Anda di halaman 1dari 7

KRIOPRESERVASI SEL GAMET DAN EMBRIO

Disusun oleh :
Annisa Amalia 10612007

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG BANDUNG

2016

Kriopreservasi Sel Gamet dan Embrio


IVF atau In Vitro Fertilization adalah teknik pembuahan atau penyatuan
sperma dan sel telur diluar tubuh mahluk hidup (in vitro), misalnya di dalam cawan
petri yang kemudian diletakkan kembali ke dalam rahim untuk berkembang. Teknik
IVF ditemukan oleh P.C Steptoe dan R.G Edwards pada tahun 1977. Teknik IVF
ini pertama kali berhasil dilakukan pada tahun 1978 di Inggris. Bayi pertama yang

lahir dari hasil IVF ini bernama Louis Brown. Teknik IVF ini telah banyak
digunakan oleh pasangan suami-istri yang sulit untuk mendapatkan keturunan
karena memiliki masalah kesuburan. Dengan menggunakan teknik IVF ini,
probabilitas terjadinya kehamilan akan meningkat.

Angka keberhasilan

pembuahan dengan menggunakan teknik ini yaitu lebih dari 32% pada rata-rata
semua siklus dan persentase siklus yang menghasilkan kelahiran hidup sebesar
25,6%. Ada beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan IVF ini yaitu usia,
diagnosis infertilitas, dan riwayat obstetrik reproduksi sebelumnya.
Proses IVF dimulai dari pengendalian proses ovulasi secara hormonal untuk
mendapatkan lebih dari satu sel telur. Normalnya, wanita hanya menghasilkan satu
sel telur per bulan tetapi dengan menggunakan obat fertilitas atau induksi hormonal
ini, wanita mampu untuk menghasilkan beberapa sel telur. Selanjutnya pasien atau
calon ibu akan diperiksa menggunakan transvaginal ultrasounds serta tes darah
untuk menentukan waktu pengambilan sel telur yang tepat. Follicular aspiration
atau proses pengambilan sel telur dari ovarium dilakukan dengan menusukan jarum
ke dalam vagina hingga mencapai ovarium yang mengandung sel telur. Selama
proses Follicular aspiration ini, pasien diberikan obat bius sehingga pasien tidak
akan merasakan sakit selama prosedur berlangsung. Setelah itu dilakukan
penyatuan sel sperma dan sel telur dengan kualitas terbaik dalam sebuah medium
cair. Jika kemungkinan terjadinya fertilisasi itu rendah maka sel sperma bias saja
diinjeksikan langsung ke dalam sel telur, proses ini disebut Intracytoplasmic Sperm
Injection (ICSI). Embrio yang terbentuk kemudian ditransfer ke dalam uterus atau
rahim.

Annisa Amalia BIologi ITB - 10612007 [Kriopreservasi Sel Gamet dan Embrio]

Dalam proses IVF, terkadang dilakukan kriopreservasi sel gamet.


Kriopreservasi sel gamet adalah suatu teknik penyimpanan sel gamet dalam
keadaan beku melalui reduksi aktivitas metabolisme tanpa mempengaruhi organelorganel di dalam sel sehingga fungsi fisiologis, biologis, dan morfologis tetap ada
dan proses hidup sel dapat berlanjut setelah pembekuan dihentikan. Teknik
kriopreservasi merupakan teknik penyimpanan yang dilakukan pada suhu yang
sangat rendah (-196C) dalam nitrogen cair. Tujuan kriopreservasi sel gamet ini
yaitu untuk tetap menjaga kualitas sel gamet bermutu baik dalam waktu yang relatif
lama. Pada dasarnya ada 2 prinsip dalam teknik kriopreservasi ini yaitu (1) Apabila
terjadi dehidrasi (pengeluaran air dalam sel) maka akan terjadi kekeringan yang
hebat di dalam suatu sel sehingga akan terjadi kerusakan pada sel, dan (2) Apabila
tidak terjadi dehidrasi maka akan terbentuk kristal-kristal es yang besar yang dapat
merusak sel. Oleh karena itu, dalam proses IVF ini perlu diperhatikan proses
pemindahan air keluar masuk membran baik dehidrasi sebelum deep freezing
maupun rehidrasi setelah thawing (pencarian kembali).
Kriopreservasi sel gamet ini sangat bermanfaat dalam mempermudah
pengaturan waktu dalam program produksi embrio in vitro. Wanita yang
memutuskan untuk memiliki anak sebelum mencapai usia 30-an akhir atau 40-an

awal tetapi tetap ingin memiliki kualitas sel telur yang baik dapat menggunakan
metode kriopreservasi sel telur. Mereka tidak perlu khawatir dengan penurunan
kesuburan mereka ketika usia mereka bertambah. Dengan kemajuan teknologi
pembekuan sel telur, telur-telur yang diambil ketika seorang wanita berusia 30-an
awal pada dasarnya akan tetap bermutu sama setelah 10 tahun atau lebih. Selain itu,
kriopreservasi sel sperma pada pria bermanfaat apabila pria sedang mengalami
pengobatan kanker, vasektomi, atau sterilisasi yang disebabkan oleh kondisi medis
sehinga beresiko akan memiliki jumlah sperma yang sedikit.
Sama halnya denga kriopreservasi pada sel gamet, kriopreservasi embrio
dimaksudkan untuk menyimpan embrio secara kriogenik dengan tetap
mempertahankan viabilitas atau kelangsungan hidup embrio. Pada proses awal IVF,

hormon diberikan untuk merangsang perkembangan sel telur sehingga dihasilkan


sejumlah sel telur pada waktu yang bersamaan. Setelah telur-telur tersebut diambil

Annisa Amalia BIologi ITB - 10612007 [Kriopreservasi Sel Gamet dan Embrio]

dan dibuahi di laboratorium, sering didapatkan jumlah embrio yang lebih dari
cukup untuk ditransfer kembali ke dalam rahim.

Dengan adanya prosedur

kriopreservasi embrio, embrio berlebih yang cukup berkualitas, dapat dibekukan


sehingga pertumbuhannya dapat dihentikan dan embrio tersebut dapat disimpan
untuk prosedur transfer embrio di masa mendatang.
Pada dasarnya proses kriopreservasi sel gamet dan embrio itu sama. Ada 2
metode yang biasanya dilakukan dalam proses kriopreservasi yaitu metode
konvensional (slow freezing) dan metode vitrifikasi. Metode konvensional (slow
freezing) didasarkan pada freeze-induced dehydration yaitu dehidrasi sel gamet atau
embrio yang diinduksi dengan pembekuan pada suhu dibawah 0C hingga bisa
mencapai suhu -40C dan disertai dengan pembentukan kristal-kristal es.
Pembentukan kristal-kristal es dimulai pada bagian ekstraseluler. Akibatnya terjadi
dehidrasi sehingga menimbulkan kekeringan yang sangat hebat dan disertai dengan
kerusakan organel-organel intra-seluler seperti mitokondria, lisosom, dsb. Metode
konvensional meliputi inkubasi sel pada krioprotektan dengan total konsentrasi 12 M yang menyebabkan dehidrasi moderat dan diikuti oleh slow freezing, misalnya
dengan kecepatan 1C per menit hingga suhu -35C, lalu pembekuan, dan
selanjutnya thawing (pelelehan).

Jika pembekuan pada metode konvensional berjalan terlalu lambat maka sel
akan terlalu terdehidrasi sehingga konsentrasi zat elektrolit dalam sel menjadi
tinggi. Jika pembekuan terlalu cepat maka sel kurang mengalami dehidrasi sehingga
terjadi formasi es intraseluler yang bersifat letal. Ada beberapa faktor yang
memengaruhi keberhasilan kriopreservasi dengan metode konvensional (slow
freezing) yaitu kecepatan pembekuan, jenis dan konsentrasi krioprotektan, suhu
akhir pembekuan, serta tipe dan keadaan fisiologis bahan yang akan disimpan.
Krioprotektan adalah zat kimia non elektrolit yang berfungsi mereduksi pengaruh
letal proses pemaparan pembekuan sel berupa efek larutan maupun pembentukan
kristal es ekstraseluler atau intraselular sehingga dapat menjaga viabilitas sel
setelah pembekuan. Penambahan krioprotektan dapat memelihara keutuhan

membran dan meningkatkan potensial osmotik media sehingga cairan di dalam sel
mengalir keluar dan terjadi dehidrasi. Krioprotekan yang umum digunakan adalah

Annisa Amalia BIologi ITB - 10612007 [Kriopreservasi Sel Gamet dan Embrio]

DMSO, gliserol, PEG, sorbitol, dan manitol. Senyawa dalam krioprotektan dapat
dipisah menjadi dua, yaitu senyawa yang dapat masuk ke dalam sel (permeating
agent) seperti DMSO, gliserol (pada suhu tertentu) dan yang tidak dapat masuk ke
dalam sel (non permeating agent) seperti sukrosa dan gula alkohol (manitol,
sorbitol).
Sedangkan metode vitrifikasi adalah teknik pembekuan sel yang dilakukan
secara cepat pada temperatur -196C dengan menggunakan krioprotektan
konsentrasi tinggi (nitrogen cair) sehingga dapat menghindari terbentuknya kristalkristal es yang dapat merusak membran sel saat pembekuan, dimana dalam keadaan
padat distribusi ion-ion dan molekul tetap seperti dalam fase cair. Teknik vitrifikasi
didasarkan pada dehidrasi sel pada suhu non-freezing (tidak beku), yaitu dengan
merendam bahan dalam larutan krioprotektan dengan total konsentrasi 5-8 M pada
suhu 0-25C dan diikuti oleh pembekuan dan selanjutnya pelelehan. Pembekuan sel
gamet atau embrio dengan menggunakan metode vitrifikasi dapat dilakukan dengan
lebih murah (tidak diperlukan peralatan yang mahal), prosedur yang mudah, dan
cepat.
Keunggulan dari metode vitrifikasi adalah pada proses penambahkan zat
krioprotektan (nitrogen cair bersuhu -196C), air dapat didinginkan sampai

mengeras, tanpa adanya kristal es yang terbentuk. Hal ini sangat penting dalam
dunia embriologi karena pembentukan kristal es seperti yang terjadi pada proses
slow freezing dapat merusak embrio. Kristal es akan seperti pisau yang dapat
mengganggu bagian luar dan dalam sel gamet atau embrio. Jika hal ini terjadi, sel
tidak akan bertahan dari proses kriopreservasi. Vitrifikasi juga terbukti memberikan
tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik setelah embrio dicairkan kembali
(thawing) sehingga memberikan tingkat kehamilan serta tingkat kelahiran hidup
yang lebih tinggi saat siklus transfer embrio.
Penyimpanan sel gamet dan embrio dengan teknik kriopreservasi memiliki
keuntungan dan kerugian. Keuntungan teknik kriopreservasi ini adalah sel gamet
atau embrio dapat disimpan dalam waktu tidak terbatas asalkan media tempat

penyimpanan tetap terisi N2 cair, dapat dikoleksi setiap saat, dan dapat digunakan
kapan saja bila dibutuhkan. Sementara itu, kerugian atau kelemahan dari teknik

Annisa Amalia BIologi ITB - 10612007 [Kriopreservasi Sel Gamet dan Embrio]

kriopreservasi ini adalah biaya operasional pelaksanaan sangat mahal, tenaga


pelaksana harus memiliki keahlian yang tinggi, dan hanya sel gamet yang
berkualitas baik yang dapat dan layak disimpan dalam keadaan beku.

Annisa Amalia BIologi ITB - 10612007 [Kriopreservasi Sel Gamet dan Embrio]

Referensi :
Boediono, A. 2003. Vitrifikasi VS Pembekuan Lambat Pada Pembekuan Embrio.
Denpasar : Symposium Perkumpulan Teknologi Reproduksi Indonesia
(PATRI). Halaman : 24 32.
Goldberg JM. 2007. In vitro fertilization update. Cleve Clin J Med 74 (5) : 329 38.
Ika Roostika Tambunan dan Ika Mariska. 2003.
Pemanfaatan Teknik
Kriopreservasi dalam Penyimpanan Plasma Nutfah Tanaman. Bogor :
Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian.
Jackson RA, Gibson KA, Wu YW. 2004. Perinatal Outcomes in Singletons
following in vitro fertilization: a meta-analysis. Obstet Gynecol 103: 551563.
Niemann, H. 1991. Cryopreservation of ova and embryos from livestock : current
status and research needs. Theriogenelogy 35 : 109 - 124.
Rall, W.F. 1992. Cryopreservation of oocytes and embryos : methods and
application Ani. Repord, Sci. 28 : 237 - 245.
Rall, W. F dan G.M. Fahy, 1985. Vitrification a new approach to embryo
cryopreservatio. Theriogenology 23 : 220.
Supriatna I, Pasaribu FH. 1992. In Vitro Fertilisasi, Transfer Embrio dan
Pembekuan Embrio. Bogor: Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB.
Toelihere MR. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Bandung : Angkasa.

Annisa Amalia BIologi ITB - 10612007 [Kriopreservasi Sel Gamet dan Embrio]