Anda di halaman 1dari 19

i

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN AIR


KONSUMSI OKSIGEN PADA IKAN MAS

Disusun oleh:
Achmad Affan Usman (230110120010)
Afrah Haniyah Dafiq (230110120039)
Respandu Zulfachri (230110120069)
Kelompok 11 Perikanan A




FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
KAMPUS JATINANGOR
2013
i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan nikmat dan
karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan laporan dengan
judul: KONSUMSI OKSIGEN PADA IKAN MAS
Penyusunan makalah ini bertujuan guna memenuhi tugas praktikum mata
kuliah Fisiologi Hewan Air. Penyusun mengharapkan dengan adanya laporan ini
dapat memberikan pengalaman maupun pelajaran yang berarti bagi siapa saja yang
membacanya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah
memberikan inspirasi dan referensi dalam proses penyelesaian makalah ini. Semoga
segala amal baik terhadap penyusunan makalah ini mendapat balasan yang berlipat
dari Allah SWT.
Penulis menyadari akan keterbatasan serta kemampuan yang dimiliki,
sehingga sudah tentu dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak. Akhir kata, semoga laporan ini dapat memberi
manfaat bagi kita semua.


Jatinangor, Oktober 2013

Kelompok 11
ii

DAFTAR ISI


1


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Ikan merupakan hewan poikiloterm, suhu tubuhnya akan menyesuaikan diri
dengan suhu lingkungannya. Suhu media air akan mempengaruhi kandungan oksigen
terlarut yang akan berakibat terhadap proses respirasi ikan.
Ikan mas merupakan salah satu jenis ikan yang sensitif terhadap kandungan
oksigen terlarut dalam media air tempat hidupnya.
Di dalam air, oksigen bersumber dari tanaman berwarna hijau seperti lumut dan
ganggang. Dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis, tanaman
memproduksi oksigen.
Oksigen dapat larut ke dalam air melalui proses difusi atau persinggungan dengan
udara.
Beberapa faktor yang mempengaruhi banyaknya oksigen terlarut adalah sebagai
berikut:
1) Pergerakan permukaan air. Pergerakan air berupa riak air maupun gelombang
akan mempercepat difusi udara ke dalam air.
2) Suhu. Suhu berpengaruh pada kejenuhan (kapasitas air menyerap oksigen). Makin
tinggi Suhu maka makin sedikit oksigen dapat larut.
3) Tekanan udara. Tekanan udara berhubungan dengan ketinggian suatu daerah dari
permukaan laut. Makin tinggi suatu daerah maka makin rendah tekanan udaranya
sehingga makin rendah pula kadar oksigen terlarut.
4) Salinitas. Makin tinggi salinitas maka makin sedikit oksigen yang dapat larut.
2

5) Tanaman air. Tanaman air, terutama ganggang, tentunya berhubungan dengan
proses fotosintesis yang memerlukan sinar matahari. Bila sinar matahari sedikit
maka proses fotosintesis terhambat sehingga oksigen terlarut pun sedikit.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah akan menghitung konsumsi oksigen ikan
mas yang sensitive terhadap kadar oksigen terlarut di media hidupnya
1.3 Manfaat
Manfaat yang kita dapatkan dari praktikum ini yaitu kita dapat mengetahui jumlah
kebutuhan konsumsi oksigen pada ikan mas.








3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Ikan Mas





Kerajaan : Animalia Bentuk tubuh : Compressed
Filum : Chordata Bentuk ekor : Homocerchal
Kelas : Actinopterygii Bentuk mulut : Terminal
Ordo : Cypriniformes Tipe sisik : Cycloid
Famili : Cyprinidae Tipe otot : Piscin
Genus : Cyprinus Panjang usus : 57 cm
Spesies : Cyprinus carpio (Linnaeus, 1758)

2.2 Morfologi dan Anatomi Ikan Mas
Secara umum, ikan mas memiliki bentuk tubuh yang agak memanjang dan
sedikit memipih ke samping. Sebagian besar tubuh ikan mas ditutupi oleh sisik, tipe
mulut terminal, dapat disembulkan, terdapat dua pasang sungut, dan tidak bergerigi.
Sirip punggung (dorsal) ikan mas memanjang dan berjari-jari keras, sedangkan di
bagian akhir bergerigi. Begitu juga dengan sirip dubur (anal) dan sirip ekor (caudal)
berbentuk cagak. Tipe sisik pada ikan ini adalah lingkaran (cycloid) yang terletak
4

beraturan. Garis rusuk (linea lateralis) yang lengkap terletak di tengah tubuh dengan
posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor (Lentera
2004). Ikan mas tergolong ikan air tawar, namun ikan mas terkadang dapat ditemukan
di perairan payau atau di muara sungai yang bersalinitas (kadar garam) 25-30
0
/
0
.
2.3 Habitat
Ikan Mas hidup di alam bebas pada sungai berarus tenang sampai sedang dan
area perairan air tawar lainnya seperti danau, waduk dan situ. Ikan ini menempati
perairan dengan kedalaman yang dangkal sampai sedang, dapat hidup dan
berkembang biak dengan baik di wilayah perairan dengan ketinggian 150-600 meter
dpl dengan kisaran suhu 25-30 C.
2.4 Oksigen terlarut
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut
dengan kebutuhan oksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter
penting dalam analisis kualitas air. Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk
konsentrasi ini menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan air.
Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas
yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah
tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu
menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air
untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air.
2.5 Mekanisme oksigen
Dalam mekanismenya, oksigen memainkan peranan dalam menguraikan
komponen-komponen kimia menjadi komponen yang lebih sederhana. Oksigen
memiliki kemampuan untuk beroksida dengan zat pencemar seperti komponen
organik sehingga zat pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga
diperlukan oleh mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam
5

proses metabolisme. Dengan adanya oksigen dalam air, mikroorganisme semakin giat
dalam menguraikan kandungan dalam air. Reaksi yang terjadi dalam penguraian
tersebut adalah: Jika reaksi penguraian komponen kimia dalam air terus berlaku,
maka kadar oksigen pun akan menurun. Pada klimaksnya, oksigen yang tersedia tidak
cukup untuk menguraikan komponen kimia tersebut. Keadaan yang demikian
merupakan pencemaran berat pada air.
Analisis dan Pengukuran Untuk mengukur kadar DO dalam air, ada 2 metode
yang sering dilakukan:
Metode titrasi dan;
Metode elektrokimia atau lebih dikenal pengukran dengan DO-meter
Titrasi
Titrasi merupakan metode analisa kimia secara kuantitatif yang biasa
digunakan dalam laboratorium untuk menentukan konsentrasi dari reaktan. Karena
pengukuran volum memainkan peranan penting dalam titrasi, maka teknik ini juga
dikenali dengan analisa volumetrik. Analisa titrimetri merupakan satu dari bagian
utama dari kimia analitik dan perhitungannya berdasarkan hubungan stoikhiometri
dari reaksi-reaksi kimia. Analisa cara titrimetri berdasarkan reaksi kimia seperti: aA +
tT hasil dengan keterangan: (a) molekul analit A bereaksi dengan (t) molekul
pereaksi T. Pereaksi T, disebut titran, ditambahkan secara sedikit-sedikit, biasanya
dari sebuah buret, dalam bentuk larutan dengan konsentrasi yang diketahui. Larutan
yang disebut belakangan disebut larutan standar dan konsentrasinya ditentukan
dengan suatu proses standarisasi. Penambahan titran dilanjutkan hingga sejumlah T
yang ekivalen dengan A telah ditambahkan. Maka dikatakan baha titik ekivalen titran
telah tercapai. Agar mengetahui bila penambahan titran berhenti, kimiawan dapat
menggunakan sebuah zat kimia, yang disebut indikator, yang bertanggap terhadap
adanya titran berlebih dengan perubahan warna. Perubahan warna ini dapat atau tidak
6

dapat trejadi tepat pada titik ekivalen. Titik titrasi pada saat indikator berubah warna
disebut titik akhir. Tentunya merupakan suatu harapan, bahwa titik akhir ada sedekat
mungkin dengan titik ekivalen. Memilih indikator untuk membuat kedua titik
berimpitan (atau mengadakan koreksi untuk selisih keduanya) merupakan salah satu
aspek penting dari analisa titrimetri. Istilah titrasi menyangkut proses ntuk mengukur
volum titran yang diperlukan untuk mencapai titik ekivalen. Selama bertahun-tahun
istilah analisa volumetrik sering digunakan daripada titrimetrik. Akan tetapi dilihat
dari segi yang ketat, istilah titrimetrik lebih baik, karena pengukuran-pengukuran
volum tidak perlu dibatasi oleh titrasi. Pada analisa tertentu misalnya, orang dapat
mengukur volum gas.
Sebuah reagen yang disebut sebagai peniter, yang diketahui konsentrasi
(larutan standar) dan volumnya digunakan untuk mereaksikan larutan yang dititer
yang konsentrasinya tidak diketahui. Dengan menggunakan buret terkalibrasi untuk
menambahkan peniter, sangat mungkin untuk menentukan jumlah pasti larutan yang
dibutuhkan untuk mencapai titik akhir. Titik akhir adalah titik di mana titrasi selesai,
yang ditentukan dengan indikator. Idealnya indikator akan berubah warna pada saat
titik ekivalensidi mana volum dari peniter yang ditambahkan dengan mol tertentu
sama dengan nilai dari mol larutan yang dititer. Dalam titrasi asam-basa kuat, titik
akhir dari titrasi adalah titik pada saat pH reaktan hampir mencapai 7, dan biasanya
ketika larutan berubah warna menjadi merah muda karena adanya indikator pH
fenolftalein. Selain titrasi asam-basa, terdapat pula jenis titrasi lainnya.
Banyak metode yang dapat digunakan untuk mengindikasikan titik akhir dalam
reaksi; titrasi biasanya menggunakan indikator visual (larutan reaktan yang berubah
warna). Dalam titrasi asam-basa sederhana, indikator pH dapat digunakan, sebagai
contoh adalah fenolftalein, di mana fenolftalein akan berubah warna menjadi merah
muda ketika larutan mencapai pH sekitar 8.2 atau melewatinya. Contoh lainnya dari
indikator pH yang dapat digunakan adalah metil jingga, yang berubah warna menjadi
merah dalam asam serta menjadi kuning dalam larutan alkali.
7

Tidak semua titrasi membutuhkan indikator. Dalam beberapa kasus, baik
reaktan maupun produk telah memiliki warna yang kontras dan dapat digunakan
sebagai "indikator". Sebagai contoh, titrasi redoks menggunakan potasium
permanganat (merah muda/ungu) sebagai peniter tidak membutuhkan indikator.
Ketika peniter dikurangi, larutan akan menjadi tidak berwarna. Setelah mencapai titik
ekivalensi, terdapat sisa peniter yang berlebih dalam larutan. Titik ekivalensi
diidentifikasikan pada saat munculnya warna merah muda yang pertama (akibat
kelebihan permanganat) dalam larutan yang sedang dititer.
Akibat adanya sifat logaritma dalam kurva pH, membuat transisi warna yang
sangat tajam; sehingga, satu tetes peniter pada saat hampir mencapai titik akhir dapat
merubah nilai pH secara signifikansehingga terjadilah perubahan warna dalam
indikator secara langsung. Terdapat sedikit perbedaan antara perubahan warna
indikator dan titik ekivalensi yang sebenarnya dalam titrasi. Kesalahan ini diacu
sebagai kesalahan indikator, dan besar kesalahannya tidak dapat ditentukan.






8

BAB III
METODELOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Pada praktikum Fisiologi Hewan Air kali ini dilakukan pada :
Waktu : Kamis, 10 Oktober 2013
Pukul : 10.00 Wib s/d 12.00 Wib
Tempat : Laboratorium Akuakultur

3.2 Alat dan Bahan
Dalam pelaksanaan praktikum ini digunakan alat-alat dan bahan sebagai
berikut :
Alat :
Wadah plastik, untuk tempat percobaan

9

DO meter


Jam tangan, untuk penunjuk waktu

Timbangan, untuk mengukur bobot ikan

10

Cling wrap, bahan pelapis/penutup terbuat dari plastic


Bahan :
Ikan mas


Reagen untuk titrasi oksigen terlarut dengan metode Wingkler

3.3 Prosedur Praktikum
1. Siapkan wadah plastic yang telah diisi air penuh
2. Ukur oksigen terlarutnya dengan menggunakan DO meter atau titrasi metode
Winkler, catat hasilnya.
3. Timbang ikan, lalu catat bobotnya
11

4. Masukkan ikan dengan hati-hati tanpa ada air yang memercik
5. Tutup wadah percobaan dengan cling wrap, agar tidak ada kontak dngan
udara luar
6. Wadah percobaan dibiarkan selama 60 menit
7. Setelah selesai, pentup plastik dibuka, ikan dipindahkan secara hati-hati ,
jangan sampai terjadi percikan air, lalu ukur oksigen terlarut pada media air
wadah percobaan tersebut dengan menggunakan DO meter atau titrasi metode
Winkler, catat hasilnya.
8. DO
awal
- DO
akhir
adalah konsumsi oksigen ikan tersebut
.











12

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Kelompok
Bobot
Ikan
(g)
DO
awal
(mg/l)
DO
akhir
(mg/l)
Konsumsi
O
2
(mg/l)
30 menit
Konsumsi
O
2

(mg/L)
1 jam
Kebutuhan
O
2

(mg/l/jam)
1 70, 58 4, 0 1, 4 2, 6 5,2 0, 00245
2 27, 25 4, 0 3, 1 0, 9 1,8 0, 0022
3 34, 80 4, 0 2, 4 1, 6 3,2 0, 003065
4 72, 40 4, 0 1, 8 2, 2 4,4 0, 002025
5 77, 75 4, 0 2, 5 1, 5 3,0 0, 0012062
6 92, 13 4, 0 1, 6 2, 4 4,8 0, 0017367
7 90, 20 4, 0 1, 5 2, 5 5 0, 0018477
8 90, 7 4, 0 1, 4 2, 6 5,2 0, 0019111
9 50, 18 4, 0 1, 9 2, 1 4,2 0, 00279
10 85 3,3 1,1 2,2 4,4 0,05
11 47 3,3 1,8 1,5 3,0 0,064
12 77 3,3 1,8 1,5 3,0 0,039
13 65 3,3 1,4 1,9 3,8 0,058
14 58 3,3 1,2 2,1 4,2 0,072
15 57 3,3 1,4 1,9 3,8 0,067
16 69 3,3 1 2,3 4,6 0,066
17 72 3,3 1,3 2,0 4,0 0,04
18 76 3,3 1,5 1,8 3,6 0,047
13


4.2 Pembahasan
Berdasarkan hasil percobaan kelompok kami (kelompok 11), diketahui bobot
ikan mas sebesar 47gram, jumlah oksigen terlarut awal (Do
awal
) sebesar 3,3 mg/l dan
jumlah oksigen terlarut akhir (Do
akhir
) adalah 1,8 mg/l. Kemudian setelah dilakukan
perhitungan konsumsi oksigen per jam, didapatlah kebutuhan oksigen ikan mas
sebesar 0,064 mg/l/jam. Dibandingkan dengan bobot ikan yang beratnya 92,13gram,
dan (Do
awal
) & (Do
akhir
) nya adalah 4,01 & 1,6. Didapat perhitungan oksigen per jam
nya sebesar 0,0017367 mg/l/jam.
Dengan membandingan antara jumlah konsumsi oksigen pada ikan mas yang
berukuran besar dan ikan mas berukuran kecil tersebut. Hal ini menunjukan dimana
jumlah konsumsi oksigen pada ikan kecil lebih banyak dibandingkan dengan jumlah
konsumsi oksigen pada ikan mas yang berukuran besar. Ini dikarenakan ikan kecil
lebih banyak aktif berenang dan akan mengkonsumsi oksigen jauh lebih banyak dari
pada ikan yang lebih besar karena ikan berukuran besar biasanya kurang aktif dalam
pergerakannya (beraktifitas). Selain aktifitas dan ukuran yang mempengaruhi
kebutuhan oksigen pada ikan, umur ikan dan temperatur air pun mempengaruhi
kebutuhan oksigen pada ikan.
19 79,71 3,5 1,63 1,87 3,74 0,047
20
21
22 71,91 3,5 1,4 2,1 4,2 0,058
23 55,26 3,5 1,16 2,34 4,68 0,084
24
25 58,86 3,5 2,63 0,87 1,74 0,0296
26
27
14

Tetapi dari hasil praktikum jumlah konsumsi ikan besar lebih banyak dari
pada jumlah oksigen yang digunakan oleh ikan kecil. Ini dikarenakan karena
perbandingan bentuk tubuh antara ikan besar dan ikan kecil tidak terlalu berbeda.
Kebutuhan oksigen untuk tiap jenis biota air berbeda-beda, tergantung dari jenisnya
dan kemampuan untuk beradaptasi dengan naik turunnya kandungan oksigen.
Selain itu, pengamatan tersebut kemungkinan dapat terjadi beberapa faktor
kesalahan yaitu, kesalahan ketika mengambil air terdapat gelembung udara yang
dapat mempengaruhi perhitungan kadar oksigen terlarut atau DO (dissolved oksigen),
dan kelebihan dalam menghitung waktu konsumsi oksigen pada ikan.

15

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan
oksigen pada ikan mas sangat dipengaruhi ukuran, umur, aktivitas, serta kondisi
perairan. Ukuran ikan yang berbeda membutuhkan oksigen yang berbeda pula.
Semakin besar ukuran ikan, jumlah konsumsi oksigen per mg berat badan semakin
rendah. Sedangkan umur suatu organisme, semakin tua laju metabolismenya semakin
rendah. Selain perbedaan ukuran dan umur ikan, perbedaan aktivitas juga
menyebabkan perbedaan kebutuhan oksigen. Namun demikian, pemenuhan
kebutuhan ini sangat ditentukan oleh kondisi perairan terutama kelarutan oksigen.

5.2 Saran
Dalam melakukan praktikum ini diharap praktikan lebih teliti dalam hal
mengamati, sehingga tidak terjadi beberapa faktor kesalahan seperti, kesalahan ketika
membaca skala timbangan pada saat menimbang sampel (ikan), kesalahan ketika
mengambil air yang masih terdapat gelembung udara yang dapat mempengaruhi
perhitungan kadar oksigen terlarut atau DO (dissolved oksigen), dan kelebihan dalam
menghitung waktu konsumsi oksigen pada ikan.




16

DAFTAR PUSTAKA
http://ahsukamajuaza.blogspot.com/2013/04/konsumsi-oksigen.html
http://ahmadf0842.student.ipb.ac.id/2010/06/21/hello-world/
http://akuakulturunhas.com/2009/03/air-sebagai-lingkungan-hidup.html
http://api3kmirza.wordpress.com/2008/06/03/33/
http://firdausbudidayaperikanan.blogspot.com/2012/03/laporan-fisologi-hewan-
air.html
http://lenimaela.blogspot.com/
http://putraderita.com/2012/03/-konsumsi-oksigen.html
http://teknologikimiaindustri.blogspot.com/2011/02/oksigen-terlarut-ot-dissolved-
oxygen-do.html
http://www.scribd.com/doc/112168059/Konsumsi-Oksigen-Pada-Ikan-Nila-1
http://www.scribd.com/doc/44828448/Laporan-Kmia-Analisa-Air-DO