Anda di halaman 1dari 25

MODUL ALERGI-IMUNOLOGI DAN INTOKSIKASI

Demam Typhoid
KELOMPOK X

Marissa Rusyani

03007156

Ahmad Fatahillah

03009006

Arianda Nurbani W

03009028

Boy Sandy Sunardhi

03009048

Dhika Claresta

03009068

Firdha Aqmarina

03009090

Hikmah Soraya

03009112

Krisna Adiyuda

03009132

Michelle Jansye

03009154

Ni Made Rai Wahyuni Setia

03009170

Ria Afriani

03009200

Shendy Noor Pratiwi

03009232

Umi Kalsum

03009258

Yulius Nugroho

03009280

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Jakarta, 4 April 2011

BAB I
PENDAHULUAN

Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit ini


termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-undang nomor 6 tahun 1962
tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit yang mudah menular
dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulka wabah.1
Demam tifoid adalah penyakit sistemik akut akibat infeksi Salmonella typhi yang
merupakan kuman patogen pada manusia yang menyebabkan infeksi invasif. Bila tidak
diobati dapat menyebabkan kematian pada 10%-20% kasus karena perforasi, perdarahan,
toksoemia, dan karena komplikasi lain.2-3
Oleh karena tingginya angka morbiditas dan mortalitas demam tifoid maka berbagai
pihak berupaya untuk menyelesaikan masalah ini. Salah satunya yaitu dengan mengupayakan
vaksinasi typhoid sebagai pencegahan primer. Pada tutorial modul AI kedua yang
dilaksanakan pada hari rabu, 23 Maret 2011 dan pada hari jumat, 25 Maret 2011 kelompok
kami mendiskusikan tentang efektivitas vaksinasi typhoid.

BAB II
LAPORAN KASUS

Tanggal 17 januari 2009 KRM mendapatkan vaksinansi tifoid di klinik imunisasi keluarga,
kelapa gading. Pada kartu imunisasi tertulis kekebalannya akan efektif selama 3 tahun.
Namun pada tanggal 18 Agustus 2010, laporan laboratorium menunjukkan KRM terkena
tifoid.
Setelah konsultasi ke dokter internis, KRM dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Pada 23
Agustus sampai 2 September 2010 KRM menghubungi klinik imunisasi tersebut dan
berbicara dengan dokternya. Pihak klinik menggunakan vaksin tifoid vi. Mereka mengatakan
bahwa vaksin tidak 100% efektif, melainkan sekitar 70% saja.

BAB III
STATUS PASIEN
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: KRM

Umur

:-

Jenis kelamin

: Laki-laki

Status Pernikahan

:-

Agama

:-

Pekerjaan

:-

Alamat

:-

Asal

:-

Pendidikan terakhir

:-

ANAMNESIS

Keluhan Utama

Demam typhoid

Riwayat Penyakit Sekarang

Demam thyphoid padahal sudah pernah vaksinasi typhoid sebelumnya (kurang


dalam kurun waktu 3 tahun)

Riwayat Penyakit Dahulu

:-

Riwayat Imunisasi

Pernah divaksinasi typhoid pada tanggal 17 Januari 2009 di klinik imunisasi


keluarga Kelapa Gading.

Riwayat Alergi

:-

Riwayat Penyakit Keluarga

:-

Riwayat Pengobatan

:-

Riwayat Kebiasaan

(perlu ditanyakan untuk mengetahui faktor predesposisi penyakit)


III.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
1. Tanda vital
4

a. Nadi

:-

b. Tekanan darah

:-

c. Pernapasan

:-

d. Suhu

:-

e. TB/BB

:-

2. Status mental
a. Kesadaran

:-

b. Kesan sakit

:-

c. Penampilan pasien

:-

3. Kulit
4. Kelenjar getah bening
5. Kepala dan wajah
6. Leher
7. Thorax
a. Jantung
b. Pulmo
8. Abdomen
9. Urogenital
10. Genitalia eksterna
11. Anus dan rectum
12. Ekstremitas
IV.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Darah Rutin
2. Pemeriksaan Widal
3. Kultur Darah

V.

DIAGNOSIS KERJA
Demam Thyphoid

VI.

PENATALAKSANAAN
1. Tirah baring
2. Pemberian antimikroba
3. Diet dan terapi penunjang
5

4. Edukasi
VII.

PROGNOSIS

Ad vitam
Ad sanationam
Ad fungtionam

: Bonam
: Dubia ad Bonam
: Bonam

BAB IV
PEMBAHASAN

I.

PATOFISIOLOGI KASUS

Pada kasus ini, pasien, bernama KRM menderita demam thyphoid.4

PENATALAKSANAAN 4

II.

a. Tirah baring. Tirah baring dan perawatan professional bertujuan untuk mencegah
komplikasi. Tirah baring dengan perawatan sepenuhnya di tempat seperti makan,
minum, mandi, buang air kecil, dan buang air besar akan membantu dan
mempercepat masa penyembuhan. Dalam perawatan perlu sekali dijaga
kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perlengkapan yang dipakai.
b. Pemberian antimikroba. Dengan tujuan menghentikan dan mencegah penularan
kuman. Diberikan Kloramfenikol 4x500 mg perhari oral atau i.v diberikan sampai
7 hari bebas panas.
c. Diet dan terapi penunjang. Diberikan bubur saring, kemudian ditingkatkan
menjadi bubur kasar dan akhirnya diberikan nasi yang pemberiannya disesuaikan
dengan tingkat kesembuhan pasien. Pemberian bubur saring ditujukan untuk
menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna atau perforasi usus.
d. Edukasi. Pasien diberikan edukasi tentang menjaga kebersihan pribadi dan
menjaga apa yang masuk mulut (diminum atau dimakan) dan pasien juga perlu
dianjurkan untuk vaksinasi kembali demam typhoid
III.
VAKSINASI
Imunisasi pada dewasa perlu dilakukan karena :

Efektivitas vaksin yang pernah di dapat tidak seumur hidup

Selalu ada paparan

Pada orang tua, respon imun mulai menurun

Mencegah wabah endemi di suatu wilayah

Mencegah penularan penyakit terhadap bayi yang di kandung

Bila belum pernah mendapatkan vaksinasi

Adanya resiko kerja

Hal yang harus dipersiapkan sebelum imunisasi:


1. Pasien:

Keadaan pasien
Tanyakan apakah pasien memiliki alergi tertentu?
Persiapan adrenalin ( bila terjadi shock anafilaktik)
Apakah saat ini pasien sedang menggunakan obat?
Apakah pasien dalam keadaan imunnodefidiensi?
Beritahu kepada pasien tentang kontraindikasi obat
8

Beritahu kepada pasien tentang keefektivan vaksin


Beritahu pasien tentang fungsi vaksin dan hal-hal tentang vaksin

2. Vaksin:

Periksa tanggal kadaluarsa vaksin


Berikan dosis yang tepat
Perhatikan cara penyimpanan vaksin
Perhatikan cara pemberian vaksin

Cara penyuntikan
a. Intramuskular (im): diberikan pada orang dewasa di daerah deltoid menggunakan
jarum A 22-25.
b. Subkutan (s.c) : diberikan pada daerah anterolateral paha atau lengan dengan jarum
A22-25 yang panjangnya 5/8 atau inci.
c. Intradermal (i.d) : diberikan pada bagian volar lengan. Karena jumlah antigen yang
disuntikkan sedikit tehnik penyuntikan harus benar dan setelah penyuntikan terbentuk
benjolan
Perkembangan Imunisasi dewasa di Indonesia tahun 2003 20085
1. Vaksin HPV
Kanker leher rahim merupakan kanker nomor 2 yang paling sering menyerang
wanita di seluruh dunia. Lebih dari 95 % dari kanker leher rahim disebabkan oleh virus
yang dikenal dengan Human Papiloma Virusgenital warts). Vaksin diberikan 3 dosis dalam
6 bulan. (HPV). HPV merupakan sejenis virus yang menyerang manusia. Terdapat lebih
dari 120 tipe HPV dan 2 tipe diantaranya yaitu tipe 16 dan 18, tipe tersebut merupakan tipe
terbanyak yang menyebabkan kanker leher rahim. Infeksi HPV paling sering terjadi pada
kalangan dewasa muda (18-28 tahun). Gejala awal kondisi pra-kanker umumnya ditandai
dengan ditentukannya sel-sel abnormal bawah leher rahim yang dapat ditemukan melalui
papsmear. HPV dapat menginfeksi semua orang karena HPV dapat menyebar melalui
hubungan seksual. Wanita yang mulai berhubungan seksual pada usia di bawah 20 tahun
serta sering berganti pasangan seksual berisiko tinggi untuk terkena HPV. Saat ini kanker
leher rahim dapat dicegah dengan pemberian vaksin HPV yang dapat membantu
memberikan perlindungan terhadap beberapa tipe HPV yang dapat menyebabkan masalah
dan komplikasi kanker leher rahim dan penyakit kutil kelamin.

2. Vaksinasi pada tenaga kesehatan


Terdapat beberapa vaksin yang direkomendasikan untuk tenaga kesehatan, yaitu:
a. Vaksinasi influenza. Vaksin ini direkomendasikan kepada setiap tenaga kesehatan
yang berhubungan dengan pasien dengan tujuan mengurangi angka kesakitan dan
mencegah penularan kepada pasien.
b. Vaksin Hepatitis A. Tidak semua tenaga kesehatan direkomendasikan untuk
mendapatkan vaksin ini kecuali pada mereka yang bekerja di laboratorium dengan
virus hepatitis A. Pegawai yang bertugas menangani makanan pasien (koki, pelayan,
pengantar makanan, bagian dapur, dll) dipertimbangkan untuk divaksinasi.
c. Vaksin Hepatitis B. Vaksin ini direkomendasikan untuk tenaga kesehatan yang
berhubungan/terpapar terhadap darah atau cairan tubuh pasien (dokter, pegawai
laboratorium, perawat, dll)
d. Vaksin Varisela. Vaksin ini direkomendasikan kepada setiap orang dewasa yang tidak
memiliki bukti imunitas terhadap vaksin ini. Bukti imunitas adalah: 1) bukti tertulis
pernah mendapatkan vaksin ini sebanyak 2 dosis; 2) riwayat terkena varisela yang
dikonfirmasi oleh dokter; 3) riwayat varisela zoster yang diverifikasi oleh dokter 4)
bukti laboratorium akan adanya imunitas atau pernah terkena.
e. Vaksin MMR. Vaksin ini juga direkomendasikan kepada setiap tenaga kesehatan
kecuali memiliki bukti imunitas. Bukti imunitas diantaranya: 1) lahir sebelum tahun
1957; 2) pernah mendapatkan 1 dosis MMR terdokumentasi; 3) riwayat terkena
campak, gondongan yang diverifikasi oleh dokter; 4) bukti laboratorium.
Berhubungan dengan faktor biaya, maka diantara berbagai vaksin tersebut yang
diutamakan adalah vaksin Hepatitis B. Namun jika ada kemudahan, petugas kesehatan
diharapkan juga dapat menjalani imunisasi dengan vaksin yang lain
3. Vaksinasi pada usia lanjut
Imunisasi yang dianjurkan pada usia lanjut adalah imunisasi influenza dan
pnumokok. Imunisasi influenza dianjurkan pada kelompok umur di atas 50 tahun. Imuniasi
influenza telah menjadi program di berbagai negara dan pada umumnya imunisasi ini
diberikan sebagai program pada kelompok umur di atas 65 tahun. Imunisasi influenza
diberikan setiap tahun. Namun, disadari bahwa pemberian imuniasi pada usia di atas 65
tahun sebenarnya terlambat karena banyak orang dengan usia yang lebih muda sebenarnya
akan mendapat manfaat perlindungan vaksin ini. Karena itu untuk imunisasi yang dibiayai
10

sendiri oleh masyarakat imunisasi influenza dianjurkan dimulai. Sejak umur 50 tahun.
Sedangkan bagi pasien yang berpenyakit kronik pemberian vaksin ini dianjurkan meski
usia di bawah 50 tahun (lihat indikasi imunisasi influenza)
Selain influenza juga direkomendasikan imunisasi penumokok. Vaksin ini cukup
diberikan 5 tahun sekali.
4. Vaksin Herpes Zooster
Di luar negeri telah tersedia vaksin Herpes Zoster. Vaksin ini masih dalam tahap
registrasi di Indonesia sampai naskah buku ini dibuat. Vaksin ini bermanfaat untuk
mencegah penularan Herpes Zoster. Untuk penderita usia lanjut vaksin ini juga bermanfaat
untuk mengurangi nyeri pasca infeksi herpes Zoster. Karena itu imunisasi Herpes Zoster
diutamakan untuk kelompok usia lanjut.
Jadwal Imunisasi Dewasa

Keterangan:
1. Direkomendasikan untuk setiap orang yang memenuhi kriteria usia dan tidak terdapat
bukti imunitas (tidak tercatat/terdokumentasi atau tidak pernah mendapatkan infeksi
sebelumnya)
2. Direkomendasikan jika faktor risiko lain ditemukan (yang berkaitan dengan risiko medis,
pekerjaan, gaya hidup, atau indikasi lain)

11

3. Beberapa perubahan yang terlihat dibandingkan rekomendasi oleh PAPDI tahun 2003
adalah:

Perbedaan pembagian kelompok usia, di mana pada jadwal tahun 2008 hanya
dikelompokkan menjadi 3 grup.

Penambahan jadwal vaksin untuk Human Papilloma Virus (HPV). Manfaat imunisasi
HPV nyata pada pasien yang belum pernah melakukan hubungan seksual dan dalam
kelompok umur pada usia dibawah 26 tahun. Namun imunisasi HPV masih
bermanfaat pada kelompok umur 27 sampai 55 tahun (meski manfaatnya tidak
sebesar mereka yang belum melakukan hubungan seksual atau usia < 26 tahun)

Penambahan jadwal vaksinasi Zoster yang diutamakan pada kelompok usia lanjut.

Berikut penjelasan rekomendasi jadwal imunisasi dewasa :


1. Tetanus dan Diphteria (Td)

Seluruh orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis seri primer dari
difteri dan toksoid tetanus, dengan 2 dosis diberikan paling tidak dengan jarak 4
minggu dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang
dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri
primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.

Macam vaksin : Toksoid

Efektivitas : 90 %

Rute Suntikan i.m

2. Measles, Mumps, Rubella: (MMR)

Orang dewasa yang lahir sebelum 1957 dianggap telah mendapat imunitas secara
alamiah. Orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau sesudahnya perlu mendapat 1
dosis vaksin MMR. Beberapa kelompok orang dewasa yang berisiko terpapar
mungkin memerlukan 2 dosis yang diberikan tidak kurang dari jarak 4 minggu.
Misalnya mereka yang kerja di fasilitas kesehatan dan yang sering melakukan
perjalanan.

Macam Vaksin : vaksin hidup

Efektivitas : 90-95%

Rute suntikan : s.c

12

3. Influenza

Vaksinasi influenza dilakukan setiap tahun bagi orang dewasa dengan usia 50 tahun;
penghuni rumah jompo dan penghuni fasilitas-fasilitas lain dalam waktu lama
(misalnya biara, asrama dsb); orang muda dengan penyakit jantung, paru kronis,
penyakit metabolisme (termasuk diabetes), disfungsi ginjal, hemoglobinopati atau
immunosupresi, HIV juga untuk anggota rumah tangga, perawat dan petugas-petugas
kesehatan di atas. Vaksin ini juga dianjurkan untuk calon jemaah haji karena risiko
paparan yang cukup tinggi. Di Amerika Serikat dan Australia imunisasi influenza
telah dijadikan program sehingga semua orang yang berumur 65 tahun atau lebih
mendapat layanan imunisasi infuenza melalui program pemerintah.

Macam vaksin : Vaksin split dan subunit

Efektivitas : 88 89%.

Rute Suntikan : i.m.

Catatan : vaksin ini dianjurkan untuk usia 50 tahun untuk individualsedangkan untuk
program, usia 65 tahun.

4.

Pneumokok

Vaksin polisakarida pneumokok diberikan , pada orang dewasa usia >65 tahun dan
mereka yang berusia < 65 tahun dengan penyakit kardiovaskular kronis, penyakit paru
kronis, diabetes melitus, alkoholik chirrosis, kebocoran cairan serebospinal, asplenia
anatomik/fungsional, infeksi HIV, leukemia, penyakit limfoma Hodgkins, mieloma
berganda, malignansi umum, gagal ginjal kronis, gejala nefrotik, atau mendapat
kemoterapiimunosupresif. Vaksinasi ulang secara rutin pada individu imunokompeten
yang sebelumnya mendapat Vaksinasi Pneumo 23 valensi tidak dianjurkan; tetapi,
revaksinasi dianjurkan jika vaksinasi sebelumnya sudah > 5 tahun dan juga:
a) Umur <65 th ketika divaksinasi terdahulu dan sekarang > 65 th
b) Merupakan individu berisiko tinggi terjadinya infeksi pneumokok yang serius
(sesuai deskripsi Advisory Comittee on Immunization Practice ,ACIP)
c) Individu yang mempunyai tingkat antibodi yang cepat sekali turun

Macam vaksin : polisakarida

Efektivitas : 90 %

Rute Suntikan : i.m. atau s.c.

13

5. Hepatitis A

Vaksin Hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak 6 hingga 12 bulan pada individu
berisiko terjadinya infeksi virus Hepatitis A, seperti penyaji makanan (food handlers)
dan mereka yang menginginkan imunitas, populasi yang berisiko tinggi mis: individu
yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara yang mempunyai
prevalensi tinggi Hepatitis A, homoseksual, pengguna narkoba, penderita penyakit
hati, individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi Hepatitis A atau peneliti
virus Hepatitis A,

Macam vaksin : antigen virus inaktif

Efektivitas : 94-100%

Rute :i.m

6. Hepatitis B

Dewasa yang berisiko terinfeksi Hepatitis B: Individu yang terpapar darah atau
produk darah dalam kerjanya, klien dan staff dari institusi pendidikan manusia cacat,
pasien hemodialisis, penerima konsentrat faktor VIII atau IX, rumah tangga atau
kontak seksual dengan individu yang teridentifikasi positif HBsAg-nya, individu yang
berencana pergi atau tinggal di suatu tempat dimana infeksi Hepatitis B sering
dijumpai, pengguna obat injeksi, homoseksual/biseksual aktif, individu heteroseksual
aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena PMS, fasilitas penampungan
korban narkoba, individu etnis kepulauan pasifik atau imigran/pengungsi baru dimana
endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan. Berikan 3-dosis dengan jadual 0, 1
dan 6 bulan. Bila setelah imunisasi terdapat respons yang baik maka tidak perlu
dilakukan pemberian imuniasasi penguat (booster).

Macam vaksin : Antigen virus inaktif

Efektivitas : 75-90%

Rute suntikan : i.m

7. Meningokok

Vaksin meningokok polisakarida tetravalen (A/C/Y/W-135) wajib diberikan pada


calon haji. Vaksin ini juga dianjurkan untuk individu defisiensi komponen, pasien
asplenia anatomik dan fungsional, dan pelancong ke negara di mana terdapat epidemi

14

penyakit meningokok (misalnMeningitis belt di sub-Sahara Afrika). Pertimbangkan


vaksinasi ulang setelah 3 tahun.

Macam vaksin : Polisakarida inaktif

Efektivitas : 90%

Rute suntikan : s.c.

8. Varisela

Vaksin varisela diberikan pada pada individu yang akan kontak dekat dengan pasien
yang berisiko tinggi terjadinya komplikasi (misalnya petugas kesehatan dan keluarga
yang kontak dengan individu imunokompromais). Pertimbangkan vaksinasi bagi
mereka yang berisiko tinggi terpapar virus varisela, seperti mereka yang pekerjaannya
berisiko (misalnya guru yang mengajar anak-anak, petugas kesehatan, dan residen
serta staf di lingkungan institusi), mahasiswa, penghuni serta staf institusi penyadaran
(rehabilitasi) anggota militer, wanita usia subur yang belum hamil, dan mereka yang
sering melakukan perjalanan kerja/ wisata. Vaksinasi terdiri dari 2 dosis yang
diberikan dengan jarak 4 8 minggu.

Macam vaksin : virus hidup dilemahkan

Efektivitas : 86 %

Rute suntikan : s.c.

Selain vaksin di atas juga digunakan vaksin berikut pada orang dewasa.
9. Demam Tifoid

Dianjurkan penggunaannya pada pekerja jasa boga, wisatawan yang berkunjung ke


daerah endemis. Pemberian vaksin Thypim vi perlu diulang setiap 3 tahun.

Macam vaksin : antigen vi inaktif

Efektivitas : 50-80 %

Rute suntikan : i.m.

10. Yellow fever

Vaksin ini diwajibkan oleh WHO bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Afrika
Selatan. Ulangan vaksinasi setiap 10 tahun.

Macam vaksin : virus hidup dilemahkan

Efektivitas : tinggi
15

Rute suntikan : s.c.

11. Japanese encephalitis

Untuk wisatawan yang akan bepergian ke daerah endemis (Asia) dan tinggal lebih
daripada 30 hari atau akan tinggal lama di sana, terutama jika mereka melakukan
aktivitas di pedesaan.

Macam vaksin : virus inaktif

Efektivitas : 91 %

Rute suntikan s.c

12. Rabies

Bukan merupakan imunisasi rutin,dianjurkan pada individu yang berisiko tingggi


tertular ( dokter hewan dan petugas yang bekerja dengan hewan , pekerja
laboratorium ) wisatawan berkunjung kedaerah endemis yang berisiko kontak dengan
hewan dan individu yang tergigit binatang tersangka rabies.

Macam vaksin : Virus yang dilemahkan

Juga tersedia serum (Rabies Immune Globulin).

Efektivitas : vaksin 100 %

Rute penyuntikan : IM , SC

IV.

VAKSINASI TYPHOID 6-7

Vaksin demam tifoid dapat diberikan melalui dua cara, yaitu secara oral dan parenteral (intra
muskular). Berikut pembahasan lebih dalam mengenai masing-masing vaksin:
3. Vaksin demam tifoid oral
Sasaran

: Anak umur > 6 tahun

Kemasan

: Kapsul

Komposisi

: Salmonella thypi yang telah dilemahkan

Penyimpanan

: Pada suhu 2o-8oC jangan sampai membeku

Daya proteksi

: 50%-80%

Booster

: Tiap 5 tahun

Cara pemberian

: Terdiri dari 4 kapsul yang diminum pada hari ke 1,3,5, dan 7. Tidak

boleh diminum dengan air yang tidak terlalu dingin maupun panas satu jam setelah
makan dan harus ditelan utuh.

16

Kontraindikasi

: pasien diare/muntah, wanita hamil, pemberian bersama antibiotik

maupun obat anti malaria


4. Vaksin polisakarida parenteral
Sasaran

: Anak umur > 2 tahun

Komposisi

: Untuk setiap 0,5ml mengandung kuman Salmonella thypi,

polisakarida 0,025ml, fenol dan larutan bufer yang mengandung natrium klorida,
disodium fosfat, monosodium fosfat dan pelarut suntikan
Penyimpanan

: Pada suhu 20o-8oC, jangan dibekukan

Daya proteksi

: 50%-80%

Booster

: Tiap 3 tahun sekali

Cara pemberian

: Secara umum disuntikkan secara intra muskular atau subkutan

dengan membentuk sudut 45o-60o. Pada anak berumur kurang dari 3 tahun penyuntikan
dilakukan di bagian paha anterolateral (m. fascus lateralis) sedangkan pada anak diatas 3
tahun dilakukan di m. deltoideus.
Kontraindikasi

: Alergi terhadap bahan-bahan dalam vaksin dan demam

17

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA
I.

DEMAM TIFOID4

Demam tifoid atau typhus abdominalis adalah suatu infeksi akut yang terjadi pada usus kecil
yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhi. Di Indonesia penderita demam tifoid cukup
banyak diperkirakan 800 /100.000 penduduk per tahun dan tersebar di mana-mana.
Ditemukan hampir sepanjang tahun, tetapi terutama pada musim panas.
Penularan dapat terjadi dimana saja, kapan saja, sejak usia seseorang mulai dapat
mengkonsumsi makanan dari luar, apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang
bersih. Biasanya baru dipikirkan suatu demam tifoid bila terdapat demam terus menerus lebih
dari 1 minggu yang tidak dapat turun dengan obat demam dan diperkuat dengan kesan anak
baring pasif, nampak pucat, sakit perut, tidak buang air besar atau diare beberapa hari.
EPIDEMIOLOGI
Insiden demam tifoid bervariasi tiap daerah dan biasanya terikat dengan sanitasi lingkungan,
di daerah rural (jawa barat) 157 kasus per 100.000 penduduk. Sedangakn di daerah urban
ditemukan 760-810 per 100.000 penduduk. Perbedaan indisen diperkotaan berhubungan erat
dengan penyediaan air bersih yang belum memadai serta sanitasi lingkingan dengan
pembuangan sampah yang kurang memenuhi syarat kesehatan lingkungan.
GEJALA KLINIS
Masa tuntas demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala knilis klinis yang
timbul bervariasi, dari ringan hingga berat. Dari asimtomatik hingga kematian. Pada minggu
pertama gejala klinis penyakit ini ditemunkan keluhan dan gejala serupa dengan penyakit
infeksi akut pada umumnya yaitu demam, nyeri kepala, pusing, anoreksia, nyeri otot, mual,
muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk, epistaksis. Pemeriksaan fisik
pada minggu pertama hanya didapatkan adanya kenaikan pada suhu badan. Sifat demam
adalah meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam hari.
Dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas berupa demam, bradikardia relatif,
lidah yang berselaput (kotor ditengah, tepi dan ujung merah, serta tremor), hepatomegali,
18

splenomegali, meteorismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau
psikosis.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Untuk ke akuratan dalam penegakan diagnosa penyakit, dokter akan melakukan beberapa
pemeriksaan laboratorium diantaranya :
1. Pemeriksaan darah rutin, leukositosos dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi
sekunder, ditemukan pula adanya anemia ringan dan trombositopenia. Pada pemeriksaan
hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. LED meningkat,
SGPT dan SGOT meningkat.
2. Pemeriksaan Widal adalah pemeriksaan darah untuk menemukan zat anti terhadap kuman
tifus. Widal positif kalau titer O 1/200 atau lebih dan atau menunjukkan kenaikan
progresif.
3. Uji TOBEX, uji ini mendeteksi antibodi anti-S. thypi O9 pada serum pasien, dengan cara
menghambat ikatan antara IgM anti-O9 yang terkonjugasi pada partikel latex yang
berwarna dengan lipopolisakarida S.thyphi yang terkonjugasi pada partikel magnetic
latex. Jka uji ini positif menandakan adanya infeksi Salmonellae serogroup D walau tidak
secara spesifik meninjuk S.thyphi. infeksi pada S.parathyphi menimbulkan hasil yang
negatif.
4. Uji Typhidot, uji ini mendeteksi antibodi IgM dan IgG yang terdapat pada protein
membran luar salmonellae thyphi. Hasil positif pada tes ini didapatkan 2-3 hari setelah
infeksi dan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgM dan IgG terhadap antigen
S.thyphi seberat 50 kD yang terdapat pada strio nitroselulosa.
5. Uji IgM Dipstik, uji ini secara khusus mendeteksi antibody IgM spesifik terhadap
S.thyphi pada spesimen serum atau white blood.
6. Kultur darah, hasil biakan positif memastian demam tifoid, akan tetapi hasil negatif tidak
menyingkirkan demam tifoid karena ada beberapa kemungkinan seperti telah mendapat
terapi antibiotik, volume darah yang kurang, riwayat vaksinasi dan saat pengambilan
darah setelah minggu pertama oada saat aglutinasi semakin meningkat.
Sampel darah yang positif dibuat untuk menegakkan diagnosa pasti. Sample urine dan faeces
dua kali berturut-turut digunakan untuk menentukan bahwa penderita telah benar-benar
sembuh dan bukan pembawa kuman (carrier).

19

Sedangkan untuk memastikan apakah penyakit yang diderita pasien adalah penyakit lain
maka perlu ada diagnosa banding. Bila terdapat demam lebih dari lima hari, dokter akan
memikirkan kemungkinan selain demam tifoid yaitu penyakit infeksi lain seperti Paratifoid
A, B dan C, demam berdarah (Dengue fever), influenza, malaria, TBC (Tuberculosis), dan
infeksi paru (Pneumonia).
PENATALAKSANAAN
Pengobatan penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit terdiri dari pengobatan
suportif meliputi istirahat dan diet, medikamentosa, terapi penyulit (tergantung penyulit yang
terjadi). Istirahat bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan.
Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurag lebih
selama 14 hari. Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
Diet dan terapi penunjuang dilakukan dengan pertama, pasien diberikan bubur
saring, kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.
Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi
dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan
dengan aman. Juga perlu diberikan vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum
pasien.
Pada kasus perforasi intestinal dan renjatan septik diperlukan perawatan intensif dengan
nutrisi parenteral total. Spektrum antibiotik maupun kombinasi beberapa obat yang bekerja
secara sinergis dapat dipertimbangkan. Kortikosteroid perlu diberikan pada renjatan septik.
Pemberan antimikroba juga dapat dilakukan, obat-obat antimikroba yang sering digunakan
untuk mengobati demam tifoid adalah kloramfenikol, tiramfenikol, kotrimoksazol, ampisilin
dan amoksisilin, sefalosporin generasi ketiga, dan golongan flourokuinolon.
Pemberian azitromisin juga dapat dilakukan karena telah dibuktikan bahwa penggunaan obat
ini juka dibandingkan dengan flourokuinolon, azitrimisin secara signifikan mengurangi
kegagalan klinis dan durasi rawat inap.
KOMPLIKASI
Komplikasi demam tifoid dapat dibagi di dalam :
1. Komplikasi intestinal
2. Perdarahan usus
3. Perforasi usus
4. Ileus paralitik
20

5. Komplikasi ekstraintetstinal
a. Komplikasi kardiovaskular: kegagalan sirkulasi perifer (renjatan/sepsis), miokarditis,
trombosis dan tromboflebitis.
b. Komplikasi

darah:

anemia

hemolitik,

trombositopenia

dan atau

koagulasi

intravaskular diseminata dan sindrom uremia hemoltilik.


c. Komplikasi paru: penuomonia, empiema dan peluritis.
d. Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis.
e. Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis dan perinefritis.
f. Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis dan artritis.
g. Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, mengingismus, meningitis, polineuritis perifer,
sindrim Guillain-Barre, psikosis dan sindrom katatonia.
Pada anak-anak dengan demam paratifoid, komplikasi lebih jarang terjadi. Komplikasi lebih
sering terjadi pada keadaan toksemia berat dan kelemahan umum, bila perawatan pasien
kurang sempurna.
PENCEGAHAN
Pencegahan demam tifoid diupayakan melalui berbagai cara: umum dan
khusus/imunisasi. Termasuk cara umum antara lain adalah peningkatan higiene dan sanitasi
karena perbaikan higiene dan sanitasi saja dapat menurunkan insidensi demam tifoid.
(Penyediaan air bersih, pembuangan dan pengelolaan sampah). Menjaga kebersihan pribadi
dan menjaga apa yang masuk mulut (diminum atau dimakan) tidak tercemar Salmonella
typhi. Pemutusan rantai transmisi juga penting yaitu pengawasan terhadap penjual (keliling)
minuman/makanan.
Ada dua vaksin untuk mencegah demam tifoid. Yang pertama adalah vaksin yang
diinaktivasi (kuman yang mati) yang diberikan secara injeksi. Yang kedua adalah vaksin yang
dilemahkan (attenuated) yang diberikan secara oral. Pemberian vaksin tifoid secara rutin
tidak direkomendasikan, vaksin tifoid hanta direkomendasikan untuk pelancong yang
berkunjung ke tempat-tempat yang demam tifoid sering terjadi, orang yang kontak dengan
penderita karier tifoid dan pekerja laboratorium. Vaksin tifoid yang diinaktivasi (per injeksi)
tidak boleh diberikan kepada anak-anak kurang dari dua tahun. Vaksin tifoid yang
dilemahkan (per oral) tidak boleh diberikan kepada anak-anak kurang dari 6 tahun.
Suatu vaksin, sebagaimana obat-obatan lainnya, bisa menyebabkan problem serius
seperti reaksi alergi yang parah. Resiko suatu vaksin yang menyebabkan bahaya serius atau
21

kematian sangatlah jarang terjadi. Problem serius dari kedua jenis vaksin tifoid sangatlah
jarang. Pada vaksin tifoid yang diinaktivasi, reaksi ringan yang dapat terjadi adalah : demam,
sakit kepada ,kemerahan atau pembengkakan pada lokasi injeksi. Pada vaksin tifoid yang
dilemahkan, reaksi ringan yang dapat terjadi adalah demam atau sakit kepala, perut tidak
enak, mual, muntah-muntah atau ruam-ruam (jarang terjadi).
II.

SALMONELLA

Enterobacteriaceae merupakan kelompok bekteri


Gram negatif berbentuk batang yang habitat
alamiahnya berada pada sistem usus manusia dan
bintang. Keluarga enterobacteriacecae meliputi
banyak

jenis

yaitu

salmonella,

escherichia,

klebsiella,

shigella,
proteus,

enterobacter,serratia dan lainnya


Salmonellae
Salmonellae
berukuran

berbentuk

Gram

negatif

sekitar 4m x 0.6 m yang tidak

bersimpai dan tidak berspora serta memiliki


flagel/ fimbria sebagai alat gerak. Sifat biakan
salmonellae ialah bersifat aerob dan ada juga
sebagian yang aerob fakultatif. Suhu optimum yang dibutuhkan salmonella untuk
pertumbuhan ialah 37 0C dan PH optimumnya 6-8. Salmonella tumbuh cepat dalam media
yang sederhana , tetapi mereka hampir tidak pernah memfermentasikan laktosa atau sukrosa.
Mereka membentuk asam dan kadang gas dari glukosa dan mannosa. Gas yang diproduksi
merupakan H2S namun khusus untuk Salmonella typhi hanya membuat asam tanpa
pembentukan gas H2S. Salmonellae tahan terhadap bahan kimia tertentu misalnya brilliant
green, sodium tetrathionate, sodium deoxycholate yang menghambat bakteri enterik lain dan
senyawa tersebut

kemudian digunakan untuk di tambahkan pada media dalam

mengisolasikan salmonella dari tinja.8-9


KLASIFIKASI
Anggota jenis salmonella diklasifikasikan menurut dasar epidemiologi , jenis inang,
reaksi biokimia, dan struktur antigen O, H, dan Vi. Ada lebih dari 2400 serotipe
salmonellatermasuk lebih dari 1400 dalam DNA
22

yanf hibridasasi group I yang dapat

menginfeksi manusia. Empat jenis salmonella yangmenyebabkan demam enterik yaitu


Salmonellatyphi, Salmonella paratyphi, dan Salmonella choleraesuis. 9
Salmonella typhi merupakan penyebab utama demam enterik (demam typhoid).
Struktur antigen Salmonella thyphi :
Antigen somatik ( O ) ialah kompleks fosfolipid protein polisakarida yang tahan terhadap
pendidihan, alkohol, dan asam. Antigen ini kurang imunogenik dan biasanya dideteksi
dengan cara aglutinasi bakteri. Antibodi terhadap antigen O adalah IgM
Antigen flagel ( H ) ialah protein termolabil, rusak oleh pendidihan dan alkohol. Antigen ini
sangat imunogenik. Antibodi terhadap antigen H adalah IgG
Antigen Vi ialah antigen permukaan serta bersifat termolabi l dan virulen.beberapa antigen Vi
adalah polisakarida Pada pemberian serum anti O tidak terjadi penggumpalan namun dapat di
kumpalkan jika dipanaskan dengan suhu 600C selama 1 jam 8
EPIDEMIOLOGI
Di dunia, 21 juta orang terinfeksi oleh salmonella dan 200 ribu diantaranya
dinyatakan meninggal. Salmonella dapat menginfeksi berbagai jenis makhluk hidup,
diantaranya reftilia, hewan pengerat, unggas, hewan piaraan, dan manusia. Kebanyakan
infeksi ini berasal dari makanan yang terkontaminasi dan pada anak-anak menular melalui
fecal-oral 10
Sumber infeksi adalah sumber infeksi adalah makanan dan minuman yang terkontaminasi
salmonella dapat melalui:
1. Air - kontaminasi tinja sering mengakibatkan epidemik yang eksplosif
2. Susu dan produk susu lain-Kontaminasi oleh tinja dan pasturisasi yang tidak cukup
3. Kerang-dari air yang terkontaminasi
4. Telur(dried or frozen egg)- dari binatang yang terinfeksi atau kontminasi selama
prose pendingin
5. Daging atau produk daging- dari binatang yang terinfeksi
6. Pewarna binatang
7. Binatang peliharaan di rumah-kura-kura,anjing, kucing 9

23

BAB VI
KESIMPULAN
Jenis vaksin typhoid ada dua vaksin oral (Ty21a) dan vaksin parenteral (ViCPS).
Jenis vaksin dan jadwal pemberiannya, yang ada saat ini di Indonesia hanya ViCPS (Typhim
Vi). Serokonversi (peningkatan titer antibody 4 kali) setelah vaksinasi dengan ViCPS terjadi
secara cepat yaitu sekitar 15 hari sampai dengan 3 minggu dan bertahan selama 3 tahun. Oleh
karena itu perlu dilakukan vaksinasi ulang setiap 3 tahun 1
Keberhasilan suatu vaksin dipengaruhi oleh faktor vaksin dan manusia itu sendiri.
Vaksin akan bekerja efektiv jika kedua faktor tersebut dipenuhi. Efektivitas vaksin typhoid
tidak 100% efektif, melainkan 50%-70%, maka yang sudah divaksinasipun dianjurkan untuk
melakukan seleksi pada makanan dan minuman yang akan ia konsumsi. 3

24

BAB VII
DAFTAR PUSTAKA
1. Tim Ilmu Penyakit Dalam. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2006:1752-1757
2. Anonymous.
Vaksinasi
Tifus.

30

Desember

2004.

Available

at:

http://www.aventispasteur.co.id/produk_typhin_um.htm
3. Tim Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Pedoman Imunisasi Di Indonesia. 3rd ed. Jakarta :
Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia: 2008: 192-196.
4. Widodo D. Demam Tifoid. In: Sudoyo A.W, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati
S, editors. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. 5th ed. Jakarta: Interna Publishing;
2009; p. 2797-2805
5. Firmansyah
MA.

Konsensus

Imunisasi

Dewasa.

Available

at:

http://www.imunisasidewasa.com . Accessed 27 Maret 2011


6. Ranuh I.G.N, Suyitno H, Hadinegara S.R.S, Kartasasmita C.B, Ismoedijanto,
Soedjatmiko. Pedoman Imunisasi di Indonesia. 3th ed. Badan Penerbit Ikatan Dokter
Indonesia; 2008. p.194-5
7. Typhoid Vaccine (live) oral. Available at: http//www.drugs.com/mtm/typhoid-vaccinelive-oral.htm. Updated: December 15th, 2010. Accessed: March 23th, 2011
8. Gupte S. Enterobacteriaceae. Dalam: Mikrobiologi Dasar. 3rd ed. Jakarta: Binarupa
Aksara;1990. p.157-62
9. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Bakteri Gram-Negatif Berbentuk Batang
(Enterobacteriaceae). Dalam: Mikrobiologi Kedokteran. In: Mudihardi E,Wasito EB,
Mertaniasih NM, editors. Jakarta: Salemba Medika ; 2001.p.364-70
10. Murray PR, Rosenthal KR, Pfallier MA. Enterobacteriaceae. In : Medical Microbiology.
5th ed. United State of America: Elsevier Mosby ; 2005.p.330-2

25