Anda di halaman 1dari 10

Mengenali Tanda-Tanda serta Cara Penanganan dan

Pencegahan akibat Paparan Karbon Disulfida


Nelson Peter Nikijuluw
102011127
Mahasiswa Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara Nomor 6, Jakarta 11510 :
nelsonnikijuluw@ymail.com

Pendahuluan
Karbon disulfida telah menjadi bahan kimia industri yang penting sejak tahun 1800
memiliki sifat yang dapat melarutkan lemak, karet, fosfor, sulfur, dan elemen lainnya. Karbon
disulfide digunakan dalam keperluan industri pembuatan viscose rayon, Film plastik, karbon
tetraklorida, xanthogenates dan tabung vakum elektronik. Selain itu Karbon disulfida juga
digunakan sebagai insektisida untuk fumigasi biji-bijian, melindungi buah segar dari serangga
dan jamur selama pengiriman. Keadaan yang berisiko tinggi untuk keracunan biasanya terjadi
dalam pengaturan industri disebabkan karena ketidak sengajaan menelan atau menghirup
karbon disulfida selama bekerja.1.
Diagnosis klinis
Langkah pertama dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis
dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan melakukan diagnosis
klinis. Diagnosis klinis meliputi

anamnesis, pemeriksaa fisk, pemeriksaan penunjang dan

pemeriksaan tempat kerja seandainya diperlukan. Pada anamnesis, yang perlu ditanyakan pada
pasien adalah riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, dan riwayat pekerjaan. Pada
pemeriksaan fisik dapat dilakukan pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus. Pemeriksaan
penunnjang boleh dilakukan sesuai dengan indikasi penyakit. Pemeriksaan tempat kerja boleh

dilakukan untuk memeriksa beberapa hal yang mempengaruhi kesehatan dan keselamatan. 2
Berikut adalah hasil diagnosis klinis laki-laki berusia 45 tahun.
1. Anamnesis
Nama Pasien :
Umur : 45 tahun
Pekerjaan : karyawan di pabrik
Keluhan utama : pasien datang dengan keluhan kesemutan, susah tidur, sulit

konsentrasi, dan sering merasa gelisah sudah sejak 1 tahun terakhir.


Riwayat penyakit sekarang : pasien tidak memiliki masalah psikologis dengan

atasan maupun dengan rekan sekerja.


Riwayat penyakit dahulu : pasien sudah berobat sebanyak 3 kali namun belum ada

perubahan .
Riwayat penyakit keluarga : Riwayat pekerjaan : pasien bekerja di pabrik pembuatan karbon tetraklorida dan

tabung vakum elektronik yag banyak memakai karbon disulfide.


2. Pemeriksaan Fisik :
Berdasarkan kasus pemeriksaan fisik yang dilakukan adalah pemeriksaan Indeks Massa
Tubuh. Hasil pemeriksaan IMT dalam batas normal.
3. Pemeriksaan Penunjang
Berdasarkan kasus, pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah pemeriksaan darah
,urin lengkap , gula darah dan lipid menunjukan hasil dalam batas normal. Kemudian
pasien juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan EEG.
Pajanan yang dialami.
Langkah kedua dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan
menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah mencari tahu pajanan yang dialami oleh
pasien dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Pajanan yang dinilai haruslah meliputi pajanan
yang dialami saat ini dan juga pajanan yang dialami sebelumnya. Informasi mengenai pajanan
yang dialami oleh pasien boleh didapatkan melalui Anamnesis.2
Dimana berdasarkan anamnesis diketahui bahwa pasien pasien bekerja di pabrik
pembuatan karbon tetraklorida dan tabung vakum elektronik yang banyak memakai karbon
disulfide.
Hubungan pajanan dengan penyakit

Langkah ketiga dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan
menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mecari tahu hubungan pajanan
yang dialami oleh pasien dengan penyakit. Langkah ini dimulai dengan identifikasi pajanan
yang ada, lalu dicari apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit yang dialami pasien
tersebut. Hubungan antara pajanan dan penyakit ini haruslah didukung oleh bahan ilmiah seperti
literature atau penelitian. Seandainya belum ada bahan ilmiah yang mampu membuktikan
hubungan antara pajanan dan penyakit, seorang dokter boleh menggunakan pengalaman yang
ada padanya untuk menentukan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit.2
Dalam kasus seorang laki-laki berusia 45 tahun. Berdasarkan hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang diagnosis kerja yang digunakan untuk kasus ini
adalah intoksikasi karbon disulfide. Intoksikasi karbon disulfide bisa terjadi karena pajanan
langsung dengan bahan tersebut. Jalur masuk pajanan tersebut sampai menyebabkan efek
gangguan kesehatan pada pasien ada bermacam-macam diantarnya terutama melalui inhalasi,
ingesti dan kulit. Inhalasi merupakan jalur utama penyerapan di manusia diamana Konsentrasi
1-1,2 mg / L (320-390 ppm) yang tertahankan selama beberapa jam, akan menimbulkan sakit
kepala dan perasaan tidak menyenangkan yang muncul setelah 8 jam. Pada kosentrasi 3,6 mg /
L (1.150 ppm) , akan menimbulkan rasa pusing yang terjadi setelah pemaparan selama 30 menit
- 1 jam, untuk kosentrasi 6,4-10 mg / L (2.000 - 3.200 ppm) akan menimbulkan intoksikasi
ringan.sedangkan pada konsentrasi lebih dari 15 mg / L (4.800 ppm) dapat menimbulkan
ketidaksadaran yang terjadi setelah beberapa penarikan (ILO, 1983). Karbon disulfida dapat
diserap melalui kulit dan ini telah dikonfirmasi dalam sejumlah studi. Tingkat penyerapan
sebanding dengan konsentrasi bahan tersebut. Hal ini dapat menyebabkan kelainan- kelainan
pada kulit berupa lecet dan lebih parahnya dapat meyebabkan luka bakar. Selain itu dapat juga
diserap melalui ingesti jarang terjadi namun dapat menyebabkan toksisitas yang serius.3

Pajanan yang dialami cukup besar


Langkah keempat dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis
dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah
pajanan yang dialami oleh pasien cukup besar sehingga dapat menimbulkan penyakit yang

dialaminya. Langkah ini melibatkan pemahaman mengenai patofisiologi penyakit, disertai bukti
kuantitatif yaitu epidemiologinya dan bukti kualitatif. 2
Bukti epidemiologi
Kapasitas produksi karbon disulfida di seluruh dunia adalah sekitar 1 juta ton; sebagian
besar digunakan dalam produksi serat viscose dan Film plastik. Selain itu karbon disulfide juga
digunakan sebagai produk sampingan dalam pengolahan minyak dan gas, industri kimia dan ban
manufaktur. Karbon disulfida Telah terdeteksi di udara, air, sedimen, dan tanah; Namun yang
terbanyak ditemukan terutama di udara. Konsentrasi tertinggi karbon disulfida di udara terutama
di negara Kanada yang telah diukur pada tempat-tempat yang dekat dengan sumber industri,
khususnya di dekat pabrik pengolahan gas alam dan situs dengan flare gas alam yang
mengandung sulfur.Data yang mendasari perkiraan paparan karbon disulfida sangat terbatas;
Namun, udara tampaknya menjadi rute utama dari eksposur untuk anggota dari populasi umum.
Eksposur udara diperkirakan akan meningkat untuk populasi di sekitar sumber titik industri.
Karbon disulfida secara ekstensif dapat diserap secara inhalasi namun juga dapat melalui kulit.4
Berdasarkan hasil penelitian dari pekerja yang terpapar karbon disulfida, sistem saraf
tampaknya menjadi target penting untuk toksisitas karbon disulfide hal ini, diwujudkan dengan
berkurangnya kecepatan konduksi pada saraf perifer dan gangguan kinerja dalam pengujian
psikomotor. Efek lainnya yang cukup berat dan terbukti pada manusia yang terpapar karbon
disulfida yaitu terjadi perubahan dalam lipid serum dan tekanan darah yang kemudian dikaitkan
dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, efek oftalmologis sistemik, berupa
kerusakan pada pembuluh darah retina, dan (dengan eksposur yang lebih tinggi) dapat terjadi
peningkatan mortalitas akibat penyakit jantung. Selain itu juga dilaporkan bahwa pada pria yang
pekerjaan terkespose karbon disulfide dengan kosentrasi tinggi dapat menyebabkan terjadinya
penurunan libido / impotensi.4

Bukti Kualitatif
Buki kualitatif meliputi beberapa hal seperti cara dan proses kerja, lama kerja dan lingkungan
kerjanya.

Lingkungan Kerja
Pasien bekerja di pabrik pembuatan karbon tetraklorida dan tabung vakum elektronik yag

banyak memakai karbon disulfide.


Pemakaian APD.
Berdasarkan kasus tidak diberitahukan apakah pasien dalam melakukan pekerjaan di

pabrik menggunakan alat pelindung diri.


Jumlah pajanan
Untuk jumlah pajanan diperlukan pengukuran langsung besarnya pajanan di tempat kerja
pasien.

Pajanan Faktor individu


Langkah kelima dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis
dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada
factor individu yang boleh menimbulkan penyakit yang dialaminya. Factor individu mencakup
status kesehatan fisik pasien, factor kesehatan mental pasien dan higinis perorangan pasien.2
Berdasarkan kasus, tidak dijelaskan adanya pajanan factor individu. Dan dalam anamnesis
diketahui bahwa : pasien tidak memiliki masalah psikologis dengan atasan maupun dengan rekan
sekerjanya.
Pajanan faktor lain di luar pekerjaan.
Langkah keenam dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis
dengan menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada
factor lain di luar pekerjaan termasuk hobi, kebiasaan sehari-hari, pajanan di rumah dan juga
pajanan dari kerja sambilan seandainya ada. Berdasarkan kasus tidak dijelaskan adanya pajanan
factor lain di luar pekerjaan.2

Diagnosis Okupasi
Langkah terakhir dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan
menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah penarikan diagnosis okupasi berdasarkan
hasil dari langkah pertama sampai langkah ke enam. Penarikan diagnosis haruslah berdasarkan
pada bukti ilmiah dapat dibagi atas :2

1.
2.
3.
4.

Penyakit Akibat kerja (PAK) atau Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK)
Penyakit yang diperberat pajanan di tempat kerja
Belum dapat ditegakan
Bukan Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Hasil dari pendekatan klinis terhadap laki-laki berusia 45 tahun yang didasari dengan bukti
ilmiah dapat ditarik kesimpulan bahwa laki-laki berusia 45 tahun mengalami keracunan karbon
disulfida akibat kerja.3,4
Intoksikasi karbon disulfida dapat berefek klinis secara sistematis pada berbagai macam
system tubuh diantaranya: kardiovaskuler, pernapasan, neurologis, gastrointestinal, hati, kemih,
endokrin dan sistem reproduksi, dermatologis, Mata, telinga, hidung, tenggorokan.3,4
Pada kardiovaskuler : Dapat terjadi penyakit jantung coroner pada pekerja yang terpapar selama
bertahun-tahun dengan kosentrasi 10-30ppm. Sedangkan untuk pekerja yang terpapar karbon
disulfide tidak terlalu lama biasanya dapat terjadi peningkatan LDL, tekanan darah diastolic,
vasokonstriksi terutama pada ekstrimitas atas dan bawah.3,4
Pada pernafasan : Dapat terjadi iritasi pada saluran nafas sehingga terjadi perubahan ventilasi
dan perfusi ringan yang hanya bersifat sementara.3,4
Pada neurologis : Pada Sistem Saraf Pusat (SSP). Pada keracunan akut, dapat menimbulkan
gejala SSP diantaranya; sakit kepala, pusing, agitasi, euforia, dan perilaku agresif, dan bahkan
dapat menyebabkan kematian yang disebabkan karena gagal napas. Sedangkan pada keracunan
kronis tanda-tanda pertama yang dapat muncul adalah tanda-tanda psikologis: gelisah, eksitasi,
perubahan mood, kelesuan, pasien menjadi depresi, cemas, paranoid dengan kecenderungan
bunuh diri, mimpi buruk, Ilusi, delusi, dan insomnia. Dalam perjalanan selanjutnya akibat
intoksikasi karbon disulfide dapat menyebabkan menonjolnya tanda-tanda neurologis berupa
gejalagejala Parkinson. Pada system saraf perifer. Tanda-tanda klinis awal yang dapat
ditemukan adalah kelainan sensorik. Tanda khas keracunan karbon disulfida pada manusia yaitu
dapat menyebabkan polineuropati yang biasanya simetris. Pada pekerja yang terpapar tidak
terlalu lama dapat menyebabkan penurunan kecepatan konduksi serabut motoric. Selain itu dapat
juga berpengaruh pada saraf kranial, yang menyebabkan gangguan pada pengelihatannya dan
penyempitan bidang visual. Paparan karbon disulfida ini juga dapat mengganggu kemampuan

mendengar. Berdasarka pemeriksaan audiometri pada pekerja menunjukkan bukti tuli saraf dan
juga penurunan kemampuan untuk membedakan suara dengan kisaran Intensitas 1,5-3,0 db. 3,4
Gastrointestinal : pada keracunan akut dapat terjadi mual, muntah dan sakit perut. Sedangkan
pada keracunan kronis dapat menyebabkan gastritis, dyspepsia, dan ulkus duodenum.3,4
Hati : pada keracunan akut dapat menyebabkan pembesaran hati. Sedangkan pada keadaan
kronis dapat meyebabkan nekrosis hati.3,4
Ginjal : pada keracunan karbon disulfide dapat terjadi gagal ginjal kronis dengan nilai clearance
kreatinin yang normal.3,4
System endokrin dan reproduksi : pada keracunan karbon disulfide umumnya terjadi hilangnya
libido dan gangguan menstruasi pada wanita.3,4
Dermatologis : Karbon disulfide yang cair adalah iritan yang parah baik pada kulit dan mukosa.
Dapat menyebabkan lecet dan lebih parahnya lagi dapat menyebabkan luka bakar.3,4
Mata : pada paparan karbon disulfide kronis dapat terjadi peningkatan mikroaneurysme retina.
Sedangkan pada serangan akut dapat menyebabkan retinopati, dan penyempitan visual.3,4
Tanda-tanda keracunan akut dan kronis
Keracunan karbon disulfida akut jarang terjadi tapi sangat berbahaya. Penyerapan terjadi
melalui kulit, konsumsi makanan yang terkontaminasi atau terhirup. Dalam keracunan berat,
pasien dengan cepat menjadi koma dan kematian terjadi dalam beberapa jam, biasanya karena
depresi pernapasan dan kejang-kejang. Dalam kasus yang lebih ringan dapat terjadi iritasi lokal,
mual, muntah dan sakit perut yang diikuti oleh sakit kepala, euforia, halusinasi, manic delirium,
reaksi paranoid dan kecenderungan bunuh diri.3,4,5
Pajanan kronis lebih umum. Setelah 10 -15 tahun dapat menyebabkan neuropati sensorik
dan motorik, perubahan neuropsikiatri dan parkinsonisme. Aterosklerosis, penyakit jantung
koroner tertentu, gangguan penglihatan, kerusakan ginjal dan hati, dan gangguan permanen
fungsi reproduksi juga terjadi setelah eksposur jangka panjang. Selain itu, gangguan tidur,
kelelahan, anoreksia, dan penurunan berat badan adalah keluhan umum yang terjadi pada
pekerja yang terpapar. Kontak lokal dapat menyebabkan iritasi, rasa terbakar, terik atau luka

bakar dalam. Konjungtivitis, rasa sakit dan kabur .3,4,5


Peralatan protektif personal

Karyawan harus diperlengkapi dengan sarung tangan, pelindung wajah (minimal delapan
inci), dan pakaian pelindung yang sesuai , yang diperlukan untuk mencegah contac kulit

dengan karbon disulfida cair.6


Pakaian yang tidak tahan yang menjadi terkontaminasi dengan disulfida karbon harus
segera dilepaskan dan tidak boleh dipakai sampai karbon disulfida di pakaian itu

dihilangkan.6
karyawan harus dilengkapi dengan kacamata keselamatan / safty goggles untuk
mencegah carbon disulfide kontak dengan mata. 6

Prosedur pertolongan pertama darurat


Eksposur mata
jika cairan karbon disulfida kontak dengan mata, cuci mata segera dengan air dalam jumlah
besar, mengangkat bawah dan atas kelopak sesekali. jika muncul iritasi setelah dicuci, segera
hubungi dokter. lensa kontak, seharusnya tidak dipakai ketika bekerja dengan bahan kimia ini.3,4,6
Paparan kulit
jika karbon disulfida cairan masuk pada kulit, segera cuci kulit yang terkontaminasi dengan
sabun atau deterjen ringan dan air, kemudian segera hubungi dokter. 3,4,6
Bernapas
jika seseorang menghirup karbon disulfida dalam jumlah besar, langkah yang harus dilakuakn
adalah memindahkan orang tersebut ke udara segar. jika napas telah berhenti, dapat dilakukan
pernapasan buatan. mendapatkan perhatian medis sesegera mungkin.3,4,6
Menelan
ketika karbon disulfida cair telah tertelan dan orang tersebut sadar, meminta pasien tersebut
untuk mengkonsumsi air dalam jumlah banyak dan kemudain merangsang pasien tersbut untuk
muntah dengan memasukan jari ke dala tenggorakannya. Namun apabila pasien dalam keadaan
tidak sadar kita tidak mungkin dapat membuat orang tersebut untuk muntah. Maka dari itu kita
perlu segera merujuk orang tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan perhatian medis berupa
aspirasi lambung atau lavage jika racun itu baru saja tertelan.3,4,6

Penyelamatan
memindahkan orang yang mengalami keracunan dari paparan langsung bahan tersebut. jika
orang terkena paparan telah diatasi, kita perlu memberitahukan orang lain dan kemudia
diberlakukan prosedur penyelamatan darurat.3,4,6
Tidak ada penawar untuk keracunan karbon disulfida. Pengobatan biasanya tergantung pada
gejala individu / simtomatis. Individu dengan paparan berat mungkin perlu dirawat di rumah
sakit. Antidepresan dapat diresepkan untuk perubahan mood atau gejala yang berhubungan
dengan neuropati perifer.3,4,6
Prognosis
Prognosis tergantung pada tingkat dan durasi paparan. Seorang individu yang telah mengalami
paparan tunggal dan pulih dengan cepat tidak mungkin memiliki efek jangka panjang. Kematian
dapat terjadi jika seorang individu akut terkena tingkat yang sangat tinggi dari karbon disulfida.6
Kesimpulan
Laki-laki berusia 45 tahun dengan keluhan kesemutan, susah tidur, sulit kosentarsi, dan sering
merasa gelisah didiagnosis menderita keracunan Karbon disulfida akibat pekerjaannya di pabrik
pembuatan karbon tetraklorida dan tabung vakum elektronik yang banyak memakai karbon
disulfide. Diagnosis ini ditegakan berdasarkan 7 langkah diagnosis okupasi yaitu : diagnosis
klinis, pajanan yang dialami, hubungan pajanan dengan diagnosis klinis, jumlah pajanan yang
dialami, peranan factor individu, factor lain di luar pekerjaan, dan diagnosis PAK atau bukan.
selain itu dapat juga diketahui diagnosisnya melalui tanda-tanda akut dan kronis dari keracunan
karbon disulfide, kemudian dapat dilakukan penangan dan pencegahan awal pada kasus
keracunan karbon disulfide, untuk mencegah kemungkinan penyakitnya bertambah parah yang
nantinya berakibat fatal.
Daftar Pustaka
1. Barry S, Levy, et al. occupational and environmental helath. Ed.5. USA;2000.h. 505-9.
2. Jeyaratnam J. Buku ajar prakek kedokteran kerja. Jakarta : EGC;2010.h.206-15.
3. Diunduh dari : http://www.inchem.org/documents/pims/chemical/pim102.htm
Tanggal: 19 Oktober 2014

4. Diuduh dari : http://www.inchem.org/documents/cicads/cicads/cicad46.htm#1.0


Tanggal: 19 Oktober 2014
5. Spyker DA et al. (1999).Health effects of acute carbon disulphide exposure. J Toxicol &
Clin Toxicol.19(1): 87.
6. Rutchik, Jonathan S. "Organic Solvents." eMedicine. Eds. Roberta J. Seidman, et al. 18
Jan. 2002. Medscape. 27 Oct. 2004