Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Psoriasis adalah penyakit dengan penyebab autoimun, bersifat kronik dan residif,
yang ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang
kasar, berlapis-lapis dan transparan. Walaupun kondisi ini tidak mengancam nyawa atau
menyebabkan kematian, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih
lagi mengingat bahwa perjalanannya bersifat menahun dan residif. Psoriasis dapat
menyerang perempuan maupun laki-laki dengan resiko yang sama. Psoriasis dapat
muncul pada usia kapan saja, akan tetapi posriasis jarang ditemukan pada usia kurang
dari 10 tahun. Kondisi ini lebih sering muncul pada usia 15-30 tahun.
Psoriasis merupakan salah satu peradangan kulit yang paling sering terjadi di
negara-negara barat dimana hampir 2% dari penduduknya pernah menderita psoriasis
selama masa hidupnya. Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi dibandingkan
penduduk kulit berwarna. Hingga saat ini masih belum diketahui dengan pasti mengapa
psoriasis bisa timbul. Pada kebanyakan kasus ada pengaruh yang kuat dari faktor
genetik, terutama bila penyakit mulai diderita pada awal remaja atau dewasa muda,
akan tetapi walaupun biasanya didapatkan adanya riwayat keluarga, seringkali tidak
didapatkan pola keturunan yang jelas pada penderita psoriasis. Terdapat tiga faktor yang
berperan dalam patogenesa psoriasis yaitu faktor genetik, faktor imunologik dan
berbagai faktor pencetus.
Proses penyakit ini merupakan gabungan dari hiperproliferasi epidermis dan
akumulasi sel-sel radang yang disertai pemendekan waktu transit epidermis (epidermal
turn over) dari yang normalnya sekitar 8-10 minggu (+311 jam) berubah menjadi
beberapa hari (+36 jam). Secara histopatologis gambaran utama dari kondisi ini antara
lain: (1) Epidermis yang menjadi sangat tebal atau akantosis, (2) Retensi nukleus pada
stratum korneum atau parakeratosis, (3) Peningkatan aktivitas mitosis keratinosit,

fibroblas dan sel endotel, (4) Adanya Microabsces of Munro berupa akumulasi polimorf
pada stratum korneum, serta (5) Pelebaran pembuluh kapiler pada dermis bagian atas.
Psoriasis memiliki beberapa bentuk klinis yaitu Psoriasis Vulgaris, Psoriasis Gutata,
Psoriasis Inversa (Psoriasis Fleksural), Psoriasis Eksudativa (Seboriasis), Psoriasis
Pustulosa (yang terdiri atas Psoriasis Barber dan Psoriasis Von Zumbusch), serta bentuk
terakhir yaitu Eritroderma Psoriatik.
Dalam penatalaksanaan psoriasis perlu diperhatikan mengenai luasnya lesi kulit,
lokalisasi lesi kulit, usia penderita dan ada tidaknya kontraindikasi terhadap obat yang
kita berikan. Pengobatan kausal belum dapat diberikan sehingga pengobatan ditujukan
untuk menghilangkan faktor-faktor yang dianggap sebagai pencetus timbulnya psoriasis
antara lain pemberian sedatif pada stres psikis, serta penatalaksanaan terhadap adanya
infeksi fokal seperti tonsilitis, karies gigi dan infeksi parasit. Selain itu diberikan pula
penanganan yang betujuan untuk menekan atau menghilangkan lesi psoriasis yang telah
ada baik dengan pengobatan topikal seperti salep/krim yang mengandung steroid dan
tar, maupun dengan pengobatan sistemik seperti pemberian kortikosteroid, sitostatika
(Metothrexate) atau bahkan dengan pengobatan kombinasi seperti Psoralen sistemik
dengan penyinaran sinar UV (PUVA).

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1

Definisi
Psoriasis adalah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan residif,

ditandai dengan adanya bercak-bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar,
berlapis-lapis dan transparan; disertai fenomena tetesan lilin, Auspitz, dan Kobner.
2.2

Epidemiologi
Prevalensi psoriasis sangat bervariasi tergantung pada etnisitas. Psoriasis terjadi

paling sering di Kaukasia, dengan kejadian diperkirakan 60 kasus per 100.000 / tahun pada
populasi ini. Prevalensi di Amerika Serikat adalah 2-4 %, meskipun jarang atau tidak ada di
beberapa populasi Afrika-Amerika. Di Cina, angka kejadiannya diperkirakan 0,3 %.
Prevalensi di Eropa Utara dan Skandinavia adalah 1,5-3 %. Wanita dan pria sama-sama
dipengaruhi oleh kondisi ini. Meskipun psoriasis dapat terjadi pada semua usia, rata-rata
usia terjadinya psoriasis adalah 33 tahun, dengan 75 % kasus dimulai sebelum usia 46
tahun.
Kasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun penyakit ini tidak menyebabkan
gangguan kosmetik, terlebih-lebih mengingat bahwa perjalanannya menahun dan residif.
Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi daripada penduduk kulit berwarna. Insiden pada
pria agak lebih banyak daripada wanita, psoriasis terdapat pada semua usia, tetapi
umumnya pada orang dewasa.

2.3

Etiopatogenesis
Faktor genetik
Bila orang tuanya tidak menderita psoriasis, resiko mendapat psoriasis 12%,
sedangkan jika salah seorang orangtuanya menderita psoriasis resikonya
mencapai 34-39%. Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe : psoriasis tipe I
dengan awitan dini bersifat familial, psoriasis tipe II dengan awitan lambat
bersifat nonfamilial. Hal lain yang menyokong adanya factor genetic ialah bahwa
psoriasis berkaitan dengan HLA.
Faktor imunologik
Defek genetic pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu dari tiga
jenis sel, yakni limfosit T, sel penyaji antigen (dermal), atau keratinosit.
Keratinosit psoriasis membutuhkan stimuli untuk aktivasinya. Lesi pada
umumnya penuh dengan sebukan limfosit T pada dermis yang terutama terdiri
atas limfosit T CD4 dengan

sedikit sebukan limfositik pada epidermis.

Sedangkan pada lesi baru umumnya lebih banyak didominasi oleh limfost T
CD8. Pada lesi psoriasis terdapat sekita 17 sitokin yang produksinya bertambah.
Sel langerhans juga berperan pada imunopatogenesis psoriasis. Terjadinya
proliferasi epidermis diawali dengan adanya pergerakan antigen, baik eksogen
maupun endogen oleh sel langerhans. Pada psoriasis pembentukan epidermis
(turn over time) lebih cepat, hanya 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal
lamanya 27 hari.
Psoriasis pertama kali digambarkan sebagai penyakit yang terutama
mempengaruhi proliferasi keratinosit epidermal dan infiltrasi inflamasi kulit
sekunder. Dalam dekade terakhir ini telah menjadi jelas bahwa psoriasis adalah
penyakit kekebalan-dimediasi inflamasi sistemik terutama melibatkan sel Th1.

Sitokin dari jalur Th1 (interferon-, interleukin 2, interleukin 12, dan TNF-)
mendominasi di plak psoriasis. Hal ini diterima secara luas bahwa stimulus tidak
diketahui mengaktifkan kulit dendritik antigen-sel penyajian. Antigen-presenting
sel diaktifkan kemudian mengaktifkan sel T helper yang mengarah ke rilis
berikutnya dari kaskade sitokin inflamasi. Kaskade ini mengakibatkan rekrutmen
dan aktivasi dari jenis sel lain seperti sel-sel endotel dan neutrofil, dan produksi
kemokin dan faktor pertumbuhan. Akhirnya ini mengarah ke proliferasi
keratinosit. Sebuah kondisi inflamasi kronis kemudian memastikan dan
mengarah pada pembentukan lesi kulit psoriasis. Baru-baru ini, Interleukin-17mensekresi T helper (Th 17) telah diidentifikasi untuk memainkan peran penting
dalam patogenesis psoriasis. Interleukin-17 mempromosikan peradangan dengan
menginduksi ekspresi chemoattractants yang ditemukan pada lesi psoriasis. Th17
sel juga mengeluarkan interleukin 22, yang terlibat dalam diferensiasi keratinosit
dan menyebabkan proliferasi keratinosit.
Berbagai faktor pencetus
Ada beberapa pencetus diantaranya stress psikis, infeksi fokal, trauma,
(fenomena kobner), endokrin, gangguan metabolic, obat juga alcohol daan
merokok.

Gambar 1. Mekanisme imunologi pada psoriasis

2.4

Gejala klinis
Sebagian penderita mengeluhkan gatal ringan. Tempat predileksi pada scalp,

perbatasan daerah tersebut dengan muka, ektremitas bagian ekstensor terutama siku serta
lutut, dan daerah lumbosakral.
Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan
skuama di atasnya. Eritema sirkumskrip dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan
sering eritema yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapislapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi:
lentikular, nummular atau plakat, dapat berkonfluensi. Jika seluruhnya atau sebagian besar

lentikular disebut psoriasis gutata, biasanya pada anak-anak dan dewasa muda dan terjadi
setelah infeksi streptococcus.
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, auspitz dan kobner (isomorfik).
Kedua fenomena yang disebut lebih dahulu dianggap khas, sedangkan yang terakhir tidak
khas, hanya kira-kira 47% yang positif dan didapati pula pada penyakit lain, misalnya liken
planus dan veruka plana juvenilis.
Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warnanya menjadi putih pada
goresan, seperti lilin yang digores, disebabkan oleh berubahnya indeks bias. Pada fenomena
auspitz tampak serum atau darah berbintik-bintik yang disebabkan oleh papilomatosis.
Pada psoriasis terdapat berbagai bentuk klinis :
1. Psoriasis vulgaris
Bentuk ini ialah yang lazim terdapat karena itu disebut vulgaris, dinamakan pula
tipe plak karena lesi-lesinya umumnya berbentuk plak.

Gambar 2. Gambaran klinis psoriasis vulgaris


2. Psoriasis gutata
Psoriasis bentuk ini sering menyerang anak-anak dan dewasa serta sering menyertai
sakit tenggorokan causa streptococcus. Secara klasik psoriasis gutata tampak sangat

kecil,merah,seperti tetesan air, berskuama (istilah gutata diambil dari bahasa latin
yang berarti tetesan air hujan). Setiap lesi biasanya berdiameter 0,2-1 cm dan
berbentuk bulat sampai oval.
Psoriasis gutata dapat berkembang menjadi bentuk plak kronik. Presentasi pasien
psoriasis gutata yang berkembang menjadi psoriasis plak tidak jelas, tapi mungkin
sekitar 40-50%. Pasien dengan psoriasis plak kronik dapat juga berkembang
menjadi psoriasis gutata yang menyertai infeksi saluran pernafasan atas.
3. Psoriasis inversa (psoriasis fleksural)
Psoriasis tersebut mempunyai tempat predileksi di daerah fleksor sesuai dengan
namanya.
4. Psoriasis eksudativa
Bentuk tersebut sangat jarang. Biasanya kelainan psoriasis kering, tetapi pada
bentuk ini kelainannya eksudatif seperti dermatitis akut.
5. Psoriasis seboroik (seboriasis)
6. Psoriasis pustulosa
Ada dua bentuk psoriasis pustular, yaitu palmar-plantar dan generalisata :
a. Pustulosis palmar plantar
Pustulosis Palmar-plantar juga dikenal sebagai psoriasis pustular palmar-plantar.
Bentuk psoriasis ini terlokalisasi berupa pustul steril pada telapak tangan dan
kaki, biasanya tersusun secara simetris. Bentuk psoriasis ini jarang sekali pada
usia sebelum dewasa, dan dapat tampak de novo atau pada pasien yang telah
diketahui terkena psoriasis. Biasanya terdapat eritem yang berbatas tegas,
dengan skuama pada daerah yang berpustul (lihat gambar 6,hal.189). Pustul
awal berwarna krem putih klasik dengan dasar eritem. Hal diatas biasanya
berwarna matur sampai setengah kecoklatan. Kulit tangan dan kaki dapat
menjadi sangat tebal dan retak-retak yang terasa nyeri sekali. Kedua kondisi
tersebut terasa gatal yang terus menerus. Tampak hubungan yang erat antara
psoriasis pustulosa dengan merokok, lebih dari 95% yang terkena psoriasis
adalah perokok.
b. Psoriasis pustular generalisata

Psoriasis pustular generalisata adalah suatu kedaruratan kulit. Tampak pustul


steril yang biasanya dengan dasar kulit eritroderma (kerusakan kulit total,lihat
dibawah). Mungkin ada daerah psoriasis klasik yang bisa membantu diagnosis
tapi sering sekali kulit pasien tampak berwarna sangat merah dengan sedikit
atau tidak ada skuama. Steroid oral dapat menjadi pemicu keadaan kondisi
tersebut dan seharusnya tidak boleh digunakan secara rutin pada pengobatan
psoriasis. Keadaan umum pasien biasanya jelek dan harus dirawat di rumah
sakit sebagai suatu masalah kedaruratan.
7. Eritroderma psoriatik
Dikatakan eritroderma jika menyerang lebih dari 95% kulit dengan lesi kulit
apapun.
Psoriasis eritrodermi dapat timbul melalui dua cara,yaitu :
1. Lesi kronik yang secara bertahap berkembang menjadi plak yang luas, yang
meliputi hampir seluruh bagian tubuh. Kondisi ini kadang menyebabkan
gangguan sistemik dan biasanya berespon baik dengan pengobatan ringan
hingga moderat.
2. Psoriasis yang tidak stabil dapat tiba-tiba berkembang atau mengikuti periode
peningkatan ketidakstabilan dan intoleransi terhadap terapi topikal. Hal ini
merupakan kedaruratan medis dan pasien seharusnya di rawat di rumah sakit
untuk mendapatkan terapi dan pengawasan yang intensif. Hal tersebut
dihubungkan

dengan

gangguan

sistemik

yang

signifikan

dan

dapat

menghasilkan ketidakseimbangan kontrol suhu tubuh dan ketidakseimbangan


cairan tubuh. Kondisi ini bisa dipicu oleh hipokalemi, anti malaria,coal tar atau
kegagalan terapi sistemik terutama steroid sistemik.
2.5

Histopatologi
Psoriasis memberi gambaran histopatologik yang khas, yakni parakeratosis, dan

akantosis. Pada stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses munro.
Selain itu terdapat pula papilomatosis dan vasodilatasi di subepidermis.

2.6

PASI dan Pilihan Pengobatan


Pengobatan psoriasis dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok besar,
yaitu : topikal, fototerapi, dan pengobatan sistemik. Tujuan pengobatan psoriasis
adalah

untuk

mengontrol

penyakit

sehingg

menurunkan

morbiditas

dan

komplikasinya. Rencana manajemen disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan


individu pasien, dengan meningkatkan ekspektasi pasien dan persepsinya terhadap
tingkat keparahan penyakit, keuangan dan potensi dampak negatif akibat psoriasis.
Prinsip "do no harm" harus dilaksanakan dengan menghindari pengobatan yang
tidak memadai.

10

Gambar 3. Pilihan terapi pada psoriasis

11

Gambar 4. Skema tatalaksana pada psoriasis

12

Tingkat keparahan penyakit merupakan kunci untuk perencanaan pengobatan


selanjutnya. Untuk penelitian yang melibatkan pasien dengan penyakit yang luas (biasanya
didefinisikan sebagai penyakit yang mempengaruhi 10% dari luas permukaan tubuh), Area
Psoriasis dan Indeks Keparahan (PASI) digunakan untuk mengukur tingkat keparahan
penyakit dan respon terhadap pengobatan. Pada kriteria PASI, skor > 10 dikorelasikan
dengan penyakit dengan derajat yang parah, dan memerlukan pemberian

terapi

sistemik.Dalam praktek klinis, langkah-langkah penilaian sederhana mesti digunakan.


Pasien dapat dikategorikan memiliki psoriasis lokal, yang dimana akan diberikan
pengobatan topikal, atau psoriasis umum, yang akan menggunakan pengobatan dengan
fototerapi atau pengobatan sistemik. Biasanya, pasien yang terkena lebih dari 5-10% BSA
membutuhkan lebih dari pengobatan topical.
2.6.1

PASI (Psoriasis Area and Severity Index)


Suatu indeks untuk mengukur derajat keparahan psoriasis yang berelemenkan

tingkat keparahan lesi dan area yang dipengaruhi dengan rentang skor 0 (tanpa penyakit)
hingga 72 (penyakit derajat terberat/maksimal). Skor PASI dihitung idealnya sebelum,
selama, dan setelah pengobatan untuk mengetahui bagaimana respon tubuh terhadap
pengobatan.10 Untuk menghitung Skor PASI, terlebih dahulu harus diketahui pembagian
area tubuh untuk kepentingan ini. Area tubuh dibagi menjadi: Kepala/H (10%), Lengan/A
(20%), Trunkus/T (30%), Tungkai/L (40%).
Kemudian

perlu

diketahui

pula

persentase

yang

mempresentasikan

derajat:

0%

derajat

<10%

derajat

10-29%

derajat

30-49%

derajat

50-69%

derajat

70-89%

derajat

90-100%

derajat

13

Untuk setiap area, dilihat tanda klinis berupa Eritem (kemerahan), Indurasi (ketebalan), dan
Deskuamasi (scale). Keparahan mulai dari 0-4 (tidak ada-berat). Untuk lebih jelasnya,
untuk mengukur derajat intensitas disajikan tabel sebagai berikut :

Gambar 5. Psoriasis: Severity Scoring


2.6.2

Pilihan Pengobatan

1) Pengobatan topikal
Pengobatan topikal, merupakan pendekatan yang efektif dan aman untuk
psoriasis lokal. Pasien harus diedukasi mengenai manfaat dan efek samping obat,
serta cara menggunakannya. Kepatuhan terhadap pengobatan adalah kunci dari
keberhasilan pengobatan psoriasis. Pengobatan lini pertama untuk psoriasis lokal
adalah kortikosteroid topikal seperti clobetasol. Analog vitamin D (dan kadangkadang vitamin A) dapat digunakan dengan kortikosteroid topikal untuk mencapai
respon lebih cepat dan mengurangi durasi penggunaan kortikosteroid. Penggunaan
pembalut oklusif (seperti bungkus plastik) dapat meningkatkan penetrasi dan

14

kecepatan respon pengobatan. Obat topikal lama seperti tar dan Anthralin dapat
efektif, tetapi lebih jarang digunakan. Yang biasa digunakan ialah :
1. Perparat ter
Efeknya ialah anti radang. Konsentrasi yang biasa digunakan 2-5%, dimulai
dengan konsentrasi rendah, jika tidak ada perbaikan, konsentrasi dinaikkan.
Agar lebih efektif, maka daya penetrasinya harus dipertinggi dengan cara
menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3-5%. Sebagai vehikulum
harus digunakan salap, karena salap mempunyai daya penetrasi yang terbaik.
2. Kortikosteroid
Kortikosteroid topical member hasil yang baik. Potensi dan vehikulum
bergantung pada lokasinya.
Pada scalp, muka dan daerah lipatan digunakan krim, ditempat lain digunakan
salap. Jika telah terjadi perbaikan, potensi dan frekuensinya dikurangi.
3. Ditranol (antralin)
Obat ini dikatakan efektif. Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2-0,8%
dalam pasta, salap atau krim. Lama pemakaian hanya - jam sehaari
sekaliuntuk mencegah iritasi. Penyembuhan dalam 3 minggu.
4. Calcipotriol
Adalah sintetik vitamin D. preparatnya berupa salap atau krim 50mg/g, efeknya
antiproliferasi. Perbaikan setelah satu minggu.
5. Tazaroten
Obat ini merupakan molekuul retinoid asetlinik topical, efeknya menghambat
proliferasi dan normalisasi petanda diferensiasi keratinosit dan menghambat
petanda proinfalamsi pada sel radang yang menginfiltrasi kulit.
Tarazoten tersedia dalam bentuk gel dan krim dengan konsentrasi 0,05% dan
0,1%. Efek sampinya ialah iritasi berupa gatal, rasa terbakar, dan eritema pada
30% kasus juga bersifat fotosensitif.
6. Emolien
Efek emolien ialah melembutkan permukaan kulit. Pada batang tubuh (selain
lipatan), ekstremitas atas dan bawah biasanya digunakan salap dengan bahan
dasar vaselin, fungsinya juga sebagai emolien dengan akibat meninggikan daya

15

penetrasi bahan aktif. Emolien yang lain ialah lanolin dan minyak mineral. Jadi
emolien sendiri tidak mempunyai efek antipsoriasis.

2) Pengobatan sistemik
Methotrexate adalah salah satu obat sistemik yang paling umum digunakan
dalam pengobatan psoriasis. Dosis berkisar antara 10 sampai 30 mg sekali
seminggu. Asam folat dapat diberikan pada hari-hari lain untuk mengurangi efek
samping pada lambung dan organ lainnya. Pengobatan dosis inisial dapat diberikan
5 mg, kemudian dilakukan tes darah dan fungsi hati setelah satu minggu pemberian
guna memantau efek samping obat. Gangguan hati dan fibrosis paru merupakan
efek samping jangka panjang. Setelah respon klinis dicapai pada dosis yang stabil,
tes darah dilakukan setiap 4-8 minggu untuk memantau efek toksik terhadap hati
dan / atau sumsum tulang. Penghambatan fungsi kekebalan tubuh dengan
siklosporin

adalah perawatan yang sangat efektif untuk psoriasis, tetapi tidak

umum digunakan karena potensi efek samping yang serius berupa gangguan ginjal.
Adapun yang digunakan ialah :
1. Kortikosteroid
Kortikosteroid dapat mengontrol psoriasis, penulis dosisnya kira-kira ekuivalen
dengan prednisone 30 mg per hari. Setelah membaik, dosis diturunkan perlahanlahan, kemudian diberi dosis pemeliharaan.
2. Obat sitostatik
Yang biasa digunakan adalah metotreksat. Indikasinya ialah untuk psoriasis,
psoriasis pustulosa, psoriasis arthritis dengan lesi kulit, dan eritroderma karena
psoriasis. Cara pemberian metotreksat : mula-mula diberikan tes dosis inisial 5
mg per os untuk mengetahui, apakah ada gejala sensitivitas atau gejala toksik.
Jika tidak terjadi efek yang dikehendaki diberikan dosis 3 x 2,5 mg, dengan
interval 12 jam dalam seminggu dengan dosis total 7,5 mg. Jika tidak tampak
perbaikan dosis dinaikkan 2,5 mg 5 mg perminggu. Biasanya dengan dosis 3 x

16

5 mg per minggu telah tampak perbaikan. Cara lain ialah diberikan secara IM
7,5 mg 25 mg dosis tunggal setiap minggu. Namun saat ini, yang biasa
digunakan sebagai preparat imunosupresif ialah siklosporin A. Mekanisme
kerjanya ialah mengikat cyclophilin dan membentuk kompleks
yang menghambat calcineurin, mengurangi efek dari Nuclear
factor of activated T cells (NF-AT) pada sel T, menghambat
pengeluaran

IL2

dan

sitokin

yang

lain.

Kontraindikasi

diberikannya obat ini ialah adanya penyakit ginjal, hati,


hipertensi, hiperkalemi, dan hiperlipidemia. Efek samping yang
dapat terjadi diantaranya adalah hirsutism, rasa terbakar pada
kaki dan tangan (pada minggu pertama), mual, muntah,
hipertensi, sakit kepala, tremor, hipertrichosis, parestesia dan
meningkatkan risiko terkena keganasan. Dosis pemberian
siklosporin A adalah 2-5 mg/kg/hari dibagi dalam dua dosis.
Dosis tinggi 5 mg/kg/hari kemudian di tapering, kalau dosis
rendah 2,5 mg/kg/hari dinaikkan setiap 2-4 minggu menjadi 5
mg/kg/hari dan kemudia ditapering. Bentuk sediaan oralnya
adalah

kapsul 25, 50, 100 mg dan solusio 100 mg/mL,

sedangkan untuk parenteral, 50 mg/mL IV.


3. Levodopa
Menurut uji coba yang dilakukan obat ini berhasil ,enyembuhkan kira-kira 40%
kasus psoriasis. Dosisnya antara 2 x 250 mg 3 x 500 mg.
4. DDS
Diaminodifenilsulfon dipakai sebagai pengobatan psoriasis pustulosa tipe
Barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari.
5. Etretinat dan asitretin
Etretinat merupakan retinoid aromatic, digunakan bagi psoriasis yang sukar
disembuhkan dengan obat-obat laim mengingat efek sampingnya. Dapat pula
digunakan pada eritroderma psoriatika. Dosisnya bervariasi, pada bulan pertama

17

diberikan 1 mg/kgBB, jika belum terjadi perbaikan dosis dapat dinaikkan


menjadi 1 mg/kgBB.
Asitretin merupakan metabolit aktif etretinat yang utama. Efek samping dan
manfaatnya serupa dengan etretinat. Kelebihannya waktu paruh eliminasinya
hanya 2 hari, dibandingkan dengan etretinat yang lebih dari 100 hari.
6. Siklosporin
Efeknya ialah imunosupresif. Dosisnya 6 mg/kgBB sehari. Bersifat hepatotoksik
dan nefrotoksik.
3) Fototerapi
Sinar ultraviolet dalam bentuk sinar matahari telah digunakan sebagai
pengobatan psoriasis selama berabad-abad. Sinar matahari mengandung ultraviolet
B baik (UVB, sinar bertanggung jawab untuk sebagian besar sunburns) dan
ultraviolet A. Seperti diketahui sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat
mitosis, sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara yang terbaik
ialah dengan penyinaran secara alamiah, tetapi sayang tidak dapat diukur dan jika
berlebihan malah akan memperparah psoriasis. Karena itu digunakan sinar
ultraviolet artificial, di antaranya sinar A yang dikenal dengan UVA. Sinar tersebut
dapat digunakan secara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen (8metoksipsoralen, metoksalen) dan disebut PUVA, atau bersama-sama dengan
preparat ter yang dikenal sebagai pengobatan cara goeckerman. Risiko utama dari
fototerapi adalah kulit yang terbakar, reaksi, photoaging, dan peningkatan risiko
menderita kanker kulit.

2.7

Prognosis

Meskipun psoriasis tidak menyebabkan kematian, tetapi bersifat kronis dan residif.

18

19

BAB III
KESIMPULAN
Psoriasis merupakan penyakit kronik rekuren pada kulit dengan
gambaran

klinis

yang

bervariasi.

Lesi

pada

psoriasis

berupa

eritropapuloskuamosa yang menunjukkan keterlibatan vaskuler dan


epidermis. Sampai saat ini, penyebab pasti penyakit ini belum diketahui.
Namun, faktor genetik diduga memegang peranan penting pada
beberapa kasus. Prevalensi penyakit ini bervariasi diseluruh dunia, hal ini
mungkin dipengaruhi oleh lingkungan.
Daerah predileksi psoriasis adalah batas rambut kepala, lutut, siku,
lumbosakral dan kuku. Namun, secara umum daerah predileksinya
adalah di daerah ekstensor yaitu daerah yang mudah terkena trauma.
Pengobatan psoriasis dapat dilakukan secara topical, sistemik,
dengan penyinaran dan sekarang ada lagi pengobatan secara biologi.
Pengobatan secara sistemik dilakukan apabila pengobatan secara topikal
tidak memberikan perbaikan atau pada psoriasis derajat sedang sampai
berat berdasarkan skor PASI.
Obat-obatan

yang

digunakan

secara

sistemik

antara

lain

siklosporin A, metotreksat, asitretin, fumaric acid esters, hidroksiurea, 6tioguanin, mycophenolate, sulfasalazin dan kortikosteroid.

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Djuanda A. Psoriasis. Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 5. Jakarta:
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008. h 189
2. Sjamsoe ES, Menaldi Sri L, Wisnu I M. Psoriasis. Dalam Penyakit Kulit yang
Umum di Indonesia Sebuah Panduan Bergambar. Jakarta: PT Medical Multimedia
Indonesia. 2007. h 22
3. Wolf Klauss, Johnson Richard A. Fitzpatricks Color Atlas & Synopsis of Clinical
Dermatology 5th Edition. USA: The McGraw-Hill Companies. 2007.
4. Graham-Brown Robin, Burns Tony. Psoriasis. Dalam Lecture Notes Dermatologi
Edisi 8. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2005. h 78
5. Murtiastutik Dwi, Ervianti Evy, Agusini Indropo, Suyoso Sunarso. Psoriasis
Vulgaris. Dalam Atlas Penyakit Kulit & Kelamin Edisi 2. Surabaya: Pusat Penerbit
dan Percetakan UNAIR. 2007. h 131
6. Traub, Michael et al. Psoriasis-Pathophysiology, Conventional and Alternative
Approaches

to

Treatment,

Vol.

12

No.

4.

2007.

Diunduh

dari

http://www.thorne.com/altmedrev/.fulltext/12/4/319.pdf. (akses:23-10-2012)
7. Fu, Lisa Wenyang et al. Review article : Systemic role for vitamin D in the
treatment

of

Psoriasis

and

Metabolic

Syndrome.

2011.

Diunduh

dari

http://www.hindawi.com/journals/drp/2011/276079/. (akses:23-10-2012)
8. Mawilson. Psoriasis. Journal from Department of Biology, Davidson College. 2006.
Diunduh dari http://www.bio.davidson.edu (akses:24-10-2012)
9. Al-Kudwah, Aida J. et al. Review article : Management of Psoriasis, vol. 102 ; No.
6.

2009.

Diunduh

dari

http://journals.lww.com/smajournalonline/Fulltext/2009/06000/Management_of_Ps
oriasis.20.aspx. (akses:23-10-2012)
10. Marlia, dkk. Penurunan Kadar Soluble Tumor Necrosis Factor Receptor Type 1
(sTNFRI) Dalam Serum Penderita Psoriasis Vulgaris Setelah Diterapi Dengan Krim

21

Klobetasol Dipropionat 0,05%. Artikel penelitian dalam MKB Vol XI no 1. 2008.


Diunduh

dari

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/151082428.pdf

(akses:26/10/2012)
11. Oakley, Amanda. PASI Score. 2009. Diunduh dari http://dermnetnz.org/scally/pasi
(akses:26/10/2012)
12. Woodfork KA,

Dyke

KV,

Sikic

BI.

Antiinflammatory

and

antirheumatic drugs-The rational basis for cancer. In: Modern


pharmacology with clinical application. Sixth Edition. Pp 432-661.
13. Katzung BG. Basic & Clinical Pharmacology. 9 th Edition. Pp 8261468

22