Anda di halaman 1dari 5

Habibi

yusuf

fenomena

pecel

pasar bringharjo

Pendahuluan

seperti komoditas pasar lainnya, para pedagang pecel pada daerah depan pasar bringharjo memiliki faktor identik yang dapat memberikan kesan unik. Banyak kesamaan yang dirasa saat kita mengamati kompleks pedagang pecel tersebut, motif payungnya, jenis barang dagangannya, peletakan makanannya sampai cara menyapa dan menawarkan produknya, hal tersebut menjadi hal yang menarik untuk dikaji lebih lanjut

Pedagang pecel dan ilmu layouting

secara tidak sadar para pedagang pecel sebenarnya memiliki dasar ilmu layout dan penataan. mereka menata barang dagangannya sedemikian rupa, sehingga menarik kita sebagai pengunjung untuk mencobanya. hal yang menarik bagi saya, yaitu sedalam apakah ilmu layout yang mereka terapkan dalam penataan konten dagangan, sehinga konsumen bersedia untuk berkunjung di stand tersebut, dan apakah ilmu layouting makanan dapat berpengaruh pada traffic dan banyaknya pembeli pasar ?

daftar pustaka

www.starjogja.com, kfk.kompas.com, www.blackboxinteriors.blogspot.com nirmana, dasar dasar senirupa (Sajiman). Layout (suryanto rustan)

ternyata, sengaja dikumpulkan di satu titik saja

Pecel depan pasar bringharjo adalah satu satunya komplek pedagang pecel yang bisa ditemui di daerah malioboro, mereka mendapat ijin dari dinas DIY, dan komoditas tersebut memang hanya dialokasikan pada depan gerbang saja. saat saya mencoba menyisir jalan malioboro memang hanya tidak menemukan pedagang pecel selain di tempat tersebut. mungkin hanya ada beberapa pedagang asongan yang menjual pecel dengan berkeliling. saya juga sempat bertanya pada tukang becak, beliau memang meng-iyakan tempat pecelnya hanya ada disini aja.

kata sapa yang identik

setiap pengunjung yang lewat dan mungkin sedikit melirik ke pecel tersebut akan langsung di sambut dengan tawaran dan kata sapaan dari para pedagang. "mari mas pecelnya, disini atau dibungkus, pakai nasi atau lontong" hampir semua pedagang menawarkan pecelnya dengan kalimat tersebut, tentu saja pedagang pecel yang lebih muda, akan terasa lebih enerjik dan lebih gencar untuk menawarkan pecelnya. kalimat kalimat yang dilontarkan juga santai tidak memaksa namun tetap terdengar persuasif. kompleks pecel tersebut buka sekitar jam 8, beberapa malah suda menjual pecelnya lebih awal, salah satu ibu penjualpecel mengaku dagangannya telah habis terjual sekitar jam 2-jam3 an. tergatung dengan situasi dan kondisinya. rata rata pedagang pecel tersebut memasak sendiri barang dagangannya. dan mendapat keahlian tersebut secara turun temurun.

Perbedaan dengan pedagang pecel di tempat lain

pecel di depan pasar bring harjo mengunakan semacam tampah besar, atau kadang bak yang berisikan macam sayuran dan lauk pauk dan bakmi. sayuran, lontong dan nasi, di tata kedalam (lebih dekat dengan pedagang) dan lauk, seperti tempe tahu dan telur yang didisplay agak keluar (lebih dekat pengunjung). tidak adanya meja untuk makan pengunjung, mungkin ini faktor sempitnya lokasi depan pasar. dan karena ramenya lalu lalang tempat tersebut. jika di tempat lain, warung atau pecel pincuk. sayur biasanya didisplay di etalase atau rak kaca, untuk memperlihatkan sayruan apa saja yang dijual di warung tersebut, dan buah seperti tomat dan mentimun sengaja belum dipotong, untuk menciptakan kesan sayuran tersebut masih betul betul segar. pada stand sayur di malioboro semua bahan sudah siap dihidangkan, seperti bumbu kacang, potongan sayur dan lauk sekalipun

sederhana tapi tetap dibutuhkan

secara umum pecel banyak dijumpai di lingkungan sekitar kita, bahan yang digunakan sederhana, berupa rebusan sayur dengan taburan saus kacang. namun apa yang menarik dari fenomena pecel di pasar beringharjo tersebut, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisataawan asing ? sebagian besar pengunjung memang mereka yang keluar dari pasar beringharjo. selepas lelah berbelanja didalam pasar yang panas, sesak dan pengap, butuh sesuatu yang menyegarkan dan menambah energi. dan para pedagang pecel di depan pintu pasar telah menyambut untuk membarikan solusi bagi mereka

sehat, ekonomis dan merakyat

sayuran yang kaya serat, lebih mudah di cerna oleh tubuh. dengan begitu dapat memulihkan energi untuk kembali berbelanja atau berkeliling kota jogja, makanan pecel juga makanan yang

sentuhan cita rasa lokal,

pecel sendiri sepertinya tersebar di penjuru pulau jawa, namun apa yang membuat wisatawan lokal tertarik dari pecel depan pasar bringharjo ? sentuhan cita rasa lokal pada tiap porsi pecelnya bisa menjadi daya tarik tersendiri, meskipun ada kesamaan pada bahan pecelnya, pecel versi pasar beringharjo tidak dapat ditemukan di tempat lain. contohnya seperti pemilihan lauk lauk baceman, adanya bakmi, tidak ditemukannya kerupuk peyek kacang untuk pelengkap, dan bumbu pecel yang lebih manis. komposisi tersebut tidak dapat ditemukan di tempat lain, dikarenakan olah rasa lidah orang jogja pasti berbeda dengan lidah orang jawa timur seperti madiun dan trenggalek

me-layout ala pedagang pecel

dalam arti yang luas layout sendiri adalah penataan, bahkan dalam menjual pecel pun, para pedagang membutuhkan kemampuan penataan, pengelompokan, alur, dan irama. Sayur dan lauk telah dikelompokkan berdasarkan jenisnya. jika kita amati, sayur sayuran sepeti toge, bakmi, kangkung dan sawi. semua telah dikelompokkan sesuai jenisnya, pengelompokan ini tentusaja mempermudah pedagang dan pengunjung dalam menngambil bagian bagian pada pecel tersebut.

alur

desain dan penataan sayur sendiri sangat fleksibel, dan mudah dijangkau oleh pedagang, seperti termos nasi yang letaknya paling ujung kanan, di lanjutkan oleh sayuran, toge, bakmi dan bumbu pecel pada ujung kiri. ini efisiensi dalam penyajian pecel, dimana alur proses pembuatan dari kanan ke kiri (berlawanan dengan jarum jam) dapat menghemat waktu dalam penyajian pecel. tidak hanya sekedar mempertimbangkan estetika dan cita rasa pada pecelnya. mereka juga mempertimbangkan kecepatan dan fungsionalitas dalam penyajian. disini, saya tidak melihat layah batu yang biasanya dipakai penjual pecel untuk meracik bumbu, karena bumbu pecel tersebut sudah jadi dan diletakkan di panci

komunikasi

pedagang pecel pasar bringharjo mengerti betul bagaimana interaksi dengan pelanggannya, sapaan dan obrolan yang hangat, dan keramahan khas masyarakat jogja. sehingga membuat pengunjung yang datang menjadi nyaman dan betah. pedagang juga sedikit banyak mengerti karakter karakter pengunjung. seperti pengunjung yang suka bertanya, akan disuguhkan tentang berbagai macam cerita, memotongkan lauk pada pengunjung yang tidak mau repot, dan sedikit mengesampingkan pengunjung yang terlihat ekonomis, tetap promosi meski lapak masih penuh pengunjung, para pengunjung pecel di daerah pasar bringharjo memang diwajibakan untuk makan cepat, padahal kursi untuk pengunjung penuh, para pedagang masih tetap menawarkan pecelnya pada wisatawan yang mondar mandir di daerah malioboro, menu per-porsi yang tidak terlalu banyak dan penyajian yang cepat, juga merupakan strategi untuk mendapat banyak pelangaan. sampai sedikit memaksa pelanggan untuk tidak duduk berlama lama disana. bahkan pedagang melayani konsumen yang masih belum dapat tempat duduk. atau secara halus mengusir konsumen yang pecelnya belum habis, untuk segera diabiskan.

sayuran
diletakan paling dekat dengan penjual

tremos nasi

panci bumbu

diletakkan sebelah kiri, paling ahir dalam penyajian

diletakkan paling kanan, membudahkan penyajian

lauk

diletakan paling dekat dengan pengunjung agar bisa mudah diraih

kesimpulan

munculnya standardisasi dalam melakukan penataan dan layouting dalam penjualan pecel. tergatung dari lokasi, keadaan dan kondisi pedagang pecel mengedepankan efisiensi dan kecepatan, daripada proses manual dalam pembuatan pecel, semua telah disiapkan sebelumnya dari rumah. meskipun jogja terkenal dengan gudegnya, wisatawan tetap penasaran dan menganggap pecel di depan pasar bringharjo menarik, karena cita rasa lokal yang tidak ditemukan ditempat asal mereka