Anda di halaman 1dari 8

PERDAGANGAN RITEL

MAKALAH PERDAGANGAN RITEL DENGAN TOPIK TYPES OF RETAILERS


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah perdagangan ritel

OLEH:
FAJAR NUGROHO AGUN PRASETYO 0942620001 0942620022

PROGRAM STUDI D IV PEMASARAN JURUSAN ADMINISTRASI NIAGA POLITEKNIK NEGERI MALANG 2012

Trends in the retail Industry Industri ritel berubah dengan sangat cepat. Beberapa dari perubahan-perubahan yang paling penting dibahas pada adalah 1. Perbedaan yang mendasar dan terus berkembang dalam format ritel (growing diversity of retail formats) Sejalan dengan munculnya beragam format ritel baru, saat ini konsumen dapat membeli barang yang sama dari sejumlah ritel berbeda. Masing-masing format ritel menargetkan segmen pasar yang berbeda dan menggambarkan tren atau kecenderungan terhadap keanekaragaman barang dagangan yang semakin meningkat. Tiap jenis ritel menawarkan manfaat yang berbeda, sehingga para konsumen bisa berlangganan pada ritel yang berbeda untuk pembelian dan kebutuhan yang berbeda. 2. Meningkatnya konsentrasi industri (Increasing industry concentration) Saat jumlah format ritel yang berbeda meningkat, jumlah pesaing dalam tiap format akan cenderung menurun. Hal ini terjadi akibat banyaknya ritel yang harus keluar dari format tersebut sebagai dampak adanya persaingan. Sebagai contoh PT Matahari Putra Prima yang memiliki department store, masuk pula dalam format ritel berorientasi pada makanan dengan membuka hypermarket yang disebut dengan hypermart setelah sebelumnya mencoba masuk dalam format ritel supermarket yaitu market place. 3. Globalisasi (Globalization) Pada awalnya ritel adalah bisnis local. Toko dimiliki dan dijalankan oleh orang-orang yang tinggal dalam suatu komunitas dan memiliki pelanggan yang berasal dari lingkungan yang terbatas. Saat ini, konsep ritel dapat berjalan secara global, sedangkan yang lainnnya tidak, biasanya tergantung pada apa yang menghasilkan keunggulan bersaing di negara tersebut. Beberapa factor yang mendorong globalisasi yang dilakukan para peritel internasional tersebut antara lain : a. pasar domestic yang semakin dewasa atau jenuh b. system dan keahlian c. hilangnya batasan perdangan Retailer Characteristic Karakteristik dasar ritel dapat digunakan sebagai dasar dalam mengelompokkan jenis ritel. Karakteristik dasar yaitu a. Jenis barang yang dijual (Type of merchandise) Ritel dapat dibedakan berdasarkan jenis produk yang dijualnya. Sebagai contoh ritel yang menjual produk olahraga biasanya toko peralatan olahraga. Jenis ritel ini selanjutnya dapat dibagi lagi menjadi toko peralatan olahraga untuk anak-anak, wanita, maupun pria. Selain itu juga dapat dibagi menurut jenis olharaga itu sendiri seperti basket, golf, sepak bola, pencak silat, karate, taekwondo, dan jujitsu.

b. Perbedaan keanekaragaman barang yang dijual (Variety and Assortment) Yang dimaksud dengan perbedaan barang yang dijual adalah jumlah kategori barang yang ditawarkan ritel. Sedangkan keanekaragaman barang yang dijual adalah jumlah barang yang berbeda dalam satu kategori barang. Tiap barang yang berbeda disebut dengan istilah unit penyimpanan persediaan. Pada ritel jenis ini, produk-produk yang dijual meliputi beragam jenis dan tidak terbatas pada satu jenis saja. c. Tingkat layanan konsumen (Customer Service) Ritel juga berbeda dalam hal jasa yang mereka tawarkan kepada konsumen. Contohnya, toko sepeda menawarkan bantuan dalam memilihkan sepeda, menyesuaikan spesifikasi sesuai keinganan pembeli, dan memperbaiki sepeda. d. Harga barang (Price cost trade off) Pada peritel dapat dibedakan dari tingkat harga dan biaya produk yang dikenakannnya. Sebagai contoh, department store dan toko diskon. Toko diskon memilik perbedaan dalam menetapkan harga produk-produk yang dijual. Departement store, menetapkan tingkat harga yang lebih tinggi karena menanggung biaya yang lebih tinggi dalam persediaan beberapa produk fashionable. Food Retailers Berikut ini format masing-masing ritel makanan pada khususnya, yaitu : a. Supermarket tradisional (Conventional Supermarkets) Supermarket tradisional melayani penjualan makanan, daging, serta produk makanan lainnya, serta melakukan pembatasan penjualan terhadapa produk-produk nonmakanan sepert produk kesehatan, kecantikan, dan produk-prdouk umum lainnya. Sedangkan supermarket konvensional yang lebih luas yang juga menyediakan layanan antar, menjual roti dan kue-kue, bahan makanan mentah, serta produk nonmakanan disebut sebagai superstore. b. Big-box food retailer Lebih dari 25 tahun berikutnya, supermarket mulai berkembang dengan semakin memperluas ukuran dan mulai menjual berbagai produk luar negeri yang bervariasi. Pada format big-box retailer, terdapat beberapa jenis supermarket, yaitu supercenter, hypermarket, dan warehouse club. c. Convenience stores Convenience store memilik variasi dan jenis produk yang terbatas. Luas lantai ritel jenis ini berukuran kurang dari 350 meter persegi dan biasanya didefinisikan sebagai pasar swalayan mini yang menjual hanya lini terbatas dari berbagai produk kebutuhan sehari-hari yang perputarannya relative tinggi. Convenience store ditujukan kepada konsumen yang membutuhkan pembelian dengan cepat tanpa harus mengeluarkan upaya yang besar dalam mencari produk yang diinginkannya. General Merchandise Retail Jenis ritel ini meliputi toko diskon, toko khusus, toko kategori, departments store, off price retailing, dan value retailing. a. Toko Diskon (Discount Store)

b.

c.

d.

e.

f.

Toko diskon merupakan jenis ritel yang menjual sebagian besar variasi produk, dengan menggunakan layanan yang terbatas, dan harga yang murah. Toko diskon menjual produk dengan label atau merek milik toko itu sendiri maupun merek-merek lain yang sudah dikenal luas. Toko khusus (Specialty Stores) Toko khusus berkonsentrasi pada sejumlah kategor produk-produk komplementer dan memilik level layanan yang tinggi. Format toko khusus memungkinkan ritel dagangan pada target pasar yang lebih spesifik. Toko hanya mengkhususkan diri pada jenis barang dagangan tertentu. Toko Category (Category Specialist) Toko kategori merupakan toko diskon dengan variasi produk yang dijual lebih sempit atau khusus tetapi memiliki jenis produk yang lebih banyak. Ritel ini merupakan salah satu toko diskon yang paling dasar. Beberapa toko kategori menggunakan pendekatan layanan sendiri, tetapi beberapa toko menggunakan asisten untuk melayani konsumen. Department Store Merupakan jenis ritel yang menjual variasi produk yang luas dan berbagai jenis produk dengan menggunakan beberapa staf, seperti layanan pelanggan atau customer service dan tenaga sales counter. Pembelian biasanya dilakukan pada masing-masing bagian pada suatu area belanja. Masing-masing bagian diperlakkukan sebagai pusat pembelian terpisah dengan segala aktivitas promosi, pelayanan, dan pengawasan yang terpisah pula. Untuk citra toko dan produk dan seragam, manajemen pusat menetapkan kebijakan-kebijakan yang luas tentang jenis produk dagangan yang dijual dan rentang harga jual barang dagangan. Off-Price Retailers Ritel jenis ini menyediakan berbagai jenis produk dengan merek berganti dan lebih ke arah orientasi fesyen dengan tingkat harga produk yang murah. Ritel off price dapat menjual merek dan label produk dengan harga yang lebih rendah dari umumnya. Value Retailers Merupakan toko diskon yang menjual sejumlah besar jenis produk dengan tingkat harga rendah dan biasanya berlokasi di daerah-daerah pada penduduk. Ritel jenis ini berkuran lebih kecil dari toko diskon tradisional. Nonstore Retail Formats Jenis-jenis penjualan ritel yang tidak melalui toko antara lain : a. Electronic Retailing (ritel elektronik) Adalah format bisnis ritel atau ritel yang menggunakan komunikasi dengan pelanggan menenai produk, layanan, dan penjualan melalui internet. Dalam ritel elektronik terdapat beberapa hal yng berkaitan dengan aktivitas jual beli yaitu 1. menggambarkan jasa dan produk yang ditawarkan penjual melalui situs internet 2. memungkinkan pembeli mencari informasi, mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan, serta memesan dengan menggunakan kartu kredit. Lalu produk tersebut kemudian diantar secara fisik ke alamat pelanggan atau secara elektronik.

b. Catalog and Direct-mail Retailing (catalog dan pemasaran surat langsung) Pemasaran melalui catalog terjadi ketika perusahaan mengirimkan satu atau bahkan lebih catalog produk kepada penerima yang terpilih. Perusahaan mengirimkan catalog yang menginformasikan barang dagangan secara lengkap (yaitu keseluruhan lini barang dagangan), atau dengan memilih barang dagangan yang akan diinformasikan secara terbatas dalam bentuk catalog konsumen khusus, dan catalog bisnis. Sedangkan pemasaran surat langsung (direct mail) terdiri atas pengiriman tawaran, pemberitahuan, pengingat, atau barang-barang lain kepada seseorang di alamat tertentu. Dengan menggunakan daftar alamat yang sangat terpilih, pemasaran surat langsung mengirimkan jutaan paket pos setiap tahun dalam bentuk surat, selebaran, brosur, dan lain-lain. c. Direct Selling (penjualan langsung) Adalah system pemasaran interaktif yang menggunakan satu atau lebih media iklan untuk menghasilkan tanggapan dan atau transaksi yang dapat diukur pada suatu lokasi penjualan tertentu. Bentuk pemasaran ini memainkan peranan yang lebih luas, yaitu membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan. d. Television home shopping Merupakan format ritel melaui televise. Pelanggan akan melihat program TV yang menayangkan demonstrasi produk dagangan dan kemudian menyampaikan pesanan melalui telepon. e. Vending machine retailing Bisnis eceran ini merupakan format nonstore yang menyimpan barang atau jasa pada suatu mesin dan menyerahkan barang ke pelanggan ketika pelanggan memasukkan uang tuna tau kartu kredit ke dalam mesin. Service Retailing Ada tiga jenis service retailing, yaitu rented-goods services, owned-goods service dan nongoods services. a. Rented-Goods Service Dalam jenis ini, para pelanggan menyewa dan menggunakan produk-produk tertentu. Contohnya penyewaan mobil, carpet cleaner, kaset video, laser disc, dan apartemen. Dalam hal ini suatu produk fisik disewakan dengan tarif tertentu untuk jangka waktu tertentu pula. Konsumen dapat menggunakan produk tersebut tetapi kepemilikannya tetap berada pada pihak retailer. b. Owned-Goods Service Pada owned-goods service, produk -produk yang dimiliki oleh para konsumen direparasi, ditingkatkan atau dikembangkan unjuk kerjanya, atau dipelihara/ dirawat. Owned-goods service juga mencakup perubahan bentuk pada produk yang telah dimiliki pelanggan. Contohnya adalah: jasa reparasi (jam tangan, mobil, sepeda motor, komputer, dan lain-lain), pencucian mobil, dry cleaning perawatan rumput lapangan golf, perawatan taman, dan lainlain.

c. Non-Goods Service Karakteristik khusus pada jenis ini adalah jasa personal yang bersifat intangible (tidak berbentuk produk fisik) ditawarkan kepada para konsumen. Contohnya babysitter, supir, tutor, pemandu wisata, tukang cukur, ahli kecantikan, dan lain-lain.

Types of Ownership (Jenis-jenis kepemilikan) Ritel dapat diklasifikasikan pula secara luas menurut bentuk kepemilikan. Berikut adalah klasfikasi utama dari kepemilikan ritel. a. Pendirian toko tunggal atau mandiri (Independent, single-store establishments) Ritel tunggal atau mandiri adalah ritel yang dimiliki oleh seseorang atau kemitraan dan tidak dioperasikan sebagai bagian dari lembaga ritel yang lebih besar. b. Jaringan perusahaan (Corporate retail chains) Ritel yang dimiliki dan dioperasikan sebagai satu kelompok oleh sebuah organisasi. Berdasarkan bentuk kepemilikan ini, banyak tugas administrative ditangani oleh kantor psuat untuk keseluruhan rantai. Kantor pusat biasanya memusatkan pembelian barang-barang dagangan yang akan didistribusikan untuk dijual pada toko-tokonya. c. Franchising (waralaba) Adalah ritel yang dimiliki dan dioperasikan oleh individu tetapi memperoleh lisensi dari organisasi pendukung yang lebih besar. Waralaba menggabungkan keuntungan-keuntungan dari organisasi jaringan toko. Waralaba merupakan suatu hubungan yang sifatnya terusmenerus di mana seorang pemilik waralaba (franchiser) tersebut menciptakan merek dagang produk, maupun metode operasi. Sedangkan agen waralaba (franchisee) sebalinya membayar pada pemilik waralaba atas haknya untuk menggunakan nama, produk, atau metode bisnisnya. Sebuah perjanjian waralba antara kedua belah pihak biasanya berlaku 10 hingga 20 puluh yang dapat diperbarui dengan kesepakatan kedua belah pihak. Study Kasus Permasalahan ritel di Indonesia Ritel modern yang tumbuh pesat akhir-akhir ini selain membawa dampak positif juga telah menyebabkan dampak sosial ekonomi yang sangat besar. Hal ini disebabkan pertumbuhan tersebut disertai oleh tersingkirnya ritel tradisional yang umumnya merupakan usaha kecil. Di sisi lain, juga muncul fenomena baru berupa munculnya ritel modern sebagai kekuatan yang memiliki potensi untuk mengeksploitasi pemasok. Kompleksitas permasalahan industri ritel menjadi persoalan ekonomi Indonesia karena ritel kini menjadi tempat bekerja terbesar kedua (18.9 juta) setelah sektor pertanian (48.1 juta). Dari 22, 7 juta jumlah usaha di Indonesia, 10.3 juta atau sekitar 45% merupakan usaha ritel. Perkembangan Industri ritel terjadi sangat pesat di berbagai belahan dunia. Ritel kini menjadi bagian penting dari value chain management distribusi produk dari produsen sampai di tangan konsumen. Kecenderungan Ritel adalah sebagai berikut : Tidak lagi hanya menawarkan ketersediaan produk berbasis penawaran lama : produk dan harga

Tetapi mulai menawarkan berbagai atribut lainnya seperti kebersihan, kenyamanan, kemudahan, variasi produk dan kualitasnya. Kecenderungan ini merupakan sebuah keniscayaan yang terjadi seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi pada pola hidup masyarakat sebagai konsumen industri ritel Ritel tidak hanya penting bagi konsumen tetapi juga bagi produsen/pemasok barang. Tuntutan terhadap atribut di luar produk dan harga, yang lebih terkait dengan aspekaspek psikologis konsumen dapat dengan mudah ditangkap oleh pemodal kuat (di saat Pemerintah melepaskan keterlibatannya) Maka berkembanglah industri ritel modern dengan beberapa pemodal kuat : Carrefour, 7 Eleven, Wall Mart, Tesco, Hypermart, Giant, Sogo, Seibu dan sebagainya. Dan pada akhirnya, pasar tradisional dan ritel kecil semakin tersisih. Pasar tradisional terbagi atas dua jenis, yaitu pasar tradisional yang menjual bahan sandang dan pangan dan pasar tradisional yang hanya menjual sandang. Akan tetapi persepsi masyarakat akan pasar tradisional adalah pasar yang dikelola pemerintah dan kondisinya kotor serta tidak terawat seperti pasar sayur-mayur, padahal terdapat pasar tradisional terutama yang hanya menjual sandang memiliki kondisi fisik yang lebih baik. Ritel Modern memiliki sejumlah kelebihan antara lain Modal yang lebih besar, sehingga memungkinkan fasilitas yang lebih nyaman, area yang luas, menjual jenis barang yang lebih variatif, dapat menjual barang secara lebih murah serta memiliki variasi mutu produk. Penyelesaian masalah. Sebenarnya, tidak hanya di Indonesia yang mengalami hal seperti itu. Di Thailand juga, telah terjadi hal demikian. Pada tahun 1995, kota Bangkok terbuka bagi peritel hypermarket asing. Pada awal peritel Hipermarket masuk di kota Bangkok, mereka berdalih bahwa segmen pasarnya berbeda dengan peritel tradisional, sehingga tidak akan mengganggu penjualan peritel tradisional. Akan tetapi Thailand yang 10 tahun lalu terdapat 20 pasar tradisional. Dalam jangka 6 tahun setelah itu hanya bersisa 2 pasar tradisional, sedangkan pembukaan gerai hipermarket mencapai 40 unit. Melihat permasalahan tersebut, maka pemerintahan Thailand pun sangat serius menangani masalah ritel, terbukti dengan diberlakukannya undang-undang ritel (ritel act). Dengan adanya undang-undang tersebut, maka Bangkok memiliki zona perdagangan eceran. Tidak ada salahnya, bila kita mencoba untuk mengikuti langkah negara tetangga kita tersebut. Yaitu dengan mengandalkan kepedulian pemerintah, serta mendorong agar pemerintah daerah maupun pusat mengeluarkan kebijakan yang mengatur perdagangan ritel. Kebijakan tersebut yaitu : 1. Pelaku usaha ritel dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hal tersebut antara lain menyangkut pengaturan pembatasan jumlah pelaku usaha berbasiskan analisis terhadap supply dan demand. Diharapkan pembatasan jumlah pelaku usaha tidak menjadi instrumen yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk melakukan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat melalui eksploitasi terhadap konsumen. Misalnya saja dengan

melakukan praktek kartel antar pelaku usaha yang jumlahnya terbatas atau bahkan praktek monopoli karena hanya ada satu pelaku usaha di satu wilayah. 2. Terkait dengan hubungan pemasok dan peritel modern, diusulkan agar hal tersebut tidak hanya menyangkut pemasok kecil, tetapi juga pemasok menengah dan besar. Hal tersebut mengingat daya tawar ritel modern yang sangat tinggi tidak hanya berefek terhadap pelaku usaha kecil saja tetapi juga usaha menengah dan besar. Selain itu, dalam pengaturan juga perlu ditegaskan bahwa segala bentuk hubungan transaksi antara pemasok dan peritel modern tidak boleh bertentangan dengan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat. Daftar Pustaka Utami, Christina Whidya. 2006. Manajemen Ritel. Jakarta : Salemba Empat http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/04/retailing.html