada Transfo rmat o r, kerusakanpun t erjadi dan harus lebih buruk lagi sebelum
gangguan dapat dihilangkan dengan Fuse. Bila t erjadi gangguan ant ara dan Pemut us
sisi sekunder, hal ini akan menyebabkan gan gguan lebih besar, art inya kerusakan akan
lebih parah, namun demikian, kemungkinan gan gguan pada areal ini sangat kecil.



Gambar 8- 19: Tinjau an su at u gan ggu an melalui ban k Tran sfo rmat o r delt a wyei
( a) . Gan ggu an t iga fasa; ( b) . gan ggu an fasa fasa; ( c) . gan ggu an fasa t an ah ,
X1 = X 2 = X0


Tipikal dat a indust ri menunjukkan bahwa pada t egangan 480 V, busur akibat gangguan
fasa - t anah mungkin t erjadi serendah- rendahnya 19% dari rat ing harga gangguan. Jadi
unt uk gangguan sekunder maksimu m adalah 52,296 A x arus primer adalah
229A
12
0,480
x 0,577 x 0,19 x 52,296 pada t egangan 12 kV, hanya diat as rat ing 20 0 A,
dan diragukan bahwa Fuse akan memberikan perlindungan sampai t erjadi kebakaran
yang menyebabkan kenaikan arus gangguan. Gangguan seku nder pada bus, harus dapat
dihilangkan o leh Pemut us sekun der Transfo rmat o r dan gan gguan pada pen yulang o leh
Pemut us pada Penyulang dengan cadan gan Pemut us pada Transfo rmat o r. Jadi Fuse
primer dapat menjadi cadangan unt uk gangguan t ersebut bilamana gangguan t ersebut
dapat dirasakan. Mo difikasi kurva gangguan yang sering t erjadi dari Gambar 8- 16b
diperlihat kan pada Gambar 8- 18 sebagai perbandingan. Sebagaimana dapat dilihat ,
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 1
pro t eksi Fuse primer unt uk gan gguan lan gsun g at au ganggua fasa - t anah sekunder
sangat marginal.


8. 21. 2 Suat u Dist ribusi At au Sebuah Fasilt as Dilayani Oleh Transfo rmat o r
115/ 12 kV, Dengan Impedan si 7,8%

Pro t eksi sisi primer menggunakan Fuse. Disisi sekunder t idak dipasang Pemut us Tenaga
dan masing- masing penyulan g dilengkapi dengan Pemut us balik Ot o mat is.
Transfo rmat o r ini t ermasuk Transfo rmat o r kat ago ri III dan bagian sekunder
diperkirakan sering mengalami ganggua. Sama halnya dengan co nt o h pada 8.21.1, kurva
pro t eksi gangguan dit erjemahkan dari Gambar 8- 16a dan c menjadi ampere seku nder
sepert i pada Gambar 8- 20 .

kV 12 tegangan pada A 360,84
12 x 3
7500
I I
rated pu
8- 24

Gangguan seku nder maksimum den gan asu msi bahwa sumber sangat besar bila
dibandingkan dengan Transfo rmat o r; dan diagap infinit ( x = 0 ) , maka:

kV 12 tegangan pada A 4626 = pu 12,82
0,078
1
I I
G 3


8- 25

Pada sisi primer:

kV 115 tegangan pada A 37,65
115 x 3
7500
I I
rated pu
8- 26

dan Fuse 65E A dapat digunakan ( 1,73 x 37,65) . Karakt erist ik Fuse di plo t dalam besaran
sekunder unt uk gan gguan 3 fasa dan besaran sekunder unt uk gangguan 1 fasa ke t anah.

Tit ik- t it ik pada kurva prot eksi melalui Transfo rmat o r adalah:

WAKTU ( S)
DARI GAMBAR 8.16A
PER- UNIT I
DARI GAMBAR 8.16A
EKIVALEN I AMPERE PADA 4 80 V
( PU X 30 0 7)
10 0 0 2 .3 830
30 0 3.0 10 882.5
10 0 4 .0 14 4 3.4
50 5.0
A
180 4 .2
30 .42 6.41
A
2 313
8 6.41
B
2 313
3.2 9 10
B
360 8.4
2 12.82
B
4 626
a. Un t u k gan ggu an jaran g t erjadi, K = 12 50 dari 5.0 sampai 12.82 pu , u nt u k gan ggu an
serin g t erjadi, K = 12 50 dari 5,0 sampai 6,4 1 pu
b. Un t u k gan ggu an serin g t erjadi, K = 32 8,73 dari 6,4 1 sampai 12 ,82 pu .
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 2

Gambar 8- 2 0 : Pro t eksi aru s lebih u n t u k Tran sfo rmat o r Kat ago ri III yan g melayan i sist em
seku n der yan g serin g men galami gan ggu an , den gan primer dilen gkapi Fuse


Kedua penyulang dengan rat ing 280 A dan digunakan Pemut us balik o t o mat is dengan
set ing minimum 560 A. Kurva karakt erist ik unt uk o perasi cepat dan lambat
diperlihat kan pada Gambar 8- 20 . Meski t erdapat ko o rdinasi yang baik ant ara Fuse
primer dan Pemut us Balik sisi sekunder, Transfo rmat o r t et ap saja t idak t erlindungi dari
gangguan fasa t anah seku nder den gan kurva gangguan yan g serin g t erjadi. Demikian
pula dengan kurva gangguan yan g jaran g t erjadi, t idak dapat melindungi pada saat
gangguan t anah dan arus gangguan 360 0 A dan lebih kecil. Kembali pergeseran fasa
mealalui bank menyebabkan penuruan arus gan gguan t anah sebesar 57,7% ( Gambar 8-
19) . Unt uk gangguan yang t erjadi pada Penyulang maka Fuse primer berfungsi sebagai
cadangan, sangat t idak mungkin Fuse ini bero perasi. N amun demikian, Fuse
merupakan pro t eksi ut aman uant uk gangguan- gangguan yang t erjadi pada sisi
sekunder sampai Pemut us balik, sayangnya, gangguan t anah akan jarang t erjadi dengan
arus gangguan diat as 30 0 0 A yang po t ensial unt uk dapat merusak Transfo rmat o r. Hal
ini sangat berisiko dan harus dievaluasi ulang.




Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 3
8. 21. 3 Gardu Dilayani Oleh Transfo rmat o r 12/ 15/ 20 MVA 115/ 12,5 kV
Dengan Impedansi 10 %

Sisi primer memiliki sebuah Pemut us dengan Rele dan Pemut us, t et api t anpa Pemut us
disisi sekunder. Transfo rmat o r ini ju ga t ermasuk Transfo rmat o r kat ago ri III, sehingga
kurva Gambar 8- 16a dan c dapat dipergu nakan , yang dapat diplo t ulang sepert i pada
Gambar 8- 21. Arus gangguan maksimu m dengan sumber infinit ( x = 0 ) adalah:

kV 12,5 tegangan pada A 5542,6 = pu 10
0,1
0 , 1
I I
G 3


8- 27

Dimana:

kV 12,5 tegangan pada A 554,26
12,5 x 3
20000
I I
rated pu
8- 28

Harga K pada Tabel 8- 2 adalah 1250 unt uk gangguan yang jarang t erjadi mulai dari arus
gangguan 5,0 pu sampai maksimum 10 pu, dan K = 20 0 unt uk gangguan yang jarang
t erjadi unt uk range yang sama. Transfo rmat o r memiliki 3 rat ing kVA; yang pert ama
rat ing dengan pendin gin sendiri; kedua den gan minyak dit ekan dan yan g ket iga rat ing
pada keadaan dengan 2 pendingin o il t ekan dan udara, jasi arus maksimum :

kV 115 tegangan pada A 100,4
115 x 3
20000
I
mak
8- 29

dan dipilih CT dengan rat io 10 0 : 5 ( 20 : 1) Rele fasa arus lebih wakt u t erbalik ( 51) diset
pada Tap 8, sehingga pick- up pada 8 x 20 = 120 A primer, ekivalen dengan 1472 A
sekunder. Arus angkat sekunder u nt uk gan gguan sat u fasa ke t anah adalah 1472/ 0 ,577
= 2551 A. Kurva o perasi Rele kemudian dapat diplo t sepert i pada Gambar 8- 21, unt uk
t ime dial t ert ent u. Bank Transfo rmat o r ini t erpro t eksi t erhadapa gangguan t iga fasa
sekunder namun t idak t erhadap gangguan sat u fasa ket anah sekunder. Pada keadaan ini
penggunaan pro t eksi Diferensial san gat disarankan dan dihubungkan u nt uk melindu ngi
bank Transfo rmat o r dan bus sekunder bersama dengan Rele t ekanan/ gas sebagai
pro t eksi ut amanya. Rele arus lebih primer dapat digunakan sebagai cadangan.


8. 22 PROTEKSI THERMAL SEBUAH TRAN SFORMATOR

Pro t eksi t ermal biasanya merupakan salah sat u bagian dari Transfo rmat o r. Umumnya,
pro t eksi ini digunakan unt uk memindai dan alarm, t et api dapat pula unt uk memut us.
Berbagai t ipe indikat o r t ermis dapat digunakan unt uk mendet eksi panas berlebih pada
minyak, t angki, t ermal t ank, kegagalan sist em pendingin, dan sebagainya. Pembahasan
mengenai ini t idak t erdapat dalam buku ini.

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 4

Gambar 8- 2 1: Pro t eksi Arus lebih u n t u k Tran sfo rmat o r kat ago ri III yan g melayan i sist em
seku n der yan g serin g men galami gan ggu an den gan Rele dan PMT pada sirkit primer


8. 23 TEGAN GAN LEBIH PADA TRAN SFORMATOR

Transfo rmat o r t idak bo leh menjadi sasaran perpanjangan t egangan lebih unt uk
mendapat kan efisiensi maksimum, Transfo rmat o r haru s dio perasikan mendekat i lut ut
kurva sat urasinya, jadi pada t egangan diat as 110 % rat ing t egangan, arus eksit asi menjadi
sangat t inggi. Peningkat an t egangan sedikit saja akan menaikkan arus sangat besar. Arus
ini akan merusak Transfo rmat o r bila t idak direduksi. Pro t eksi unt uk melindungi dari
t egangan lebih jarang dipasang langsung, namu n t ermasuk pada peralat an kendali dan
regulasi sist em t enaga. Kecuali pada unit Generat o r- Transfo rmat o r, dimana t egangan
lebih pada unit ini sering t erjadi pada saat o perasi pensaklaran sist em.

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 5

Gambar 8- 2 2: Pro t eksi Transfo rmat o r t an pa Pemu t us Ten aga disisi primer


8. 24 RINGKASAN : TIPE PROTEKSI TRANSFORMATOR

Pro t eksi yang direko men dasikan dan umu m dipakai unt uk melindungi diberikan dalam
ringkasan berikut ini. Aplikasi unt uk berbagai peralat an t elah didiskusikan pada masing-
masing seksi t erdahulu. Harus diingat bahwa ini adalah reko mendasi umum. Pro t eksi
t ambahan at au pro t eksi lebih sederhana dapat pula dipergunakan unt uk kasus t ert ent u,
dan sangat t ergant ung pada ko ndisi set empat sert a pilihan individu.


8. 24. 1 Unit Transfo rmat o r Individual

Ringkasan pro t eksi yang dapat dipakai unt uk unit Transfo rmat o r individual diberikan
dalam Gambar 8- 22. Unt uk bank Transfo rmat o r besar at au pent ing pada kat ago ri ini
dapat pula digunakan pro t eksi Diferensial.

Unt uk bank Transfo rmat o r dengan primer dilengkapi Pemut us ringkasan pro t eksi dapat
dilihat dalam Gambar 8- 23. Rele 151G menjadi pro t eksi cadangan bagi gangguan pada
Bus dan Penyulang dan harus diko o rdinasikan ( ko o rdinasi wakt u) dengan Rele
gangguan t anah pada Penyulang. Sama halnya dengan Rele fasa 51, harus
diko o rdinasikan dengan Rele fasa Penyulang. Rele 51G diset dengan wakt u pemut usan
lebih lama dan diko o rdinasikan dengan Rele 151G.


Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 6
8. 24. 2 Unit Transfo rmat o r Paralel

Pro t eksi unt uk bank Transfo rmat o r dimana sisi sekundernya dihubungkan bersama
melalui sebuah Tie Bus, diberikan dalam Gambar 8- 24. Pengat uran yang dit unjukkan
pada gambar ini adalah pengat uran yan g digu nakan pada sist em besar at au Gardu
beban krit is, khususnya unt uk indust ri. Beban disuplai dari Bus- Bus yang t erpisah yan g
dihubungkan bersama o leh sebuah bus t ime breaker ( 52T) yang mungkin
dio perasikan N C at au N O. Bila dio perasikan N O, maka digunakan pro t eksi Gambar 8-
22 at au 8- 23. Apabila dio perasikan dengan 52T N C, pro t eksi Gambar 8- 22 dan 8- 23
dapat digunakan dengan memo difikasi sisi seku nder sepert i dit unjukkan pada Gambar
8- 24b at au c.


Gambar 8- 2 3: Pro t eksi Tran sfo rmat o r den gan Pemu t u s Ten aga disisi primer


Dengan penut upan Pemut us Tie Bus, dimun gkinkan u nt uk men galihkan aliran daya
ant ara kedua sumber. Unt uk kasusu ini, arus mengalir dari sat u sumber melalui Transfer
bus sekunder dan kembali melalui Transfo rmat o r kedua menuju sumber sekunder.
Umumnya hal ini t idak diinginkan at au diizinkan. Unt uk menghindari o perasi sepert i
ini, Rele arus lebih wakt u - arah ( 67, 67N ) digunakan pada masin g- masin g
Transfo rmat o r. Hubungan garis t unggal diperlihat kan pada Gambar 8- 24b dan c,
diagram t iga kawat dit unjukkan pada Gambar 8- 25. Rele hanya bero perasi bila arus
gangguan mengalir menuju Transfo rmat o r , dan t erjadi pemut usan Pemut us sekunder
( 52- 1 at au 52- 2) . Hal ini juga pent ing unt uk memisahkan sumber gangguan sekun der
unt uk gan gguan yang t erjadi pada bank Transfo rmat o r. Rele fasa ( 67) dapat diset ing
pada Tap rendah at au minimum. Arus beban mengalir melalui Rele namun bukan
dalam arah o perasi Rele. Rat ing Tap rendah ko nt inyu t idak bo leh dilebihi o leh arus
beban maksimum. Set ing wakt u Rele 67 harus diko o rdinasikan den gan pro t eksi pada
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 7
primer Transfo rmat o r . Apabila digunakan, Rele t anah dapat diset pada wakt u dan set ing
minimum, karena ko o rdinasi t idak diperlukan.


Gambar 8- 2 4 : Pro t eksi Tran sfo rmat o r dan Bu s seku nder den gan t ipikal sumber gan da


Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 8
Rele- Rele arus lebih - wakt u - t erbalik ( 51, 51N ) memberikan pro t eksi pada bus dan
pro t eksi cadangan pada sirkit Penyulang. Rele ini berfungsi sebagai inisiat o r unt uk
pemut usan bagi Pemut us 52- 1 ( 52- 2) dan 52T.



Gambar 8- 2 5: Hu bu n gan t iga jarin gan u n t u k pro t eksi cadan gan Diferensial


Cadangan gangguan t anah diberikan o leh Rele arus lebih - wakt u - t erbalik 51G, 151G
dan 251G ( Gambar 8- 24c) . Rele 251G memberikan pro t eksi gan gguan t anah dan
cadangan bagi Rele t anah pada penyulang dan keduanya harus diko o rdinasikan. Rele
akan memut us Tie Bus 52T, karena gangguan t idak bo leh berada baik pada bus at au
pada Penyulang. Apabila gangguan masih ada sedangkan Tie Bus sudah t erbuka, maka
Rele 151G akan membuka Pemut us 52- 1( 52- 2) . Jadi Rele 151G harus diko o rdinasikan
dengan 251G. Bilamana gangguan masih dirasakan, gangguan berada diant ara kedua
Pemut us, yait u pada belit an Transfo rmat o r, at au pada impendasi pent anahan. Rele 51G
diset dengan ko o rdinasi den gan 151G sebagai pert ahanan akhir. Rele akan
memerint ahkan Pemut us pada sisi primer unt uk membuka dan menjadikan
Transfo rmat o r keluar dari pelayanan.

Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 20 9
8. 2 5 REAKTOR

Reakt o r digunakan dalam sist em t enaga pada: ( 1) . Pent anahan net ral guna membat asi
arus gangguan; ( 2) . Dipasang secara seri unt uk mengurangi magnit ud arus gangguan
fasa; ( 3) . Dipasang shunt sebagai ko mpensat o r bagi reakt ansi kapasit if pada Transmisi
kat ago ri panjang dan sirkit kabel t ipe pipe. Penggunaan lain adalah sebagai bank filt er
harmo nisa dan unt uk penekan arus arc seku nder pada Rele kut ub t unggal.

Aplikasi ( 1) akan dibicarakan pada bagian ini. Reakt o r pembat as gangguan fasa ( 2)
digunakan ant ara bus dimana masing- masing memiliki t ingkat hubung singkat t inggi
dan pada Penyulang yang dihubungakan ke Bus dengan kapasit as hubung sin gkat
t inggi. Pada bagian ini akan dibicarakan reakt o r shunt .


8. 25. 1 Tipe Reakt o r

Reakt o r shunt t erdiri dari dua t ipe, yait u : dry dan o il immersed. Tipe Dry, t ersedia
unt uk t egangan t 34,5 kV, biasanya digunakan unt uk t ersier Transfo rmat o r. Reakt o r
t ipe ini umumnya sat u fasa int i udara, ko nst ruksi dengan belit an ekspo sure guna
ko nveksi nat ural baik unt uk penggunaan didalam maupun diluar. Lo kasi reakt o r harus
didalam arela dimana medan magnit int ensit as t inggi t idak menjadi maslah at au bahaya.

Sebagai unit fasa t unggal, gangguan t ipe fasa adalah t idak umum, namun mungkin
t erjadi o leh gangguan simult an pada lebih dari sat u reakt o r at au o leh suat u gangguan
yang menyebar melibat kan Bus. Jadi bahaya ut ama adalah gangguan t anah dan gan ggua
ant ar belit an. Pengat uran umum Reakt o r hubungan t ersier adalah dalam hubun gan
wyei t idak dit anahkan dengan pent anahan sist em o leh met o da resist o r delt a - bro ken

Reakt o r t ipe o il immersed dapat fasa t unggal at aupun t iga fasa dalam t angki, dengan
bent uk sepert i sebuah bank Transfo rmat o r. Tegangan dibat asi, sehingga t ipe ini dapat
digunakan hubungan jaringan. Pent anahan so lid adalah no rmal. Bahaya ut ama adalah
gangguan t anah dan at au gan gguan fasa akibat kegagalan iso lasi, gan gguan bushing,
gangguan ant ar belit an, o li kurang, dan kehilangan pendinginan.


8. 25. 2 Penggunaan Umum Reakt o r

Umumnya, reakt o r shunt dihubungkan langsu ng ( t anpa Pemut us) ke jaringan, at au
apabila saluran dit erminasi t anpa Pemut us ke bank Transfo rmat o r dengan t ersier,
reakt o r mungkin dihubungkan ke t ersier. Reakt o r juga mungkin dihubungkan ke
sebuah Bus. Apabila dihubungkan lan gsung ke jaringan, masalah unit reakt o r
memerlukan deenergise jarin gan den gan cara memut uskan Pemut us lo kal dan
memindahkan seluruh Pemut us jauh yan g dapat mensuplai arus gan gguan. Memut us
saklar memberikan iso lasi. Saklar Pemisah memakai iso lasi manual, at au penggunaan
sirkit swit cher unt uk memut us Reakt o r secara o t o mat is apabila saluran t erbuka. Hal ini
diperlukan unt uk penut up o t o mat ik saluran, namun demikian, o perasi sirkit t anpa
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 210
Reakt o r dapat menimbulkan t egangan lebih. Deenergise sirkit dengan Reakt o r shu nt
menimbulkan suat u o silasi t ransien ant ara elemen reakt if dan kapasit if dengan frekuensi
umumnya lebih rendah dari 60 Hz. Keadaan ini dapat menjadi masalah unt uk beberapa
pro t eksi. Bilamana t erdapat sirkit paralel energise, ko pling ini dapat menimbulkan
t egangan lebih dan at au fero reso nansi.

Reakt o r- reakt o r yang t erhubung ke sirkit t ersier Transfo rmat o r umumnya
menghasilkan level gangguan san gat rendah pada sirkit t egangan t inggi unt uk
gangguan Reakt o r karena impedansi yang relat if t inggi melalui belit an Transfo rmat o r
ke t ersier. Pemut us biasanya digunakan unt uk mengiso lasi unit hubungan t ersier ini.
Kembali, pemut usan Reakt o r dapat menimbulkan t egangan lebih pada saluran dan
sist em lainnya.


8. 25. 3 Pro t eksi Reakt o r

Pada dasarnya pro t eksi Reakt o r sama dengan pro t eksi Transfo rmat o r, dengan ukuran,
t ingkat kevit alan t erhadap sist em, dan perso nalit i memberikan pendekat an berbeda dan
berbagai variasi.

Pada semua aplikasi, pro t eksi diferensial ( 87) adalah pro t eksi yang paling luas
penggunaan nya, dengan Rele fasa, at au bila dimungkinkan, digu nakan Rele arus lebih
t anah sebagai cadangan at au dapat sebagai pro t eksi ut ama. Hubungan diferensial
dit unjukkan pada Gambar 8.10 . Rele arus lebih seket ika ( 50 ) diset diat as arus inrus dan
t ransien, dan Rele arus lebih wakt u t erbalik ( 51) diset dengan berko o rdinasi dengan
peralat an pro t eksi lain yang o vereach. Rele Impedansi diset unt uk melihat ke Reakt o r,
digunakan baik unt uk pro t eksi ut ama maupun cadangan. Semua peralt an pro t eksi haru s
diset unt uk menghindari o perasi pada saat energise arus inrus dan t idak bero perasi pada
frekuensi o silasi nat ural yang dapat t erjadi bilamana ko mpensat o r jaringan deenergise.
Pada kasusu t ert ent u Rele- Rele arus urut an neat if juga digunakan.

Gangguan ant ar belit an menjadi perhat ian ut ama pada suat u Reakt o r sebagaimnan
layaknya sepert i pada Generat o r, Mot o r dan Transfo rmat o r. Gangguan t ersebut dapat
menimbulkan arus yang t idak diharapkan dan merusak areal dimana gangguan t erjadi.
Indikasi yan g dit imbulkan t idak begit u nyat a, sampai gangguan mencapai ko ndisi yan g
melibat kan fasa dan at au t anah. Unt uk Reakt o r t ipe Dry suat u penyeimbang t egangan
menggu nakan Rele t egangan lebih ( 59) membandingkan t egangan net ral ke t anah
yang diuku r dari net ral wyei Reakt o r yan g t idak mendet eksi perubahan impedansi
Reakt o r. Kemungkinan pro t eksi yan g lebih sensit if unt uk mendet eksi gan gguan sangat
sulit adalah Rele mekanis, t et api akumulasi gas at au Rele t ekanan hanya digunakan pada
Reakt o r t ipe o il immersed. Walaupun dimungkinkan, Rele ini harus digunakan sebagai
t ambahan unt uk pro t eksi lainnya.



Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 211
8. 2 6 KAPASITOR

Bank Kapasit o r seri maupun shunt , keduanya dipergunakan dalam sisit em t enaga. Bank
Kapasit o r seri yang dipasang pada jaringan Transmisi t egangan t inggi kat ago ri panjang
digunakan u nt uk men guran gi impedansi t o t al ant ara sumber daya. Hal ini dapat
meningkat kan kemampuan t ransfer daya dan menjaga st abilit as. Pro t eksi unt uk bank
Kapasit o r sepert i ini dapat sama dengan pro t eksi Trnasfo rmat o r. N amun kadang kala,
bank Kapasit o r ini merupakan bagian dari jaringan Transmisi dan dipro t eksi sebagai
bagian dari jaringan.

8. 26. 1 Penggu naan Kapasit o r Shunt

Bank Kapasit o r t erhubung shunt digunakan unt uk men gurangi penggunaan VARs o leh
beban reakt if dan membant u dalam regulasi dan kendali t egangan sisit em t enaga. Bank
Kapasit o r mungkin dihubungkan dimana sist em membut uhkan, t et api umumnya bank
Kapasit o r dipasang pada Gardu Dist ribusi dan pang Penyulang dist ribusi. Keunt ungan
maksimum yan g dapat dipero leh o leh sisit em t enaga didasarkan at as pemilihan lo kasi
pemasangan Kapasit o r yang sedekat mungkin pada beban- beban reakt if.

Kapasit o r shunt adalah Generat o r VAR yang mensuplai laggin g VARs ( kVARs) ke
sist em, yang dapat pula disuplai o leh mesin- mesin berput ar yang diberikan eksit asi
lebih, sepert i ko ndenser sinkro n. Pengaruh ini t elah diperlihat kan dalam Gambar 8.13
( proteksi generator) . Ko ndenser sinkro n memberikan kendali variabel, t et api biaya
yang dibut uhkan relat if t inggi. Bank Kapasit o r t et ap at au dapat dilepas. Kapasit o r t et ap
dihubungkan ke sist em dan t et ap t erhubung un t uk wakt u yang lama. Kapasit o r swit ch
dapat t et ap t erhubung at au dilepas dari sist em, yang t ergant ung pada level t egangan dan
pengat uran t egangan.


8. 26. 2 Pro t eksi Kapasit o r Shunt

Pro t eksi ut ama dari suat u bank Kapasit o r adalah Fuse, yang merupakan bagaina desain
dari Kapasit o r dan dipasang sebagai bagain dari Kapasit o r. Fuse ini sebagai pro t eksi
individual, t et api bila beberapa Fuse t erbuka, kerusakan dapat t erjadi pada Kapasit o r lain.
Oleh karena it u diperlukan t ambahan at au pro t eksi cadangan Fuse fasa at au Rele arus
lebih fasa dan t anah ( 51,51N) ant ara sist em dan bank Kapasit o r memberikan pro t eksi
unt uk gangguan pada bank. Pro t eksi ket idakseimbangan dan gro u nd net ral dit anahkan,
dimana skema yang dipakai t ergant ung bagaimana cara pent anahan dan hubun gan
bank Kapasit o r.

Gro up Kapasit o r dapat dihubungkan dalam hubungan wyei - t unggal baik dit anahkan
maupun t idak dit anahkan, wyei ganda dit anahkan maupun t idak dit anahkan, at au
hubungan delt a. Unt uk hubungan wyei t unggal t idak dit anahkan, dapat digunakan Rele
59G membent ang pada sekunder delt a t erbuka dari VT menghubungkan fasa ke t anah.
Unt uk bank Kapasit o r hubungan wyei ganda t anpa dit anahkan sebuah VT at au CT
Proteksi Transf ormator, Reaktor dan Kapasi tor Shunt
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 212
ant ara kedua net ral dengan sebuah sekunder Rele 59 at au 51 memberikan
keseimbangan pro t eksi yang baik.

Unt uk bank Kapasit o r wyei dit anahkan, sebuah CT net ral dengan suat u resist o r dan Rele
t egangan lebih 59G memberikan pro t eksi t idak seimbang. Skema lainn ya dan diskusi
lebih lengkap diberikan pada IEEE st andar C37.99- 1980 . Rele yang t erhubung ke sirkit
net ral t idak akan sensit if t erhadap harmo nisa ke 3, at au digunakan filt er sebagai
kuant it as harmo nik n o rmal mu ngkin dapat o rde magnit ud sebagaimana kuant it as
gangguan ringan.

Pro ses energise dan deenergise bank Kapasit o r dapat menimbulkan t egangan lebih,
sehingga perhat ian akan hal ini haru s diberikan t erut ama dalam penggunaan Pemut us
at au peralat an pensaklaran lain dan pada Rele dan set ingnya. Transien dengan magnit ud
dan frekuensi t inggi dapat t erjadi apabila dilakukan pensaklaran bank back t o back, yait u
suat u bank Kapasit o r dihubungkan ke sist em didekat bank Kapasit o r yang t elah
energise.




























Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 213
BAB 9
PROTEKSI MOTOR



9. 1 PEN DAHULUAN

Pro t eksi mo t o r sangat variat if dan sedikit berbeda dengan pro t eksi peralat an sist em
t enaga lainnya. Hal ini disebabkan sangat variat ifnya ukuran, jenis dan aplikasi mo t o r.
Pro t eksi sangat t ergant ung dari seberapa berharganya mo t o r t ersebut , yang umumnya
sangat erat kait annya dengan ukuran m o t o r. Pada bab ini akan dikemukakan beberpa
jenis pro t eksi mo t o r dan aplikasinya. Diskusi akan dilakukan unt uk mo t o r- m o t o r yan g
pensaklarannya dilakukan den gan pemut us t enaga, ko nt akt o r at au st art er, dan pro t eksi
yang dipergunakan t erpisah dari peralat an t ersebut dan mo t o r it u sendiri. Art inya
pro t eksi yang akan dibicarakan adalah pro t eksi bagi mo t o r- mo t o r dengan t egangan
masukkan mulai dari 480 sampai 60 0 Vo lt at au lebih. Tidak t ermasuk unt uk mo t o r-
mo t o r yang pro t eksinya merupakan bagian dari mo t o r t ersebut .


9. 2 POTENSI- POTENSI BAHAYA PADA MOTOR

Po t ensi- po t ensi bahaya yang umum diperhat ikan, ant ara lain:
1. Gangguan - phasa dan at au t anah.
2. Kerusakan t ermis akibat :
a. Beban lebih ( ko nt inyu at au int ermit ent )
b. Ro t o r t erkunci ( gagal asut , at au jamming)
3. Ko ndisi t idak no rmal
a. Operasi t idak seimbang
b. Tegangan lebih dan t egangan kurang
c. Pembalikan phasa
d. Penut upan balik kecepat an t inggi ( re- energize sewakt u sedang jalan)
e. Temperat ur yang t idak lazim dan at au lingkungan ( dingin, panas, damp)
f. Urut an pengasut an yang t idak lengkap.

Po t ensi diat as umumnya t erjadi unt uk mo t o r induksi, yang penggunaann ya sangat
umum dan banyak dipakai. Unt uk mo t o r- mo t o r sinkro n, po t ensi bahaya t ambahan
yang mun gkin t erjadi adalah:
4. Kehilangan eksit asi ( kehilangan medan)
5. Operasi diluar sinkro nisasi
6. Kehilangan sinkro nisasi

Po t ensi- po t ensi bahaya ini dapat diklasifikasikan menurut asal, sebagai berikut :
A. Pengaruh Mo t o r
1. Kegagalan iso lasi
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 214
2. Kegagalan bearing
3. Kegagalan mekanis
4. Unt uk mo t o r sinkro n kehilangan medan

B. Pengaruh beban
1. Beban lebih ( dan beban berkurang)
2. Jamming
3. Inersia t inggi ( Wk
2
)

C. Pengaruh Lingku ngan
1. Temperat ur ambein yang t inggi
2. Tingkat ko nt aminasi yang t inggi
3. Temperat ur ambient yang t erlalu dinggin dan damp

D. Pengaru h sumber at au sist em
1. Kegagalan phasa ( phasa t erbuka)
2. Tegangan lebih
3. Tegangan kuran g
4. Pembalikan phasa
5. Ko ndisi kehilangan sinkro nisasi akibat gangguan dari sist em

E. Pengaruh o perasi dan aplikasi
1. Sinkro nisasi, penut upan at au penut upan balik phasa
2. Siklus kerja t inggi
3. Jo gging
4. Pembalikan cepat at au plug


9. 3 KARAKTERISTIK MOTOR YAN G MEMPEN GARUHI PROTEKSI

Karakt erist ik ut ama mo t o r yang t ersedia dan dilibat kan dalam pro t eksi mo t o r ant ara
lain:
1. Kurva arus pengasut an
2. Kurva kapabilit as t ermis, t ermasuk bat asan t ermis ro t o r t erkunci
3. Ko nst ant a K ( Rr2 / Rr1)

Karakt erist ik t ersebut umumnya dipero leh dari pabrikasi mo t o r dan merupakan dasar
dari aplikasi pro t eksi mo t o r. Tipikal kurva karakt erist ik mo t o r diberikan dalam Gambar
9.1. Kurva arus pengasut an maksimum diberikan dalam rat ing t egangan mo t o r. Arus-
arus unt uk t egangan rendah diberikan pada sebelah kiri, dengan lut ut pada level wakt u
t inggi. Bat asan t ermis diberikan dalam t iga kurva yang berbeda, dalam banyak kasu s
kurva ini diberikan bersama sepert i dalam gambar. Bat asan t ermis adalah zo na yang
t idak past i dimana engineer mengingin kan kurva yang lebih khusus.
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 215
1. Po rsi arus t erbesar menunjukkan lama wakt u diizinkannya ro t o r t erku nci.
Wakt u ini adalah lama wakt u ro t o r dapat t et ap berhent i set elah mo t o r energize
sebelum t erjadi kerusakan t ermis pada bat ang ro t o r, ring penahan ro t o r, at au
st at o r, yang merupakan wakt u desain mo t o r t ersebut .. Pada mo t o r- mo t o r besar,
bat asan t ermis ro t o r t erkunci dapat lebih singkat dari wakt u pengasut an, jadi
mo t o r- mo t o r ini harus diasut seket ika unt uk mengurangi kerusakan t ermis.
Kurva ini dibuat berdasarkan arus ro t o r t erkunci pada t egangan penuh t erhadap
arus pengasut an pada t egangan minimum yang diizinkan.
2. Kurva percepat an bat asan t ermis dibaut berdasarkan arus ro t o r t erhadap arus
t o rka breakdo wn mo t o r, yait u pada 75% kecepat an no minal.
3. Kurva bat asan t ermis o perasi at au jalan, merepresent asikan kapasit as beban lebih
mo t o r pada saat o perasi darurat .


Gambar 9- 1: Tipikal karakt erist ik Mo t o r Induksi


9. 4 RAN GKAIAN EKIVALEN MOTOR IN DUKSI

Sebagai alat bant u unt uk analisis pro t eksi dan pro t eksi mo t o r, diagram ekivalen mo t o r
dapat disederhanakan sepert i diberikan dalam Gambar 9- 2. Tipikal harga paramet er
mo t o r dalam per- unit dengan dasar kVA dan kV dasar mo t o r adalah Rs dan Rr = 0 ,0 1
pu, jXm = 0 ,3 pu, dan jX =
"
d
jX = 0 ,15 pu, berdasarkan besaran ini, t ipikal ro t o r t erkunci
at au arus pengasut an adalah:
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 216

pu 67 , 6
15 , 0
1
jX
1
I
"
d
asut



Harga ini adalah harga simet ri, arus pen gasut an unsimet ri jauh lebih besar, sepert i yang
diperlihat kan dalam Gambar 9- 1. Karena reakt ansi shunt jXm relat if lebih besar dari
impedansi lainnya, rangkaian ekivalen pada sisi masukan dapat dikurangi menjadi
sebagai berikut :

Zm 1 = Zm 2 = 0 ,144 82,39
0


At au pada prakt eknya sama dengan
"
d
jX = 0 ,15 pu sepert i umumnya sebuah mo t o r
pada saat st alled ( s = 1,0 0 ) . Bila mo t o r dalam keadaan berput ar ( s = 0 ,0 1) harga
paramet er diat as menjadi:

Zm 1 = 0 ,927 25,87
0
pu dan Zm 2 = 0 ,144 84,19
0
pu

Jadi pada prakt eknya

Zm 1 = 0 ,9 1,0 pu dan Zm2 = 0 ,15 pu



Gambar 9- 2 : Diagram sirkit ekivalen Mo t o r In du ksi
a) . Diagram ekivalen Mo t o r In du ksi; b) . Pen yederhanaan diagram ekivalen Mo t o r In du ksi

Dari ko ndisi st alled sampai berput ar penuh impedansi urut an po sit if dari m o t o r berubah
dari 0 ,15 ke 0 ,9 at au 1,0 pu, sedangkan impedansi urut an negat if t idak mengalami
perubahan at au t et ap sama, yait u sebesar t 0 ,15 pu. Paramet er- paramet er ini berbeda
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 217
unt uk set iap mo t o r, sesuai dengan t ipe dan u kuran mo t o r, t et api t ipikal harga ini dapat
digunakan apabila dat a mo t o r sesungguhnya t idak t ersedia.


9. 5 PROTEKSI MOTOR SECARA UMUM

Pro t eksi sebuah mo t o r dapat t erdiri dari berbagai t ipe, bent uk, desain dan dengan
berbagai ko mbinasi, maupun dalam bent uk paket . Masing- masing memiliki fit ure yang
berbeda yang t idak akan dibicarakan dalam buku ini. Tujuan dasar dan ut ama dari suat u
sist em pro t eksi mo t o r adalah unt uk menjaga mo t o r agar mampu bero perasi diat as
ko ndisi n o rmal t et api t idak melebihi bat asan mekanis dan t ermis pada wakt u beban
lebih dan pada wakt u mo t o r bero perasi t idak no rmal sert a memiliki sensit ivit as pada
saat gangguan. Hal ini dapat dicapai dengan cara berikut :


9. 6 PROTEKSI GAN GGUAN FASA

Rele arus lebih t anpa arah seket ika dapat dipergunakan unt uk pro t eksi mo t o r induksi.
Gangguan yang t erjadi umumnya akan menghasilkan arus gangguan yang lebih besar
dari arus pengasut an mo t o r ro t o r t erkunci, kecuali unt uk gangguan ant ar belit an. Arus
gangguan dapat mengalir diant ara belit an, namun sayangnya hanya sedikit bukt i yan g
dapat dirasakan pada t erminal ro t o r sampai gangguan t ersebut berubah menjadi
gangguan ant ar fasa at au at ara fasa ke t anah.

Mo t o r merupakan peralat an yang t erhubung pada bagian akhir dari suat u sist em t enaga
elekt rik, o leh karena it u rele inst ant aneo us dapat digunakan dan t idak ada masalah
dalam hal ko o rdinasi. Ko nst ribusi mo t o r induksi sebagai sumber gangguan pada sist em
relat if kecil ( 1/
"
d
X + o ffset ) dan akan menghilan g dengan cepat dalam beberapa siklus,
jadi t idak dibut uhkan rele arah. Rat io CT yang dipilih sebagai masukan rele dipilih
sehingga arus maksimum m o t o r disisi sekunder berkisar ant ara 4 dan 5A. Rele fasa
inst ant aneo us harus diset berada diat as arus unsimet ri ro t o r t erkunci namun masih
dibawah arus gangguan minimum. Hal ini dapat dilihat dari persamaan dimana ILR, arus
ro t o r t erkunci adalah:


"
d S 1
LR
X X
1
I
+



dimana X1S adalah reakt ansi ( impedansi) t o t al sist em at au sumber mo t o r. Persamaan ini
sama dengan persamaan arus pen gasut an m o t o r dengan harga impedansi sist em
mendekat i N OL. Arus gangguan pada mo t o r adalah :
S 1
3
X
1
I



Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 218
dan unt uk gangguan ant ar fasa, dengan X1S = X2 S adalah


S 1
3
X
866 , 0
I 866 , 0 I


bila PR adalah rat io ant ara arus angkat rele dan arus ro t o r t erku nci, yait u
LR
PU
R
I
I
P ,
dimana pada umumnya harga PR berkisar ant ara 1,6 sampai 2,0 at au lebih. Jika PF adalah
rat io ant ara arus gangguan minimum den gan arus angkat rele, yait u
PU
F
I
I
P

, dengan
harga nat ara 2 sampai 3 at au lebih besar. Dari persamaan- persamaan diat as dapat dilihat
bahwa:


LR R F PU F
I P P I P I



dan

R F
LR
3
R F
LR
P P 155 , 1
I
I
atau P P
I
I




at au arus gangguan t iga fasa pada mo t o r sebesar 1,1555 PF PR at au lebih besar unt uk
pro t eksi arus lebih inst ant aneo us. Apabila harga minimum yan g direko mendasikan
unt uk PR = 1,6 dan PF = 2, maka arus ganggunan t iga fasa harus 3,7 kali dari arus ro t o r
t erkunci. Bilamana PR = 2,0 dan PF = 3, maka arus ganggu nan t iga fasa paling t idak
sebesar 6,9 kali dari arus ro t o r t erkunci. Lihat kembali persamaan- persamaan diat as,
dimana:


"
d S 1
R F
S 1
3
X X
P P
X
866 , 0
I 866 , 0 I
+





866 , 0 P P
X 866 , 0
X
R F
"
d
S 1



jadi unt uk PR = 1,6 dan PF = 2,0 , maka

"
d
"
d
S 1
X 371 , 0
866 , 0 0 , 2 x 6 , 1
X 866 , 0
X



dan dengan t ipikal harga
"
d
X = 0 ,15 dan X1S

= 0 ,0 56 pu, at au dengan PR = 2,0 ; PF = 3;
dan
"
d
X = 0 ,15, X1S = 0 ,0 25 pu. Besaran ini didefinisikan sebagai impedansi sumber
yang besarnya sepert i diindikasikan at au kurang guna pro t eksi arus lebih inst ant aneo us.
Harga perunit dalam co nt o h diat as semuanya dalam base kVA dan kV dari mo t o r,
dimana:
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 219

) faktordaya )( efisiensi (
) 746 , 0 )( horsepower (
kVA
rated




Pada kebanyakan aplikasi, impedansi sumber X1S unt uk keperluan prakt is merupakan
reakt ansi dari t ransfo rmat o r pemaso k daya bagi mo t o r, dimana bagian primer dari
t ransfo rmat o r t ersebut t erhubung pada sebuah ut ilit as yang besar, yang dapat
dikat ago rikan sebagai sumber daya infinit e. Disamping it u, umumnya sumber dari
t ransfo rmat o r t ersebut juga merupakan sumber bagi beban- beban lain dan dengan
demikian jauh lebih besar dari mo t o r, sehingga reakt ansinya dengan dasar reakt ansi
mo t o r cenderun g kecil. Hal ini dapat diilust rasikan dengan lebih baik dengan
menggu nakan Gambar 6- 18, dimana Transfo rmat o r 250 0 kVA dengan rakt ansi bo co r
5,75% digunakan unt uk mensuplai sebuah penyulang 80 0 A. Misalkan ini adalah
mo t o r, dan beban 80 0 A pada t egangan 480 V sama dengan 665 kVA. Pada 665 kVA,
reakt ansi t ransfo rmat o r menjadi = 5,75 ( 665) / ( 250 0 ) = 1,538 at au 0 ,0 153 pu. Harga ini
jauh lebih rendah dari bat asan reakt ansi sumber yang dibut uhkan agar pro t eksi rele
inst ant aneo us menjadi baik.

Bilamana reko mendasi krit eria penyet elan PR dan PF t idak dapat dipenuhi, at au
diperlukan rele yang lebih sensit if, rele inst ant aneo us ( at au rele kedua) dapat diset el
lebih sensit if bila ada penundaan dari t imer. Hal ini memungkin kan ko mpo nen aru s
asut t idak simet ri menurun. Reko mendasi penyet elan yang disarankan unt uk keadaan
ini adalah PF = 1,1 samapai 1,2 dengan wakt u t unda sebesar 0 ,10 det ik ( set ara dengan 6
cyle pada sist em 60 Hz) . Pada wakt u mo t o r kehilangan t egangan, mo t o r- mo t o r yang
sedang bero perasi dialihkan dari sebuah bus ke bus lainnya, at au bila sist em penut upan
balik berkecepat an t inggi digunakan unt uk m engenergize kembali mo t o r sebelum
t egangan yang t ersisa t urun sampai 33% dari rat ing t egangan mo t o r, maka akan t erjadi
t ransien yang sangat t inggi. Arus ini akan sangat berbahaya bagi mo t o r kecuali mo t o r
t elah didesain khusus unt uk it u. At ensi khusus perlu dilakukan agar penyet elan rele
diat as ko ndisi t ransien ini bila ko ndisi ini memang diizinkan.

Bilamana krit eria yang dikemukakan diat as t idak menghasilkan margi yan g cu kup
ant ara arus gangguan dan arus ro t o r t erkunci, dapat digunakan pro t eksi diferensial.


9. 7 PROTEKSI DIFEREN SIAL

Pro t eksi diferensial lebih disukai, namun pro t eksi jenis ini t idak dapat diperguna kan
unt uk semua mo t o r. Unt uk mo t o r- mo t o r yang t idak memiliki kedua ujung belit an,
maka rele ini t idak dapat digunakan. Bila kedua belit an t ersedia, keunggulan diferensial
dalam sensit ivit as, kecepat an, dan sekurit as dilalukan melalui suat u ko ndukt o r belit an
melalui suat u CT t o ro idal sepert i diperlihat kan dalam Gambar 9- 3a. CT jenis ini t elah
dijelaskan dalam bab sebelumnya dan juga dipergunakan u nt uk generat o r- generat o r
kecil sepert i yang dikemu kakan dalam bab 5. Tipikal maksimum bagian t erbuka at au
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 220
jendela pada CT ini dengan ukuran diamet er sebesar 8 inchi. Dengan rat io t et ap 50 :5
dan rele arus lebih inst ant aneo us sensit if dapat dihasilkan arus angkat primer sebesar 5A.
Harga ini adalah sebuah diferensial keseimbangan fluk dari beban dan magnit ude arus
pengasut an dan den gan han ya sat u CT per fasa, maka unjuk kerja keco co kan CT t idak
muncul. Pro t eksi t anah dan fasa int ernal dipero leh ant ara Mo t o r sampai kelo kasi CT.
Pro t eksi lain dibut uhkan unt uk menghubungkan ke Pemut us Tenaga, St art er, dan
set erusnya. Kelemahannya adalah ket erbat asan yang disebabkan ukuran jendela CT.



Gambar 9- 3: Pro t eksi Diferensial pada Mo t o r diman a lead n et ral t ersedia
a) . den gan rin g t o ro idal dan rele arus lebih seket ika; b) . den gan CT ko n vensio n al dan rele
Diferen sial


Rele Diferensial ko nvensio nal dengan CT pada net ral dan lead keluaran harus digunakan
bilamanan t ipe To ro idal t idak dapat dipergunakan. Biasanya, dua set CT dengan t ipe dan
rat io sama, sehingga rele Diferensial dengan dua belit an penahan ( 87) digunakan,
sepert i diperlihat kan dalam Gambar 9- 3b. Dengan rat io CT sama, maka arus sekunder
yang melalui belit an penahan rele ( R) secara esensi sama unt uk semua gangguan
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 221
ekst ernal dan beban, dan arus o perasi ( OP) sangat kecil at au mendekat i N o l. Unt uk
gangguan Mo t o r ant ara kedua set CT, seluruh arus- arus gangguan mengalir melalui
belit an o perasi ( OP) unt uk mendapat kan sensit ivit as t inggi unt uk gangguan fasa
maupun t anah, CT sisi jaringan harus sepert i pada gambar sehingga zo na diferensial
t ermasuk Pemut us dan lead t erhubung sebagaimana Mo t o r.


9. 8 PROTEKSI GAN GGUAN TAN AH

Sebagaimana pada prot eksi Fasa, rele arus lebih seket ika digunakan pula unt uk pro t eksi
gangguan t anah. Apabila dimungkinkan, met o da yang disediakan adalah menggunakan
CT t ipe Ring, dengan ket iga ko ndukt o r Mo t o r dilewat kan melalui jendela CT. Hal ini
memberikan suat u penjumlahan magnet ik dari ket iga arus Fasa sehingga keluaran
sekunder CT ke rele adalah arus urut an no l ( 3I0 ) . Hal ini diperlihat kan pada Gambar 9-
4a. Rat io CT, umumnya 50 :5, t idak t ergant ung ukuran Mo t o r, sedangkan CT
ko nvensio nal pada Fasa harus seukuran beban Mo t o r. Keunt ungannya adalah
sensit ivit as t inggi dan sekurit as baik, t et api dibat asi o leh ukuran ko ndu kt o r yan g dapat
dilewat kan pada jendela CT. Sepert i disebut pada seksi sebelumnya, t ipikal sensit ivit as
adalah 5A primer.


Gambar 9- 4 : Pro t eksi gan ggu an t an ah pada Mo t o r ; ( a) . den gan CT t ipe Rin g dan;
( b) . CT t ipe ko n ven sio n al


Unt uk Mo t o r dan ko ndukt o r u kuran besar, rele Tanah pada net ral harus digunakan
sepert i pada Gambar 9- 4b. Meskipun beban mempengaruhi rat io CT, rele Tanah dapat
diset el lebih sensit if dan baik dibawah beban Mo t o r. Rele 50 N , harus diset diat as set iap
kesalahan arus residual yang dapat dit imbulkan karean unjuk kerja CT yang t idak sam a
pada arus asut o fset dengan perbedaan t inggi. Hal ini sukar diket ahui, t et api
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 222
kemungkinan mun culnya masalah sangat kecil bilamana burden fasa seimbang dan
t egangan CT yang disebabkan o leh arus pengasut an maksimum t idak lebih dari 78%
t egangan klas akurasi CT. Tap rele 50 N, rendah dan ko nsekuen sinya burden menjadi
t inggi, dapat dibant u dengan memaksa ket iga CT unt uk jenuh berulang kali. Tahanan
pada sirkit net ral dapat pula membant u. Hal ini menaikkan burdsen, namun t idak bo leh
t erlalu t inggi sehingga men guran gi sensit ivit as rele. Hal t erakhir ini dapat diperbaikik
selama pro ses st art - up. Penundaan wakt u harus digunakan sampai arus o fset
hilang/ menuru n, t et api penundaan ini put us unt uk gangguan akt ual.

Dengan pembat asan gangguan t anah, sepert i umumnya pada sist em pensuplai Mot o r,
arus gangguan t anah akan lebih kecil dari gangguan fasa. Jika digunakan pent anahan
resist ansi t inggi, arus gangguan t anah dalam o rde 1 10 A. Pro t eksi pada Gambar 9.4b
dapat memberikan sensit ivit as yang dapat dit erima unt uk sist em t ersebut bilamana arus
gangguan t anah lebih besar dari 5A. Sensit ivit as yang lebih baik dapat dicapai bila
digunakan rele Pengali ( 32N ) . Tipe ini t elah dijelaskan pada bagian sebelumnya. Unt uk
penggunaan disini, sebuah rele den gan suat u ko il arus dan ko il t egangan dapat dipakai.
Rele bero perasi pada perkalian t egangan dan arus, dan unt uk penggu naan pada sist em
pent anahan resist ansi t inggi, t o rka maksim u m t erjadi bilamana arus mendahului
t egangan sebesar 45
0
. Ko il arus dihubungkan pada net ral CT pada t empat rele 50 N
dalam Gambar 9- 4b, dan ko il t egangan menyeberangi resist o r pent anahan dan paralel
dengan rele 59G pada gambar sebelumnya. Po larit as dimana rele akan bero perasi
bilamana arus urut an no l mengalir menuju Mo t o r, unt uk sist em pent anahan t inggi,
arus pada t ahanan pent anahan akan kecil, t et api t egangan urut an no l menjadi besar.
Tipikal pick- up unt uk rele arus lebih pengali adalah berkisar 7 8 mA, dengan t egangan
69,5V. Harga ini jauh dibawah level gangguan t anah, yait u 1 10 A.


9. 9 PROTEKSI THERMAL DAN ROTOR TERKUN CI

Pro t eksi ini melibat kan aplikasi rele yang sedekat mungkin co co k dengan kurva t ermal
dan ro t o r t erkunci Mo t o r pada Gambar 9- 1. Sekali lagi perlu diingat bahwa kurva t ermal
Mo t o r adalah pendekat an dari represent asi zo na kerusakan t ermis unt uk o perasi umum
at au no rmal. Rele harus bero perasi sebelum bat asan ini t ercapai at au t erlampaui. Selama
ini keinginan t ersebut dicapai dengan men ggu n akan rele t ermis unt uk pro t eksi t ermis,
dan rele arus lebih wakt u t erbalik unt uk pro t eksi ro t o r t erkunci. Pro t eksi ini didesain
dan dikemas dalam berbagai cara, memberikan pro t eksi yang baik unt uk kebanyakan
Mo t o r. Tipikal aplikasi unt uk karakt erist ik Mo t o r yang diperlihat kan pada Gambar 9- 1
diilust rasikan pada Gambar 9- 5.

Rele Termis t ersedia dalam beberapa bent uk:
1. Tipe Replica dimana karakt erist ik pemanasan Mo t o r dekat dengan elemen
bimet al diant ara unit arus pemanas. Rele ini bero perasi hanya karena arus saja.
2. Operasi rele berasal dari ko il eksplo rasi, biasanya berupa Tahanan Pengindera
Temperat ur at au dalam bahasa aslinya disingkat RTD, disat ukan pada belit an
Mo t o r. Rele bero perasi hanya karena t emperat ur belit an dan pengindera
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 223
dilet akkan pada Mo t o r o leh desainer pada t it ik panas yang paling mu ngkin at au
pada areal yang berbahaya. Hal ini biasanya dipakai pada Mo t o r- Mo t o r 250 HP
keat as, dan mungkin pula t idak t erpasang pada Mo t o r ukuran t ert ent u, kecuali
dinyat akan.
3. Rele yang bero perasi berdasarkan ko mbinasi dari arus dan t emperat ur. Kehat i-
hat ian harus dilakukan guna meyakinkan bahwa t idak t erdapat ko ndisi yang
mungkin t idak t erlingkupi. Arus dan t emperat ur t inggi dapat menunjukkan
adanya masalah, t et api arus t inggi t anpa pengu kuran t emperat ur t inggi mungkin
muncul pada pemanasan lebih dari ro t o r, bant alan, masalah mesin penggerak,
dan hubungan pada pen gendali. Unt uk ko mbinasi ini memberikan bat asan pada
pro t eksi.


Gambar 9- 5: Tipikal pro t eksi beban lebih, ro t o r t erkun ci, dan gan ggu an pada Mo t o r


Perbandingan ant ara kurva pengasut an Mo t o r dan kurva rele arus lebih wakt u t erbalik
yang diplo t bersama sepert i diperlihat kan pada Gambar 9- 5, dapat memberikan
info rmasi yang salah. Hal ini dapat t erjadi dimana ruang ant ara arus pengasut an dan
bat as arus ro t o r t erkunci sangat sempit , yan g umum t erdapat pada Mo t o r besar.
Seringkali pada kasus ini, kelihat annya mungkin unt uk menyet el rele arus lebih
sehingga karakt erist iknya diat as kurva pengasu t an Mo t o r dan dibawah bat asan arus
ro t o r t erkunci, hanya unt uk menemukan pada pelayan bahwa rele arus lebih bero perasi
pada saat pengasut an no rmal dilakukan.

Sesungguhnya, kurva pen gasut an Mo t o r dan o perasi rele adalah dua kurva karakt erist ik
yang sedikit berbeda. Kurva pengasut an Mo t o r adalah penggambaran dari perubahan
arus t erhadap wakt u mulai dari saat ro t o r t erkunci at au ko ndisi pengasut an sampai arus
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 224
o perasi Mo t o r. Karakt erist ik o perasi rele menyat akan wakt u o perasi unt uk berbagai
harga arus ko nst an. Dengan rele arus lebih di set el pada 1,5 kali arus ro t o r t erkunci at au
lebih kecil, yang akan mulai bero perasi pada wakt u Mo t o r energise, kecuali aru s
pengasut an t urun dibawah arus pick- up sebelum wakt u kerja rele t ercapai, hal ini akan
menginisiasi Pemut usan yan g t idak diinginkan. Wakt u o perasi rele t idak langsun g
t ersedia dari karakt erist iknya. Hal ini merupakan perhit ungan yan g ko mplek, namu n
pabrik t elah mengembangkan krit eria bagi penggunaan rele individu.


9. 10 PROTEKSI ROTOR TERKUN CI PADA MOTOR MOTOR BESAR

Sepert i t elah disebut kan, arus ro t o r t erkunci yang diizinkan dapat sangat dekat at au
lebih kecil dari arus pengasut an Mo t o r. Secara umum, hal ini t erjadi unt uk Mo t o r-
Mo t o r mo dern ukuran besar. Pro t eksi unt uk keadaan ini dapat digunakan saklar
kecepat an no l yang dibangun sebagai bagian dari Mo t o r. Apabila Mo t o r t idak dapat
t erakselerasi meski Mo t o r t elah energise. Unt uk membuka at au mengo perasikan saklar
unt uk t ujuan t ersebut , suplai harus t erbuka. Masalah yang harus diperhat ikan dalam
penggunaan pro t eksi t ipe ini adalah Mo t o r t idak dapat diasut dan t erkunci paling t idak
sampai kecepat an beban penuh, dan kesulit an dalam pengujian dan pemeliharaan.

Gambar 9- 6: Pro t eksi ro t o r t erku nci den gan rele Jarak ( 2 1) dan pewakt u


Pro t eksi unt uk ro t o r t erku nci dapat dicapai den gan menerapkan rele Jarak sepert i yan g
t elah diperlihat kan dalam bab sebelumnya. Rele diset unt uk dapat melihat kedalam
Mo t o r sepert i yang dit unjukkan pada Gambar 9- 6. Rat io t egangan sist em dan arus asut
adalah impedansi, yang dapat dit ent ukan dan diplo t sebagai sebuah vekt o r dalam
diagram R X. Dari harga specifik pada saat awal pengasut an kemudian berubah
membesar baik dalam magnit ud maupun sudut fasa sesuai dengan akselerasi Mo t o r.
Rele Jarak ( 21) diset sehingga lin gkaran o perasi MHO melingkupi vekt o r impedansi
ro t o r t erkunci. Bilamana Mo t o r energise, den gan menut up Pemut us ( 52) , rele Jarak
bero perasi dan pewakt u ( 62) energise. Dengan m enggunakan sebuah pewakt u ac, variasi
wakt u dengan t egangan dapat dit ent ukan unt uk menet apkan lamanya wakt u ro t o r
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 225
t erkunci yang dapat diizinkan pada wakt u t egangan rendah. Arus pengasut an yang besar
dapat menyebabkan t egangan jat uh sement ara selama prio da pengasut an.

Jika pengasut an berhasil, faso r Impedansi bergerak keluar dari lingkaran o perasi rele
Jarak ( 21) sebelum ko nt ak pewkt u menut up. Jika pengasut an t idak su kses, vekt o r
impedansi t et ap berada didalam lingkaran dan bilamana pewakt u ( 62) bekerja, maka
inisiasi pemut usan mulai. Penyet elan pewakt u dit ent ukan berdasarkan kurva wakt u
ro t o r t erkunci yang diizinkan dari t egangan pen uh sampai 75 at au 80 % t egangan beban
penuh. Pro t eksi ini t idak mencakup kegagalan akselerasi unt uk mencapai kecepat an
penuh, at au unt uk melepas dengan ro t asi ko nt inyu.


9. 11 MOTOR DAN KETIDAK SEIMBAN GAN SISTEM

Penyebab umum ket idak seimbangan pada Mo t o r 3 fasa dikarenakan o leh kehilan gan
fasa akibat Fuse t erbuka, ko nekt o r at au ko ndukt o r t erbuka. Ket idakseimbangan pada
beban dapat pula mempengaruhi Mo t o r. Ket idak seimbangan t egangan sebesar 3,5%
akan mengakibat kan kenaikan 25% at au lebih t emperat ur Mo t o r. Hal ini t erut ama
akibat arus urut an negat if yang dihasilkan o leh ket idak seimbangan. Arus ini
menimbulkan fluks pada celah udara Mot o r, berput ar berlawanan arah put aran Mo t o r
sesungguhnya. Efek kulit meyebabkan resist ansi t inggi, dan sepert i disebut diat as,
impedansi urut an negat if merupakan hal pent in g pada harga ro t o r t erku nci. Jadi arus
t inggi akan menimbulkan pengaruh pemanasan.

To t al pemanasan pada Mo t o r sebanding dengan: t I K t I
2
2
2
1
+
Dimana I1 dan I2 adalah arus- arus urut an po sit if dan negat if, dan K adalah:


2
LR r1
r2
I
175
adalah f konservati estimasi
R
R
K


Dimana Rr1 dan Rr2 adalah resist ansi urut an po sit if dan negat if dari ro t o r Mot o r. ILR
arus ro t o r t erkunci dalam pu. Persamaan diat as menunjukkan bahwa ko mpo nen urut an
negat if mempengaruhi kenaikan t emperat ur Mot o r.

Jaringan ko mpo nen simet ris unt uk sat u fasa t erbuka dit unjukkan pada Gambar 9- 7. Ini
adalah sirkit yang merupakan penyederhanaan dari suat u sist em yang direpresent asikan
dengan sebuah sumber den gan impedan sinya ZS1 = ZS2. Unt uk kasus- kasus spesifik,
sirkit ini dapat diekspansi unt uk menunjukkan det ail yang ada dari sumber at au beban.
Transfo rmat o r dapat direpresent asikan dengan reakt ansinya, XTR at au XT. Unt uk
keadaan fasa t erbuka ant ara Transfo rmat o r dan Mo t o r, XT harus dit ambahkan secara
seri dengan impedansi sumber sebagai harga ekivalen ZS1 dan ZS2. Bilamana fasa
t erbuka t erjadi diant ara sisit em dan Transfo rmat o r, XT t idak t ermasuk dalam ekivalen
sumber, t et api dit ambahkan secara seri dengan impedansi Mo t o r. Sirkit ini unt uk Mo t o r
yang t idak dit anahkan, sepert i umumnya dipakai. Jaringan urut an n o l t idak t erlibat
pada keadaan sat u fasa t erbuka, kecuali kedua sisi sist em maupun Mo t o r dit anahkan.
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 226


Gambar 9- 7: Represen t asi ko mpo n en simet ris yan g disederhan akan pada fasa t erbu ka


Dist ribusi arus unt uk fasa t erbuka menggunakan jaringan pada Gambar 9- 7 yang
dit unjukkan dalam Gambar 9- 8 unt uk beberapa kasus. Tipikal harga perunit impedansi
berdasarkan dasar kVA Mo t o r dan adalah:

pu 90 0,05 Z Z
0
S2 S1




statik beban untuk pu 15 1,0 Z Z
0
L2 L1




25 0,90 Z
0
M2




85 0,15 Z
0
M2



Sudut ini dimasukkan pada perhit ungan, t et api unt uk penyederhanaan diasumsikan
seluruh impedansi pada sudut sama dan cenderung t idak berubah. Dengan seluruh harga
pada 90 0 , co nt o h ; IS1 = 0 ,87 t idak 0 ,96 pu sepert i dalam Gambar 9- 8a. Dari arus- arus
urut an ini, dapat dilihat bahwa pada kedua sisi t erbuka Ia = I1 + ( - I2) = 0 . Arus fasa lain
adalah:

1 2 1
2
b
I 3 j - I a I a I +


dimana I1 = - I2


1 2
2
1 c
I 3 j I a I a I + +


demikian pula pada Gambar 9- 8a, arus Ib dan Ic adalah 1,66 pu. Dapat dilihat bahwa fasa
t erbuka hanya menyebabkan kenaikan arus fasa yang relat if kecil, sehingga rele arus
lebih t idak mampu mendet eksi fasa t erbuka.
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 227

Gambar 9- 8: Aru s u ru t an po sit if dan n egat if pada ko n disi fasa t erbu ka den gan dan t an pa beban
st at is : ( a) . Fasa t erbu ka t an pa beban st at is; ( b) . Arus u ru t an den gan beban
st at is pada bu s Mo t o r pada keadaan fasa t erbu ka disisi sist em Mo t o r dan
beban ; ( c) . Aru s u ru t an den gan beban st at is pada bus Mo t o r, pada
keadaan fasa t erbu ka an t ara Mo t o r dan beban


Apabila beban st at ik t erhubung paralel dengan Mo t o r sepert i dalam Gambar 9- 7, dan
dihit ung dalam co nt o h pada Gambar 9- 8b. Put aran Mo t o r yang masih berkelanjut an
akan membangkit kan t egangan pada fasa t erbuka. Hal ini sama saja dengan
memberikan t egangan secara ko nt inyu pada beban yang t erhubung pada fasa t ersebut .
Daya yang dialihkan sepanjang celah udara Mo t o r akan mengurangi daya shft Mo t o r
sehingga t erjadi hent akan. Sat u co nt o h memperlihat kan bahwa Mo t o r akan menarik
20 % dari rat ing beban dengan beban st at is t iga kali lebih besar dari beban Mo t o r at au
pada 50 % dari rat ing beban dengan beban st at is sama dengan beban Mo t o r. Dengan
kat a lain, rendahnya impedansi urut an negat if Mo t o r berart i bahwa bagian t erbesar dari
arus urut an negat if mengalir ke Mot o r yang mengakibat kan kenaikan pemanasan.
Dist ribusi ini dit unjukkan dalam Gambar 9- 8b. Arus urut an negat if Mo t o r dapat saja
lebih rendah, sepert i dalam Gambar 9- 8c, hanya apabila beban st at is adalah beban sat u
fasa.

Hal mendasar dalam fasa t erbuka adalah bahwa arus urut an po sit if dan negat if sama dan
berlawanan sepanjang arus urut an no l t idak t erlibat . Hal ini sangat berguna unt uk
mengembangkan/ membangkit kan arus t idak seimbang melalui bank Transfo rmat o r
hubungan delt a wyei. Hal t ersebut , sepert i halnya perhit ungan pada Gambar 9.8
adalah unt uk ko ndisi sesaat set elah fasa t erbuka dan sebelum Mo t o r melambat , st all,
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 228
at au impedansi int ernal berubah, dan set erusnya. Arus unt uk keadaan fasa t erbuka pada
sisi primer Transfo rmat o r wyei delt a yang mensuplai Mo t o r sepert i dit unjukkan pada
Gambar 9- 9 dan dalam Gambar 9- 10 keadaan fasa t erbuka pada sekunder sisi Mot o r.
Bilamana arus urut an po sit if t ergeser 30 0 dalam arah melalui bank, arus urut an negat if
t ergeser 30 0 dalam arah yang berlawanan.



Gambar 9- 9: Arus t idak seimban g men galir melalui ban k Tran sfo rmat o r delt a wyei men u ju
Mo t o r pada ko n disi salah sat u fasa t erbu ka disisi sumber


Arah arus yang diperlihat kan pada sirkit diagram unt uk kedua gambar benar bagi
diagram faso r. Tanpa spesifikasi faso r diagram t ersebut , arus IB pada Gambar 9- 9 dapat
dit unjukkan menuju Mo t o r sebagaimana diperlihat kan., t et api pada 3 Magnit udnya
dengan IC pada 3 mengalir menuju su mber. Ini adalah aliran yang sebenarnya, yan g
dit unjukkan pada Gambar 9- 9 o leh diagram faso r, memperlihat kan bahwa IB mengalir
sepert i diperlihat kan, t et api IC berbeda 180
0
dengan IB, keduanya dalam
3 Magnit udnya. Jika IB dan IC dit unjukkan dalam arah berlawanan dalam sirkit
diagram, faso r sebenarnya akan menunjukkan IB dan IC sefasa. Arus- arus t ersebut dapat
dit acer melalui Transfo rmat o r dengan menunju kkan ket idakseimbangan, ingat bahwa
1.0 pu arus dibelit an wyei akan muncul sebagai arus 0 ,577 pu pada belit an delt a.

Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 229


Gambar 9.10 . Arus t idak seimban g men galir melalu i ban k Tran sfo rmat o r delt a wyei pada
ko n disi fasa A t erbu ka disidi Mo t o r at au seku n der


Tegangan urut an negat if bermanfaat pada prot eksi Mo t o r. Dari definisi dasar bahwa
sanya V2 = - I2 Z2. Dengan acuan co nt o h pada Gambar 9- 8,

unt uk kasus a V2 = 0 ,96 x 0 ,15 = 0 ,144 pu
unt uk kasus b V2 = 1,51 x 0 ,15 = 0 ,277 pu
unt uk kasus c V2 = 0 ,12 x 0 ,15 = 0 ,0 18 pu

Hal ini menunjukkan bahwa V2 berguna unt uk pro t eksi kehilangan fasa bilamana fasa
t erbuka t erjadi ant ara sumber dan t it ik dimana V2 diukur, t et api umumnya t egangan
sangat kecil bila fasa t erbuka t erjadi ant ara t it ik pengukuran V2 dan Mo t o r. Generalisasi
ini didasarkan pada relat if rendahnya impedansi sumber dibandingkan den gan
impendasi Mo t o r, sebagaimana kasus- kasus yang t erjadi. V2 pada Gambar 9- 8a, bila
diukur pada sisi sumber unt uk gangguan fasa t erbuka do wnst ream adalah 0 ,96 x 0 ,0 5 =
0 ,0 48 pu dibandingkan t erhadap fasa t erbuka upst ream sebesar 0 ,144 pu.


Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 230
9. 12 KETIDAK SEIMBAN GAN DAN PROTEKSI PERUBAHAN FASA

Sebagaimana disarankan pada subbagian 9- 11, t erdapat berbagai cara yang mungkin
unt uk mendet eksi ket idak seimbangan sist em, yait u:

1. perbedaan magnit ude ant ara arus- arus ket iga fasa.
2. Munculnyua arus urut an negat if dan
3. Keberadaan t egangan urut an negat if

Ket iga hal diat as digunakan unt uk pro t eksi. Tipe Penimbang arus ( 46) membanding
kan magnit ud arus ket iga fasa dan bero perasi bilamana salah sat u arus fasa berbeda
cukup signifikan dibandingkan dengan arus fasa yang lain nya. Ini merupakan pro t eksi
yang paling efekt if unt uk penyulang- penyulang yang mensuplai Mo t o r individu guna
mendet eksi t erbukanya at au t erjadinya ket idak seimbangan. Bila beban lain disuplai
o leh sirkit dimana pro t eksi ini t erpasang, kehat i- hat ian harus dilakukan unt uk
menjamin bahwa set iap t erjadi fasa t erbuka at au ket idak seimbangan t idak t erjadi
kamufalase o leh arus seimbanga yang mensuplai beban. Sat u rele harus dit erapkan
unt uk set iap beban at au penyulang. Tipikal sensit ivit as minimum dari rele adalah
berkisar 1A pada sat u fasa dengan arus = no l pada fasa lain at au 1,5 pu pada sat u fasa dan
1.0 pu pada fasa lainnya.

Tipe lain dari rele ( 46) bereaksi t erhadap arus urut an negat if, rele dilengkapi elemen
seket ika dengan t ambahan wakt u t unda t et ap, at au rele mengikut i karakt erist ik
K t I
2
2


sepert i digunakan pada pro t eksi Generat o r. Tipe ini t idak banyak dipakai dalam pro t eksi
Mo t o r. Tipe t egangan u rut an negat if ( 4 7) direko mendasikan u nt uk dipakai
mendet eksi ket idak seimbangan fasa dan perubahan fasa pada suplai at au sirkit sumber.
Tipikal sensit ivit as o perasi adalah sekit ar 0 ,0 5 pu V2 . Salah sat u rele harus dihubungkan
melalui VT ( hubungan wyei wyei at au delt a t erbuka) menuju masing- masing
sekunder bus suplai sepert i dit unjukkan pada Gambar 9- 11.

Penurunan t egangan V2 umum nya t erjadi pada fasa t erbuka pada sumber at au upst ream
sist em. Rele harusnya t idak diaplikasikan unt uk fasa t erbuka do wnst ream at au ant ara
rele dan Mo t o r, sepert i dit unjukkan, harga t egangan V2 mungkin cukup kecil. Apabila
fasa berubah, 1 pu V1 menjadi 1 pu V2 sehingga rele urut an negat if bereaksi t erhadap
adanya perubahan fasa. Rele fasa t erbalik juga t ersedia unt uk Mo t o r kecil. Urut an fasa
no rmal menghasilkan penahan at au t o rka pembuka ko nt ak, sement ara perubahan
urut an fasa mengakibat kan o perasi at au t o rka penut up ko nt ak.


9. 13 PROTEKSI TEGAN GAN KURAN G

Tegangan kurang pada Mo t o r dapat berakibat meningkat kan arus dan kegagaln
pengasut an unt uk mencapai rat ing kecepat an Mo t o r at au kehilangan kecepat an dan
mungkin berhent i berulang, pro t eksi t egangan kurang t ermasuk bagian dari peralat an
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 231
St art er Mo t o r, t et api sebuah rele Tegangan kurang wakt u t erbalik ( 27)
direko mendasikan u nt uk digunakan guna mem ut us ko ndisi ini agar t idak berlangsung
lama dan sebagai rele cadangan.



Gambar 9- 11: Reko men dasi t ipikal pro t eksi Mo t o r : ( a) u n t u k Mo t o r t an palead n et ral dan
t ersedia RTD; ( b) . u n t u k Mo t o r yan g memiliki lead net ral dan t ersedia RTD


9. 14 PEN UTUP BALIK DAN BUS PEN GALIH

Apabila Mo t o r, baik Induksi maupun Sinkro n, reenergise sebelum Mo t o r benar- benar
berhent i berput ar, maka dapat t erjadi t o rka t ransien yang t inggi dengan kemun gkinan
rusak dan at au merusak. Hal ini t erjadi bilamana dilakukan pengalihan sumber masukan
Mo t o r dari sebuah penyulang yan g mengalami kehilangan t egangan ke bus bant u yan g
Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 232
memiliki t egangan no rmal. Pengalihan dibut uhkan unt uk menjaga agar pelayanan vit al
ke suplai bant u pusat pembangkit besar at au pro ses indust ri krit is.
Co nt o h lain adalah pabrik Indust ri disuplai o leh penghubun g ut ilit as t unggal.
Masalahnya pada ut ilit as akan memerlukan pembukaan penghubung. Pengalaman
menunjukkan bahwa kebanyakan gangguan pada ut ilit as adalah t ransien alami yang
disebabkan o leh induksi pet ir, angin, dan at au ko nt ak dengan dahan/ po ho n. Ut ilit as
akan khawat ir unt uk mengembalikan pelayanan ke ko nsu men, umumnya digunakan
penut up balik kecepat an t inggi ( sekit ar 0 ,20 0 ,60 det ik) dan renergise Mo t o r,
dengan kemu ngkinan mengalami kerusakan.

Bat asan aman unt uk menghubungkan kembali sebuah Mo t o r adalah sangat ko mplek
dan diluar bahasan buku ini. Bila pengalihan cepat dilakukan, at ensi khusu yang harus
diberikan selama pro ses desain. Dengan kat a lain, po lice t erbaik salah sat unya adalah
menunda set iap pro ses energise ulang Mo t o r Induksi at au meyakinkan bahwa Mo t o r
secepat nya diput us dari sist em. Unt uk Mo t o r Induksi, reenergise t idak bo leh dilakukan
sebelum t egangan Mo t o r t urun sampai 33% at au lebih kecil dari t egangan no rmalnya.
Unt uk Mo t o r Sinkro n, penut upan balik at au reenergise t idak diperbo lehkan sampai
resinkro nisasi dapat efekt if. Art inya membuka suplai Mo t o r t epat pada saat kehilangan
suplai.

Efekt if art inya unt uk membuka Pemut us suplai dalam ko ndisi ini digunakan sebuah
rele frekuensi kurang. Tipikal rele Frekuensi ( 81) diat ur 98 at au 97% dari rat ing
frekuensi, dengan wakt u o verride pengaruh dip t egangan, t et api sebelum reenergise
dilakasanakan. Jika pabrik memiliki Pembangkit lo kal, at au ada penghubung ant ara
pembangkit dan penyulan g suplai, maka kehat i- hat ian harus dilakukan unt uk
meyakinkan bahwa frekuensi menurun pada wakt u kehilangan ut ilit as. Pembangkit
yang cu kup unt uk melayani beban, khususn ya pada prio da beban rendah, akan
menghasilkan perubahan frekuensi yang dapat diabaikan.


9. 15 PEN GASUTAN BERULAN G DAN PROTEKSI JOGGIN G

Pengasut an Mo t o r berulang kali dengan wakt u yang t idak cukup diant aranya at au
o perasi dengan variasi beban yang sangat ekst rim ( Jo gging) dapat mengakibat kan
kenaikan t emperat ur Mo t o r. Adalah mungkin unt uk suat u t emperat ur t inggi
mengikut i beban puncak wakt u singkat dengan arus subsequen rendah pada o perasi
no rmal dan t idak melebihi bat asan Mo t o r. Thermist o r pada Mo t o r- Mo t o r kecil dan
unit beban lebih t hermis t erint egrasi bereaksi t erhadap panas t o t al unt uk Mo t o r besar
memberikan sebuah pro t eksi. Rele ( 49) yang dapat bero perasi pada arus lebih dan
t emperat ur dapat digunakan unt uk pro t eksi Mo t o r. Rele bero perasi dengan arus t inggi
dan t emperat ur t inggi. Temperat ur t inggi t anpa beban lebih at au beban lebih t inggi
t anpa t emperat ur t inggi mungkin t idak akan menyebabkan o perasi. Penggunaan ini
membut uhkan anlisis mendalam.


Proteksi Motor
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 233
9. 16. PROTEKSI MOTOR SIN KRON

Pro t eksi yang t elah didiskusikan diat as adalah pro t eksi digunakan unt uk mo t o r induksi,
namun pro t eksi ini dapat pula digunakan un t uk pro t eksi mo t o r sinkro n, dengan
t ambahan peralat an prot eksi unt uk o perasi t idak sinkro n dan kehilangan medan. Pada
mo t o r- mo t o r sin kro n juga t ermasu k kendali dan pro t eksi u nt uk pen gasut an, aplikasi
medan, dan sinkro nisasi. Oleh karena it u, pro t eksi bagi ko ndisi diat as harus pula
menjadi pert imbangan.

Sebagaimana digambarkan dalam Gambar 9- 13, kehilangan at au penurunan eksit asi
memerlukan daya reakt if dari sist em, dan arus lagging akan mengalir ke mo t o r. Unt uk
mo t o r- mo t o r kecil, rele fakt o r daya direko mendasikan unt uk digunakan. Rele ini akan
bekerja bila arus yang menuju mo t o r ket inggalan lebih dari 30 0 . Tipikalsensit ivit as arus
maksimum t erjadi bila arus t ert inggal 120 0 , sehingga diperlukan arus yan g sangat besar
bila t erjadi kehilangan medan pada arus ket inggalan 30 0 sampai 90 0 . Unt uk mo t o r-
mo t o r besar, direko mendasikan unt uk menggunakan rele jarak kehilangan medan
sepert i yang dijelaskan dalam pro t eksi Generat o r di bab 5. Hal ini dapat meningkat kan
pro t eksi bagi kehilangan medan sebagian sebagaimana pada kehilangan medan t o t al.

Pro t eksi kehilangan sinkro nisasi bisa diperlukan bisa pula t idak, t ergant ung pada sist em
dan mo t o r. Gangguan pada sist em akan men gu rangi t egangan masukan mo t o r sesaat
yang akan menyebabkan sudut t egangan ant ara sist em dan mo t o r berayun cu kup besar
yang akan menyebabkan pembukaan gangguan, mo t o r t idak akan kembali no rmal dan
akan kehilangan sinkro nisasinya. Jika mo t o r berjalan pada ko ndisi sinkro nnya, hanya
t egangan dc yang akan muncul pada belit an eksit er dan medan. Bila mo t o r kemu dian
mengalami kehilangan sin kro nisasi akibat gangguan sist em at au kehilangan medan,
akan muncul t egangan ac yang akan t erdet eksi bilamana mesin merupakan mesin t anpa
sikat . Unt uk mesin- mesin mo dern den gan eksit er t anpa sikat , rele fakt o r daya akan
melengkapi pro t eksi unt uk kehilangan medan dan full- o ut .


9. 17. RIN GKASAN : TIPIKAL PROTEKSI UN TUK MOTOR

Tipikal pro t eksi yang direko mendasikan dan u mum digu nakan u nt uk pro t eksi
mo t o r- mo t o r list rik secara ringkas dapat dilihat pada Gambar 9- 11. Aplikasi dari semua
rele yang ada pada Gambar t elah dibahas diat as. Ini adalah sebuah reko mendasi, aplikasi
dari t ipe dan jumlah rele pro t eksi yang digunakan sangat t ergant ung pada ko ndisi lo kal,
eko no mis, dan individu. Sist em pro t eksi ini dapat dikurangi at au dit ambah.







Daf tar Pustaka
RELE PROTEKSI Pri nsi p dan Apl i kasi 234
DAFTAR PUSTAKA