Anda di halaman 1dari 6

Alveolektomi Definisi Alveolektomi adalah pengambilan tulang pada prosesus alveolaris yg tajam atau membesar, atau merupakan merupakan

tindakan pengurangan dan perbaikan tulang alveolar yang menonjol atau tidak teratur untuk menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan protesa alveoplasty merupakan cara yang dapat digunakan untuk melakukan trimming dan pembuangan tulang alveolat labiobukal bersamaan dengan tulang interdental dan interradicular yang bisa terbawa saat ekstraksi gigi. Tujuan dari bedah preprostetik ini adalah untuk mendapatkan protesa dengan retensi, stabilitas, estetik, dan fungsi yang lebih baik. Tindakan pengurangan dan perbaikan tulang alveolar yang menonjol atau tidak teratur untuk menghilangkan undercut yang dapat mengganggu pemasangan protesa dilakukan dengan prinsip mempertahankan tulang yang tersisa semaksimal mungkin. Seringkali seorang dokter gigi menemukan sejumlah masalah dalam pembuatan protesa yang nyaman walaupun kondisi tersebut dapat diperbaiki dengan prosedur bedah minor. Penonjolan tulang atau tidak teratur dapat menyebabkan protesa tidak stabil yang dapat mempengaruhi kondisi tulang dan jaringan lunak dibawahnya. (Ghosh, 2006). Tujuan alveolektomi adalah :

Membuang ridge alveolus yang tajam dan menonjol Membuang tulang interseptal yang sakit sewaktu dilakukan gingivektomy

Untuk membuat kontur tulang yang memudahkan pasien dalam melaksanakan pengendalian plak yang efektif.

Untuk membentuk kontur tulang yang sesuai dengan kontur jaringan gingival setelah penymbuhan.

Untuk memudahkan penutupan luka primer. Utuk membuka mahkota klinis tambahan agar dapat dilakukan restorasi yang sesuai.(Pedersen, 1996).

Etiologi Prinsip di dalam alveolektomi yaitu mengurangi sebagian tulang alveolar untuk mempercepat proses penyembuhan dan untuk stabilitas. Alveolektomi menjadi suatu langkah perawatan dalam bedah minor karena adanya undercut, ketidakteraturan, dan ketajaman tulang alveolar (Fragiskos, 2007). Indikasi untuk prosedur ini sangat jarang dilakukan tetapi mungkin dilakukan saat proyeksi gigi anterior dari ridge pada area premaksilaris akan menjadi masalah untuk estetik dan kestabilan gigi tiruan pada masa yang mendatang. Maloklusi klass II divisi I adalah tipe yang sangat memungkinkan untuk dilakukan prosedur ini (Wray, 2003).

Indikasi 1.Pasien dengan tulang alveolar yang padat dan menonjol yang menjalani ekstraksi

2. dilakukan sebagai prosedur sebelum pembuatan sebuah gigi tiruan

Kontraindikasi Adapun kontra indikasi dilakukannya tindakan alveolektomi adalah : (i) pada pasien yang masih muda, karena sifat tulangnya masih sangat elastis maka proses resorbsi tulang lebih cepat dibandingkan dengan pasien tua. Hal ini harus diingat karena jangka waktu pemakaian gigi tiruan pada pasien muda lebih lama dibandingkan pasien tua. (ii) pada pasien wanita atau pria yang jarang melepaskan gigi tiruannya karena rasa malu, sehingga jaringan pendukung gigi tiruan menjadi kurang sehat, karena selalu dalam keadaan tertekan dan jarang dibersihkan. Hal ini mengakibatkan proses resorbsi tulang dan proliferasi jaringan terhambat. (iii) jika bentuk prosesus alveolaris tidak rata tetapi tidak mengganggu adaptasi gigi tiruan baik dalam hal pemasangan, retensi maupun stabilitas. (iv) Pasien dengan penyakit sistemik. (v) Periostitis. (vi) Periodontitis.

Tehnik Pembedahan Alveolektomi Primer Pembedahan dilakukan setelah gigi dicabut , yaitu dengan :
1. 2. 3.

Dibuat flap mukoperiosteal dgn tinggi flap tidak lebih dari 2/3 soket gigi. Tulang dihaluskan dan dibersihkan Jaringan lunak yang berlebih dibuang dan luka bedah dijahit

Pembedahan Alveolektomi pada Pasien Edentulous Pembedahan dilakukan pada puncak alveolar ridge. Dibuat envelope flap, tapi insisi dapat dibuat di sisi labial atau bukal untuk memberikan dasar yang luas untuk penutupan. Kontur tulang dicapai dengan bone file atau burs. Ridge dihaluskan agar menghindari serpihan tajam, palpasi digital diperlukan untuk mengetahui keseragaman punggungan. Setelah itu, daerah ini diirigasi dengan saline lalu flap dijahit.

Alveolektomi Sekunder Pembedahan dapat dilakukan dengan membuat flap mukoperiosteal dan bentuk yang irreguler dihaluskan dengan bor, bone cutting forcep dan dihaluskan dengan bone file setelah bentuk irreguler halus, luka bedah dijahit. Pada secondary alveoloplasty satu rahang sebaiknya sebelum operasi dibuat surgical guidance yang berguna sebagai pedoman pembedahan. Surgical guidance biasanya terbuat dari self curing acryllic, shellac atau acrylic. heat Curing

Komplikasi Dalam melakukan suatu tindakan bedah tidak terlepas dari kemungkinan terjadinya komplikasi, demikan pula halnya dengan alveoloplasti. Dimana komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi antara lain: rasa sakit, hematoma, pembengkakan yang berlebihan, timbulnya rasa tidak enak pasca operasi (ketidaknyamanan), proses penyembuhan yang lambat, resorbsi tulang berlebihan, serta osteomyelitis. Tetapi semua hal tersebut dapat diatasi dengan melakukan prosedur operasi serta tindakan-tindakan pra dan pasca operasi yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Laskin, D.M., 1985. Oral and Maxillofacial Surgery. Volume 2.St. Louis, Mosby Pedersen, G.W. 1996. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut (terj.). Jakarta, EGC Fragiskos, FD. 2007. Oral Surgery. Berlin: Springer. Wray D, Stenhouse D, Lee D, Clark AJE. 2003. Textbook of General and Oral Surgery. New York: Churchill Livingstone