Anda di halaman 1dari 16

1

MAKALAH

PEMBUNUHAN ATAU BUNUH DIRI PADA KASUS DROWNING

oleh: Kelompok II Dwi Priyadi Djatmiko (0710710004) M. Irvan Arvandi (0710710094) Muhammad Maulana (0710710106) Natasha Diah Pitaloka (0710713024) Novelita Mesah (0810710087) Pembimbing: dr. Tasmonoheni, SpF

LABORATORIUM ILMU KEDOKTERAN FORENSIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA RUMAH SAKIT UMUM Dr. SAIFUL ANWAR MALANG 2012

DAFTAR ISI Halaman Judul ............................................................................................1 Daftar Isi ......................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................3 1.1 Latar Belakang Masalah .......................................................................3 1.2 Rumusan Masalah ................................................................................4 1.3 Tujuan Penulisan ..................................................................................4 1.4 Manfaan Penulisan ...............................................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................5 2.1 Batasan Kasus Tenggelam ..................................................................5 2.2 Mekanisme Tenggelam .........................................................................6 2.2.1 Tenggelam dalam Air Tawar .............................................................6 2.2.2 tenggelam dalam Air Asin .................................................................6 2.3 Pemeriksaan pada kasus Tenggelam ..................................................6 2.4 Pembunuhan dan Bunuh Diri pada Kasus Tenggelam..................... 6 BAB III LAPORAN KASUS DAN PEMBAHASAN .......................................9 3.1 Laporan Kasus ......................................................................................8 3.2 Pembahasan ..........................................................................................11 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................15 4.1 Kesimpulan ...........................................................................................15 4.2 Saran ......................................................................................................15 DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................16

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tenggelam (drowning) adalah ditemukannya jenazah dalam keadaan seluruh atau sebagian tubuh terbenam di dalam cairan.1 Tenggelam merupakan salah satu bentuk kematian asfiksia. Bila pada asfiksia yang lain tidak terjadi perubahan elektrolit dalam darah, sedangkan pada tenggelam perubahan tersebut ada, baik tenggelam dalam air tawar ( fresh water drowning) maupun tenggelam dalam air asin (salt water drowning). Mekanisme kematian pada tenggelam pada umumnya adalah asfiksia, mekanisme kematian yang dapat juga terjadi pada tenggelam adalah karena inhibisi vagal dan spasme laring. Setiap tahun, sekitar 150.000 kematian dilaporkan di seluruh dunia akibat tenggelam, dengan kejadian tahunan mungkin lebih dekat ke 500.000.2 Beberapa negara terpadat di dunia gagal untuk melaporkan insiden hampir tenggelam. Walaupun tenggelam terjadi pada kedua jenis kelamin, golongan laki-laki adalah tiga kali lebih sering mati akibat tenggelam berbanding golongan wanita. Kondisi drowning memiliki banyak tantangan untuk dibuktikan dalam pendekatan patologi, dalam menentukan sebab, serta cara kematian jenazah. forensiknya dimana seringkali hal ini dipersulit oleh proses dekomposisi. Berdasarkan data The Southwestern Institute of Forensic Sciences (SWIFS) yang dihimpun pada tahun 1977 hingga 1996, terdapat 1303 kasus tenggelam dengan persentase cara kematian 90,5% akibat kecelakaan, 4% akibat bunuh diri, 2,5% akibat pembunuhan, dan 4,5% tidak dapat ditentukan. Dalam menentukan cara kematian diperlukan pertimbangan terkoordinasi terhadap keadaan-keadaan yang diduga pada kematian, bukti-bukti medis obyektif yang ada, serta walaupun tidak mutlak spesifik, terdapat beberapa data konfirmatif yang dapat dicari melalui pemeriksaan luar, pemeriksaan dalam, dan pemeriksaan TKP yang dapat membantu menemukan cara kematian jenazah korban tenggelam. Meski bukan merupakan cara kematian mayor pada kasus tenggelam, ilmu kedokteran forensik dapat memberikan kontribusi dalam membedakan cara kematian tenggelam karena bunuh diri atau pembunuhan.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan dengan makalah ini dapat

menambah pengetahuan Pembaca mengenai pembunuhan atau bunuh diri pada kasus tenggelam.
1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Apa batasan kasus tenggelam? 1.2.2 Bagaimana membedakan cara kematian pembunuhan atau bunuh diri pada kasus tenggelam? 1.2.3 Apa perbedaan cara kematian pembunuhan atau bunuh diri pada kasus tenggelam? 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Mengetahui batasan kasus tenggelam.. 1.3.2 Mengetahui upaya membedakan cara kematian pembunuhan atau bunuh diri pada kasus tenggelam. 1.3.3 Mengetahui karakteristik yang membedakan cara kematian pembunuhan atau bunuh diri pada kasus tenggelam. 1.4 Manfaat Penulisan 1.4.1 Makalah ini dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan makalah berikutnya. 1.4.2 Makalah ini dapat menjadi dasar pengetahuan mengenai pembunuhan atau bunuh diri pada kasus tenggelam.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Batasan Kasus Tenggelam Tenggelam (drowning) adalah ditemukannya jenazah dalam keadaan seluruh atau sebagian tubuh terbenam di dalam cairan.1 Tenggelam pada umumnya merupakan kecelakaan, baik kecelakaan secara langsung berdiri sendiri, maupun tenggelam yang terjadi oleh karena korban dalam keadaan mabuk, berada di bawah pengaruh obat atau pada mereka yang terserang epilepsi. Pembunuhan dengan cara menenggelamkan jarang terjadi, korban biasanya bayi atau anak-anak; pada orang dewasa dapat terjadi tanpa sengaja, yaitu korban sebelumnya dianiaya, disangka sudah mati, padahal hanya pingsan. Untuk menghilangkan jejak korban dibuang ke sungai sehingga mati karena tenggelam. Bunuh diri dengan cara menenggelamkan diri juga merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Korban sering memberati dirinya dengan batu atau besi baru kemudian terjun ke air. Dengan demikian di dalam menghadapi kasus tenggelam, selain pemeriksaan ditujukan untuk menentukan sebab kematian juga ditujukan untuk mengetahui cara kematiannya, kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri. Pada orang yang tenggelam, tubuh korban dapat beberapa kali berubah posisi, umumnya korban akan tiga kali tenggelam, ini dapat dijelaskan sebagai berikut.1 Pada waktu pertama kali orang terjun ke air, oleh karena gravitasi ia akan terbenam untuk yang pertama kali. Oleh karena berat jenis tubuh lebih kecil dari berat jenis air, korban akan timbul dan berusaha untuk bernapas mengambil udara, akan tetapi oleh karena tidak bisa berenang, air akan masuk tertelan dan terinhalasi sehingga berat jenis korban sekarang menjadi lebih besar dari berat jenis air, dengan demikian ia tenggelam untuk kedua kalinya. Sewaktu berada pada dasar sugai, laut atau danau, proses pembusukan akan berlangsung dan terbentuk gas pembusukan, waktu yang dibutuhkan agar pembentukan gas pembusukan dapat mengapungkan tubuh korban adalah sekitar 7-14 hari. Pada waktu tubuh mengapung oleh karena terbentuknya gas pembusukan, tubuh dapat pecah terkena benda-benda di sekitarnya, digigit binatang atau oleh karena proses pembusukan itu sendiri, dengan demikian gas pembusukan akan keluar, tubuh korban terbenam untuk ketiga kalinya dan yang terakhir.

2.2 Mekanisme Tenggelam Mekanisme pada kasus tenggelam, bukan hanya sekedar masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan, akan tetapi merupakan hal yang cukup kompleks. Mekanisme tenggelam dalam air asin berbeda dengan tenggelam dalam air tawar. Pada tenggelam dalam air tawar terjadi fibrilasi ventrikel, penurunan tekanan darah yang mengakibatkan anoksia otak. Sedangkan tenggelam pada air laut akan menimbulkan edema pulmoner, hemokonsentrasi, kenaikan kadar magnesium darah, dan payah jantung.3 2.3 Pemeriksaan pada Kasus Tenggelam Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan mayat dalam keadaan basah, pada kulit terdapat pasir, lumpur, atau benda asing lainnya. Busa halus pada hidung dan mulut juga sering kali ditemukan. Selain itu pada pemeriksaan luar kasus tenggelam juga bisa didapatkan kutis anserina pada kulit, washer womans hand (telapak kaki dan tangan berwarna keputihan dan berkeriput), serta luka-luka lecet akibat gesekan benda-benda dalam air khususnya pada daerah pantat, punggung, belakang kepala dan luka-luka akibat gigitan binatang air. Pada pemeriksaan dalam dapat ditemukan busa halus dan benda asing dalam saluran pernapasan dan lambung, paru membesar (lebih berat dan banyak keluar cairan, paru-paru air), terdapat gambar bercak Paltauf (ungu, berbatas tegas) akibat alveoli pecah pada permukaan paru, pada pemeriksaan getah paru ditemukan adanya diatome, alga, dan plankton lain, serta pembendungan pada organ-organ dalam.3 Selain pemeriksaan luar dan dalam pada kasus tenggelam, juga terdapat pemeriksaan lain salah satunya adalah tes kimia yang terdiri dari tes Gettler menunjukkan adanya perbedaan kadar klorida dari darah yang diambil dari jantung kanan dan jantung kiri. Pemeriksaan lain yang juga dilakukan pada kasus tenggelam adalah pemeriksaan toksikologi, analisa diatome dan isi lambung.1 2.4 Pembunuhan dan Bunuh Diri pada Kasus Tenggelam Dalam setiap kasus tenggelam, terutama bagi kasus yang diduga tidak wajar, perlu dilakukan otopsi jenazah dengan pemeriksaan toksikologi. Selain itu, penyelidikan menyeluruh mengenai kematian adalah sangat penting, yakni dari hasil otopsi, pemeriksaan TKP, serta data-data antemortem, termasuk juga

kebiasaan dan gaya hidup sehari-hari. Pertanyaan pengearah yang harus dijawab adalah6: Apakah acara tersebut disaksikan? Apakah catatan bunuh diri ini? Apakah orang yg meninggal bisa berenang? Apa yang orang yg meninggal mengenakan pakaian? Apakah orang yg meninggal mencoba bunuh diri di masa lalu? Apakah orang yg meninggal pernah menunjukkan keinginan bunuh diri? Apakah orang yg meninggal memiliki riwayat penyakit medis atau kejiwaan? Apa status mental orang yang meninggal itu sesaat sebelum tenggelam?

BAB III LAPORAN KASUS DAN PEMBAHASAN 3.1 Laporan Kasus Surat permintaaan keterangan ahli (visum et repertum) berasal dari POLRES Klungkung, Bali, tertanggal 23 Mei 2011 yang ditujukan kepada Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar untuk melakukan pemeriksaan luar pada jenazah berinisial ZJH dengan maksud untuk mengetahui penyebab kematiannya. Jenazah tiba di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah pada tanggal 23 Mei 2011. Pemeriksaan luar yang dilakukan oleh Dokter Muda Forensik pada tanggal 23 Mei 2011 pukul 16.30 WITA.Pemeriksaan dalam dilakukan oleh dr.Dudut Rustyadi, Sp.F dan dr.Kunthi Yulianti, Sp.KF pada tanggal 2 Juni 2011 pukul 08.40 WITA.5 3.1.1 Pemeriksaan Luar Pada jenazah tidak terdapat label dari kepolisian dan dibungkus dengan pembungkus jenazah berupa kain berbahan katun warna putih dengan tulisan KM merek KUDA BINTANG dan kain berbahan katun bermotif batik. Pakaian yang digunakan jenazah adalah Bra berwarna hitam merek tidak terbaca, celana pendek berbahan jeans berwarna biru dengan tulisanCASSANO, dan celana dalam berbahan nilon berwarna merah dengan merek CHANDAISE. Jenazah tidak memakai perhiasan.. Tanda Kematian pada jenazah berupa lebam mayat pada punggung berwarna merah keunguan yang tidak hilang pada penekanan; kaku mayat pada seluruh tubuh yang sukar dilawan; tanda pembusukan belum terbentuk. .Rambut kepala warna cokelat kehitaman, tumbuh ikal, panjang ratarata 30 cm; alis berwarna hitam, tumbuh jarang; bulu mata berwarna hitam, tumbuh jarang. Kepala berbentuk bulat lonjong. Mata kanan terbuka 0,2 cm sedangkan mata kiri tertutup. Selaput bening matakanan dan kiri keruh; teleng mata kanan dan kiri sama besar berukuran 0,6 cm; tirai mata kanan dan kiri berwarna coklat; selaput bola mata kanan dan kiri berwarna putih, terdapat pelebaran pembuluh darah, dan bintik perdarahan; selaput kelopak mata berwarna merah keunguan,terdapat pelebaran pembuluh darah. Hidung bentuk pesek, dari lubang hidung bagian kanan dankiri keluar cairan berwarna kemerahan. Mulut terbuka selebar 0,3 cm, lidah tidak tergigit, tidak terjulur, dari rongga mulut tidak keluar apa-apa, pada rahang bawah samping kiri gigi

geraham nomor satu, dua, dan tiga tidak ada. Telinga berbentuk oval, dari lubang telinga kanan dan kiri keluar cairan bening.. Alat kelamin jenazah didapatkan dari saluran kelamin tidak keluar apa-apa hanya ditemukan tali tampon warna putih menjulur dari lubang kemaluan dengan ukuran 7 cm. Darilubang pelepasan jenazah tidak keluar apa-apa. .Identifikasi umum jenazah adalah seorang perempuan, warga negara Cina, warna kulit kuning langsat, gizi lebih, umur kurang lebih 34 tahun, berat badan 95 kg, panjang badan 172 cm. Identifikasi khusus jenazah adalah tahi lalat pada dada kiri ukuran 0,5 cm x 0,4 cm dan tahi lalat pada dagu. Pada jenazah terdapat luka lecet pada selaput bibir atas sebelah kanan, 2 cm dari garis pertengahan depan, ukuran 0,2 cm x 0,2 cm dan tidak ditemukan patah tulang pada jenazah. 3.1.2 Pemeriksaan Dalam Pada leher jenazah tidak terdapat memar di jaringan bawah kulit leher dan pada jaringan otot leher tidak terdapat memar. Lemak dinding dada berwarna kuning dengan tebal 2,5 cm, sekat rongga badan kiri dan kanan setinggi iga keempat. Kandung jantung tampak satu jari di antara kedua tepi paruparu dan di dalam kandung jantung terdapat cairan berwarna merah kehitaman. Dalam rongga dada kanan dan kiri terdapat cairan berwarna merahkehitaman. Lemak perut berwarna kuning dengan tebal 3,5 cm, tirai usus menutupi hampir semua permukaan usus bagian atas, selaput dinding perut bagian dalam berwarna abu-abu mengkilat, permukaan licin dan mengkilat.. Setelah alat alat diangkat tampak lidah berwarna cokelat, permukaan tidak rata, pada irisan berwarna cokelat, terdapat memar pada tepi lidah samping kanan ukuran 1 cm x 0,7 cm.. Kelenjar gondok terdiri dari dua baga, warna cokelat, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna cokelat, gambaran kelenjar jelas. Tulang lidah, tulang rawan gondok, tulang rawancincin semuanya utuh. Selaput lendir kerongkongan berwarna merah muda, licin, berisimakanan setengah dicerna. Selaput lendir batang tenggorok berwarna kemerahan, licin, berisisisa makanan, terdapat buih halus. Pada pipa udara tepat pada percabangan terdapat pasir halus berwarna kekuningan.Alat-alat dalam rongga dada yaitu paru kanan terdiri dari tiga baga, warna merahkecokelatan, pada perabaan seperti spon kenyal, pada irisan paru berwarna merah kecokelatan, pada penekanan keluar cairan warna merah berbuih, berat 450 gram. Paru kiri terdiri dari dua baga, warna merah kecokelatan, pada perabaan seperti spon kenyal,

10

pada irisan paru berwarnamerah kecokelatan, pada penekanan keluar cairan warna merah berbuih, berat 450 gram.Jantung jenazah besarnya satu setengah kali genggaman tangan kanan jenazah. Warna cokelat mengandung banyak lemak; terdapat pelebaran pembuluh darah pada permukaan jantung; lingkar katup antara serambi kanan dan bilik kanan 12 cm; otot bilik jantung kanan berwarna cokelat, tebal otot 0,5 cm; lingkar katup pembuluh nadi paru-paru 7,5 cm; lingkar katup antara serambi kiri dan bilik kiri 10 cm; otot bilik jantung kiri berwarna cokelat, tebal 1,8cm; lingkar katup pembuluh batang nadi 6,5 cm; pada pangkal pembuluh nadi jantung kanandan kiri terdapat sedikit penebalan dengan sisa lumen 90%. pada pembuluh nadi jantung kiri 1cm dari pangkal terdapat penebalan dengan sisa lumen 80%; berat jantung 450 gram. Alat-alat dalam rongga perut yaitu hati berwarna cokelat, pada permukaan tampak bercak kuning, tepi tajam, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna cokelat, gambaran hati jelas, berat 2700 gram. Saluran empedu tidak tersumbat, kandung empedu berisi cairan berwarna kecokelatan, selaput lendir permukaan seperti beludru. Limpa berwarna keunguan, permukaan keriput, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna ungu kehitaman, pada kerokan jaringan limpa terikut, berat 150 gram. Pada mukosa lambung terdapat bercak kemerahan danselaput lendir lambung licin dan berlipat-lipat, berisi cairan warna kecokelatan dan makanan setengah dicerna. Kelenjar liur perut berwarna kecokelatan, permukaan berbaga-baga, pada perabaan lunak, pada irisan berwarna cokelat.Usus halus berwarna kuning kecokelatan, permukaan licin. Usus besar berwarna kuningkecokelatan, permukaan licin. Kelenjar anak ginjal kanan berbentuk trapezium warna ungu,terdapat pelebaran pembuluh darah, konsistensi lunak sedangkan kelenjar anak ginjal kiri berbentuk seperti bulan sabit, warna gelap, terdapat pelebaran pembuluh darah, konsistensilunak. Ginjal kanan, lemak ginjal tebal, simpai ginjal mudah dilepas, warna cokelat, permukaantidak rata, pada perabaan lunak, pada irisan gambaran ginjal jelas, pada piala ginjal kosong dan terdapat pelebaran pembuluh darah, berat 225 gram sedangkan ginjal kiri, lemak ginjal tebal,simpai ginjal mudah dilepas, warna cokelat, permukaan tidak rata, pada perabaan lunak, pada irisan gambaran ginjal jelas, pada piala ginjal berisi lendir warna kekuningan, berat 250 gram.. Saluran kemih kanan dan kiri tidak tersumbat. Kandung kemih kosong, selaput lendir berwarna kuning kemerahan. Rahim sebesar telur ayam kampung, dalam rahim

11

berisi lendir warna merah kekuningan. Indung telur kanan terdapat benjolan berisi cairan (kista ovarii)diameter 1 cm.. Pada pemeriksaan kepala didapatkan kulit kepala bagian dalam tidak terdapat memar.Tulang tengkorak utuh, pada tulang karang kanan dan kiri terdapat resapan darah. Selaput keras otak utuh. Selaput lunak otak utuh. Otak besar warna kekuningan, konsistensi sangat lunak,terdapat pelebaran pembuluh darah. Otak kecil warna kekuningan, konsistensi sangat lunak,terdapat pelebaran pembuluh darah. Batang otak warna kekuningan, konsistensi sangat lunak,terdapat pelebaran pembuluh darah. Bilik otak kosong, berat otak seluruhnya 1500 gram.. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan adalah pemeriksaan getah paru. Pada pemeriksaan getah paru kanan ditemukan serat tumbuhan, kristal jernih, dan diatom sedangkan Pemeriksaan getah paru kiri ditemukan kristal halus bewarna hitam. 3.2 Pembahasan Pada pemeriksaan luar jenazah yang dilakukan pada tanggal 23 Mei 2011 terdapat lebam mayat pada punggung yang berwarna merah keunguan. Pada seluruh badan jenazah ditemukan kaku mayat yang sukar dilawan. Hal ini menunjukkan bahwa kematian telah terjadilebih dari 2 jam sebelum pemeriksaan. Sifat kaku mayat yang sulit dilawan berarti kaku mayatyang sudah mencapai puncaknya. Dari sini dapat diperkirakan kematian telah terjadi lebih dari10-12 jam namun masih kurang dari 24 jam. Belum terbentuknya tanda pembusukan padatanggal 23 Mei 2011 tersebut juga menunjukkan kematian terjadi kurang dari 24 jam yang laluterhitung dari saat dilakukannya pemeriksaan luar. Selaput bening mata korban tampak keruhmenunjukkam korban meninggal di atas 10-12 jam, Dari data-data di atas, dapat disimpulkankorban meninggal lebih dari 10-12 jam dan kurang dari 24 jam dari waktu pemeriksaan. Adapun tanda dan hasi pemeriksaan yang menujukkan korban tenggelam disajikan pada hasil pemeriksaan luar, hasil pemeriksaan dalam, dan hasil pemeriksaan laboratorium. 3.2.1 Hasil Pemeriksaan Luar

12

Hal yang didapatkan pada pemeriksaan luar yang sesuai dengan tanda kontak denganair pada korban tenggelam adalah: 1. Jenazah dalam keadaan. 2. Dari kedua lubang hidung keluar cairan warna kemerahan. 3. Pada selaput bibir atas sebelah kanan terdapat luka lecet yang merupakan tanda bahwa korban mengalami fase epilepsi dari asfiksia sebagai akibat masuknya korban ke dalamair. 4. Kutis anserina pada kulit permukaan anterior tubuh seperti pada tangan dan kaki. 5. Washer womans hand atau telapak tangan dan kaki berwarna keputihan dan berkeriput. Perubahan ini terjadi bila tubuh telah terendam air selama lebih dari 1-2 jam. 3.2.2 Hasil Pemeriksaan Dalam Hal yang didapatkan pada pemeriksaan dalam yang sesuai dengan tanda pasti korban tenggelam adalah: 1. Busa halus pada jalan napas 2. Overinflasi paru dilihat dari irisan paru berwarna merah kecokelatan, pada penekanan keluar cairan warna merah berbuih. 3. Emphysema aquosum karena paru-paru berwarna merah kecokelatan yang merupakan jaringan yang mendapat udara. Selain itu pada sayatan didapatkan material berbahan cair berwarna kemerahan. 4. Benda asing berupa pasir pada jalan napas, paru-paru, dan lambung. 5. Terdapat pelebaran pembuluh darah pada permukaan jantung. 3.2.3 Pemeriksaan Laboratorium Pada pemeriksaan getah paru kanan ditemukan serat tumbuhan, kristal jernih, dan diatom sedangkan pada pemeriksaan getah paru kiri ditemukan kristal halus bewarna hitam. Pada kasus ini belum dapat ditentukan cara kematian korban. Adapun alur berfikir yang perlu kita perhatikan untuk pada kasus tenggelam ini untuk mengerucutkan cara kematian karena bunuh diri atau pembunuhan adalah: 1. Menentukan sebab kematian melalui otopsi karena jenazah yang ditemukan tenggelam belum tentu sebab kematiannya adalah benar karena mekanisme

13

tenggelam. Pada kasus ini melalui hasil temuan otopsi sebab kematian korban adalah benar karena tenggelam. 2. Memeriksa pula luka-luka yang mengarah pada upaya pembunuhan, apakah ada tanda penjeratan, pembekapan, luka tembak, dan luka-luka yang disebabkan upaya perlukaan dari orang lain. Pada kasus ini tidak ditemukan. 3. Mencari bekas luka akibat perlawanan dari upaya pembunuhan, seperti memar di leher atau tanda-tanda upaya penyelamatan diri di ekstremitas, serta isi genggaman tangan korban yangd dapat berisi benda-benda yang tercabut sebagai upaya penyelamatan diri. Pada kasus ini tidak ditemukan luka akibat perlawanan atau tanda-tanda penyelamatan diri. 4. Periksa toksikologi. Salah satu faktor penyebab tersering pada kasus tenggelam adalah obat-obatan dan alkohol. Bandingkan hasil temuan dengan data kebiasaan konsumsi obat dan/atau alkohol korban sebelum meninggal. Apabila konsumsi obat dan/atau alkohol ini bukan termasuk gaya hidup korban, dapat mengarah pasa suatu upaya bunuh diri, meski masih dapat pula dipertimbangkan suatu pembunuhan. Pada kasus ini sayangnya tidak dilakukan pemeriksaan toksikologi. 5. Memeriksa apakah ada pemberat tubuh yang digunakan. Periksa lokasi dimana pemberat pada tubuh jenazah. Pada kasus bunuh diri, pemberat tentu terutama akan ditemukan pada lokasi tubuh yang dapat dibuat sendiri oleh korban sebelum meninggal dan dapat dimobilisasi saat korban memasukkan diri ke dalam air. Pemberat tubuh dapat digunakan pada kasus pembunuhan pada bunuh diri. Pada pembunuhan, pemberat tubuh diberikan untuk membuat korban tidak ditemukan sehingga tindak kejahatan tertutupi. Pada kasus bunuh diri, pemberat tubuh dimaksudkan korban untuk memastikan dirinya benar-benar tenggelam untuk kemudian meninggal. Pada kasus ini tidak ditemukan pemberat tubuh maupun bekas penggunaan pemberat tubuh seperti lilitan tali pada tubuh yang dihubungkan pada benda pemberat. 6. Data pemeriksaan TKP tidak dapat digali dari sumber laporan kasus yang didapat. Jika ada data pemeriksaan TKP, maka hal-hal yang perlu diperhatikan adalah: a. Cari pada pemeriksaan TKP apakah ada surat wasiat. Jika ada pastikan gaya bahasa, cara penulisan, dan tulisan tersebut adalah milik jenazah.

14

b. Tempat dimana jenazah ditemukan juga perlu dipertimbangkan. Kebanyakan jenazah tenggelam dengan cara kematian bunuh diri ditemukan di bathtub atau kolam renang, dapat pula di sumber air di lingkungan terdekat korban. Oleh karena itu perlu juga digali kebiasaan rutin harian dari jenazah, terutama mengenai kebiasaan mandi dan/atau berenang. Jika jenazah ditemukan di danau atau laut, terlebih dengan lokasi yang jauh dari lingkungan terdekat korban, masih perlu dipikirkan apakah kematian terebut akibat kecerobohan tindakan dengan tujuan rekreasional, pembunuhan, atau bunuh diri. 7. Data pemeriksaan antemortem seperti status kejiwaan dan gaya serta kebiasaan hidup sehari-hari juga tidak ditemukan pada sumber laporam kasus.

15

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan 4.1.1 Tenggelam (drowning) adalah ditemukannya jenazah dalam keadaan seluruh atau sebagian tubuh terbenam di dalam cairan. Kematian pada kasus tenggelam adalah akibat dari terbenamnya seluruh atau sebagian tubuh ke dalam cairan yang merupakan salah satu bentuk kematian asfiksia yang ditandai adanya perubahan elektrolit dalam darah, baik tenggelam dalam air tawar maupun tenggelam dalam air asin. 4.1.2 Untuk membedakan cara kematian bunuh diri atau pembunuhan pada kasus tenggelam diperlukan data yang dikumpulkan dari otopsi, pemeriksaan TKP, dan data antemortem. Pemeriksaan labortarium yang perlu dilakukan pada kasus tenggelam adalah tes getah paru dan toksikologi. 4.1.3 Perbedaan cara kematian bunuh diri atau pembunuhan pada kasus tenggelam meliputi data konfirmatif apakah jenazah benar meninggal karena tenggelam atau bukan, ada atau tidaknya luka-luka akibat upaya pembunuhan, upaya perlawanan, dan/atau upaya bertahan hidup, hasil pemeriksaan toksikologi, pemberat tubuh, data hasil pemeriksaan TKP, dan data antemortem jenazah. Pada kasus yang disajikan belum dapat ditentukan cara kematian jenazah kasus tenggelam karena bunuh diri atau pembunuhan karena ada beberapa data konfirmatif yang tidak disebutkan dalam sumber laporan kasus. 4.2 Saran 4.2.1 Diperlukan sistem pendataan yang lebih baik mengenai epidemiologi kasus tenggelam. 4.2.2 Diperlukan suatu sistem identifikasi yang lebih akurat dalam menentukan cara kematian pembunuhan dan bunuh diri pada kasus tenggelam. 4.2.3 Diperlukan pemeriksaan dan pencatatan hasil pemeriksaan yang lengkap pada kasus tenggelam untuk dapat membantu menentukan cara kematian. 4.2.4 Pada penulisan makalah dengan tujuan membedakan pembunuhan atau bunuh diri pada kasus tenggelam selanjutnya dapat dicari dan dianalisa pada laporan kasus dengan data yang lebih spesifik mengarah pada kedua jenis cara kematian tersebut.

16

DAFTAR PUSTAKA 1. Idries, Abdul Munim. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Pertama: Tenggelam. Binarupa Aksara. Hal. 177-190. 2. Fitricia, Ria. 2010. Tanda Intravital yang Ditemukan Pada Kasus Tenggelam di Departemen Kedokteran Forensik FK USU RSUP H. Adam Malik/RSUD Pingardi Medan pada Bulan Januari 2007-Desember 2009. Medan: Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. 3. Mansjoer, Arif, dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ke-3 Jilid Ke-2: Tenggelam. Jakarta: Media Aesculapius FKUI. Hal. 213-214. 4. al-Fatih, Muhammad. 2012. Mati Tenggelam (Drowning). (online).

www.klinikindonesia.com/forensik/tenggelam.php. 5. Widyasari, Jessie. 2010. Laporan Kasus Mati Tenggelam. (online). http://www.scribd.com/doc/36496376/Case-Report-Tenggelam. 6. Wirthwein DP, Barnard JJ, Prahlow JA. Suicide by drowning: a 20-year review. J Forensic Sci 2002;47(1):131136.