Anda di halaman 1dari 5

Pola-pola Hereditas

Artikel ini telah dibaca 13,453 kali


Biologi Media Centre Pola-pola hereditas mempelajari berbagai macam
cara pewarisan sifat, yang meliputi:

Pautan (linkage)
Pindahsilang (crossing over)

Pautan sex (sex linkage)

Gagal berpisah (non disjunction)

Determinasi sex

Gen lethal

1. Pautan
Pautan/Tautan (linkage) adalah suatu keadaan
dimana terdapat banyak gen dalam satu
kromosom. Pengertian ini biasanya mengacu pada
kromosom tubuh (autosom). Akibatnya bila
kromosom memisah dari kromosom homolognya,
gen-gen yang berpautan tersebutselalu bersama.
Semisal suatu genotif AaBb mengalami pautan
antar gen dominan dan antar gen resesif, maka A
dan B terdapat dalam satu kromosom, sedangkan a
dan b terdapat pada kromosom homolognya. Bila
terjadi pembelahan meiosis maka gamet yang
terbentuk ada dua macam, yaitu AB dan ab.
Ciri Pautan:
- semisal pada AaBb, gamet hanya 2 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1
2. Pindah Silang (crossing over)
Pindah silang (crossing over) merupakan peristiwa pertukaran gen
karena kromosom homolog saling melilit saat meiosis. Misalkan suatu genotif
AaBb mengalami pindah silang saat pembelahan meiosis akan diperoleh
gamet sebanyak empat macam, yaitu AB, ab, Ab, dan aB.

Dua yang pertama (homogamet) disebut kombinasi parental (KP)


yangmerupakan hasil peristiwa pautan, dan
dua yang terakhir (heterogamet) disebut kombinasi baru (KB) atau
rekombinan (RK) yang merupakan hasil peristiwa pindahsilang.

Prosentase terbentuknya kombinasi baru saat terjadi pindah silang disebut


Nilai Pindah Silang (NPS) yang dapat dihitung dengan rumus berikut:

Ciri Pindah silang:


- semisal pada AaBb, gamet 4 macam
- jika di test cross hasilnya adalah 1 : 1 : 1 : 1
3. Pautan Sex
Pautan sex (sex linkage) merupakan suatu keadaan dimana terdapat
banyak gen tertentu yang selalu terdapat pada kromosom sex. Adanya
pautan sex menyebabkan suatu sifat muncul hanya pada jenis kelamin
tertentu. Ada dua jenis pautan sex, yaitu pautan X dan pautan Y.
Contoh: persilangan antara lalat Drosophilla melanogaster bermata merah
dan putih.
P:

jantan mata putih


XmY

F1 :

XMY
XMXm

P2 :

XMY

FZ :

XMY
XmY
XMXM
XMXm

betina mata merah


XMXM

: jantan mata merah


: betina mata merah
x

XMXm

: jantan mata merah


: jantan mata putih
: betina mata merah
: betina mata merah

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa gen yang menyebabkan warna mata
pada lalat terdapat pada kromosom X. Mata merah disebabkan gen dominan
M, dan mata putih disebabkan gen resesif m. Hasil persilangan pada F, induk
jantan yang bermata putih mewariskan gen m pada anak betina, sedangkan
induk betina yang bermata merah mewariskan gen M pada anak jantan.

Ingat
Pada anak jantan, X berasal dari induk betina
Pada anak betina, X berasal dari kedua induk
Inilah yang disebut konsep pewarisan sifat menyilang (criss cross
inheritance)
4. Gagal Berpisah (non disjunction)
Gagal berpisah (non disjunction) merupakan kegagalan kromosom homolog
untuk memisahkan diri saat pembelahan meiosis. Akibatnya terdapat gamet
yang lebih atau kurang jumlah kromosomnya.
Contohnya persilangan antara Drosophilla melanogaster dimana lalat betina
mengalami gagal berpisah. Lalat betina yang mengalami gagal berpisah
membentuk tiga macam kemungkinan gamet yaitu X, XX, dan 0. Bila lalat
jantan yang mengalami gagal berpisah kemungkinan gametnya adalah X, Y,
XX, YY, dan 0.
P

XY

XX (gagal berpisah)

X
Y

XX
: betina normal
XY
: jantan normal
XXX : betina super (biasanya mati)
XXY : betina (fertil)
XO
: jantan (steril)
YO
: jantan (lethal)

X
XX
0

Gamet hasil gagal berpisah pada:


- betina : X, XX, 0
- jantan : X, Y, XX, YY, 0
5. Determinasi sex
Determinasi sex adalah cara penentuan jenis kelamin pada hewan dan
manusia yang dilambangkan dengan huruf tertentu.
Khusus pada Drossophila, penentuan jenis kelamin didasarkan pada Index
Kelaminyang merupakan rasio antara jumlah kromosom X dengan jumlah
pasangan autosom. Bila rasionya lebih besar atau sama dengan setengah,
jenis kelaminnya jantan. Bila lebih besar atau sama dengan satu jenis
kelaminnya betina. Dan bila lebih besar dari setengah dan lebih kecil dari
satu lalat tersebut merupakan lalat intersex.

Contoh:

AAXX
AAXY
AAXXX
AAXXY
AAXO
AAAXX

IK = 2X/2A = 1 lalat betina


IK = X/2A
= 0,5 lalat jantan
IK = 3X/2A = 1,5 lalat betina
IK = 2X/2A = 1 lalat betina
IK = X/2A
= 0,5 lalat jantan
IK = 2X/3A = 0,6 lalat intersex

Pada makhluk hidup lain penentuan jenis kelaminnya seperti pada tabel
berikut:

6. Gen Lethal
Gen lethal merupakan gen yang menyebabkan kematian individu yang
memilikinya bila dalam keadaan homozigot. Ada dua jenis gen lethal,
yaitu lethal dominan dan lethal resesif.
Lethal dominan menyebabkan kematian dalam keadaan homozigot
dominan.
Contoh: persilangan antara tikus kuning dengan sesamanya
p

tikus kuning
Kk
KK
2Kk
kk

tikus kuning
Kk

: tikus kuning (lethal)


: tikus kuning
: normal

Rasio fenotif yang hidup antara tikus kuning : normal = 2 : 1 karena tikus
kuning homozigot dominan selalu lethal.
Lethal resesif menyebabkan kematian dalam keadaan homozigot resesif.

Contoh: persilangan antara jagung berdaun hijau dengan sesamanya


p

jagung berdaun hijau x


Hh

jagung berdaun hijau


Hh

HH : berdaun hijau
2Hh : berdaun hijau
hh
: berdaun pucat (albino) lethal

Dari pesilangan di atas hanya tiga yang kemungkinannya dapat hidup yaitu
yang bergenotif HH dan Hh. Sedangkan yang bergenotif hh mati karena tidak
dapat membentuk klorofil.
Labels: determinasi sex,gen lethal,gagal berpisah,pautan sex,pindah
silang,Pola-pola hereditas,Pautan