Anda di halaman 1dari 12

A.

Kondisi Alam Indonesia


Konon pada zaman es, wilayah kita terbagi menjadi dua bagian. Wilayah barat yang
disebut Paparan Sunda menjadi satu dengan Asia Tenggara kontinental. Paparan ini meliputi
Jawa, Kalimantan, serta Sumatra dan menjadi satu dengan daratan Asia Tenggara, sehingga
merupakan wilayah yang luas. Wilayah timur yang disebut Paparan Sahul menjadi satu
dengan Benua Australia. Wilayah yang terletak di antara Paparan Sunda dan Sahul itu
meliputi Kepulauan Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kawasan ini kelak,
oleh Wallacea disebut penyaring bagi fauna (bahkan manusia) di kedua daratan. Karenanya,
tipe fauna di kedua daratan cenderung berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan dukungan
iklim serta suhu yang baik, evolusi tumbuhan dan hewan (termasuk Primates) bisa
berlangsung.
Pada masa itu, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil di berbagai daerah dengan
mobilitas yang cukup tinggi. Jalur Indonesia-kontinen Asia bisa mereka tempuh melalui rute
darat, begitu pula dengan Indonesia-Australia. Peralatan batu yang ditemukan di Sulawesi
Selatan dan Nusa Tenggara serta di Filipina, mungkin bisa digunakan untuk merunut
kehidupan Pithecanthropusyang tinggal di kawasan ini. Kemudahan komunikasi itu
memungkinkan mereka untuk mengadakan migrasi ke dalam dua arah yang berlawanan.
Perubahan mulai terjadi pada daratan dan kehidupan manusia, saat es mulai mencair. Karena
air laut menjadi lebih tinggi dan menutupi bagian-bagian rendah dari kedua paparan, maka
membentuk pulau-pulau baru yang saling terpisah. Dampaknya adalah kelompok-kelompok
manusia itu menjadi tercerai-berai dan hidup di dalam pulau-pulau yang saling berlainan.
Fenomena alam itu tidak hanya sekali terjadi, sehingga memungkinkan faktor-faktor evolusi
seperti seleksi alam, arus gen, dan efek perintis untuk bekerja. Hasilnya adalah populasi baru
yang mungkin sekali berbeda dengan induknya. Mungkin karena faktor hibridisasi yaitu
pembauran gen atau perjodohan antara dua golongan makhluk hidup. Mungkin pula
karena pigminasi yaitu proses pengerdilan individu sebagai akibat adanya seleksi alam dan
terbatasnya bahan makanan untuk populasi yang semakin bertambah. Proses inilah yang
antara lain mengakibatkan mengapa manusia purba yang ditmukan di kawasan Sangiran
berbeda dengan yang ditemukan di Flores pada tahun 2004.


B. Jenis Manusia Purba di Indonesia
Seperti telah kamu ketahui, bahwa manusia purba itu mempunyai bentuk dan sifat yang
berbeda bila di-bandingkan dengan manusia zaman sekarang. Tengkorak manusia purba
cenderung lebih kecil namun memanjang, rahangnya tebal namun tidak berdagu serta tidak
mempunyai dahi. Perbandingan semacam ini bisa kita peroleh setelah kita menganalisis
serangkaian penemuan fosil, baik yang berupa tengkorak maupun tulang-tulang anggota
badan lainnya.
Begitu pula saat kita nanti mendeskripsikan hasil-hasil budayanya. Data-data tentang hasil
budayanya itu bisa kita peroleh setelah kita menganalisis fosil yang berwujud beragam
bentuk peralatan yang diduga pernah mereka gunakan. Lalu, untuk menentukan usia fosil itu
kita harus menganalisis lapisan bumi di ' mana fosil itu ditemukan, tentu dengan bantuan ilmu
Geologi. Dengan cara inilah, kita sekarang bisa mengklasifikasi jenis dan budaya manusia
purba di Indonesia.
Penemuan manusia purba di Indonesia terjadi pada akhir abad XIX. Bermula dari dugaan
Eugene Dubois bahwa manusia purba, monyet, dan kera itu biasanya hidup di daerah tropis,
karena iklimnya tidak banyak mengalami perubahan. Ada tiga dasar teori yang digunakan
Dubois sebagai acuan. Teori pertama, bahwa pencarian missink link dalam evolusi manusia
berasal dari daerah tropik. Alasannya, berkurangnya rambut pada tubuh manusia purba hanya
bisa terjadi pada daerah tropika yang hangat. Teori kedua, Dubois mencatat bahwa dalam
dunia binatang, umumnya mereka tinggal di daerah geografis yang sama dengan asal nenek
moyangnya. Dari segi biologi, hewan yang paling mirip dengan manusia adalah kera besar.
Oleh karena itu, Dubois menduga bahwa nenek moyang kera besar mempunyai hubungan
kekerabatan (kinship) dengan manusia. Teori ketiga, Dubois percaya bahwa Asia Tenggara
merupakan asal usul manusia. Alasannya, di sana ada orang utan dan siamang.
Penelitian pun dilakukan oleh sejumlah peneliti luar negeri di berbagai tempat. Secara umum
penelitian itu terbagi menjadi tiga tahap yaitu periode 1889-1909, periode 1931-1941, serta
periode 1952 sampai sekarang. Dunia ilmu pengetahuan (terutama Palaeoantropologi dan
ilmu Hayat) menjadi gempar saat tahun 1889 Dubois berhasil menemukan sejumlah fosil atap
tengkorak di Wajak, Tulungagung, Kediri, yang kemudian diikuti dengan penemuan-
penemuan lain di Kedungbrubus dan Trinil. Fosil itu disebut dengan Pithecanthropus erectus.
Namun sayangnya, sebagian besar fosil tersebut kini tersimpan di Leiden, Belanda. Fosil lain
berhasil ditemukan oleh ter Haar, Oppenoorth, dan von Koenigswald di Ngandong, Blora,
antara tahun 1931-1933, berupa tengkorak dan tulang kering yang disebut Pithecanthropus
soloensis. Pada tahun 1936-1941, von Koenigswald kembali berhasil menemukan fosil
rahang dan gigi yang bemkuran besar serta tengkorak manusia purba di Sangiran, yang
kemudian disebut Meganthropuspalaeojavanicus. Selanjutnya, penelitian pascakemerdeka-an
banyak melibatkan ahli-ahli Indonesia, terutama di kawasan Sangiran. Berikut ini adalah
jenis manusia purba di Indonesia.
1. Meganthropus atau Manusia Raksasa
Meganthropus berasal dari kata mega yang berarti besar dan anthropusyang berarti manusia.
Memang, apabila fosil makhluk itu kamu amati, pasti kamu akan terperangah: besar rahang
bawahnya melebihi rahang gorila laki-laki. Fosilnya yang terdiri atas rahang bawah, rahang
atas,''serta gigi-gigi lepas ditemukan oleh von Koenigswald di Pucangan tahun 1936-1941,
dalam lapisan bumi pleistosen tua. Fosil ini kemudian disebut Meganthropus
Paleojavanicus atau manusia besar dari Jawa zaman kuno.
Selanjutnya, rahang bawah yang lain ditemukan oleh Marks di Kabuh tahun 1952. Namun,
sejauh ini di kalangan ilmuwan nasih merasa kesulitan untuk menempatkan Meganthropus di
dalam evolusi manusia. Apakah tergolong Pithecanthropus,
Homo, atau Australopithecusl. Pakar palaeoan-tropologi kita, Prof. Dr. Teuku Jacob,
berpendapat bahwa Meganthropus me-rupakan bentuk khusus (yang lebih besar)
dari Pithecanthropus. Alasan teorinya adalah ia berevolusi dengan cara adaptif, akibat
pengaruh lingkung-an alam'pada masa tertentu. Mungkin, seandainya rahang bawah itu di-
temukan bersama-sama dengan rahang atas dan tengkoraknya, misteri
kehidupan Meganthropus baru bisa terbuka.
2. Pithecanthropus atau Manusia Kera
Pithecanthropus berasal dari kata pithekos yang berarti kera dan anthropusyang berarti
manusia. Kebanyakan fosil jenis inilah yang berhasil ditemukan di Indonesia. Mereka hidup
pada zaman pleistosen awal, tengah, dan akhir. Makhluk ini mempunyai ciri-ciri tinggi
badannya 165-180 cm, tubuh dan badannya tegap, gerahamnya masih besar, rahangnya kuat,
tonjolan kening tebal (melintang pada dahi dari pelipis ke pelipis), tonjolan - belakang
kepalanya nyata, belum berdagu, serta berhidung lebar. Volume otaknya berkisar antara 750
sampai 1.300 cc.
Makhluk jenis Pithecanthropus juga ditemukan di kawasan yang lain. Di Cina Selatan
ditemukan Pithecanthropus lautianensis dan di Cina Utara disebut Pithecanthropus
Pekinensis. Mereka hidup 800.000 hingga 500.000 tahun yang lampau. Makhluk sejenis juga
ditemukan di Tanzania, Kenya, dan Aljazair di Afrika, serta di Eropa seperti di Jerman Barat,
Jerman Timur, Prancis, Yunani, dan Hongaria. Namun, kebanyakan ditemukan di Indonesia.
Ada beberapa jenis manusia purba yang tergolong ke dalamPithecanthropus, antara lain
sebagai berikut.
a. Pithecanthropus Mojokertensis ( Manusia Kera dari Mojokerto)
Jenis ini diduga merupakan manusia purba tertua yang ada di Indonesia dan ditemukan tahun
1936 di Pucangan serta Mojokerto, berupa tengkorak anak-anak berusia 6 tahun. Isi otaknya
berkisar 650 cc. Fosil ini ke-mudian disebut Pithecanthropus
mojokertensis atau Pithecanthropus robustus (robustus artinya besar). Dari hasil penelitian,
bisa di-simpulkan bahwa makhluk ini hidup pada 2,5 sampai 1,25 juta tahun yang lampau.
Makhluk ini mempunyai spesifikasi: berbadan tegap, tonjolan keningnya tebal, tulang pipinya
kuat, dan mu-kanya menonjol ke depan. Makhluk ini hidup bersama-an
dengan Meganthropus, namun sulit menghubung-kan evolusi keduanya.
b. Pithecanthropus Erectus (Manusia Kera yang Berjalan Tegak)
Jenis ini merupakan generasi kedua manusia purba di Indonesia. Yang fenomenal dari jenis
ini adalah selain fosilnya ditemukan paling awal, juga memiliki wilayah penyebaran yang
cukup luas. Fosil jenis ini terdiri atas atap tengkorak, tulang paha, serta beberapa fragmen
tulang paha yang ditemukan di Trinil tahun 1891. Fosil ini merupakan kepunyaan laki-laki
dengan isi otak kira-kira 900 cc. Dari penelitian terhadap tengkoraknya, Dubois member!
nama Pithecanthropus atau manusia kera dan dari tulang pahanya ia member!
nama erectus atau berjalan tegak. Tidak kurang dari 23 jenis fosil berhasil ditemukan di
berbagai daerah di kawasan Sangiran. Maka, tidak aneh bila fakta dan cerita tentang
kehidupan Pithecanthropuslebih banyak kita peroleh dibandingkan dengan manusia purba
dari jenis yang lain. Misalnya, makhluk ini hidup sekitar sejuta hingga setengah juta tahun
yang lalu, mempunyai tinggi badan 160-180 cm dengan berat badan 80 sampai
100kg.
Yang membedakan Pithecanthropus erectus dengan Pithecanthropus Mojokertensis adalah
besar isi tengkorak, tebal atap tengkorak, bentuk tonjolan belakang kepala dan tonjolan
kening, serta daerah telinga. Dari fosi1 Pithecanthropus orectus yang berhasil ditemukan,
kebanyakan berjenis kelamin laki-laki. Diduga jenis perempuannya banyak yang meninggal
saat kehamilan dan persalinan.
c. Pithecanthropus Soloensis (Manusia Kera dari Solo)
Nama Pithecanthropus soloensis diberikan oleh ilmuwan kita Prof. Dr. Teuku Jacob setelah
meneliti 14 jenis fosi1 dari Desa Ngandong di Lembah Bengawan Solo sebelah utara Trinil.
Jenis ini merupakan generasi ketiga manusia purba di Indonesia. Dari penemuan fosil yang
ada di Sangiran dan Sambungmacan, makhluk ini mempnnyai ciri khas: volume otak 1.000
sampai 1.300 cc, tengkoraknya lonjong, tebal dan masif, tonjolan keningnya cukup nyata,
dahinya lebih terisi, serta tengkoraknya lebih tinggi dibanding kedua manusia
terdahulu. Tanda-tanda yang lain adalah akar hidungnya lebar dan rongga matanya sangat
panjang, tinggi badannya 165 sampai 180 cm, serta tulang keringnya tegap. Dari identifikasi
ini bisa disimpulkan bahwa meskipun letak kepalanya di atas tulang belakang, namun belum
seperti letak kepala manusia saat ini.
Pithecanthropus soloensis yang hidup kira-kira 900.000 hingga 300.000 tahun yang lalu itu,
secara evolutif lebih dekat dengan Pithecanthropus Mojokertensis dibandingkan
dengan Pithecanthropus Erectus.
Para ilmuwan menduga bahwa kedua makhluk itu memang mem-punyai kaitan dalam hal
evolusi. Yang membedakannya dengan kedua manusia purba terdahulu adalah besarnya
tengkorak, tonjolan kening, dan tonjolan belakang kepala, daerah telinga dan daerah hidung.
Hanya saja, volume otaknya semakin bertambah, demikian pula otak kecilnya. Kamu tentu
mengetahui apa dampak yang muncul di balik berkembangnya volume otak ini. Dengan otak
yang semakin berkembang itu, Pithecanthropus Soloensismulai menemukan dan mempunyai
cara hidup yang baru. Perubahan inilah yang menyebabkan berkembangnya kebudayaan
manusia-manusia purba di Indonesia. Oleh karena itu, ada beberapa ahli yang
mengelompokkanPithecanthropus Soloensis ini ke dalam kelompok Homo
Neandertalensis.Bahkan, ada pula yang memasukkan-nya ke dalam kelompok Homo
Sapiens. Namun, sejauh ini para ilmuwan belum mencapai kesepakatan.
3. Homo ( Manusia)
Jenis Homo ini mulai mendekati dengan bentuk manusia. Hidup pada zaman pleistosen
muda. Sementara itu, dari serangkaian fosi1 yang ditemukan diduga mereka hidup 200.000
tahun yang lalu. Selain banyak jumlahnya dan ditemukan di berbagai tempat, fosilnya tidak
hanya berupa tengkorak melainkan juga berupa kerangka yang lengkap. Ada beberapa jenis
manusia purba dari kelompok Homo ini, antara lain sebagai berikut.
a. Homo Neandertalensis (Manusia dan Lembah Neander)
Fosil makhluk ini ditemukan tahun 1856 di Lembah Sungai Neander dekat Kota Dusseldorf,
Jerman. Fosil sejenis juga ditemukan di Francis, Belgia, Jerman, Italia, Yugoslavia, serta
berbagai negara di Eropa. Di Palestina, fosil itu ditemukan di Gua Tabun dekat Mount
Carmel, sehingga disebutHomoPalestinensis. Semula, makhluk ini hanya dianggap sebagai
evolusi manusia yang kandas. Namun, setelah penemuan Homo neandertalensis,para
ilmuwan sepakat bahwa makhluk ini merupakan nenek moyang salah satu ras manusia.
Yang cukup mengagumkan dari penemuan fosil-fosil ini adalah ditemukan-nya beragam
peralatan batu dan sisa-sisa kebudayaan lama di dekat lokasi fosil. Hal itu menunjukkan,
bahwa tingkat kehidupan mereka sudah akrab dengan kebudayaan. Bahkan, di Eropa sering
ditemukan bekas-bekas api di sekitar penemuan fosil, yang diduga sebagai solusi atas
dinginnya iklim di daerah Glasial. Dari penelitian terhadap peralatan yang berhasil ditemukan
menunjukkan bahwa mereka sudah berburu. Peralatan batu selain digunakan untuk senjata
juga digunakan untuk memotong.
b. Homo Sapiens (Manusia Sekarang)
Generasi pertama dari manusia sekarang mula-mula hidup pada lapisan pleistosen muda atau
zaman glasial terakhir (sekitar 80.000 tahun yang lampau). Mulai saat itu, tidak ditemukan
lagi makhluk-makhluk dari dua jenis terdahulu. Karena sejak zaman holosen, fosil manusia
yang berhasil ditemukan menunjukkan perbedaan empat ras pokok yang saat itu ada di muka
bumi. Keempatnya sebagai berikut.
1) Ras Australoid yang kini sisa-sisanya bisa kamu temukan di pedalaman Benua
Australia. Fosil manusia dari jenis ini ditemukan oleh Rietschoten tahun 1889 di Desa
Wajak Kab. Tulungagung Jawa Timur, di Lembah Sungai Brantas dalam lapisan
pleistosen muda. Fosil ini berupa tengkorak, fragmen rahang bawah, dan beberapa
buah ruas leher. Pada tahun berikutnya ditemukan pula fragmen tulang tengkorak,
rahang atas dan bawah serta tulang paha dan tulang kering. Dari hasil penelitian
terhadap fosil itu diperoleh beberapa kesimpulan. Tengkorak manusia ini tergolong
besar dengan volume otak 1.630 cc, mukanya datar dan lebar. Akar hidungnya lebar,
dahinya agak miring, di atas rongga mata ada busur kening yang nyata. Tinggi
manusia itu kira-kira 173 cm diteliti dari tulang pahanya. Manusia yang kerrtudian
disebutHomo Wajakensis itu diperkirakan hidup 40.000 tahun yang lampau, tersebar
di Paparan Sunda dan sebagian Indonesia Timur.
Prof. Dr. Teuku Jacob mengajukan sebuah teori, bahwa di daerah Papua (Irian
Jaya), telah berkembang suatu ras khusus dari ras Wajak dan menjadi nenek moyang
penduduk asli Australia sekarang. Salah satu kemungkinan mengapa terjadi arus
migrasi dari Irian ke Australia adalah, masih utuhnya daratan di kedua bagian bumi
itu. Laut saat itu belum terbentuk, sehingga mobilitas manusia bisa merambah ke
wilayah yang luas. Nah, dari sinilah kita bisa merunut mengapa ras Wajak mampu
menyebar hirigga ke Irian. Bahkan, menurut Teuku Jacob, dari ras Wajak ini pulalah
berkembang menjadi penduduk Irian dan Melanesia.

2) Ras Mongoloid adalah ras yang paling besar jumlahnya dan luas wilayah
penyebarannya, bahkan hingga saat ini. Fosil manusia dari jenis ini ditemukan di Gua
Chou-Kou-Tien (sebelah barat Beijing) Tiongkok antara tahun 1927 dan 1937. Fosil
yang berhasil ditemukan itu membuktikan bahwa manusia ini memiliki kemiripan
denganPithecanthropus yang ada di Indonesia. Fosil ini kemudian diberi
namaPithecanthropus pekinensis. Dari hasil penelitian terhadap fosilnya, diperoleh
data bahwa ternyata tengkoraknya lebih besar bila dibandingkan
dengan Pithecanthropus Erectus, dengan volume otak kira-kira 900 hingga 1.000 cc.
Berarti volume otaknya telah mendekati volume otak manusia sekarang. Apalagi di
sekitar penemuan fosilnya ditemukan serangkaian peralatan yang menunjukkannya
telah memiliki kebudayaan. Bermula dari manusia inilah, kemudian berkembang
menjadi beragam ras Mongoloid di Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia
Utara, Asia Timur Laut, bahkan hingga Benua Amerika Utara dan Selatan. Mereka
diperkirakan hidup antara 40.000 hingga 30.000 tahun yang lampau. Kamu kini tentu
bisa merunut, bangsa-bangsa mana sajakah yang nenek moyangnya berasal
dariPithecanthropus Pekinensis ini.

3) Ras Kaukasoid yang menjadi cikal bakal bangsa-bangsa di Eropa, Afrika bagian utara
Gurun Sahara, Asia Barat Daya, Australia serta Benua Amerika Utara dan Selatan.
Fosil manusia yang berhasil ditemukan di Desa Les Eyzies, Dordogne di Prancis,
diperkirakan berasal dari 60.000 tahun yang lampau. Fosil manusia yang menjadi
nenek moyang penduduk Eropa sekarang itu kemudian disebut Homo Sapiens
Cromagnonensis. Fosil yang ditemukan itu mempunyai bentuk yang indah, tinggi, dan
besar, mukanya selaras dengan bentuk dahinya. Sisa-sisa manusia ini bisa dijumpai
pada bangsa Kabyl di Afrika Utara.


4) Homo Sapiens yang mula-mula menunjukkan ciri-ciri ras Negroid,ditemukan di
Asselar sebelah timur laut Timbuktu (di tengah-tengah Gurun Sahara). Fosil manusia
ini oleh para ahli palaeoantropologi diberi nama Homo Sapiens Asselar, diperkirakan
hidup 14.000 tahunyang lampau. Ras Negroid ini dianggap oleh para peneliti manusia
purba sebagai ras manusia yang paling muda
Dari keempat jenis nenek moyang ras itulah, manusia berevolusi dan berkembang biak
menjadi besar serta beragam sifatnya. Masing-masing ras mempunyai spesifikasi dan
membentuk satuan sosial sendiri-sendiri.
1. Meganthropus

Meganthropus paleojavanicus adalah fosil yang pernah ditemukan di Sangiran oleh Von
Koenigswald pada tahun 1936 dan 1941, berupa bagian rahang bawah dan tiga buah gigi
terdiri atas gigi taring dan dua geraham. Makanan jenis manusia purba ini adalah tumbuhan.
Makhluk ini hidup kira-kira 2 juta hingga 1 juta tahun yang lalu. Meganthropus berasal dari
lapisan Pleistosen Bawah yang sampai sekarang belum ditemukan perkakasnya.

Ciri dari Meganthropus palaeojavanicus adalah

a. memiliki tulang pipi yang tebal,
b. memiliki otot rahang yang kuat,
c. tidak memiliki dagu,
d. memiliki tonjolan belakang yang tajam,
e. memiliki tulang kening yang menonjol,
f. memiliki perawakan yang tegap,
g. memakan tumbuh-tumbuhan, dan
h hidup berkelompok dan berpindah-pindah.

2. Pithecanthropus

Pithecanthropus artinya manusia kera. Fosilnya banyak ditemukan di daerah Trinil (Ngawi),
Perning daerah Mojokerto, Sangiran (Sragen, Jawa Tengah), dan Kedungbrubus (Madiun,
Jawa Timur). Seorang peneliti manusia purba Tjokrohandojo bersama ahli purbakala Duyfjes
menemukan fosil tengkorak anak di lapisan Pucangan, yakni pada lapisan Pleistosen Bawah
di daerah Kepuhlagen, sebelah utara Perning daerah Mojokerto.

Mereka memberikan nama jenis Pithecanthropus mojokertensis, yang merupakan jenis
Pithecanthropus paling tua. Jenis Pithecanthropus memiliki ciri-ciri tubuh dan kehidupan
sebagai berikut.

a. Memiliki rahang bawah yang kuat.
b. Memiliki tulang pipi yang tebal.
c. Keningnya menonjol.
d. Tulang belakang menonjol dan tajam.
e. Tidak berdagu.
f. Perawakannya tegap, mempunyai tempat perlekatan otot tengkuk yang besar dan kuat.
g. Memakan jenis tumbuhan.

Jenis Pithecanthropus ini paling banyak jenisnya ditemukan di Indonesia.
Ada beberapa jenis Pithecanthropus yang diketahui, antara lain, sebagai berikut.

a. Pithecanthropus erectus (manusia kera berjalan tegak) adalah fosil yang paling terkenal
temuan Dr. Eugene Dubois tahun 1890, 1891, dan 1892 di Kedungbrubus (Madiun) dan
Trinil (Ngawi). Temuannya berupa rahang bawah, tempurung kepala, tulang paha, serta
geraham atas dan bawah. Berdasarkan penelitian para ahli, Pithecanthropus erectus memiliki
ciri tubuh sebagai berikut.

1) Berjalan tegak.
2) Volume otaknya melebihi 900 cc.
3) Berbadan tegap dengan alat pengunyah yang kuat.
4) Tinggi badannya sekitar 165 170 cm.
5) Berat badannya sekitar 100 kg.
6) Makanannya masih kasar dengan sedikit dikunyah.
7) Hidupnya diperkirakan satu juta sampai setengah juta tahun yang lalu.

b. Pithecanthropus robustus, artinya manusia kera berahang besar. Fosilnya ditemukan di
Sangiran tahun 1939 oleh Weidenreich. Von Koenigswald menyebutnya dengan nama
Pithecanthropus mojokertensis, penemuannya pada lapisan Pleistosen Bawah yang ditemukan
di Mojokerto antara tahun 1936 1941. Pithecanthropus mojokertensis artinya manusia kera
dari Mojokerto. Fosilnya berupa tengkorak anak berumur 5 tahun.

Jenis ini memiliki ciri hidung lebar, tulang pipi kuat, tubuhnya tinggi, dan hidupnya masih
dari mengumpulkan makanan (food gathering). Berdasarkan banyaknya temuan di lembah
Sungai Bengawan Solo maka Dr. Von Koenigswald membagi lapisan Diluvium lembah
Sungai Bengawan Solo menjadi tiga.

1) Lapisan Jetis (Pleistosen Bawah) ditemukan jenis Pithecanthropus robustus.
2) Lapisan Trinil (Pleistosen Tengah) ditemukan jenis Pithecanthropus erectus.
3) Lapisan Ngandong (Pleistosen Atas) ditemukan jenis Homo soloensis.

c. Pithecanthropus dubuis (dubuis artinya meragukan), fosil ini ditemukan di Sangiran pada
tahun 1939 oleh Von Koenigswald yang berasal dari lapisan Pleistosen Bawah.

d. Pithecanthropus soloensis adalah manusia kera dari Solo yang ditemukan oleh Von
Koenigswald, Oppennoorth, dan Ter Haar pada tahun 1931 1933 di Ngandong, tepi Sungai
Bengawan Solo. Hasil temuannya ini memiliki peranan penting karena menghasilkan satu
seri tengkorak dan tulang kening.

3. Homo

Homo artinya manusia, merupakan jenis manusia purba yang paling maju dibandingkan yang
lain.

Ciri jenis manusia ini adalah

a. berat badan kira-kira 30 sampai 150 kg,
b. volume otaknya lebih dari 1.350 cc,
c. alatnya dari batu dan tulang,
d. berjalan tegak,
e. muka dan hidung lebar, dan
f. mulut masih menonjol.

Adapun temuan jenis Homo sebagai berikut.

a. Homo wajakensis (manusia dari Wajak)

Jenis ini ditemukan di Wajak, Tulungagung pada tahun 1889 ketika Von Rietschoten
menemukan beberapa bagian tengkorak. Temuan ini kemudian diselidiki oleh Dr. Eugene
Dubois yang kemudian disebut Homo wajakensis. Lapisan asalnya adalah Pleistosen Atas,
termasuk ras Australoid dan bernenek moyang Homo soloensis serta menurunkan penduduk
asli Australia. Oleh Von Koenigswald, Homo wajakensis dimasukkan dalam Homo sapiens
(manusia cerdas) sebab sudah mengenal upacara penguburan.

b. Homo soloensis (manusia dari Solo)

Pada waktu ahli geologi Belanda, C. Ter Haar, menemukan lapisan tanah di Ngandong
(Ngawi Jawa Timur) bersama Ir. Oppenoorth tahun 1931 1932. Mereka menemukan
sebelas tengkorak fosil Homo soloensis di lapisan Pleistosen Atas yang kemudian diselidiki
oleh Von Koenigswald dan Weidenreich. Berdasarkan keadaannya, jenis ini bukan lagi kera,
tetapi sudah manusia.

c. Homo sapiens

Homo sapiens artinya manusia cerdas. Homo sapiens berasal dari zaman Holosen, bentuk
tubuhnya sudah menyerupai manusia sekarang. Mereka sudah menggunakan akal dan
memiliki sifat seperti yang dimiliki manusia sekarang. Kehidupan Homo sapiens sederhana
dan mereka masih mengembara.

Adapun ciri-cirinya adalah

1) volume otaknya antara 1.000 cc 1.200 cc;
2) tinggi badan antara 130 210 m;
3) otot tengkuk mengalami penyusutan;
4) alat kunyah dan gigi mengalami penyusutan;
5) muka tidak menonjol ke depan;
6) berdiri dan berjalan tegak,
7) berdagu dan tulang rahangnya biasa, tidak sangat kuat.

Jenis Homo sapiens di dunia terdiri dari subspesies yang sampai sekarang dianggap
menurunkan berbagai manusia, yaitu sebagai berikut.

1) Ras Mongoloid, berciri kulit kuning, mata sipit, rambut lurus. Ras Mongoloid ini
menyebar ke Asia Timur, yakni Jepang, Cina, Korea, dan Asia Tenggara.

2) Ras Kaukasoid, merupakan ras yang berkulit putih, tinggi, rambut lurus, dan hidung
mancung. Ras ini penyebarannya ke Eropa, ada yang ke India Utara (ras Arya), ada yang ke
Yahudi (ras Semit), dan ada yang menyebar ke Arab, Turki, dan daerah Asia Barat lainnya.

3) Ras Negroid, memiliki ciri kulit hitam, rambut keriting, bibir tebal. Penyebaran ras ini ke
Australia (ras Aborigin), ke Papua (ras Papua sebagai penduduk asli), dan ke Afrika.

Anda mungkin juga menyukai