Anda di halaman 1dari 22

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Gagal Ginjal

Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami

penurunan

hingga

akhirnya

tidak

lagi

mampu

bekerja

sama

sekali

dalam

hal

penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat

kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urin. 14

2.2.

Ginjal

Ginjal

adalah

suatu

organ

yang

secara

struktural

kompleks

dan

telah

berkembang untuk melaksanakan sejumlah fungsi penting, seperti : ekskresi produk

sisa metabolisme, pengendalian air dan garam, pemeliharaan keseimbangan asam

yang sesuai, dan sekresi berbagai hormon dan autokoid. 15

2.3. Anatomi Ginjal

Ginjal merupakan organ berbentuk seperti kacang yang terletak di kedua sisi

kolumna vertebralis. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan ginjal kiri

karena tertekan kebawah oleh hati. Kutub atasnya terletak setinggi iga keduabelas,

sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi iga kesebelas. 8

Ginjal terletak di bagian belakang abdomen atas, di belakang peritoneum, di

depan

dua

iga

terakhir,

dan

tiga

otot

besar-transversus

abdominis,

kuadratus

lumborum,

dan

psoas

mayor.

Ginjal

dipertahankan

dalam

posisi

tersebut

oleh

bantalan lemak yang tebal. Ginjal terlindung dengan baik dari trauma langsung,

disebelah posterior

(atas) dilindungi oleh iga dan otot-otot yang meliputi iga,

sedangkan

di

anterior

(bawah)

dilindungi

oleh

bantalan

usus

yang

tebal. 16

Universitas Sumatera Utara

Ginjal kanan dikelilingi oleh hepar, kolon, dan duodenum, sedangkan ginjal kiri

dikelilingi oleh lien, lambung, pankreas, jejunum dan kolon.

Struktur Ginjal terdiri atas:

2.3.1. Struktur Makroskopik Ginjal

Pada orang dewasa , panjang ginjal adalah sekitar 12 sampai 13 cm (4,7

hingga 5,1 inci), lebarnya 6 cm (2,4 inci), tebalnya 2,5 cm (1 inci), dan beratnya

sekitar 150 gram. Secara anatomik ginjal terbagi dalam dua bagian, yaitu korteks dan

medula ginjal. 8

Ginjal terdiri dari bagian dalam (medula), dan bagian luar (korteks).

a. Bagian dalam (internal) medula. Substansia medularis terdiri dari piramid renalis

yang jumlahnya antara 18-16 buah yang mempunyai basis sepanjang ginjal,

sedangkan apeksnya mengahadap ke sinus renalis. Mengandung bagian tubulus

yang lurus, ansa henle, vasa rekta dan diktus koligens terminal. 17

b. Bagian luar (eksternal) korteks. Substansia kortekalis berwarna coklat merah,

konsistensi lunak dan bergranula. Substansia ini tepat dibawah tunika fibrosa,

melengkung sapanjang basis piramid yang berdekatan dengan garis sinus renalis,

dan bagian dalam diantara piramid dinamakan kolumna renalis. Mengandung

glomerulus,

tubulus

proksimal

dan

distal

yang

berkelok-kelok

dan

duktus

koligens. 18

Universitas Sumatera Utara

2.3.2.

Struktur Mikroskopik Ginjal

a. Nefron 18,19

Tiap tubulus ginjal dan glomerolusnya membentuk satu kesatuan (nefron).

Ukuran ginjal terutama ditentukan oleh jumlah nefron yang membentuknya. Tiap

ginjal manusia memiliki kira-kira 1.3 juta nefron. Setiap nefron bisa membentuk urin

sendiri. Karena itu fungsi satu nefron dapat menerangkan fungsi ginjal.

b. Glomerulus 18,20

Setiap nefron pada ginjal berawal dari berkas kapiler yang disebut glomerulus,

yang terletak didalam korteks, bagian terluar dari ginjal. Tekanan darah mendorong

sekitar 120 ml plasma darah melalui dinding kapiler glomerular setiap menit. Plasma

yang tersaring masuk ke dalam tubulus. Sel-sel darah dan protein yang besar dalam

plasma terlalu besar untuk dapat melewati dinding dan tertinggal.

c. Tubulus kontortus proksimal 20

Berbentuk seperti koil longgar berfungsi menerima cairan yang telah disaring

oleh glomerulus melalui kapsula bowman. Sebagian besar dari filtrat glomerulus

diserap kembali ke dalam aliran darah melalui kapiler-kapiler sekitar tubulus kotortus

proksimal. Panjang 15 mm dan diameter 55 µm.

d. Ansa henle 20

Berbentuk seperti penjepit rambut yang merupakan bagian dari nefron ginjal

dimana, tubulus menurun kedalam medula, bagian dalam ginjal, dan kemudian naik

kembali kebagian korteks dan membentuk ansa. Total panjang ansa henle 2-14 mm.

Universitas Sumatera Utara

e.

Tubulus kontortus distalis 20

Merupakan tangkai yang naik dari ansa henle mengarah pada koil longgar

kedua. Penyesuaian yang sangat baik terhadap komposisi urin dibuat pada tubulus

kontortus. Hanya sekitar 15% dari filtrat glomerulus (sekitar 20 ml/menit) mencapai

tubulus distal, sisanya telah diserap kembali dalam tubulus proksimal.

f.

Duktus koligen medula 20

 

Merupakan saluran yang secara metabolik tidak aktif. Pengaturan secara halus

dari

ekskresi

natrium

urin

terjadi

disini.

Duktus

ini

memiliki

kemampuan

mereabsorbsi dan mensekresi kalsium.

ini memiliki kemampuan mereabsorbsi dan mensekresi kalsium. Gambar 2.1. Anatomi ginjal Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.1. Anatomi ginjal

Universitas Sumatera Utara

2.4.

Fungsi Ginjal 8

Fungsi utama ginjal terangkum dibawah ini, yang menekankan peranannya

sebagai organ pengatur dalam tubuh.

2.4.1. Fungsi Ekskresi

a. Mengeluarkan zat toksis/racun

b. Mengatur keseimbangan air, garam/elektrolit, asam /basa

c. Mempertahankan kadar cairan tubuh dan elektrolit (ion-ion lain)

d. Mengekskresikan produk akhir nitrogen dari metabolisme protein (terutama urea,

asam urat dan kreatinin)

e. Bekerja sebagai jalur ekskretori untuk sebagian besar obat

2.4.2. Fungsi Non Ekskresi

Mensintesis dan mengaktifkan Hormon:

a. Renin, penting dalam pengaturan tekanan darah

b. Eritropoetin, merangsang produksi sel darah merah oleh sumsum tulang

c. 1,25-dihidroksivitamin D3 : hidroksilasi akhir vitamin D3 menjadi bentuk yang

paling kuat

d. Prostaglandin : sebagian besar adalah vasodilator, bekerja secara lokal, dan

melindungi dari kerusakan iskemik ginjal

e. Degradasi hormon polipeptida

f. Insulin,

glukagon,

parathormon,

prolaktin,

hormon

pertumbuhan,

ADH

dan

hormon gastrointestinal (gastrin, polipeptida intestinal vasoaktif).

Universitas Sumatera Utara

2.5.

Perjalanan Klinis Gangguan Fungsi Ginjal

Sebagian besar penyakit ginjal menyerang nefron, mengakibatkan kehilangan

kemampuannya untuk menyaring. Kerusakan pada nefron dapat terjadi secara cepat,

sering sebagai akibat pelukaan atau keracunan. Tetapi kebanyakan penyakit ginjal

menghancurkan nefron secara perlahan dan diam-diam. Kerusakan hanya tertampak

setelah beberapa tahun atau bahkan dasawarsa. Sebagian besar penyakit ginjal

menyerang kedua buah ginjal sekaligus. 14

Gagal ginjal terminal terjadi bila fungsi ginjal sudah sangat buruk, dan

penderita mengalami gangguan metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat. Ginjal

yang sakit tidak bisa menahan protein darah (albumin) yang seharusnya tidak

dilepaskan ke urin. Awalnya terdapat dalam jumlah sedikit (mikro-albuminuria). Bila

jumlahnya

semakin

parah

akan

terdapat

pula

protein

lain

(proteinuria).

Jadi,

berkurangnya fungsi ginjal menyebabkan terjadinya penumpukan hasil pemecahan

protein yang beracun bagi tubuh, yaitu ureum dan nitrogen. 6

Kemampuan ginjal menyaring darah dinilai dengan perhitungan Laju Filtrasi

Glomerulus (LFG) atau juga dikenal dengan Glomerular Filtration Rate (GFR).

Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin (creatinine) dan

kadar nitrogen urea (blood urea nitrogen/BUN) di dalam darah. Kreatinin adalah

hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan,

ginjal akan membuang kretinin dari darah ke urin. Bila fungsi ginjal menurun, kadar

kreatinin di dalam darah akan meningkat. Kadar kreatinin normal dalam darah adalah

0,6-1,2 mg/dL. LFG dihitung dari jumlah kreatinin yang menunjukkan kemampuan

fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1,73m 2 . 14

Universitas Sumatera Utara

Kemampuan

ginjal

membuang

cairan

berlebih

sebagai

urin

(creatinine

clearence unit) di hitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan

waktu, dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut dalam 24 jam, yang disebut

dengan C_crea (creatinine clearence). C_cre normal untuk pria adalah 95-145

ml/menit dan wanita 75-115 ml/menit. 6,14

Perbandingan nilai kreatinin, laju filtrasi glomerulus dan clearence rate untuk

menilai fungsi ginjal dapat dikategorikan menjadi:

Kategori fungsi ginjal

GFR

Kreatinin (ml/menit/1,73m 2 )

Clearence Rate

(mg/dL)

(ml/menit)

Normal

>90

Pria : <1,3 Wanita : <1,0

Pria : 90-145 Wanita : 75-115

Gangguan ginjal ringan

60-89

Pria : 1,3-1,9 Wanita : 1-1,9

56-100

Gangguan ginjal sedang

30-59

2-4

35-55

Gangguan ginjal berat

15-29

>4

<35

2.6.

Epidemiologi Gagal Ginjal

2.6.1.

Distribusi Gagal Ginjal

a. Distribusi Menurut Orang

Gagal ginjal dapat terjadi pada siapa saja tanpa memandang jenis kelamin,

umur maupun ras. Menurut penelitian Aghighi, dkk (2009), dari total 35.859 orang,

jumlah penderita yang terdaftar di seluruh Rumah Sakit di Iran dari tahun 1997

sampai

dengan

2006,

terdapat

penderita

laki-laki

sebesar

20.633

orang

dan

perempuan sebesar 15.226 orang. Rata-rata umur penderita laki-laki dan perempuan

meningkat dari umur 47 dan 49 tahun menjadi 52,5 dan 53 tahun. 21

Universitas Sumatera Utara

Dari data United States Renal Data System (USRDS) 2008, di Amerika

Serikat sejak tahun 2000 penderita gagal ginjal untuk usia 45-64 meningkat, dengan

IR dari 2,6/10.000 menjadi 6,25/10.000. Penderita dengan usia 75 meningkat

dengan cepat, dengan IR dari 1,6/10.000 menjadi 17,74/10.000. Penderita dengan

usia 20-44 meningkat, dengan IR dari 2,1/100.000 menjadi 12,7/100.000. 22

Menurut hasil penelitian Hendrati (1999) menunjukkan bahwa penderita gagal

ginjal yang menjalani hemodialisa di RSUD Dr. Sutomo Surabaya terbanyak pada

laki-laki (77,3%). 23 Menurut Marlina (2009), di RSU dr. Pirngadi Medan , penderita

GGA yang terbesar pada kelompok umur 40-50 tahun (42%). 13 Menurut Flora (2008)

di RSUP H Adam Malik Medan, penderita GGK terbesar terdapat pada kelompok

umur 45-59 tahun (43,1%) dan jenis kelamin laki-laki (63,8%). 24

b. Distribusi Menurut Tempat

Menurut penelitian Grasmaan (2005), hingga akhir tahun 2004, 52% dari

seluruh penderita gagal ginjal di dunia terdapat di Amerika, Jepang, Brazil dan

Jerman, dimana ke empat negara tersebut memiliki angka populasi penduduk hanya

11% dari seluruh populasi di dunia. China menempati urutan ke lima dengan

penderita gagal ginjal sebanyak 48.000 penderita. 7 Pada Tahun 2000 di Indonesia

terdapat 3000 penderita gagal ginjal terminal yang menjalani hemodialisa dengan

prevalensi sebesar 1,5/100.000 penduduk. 25

Universitas Sumatera Utara

c.

Distribusi Menurut Waktu

Berdasarkan data laporan European Renal Association European Dialysis

and Transplant Association Registry (ERA-EDTA 2008), pada tahun 2007, IR

penderita gagal ginjal yang terdaftar adalah 1,16 per sepuluh ribu populasi, dengan

PR kasus sebesar 6,62 per sepuluh ribu populasi. 26

Pada tahun 2007, Australia and New Zealand Dialysis and

Transplant

Registry, melaporkan IR gagal ginjal tahap akhir sebesar 1,1/ 10.000 untuk Australia

dan 1,09/10.000 di New Zealand, sedangkan PR sebesar 7,97/10.000 untuk Australia

dan 7,93/10.000 untuk New Zealand. 27

Peningkatan jumlah penderita Diabetes Melitus yang terkena penyakit ginjal

di Indonesia menunjukkan angka 8,3% dari seluruh penderita gagal ginjal terminal

pada tahun 1983. Sepuluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1993, angka ini telah

meningkat lebih dari dua kali lipat yaitu 17% dari seluruh penderita gagal ginjal

terminal yang disebabkan nefropati diabetik. 28

2.6.2. Determinan Gagal Ginjal

a.

Host

a.1 Umur

Seiring bertambahnya usia juga akan diikuti oleh penurunan fungsi ginjal. Hal

tersebut terjadi terutama karena pada usia lebih dari 40 tahun akan terjadi proses

hilangnya

beberapa

nefron.

Perkiraan

penurunan

fungsi

ginjal

berdasarkan

pertambahan umur tiap dekade adalah sekitar 10 ml/menit/1,73m 2 . Berdasarkan

perkiraan tersebut, jika telah mencapai usia dekade keempat, dapat diperkirakan telah

terjadi

kerusakan

ringan,

yaitu

dengan

nilai

GFR

60-89

ml/menit/1,73

m 2 .

Universitas Sumatera Utara

Artinya,

sama

dengan

kemampuan ginjal. 14

telah

terjadi

penurunan

fungsi

ginjal

sekitar

10%

dari

Dengan semakin meningkatnya usia, dan ditambah dengan penyakit kronis

seperti tekanan darah tinggi (hipertensi) atau diabetes, ginjal cenderung akan menjadi

rusak dan tidak dapat dipulihkan kembali. 6

a.3 Gaya Hidup

Gaya hidup tidak banyak bergerak ditambah dengan pola makan buruk yang

tinggi lemak dan karbohidrat (fast food) yang tidak diimbangi serat (sayuran dan

buah), membuat menumpuknya lemak dengan gejala kelebihan berat badan.

Gangguan metabolisme lemak menyebabkan Low Density Lipoprotein (LDL)

dan trigliserida meningkat. Dalam jangka panjang akan terjadi penumpukan lemak

dalam

lapisan

pembuluh

darah.

Ginjal

bergantung pada sirkulasi

darah

dalam

menjalankan fungsinya sebagai pembersih darah dari sampah tubuh. 6

a.4 Riwayat Penyakit

i. Nefropati diabetik

Diabetes adalah penyakit yang menghambat penggunaan glukosa oleh tubuh.

Bila ditahan dalam darah dan tidak diuraikan, glukosa dapat bertindak seperti racun.

Kerusakan pada nefron akibat glukosa dalam darah yang tidak dipakai disebut

nefropati diabetik. 6 Nefropati diabetik merupakan komplikasi mikrovaskular diabetes

melitus. Pada sebagian penderita komplikasi ini akan berlanjut menjadi gagal ginjal

terminal. 29

Universitas Sumatera Utara

ii. Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah yang tinggi pada penderita hipertensi dapat merusak jaringan

pembuluh darah ginjal. Hipertensi dapat menyebabkan nefrosklerosis atau kerusakan

pada arteri ginjal, arteriola, dan glomeruli. Hipertensi merupakan penyebab kedua

terjadinya penyakit ginjal tahap akhir. Sekitar 10% individu pengidap hipertensi

esensial akan mengalami penyakit ginjal tahap akhir. 6

Hipertensi

esensial

(tidak

diketahui

penyebabnya)

dapat

menyebabkan

penyakit ginjal menahun, sedangkan penyakit ginjal merupakan penyebab paling

sering hipertensi sekunder (penyebab dan patofisiologi diketahui, sehingga dapat

dikendalikan

dengan

obat-obatan).

Hipertensi

sekunder

dapat

mempercepat

penurunan faal ginjal bila tidak diobati dengan seksama. Pasien hipertensi yang

bersama dengan kelainan fungsi ginjal akan sulit dibedakan secara klinis, mana yang

primer dari kedua penyebab tersebut. 30

iii. Penyakit Glomerulus

Glomerulonefritis

menunjukkan

proses

inflamasi

pada

glomeruli

dengan

etiologi, patogenesis dan patofisiologi, perubahan-parubahan histopatologi ginjal

berlainan tetapi dengan presentasi klinisnya hampir seragam. Presentasi klinis pada

glomerulonefritis mungkin tanpa keluhan dan ditemukan kebetulan pada pemeriksaan

urin rutin dengan pasien keluhan ringan atau keadaan darurat medis yang harus

memerlukan terapi pengganti ginjal atau dialisis. 29

Beberapa jenis penyakit ginjal digolongkan dalam kategori ini, termasuk

penyakit

autoimun,

penyakit

terkait

infeksi,

dan

penyakit

sklerotik.

Penyakit

glomerular

primer

yang

paling

lazim

termasuk

nefropati

selaput

Universitas Sumatera Utara

(membranous nephropathy), nefropati IgA, dan glomerularsklerosis segmental fokal

(focal segmental glomerulosclerosis). Protein, darah, atau keduanya dalam air seni

sering kali menjadi tanda pertama penyakit ini. Penyakit glomerular dapat merusak

fungsi ginjal secara perlahan. 30

iv. Penyakit Ginjal Keturunan dan Bawaan 29,30

Penyakit

ginjal

dapat

berupa

keturunan

ataupun

bawaan,

diantaranya

kelaianan struktur kistik maupun non kistik, kelainan fungsi, kelainan lokasi, jumlah

dan fungsi ginjal.

Kelainan struktur kistik atau adanya kista, merupakan suatu rongga yang

berdinding epitel dan berisi cairan atau material semisolid. Pada ginjal bisa terdapat

satu atau banyak kista yang tersebar, baik hanya satu ginjal maupun kedua ginjal,

baik pada korteks maupun pada medula. Di Amerika Serikat, proporsi penyakit kista

ginjal 11% dari pasien yang mengalami dialisis atau transplantasi ginjal.

Kelaianan struktur nonkistik dibagi atas : (a) sindrom alport atau sering juga

disebut

hereditary

nephritis,

merupakan

sindrom

akibat

kelainan

genetis

pada

kromosom

X,

terdiri

dari

hematuria,

albuminuria,

azotemia

dan

ketulian.

(b) Displasia ginjal, terganggunya difrensiasi jaringan nefrogenik dengan struktur

yang menetap tidak sesuai dengan kehamilan.

Asidosis

Tubular

Ginjal

(ATG)

adalah

kelainan

yang

ditandai

dengan

berkurangnya

kemampuan

ginjal

untuk

mengekskresikan

asam,

tanpa

adanya

penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (Glomerular Filtration Rate).

Kelainan lokasi, jumlah, dan ukuran ginjal, seperti : ginjal ektopik dimana,

pada

keadaan

ini

ginjal

berada

di

tempat

yang

tidak

semestinya.

Universitas Sumatera Utara

Biasanya ginjal berukuran lebih kecil daripada normal, terdapat kelainan pada sistem

pendarahannya. Umumnya ginjal berlebih tidak berfungsi, terletak di bagian atas atau

bawah ginjal normal. Ginjal ekstra ini sering diketemukan secara kebetulan pada

pemeriksaan radiologi, pada pembedahan, atau autopsi. Sering terdapat keganasan

pada ginjal ekstra, biasanya ditemukan pada usia sekitar 30-40 tahun.

Ginjal dupleks merupakan kelainan ini yang cukup sering didapatkan, yaitu

sekitar 4% dari populasi. Pada kelainan ini, ginjal membesar dengan 2 pelvis dan 2

ureter. Agenesis ginjal, dimana ginjal yang tidak terbentuk ini dapat terjadi pada satu

atau kedua ginjal. Pada umumnya, keadaan ini disertai kelainan kongenital organ lain.

Ginjal hipoplasia pada perkembangan ginjal, bisa terdapat gangguan, baik pada tahap

awal maupun sesudah kelahiran. Pada keadaan ini ginjal mempunyai lobus yang lebih

sedikit, 5-6 atau bahkan hanya 1-2 lobus saja. Keadaan ini menjadi salah satu

penyebab gagal ginjal kronik pada anak.

b.

Agent 30,31

b.1. Trauma

Terkait terutama trauma pada saluran kemih, antara lain fraktur pelvis, trauma

akibat benda tumpul, dan tusukan benda tajam atau peluru. Fraktur dapat

mengakibatkan perforasi kandung kemih atau robeknya uretra. Pukulan keras

pada tubuh bagian bawah dapat mengakibatkan kontusio, robekan, atau ruptur

ginjal.

Universitas Sumatera Utara

b.2. Keracunan Obat

Beberapa jenis obat, termasuk obat tanpa resep, dapat meracuni ginjal bila sering

dipakai selama jangka waktu yang panjang. Diantaranya: Antibiotik (Kanamisin,

Gentamisin, Kalistin, Neomisin), aspirin,

asetaminofen, ibuprofen ditemukan

paling berbahaya untuk ginjal, pelarut (Karbon tetraklorida, metanol, etilen

glikol),

logam

berat

(merkuri,

bismuth,

uranium,

antimony,

arsenik),

Mycobacterium

tuberculosis,

merupakan

organisme

penyebab

tuberkulosis

ginjal.

Tuberkulosis

ginjal

adalah

infeksi

sekunder

yang

diakibatkan

oleh

tuberkulosis paru. Sekitar 15% dari individu dengan tuberkulosis paru aktif akan

mengalami tuberkulosis ginjal.

c.

Environtment 32,33

c.1. Pekerjaan

Orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan bahan-bahan kimia akan

dapat mempengaruhi kesehatan ginjal. Bahan-bahan kimia yang berbahaya jika

terpapar

dan

masuk

kedalam

tubuh

dapat

menyebabkan

penyakit

ginjal.

Misalnya, pada pekerja di pabrik atau industri.

c.3. Cuaca

Kondisi lingkungan yang panas dapat, mempengaruhi terjadinya penyakit ginjal.

Jika seseorang bekerja di dalam ruangan yang bersuhu panas, hal ini dpaat

mempengaruhi kesehatan ginjalnya. Yang terjadi adalah berkurangnya aliran atau

peredaran darah ke ginjal dengan akibat gangguan penyediaan zat-zat yang

diperlukan oleh ginjal, dan pada ginjal yang rusak hal ini akan membahayakan.

Universitas Sumatera Utara

2.7.

Klasifikasi Gagal Ginjal

2.7.1. Gagal Ginjal Kronis

Berdasarkan National Kidney Foundation (NKF) Kidney Disease Outcome

Quality Initiative (K/000/) Guidelines Update tahun 2002, definisi Penyakit Ginjal

Kronis (GGK) adalah: 17

a. Kerusakan Ginjal > 3 bulan, berupa kelainan struktur ginjal, dapat atau tanpa

disertai penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) yang ditandai dengan: kelainan

patologi,

dan

adanya

pertanda

kerusakan

ginjal,

dapat

berupa

kelainan

laboratorium darah atau urine, atau kelainan radiologi.

b. LFG <60 mL/menit/1,73 m 2 selama >3 bulan, dapat disertai atau tanpa disertai

kerusakan ginjal.

Diagnosis dari gagal ginjal kronis terdiri dari: anamnesis yang ditandai

seringnya berkemih pada malam hari, pergelangan kaki bengkak, lemah, lesu, mual,

muntah, nafsu makan turun, kram otot terutama malam hari, sulit tidur, bengkak

disekitar mata terutama pada bangun tidur, dan mata merah serta berair (uremic red

eye) karena deposit garam kalsiun fosfat yang dapat menyebabkan iritasi hebat pada

selaput lendir mata.

Pemeriksaan fisik, seperti anemis, kulit gatal dan kering,

edema tungkai maupun palpebra, tanda bendungan paru, mata merah dan berair.

Diagnosis juga ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium terhadap gangguan

fungsi ginjal.

Universitas Sumatera Utara

Gangguan fungsi ginjal kronis dapat dikelompokkan menjadi empat stadium

menurut tingkat keparahannya, yaitu: 34

a. Kondisi normal: Kerusakan ginjal dengan nilai GFR normal. Nilai GFR 60-89

ml/menit/1,73 m 2 .

b. Stadium 1: Kerusakan ginjal ringan dengan penurunan nilai GFR, belum terasa

gejala

yang

mengganggu.

ml/menit/1,73 m 2 .

Ginjal

berfungsi

60-89%.

Nilai

GFR

60-89

c. Stadium 2: Kerusakan sedang, masih bisa dipertahankan. Ginjal berfungsi 30-

59%. Nilai GFR 30-59 ml/menit/1,73 m 2 .

d. Stadium 3: kerusakan beratsudah tingkat membahayakan. Ginjal berfungsi 15-

29%. Nilai GFR 15-29 ml/menit/1,73 m 2 .

e. Stadium 4: Kerusakan parah, harus cuci ginjal. Fungsi ginjal kurang dari 15%.

Nilai GFR kurang dari 15 ml/menit/1,73 m 2 .

Pada kasus gagal ginjal akut kondisi ginjal dapat dipulihkan kembali, hal ini

berbeda dengan kasus pada gagal ginjal kronik. Pada gagal ginjal kronik penderita

hanya dapat berusaha menghambat laju tingkat kegagalan fungsi ginjal tersebut, agar

tidak menjadi gagal ginjal terminal, suatu kondisi dimana ginjal sudah hampir tidak

dapat berfungsi lagi. Kondisi ini berlangsung secara perlahan dan sifatnya menahun,

dengan sedikit gejala pada awalnya, bahkan lebih sering penderita tidak merasakan

adanya gejala. 6

Universitas Sumatera Utara

2.7.2.

Gagal Ginjal Akut 17,35

Gagal ginjal akut adalah sindroma yang ditandai oleh penurunan laju filtrasi

glomerulus secara mendadak dan cepat (hitungan jam-minggu) yang mengakibatkan

terjadinya retensi produk sisa nitrogen, seperti ureum dan kreatinin.

Terdapat tiga kondisi yang dapat menyebabkan GGA:

a. GGA Prarenal

GGA

prarenal

diakibatkan

oleh

hipoperfusi

ginjal

(dehidrasi,

perdarahan,

penurunan curah jantung, dan hipotensi oleh sebab lain)

b. GGA Renal

GGA renal diakibatkan kerusakan akut parenkim ginjal (obat, zat kimia/toksin,

iskemia ginjal, dan penyakit glomerular)

c. GGA Pascarenal

GGA pascarenal diakibatkan obstruksi akut traktus urinarius (batu saluran kemih,

hipertrofi prostat, keganasan ginekologis), ureter terjahit.

Fase gagal ginjal akut adalah anuria (produksi urine <100 ml/24 jam, oliguria

(produksi urine <400 ml/24 jam), poliuria (produksi urine >3500 ml/24 jam)

Pada kasus penderita gagal ginjal akut (GGA), ginjal akan berfungsi normal

kembali bila penyebabnya dapat diatasi, sehingga pengeluaran urin kembali normal,

dengan demikian keadaan fisik secara menyeluruh dapat pulih.

Universitas Sumatera Utara

2.8.

Pencegahan

2.8.1. Pencegahan Primer 6,36

Pencegahan primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk menghindari

diri dari berbagai faktor resiko. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan, antara

lain:

a. Modifikasi gaya hidup

Pola hidup memegang peranan penting dalam menentukan derajat kesehatan

seseorang. Mengatur pola makan rendah lemak dan mengurangi garam, minum air

yang cukup (disarankan 10 gelas atau dua liter per hari), berolahraga secara teratur

dan mengatur berat badan ideal, hidup dengan santai merupakan upaya yang dapat

dilakukan untuk menjaga fungsi organ tubuh untuk dapat bekerja maksimal.

Bernafas

dalam

dan

perlahan

selama

beberapa

menit

perhari

dapat

menurunkan hormon kortisol sampai 50%. Kortisol adalah hormon stress yang

apabila terdapat dalam jumlah berlebihan akan mengganggu fungsi hampir semua sel

di dalam tubuh. Bersantai dan melakukakn latihan relaksasi serta mendengarkan

musik juga merupakan alternatif untuk mengurangi stress.

b. Hindari

pemakaian

obat-obat

atau

zat-zat

yang

bersifat

nefrotoksik

tanpa

sepengetahuan dokter, misalnya obat pereda nyeri yang dijual bebas dan mengandung

ibuprofen maupun obat-obatan herbal yang belum jelas kandungannya.

c. Monitoring

fungsi

diketahui nefrotoksik.

ginjal

yang

teliti

pada

saat

pemakaian

obat-obat

yang

Universitas Sumatera Utara

2.8.2.

Pencegahan Sekunder

a. Penegakan diagnosa secara tepat 29

Pengelolaan terhadap penyakit ginjal yang efektif hanya dapat dimungkinkan

apabila diagnosisnya benar. Pemeriksaan fisis yang diteliti dan pemilahan maupun

interpretasi

pemeriksaan

laboratorium

yang

tepat

amat

membantu

penegakan

diagnosis dan pengelolaannya. Ginjal mempunyai kaitan yang erat dengan fungsi

organ-organ lain dan demikian pula sebaliknya, oleh karena itu haruslah penderita

dihadapi secara utuh bukan hanya ginjalnya saja, baik pada pengambilan anamnesis

maupun pada pemeriksaan jasmani dan pemeriksaan lainnya.

b. Penatalaksanaan medik yang adekuat 29

Pada penderita gagal ginjal, penatalaksanaan medik bergantung pada proses

penyakit. Tujuannya untuk memelihara keseimbangan kadar normal kimia dalam

tubuh,

mencegah

komplikasi,

memperbaiki

jaringan,

serta

meredakan

atau

memperlambat

gangguan

fungsi

ginjal

progresif.

Tindakan

yang

dilakukan

diantaranya:

b.1. Penyuluhan pasien/keluarga 30

Pasien lebih mampu menerima pendidikan setelah tahap akut. Materi yang

dapat dimasukkan dalam pendidikan kesehatan meliputi: penyebab kegagalan ginjal,

obat yang dipakai (nama obat, dosis, rasional, serta efek dan efek samping), terapi

diet termasuk pembatasan cairan (pembatasan kalium, fosfor dan protein, makan

sedikit

tetapi

sering),

perawatan

lanjutan

untuk

gejala/tanda

yang

memerlukan

bantuan medis segera (perubahan haluaran urine, edema, berat badan bertambah tiba-

tiba, infeksi, meningkatnya gejala uremia).

Universitas Sumatera Utara

b.2. Pengaturan diet protein, kalium, natrium. 29,30,36

Pengaturan makanan dan minuman menjadi sangat penting bagi penderita

gagal ginjal. Bila ginjal mengalami gangguan, zat-zat sisa metabolisme dan cairan

tubuh yang berlebihan akan menumpuk dalam darah karena tidak bisa dikeluarkan

oleh ginjal. Konsumsi protein terlalu banyak dapat memperburuk kondisi kerusakan

ginjal karena hasil metabolismenya yang paling berbahaya, urea, menumpuk didalam

darah sehingga terjadi peningkatan Blood Urea Nitrogen (BUN).

Diet gagal ginjal juga didukung dengan pembatasan asupan natrium (garam)

untuk mengatur keseimbangan cairan-elektrolit, pemberian makanan

yang kaya

kalsium untuk mencegah osteotrofi ginjal (penurunan masa jaringan, kelemahan otot)

dan memperbaiki gangguan irama jantung yang tidak seimbang (aritmia).

b.3. Pengaturan kebutuhan cairan dan keseimbangan elektrolit 6,30

Perubahan

kemampuan

untuk

mengatur

air

dan

mengekskresi

natrium

merupakan

tanda

awal

gagal

ginjal.

Tujuan

Dari

pengendalian

cairan

adalah

memepertahankan status normotensif (tekanan darah dalam batas normal) dan status

normovolemik (volume cairan dalam batas normal).

Dapat

dilakukan

dengan

pengendalian

elektrolit,

seperti:

Hiperkalemia

dikendalikan dengan mengurangi asupan makanan yang kaya dengan kalium (pisang,

jeruk, kentang, kismis, dan sayuran berdaun hijau).

Universitas Sumatera Utara

2.8.3.

Pencegahan Tersier

Pencegahan tersier merupakan langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah

terjadinya komplikasi yang lebih berat, kecacatan dan kematian. Pengobatan penyakit

yang mendasari, sebagai contoh: masalah obstruksi saluran kemih dapat diatasi

dengan meniadakan obstruksinya, nefropati karena diabetes dengan mengontrol gula

darah, dan hipertensi dengan mengontrol tekanan darah. 6

a. Cuci Darah (dialisis)

Dialisis adalah suatu proses dimana solute dan air mengalami difusi secara

pasif

melalui

suatu

membran

berpori

dari

satu

kompartemen

cair

menuju

kompartemen cair lainnya. Hemodialisis dan dialysis merupakan dua teknik utama

yang digunakan dalam dialysis, dan prinsip dasar kedua teknik itu sama, difusi solute

dan air dari plasma ke larutan dialisis sebagai respons terhadap perbedaan konsentrasi

atau tekanan tertentu. 8

- Hemodialisis klinis di rumah sakit 5,18,30

Cara yang umum dilakukan untuk menangani gagal ginjal di Indonesia adalah

dengan menggunakan mesin cuci darah (dialiser) yang berfungsi sebagai ginjal

buatan.

- Dialisis peritoneal mandiri berkesinambungan atau CAPD

Dialisis peritoneal adalah metode cuci darah dengan bantuan membran selaput

rongga perut (peritoneum), sehingga darah tidak perlu lagi dikeluarkan dari tubuh

untuk dibersihkan seperti yang terjadi pada mesin dialisis. CAPD merupakan suatu

Universitas Sumatera Utara

teknik dialisis kronik dengan efisiensi rendah sehingga perlu diperhatikan kondisi

pasien

terhadap

kardiovaskular).

kerentanan

perubahan

b. Transplantasi Ginjal 5,6

cairan

(seperti

pasien

diabetes

dan

Transplantasi ginjal adalah terapi yang paling ideal mengatasi gagal ginjal

karena menghasilkan rehabilitasi yang lebih baik disbanding dialysis kronik dan

menimbulkan perasaan sehat seperti orang normal. Transplantasi ginjal merupakan

prosedur menempatkan ginjal yang sehat berasal dari orang lain kedalam tubuh

pasien gagal ginjal. Ginjal yang baru mengambil alih fungsi kedua ginjal yang telah

mengalami

kegagalan

dalam

menjalankan

fungsinya.

Seorang

ahli

bedah

menempatkan

ginjal

yang

baru

(donor)

pada

sisi

abdomen

bawah

dan

menghubungkan arteri dan vena renalis dengan ginjal yang baru. Darah mengalir

melalui ginjal yang baru yang akan membuat urin seperti ginjal saat masih sehat atau

berfungsi. Ginjal yang dicangkokkan berasal dari dua sumber, yaitu donor hidup atau

donor yang baru saja meninggal (donor kadaver).

Universitas Sumatera Utara