Anda di halaman 1dari 16

3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.Defenisi
Strain
Strain adalah otot atau tendon diregangkan atau robek. Tendon
adalah jaringan yang menghubungkan otot ke tulang. Memutar atau
menarik jaringan ini dapat menyebabkan ketegangan. Strain dapat terjadi
tiba-tiba atau mengembangkan dari waktu ke waktu. Strain otot
punggung dan hamstring yang umum.
Strain adalah tarikan otot akibat penggunaan berlebihan, atau
stress yang berlebihan.
strain adalah robekan mikroskopis tidak komplit dengan perdarahan
di dalam jaringan. (Smeltzer Suzame, KMB Brunner dan Suddarth)
Strain adalah peregangan otot berlabihan atau tendon atau tidak
stabil. Strain kadang-kadang disebut sebagai otot menarik. seperti,
mengangkat benda berat, dan olahraga sering menimbulkan cedera
ini.(donna, 6th edition)
Strain/ Regangan adalah berlebihan peregangan otot, lapisan fasia
nya, atau tendon. Kebanyakan strain terjadi pada kelompok otot besar
termasuk punggung bawah, betis dan paha belakang. Strain juga dapat
diklasifikasikan sebagai tingkat pertama (otot ringan atau sedikit
menarik), tingkat kedua (sedang atau otot robek pada tingkat menengah)
dan derajat ketiga (robek parah atau pecah). (Lewis, Hal: 1585)
Sprain
sprain adalah cedera struktur ligament disekitar sendi, akibat gerakan
menjepit atau memutar. Fungsi ligament adalah mejaga stabilitas namun
masih memungkinkan mobilitas. (bruner & suddarth)
Sprain atau Terkilir adalah ligamen diregangkan atau robek.
Ligamen adalah jaringan yang menghubungkan tulang pada sendi. Jatuh,
memutar, atau mendapatkan pukulan semua dapat menyebabkan keseleo.
Ankle dan pergelangan tangan keseleo yang umum. Gejala termasuk rasa
4



sakit, bengkak, memar, dan tidak mampu bergerak bersama Anda. Anda
mungkin merasa robek saat cedera terjadi.
Strain adalah luka pada otot atau tendon dikarenakan penggunaan
otot yang berlebihan, tekanan yang terlalu besar, atau perenggangan yang
berlebihan. Jaringan otot yang mengalami hal tersebut sering terjadi
perdarahan yang masuk ke dalam tempat luka akibat robekan otot yang
tidak komplit dan hanya kelihatan dengan mikroskop.
Sprain/ Keseleo adalah cedera struktur ligamenteous sekitar sendi,
biasanya disebabkan oleh gerakan memutar. Kebanyakan keseleo terjadi
pada pergelangan kaki dan sendi lutut. Sprain diklasifikasikan menurut
kerusakan ligamen. Tingkat pertama (ringan) keseleo melibatkan hanya
dalam beberapa serat sehingga nyeri ringan dan pembengkakan minimal.
Tingkat dua (menengah) adalah gangguan parsial dari jaringan yang
terlibat dengan lebih pembengkakan dan nyeri. Tingkat tiga (berat)
adalah robekkan ligamentum yang lengkap adalah asosiasi dengan
moderat untuk pembengkakan yang berat. Kesenjangan dalam otot
dapat terlihat atau teraba melalui kulit jika otot robek. Karena daerah
diseluruh sendi kaya ujung saraf, cedera dapat sangat menyakitkan.
(lewis, hal: 1584)

2.2.Anatomi dan fisiologi
Sistem tulang
a) Fungsi tulang secara umum:
1) Formasi kerangka (penentu bentuk dan ukuran tubuh)
2) Formasi sendi (penggerak)
3) Perlengketan otot
4) Pengungkit
5) Menyokong berat badan
6) Proteksi (membentuk rongga melindungi organ yang halus dan
lunak, seperti otak, jantung dan paru)
7) Haemopoesis (pembentukan sel darah (red marrow)
8) Fungsi Imunologi: RES sumsum tulang membentuk limfosit B dan
makrofag
5



9) Penyimpanan Mineral (kalsium & fosfat) dan lipid (yellow
marrow)
b) Fungsi tulang secara khusus:
1) Sinus-sinus paranasalis: menimbulkan nada pada suara
2) Email gigi: memotong, menggigit dan menggilas makanan
3) Tulang kecil telinga: mengkonduksi gelombang suara
4) Panggul wanita: memudahkan proses partus
c) Komposisi tulang:
1) Mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikan)
2) Kalsium dan fosfat
d) Faktor Pertumbuhan Tulang
1) Herediter
2) Nutrisi
3) Faktor Endokrin
4) Faktor persarafan
5) Faktor mekanis
6) Penyakit-penyakit
e) Tulang berdasarkan bentuknya
1) Ossa longa (tulang panjang): tulang yang ukuran panjangnya
terbesar, contohnya os humerus
2) Ossa brevia (tulang pendek): tulang yang ketiga ukurannya kira-
kira sama besar, contohnya ossa carpi
3) Ossa plana (tulang gepeng/pipih): tulang yang ukuran lebarnya
terbesar, contohnya os parietale
4) Ossa irregular (tulang tak beraturan), contohnya os sphenoidale
5) Ossa pneumatica (tulang berongga udara), contohnya os maxilla
f) Sel penyusun tulang
1) Osteoblast (pembentukan tulang): Menghasilkan jaringan osteosid
dan mengeksresikan fosfatase dalam pengendapan kalsium dan
fosfat ke dalam matrix tulang
2) Osteosit : Sel- sel tulang dewasa yang bertindak sebagai lintasan
untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat
3) Osteoclast (penghancuran tulang): sel-sel yang dapat
mengabsorbsi mineral dan matrix tulang. Sel-sel ini menghasilkan
6



enzym proteolitik yang memecah matrix menjadi mineral tulang,
tulang kalsium fosfat terlepas kedalam darah.
Sistem muskulus
a) Sistem otot terdiri dari : Otot, Fascia, Tendon
1) Tendon ; jaringan ikat yang menghubungkan otot dan tulang
2) Fascia ; jaringan penyambung longgar di bawah kulit atau
pembungkus otot, saraf dan pembuluh darah.
3) Otot membentuk 43% berat badan; > 1/3-nya merupakan protein
tubuh dan setengahnya tempat terjadinya aktivitas metabolik saat
tubuh istirahat.
4) Proses vital di dalam tubuh (seperti. Kontraksi jantung, kontriksi
pembuluh darah, bernapas, peristaltik usus) terjadi karena adanya
aktivitas otot
5) Fungsi otot adalah Sebagai alat gerak aktif, Menyimpan cadangan
makanan, Memberi bentuk luar tubuh
b) Tipe jaringan otot
1) Otot polos
memiliki 1 inti yang berada di tengah, dipersarafi oleh saraf
otonom (involunter), serat otot polos (tidak berserat), terdapat di
organ dalam tubuh (viseral), sumber Ca2+ dari CES, sumber
energi terutama dari metabolisme aerobik, awal kontraksi lambat,
kadang mengalami tetani, tahan terhadap kelelahan
2) Otot rangka/ otot serat lintang
memiliki banyak inti, dipersarafi oleh saraf motorik
somatik (volunter), melekat pada tulang, sumber Ca2+ dari
retikulum sarkoplasma (RS), sumber energi dari metabolisme
aerobik dan anaerobik, awal kontraksi cepat, mengalami tetani
dan cepat lelah
3) Otot jantung
memiliki 1 inti yang berada di tengah, dipersarafi oleh saraf
otonom (involunter), serat otot berserat, hanya ada di jantung,
sumber Ca2+ dari CES & RS, sumber energi dr metabolisme
aerobik, awal kontraksi lambat, tidak mengalami tetani, dan tahan
terhadap kelelahan
7



c) fungsi sistem otot rangka
1) Menghasilkan gerakan rangka.
2) Mempertahankan sikap dan posisi tubuh.
3) Menyokong jaringan lunak.
4) Menunjukkan pintu masuk dan keluar saluran dalam sistem
tubuh.
5) Mempertahankan suhu tubuh; kontraksi otot: energi menjadi
panas.
d) Mekanisme gerakan otot
1) Otot yang dapat menggerakkan rangka adalah otot yang melekat
pada rangka.
2) Garis-garis gelap dan terang pada otot rangka adalah miofibril
yang merupakan sumber kekuatan otot dalam melakukan gerakan
kontraksi, karena massa utamanya adalah serabut.
3) Setiap miofibril tersusun atas satuan-satuan kontraktil yang
disebut sarkomer. Garis gelap disebut zona Z sedangkan garis
terang disebut zona H.
1) Zona Z merupakan bagian tumpang tindih dua molekul protein
filamen otot, yaitu aktin dan miosin. Protein otot yang
tersusun atas aktin dan miosin disebut aktomiosin. Protein
kompleks inilah yang merupakan komponen terbesar dari
bahan penyusun otot.
4) Pada saat serabut otot berkontraksi terjadilah perubahan panjang
zona Z dan zona H. jika otot berkontraksi maksimum, ukuran otot
dapat 20 % lebih pendek dari ukuran saat berelaksasi
Sendi
a) Persambungan/ artikulasio : pertemuan antara dua atau lebih dari
tulang rangka.
b) Artrologi: ilmu yang mempelajari persendian.
c) Sendi Berdasarkan strukturnya
1) Fibrosa: hubungan antar sendi oleh jaringan fibrosa
2) Kartilago/tulang rawan: ruang antar sendinya berikatan dengan
tulang rawan.
8



3) Sinovial/sinovial joint: ada ruang sendi dan ligament untuk
mempertahankan persendian.
d) Sendi berdasarkan jenis prsambungannya
1) Sinartrosis
Sendi yang terdapat kesinambungan karena di antara kedua
ujung tulang yang bersendi terdapat suatu jaringan, contohnya
pada tulang tengkorak
2) Amphiarthrosis
Sendi yang dapat sedikit bergerak, contohnya tulang persendian
vertebrae
3) Diartrosis
Sendi terdapat ketidak-sinambungan karena di antara tulang
yang bersendi terdapat rongga (cavum articulare), contohnya
sendi panggul, lutut, bahu dan siku.
2.3.Etiologi
Strain
Ada dua jenis strain: akut dan kronis. Strain akut terjadi ketika otot
menjadi tegang atau menarik - atau bahkan mungkin merobek - ketika
membentang biasa jauh atau tiba-tiba.
Strain akut sering terjadi dengan cara berikut:
Tergelincir di atas es
Berlari, melompat atau melempar.
Mengangkat benda berat atau mengangkat dalam posisi canggung
Sebuah hasil regangan kronis berkepanjangan, gerakan berulang dari
otot. Hal ini bisa terjadi pada pekerjaan atau selama olahraga
Sprain
Pergerakan yang terlalu cepat atau tidak sengaja serta meliputi
pukulan, tendangan, trauma, gerakan menjepit, dan gerakan memutar
9



Sprain terjadi ketika bekerja terlalu berat atau robek ligamen
sementara sangat menekankan sendi. Terkilir sering terjadi dalam situasi
berikut:
Ankle. Berjalan atau berolahraga pada permukaan yang tidak rata.
Knee. Berputar selama kegiatan atletik
Wrist. Mendarat di sebuah uluran tangan saat jatuh
Thumb. Ski atau bermain raket olahraga, seperti tenis

2.4.Patofisiologi
Strain
Strain adalah kerusakan pada jaringan otot karena trauma langsung
(impact) atau tidak langsung (overloading). Cedera ini terjadi akibat otot
tertarik pada arah yang salah,kontraksi otot yang berlebihan atau ketika
terjadi kontraksi ,otot belum siap,terjadi pada bagian groin muscles (otot
pada kunci paha),hamstring (otot paha bagian bawah),dan otot
guadriceps. Fleksibilitas otot yang baik bisa menghindarkan daerah
sekitar cedera memar dan membengkak.

Sprain
Kekoyakan (avulsion) seluruh atau sebagian dari dan disekeliling
sendi, yang disebabkan oleh daya yang tidak semestinya, pemelintiran
atau mendorong / mendesak pada saat berolah raga atau aktivitas kerja.
Kebanyakan keseleo terjadi pada pergelangan tangan dan kaki, jari-jari
tangan dan kaki. Pada trauma olah raga (sepak bola) sering terjadi
robekan ligament pada sendi lutut. Sendi-sendi lain juga dapat terkilir
jika diterapkan daya tekanan atau tarikan yang tidak semestinya tanpa
diselingi peredaan.

2.5.WOC (Terlampir)



10



2.6.Klasifikasi
Strain
Strain diklasifikasikan menurut tingkat keparahan mereka:
a. Sebuah tingkat pertama (ringan) regangan menyebabkan peradangan
ringan tetapi sedikit pendarahan. Pembengkakan, ecchymosis
(memar), dan nyeri biasanya hadir.
b. Sebuah tingkat dua (strain ringan melibatkan robeknya serat-serat otot
atau tendon tanpa gangguan lengkap fungsi otot dapat terganggu..
c. derajat ketiga (berat) regangan melibatkan otot pecah atau tendon
dengan pemisahan otot dari otot, tendon dari otot, tendon atau dari
tulang. Nyeri berat dan cacat hasil dari strain parah.

Sprain
Sprain juga diklasifikasikan menurut keparahan:
a. Tingkat pertama (ringan) keseleo melibatkan robeknya beberapa serat
ligamen. Fungsi sendi tidak terganggu.
b. Dalam tingkat dua (moderat) keseleo, lebih banyak serat yang robek
tetapi sendi tetap stabil.
c. Tingkat ketiga (berat) penyebab keseleo ditandai ketidakstabilan sendi.
Nyeri dan pembengkakan hasil dari cedera ligamen.
Sprain berdasarkan derajat kerusakannya, ( Marilynn, . 2011 : Hal 124 )
a. Sprain derajat I (kerusakan minimal)
Nyeri tanpa pembengkakan, tidak ada memar, kisaran pembengkakan
aktif dan pasif, menimbulkan nyeri, prognosis baik tanpa adanya
kemungkinan instabilitas atau gangguan fungsi.
b. Sprain derajat II (kerusakan sedang)
Pembengkakan sedang dan memar, sangat nyeri, dengan nyeri tekan
yang lebih menyebar dibandingkan derajat I. Kisaran pergerakan
sangat nyeri dan tertahan, sendi mungkin tidak stabil, dan mungkin
menimbulkan gangguan fungsi.
11



c. Sprain derajat III (kerusakan kompit pada ligamen)
Pembengkakan hebat dan memar, instabilitas stuktural dengan
peningkatan kirasan gerak yang abnormal (akibat putusnya ligamen),
nyeri pada kisaran pergerakan pasif mungkin kurang dibandingkan
derajat yang lebihh rendah (serabut saraf sudah benar-benar rusak).
Hilangnya fungsi yang signifikan yang mungkin membutuhkan
pembedahan untuk mengembalikan fungsinya.

2.7.Manifestasi klinis
Manifestasi klinis strain dan sprain sama termasuk rasa sakit,
edema, penurunan fungsi dan memar. Nyeri diperparah pada saat
melakukan aktivitas. Edema berkembang di daerah luka karena
perdarahan kecil dalam jaringan dan respon inflamasi lokal berikutnya.
Biasanya pasien akan menceritakan riwayat luka trauma, mungkin dari
inversi atau memutar, atau kegiatan olahraga baru-baru ini. (lewis, hal:
1585)
Sprain ringan dan strain biasanya membatasi diri/istirahat, dengan
aktivitas kembali dalam waktu 3 sampai 6 minggu. Sinar-X dilakukan
pada bagian yang terkena untuk menentukan pelebaran fraktur struktur
sendi. Sprain/keseleo dapat menghasilkan facture avulsi bersamaan, di
mana ligamentum menarik longgar fragmen tulang. Atau, struktur sendi
dapat menjadi tidak stabil dan mengakibatkan subluksasi atau dislokasi.
Pada saat injury time, hemarthrosis (perdarahan ke dalam ruang sendi
atau rongga) atau gangguan pada selaput cairan sendi dapat terjadi. strain
mungkin memerlukan operasi perbaikan dari otot, tendon atau fasia
sekitarnya. (Lewis, hal:1585)

2.8.Pemeriksaan penunjang
a. X-ray dapat membantu menyingkirkan fraktur atau cedera tulang lainnya
sebagai sumber masalah.
b. Magnetic resonance imaging (MRI) juga dapat digunakan untuk
membantu mendiagnosa luasnya cedera.
12




2.9.Penatalaksanaan
Perawatan manajemen-sprain and strain:
1. promosi kesehatan
Pemanasan otot sebelum berolahraga dan sebelum aktivitas
kuat diikuti dengan peregangan secara signifikan dapat mengurangi
risiko Sprain dan strain. Kekuatan, keseimbangan, dan daya tahan
latihan juga penting. Penguatan latihan melibatkan bekerja
terhadap resiko perlawanan. Latihan-latihan ini membangun
kekuatan otot dan kepadatan tulang. Keseimbangan latihan, yang
mungkin tumpang tindih dengan beberapa penguatan latihan,
membantu untuk mencegah jatuh. Latihan ketahanan harus dimulai
pada tingkat rendah dan maju secara bertahap ke tingkat aktivitas
berat.
Penggunaan perban elastis atau kain perekat sebelum
memulai aktivitas kuat dapat mengurangi terjadinya Sprain.
(leuwis, hal:1585)
2. intervensi akut
Jika terjadi cedera, perawatan segera berfokus pada (1)
menghentikan kegiatan dan membatasi gerakan (2) menerapkan es
kompres ke daerah luka, (3) mengompresi pada ekstremitas (4)
mengangkat ekstremitas dan (5) memberikan analgesia yang
diperlukan .
RICE (rest, ice, compression, elevation) telah ditemukan
untuk mengurangi peradangan lokal dan nyeri untuk sebagian besar
cedera muskuloskeletal. Gerakan harus dibatasi dan ekstremitas
beristirahat segera setelah nyeri dirasakan. Dingin (cryotherapy)
dalam beberapa bentuk dapat digunakan untuk menghasilkan
hipotermia ke bagian yang terkena. Perubahan fisiologis yang
terjadi pada jaringan lunak sebagai akibat dari penggunaan dingin
termasuk vasokonstriksi dan pengurangan transmisi dan presepsi
impuls nyeri saraf. Perubahan ini mengakibatkan analgesia dan
13



anasthesia, pengurangan kejang otot tanpa perubahan kekuatan otot
atau ketahanan, pengurangan edema lokal dan peradangan, dan
penurunan kebutuhan metabolik lokal. Dingin yang paling berguna
ketika diterapkan segera setelah cedera telah terjadi. Tindakan Ice
tidak boleh melebihi 20 sampai 30 menit per Tindakan dan es tidak
boleh diletakkan secara langsung pada kulit.
Kompresi juga membantu membatasi pembengkakan, jika
cidara dibiarkan tidak terkendali, bisa memperpanjang waktu
penyembuhan. Sebuah kompresi perban elastis dapat melilit bagian
cidera, perban harus dibungkus mulai distal (pada titik terjauh dari
garis tengah tubuh) dan kemajuan proksimal (ke arah garis tengah
tubuh tersebut) .
Bagian yang cedera harus ditinggikan di atas tingkat
jantung untuk membantu memobilisasi kelebihan cairan dari
daerah dan mencegah edema lebih lanjut. Bagian yang cedera
harus ditinggikan bahkan saat tidur. Analgesik ringan dan
nonsteroid antiinflamation drugs (NSAID) dapat menjadi
mengelola ketidaknyamanan pasien.
Setelah fase akut (biasanya 24 sampai 48 jam), hangat,
lembab panas dapat dilakukan pada bagian yang terkena untuk
mengurangi pembengkakan dan memberikan kenyamanan.
Aplikasi panas tidak boleh melebihi 20 sampai 30 menit
memungkinkan "cool-down" waktu antara pelaksanan. NSAID
dapat direkomendasikan untuk mengurangi rasa sakit edema.
mendorong pasien untuk menggunakan anggota badan, asalkan
sendi dilindungi dengan cara casting, bracing, taping, atau
splinting. Gerakan sendi mempertahankan nutrisi untuk tulang
rawan, dan kontraksi otot dan meningkatkan resolusi sirkulasi dari
memar dan pembengkakan. (leuwis, hal:1585)
3. Ambulasi dan perawatan di rumah
Dengan pengecualian perawatan di departemen gawat
darurat rumah sakit setelah cedera, Sprain dan strain diperlakukan
14



dalam pengaturan rawat jalan. Anjurkan pasien menggunakan es
dan mengangkat lokasi cidera selama 24 sampai 48 jam setelah
cedera untuk mengurangi edema. Penggunaan bungkus elastis
dapat memberikan dukungan tambahan selama kegiatan.
(lewis, hal:1585, 1586)

2.10. Komplikasi
Strain
a. Strain dapat berulang
b. Tendonitis
c. Perioritis
Sprain
a. Disklokasi berulang akibat ligamen yang ruptur tersebut tidak sembuh
dengan sempurna sehingga diperlukan pembedahan untuk
memperbaikinya
b. Gangguan fungsi ligamen (jika terjadi tarikan otot yang kuat sebelum
sembuh dan tarikan tersebut menyebabkan regangan pada ligamen
yang ruptur, maka ligamen ini dapat sembuh dengan bentuk
memanjang, yang disertai pembentukan jaringan parut secara
berlebihan).

2.11. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b.d spasme otot, edema, kerusakan
jaringan
2. Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan jaringan
3. Cemas
4. Kurang pengetahuan
5. Risiko tinggi infeksi
6. Risiko tinggi kerusakan integritas kulit
7. Gangguan citra tubuh
8. Gangguan pemenuhan kebutuhan sehari-hari
9. Perubahan fungsi peran
15



BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus :
Andi 21 tahun seorang atlit dikampus dibawa keruang gawat darurat pada hari
jumat sore, melaporkan nyeri berat pada pergelangan kakinya. Andi mengatakan
bahwa ketika dia sedang bermain bola basket di gedung olahraga kampusnya, dia
menapakkan kaki kanannya dengan posisi yang salah. Sehingga setelah kejadia
tersebut, dia tidak bisa menahan berat badannya karena sakit dan ketidakstabilan
sendi. Perawat melakukan anamnesa kejadian yang berhubungan dengan luka
tersebut dan mengetahui Andi mengalami Sprain di pergelangan kaki 6 bulan
yang lalu, dia berlatih bola basket selama 6x/minggu setiap sore. Andi
mengatakan kakinya terasa berdenyut-denyut. Pemeriksaan objektif ditemukan
adanya edema, perubahan warna menjadi kemerah-merahan, terbatasnya gerakan
ekstensi dan rotasi, rasa sakit menyeluruh dan poins tenderness pada malleous
lateral. Pada hasil pemeriksaan rontgen, pergelangan kakinya mengalami
keretakan dan Andi didiagnosa mengalami Sprain pergelangan kaki menengah.

3.1. Pengkajian.
` Tanggal Pengkajian : 26 Agustus 2014
Diagnosa Medis : Sprain Pergelangan kaki menengah
1) Identitas pasien.
Nama : Andi
Usia : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
NO RM : 84.02.25
Tanggal Masuk : 26 Agustus 2014
Alamat : Limau Manis, Padang
Pekerjaan : Mahasiswa
Agama : Islam

16



2) Keluhan Utama.
Nyeri menyeluruh, dan kakinya terasa berdenyut-denyut.
3) Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit sekarang
Keluhan dirasakan sesaat setelah pasien melakukan olahraga
basket, dan nyeri menyeluruh dirasakan di pergelangan kaki.
Pada pengkajian ditemukan nya edema, perubahan warna
menjadi kemerahan, terbatasnya gerakan ekstensi dan rotasi.
Dan Poin tenderness malleous lateral.

b. Riwayat Penyakit Dahulu.
Klien sbelumnya pernah mengalami sprain di pergelangan kaki 6
bulan yang lalu

c. Riwayat Penyakit Keluarga.
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal yang sama
dengan pasien.

4) Pemeriksaan Fisik.
i. Inspeksi : Kelemahan, Edema, Perdarahan perubahan warna
kulit, Ketidakmampuan menggunakan sendi.
ii. Palpasi : Mati rasa
iii. Auskultasi : -
iv. Perkusi : -

5) Pemeriksaan Penunjang
Pada hasil pemeriksaan rontgen, pada pergelangan kaki pasien
ditemukan keretakan




17



3.2 Pola Kesehatan Fungsional Gordon
a. Pola Persepsi dan Penanganan Kesehatan
keluarga klien mengatakan bahwa ini adalah kedua kalinya klien
mengalami sprain pada pergelangan kakinya, dan sebelumnya klien juga
dibawa langsung ke rumah sakit oleh keluarga.
b. Pola Nutris/metabolik
Selama sakit pasien makan sehari 3x habis semuanya dengan menu
yang telah ditentukan Rumah Sakit
c. Pola eliminasi
Selama masuk rumah sakit pasien mengalami kesulitan dalam
BAB dan BAK dikarenakan nyeri menyeluruh pada pergelangan kakinya,
sehinggga pasien dibantu oleh keluarga
d. Pola Aktivitas- Latihan
Saat ini pasien tidak mampu melakukan aktifitas seperti biasa
karena nyeri di pergelangan kaki yang dirasakan, sehingga membutuhkan
bantuan alat bantu dan bantuan dari orang lain
e. Pola Istirahat dan Tidur
Sejak pasien masuk rumah sakit pasien sulit tidur dan terjaga
karena merasakan nyeri pada pergelangan kaki nya.
f. Pola Kognitif Persepsi
Dari hasil pemeriksaan didapatkan E3V3M4
g. Pola Persepsi diri-konsep diri
Pasien percaya bahwa kondisinya akan membaik dan sehat seperti
sebelumnya.
h. Pola Peran Hubungan
Klien merupakan anak 1 dari 2 bersaudara, dan memiliki hubungan
baik dengan saudara dan orang tua nya.
18



i. Pola Seksual
-
j. Koping-Toleransi Stress
Selama sakit, klien selalu memikirkan akan kesembuhan kakinya,
karena klien ingin latihan bola basket lagi bersama teman-teman di kampusnya
k. Nilai Kepercayaan
Selama sakit klien masih bisa tetap melaksanakan ibadah

3.3 Diagnosa, NOC, NIC (terlampir)