Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN
A.

PERKEMBANGAN FILSAFAT ABAD KE-20


Filsafat yang berkembang sebelum abad ke-20 adalah rasionalisme yang sangat
mendewakan rasio. Ahmad Tafsir (1990:257) menyebut filsafat abad ke-20 adalah filsafat
pasca modern karena periode waktunya setelah abad modern. Ciri khas filsafat pasca
modern adalah kritik terhadap filsafat modern.
Nieztche adalah tokoh pertama yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap
dominasi atau pendewasaan rasio pada tahun 1880-an. Menurutnya budaya barat pada waktu
tersebut telah berada di pinggir jurang kehancuran karena terlalu mendewasakan rasio dan
pada tahun 1990-an Capra menyatakan bahwa budaya barat telah hancur juga karena
mendewakan rasio. Oleh karena itu filsafat pada abad ke-20 berusaha untuk mendekonstruksi
filsafat rasionalisme. Bila hubungan antara hati dan akal telah diputuskan maka manusia akan
memperoleh kenyataan bahwa pertanyaan tentang rumusan hidup ideal tidak akan pernah
terjawab. Sikap mendewakan rasio mengakibatkan adanya kecenderungan untuk menyisihkan
seluruh nilai dan norma yang berdasarkan agama dalam memandang kenyataan hidup.
Mereka juga menolak adanya akhirat. Manusia terasing tanpa batas, kehilangan orientasi.
Manusia dipacu oleh situasi mekanistik yang diciptakannya sendiri sehingga kehilangan
waktu merenungkan hidupnya dan alam semesta.
Menurut Capra dalam Ahmad Tafsir (1990:260) menyatakan pada awal dua dasawarsa
terakhir abad ke-20 kita menemukan diri kita dalam suatu krisis global yang serius yaitu
suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek
kehidupan kesehatan, kualitas lingkungan hidup, hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan
politik. Hal ini dapat dilihat munculnya krisis-krisis kemanusian di berbagai belahan dunia.
Kelaparan dan munculnya kaum borjuis, imperialsme, kemiskinan, kolonialisme dan
perjuangan kemerdekaan, kelaparan penyebaran penyakit serta peledakan nuklir yang
mengakibatkan puluhan juta mansuia musnah merupakan gambaran nyata kondisi kejiwaan
manusia saat itu.
Tiga dasawarsa terakhir menjelang berakhirnya abad ke-20, terjadi perkembangan
baru yang mulai menyadari bahwa manusia selama ini salah dalam menjalani hidupnya. Di
dunia ilmu muncul pandangan yang menggugat paradigma positivistik. Thomas Khun (1970)
telah mengisaratkan adanya upaya pendobrakan tatkala ia mengatakan bahwa kebenaran ilmu
bukanlah kebenaran sui generis (objektif).

Aliran fillsafat yang berkembang pada abad ke 20 ini banyak, diantaranya dua yang
terkenal yaitu pragmanitsme dan filsafat eksistesialisme. Pragmatism dari William James
(1842-1910). Pragmatisme menurut James adalah realitas sebagaimana kita mengetaui.
Pragmatisme James menentang rasionalisme dalam filsafat. James memperluas ide
pragmatismenya untuk diterapkan pada hasil-hasil praktis pada agama, moral dan kehidupan
personal. Filsafat eksistesialisme dari Jean Paul Sartre (1905-1980\) yang menyatakan bahwa
eksistensi manusia mendahului esensinya. Filsafat ini pun muncul akibat tekanan
rasionalisme yang menjadikan keadaan dunia kacau pada saat tersebut.
Dari analisis filsafat dan sejarah kebudayaan kita mengetahui budaya barat disusun
dengan menggunakan paradigma tunggal yaitu paradigma sains. (scientific paragidm). Untuk
mengembangkan budaya sains paradigma ini sangat sesuai dan memadai tetapi untuk
mengembangkan budaya dalam bidang seni dan etika paradigma ini tidak memadai.
Paradigma sains hanya memamndang dunia dari segi-segi empiriknya saja.
Dari uraian di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa filsafat yang berkembang pada
abad ke 20 tidak puas terhadap rasionalsime sehingga harus didekonstruksi.
B.

PERKEMBANGAN SAINS PADA ABAD KE-20


Perkembangan science di abad ke-20 sangat pesat. Tahun 1896, terdapat sekitar
50.000 orang yang melaksanakan tradisi sains dan tidak lebih dari 15.000 orang yang
bertanggung jawab terhadap perkembangan pengetahuan dalam bidang sains. Enam puluh
enam tahun kemudian yaitu di abad ke-20 setidaknya ada satu juta orang yang bekerja
sebagai peneliti sains. Jumlah total seluruhnya termasuk yang bekerja di bidang industri,
pemerintahan, dan pendidikan tidak dapat ditentukan secara akurat tetapi lebih dari dua juta
orang yang terlibat dalam penelitian sains. (Bernald. 1981:714).
Perkembangan sains bukan hanya dalam jumlah orang yang terlibat, tetapi karakter sains
dalam hubungannya dengan masyarakat pun berubah. Sains dalam pertumbuhannya
tergantung pada industri dan pemerintah. Bahkan mulai memasuki dunia institusi pengajaran
dan militer.
Ciri nyata lainnya dari trasnformasi ini adalah lokasi geografis. Tahun 1896 seluruh
praktek sains dunia terpusat di Jerman, Inggris dan Prancis. Sisanya di Amerika dan Eropa
dan hanya sedikit di Asia dan Africa. Tahun 1954, ketika sains di Jerman, Inggris, dan Prancis
sangat berkembang meskipun tidak merata, pertumbuhannya jauh melebihi pertumbuhan
sains di Amerika dan Uni soviet. Jepang dan India membuat kontribusi yang mendasar
terhadap perkembangan sains dunia sejak permulaan abad ke-20. Kemerdekaan China

menambah dimensi baru terhadap bangunan sains. Pola ini kemudian menyebar ke negaraasia lainnya seperti korean, vietnam, dan Indonesia.
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa sains abad ke dua puluh
berkembang hampir di seluruh belahan dunia. Sains pada abad dua puluh bukan hanya milik
para ilmuwan di perguruan tinggi dan lembaga penelitian tetapi sudah memasuki dunia
ekonomi, sosial, pemerintahan dan militer. Sains sangat mempengaruhi kehidupan manusia
dalam segala hal. Dalam perkembangan sains dapat dibedakan menjadi:
1.
a.

Perkembangan Sains Fisika Abad 20


Dari Gravitasi ke Relativitas Khusus
Sampai dengan 300 tahun yang lalu, wajah Bumi dan peradabannya masih sangat
kusam, menyedihkan bahkan menyeramkan. Buta aksara, angka kematian bayi yang sangat
tinggi, usia harapan hidup yang pendek adalah beberapa yang membayangi kehidupan
manusia. Perbudakan, penjajahan, penganiayaan atas sesama demi kepuasan tontonan yang
menjadi bagian hiburan terjadi di bagian dunia yang justru relatif lebih beradab. Yang
memiliki martabat hanyalah segelintir orang yang berada dalam istana dan memegang
kekuasaan. Dalam keadaan seperti itulah, hidup Isaac Newton (1642-1727), meletakkan
dasar-dasar penalaran ilmiah dari banyak disiplin ilmu, dan mempunyai andil yang sangat
besar pada perkembangan ilmu serta pemikiran filsafat. Teori Gravitasi Newton
mempersatukan teori gerakan linear lurus yang dikemukakan Galileo dengan gerakan linear
dalam garis tertutup yang diajukan oleh Keppler. Hukum-hukum Mekanika Newton memberi
inspirasi pada pembuatan alat-alat bantu sederhana dalam kehidupan manusia. Apalagi
prinsip-prinsip mekanik Newton dipacu secara spektakuler oleh temuan mesin Uap oleh
James Watt tahun 1765. Dengan dua pilar itu dunia memasuki dunia industri. Selama dua
abad para ilmuwan bersepakat bahwa Newton telah membuat garis besar system of the world.
Sampai akhir abad ke-19, para ilmuwan telah memiliki gambaran komprehensif tentang
bagaimana kerja dunia. Sejumlah orang besar telah menyelesaikan problem besar. Tugas
penerus hanyalah mengisi detil, untuk menambah angka desimal selanjutnya. Seabad setelah
Newton, matematikawan Perancis Lagrange (1736-1813) mengungkapkan pandangannya
bahwa Newton adalah Jenius terbesar yang pernah ada, kita tak dapat menemukan lebih dari
satu tatanan dunia yang mantap. Aleksander Pope secara khusus membuatkan sebait puisi
untuknya. Karena merasa bisa menjelaskan segala sesuatu, fisika klasik tampaknya sudah tak
punya prospek lagi. Tak ada lagi kejayaan disana. Bahkan guru Max Planck (1858 1947)
sempat berujar Fisika sudah tamat riwayatnya dan sudah menjadi jalan buntu. Itulah
sebabnya ia menganjurkan Planck untuk mendalami musik dan menjadi pianis konser. Tetapi

Planck tetap memilih fisika dan dengan teori kuantumnya serta teori relativitas Einstein,
meluluh lantakkan pondasi sistem Newtonian. Peralihan abad membawa krisis atau revolusi
dalam fisika. Kedua teori itu telah menghadirkan paradigma baru. Menurut Thomas Khun,
(Smolicz, 1984) pergeseran paradigma dibarengi oleh suatu revolusi pengetahuan.
Sedemikian luasnya revolusi tersebut sehingga tampak abadi tidak tergantikan, Sistem
Newton tampak menjadi seperti ilusi. Albert Eisnten memperlihatkan bahwa massa dapat
dikonversi menjadi energi. Sehingga untuk Newton baru ini, Sir John Squire tergoda untuk
menambahkan bait baru untuk puisi di atas. Mengingat perkembangan ilmu pengetahuan
alam pada abad ini jauh lebih kompleks dan lebih pesat daripada perkembangan dalam abad
XIX, maka artikel ini hanya membahas teori yang terkenal pada abad ini yaitu Teori
Relativitas Einstein, Teori Kuantum Planck, Kelistrikan, dan Radioaktivitas Becquerel.
b.

Teori Relativitas Einstein.


Cohen dalam Conny Semiawan (1988) berpendapat bahwa, baik untuk ilmuwan
maupun non ilmuwan, relativitas melambangkan revolusi ilmu pada abad ke-20. Teori
relativitas khusus yang dirilis Einstein tahun 1905 memperlihatkan bahwa hanya gerak relatif
yang dapat diamati, bergantung dari gerakan pengamatnya. Teori ini berbicara tentang hukum
fisika berlaku sama untuk semua pengamat selama mereka bergerak dengan kecepatan
konstan pada arah yang tetap. Misalkan seseorang berdiri di peron stasiun kereta api dan
melihat seseorang menggigit rotinya dua kali di dalam gerbong kereta yang berjalan. Bagi
kita yang ada di peron, kita mengatakan ia menggigit di dua tempat berbeda. Namun bagi
orang-orang yang ada dalam gerbong kereta, mereka mengatakan bahwa orang tersebut
menggigit rotinya ditempat yang sama. Di sinilah relativitas bekerja. Teori relativitas khusus
tidak cocok dengan teori gravitasi Newton yang menyatakan bahwa benda-benda tertarik satu
sama lain dengan gaya yang bergantung pada jarak benda-benda itu. Artinya jika kita
menggerakkan salah satu benda, maka seketika itu pula gaya yang bekerja akan berubah. Hal
ini berarti bahwa efek gravitasi bergerak dengan kecepatan tak hingga, tidak seperti yang
diperkirakan oleh teori relativitas khusus (yang menyatakan tak ada sesuatu yang bergerak
lebih pesat dari kecepatan cahaya. Konsekuensi dari teori relativitas adalah ditinggalkannya
ide-ide yang berkenaan dengan ruang dan waktu mutlak dan konsep eter yang menyerap ke
semua tempat, yang waktu itu dianggap sebagai medium untuk perambatan cahaya dan
semua bentuk radiasi elektromagnetik lainnya. Sepuluh tahun kemudian (1915), Einstein
melengkapinya dengan Teori Relativitas Umum. Teori ini pada dasarnya berbicara tentang
ruang alam semesta yang melengkung. Dalam teorinya yang baru ini, Einstein mengatakan

bahwa gravitasi bukanlah merupakan gaya seperti gaya-gaya yang lainnya, namun dia
menggambarkan gravitasi sebagai konsekuensi ruang-waktu yang tidak datar. Distribusi
massa dan energi membuat ruang-waktu terpilin atau melengkung. Benda-benda seperti bumi
tidak bergerak dalam orbit melengkung karena gaya yang disebut gravitasi, namun bendabenda itu mengikuti suatu lintasan dalam ruang melengkung. Meskipun kedua teori itu samasama revolusioner, perhatian dunia lebih tertuju pada relativitas khusus karena adanya
verifikasi ramalan pada teori umum, yaitu bahwa cahaya bintang yang melintas dekat
matahari dibengkokkan oleh gravitasi matahari.
Pada mulanya tidak banyak ahli fisika yang dapat menerima teori relativitas khusus.
Kesukarannya terutama bersifat konseptual meskipun juga terdapat rintangan eksperimental.
Sedikit demi sedikit rintangan eksperimental dapat diatasi melalui Buchener dan Huppka.
Sejak 1914-1916 terus menerus ditemukan berbagai bukti eksperimental yang mendukung
teori relativitas. Selain melalui eksperimen, teorinya sendiri mengalami rekonstruksi
fundamental di tangan Hermann Minkowski yang mengajarkan matematika pada Einstein.
Minkowski

memperkenalkan

konsep

kesatuan

ruang-waktu

empat

dimensi

yang

menggantikan konsep terpisah dari ruang tiga dimensi dan waktu yang satu dimensi. Ia juga
membuktikan bahwa dari sudut pandang relativitas bahwa teori Gravitasi Newton yang
tradisional tidak adekuat. Kontribusi Minkowski diakui oleh Einstein dengan mengatakan
tanpa itu, teori relativitas umum barangkali tidak akan meninggalkan popoknya. Max Born
menjumpai bahwa Teori Einstein baru dan revolusioner. Einstein memiliki keberanian untuk
menantang filsafat Newton yang sudah mapan. Mengenai konsep tradisional ruang dan
waktu. Ia memang mengakui kekuatan revolusi intelektual Einstein dan revolusinya di atas
kertas, tetapi itu belumlah suatu revolusi dalam ilmu. Ide-ide baru dan cara berpikir yang baru
itu masih harus dipelajari, diterima, diterapkan dan dijadikan basis dari keyakinan ilmuwan
umumnya. Relativitas umum adalah revolusi Einstein yang kedua. Sebuah lompatan jauh ke
depan yang meninggalkan banyak ahli fisika, justru pada waktu banyak dari mereka telah
memihak kepada relativitas khusus. Sampai-sampai Max Planck yang merupakan pendukung
relativitas khusus yang paling bersemangat, bertanya pada Eintein, Semuanya sudah hampir
beres, mengapa anda mencari masalah lain? Einstein melakukan ini karena ia mengetahui
bahwa relativitas khusus tidak lengkap, bahwa relativitas khusus tidak membahas percepatan
dan gravitasi. Ide utama yang menggerakannya adalah sebuah pikiran sederhana, Jika orang
jatuh bebas, ia tidak akan merasakan beratnya sendiri. Salah satu ciri intelektual teori
relativitas umum yang spektakuler adalah reduksi kekuatan-kekuatan gravitasi Newton
menjadi aspek-aspek lengkungan empat dimensi ruang dan waktu. Hal ini berarti bahwa

relativitas umum menyiratkan terdapatnya kekeliruan atau kekurangan esensial selama itu.
Einstein mendapatkan hadiah Nobel tahun 1921 sebagai penghargaan atas kerja kerasnya
dalam bidang Fisika.
2.

Perkembangan Biologi Abad Ke-20


Beberapa Perkembangan Sains Hayati Abad ke-20 dapat diungkap sebagai berikut:

a.

Genetika
Meskipun Hukum-hukum genetika Mendel telah ditemukan pada tahun 1866, namun
hukum Mendel tersebut baru menarik perhatian orang setelah ditemukan kembali oleh tiga
orang ilmuwan, yaitu Hugo De Vries (Belanda), Carl Erich Correns (Jerman) dan Erik
Tschermak von Seysenegg (Austria) pada tahun 1900. Berikutnya, Walter S. Sutton dan T.
Boveri secara terpisah pada 1902 mengembangkan riset tentang prilaku kromosom dalam
pembelahan sel tubuh dan sel kelamin., dan mengemukakan adanya keterpautan gen (gen
linkage). Istilah gen sendiri mula-mula digunakan oleh ahli genetika Denmark, Johansen pada
1906 sebagai nama bagi satuan pewarisan sifat yang dipostulatkan oleh Mendel. Menjelang
1940-an studi tentang genetika berkembang pesat dan pada waktu itu dipastikan bahwa
pembawa faktor-faktor keturunan ialah kromosom dalam sel dan istilah gen digunakan untuk
unit-unit pembawa faktor keturunan dalam kromosom. Pada 1940 dua orang ahli biologi
Amerika, Beadle dan Tatum mengerjakan riset yang menghasilkan kesimpulan bahwa
produksi suatu enzim ditentukan oleh ada tidaknya suatu gen tertentu. Dalam pekerjaannya
tersebut, Beadle dan Tatum mereduksi peristiwa biologi menjadi peristiwa kimia. Pada tahun
1944 tiga orang ilmuwan Amerika, O.T. Avery, C.M. Mc. Leod dan M. Mc. Carty
menunjukkan bahwa dalam bakteri pemindahan faktor keturunan dilakukan oleh DNA.
Dalam penelitian mereka tersebut, ekstrak dari sel bakteri yang satu gagal men-transformasi
sel bakteri lainnya kecuali jika DNA dalam ekstrak dibiarkan utuh. Eksperimen Hershey dan
Chase kemudian membuktikan hal yang sama dengan menggunakan pencari jejak radioaktif
(radioactive tracers). Misteri yang belum terpecahkan ketika itu adalah: bagaimanakah
struktur DNA sehingga ia mampu bertugas sebagai materi genetik. Persoalan ini dijawab oleh
Francis Harry Compton Crick dan koleganya James Dewey Watson berdasarkan hasil difraksi
sinar-x DNA oleh Maurice Hugh Frederick Wilkins dan Rosalind Franklin. Kemudian hari,
Crick, Watson, dan Wilkins mendapatkan hadiah Nobel Kedokteran pada 1962 atas
penemuan ini.

b.

Neo-Darwinisme

Pada tahun 1942 Julian Huxley menggabungkan teori evolusi Darwin dan genetika
sebagai acuan dasar Neo-Darwinisme sistematis, yang disebutnya Sintesis Modern. Dalam
hal ini mutasi dan kombinasi gen (unit hereditas) dipandang sebagai sumber utama variasi,
dan keduanya mengalami proses acak yang tidak ada kaitannya dengan kebutuhan organisme.
Para pendukung sintesis modern ini diantaranya adalah Ernst Mayr, Theodisius Dobzhansky
dan Gaylord Simpson. Berbeda dengan Neo-Darwinisme yang telah berkembang
sebelumnya, dimana perubahan evolusioner dalam dipandang sebagai hasil akumulasi
bertahap dari perubahan-perubahan kecil, pada tahun 1970-an Stephen Jay Gould dan Niles
Eldredge mengusulkan teori kesetimbangan bersela (punctuated equilibrium), di mana
terdapat periode stabilitas yang panjang diselingi perubahan besar yang berlansung singkat.
Teori ini dapat dianggap sebagai versi luas dari sintesis Neo-Darwinian. Pada perkembangan
berikutnya, dalam kaitannya dengan sifat dan teori evolusi Darwin, muncul teori The Selfish
Gene tentang gen yang mementingkan diri sendiri yang dikemukakan oleh Richard Dawkins
pada tahun 1976 . Dawkins menggunakan istilah replikator untuk gen yang salah satu sifat
paling mencoloknya adalah adanya persaingan antar replikator; dimana replikator yang paling
menang akan menjadi replikator yang bertahan hidup dan terus menyelenggarakan proses
replikasi yang akan menyangga kehidupan; sebuah proses yang mengingatkan pada teori
seleksi alami Darwin.
3.

Perkembangan Biokimia abad ke-20


Mekanisme terang gelap pada teori fotosintesis yang telah ditemukan sebelumnya
oleh von Mayer (1842), baru mendapatkan penjelasan memadai setelah Cornelis van Niel
meneliti bakteri fotosintesis pada tahun 1931. Kesimpulan yang diperolehnya dari penelitian
ini adalah bahwa oksigen yang dibebaskan dari proses fotosintesis bukan berasal dari
karbondioksida tetapi berasal dari molekul air. Teori tentang fotosintesis ini kemudian
disempurnakan oleh Richard Willstatter yang mengemukakan pendapatnya bahwa energi
yang diperlukan untuk mereduksi karbondioksida berasal dari cahaya matahari yang diserap
zat dalam tumbuhan yang berwarna hijau, yang terdiri atas dua senyawa yang hampir sama
yaitu klorofil a dan klorofil b. Ia memperoleh hadiah Nobel tahun 1915 atas hasil
penelitiannya tentang klorofil, karotenoida dan antosianin serta penggunaan kromatografi
partisi untuk memurnikan senyawa-senyawa tersebut. Pada tahun 1920 Otto Heinrich
Warburg (Jerman) bersama ayahnya Emil Warburg melakukan penelitian tentang pengukuran
energi yang dibebaskan oleh suatu reaksi fotokimia. Di samping itu, Otto Warburg juga
berjasa mengidentifikasi enzim derivat besi porfirin dan enzim-enzim lain yang berperan

dalam respirasi sel. Berikutnya, pada tahun 1930 Hans Fischer (Jerman) berhasil menentukan
rumus struktur klorofil. Antara tahun 1946-1953 Melvin Calvin (Amerika) melakukan
penelitian untuk mengetahui zat antara yang dihasilkan oleh proses fotosintesis, sebelum
terbentuk molekul gula atau glukosa dengan menggunakan perunut radiokarbon. Pada awal
abad ke-20 studi tentang biokimia terutama diarahkan pada vitamin dan hormon. Kemudian
dengan ditemukannya radiosiotop sebagai bahan perunut maka studi tentang fermentasi,
metabolisme serta enzim dan genetika mendapat perhatian besar. Pada tahun 1912 Frederick
Gowland Hopkins (Inggris) memperkenalkan konsep faktor makanan tambahan, selain
makanan yang mengandung energi, dan protein atau mineral. Penelitiannya pada tahun 1906
dan 1907 menghasilkan penemuan asam amino esensial, berhasil mengisolasi triptofan dan
glutation, serta melakukan penelitian mengenai asam laktat dan kaitannya dengan fungsi otot.
Cassimir Funk (Polandia) menamai faktor makanan tambahan tersebut sebagai vitamin.
Sebelumnya, Christian Eijkmann (Belanda) telah menemukan faktor antineuritik yang di
kemudian hari dikenal dengan nama tiamin (vitamin B1). Karenanya, Hopkins dan Eijkman
kemudian mendapatkan hadiah Nobel tahun 1929. Ahli biokimia lain, Richard Kuhn (Jerman)
berhasil mengisolasi riboflavin (vitamin B2) yang membawanya memperoleh hadiah nobel
pada tahun 1938.
Pada tahun 1907 Eduard Buchner mendapat hadiah nobel atas karyanya tentang proses
fermentasi yang menghasilkan alkohol. Pada tahun 1904 Arthur Harden (Inggris) dan Young
berhasil mengisolasi koenzim dari cairan ragi. Studi yang dilakukan Otto Fritz Meyerhoff
(Jerman) menunjukkan bahwa koenzim yang terdapat pada proses fermentasi yang
menghasilkan alkohol jugaterdapat dalam sel otot dan merupakan faktor penting dalam
metabolisme karbohidrat. Bersama dengan Gustav Embden ia menjelaskan tentang
penguraian gula fosfat beratom karbon 6 menjadi dua molekul beratom karbon 3, hingga
menjadi asam piruvat. Rangkaian reaksi ini kemudian dinamakan jalur Embden-Meyerhoff.
Berikutnya, James Batcheller Sumner (Amerika) berhasil memperoleh kristal urease pada
tahun 1926. Pada tahun 1960 William H. Stein dan Stanford Moore (Amerika) berhasil untuk
pertama kalinya menentukan urutan asam amino dari ribonuklease. Selanjutnya, pada tahun
1965 David C. Phillips (Inggris) berhasil pula menentukan struktur tiga dimensi dari lisozim.
Pada tahun 1937 Albert Szent-Gyorgi, seorang ahli biokimia asal Hongaria memperoleh
hadiah nobel atas penemuannya mengenai proses pembakaran dalam sistem biologi dengan
perhatian khusus terhadap vitamin C serta asam fumarat. Penelitian ini dilakukannya pada
tahun 1930 dan ia juga berhasil mengisolasi asam askorbat (vitamin C). Di samping itu juga,
ia melakukan penelitian tentang jaringan otot serta metabolisme yang terjadi serta peranan

ATP sebagai sumber energi. Penelitian tentang metabolisme yang menghasilkan energi
dilakukan Krebbs pada tahun 1937, yang menyatakan adanya siklus metabolisme yang terdiri
atas serangkaian reaksi kimia dalam sel yaitu pada mitokondria.

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN
Dari uraiau tersebut dapat disimpulkan bhwa :

1.

Filsafat yang berkembang pada abad ke 20 tidak puas terhadap rasionalsime sehingga harus
didekonstruksi.

2.

Sains abad ke dua puluh berkembang hampir di seluruh belahan dunia. Sains pada abad dua
puluh bukan hanya milik para ilmuwan di perguruan tinggi dan lembaga penelitian tetapi
sudah memasuki dunia ekonomi, sosial, pemerintahan dan militer.

3.

Filsafat yang berkembang merupakan filsafat yang menentang filsafat rasionaslime

4.

Terbentuknya relasi sains dengan industri dan militer

5.

Perkembangan Sejarah dunia memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap


perkembangan sains fisika, biologi, dan biokimia abad ke-20.

B.

SARAN
Kami menyadari bahwa makalah yang kami buat ini, masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman dan rekan-rekan sangat kami harapkan.
Sekian dan terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,

DAFTAR PUSTAKA
Bernald J. D. (1969). Science in History. Volume 3 The Natural Scences in Our Time. Cambridge:
M.I.T Press.
Cambell. Reece Mitchell. (1999). Biology. Fifth Edition. Illinois: Addison Wesley Longman inc.

Dampier, W. C. (1936). A History of Science. New York : The McMillan. Co.


Darmodjo, Hendro. (1986). Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta : Karunika.
Khun Thomas. (1993). Peran Paradigma dalam Revolusi Sains. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Purba, Michael. (1997). Ilmu Kimia untuk SMU. Jakarta: Erlangga.
Poedjiadi. S dan Poedjiadi. A. (2001). Kimia dari Zaman ke Zaman. Bandung: Yayasan Cendrawasih.
Pratiwi, dkk. (1996). Buku Penuntun Biologi SMU. Jakarta: Erlangga.
Tafsir, Ahmad. (2000). Filsafat Umum. Akal dan Hati Sejak Thales sampaii Capra.
Bandung : Remaja Rosda Karya.