Anda di halaman 1dari 3

Apa yang Salah dengan Jeroan?

Oleh : @tanmalika
Bapak Menteri Perdagangan yang terhormat, bolehkah saya curhat? Boleh dong. (Masa
rakyat curhat aja dilarang?). Pak Gobel, yang dipuja wartawati-wartawati ekonomi
sungguh saya galau mendengar wacana Bapak menghentikan import jeroan. Sebagai
penikmat tradisi kuliner Nusantara, saya jadi meragukan kemampuan lidah bapak dalam
menyicipi lezatnya citarasa masakan ibu saya khas Indonesia. Jangan sampai hal ini
mendowngrade penilaian saya pada keharuman wajah nama bapak yang sering
diceritakan gadis inceran saya yang semangat menulis berita soal Bapak. Tapi tenang,
saya tidak akan sampai hati memberi raport merah seperti yang dilakukan para pakar dan
pemerhati kinerja pemerintahan khilafah. Sebab saya gak mau dibenci sama wartawati
cantik itu.
Pak Gobel, tolong pikirkan ulang deh rencana yang konyol itu. Kenapa saya bilang
konyol? Karena alasan Bapak menghapus import jeroan itu sangat lucu. Masa, lantaran
perbedaan tradisi kuliner antar bangsa Kenapa sih harus malu pada tradisi bangsa sendiri
dan menganggap negara lain lebih bergengsi? Jangan-jangan bapak terprovokasi para
pengusaha daging giling tusuk kemasan dan daging kaleng yang pernah diiklankan
pejabat daerah itu? Terus-terang, saya merasa terusik dengan rencana itu setelah disuguhi
wedang jahe bergelas-gelas oleh pedagang angkringan.
Mungkin Bapak perlu sering-sering sidak ke tempat hiburan pasar malam, nongkrong
berjam-jam sambil makan nasi kucing Jogja, nyicipin bubur ayam Cirebon, Garut atau
Sukabumi. Ratusan atau bahkan ribuan pedagang nasi kucing dan bubur dari empat
daerah itu mengandalkan jeroan sebagai obyek yang mengalirkan pundi-pundi receh ke
laci gerobak mereka. Bahkan kalau mau disurvey, jeroan bisa jadi merupakan salah satu
penyumbang pajak terbesar bagi Negara.
Para pedagang membuka lapak di pasar atau tanah negara, mereka tentu membayar
retribusi buat pemerintah, kalau pun tidak, pasti ada aparat pemerintah yang bertindak
sebagai makelar yang meminta jatah keamanan dan sejenisnya ke para pedagang itu.
Retribusi kebersihan minimal dua ribu, keamanan duaribu,belum lagi tagihan parkir dua
ribu per pengunjung. Para pengamen juga diuntungkan dengan tingginya tingkat
penikmat jeroan di Indonesia. Gak percaya? Makanya Bapak kudu mau saya ajak
kongkow, semalaman aja. Di warung-warung angkringan itu, bisa dihitung tiap lima
menit ada pengamen yang menyumbangkan lagunya kemudian minta jatah sumbangan
uang pada para pengunjungnya.
Dari sisi kesehatan, Jeroan juga menyumbang ketahanan gizi nasional. Bagi para jelata
macam saya membeli daging rendang atau ayam dan bebek agak membosankan. Sebab
menunya cuma disayur, dibakar atau digoreng ditambah lagi, kantong kami bisa jebol
kalau tiap kali makan harus pakai menu manusia-manusia Australia itu. Pak, kami sejak
Esde diajari makan harus empat sehat lima sempurna. Nah protein hewani yang cocok
buat kantong kami yang belum setebal kantong bapak itu ya jeroan! Kalau bapak
memaksa kami makan daging import tusuk dan kalengan seperti shalat lima waktu, secara

istiqomah, bapak harus bisa mengganti seluruh isi ajaran di sekolah dasar dan menengah
tentang pentingnya makanan empat sehat lima sempurna. Cukup satu sehat yang
sempurna. Sebab harga sepotong daging rendang di Rumah Makan Nasi Padang
Sederhana itu sama dengan dua bungkus nasi kucing isi teri atau tongkol , dua potong
gorengan tempe tahu, dua tusuk jeroan usus plus ati-ampela dan segelas jahe susu.
Bayangkan betapa berjasanya jeroan membantu rakyat jelata buat mengikuti doktrin
pemerintah soal gizi makanan empat sehat lima sempurna itu.
Menurut riset sejumlah media, meski purin jeroan bisa meningkatkan kadar kolesterol
dan berbahaya bagi penderita obesitas dan asam urat, tetapi jeroan juga mengandung
berbagai protein yang bagus untuk mencegah anemia serta baik bagi perkembangan otak.
Jeroan, terutama hati, jantung, dan ginjal juga konon banyak mengandung vitamin B yang
baik untuk mencegah kepikunan (dimentia) bahkan untuk gangguan mental parah. Gizi
jeroan juga baik buat ibu hamil dalam mencegah kekurangan zat besi. Sejumlah jeroan
masih menurut cyberhealth juga baik buat kekebalan tubuh karena kaya akan vitamin A.
Biar lebih keliatan ilmiah, berikut ini saya sertakan tabel kandungan gizi pada jeroan.
Kandungan gizi beberapa jenis jeroan per 100 g
Zat gizi
Hati Jantung Ginjal Babat Lidah Usus Otak
Energi (kkal)

125

99

215

113

202

130

125

Protein (g)

17,9

16,5

18,2

17,6

15,7

14

10,4

Lemak (g)

3,9

3,6

13,2

15

7,2

8,6

Karbohidrat (g)

3,4

6,2

0,4

1,5

0,8

Vitamin A (IU)

6.165 10

96

16

62

Vitamin B1 (mg)

9,2

0,5

0,2

0,1

0,1

0,1

0,2

Vitamin B12 (mkg)

22,9

10

25,7

0,2

Asam folat (mkg)

81,2

3,4

111

5,7

7,9

3,4

Kalsium (mg)

11

15

12

17

14

16

Besi (mg)

8,6

9,4

2,8

3,8

Seng (mg)

3,1

1,3

2,6

3,2

1,4

0,6

Magnesium (mg)

20

17

22

18

Fosfor (mg)

272

16

298

144

160

115

330

Kalium (mg)

228

220

258

90

270

15

125

52

61

145

51

110

850

Kolesterol (mg)
439
Sumber: cbn,cyberhealth

Dari tabel tersebut, terlihat betapa jeroan binatang sangat berguna bagi kesehatan bangsa
Indonesia. Yang lebih penting, jeroan adalah kuliner khas Nusantara yang wajib
dilestarikan. Lantas, kenapa orang Australi dan mesir memberikan jeroan buat makanan
anjing, karena mereka gak kreatif seperti orang Indonesia. Coba mereka suruh nyicipin
empal gentong, nasi tangkar atau coto makassar mereka pasti ketagihan

Kalau pengacara BG bisa mengancam Ribuan Polri mogok kerja gegara tuan besarnya
diperkarakan KPK, saya juga mampu belum bisa mengajak para pedagang angkringan,
bubur ayam, empal gentong, coto makassar, Tangkar Bogor, Nasi Jamblang buat berdemo
dan mogok dagang. Ingat pak, di DKI saja ada ribuan pedagang kuliner berbasis jeroan,
apalagi kalau kebijakan serampangan tentang jeroan itu ditentang jutaan fans kuliner
Nusantara.