Anda di halaman 1dari 12

Jumlah penderita diabetes mellitus meningkat dan katarak merupakan salah satu penyebab paling umum dari gangguan

penglihatan. Kemajuan dalam teknik bedah katarak dan instrumentasi umumnya meningkatkan hasil yang lebih baik, namun, operasi mungkin tidak aman dan efektif pada individu tertentu dengan proses patologi retina yang sudah ada sebelumnya atau visual yang terbatas. Artikel ini bertujuan untuk mengatasi berbagai aspek seputar katarak pada pasien diabetes. Dalam pencarian komputerisasi MEDLINE studi yang relevan dipilih oleh dua penulis menggunakan kata kunci "diabetes mellitus", "katarak", "retinopati diabetik" dan "makulopati diabetes". PENDAHULUAN Pertumbuhan penduduk, penuaan, dengan gaya hidup dan peningkatan prevalensi obesitas meningkatkan jumlah penderita diabetes mellitus. Prevalensi diabetes global diperkirakan menjadi 2,8% pada tahun 2000 dan diperkirakan akan mencapai 4,4% pada tahun 2030. Jumlah penderita diabetes melitus di seluruh dunia diperkirakan meningkat dari 171 juta pada tahun 2000 menjadi 366 juta. Secara global, katarak tetap menjadi penyebab utama kebutaan, mempengaruhi sekitar 18 juta orang. Katarak terjadi pada usia lebih dini dan 2 - 5 kali lebih sering pada pasien dengan diabetes. Secara keseluruhan, sampai dengan 20% dari semua katarak diperkirakan akan dilakukan prosedur untuk pasien diabetes. Penelitian epidemiologi telah menunjukkan bahwa katarak merupakan penyebab paling umum dari gangguan penglihatan pada pasien dengan diabetes yang lebih lama onsetya dan tingkat operasi katarak juga tinggi. Penelitian Wisconsin mengidentifikasi bahwa sepuluh tahun kejadian kumulatif operasi katarak adalah 27% pada pasien dengan diabetes onset awal dan 44% pada kasus dengan penyakit onset lebih lama. Kemajuan dalam operasi katarak umumnya telah meningkatkan hasil yang lebih baik, namun penderita diabetes tidak selalu mempunyai hasil yang sama. Beberapa studi telah melaporkan bahwa operasi katarak mungkin memiliki efek samping, termasuk perkembangan retinopati, perdarahan vitreous, neovaskularisasi iris dan penurunan atau kehilangan penglihatan. Penelitian ini akan mengkaji artikel terkait untuk menyorot kesepakatan saat ini dan kontroversi tentang perkembangan ekstraksi katarak dan komplikasi dengan perhatian yang lebih besar pada aspek klinis. Faktor resiko untuk komplikasi okular pada pasien diabetes Diabetes mellitus adalah kondisi sistemik yang mempengaruhi banyak organ selain mata. Di sisi lain, seiring gangguan sistemik secara signifikan dapat mempengaruhi perkembangan dan komplikasi okular pada pasien diabetes. Kontrol glukosa darah dan hipertensi sistemik mengurangi risiko retinopati diabetes dan memperlambat perkembangan retinopati diabetes. Penyakit ginjal yang parah mempengaruhi perkembangan retinopati diabetes, lipid serum berhubungan dengan eksudasi makula dan hilangnya penglihatan, latihan yang berlebihan pada pasien dengan retinopati lanjut bisa menyebabkan rentan terhadap perdarahan vitreous, perkembangan transien retinopati diabetik dapat terjadi selama kehamilan, anemia

dapat mengakibatkan perkembangan retinopati diabetes dan merokok secara umum juga mempunyai pengaruh walaupun kecil. Studi yang terkait dengan pembentukan katarak pada pasien diabetes telah menunjukkan bahwa hiperglikemia dikaitkan dengan hilangnya transparansi lensa. Penurunan cepat kadar glukosa serum pada pasien dengan hiperglikemia dapat menyebabkan kekeruhan lensa sementara dan pembengkakan serta transient hyperopia. Ini juga telah menyarankan bahwa kontrol glukosa darah yang cepat dapat meningkatkan kekeruhan lensa yang irreversible. Faktor resiko katarak pada diabetes Katarak adalah salah satu komplikasi awal diabetes mellitus. Klein menunjukkan bahwa pasien dengan diabetes mellitus 2-5 kali lebih mungkin untuk mengembangkan katarak daripada yang non diabetes, risiko ini dapat mencapai 15-25 kali pada penderita diabetes kurang dari 40 tahun. Kadar glukosa puasa terganggu Bahkan (IFG), kondisi pra-diabetes, telah dianggap sebagai faktor risiko untuk pengembangan katarak kortikal Dalam sebuah studi di Iran, Janghorbani mengevaluasi 3.888 pasien diabetes tipe 2 yang bebas dari katarak pada kunjungan pertama dan melaporkan tingkat pembentukan katarak 33,1 per 1000 orang per tahun setelah diamati selama 3,6 tahun. Pencegahan katarak Tiga mekanisme molekuler tampaknya terlibat dalam pengembangan katarak diabetes: non-enzimatik glikasi protein lensa, stres oksidatif dan pengaktifan jalur poliol. Terlepas dari berbagai agen, termasuk inhibitor glikasi (Aspirin, Ibu-profen, Aminoguanidin dan Piruvat), anti-oksidan (Vitamin C, Vitamin E, karotenoid, dan Trolox hydroxytoluene) dan aldosa reduktase inhibitor (Zenarestat, Eplarestat , Imirestat, Ponalrestat, Zopolrestat, M-79.175 dan BAL-AR18) telah menunjukkan potensi untuk pencegahan katarak pada binatang, namun masih terlalu dini untuk merekomendasikan pada manusia. Perubahan segmen anterior pada diabetes Diabetes mellitus secara signifikan berdampak pada morfologi metabolik, sifat fisiologis dan klinis dari kornea. Kelainan kornea, keratopati diabetes umumnya hadir lebih dari 70% dari pasien diabetes dan termasuk perubahan klinis yang terdeteksi seperti kerapuhan epitel meningkat dan erosi berulang, mengurangi sensitivitas kornea, peningkatan autofluorescence, gangguan penyembuhan luka, perubahan fungsi penghalang epitel dan endotel , dan kecenderungan untuk edema kornea dan ulkus yang menular. Confocal microscopy telah mengungkapkan kepadatan sel basal pada pasien diabetes yang mungkin disebabkan penurunan inervasi tingkat saraf pleksus subbsasal. perubahan membran basal dan tingkat turnover yang lebih tinggi dalam sel epitel basal. Pleksus saraf baik dan stroma kornea subasal pada diabetes menunjukan keadaan yang abnormal pada mikroskop confocal, pasien dengan retinopati diabetik proliferatif menunjukkan perubahan lebih jelas dibandingkan pasien tanpa retinopati diabetik. Saraf pleksus subbasal telah dilaporkan muncul secara signifikan lebih tebal.

Kepadatan sel juga tampaknya akan berkurang pada tingkat pertengahan stroma kornea pada pasien diabetes. Inoue menunjukkan bahwa kepadatan sel endotel kornea menurun dan koefisien variasi di daerah sel meningkat pada pasien diabetes dibandingkan dengan rutin kontrol glukosa darah. Namun, telah diamati, tidak ada perbedaan yang signifikan dalam ketebalan kornea pusat atau central corneal thickness (CCT) Perubahan yang paling penting dalam lensa kristal adalah pembentukan katarak. Membran basal lensa (atau kapsul lensa) diketahui tebal pada penderita diabetes, yang mirip dengan membran basal vaskular menebal. Kapsul menebal ini yang akan pecah selama ekstraksi lensa intracapsular , yang tampaknya lebih sering terjadi pada penderita diabetes. Perubahan kapsul lensa juga dapat mempengaruhi dalam melakukan capsulorrhexis selama phacoemulsification. Beberapa penelitian telah membandingkan berbagai jenis katarak pada penderita diabetes dengan penderita non diabetes. Schafer melaporkan persentase kekeruhan kortikal yang lebih tinggi pada penderita diabetes seperti yang didokumentasikan oleh Scheimpflug fotografi dan analisis densitometri. Mereka juga menunjukkan korelasi antara diabetes mellitus tipe 2 dan kekeruhan lensa kortikal. Saxena menemukan kejadian 2 kali lipat lebih tinggi terjadi katarak kortikal pada pasien diabetes mellitus lebih dari 5 tahun. Dalam studi mereka, katarak subcapsular posterior lebih sering pada pasien diabetes, namun asosiasi secara statistik signifikan hanya untuk pasien dengan diabetes yang baru didiagnosa. Peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara katarak nuklir dan diabetes mellitus atau IFG. Sebuah tipe jarang dari kekeruhan lensa, yang benar katarak diabetes atau kepingan salju, terdiri dari luas kekeruhan lensa bilateral subcapsular yang onsetnya mendadak dan akut perkembangan, biasanya pada orang muda dengan diabetes mellitus yang tidak terkontrol. Ini jarang terjadi dan mungkin presentasi awal dari diabetes. Perubahan iris seperti konsistensi kasar dan pupil miosis ditemukan terjadi lebih sering pada pasien diabetes. Epitel pigmen iris sering vacuolisasi karena akumulasi glikogen dan dispersi pigmen dapat terjadi dengan trauma iris atau pembedahan. Dalam beberapa kasus, terdapat juga transiluminasi iris abnormal. Hal ini cenderung dikaitkan dengan derajat retinopati yang lebih berat. Hipoksia dikaitkan sebagai penyebab perubahan pada epitel pigmen iris. Studi telah melaporkan prevalensi yang lebih tinggi dari peningkatan rata rata TIO dan POAG antara pasien dengan diabetes. Di sisi lain, pasien glaukoma telah dilaporkan memiliki prevalensi yang lebih tinggi karena metabolisme glukosa abnormal. Ada kemungkinan bahwa diabetes melitus meningkatkan kerentanan kerusakan serabut saraf optik untuk menjadi glaukoma karena efeknya pada pembuluh mata yang kecil. Apakah diabetes merupakan faktor risiko independen untuk pengembangan POAG masih kontroversial, beberapa studi telah menemukan hubungan positif (Blue Mountains Eye Study) sementara yang lain tidak. Diabetes tidak berhubungan dengan peningkatan risiko konversi hipertensi okular menjadi glaukoma dalam Studi Treatment Hipertensi pada mata atau Ocular Hypertension Treatment Study (OHTS). Salah satu komplikasi segmen anterior yang paling penting pada diabetes adalah neovaskularisasi iris (NVI) yang biasanya disebabkan oleh hipoksia jaringan atau iskemia dan ditandai dengan pembuluh darah arborizing pada stroma iris dan

trabekular meshwork, disertai dengan membran fibrosa. Hasil kontraksi membran fibrovascular dalam pembentukan sinekia anterior perifer mengarah ke jenis glaukoma sudut tertutup sekunder yang parah, glaukoma neovaskular, yang disebabkan oleh berbagai gangguan yang ditandai dengan iskemia retina atau okular dan yang paling umum digunakan adalah diabetes mellitus. Kapan dilakukan pembedahan katarak Pendekatan waktu untuk operasi katarak pada pasien diabetes tampaknya berubah. Satu dekade yang lalu, sikap yang lebih konservatif masih lazim. Pollack melaporkan visus lebih baik dari 20/40 pada 31% dari pasien dan mencatat edema makula sebagai penyebab utama hasil visual yang buruk. Peneliti ini mengusulkan bahwa "ekstraksi katarak tidak boleh direkomendasikan untuk mata dengan retinopati diabetik sampai ketajaman visual sudah memburuk sampai 20/100 - 20/200". Pandangan ini kemudian didukung oleh Schatz yang melaporkan sebuah studi di mana hanya 9% visus pasca operasi mata lebih baik dari 20/40. Para penulis menyatakan bahwa "Seorang pasien dengan diabetes dan katarak mungkin ingin untuk menunda operasi atau memilih untuk tidak memilikinya sama sekali, diberi kesempatan terutama jika ada sudah ada retinopati sebelum pembedahan. Ada perkembangan bukti yang mendukung pendekatan yang lebih intervensi. Pergeseran dalam sikap terhadap ekstraksi katarak awal pada diabetes mellitus telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan hasil visual. Pendekatan ini memfasilitasi fotokoagulasi panretinal sehingga mencegah perkembangan retinopati dan juga memungkinkan pengobatan tepat waktu pada edema makula yang mendasarinya. Hasil visual cenderung lebih buruk dalam studi di mana operasi akan diundur sampai tidak mungkin untuk mengidentifikasi atau cukup mengobati edema makula yang signifikan secara klinis (CSME) sebelum operasi. Selain itu, jika operasi dilakukan sebelum lensa keruh dapaat mencegah penebalan retina, risiko CSME menurun dan hasil visual yang dapat membaik. Pertimbangan sebelum operasi Sebelum operasi, pasien harus mengontrol glukosa darah yang baik dan tidak ada infeksi okular atau periocular. Karena perubahan berbagai segmen anterior pada pasien diabetes, disarankan ekstraksi katarak dilakukan oleh ahli bedah yang berpengalaman. Pemeriksaan ophthalmologi menyeluruh dan komprehensif, termasuk penilaian ketajaman visual (VA), koreksi ketajaman visual terbaik (BCV A), relatif Afferent pupil defect (RAPD), slitlamp biomicroscopy, gonioscopy (dengan perhatian khusus pada pembuluh baru), tonometry dan funduskopi dilatasi adalah wajib. Evaluasi diagnostik tambahan seperti fluorescein angiography, tomografi koherensi optik (OCT) dan B-scan ultra-sonografi dapat membantu dalam kasus-kasus tertentu. Beberapa penulis merekomendasikan konsultasi dengan subspecialist vitreoretinal, terutama dalam kasus-kasus yang rumit. Pasien dengan retinopati diabetik proliferatif yang sudah ada sebelumnya lebih mungkin untuk mengalami kemajuan yang cepat setelah operasi katarak, sehingga photocoagulation panretinal (PRP) dianjurkan sebelum operasi. Ketika kekeruhan lensa menghalangi PRP, dapat dilakukan setelah operasi atau ahli bedah dapat mempertimbangkan pra operasi cryopexy panretinal atau operasi katarak gabungan

dengan vitrectomy dan photocoagulation endolaser, terutama untuk kasus-kasus dengan tractional retinal detachment (TRD). Edema makula harus diobati sebelum operasi karena maculopathy yang sudah ada sebelumnya dapat memperburuk keadaan pasca operasi dan sangat terkait dengan hasil visual yang buruk. Hiperglikemia adalah penyebab utama perubahan refraksi transient pada pasien diabetes. Perubahan refraksi diamati selama periode gula darah tidak stabil karena diperkirakan terkait dengan perubahan morfologis dan fungsional pada lensa kristal. Dengan terapi medis intensif, sejumlah besar pasien cenderung menjadi lebih hyperopic dibandingkan dengan keadaan hiperglikemia. Perubahan parameter topografi kornea selama periode perubahan glikemik merupakan sumber kesalahan potensial dalam operasi keratorefractive dan katarak. Operasi Katarak Secara keseluruhan operasi katarak lebih rumit pada pasien diabetes. Phacoemulsification dikaitkan dengan hasil visual yang lebih baik, mengurangi radang dan mengurangi keperluan untuk capsulotomy dibandingkan dengan operasi katarak ekstrakapsular. Hypoesthesia kornea umum terjadi pada pasien diabetes. Perlu perhatian khusus untuk melindungi epitel kornea selama operasi. Kornea yang lecet selama atau setelah operasi mungkin akan menyembuh dalam waktu yang lama dan menyebabkan erosi kornea berulang. Sayatan kecil pada pembedahan dapat meminimalkan penurunan sensasi kornea lebih lanjut. Karena hypoesthesia kornea dan peningkatan risiko infeksi, pasien dengan diabetes merupakan kelompok yang tidak baik untuk memakai lensa kontak jangka panjang (aphakia). Jadi lensa intraokular (IOL) harus dimasukkan dalam posterior bila mungkin. Jika pupil kecil sebelum operasi, dapat diperbesar selama operasi katarak menggunakan intracameral atropin dan adrenalin, beberapa sphincterotomies, teknik peregangan pupil atau retraktor iris mekanik. Sebuah capsulotomy anterior dan pembersihan kortikal lengkap akan meningkatkan pandangan retina perifer pasca operasi. Phimosis capsular anterior lebih umum pada pasien diabetes, sehingga ukuran capsulorrhexis harus lebih besar dari normal tetapi lebih kecil dari diameter IOL optik untuk mencegah kekeruhan capsular posterior. Sebuah diameter besar optik (yaitu 6,0 mm atau lebih besar) akan memfasilitasi diagnosis dan pengobatan patologi retina perifer pasca operasi. Keterampilan dokter bedah mempengaruhi waktu bedah, mengurangi kemungkinan komplikasi intraoperatif dan berhubungan dengan mengurangi radang pasca operasi. Operasi katarak yang lebih lama dan rumit dikaitkan dengan risiko yang lebih besar dari perkembangan retinopati dan visual yang selanjutnya. Merupakan hal yang bijaksana untuk melakukan segala upaya untuk meminimalkan trauma bedah pada mata diabetes. Altug menunjukkan bahwa retinopati photic selama operasi katarak lebih umum pada pasien diabetes daripada penderita non diabetes. Mereka menyarankan bahwa pasien diabetes mungkin lebih rentan terhadap cedera fotik dan ahli bedah harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.

Pilihan lensa intraokular IOL dengan diameter besar diperlukan untuk memfasilitasi visualisasi dan pengobatan retina perifer. Misalnya 6,5-mm IOL, menyediakan daerah optik 39,7% lebih besar dari 5,5 mm-IOL, perbedaan ini mungkin penting untuk pengelolaan yang optimal pada retinopati diabetik. Posterior capsular opacification (PCO) merupakan perhatian utama setelah ekstraksi katarak. Perkembangan PCO pada pasien diabetes tampaknya lebih parah daripada pasien non-diabetes. PCO mungkin berhubungan dengan bentuk tepi optik, desain squareedge yang tampaknya menghambat proliferasi sel epitel lensa dan karena itu dapat mencegah pembentukan PCO. Opasifikasi kapsular posterior atau (PCO- posterior capsular opacification) merupakan hal yang perlu diperhatikan setelah ekstraksi katarak. Pasien diabetes tampaknya lebih berkembang menjadi PCO yang berat daripada pasien non-diabetes. PCO mungkin berhubungan dengan tepi optik yang tampaknya menghambat proliferasi sel epitel dan karena itu dapat mencegah pembentukan PCO. Tiga bahan umum yang digunakan untuk pembuatan IOL adalah silikon, akrilik hidrofobik dan akrilik hidrofilik. Beberapa penelitian telah mengevaluasi biokompatibilitas bahan-bahan pada pasien diabetes. Salah satu studi membandingkan tingkat PCO dengan akrilik hidrofobik dan IOL silikon platehaptic pada pasien diabetes, meskipun IOL akrilik hidrofobik dikaitkan dengan ruang anterior yang lebih pijar pada periode awal pasca operasi. Tingkat fosfor dalam serum dan humor aqueous pada pasien diabetes, terutama mereka dengan retinopati diabetik proliferatif, secara signifikan lebih tinggi dari orang normal, yang dapat menyebabkan kekeruhan dari IOL akrilik hidrofilik. Ada laporan meningkatnya kekeruhan kalsifikasi progresif IOL akrilik hidrofilik pada pasien diabetes. Rodriguez-Galietero mengevaluasi perubahan dalam sensitivitas kontras dan diskriminasi warna pada pasien diabetes yang menjalani operasi katarak dan penyaringan implantasi bluelight IOL dibandingkan dengan IOL penyaringan ultraviolet. Hasilnya menunjukkan penyaringan bluelight IOL tidak menyebabkan cacat diskriminasi berwarna dan visi warna bahkan ditingkatkan dalam sumbu berwarna blueyellow. Penggunaan IOL multifocal dan akomodatif pada penderita diabetes masih kontroversial. Tempat implantasi lensa intraokluar Timbul kekhawatiran mengenai penggunaan lensa sudut fiksasi ruang anterior dan sulkus fiksasi ruang posterior IOL pada pasien diabetes. IOL ruang anterior termasuk lensa iris pada umumnya tidak boleh digunakan pada pasien dengan diabetes yang berada pada peningkatan risiko neovaskularisasi iris. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa prosedur paling aman bagi penderita diabetes dikendalikan dengan operasi ekstrakapsular dengan membersihkan secara hati hati pada bagian kortikal dan dalam implantasi IOL dalam ruang posterior. Lensa ruang posterior akan bertindak sebagai penghalang untuk gerakan anterior vitreous dalam hal capsulotomy posterior.

Prognosis visual setelah operasi katarak Penelitian terbaru pada operasi katarak pada penderita diabetes cenderung melaporkan insiden komplikasi lebih rendah dan hasil visus yang lebih baik. Tren perbaikan mungkin karena manajemen preoperatif yang baik dari retinopati, evolusi dalam teknik operasi dan apresiasi terhadap pentingnya faktor sistemik seperti hipertensi dan kontrol kadar gula darah. Secara umum, prognosis visual setelah operasi katarak pada pasien diabetes menguntungkan. Pasien diabetes dengan retinopati yang sedikit atau tidak menunjukan prognosis yang sama baiknya dengan orang tanpa diabetes. Namun, dengan adanya retinopati diabetes yang signifikan, ketajaman penglihatan pasca operasi mungkin suboptimal dan hasil operasi mungkin mengecewakan. Kehadiran CSME dan ketajaman visual yang buruk pada preoperatif (mencerminkan makulopati diabetes, iskemia dan traksi) telah diakui sebagai faktor risiko untuk ketajaman visual yang buruk pasca operasi setelah operasi katarak. Laporan sebelumnya telah difokuskan terutama pada VA dan memperhatikan efek operasi yang berhubungan dengan kualitas hidup dipandang dari kepuasan hasil operasi. Mozaffarieh dalam studi prospektif mengevaluasi pasien dengan berbagai tahap retinopati diabetik. Pasien dinilai menggunakan kuesioner VF-14 (Visual Fungsi-14). Studi mereka menyarankan bahwa pasien dengan retinopati diabetik lanjut mungkin tidak menunjukkan perbaikan fungsional meskipun perbaikan jelas pada VA. Ini menekankan pentingnya edukasi pasien sebelum operasi. Indikasi hasil visual yang buruk setelah operasi katarak Beberapa variabel telah dikaitkan dengan hasil visual yang buruk setelah operasi katarak pada pasien diabetes. Menurut Pengobatan Dini Studi Retinopati Diabetik atau Early Treatment of Diabetic Retinopathy Study (ETDRS), kehadiran CSME pada saat operasi katarak secara signifikan berhubungan dengan ketajaman visual yang buruk pasca operasi dan prediksi tajam penglihatan akhir lebih buruk dari 20/200. Tingkat keparahan retinopati diabetik pada saat operasi katarak juga merupakan penentu ketajaman visual pasca operasi: retinopati yang lebih parah tampaknya dikaitkan dengan peningkatan prevalensi iskemia makula, atau sebagai riwayat alamiah menunjukkan, kecenderungan berkurangnya resolusi spontan edema makula pasca operasi. Analisis faktor penentu ketajaman visual pascaoperasi di ETDRS juga mengidentifikasi ketajaman visual yang buruk saat preoperative sebagai faktor risiko untuk hasil pascaoperasi yang buruk. Iskemia makula, edema dan traksi tampaknya menjadi penyebab kemungkinan untuk penemuan yang selanjutnya. Gabungan operasi katarak dan vitrektomi Kemajuan dalam teknik bedah vitreoretinal dan katarak telah menyebabkan beberapa penelitian penggabungan operasi katarak dan operasi vitrectomy pada pasien diabetes. Pasien diabetes yang menjalani vitrectomy sering disertai dengan katarak, di sisi lain sering timbul kekeruhan pada lensa setelah vitrectomy. Operasi Gabungan telah terbukti aman, efektif dan sebanding dengan bedah berurutan dalam hal hasil visual akhir. Pemilihan pasien dengan hati-hati dan menggabungkan dua prosedur dapat menawarkan rehabilitasi visual yang lebih cepat, menghindari operasi kedua

dan menyederhanakan intervensi bedah pada pasien yang mungkin memerlukan prosedur ganda. Beberapa studi telah menyarankan bahwa vitreoretinal mempunyai faktor kontribusi dalam pengembangan persiten CSME setelah laser fotokoagulasi dan telah menunjukkan perbaikan anatomi dan visual yang signifikan dengan operasi gabungan bila diindikasikan. Pemilihan pasien sangat penting untuk hasil yang sukses pada prosedur gabungan ini. Pasien umur 60 tahun lebih mungkin untuk memiliki kekeruhan lensa progresif setelah vitrectomy. Operasi Gabungan dapat direkomendasikan untuk pasien dengan pembedahan katarak membran atau mereka dengan katarak yang sudah ada sebelumnya yang mungkin menderita kehilangan penglihatan akibat perkembangan katarak dalam dua tahun ke depan. Pasien dengan traksi parah dan iskemia dan mereka dengan rubeosis aktif adalah calon yang kurang cocok dan untuk pasien yang lebih muda dengan kekeruhan lensa kecil mungkin lebih baik dikelola tanpa ekstraksi lensa. Pembedahan katarak dan suntikan intravitreal Operasi katarak memberikan pengaturan yang ideal untuk pemberian obat intravitreal dalam bidang bedah steril yang memungkinkan untuk mengendalikan TIO. Pengalaman dengan steroid intravitreal telah menunjukkan keberhasilan mereka dalam mengurangi edema makula yang diukur dengan tomografi koherensi optik atau optical coherence tomography (OCT). Steroid intravitreal dapat dipertimbangkan selama operasi katarak dengan CSME tetapi tidak membran epiretinal atau komponen tractional terutama jika pasien belum diobati atau jika telah diperoleh respon baik sebelumnya. Suntikan intravitreal bevacizumab (A vastin) telah digunakan untuk pengobatan penyakit mata dan neovascular eksudatif sejak tahun 2005. Sejak itu, beberapa penelitian telah dievaluasi pengaruhnya terhadap komplikasi diabetes neovascular, namun penggunaannya selama operasi katarak tidak dievaluasi dan bisa menjadi subjek penelitian yang akan datang Pertimbangan setelah operasi Semua pasien yang didiagnosis dengan retinopati diabetik nonproliferatif harus menjalani pemeriksaan retina yang lebih rinci dalam waktu tiga bulan sebelum ekstraksi katarak. Pasien dengan retinopati proliferatif atau mereka dengan pandangan yang kurang harus dievaluasi ketat setelah operasi untuk memantau status retina. NVI merupakan komplikasi yang paling ditakuti pada segmen anterior pada pasien dengan diabetes setelah operasi katarak. Insiden tersebut telah berkurang dengan operasi katarak modern yang kurang traumatis dan meninggalkan kapsul posterior yang masih intak. Selain PRP, suntikan intravitreal bevacizumab telah dilaporkan dapat untuk mengontrol NVI tetapi efeknya singkat. Komplikasi segmen anterior lainnya yang terjadi lebih sering pada diabetes adalah sinekia posterior, blok pupil, endapan pigmentasi pada IOL dan iritis parah. Insiden reaksi fibrin yang tinggi dan dilaporkan sampai dengan 13,7% dari pasien diabetes. Meskipun tidak pasti dikonfirmasi, diabetes dapat menjadi faktor risiko endophthalmitis pascaoperasi dan berhubungan dengan prognosis visual yang buruk yang mengikuti perkembangan endophthalmitis.

Komplikasi kornea dapat terjadi secara spontan, tetapi lebih sering mengikuti manipulasi bedah yang berlebihan. Pasien diabetes rentan terhadap kerusakan epitel kornea dan erosi terus-menerus karena gangguan sensasi kornea, ini terjadi lebih sering dengan usia pasien yang bertambah dan lamanya menderita diabetes. Telah dilaporkan Epiteliopati seperti gelombang setelah phacoemulsification mencerminkan neurotropik kornea. Sejumlah langkah-langkah untuk penyembuhan epitel kornea telah dieksplorasi. Penghentian obat topikal mungkin cukup untuk menyembuhkan cacat epitel karena banyak sediaan yang mengandung pengawet beracun. Pasien harus sering ditangani dengan obat tetes sebagai pelumas dan salep, kacamata dan kelopak mata ditutup, atau dengan tarsorrhaphy sementara atau permanen. Pengobatan lain yang efektif untuk cacat epitel yang persisten adalah terapi pemasangan kontak soft lens tetapi kelemahan utama adalah peningkatan risiko infeksi kornea. Pilihan baru terapeutik termasuk: fibronektin, faktor pertumbuhan (termasuk faktor pertumbuhan epidermal, substansi P dan insulin growth factor-1), plasminogen activator/plasmin dan membran amnion transplantation. Dalam sebuah studi acak, aplikasi insulin topikal (4 kali sehari selama 7 hari) menormalkan penyembuhan luka yang tertunda kornea pada tikus dengan diabetes mellitus Mata pasien dengan diabetes mellitus menunjukkan kerusakan sel endotel kornea lebih parah setelah operasi katarak dan keterlambatan pemulihan tertunda kornea edema. Lee membandingkan kerusakan sel endotel kornea setelah tindakan fakoemulsifikasi dan implantasi lensa intraokular pada pasien diabetes dikategorikan menurut keparahan retinopati diabetes dan pasien normal. Temuan mereka menunjukkan penurunan signifikan lebih besar pada kepadatan sel endotel kornea dan koefisien peningkatan variasi ukuran sel pada pasien dengan risiko tinggi PDR. Efek operasi katarak pada retinopati Sejumlah penelitian telah membahas apakah operasi katarak mempengaruhi retinopati diabetes . Perkembangan retinopati diabetik setelah ekstraksi katarak intracapsular (ICCE) dan ekstrakapsular (ECCE) telah dilaporkan. Namun terdapat kontroversi seputar efek phacoemulsification. Beberapa studi telah menunjukkan kecenderungan yang sama dari perkembangan retinopati diabetik setelah phacoemulsifikasi operasi, sementara yang lain melaporkan tidak ada perubahan secara signifikan. Banyak penulis yang percaya operasi katarak sebenarnya mempengaruhi perkembangan retinopati diabetes sementara yang lain merasa bahwa perjalanan alamiah lebih penting daripada efek dari operasi. Dalam sebuah penelitian retrospektif, Hauser mengevaluasi kejadian dan perkembangan retinopati diabetik, data mereka menunjukkan bahwa retinopati diabetik dikaitkan dengan seks laki-laki, durasi penyakit dan kontrol glikemik yang buruk. Perkembangan yang sudah ada sebelumnya retinopati diabetes dikaitkan dengan kontrol gula darah yang buruk. Penelitian retrospektif ini dibatasi secara alamiah , jumlah kasus yang relatif kecil dan tidak mampu membedakan proses alamiah dari penyakit dari efek dari operasi. Untuk membedakan efek operasi katarak dari proses alami penyakit, Dowler merancang penelitian prospektif di mana operasi dilakukan monokular . Para penulis menunjukkan bahwa operasi katarak

phacoemulsifikasi tidak rumit tidak mempercepat perkembangan retinopati diabetik. Dalam studi prospektif lain oleh squirrell phacoemulsification monokular telah dilakukan dan tingkat retinopati diabetik dan diabetik maculopathy dinilai selama 12 bulan pasca operasi di mata yang dioperasi dan yang tidak dioperasi. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa phacoemulsification tidak rumit mempercepat jalannya retinopati diabetik dan setiap perkembangan diamati mungkin merupakan proses alami dari gangguan. ETDRS laporan nomor 25 adalah salah satu studi yang paling penting pada operasi katarak pada diabetes. Ini memiliki tingkat rendah untuk tidak di follow up, terdokumentasi dengan baik BCV A pengukuran, foto fundus pertahun yang tepat dan intervensi didokumentasikan dengan baik. Laporan ini menunjukkan kecenderungan perkembangan retinopati dipercepat di mata dioperasikan dibandingkan dengan mata yang tidak dioperasi. Namun, kecenderungan ini tidak bermakna secara statistik. Perkembangan retinopati diabetes, terutama dalam studi mengevaluasi ECCE dan ICCE, mungkin disebabkan oleh kerusakan penghalang darah okular atau terjadi peningkatan peradangan pada pasien diabetes setelah ekstraksi katarak. Ukuran sayatan lebih kecil dan waktu bedah lebih pendek dalam phacoemulsification dapat mengurangi inflamasi dan dapat mengurangi kerusakan penghalang darah okular. Kurangnya efek klinis yang signifikan dalam studi tertentu tidak mengesampingkan efek samping dari operasi. Satu hari setelah phacoemulsification lancar dan VEGF IOL implantasi, faktor pertumbuhan hepatosit, interleukin-1 dan pigmen epitel faktor konsentrasi meningkat tetapi mengambil satu bulan untuk menurun ke tingkat pra operasi. Hasil ini mengkonfirmasi perubahan konsentrasi angiogenik dan faktor pertumbuhan setelah operasi katarak, yang dapat menyebabkan subklinis atau bahkan klinis memburuknya retinopati diabetik dan makulopati. Efek operasi katarak pada edema makula Perubahan konsentrasi faktor angiogenik setelah operasi katarak dapat memperburuk maculopati. Setelah operasi katarak lancar, pencitraan OCT telah mengungkapkan peningkatan ketebalan retina pada mata diabetes tanpa retinopati yang dibandingkan dengan non diabetes, namun ada kecenderungan lebih meningkatkan ketebalan retina yang jelas pada penderita diabetes sampai dengan 3 bulan setelah operasi. Pada mata tanpa CSME pada saat operasi, baik karena kondisi tersebut tidak berkembang atau berhasil diobati, ETDRS laporan nomor 25 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam prevalensi edema makula sebelum dan satu tahun setelah operasi. Studi lain melaporkan kejadian 56% dari edema makula terdeteksi satu tahun setelah operasi, tetapi terjadi resolusi spontan 50% tanpa pengobatan dalam waktu enam bulan, dan pada 75% satu tahun setelah operasi. Data lain menunjukkan bahwa, meskipun edema makula umum terjadi setelah operasi katarak mungkin mengikuti proses yang jinak dan pada banyak pasien perkembangan klinis edema makula yang signifikan pasca operasi mungkin merupakan kemajuan dalam perjalanan alamiah penyakit daripada efek langsung dari operasi.

Mata dengan bentuk CSME pada saat operasi mempunyai perawatan yang cukup berbeda, tidak diselesaikan secara spontan dalam waktu satu tahun dan mayoritas menunjukkan bukti klinis kerusakan dari angiografik. Secara keseluruhan, CSME yang ada pada mata diabetes pada saat operasi katarak tidak mungkin sembuh secara spontan. Tampaknya laporan kasus edema makula yang parah setelah operasi katarak menggambarkan kerusakan edema makula pasca operasi yang sudah ada sebelumnya yang tidak diobati karena kekeruhan lensa. Penelitian pada edema makula setelah operasi katarak sulit untuk dilakukan karena mereka harus mampu membedakan edema makula diabetes dari makular cystoid pseudofakia edema (Irvine-Gass syndrome). Angiografi floresein mungkin dapat membantu membuat perbedaan, jika angiografi menunjukan pola petaloid yang terkait dengan hiperfloresen optik disk tanpa retinopati atau mikroanuerisma. Dapat dipertimbangkan edema sebagai akibat dari irvine-Gass syndrome. Namun, beberapa penulis tidak setuju bahwa hiperfloresen optik disk tentu menunjukkan adanya edema makula pseudofakia. Pasca operasi laser fotokoagulasi untuk edema makula pada diabetes masih kontroversial. pollack melakukan uji coba terkontrol pertama yang prospektif untuk mengevaluasi perjalanan alamiah edema makula pada diabetes setelah operasi katarak. Mereka menemukan bahwa hanya sebagian kecil pasien yang mengembangkan edema makula diperlukan photocoagulation laser fokus. Demikian pula, Dowler melaporkan bahwa edema makula sembuh secara spontan jika timbul setelah operasi tetapi tidak jika timbul sebelum operasi, menunjukkan bahwa perawatan laser dini dari semua kasus edema makula pada diabetes pasca operasi tidak diperlukan Kekeruhan kapsul posterior Kekeruhan kapsul posterior atau Posterior capsule opacification (PCO) tetap menjadi komplikasi yang umum pada operasi katarak dengan presentase 20%-50% setelah operasi. Modifikasi teknik operasi dan perbaikan dalam teknik IOL telah mengurangi tingkat PCO. Sel epitel lensa merupakan penyebab PCO. Proliferasi sel ini mempengaruhi beberapa faktor termasuk desain tepi optik, optic-haptic junction dan bahan IOL. Determinan lain yang penting adalah inflamasi pasca operasi. Tingkat peradangan pasca operasi mungkin berkaitan dengan perkembangan PCO. Telah diungkapkan bahwa trauma pembedahan dan kontak dengan IOL menstimulasi residual LEC untuk menghasilkan sitokin. Sitokin ini dapat mempengaruhi LEC dalam metode autokrin atau parakrin dan menginduksi produksi kolagen dan metaplasia fibrosa. Mata pada penderita diabetes memiliki fungsi pembatas darah dan air yang tidak baik lagi dan menjadi faktor predisposisi untuk terjadi inflamasi pasca operasi. Walaupun ahli bedah banyak yang percaya bahwa PCO lebih umum dan parah pada pasien diabetes, masalah ini masih tetap kontroversial. Menggunakan gambar retro-pencahayaan, Zaczek dan Zetterstrom menunjukkan PCO lebih sedikit pada pasien diabetes daripada kelompok non diabetes. Sistem diagnostik baru telah memfasilitasi evaluasi PCO. Hayashi menilai kepadatan kuantitatif PCO menggunakan sistem Scheimpflug slit-image dan tidak

menemukan perbedaan yang signifikan antara pasien diabetes dan non-diabetes sampai 12 bulan setelah operasi katarak. Namun, pada usia 18 bulan kemudian, PCO meningkat secara signifikan pada kelompok diabetes. Hasil mereka juga menunjukkan bahwa pasien diabetes secara bermakna lebih mungkin untuk memerlukan capsulotomy laser. Ebihara menggunakan sistem POCO (perangkat lunak untuk penilaian semiobjective dari PCO) juga menemukan bahwa secara signifikan pasien diabetes memiliki PCO yang parah lebih setelah operasi katarak dibandingkan pasien non-diabetes. Studi lain kembali melaporkan kontraksi kapsuler anterior lebih umum pada pasien diabetes, terutama mereka dengan retinopati diabetik. Kesimpulan Jumlah penderita diabetes mellitus meningkat secara eksponensial. Penderita diabetes tidak selalu memberikan hasil yang menguntungkan yang sama setelah operasi katarak seperti mereka non diabetes. Terapi pembedahan dan farmakologi baru sekarang memungkinkan untuk operasi yang lebih aman dan lebih efektif pada individu diabetes. Diperlukan perhatian khusus terhadap kondisi sistemik dan okular.