Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum Farmakologi

Blok 19
Obat Vasodilator dan Digitalis

Kelompok F12
Che Wan Nur Hajar bt Saimi 102010368
Nurhafizah Binti Kamal 102010371
Nur atikah Binti Aminudin 102010372
Nor Ain Syafiqah Binti Sholehudin 102010378
Komalah Ravendran 102010388
Ain Nabila Zulkufli 102010389
Eswary Maniraj 102010390
Malvin Wiraldo 102010399

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta 2012



Latar belakang
Secara fisiologi, jantung adalah salah satu organ tubuh yang paling vital fungsinya
dibandingkan dengan organ tubuh vital lainnya. Dengan kata lain, apabila fungsi jantung
mengalami gangguan maka besar pengaruhnya terhadap organ-organ tubuh lainya terutama
ginjal dan otak, karena fungsi utama jantung adalah sebagai single pompa yang
memompakan darah ke seluruh tubuh untuk kepentingan metabolisme sel-sel demi
kelangsungan hidup.
Gagal jantung terjadi jika curah jantung tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan
O
2
. Kondisi ini sangat letal, dengan mortalitas berkisar antara 15-50% per tahun, bergantung
pada keparahan penyakit. Mortalitas meningkat sebanding dengan usia, dan risiko pada laki-
laki lebih besar dari perempuan. Banyak kelainan pada jantung yang sering dijumpai dalam
masyarakat, maka sebagai seorang dokter, haruslah dilakukan pengobatan yang tepat.
Pelbagai jenis obat dipakai untuk mengurangi kesakitan pasien antaranya ialah golongan obat
antiaritmia, antiangina, antihipertensi serta obat-obat seperti vasodilator dan digitalis.
Obat vasodilator merupakan salah satu obat yang sering dipakai untuk menanggulangi
penyakit kardiovaskuler seperti angina pectoris, infark miocard dan hipertensi. Isosorbide
Dinitrat, obat yang berasal dari turunan Nitrat, merupakan vasodilator untuk membuka atau
memperlebar pembuluh darah. Pada penderita serangan jantung, pembuluh darah mengalami
vasokonstriksi atau penyempitan, sehingga dibutuhkan obat yang dapat bekerja cepat untuk
memperlebar dinding pembuluh darah sehingga aliran darah dari dan menuju jantung dapat
mengalir lancar.
Digitalis merupakan golongan obat yang diekstrak dari tanaman foxglove disebut digitalin.
Penggunaan Digitalis purpurea sebagai obat diperkenalkan pertama kali oleh William
Withering. Sebagai obat, glikosida dari tanaman ini digunakan untuk memperkuat
kerja jantung (positif inotrop) yang mempertingkatkan kontraktilitas miokard. Ekstrak dari
digitalis biasanya diambil dari daun-daun tanaman yang tumbuh pada tahun kedua. Bagian-
bagian yang murni dari tanaman ini juga dikenal dengan nama digoksin atau digitoksin.
Digoksin adalah glikosida jantung yang paling banyak digunakan. Digitalis bekerja di tubuh
dengan cara menghalangi fungsi enzim natrium-kalium ATPase sehingga meningkatkan
kadar kalsium di dalam sel-sel otot jantung. Meningkatnya kadar kalsium di dalam otot sel-
sel jantung inilah yang menjadi sebab meningkatnya kekuatan kontraksi jantung.
Dalam praktikum blok kardiovaskuler kali ini, diperhatikan efek dua jenis golongan obat
yaitu vasodilator dan digitalis. Obat yang digunakan adalah isosorbid dinitrat oral dan
sublingual serta larutan tinktura digitalis, untuk melihat efek farmakodinamiknya,
farmakokinetik, indikasi, kontraindikasi dan efek sampingnya.
Clinical Trial merupakan metode yang digunakan dalam praktikum kali ini. Percobaan ini
adalah prosedur yang dilakukan pada orang normal untuk melihat efek samping obat dan
sekiranya ada intervensi dalam pengobatan.

















Percobaaan obat vasodilator oral
Persiapan
1. 1 orang percobaan yang siap puasa 4 jam sebelum praktikum dimulai.
2. Alat-alatan yang diperlukan : tensimeter, stetoskop, thermometer kulit, arloji dan sapu
tangan.
3. Obat-obat vasodilator (isosorbid dinitrat)
Cara Kerja
Prosedur
1. Seorang dari kelompok telah mempersiapkan diri, tidak makan 4 jam sebelum
praktikum, berbaring di atas meja laboratorium dengan tenang.
2. Pengukuran parameter basal, tekanan darah, denyut jantung/nadi, frekuensi nafas dan
suhu kulit telah dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval 5 menit dengan hitung rata-
ratanya.
3. Obat vasodilator diminta pada instruktur setelah pengamatan parameter telah selesai.
4. Harus juga diperhatikan cara penggunaannya apakah harus ditaruh dibawah di bawah
lidah (sublingual) atau ditelan dengan segelas air. Jangan tertukar.
5. Pengamatan parameter diatas untuk orang percobaan :
Yang mendapat obat oral, dilakukan tiap 15 menit selama 1 jam atau bila
parameter telah kembali ke nilai basal.
6. Gejala-gejala apa yang dirasakan oleh orang percobaan itu harus ditanyakan selama
percobaan dan 24 jam seterusnya. Data-data yang diperoleh kelompok lain harus
dibandingkan, apakah ada beda mula kerja, lama kerja dari masing-masing obat
vasodilator yang diberikan.
Landasan teori
1. Isosorbid dinitrat adalah obat sediaan dari nitrat organic yang sering dipakai sebagai
obat anti-angina. Nitrat organik menyebabkan relaksasi otot sehingga terjadinya
vasodilatasi arteri dan vena dan menurunkan tekanan diastolic pada ventrikel kanan
dan kiri..
2. Pada pemberian cepat dengan dosis yang tinggi,nitrat organik dapat menyebabkan
vasodilatasi arteriol perifer yang menurunkan tekanan diastolic dan sistolik. Ini
memicu penurunan curah jantung sehingga menyebabkan takikardi dan risiko
terjadinya hipertensi ortostatik.
3. Isosorbid dinitrat yang diberikan oral adalah nitrat kerja panjang dengan lama kerja 4-
6 jam.
4. Nitrat organik dapat menimbulkan vasodilatasi dan efek anti-agregasi trombosit
melalui 2 mekanisme yaitu :
Non-endothelium-dependent : Nitrat organik adalah satu pro-drug yang setelah
dimetabolisme akan mengeluarkan nitrogen oksida (NO) dan endothelial
derived relaxing factor (EDRF). NO akan membentuk kompleks nitrosdoheme
dengan enzim guanilat siklase dan menstimulasi enzim ini sehingga terjadi
peningkatan cGMP. cGMP akan menyebakan defosforilasi myosin dan
timbulnya relaksasi otot polos.
Endothelium-dependent : Nitrat organik akan menyebabkan lepasnya
prostasiklin dari endothelium yang bersifat vasodilator. Tetapi jika endotel ini
mengalami kerusakan misalnya pada infark miokard, efek vasodilatasi ini akan
hilang.
5. Nitrat organik menurunkan kebutuhan oksigen dan meningkatkan suplai oksigen
dengan cara mempengaruhi tonus vaskuler dan member efek kardiovaskuler yaitu :
a. Vasodilatasi pada seluruh sistem vaskuler.
b. Penurunan tekanan vaskuler
c. Peningkatan kapasitas vena
d. Dilatasi arteriol
6. Sediaan obat seperti nitrogliserin dan isosorbid dinitrat mengalami metabolism lintas
pertama di hati jadi bioavailibilitasnya menurun sebanyak 20% sehinggakan pada
serangan angina akut harus diberi secara sublingual.
7. Preparat dari nitrat organik diindikasikan untuk pasien dengan angina pectoris,infark
jantung dan gagal jantung kongestif.
8. Efek samping yang sering muncul adalah sakit kepala dan flushing karena vasodilatasi
dan dapat diatasi dengan pemberian parasetamol. Hipotensi postural juga bisa timbul
dan jika efek lebih berat mungkin disertai bersama refleks takikardi.
9. Pada OP dapat dilihat sedikit peningkatan suhu kulit muka dan warna kulit muka yang
agak kemerahan karena dilatasi arteriol temporal dan meningeal.
10. Penghentian obat ini secara mendadak dapat menimbulkan rebound angina.
Hasil
Orang percobaan : Eswary Maniraj

Parameter
dasar/menit
0 15 30 45 60
Tekanan
darah
(mm/Hg)

90/60 90/60 90/63 95/70 95/70
Frekuensi
nafas

15 10 11 10 10
Frekuensi
nadi

81 80 74 75 75
Suhu kulit (c)


32.0 32.0 35.0 34.9 32.1
Tabel 1: Hasil pengamatan parameter untuk obat oral, yang dilakukan tiap 15 menit selama 1
jam atau bila parameter telah kembali ke nilai basal.
Pembahasan
1. Pada percobaan ini tekanan darah orang percobaan sebelum minum obat juga rendah,
karena itu kami tidak bias mendeteksi pengurangan tekanan darah dengan baik. Malah
frequency nafas dan frequency nadi berkurang karena efek obat isosorbit dinitrat
terhadap pembuluh darah dan jantung. Berlakunya vasodilatasi dan penurunan
tekanan. Suhu kulit orang percobaan telah meningkat karena vasodilatasi vena dan
arteri dalam tubuh menyebabkkan panas tubuh meningkat.
2. Berdasarkan kelompok lain dan apabila dibanding dengan kelompok kami, tekanan
darah tidak menjadi faktor yang dapat diukur karena hanya segelintir kelompok bisa
mendeteksi adanya penurunan tekanan darah seperti kelompok 4, 7 dan 11. Orang
percobaan kelompok kami pada mulanya sudah mempunyai tekanan darah yang
rendah. Oleh itu, kami tidak bisa mendeteksi adanya penurunan tekanan darah dengan
baik. Ada juga orang percobaan kelompok lain yang mempunyai data peningkatan
tekanan darah pada masa percobaan ini dilakukan. Faktor external seperti duduk dan
tidak berehat bisa menyebabkan pengukuran tekanan darah terganggu.
3. Secara keseluruhannya, kami bisa bandingkan data kami dengan kelompok lain
dengan adanya pengurangan tekanan nadi yang teraba. Orang percobaan kelompok
4,5,6,7,10,11 dan kelompok kami 12 mempunyai tekanan nadi yang semakin menurun
pada menit ke-15, ke-30 dan ke-45. Adanya peningkatan nadi setelah menit ke-60
karena efek obatnya mulai berkurang. Penurunan tekanan nadi bisa teraba karena
adanya vasodilatasi pembuluh darah akibat efek vasodilator dari obat isonitrat yang
diberikan.
4. Suhu yang meningkat secara mendadak dalam pemeriksaan ini dapat menunjukkan
adanya efek vasodilator pada arteriol dan venuol yang melebar pada permukaan kulit
yang bisa terlihat atas orang percobaan kulit cerah, mukanya menjadi merah. Terdapat
peningkatan suhu dalam kelompok 1,2,4,5,9,10 dan 12. Walaupun beberapa orang
percobaan tidak memperlihatkan peningkatan suhu tubuh yang jelas, kita bisa melihat
adanya peningkatan dengan 0.1
0
C.
5. Nitrat organik menurunkan kebutuhan oksigen dan meningkatkan suplai oksigen
dengan cara mempengaruhi tonus vaskuler dan member efek system kardiovaskuler.
Adanya penurunan frekuensi nafas membuktikan fakta ini. Orang percobaan dalam
kelompok 1,3,6,10,11 dan 12 memperlihatkan adanya penurunan frekuensi nafas
akibat obat isosorbid dinitrat.
6. Berdasarkan laporan semua kelompok, orang percobaan mengeluh pusing, lelah,
dingin dan sakit kepala. Orang percobaan mengeluh pusing dan sakit kepala karena
adanya efek penurunan tekanan darah dan menyebabkan suplai darah ke otak tidak
cukup malah kebutuhannya meningkat terus. Keadaan ini dapat menyebabkan adanya
keluhan sakit kepala dan pusing pada orang percobaan. Bila orang percobaan
mengeluh pusing dan penglihatan gelap, segera letakkan kepalanya lebih rendah dari
badan dan diminta untuk bernafas dalam. Adanya keluhan lelah dan dingin pada akral
karena efek hipotensi obat isosorbid dinitrat.
Kesimpulan
Secara kesimpulannya, isosorbid dinitrat mempunyai efek vasodilator dan pengurangan
tekanan vaskuler. Isosorbit dinitrat dapat digunakan sebagai antiangina pada penyakit angina
pectoris dan gagal jantung kongestif karena efeknya terhadap pengurangan preload.



















Percobaan Obat Vasodilator Sublingual
Tujuan
Praktikum A: Obat vasodilator Iso-sorbid nitrat
1. Menjelaskan perbedaan mula kerja dan lama kerja berbagai obat vasodilator
2. Menjelaskan dan mengamati efek vasodilator kerja sedang (isosorbid dinitrat, secara
sublingual) yang diberikan pada orang percobaan.
3. Menjelaskan farmakodinamik obat-obat vasodilator.
4. Membangun kerjasama yang dinamis dalam kelompok selama pengamatan.
Persiapan
Praktikum A
1. Tiap kelompok menyiapkan 2 orang percobaan yang siap puasa 4 jam sebelum
praktikum dimulai.
2. Sebaiknya orang percobaan berkulit warna putih/kuning agar efek vasodilatasi kulit
jelas terlihat.
3. Alat-alat yang dibutuhkan: tensimeter, stetoskop, thermometer kulit.
Prosedur
Percobaan obat vasodilator iso-sorbid nitrat sublingual
1. Dua orang percobaan dari masing-masing kelompok yang telah mempersiapkan diri
tidak makan 4 jam sebelum percobaan, berbaring di atas meja laboratorium dengan
tenang. Pengukuran parameter basal dilakukan, tekanan darah, denyut jantung/nadi,
frekuensi nafas dan suhu kulit sebanyak 2 kali dengan interval 5 menit dan rata-
ratanya dihitung.
2. Setelah pengamatan parameter selesai, obat vasodilator diminta pada instruktur, serta
cara penggunaannya diperhatikan baik-baik apakah harus ditaruh dibawah lidah
(sublingual).
3. Pengamatan parameter basal diatas dilakukan untuk orang percobaan:
Yang mendapatkan obat sublingual, dilakukan tiap 3 menit selama jam
4. Ditanyakan gejala-gejala apa yang dirasakan oleh orang percobaan selama percobaan
dan 24 jam setelahnya.
5. Data-data yang diperoleh dibandingkan dengan kelompok lain, apakah ada beda mula
kerja, lama kerja dari masing-masing obat vasodilator yang diberikan.
Hasil
Parameter yang
diukur
I II Rata-rata
Tekanan darah
(mmHg)
124/90 124/90 124/90
Denyut nadi 66x/min 67x/min 66,5x/min
Frequensi napas 17x 19x 18x
Suhu kulit (
0
C ) 36,28 36,01 36,15
Tabel 2: Parameter basal

Tabel 3: Parameter setelah makan obat




Parameter
diukur
menit
Rata-
rata
3 6 9 12 15 18 21 24 27 30
Tekanan
darah
124/90 110/88 116/90 110/88 110/88 112/90 100/80 110/80 110/80 118/80 112/80
Denyut
nadi (per
min)
66 80 76 80 81 80 80 73 74 68 67
Denyut
napas
18 17 14 14 17 19 19 16 16 17 18
Suhu kulit
(
0
C )
36,15 36,18 36,14 36,38 36,29 36,46 36,12 35,50 35,1 35,1 35,1
Pembahasan
Sebelum melakukan percobaan diukur parameter dasar seperti tekanan darah, denyut nadi dan
napas per min untuk memastikan OP tidak ada kelainan yang dapat mempengaruhi efek obat.
Selain itu adalah untuk membedakan jika terdapat perubahan sebelum dan selepas minum
obat. Setelah minum obat parameter yang sama diukur pada setiap 3 menit. Pada OP
didapatkan penurunan tekanan darah yang fluktuasi dengan nilai yang tidak terlalu signifikan.
Pada menit 30 tekanan darah kekal lebih rendah dari parameter asal yaitu 112/80mmHg. Ini
karena efek obat Isosobid nitrat sebagai obat vasodilator menyebabkan pembuluh darah
dilatasi dan tekanan menurun.
Pada denyut nadi berlaku peningkatan sehingga menit kedua belas dan kemudian menurun
kembali sehingga menit terakhir. Denyut napas mencapai nilai maksimum dengan 19kali per
menit pada menit ke 15 dan kekal pada menit ke 18 sebelum menurun kembali. Suhu tubuh
berkurang dari awal percobaan sehingga akhir namun masih dalam batas normal. Sepanjang
dan selepas percobaan dilakukan OP merasakan pening dan pusing berat selama 24jam.
Selain itu, OP turut merasakan jantungnya berdegup kencang.
Isosorbid dinitrat
Untuk mengatasi serangan angina akut, maka digunakan nitrat organic dalam formula kerja
cepat seperti preparat sublingual. Pemberian sublingual akan didapat bioavailabilitas 45-59%.
Bioavailabilitas bentuk lepas terkendali sekitar 75%. Onset isosorbid mulai 7.5-45 menit
setelah pemberian dan lebih lama pada bentuk lepas lambat. Durasi pada pemberian
sublingual adalah 45 menit hingga 2 jam, sementara bentuk konvensional sekitar 2-6 jam, dan
tablet lepas lambat 10-14 jam.
Gunakan dosis terkecil yang masih efektif. Pasien seharusnya menghubungi dokter atau
rumah sakit bila serangan angina tidak menghilang setelah mendapat 3 tablet dalam 15 menit,
karena ada kemungkinan mengalami infark jantung atau nyeri sebab lain. Tablet sublingual
mungkin juga digunakan sebagai profilaksis jangka pendek, yaitu misalnya sebelum
melakukan aktivitas fisik.
- Sifat Fisikokimia : Isosorbid berbentuk kristal roset berwarna putih, sedikit
larut dalam air dan mudah larut dalam alkohol
- Keterangan : Isosorbid dinitrat merupakan nitrat organik yang mudah
meledak, diperlukan penambahan suatu bahan inert (mis, laktosa) agar bersifat non
eksplosif.
Nitrat organic merupakan pro drug dan mengeluarkan nitrogen monoksida yang turut
merupakan endothelial derived relaxing factor. Nitrat monoksida yang dilepaskan ini akan
membentuk kompleks nitrosoheme dengan guanilat siklase dan menstimulasi enzim ini
sehingga kadar cGMP meningkat dan akan menyebabkan defosforilasi myosin sekaligus
relaksasi otot polos.
Mekanisme kedua , nitrat organic akan melepaskan prostasiklin dari endothelium yang
bersifat vasodilator dan atas mekanisme ini, nitrat organic mempunyai efek vasodilatasi dan
antiagregasi trombosit. Hipersensitivitas terhadap isosorbid dinitrat atau komponen lain
dalam formulasi; hipersensitif terhadap nitrat organik; penggunaan bersama penghambat
phosphodiesterase-5 (PDE-5) (sildenafil, tadalafil, or vardenafil); glaukoma angle-closure(
peningkatan tekanan intraocular); trauma kepala atau perdarahan serebral (peningkatan
tekanan intrakranial); anemia berat.
Efek samping isosorbit dinitrat
Kardiovaskuler: Hipotensi, hipotensi postural, pallor, kolaps kardiovaskuler,
takikardi, syok, kemerahan, edema perifer. SSP: sakit kepala (paling sering), pusing
(karena perubahan tekanan darah), tidak bisa tidur.
Gastrointestinal: Mual, muntah, diare.
Genitourinari: inkontinensia urin.
Hematologi: Methemoglobinemia (jarang, bila overdosis).
Neuromuskuler & skelet: Lemah/letih. Mata: Pandangan kabur.
Insiden hipotensi dan efek yang tidak diharapkan akan meningkat bila digunakan
bersama sildenafil (Viagra).
Nitrogliserin dengan cara pengambilan oral tergolong dalam sediaan nitrat kerja lama
Nitrogliserin dengan pemberian dosis 6.5-13mg mempunyai masa interval dan lama
kerja 6-8 jam.
Metabolisme dari nitrogliserin dilakukan oleh nitrat reduktase dalam hepar yang
mengubah nitrat organik larut lemak menjadi metabolitnya larut air yang mempunyai
efek vasodilatasi lemah
Efek lintas pertama dalam hepar ini menyebabkan bioavailibilitas nitrogliserin yang
diambil secara oral sangat kecil dan lebih baik diambil dengan cara sublingual
Kesimpulan
Bagi percobaan obat vasodilator dapat disimpulkan bahwa pemberian obat secara sublingual
bekerja lebih cepat berbanding secara oral. Obat vasodilator dapat menimbulkan venous
pooling yang menyebabkan penurunan tekanan preload. Jadi, kebutuhan oksigen miokard
juga akan menurun. Obat ini juga dapat menyebabkan dilatasi arteriol temporal dan
meningeal yang menimbulkan kemerahan di muka (flushing) dan sakit kepala berdenyut.















Percobaan Efek Obat Digitalis Terhadap Jantung Melalui Pengamatan
Pada Jantung Kodok
Tujuan
1. Menjelaskan efek farmakodinamik digitalis terhadap frekuensi denyut atrium dan
ventrikel, interval denyut atrium dan ventrikel dan kekuatan kontraksi atrium dan
ventrikel. (efek kronotropik, inotropik dan dromotropik), dan mengamatinya pada
jantung kodok.
2. Menjelaskan dan memperhatikan dan mengamati efek toksik dan letal digitalis.
3. Memahami pengertian kecilnya margin of safety (perbedaan antara dosis terapeutik
dan dosis letal) digitalis dan implikasi klinisnya.
CARA KERJA
Persiapan
1. Hewan coba: kodok(Rana), berukuran agak besar
2. Alat-alat: tempat fiksasi kodok, jarum pentul, gunting anatomis dan chirurgis, pinset,
semprit Tuberculin.
3. Bahan/zat: larutan uretan 10% dan larutan ringer.
Obat: larutan tinktura digitalis 10%
Tatalaksana
1. Pilih satu kodok untuk satu kelompok, suntikan ke dalam saccus lymphaticus
dorsalisnya larutan uretan 10% sebanyak 2ml.
2. Bila sudah terjadi anestesi pada kodok, fiksasilah kodok pada papan fiksasi dengan
posisi terlentang, dengan telapak tangan dan kaki terfiksasi dengan jarum pentul
3. Bukalah toraks kodok dimulai dengan kulit, dilanjutkan dengan lapisan dibawahnya,
dengan irisan berbentuk V, dimulai dari bawah processus ensiformis ke lateral,
sampai jantung terlihat jelas dan hindari tindakan yang menyebabkan banyak
perdarahan.
4. Bila jantung telah tampak singkirkan jaringan yang menutupinya, dan bukalah secara
hati-hati perikard jantung kodok yang tampak sebagai selubung jantung berwarna
perak.
5. Sekarang jantung tampak utuh, teteskan segera setetes larutan ringer laktat untuk
membasahi jantung, lalu perhatikan dengan teliti siklus jantung antara sistol dan
diastole, terutama dengan memperhatikan bentuk dan warna ventrikel.
6. Tetapkan frekuensi denyut jantung per-menit sebanyak 3kali, dan ambil rata-ratanya.
7. Teteskan larutan tinktura digitalis 10% dengan tetesan kecil melalui semprit
tuberculin yang dilepas jarumnya, langsung pada permukaan jantung, tiap 2 menit,
dan hitung frekuensi denyut jantungnya tiap selesai meneteskan digitalis.
8. Pelajarilah perubahan-perubahan yang terjadi pada siklus jantung(sistol-diastol) dan
perubahan warna jantung. Pemberian digitalis akan menyebabkan penurunan
frekuensi jantung, ventrikel akan lebih merah saat diastole dan menjadi lebih putih
saat sistol, serta amati juga interval A-V yang makin besar.Hal-hal tadi sesuai dengan
efek terapi digitalis pada manusia. Penetesan digitalis diteruskan tiap 2 menit, sampai
terjadi keadaan keracunan yang teramati sebagai hambatan jantung parsial, disusuli
terjadinya hambatan mutlak dan berakhir dengan berhenti denyut ventrikel, biasanya
dalam keadaan sistol (asistole).
9. Tentukan apakah jantung yang telah berhenti berdenyut tadi masih bisa di rangsang
dengan rangsangan mekanis, yaitu dengan menyentuh permukaannya dengan pinset.
10. Buatlah catatan dari seluruh pengamatan tadi, dan buatlah kurva yang
menggambarkan hubungan antara frekuensi denyut jantung dengan jumlah tetesan
digitalis yang dipakai.





Landasan Teori
Sediaan inotropik positif
Sediaan inotropik positif sepertis agonis dan penghambat fosfodiesterase secara umum
tidak digunakan untuk pengobatan gagal jantung diastolik isolated, karena fungsi ejeksi
ventrikel kiri yang masih baik dan tidak tampak keuntungan efek. Sediaan ini malah member
potensi memperburuk gagal jantung diastolik karena menginduksi iskemia, meningkatkan
denyut jantung dan menimbulkan aritmia.
Derivat digitalis
Digoksin menghambat pompa Na, K, ATP-ase, menambah kalsium intraseluler dengan
demikian menambah kekuatan kontraksi otot jantung. Data dari studi Digitalis
Investigational Group dan studi lainnya memperlihatkan efektivitas yang sangat terbatas dati
penggunaan digitalis pada manjemen terapi penderita gagal jantung diastolik dengan irama
sinus normal.
Digoksin adalah glikosida jantung yang paling banyak digunakan, terutama dengan alasan
farmakokinetiknya. Digoksin bila dibanding dengan digitoksin: Digitoksin mempunyai waktu
paruh lebih lama, diabsorpsi lebih banyak di saluran cerna. Digitoksin, lebih terikat protein
dibanding digoksin. Digitoksin mengalami metabolisme ekstensif sebelum dieksresi,
sedangkan digoksin tidak dimetabolisme sama sekali.
Intoksikasi digoksin/ digitoksin
Pertiumbangan khusus sebelum pemberian digitalis, pastikan denyut jantung pasien antara
60-100x per menit. Intoksikasi digoksin, digitoksin: tanda-tanda intoksikasi terjadi antara 10-
25% pasien yang mendapat glikosida digitalis. Efek toksik ini dapat bersifat fatal, dan timbul
lebih sering pada pasien yang mendapat tiazid atau diuretic lainnya, kecuali diuretic hemat
kalium.
Tanda-tanda intoksikasi:
Pada jantung terjadi aritmia karena meningkatnya otomatisitas (mungkin akibat depolarisasi
spontan), serta blockade jantung partial atau lokal akibat efeknya pada nodus A-V. Pada
saluran cerna timbul anoreksia, mual, muntaj, diare. Terhadap sistem saraf: mengantuk dan
lelah. Dapat juga terjadi gangguan penglihatan dengan gejala penglihatan kabur, penglihatan
ganda, terlihat halo sekeliling benda, terlihat hanya satu warna (biasanya berwarna kuning
atau hijau), terlihat bintik-bintik yang berbinat atau kialuan cahaya. Tanda-tanda lain, pusing
atau dapat juga pingsan karena turunnya tekanan darah, ginekomastia,. Keracunan dicegah
dengan melakukan observasi teliti dan penyesuaian dosis pada setipa pasien, gunakan dosis
beban (loading dosis) sedang, perbaiki kadar kalium pada pasien hipomagnesemia dan
hipokalsemia menjadi normal. Intoksikasi yang spesifik untuk digoksin dan digitoksin. Fabs
akan berikatan dengan glikosida, dan ikatan ini akan dieskresi melalui urin.
Digoksin
Mekanisme kerja: digoksin menghambat Na-K-ATPase (pompa natrium) dan meningkatkan
masuknya Ca
2+
. Kontraksi akan meningkat karena meningkatnya arus masuk Ca
2+
. Curah
jantung juga meningkat dan disertai dengan menurunnya ukuran jantung, venous return dan
volume darah. Diuresis terjadi karena meningkatnya perfusi ginjal,
Indikasi: Digoksin diindikasikan pada payah jantung dengan fibrilasi atrium, takikardia
paroxysmal, juga untuk hiperventilasi, syok kardiogenik dan syok tirotoksik. Dosis beban
(loading dose) diperlukan pada pemberian pertama untuk mendapatkan kadar terapi dengan
cepat.
Efek samping: Pada intoksikasi digitalis dapat timbul brakikardia, blockade nodus A-V dan
S-A., aritmia disertai anoreksia, mual, muntah, dan diare, sakit kepala, lemah, lelah,
gangguan penglihatan dan ginekomastia. Meningkatnya resistensi perifer dapat
menungkatkan kerja jantung dan memperburuk kerusakan iskemik.
Farmakokinetik: digoksin diberikan per oral atau intravena. Waktu paruh 36jam, 25% terikat
protein, 75% diabsorpsi melalui saluran cerna, distribusi lambat oleh karena volum distribusi
(Vd) besar dan ekskresi dalam bentuk untuh melalui urin.
Kontraindikasi: fibrilasi ventrikel, brakikardia berat, alergi.
Interaksi: digoksin dapat meningkatkan reaksi toksik obat yang mempengaruhi elektrolit
serum, keluarnya K
+
karena pemberian diuretic, kortikosteroid, tiazid dan diuretic kuat,
amfoterisin B, kuinidin dan amiodaron. Penghambat reseptor beta-adrenergik, kanal kalsium
atau asetilkolinesterase meningkatkan arisiko blokade A-V total.

Digitoksin
Mekanisme kerja sama seperti digoksin.
Indikasi: obat ini jarang digunakan karena t panjang tetapi berguna pada pasien dengan
gagal ginjal karena tidak bisa mengeksresi digoksin.
Efek samping sama seperti digoksin.
Farmakokinetik: diberikan per oral, intramuskuler, intravena, t: 6 hari. Absorpsi melalui
saluran cerna, 97% terikat protein. Distribusi sama dengan digoksin, dimetabolisme di hati
dan eksresi melalui urin.
Kontraindikasi dan interaksinya sama seperti digoksin.
Hasil
Sebelum dititiskan obat digitalis ,denyut jantung kodok/menit adalah sebanyak 52 kali
Berikut merupakan tabel hasil titisan obat digitalis secara langsung ke permukaan jantung
kodok.


Tabel 4: Hasil denyutan jantung kodok setelah dititiskan digitalis.
Masa 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28
DJ 25 24 23 20 20 19 18 11 10 8 8 8 4 0

Hambatan jantung partial menit ke-20
Hambatan jantung total menit ke-28
Pembahasan
Setelah dilakukan pembedahan sehingga terlihat jantung kodok, dilakukan observasi terhadap
jantung kodok tersebut.
Yang terlihat adalah:
Siklus sistol, ventrikel pada kodok menjadi pucat, atrium menjadi merah
Siklus diastol, ventrikel menjadi merah, atrium menjadi pucat
Berdasarkan hasil data yang dikumpulkan, dapat dilihat dengan jelas kerja digitalis terhadap
jantung kodok. Pada awal percobaan, sebelum diteteskan tinktura digitalis 10%, frekuensi
denyut jantung kodok tersebut adalah 52x/min. Setelah penetesan tersebut, terjadi penurunan
secara berkala, dengan jelas sehingga akhirnya terjadi gagal jantung pada menit ke-28.
Selain itu, pada menit ke-10 terjadi perpanjangan masa daripada A-V. Ini adalah efek kerja
daripada digitalis itu sendiri di mana ia bisa menyebabkan blokade pada AV node. Pada
perpanjangan waktu A-V, sebenarnya blokade nodus AV masih belum sempurna (parsial).
0
5
10
15
20
25
30
2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28
Denyut Jantung Kodok /Menit
Denyut Jantung Kodok /Menit
Tetapi setelah terjadinya asystole (jantung berhenti berdenyut pada siklus sistol) nodus AV
telah diblok secara total, mengakibatkan distrupsi kerja miogenik jantung.
Kesimpulan
Digitalis/Digoxin dapat digunakan sebagai obat payah jantung dan banyak dipakai sekarang
namun mempunyai margin of safety yang sempit, jadi penggunaannya harus lebih berhati-
hati.