Anda di halaman 1dari 2

Nama : Gusti Ayu Sinta Indriyani

Kelas : VII B
No

: 31

BATU MENANGIS
LEGENDA RAKYAT KALIMANTAN BARAT
Darmi

memandangi

wajahnya

lewat

cermin

yang

tergantung

di

dinding

kamarnya.

Ah aku memang jelita, katanya. Lebih pantas bagiku untuk tinggal di istana raja daripada di gubuk reot seperti
ini.
Matanya memandang ke sekeliling ruangan. Hanya selembar kasur yang tidak empuk tempat dia tidur
yang mengisi ruangan itu. Tidak ada meja hias yang sangat dia dambakan. Bahkan lemari untuk pakaian pun
hanya sebuah peti bekas. Darmi mengeluh dalam hati.
Darmi memang bukan anak orang kaya. Ibunya hanya seorang janda miskin. Untuk menghidupi mereka
berdua, ibunya bekerja membanting tulang dari pagi hingga malam. Pekerjaan apapun dia lakukan. Mencari kayu
bakar di hutan, menyabit rumput untuk pakan kambing tetangga, mencucikan baju orang lain, apapun dia
kerjakan untuk bisa memperoleh upah. Sebaliknya Darmi adalah anak yang manja. Sedikit pun dia tidak iba
melihat ibunya bekerja keras sepanjang hari. Bahkan dengan teganya dia memaksa ibunya untuk memberinya
uang jika ada sesuatu yang ingin dibelinya.
Ibu, ayo berikan uang padaku! Besok akan ada pesta di desa sebelah, aku harus pergi dengan memakai
baju baru. Bajuku sudah usang semua, katanya. Nak, kemarin kan kau baru beli baju baru. Pakailah yang itu
saja. Lagipula uang ibu hanya cukup untuk makan kita dua hari. Nanti kalau kau pakai untuk membeli baju, kita
tidak bisa makan nak! kata ibunya mengiba.Alah itu kan urusan ibu buat cari uang lagi. Baju yang kemarin itu
kan sudah aku pakai, malu dong pakai baju yang itu-itu lagi. Nanti apa kata orang! Sudahlah ayo berikan uangnya
sekarang! kata Darmi dengan kasar. Terpaksa sang ibu memberikan uang yang diminta anaknya itu. Dia
memang sangat sayang pada anak semata wayangnya itu.
Begitulah, hari demi hari sang ibu semakin tua dan menderita. Sementara Darmi yang dikaruniai wajah
yang cantik semakin boros. Kerjaannya hanya menghabiskan uang untuk membeli baju-baju bagus, alat-alat
kosmetik yang mahal dan pergi ke pesta-pesta untuk memamerkan kecantikannya.
Suatu hari Darmi meminta ibunya untuk membelikannya bedak di pasar. Tapi ibunya tidak tahu bedak apa
yang dimaksud. Sebaiknya kau ikut saja ibu ke pasar, jadi kau bisa memilih sendiri, kata ibunya. Ih, aku malu
berjalan bersama ibu. Apa kata orang nanti. Darmi yang jelita berjalan dengan seorang nenek yang kumuh,
katanya

sambil

mencibir.

Ya sudah kalau kau malu berjalan bersamaku. Ibu akan berjalan di belakangmu, ujar ibunya dengan sedih.
Baiklah, ibu janji ya! Selama perjalanan ibu tidak boleh berjalan di sampingku dan tidak boleh berbicara
padaku! katanya. Ibunya hanya memandang anaknya dengan sedih lalu mengiyakan.

Akhirnya mereka pun berjalan beriringan. Sangat ganjil kelihatannya. Darmi terlihat sangat cantik dengan
baju merah mudanya yang terlihat mahal dan dibelakangnya ibunya yang sudah bungkuk memakai baju lusuh
yang penuh tambalan. Di tengah jalan Darmi bertemu dengan teman-temannya dari desa tetangga yang
menyapanya. Hai Darmi, mau pergi kemana kau? sapa mereka. Aku mau ke pasar, jawab Darmi. Oh, siapa
nenek yang di belakangmu itu? Ibumu? tanya mereka. Oh bukan! Bukan!. Mana mungkin ibuku sejelek tu. Dia
itu cuma pembantuku, sahut Darmi cepat-cepat. Betapa hancur hati ibunya mendengar anak kesayangannya
tidak mau mengakuinya sebagai ibunya sendiri. Namun ditahannya rasa dukanya di dalam hati.
Kejadian itu berulang terus menerus sepanjang perjalanan mereka. Semakin lama hati si ibu semakin
hancur. Akhirnya dia tidak tahan lagi menahan kesedihannya. Sambil bercucuran air mata dia menegur anaknya.
Wahai anakku sebegitu malunyakah kau mengakui aku sebagai ibumu? Aku yang melahirkanmu ke dunia ini.
Apakah ini balasanmu pada ibumu yang menyayangimu? Darmi menoleh dan berkata, Hah aku tidak minta
dilahirkan oleh ibu yang miskin sepertimu. Aku tidak pantas menjadi anak ibu. Lihatlah wajah ibu! Jelek, keriput
dan

lusuh!

Ibu

lebih

pantas

jadi

pembantuku

daripada

jadi

ibuku!

Usai mengucapkan kata-kata kasar tersebut Darmi dengan angkuh kembali meneruskan langkahnya.
Ibunya Darmi sambil bercucuran air mata mengadukan dukanya kepada Tuhan. Wajahnya menengadah ke
langit dan dari mulutnya keluarlah kutukan, Oh Tuhanku! Hamba tidak sanggup lagi menahan rasa sedih di
hatiku. Tolong hukumlah anak hamba yang durhaka. Berilah dia hukuman yang setimpal!
Tiba-tiba langit berubah mendung dan kilat menyambar-nyambar diiringi guntur yang menggelegar.
Darmi ketakutan dan hendak berlari ke arah ibunya. Namun dia merasa kakinya begitu berat. Ketika dia
memandang ke bawah dilihatnya kakinya telah menjadi batu, lalu kini betisnya, pahanya dan terus naik ke atas.
Darmi ketakutan, dia berteriak meminta pertolongan pada ibunya. Tapi ibunya hanya memandangnya dengan
berderai air mata.
Ibu, tolong Darmi bu! Maafkan Darmi. Aku menyesal telah melukai hati ibu. Maafkan aku bu! Tolong
aku teriaknya. Ibu Darmi tidak tega melihat anaknya menjadi batu, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya.
Nasi sudah menjadi bubur. Kutukan yang terucap tidak bisa ditarik kembali. Akhirnya dia hanya bisa memeluk
anaknya yang masih memohon ampun dan menangis hingga akhirnya suaranya hilang dan seluruh tubuhnya
menjadi batu.
(SELESAI)