Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

Infeksi adalah masuknya kuman patogen atau toksin kedalam tubuh manusia serta menimbulkan gejala penyakit, sedangkan inflamasi adalah reaksi lokal dari tubuh terhadap adanya infeksi atau iritasi dalam berbagai bentuk. Penyakit itu sendiri timbul setelah mengalami beberapa proses fisiologi yang telah dirubah oleh kuman yang masuk. Sehingga tubuh mengadakan reaksi atau perlawanan yang disebut peradangan atau inflamasi. 3 Peradangan adalah reaksi vaskular yang merupakan zat-zat terlarut dan selsel darah dari darah yang bersirkulasi kedalam jaringan interstitial pada daerah yang cedera atau yang mengalami nekrotik. Peradangan akut adalah reaksi segera dari tubuh terhadap cedera atau kematian sel. anda tanda pokok peradangan adalah dolor !rasa sakit", rubor !merah", kalor !panas", tumor !pembengkakan" dan fungsio laesa !perubahan fungsi". Secara harfiah abses merupakan kumpulan pus pada rongga yang cenderung meluas ke jaringan. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Anatomi Gingiva #ingiva adalah bagian dari mukosa mulut yang menutupi processus

alveolar dan mengelilingi leher gigi. #ingiva meluas mulai dari daerah batas servikal gigi, sampai ke daerah batas mucobuccal fold. #ingiva merupakan bagian dari apparatus pendukung gigi dan jaringan periodonsium, yang berfungsi melindungi jaringan dibawahnya terhadap pengaruh lingkungan rongga mulut.$,% Pada permukaan vestibulum di kedua rahang, gingiva secara jelas dibatasi mukosa mulut yang lebih dapat bergerak oleh garis yang bergelombang disebut perlekatan mukogingiva. #aris yang sama juga ditemukan pada aspek lingual mandibular antara gingiva dan mukosa mulut. Pada palatum, gingiva menyatu dengan palatum dan tidak ada perlekatan mukogingiva yang nyata. $,%

#ambar $.&. 'natomi (aringan #ingiva #ingiva dibagi menjadi tiga menurut daerahnya yaitu marginal gingiva, attached gingiva, dan gingiva interdental. Marginal gingiva adalah bagian gingiva yang terletak pada daerah korona dan tidak melekat pada gingiva. )ekat
2

tepi gingiva terdapat suatu alur dangkal yang disebut sulkus gingiva yang mengelilingi setiap gigi. $,% Pada gigi yang sehat kedalaman sulkus gingiva bervariasi sekitar *,+ , $ cm. Attached gingiva merupakan kelanjutan dari marginal gingiva. (aringan padat ini terikat kuat dengan periosteum tulang alveolar di bawahnya. Permukaan luar dari attached gingiva terus memanjang ke mukosa alveolar yang lebih kendur dan dapat digerakkan, bagian tersebut disebut mucogingiva juntion. Interdental gingiva mewakili gingiva embrasure, dimana terdapat ruang interproksimal dibawah tempat berkontaknya gigi. Interdental gingiva dapat berbentuk piramidal atau berbentuk seperti lembah. $,% Suplai darah pada gingiva melalui - jalan yaitu$,% . a. 'rteri yang terletak lebih superfisial dari periosteum, mencapai gingiva pada daerah yang berbeda di rongga mulut dari cabang arteri alveolar yaitu arteri infra orbital, nasopalatina, palatal, bukal, mental, dan lingual. b. Pada daerah interdental percabangan arteri intrasepatal. gingiva. Suplai saraf pada periodontal mengikuti pola yang sama dengan distribusi suplai darah. Gambaran Klinis Gingiva S !at% &. /arna #ingiva )alam keadaan normal, akibat permukaan pada epitelium lebih tipis dan vaskularisasi yang lebih banyak dibanding orang dewasa, gingiva pada anak berwarna merah tua. /arna gingiva normal pada anak sangat dipengaruhi oleh vaskularisasi pada pembuluh darah dan jaringan pendukung. 0ukosa alveolar berwarna merah, halus dan lebih terang. /arna gingiva sangat bervariasi pada setiap orang dan berhubungan dengan pigmentasi kulit. /arna gingiva lebih terang pada orang kulit putih dibandingkan pada orang kulit hitam. 0elanin berperan pada pigmentasi normal kulit, gingiva, dan membaran mukosa mulut, dimana melanin ini lebih banyak terdapat pada orang kulit hitam. )istribusi pigmen pada orang kulit hitam yaitu gingiva %* 1, palatum %& 1, membran mukosa $$ 1, dan lidah &+1.
3

c. Pembuluh darah pada ligamen periodontal bercabang ke luar ke arah

$. 2ontur #ingiva 2ontur gingiva sangat bervariasi dan bergantung pada bentuk maupun kesejajarannya dalam lengkung gigi, lokasi, dan bentuk daerah kontak proksimal, serta luas embrasure gingiva sebelah facial dan lingual. Marginal gingiva mengelilingi gigi berbentuk menyerupai kerah baju. Selama masa erupsi gigi permanen, marginal gingiva lebih tebal dan memiliki protuberantia atau tonjolan. 3entuk interdental gingiva ditentukan oleh kontur permukaan proksimal gigi, lokasi, bentuk daerah kontak, dan luas embrassure gingiva. -. 2onsistensi 2onsistensi gingiva padat, keras, kenyal, dan melekat erat pada tulang alveolar. 2epadatan attached gingiva didukung oleh susunan lamina propria secara alami dan hubungannya dengan mucoperiosteum tulang alveolar, sedangkan kepadatan marginal gingiva di dukung oleh serat-serat gingiva. 4. ekstur Permukaan #ingiva memiliki tekstur permukaan seperti kulit jeruk yang lembut dan tampak tidak beraturan, yang disebut stippling. Stippling adalah gambaran gingiva sehat, dimana berkurang atau menghilangnya stippling umumnya dihubungkan dengan adanya penyakit gingiva. Stippling tampak terlihat pada anak usia - dan &* tahun, sedangkan gambaran ini tidak terlihat pada bayi. Pada awal masa erupsi gigi permanen, stippling menunjukkan gambaran yang beregerombol dan lebih lebar &56 inchi, meluas dari daerah marginal gingiva sampai ke daerah attached gingiva.

#ambar $.$. #ingiva Sehat +. 2eratinisasi


4

7pitel yang menutupi permukaan luar marginal dan attached gingiva mengalami keratinisasi maupun parakeratinisasi. 2eratinisasi dianggap sebagai suatu bentuk perlindungan terhadap penyesuaian fungsi gingiva dari rangsangan atau iritasi. 8apisan pada permukaan dilepaskan dalam bentuk helaian tipis dan diganti dengan sel dari lapisan granular dibawahnya. 2eratinisasi mukosa mulut bervariasi pada daerah yang berbeda. )aerah yang paling banyak mengalami keratinisasi adalah palatum, gingiva, lidah, dan pipi. %. Posisi Posisi gingiva menunjukkan tingkatan dimana marginal gingiva menyentuh gigi. 2etika masa erupsi gigi, marginal, dan sulkus gingiva berada di puncak mahkota. Selama proses erupsi berlangsung, marginal dan sulkus gingiva terlihat lebih dekat ke arah apikal. 9. :kuran :kuran gingiva menunjukkan jumlah total elemen seluler dan interseluler, serta vaskularisasinya. Penyakit gingiva biasanya ditandai oleh terjadinya perubahan ukiiran dari komponen mikroskopik. 2.2 D "inisi Abs s Gingiva #ingiva abses merupakan abses yang terbentuk di dalam jaringan periapikal atau periodontal karena infeksi gigi atau perluasan dari gangren pulpa. 'bses yang terbentuk merusak jaringan periapikal, tulang alveolus, tulang rahang terus menembus kulit pipi, dan membentuk fistula. 4,+ #usi merupakan bagian mukosa mulut yang menutupi prosesus alveolar rahang dan mengelilingi leher gigi. #ingiva adalah bahasa yang digunakan secara umum dalam bidang kedokteran gigi. Sedangkan gusi adalah bahasa umum yang digunakan masyarakat secara luas. 4,+

#ambar $.-. 'bses #ingival 'bses gingiva merupakan suatu nanah yang terjadi pada gusi !gingiva". 'bses gingiva terjadi karena faktor karies gigi, iritasi, seperti plak, kalkulus, invasi bakteri, impaksi makanan atau trauma jaringan. erkadang pula akibat gigi yang akan tumbuh. 4,+ 2.# Etio$atog n sis Abs s Gingiva Infeksi adalah masuknya kuman patogen atau toksin ke dalam tubuh manusia serta menimbulkan gejala penyakit, sedangkan inflamasi adalah reaksi lokal dari tubuh terhadap adanya infeksi atau iritasi dalam berbagai bentuk. Penyakit itu sendiri timbul setelah mengalami beberapa proses fisiologi yang telah dirubah oleh kuman yang masuk. Sehingga tubuh mengadakan reaksi atau perlawanan yang disebut peradangan atau inflamasi. Peradangan adalah reaksi vaskular dari zat-zat terlarut, dan sel-sel darah dari darah yang bersirkulasi ke dalam jaringan interstitial pada daerah yang cedera atau yang mengalami nekrotik. Peradangan akut adalah reaksi segera dari tubuh terhadap cedera atau kematian sel. anda tanda pokok peradangan adalah dolor !rasa sakit", rubor !merah", kalor !panas", tumor !pembengkakan", dan fungsiolaesa !perubahan fungsi". 'bses merupakan rongga yang berisi pus yang disebabkan oleh infeksi bakteri campuran. 3akteri yang berperan dalam proses pembentukan abses ini yaitu Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. Staphylococcus aureus

dalam proses ini memiliki enzim aktif yang disebut koagulase yang fungsinya untuk mendeposisi fibrin. Sedangkan Streptococcus mutans memiliki - enzim utama yang berperan dalam penyebaran infeksi gigi, yaitu streptokinase, streptodornase, dan hyaluronidase. Hyaluronidase adalah enzim yang bersifat merusak jembatan antar sel, yang pada fase aktifnya nanti enzim ini berperan layaknya parang yang digunakan petani untuk merambah hutan.3akteri Streptococcus mutans !selanjutnya disingkat S.mutans" memiliki macam enzim yang sifatnya destruktif, salah satunya adalah enzim hyaluronidase, enzim ini merusak jembatan antar sel yang terbuat dari jaringan ikat !hyalin5hyaluronat", kalau ditilik dari namanya hyaluronidase, artinya adalah enzim pemecah hyalin5hyaluronat. Padahal, fungsi jembatan antar sel penting adanya, sebagai transpor nutrisi antar sel, sebagai jalur komunikasi antar sel, juga sebagai unsur penyusun dan penguat jaringan. (ika jembatan ini rusak dalam jumlah besar, maka dapat diperkirakan, kelangsungan hidup jaringan yang tersusun atas sel-sel dapat terancam rusak5mati5nekrosis.Proses kematian pulpa, salah satu yang bertanggung jawab adalah enzim dari S.mutans tadi, akibatnya jaringan pulpa mati, dan menjadi media perkembangbiakan bakteri yang baik, sebelum akhirnya mereka mampu merambah ke jaringan yang lebih dalam, yaitu jaringan periapikal. -,% Pada perjalanannya, tidak hanya S.mutans yang terlibat dalam proses abses, karenanya infeksi pulpo-periapikal sering kali disebut sebagai mi ed bacterial infection. 2ondisi abses kronis dapat terjadi apabila ketahanan host dalam kondisi yang tidak terlalu baik, dan virulensi bakteri cukup tinggi. ;ang terjadi dalam daerah periapikal adalah pembentukan rongga patologis abses disertai pembentukan pus yang sifatnya berkelanjutan apabila tidak diberi penanganan. -,% 'danya keterlibatan bakteri dalam jaringan periapikal, tentunya menaundang respon keradangan untuk datang ke jaringan yang terinfeksi tersebut, namun karena kondisi hostnya tidak terlalu baik, dan virulensi bakteri cukup tinggi, yang terjadi alih-alih kesembuhan, namun malah menciptakan kondisi abses yang merupakan hasil sinergi dari bakteri S.mutans dan S.aureus. %

S.mutans dengan - enzimnya yang bersifat destruktif tadi mampu merusak jaringan yang ada di daerah periapikal, sedangkan S.aureus dengan enzim koagulasenya mampu mendeposisi fibrin di sekitar wilayah kerja S.mutans, untuk membentuk sebuah pseudomembran yang terbuat dari jaringan ikat, yang sering kita kenal sebagai membran abses !oleh karena itu, jika dilihat melalui ronsenologis, batas abses tidak jelas dan tidak beraturan, karena jaringan ikat adalah jaringan lunak yang tidak mampu ditangkap dengan baik dengan ronsen foto". Ini adalah peristiwa yang unik dimana S.aureus melindungi dirinya dan S.mutans dari reaksi keradangan dan terapi antibiotika. % idak hanya proses destruksi oleh S.mutans dan produksi membran abses saja yang terjadi pada peristiwa pembentukan abses ini, tapi juga ada pembentukan pus oleh bakteri pembuat pus !piogenik", salah satunya juga adalah S.aureus. (adi, rongga yang terbentuk oleh sinergi dua kelompok bakteri tadi, tidak kosong, melainkan terisi oleh pus yang konsistensinya terdiri dari leukosit yang mati !oleh karena itu pus terlihat putih kekuningan", jaringan nekrotik, dan bakteri dalam jumlah besar.% Secara alamiah, sebenarnya pus yang berada dalam rongga tersebut akan terus berusaha mencari jalan keluar sendiri, namun pada perjalanannya sering kali merepotkan pasien dengan timbulnya gejala-gejala yang cukup mengganggu seperti nyeri, demam, dan malaise. 2arena mau tidak mau, pus dalam rongga patologis tersebut harus keluar, baik dengan bantuan dokter gigi atau keluar secara alami. % <ongga patologis yang berisi pus !abses" ini terjadi dalam daerah periapikal, yang notabene adalah di dalam tulang. :ntuk mencapai luar tubuh, maka abses ini harus menembus jaringan keras tulang, mencapai jaringan lunak, lalu barulah bertemu dengan dunia luar. erlihat sederhana memang, tapi perjalanan inilah yang disebut pola penyebaran abses. % Pola penyebaran abses dipengaruhi oleh - kondisi, yaitu virulensi bakteri, ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. =irulensi bakteri yang tinggi mampu menyebabkan bakteri bergerak secara leluasa ke segala arah, ketahanan jaringan sekitar yang tidak baik menyebabkan jaringan menjadi rapuh dan mudah dirusak, sedangkan perlekatan otot mempengaruhi arah gerak pus. %
8

Penyebaran abses selanjutnya adalah-,% . &. Periostitis Perjalanan pus ini mengalami beberapa kondisi, karena sesuai perjalanannya, dari dalam tulang melalui cancelous bone, pus bergerak menuju ke arah tepian tulang atau lapisan tulang terluar yang kita kenal dengan sebutan korteks tulang. ulang yang dalam kondisi hidup dan normal, selalu dilapisi oleh lapisan tipis yang tervaskularisasi dengan baik guna menutrisi tulang dari luar, yang disebut periosteum. 2arena memiliki vaskularisasi yang baik ini, maka respon keradangan juga terjadi ketika pus mulai mencapai korteks, dan melakukan eksudasinya dengan melepas komponen keradangan dan sel plasma ke rongga subperiosteal !antara korteks dan periosteum" dengan tujuan menghambat laju pus yang kandungannya berpotensi destruktif tersebut. Peristiwa ini cenderung menimbulkan rasa sakit, terasa hangat pada regio yang terlibat, bisa timbul pembengkakan, peristiwa ini disebut periostitis!serous periostitis. 'danya tambahan istilah serous disebabkan karena konsistensi eksudat yang dikeluarkan ke rongga subperiosteal mengandung kurang lebih 9*1 plasma, dan tidak kental seperti pus karena memang belum ada keterlibatan pus di rongga tersebut. "eriostitis dapat berlangsung selama $-- hari, tergantung keadaan host. $. 'bses #ingiva "ort d#entry 0ikro>rganisme !0>" dapat melalui karies yang ada pada gigi. 2emudian 0> ini berkembang-biak, mutiplikasi, mengeluarkan produkproduknya, dan menjalar hingga pulpa. 2emudian terjadilah pulpitis. 3ila tetap tidak mendapat perawatan, 0> ini akan terus berkembang biak dan menjalar hingga saluran akar yang akhirnya dapat membuntu saluran ini !ditambah dengan adanya produk-produk radang" sehingga pembuluh darah pun tidak bisa memberikan nutrisinya dan terjadilah kematian pulpa oleh karena nekrosis. )ari nekrosis ini, terjadilah spread of infection sehingga timbul abses periapikal. 2emudian, terus multiplikasi bakteri dan produkproduk radang tadi terus terjadi dan menjalar hingga tulang dan terjadilah osteomyelitis !bila mengenai sumsum tulang, dan komponen tulang alveolar lainnya". ulang yang terkena infeksi ini juga akan kekurangan nutrisi dari
9

pembuluh darah dan akibatnya terjadi penurunan densitas tulang. 3ila tidak cepat ditangani, maka infeksi terus menjalar hingg periosteum dan terjadilah periostitis. Periostitis ini dapat menyebabkan trismus karena bakteri dapat menyebar ke otot melalui periosteum. 3ila port d#entry melalui margin atau sulkus gingival, maka keradangan terjadi di daerah ligamen periodontal dan menyebabkan lebarnya periodontal space. 2emudian penjalaran infeksi sampai pada bagian gingiva sehingga menimbulkan gingival abses. -. 'bses subperiosteal 'bses subperiosteal terjadi di sela-sela antara korteks tulang dengan lapisan periosteum, bedanya adalah di kondisi ini sudah terdapat keterlibatan pus, alias pus sudah berhasil menembus korteks dan memasuki rongga subperiosteal, karenanya nama abses yang tadinya disebut abses periapikal, berubah terminologi menjadi abses subperiosteal. 2arena lapisan periosteum adalah lapisan yang tipis, maka dalam beberapa jam saja akan mudah tertembus oleh cairan pus yang kental, sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan peristiwa periostitis dimana konsistensi cairannya lebih serous.
4. $ascial abscess

(ika periosteum sudah tertembus oleh pus yang berasal dari dalam tulang tadi, maka dengan bebasnya, proses infeksi ini akan menjalar menuju fascial space terdekat, karena telah mencapai area jaringan lunak. 'pabila infeksi telah meluas mengenai fascial spaces, maka dapat terjadi fascial abscess. $ascial spaces adalah ruangan potensial yang dibatasi5ditutupi5dilapisi oleh lapisan jaringan ikat. $ascial spaces dibagi menjadi . $ascial spaces $rim r &. 0aksila a. %anine spaces b. &uccal spaces c. 'nfratemporal spaces $. 0andibula a. Submental spaces b. &uccal spaces c. Sublingual spaces
10

d. Submandibular spaces $ascial spaces s %&n' r $ascial spaces sekunder merupakan fascial spaces yang dibatasi oleh jaringan ikat dengan pasokan darah yang kurang. <uangan ini berhubungan secara anatomis dengan daerah dan struktur vital. ;ang termasuk fascial spaces sekunder yaitu masticatory space, cervical space, retropharyngeal space, lateral pharyngeal space, prevertebral space, dan body of mandible space. Infeksi yang terjadi pada fascial spaces sekunder berpotensi menyebabkan komplikasi yang parah. erjadinya infeksi pada salah satu atau lebih fascial space yang paling sering oleh karena penyebaran kuman dari penyakit odontogenik terutama komplikasi dari periapikal abses. Pus yang mengandung bakteri pada periapikal abses akan berusaha keluar dari apeks gigi, menembus tulang, dan akhirnya ke jaringan sekitarnya, salah satunya adalah fascial spaces. #igi mana yang terkena periapikal abses ini kemudian yang akan menentukan jenis dari fascial spaces yang terkena infeksi. %anine spaces 3erisi muskulus levator anguli oris, dan m. labii superior. Infeksi daerah ini disebabkan periapikal abses dari gigi caninus maksila. #ejala klinisnya yaitu pembengkakan pipi bagian depan dan hilangnya lekukan nasolabial. Penyebaran lanjut dari infeksi canine spaces dapat menyerang daerah infraorbital dan sinus kavernosus. &uccal spaces erletak sebelah lateral dari m. buccinator dan berisi kelenjar parotis dan n. fascialis. Infeksi berasal dari gigi premolar dan molar yang ujung akarnya berada di atas perlekatan m. buccinator pada maksila atau berada di bawah perlekatan m. buccinator pada mandibula. #ejala infeksi yaitu edema pipi dan trismus ringan. 'nfratemporal spaces erletak di posterior dari maksila, lateral dari proc. "terigoideus inferior dari dasar tengkorak, dan profundus dari temporal space. 3erisi nervus dan pembuluh darah. Infeksi berasal dari gigi molar III
11

maksila. #ejala infeksi berupa tidak adanya pembengkakan wajah dan kadang terdapat trismus bila infeksi telah menyebar. Submental space Infeksi berasal dari gigi incisivus mandibula. #ejala infeksi berupa bengkak pada garis midline yang jelas di bawah dagu. Sublingual space erletak di dasar mulut, superior dari m. mylohyoid, dan sebelah medial dari mandibula. Infeksi berasal dari gigi anterior mandibula dengan ujung akar di atas m. mylohyoid. #ejala infeksi berupa pembengkakan dasar mulut, terangkatnya lidah, nyeri, dan dysphagia. Submandibular space erletak posterior dan inferior dari m. mylohyoid dan m. platysma. Infeksi berasal dari gigi molar mandibula dengan ujung akar di bawah m. mylohyoid dan dari pericoronitis. #ejala infeksi berupa pembengkakan pada daerah segitiga submandibula leher disekitar sudut mandibula, perabaan terasa lunak dan adanya trismus ringan. Masticator space 3erisi m. masseter, m. pterygoid medial dan lateral, insersi dari m. temporalis. Infeksi berasal dari gigi molar III mandibula. #ejala infeksi berupa trismus dan jika abses besar maka infeksi dapat menyebar ke lateral pharyngeal space. Pasien membutuhkan intubasi nasoendotracheal untuk alat bantu bernapas. (ateral pharyngeal space !parapharyngeal space" 3erhubungan dengan banyak space di sekelilingnya sehingga infeksi pada daerah ini dapat dengan cepat menyebar. #ejala infeksi berupa panas, menggigil, nyeri dysphagia, dan trismus. )etropharyngeal space !posterior visceral space" Infeksi berasal dari gigi molar mandibula, dari infeksi saluran pernapasan atas, dari tonsil, parotis, telinga tengah, dan sinus. #ejala infeksi berupa kaku leher, sakit tenggorokan, dysphagia, hot potato voice, dan stridor. 0erupakan infeksi fascial spaces yang serius karena

12

infeksi dapat menyebar ke mediastinum dan daerah leher yang lebih dalam !menyebabkan kerusakan n. vagus dan n. cranial ba*ah, Horner syndrome". 'bses gingiva terjadi ketika terinfeksi bakteri dan menyebar ke rongga mulut atau dalam gigi, penyebabnya adalah bakteri yang merupakan flora normal dalam mulut. 3akteri itu adalah kokus aerob gram positif, dan kokus anaerob gram seperti fusobakteria, Streptococcus sp, dan bakteri lainnya. 3akteri terdapat dalam plak yang berisi sisa makanan dan kombinasi dengan air liur. 3akteribakteri tersebut dapat menyebabkan karies dentis, gingivitis, dan periodontitis. (ika mencapai jaringan yang lebih dalam melalui nekrosis pulpa dan pocket periodontal dalam, maka akan terjadi infeksi odontogen. 4,+ 'bses gingiva ini terjadi akibat adanya faktor iritasi seperti plak, kalkulus, karies dentis, invasi bakteri !Staphylococcus aureus, Streptococcus, dan Haemophilis influen+ae,, inpaksi makanan atau trauma jaringan. 2eadaan ini dapat menyebabkan kerusakan tulang alveolar sehingga terjadi gigi goyang. 4,+ 'bses gingiva terjadi saat bakteri menginfeksi gusi sehingga menyebabkan penyakit gusi !yang dikenal sebagai periodontitis". Periodontitis menyebabkan radang di dalam gusi yang dapat membuat jaringan yang mengelilingi akar gigi !periodontal ligamen" terpisah dari dasar tulang gigi. Perpisahan ini menimbulkan suatu celah kecil yang dikenal sebagai suatu periodontal pocket, yang sulit untuk dibersihkan sehingga menyebabkan bakteri masuk dan menyebar. 2.( )ani" stasi Klinis Abs s Gingiva #ejala utama abses gingival adalah nyeri pada gigi yang terinfeksi, yang dapat berdenyut dan keras. Pada umumnya nyeri dengan tiba-tiba, dan secara berangsur-angsur bertambah buruk dalam beberapa jam dan beberapa hari. )apat juga ditemukan nyeri menjalar sampai ke telinga, turun ke rahang dan leher pada sisi gigi yang sakit. 6 #ejala-gejala umum dari abses gingiva adalah .

#igi terasa sensitif kepada air sejuk atau panas. <asa pahit di dalam mulut. ?afas berbau busuk.
13

2elenjar leher bengkak Suhu badan meningkat tinggi dan kadang-kadang menggigil. )enyut nadi cepat atau takikardi. ?afsu makan menurun sehingga tubuh menjadi lemas !malaise". Sukar tidur dan tidak mampu membersihkan mulut.

2.*

Diagnosis Abs s Gingiva Secara klinis, diagnosis dari abses gingiva dapat ditegakkan dengan

melihat gejala klinisnya yaitu adanya inflamasi dan infeksi akut. 'pabila belum terjadi kerusakan tulang maka pemeriksaan radiologis tidak memperlihatkan terjadi kelainan. 6 2.+ P natala%sanaan Abs s Gingiva Satu-satunya cara untuk menyembuhkan abses gingival adalah mengikuti perawatan gigi. )okter gigi akan mengobati abses dengan menggunakan prosedur perawatan abses gigi dalam beberapa kasus, pembedahan, atau kedua-duanya. 1,3 '. @armakoterapi
1. 'nalgesik1,3

'bses gingiva sangat nyeri, tetapi dapat digunakan obat penghilang sakit !analgesik", yang tersedia di apotek, untuk mengurangi nyeri ketika menunggu perawatan dari dokter gigi. Perlu diketahui bahwa obat penghilang sakit tidak bisa menyembuhkan abses gingiva. 'nalgesik ini biasanya digunakan untuk meredakan nyeri.
2. 'ntibiotik1,3

'ntibiotik untuk abses gingiva digunakan untuk mencegah penyebaran infeksi, dan dapat dipakai bersama anaigesik !painkiller". 'ntibiotik seperti amoAisillin atau metronidazol dapat digunakan jika .

/ajah bengkak, ini menunjukkan infeksi atau peradangan menyebar ke area sekelilingnya. erlihat tanda-tanda dari infeksi berat, seperti demam atau pembengkakan kelenjar.
14

)aya tahan tubuh menurun, seperti orang yang telah di kemoterapi, atau seperti infeksi H'- positif,

Peningkatan endokarditis.

faktor resiko seperti

diabetes

mellitus, dan resiko

'ntibiotik tidak harus digunakan untuk penundaan perawatan gigi. Barus mengunjungi dokter gigi jika terjadi abses gingiva.

3. )ental prosedur1,3 8angkah utama yang paling penting dalam penatalaksanaan abses gingiva adalah drainage berupa insisi !dibuka" absesnya, atau membuka atap pulpa gigi penyebab. Prosedur ini pada umumnya dilakukan apabila sudah di anestesi lokal terlebih dahulu, sehingga area yang sakit akan mati rasa. Pada abses gingiva, dokter gigi akan mengeluarkan nanah !pus", dan secara menyeluruh membersihkan periodontal pocket. 2emudian melicinkan permukaan akar gigi dengan scaling dan garis gusi untuk membantu penyembuhan dan mencegah infeksi atau peradangan lebih lanjut. 2., Prognosis Abs s Gingiva Prognosis dari abses gingiva adalah baik terutama apabila di terapi dengan segera menggunakan antibiotik yang sesuai. 'pabila menjadi bentuk kronik, akan lebih sukar diterapi dan menimbulkan komplikasi yang lebih buruk. %

15

BAB III STATUS PASIEN

1.1

I' ntitas Pasi n ?ama 'lamat :mur (enis 2elamin Pendidikan Pekerjaan Status Suku 3angsa anggal Periksa . 'n. # . 3litar . 9 tahun . Perempuan . S) ... (awa, Indonesia . $+-C-$*&-

1.2

Anamn sis

H t ro Ananmn sa -Ib& Pasi n. K l&!an Utama 3engkak gusi kiri bawah /i0a1at P n1a%it S %arang Pasien datang ke Poli #igi dan 0ulut <S) 0ardi /aluyo 3litar dengan keluhan bengkak di gusi sebelah kiri bawah sejak & minggu yang lalu. 3adan kadang agak panas dan dirasa nyeri terkadang saat makan makanan yang keras. /i0a1at P ra0atan #igi /i0a1at K s !atan 2elainan darah 2elainan endokrin . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan
16

. idak ada riwayat.

(aringan lunak rongga mulut dan sekitarnya . idak ada riwayat.

2elainan jantung #angguan nutrisi 2elainan kulit5kelamin #angguan pencernaan 2elainan imunologi #angguan respiratori #angguan 0( ekanan darah )iabetes 0elitus

. Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan

2bat3obatan 1ang T la!4S 'ang Di5alani Pasien tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan tertentu. K a'aan Sosial4K biasaan Pasien termasuk dalam kondisi sosial menengah ke bawah. Ibu Pasien mengaku menggosok gigi -A sehari. /i0a1at K l&arga 2elainan darah 2elainan endokrin )iabetes 0elitus 2elainan jantung 2elainan syaraf 'lergi 1.# P m ri%saan 6isi% - 0uka - Pipi kiri - Pipi kanan - 3ibir atas - 3ibir bawah - Sudut mulut - 2elenjar submandibularis kiri - 2elenjar submandibularis kanan . simetris . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal
17

. Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan . Pasien mengaku tidak ada kelainan

E%stra 2ral

- 2elenjar submental - 2elenjar leher - 2elenjar sublingualis - 2elenjar parotis kanan - 2elenjar parotis kiri Intra 2ral - 0ukosa labial atas - 0ukosa labial bawah - 0ukosa pipi kiri - 0ukosa pipi kanan - 3ukal fold atas - 3ukal fold bawah - 8abial fold atas - 8abial fold bawah - #ingival rahang atas - #ingival rahang bawah - 8idah - )asar mulut - Palatum onsil PharynA

. dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . 94, 9+ ?odul . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal . dalam batas normal

8 2

7 1

1 7

2 8 III

V I

IV

III

II

I IV

II V

1 7
V II 8 2 7 IV I III I IV 3 1 7 II V

2 8
III

+
1

Sondasi
6 Perkusi 5

. ! 3"
4 . ! 3" 2 8 18 3 4 5 6

2eterangan . 'bses gingiva oleh karena gigi 94, 9+ gangren pulpa 1.( Diagnosa 'bses #ingiva et Dausa 94, 9+ gangren pulpa 1.* / n7ana P ra0atan o )rainage o Perawatan Saluran 'kar !PS'" o 'ntibiotik o 'nalgesik o Pro insisi abses apabila drainage dari saluran akar kurang adekuat P ngobatan <5 'moAcicilin ab $+* mg ?o. E= S - dd tab I <5 Paracetamol ab $+* mg ?o. E= S prn $-- dd tab I pc Pro . 'n # 5 9 thn P m ri%saan P n&n5ang 8ab. <ontgenologi 0ulut5<adiologi . !-" 8ab. Patologi 'natomi Sitologi 3iopsi 8ab. 0ikrobiologi 3akteriologi (amur 8ab. Patologi 2linik /&5&%an Poli Penyakit )alam Poli B . !-" . !-"
19

. !-" . !-" . !-" . !-" . !-" . !-" . !-"

Poli 2ulit dan 2elamin Poli Saraf 1.+


Tanggal &+-C-$*&-

. !-" . !-"

L mbar P ra0atan
Diagnosa T ra$i KIE 0akan makanan lunak. Sikat gigi teratur sebelum tidur dan sesudah makan. Bindari makanan dan minuman yang terlalu dingin atau terlalu panas. 0akan dengan menggunakan sisi yang berlawanan dari abses. Penggunaan sikat gigi yang lembut dan serat halus di sekitar gigi yang sakit .

P m ri%saan

94, 9+ #P dengan gingiva tampak hiperemi !F" dan edema !F"

94,9+ 'bses 6arma%ot ra$i #ingiva Dausa #P et <5 'moAcicilin tab $+* mg ?o. E=
S - dd tab I <5 Paracetamol tab $+* mg ?o. E= S prn $-- dd tab I Tin'a%an

)rainage Perawatan Saluran 'kar !PS'" Pro insisi abses apabila drainage dari saluran akar kurang adekuat

$+-C-$*&-

94, 9+ #P dengan gingiva tampak hiperemi !F" dan edema !F" sudah berkurang

94,9+ 'bses 6arma%ot ra$i #ingiva Dausa #P et <5 'moAcicilin tab $+* mg ?o. E=
S - dd tab I <5 Paracetamol tab $+* mg ?o. E= S prn $-- dd tab I Tin'a%an

Periksa gigi ke dokter gigi teratur % bulan sekali. 2ontrol setelah obat habis untuk dilakukan evaluasi selanjutnya.

)rainage Perawatan Saluran 'kar !PS'" Pro insisi abses apabila drainage dari saluran akar kurang adekuat

20

BAB I8 PE)BAHASAN

Pasien 'n.# !9 tahun" dengan keluhan bengkak di gusi sebelah kiri bawah sejak & minggu yang lalu. 3adan kadang agak panas dan dirasa nyeri terkadang saat makan makanan yang keras. Pasien didiagnosa 'bses gingiva et causa gangren pulpa gigi 94, 9+. 3erdasarkan teori dikemukakan bahwa gingiva abses merupakan abses yang terbentuk di dalam jaringan periapikal atau periodontal karena infeksi gigi atau perluasan dari gangren pulpa. 'bses yang terbentuk merusak jaringan periapikal, tulang alveolus, tulang rahang terus menembus kulit pipi, dan membentuk fistula. 'bses gingival merupakan suatu nanah yang terjadi pada gusi !gingiva". 'bses gingiva terjadi karena faktor iritasi seperti plak, kalkulus, invasi bakteri, impaksi makanan atau trauma jaringan. erkadang pula akibat gigi yang akan tumbuh. 3akteri yang berperan dalam proses pembentukan abses ini yaitu Staphylococcus aureus dan Streptococcus mutans. 3 Pada pasien ini dari hasil pemeriksaan didapatkan 94, 9+ gangren pulpa dengan gingiva tampak hiperemi F" dan edema !F". Bal ini dikarenakan oleh 0ikro>rganisme !0>" dapat melalui karies yang ada pada gigi. 2emudian 0> ini berkembang-biak, mutiplikasi, mengeluarkan produk-produknya, dan menjalar hingga pulpa. 3ila tetap tidak mendapat perawatan, 0> ini akan terus berkembang biak dan menjalar hingga saluran akar yang akhirnya dapat membuntu saluran ini !ditambah dengan adanya produk-produk radang" sehingga pembuluh darah pun tidak bisa memberikan nutrisinya. 3ila port d#entry melalui margin atau sulkus gingiva, maka keradangan terjadi di daerah ligamen periodontal dan menyebabkan lebarnya periodontal space. 2emudian penjalaran infeksi sampai pada bagian gingiva sehingga menimbulkan gingiva abses. 6 Infeksi adalah masuknya kuman patogen atau toksinnya ke dalam tubuh manusia serta menimbulkan gejala penyakit, sedangkan inflamasi adalah reaksi lokal dari tubuh terhadap adanya infeksi atau iritasi dalam berbagai bentuk. Penyakit itu sendiri timbul setelah mengalami beberapa proses fisiologi yang telah dirubah oleh kuman yang masuk. Sehingga tubuh mengadakan reaksi atau
21

perlawanan yang disebut peradangan atau inflamasi. Peradangan adalah reaksi vaskular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat terlarut, dan sel-sel darah dari darah yang bersirkulasi ke dalam jaringan interstitial pada daerah yang cedera atau yang mengalami nekrotik. Peradangan akut adalah reaksi segera dari tubuh terhadap cedera atau kematian sel. anda tanda pokok peradangan adalah dolor !rasa sakit", rubor !merah", kalor !panas", tumor !pembengkakan", dan fungsiolaesa !perubahan fungsi". -,% 'danya keterlibatan bakteri dalam jaringan periapikal, tentunya mengundang respon keradangan untuk datang ke jaringan yang terinfeksi tersebut, namun karena kondisi hostnya tidak terlalu baik, dan virulensi bakteri cukup tinggi, yang terjadi alih-alih kesembuhan, namun malah menciptakan kondisi abses yang merupakan hasil sinergi dari bakteri S.mutans dan S.aureus. Pola penyebaran abses dipengaruhi oleh - kondisi, yaitu virulensi bakteri, ketahanan jaringan, dan perlekatan otot. Secara alamiah, sebenarnya pus yang terkandung dalam rongga tersebut akan terus berusaha mencari jalan keluar sendiri, namun pada perjalanannya sering kali merepotkan pasien dengan timbulnya gejala-gejala yang cukup mengganggu seperti nyeri, demam, dan malaise. % Pada pasien ini terapi yang di berikan adalah 'moAcicilin $+* mg sebagai obat antibiotiknya dan paracetamol $+* mg sebagai obat nyerinya. indakan yang dilakukan pada pasien ini adalah )rainage, Perawatan Saluran 'kar !PS'" dan Pro insisi abses apabila drainage dari saluran akar kurang adekuat. )an yang perlu diperhatikan pada pasien ini adalah
0akan makanan lunak. Sikat gigi teratur sebelum tidur dan sesudah makan. Bindari makanan dan minuman yang terlalu dingin atau terlalu panas. 0akan dengan menggunakan sisi yang berlawanan dari abses. Penggunaan sikat gigi yang lembut dan serat halus di sekitar gigi yang sakit .

Periksa gigi ke dokter gigi teratur % bulan sekali. 2ontrol setelah obat habis untuk dilakukan ekstraksi gigi.

22

BAB 8 PENUTUP
*.1 K sim$&lan 'bses gingiva merupakan suatu nanah yang terjadi pada gusi !gingiva". 'bses gingiva terjadi karena factor karies gigi, iritasi seperti plak, kalkulus, invasi bakteri, impaksi makanan, trauma jaringan dan penyebaran infeksi periapikal. erkadang pula akibat gigi yang akan tumbuh. 'bses gingiva sebenarnya adalah komplikasi dari karies gigi. 3isa juga disebabkan oleh trauma gigi !misalnya apabila gigi patah atau hancur". 7mail yang terbuka menyebabkan masuknya bakteri yang akan menginfeksi bagian tengah !pulpa" gigi. Infeksi ini menjalar hingga ke akar gigi dan tulang yang menyokong gigi. Infeksi menyebabkan terjadinya pengumpulan nanah !terdiri dari jaringan tubuh yang mati, bakteri yang telah mati atau masih hidup dan sel darah putih", dan pembengkakan jaringan dalam gigi. Ini menyebabkan sakit gigi. (ika struktur akar gigi mati, sakit gigi mungkin hilang, tetapi infeksi ini akan meluas terus menerus sehingga menjalar ke jaringan yang lain. *.2 Saran Perlunya menjaga kebersihan pada rongga mulut agar tidak mudah terinfeksi penyakit dan pentingnya kesadaran memeriksakan kesehatan gigi dan mulut secara rutin ke dokter gigi sebagai bentuk cara untuk mendeteksi dini dan mencegah timbulnya abses gingival oleh karena gigi berlubang.

23

DA6TA/ PUSTAKA

&.

Darranza @', (r. .reatment of acute gingival disease, in. Darranza @' (r G ?ewman 0# !eds", Dlinical Periodontology, 6th edition, Philadelphia, /3 Saunders Do., &CC%, p. 49%-6$. Dhaker, @.0. . )ent. Dlin. ?orth 'm., &6.-C-, &C94 dalam #rossman, 8.I., >liet, S. G )el <io, D.7. &C66. /ndodontic practice. && th ed. Philadelphia . 8ea G @ebiger. Mari &elajar0, "enjalaran 'nfeksi 1dontogen. Patogenesa, Pola Penyebaran, dan Prinsip erapi 'bses <ongga 0ulut. 'vailable at http55www. 'bses periapikal. Dom.

$.

3. #ilangrasuna. $*&*.

4.

0azur, 3., G 0assler, 0. . >ral Surg., &9 . +C$. &C%4 dalam #rossman, 8.I., >liet, S. G )el <io, D.7. &C66. /ndodontic "ractice. && th ed. Philadelphia . 8ea G @ebiger. >liet, S. G Pollock,S. . 3ull. Phila. )ent. Soc., -4.&$, &C%6 dalam #rossman, 8.I., >liet, S. G )el <io, D.7. &C66. /ndodontic "ractice. && th ed. Philadelphia .8ea G @ebiger. Hainul, I, $**+, 'lmu 2esehatan 3igi dan Mulut, 8ab. #igi dan 0ulut @2 :nsyiah5<S: Hainoel 'bidin, 3anda 'ceh, Blm -4-9.

+.

%.

24