Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kreatinin merupakan produk penguraian keratin. Kreatin disintesis di hati dan terdapat dalam hampir semua otot rangka yang berikatan dengan dalam bentuk kreatin fosfat (creatin phosphate, CP), suatu senyawa penyimpan energi. Dalam sintesis ATP (adenosine triphosphate) dari ADP (adenosine diphosphate), kreatin fosfat diubah menjadi kreatin dengan katalisasi enzim kreatin kinase (creatin kinase, CK). Jumlah kreatinin yang dikeluarkan seseorang setiap hari lebih bergantung pada massa otot total daripada aktivitas otot atau tingkat metabolisme protein, walaupun keduanya juga menimbulkan efek. Pembentukan kreatinin harian umumnya tetap, kecuali jika terjadi cedera fisik yang berat atau penyakit degeneratif yang menyebabkan kerusakan masif pada otot (Elizabeth, 2002). Pemilihan metode yang tepat juga banyak membantu dalam melakukan pemeriksaan. Ada beberapa metode yang digunakan dalam pemeriksaan kreatinin dalam darah, antara lain metode Jaffe kinetik. Beberapa agen lingkungan dapat bersifat sebagai nfretoksin terhadap ginjal yaitu karbontetrachlorid (CCl4), chloroform (CHCl3), karbaryl (insektisida karbamat). Apabila keberadaan zat nefrotoksin terlalu banyak dalam tubuh, maka tidak dapat didetoksifikasi hati, sehingga dapat merusak ginjal sebagi organ ekskresi. Sebagai akibatnya glomerulus ginjal akan mengelami kerusakan, sehingga proses filtrasi urine oleh glomerulus akan menurun. Hal ini menyebabkan peningkatkan kadar kreatinin dan urea nitrogen dalam darah maupun urine. Pemeriksaan kreatinin dalam darah merupakan salah satu parameter penting untuk mengetahui fungsi ginjal. Pemeriksaan ini juga sangat membantu kebijakan melakukan terapi pada penderita gangguan fungsi ginjal. Tinggi rendahnya kadar kreatinin dalam darah digunakan

sebagai indikator penting dalam menentukan apakah seorang dengan gangguan fungsi ginjal memerlukan tindakan hemodialysis. Kreatinin mempunyai batasan normal yang sempit, nilai di atas batasan ini menunjukkan semakin berkurangnya nilai ginjal secara pasti.Disamping itu terdapat hubungan jelas antara bertambahnya nilai kreatinin dengan derajat kerusakan ginjal, sehingga diketahui pada nilai berapa perlu dilakukan cuci darah (Elizabeth, 2002). B. Tujuan 1. Mahasiswa dapat mengukur kadar kreatinin darah dengan metode Jaffe kinetik. 2. Mahasiswa dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan kreatinin darah pada saat praktikum setelah membandingkan dengan nilai normal. 3. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan biomarker keracunan zat nefrotoksik. C. Manfaat 1. Mengetahui cara mengukur kadar kreatinin darah dengan metode Jafee kinetik. 2. Mengetahui hasil pemeriksaan kreatinin darah pada saat praktikum setelah membandingkan dengan nilai normal. 3. Mengetahui cara melakukan pemeriksaan biomarker keracunan zat nefrotoksik.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ginjal merupakan suatu organ yang sangat penting untuk mengeluarkan hasil metabolisme tubuh yang sudah tidak digunakan dan obat-obatan. Kemampuan ginjal menyaring darah dinilai dengan perhitungan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) atau juga dikenal sebagai glomerular filtration rate (GFR). Bila nilai LGF nya 90, fungsi ginjal masih dikategorikan 90 persen baik,

dianggap masuk dalam kriteria normal. Kemampuan fungsi ginjal tersebut dihitung dari kadar kreatinin (creatinine) dan kadar nitrogen urea (blood urea nitrogen) di dalam darah (Alam dan Iwan, 2007). Kreatinin adalah hasil metabolisme sel otot yang terdapat di dalam darah setelah melakukan kegiatan. Ginjal akan membuang kreatinin dari darah ke urin. Bila fungsi ginjal menurun, kadar kreatinin di dalam darah akan meningkat. Kadar kreatinin normal dalam plasma darah 0,6-1,2 mg/dL. LFG dihitung dari jumlah kadar kreatinin yang menunjukkan kemampuan fungsi ginjal menyaring darah dalam satuan ml/menit/1,73 m2. Kemampuan ginjal membuang cairan berlebihan sebagai urin (creatinine clearence rate) dihitung dari jumlah urin yang dikeluarkan tubuh dalam satuan waktu, dengan mengumpulkan jumlah urin tersebut selama 24 jam yang disebut dengan C_crea (creatinine clearance). C_crea normal untuk pria adalah 95-145 ml/menit dan wanita 75-115 ml/menit (Alam dan Iwan, 2007). Mangarangi (2003) dalam Amin (2007) menyatakan bahwa nilai rujukan/nilai normal kreatinin darah Pria : 0,7 1,1 mg/dL Wanita : 0,6 0,9 mg/dL Serum kreatinin digunakan sebagai penanda untuk penyakit ginjal akut dan laju filtrasi glomerulus. Serum kreatinin normal adalah 0,6-1,2 mg/dL dan kebanyakan digunakan sebagai parameter untuk mengukur fungsi ginjal. Namun sayangnya, hubungan antara konsentrasi serum kreatinin dan laju filtrasi glomerulus yang mungkin dipengaruhi oleh beberapa faktor (Schrier, 2005).

Kreatinin adalah zat racun dalam darah, terdapat pada seseorang yang ginjalnya sudah tidak berfungsi dengan normal. Senyawa ini dihasilkan ketika terjadi kontraksi pada otot. Dalam darah, kreatinin dihilangkan dengan proses filtrasi melalui glomerulus ginjal dan disekresikan dalam bentuk urin. Ginjal yang sehat menghilangkan kreatinin dari darah dan memasukkannya pada urin untuk dikeluarkan dari tubuh (Sulistyarti, et al., 2011). Kreatinin dihasilkan selama kontraksi otot skeletal melalui pemecahan kreatinin fosfat. Kreatinin diekskresi oleh ginjal dan konsentrasinya dalam darah sebagai indikator fungsi ginjal. Pada kondisi fungsi ginjal normal, kreatinin dalam darah ada dalam jumlah konstan. Nilainya akan meningkat pada penurunan fungsi ginjal. Serum kreatinin berasal dari masa otot, tidak dipengaruhi oleh diet, atau aktivitas dan diekskresi seluruhnya melalui glomerulus. Tes kreatinin berguna untuk mendiagnosa fungsi ginjal karena nilainya mendekati glomerular filtration rate (GFR). Konsentrasi kreatinin serum juga bergantung pada berat, umur dan masa otot. Kreatinin serum 2 - 3 mg/dL menunjukan fungsi ginjal yang menurun 50 % hingga 30 % dari fungsi ginjal normal. Penurunan fungsi ginjal akan menurunkan ekskresi kreatinin. 2011). A. Implikasi klinik kreatinin : 1. Konsentrasi kreatinin serum meningkat pada gangguan fungsi ginjal baik karena gangguan fungsi ginjal disebabkan oleh nefritis, penyumbatan saluran urin, penyakit otot atau dehidrasi akut. 2. Konsentrasi kreatinin serum menurun akibat distropi otot, atropi, malnutrisi atau penurunan masa otot akibat penuaan. 3. Obat-obat seperti asam askorbat, simetidin, levodopa dan metildopa dapat mempengaruhi nilai kreatinin pada pengukuran laboratorium walaupun tidak berarti ada gangguan fungsi ginjal. 4. Nilai kreatinin boleh jadi normal meskipun terjadi gangguan fungsi ginjal pada pasien lanjut usia (lansia) dan pasien malnutrisi akibat penurunan masa otot. 5. Kreatinin mempunyai waktu paruh sekitar satu hari. Oleh karena itu diperlukan waktu beberapa hari hingga kadar kreatinin mencapai kadar (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia,

normal untuk mendeteksi perbaikan fungsi ginjal yang signifikan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011). B. Faktor pengganggu kadar kreatinin : 1. Olahraga berat, angkat beban dan prosedur operasi yang merusak otot rangka dapat meningkatkan kadar kreatinin 2. Alkohol dan penyalahgunaan obat meningkatkan kadar kreatinin 3. Atlet memiliki kreatinin yang lebih tinggi karena masa otot lebih besar 4. Injeksi IM berulang dapat meningkatkan atau menurunkan kadar kreatinin 5. Banyak obat dapat meningkatkan kadar kreatinin 6. Melahirkan dapat meningkatkan kadar kreatinin 7. Hemolisis sampel darah dapat meningkatkan kadar kreatinin 8. Obat-obat yang meningkatkan serum kreatinin: trimetropim, simetidin, ACEI/ARB (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA

A. Alat dan Bahan 1. Alat a. Spuit 3 cc b. Tourniquet c. Plakon d. Pipet ukur 5 ml e. Effendorf f. Sentrifugator g. Mikropipet 10-100 l h. Yellow tip i. Kuvet j. Spektofotometer 2. Bahan a. Sampel darah b. EDTA c. Reagen 1 (Larutan asam piktrat) d. Reagen 2 (Larutan NaOH) e. Aquadest

B. Cara Kerja

Sampel

Reagen

Darah 3 cc NaOH: Aquadest Masukkan tabung effendorf + EDTA 10 l Sentrifuse 10 menit EDTA 10 + Asam Reagen 1 Pikrat l

Ambil plasma (100 l)

Reagen (1 ml) + Sentrifuse 10 menit

Masukkan spektofotometer

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Probandus dalam praktikum pemeriksaan kreatinin darah adalah Arum Sulistyaningsih, berjenis kelamin perempuan, dan berumur 20 tahun. Hasil kadar kreatinin darah menggunakan alat spektofotometer dengan metode Jaffe Kinetik adalah 0,1 mg/dl. Angka kadar kreatinin darah pada perempuan normalnya adalah 0,5-0,9 mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa kadar kreatinin pada sampel di bawah normal.

Hasil pengukuran kadar kreatinin darah

B. Pembahasan Praktikum pemeriksaan kadar kreatinin pada darah menggunakan alat spektofotometer dengan metode pengukuran Jaffe Kinetik. Prinsip metode ini adalah reaksi antara kreatinin dengan asam piktrat dalam suasana basa akan membentuk kompleks kreatinin pikrat yang berwarna jingga yang kadarnya dapat diukur dengan spektofotometer yang dapat diukur menggunakan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 492 nm. Metode ini

didasarkan pada pembentukan senyawa berwarna merah-oranye yang terjadi antara asam pikrat dengan kreatinin dalam suasana basa (Siangproh, 2009). Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kreatinin pada sampel sebesar 0,1 mg/dL. Nilai normal kadar kreatinin pada perempuan adalah 0,6-0,9 mg/dL. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa nilai kreatinin darah di bawah nilai normal. Kadar kreatinin darah yang rendah dapat berarti massa otot rendah disebabkan oleh penyakit, seperti distrofi otot, atau penuaan. Tingkat kadar kreatinin darah rendah juga dapat berarti beberapa penyakit hati yang berat atau diet sangat rendah protein. Kehamilan juga dapat menyebabkan kadar kreatinin rendah. Kadar kreatinin darah rendah dapat berarti memiliki penyakit ginjal kronis atau kerusakan ginjal serius. Kerusakan ginjal dapat dari kondisi seperti infeksi yang mengancam jiwa, shock, kanker, aliran darah rendah ke ginjal, atau penyumbatan saluran kemih. Kondisi lain seperti gagal jantung, dehidrasi, dan penyakit hati (sirosis), juga dapat menyebabkan kadar kreatinin darah rendah. Faktor yang dapat mempengaruhi kadar kreatinin adalah pemberian cairan yang berlebihan mengakibatkan kadar kreatinin rendah palsu, diet rendah protein dan tinggi karbohidrat dapat menurunkan kadar kreatinin, serta gangguan fungsi hati mengakibatkan pembentukan ureum menurun (Pagana, 2010). Hasil pengukuran kadar kreatinin yang rendah dapat juga dikarenakan perlakuan yang kurang tepat pada pengambilan sampel, ketepatan reagen, ketepatan waktu dan suhu inkubasi, pemeriksaan hasil dan pelaporan hasil. Kemungkinan reagen yang digunakan dalam praktikum pemeriksaan kadar kreatinin darah mengalami kerusakan, seperti mangalami penguapan. Akurasi atau tidaknya hasil pemeriksaan kadar kreatinin darah juga sangat tergantung dari ketepatan perlakuan pada pengambilan sampel, ketepatan reagen, ketepatan waktu dan suhu inkubasi, pemeriksaan hasil dan pelaporan hasil.

BAB V PENUTUP

A. Simpulan Simpulan dari praktikum pemeriksaan kreatinin darah menggunakan metode Jaffe kinetik, antara lain: 1. Mengukur kadar kreatinin darah dengan metode Jaffe kinetik menggunakan alat spektofotometer. Reaksi Jaffe untuk kreatinin adalah contoh dari reaksi endpoint kolorimetri. 2. Hasil pemeriksaan kreatinin darah pada saat praktikum setelah membandingkan dengan nilai normal menggunakan alat

spektofotometer dengan metode Jaffe Kinetik adalah 0,1 mg/dl. Angka kadar kreatinin darah pada perempuan normalnya adalah 0,5-0,9 mg/dl. Hal ini menunjukkan bahwa kadar kreatinin pada sampel di bawah normal. 3. Pemeriksaan biomarker keracunan zat nefrotoksik dengan metode Jaffe kinetik menggunakan alat spektofotometer, (biomarker)

penurunan fungsi ginjal yang mudah dan dapat dilakukan di mana saja. B. Saran Saran yang dapat kami ajukan yaitu praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya data yang di ambil dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu, sebelum melakukan praktikum praktikan sebaiknya sudah menguasai bahan-bahan materi yang akan

dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk pemahamannya dan bimbingan dari asisten juga sangat diperlukan.

DAFTAR PUSTAKA Alam, S. dan I. Hadibroto. 2007. Gagal Ginjal. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Amien, I., B. Rusli, dan Hardjoeno. 2007. Kadar Kreatinin Dan Bersihan Kreatinin Penderita Leptospirosis. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory. Vol. 13 (2): 53-55. Elizabeth, Corwin. 2002. Buku saku Patofisiologi. Jakarta: EGC Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Pedoman Interpretasi Data Klinik. Jakarta Schrier, R.W. 2005. Manual of Nephrology. Lippincott Williams & Wilkins. USA. Sulistyarti, et al. 2011. Penentuan Kreatinin Dalam Urin Secara Kolorimetri Dengan Sequential Injection-Flow Reversal Mixing (Si-Frm). Sains dan Terapan Kimia, Vol. 5 (2): 70-79. Siangproh,W., N. Teshima, T. Sakai, S. Katoh, O. Chailapakul, 2009, Alternative Method for Measurement of Albumin/Creatinine Ratio Using Spectrophotometric Sequential Injection Analysis, Talanta, 79:1111-1117. Pagana KD, Pagana TJ. 2010. Mosbys Manual of Diagnostic and Laboratory Tests, 4th ed. Mosby Elsevier. St. Louis.