Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA APLASTIK

1.

Definisi
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta hemoglobin dalam 1 mm3
darah atau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells volume)
dalam 100 ml darah. (Ngastiyah, 1997)
Anemia aplastik adalah anemia yang disebabkan terhentinya pembuatan sel
darah oleh sumsum tulang (kerusakan susum tulang). (Ngastiyah, 1997)
Anemia aplastik merupakan keadaan yang disebabkan bekurangnya sel
hematopoetik dalam darah tepi seperti eritrosit, leukosit dan trombosit sebagai
akibat terhentinya pembentukan sel hemopoetik dalam sumsum tulang. (Staf
Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2005)
Anemia aplastik adalah kegagalan anatomi dan fisiologi dari sumsum tulang
yang mengarah pada suatu penurunan nyata atau tidak adanya unsur pembentukan
darah dalam sumsum.(Sacharin, 1996)
Anatomi Fisiologi Anemia Aplastik :
Anemia aplastik merupakan gangguan hematopoesis yang ditandai oleh
penurunan produksi eritroid, mieloid dan megakariosit dalam sumsum tulang
dengan akibat adanya pansitopenia pada darah tepi, serta tidak dijumpai adanya
sistem keganasan hematopoitik ataupun kanker metastatik yang menekan sumsum
tulang. Aplasia ini dapat terjadi hanya pada satu, dua atau ketiga system
hematopoisis. Aplasia yang hanya mengenai system eritropoitik disebut anemia
hipoplastik (ertroblastopenia), yang hanya mengenai system granulopoitik disebut
agranulositosis sedangkan yang hanya mengenai sistem megakariositik disebut
Purpura Trombositopenik Amegakariositik (PTA).

2.

Etiologi
1. Faktor Kongenital
sindrom fanconi yang biasanya disertai kelainan bawaan lain seperti mikrosefali,
strabismus, anomali jari, kelainan ginjal dan lain sebagainya.
2. Faktor didapat
a. Bahan kimia : benzene, insektisida, senyawa As, Au, Pb.
b. Obat

kloramfenikol,

mesantoin

(antikonvulsan),

piribenzamin

(antihistamin), santonin-kalomel, obat sitostatika (myleran, methrotrexate,

TEM, vincristine, rubidomycine dan sebagainya), obat anti tumor (nitrogen


mustard), anti microbial.
c. Radiasi : Sinar rontgen, radioaktif
d. Faktor individu : alergi terhadap obat, bahan kimia dan lain lain.
e. Infeksi : tuberculosis milier, hepatitis dan lain lain.
f. Keganasan , penyakit ginjal, gangguan endokrin, dan idiopatik. (Mansjoer,
2005)
3.

Patofisiologi
Walaupun banyak penelitian yang telah dilakukan hingga saat ini,
patofisiologi anemia aplastik belum diketahui secara tuntas. Ada 3 teori yang dapat
menerangkan patofisiologi penyakit ini yaitu :
1. kerusakan sel hematopoitik
2. kerusakan lingkungan mikro sumsum tulang
3. proses imunologik yang menekan hematopoiesis
Kerusakan akibat Obat : Kerusakan ekstrinsik pada sumsum terjadi setelah
trauma radiasi dan kimiawi seperti dosis tinggi pada radiasi dan zat kimia toksik.
Untuk reaksi idiosinkronasi yang paling sering pada dosis rendah obat, perubahan
metabolisme obat kemungkinan telah memicu mekanisme kerusakan. Jalur
metabolisme dari kebanyakan obat dan zat kimia, terutama jika bersifat polar dan
memiliki keterbatasan dalam daya larut dengan air, melibatkan degradasi enzimatik
hingga menjadi komponen elektrofilik yang sangat reaktif/intermediate komponen
ini bersifat toxic karena kecenderungannya untuk berikatan dengan makromolekul
seluler.
Sebagai contoh, turunan hydroquinones dan quinolon berperan terhadap
cedera jaringan. Pembentukan intermediat metabolit yang berlebihan atau
kegagalan dalam detoksifikasi komponen ini kemungkinan akan secara genetic
menentukan namun perubahan genetis ini hanya terlihat pada beberapa obat;
kompleksitas dan spesifitas dari jalur ini berperan terhadap kerentanan suatu loci
dan dapat memberikan penjelasan terhadap jarangnya kejadian reaksi idiosinkronasi
obat.

4.

Pohon Masalah/Pathway

Penyakit
Kongenital

Zat

Obat

Kimia

Anemia Fanconi

Benzen

Kloramfenicol

Sindrom Pearson

Arsen

Karbamatefine

Klainan Ginjal

Insektisida

Sitostatika

Infeksi

Hepatitis
Tubercolusis Milier

ANEMIA
APLAS T I K

Pansitorenig

Keracunan Zat
Kimia

Idiosinkronisi

Penurunan
Hemoglobin

Sel Darah
Menurun

Pusing

Metabolisme
Obat Terganggu

Pucat

Lemah dan
Mudah Lelah

Mual Muntah

Kerja Obat Tidak


Maksimal

Pusing

Suplai O2
Menurun

Gangguan
Perfusi Jaringan
5.

Tanda dan Gejala

Anoreksia

Gangguan Nutrisi
Kurang dari
Kebutuhan Tubuh

Kurangnya
Pengetahuan
Tentang
Penggunaan Obat

Resiko Tinggi
Terjadinya
Infeksi

Tanda dan gejala yang sering dialami pada anemia aplastik adalah :
Lemah dan mudah lelah
Granulositopenia dan leukositopenia menyebabkan lebih mudah terkena infeksi
bakteri
Trombositopenia menimbulkan perdarahan mukosa dan kulit
Pucat
Pusing
Anoreksia
Peningkatan tekanan sistolik
Takikardia
Penurunan pengisian kapler
Sesak
Demam
Purpura
Petekie
Hepatosplenomegali
Limfadenopati (Tierney,dkk. 2003)
6.

Komplikasi
1. Perdarahan
2. Infeksi organ
3. Gagal jantung

7.

Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/nutrient ke sel.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan
/absorpsi nutrient yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
4. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan sekunder (penurunan hemoglobin leucopenia, atau penurunan
granulosit (respons inflamasi tertekan).

5. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan


perubahan sirkulasi dan neurologist.
6. Konstipasi atau Diare berhubungan dengan penurunan masukan diet;
perubahan proses pencernaan; efek samping terapi obat.
7. Kurang pengetahuan sehubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah
interpretasi informasi ; tidak mengenal sumber informasi.
8.

Intervensi dan Rasional


Diagnosa

Tujuan

Keperawatan

1. Perubahan perfusi
jaringan b.d

Peningkatan perfusi
jaringan

Intervensi
- - Awasi tanda vital kaji

Rasional
- - Memberikan informasi

pengisian kapiler, warna

tentang derajat/keadekuatan

penurunan komponen KH :

kulit/membrane mukosa,

perfusi jaringan dan

seluler yang

Klien menunjukkan

dasar kuku.

membantu menetukan

diperlukan untuk

perfusi adekuat,

pengiriman

misalnya tanda vital - - Tinggikan kepala tempat

oksigen/nutrient ke

stabil.

kebutuhan intervensi.
tidur sesuai toleransi.

- - Meningkatkan ekspansi paru

sel.

dan memaksimalkan
- - Awasi upaya pernapasan ;

oksigenasi untuk kebutuhan

auskultasi bunyi napas

seluler. Catatan :

perhatikan bunyi adventisius. kontraindikasi bila ada


hipotensi.
- - Selidiki keluhan nyeri
dada/palpitasi

- - Gemericik menununjukkan
gangguan jajntung karena

- - Hindari penggunaan botol

regangan jantung

penghangat atau botol air

lama/peningkatan kompensasi

panas. Ukur suhu air mandi

curah jantung.

dengan thermometer.
- - Iskemia seluler
- - Kolaborasi pengawasan

mempengaruhi jaringan

hasil pemeriksaan

miokardial/ potensial risiko

laboraturium. Berikan sel

infark.

darah merah lengkap/packed


produk darah sesuai indikasi.
- - Termoreseptor jaringan
dermal dangkal karena
- - Berikan oksigen tambahan gangguan oksigen
sesuai indikasi.
- - Mengidentifikasi defisiensi
dan kebutuhan pengobatan

/respons terhadap terapi.


- - Memaksimalkan transport
Dapat

- Kaji kemampuan ADL

oksigen ke jaringan.
- Mempengaruhi pilihan

b.d

mempertahankan

pasien.

intervensi/bantuan

ketidakseimbangan

/meningkatkan

antara suplai oksigen ambulasi/aktivitas.

- Kaji kehilangan atau

- Menunjukkan perubahan

(pengiriman) dan

gangguan keseimbangan,

neurology karena defisiensi

gaya jalan dan kelemahan

vitamin B12 mempengaruhi

otot

keamanan pasien/risiko

2. Intoleransi aktivitas

kebutuhan.

KH :
-

melaporkan
peningkatan toleransi
aktivitas (termasuk
aktivitas sehari-hari)

menunjukkan
penurunan tanda

cedera
- Observasi tanda-tanda vital
sebelum dan sesudah

- Manifestasi kardiopulmonal

aktivitas.

dari upaya jantung dan paru

intolerasi fisiologis,
misalnya nadi,

untuk membawa jumlah


- Berikan lingkungan tenang, oksigen adekuat ke jaringan

pernapasan, dan tekanan batasi pengunjung, dan


darah masih dalam

kurangi suara bising,

rentang normal

pertahankan tirah baring bila untuk menurunkan kebutuhan


di indikasikan

- Meningkatkan istirahat
oksigen tubuh dan
menurunkan regangan

- Gunakan teknik menghemat jantung dan paru


energi, anjurkan pasien
istirahat bila terjadi kelelahan Meningkatkan aktivitas

3. Perubahan nutrisi

Kebutuhan nutrisi

kurang dari kebutuhan terpenuhi


tubuh b.d kegagalan
untuk mencerna atau

dan kelemahan, anjurkan

secara bertahap sampai

pasien melakukan aktivitas

normal dan memperbaiki

semampunya (tanpa

tonus otot/stamina tanpa

memaksakan diri).

kelemahan. Meingkatkan

- Kaji riwayat nutrisi,

harga diri dan rasa terkontrol.


- Mengidentifikasi defisiensi,

termasuk makan yang disukai memudahkan intervensi

KH :
Menunujukkan

ketidak mampuan

peningkatan

mencerna makanan

/mempertahankan berat

- Observasi dan catat

- Mengawasi masukkan

masukkan makanan pasien

kalori atau kualitas


kekurangan konsumsi

/absorpsi nutrient yang badan dengan nilai

- Timbang berat badan setiap makanan

diperlukan untuk

hari.

pembentukan sel
darah merah

laboratorium normal.
Tidak mengalami tanda

- Mengawasi penurunan berat

mal nutrisi.
Menununjukkan

badan atau efektivitas

- Berikan makan sedikit

intervensi nutrisi

perilaku, perubahan poladengan frekuensi sering dan


hidup untuk

atau makan diantara waktu

meningkatkan dan atau makan


mempertahankan berat

- Menurunkan kelemahan,
meningkatkan pemasukkan

badan yang sesuai.

Observasi dan catat

dan mencegah distensi gaster

kejadian mual/muntah, flatus


dan dan gejala lain yang

- Gejala GI dapat

berhubungan

menunjukkan efek anemia


(hipoksia) pada organ.

- Berikan dan Bantu hygiene


mulut yang baik ; sebelum

- Meningkatkan nafsu makan

dan sesudah makan, gunakan dan pemasukkan oral.


sikat gigi halus untuk

Menurunkan pertumbuhan

penyikatan yang lembut.

bakteri, meminimalkan

Berikan pencuci mulut yang kemungkinan infeksi. Teknik


di encerkan bila mukosa oral perawatan mulut khusus
luka.

mungkin diperlukan bila


jaringan

- Kolaborasi pada ahli gizi

rapuh/luka/perdarahan dan

untuk rencana diet.

nyeri berat.
Membantu dalam rencana

- Kolaborasi ; pantau hasil

diet untuk memenuhi

pemeriksaan laboraturium

kebutuhan individual

- Kolaborasi; berikan obat

- Meningkatakan efektivitas

sesuai indikasi

program pengobatan,
termasuk sumber diet nutrisi
yang dibutuhkan.

- Kebutuhan penggantian
tergantung pada tipe anemia
dan atau adanyan masukkan
oral yang buruk dan defisiensi
yang diidentifikasi.
4. Risiko tinggi terhadap Infeksi tidak terjadi. - - Tingkatkan cuci tangan
infeksi b.d tidak

KH :

adekuatnya pertahanan - mengidentifikasi

- - mencegah kontaminasi

yang baik ; oleh pemberi

silang/kolonisasi bacterial.

perawatan dan pasien

Catatan : pasien dengan

sekunder (penurunan perilaku untuk

anemia berat/aplastik dapat

hemoglobin

mencegah/menurunkan- - Pertahankan teknik aseptic berisiko akibat flora normal

leucopenia, atau

risiko infeksi.

penurunan granulosit - meningkatkan


(respons inflamasi
tertekan).

kulit.

ketat pada
prosedur/perawatan luka

- menurunkan risiko

penyembuhan luka,

- Berikan perawatan kulit,


bebas drainase purulen perianal dan oral dengan
atau eritema, dan
cermat

kolonisasi/infeksi bakteri
- - menurunkan risiko

demam.

kerusakan kulit/jaringan dan


- - Motivasi perubahan
posisi/ambulasi yang sering,

infeksi

latihan batuk dan napas

- - meningkatkan ventilasi

dalam

semua segmen paru dan


membantu memobilisasi

- - Tingkatkan masukkan

sekresi untuk mencegah

cairan adekuat

pneumonia
- membantu dalam
pengenceran secret
pernapasan untuk
mempermudah pengeluaran

- Pantau/batasi pengunjung.

dan mencegah stasis cairan

Berikan isolasi bila

tubuh misalnya pernapasan

memungkinkan

dan ginjal.
- membatasi pemajanan pada
bakteri/infeksi.

- Pantau suhu tubuh. Catat


adanya menggigil dan

- Perlindungan isolasi
dibutuhkan pada anemia

takikardia dengan atau tanpa aplastik, bila respons imun


demam

sangat terganggu.

- Amati eritema/cairan luka


- - adanya proses
- - Ambil specimen untuk

inflamasi/infeksi

kultur/sensitivitas sesuai

membutuhkan

indikasi

evaluasi/pengobatan.
- - indikator infeksi lokal.

- - Berikan antiseptic topical ; Catatan : pembentukan pus


antibiotic sistemik

mungkin tidak ada bila


granulosit tertekan.
- membedakan adanya infeksi,
mengidentifikasi pathogen
khusus dan mempengaruhi
pilihan pengobatan
- mungkin digunakan secara
propilaktik untuk
menurunkan kolonisasi atau
untuk pengobatan proses

5. Konstipasi atau Diare Membuat/kembali pola - Observasi warna feses,

infeksi local
- Membantu mengidentifikasi

berhubungan dengan normal dari fungsi usus. konsistensi, frekuensi dan

penyebab /factor pemberat

penurunan masukan

dan intervensi yang tepat.

KH: Menunjukkan

jumlah

diet; perubahan proses perubahan perilaku/pola


pencernaan; efek

hidup, yang diperlukan - Auskultasi bunyi usus

- bunyi usus secara umum

samping terapi obat.

sebagai penyebab, factor


pemberat.

meningkat pada diare dan

- Awasi intake dan output

menurun pada konstipasi

(makanan dan cairan).

- dapat mengidentifikasi
- Dorong masukkan cairan

dehidrasi, kehilangan

2500-3000 ml/hari dalam

berlebihan atau alat dalam

toleransi jantung

mengidentifikasi defisiensi
diet

- Hindari makanan yang


membentuk gas

- membantu dalam
memperbaiki konsistensi

- Kaji kondisi kulit perianal feses bila konstipasi. Akan


dengan sering, catat

membantu memperthankan

perubahan kondisi kulit atau status hidrasi pada diare


mulai kerusakan. Lakukan
perawatan perianal setiap

- menurunkan distress gastric

defekasi bila terjadi diare.

dan distensi abdomen

- Kolaborasi ahli gizi untuk - mencegah ekskoriasi kulit


diet siembang dengan tinggi dan kerusakan
serat dan bulk.

- Berikan pelembek feses,

- serat menahan enzim

stimulant ringan, laksatif

pencernaan dan mengabsorpsi

pembentuk bulk atau enema air dalam alirannya sepanjang


sesuai indikasi. Pantau

traktus intestinal dan dengan

keefektifan. (kolaborasi)

demikian menghasilkan bulk,


yang bekerja sebagai

- Berikan obat antidiare,

perangsang untuk defekasi.

misalnya Defenoxilat
Hidroklorida dengan atropine- mempermudah defekasi bila
(Lomotil) dan obat

konstipasi terjadi.

mengabsorpsi air, misalnya


Metamucil. (kolaborasi).
6. Kurang pengetahuan Pasien mengerti dan

- menurunkan motilitas usus

bila diare terjadi.


- Berikan informasi tentang - memberikan dasar

sehubungan dengan

memahami tentang

anemia spesifik. Diskusikan pengetahuan sehingga pasien

kurang

penyakit, prosedur

kenyataan bahwa terapi

dapat membuat pilihan yang

terpajan/mengingat ; diagnostic dan rencana tergantung pada tipe dan

tepat. Menurunkan ansietas

salah interpretasi

dan dapat meningkatkan

pengobatan.

beratnya anemia.

informasi ; tidak
mengenal sumber
informasi.

KH :
Pasien menyatakan

kerjasama dalam program

- Tinjau tujuan dan persiapan terapi

pemahamannya proses untuk pemeriksaan diagnostic


penyakit dan

- ansietas/ketakutan tentang

penatalaksanaan

- Kaji tingkat pengetahuan

ketidaktahuan meningkatkan

penyakit.

klien dan keluarga tentang

stress, selanjutnya

penyakitnya

meningkatkan beban jantung.

Mengidentifikasi
factor penyebab.

Pengetahuan menurunkan

Melakukan tiindakan - Berikan penjelasan pada


ansietas.
yang perlu/perubahan klien tentang penyakitnya dan
pola hidup.

kondisinya sekarang.

- megetahui seberapa jauh


pengalaman dan pengetahuan

- Anjurkan klien dan

klien dan keluarga tentang

keluarga untuk

penyakitnya

memperhatikan diet makanan

- dengan mengetahui

nya

penyakit dan kondisinya

- Minta klien dan keluarga

sekarang, klien akan tenang

mengulangi kembali tentang dan mengurangi rasa cemas


materi yang telah diberikan

- diet dan pola makan yang


tepat membantu proses
penyembuhan.

- mengetahui seberapa jauh


pemahaman klien dan
keluarga serta menilai
keberhasilan dari tindakan
yang dilakukan

9.

Prognosis
Riwayat alamiah anemia aplastik dapat berupa:
1. Berakhir dengan remisi sempurna. Hal ini jarang terjadi kecuali bila
iatrogenic
akibat kemoterapi atau radiasi. Remisi

sempurna biasanya

terjadi segera,

2. Meninggal dalam 1 tahun atau lebih. Hal ini terjadi pada sebagian besar kasus,
3. Bertahan hidup selama 20 tahun atau lebih. Membaik dan bertahan hidup lama
namun kebanyakan kasus mengalami remisi tidak sempurna.
Jadi, pada anemia aplastik telah dibuat cara pengelompokan sempurna
membedakan antara anemia aplastik berat dengan pengelompokan lain untuk

anemia aplastik ringan dengan prognosis yang lebih baik. Dengan kemajuan
pengobatan prognosis menjadi lebih baik.
10. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering terjadi dari anemia aplastik ini adalah perdarahan
dan rentan terhadap infeksi. Hal ini disebabkan karena kurangnya kadar trombosit
dan kurangnya kadar leukosit. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, kadar leukosit
dan trombosit ini menurun diakibatkan kegagalan sumsum tulang.
Terapi anemia aplastik juga dapat menyebabkan komplikasi pada penderita
anemia aplastik ini. Komplikasi yang dimaksud adalah GVHD (Graft-Versus-HostDisease). Hal ini merupakan kegagalan dari terapi transplantasi sumsum tulang.
Maksudnya begini, transplantasi sumsum tulang merupakan salah satu terapi untuk
penderita Anemia Aplastik. Terapi ini dapat dilakukan jika si pasien masih muda dan
HLA si pendonor cocok dengan si penderita. HLA yang cocok biasanya jika berasal
dari saudara kandung atau orang tua si penderita. GVHD terjadi sebagai bukti bahwa
terapi yang dilakukan gagal.
11. Pemeriksaan Penunjang
Adapun pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada anemia aplastik
sebagai berikut :
a. Pemeriksaan darah
Hematokrit/ hemoglobin mengalami penurunan akibat dari penurunan
sel darah merah. Retikulosit menurun kurang dari 1%, neutrofil kurang dari
500 ml, trombosit kurang dari 2.000/ ml kepadatan seluler sumsum tulang
berkurang 20%. (Gannong, 1999).
1. Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah membawa hemoglobin ke dalam sirkulasi. Pada stadium
awal penyakit pansitopenia tidak selalu ditemukan jenis anemia adalah
normokom, normositik kadang-kadang pula makrositosis, anisitosis dan
polisitosis adanya eritrosit muda atau dalam darah tepi menandakan bukan
anemia aplastik granolosit dan tromabosit ditemukan rendah, limpositosis
relatif terdapat pada lebih dari 75 % kasus.
Persentasi retikulosit, umumnya normal atau rendah pada sebagian kecil kasus
persentasi retikulosit ditemukan lebih dari 2% akan tetapi bila nilai ini
dikoreksi terhadap anemia maka diperoleh persentasi normal atau rendahnya
juga, adanya retikulositosis setelah dikoreksi menandakan bukan anemia
aplastik.
2. Laju Endap Darah

Laju endap darah umumnya meningkat penelitian menunjukkan bahwa


62 dari 70 kasus (89 %) mempunyai endapan darah lebih dari 100 mm dalam
jam pertama.
3. Faal Hemotasis
Waktu pendarahan memanjang yang disebabkan oleh trombositopenia,
sedangkan faal hematosis lainnya normal.
4. Sumsum tulang
Karena adanya sarang-sarang hematopoesis hiperaktif yang mungkin
teraspirasi maka sering diperlukan aspirasi beberapa kali.
Diharuskan melakukan biopsi sumsum tulang pada setiap kasus pada anemia
aplastik, hasil pemeriksaan sumsum tulang sesuai dengan kriteria diagnosis.
5. Virus
Evaluasi diagnosis anemia aplastik meliputi pemeriksaan virus hepatitis,
parvovirus dan sitomegalovirus.
6. Tes Hemolisis Sukrosa.
Tes ini diperlukan untuk mengetahui adanya PNH (Paroxymal Noctural
Hemoglobunuria) sebagai penyebab.
7. Kromosom.
Pada anemia aplastik tidak ditemukan kromosom tetapi pada anemia
aplastik konsitusional kadar eritropoetin ditemukan meningkat.
8. Defesiensi imun.
Adanya defesiensi diketahui melalui melalui penentuan titer imunoglobin
dan pemeriksaan imunitas sel T.
b.

Pemeriksaan radiologi.

1.

Noclear Manetik Resonance Imaging (NMRI).


Merupakan pemeriksaan ini merupakan cara terbaik untuk mengetahui
luasnya perlemakan karena dapat membuat pemisahan darah sumsum tulang
berlemak dan sumsum selular.

2.

Radio Noklid Bonemarrow Imaging (Bonemarow Skening)


Luasnya kelainan sumsum tulang dapat ditemukan oleh skening tubuh
setelah di suntik dengan koloic radiatif teknitum sulfur yang akan terkait pada
makrofag sumsum tulang atau indium klorida yang akan terikat pada
transfering/ koma dengan bantuan sken sumsum tulang dapat ditentukan daerah
hematosis aktif untuk memperoleh sel-sel progenitor.

12. Terapi Medis

Secara garis besar terapi untuk anemia aplastik terdiri atas beberapa terapi
sebagai berikut :
1. Terapi Kausal
Terapi kausal adalah usaha untuk menghilangkan agen penyebab. Hindarkan
pemaparan lebih lanjut terhadap agen penyebab yang tidak diketahui. Akan
tetapi,hal ini sulit dilakukan karena etiologinya tidak jelas atau penyebabnya
tidak dapat dikoreksi.
2. Terapi suportif
Terapi suportif bermanfaat untuk mengatasi kelainan yang timbul akibat
pansitopenia. Adapun bentuk terapinya adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengatasi infeksi
- Hygiene mulut
-

Identifikasi sumber infeksi serta pemberian antibiotik yang tepat dan


adekuat/.

- Transfusi granulosit konsertat diberikan pada sepsis berat.


b. Usaha untuk mengatasi anemia
Berikan transfusi packed red cell (PRC) jika hemoglobin < 7 gr/ atau tanda
payah jantung atau anemia yang sangat simptomatik. Koreksi Hb sebesar 910 g% tidak perlu sampai normal karena akan menekan eritropoesis internal
c. Usaha untuk mengatasi perdarahan
Berikan transfusi konsertat trombosit jika terdapat pedarahan mayor atau
trombosit < 20.000/mm3.
3. Terapi untuk memperbaiki fungsi sumsum tulang
Obat untuk merangsang fungsi sumsum tulang adalah sebagai berikut :
a.

Anabolik steroid dapat diberikan oksimetolon atau stanal dengan dosis 2-3
mg/kgBB/hari. Efek terapi tampak setelah 6-8 minggu. Efek samping yang
dialami berupa virilisasi dan gangguan fungsi hati.
-

Kortikosteroid dosis rendah sampai menengah.

GM-CSF atau G-CSF dapat diberikan untuk meningkatkan jumlah neutrofil.

4. Terapi Definitif
Terapi definitif merupakan terapi yang dapat memberikan kesembuhan jangka
panjang. Terapi definitif untuk anemia aplastik terdiri atas dua jenis pilihan
sebagai berikut :
a. Terapi imunosuprersif
-

Pemberian

anti-lymphocyte globuline (ALG) atau anti-thymocyte

globuline (ATG) dapat menekan proses imunologis


- Terapi imunosupresif lain, yaitu pemberian metilprednison dosis tinggi

b. Transplantasi sumsum tulang


Transplantasi sumsum tulang merupakan terapi definitif yang memberikan
harapan kesembuhan, tetapi biayanya mahal.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall.2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis


Edisi 9. Jakarta : EGC
Doengoes, Mariliynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta : EGC
Hillman RS, Ault KA. Iron Deficiency Anemia. Hematology in Clinical Practice. A
Guide to Diagnosis and Management. New York; McGraw Hill, 1995 : 72-85.
Lanzkowsky P. Iron Deficiency Anemia. Pediatric Hematology and Oncology. Edisi ke2. New York; Churchill Livingstone Inc, 1995 : 35-50.
Nathan DG, Oski FA. Iron Deficiency Anemia. Hematology of Infancy and Childhood.
Edisi ke-1. Philadelphia; Saunders, 1974 : 103-25.
Price, Sylvia. 2005. Patofisiologis : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta :
EGC
FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.

Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. Cetakan I. Jakarta, EGC.