Anda di halaman 1dari 30

ASET (AKTIVA)

MATA KULIAH: TEORI AKUNTANSI


DOSEN PEMBIMBING:
FAHMI OEMAR

RILA NUR OVTAVIANI (1202112801)


VITRICIA ADHEVIONA KETRIAN (1202112803)
DEWI LINGGA RANI (1202120259)
FIBRIYANTI ADHYAKSA (1202135303)
INAYAH FITRIA (1202135274)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS RIAU
2014

ASET (AKTIVA)

I. PENGERTIAN
Setiap item nilai ekonomi yang dimiliki oleh seorang individu atau perusahaan, terutama
yang dapat dikonversi menjadi kas. Contohnya adalah uang tunai, surat berharga, piutang,
persediaan, kantor peralatan, real estate, mobil, dan lainnya properti.
FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC No 6, prg
25):
Assets are probable future economic benefits obtained or controlled by a perticular entity
as a result of past transactions or events. (Aset adalah manfaat ekonomik masa datang yang
cukup pasti atau diperoleh atau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas akibat transaksi atau
kejadian masa lalu.)
Dengan makna yang sama, IASC mendefinisi aset sebagai berikut:
An assets is resource controlled by the enterprise as a result of past events and from which
future economic benefits are expected to flow to the enterprise. (Aset adalah suatu sumber daya
yang dikendalikan oleh perusahaan sebagai hasil kejadian masa lalu yang mana manfaat
ekonomis masa depan diharapakan didapatkan oleh perusahaan.)
Dalam Statement of Accounting Concepts No. 4, Australian Accounting Standard Board
(AASB) mendefinisi aset sebagai berikut:
Assets are service potential or future economic benefits controlled by the reporting entity
as a result of past transaction or other past events. (Aset adalah potensial jasa atau manfaat
ekonomis yang dikendalikan oleh pelaporan entitas sebagai hasil transaksi masa lalu atau
kejadian masa lalu lainnya.)
Menurut IFRS : Aset didefinisikan sebagai sumber yang dikendalikan oleh entitas sebagai
akibat dari peristiwa masa lalu ( misalnya pembelian atau penciptan sendiri) dan dari manfaat
ekonomis masa depan yang diharapkan.
Definisi FASB dan AASB cukup dibanding definisi yang lain luas karena aset dinilai
mempunyai sifat sebagai manfaat ekonomik (economic benefits)dan bukan sebagai sumber

ekonomik (resources) karena manfaat ekonomik tidak membatasi bentuk atau jenis sumber
ekonomik yang dapat dimasukkan sebagai aset.
Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aktiva adalah potensi dari aktiva
tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, arus kas dan
setara kas kepada perusahaan. Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan
merupakan bagian dari akt ivitas operasional perusahaan. Mungkin pula berbentuk sesuatu yang
dapat diubah menjadi kas atau setara kas atau berbentuk kemampuan untuk mengurangi
pengeluaran kas, seperti penurunan biaya akibat penggunaan proses produksi alternatif.
Perusahaan biasanya menggunakan aktiva untuk memproduksi barang atau jasa yang dapat
memuaskan kebutuhan dan keperluan pelanggan; berhubung barang atau jasa ini dapat
memuaskan kebutuhan dan keperluan ini, pelanggan bersedia membayar sehingga memberikan
sumbangan kepada arus kas perusahaan. Kas sendiri memberikan jasa kepada perusahaan karena
kekuasaannya terhadap sumber daya yang lain.
Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aktiva dapat mengalir ke dalam
perusahaan dengan beberapa cara. Misalnya, aktiva dapat:
1. digunakan baik sendiri maupun bersama aktiva lain dalam produksi barang dan jasa yang
dijual oleh perusahaan;
2. dipertukarkan dengan aktiva lain;
3. digunakan untuk menyelesaikan kewajiban; atau
4. dibagikan kepada para pemilik perusahaan.
Banyak aktiva, misalnya, aktiva tetap memiliki bentuk fisik. Namun demikian, bentuk fisik
tersebut tidak esensial untuk menentukan eksistensi aktiva; karena itu, paten dan hak cipta,
misalnya, merupakan aktiva kalau manfaat ekonomi yang diperoleh perusahaan di masa depan
dan kalau masing- masing aktiva tersebut dikuasai perusahaan.
Banyak aktiva, misalnya, piutang dan properti, dihubungkan dengan hak menurut hukum,
termasuk hak milik. Dalam menentukan eksistensi aktiva, hak milik tidak esensial; jadi,
misalnya, properti yang diperoleh melalui sewa guna usaha adalah aktiva jika perusahaan
mengendalikan manfaat yang diharapkan dari properti tersebut. Meskipun kemampuan
perusahaan untuk mengendalikan manfaat biasanya berasal dari hak menurut hukum suatu
barang atau jasa dapat memenuhi definisi aktiva meskipun tidak dikuasai berdasarkan hukum.
Misalnya, pengetahuan yang diperoleh melalui aktivitas pengembangan dapat memenuhi definisi

aktiva jika, dengan merahasiakan pengetahuan tersebut, perusahaan menikmati manfaat yang
diharapkan dari pengetahuan tersebut.
Aktiva perusahaan berasal dari transaksi atau peristiwa lain yang terjadi di masa lalu.
Perusahaan biasanya memperoleh aktiva melalui pembelian atau produksi sendiri, tetapi
transaksi atau peristiwa lain juga dapat menghasilkan aktiva; misalnya properti yang diterima
perusahaan dari pemerintah sebagai bagian dari program untuk merangsang pertumbuhan
ekonomi dalam suatu wilayah. Transaksi atau peristiwa yang diharapkan terjadi di masa depan
tidak dengan sendirinya memunculkan aktiva; oleh karena itu, misalnya, maksud untuk membeli
persediaan tidak dengan sendirinya memenuhi definisi aktiva.
Ada hubungan erat antara terjadinya pengeluaran dan timbulnya aktiva, tetapi kedua
peristiwa ini tidak perlu harus terjadi bersamaan. Oleh karena itu, kalau perusahaan melakukan
pengeluaran, peristiwa ini memberikan bukti bahwa perusahaan tersebut mengejar manfaat
ekonomi tetapi belum merupakan bukti konklusif bahwa suatu barang atau jasa yang memenuhi
definisi aktiva telah diperoleh. Sama halnya dengan tidak adanya pengeluaran yang bersangkutan
tidak mengecualikan suatu barang atau jasa memenuhi definisi aktiva dan dengan demikian
terdapat kemungkinan untuk diakui pencantumannya dalam neraca; misalnya, barang atau jasa
yang telah didonasikan kepada perusahaan memenuhi definisi aktiva.
Berdasar uraian diatas, pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga karakteristik
utama yang harus dipenuhi agar suatu objek atau pos dapat disebut aset, yaitu:
1.

Manfaat ekonomik yang datang cukup pasti


Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat ekonomik di
masa datang yang cukup pasti. Uang atau kas mempunyai manfaat atau potensi jasa karena daya
belinya atau daya tukarnya. Sumber selain kas mempunyai manfaat ekonomik karena dapat
ditukarkan dengan kas, barang, atau jasa, karena dapat digunakan untuk memproduksi barang
dan jasa, atau karena dapat digunakan untuk melunasi kewajiban.

2.

Dikuasai atau dikendalikan entitas


Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh entitas
tetapi cukup dikuasai oleh entitas. Oleh, karena itu, konsep penguasaan atau kendali lebih
penting daripada konsep kepemilikan. Penguasaan disini berarti kemampuan entitas untuk
mendapatkan, memelihara/menahan, menukarkan, menggunakan manfaat ekonomik dan
mencegah akses pihak lain terhadap manfaat tersebut. Hal ini dilandasi oleh konsep dasar

substansi mengungguli bentuk yuridis (substance over form). Pemilikan (ownership) hanya
mempunyai makna yuridis atau legal.
3.

Timbul akibat transaksi masa lalu


Kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus sebagai
kriteria atau tes pertama (first-test) pengakuan objek sebagai aset. Aset harus timbul akibat dari
transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi definisi. Penguasaan harus
didahului oleh transaksi atau kejadian ekonomik. FASB memasukkan transaksi atau kejadian
sebagai kriteria aset karena transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan (menambah)
atau meniadakan (mengurangi) aset. Misalnya perubahan tingkat bunga, punyusutan atau
kecelakaan.
Menurut PSAK No. 09; dalam praktek, yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar adalah
aktiva yang diharapkan dapat direalisasikan dalam waktu satu tahun atau dalam siklus operasi
normal perusahaan, yang mana yang lebih lama.
Meskipun pendekatan ini digunakan sebagai peraturan umum, tidak menutup kemungkinan
bahwa ada aktiva tertentu yang dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari aktiva lancar
berdasarkan kriteria yang berbeda. Oleh sebab itu, klasifikasi lancar dan tak lancar di dalam
praktek lebih berdasarkan pada konvensi dan bukan pada suatu konsep tertentu.
Menurut PSAK No. 13; Investasi adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk
pertumbuhan kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga,
royalti, dividen dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi, atau untuk manfaat lain bagi
perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan perdagangan.
Persediaan dan aktiva tetap bukan merupakan investasi.

Investasi Lancar adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk

dimiliki selama setahun atau kurang.


Investasi Jangka Panjang adalah investasi selain investasi lancar.
Investasi Properti adalah investasi pada tanah atau bangunan yang tidak digunakan atau
dioperasikan oleh perusahaan yang berinvestasi atau perusahaan lain dalam grup yang

sama dengan perusahaan yang berinvestasi.


Investasi Dagang adalah investasi yang

ditujukan

ataumempertahankan bisnis atau hubungan perdagangan.


Menurut PSAK No. 14; Persediaan adalah aktiva:
(a) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal;

untuk

mempermudah

(b) dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan; atau


(c) dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau
pemberian jasa.
Persediaan meliputi barang yang dibeli dan disimpan untuk dijual kembali,misalnya, barang
dagang dibeli oleh pengecer untuk dijual kembali, atau pengadaan tanah dan properti lainnya
untuk dijual kembali. Persediaan juga mencakupi barang jadi yang telah diproduksi, atau barang
dalam penyelesaian yang sedang diproduksi perusahaan, dan termasuk bahan serta perlengkapan
yang akan digunakan dalam proses produksi.
Menurut PSAK No. 16; Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk
siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak
dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun.
Menurut

PSAK

No.

19;

Aktiva

tak

berwujud

adalah

aktiva

tidak

lancar

(noncurrent atau capital asset) yang tidak berwujud dan nilainya tergantung pada hak-hak yang
dinikmati pemiliknya. Ciri khas aktiva tak berwujud yang paling utama adalah tingkat
ketidakpastian mengenai nilai dan manfaatnya di kemudian hari. Aktiva tak berwujud ada dan
mempunyai nilai karena eksistensinya yang berkaitan dengan aktiva berwujud perusahaan.
Menurut PSAK No. 30; Perusahaan Sewa Guna Usaha (Leasing Company) adalah badan
usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik
secara Finance Lease maupunOperating Lease untuk digunakan oleh Penyewa Guna Usaha
selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala; Finance Lease adalah
kegiatan Sewa Guna Usaha, di mana Penyewa Guna Usaha pada akhir masa kontrak mempunyai
hak opsi untuk membeli obyek sewa guna usaha berdasarkan nilai sisa yang disepakati bersama;
Operating Lease adalah kegiatan Sewa Guna Usaha di mana Penyewa Guna Usaha tidak
mempunyai hak opsi untuk membeli obyek sewa guna usaha; Penyewa Guna Usaha (Lessee)
adalah perusahaan atau perorangan yang menggunakan barang modal dengan pembiayaan dari
pihak Perusahaan Sewa Guna Usaha (lessor).
Menurut PSAK No. 43; Anjak Piutang adalah jenis pembiayaan dalam bentuk pembelian
dan atau pengalihan piutang atau tagihan jangka pendek suatu perusahaan yang berasal dari
transaksi usaha. Klien adalah perusahaan yang menjual dan atau mengalihkan piutang. Factor
adalah lembaga pembiayaan atau lembaga lain yang membeli dan atau menerima pengalihan

piutang. Nasabah adalah perusahaan yang mempunyai kewajiban kepada klien Retensi adalah
bagian dana dari anjak piutang yang ditahan oleh factor untuk menutup kemungkinan terjadinya
penyesuaian jumlah piutang sebelum jatuh tempo (misalnya, potongan dan pengembalian
penjualan). Recourse adalah hak factor untuk menerima pembayaran dari klien apabila piutang
yang dialihkan tidak dapat dibayar oleh nasabah pada saat piutang tersebut jatuh tempo.
Menurut PSAK No. 47; Tanah adalah aktiva berwujud yang diperoleh siap pakai atau
diperoleh lalu disempurnakan sampai siap pakai dalam operasi entitas dengan manfaat ekonomik
lebih dari setahun, dan tidak dimaksud untuk diperjualbelikan dalam kegiatan operasi normal
entitas.
II. PENGGOLONGAN
Aset / Aktiva juga dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.

Aset Lancar / Aktiva Lancar / Current Assets


Aset lancar adalah:

harta yang berbentuk uang tunai maupun aktiva lainnya yang dapat ditukarkan dengan
uang tunai dalam jangka satu tahun.

kas dan aset lainnya yang diharapkan dapat dikonversi menjadi kas, dijual, atau
dikonsumsi baik dalam satu tahun atau dalam siklus operasi (mana yang lebih lama),
tanpa mengganggu operasi normal bisnis.

Contoh : piutang dagang, biaya atau beban dibayar di muka, surat berharga, kas, emas batangan,
persediaan barang dagang, pendapatan yang akan diterima, dan lain sebagainya (termasuk disini
adalah investasi jangka pendek).
2.

Aset Investasi / Aktiva Ivestasi / Investment Assets


Aset Investasi adalah harta yang diinvestasikan pada produk-produk investasi untuk
mendapatkan keuntungan. Contoh : Reksadana, saham, obligasi, dan lain-lain (termasuk disini
adalah investasi jangka panjang).

3.

Aset Tak Berwujud / Intangible Assets


Aset tak berwujud adalah aset yang tidak memiliki bentuk tetapi sah dimiliki perusahaan
dan dapat menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Contoh : Merk dagang, hak paten, hak
cipta, hak pengusahaan hutan / hph, franchise, goodwill, dan lain sebagainya.

4.

Aset Tetap / Aktiva Tetap / Fixed Assets


Aset tetap adalah harta yang menunjang kegiatan operasional perusahaan yang sifatnya
permanen kepemilikannya. Contoh : Gedung, mobil, mesin, peralatan dan perlengapan kantor,
dan lain-lain.

5.

Aset Lainnya / Other Assets


Aset lainnya adalah perkiraan atau akun yang tidak dapat dikategorikan pada harta atau aset di
atas baik dalam bentuk aset tetap, aset investasi, aset tak berwujud dan aset lancar. Contoh :
Mesin rusak, uang jaminan, harta yang masih dalam proses kepengurusan yang sah, dan lainlain.
(PSAK No. 01) Suatu aktiva diklasifikasikan sebagai aktiva lancar, jika aktiva tersebut:

1.

diperkirakan akan direalisasi atau dimiliki untuk dijual atau digunakan dalam jangka
waktu siklus operasi normal perusahaan; atau

2.

dimiliki untuk diperdagangkan atau untuk tujuan jangka pendek dan diharapkan akan
direalisisr dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca; atau

3.

berupa kas atau setara kas yang penggunaannya tidak dibatasi;


Aktiva yang tidak termasuk kategori tersebut diatas diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar.
Siklus operasi perusahaan merupakan rata-rata jangka waktu antara perolehan bahan baku
memasuki proses dan realisasinya menjadi kas atau instrumen yang siap dijadikan kas. Aktiva
lancar termasuk persediaan dan piutang dagang yang dijual, dikonsumsi dan direalisasi sebagai
bagian dari siklus normal operasi perusahaan walaupun aktiva tersebut tidak diharapkan akan
direalisasi dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca. Surat berharga
diklasifikasikan sebagai aktiva lancar apabila surat berharga tersebut diharapkan akan direalisasi
dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca dan jika lebih dari dua belas bulan
diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar. Untuk tujuan pengklasifikasian ini, siklus operasi
diasumsikan satu tahun kecuali untuk kegiatan atau industri tertentu dimana jangka waktu yang
lebih panjang jelas lebih layak.
Menurut PSAK No. 9 Aktiva lancar antara lain meliputi:
1. Kas dan bank.

i.

Yang

dimaksud

dengan

kas

ialah

alat

pembayaran

yang

siap

dan

bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.


ii.

Yang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang dapat
dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.

iii.

Pos-pos berikut ini tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari kas dan
bank pada neraca: dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu;
- persediaan perangko,
- cek mundur,
- cek kosong dari pihak ketiga,
- rekening giro pada bank di luar negeri yang tidak dapat segera dipakai.

iv.

Kas dan bank yang penggunaannya dibatasi dapat dimasukkan dalam aktiva

lancar hanya jika pembatasan tersebut dilakukan untuk menyisihkan dana untuk melunasi
kewajiban jangka pendek atau jika pembatasan tersebut hanya berlaku selama satu tahun.
v.

Saldo kredit pada perkiraan bank disajikan pada kelompok kewajiban sebagai

kewajiban jangka pendek. Saldo kredit dan debit rekening giro pada bank yang sama dapat
digabung dan disajikan pada neraca sebagai satu kesatuan.
(b) Surat-surat berharga yang mudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk ditahan.
i.

Surat berharga yang mudah dijual merupakan bentukpenyertaan sementara dalam rangka
pemanfaatan dana yang tidak digunakan.

ii.

Bentuk penyertaan sementara ini harus mempunyai sifat sebagai berikut:


- Mempunyai pasaran dan dapat diperjualbelikan dengan segera.
- Dimaksudkan untuk dijual dalam jangka waktu dekat bila terdapat kebutuhan dana
untuk kegiatan umum perusahaan,
- Tidak dimaksudkan untuk menguasai perusahaan lain.

(c) Deposito jangka pendek.


(d) Wesel tagih yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun.
(e) Piutang.
i.

Menurut sumber terjadinya, piutang digolongkan dalam dua kategori yaitu piutang usaha
dan piutang lain-lain. Piutang usaha meliputi piutang yang timbul karena penjualan produk atau
penyerahan jasa dalam rangka kegiatan usaha normal perusahaan. Piutang yang timbul dari

transaksi di luar kegiatan usaha normal perusahaan digolongkan sebagai piutang lainlain. Piutang
usaha dan piutang lain-lain yang diharapkan dapat tertagih dalam satu tahun atau siklus usaha
normal, diklasifikasikan sebagai aktiva lancar. Kadang-kadang seluruh piutang usaha
diklasifikasikan sebagai aktiva lancar tanpa memandang jangka waktu tertagihnya. Dalam kasus
demikian, jumlah piutang usaha yang jangka waktu penagihannya lebih dari satu tahun atau
siklus usaha normal, harus diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.
ii.

Piutang yang diperkuat dengan promes disebut wesel.

iii.

Piutang usaha, wesel tagih dan piutang lain-lain harus disajikan secaraterpisah dengan
identifikasi yang jelas.

iv.

Piutang dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi dengan taksiranjumlah yang

tidak dapat ditagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan pada neraca diikuti dengan
penyisihan untuk piutang yang diragukan atau taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih.
v.

Saldo kredit piutang individual jika jumlahnya material harus disajikan dalamkelompok

kewajiban.
vi.

Jumlah piutang yang dijaminkan harus diungkapkan dalam catatan ataslaporan keuangan.

vii.

Kewajiban bersyarat dalam hubungannya dengan penjualan piutang yangdisertai


perjanjian untuk dibeli kembali (sale of accounts receivable/notes receivable discounted with
recourse) kepada suatu lembaga keuangan harus dijelaskan secukupnya.

(g) Persediaan.
(h) Pembayaran uang muka untuk pembelian aktiva lancar.
(i) Pembayaran pajak di muka
(j) Biaya dibayar di muka.
i.

Biaya dibayar di muka dimaksudkan sebagai biaya yang telah terjadi, yang akan
digunakan untuk aktivitas perusahaan yang akan datang, misalnya: premi asuransi, bunga, alat
tulis dan keperluan kantor dan lain sebagainya.

ii.

Bagian dari biaya dibayar di muka yang akan memberikan manfaat untukbeberapa
periode kegiatan diklasifikasikan sebagai aktiva tak lancar.
Pos-pos berikut ini tidak dapat diklasifikasikan sebagai aktiva lancar:

1.

Kas/bank maupun sumber lain yang dibatasi penggunaannya, seperti dana yang
disisihkan untuk perolehan aktiva tetap atau pelunasan kewajiban jangka panjang;

2.

Pernyertaan dalam surat berharga atau pembayaran uang muka dengan maksud untuk
menguasai atau melakukan afiliasi dengan perusahaan lain;

3.

Piutang lain-lain yang timbul dari transaksi di luar kegiatan utama perusahaan yang tidak
diharapkan pencairannya dalam jangka waktu satu tahun, seperti uang muka pada pemegang
saham atau direksi;

4.

Aktiva yang dapat disusutkan maupun aktiva tetap lainnya.


Pengklasifikasian investasi menurut PSAK No. 13; Kebanyakan perusahaan menyajikan
neraca yang membedakan aktiva lancar dengan aktiva jangka panjang sesuai dengan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan No. 9 tentang Penyajian Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka
Pendek.
Investasi lancar termasuk dalam aktiva lancar. Kenyataan bahwa investasi yang dapat
dipasarkan telah dimiliki lebih dari satu tahun tidak membatasi penyajiannya sebagai aktiva
lancar.
Investasi yang dimiliki terutama untuk melindungi, mempermudah ataumempertahankan
bisnis atau hubungan perdagangan, sering disebut investasi dagang, tidak dilakukan dengan
maksud bahwa investasi tersebut akan tersedia sebagai sumber kas tambahan sehingga
digolongkan sebagai aktiva jangka panjang.
Investasi lain, seperti investasi pada properti, dimaksudkan untuk dimiliki selama beberapa
tahun untuk mendapatkan penghasilan dan capital gain. Oleh karena itu investasi tersebut
digolongkan sebagai aktiva jangka panjang meskipun dapat dipasarkan.
Beberapa perusahaan tidak membedakan antara aktiva lancar dan jangka panjang, dan
perusahaan lain mungkin disyaratkan oleh peraturan untuk mengadopsi format neraca yang tidak
diklasifikasikan (unclassified). Banyak perusahaan seperti itu bergerak dalam bidang keuangan,
seperti bank dan perusahaan asuransi.
Klasifikasi aktiva tak berwujud menurut PSAK No. 19; Aktiva tak berwujud dibedakan
menurut sifat kekhususan, masa manfaat, metode amortisasi dan hubungannya dengan kegiatan
usaha. Berdasarkan eksistensinya, aktiva tak berwujud dapat dikelompokkan dalam 2 (dua)
kategori:

1.

Aktiva

tak

berwujud

yang

eksistensinya

dibatasi

oleh

ketentuan

perundangundangan, peraturan pemerintah, perjanjian yang dibuat antara para pihak atau sifat
dari aktiva tersebut, misalnya hak paten, hak sewa, hak cipta, franchise yang terbatas, lisensi.

2.

Aktiva tak berwujud yang masa manfaatnya tidak terbatas dan tidak
dapat dipastikan masa berakhirnya, misalnya merk dagang, proses dan formula rahasia, perpetual
franchise, goodwill.
Menurut PSAK No. 30; Jenis-jenis sewa guna usaha yang sudah dikenal secara umum,
termasuk dua jenis sewa guna usaha yang telah ditampung dalam Keputusan Menteri Keuangan
tersebut, adalah sebagai berikut:

1.

Finance Lease (Sewa Guna Usaha Pembiayaan)


Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha (lessor) adalah pihak yang
membiayai penyediaan barang modal. Penyewa guna usaha (lessee) biasanya memilih barang
modal yang dibutuhkan dan, atas nama perusahaan sewa guna usaha, sebagai pemilik barang
modal tersebut, melakukan pemesanan, pemeriksaan serta pemeliharaan barang modal yang
menjadi obyek transaksi sewa guna usaha.Selama masa sewa guna usaha, penyewa guna usaha
melakukan pembayaran sewa guna usaha secara berkala di mana jumlah seluruhnya ditambah
dengan pembayaran nilai sisa (residual value), kalau ada, akan mencakup pengembalian harga
perolehan barang modal yang dibiayai serta bunganya, yang merupakan pendapatan perusahaan
sewa guna usaha.

2.

Operating Lease (Sewa-Menyewa Biasa)


Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha membeli barang modal dan
selanjutnya disewagunausahakan kepada penyewa guna usaha. Berbeda dengan finance lease,
jumlah seluruh pembayaran sewa guna usaha berkala dalam operating lease tidak mencakup
jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang modal tersebut berikut dengan
bunganya. Perbedaan ini disebabkan karena perusahaan sewa guna usaha mengharapkan
keuntungan justru dari penjualan barang modal yang disewagunausahakan, atau melalui
beberapa kontrak sewa guna usaha lainnya. Dalam sewa guna usaha jenis ini dibutuhkan
keahlian khusus dari perusahaan sewa guna usaha untuk memelihara dan memasarkan kembali
barang modal yang disewagunausahakan sehingga, berbeda dengan finance lease, perusahaan
sewa guna usaha dalam operating lease biasanya bertanggungjawab atas biaya-biaya pelaksanaan
sewa guna usaha seperti asuransi, pajak maupun pemeliharaan barang modal yang bersangkutan.

3.

Sales-Type Lease (Sewa Guna Usaha Penjualan)


Sewa guna usaha jenis ini merupakan transaksi pembiayaan sewa guna usaha secara
langsung (direct finance lease) di mana dalam jumlah transaksi termasuk laba yang

diperhitungkan oleh pabrikan atau penyalur yang juga merupakan perusahaan sewa guna usaha.
Sewa guna usaha jenis ini seringkali merupakan suatu jalur pemasaran bagi produk perusahaan
tertentu.
4.

Leveraged Lease
Transaksi sewa guna usaha jenis ini melibatkan setidaknya tiga pihak, yakni penyewa
guna usaha, perusahaan sewa guna usaha dan kreditor jangka panjang yang membiayai bagian
terbesar dari transaksi sewa guna usaha.

III. PENGAKUAN
entitas mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada neraca jika, dan hanya jika,
entitas tersebut menjadi pihak dengan ketentuan kontrak dari instrument..
Pada umumnya pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi, kejadian,
atau keadaan tersebut. Disamping memenuhi definisi aset, kriteria keterukuran, keterpautan, dan
keterandalan harus dipenuhi pula.Adapun kondisi perlu dan kondisi cukup yang merupakan
penguji yang cukup rinci untuk mengakui aset:
1. Deteksi adanya aset. Untuk mengakui aset, harus ada transaksi yang menandai timbulnya
aset.
2. Sumber ekonomik dan kewajiban. Untuk mengakui aset, suatu objek harus merupakan
sumber ekonomik yang langka, dibutuhkan, dan berharga.
3. Berkaitan dengan entitas. Untuk mengakui aset, kesatuan usaha harus mengendalikan
atau menguasai objek aset.
4. Mengandung nilai. Untuk mengakui aset, suatu objek harus mempunyai manfaat yang
dapat ditentukan besarnya secara moneter.
5. Berkaitan dengan waktu pelaporan. Untuk mengakui aset, semua penguji di atas harus
dipenuhi pada tanggal pelaporan.
Apa yang dikemukakan diatas sebenarnya adalah apa yang disebut dengan kaidah pengakuan
yang merupakan petunjuk teknis atau prosedur untuk menerapkan empat kriteria pengakuan
FASB yaitu definisi, keterukuran, keberpautan, dan keterandalan. Masalah akuntansi yang
menyangkut pengakuan biasanya berkaitan dengan masalah apakah suatu kos atau jumlah rupiah
yang terlibat dalam transaksi, kejaian, atau keadaan tertentu dapat diasetkan. Hal ini biasanya

berkaitan dengan antara lain: sewaguna, bunga selama masa konstruksi aset tetap, riset dan
pengembangan, eksplorasi minyak dan gas bumi, rugi selisih kurs valuta asing, dan sumber daya
manusia.
Dalam PSAK No. 14; Jika barang dalam persediaan dijual maka nilai tercatat persediaan
tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut.
Setiap penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih dan seluruh
kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya penurunan atau kerugian
tersebut. Setiap pemulihan kembali penurunan nilai persediaan karena peningkatan kembali nilai
realisasi bersih, harus diakui sebagai pengurangan terhadap jumlah beban persediaan pada
periode terjadinya pemulihan tersebut.
Proses pengakuan nilai tercatat persediaan yang telah dijual sebagai beban menghasilkan
pengaitan (matching) beban dengan pendapatan. Beberapa persediaan dapat dialokasikan ke
rekening aktiva lainnya seperti misalnya persediaan yang digunakan sebagai komponen aktiva
tetap yang dibangun sendiri, pabrik atau peralatan. Persediaan yang dialokasikan ke aktiva lain
dengan cara ini diakui sebagai beban selama masa manfaat aktiva tersebut.
Dalam PSAK No. 16; Suatu aktiva tetap harus diakui sebagai aktiva jika:
1. besar kemungkinan (probable) manfaat ekonomi masa datang yang
berkaitan dengan aktiva tersebut akan mengalir ke perusahaan; dan
2. biaya perolehan aktiva dapat diukur secara andal.
Aktiva tetap sering merupakan suatu bagian utama aktiva perusahaan, oleh karena itu signifikan
dalam penyajian posisi keuangan. Lebih lanjut, penentuan apakah suatu pengeluaran merupakan
suatu aktiva atau beban dapat berpengaruh signifikan pada hasil operasi yang dilaporkan
perusahaan.
Dalam menentukan apakah suatu hal memenuhi kriteria pertama untuk pengakuan, suatu
perusahaan harus menilai tingkat kepastian aliran manfaat ekonomi masa datang berdasarkan
bukti yang tersedia pada waktu pengakuan awal. Adanya kepastian yang cukup bahwa manfaat
ekonomi masa datang akan mengalir ke perusahaan membutuhkan suatu kepastian bahwa
perusahaan akan menerima imbalan dan menghadapi risiko terkait. Kepastian ini biasanya hanya
tersedia jika risiko dan imbalan telah diterima perusahaan. Sebelum hal tersebut terjadi, transaksi
untuk memperoleh aktiva dapat dibatalkan tanpa sanksi yang signifikan, dan jika demikian
kondisinya maka aktiva tidak diakui.

Kriteria kedua untuk pengakuan biasanya dapat dipenuhi langsung karena transaksi
pertukaran mempunyai bukti pembelian aktiva yang mengindefikasi biaya perolehannya. Dalam
keadaan suatu aktiva dikonstruksi sendiri, pengukuran yang andal atas biaya dapat dibuat dari
transaksi dengan pihak eksternal untuk perolehan bahan baku, tenaga kerja, dan masukan lain
yang digunakan dalam proses konstruksi.
Dalam mengindentifikasi suatu aktiva terpisah dari aktiva tetap, dibutuhkan pertimbangan
dalam mengaplikasikan kriteria yang ada dalam definisi untuk keadaan khusus atau jenis
perusahaan tertentu. Mungkin tepat untuk menyajikan secara agregat pos individu yang tidak
signifikan (seperti cetakan, peralatan dan perkakas) dan menerapkan kriteria tersebut pada nilai
agregatnya. Kebanyakan suku cadang dan peralatan pemeliharaan biasanya dianggap sebagai
persediaan dan diakui sebagai beban pada saat dikonsumsi. Namun, suku cadang utama dan
peralatan siap pakai dikualifikasi sebagai aktiva tetap jika perusahaan mengharapkan untuk
menggunakannya selama lebih dari satu periode. Demikian pula jika suku cadang dan peralatan
reparasi dapat digunakan hanya dalam hubungannya dengan aktiva tetap tertentu dan
penggunaannya diperkirakan tidak teratur, maka suku cadang dan peralatan reparasi tersebut
dibukukan sebagai aktiva tetap dan disusutkan sepanjang periode waktu yang tidak melebihi
masa manfaat dari aktiva yang berhubungan.
Dalam keadaan tertentu, adalah tepat untuk mengalokasikan total pengeluaran suatu aktiva
pada komponennya dan membukukan biaya perolehan masing-masing komponen secara
terpisah. Hal ini dilakukan jika komponen aktiva memiliki masa manfaat berbeda atau
menyediakan manfaat bagi perusahaan dengan pola yang berbeda sehingga memerlukan
penggunaan tarif dan metode penyusutan yang berbeda. Contohnya sebuah pesawat terbang dan
mesinnya harus diperlakukan sebagai aktiva yang terpisah jika memiliki masa manfaat yang
berbeda.
Aktiva tetap dapat diperoleh untuk alasan keamanan atau lingkungan. Perolehan aktiva
tetap yang tidak secara langsung meningkatkan manfaat ekonomi masa datang dari suatu aktiva
tetap yang ada, mungkin diperlukan perusahaan untuk memperoleh manfaat ekonomi masa
datang dari aktiva yang lain. Dalam keadaan ini, perolehan aktiva tetap semacam itu memenuhi
kualifikasi pengakuan aktiva, karena memungkinkan diperolehnya manfaat ekonomi masa depan
yang lebih dari aktiva yang berkaitan jika dibandingkan dengan tidak diperolehnya aktiva tetap
tersebut. Tetapi, aktiva tersebut hanya diakui sepanjang hasil nilai tercatat tersebut dan aktiva

yang berkaitan tidak melebihi jumlah yang dapat diperoleh kembali (recoverable amount) dari
aktiva. Sebagai contoh, perusahaan kimia harus memasang sarana pengendali zat kimia
(chemical handling processes) tertentu yang baru untuk memenuhi persyaratan lingkungan hidup
pada produksi dan penyimpanan bahan kimia yang berbahaya; peningkatan pabrik yang
berkaitan diakui sebagai aktiva sepanjang dapat diperoleh kembali, karena tanpa sarana tersebut
perusahaan tidak dapat memproduksi dan menjual bahan kimia.
Dalam PSAK No. 19; Aktiva tidak berwujud diakui jika, dan hanya jika:
1.

kemungkinan besar perusahaan akan memperoleh manfaat ekonomis masa depan


dari aktiva tersebut; dan

2.

biaya perolehan aktiva tersebut dapat diukur secara andal.


Suatu aktiva tak berwujud pada awalnya harus diakui sebesar biaya perolehan. Jika diperoleh
secara terpisah, biaya biasanya dapat diukur secara andal. Hal itu akan tampak jelas jika
pembayaran dilakukan dalam bentuk uang tunai atau aktiva moneter lainnya. Jika pembayaran
untuk ditangguhkan sampai melebihi periode penjualan kredit yang normal, biaya perolehannya
adalah setara nilai tunainya. Jika diperoleh dengan cara menukarkannya dengan instrumen
ekuitas perusahaan pelapor, biaya perolehan aktiva tersebut adalah nilai wajar instrumen ekuitas
yang diterbitkan, yaitu sama dengan nilai wajar aktiva tersebut.
Menurut PSAK No. 30;
Perlakuan Akuntansi oleh Perusahaan Sewa Guna Usaha (Lessor)

1.

Finance Lease
a) Penanaman neto dalam aktiva yang disewagunausahakan harus diperlakukan dan
dicatat sebagai penanaman neto sewa guna usaha. Jumiah penanaman neto
tersebut terdiri dari jumlah piutang sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga
opsi) yang akan diterima oleh perusahaan sewa guna usaha pada akhir masa sewa
guna usaha dikurangi dengan pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui
(unearned lease income), dan simpanan jaminan (security deposit).
b) Selisih antara piutang sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) dengan
harga perolehan aktiva yang disewagunausahakan diperlakukan sebagai
pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui (unearned lease income).
c) Pendapatan sewa guna usaha yang belum diakui harus dialokasikan
secara konsisten sebagai pendapatan tahun berjalan berdasarkan suatu tingkat

pengembalian berkala (periodic rate of retum) atas penanaman neto perusahaan


sewa guna usaha.
d) Apabila perusahaan sewa guna usaha menjual barang modal kepada
penyewa guna usaha sebelum berakhirnya masa sewa guna usaha, maka
perbedaan antara harga jual dengan penanaman neto dalam sewa guna usaha pada
saat penjualan dilakukan harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau
kerugian periode berjalan.
e) Pendapatan lain yang diterima sehubungan dengan transaksi Sewa Guna Usaha
harus diakui dan dicatat sebagai pendapatan periode berjalan.
2. Operating Lease
a) Barang modal yang disewagunausahakan harus diperlakukan dan dicatat
sebagai aktiva sewa guna usaha berdasarkan harga perolehan.
b) Pembayaran sewa guna usaha (lease payments) selama tahun berjalan
yang diperoleh dari penyewa guna usaha diakui dan dicatat sebagai pendapatan
sewa. Pendapatan sewa harus diakui dan dicatat berdasarkan metode garis lurus
sepanjang masa sewa guna usaha, meskipun pembayaran sewa guna usaha
mungkin dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periode.
c) Penyusutan aktiva yang disewagunausahakan harus dilakukan dalam jumlah yang
layak berdasarkan taksiran masa manfaatnya.
d) Kalau aktiva yang disewagunausahakan dijual maka perbedaan antara nilai
buku dan harga jual harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian
tahun berjalan.
Perlakuan Akuntansi oleh Penyewagunausaha (Lessee)
1.

Capital Lease
a) Transaksi sewa guna usaha diperlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan
kewajiban pada awal masa sewa guna usaha sebesar nilai tunai dari seluruh
pembayaran sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar
oleh penyewa guna usaha pada akhir masa sewa guna usaha. Selama masa sewa
guna usaha setiap pembayaran sewa guna usaha dialokasikan dan dicatat sebagai
angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha dan beban bunga berdasarkan tingkat
bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban penyewa guna usaha.
b) Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari
pembayaran sewa guna usaha adalah tingkat bunga yang dibebankan oleh

perusahaan sewa guna usaha atau tingkat bunga yang berlaku pada awal masa
sewa guna usaha.
c) Aktiva yang disewagunausaha

harus

diamortisasi

dalam

jumlah

yang

wajarberdasarkan taksiran masa manfaatnya.


d) Kalau aktiva yang disewagunausaha dibeli sebelum berakhirnya masa sewa
guna usaha, maka perbedaan antara pembayaran yang dilakukan dengan sisa
kewajiban dibebankan atau dikreditkan pada tahun berjalan.
e) Kewajiban sewa guna usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan
jangka panjang sesuai dengan praktek yang lazim untuk jenis usaha penyewa
guna usaha.
f) Dalam hal

dilakukan

penjualan

dan

penyewaan

kembali

(sales

and

leaseback) maka transaksi tersebut harus diperlakukan sebagai dua transaksi yang
terpisah yaitu transaksi penjualan dan transaksi sewa guna usaha. Selisih antara
harga jual dan nilai buku aktiva yang dijual harus diakui dan dicatat sebagai
keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan. Amortisasi atas keuntungan atau
kerugian yang ditangguhkan harus dilakukan secara proporsional dengan biaya
amortisasi aktiva yang disewa guna usaha apabila leaseback merupakan capital
lease atau secara proporsional dengan biaya sewa apabila leaseback merupakan
operating lease.
2.

Sewa Menyewa Biasa {Operating Lease)


Pembayaran sewa guna usaha selama tahun berjalan merupakan biaya sewa yang diakui
dan dicatat berdasarkan metode garis lurus selama masa sewa guna usaha, meskipun pembayaran
sewa guna usaha dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periode.
Menurut PSAK No. 43; Bagi Factor; Anjak piutang tanpa recourse diakui sebagai tagihan
anjak piutang sebesar nilai piutang yang diperoleh. Selisih antara tagihan anjak piutang dengan
jumlah pembayaran kepada klien ditambah retensi diakui sebagai pendapatan anjak piutang pada
saat transaksi anjak piutang. Tagihan anjak piutang tanpa recourse dinyatakan sebesar nilai bersih
yang dapat direalisasi. Sedangkan retensi diakui sebagai hutang retensi anjak piutang dan
disajikan dalam neraca sebagai kewajiban.
Anjak piutang dengan recourse diakui sebagai tagihan anjak piutang sebesar nilai piutang
yang diperoleh. Selisih antara tagihan anjak piutang dengan jumlah pembayaran kepada klien
ditambah retensi diakui sebagai pendapatan tangguhan selama periode anjak piutang. Tagihan

anjak piutang dengan recourse dinyatakan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasi dan retensi
disajikan sebagai pengurang tagihan anjak piutang.
Bagi Klien; Anjak piutang tanpa recourse diperlakukan sebagai penjualan piutang. Selisih
antara nilai piutang alihan dengan jumlah dana yang diterima ditambah retensi diakui sebagai
kerugian atas transaksi anjak piutang. Kerugian atas transaksi anjak piutang tanpa recourse
diakui sebagai beban pada saat transaksi disajikan dalam laporan laba rugi sebagai beban usaha.
Dana yang ditahan (retensi) oleh factor dalam rangka anjak piutang tanpa recourse diakui
sebagai piutang retensi anjak piutang dan disajikan dalam neraca sebagai aktiva lancar.
Anjak piutang dengan recourse diakui sebagai kewajiban anjak piutang sebesar nilai
piutang yang dialihkan. Selisih antara nilai piutang yang dialihkan dengan dana yang diterima
ditambah retensi diakui sebagai beban bunga selama periode anjak piutang. Kewajiban anjak
piutang disajikan dalam neraca sebesar nilai piutang yang dialihkan dikurangi retensi dan beban
bunga yang belum diamortisasi.
Menurut PSAK No. 47; Biaya perolehan Aktiva Tetap Tanah yang dibangun sendiri
merupakan akumulasi seluruh biaya perolehan dan pengembangan tanah, berupa biaya
pematangan tanah, di luar Beban Tangguhan akibat biaya legal pengurusan hak.
Tanah pada awalnya diukur berdasar biaya perolehan. Pengeluaran untuk memperoleh
tanah diakui secara terpisah dari pengeluaran legal hak atas tanah. Apabila tanah diperoleh cumacuma, pengakuan awal terdiri dari harga wajar sesuai paragraf 13 Standar ini, ditambah unsur
biaya legal saja.
Komponen Biaya
Biaya perolehan tanah antara lain meliputi:
1.

Harga transaksi pembelian tanah termasuk tanaman,


prasarana, bangunan diatasnya yang harus dibeli kemudian dimusnahkan. Bila
tidak dimusnahkan, menggunakan paragrap 10. Harga tanah berasal dari
sumbangan diatur pada paragraf 13.

2.

Biaya konstruksi atau pembuatan tanah, bila lahan


tanah diciptakan.

3.

Biaya ganti rugi penghuni, biaya relokasi.

4.

Biaya pembelian tanah lain sebagai pengganti.

5.

Biaya komisi perantara jual beli tanah.

6.

Biaya pinjaman terkapitalisasi kedalam tanah.

7.

Biaya pematangan tanah.

Beban Tangguhan untuk pengurusan legal Hak Atas Tanah antara lain meliputi:
1. Biaya legal audit seperti pemeriksaan keaslian sertifikat tanah, rencana tata kota.
2. Biaya pengukuran-pematokan- pemetaan ulang.
3. Biaya notaris, biaya jual beli & PPAT.
4. Pajak terkait pada jual - beli tanah.
5. Biaya resmi yang harus dibayar ke Kas Negara, untuk perolehan hak,
perpanjangan atau pembaharuan Hak baik status maupun peruntukan.
Karena sifatnya berbeda dengan Beban Tangguhan yang lain, danmempunyai hubungan erat
dengan aktiva Tanah, serta mempunyai pola amortisasi sendiri, maka penyajian di neraca
dipisahkan dari Beban Tangguhan yang lain.
IV. PENGUKURAN / PENILAIAN
Ketika suatu aset keuangan atau kewajiban keuangan diakui awalnya, suatu entitas harus
ukur pada nilai wajarnya ditambah, dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak pada
nilai wajar melalui laporan laba atau rugi, biaya transaksi yang langsung dapat diatribusikan
dengan perolehan atau masalah dari aset keuangan atau kewajiban keuangan.
Nilai wajar adalah jumlah di mana suatu aset dapat dipertukarkan, atau kewajiban
diselesaikan, antara luas, pihak bersedia transaksi di's panjang lengan. Dalam praktiknya,
pemerolehan aset merupakan proses yang tidak terjadi begitu saja selesai dalam satu kegiatan
tetapi terdiri atas serngkaian kegiatannya misalnya, menempatkan order, menerima barang,
meneliti kecocokan, mengangkut barang, mencoba barang, menyimpan atau menempatkan
barang, dan akhirnya menggunakan barang tersebut. Kos yang melekat pada suatu objek
ditentukan oleh batas kegiatan pemerolehan dan jenis penghargaan.
Secara konseptual, pembentuk kos suatu aset adalah semua pengeluaran (pengorbanan
sumber ekonomik) yang terjadi atau yang diperlukan akibat kegiatan pemerolehan suatu aset
sampai tia ditempatkan dalam kondisi siap dipakai atau berfungsi sesuai dengan tujuan
pemerolehannya.

Barter atau pertukaran aset adalah pemerolehan aset (biasanya aset berwujud atau
nonmoneter) dengan penghargaan berupa aset berwujud atau nonmoneter lainnya. Atas dasar
penalaran, terdapat beberapa prinsip penentuan kos aset yang diterima dalam barter atau
pertukaran, yaitu:
1.

pertukaran taksejenis, tanpa pembayaran tombok

2.

pertukaran taksejenis, dengan pembayaran tombok

3.

pertukaran sejenis, tanpa pembayaran tombok

4.

pertukaran sejenis, dengan pembayaran tombok

5.

pertukaran sejenis, dengan penerimaan tombok


Cara penentuan kos adalah unik untuk berbagai jenis transaksi, tidak hanya untuk jenis

transaksi barter, namun juga untuik jenis-jenis transaksi seperti saham sebagai penghargaan,
reorganisasi, hadiah/hibah, temuan, dan pembelian kredit.
Kos akan tercatat terlalu tinggi kalau potongan tunai dan keringanan-keringanan lain tidak
dikurangkan terhadap harga kesepakatan. Potongan dan keringanan merupakan suatu hal yang
sudah menjadi kebiasaan umum dalam kegiatan usaha. Dalam perusahaan yang dikelola dengan
baik, melewatkan potongan merupakan suatu kesalahan yang dapat menimbulkan kerugian.
Sebelum pendapatan terjadi yang ditimbulkan oleh upaya yang direpresentasikan oleh
biaya, kos mengalami penghimpunan, penggabungan, dan reklasifikasi. Kos yang terhimpun
tersebut tetap merepresentasi aset kalau aset terbeut belum dikeluarkan sebagai biaya. Akan
tetapi, karena suatu kondisi tertentu dapat terjadi bahwa suatu potensi jasa tertentu tidak lagi
mempunyai kemampuan untuk menghasikan pendapatan. Dalam kondisi tersebut dapat
dikatakan bahwa manfaat ekonomik telah hangus dan merupakan rugi.
Penilaian adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu pos aset pada
saat akan dilaporkan atau disajikan dalam statemen keuangan pada periode tertentu. tujuan dari
penilaian aset adalah merepresentasi atribut pos-pos aset yang berpaut dengan tujuan pelaporan
keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang sesuai. Penilaian dapat didasarkan pada
nilai masukan atau nilai keluaran, tergantung pada tujuan merepresentasi aset.
Nilai masukan didasarkan atas jumlah rupiah yang harus dikeluarkan atau dikorbankan
untuk memperoleh aset atau objek jasa tertentu yang masuk dalam unit usaha. Nilai masukan
secara konservatif menunjukkan nilai maksimum objek atau jasa yang bersangkutan. Beberapa

dasar dalam penilaian yang masuk dalam kategori nilai masukan adalah; kos historis, kos
pengganti, dan kos harapan.
Nilai keluaran didasarkan atas jumlah rupiah kas atau penghargaan lainnya yang diterima
suatu unit usaha apabila suatu aset atau potensi jasa akhirnya keluar dari kesatuan usahamelalui
pertukaran atau konversi. Terdapat beberapa prosedur penilaian dalam kategori nlai keluaran,
yaitu:harga jual masa lalu, harga jual sekarang, dan nilai terealisasi harapan.
Tanpa memperhatikan sifat masukan dan keluaran, FASB menyarankan untuk tetap
menggunakan makna penilaian yang sekarang dipraktikkan. FASB mengidentifikasi lima makna
atau atribut yang dapat direpresentasikan dalam berbagai atribut penilaian. Bila dikaitkan dengan
aset, dasar penilaian menurut FASB (SFAC No. 5, prg. 67) dapat disarikan berikut ini:
1.

Historical cost

2.

Current (replacement) cost

3.

Current market value

4.

Net Realizable value

5.

Present (or discounted) value of future cash flows


Menurut PSAK No. 14; Persediaan harus diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi

bersih, mana yang lebih rendah (the lower of cost and net realizable value).
Biaya Persediaan
Biaya persediaan harus meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi dan biaya lain yang
timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai
(present location and condition).
Biaya Pembelian
Biaya pembelian persediaan meliputi harga pembelian, bea masuk dan pajak lainnya (kecuali
yang kemudian dapat ditagih kembali oleh perusahaan kepada kantor pajak), dan biaya
pengangkutan, penanganan dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada
perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Diskon dagang (trade discount), rabat dan pos lain yang
serupa dikurangkan dalam menentukan biaya pembelian.
Dalam keadaan yang jarang terjadi, biaya pembelian yang meliputi selisih valuta asing yang
timbul secara langsung dalam perolehan persediaan yang ditagih dalam valuta asing,
diperkenankan sebagai perlakuan alternatif seperti yang diuraikan dalam Pernyataan Standar

Akuntansi Keuangan No. 10 tentang Transaksi Dalam Mata Uang Asing. Selisih valuta asing
tersebut terbatas pada yang ditimbulkan dari devaluasi atau depresiasi suatu mata uang yang
cukup besar dan terhadap peristiwa tersebut tidak mungkin dilakukan hedging, dan membawa
dampak pada hutang yang tidak dapat diselesaikan dan timbul dari perolehan persediaan yang
baru saja dilakukan.(Namun, apabila tersedia kesempatan hedging sebelum devaluasi terjadi
akan tetapi kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan maka selisih kurs yang timbul akibat
devaluasi tidak boleh diperhitungkan sebagai bagian dari biaya pembelian).
Biaya Konversi
Biaya konversi persediaan meliputi biaya yang secara langsung terkait dengan unit yang
diproduksi dan biaya overhead produksi tetap dan variabel yang dialokasikan secara sistematis,
yang terjadi dalam proses konversi bahan menjadi barang jadi. Biaya overhead produksi tetap
adalah biaya produksi tak langsung yang relatif konstan, tanpa memperhatikan volume produksi
yang dihasilkan, seperti penyusutan dan pemeliharaan bangunan dan peralatan pabrik, dan biaya
manajemen dan administrasi pabrik. Biaya overhead produksi variabel adalah biaya yang
berubah secara langsung, atau hampir secara langsung, mengikuti perubahan volume produksi,
seperti bahan tak langsung dan upah tak langsung.
Pengalokasian biaya overhead produksi tetap ke biaya konversi didasarkan pada kapasitas
normal fasilitas produksi. Kapasitas normal adalah produksi rata-rata yang diharapkan akan
tercapai selama suatu periode atau musim dalam keadaan normal, dengan memperhitungkan
hilangnya kapasitas selama pemeliharaan terencana.
Tingkat produksi aktual dapat digunakan bila mendekati kapasitas normal. Pembebanan
biaya overhead produksi tetap pada setiap unit produk tidak bertambah sebagai akibat dari
rendahnya produksi atau tidak terpakainya kapasitas pabrik. Biaya overhead yang tidak
teralokasi diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Dalam periode produksi luar biasa
tinggi, biaya overhead yang dialokasikan pada unit produk diturunkan, agar persediaan tidak
dinilai di atas biaya. Biaya overhead produksi variabel dialokasikan pada unit produk atas dasar
penggunaan fasilitas produksi yang sebenarnya.
Proses produksi mungkin menghasilkan lebih dari satu jenis produk secara serentak. Hal
tersebut terjadi, misalnya, bila dihasilkan produk bersama (joint product) atau bila terdapat
produk utama dan produk sampingan. Bila biaya konversi tidak dapat diidentifikasikan secara
terpisah, biaya tersebut dialokasikan antar produk secara rasional dan konsisten. Pengalokasian

misalnya dapat dilakukan berdasarkan perbandingan harga jual untuk masing masing produk,
baik pada tahap proses produksi pada waktu produk telah dapat diidentifikasikan secara terpisah,
atau pada saat produksi telah selesai. Sebagian besar produk sampingan, pada hakekatnya tidak
material. Kalau kasusnya demikian, produk sampingan sering kali dinilai berdasarkan nilai
realisasi bersih dan nilai tersebut dapat dikurangkan pada biaya produk utama. Dengan demikian,
nilai produk utama tidak berbeda secara material dari biayanya.
Biaya Lain-Lain
Biaya lain hanya dibebankan sebagai biaya persediaan sepanjang biaya tersebut timbul agar
persediaan berada dalam kondisi dan tempat yang siap untuk dijual atau dipakai. Misalnya,
dalam keadaan tertentu diperkenankan untuk membebankan biaya overhead non produksi atau
biaya perancangan produk untuk pelanggan khusus sebagai biaya persediaan.
Beberapa contoh biaya yang dikeluarkan dari biaya persediaan dan diakui sebagai beban dalam
periode terjadinya adalah:
1.

jumlah pemborosan bahan, upah, atau biaya produksi lainnya yang tidak normal;

2.

biaya penyimpanan, kecuali biaya tersebut diperlukan dalam proses produksi


sebelum dilanjutkan pada tahap produksi berikutnya;

3.

biaya administrasi dan umum yang tidak memberikan sumbangan untuk membuat
persediaan berada dalam lokasi dan kondisi sekarang; dan

4.

biaya penjualan.

Dalam keadaan tertentu, biaya pinjaman (borrowing costs) dimasukkan sebagai biaya persediaan
sesuai dengan Pernyataan akuntansi keuangan tentang hal tersebut.
Biaya Persediaan Pemberian Jasa
Biaya persediaan perusahaan jasa terutama meliputi upah dan biaya personalia lainnya
yang secara langsung menangani pemberian jasa, termasuk tenaga penyelia, dan overhead yang
diatribusikan. Upah dan biaya lainnya yang menyangkut personalia penjualan serta administrasi
umum tidak termasuk sebagai biaya persediaan, tapi diakui sebagai beban pada periode
terjadinya .
Teknik Pengukuran Biaya
Teknik pengukuran biaya persediaan, seperti metode biaya standar atau metode eceran
(retail method), demi kemudahan, dapat digunakan bila hasilnya mendekati biaya historis. Biaya
standar memperhitungkan tingkat normal penggunaan bahan dan perlengkapan (supplies), upah,

efisiensi dan pemanfaatan kapasitas. Biaya standar ditelaah secara berkala dan, bila perlu,
direvisi sesuai dengan kondisi terakhir.
Metode eceran sering kali digunakan dalam perdagangan eceran untuk menilai persediaan
sejumlah besar barang yang berubah dengan cepat, dan memiliki margin yang tidak jauh berbeda
sehingga tidak praktis kalau digunakan metode penetapan biaya lainnya. Biaya persediaan
ditentukan dengan mengurangi harga jual persediaan dengan persentase margin bruto yang
sesuai. Persentase tersebut digunakan dengan memperhatikan persediaan yang telah diturunkan
nilainya (marked down) di bawah harga jual normal. Persentasi rata-rata sering digunakan untuk
setiap departemen penjualan eceran yang menjual kelompok barang yang berbeda.
Rumus Biaya
Biaya persediaan untuk barang yang lazimnya tidak dapat diganti dengan barang lain (not
ordinary interchangeable) dan barang serta jasa yang dihasilkan dan dipisahkan untuk proyek
khusus harus diperhitungkan berdasarkan identifikasi khusus terhadap biayanya masing masing.
Yang dimaksud dengan identifikasi khusus biaya adalah atribusi biaya ke barang tertentu
yang dapat diidentifikasikan dalam persediaan. Cara ini merupakan perlakuan yang sesuai bagi
barang yang dipisahkan untuk proyek khusus, baik yang dibeli maupun yang dihasilkan. Namun
demikian identifikasi khusus biaya tidak tepat bagi sejumlah besar barang homogen yang dapat
menggantikan satu sama lain (ordinarily interchangeable). Dalam keadaan demikian, metode
pemilihan barang yang masih berada dalam persediaan dapat digunakan untuk menentukan di
muka dampaknya terhadap laba rugi periode berjalan.
Biaya persediaan, kecuali yang disebut di atas, harus dihitung dengan menggunakan rumus
biaya masuk pertama keluar pertama (MPKP atau FIFO), rata-rata tertimbang (weighted average
cost method), atau masuk terakhir keluar pertama (MTKP atau LIFO).
Formula MPKP/FIFO mengasumsikan barang dalam persediaan yang pertama dibeli akan
dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah
yang dibeli atau diproduksi kemudian. Dengan rumus biaya rata-rata tertimbang, biaya setiap
barang ditentukan berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari barang serupa pada awal periode
dan biaya barang serupa yang dibeli atau diproduksi selama periode. Perhitungan rata-rata dapat
dilakukan secara berkala, atau pada setiap penerimaan kiriman, tergantung pada keadaan
perusahaan. Rumus MTKP/LIFO mengasumsikan barang yang dibeli atau diproduksi terakhir

dijual atau digunakan terlebih dahulu, sehingga yang termasuk dalam persediaan akhir adalah
yang dibeli atau diproduksi terdahulu.
Nilai Realisasi Bersih
Biaya persediaan mungkin tidak akan diperoleh kembali (recoverable) bila barang rusak,
seluruh atau sebagian barang telah usang atau bila harga penjualan menurun. Biaya persediaan
juga tidak akan diperoleh kembali jika estimasi biaya penyelesaian atau estimasi biaya penjualan
meningkat. Praktek penurunan nilai persediaan di bawah biaya menjadi nilai realisasi bersih
konsisten dengan pandangan bahwa aktiva seharusnya tidak dinyatakan melebihi jumlah yang
mungkin dapat direalisasi melalui penjualan atau penggunaan.
Nilai persediaan biasanya diturunkan ke nilai realisasi bersih secara terpisah untuk setiap
barang dalam persediaan. Namun demikian, dalam beberapa kondisi, penurunan nilai persediaan
mungkin lebih sesuai jika dihitung terhadap kelompok barang serupa atau yang berkaitan.
Misalnya barang-barang yang termasuk dalam lini produk dengan tujuan atau penggunaan akhir
yang serupa, diproduksi dan dipasarkan di wilayah yang sama, dan tidak dapat dievaluasi
terpisah dari barangbarang lain dalam lini produk tersebut. Penurunan nilai persediaan tidak tepat
jika dihitung berdasarkan klasifikasi persediaan, misalnya, barang jadi, atau seluruh persediaan
dalam suatu industri atau segmen geografis tertentu. Perusahaan jasa pada umumnya
mengakumulasikan biaya dalam hubungannya dengan setiap jasa agar dapat menetapkan harga
jual jasa tersebut. Dengan demikian, masing-masing jenis jasa tersebut dibukukan tersendiri.
Estimasi nilai realisasi bersih didasarkan pada bukti paling andal yang tersedia pada saat
estimasi dilakukan terhadap jumlah persediaan yang diharapkan dapat direalisasi. Estimasi ini
mempertimbangkan fluktuasi harga atau biaya yang langsung terkait dengan peristiwa yang
terjadi setelah akhir periode sepanjang peristiwa tersebut menegaskan (confirm) kondisi yang
ada pada akhir periode.
Estimasi nilai realisasi bersih juga mempertimbangkan tujuan pengadaan persediaan yang
bersangkutan. Misalnya, nilai realisasi bersih kuantitas persediaan yang dimiliki untuk
memenuhi kontrak penjualan produk atau jasa didasarkan pada harga kontrak. Bila kontrak
penjualan adalah untuk kuantitas barang yang lebih kecil daripada persediaan, nilai realisasi
bersih untuk kelebihannya harus didasarkan pada harga penjualan umum. Kerugian kontinjen
dari kontrak pembelian yang melebihi kuantitas persediaan yang dimiliki dan kerugian kontinjen

dari kontrak pembelian diperlakukan sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No.
8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca.
Nilai bahan baku dan perlengkapan (supplies) lain yang diadakan untuk digunakan dalam
produksi persediaan tidak diturunkan di bawah biaya bila barang jadi yang dihasilkan diharapkan
dapat dijual sebesar atau di atas biaya. Namun demikian, bila penurunan harga bahan baku
mengindikasikan biaya barang jadi yang dihasilkan akan melebihi nilai realisasi bersih, maka
nilai bahan diturunkan ke nilai realisasi bersih. Dalam kondisi semacam itu, biaya ganti
(Replacement cost) merupakan tolak ukur terbaik yang tersedia bagi nilai realisasi bersih
Nilai realisasi bersih yang telah ditentukan harus ditinjau kembali pada setiap periode
berikutnya. Apabila kondisi yang semula mengakibatkan penurunan nilai persediaan di bawah
biaya ternyata tidak lagi berlaku, maka jumlah penurunan nilai harus dieliminasi balik (reversed)
sedemikian rupa sehingga jumlah tercatat baru persediaan adalah yang terendah dari biaya atau
nilai realisasi bersih yang telah direvisi. Hal ini timbul misalnya, jika suatu barang dalam
persediaan, yang dicantumkan sebesar nilai realisasi bersih karena harga jualnya telah turun,
masih dimiliki pada periode berikutnya dan harga jualnya telah meningkat.
Menurut PSAK No. 16; Suatu aktiva tetap yang memenuhi kualifikasi untuk diakui sebagai
suatu aktiva dan dikelompokkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur sebesar biaya
perolehan.
Komponen Biaya Perolehan
Biaya perolehan suatu aktiva tetap terdiri dari harga belinya, termasuk bea impor dan PPN
Masukan Tak Boleh Restitusi (non-refundable), dan setiap biaya yang dapat diatribusikan secara
langsung hingga aktiva tersebut dalam kondisi siap pakai; setiap potongan dagang dan rabat yang
dikurangkan dari harga pembelian. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung
adalah:
1.

biaya persiapan tempat;

2.

biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar-muat
(handling costs);

3.

biaya pemasangan (installation costs);

4.

biaya profesional seperti arsitek dan insinyur; dan

5.

estimasi biaya bongkar-muat dan memindahkan aktiva dan persiapan lokasi, yang
diakui sebagai kewajiban diestimasi sesuai PSAK 57: Kewajiban Diestimasi, Kewajiban
Kontinjensi, dan Aktiva Kontinjensi.
Jika pembayaran untuk suatu aktiva tetap ditangguhkan hingga melampaui jangka waktu
kredit normal, biaya perolehan aktiva tersebut adalah setara dengan nilai tunainya; perbedaan
antara nilai tunai dengan pembayaran total diakui sebagai beban bunga selama periode kredit
kecuali dikapitalisasi sesuai dengan perlakuan alternatif yang diizinkan dalam PSAK 26:
Akuntansi Biaya Pinjaman.
Biaya administrasi dan overhead umum lainnya bukan merupakan komponen biaya
perolehan aktiva tetap sepanjang tidak dapat diatribusikan secara langsung pada biaya perolehan
aktiva atau membawa aktiva ke kondisi siap pakai. Demikian pula biaya permulaan (start-up)
dan pra-produksi serupa bukan merupakan bagian biaya perolehan aktiva kecuali biaya tersebut
diperlukan dalam membawa aktiva ke kondisi siap pakai. Rugi operasi awal yang terjadi sebelum
aktiva mencapai kinerja yang direncanakan diakui sebagai beban.
Biaya perolehan suatu aktiva yang dikonstruksi sendiri ditentukan dengan menggunakan
prinsip yang sama sebagaimana perolehan aktiva. Jika perusahaan membuat aktiva serupa untuk
dijual dalam keadaan usaha normal, biaya perolehan aktiva biasanya sama dengan biaya
memproduksi aktiva untuk dijual (lihat PSAK 14: Persediaan). Oleh karena itu, setiap laba
internal dieliminasi dalam menetapkan biaya perolehan tersebut. Demikian pula biaya dari
jumlah yang abnormal dari bahan baku yang tak terpakai, tenaga kerja, atau sumber daya lain
yang terjadi dalam memproduksi aktiva yang dikonstruksi sendiri tidak dimasukkan dalam biaya
perolehan aktiva tersebut. PSAK 26: Akuntansi Biaya Pinjaman menetapkan kriteria yang harus
dipenuhi sebelum biaya bunga dapat diakui sebagai suatu komponen biaya perolehan aktiva.
Biaya perolehan aktiva yang dimiliki oleh lessee dalam finance lease ditentukan dengan
menggunakan prinsip yang ditetapkan dalam PSAK 30: Akuntansi Sewa Guna Usaha.
Menurut PSAK No. 48; Jika nilai yang dapat diperoleh kembali dari suatu aktiva lebih
kecil dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aktiva harus diturunkan menjadi sebesar nilai yang dapat
diperoleh kembali. Penurunan tersebut merupakan rugi penurunan nilai aktiva dan harus segera
diakui sebagai beban pada laporan laba rugi.
Jika jumlah taksiran kerugian penurunan nilai aktiva lebih besar dari nilai tercatat aktiva,
perusahaan harus mengakui kewajiban hanya jika hal ini diwajibkan dalam PSAK lain.

Setelah kerugian penurunan nilai aktiva diakui, beban depresiasi (amortisasi) aktiva untuk
periode yang akan datang harus disesuaikan agar mencerminkan alokasi nilai tercatat yang telah
direvisi, setelah dikurangi nilai sisa (jika ada), secara sistematis selama sisa periode depresiasi
(amortisasi). Pengakuan kerugian penurunan nilai suatu aktiva mungkin juga merupakan tanda
bahwa nilai sisa, sisa periode depresiasi (amortisasi) atau metode depresiasi (amortisasi) untuk
aktiva harus di-review sesuai dengan PSAK yang berlaku bagi aktiva tersebut.
Jika kerugian penurunan nilai diakui, semua pajak yang ditangguhkan yang terkait dengan
aktiva tersebut atau kewajiban, harus ditentukan sesuai dengan PSAK 46 Pajak Penghasilan,
dengan membandingkan jumlah nilai tercatat yang telah direvisi dengan nilai setelah pajak.
V. PENYAJIAN
Prinsip akuntansi berterima umum, terutama standar akuntansi menetapkan penyajian dan
pengungkapan tiap pos-pos aset. Walaupun aset didefinisi secara umum sebagai manfaat
ekonomik di masa datang yang dikuasai kesatuan usaha dan yang benar-benar timbul dari
transaksi yang sah, tiap pos aset didefinisi lebih lanjut atau spesifik sesuai dengan sifat pos
tersebut. secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian dan
pengungkapan aset sebagai berikut:
1. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformat akun atau di bagian
atas dalam neraca berformat laporan. Aset diklasifikasikan menjadi aset lancar
dan tetap.
2. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang paling
lancar dicantumkan pada urutan pertama.
Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan (misalnya
metoda depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang).
Dengan adanya pengelompokan dan penjumlahan aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek di
neraca, maka akan meningkatkan kegunaan informasi yang disajikan.
Untuk memungkinkan pengidentifikasian secukupnya atas pemisahan aktiva dankewajiban suatu
perusahaan, jumlah aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek yang tersajikan lazimnya tidak
dikurangkan dengan aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek lainnya. Akan tetapi saling
menghapuskan (offsetting) demikian mungkin benar, bila dibenarkan menurut hukum dan saling

menghapuskan (offsetting) tersebut merupakan realisasi atau penyelesaian aktiva atau kewajiban
yang diharapkan.