Anda di halaman 1dari 19

Laporan Kasus Hipertensi

Family Folder
Puskesmas Grogol II, Juli 2013
*Albert Chandra Wijaya / 102010249
Fakultas Kedokteran Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarata Barat 11470
darkfilipi92@yahoo.com

LATAR BELAKANG
Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan dokter praktek umum yang menerapkan prinsip
prinsip

kedokteran

keluarga,

yaitu

komprehensif,

koordinatif,

kolaboratif,

kontinu,

mengutamakan pencegahan, memperlakukan pasien secara holistik. Oleh karena itu perlu
diketahui latar belakang pasien dengan mengadakan kunjungan ke rumah rumah. Tujuannya
untuk melihat lingkungan sekitar rumah pasien, melihat kondisi kehidupan pasien, sekaligus
untuk memberikan pelayanan kesehatan berupa penyuluhan dan edukasi mengenai penyakit
pasien agar pengobatan yang diberikan tepat sasaran dan agar tujuan dari sasaran pelayanan
dokter keluarga tercapai yaitu keluarga sehat.

MASALAH
Masalah yang akan dibahas disini berkaitan dengan hasil kunjungan ke rumah pasien adalah
hiperensi pada bapak bernama Wie Wat Eng (Iwan). Dimana si bapak datang ke puskesmmas
untuk control tensi darahnya.

TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah skill lab family folder ini adalah untuk memahami
riwayat hipertensi, pendekatan dokter keluarga, promosi kesehatan, upaya preventif penyakit,
kesehatan lingkungan serta early diagnose dan prompt treatment dari penyakit TBC paru.

SASARAN
Sasaran dari kunjungan ke rumah pasien adalah pasien yang mengalami sakit, dalam hal ini
bapak yang menderita sakit hipertensi. Selain itu juga kepada keluarga pasien dengan
memberikan penyuluhan dan tambahan edukasi guna menghindari penyakit tersebut.

DATA dan PEMBAHASAN


Puskesmas: Puskesmas Kelurahan Grogol II Kecamatan Grogol Petamburan
Nomor Register: 135/12
I.

Identitas Pasien
a. Nama

: Wie Wat Eng (Iwan)

b. Umur

: 61 tahun

c. Jenis Kelamin

: laki - laki

d. Pekerjaan

: wiraswasta

e. Pendidikan

II.

: SMA (tamat)

f. Alamat

: Kali Anyar 10 no 11A RT 005 RW 008

g. Telpon

: 021-63853070

Riwayat Biologis Keluarga


a. Keadaan Kesehatan sekarang

: Baik

b. Kebersihan Perorangan

: Baik

Kebersihan pasien dapat dikatakan baik karena yang terlihat dari hygiene rambut,
tangan dan kaki tampak bersih. Gigi geligi dan pakaian yang digunakan pun tampak
c.
d.
e.
f.
g.

bersih.
Penyakit yang sering diderita
: Batuk
Penyakit keturunan
: Diabetes Melitus dan Hipertensi
Penyakit kronis/menular
: Diabetes Melitus dan Hipertensi
Kecacatan anggota keluarga
: Tidak ada
Pola Makan
: Baik
Pola makan pasien dapat dikatakan baik karena menurut pengakuan pasien, pasien

makan sehari 3 kali dengan lauk dan sayuran.


h. Pola istirahat
: Baik
i. Jumlah Anggota Keluarga
: 7 orang

III.

Psikologis Keluarga
a. Kebiasaan buruk
b.
c.
d.
e.

IV.

: Dulu sering merokok dan minum kopi tapi setelah di

diagnosis ada hipertensi sudah tidak pernah merokok dan minum kopi lagi.
Pengambil keputusan
: Bapak.
Ketergantungan obat
: Obat hipertensi
Tempat mencari pelyanan kesehatan: Puskesmas di grogol II
Pola Rekreasi
: Kurang (lebih suka di rumah)

Keadaan Rumah/Lingkungan
a. Jenis bangunan
: Rumah permanen
b. Lantai rumah
: Keramik
c. Luas rumah
: 5x13 m
d. Penerangan
: Baik
e. Kebersihan
: Sedang
f. Ventilasi
: Kurang
g. Dapur
: Ada
h. Jamban keluarga
: Ada
i. Sumber Air minum
: Air aqua
j. Sumber Pencemaran air : Ada
- Karena di rumahnya ada sebuah wadah air yg ada jentik nyamuk dan banyak
tumpukan barang yang cukup padat
k. Pemanfaatan pekarangan : tidak ada
- Tidak ada pepohonan atau pot tanaman di rumah bapak Iwan
l. Sistem pembuangan air limbah : Ada
m. Tempat pembuangan sampah
: Ada
n. Sanitasi lingkungan
: Kurang

V.

Spiritual Keluarga
a. Kegiatan beribadah
: Baik
- Dapat dikatakan baik, karena pasien yang beragama Budha, menjalankan ibadah
ke vihara di daerah jembatan besi
b. Keyakinan tentang Kesehatan : Baik

VI.

Keadaan Sosial Keluarga


a.
Tingkat pendidikan
: Sedang
b. Hubungan anggota keluarga : Baik
c.
Hubungan dengan orang lain : Baik

Pasien dapat menjalin hubungan yang baik antara tetangga dan orang-orang di
sekitarnya dan waktu mencari rumahnya tetangga di sekitar rumahnya dapat

memberitahu dimana rumah bapak iwan berada.


d. Kegiatan organisasi sosial : Kurang
e.
Keadaan ekonomi
: Sedang
- Keluarga mempunyai pekerjaan tetap dengan penghasian sekitar 2,5 4 jt
VII.
VIII.
Nama

perbulannya
Kultural Keluarga
a. Adat yang berpengaruh : China
Daftar Anggota Keluarga
Hub

Umur

dgn KK

Pendidika

Pekerjaan

Agama

Keadaan

Keadaa

Imu

Kesehata

n Gizi

nisas B

n
Wie Wat Suami

61

SLTA

Wiraswasta

Eng
Herawati

Istri

57

SLTA

Ibu

Rita

Anak

37

S1

tangga
Karyawan

Diana
Dennis
Yeho

Anak
Cucu

32
11

SLTA
SD

Dian

Cucu

12

SLTP

Zefanya

Cucu

SD

X.
XI.

Budha

Baik

Baik

rumah Budha

Baik

Baik

Kristen

Baik

Baik

Karyawan
Siswa

Budha
Kristen

Baik
Baik

Baik
Baik

Len

Siswa

Kristen

Baik

Baik

gkap
Len

Baik

gkap
Len

Siswa

Kristen

Baik

Keluhan Utama : dia datang hanya untuk cek up tekanan darahnya


Keluhan Tambahan : Riwayat Penyakit Sekarang : pasien sudah menderita hipertensi sejak umur 50 th, tidak
ada alergi obat

ngan

gkap

IX.

Ketera

XII.
XIII.

Riwayat Penyakit Dahulu : Diabetes Melitus


Pemeriksaan Fisik
TD: 140/90
Nadi: 96
RR: 26
Suhu: 37,0o
Keadaan umum : baik
Kesadaran : compos mentis

XIV.

Diagnosis Penyakit
Hipertensi dalam pengobatan yang terkontrol
DD:

XV.

Diagnosis Keluarga
Hipertensi

XVI.

Anjuran penatalaksanaan penyakit :


a. Promotif :
Menghimbau kepada orang tua lain yang berusia di atas 45 tahun dan yang berisiko
tinggi untuk memiliki hipertensi, agar dapat menjalankan pola hidup sehat dengan
mengkonsumsi makanan yang sehat, tidak tinggi kolesterol, menghindari rokok,
melakukan olahraga ringan dan mengurangi aktivitas yang berat dan menyita banyak
pikiran.
b. Preventif :
Menjalankan pola atau gaya hidup yang sehat dengan mengkonsumsi makanan yang
tidak tinggi kandungan kolesterolnya, mengurangi konsumsi kacang-kacangan,
menghindari rokok, berolahraga ringan, mengurangi aktivitas yang membutuhkan
banyak pikiran, menghindari stress, hindari makanan mengandung asam urat,
membatasi aktivitas fisik.
c. Kuratif :
Terapi medika mentosa :
Diuretik: HCT 1 - 2 X 25 mg/ hari atau furosemid 1-2 X 40 mg/ hari.
Kontraindikasi: DM, Gout

Beta bloker : Propanolol 2-3 X 10 mg / hari. Kontraindikasi : Asma, DM, Gagal

Jantung
Adrenergik neuron bloker : Reserpin 1-3 X 0,1 mg . Kontraindikasi : ulkus

ventrikuli
ACE-inhibitor: captopril 2-3 12,5-25 mg

Terapi non medika mentosa


1.
Mengurangi asupan garam ke dalam tubuh. Harus memperhatikan
kebiasaan makan penderita hipertensi.
2.
Menghindari stress. Ciptakan suasana yang menenangkan bagi pasien
penderita hipertensi.
3.
Memperbaiki gaya hidup yang kurang sehat. Anjurkan kepada pasien
penderita hipertensi untuk melakukan olahraga seperti senam aerobik atau
jalan cepat selama 30-45 menit sebanyak 3-4 kali seminggu. Selain itu
menghentikan kebiasaan merokok dan mengurangi minum minuman
beralkohol sebaiknya juga dilakukan
d. Rehabilitatif :
Kontrol penyakit ke dokter minimal sebulan sekali.
Monitoring :
o Tekanan darah
o Kerusakan target organ :
Mata (Retinopati hipertensi)
Ginjal (Nefropati hipertensi)
Jantung (HHD)
Otak (Stroke)
Interaksi obat dan efek samping
Kepatuhan

XVII.

Prognosis:
-

XVIII.

Penyakit : dubia ad bonam


Keluarga : dubia ad bonam
Masyarakat : dubia ad bonam

Resume:
Dari hasil pemeriksaan saat kunjungan rumah pada hari Rabu, 10 juli 2013, didapatkan
bahwa pasien adalah penderita Hipertensi stage I kronik terkontrol. Pasien kurang memiliki
pengetahuan tentang penyakitnya sehingga melakukan pola hidup yang salah, kurang tidur,
kurang olahraga. Rumah pasien tergolong rumah yang tidak sehat dilihat dari kurangnya

ventilasi dan udara dalam ruangan yang panas. Oleh karena itu pasien disarankan untuk
melakukan pencegahan sekunder untuk mencegah komplikasi yang dapat timbul dengan
minum obat secara teratur, kontrol tekanan darahnya secara rutin minimal 1 bulan sekali dan
olahraga secara teratur, memperbaiki pola makan dan melakukan hal-hal yang terdapat dalam
perilaku hidup sehat. Sedangkan keluarga pasien sebagai kelompok resiko tinggi, dianjurkan
untuk berperilaku hidup sehat sedini mungkin dan mengontrol tekanan darah secara teratur
dan hidup dengan pola makan yang sehat. Untuk mencapai kesehatan yang menyeluruh
hendaknya didukung pula oleh kondisi rumah yang sehat, oleh karena itu pasien disarankan
untuk memperbaiki ventilasi ruangan.

Tinjauan Pustaka
A.

Pendahuluan

Sampai saat ini hipertensi masih tetap menjadi masalah karena beberapa hal, antara lain
mneingkatnya prevalensi hipertensi, masih banyaknya pasien hipertensi yang belum mendapat
pengobatan maupun yang sudah diobati tetapi tekanan darahnya belum mencapai target, serta
adanya penyakit penyerta dan komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.

B.

Epidemiologi

Data epidemiologi menunjukkan bahwa dengan makin meningkatnya populsi usia lanjut, maka
jumlah pasien dengan hipertensi kemungkinan besar juga bertambah, dimana baik hipertensi
sistolik maupu n kombinasi hipertensi sistolik dan diastolic sering timbul pada lebih dari separuh
orang yang berusia > 65 tahun. Selain itu laju pengendalian tekanan darah yang dahulu terus
meningkat, dalam decade terakhir tidak menunjukkan kemajuan lagi dan pengendalian tekanan
darah ini hanya mencapai 34 % dari seluruh pasien hipertensi.
Sampai saat ini data hipertensi yang lengkap sebagian besar berasal dari Negara-negara yang
sudah maju. Data dari The National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES)
menunjukkan bahwa dari tahun 1999-2000, insidens hipertensi pada orang dewasa adalah sekitar
29-31 % yang berarti terdapat 58-65 juta orang hipertensi di Amerika, dan terjadi peningkatan 15
juta dari data NHANES III tahun 1988-1991.

C.

Definisi

Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya didefinisikan sebagai hipertensi esensial. Beberapa
penulis lebih memilih istilah hipertensi primer, untuk membedakannya dengan hipertensi lain
yang sekunder yang sebab-sebab yang diketahui.

Menurut The Seven Report of The Joint National Committee on Prevention, Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure(JNC7) kalsifikasi tekanan darah pada orang
dewasa ternagi menjadi kelompok normal, prahipertensi, hipertensi derajat 1 dan hipertensi
derajat 2 (Tabel 1)

Klasifikasi Tekanan darah

TDS (mmHg)

TDD (mmHg)

Normal
Prahipertensi
Hipertensi derajat 1
Hipertensi derajat 2

< 120
120 139
140 159
160

< 80
80 89
90 99
100

TDS= Tekana Darah sistolik, TDD = Tekanan Darah Diastolik

D.

Patogenesis

Hipertensi esensial adalah multifaktorial yang timbul terutama karena interaksi antara faktorfaktor resiko tertentu. Faktor-faktor resiko yang mendorong timbulnya kenailan tekanan darah
tersebut adalah :
1. Faktor resiko, seperti: diet dan asupan garam, stress, ras, obesitas, merokok dan genetis
2. System saraf simpatis

Tonus simpatis

Variasi diurnal
3. Keseimbangan antara modulator vasodilatasi dan vasokonstriksi : endotel pembuluh darah
berperan utama, tetapi remodeling dari endotel, otot polos dan interstitium juga memberikan
kontribusi akhir
4. Pengaruh system otokrin setempat yang berperan pada system rennin, angiotensin dan
aldosteron.

E.

Kerusakan Organ Target

Hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum ditemui pada pasien hipertensi adalah :
1. Jantung

Hipertrofi ventrikel kiri


Angina atau infark miokardium

Gagal jantung
2. Otak

Stroke atau transient ischemic attack


3. Penyakit ginjal kronis
4. Penyakit arteri perifer
5. Retinopati
Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakn organ-organ tersebut dapat melalui
akibat langsung dari kenaikan tekanan darah pada organ, atau karena efek tidak langsung , antara
lain adanya autoantibodi terhadap reseptor ATI angiotension II, stress oksidatif, down regulation
dari ekspresi nitric oxide synthase. Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam
dan sensitivitas terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target,
misalnya kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth factor (TGF-).
Adanya kerusakan organ target terutama pada jantung dan pembuluh darah,, akan memperburuk
prognosis pasien hipertensi. Tingginya morbidaitas dan mortalitas pasien hipertensi terutama
disebabkan oleh timbulnya penyakit kardiovaskular.
Faktor resiko penyakit kardiovaskular pada pasien hipertensi antara adalah :

Merokok

Obesitas

Kurangnya aktivitas fisik

Dislipidimia

Diabetes mellitus

Mikroalbiminuria

Umur (laki-laki) > 55 tahun, perempuan 65 tahun

Riwayat keluarga dengan penyakit jantung kardiovaskular premature


Pasien dengan prahipertensi beresiko mengalami peningkatan tekanan darah menjadi hipertensi,
mreka yang tekanan darahnya berkisar antara 130-139/80-89 mmHg dalam sepanjang hidupnya
akan mengalami dua kali resiko menjadi hipertensi dan mengalami kardiovaskular daripada yang
tekanan darahnya lebih rendah.
Pada orang yang berumur lebih dari 59 tahun, tekanan darah sistolik > 140 mmHg merupakan
faktor resiko yang lebih penting untuk terjadinya penyakit kardiovaskular daripada tekanan darah
diastolik :

Resiko penyakit kardiovaskular dimulai pada tekanan darah 115/75 mmHg meningkat dua
kali dengan tiap kenaikan 20/10 mmHg


Resiko penyakit kardiovaskular bersifat kontinyu, konsisten dan independen dari faktor
resiko lainnya

Individu berumur 55 tahun memiliki 90% resiko untuk mengalami hipertensi

F.

Evaluasi Hipertensi

Evaluasi pada pasien hipertensi bertujuan untuk :


1. Menilai pola hidup dan identifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular lainnya atau menilai
adanya penyakit penyerta yang mempengaruhi prognosis dan menentukan pengobatan
2. Mencari penyebab kenaikan tekanan darah
3. Menentukan ada tidakanya kerusakan target organ dan penyakit kardiovaskular
Evaluasi pasien hipertensi adalah dengan melakukan anamnesis tentang keluhan pasien, riwayat
penyakit dahulu dan penyakit keluarga, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang.
Anamnesis meliputi :
1. Lama menderita hipertensi dan derajat tekanan darah
2. Indikasi adanya hipertensi sekunder
a) Keluarga dengan riwayat penyakit ginjal
b) Adanya penyakit ginjal, infeksi saluran kemih, hematuri, pemakian obat-obat analgesic
c) Episode berkeringat, sakit kepala, kecemasan, palpitasi (feokromositoma)
d) Episode lemah otot dan tetani (aldosteronisme)
3. Faktor-faktor resiko :
a) Riwayat hipertensi atau kardiovaskular pada pasien atau keluarga pasien
b) Riwayat hiperlipidemia pada pasien atau keluarga pasien
c) Riwayat diabetes mellitus pada pasien atau keluarga pasien
d) Kebiasaan merokok
e) Pola makan
f)
Kegemukan, intensitas olahraga
g) Kepribadian
4. Gejala kerusakan organ
a) Otak dan mata : sakit kepala, vertigo, gangguan penglihatan, transient ischemic attack,
deficit sensoris atau motoris
b) Jantung : nyeri dada, sesak, bengkak kai
c) Ginjal : haus, poliuria, nokturia, hematuri
d) Arteri perifer : ekstremitas dingin
5. Pengobatan antihipertensi sebelumnya
6. Faktor-faktor pribadi, keluarga dam lingkungan.

Pemeriksaan fisik selain memeriksa tekanan darah, juga untuk evaluasi adanya penyakit
penyerta, kerusakan organ target serta kemungkinan adanya hipertensi sekunder.
Pengukuran tekana darah :

Pengukuran rutin di kamar periksa

Pengukuran 24 jam (Ambulatory Blood Pressure Monitoring-ABPM)

Pengukuran sendiri oleh pasien


Pemeriksaan penunjang pasien hipertensi terdiri dari :

Tes darah rutin

Gluukosa darah

Kolesterol total serum

Kolesterol LDL dan HDL serum

Trigliserida serum

Asam urat serum

Kreatinin serum

Kalium serum

Hemoglobin dan hematokrit

Urinalisis

Elektrokardiogram
Beberapa pedoman penanganan hipertensi menganjurkan test lain seperti :

Esokardiogram

USG karotis

C-reactive protein

Mikroalbuminuria atau perbandingan albumin/kreatinin urin

Proteinuria kuantitatif

Funduskopi
Evaluasi pasien hipertensi juga diperlukan untuk menentukan adanya penyakit penyerta sistemik,
yaitu :

Arteriosklerosis (malalui pemerikasaan profil lemak)

Diabetes (terutama pemerikasaan gula darah)

Fungsi ginjal (dengan pemeriksaan proteinuria, kreatinin serum, serta memperkirakan laju
filtrasi glomerulus)
Pada pasien hipertensi, beberapa pemeriksaan untuk menentukan kerusakan organ target dapat
dilakukan secara rutin, sedanga pemeriksaan lainnya hanya dilakukan bila ada kecurigaan yang
didukung oleh keluhan dan gejala pasien. Pemeriksaan untuk mengevaluasi adanya kerusakan
organ target meliputi :
1. Jantung


Pemeriksaan fisis

Foto polos dada (untuk pembesaran jantung, kondisi arteri intratoraks dan sirkulasi
pulmoner)

Elektrokardiografi (untuk deteksi iskemia, gangguan konduksi, aritmia, serta hipertrofi


ventrikel kiri)

Ekokardiografi
2. Pembuluh darah

Pemeriksaan fisis termasuk perhitungan pulse pressure

Ultrasonografi (USG) karotis

Fungsi endotel
3. Otak

Pemeriksaan neurologis

Diagnosis stroke ditegakkan dengan menggunakan cranial computed tomography (CT) scan
atau magnetic resonance imaging (MRI) (untuk pasien dengan gangguan neural, kehilangan
memori atau gangguan kognitif)
4. Mata

Funduskopi
5. Fungsi ginjal

Pemeriksaan fungsi ginjal dan penentuan adanya proteinuria/mikro-makroalbuminuria serta


rasio albumin kreatinin urin

Perkiraan laju filtrasi glomerulus

G. Pengobatan
Tujuan pengobatan pasien hipertensi adalah :

Target tekanan darah < 140/90 mmHg, untuk individu beresiko tinggi (diabetes, gagal ginjal
proteinuria) <130/80 mmHg

Penurunan morbiditas dan mortalitas kardiovaskular

Menghambat laju penyakit ginjal proteinuria


Selain pengobatan hipertensi, pengobatan terhadap faktor resiko atau kondisi penyerta lainna
seperti diabetes mellitus atau dislipidemia juga harus dilaksanakan hingga mencapai target terapi
masing-masing kondisi.
Pengobatan hipertensi terdiri dari terapi nonfarmakologis dan farmakologis. Terapi
nonfarmakologis harus dilaksnakan oleh semua pasien hipertensi dengan tujuan menurunkan
tekanan darah dan mengendalikan faktor-faktor resiko serta penyakit pemyerta lainnya..
Terapi nonfarmakologis terdiri dari :

Menghentikan merokok


Menurunkan berat badan berlebih

Menurunkan konsumsi alcohol berlebih

Latihan fisik

Menurunkan asupan garam

Meningkatkan konsumsi buah dan sayur serta menurunkan asupan lemak


Jenis-jenis obat antihipertensi untuk terapi farmaklogis hipertensi yang dianjurkan oleh JNC7 :

Diuretika, terutama jenis Thiazide (thiaz) atau Aldosterone Antagonist (Aldo Ant)

Beta Blocker (BB)

Calcium Channel Blocker atau Calcium Antagonist (CCB)

Angiotensin Converting Enzyme Inhibitor (ACEI)

Angiotensin II Receptor Blocker atau AT1 receptor antagonist/blocker (ARB)


Masing-masing obat antihipertensi memiliki efektivitas dan keamanan dalam pengobatan
hipertensi, tetapi pemilihan obat antihipertensi juga dipengaruhi beberapa faktor yaitu:

Faktor sosial ekonomi

Profil faktor resiko kardiovaskular

Ada tidaknya kerusakan organ target

Ada tidaknya penyakit penyerta

Variasi individu dari respon pasien terhadap obat antihipertensi

Kemungkinan adanya interaksi dengan obat yang gunakan pasien untuk penyakit lain

Bukti ilmiah kemampuan obat antihipertensi yang akan digunakan dalam menurunkan
resiko kardiovaskular
Untuk keperluan pengobatan, ada pengelompokan pasien berdasarkan yang memerlukan
pertimbangan khusus yaitu kelompok Indikasi yang memaksa dan keadaan khusus lainnya .
Indikasi yang memaksa ,meliputi :

Gagal jantung

Pasca infark miokardium

Resiko penyakit pembuluh darah koroner tinggi

Diabetes

Penyakit ginjal kronis

Pencegahan stroke berulang


Keadaan khusus lainnya meliputi :

Populasi minoritas

Obesitas dan sindrom metabolic

Hipertrofi ventrikel kanan

Penyakit arteri perifer

Hipertensi pada usia lanjut


Hipotensi postural

Demensia

Hipertensi pada perempuan

Hipertensi pada anak dan dewasa muda

Hipertensi urgensi dan emergensi


Untuk sebagian besar pasien hipertensi, terapi dimulai secara bertahap, dan target tekanan darah
dicapai secara progresif dalam beberapa minggu. Dianjurkan untuk menggunakan obat
antihipertensi dengan masa kerja panjang atau yang memberikan efikasi 24 jam dengan
pemberian sekali sehari. Pilihan apakah memulai terapi dengan satu jenis obat antihipertensi atau
dengan kombinasi tergantung pada tekanan darah awal dan ada tidkanya komplikasi. Jika terapi
dimulai dengan satu jenis obat dan dalam dosis rendah dan kemudian tekanan darah belum
mencapai target maka selanjutnya adalah meningkatkan dosis obat tersebut, atau berpindah ke
antihipertensi lain dengan dosis rendah. Efek samping umumnya bisa dihindari dengan
menggunakan dosis rendah, baik tunggal maupun kombinasi. Sebagian besar pasien memerlukan
kombinasi obat antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah, tetapi terapi kombinasi dapat
meningkatkan biaya pengobatan dan menurunkan kepatuhan pasien karena jumlah obat yang
harus diminum bertambah.
Kombinasi yang telah terbukti efektif dan dapat ditoleransi pasien adalah :

CCB dan BB

CCB dan ACEI atau ARB

CCB dan diuretika

AB dan BB

Kadang diperlukan tiga atau empat kombinasi obat

H.

Pemantauan

Pasien yang telah mulai mendapat pengobatan harus datang kembali untuk evaluasi lanjutan dna
pengaturan dosis obat sampai target tekanan darah tercapai. Setelah tekanan darah tercapai dn
stabil, kunjungan berikutnya dengan interval 3-6 bulan tetapi frekuensi kunjungan ini juga
ditentukan oleh ada tidaknya kormoditas seperti gagal jantung, penyakit yang berhubungan
seperti diabetes dan kenutuhan akan pemeriksaan laboratorium.
Strategi untuk meningkatkan kepatuhan pada pengobatan :

Empati dokter akan meningkatkan kepercayaan, motivasi dan kepatuhan pasien

Dokter harus mempertimbangkan latarbalakang budaya kepercayaan pasien serta sikap


pasien terhadap pengobatan

Pasien diberitahu hasil pengukuran tekanan darah, target yang masih harus dicapai, rencana
pengobatan selanjutnya serta pentingnya mengikuti rencana tersebut.

Penyebab hipertensi resisten :


1. Pengukuran tekanan darah yang tidak benar
2. Dosis belum memadai
3. Ketidakpatuhan pasien dalam penggunan obat antihipertesni
4. Ketidakpatuhan pasien dalam memperbaiki pola hidup

Asupan alcohol berlebih

Kenaikan berat badan berlebih


5. Kelebihan volume cairan

Asupan garam berlebih

Terapi diuretika tidak cukup

Penurunan fungsi ginjal berjalan progresif


6. Adanya terapi lain

Masih menggunakan bahan/obat lain yang meningkatkan tekanan darah

Adanya obat lain yang mempengaruhi atau berinteraksi dengan kerja obat antihipertensi
7. Adanya oernyebab hipertensi lain/sekunder
Jika dalam 6 bulan target pengobatan (termasuk target tekanan darah) tidak tercapai, harus
dipertimbangkan untuk melakukan rujukan ke dokter spesialis atau subspesialis.
Pengobatan antihipertensi umumnya untuk selama hidup. Penghentian pengobatan cepat atau
lambat akan diikuti dengan naiknya tekanan darah sampai seperti sebelum dimulai pengobatan
antihipertensi. Walaupun demikian untuk menurunkan dosis dan jumlah obat antihipertensi
secara bertahap bagi pasien yang diagnosis hipertensinya sudah pasti serta tetap patuh terhadap
pengobatan nonfarmakologis. Tindakan ini harus disertai dengan pengawasan tekanan darah
yang ketat.
Kesimpulan dan saran
Penyakit Hipertensi merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang mana dapat dihadapi
baik itu dibeberapa negara yang ada didunia maupun di Indonesia.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan hipertensi itu adalah dari kebiasaan atau gaya hidup
masyarakat yaitu faktor herediter yang didapat pada keluarga, faktor usia, jenis kelamin,
konsumsi garam yang berlebihan, kurang berolahraga, dan obesitas.
. Hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
- Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya
- Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain
Hipertensi primer terdapat pada lebih dari 90% penderita hipertensi, sedangkan 10% sisanya
disebabkan oleh hipertensi sekunder. Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti

penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Faktor keturunan
Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk
mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi.
b. Ciri perseorangan
Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah umur ( jika umur bertambah
maka TD meningkat ), jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) dan ras ( ras kulit
hitam lebih banyak dari kulit putih ).
c. Kebiasaan hidup
Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah konsumsi garam yang
tinggi ( melebihi dari 30 gr ), kegemukan atau makan berlebihan, stress dan pengaruh lain
misalnya merokok, minum alkohol, minum obat-obatan
( ephedrine, prednison,
epineprin ).

Saran
Perlunya upaya penyuluhan agar dari case-finding maupun pendidikan kesehatan dan
penatalaksanaan pengobatannya yang belum terjangkau masih sangat terbatas. Untuk penderita
datang berobat untuk pertama kalinya datang terlambat dimana sebagian besar penderita
hipertensi tidak mempunyai keluhan agar sedini mungkin diberi pengobatan.
Selain itu, kebiasaan hidup sehat seperti berhenti merokok, mengurangi berat badan (bila
kegemukan), mengurangi konsumsi garam sehingga asupan sodium kurang dari 100 mmol/hari,
melakukan olah raga 30 - 45 menit per hari juga dapat mengurangi resiko terjadinya hipertensi.

Daftar pustaka

1.

Sunarto, K. Sosiologi Kesehatan. Pusat Penerbitan Universitas Indonesia. Hlm. 2.3-2.5,


2002

2.

Kasper DL, Fauci AS, Lonjo DL, Braunwald E, Hauser SL, Jameson JL: Harrison's
Principles Of Internal Medicine, 16 th ed, Mc Graw Hill Med. Publ.Div., 2005.

3.

Mansjoer A, Suprohalita, Wardhani WL, Setiowulan W: Kapita Selekta Kedokteran,


Jakarta, Media Aaesculapius FKUI, 2001.

4.

WHO Techn. Rep. Ser. 231, Arterial Hypertension & IHD (Preventive Aspects WHO
Chronicle 1962

5.

Noer MS: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi Ketiga, Jilid kesatu, Balai Penerbit
FKUI, 2003.

6.

Wawolumaya.C.Survei Epidemiologi Sederhana, Seri No.1, 2001. Cermin Dunia


Kedokteran No. 150, 2006 35

Lampiran Foto :