Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Telinga merupakan salah satu panca indera yang sangat penting. Fungsi telinga diantaranya sebagai alat pendengaran dan keseimbangan. Telinga terdiri atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Struktur anatomi yang kompleks membuat berbagai penyakit pada telinga cukup sulit untuk di deteksi. Keluhan pada telinga yang sering dikemukakan diantaranya berupa gangguan pendengaran seperti berkurangnya kemampuan mendengar, suara berdenging (tinnitus), keluar cairan dari telinga (otore), nyeri pada telinga (otalgia), dll. (2) Infeksi pada telinga merupakan kondisi yang melibatkan dan menyebabkan

peradangan pada area-area yang berbeda dari telinga. Penyebab infeksi berasal dari infeksi virus, jamur dan bakteri. Pada kebanyakan kasus, infeksi telinga tidak serius dan hilang dengan sendirinya. Namun infeksi karena bakteri memerlukan perawatan dengan antibiotik. Bila dibiarkan infeksi ini dapat menyebabkan komplikasi yang serius, terutama pada pasien anak. (9) Otitis media supuratif kronik (OMSK) merupakan penyakit infeksi telinga yang memiliki prevalensi tinggi dan menjadi masalah kesehatan di masyarakat. Di negara berkembang dan negara maju prevalensi OMSK berkisar antara 1-46%, dengan prevalensi tertinggi terjadi pada populasi di Eskimo (12-46%), sedangkan prevalensi terendah terdapat pada populasi di Amerika dan Inggris kurang dari 1%. Di Indonesia menurut Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran, Depkes tahun 1993-1996 prevalensi OMSK adalah 3,1% populasi. Usia terbanyak penderita infeksi telinga tengah adalah usia 7-18 tahun, dan penyakit telinga tengah terbanyak adalah OMSK. Oleh karena itu, diperlukan pengetahuan yang memadai mengenai OMSK agar di masa yang akan datang angka prevalensi OMSK dapat diturunkan.(10)

1.2 Tujuan 1.2.1 Mampu memahami Anatomi dan Fisiologi Telinga 1.2.2 Mampu memahami Definisi dan Etilogi OMSK 1.2.3 Mampu mengetahui Epidemiologi OMSK 1.2.4 Mampu memahami Patogenesis OMSK 1.2.5 Mampu menegakkan Diagnosa OMSK 1.2.6 Mampu membuat Diagnosa Banding OMSK 1.2.7 Mampu memahami Penatalaksanaan OMSK 1.2.8 Mampu memahami Komplikasi OMSK 1.2.9 Mampu memahami Prognosa OMSK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Anatomi dan Fisiologi Telinga Telinga merupakan organ untuk pendengaran dan keseimbangan, yang terdiri dari telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Telinga luar menangkap gelombang suara yang diubah menjadi energi mekanis oleh telinga tengah. Telinga tengah mengubah energi mekanis menjadi gelombang saraf, yang kemudian dihantarkan ke otak. Telinga dalam juga membantu menjaga keseimbangan tubuh. Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna atau aurikel) dan saluran telinga (meatus auditorius eksternus). Telinga luar merupakan gabungan tulang rawan yang dilapisi

oleh kulit yang dapat terlepas dari tulang rawan tersebut oleh hematoma atau pus. Tulang rawan yang nekrosis dapat menimbulkan deformitas kosmetik.(2) Anatomi telinga dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1. Anatomi telinga (11)

Telinga tengah terdiri dari gendang telinga (membran timpani) dan sebuah ruang kecil berisi udara yang memiliki 3 tulang kecil yang menghubungkan gendang telinga dengan telinga dalam. Ketiga tulang tersebut diantaranya Maleus, Inkus, dan Stapes. Maleus berbentuk seperti palu dan melekat pada gendang telinga, Inkus menghubungkan maleus dan stapes, sedangkan Stapes melekat pada jendela oval di pintu masuk ke telinga dalam. Getaran dari gendang telinga diperkuat secara mekanik oleh tulang-tulang tersebut dan dihantarkan ke jendela oval. Telinga tengah juga memiliki 2 otot yang kecil-kecil yaitu otot tensor timpani yang melekat pada maleus dan menjaga agar gendang telinga tetap menempel dan otot stapedius yang melekat pada stapes dan menstabilkan hubungan antara stapedius dengan jendela oval. Jika telinga menerima suara yang keras, maka otot stapedius akan berkontraksi sehingga rangkaian tulang-tulang semakin kaku dan hanya sedikit suara yang dihantarkan. Respon ini disebut refleks akustik, yang membantu melindungi telinga dalam yang rapuh dari kerusakan karena suara. Tuba eustakius adalah saluran kecil
4

yang menghubungkan teling tengah dengan hidung bagian belakang, yang memungkinkan masuknya udara luar ke dalam telinga tengah. Tuba eustakius membuka ketika kita menelan, sehingga membantu menjaga tekanan udara yang sama pada kedua sisi gendang telinga, yang penting untuk fungsi pendengaran yang normal dan kenyamanan. Telinga dalam (labirin) adalah suatu struktur yang kompleks, yang terdiri dari 2 bagian utama yaitu koklea (organ pendengaran) dan kanalis semisirkuler (organ keseimbangan). Koklea merupakan saluran berongga yang berbentuk seperti rumah siput, terdiri dari cairan kental dan organ Corti, yang mengandung ribuan sel-sel kecil (sel rambut) yang memiliki rambut yang mengarah ke dalam cairan tersebut. Getaran suara yang dihantarkan dari tulang pendengaran di telinga tengah ke jendela oval di telinga dalam menyebabkan bergetarnya cairan dan sel rambut. Sel rambut yang berbeda memberikan respon terhadap frekuensi suara yang berbeda dan merubahnya menjadi gelombang saraf. Gelombang saraf ini lalu berjalan di sepanjang serat-serat saraf pendengaran yang akan membawanya ke otak. Walaupun ada perlindungan dari refleks akustik, tetapi suara yang gaduh bisa menyebabkan kerusakan pada sel rambut. Jika sel rambut rusak, dia tidak akan tumbuh kembali. Jika telinga terus menerus menerima suara keras maka bisa terjadi kerusakan sel rambut yang progresif dan berkurangnya pendengaran. Kanalis semisirkuler merupakan 3 saluran yang berisi cairan, yang berfungsi membantu menjaga keseimbangan. Setiap gerakan kepala menyebabkan ciaran di dalam saluran bergerak. Gerakan cairan di salah satu saluran bisa lebih besar dari gerakan cairan di saluran lainnya, hal ini tergantung kepada arah pergerakan kepala. Saluran ini juga mengandung sel rambut yang memberikan respon terhadap gerakan cairan. Sel rambut ini memprakarsai gelombang saraf yang menyampaikan pesan ke otak, ke arah mana kepala bergerak, sehingga keseimbangan bisa dipertahankan. Jika terjadi infeksi pada kanalis semisirkuler, (seperti yang terjadi pada infeksi telinga tengah atau flu) maka bisa timbul vertigo (perasaan berputar). (2)

2. 2 Definisi dan Etilogi OMSK

Otitis media merupakan peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi atas Otitis Media Supuratif dan Otitis Media non Supuratif/Efusi, masing-masing mempunyai bentuk akut dan kronis. Otitis Media Supuratif Kronis ( OMSK ) adalah infeksi kronis telinga tengah dengan perforasi membrane timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul. Masyarakat mengenal OMSK sebagai penyakit congek, kopok, toher atau curek. OMSK terdiri atas OMSK tipe aman ( benigna ) dan tipe bahaya ( maligna ). Kedua tipe ini dapat bersifat aktif ( keluar cairan ) atau tidak aktif ( kering ). Otitis Media Akut dengan perforasi membrane timpani menjadi Otitis Media Supuratif Kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila proses infeksi kurang dari 2 bulan, disebut Otitis Media Supuratif Subakut. (9)

Gambar 2. Bagian-bagian membran timpani (5)

Berdasarkan gambar diatas, dapat diketahui bagian-bagian dari membran timpani, sehingga dapat diketahui letak perforasinya. Letak perforasi di membran timpani penting untuk menentukan tipe atau jenis OMSK. Perforasi membran timpani dapat ditemukan di daerah sentral, marginal, atau atik. Oleh karena itu disebut perforasi sentral, marginal, atau atik. Pada perforasi sentral, perforasi terdapat pada pars tensa, sedangkan di seluruh tepi perforasi masih ada sisa membran
6

timpani. Pada perforasi marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan anulus atau sulkus timpanikum. Perforasi atik adalah perforasi yang terletak di pars flaksida. atik :
(9)

Gambar dibawah merupakan gambar dari perforasi sentral dan

Gambar 3. Membran timpani utuh(10)

Gambar 4. Membran timpani perforasi (10)

Gambar 5. Perforasi Sentral (3)

Gambar 6. Perforasi Atik (3)

OMSK dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu OMSK tipe benigna dan OMSK tipe maligna. Berdasarkan aktivitas sekret yang keluar dikenal juga OMSK aktif dan OMSK tenang. OMSK aktif ialah OMSK dengan sekret yang keluar dari kavum timpani secara aktif, sedangkan OMSK tenang yaitu OMSK dengan kavum timpani terlihat basah atau kering. Proses peradangan pada OMSK tipe aman terbatas pada
7

mukosa saja dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak sentral. Umumnya OMSK tipe benigna jarang menimbulkan komplikasi yang berbahaya. Pada OMSK tipe benigna tidak terdapat kolesteatoma. (9)

Gambar 7. OMSK fase aktif (6)

Gambar 8. Perbedaan OMSK Benigna dan Maligna (3)

OMSK tipe maligna ialah OMSK yang disertai dengan kolesteatoma. OMSK ini juga dikenal sebagai OMSK tipe bahaya atau OMSK tipe tulang. Perforasi pada OMSK tipe bahaya letaknya marginal atau di atik, kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau fatal timbul pada OMSK tipe bahaya. (9)

Gejala OMSK diantaranya keluar sekret dari telinga ( otore ), dapat berupa encer atau kental, bening atau berupa nanah. Sekret yang keluar dari telinga akibat OMSK dapat terus menerus atau hilang timbul. Pasien mengeluh telinga berdenging (tinitus), rasa penuh di telinga, dan gangguan pendengaran. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah dan hygiene yang buruk. (9) Otitis Media Supuratif Kronik dapat terjadi karena adanya perforasi membran timpani. Perforasi ini dapat terjadi akibat trauma, iatrogenik dengan kelainan pada tuba, atau setelah terkena Otitis Media Akut yang menyebabkan tekanan udara berkurang melalui perforasi membran timpani. Mekanisme infeksi telinga tengah diperkirakan terjadi karena perpindahan bakteri dari Meatus Akustikus Eksternus (MAE) melalui perforasi membran timpani yang selanjutnya akan mengenai telinga tengah.. Beberapa peneliti menyebutkan bahwa organisme patogen dapat masuk karena refluks dari tuba eustachius. Namun tidak ada data yang meyakinkan mengenai teori tersebut karena beberapa bakteri patogen yang ditemukan sama dengan bakteri yang ada di MAE. Beberapa bakteri penyebab OMSK diantaranya adalah bakteri aerob seperti Pseudomonas aeruginosa, Eschericia coli, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Proteus mirabilis, dan Klebsiella. Sedangkan bakteri anaerobnya adalah Bacteroides, Peptostreptococcus, dan Proprionibacterium (11) (1)

2. 3 Epidemiologi OMSK Semakin besar perforasi dari membran timpani, semakin besar peluang pasien untuk menderita OMSK. Beberapa penelitian memperkirakan insidens OMSK per tahun 39 kasus per 100.000 anak dan remaja usia 15 tahun kebawah. Di Inggris, 0,9% anak dan 0,5% orang dewasa menderita OMSK. Bebeapa populasi mengalami peningkatan resiko terkena OMSK. Penduduk asli Amerika dan Eskimo mengalami peningkatan resiko terkena OMSK. Delapan persen penduduk asli Amerika dan lebih dari 12% orang Eskimo terkena OMSK.

Anatomi dan fisiologi dari tuba eustachius mempunyai peran yang signifikan dalam meningkatkan resiko tersebut. Tuba eustachius penduduk tersebut lebih lebar dan terbuka dibandingkan penduduk populasi lainnya, sehingga meningkatkan resiko terjadinya refluks bakteri dari hidung dan menyebabkan Otitis Media Akut ( OMA ) dan OMA yang kambuh, sehingga peluang untuk terkena OMSK lebih besar. Populasi lain yang mengalami peningkatan resiko adalah penderita anak di Guam, Hong Kong, Afrika Selatan, dan Pulau Solomon. Prevalensi yang tepat di berbagai usia tidak diketahui, namun beberapa penelitian memperkirakan insidens OMSK per tahun 39 kasus per 100.000 anak dan remaja usia 15 tahun kebawah. (7)

2. 4 Patogenesis OMSK

Otitis Media Supuratif Kronis dimulai dari sebuah episode infeksi akut atau merupakan kelanjutan dari Otitis Media Supuratif Akut (OMA) dengan perforasi membran timpani yang sudah terjadi lebih dari 2 bulan. Oleh karena OMSK didahului oleh OMA, maka penjelasan dimulai dengan patofisiologi terjadinya OMA. OMA biasanya disebabkan oleh Infeksi di Saluran Nafas Atas (ISPA), umumnya terjadi pada anak karena keadaan tuba eustakius, yang sangat berperan penting dalam patofiologi OMA pada anak berbeda dengan orang dewasa. Tuba eustakius pada anak lebih pendek, lebih horizontal dan relatif lebih lebar daripada dewasa. Infeksi pada saluran nafas atas akan menyebabkan edema pada mukosa saluran nafas termasuk mukosa tuba eustakius dan nasofaring tempat muara tuba eustakius. Edema ini akan menyebabkan oklusi tuba yang berakibat gangguan fungsi tuba eustakius yaitu fungsi ventilasi, drainase dan proteksi terhadap telinga tengah. Normalnya tuba akan berusaha menjaga tekanan di telinga tengah dan udara luar stabil, ketika terdapat oklusi tuba, maka udara tidak akan dapat masuk ke telinga tengah, sedangkan secara fisiologis udara akan diabsorbsi di telinga tengah 1 ml tiap hari pada orang dewasa. Keadaan ini kan menyebabkan tekanan negatif pada telinga tengah, keadaan vacum di telinga tengah menyebabkan transudasi cairan di telinga tengah. Dalam keadaan normal mukosa telinga tengah akan menghasilkan sekret yang akan di dorong oleh gerakan silia ke arah nasofaring, ketika terjadi oklusi tuba
10

fungsi ini akan terganggu, sehingga terjadi penumpukan sekret di telinga tengah. Akumulasi cairan di telinga tengah akan lebih banyak dengan adanya transudasi akibat tekanan negatif. Sekret ini merupakan media yang baik untuk tumbuhnya kuman. Tuba berperan dalam proteksi kuman dan sekret dari nasofaring masuk ke telinga tengah, diantaranya melalui kerja silia. Ketika terjadi oklusi tuba, fungsi silia tidak efektif untuk mencegah kuman dan sekret dari nasofaring ke kavum timpani dengan akumulasi sekret yang baik untuk pertumbuhan kuman. Sehingga terjadi proses supurasi di telinga tengah. Proses supurasi akan berlanjut dengan peningkatan jumlah sekret purulen, penekanan pada membran timpani oleh akumulasi sekret ini kan menyebabkan membran timpani (bagian sentral) mengalami iskemi dan akhirnya nekrosis, dengan adnya tekanan akan menyebabkan perforasi dan sekret mukopurulen akan keluar dari telinga tengah ke liang telinga. (8) Berdasarkan perubahan mukosa tengah maka terdapat 5 stadium terjadinya Otitis Media Akut (OMA) yang bila berlangsung terus-menerus selama 2 bulan dapat menjadi Otitis Media Supuratif Akut (OMSK). 1. Stadium oklusi tuba Eustachius

Tanda adanya oklusi tuba yaitu gambaran retraksi membrane timpani akibat terjadinya tekanan negative di dalam telinga tengah akibat absorpsi udara. Kadang-kadang membrane timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini susah dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. 2. Stadium hiperemis (pre-supuratif) Pada stadium ini tampak pembuluh darah yang melebar di membrane timpani atau seluruh membrane timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar dilihat. 3. Stadium supuratif
11

Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superficial serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani menyebabkan membrane timpani menonjol (bulging) kea rah liang telinga luar. Pada stadium ini pasien tampak sangat sakit,, nadi dan suhu meningkat serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan pus di kavum tidak berkurang maka terjadi ischemia akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membrane timpani tampak sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan dan di tempat ini akan terjadi rupture. Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringitomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membrane timpani akan rupture dan pus keluar ke liang telinga luar. 4. Stadium perforasi Karena beberapa sebab seperti terlambatnya diberikan antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi rupture membrane timpani dan pus mengalir keluar dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anaknya yang tadinya gelisah menjadi tenang, suhu badan turun, dan dapat tertidur nyenyak. 5. Stadium resolusi Bila membrane timpani tetap utuh, maka keadaan membrane timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi maka secret akan berkurang dan akhirnya kering. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan secret yang keluar terus-menerus atau hilang timbul.
(3)

OMSK dimulai dari iritasi dan peradangan dari mukosa telinga tengah. Respon inflamasi membuat mukosa menjadi edema. Peradangan berkelanjutan pada akhirnya menyebabkan ulserasi mukosa dan kerusakan lapisan epitel mukosa. Usaha tubuh mengadakan resolusi akibat infeksi atau inflamasi menyebabkan terjadinya granulasi pada jaringan yang dapat berkembang menjadi polip dalam ruang telinga tengah.
12

Siklus peradangan, ulserasi, infeksi dan pembentukan granulasi pada jaringan yang terus menerus akhirnya menghancurkan margin/batas tulang sekitarnya dan menyebabkan berbagai gejala dari OMSK. (8)

2. 5 Diagnosa OMSK Diagnosa OMSK dibuat berdasarkan gejala klinik dan pemeriksaan THT terutama pemeriksaan otoskopi. Diagnosis OMSK dapat ditegakkan dengan:
a. Anamnesis

Penyakit telinga kronis ini biasanya terjadi perlahan-lahan dan penderita seringkali datang dengan gejala-gejala penyakit yang sudah lengkap. Gejala yang paling sering dijumpai adalah telinga berair, adanya sekret di liang telinga yang pada tipe tubotimpanal sekretnya lebih banyak dan seperti berbenang (mukous), tidak berbau busuk dan intermiten, sedangkan pada tipe atikoantral, sekretnya lebih sedikit, berbau busuk, kadangkala disertai pembentukan jaringan granulasi atau polip, maka sekret yang keluar dapat bercampur darah. Ada kalanya penderita datang dengan keluhan kurang pendengaran atau telinga keluar darah. b. Pemeriksaan otoskopi Pemeriksaan otoskopi akan menunjukan adanya dan letak perforasi. Dari perforasi dapat dinilai kondisi mukosa telinga tengah. c. Pemeriksaan audiologi Evaluasi audiometri, pembuatan audiogram nada murni untuk menilai hantaran tulang dan udara, penting untuk mengevaluasi tingkat penurunan pendengaran dan untuk menentukan gap udara dan tulang. Audiometri tutur berguna untuk menilai speech reception threshold pada kasus dengan tujuan untuk memperbaiki pendengaran. d. Pemeriksaan radiologi

13

Radiologi konvensional, foto polos radiologi, posisi Schller berguna untuk menilai kasus kolesteatoma, sedangkan pemeriksaan CT scan dapat lebih efektif menunjukkan anatomi tulang temporal dan kolesteatoma. (4)

2. 6 Diagnosis Banding OMSK

Beberapa diagnosis banding untuk OMSK adalah : a. Langerhans cell histiocytosis b. Neoplasia c. Foreign body d. Cholesteatoma e. Sigmoid sinus thrombosis f. Brain abscess g. Otitic hydrocephalus h. Extradural abscess i. Meningitis j. Tuberculosis k. Petrositis l. Labyrinthitis
m. Wegener Granulomatosis (7)

2. 7 Penatalaksanaan OMSK Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu yang lama dan berulang-ulang. Sekret yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Keadaan ini diantaranya disebabkan oleh satu atau beberapa keadaan, yaitu :
14

a.

Adanya perforasi membran timpani yang permanen sehingga

telinga tengah berhubungan dengan dunia luar b. Terdapat sumber infeksi di faring, nasofaring, hidung, dan sinus

paranasal c. mastoid d. Prinsip Gizi dan higiene yang kurang OMSK tipe benigna adalah konservatif atau dengan Sudah terbentuk jaringan patologis yang irreversibel dalam rongga

terapi

medikamentosa. Bila sekret yang keluar terus menerus, maka diberi obat pencuci telinga berupa larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang, maka terapi dilanjutkan dengan memberikan obat tetes telinga yang mengandung antibiotika dan kortikosteroid. Banyak ahli berpendapat bahwa semua obat tetes yang dijual di pasaran saat ini mengandung antibiotika yang bersifat ototoksik. Oleh karena itu, obat tetes telinga jangan diberikan terus-menerus selama lebih dari 1 atau 2 minggu atau pada OMSK yang sudah tenang. Secara oral diberikan antibiotik dari golongan ampisillin atau eritromicyn, sebelum hasil resistensi diterima. Pada infeksi yang dicurigai karena penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin asam klavulanat. (9) Pemberian antibiotik secara topikal pada telinga dan sekret yang banyak tanpa dibersihkan dulu, adalah tidak efektif. Bila sekret berkurang/tidak progresif lagi diberikan obat tetes yang mengandung antibiotik dan kortikosteroid.Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar masuk sampai telinga tengah, maka tidak dianjurkan antibiotik yang ototoksik misalnya neomisin dan lamanya tidak lebih dari 1 minggu. Cara pemilihan antibiotik yang paling baik dengan berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistesni. Bubuk telinga yang digunakan seperti: a. b. c. mg
15

Acidum boricum dengan atau tanpa iodine Terramycin Asidum borikum 2,5 gram dicampur dengan khloromicetin 250

Pengobatan antibiotik topikal dapat digunakan secara luas untuk OMSK aktif yang dikombinasi dengan pembersihan telinga. Antibiotika topikal yang dapat dipakai pada otitis media kronik adalah : a. Polimiksin B atau polimiksin E Obat ini bersifat bakterisid terhadap kuman gram negatif,

Pseudomonas, E. Koli Klebeilla, Enterobakter, tetapi resisten terhadap gram positif, Proteus, B. fragilis Toksik terhadap ginjal dan susunan saraf. b. Neomisin Obat bakterisid pada kuma gram positif dan negatif, misalnya : Stafilokokus aureus, Proteus sp. Resisten pada semua anaerob dan Pseudomonas. Toksik terhadap ginjal dan telinga. c. Kloramfenikol Obat ini bersifat bakterisid Pemberian antibiotika tidak lebih dari 1 minggu dan harus disertai pembersihan sekret profus. Bila terjadi kegagalan pengobatan, perlu diperhatikan faktor penyebab kegagalan yang ada pada penderita tersebut. Antimikroba dapat dibagi menjadi 2 golongan. Golongan pertama daya bunuhnya tergantung kadarnya. Makin tinggi kadar obat, makin banyak kuman terbunuh, misalnya golongan aminoglikosida dengan kuinolon. Golongan kedua adalah antimikroba yang pada konsentrasi tertentu daya bunuhnya paling baik. Peninggian dosis tidak menambah daya bunuh antimikroba golongan ini, misalnya golongan beta laktam. Terapi antibiotik sistemik yang dianjurkan pada Otitis media kronik adalah: Pseudomonas P. mirabilis P. morganii, P. vulgaris Klebsiella E. coli : Aminoglikosida karbenisilin : Ampisilin atau sefalosforin : Aminoglikosida Karbenisilin : Sefalosforin atau aminoglikosida : Ampisilin atau sefalosforin
16

S. Aureus Streptokokus B. fragilis

: Penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida : Penisilin, sefalosforin, eritromisin, aminoglikosida : Klindamisin

Antibiotika golongan kuinolon (siprofloksasin, dan ofloksasin) yaitu dapat derivat asam nalidiksat yang mempunyai aktifitas anti pseudomonas dan dapat diberikan peroral. Tetapi tidak dianjurkan untuk anak dengan umur dibawah 16 tahun. Golongan sefalosforin generasi III ( sefotaksim, seftazidinm dan seftriakson) juga aktif terhadap pseudomonas, tetapi harus diberikan secara parenteral. Terapi ini sangat baik untuk OMA sedangkan untuk OMSK belum pasti cukup, meskipun dapat mengatasi OMSK. Metronidazol mempunyai efek bakterisid untuk kuman anaerob. Menurut Browsing dkk metronidazol dapat diberikan dengan dan tanpa antibiotik ( sefaleksin dan kotrimoksasol) pada OMSK aktif, dosis 400 mg per 8 jam selama 2 minggu atau 200 mg per 8 jam selama 2-4 minggu (3) Bila sekret telah kering, tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama 2 bulan, maka idealnya dilakukan miringoplasti atau timpanoplasti. Operasi ini bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki pendengaran. Bila terdapat sumber infeksi yang menyebabkan sekret tetap ada, atau terjadinya infeksi berulang, maka sumber infeksi itu harus diobati terlebih dahulu, mungkin juga perlu dilakukan pembedahan, misalnya adenoidektomi dan tonsilektomi. (9) Prinsip terapi OMSK tipe maligna adalah pembedahan yaitu mastoidektomi. Jadi, bila terdapat OMSK tipe maligna, maka terapi yang tepat adalah dengan melakukan mastoidektomi dengan atau tanpa timpanoplasti. Terapi konservatif dengan medikamentosa hanyalah terapi sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses subperiosteal aurikuler, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum mastoidektomi. (9) Ada beberapa jenis pembedahan atau teknik operasi yang dapat dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronik, baik tipe benigna maupun maligna, diantaranya:
1. Mastoidektomi sederhana ( simple mastoidectomy ) 17

2. Mastoidektomi radikal 3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi 4. Miringoplasti 5. Timpanoplasti


6. Pendekatan ganda timpanoplasti ( Combined approach timpanoplasty)

Jenis operasi mastoid yang dilakukan tergantung pada luasnya infeksi atau kolesteatoma, sarana yang tersedia serta pengalaman operator. Sesuai dengan luasnya infeksi atau luas kerusakan yang sudah terjadi, kadang-kadang dilakukan kombinasi dari jenis operasi itu atau modifikasinya. (9)

2. 8 Komplikasi OMSK Di masa awal penggunaan antibiotik, komplikasi OMSK jarang ditemukan karena intervensi antibiotik yang lebih dini ketika OMSK sudah di diagnosa. Namun, pembedahan mempunyai peranan yang penting dalam menangani OMSK dengan atau tanpa kolesteatoma. OMSK dengan terapi yang tidak memadai dapat berkembang menjadi komplikasi derajat sedang hingga mengancam nyawa, yang dapat digolongkan menjadi dua sub-golongan yaitu intratemporal dan intrakranial. Komplikasi intratemporal diantaranya petrositis, facial paralysis, dan labyrinitis. Sedangkan komplikasi intrakranial diantaranya lateral sinus thrombophlebitis, meningitis, dan abses intrakranial. Komplikasi lainnya yaitu gangguan pendengaran ( tuli ), kolesteatoma yang didapat, dan tympanosclerosis. (7)

2. 9 Prognosis OMSK

Pasien dengan OMSK mempunyai prognosis yang baik apabila infeksinya dapat ditangani dengan baik. Penyembuhan yang berkaitan dengan gangguan pendengaran bervariasi tergantung penyebabnya. Setengah kasus dari gangguan pendengaran sering dikoreksi dengan pembedahan. Tingkat kematian akibat OMSK meningkat apabila terdapat komplikasi intrakranial, tapi OMSK sendiri bukanlah suatu penyakit
18

yang mematikan. Meskipun beberapa penelitian melaporkan bahwa gangguan pendengaran neurosensori merupakan salah satu morbiditas dari OMSK, beberapa bukti yang lain tidak melaporkan demikian. (7)

BAB III RINGKASAN

1. Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK) adalah infeksi kronis telinga tengah dengan

perforasi membrane timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus atau hilang timbul.
2. OMSK dimulai dari sebuah episode infeksi akut atau merupakan kelanjutan dari

Otitis Media Supuratif Akut (OMA) dengan perforasi membran timpani yang sudah terjadi lebih dari 2 bulan.
3. Gejala dari OMSK diantaranya adalah keluar sekret dari telinga ( otore ), dapat

berupa encer atau kental, bening atau berupa nanah. Sekret yang keluar dari telinga akibat OMSK dapat terus menerus atau hilang timbul. Pasien mengeluh telinga berdenging (tinitus), rasa penuh di telinga, dan gangguan pendengaran.
4. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang

terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah dan hygiene yang buruk.
5. Diagnosis OMSK ditegakkan dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang bila diperlukan.


6. Prinsip terapi OMSK tipe benigna adalah konservatif atau dengan medikamentosa.

Telinga dibersihkan dari sekret dan diberikan antibiotik. Prinsip terapi OMSK tipe
19

maligna adalah pembedahan yaitu mastoidektomi. Pasien dengan OMSK mempunyai prognosis yang baik apabila infeksinya dapat ditangani dengan baik.

20