Anda di halaman 1dari 11

KONSEP DASAR VENTILASI MEKANIK

Oleh : SGD 1
Ida Ayu Laksmi Mahardika

(1202105003)

I kadek Agus Anggriawan

(1202105032)

Ni Putu Anggelina Wijaya

(1202105044)

I gst Ayu Ngr Selly Tri Utami

(1202105047)

Ni Kadek Dwi Lestari

(1202105052)

I Wayan Wahyu Pratama

(1202105065)

Ni Putu Nur Indah Candradewi

(1202105067)

I Made Benny Setiawan

(1202105069)

I Putu Sena Pratama

(1202105078)

Ni Nengah Vera Sekarendra

(1202105087)

Kadek Dwi Wulandari

(1202105088)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

VENTILASI MEKANIK
1.

PENGERTIAN
Ventilasi mekanik adalah suatu alat bantu mekanik yang berfungsi memberikan bantuan
nafas pasien dengan cara memberikan tekanan udara positif pada paru-paru melalui jalan
nafas buatanadalah suatu alat yang digunakan untuk membantu sebagian atau seluruh
proses ventilasi untuk mempertahankan oksigenasi ( Brunner dan Suddarth, 2002).
Beberapa keadaan seperti asidosis dan alkalosis membuat keadaan tubuh membuat
kompensasi dengan berbagai cara untuk menyeimbangkan keadaan PH darah mendekati
normal 7,35-7,45 dan kadar PO2 dalam darah mendekati 80-100 mmHg. Kompensai dapat
berupa hyperventilasi jika keadaan hipoksemia, atau pemenjangan waktu ekspirasi jika
terjadi hyperkarbia (peningkatan kadar CO2 dalam darah). Tetapi kompensasi alamiah
tidak sepenuhnya dapat mengembalikan kadar asam basa dalam darah menjadi normal,
tetapi dapat mengakibatkan kelelahan otot-otot nafas dan pasien pada akhirnya menjadi
hipoventilasio dan terjadi apneu.
Ventilator memberikan bantuan dengan mengambil alih pernafasan pasien yang dapat di set
menjadi mode bantuan sepenuhnya atau bantuan sebagian. Mode Bantuan sepenuhnya
diantaranya VC (Volume Control) PC (Pressure Control), CMV (Control Minute Volume).

2.

TUJUAN PEMASANGAN
Ada beberapa tujuan pemasangan ventilator mekanik, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.

3.

Mengurangi kerja pernapasan


Meningkatkan tingkat kenyamanan pasien
Pemberian MV yang akurat
Mengatasi ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi
Menjamin hantaran O2 ke jaringan adekuat

INDIKASI PEMASANGAN
Tindakan intubasi dan memulai ventilasi mekanik merupakan hal yang rumit untuk
diputuskan. Sebelum melakukan hal tersebut, ada beberapa aturan yang harus dipahami
dengan baik, antara lain:

a) Indikasi intubasi dan ventilasi mekanik harus dipertimbangkan dengan baik.


Ada kecenderungan untuk menunda intubasi dan ventilasi mekanik sebisa mungkin
dengan harapan hal tersebut tidak perlu dilakukan. Namun, intubasi yang terencana lebih
kurang bahayanya dibandingkan intubasi emergensi, di samping itu penundaan intubasi
dapat menyebabkan bahaya bagi pasien yang sebenarnya dapat dihindari. Bila kondisi
pasien dinilai cukup parah dan membutuhkan intubasi dan ventilasi mekanik dengan
segera, maka jangan menunda untuk melakukan tindakan tersebut.
b) Intubasi bukan merupakan tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak kompeten
untuk melakukannya. Para perawat cenderung meminta maaf karena mereka telah
melakukan intubasi pada saat mereka bertugas jaga malam, seolah-olah tindakan tersebut
merupakan hal yang tidak mampu mereka lakukan. Justru sebaliknya, intubasi harus
dilakukan dengan pendirian yang kuat dan tak seorang pun yang disalahkan karena
melakukan tindakan penguasaan jalan napas pada pasien yang tidak stabil.
c) Tindakan untuk memulai ventilasi mekanik bukan merupakan suatu gerbang kematian.
Anggapan bahwa sekali kita menggunakan ventilator maka selamanya akan tergantung
pada ventilator merupakan hal yang tidak benar, yang seharusnya tidak sampai
mempengaruhi keputusan kita untuk memulai ventilasi mekanik. Penggunaan ventilator
tidak menyebabkan seseorang mengalami ketergantungan, kecuali pada pasien dengan
penyakit kardiopulmonal berat dan gangguan neuromuscular
4.

KRITERIA PEMASANGAN
Menurut Pontopidan (2003), seseorang perlu mendapat bantuan ventilasi mekanik
(ventilator) bila :

5.

a)

Frekuensi napas lebih dari 35 kali per menit.

b)

Hasil analisa gas darah dengan O2 masker PaO2 kurang dari 70 mmHg.

c)

PaCO2 lebih dari 60 mmHg

d)

AaDO2 dengan O2 100 % hasilnya lebih dari 350 mmHg.

e)

Vital capasity kurang dari 15 ml / kg BB.

KLASIFIKASI/JENIS-JENIS VENTILASI MEKANIK

Ventilasi mekanik diklasifikasikan berdasarkan cara alat tersebut mendukung ventilasi,


dua kategori umum adalah ventilator tekanan negatif dan tekanan positif.
a) Ventilator Tekanan Negatif
Ventilator tekanan negatif mengeluarkan tekanan negatif pada dada eksternal.
Dengan mengurangi tekanan intratoraks selama inspirasi memungkinkan udara
mengalir ke dalam paru-paru sehingga memenuhi volumenya. Ventilator jenis ini
digunakan terutama pada gagal nafas kronik yang berhubungn dengan kondisi
neurovaskular seperti poliomyelitis, distrofi muscular, sklerosisi lateral amiotrifik
dan miastenia gravis. Saat ini sudah jarang di pergunakan lagi karena tidak bias
melawan resistensi dan conplience paru, disamping itu ventla tor tekanan negative
ini digunakan pada awal awal penggunaan ventilator.
b) Ventilator Tekanan Positif
Ventilator tekanan positif menggembungkan paru-paru dengan mengeluarkan
tekanan positif pada jalan nafas dengan demikian mendorong alveoli untuk
mengembang selama inspirasi. Pada ventilator jenis ini diperlukan intubasi
endotrakeal atau trakeostomi. Ventilator ini secara luas digunakan pada klien
dengan penyakit paru primer. Terdapat tiga jenis ventilator tekanan positif yaitu
tekanan bersiklus, waktu bersiklus dan volume bersiklus.
Berdasarkan mekanisme kerjanya ventilator mekanik tekanan positif dapat dibagi
menjadi empat jenis yaitu : Volume Cycled, Pressure Cycled, Time Cycled, Flow Cycle.
a. Volume Cycled Ventilator
Volume cycled merupakan jenis ventilator yang paling sering digunakan di ruangan
unit perawatan kritis. Prinsip dasar ventilator ini adalah cyclusnya berdasarkan
volume. Mesin berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai volume
yang ditentukan. Keuntungan volume cycled ventilator adalah perubahan pada
komplain paru pasien tetap memberikan volume tidal yang konsisten. Jenis
ventilator ini banyak digunakan bagi pasien dewasa dengan gangguan paru secara
umum. Akan tetapi jenis ini tidak dianjurkan bagi pasien dengan gangguan
pernapasan yang diakibatkan penyempitan lapang paru (atelektasis, edema paru).
Hal ini dikarenakan pada volume cycled pemberian tekanan pada paru-paru tidak
terkontrol, sehingga dikhawatirkan jika tekanannya berlebih maka akan terjadi

volutrauma. Sedangkan penggunaan pada bayi tidak dianjurkan, karena alveoli bayi
masih sangat rentan terhadap tekanan, sehingga memiliki resiko tinggi untuk
terjadinya volutrauma.
b. Pressure Cycled Ventilator
Prinsip dasar ventilator type ini adalah cyclusnya menggunakan tekanan. Mesin
berhenti bekerja dan terjadi ekspirasi bila telah mencapai tekanan yang telah
ditentukan. Pada titik tekanan ini, katup inspirasi tertutup dan ekspirasi terjadi
dengan pasif. Kerugian pada type ini bila ada perubahan komplain paru, maka
volume udara yang diberikan juga berubah. Sehingga pada pasien yang setatus
parunya tidak stabil, penggunaan ventilator tipe ini tidak dianjurkan, sedangkan
pada pasien anak-anak atau dewasa mengalami gangguan pada luas lapang paru
(atelektasis, edema paru) jenis ini sangat dianjurkan.
c. Time Cycled Ventilator
Prinsip kerja dari ventilator type ini adalah cyclusnya berdasarkan waktu ekspirasi
atau waktu inspirasi yang telah ditentukan. Waktu inspirasi ditentukan oleh waktu
dan kecepatan inspirasi (jumlah napas permenit). Normal ratio I : E (inspirasi :
ekspirasi ) 1 : 2.
d. Berbasis aliran (Flow Cycle)
Memberikan napas/ menghantarkan oksigen berdasarkan kecepatan aliran yang
sudah diset.
6.

MODUS OPERASIONAL
Modus operasional ventilasi mekanik terdiri dari :
a) Controlled Ventilation
Ventilator mengontrol volume dan frekuensi pernafasan. Pemberian volume dan
frekuensi pernapasan diambil alih oleh ventilator. Ventilator tipe ini meningkatkan kerja
pernafasan klien.
b) Assist/Control
Ventilator jenis ini dapat mengontrol ventilasi, volume tidal dan kecepatan. Bila klien
gagal untuk ventilasi, maka ventilator secara otomatis. Ventilator ini diatur berdasarkan

atas frekuensi pernafasan yang spontan dari klien, biasanya digunakan pada tahap
pertama pemakaian ventilator.
c) Synchronized Intermitten Mandatory Ventilation (SIMV)
SIMV dapat digunakan untuk ventilasi dengan tekanan udara rendah, otot tidak begitu
lelah dan efek barotrauma minimal. Pemberian gas melalui nafas spontan biasanya
tergantung pada aktivasi klien. Indikasi pada pernafasan spontan tapi tidal volume
dan/atau frekuensi nafas kurang adekuat.
d) Continious Positive Airway Pressure. (CPAP)
Pada mode ini mesin hanya memberikan tekanan positif dan diberikan pada pasien yang
sudah bisa bernafas dengan adekuat. Tujuan pemberian mode ini adalah untuk mencegah
atelektasis dan melatih otot-otot pernafasan sebelum pasien dilepas dari ventilator.

7.

PENGATURAN/SETTING
Parameter yang harus ditetapkan sangat bervariasi tergantung pada mode ventilasi yang
digunakan. Beberapa parameter tersebut antara lain:
a) Laju pernapasan (respiratory rate)
Rentang laju pernapasan yang digunakan pada ventilator mandatory cukup luas. Hal ini
tergantung pada nilai sasaran ventilasi semenit (minute ventilation) yang berbeda-beda pada
tiap individu maupun kondisi klinis tertentu. Secara umum, rentang laju pernapasan
berkisar antara 4 sampai 20 kali tiap menit dan pada sebagian besar pasien-pasien yang
stabil, berkisar antara 8 sampai 12 kali tiap menit. Pada pasien dewasa dengan sindroma
distres pernapasan akut, penggunaan volume tidal yang rendah harus diimbangi dengan
peningkatan laju pernapasan sampai 35 kali tiap menit untuk mempertahankan ventilasi
semenit yang adekuat.
b) Volume tidal
Pada beberapa kasus, volume tidal harus lebih rendah terutama pada sindroma distres
pernapasan akut. Pada saat mengatur volume tidal pada mode tertentu, perkiraan kasarnya
berkisar antara 5 sampai 8 ml/kg berat badan ideal. Pada pasien dengan paru-paru normal

yang terintubasi karena alasan tertentu, volume tidal yang digunakan sampai 12 ml/kg berat
badan ideal. Volume tidal harus disesuaikan sehingga dapat mempertahankan tekanan plato
di bawah 35 cm H2O. Tekanan plato ditentukan dengan manuver menahan napas selama
inspirasi yang disebut dengan istlah tekanan alveolar akhir inspirasi pada pasien-pasien
yang direlaksasi. Peningkatan tekanan plato tidak selalu meningkatkan risiko barotrauma.
Risiko tersebut ditentukan oleh tekanan transalveolar yang merupakan hasil pengurangan
antara tekanan alveolar dengan tekananpleura. Pada pasien-pasien dengan edema dinding
dada, distensi abdomen atau asites, komplians dinding dada menurun. Hal ini menyebabkan
tekanan pleura meningkat selama pengembangan paru. Peningkatan tekanan transalveolar
jarang terjadi pada pasien yang memiliki komplians paru yang normal.
c) Tekanan inspirasi
Pada ventilasi tekanan terkontrol (PCV) dan ventilasi pressuresupport, tekanan inspirasi
diatur sedemikian rupa sehingga tekanan plato kurang atau sama dengan 35 cm H2O.
Volume tidal juga harus dipertahankan pada rentang yang telah ditetapkan sebelumnya.
d) Fraksi oksigen terinspirasi (FiO2)
Pada sebagian besar kasus, FiO2 harus 100% pada saat pasien diintubasi dan dihubungkan
dengan ventilator untuk pertama kali. Ketika penempatan pipa endotrakea sudah ditetapkan
dan pasien telah distabilisasi, FiO2 harus diturunkan sampai konsentrasi terendah yang
masih dapat mempertahankan saturasi oksigen hemoglobin , karena konsentrasi oksigen
yang tinggi dapat menyebabkan toksisitas pulmonal. Tujuan utama ventilasi adalah
mempertahankan nilai saturasi 90 % atau lebih. Kadang-kadang nilai tersebut bisa berubah,
misalnya pada keadaan-keadaan yang membutuhkan suatu proteksi terhadap paru-paru dari
volume tidal, tekanan dan konsentrasi oksigen yang terlalu besar. Pada keadaan ini, target
saturasi oksigen dapat diturunkan sampai 85% saat faktor-faktor yang berperan pada
penyaluran oksigen sedang dioptimalkan.
e) Tekanan positif akhir ekspirasi (Postive end-expiratory pressure/PEEP)
Sesuai dengan namanya, PEEP berfungsi untuk mempertahankan tekanan positif jalan
napas pada tingkatan tertentu selama fase ekspirasi. PEEP dibedakan dari tekanan positif
jalan napas kontinyu (continuous positive airway pressure/ CPAP) berdasarkan saat
digunakannya. PEEP hanya digunakan pada fase ekspirasi, sementara CPAP berlangsung
selamasiklus respirasi. Penggunaan PEEP selama ventilasi mekanik memiliki manfaaat

yang potensial. Pada gagal napas hipoksemia akut, PEEP meningkatkan tekanan alveolar
rata-rata, meningkatkan area reekspansi atelektasis dan dapat mendorong cairan dari ruang
alveolar menuju interstisial sehingga memungkinkan alveoli yang sebelumnya tertutup atau
terendam cairan, untuk berperan serta dalam pertukaran gas. Pada edema kardiopulmonal,
PEEP dapat mengurangi preload dan afterload ventrikel kiri sehinggamemperbaiki kinerja
jantung. Pada gagal napas hiperkapnea yang disebabkan oleh obstruksi jalan napas, pasien
sering mengalami kekurangan waktu untuk ekspirasi sehingga menimbulkan hiperinflasi
dinamik. Hal ini menyebabkan timbulnya auto- PEEP yaitu tekanan akhir ekspirasi alveolar
yang lebih tinggi dari tekanan atmosfer. Bila didapatkan auto-PEEP, maka dibutuhkan
pemicu ventilator (trigger) berupa tekanan negatif jalan napas yang lebih tinggi dari
sensitivitas pemicu maupun auto-PEEP. Jika pasien tidak mampu mencapainya, maka
usaha inspirasi menjadi sia-sia dan dapat meningkatkan kerja pernapasan (work of
breathing). Pemberian PEEP dapat mengatasi hal ini karena dapat mengurangi auto-PEEP
dari tekanan negatif total yang dibutuhkan untuk memicu ventilator. Secara umum, PEEP
ditingkatkan secara bertahap sampai usaha napas pasien dapat memicu ventilator secara
konstan hingga mencapai 85% dari auto-PEEP yang diperkirakan.
f) Sensitivitas Pemicu (trigger sensitivity)
Sensitivitas pemicu adalah tekanan negatif yang harus dihasilkan oleh pasien untuk
memulai suatu bantuan napas oleh ventilator. Tekanan ini harus cukup rendah untuk
mengurangi kerja pernapasan, namun juga harus cukup tinggi untuk menghindari
sensitivitas yang berlebihan terhadap usaha napas pasien. Tekanan ini berkisar antara -1
sampai -2 cmH2O. Pemivu ventilator ini timbul bila aliran napas pasien menurun 1 sampai
3 l/menit. Laju aliran (flow rate) Hal ini sering dilupakan pada mode yang bersifat volumetarget. Laju aliran ini penting terutama untuk kenyamanan pasien karena mempengaruhi
kerja pernapasan, hiperinflasi dinamik dan auto-PEEP. Pada sebagian besar ventilator, laju
aliran diatur secara langsung. Pada ventilator lainnya, misalnya Siemen 900 cc, laju aliran
ditentukan secara tidak langsung dari laju pernapasan dan I:E ratio.
Contohnya adalah sebagai berikut:
Laju pernapasan

= 10

Waktu siklus respirasi

= 6 detik

I:E ratio

= 1:2

Waktu inspirasi

= 2 detik

Waktu ekspirasi

= 4 detik

Volume tidal

= 500 ml

Laju aliran

= volume/ waktu inspirasi


= 500 ml tiap 2 detik

g) Perbandingan waktu inspirasi terhadap waktu ekspirasi


Sejalan dengan laju aliran inspirasi, ahli terapi respirasi mengatur I:E ratio tanpa
permintaan dari dokter. Tetapi para klinisi dituntut untuk mengerti tentang perubahan ini
yang dapat mempengaruhi mekanika sistem respirasi dan kenyamanan pasien. I:E ratio
yang umum digunakan adalah 1:2. Pada gagal napas hipoksemia akut, perbandingan ini
dapat meningkat dengan adanya pemanjangan waktu inspirasi, tekanan jalan napas rata-rata
atau alveoli yang terisi cairan yang dapat memperbaiki oksigenasi. Pada hipoksemia berat,
I:E ratio kadang-kadang terbalik menjadi 2:1, sehingga kewaspadaan harus dipertahankan
untuk mengatasi akibat yang merugikan terhadap hemodinamik dan integritas paru-paru
8.

KOMPLIKASI
Ventilator adalah alat untuk membantu pernafasan pasien, tapi bila perawatannya tidak tepat
bisa, menimbulkan komplikasi seperti:
1.

2.

Pada paru
a. Baro trauma: tension pneumothorax, empisema sub cutis, emboli udara vaskuler.
b. Atelektasis/kolaps alveoli diffuse
c. Infeksi paru
d. Keracunan oksigen
e. Jalan nafas buatan: king-king (tertekuk), terekstubasi, tersumbat.
f. Aspirasi cairan lambung
g. Tidak berfungsinya penggunaan ventilator
h. Kerusakan jalan nafas bagian atas
Pada sistem kardiovaskuler
Hipotensi, menurunya cardiac output dikarenakan menurunnya aliran balik vena akibat
meningkatnya tekanan intra thorax pada pemberian ventilasi mekanik dengan tekanan
tinggi.

3.

Pada sistem saraf pusat


a. Vasokonstriksi cerebral

Terjadi karena penurunan tekanan CO2 arteri (PaCO2) dibawah normal akibat dari
hiperventilasi.
b. Oedema cerebral
Terjadi karena peningkatan tekanan CO2 arteri diatas normal akibat dari
hipoventilasi.

4.
5.

c. Peningkatan tekanan intra kranial


d. Gangguan kesadaran
e. Gangguan tidur.
Pada sistem gastrointestinal
a. Distensi lambung, ileus
b. Perdarahan lambung
Gangguan lainnya
a. Obstruksi jalan nafas
b. Hipertensi
c. Tension pneumotoraks
d. Atelektase
e. Infeksi pulmonal
f. Kelainan fungsi gastrointestinal ; dilatasi lambung, perdarahan
g. Gastrointestinal.
h. Kelainan fungsi ginjal
i. Kelainan fungsi susunan saraf pusat

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. EGC
: Jakarta
Lanken PN. Mechanical ventilation. In: Lanken PN, ed. The Intensive Care Unit Manual. 2nd
ed. Philadelphia: Saunders Inc.; 2007, 13-30.
Pilbeam SP. History of resuscitation, intubation and early mechanical ventilation. In: Pilbeam SP
ed. Mechanical Ventilation; Physiological and Clinical Applications. 3rd ed. St.Louis
Missouri: Mosby Inc.; 2004, 4-17.

Pranggono,

H.E.

Oktober

2015. Ventilasi

%2Fpustaka.unpad.ac.id

Mekanik.

Diakses

melalui

http%3A%2F