Anda di halaman 1dari 11

PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM

PERSPEKTIF ISLAM

Disusun Oleh :
Ginta Rafanca

20140610486

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


Fakultas Hukum
Ilmu Hukum
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah lingkungan telah menjadi isu global karena menyangkut berbagai sektor dan
berbagai kepentingan umat manusia. Hal ini terbukti dengan munculnya isu kerusakan
lingkungan yang semakin santer terdengar, jika dicermati sebenarnya berakar dari cara pandang
dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Kerusakan lingkungan yang terjadi akhirakhir ini diakibatkan oleh manusia. Perilaku manusia yang kurang atau tidak bertanggungjawab
terhadap lingkungannya telah mengakibatkan terjadinya berbagai macam kerusakan lingkungan.
Sebagai contoh pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah industri, rumah tangga,
dan kegiatan lain yang tidak bertanggung jawab, akhirnya mengancam balik keselamatan dan
kehidupan manusia. Penebangan dan atau penggundulan hutan, eksploitasi bahan tambang secara
membabi buta juga merupakan perbuatan manusia yang rakus dan tidak bertanggung jawab
terhadap lingkungannya. Dalam hal ini perbaikan akhlak masyarakat merupakan sesuatu yang
mutlak dan harus diletakkan pada fase pertama dalam upaya penyelamatan dan perbaikan
lingkungan.
Untuk itu sebagai muslim kita seharusnya memahami landasan-landasan dari pelestarian
lingkungan hidup. Karena pelestarian lingkungan hidup tak lepas dari tanggung jawab manusia
sebagai khalifah di bumi ini.Manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi ini untuk mengatur
kehidupan lingkungan hidup yang baik dan tertata, namun sebaliknya justru saat ini manusia
telah membuat kerusakan di bumi.
Islam merupakan agama yang mengatur semua aspek kehidupan di muka bumi, termasuk
mengenai bagaimana manusia dalam menjaga lingkungan. Islam memberikan pandangan
tersendiri terhadap lingkungan, karena manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, yang harus
menjaga dan melestarikan bumi. Apabila masyarakat muslim memahami bahwa interaksi yang
benar dengan lingkungan juga merupakan ibadah mungkin kerusakan lingkungan tidak akan
sebesar yang terjadi
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalahanya adalah :
1. Bagaimana konsep lingkungan?
2. Bagaimana pandangan Islam dalam pelestarian lingkungan?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Konsep Lingkungan dalam Islam


Lingkungan alamiah (natural environment) yang sering dipendekkan menjadi lingkungan
dan yang dalam istilah bahasa kita sering disebut lingkungan hidup, diberi tarif (pengertian)
sebagai suatu keadaan atau kondisi alam yang terdiri atas benda-benda ( makhluk) hidup dan
benda-benda tak hidup yang berada di bumi atau bagian dari bumi secara alami dan saling
berhubungan antara satu dengan lainnya.
Lingkungan Hidup adalah semua benda dan kondisi, termasuk manusia dan tingkah lakunya
yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan serta
mensejahterakan manusia dan jasad-jasad hidup lainnya.
Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1982 tentang
Ketentuan Pokok-Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam ketentuan umum pasal 1.
Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan mahluk
hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.
Lingkungan (alam) ini terdiri atas beberapa komponen kunci yakni:
1. Satuan landscape lengkap yang berfungsi sebagai sistem alami yang belum mengalami
intervensi manusia, termasuk didalamnya terdapat tanah, air, bebatuan, hewan dan
tumbuhan, serta segala fenomena alam yang terjadi dalam batas alami tersebut.
2. Sumber daya alam umum dan fenomena yang tidak selalu berada di dalam batas-batas
alami tersebut seperti udara, iklim dan atmosfer, akan tetapi mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh landscape yang bersangkutan.
3. Tampilan atau keadaan alam yang terjadi di dalam batas batas alami, akan tetapi
keberadaannya dan kondisinya sangat dipengaruhi oleh atau direkayasa oleh manusia,
seperti misalnya hewan liar di sebuah taman margasatwa atau kebun binatang.
Dengan demikian terdapat dua macam lingkungan yakni lingkungan alamiah (natural
environment) dan lingkungan buatan (built environment), yang antara keduanya berbeda sifat dan
kondisinya. Lingkungan buatan merupakan areal atau komponen alam yang telah dipengaruhi
atau direkayasa oleh manusia. Suatu wilayah geografis tertentu misalnya hutan konservasi, pada
umumnya masih dipandang sebagai lingkungan alamiah, walaupun campur tangan manusia telah
ada dalam wilayah tersebut, akan tetapi masih sangat terbatas. Sedangkan areal cagar alam
misalnya, merupakan areal yang sama sekali belum ada campur tangan manusia didalamnya.
Antara manusia dengan lingkungan terdapat hubungan yang dinamis. Perubahan dalam
lingkungan akan menyebabkan perubahan dalam kelakuan manusia untuk menyesuaikan diri
dengan kondisi yang baru. Karena sesungguhnya alam fikiran manusialah yang menyadari

keberadaan alam semesta, ada tida pandangan filosofi berkenaan dengan kesadaran manusia
terhadap alam yaitu:
1. Bahwa alam ini berubah dari sistem yang berevolusi secara alamiah. Dalam hal ini alam
pikiran manusia dapat dianggap sebagai unsure abstrak dari lingkungan hidup.
2. Bahawa manusia terpisah dari lingkungannya, dan manusia hanya sekedar pelaku
sedangkan lingkungan adalah objek yang dapat dieksploitasi secara maksimal untuk
kepentingannya sendiri.
3. Bahwa manusia dan lingkungan menjadi satu. Pandangan yang bersifat inklusif bahwa
manusia adalah bagian dari pada alam.
Pandangan terbaik yaitu menggabungkan dari ketiganya secara seimbang, bahwa manusia
adalah bagian mutlak dari lingkungan hidupnya; manusia memiliki kemampuan yang lebih,
terutama penguasaan tentang alam sadar fikiran. Perubahan dalam kelakuan manusia ini
selanjutnya akan menyebabkan pula perubahan dalam lingkungan. Dengan adanya hubungan
dinamis-sirkuler antara manusia dan lingkungan dapat dikatakan hanya dalam lingkungan yang
baik, manusia dapat berkembang secara maksimal, dan hanya dengan manusia yang baik
lingkungan dapat berkembang ke arah yang optimal.
Lingkungan yang berkualitas memiliki konsep yang sangat erat hubungannya dengan konsep
kualitas hidup. Suatu lingkungan hidup yang dapat mendukung kualitas hidup yang baik,
dikatakan mempunyai kualitas yang baik pula pada lingkungannya. Konsep kualitas hidup adalah
derajat terpenuhinya kebutuhan dasar manusia. Makin baik kebutuhan dasar itu dapat dipenuhi
oleh lingkungan hidup, makin tinggi pula kualitas lingkungan hidup itu. Perbincangan
lingkungan hidup dewasa ini adalah pencemaran oleh industri, pestisida, alat transportasi, erosi,
banjir dan kekeringan. Karena masalah-masalah tersebut banyak menganggap bahwa tindakan
manusia telah merusak lingkungan, sedangkan segala yang alamiah merupakan lingkungan yang
baik. Apabila kita melihat kualitas lingkungan hidup dari kebutuhan dasar, maka anggapan
tersebut tidaklah benar.
Oleh karena itu, dalam memanfaatkan bumi ini tidak boleh semena-mena, dan seenaknya
saja dalam mengekploitasinya. Pemanfaatan berbagai sumber daya alam baik yang ada di laut,
didaratan dan didalam hutan harus dilakukan secara proporsional dan rasional untuk kebutuhan
masyarakat banyak dan generasi penerusnya serta menjaga ekosistemnya. Allah sudah
memperingatkan dalam surat al'A'raf ayat 56:

" Dan janganlah kalian membuat kerusakan di atas muka bumi setelah Allah memperbaikinya
dan berdo'alah kepada-Nya dengan rasa takut tidak diterima dan harapan (akan dikabulkan).
Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik". (al-A'raf:56)
Menyadari hal tesebut maka dalam pelaksanaan pembangunan sumber daya alam harus
digunakan dengan rasional. Penggalian sumber kekayaan harus diusahakan dengan sekuat tenaga
dan strategi dengan tidak merusak tata lingkungan dan tata hidup manusia. Perlu diusahakan

penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dan bisa menjaga kelestariannya sehingga bisa
dimanfaatkan secara berkesinambungan.
2.2 Pelestarian Lingkungan dalam Perspektif Islam
1. Tanggung jawab manusia terhadap lingkungan
Dalam konsep khilafah menyatakan bahwa manusia telah dipilih oleh Allah di muka bumi
ini (khalifatullah filardh). Sebagai wakil Allah, manusia wajib untuk bisa merepresentasikan
dirinya sesuai dengan sifat-sifat Allah. Salah satu sifat Allah tentang alam adalah sebagai
pemelihara atau penjaga alam (rabbulalamin). Jadi sebagai wakil (khalifah) Allah di muka bumi,
manusia harus aktif dan bertanggung jawab untuk menjaga bumi. Artinya, menjaga
keberlangsungan fungsi bumi sebagai tempat kehidupan makhluk Allah termasuk manusia
sekaligus menjaga keberlanjutan kehidupannya dalam batas-batas kemampuan manusia.
Al-Qur'an membicarakan tentang Tuhan, Manusia dan Alam. Tiga tema yang berulang
disebutkan dalam kitab suci umat Islam ini, bila dipahami dengan baik dan benar, serta
dilaksanakan, maka ada harapan bahwa sebuah peradaban yang lebih ramah mungkin dapat
diwujudkan. Apa yang senantiasa diingatkan ialah agar manusia tetap setia kepada konstitusi
fitrinya.
Manusia ialah makhluk terbaik diantara semua ciptaan Allah dan memegang tanggungjawab
mengelola bumi, maka semua yang ada di bumi diserahkan untuk manusia. Manusia diberikan
beberapa kelebihan diantara makhluk ciptaan-Nya, yaitu kemuliaan, diberikan fasilitas di daratan
dan lautan, mendapat rizki dari yang baik-baik, dan kelebihan yang sempurna atas makhluk
lainnya. Bumi dan semua isi yang berada di dalamnya diciptakan Allah untuk manusia, segala
yang manusia inginkan berupa apa saja yang ada di langit dan bumi. Daratan dan lautan serta
sungai-sungai, matahari dan bulan, malam dan siang, tanaman dan buah-buahan, binatang melata
dan binatang ternak.
Sebagai khalifah di bumi, manusia diperintahkan beribadah kepada-Nya dan diperintah
berbuat kebajikan dan dilarang berbuat kerusakan. Selain konsep berbuat kebajikan terhadap
lingkungan. Kekhalifahan mengandung tiga unsur pokok yang diisyaratkan dalam Al Quran
(Q.S. Al Baqarah :30).

Artinya: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan
Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Unsur-unsur tersebut sesuai dengan ayat di atas adalah adalah: (1). Manusia sebagai
khalifah. (2). Alam raya sebagai ardh (tempat tinggal). (3). Tugas kekhalifahan, yaitu hubungan
antara manusia dan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia.
Pemahaman ini juga selaras dengan penafsiran Tahabatabai yang memaknai terma khalifah
pada ayat tersebut tidaklah berkonotasi politis individual, namun kosmologis komunal. Dengan
demikian, Adam dalam hal ini bukanlah sebagai sosok personal, namun dimaknai sebagai simbol
seluruh komunitas manusia. Dengan demikian, penyandang khalifah dalam hal ini adalah seluruh
spesies manusia.
Kekhalifahan menuntut pemeliharaan, bimbingan, pengayoman, dan pengarahan seluruh
mahluk agar mencapai tujuan penciptaan. Melalui tugas kekhalifahan, Allah SWT.
Memerintahkan manusia membangun alam ini sesuai dengan tujuan yang dikehendaki Nya.

Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan memerintahkan kamu
memakmurkannya(Q.S. Hud [11]:61)
Dalam ayat diatas menjelaskan bahwa fungsi manusia sebagai khalifah Allah untuk
memakmurkan bumi (alam yang paling dekat dengan manusia) dengan jalan amal terbaik atau
karya kreatif.
Hubungan manusia dengan alam atau lingkungan hidup atau hubungan dengan sesamanya,
bukan merupakan hubungan antara penakluk dan yang ditaklukkan atau antara tuan dengan
hambanya, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah SWT. Karena
kemampuan manusia dalam mengelolah bukanlah akibat ketentuan yang dimilikinya, tetapi
akibat anugerah dari Allah SWT.
Kekhalifahan juga mengandung arti bimbingan agar setiap makhluk mencapai tujuan
penciptaannya.Dalam pandsngan agama, seseorang tidak dibenarkan memetik buah sebelum
siap untuk dimanfaatkannya dan bunga sebelum berkembang, karena hal ini berarti tidak
memberi kesempatan kepada makhluk ini untuk mencapai tujuan penciptaannya.Sebagaimana
terdapat dalam surat Al Ahqof 46 ayat: 3

Kami tidak ciptakan langit dan bumi serta apa yang berada diantara keduanya kecuali
dengan (tujuan) yang hak dan dalam waktu yang ditentukan (QS. Al Ahqof 46:3)
Tugas manusia sebagai kholifah tidak hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri,
kelompok atau bangsa dan sejenisnya, tetapi ia harus berpikir dan bersikap untuk kemaslahatan
semua pihak. Ia tidak boleh bersikap sebagai penakluk alam atau berlaku sewenang-wenang

terhadapnya, karena sesungguhnya yang mampu menundukkan alam hanyalah Allah, manusia
tidak mempunyai kemampuan sedikitpun kecuali kemampuan yang dianugerahkan kepadanya.
Kesadaran manusia dalam perannya sebagai khalifah yang telah ditunjuk oleh Allah di muka
bumi seyogyanya mulai bertindak arif dan bijaksana dalam mengelola kekayaan alam dan bumi
sehingga terhindar dari kerusakan. Dan kelestarian bumi dan lingkungan hidup tetap terjaga.
Menurut pandangan agama manusia dituntut untuk mampu menghormati proses-proses
yang sedang tumbuh, dan terhadap apa saja yang ada. Etika agama terhadap alam
mengantar manusia untuk bertanggung jawab sehingga ia tidak melakukan perusakan
dengan demikian, dengan kemampuan yang dimilikinya, manusia tidak hanya dituntut dapat
menyesuaikan diri. Akan tetapi, manusia juga dituntut untuk dapat memanfaatkan potensi
lingkungan untuk lebih mengembangkan kualitas kehidupannya.
Untuk itulah maka setiap perusakan terhadap lingkungan harus dinilai sebagai perusakan pada
diri manusia itu sendiri. Bukankah Allah telah mengecam sikap perusakan di bumi?
Sehingga sudah sepantasnya Al Quran dan hadits dijadikan landasan berpijak guna tercapainya
kelestarian lingkungan.
2. Pemeliharaan Dan Pemanfaatan Lingkungan Dalam Islam
Masalah lingkungan hidup adalah masalah global dunia. Musibah pencemaran udara dan
air bukan hanya akan menimpa satu bangsa atau negara, tetapi juga akan menimpa Negara
tetangga sekitar. Pencemaran di kota lambat laun juga akan sampai ke desa. Hujan asam akan
menyebar melampaui batas-batas negara. Kebakaran hutan di pedalaman Kalimantan nyatanya
juga mengganggu jalur laut dan udara, bahkan darat, yang pada akhirnya juga mengganggu
tetangga sekitar. Polusi udara di kota memaksa orang membangun villa di daerah dataran tinggi,
yang pada gilirannya akan merusak sumber mata air di pegunungan dan kembali lagi
mengganggu banyak orang, namun anehnya, begitu lingkungan hidup itu ditarik ke permukaan,
laju tingkat pencemaran udara dan air bukannya berkurang, melainkan malah bertambahtambah.
Kebakaran hutan semakin merajalela, penggunaan bahan bakar terus meningkat cepat
berbarengan dengan laju bertambahnya jumlah kendaraan bermotor serta mesin-mesin industri,
dan tingkat panas bumi pun semakin naik saja. Peresmian zona industri baru di berbagai kota
terus bertambah luas, bukan bertambah surut.
Jika kita membaca kitab suci Al Qur'an dengan teliti, Menurut Amin Abdullah, kita akan
mempunyai pandangan dasar yang sangat mencolok bahwa ternyata Al Qur'an tidak semata-mata
berbicara tentang hal-hal yang bersifat metafisiseskatologis, tetapi dia juga berbicara panjang
lebar tentang alam semesta yang dihuni oleh manusia serta makhluk-makhluk lainnya sekarang
ini.
Al Qur'an merupakan hudan li al-nas (petunjuk bagi manusia), bukan hudan li
Allah(petunjuk bagi Allah). Sudah barang tentu, bukan hanya petunjuk dalam arti metafisis
eskatologis, melainkan juga menyangkut masalah-masalah praktis kehidupan manusia di alam
dunia sekarang ini, termasuk didalamnya patokan dasar tentang bagaimana manusia menyantuni
alam semesta dan lingkungan sekitarnya.

Beberapa ayat Al Qur'an yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup.

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam
dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya) mereka berkata, Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau
menciptakan ini dengan siasia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api
neraka (Ali Imran : 190-191).
Pengertian yang terkandung dalam ilmu ekologi, memang tidak ada makhluk yang sia-sia
diciptakan oleh. Khaliknya. Kehidupan makhluk di muka bumi, baik tumbuh-tumbuhan,
binatang, maupun manusia, saling terkait dalam satu keutuhan lingkungan hidup. Apabila terjadi
gangguan terhadap lingkungan hidup itu secara keseluruhan.
Hutan yang ada jauh di hulu sungai, apabila dibabat habis secara sewenang-wenang, akan
menimbulkan akibat berupa hilangnya kesuburan tanah di gunung itu, dan mengakibatkan pula
banjir bandang di musim hujan dan kekurangan air di musim kemarau, yang selanjutnya
mengganggu kehidupan padi di sawahsawah dan akhirnya menimbulkan paceklik bagi manusia
dan binatang yang hidup di dalam aliran sungai itu, dengan demikian semua makhluk yang hidup
disitu mempunyai satu ikatan kehidupan.
Al Quran juga dengan tegas melarang perusakan di bumi dan supaya manusia menjaga
keseimbangan alam.

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan(Al Qhashash 77).
Al Qur'an menjelaskan, Tuhan menciptakan segala sesuatu tidak sia-sia dan melarang
manusia untuk berbuat kerusakan di bumi, hal ini mengandung makna keseimbangan.
Keseimbangan yang diciptakan Allah SWT dalam suatu lingkungan hidup akan terus
berlangsung, dan baru akan terganggu apabila terjadi suatu keadaan luar biasa. Keadaan luar
biasa itu terjadi dalam bentuk bencana alam. Bencana alam itu ada yang di luar penguasaan
manusia, seperti gempa tektonik, gempa yang disebabkan terjadinya pergeseran kerak bumi. Al

Qur'an dalam surat Ar Ruum ayat 41 telah menjelaskan, kebanyakan bencana alam di planet ini
disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.
Masih banyak lagi ayat Al Qur'an yang menerangkan lingkungan hidup. Ayat-ayat tersebut
di atas, barangkali memang belum begitu gamblang artinya pada saat itu diturunkan 14 abad
yang lalu. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut ternyata sangat relevan untuk saat ini, ketika orang
sedang kebingungan mencari cara bagaimana menanggulangi masalah pencemaran lingkungan
hidup yang kian hari dirasakan semakin bertambah-tambah.
Amanat yang diberikan kepada manusia sebagai khalifah di bumi hendaknya diwujudkan
sedalam tindakan memelihara, mengelola, mengembangkan dan memanfaatkan kekayaan alam
dengan sebaik-baiknya.
Dorongan kepada manusia untuk pemeliharaan lingkungan hidup terdapat dalam perintah
Allah yang telah Kesalehan terhadap alam dalam bentuk etika tersebut, dalam Islam dianggap
sebagai manifestasi rasa keberimanan manusia kepada Allah SWT. Muaranya adalah bahwa
manusia dikatakan sebagai orang yang beriman manakala lingkungannya terjaga dengan baik.

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari uraian tersebut diatas dapat penulis simpulkan bahwa kerusakan lingkungan hidup
yang saat ini terjadi adalah akibat ulah manusia sendiri. Dan yang menjadi persoalan sekarang
adalah bahwa kesadaran untuk memperhatikan , merawat dan melestarikan lingkungan hidup
belum sejalan dengan kerusakan yang terjadi.Dalam keadaan seperti ini peran agama terutama
agama Islam menjadi sangat penting karena:
1. Lingkungan Hidup adalah semua benda dan kondisi, termasuk manusia dan tingkah
lakunya yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kelangsungan
kehidupan serta mensejahterakan manusia dan jasad-jasad hidup lainnya. Suatu
lingkungan hidup yang dapat mendukung kualitas hidup yang baik, dikatakan
mempunyai kualitas yang baik pula pada lingkungannya. Konsep kualitas hidup adalah
derajat terpenuhinya kebutuhan dasar manusia. Makin baik kebutuhan dasar itu dapat
dipenuhi oleh lingkungan hidup, makin tinggi pula kualitas lingkungan hidup itu.
2. Sebagian penduduk bumi adalah orang-orang yang beragama. Dan sebagian besar besar
adalah penganut agama Islam. Maka melalui agama dapat dilahirkan nilai nilai positif
terhadap alam dan lingkungan hidup yang diharapkan dapat membantu kesadaran
banyak orang (paling tidak bagi mereka yang beragama) atas krisis yang sekarang ada.
3.2 Saran
Islam mengajarkan agar umat manusia senantiasa menjaga lingkungan. Hal ini seringkali
tercermin dalam beberapa pelaksanaan ibadah, seperti ketika menunaikan ibadah haji. Dalam
haji, umat Islam dilarang menebang pohon-pohon dan membunuh binatang. Apabila larangan itu
dilanggar maka ia berdosa dan diharuskan membayar denda (dam). Lebih dari itu Allah SWT
melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi.
Hendaknya kita sebagai umat Islam kembali kepada ajaran agama kita dalam mengolah
lingkungan. Dengan adanya hal tersebut, seharusnya manusia menjadi lebih bijak dalam
mengolah lingkungannya. Sehingga nantinya diharapkan apabila dalam kegiatan pengolahan
lingkungan akan tumbuh pemahaman pembangunan berwawasan lingkungan maupun spirit
pembangunan berkelanjutan.
Hal diatas bukan tidak mungkin akan terealisasikan. Asalkan manusia mau kembali
kepada ajaran agama yang utuh dan dapat memahaminya. Sehingga nantinya akan tumbuh
kesadaran umat manusia dalam mengelola lingkungannnya. Sangat jelas dalam Al-Quran
terdapat begitu banyaknya ayat-ayat yang membahasprosedur pengolahan alam yang
bijak,perintah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi,dll.
Sungguh beruntung umat Islam memiliki kitab suci seperti Al-Quran. Kitab suci ini
begitu luas cangkupan pembahsannya terlebih persoalan tentang pengolahan alam. Kami percaya
jika umat Islam mau kembali kepada agamanya dengan membuka, memahami apa yang ada di
Al-Quran pasti kehidupa di muka bumi ini akan lebih teratur dan tertata dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA

Abdillah, Mujiono. Agama Ramah Lingkungan Perspektif Al-Quran. Cet I; Jakarta: Paramadina, 2001
Alex MA, Kamus Ilmiah Populer Kontemporer, Suarabaya, Karya Harapan,Tanpa tahun.
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia. edisi III; Jakarta: Balai Pustaka,
2001
Fazlur Rahman,Tema pokok Al Qur,an, diterjemahkan dari Mayor Themes of Al quran terbitan
Bibliotheca Islamica,Chicago, 1980, Bandung, Penerbit PUSTAKA, 1983
Ghazali, Bahri. Lingkungan Hidup dalam Pemahaman Islam. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1999
M.Thalhah, Fiqih ekologi, yogjakarta, Total Media, 2008