Anda di halaman 1dari 22

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi Keperawatan Komunitas


Komunitas sebagai suatu kelompok social yang ditentukan oleh batas-batas
wilayah, nilai-nilai, keyakinan dan minat yang sama, serta ada rasa saling
mengenal dan interaksi antara anggota masyarakat yang satu dan yang lainnya
(WHO dalam Harnilawati, 2013). Komunitas adalah kelompok sosial yang
tinggal dalam suatu tempat, saling berinteraksi satu sama lain, saling mengenal
serta mempunyai minat dan interest yang sama. Komunitas adalah kelompok dari
masyarakat yang tinggal di suatu lokasi yang sama dengan dibawah
pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang sama dimana mereka tinggal,
kelompok sosial yang mempunyai interest yang sama (Riyadi dalam Harnilawati,
2013).
Komunitas (community) adalah sekelompok masyarakat yang mempunyai
persamaan nilai (values), perhatian (interest) yang merupakan kelompok khusus
dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah
melembaga (Sumijatun dkk dalam Harnilawati, 2013).
Keperawatan komunitas mencakup perawatan kesehatan keluarga (nurse
health family) juga kesehatan dan kesejahteraan masyarakat luas, membantu
masyarakat mengidentifikasi masalah kesehatannya sendiri, serta memecahkan
masalah kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan yang ada pada mereka
sebelum mereka meminta bantuan kepada orang lain. (WHO dalam Harnilawati,
2013).
Kesatuan yang unik dari praktik keperawatan dan kesehatan masyarakat
yang ditujukan pada pengembangan serta peningkatan kemampuan kesehatan,
baik diri sendiri sebagai perorangan maupun secara kolektif sebagai keluarga,
kelompok khusus atau masyarakat (Ruth B. Freeman dalam Harnilawati, 2013).

Suatu upaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari


pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikut sertakan
tim kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan
individu, keluarga dan masyarakat lebih tinggi. Pelayanan keperawatan
profesional yang ditujukan kepada masyarakat dengan penekanan pada kelompok
risiko tinggi, dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui
pencegahan yang penyakit dan peningkatan kesehatan dengan menjamin
keterjangkauan

pelayanan

kesehatan

yang

dibutuhkan

(Pradley

dalam

Harnilawati, 2013).
Keperawatan kesehatan komunitas menurut ANA dalam Wijayaningsih
(2013) adalah suatu sintesa dari praktek kesehatan masyarakat yang dilakukan
untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan masyarakat. Praktik keperawatan
kesehatan komunitas bersifat menyeluruh dengan tidak membatasi pelayanan
yang dberikan kepada kelompok umur tertentu, berkelanjutan dan melibatkan
masyarakat.
Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perawatan
kesehatan komunitas adalah suatu bidang dalam ilmu keperawatan yang
merupakan keterpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan
dukungan peran serta masyarakat, serta mengutamakan pelayanan promotif dan
preventif secara berkesinambungan dengan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif
dan rehabilitatif, secara menyeluruh dan terpadu ditujukan kesatuan yang utuh
melalui proses keperawatan untuk ikut meningkatkan fungsi kehidupan manusia
secara optimal.
B. Paradigma Keperawatan Komunitas
Paradigma keperawatan komunitas terdiri atas empat komponen pokok,
yaitu manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins dalam

Wijayaningsih, 2013). Sebagai sasaran praktek keperawatan klien dapat


dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat.
1. Individu sebagai klien
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari
aspek biologi, psikologi, sosial dan spiritual. Peran perawat pada individu
sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup
kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan
fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurangnya kemauan menuju
kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga sebagai klien
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat
secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara
perorangan maupun bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau
masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi
dan lingkup kebutuhan manusia yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan
nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri. Beberapa
alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus pelayanan
keperawatan yaitu:
a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga
yang menyangkut kehidupan masyarakat
b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah,
memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan di dalam
kelompoknya sendiri
c. Masalah kesehatan di dalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang
diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh
anggota kluarga tersebut.
3. Masyarakat sebagai klien
Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antara warga, diatur
oleh adat istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki
identitas yang kuat mengikat semua warga. Kesehatan dalam keperawatan
kesehatan komunitas didefinisikan sebagai kemampuan melaksanakan peran

dan fungsi dengan efektif. Kesehatan adalah proses yang berlangsung


mengarah kepada kreatifitas, konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik L.
Blum, ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan,
perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri dari
lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan
yang berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim dan
perumahan. Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit
kulit akibat kesulitan air bersih. Keturunan merupakan faktor yang telah ada
pada diri manusia yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma.
Keempat faktor tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan
yang lainnya dala menentukan derajat kesehatan individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat.
Keperawatan dalam keperawatan kesehatan komunitas dipandang
sebagai bentuk pelayanan esensial yang diberikan oleh perawat kepada
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang mempunyai masalah
kesehatan meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan
meggunakan proses keperawatan untuk mencapai tingkat kesehatan yang
optimal. Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesionalsebagai
bagian integral pelayanan kesehatan dalam bentuk pelayanan biologi,
psikologi, sosial, dan spiritual secara komprehensif yang ditujukan kepada
individu, keluarga dan masyarakat baik sehat maupun sakit, mencakup siklus
hidup manusia. Lingkungan dalam paradigma keperawatan berfokus pada
lingkungan masyarakat, dimana lingkungan dapat mempengaruhi status
kesehatan manusia. Lingkungan disini meliputi lingkungan fisik, psikologi,
sosial, budaya dan lingkungan spiritual.

C. Tujuan Perawatan Kesehatan Komunitas

Keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan kesehatan


yang dilakukan sebagai upaya dalam pencegahan dan peningkatan derajat
kesehatan masyarakat melalui pelayanan keperawatan langsung (direction)
terhadap individu, keluarga, dan kelompok didalam konteks komunitas serta
perhatian

langsung

terhadap

kesehatan

seluruh

masyarakat

dan

mempertimbangkan masalah atau isu kesehatan masyarakat yang dapat


mempengaruhi individu, keluarga serta masyarakat.
1. Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan masyarakat secara
menyeluruh dalam memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat
kesehatan yang optimal secara mandiri.
2. Tujuan khusus
a. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat.
b. Meningkatnya

kemampuan

individu,

keluarga

dan

kelompok

masyarakat untuk melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka


mengatasi masalah keperawatan.
c. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan
dan asuhan keperawatan.
d. Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan
pembinaan dan asuhan keperawatan di rumah, di panti dan di
masyarakat.
e. Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindak lanjut
dan asuhan keperawatan di rumah.
f. Terlayaninya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok risiko tinggi
yang memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di
puskesmas.
g. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk

menuju keadaan sehat optimal.

D. Sasaran Keperawatan Kesehatan Komunitas


Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk
individu, keluarga dan kelompok yang berisiko tinggi seperti keluarga penduduk
di daerah kumuh, daerah terisolasi dan daerah yang tidak terjangkau, termasuk
kelompok bayi, balita dan ibu hamil. Menurut Anderson dalam Wijayaningsih
(2013), sasaran keperawatan komunitas terdiri dari tiga tingkat yaitu:
1. Tingkat individu
Perawat memberikan asuhan keperawatan kepada individu yang
mempunyai masalah kesehatan tertentu (misalnya TBC, ibu hamil, dan lainlain) yang dijumpai di poli klinik, puskesmas dengan sasaran danpusat
perhatian pada masalah kesehatan dan pemecahan masalah kesehatan
individu.
2. Tingkat keluarga
Sasaran kegiatan adalah keluarga dimana anggota keluarga yang
mempunyai masalah kesehatan dirawat sebagai bagian dari keluarga dengan
mengukur sejauh mana terpenuhinya tugas kesehatan keluarga yaitu
mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk mengatasi
masalah kesehatan, memberikan perawatan kepada anggota keluarga,
menciptakan lingkungn yang sehat dan memanfaatkan sumber daya dalam
masyarakat untuk meningkatkan kesehatan keluarga. Prioritas pelayanan
perawatan kesehatan masyarakat difokuskan pada keluarga rawan yaitu :
a. Keluarga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan, yaitu keluarga
dengan: ibu hamil yang belum ANC, ibu nifas yang persalinannya
ditolong oleh dukun dan neonatusnya, balita tertentu dengan penyakit
kronis yang tidak bisa diintervensi oleh program, penyakit endemis,

penyakit krons tidak menular atau keluarga dengan kecacatan tertentu


(mental atau fisik).
b. Keluarga dengan risiko tinggi, yaitu keluarga dengan ibu hamil yang
memiliki masalah gizi, seperti anemia gizi berat (Hb<8 gr%) ataupun
kurang energi kronis (KEK), keluarga dengan ibu hamil risiko tinggi
seperti perdarahan, infeksi, hipertensi, keluarga dengan balita BGM,
keluarga dengan neonatus BBLR, keluarga dengan usia lanjut, jompo
atau keluarga dengan kasus percobaan bunuh diri.
c. Keluarga dengan tindak lanjut perawatan
3. Tingkat komunitas
Dilihat sebagai suatu kesatuan dalam komunitas sebagai klien.
b. Pembinaan kelompok khusus
c. Pembinaan desa atau masyarakat bermasalah

E. Ruang Lingkup Perawatan Komunitas


Keperawatan komunitas merupakan upaya pelayanan kesehatan baik upaya
promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif maupun resosialitatif. Upaya promotif
dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat dengan melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan, peningkatan gizi,
pemeliharaan kesehatan perorangan, pemeliharaan kesehatan lingkungan,
olahraga teratur, rekrreasi dan pendidikan seks. Upaya preventif untuk mencegah
terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan terhadap individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat melalui kegiatan imunisasi, pemeriksaan kesehatan
berkala melalui posyandu, puskesmas dan kunjungan rumah, pemberian vitamn
A, iodium, ataupun pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan
menyusui.
Upaya kuratif bertujuan untuk mengobati anggota keluarga yang sakit atau
masalah kesehatan melalui kegiatan perawatan orang sakit di rumah, perawatan
orang sakit sebagai tindak lanjut dari puskesmas atau rumah sakit, perawatan ibu
hamil dengan kondisi patologis, perawatan buah dada, ataupun perawatan tali

pusat bayi baru lahir. Upaya rehabilitatif atau pemulihan terhadap pasien yang
dirawat di rumah atau kelompok-kelompok yang menderita penyakit tertentu
seperti TBC, kusta dan cacat fisik lainnya melalui kegiatan latihan fisik pada
penderita kusta, patah tulang, dan lain sebagainya, kegiatan fisioterapi pada
penderita stroke, batuk efektif pada penderita TB, dan lain-lain. Upaya
resosialitatif adalah upaya untuk mengembalikan penderita ke masyarakat yang
karena penyakitnya dikucilkan oleh masyarakat seperti penderita AIDS, kusta
dan wanita tuna susila.

F. Peran Perawat Komunitas (Provider Of Nursing Care)


Menurut Wijayaningsih (2013), banyak peranan yang dapat dilakukan oleh
perawat kesehatan masyarakat diantaranya adalah :
1. Sebagai Pendidik (Educator)
Perawat memiliki peran untuk dapat memberikan informasi yang
memungkinkan klien membuat pilihan dan mempertahankan autonominya.
Perawat selalu mengkaji dan memotivasi belajar klien.

Memberikan

pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat


baik di rumah, puskesmas, dan di masyarakat secara terorganisir dalam
rangka menanamkan perilaku sehat, sehingga terjadi perubahan perilaku
seperti yang diharapkan dalam mencapai derajat kesehatan yang
optimal.Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan
mengatasi tatanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun
hubungan interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan
seseorang. Di dalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.
2. Sebagai Advokat
Perawat memberi pembelaan kepada klien yang tidak dapat bicara
untuk dirinya. Tugas perawat sebagai pembela klien adalah bertanggung

jawab membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi


dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi hal lain
yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (Informed Concent) atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya. Tugas yang lain adalah
mempertahankan dan melindungi hak-hak klien, harus dilakukan karena
klien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak
petugas kesehatan.
3. Sebagai Manajemen kasus (Case Manager)
Perawat
menyediakan

memberikan
pelayanan

pelayanan

kesehatan

kesehatan

yang

yang

berkualitas,

bertujuan
mengurangi

fragmentasi, serta meningkatkan kualitas hidup klien. Perawat kesehatan


masyarakat diharapkan dapat mengelola berbagai kegiatan pelayanan
kesehatan puskesmas dan masyarakat sesuai dengan beban tugas dan
tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.

4. Sebagai kolaborator
Perawat komunitas juga harus bekerjasama dengan pelayanan rumah
sakit atau anggota tim kesehatan lain untuk mencapai tahap kesehatan yang
optimal. Peran perawat sebagai kolaborator dapat dilaksanakan dengan cara
bekerjasama dengan tim kesehatan lain, baik dengan dokter, ahli gizi, ahli
radiologi, dan lain-lain dalam kaitanya membantu mempercepat proses
penyembuhan klien Tindakan kolaborasi atau kerjasama merupakan proses
pengambilan keputusan dengan orang lain pada tahap proses keperawatan.
5. Sebagai Panutan (Role Model)
Perawat kesehatan komunitas seharusnya dapat mejadi pautan bagi
setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat sesuai dengan peran

yang diharapkan. Perawat dituntut berperilaku sehat jasmani dan rohani


dalam kehidupan sehari-hari.
6. Sebagai Peneliti
Penelitian

dalam

asuhan

keperawatan

dapat

membantu

mengidentifikasi serta mengembangkan teori-teori keperawatan yang


merupakan dasar dari praktik keperawatan.
7. Pembawa pembaharu (Change Agent)
Perawat kesehatan masyarakat dapat berperan sebagai agen pembaharu
terhadap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat terutama dalam
merubah perilaku dan pola hidup yang erat kaitannya dengan peningkatan
dan pemeliharan kesehatan. Pembawa perubahan adalah seseorang atau
kelompok yang berinisiatif merubah atau yang membantu orang lain
membuat perubahan pada dirinya atau pada sistem. Marriner torney
mendeskripsikan pembawa peubahan adalah yang mengidentifikasikan
masalah, mengkaji motivasi dan kemampuan klien untuk berubah,
menunjukkan alternative, menggali kemungkinan hasil dari alternatif,
mengkaji sumber daya, menunjukkan peran membantu, membina dan
mempertahankan hubungan membantu, membantu selama fase dari proses
perubahan dan membimibing klien melalui fase-fase ini.

G. Konsep Model Keperawatan Komunitas


Keperawatan komunitas memberikan perhatian terhadap pengaruh faktor
lingkungan meliputi fisik, biologis, psikologis, sosial dan kultural, serta spiritual
terhadap kesehatan masyarakat dan memberi prioritas terhadap strategi
pencegahan, peningkatan dan pemeliharaan kesehatan dalam upaya mencapai
tujuan.

1. Model Sistem Imogene M. King(1971)


Komunitas merupakan suatu sistem dari subsistem keluarga dan supra
sistemnya adalah sistem sosial yang lebih luas. Adanya gangguan atau
stressor pada salah satu subsistem akan mempengaruhi komunitas, misalnya
adanya gangguan pada salah satu subsistem pendidikan, dimana masyarakat
akan kehilangan informasi atau ketidaktahuan.
2. Model Adaptasi C. Roy (1976)
Aplikasi dari model adaptasi pada keperawatan komunikasi tujuannya
adalah untuk mempertahankan perilaku adaptif dan merubah perilaku
maladaptif pada komunitas. Adapun upaya pelayanan keperawatan yang
dilakukan

adalah

untuk

meningkatkan

kesehatan

dengan

cara

mempertahankan perilaku adaptif.


3. Model Self Care D.E OREM (1971)
Model ini tepat digunakan untuk keperawatan keluarga karena tujuan
akhir dari keperawatan keluarga adalah kemandirian keluarga dalam
melakukan upaya kesehatan keluarga yaitu: Mengenal masalah, Mengambil
keputusan untuk mengatasi masalah, Merawat anggota keluarga yang
mengalami gangguan kesehatan, Memodifikasi lingkungan yang dapat
menunjang kesehatan, dan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
secara cepat.
a. Pengertian
Keperawatan mandiri adalah salah satu kemampuan dasar manusia
dalam menjaga fungsi tubuh dan kehidupan yang harus dimilikinya.
Menurut Orem, keperawatan mandiri adalah pelaksanaan kegiatan yang
diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi
kebutuhan

guna

mempertahankan

kehidupan,

kesehatan

dan

kesejahteraan sesuai keadaan sehat sakit (Orem dalam Wijayaningsih,


2013).
b. Sasaran
1) Menolong klien atau keluarga untuk keperawatan mandiri secara
terapeutik
2) Menolong klien bergerak kearah tindakan asuhan mandiri
3) Membantu anggota keluarga merawat anggota keluarga yang
mengalami gangguan
c. Fokus Asuhan Keperawatan
1) Aspek interpersonal: hubungan di dalam keluarga
2) Aspek sosial: hubungan keluarga dengan masyarakat yang berada
disekitarnya
3) Aspek procedural: melatih keterampilan dasar keluarga sehingga
mampu mengantisipasi perubahan yang terjadi
4) Aspek teknis: mengajarkan keluarga teknik-teknik dasar yang
mampu dilakukan keluarga di rumah misalnya: mengompres
dengan bak dan benar.
4. Model Health Care System Betty Neuman
Asumsi yang dikemukakan Neuman tentang empat konsep utama dari
paradigma keperawatan yang terkait keperawatan komunitas adalah sebagai
berikut:
a. Manusia
Merupakan

suatu

sistem

terbuka,

yang

selalu

mencari

keseimbangan dari harmoni dan merupakan satu kesatuan dari variabelvariabel:Fisiologis,


spiritual.
b. Lingkungan

psikologis,

sosiokultural,

perkembangan

dan

c. Sehat
d. Keperawatan
Sehat menurut model Neuman adalah suatu keseimbangan
biopsiko-sosio-cultural dan spiritual pada tiga garis pertahanan klien
yaitu fleksibel, normal dan resisten. Keperawatan ditujukan untuk
mempertahankan keseimbangan tersebut dengan berfokus pada empat
intervensi yaitu: intervensi yang bersifat promosi dilakukan apabila
gangguan yang terjadi pada garis pertahanan normal yang terganggu.
Sedangkan intervensi yang bersifat kurasi atau rehabilitasi dilakukan
apabila garis pertahanan resisten yang terganggu. Intervensi yang
dilakukan terhadap klien ditujukan pada garis pertahanan yang
mengalami gangguan:
1) Intervensi bersifat promosi untuk gangguan pada garis pertahanan
fleksibel
2) Intervensi bersifat kurasi untuk gangguan pada garis pertahanan
normal
3) Intervensi bersifat kurasi dan rehabilitasi untuk gangguan pada garis
pertahanan resisten.
Aplikasi Model Neuman pada Komunitas:
Sesuai dengan teori Neuman, kelompok atau komunitas dilihat
sebagai klien dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu komunitas yang
merupakan klien dan penggunaan proses keperawatan sebagai
pendekatan, yang terdiri dari 5 tahapan yaitu pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

H. Asuhan Keperawatan Komunitas

Praktik keperawatan komunitas didasarkan atas sintesa dari praktek


kesehatan komunitas, bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara kesehatan
masyarakat dengan menekankan pada peningkatan peran serta masyarakat dalam
melakukan

upaya-upaya

pencegahan,

peningkatan dan

mempertahankan

kesehatan. Dalam konteks ini, keperawatan komunitas merupakan salah satu


upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan dimana sifat asuhan yang diberikan
adalah umum dan menyeluruh, lebih banyak tidak langsung dan diberikan secara
terus-menerus melalui kerja sama.
Pendekatan yang digunakan dalam asuhan keperawatan komunitas adalah
pendekatan keluarga binaan dan kelompok kerja komunitas. strategi yang
digunakan untuk pemecahan masalah adalah melalui pendidikan kesehatan,
teknologi

tepat

guna

serta

memanfaatkan

kebijaksanaan

pemerintah(Wijayaningsih, 2013).

I. Proses Keperawatan Komunitas


Setelah klien (individu, keluarga dan masyarakat) kontak dengan pelayanan
kesehatan (di rumah, di puskesmas), perawat melakukan praktik keperawatan
dengan cara menggunakan proses keperawatan. sesuai dengan teori Neuman
dalam Wijayaningsih (2013), kelompok atau komunitas dilihat sebagai klien
dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu komunitas yang merupakan klien dan
penggunaan proses keperawatan sebagai pendekatan, yang terdiri dari lima
tahapan:
1. Pengkajian
Pada tahap pengkajian, perawat melakukan pengumpulan data yang
bertujuan mengidentifikasi data yang penting mengenai klien, yang perlu
dikaji pada kelompok atau komunitas adalah:

a. Core atau inti: Data demografi kelompok atau komunitas yang terdiri
dari: umur, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, agama, nilai-nilai,
keyakinan serta riwayat timbulya atau kelompok komuntas.
b. 8 subsistem yang mempengaruhi komunitas (Betty Neuman):
1) Perumahan: rumah yang dihuni oleh penduduk, penerangan, sirkulasi
dan kepadatan.
2) Pendidikan: apakah ada sarana pendidikan yang dapat digunakan
untuk meningkatkan pengetahuan.
3) Keamanan dan keselamatan di lingkungan tempat tinggal: apakah
tidak menimbulkan stres.
4) Politik dan kebijakan pemerintah terkait dengan kesehatan: apakah
cukup menunjang sehingga memudahkan komunitas mendapat
pelayanan di berbagai bidang termasuk kesehatan.
5) Pelayanan kesehatan yang tersedia untuk melakukan deteksi dini
gangguan atau merawat atau memantau apabila gangguan sudah
terjadi.
6) Sistem Komunikasi: sarana komunikasi apa saja yang dapat
dimanfaatkan di komunitas tersebut untuk meningkatkan pengetahuan
terkait dengan gangguan nutrisi misalnya televisi, radio, koran atau
leaflet yang diberikan kepada komunitas.
7) Ekonomi: tingkat sosial ekonomi komunitas secara keseluruhan
apakah sesuai dengan UMR (Upah minimum regional), di bawah
UMR atau di atas UMR sehingga upaya pelayanan kesehatan yang
diberikan dapat terjangkau, misalnya anjuran untuk konsumsi jenis
makanan sesuai status ekonomi tersebut.

8) Rekreasi: apakah tersedia sarana, kapan saja dibuka, dan apakah


biayanya terjangkau oleh komunitas. rekreasi ini hendaknya dapat
digunakan komunitas untuk mengurangi stres.
c. Status kesehatan komunitas
Status kesehatan komunitas dapat dilihat dari bostatistik dan vital
statistik, antara lain angka mortalitas, angka morbiditas, IMR, MMR,
serta cakupan imunisasi.
2. Diagnosa Keperawatan Komunitas atau Kelompok dan Analisa Data
Setelah dilakukan pengkajian yang sesuai dengan data-data yang
dicari, maka kemudian dikelompokkan dan dianalisa seberapa besar stresor
yang mengancam masyarakat dan seberapa berat reaksi yang timbul pada
masyarakat tersebut. Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disusun diagnosa
keperawatan komunitas dimana terdiri dari: masalah kesehatan, karakteristik
populasi, karakteristik lingkungan.
Contoh: risiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh pada
komunitas di RW04 Kelurahan kampung Melayu berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pemenuhan kebutuhan nutrisi
bagi tubuh. masalah kesehatan yang ditemukan masyarakat disampaikan
pelaksanaan lokakarya mini atau istilah lainnya musyawarah masyarakat desa
(RW). Data dapat disajikan dengan menggunakan grafik, tabel atau melalui
sosio darma.
3. Perencanaan Intervensi
Tahap kedua dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan
apa yang harus dilakukan untuk membantu sasaran dalam upaya promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif. Langkah pertama

dalam tahap

perencanaan adalah menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi


masalah yang telah ditetapkan sesuai dengan diagnosis keperawatan. daalam
menentukan tahap berikutnya yaitu rencana pelaksanaan kegiatan, maka ada
dua faktor yang mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun
rencana teersebut yaitusifat massalah dan sumber/potensi masyarakat seperti

dana, sarana, tenaga yang tersedia. Dalam pelaksanaan pengembangan


masyarakat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut:
a. Tahap persiapan
Dengan dilakukan pemilihan daerah yang menjadi prioritas
menentukan cara untuk berhubungan dengan masyarakat, mempelajari
dan bekerjasama dengan masyarakat.
b. Tahap pengorganisasian
Dengan persiapan pembentukkan kelompok kerja kesehatan untuk
menemukan kepedulian terhadap kesehatan dalam masyarakat. Kelompok
kerja kesehatan (Pokjakes) adalah suatu wadah kegiatan yang dibentuk
oleh masyarakat secara bergotong royong untuk menolong diri mereka
sendiri dalam mengenal dan memecahkan dan masalah atau kebutuhan
kesehatan dan kesejahteraan, meningkatkan kemampuan masyarakat
berperan serta dalam pembangunan kesehatan di wilayahnya.
c. Tahap pendidikan dan latihan
1) Kegiatan pertemuan teratur dengan kelompok masyarakat
2) Melakukan pengkajian
3) Membuat program berdasarkan masalah atau diagnosa keperawatan
4) Melatih kader
5) Keperawatan langsung terhadap individu, keluarga atau masyarakat
d. Tahap Formasi Kepemimpinan
e. Tahap Koordinasi Intersektoral
f. Tahap Akhir
Dengan melakukan supervisi atau kunjungan bertahap untuk
mengevaluasi serta memberikan umpan balik untuk perbaikan kegiatan
kelompok kerja kesehatan lebih lanjut. Untuk lebih singkatnya,
perencanaan dapat diperoleh dengan tahapan sebagai berikut:
1) Pendidikan kesehatan tentang gangguan nutrisi
2) Demonstrasi pengolahan dan pemilihan makanan yang baik
3) Melakukan deteksi dini tanda-tanda kekurangan gizi
4) Bekerjasama dengan aparat desa setempat untuk mengamankan
lingkungan
5) Rujukan ke rumah sakit bila diperlukan
4. Pelaksanaan Implementasi
Perawat bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan yang telah
direncanakan yang sifatnya:

a. Bantuan

dalam

upaya

mengatasi

masalah-masalah

nutrisi,

mempertahankan kondisi seimbang atau sehat dan meningkatkan


kesehatan.
b. Mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk mencegah kurang gizi
c. Sebagai advokat komunitas, untuk sekaligus memfasilitasi terpenuhinya
kebutuhan komunitas.
Pada kegiatan praktek keperawatan komunitas berfokus pada tingkat
pencegahan, yaitu:
1) Pencegahan primer, yaitu pencegahan sebelum sakit dan difokuskan pada
populasi sehat, mencakup pada kegiatan secara umum serta perlindungan
khusus terhadap penyakit, contoh: imunisasi, penyuluhan gizi, simulasi
dan bimbingan dini dalam kesehatan keluarga.
2) Pencegahan sekunder, yaitu kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya
perubahan derajat kesehatan masyarakat dan ditemukan masalah
kesehatan. Pencegahan sekunder ini menekankan pada diagnosa dini dan
tindakan untuk menghambat proses penyakit, contoh: mengkaji
keterbelakangan tumbuh kembang anak, memotivasi keluarga untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan, seperti: mata, gigi, telinga, dan lainlain.
3) Pencegahan tersier, yaitu kegiatan yang menekankan pengembalian
individu pada tingkat berfungsinya secara optimal dari ketidakmampuan
keluarga, contoh: membantu keluarga yang mempunyai anak dengan
risiko gangguan kurang gizi untuk melakukan pemeriksaan secara teratur
ke posyandu.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan

penilaian

terhadap

program

yang

telah

dilaksanakan dibandingkan dengan tujuan semula dan dijadikan dasar untuk


memodifikasi rencana berikutnya. Fokus dari evaluasi askep keperawatan
komunitas adalah:
a. Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan target
pelaksanaan

b. Perkembangan atau kemajuan proses: kesesuaian dengan perencanaan,


peran staf atau pelaksanaan tindakan, fasilitas dan jumlah peserta.
c. Efisiensi biaya, bagaimanakah pencarian suumber dan penggunaannya
serta keuntungan program.
d. Efektifitas kerja, apakah tujuan tercapai dan apakah klien atau masyarakat
puas terhadap tindakan yang dilaksanakan.
e. Dampak, apakah status kesehatan meningkat setelah dilaksanakan
tindakan, apa perubahan yang terjadi dalam 6 bulan atau 1 tahun.
J. Konsep Masalah Kesehatan Komunitas
1. Kesehatan Lingkungan
Lingkungan dapat didefinisikan sebagai tempat pemukiman dengan
segala sesuatunya dimana organisme hidup beserta segala keadaan dan
kondisi yang secara langsung maupun tidak langsung disuga ikut
mempengaruhi tingkat kehidupan maupun kesehatan dari organisme
tersebut. Kesehatan lingkungan dapat dijabarkan sebagai suatu kondisi
lingkungan yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis
antara manusia dan lingkungannyauntuk mendukung tercapainya kualitas
hidup manusia yang sehat dan bahagia (Himpunan Ahli Kesehatan
Lingkungan Indonesia). Menurut WHO, lingkungan merupakan suatu
keseimbangan ekologi yang harus ada antara manusia dengan lingkungan
agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.
Kesehatan lingkungan pada hakekatnya adalah suatu kondisi atau
keadaan lingkungan yang optimal sehingga mempengaruhi dampak positif
terhadap terwujudnya status kesehatan yang optimal pula (Efendi, 1998).
Dalam mengatasi masalah kesehatan lingkungan, Pemerintah menggalakkan
Program Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Sanitasi
Total Berbasis Masyarakat (STBM) Merupakan Program Nasional yang

bersifat lintas sektoral di bidang sanitasi. Program Nasional STBM


dicanangkan oleh Menteri Kesehatan RI pada Agustus 2008.
Tujuan dari Program Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
(STBM) adalah menurunkan kejadian diare melalui intervensi terpadu
dengan menggunakan pendekatan sanitasi total. Sanitasi total adalah kondisi
ketika suatu komunitas:
a. Tidak buang air besar (BAB) sembarangan.
b. Mencuci tangan pakai sabun.
c. Mengelola air minum dan makanan yang aman.
d. Mengelola sampah dengan benar.
e. Mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman.
Menurt WHO, terdapat 17 ruang lingkup kesehatan lingkungan yaitu
sebagai berikut:
a. Penyediaan air minum
b. Pengelolaan air buangan (limbah) dan pengendalian pencemaran
c. Pembuangan sampah padat
d. Pengendalian vector
e. Pencegahan atau pengandalian pencemaran tanah oleh ekskreta manusia
f. Higiene makanan, termasuk higiene susu
g. Pengendalian pencemaran udara
h. Pengendalian radiasi
i. Kesehatan kerja
j. Pengendalian kebisingan
k. Perumahan dan pemukiman
l. Aspek kesehatan lingkungan dan transportasi udara
m. Perencanaan daerah dan perkotaan
n. Pencegahan kecelakaan

o. Rekreasi umum dan pariwisata


p. Tindakan-tindakan sanitasi yang berhubungan dengan keadaan epidemi
(wabah), bencana alam dan perpindahan penduduk
q. Tindakan pencegahan yang diperlukan untuk menjamin lingkungan
Menurut pasal 22 ayat 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992,
terdapat delapan ruang lingkup kesehatan lingkungan yaitu sebagai berikut:
a. Penyehatan air dan udara
b. Pengamanan limbah padat atau sampah
c. Pengamanan limbah cair
d. Pengamanan limbah gas
e. Pengamanan radiasi
f. Pengamanan kebisingan
g. Pengamanan vektor penyakit
h. Penyehatan dan pengamanan lainnya seperti pada situasi pasca bencana
2. Perilaku Masyarakat
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu
tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan
tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai
faktor yang saling berinteraksi (Wawan, 2010). Perilaku kesehatan pada
dasarnya adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta
lingkungan. Batasan ini mempunyai 2 unsur pokok, yakni respon dan
stimulus atau perangsangan. Respon atau reaksi manusia, baik bersifat pasif
(pengetahuan, persepsi dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan yang
nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan disini terdiri dari 4
unsur pokok, yakni: sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan dan lingkungan (Wawan, 2010).

Perilaku yang mempengaruhi kesehatan dapat digolongkan dalam dua


kategori (Wawan, 2010) yaitu:
a. Perilaku yang terwujud secara sengaja dan sadar
b. Perilaku yang terwujud secara tidak sengaja atau tidak sadar
Ada perilaku-perilaku yang sengaja atau tidak sengaja membawa
manfaat bagi kesehatan individu atau kelompok kemasyarakatan
sebaliknya ada yang disengaja atau tidak disengaja berdampak
merugikan kesehatan (Wawan, 2010).