Anda di halaman 1dari 22

Tutorial Klinik

SEORANG WANITA 19 TAHUN DENGAN OD


KONTUSIO OKULI ET CAUSA TRAUMA TUMPUL DENGAN
HEMATOM

Oleh:
Rizky Saraswati I. G99141129

Sanda Puspa Rini G99142130

Rizky Masah

Daniel Satyo N.

G99141130

G99142131

Muh. Alfian

G99141131

Hanni Wardhani G99142132

Muh. Faizal

G99142129

Dien Adiparadana G99142133

Pembimbing :

dr. Raharjo Kuntoyo, Sp.M


KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

STATUS PENDERITA

II

IDENTITAS
Nama

: Nn. E

Umur

: 19 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Suku

: Jawa

Kewarganegaraan

: Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Alamat

: Matesih Karanganyar

Tgl pemeriksaan

: 10 Januari 2016

No. CM

: 01325939

ANAMNESIS
A

Keluhan utama

Mata kanan lebam terkena pukulan benda tumpul

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD RSDM dengan keluhan mata kanan lebam


terkena pukulan benda tumpul. Pasien mengeluh mata sebelah kanan
terasa ngganjel, berat dan susah untuk dibuka. Mata merah (+/-),
pandangan kabur (-/-), pandangan dobel (-/-), gatal (-), cekot-cekot (-/-),
nyeri (-/-), nrocos (-/-), blobok (-/-), silau (-/-), pusing (-).
C

Riwayat Penyakit Dahulu


1

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat kencing manis

: disangkal

Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal

Riwayat trauma mata

: disangkal

Riwayat kacamata

: disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga


1

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat kencing manis

: disangkal

Riwayat sakit serupa

: disangkal

D. Kesimpulan Anamnesis
OD

OS

Proses

Trauma

Lokalisasi

Palpebra, Konjungtiva

Sebab

Trauma tumpul

Perjalanan

Akut

Komplikasi

Belum ditemukan

III PEMERIKSAAN FISIK


A

Kesan umum
Keadaan umum tampak sakit sedang, somnolen, gizi kesan cukup

Vital Sign
TD : 110/80 mmHg
HR : 82x/menit

RR : 24 x/menit
T : 36.40C

Pemeriksaan subyektif
OD

OS

1. Visus sentralis jauh

<3/60

<3/60

a. pinhole

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

b. koreksi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

c. refraksi

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

2. Visus sentralis dekat

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

A. Visus Sentralis

B. Visus Perifer
1. Konfrontasi tes

Gerakan mata terbatas ke


semua arah

Dalam batas normal

Pemeriksaan Obyektif
1. Sekitar mata

OD

OS

Ada

Tidak ada

b. luka

Tidak ada

Tidak ada

c. parut

Tidak ada

Tidak ada

d. kelainan warna

Ada

Tidak ada

e. kelainan bentuk

Ada

Tidak ada

Hitam

Hitam

a. tanda radang

2. Supercilia
a. warna

b. tumbuhnya

Normal

Normal

Sawo matang

Sawo matang

Dalam batas normal

Dalam batas normal

a. heteroforia

Tidak ada

Tidak ada

b. strabismus

Tidak ada

Tidak ada

c. pseudostrabismus

Tidak ada

Tidak ada

d. exophtalmus

Tidak ada

Tidak ada

e. enophtalmus

Tidak ada

Tidak ada

a. mikroftalmus

Tidak ada

Tidak ada

b. makroftalmus

Tidak ada

Tidak ada

c. ptisis bulbi

Tidak ada

Tidak ada

d. atrofi bulbi

Tidak ada

Tidak ada

a. temporal

Tidak terhambat

Tidak terhambat

b. temporal superior

Tidak terhambat

Tidak terhambat

c. temporal inferior

Tidak terhambat

Tidak terhambat

d. nasal

Tidak terhambat

Tidak terhambat

e. nasal superior

Tidak terhambat

Tidak terhambat

f. nasal inferior

Tidak terhambat

Tidak terhambat

1.) edema

Ada

Tidak ada

2.) hiperemi

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

c. kulit
d. gerakan
3. Pasangan bola mata dalam
orbita

4. Ukuran bola mata

5. Gerakan bola mata

6. Kelopak mata
a. pasangannya

3.) blefaroptosis

4.) blefarospasme

Ada

Tidak ada

1.) membuka

Tidak bisa membuka

Tidak tertinggal

2.) menutup

Tidak tertinggal

Tidak tertinggal

0 mm

10 mm

2.) ankiloblefaron

Tidak ada

Tidak ada

3.) blefarofimosis

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Tidak ada

Kemerahan

Sawo matang

3.) epiblepharon

Tidak ada

Tidak ada

4.) blepharochalasis

Tidak ada

Tidak ada

1.) enteropion

Tidak ada

Tidak ada

2.) ekteropion

Tidak ada

Tidak ada

3.) koloboma

Tidak ada

Tidak ada

4.) bulu mata

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

b. gerakannya

c. rima
1.) lebar

d. kulit
1.) tanda radang
2.) warna

e. tepi kelopak mata

7. sekitar glandula lakrimalis


a. tanda radang
b. benjolan
c. tulang margo tarsalis
8. Sekitar saccus lakrimalis
a. tanda radang
b. benjolan

9. Tekanan intraocular
a. palpasi

Sde

Kesan normal

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

1.) edema

Ada

Tidak ada

2.) hiperemi

Ada

Tidak ada

3.) sekret

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

1.) edema

Ada

Tidak ada

2.) hiperemi

Ada

Tidak ada

3.) sekret

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

1.) edema

Ada

Tidak ada

2.) hiperemi

Ada

Tidak ada

3.) sekret

Tidak ada

Tidak ada

4.) benjolan

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Ada

Tidak ada

3.) sekret

Tidak ada

Tidak ada

4.)injeksi konjungtiva

Tidak ada

Tidak ada

5.) injeksi siliar

Tidak ada

Tidak ada

b. tonometri schiotz
10. Konjungtiva
a. konjungtiva palpebra superior

4.) sikatrik
b. konjungtiva palpebra inferior

4.) sikatrik
c. konjungtiva fornix

d. konjungtiva bulbi
1.) edema
2.) hiperemis

e. caruncula dan plika

semilunaris
1.) edema

Tidak ada

Tidak ada

2.) hiperemis

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Putih

Putih

b. tanda radang

Tidak ada

Tidak ada

c. penonjolan

Tidak ada

Tidak ada

a. ukuran

12 mm

12 mm

b. limbus

Jernih

Jernih

c. permukaan

Rata, mengkilap

Rata, mengkilap

d. sensibilitas

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

e. keratoskop ( placido )

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

f. fluorecsin tes

Tidak dilakukan

Belum dilakukan

g. arcus senilis

Tidak ada

Tidak ada

a. kejernihan

Jernih

Jernih

b. kedalaman

Dalam

Dalam

a. warna

Cokelat

Cokelat

b. bentuk

Tampak lempengan

Tampak lempengan

Tidak tampak

Tidak tampak

Tidak tampak

Tidak tampak

3 mm

3 mm

3.) sikatrik
11. Sclera
a. warna

12. Kornea

13. Kamera okuli anterior

14. Iris

c. sinekia anterior
d. sinekia posterior
15. Pupil
a. ukuran

b. bentuk

Bulat

Bulat

c. letak

Sentral

Sentral

d. reaksi cahaya langsung

Positif

Positif

Tidak ada kelainan

Tidak ada kelainan

Ada

Ada

b. kejernihan

Jernih

Keruh

c. letak

Sentral

Sentral

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

e. tepi pupil
16. Lensa
a. ada/tidak

e. shadow test
17. Corpus vitreum
a
b

Kejernihan
Reflek fundus

IV KESIMPULAN PEMERIKSAAN
OD

OS

6/20

1/~

Konfrontasi tes

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Proyeksi sinar

Tidak dilakukan

Baik

Persepsi warna

Tidak dilakukan

Baik

C Sekitar mata

Dalam batas normal

Dalam batas normal

D Supercilium

Dalam batas normal

Dalam batas normal

E Pasangan bola mata

Dalam batas normal

Dalam batas normal

dalam orbita
F Ukuran bola mata

Dalam batas normal

Dalam batas normal

G Gerakan bola mata

Dalam batas normal

Dalam batas normal

H Kelopak mata

Dalam batas normal

Dalam batas normal

A Visus sentralis jauh


B Visus perifer

Sekitar saccus

Dalam batas normal

Dalam batas normal

lakrimalis
Sekitar glandula

Dalam batas normal

Dalam batas normal

lakrimalis
K Tekanan intarokular

Dalam batas normal

Dalam batas normal

L Konjungtiva palpebra

Dalam batas normal

Dalam batas normal

M Konjungtiva bulbi

Dalam batas normal

Dalam batas normal

N Konjungtiva fornix

Dalam batas normal

Dalam batas normal

O Sklera

Dalam batas normal

Dalam batas normal

P Kornea

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Kesan normal

Dalam batas normal

Bulat, warna coklat

Bulat, warna coklat

Diameter 3 mm, bulat, sentral

Diameter 3 mm, bulat,

Q Camera okuli anterior


R Iris
S Pupil

sentral
T Lensa
U Corpus vitreum

Kesan normal

Shadow test (+)

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

DIAGNOSIS BANDING
OS Katarak senilis imatur
OS Katarak senilis matur
OS Kekeruhan badan kaca

VI DIAGNOSIS
OS Katarak senilis imatur

VII PLANNING
1
2
3
4

C. catarlent eye drop 6 dd gtt I


Acc pro operasi katarak OS
Informed consent
Rencana ekstraksi katarak dengan phaco emulsifikasi dan IOL

5
6
7

implementasi
Cek lab darah rutin dan kimia darah
Pro keratometri
Pro biometri

VIIIPROGNOSIS
OD

OS

1. Ad vitam

Bonam

Bonam

2. Ad fungsionam

Bonam

Bonam

3. Ad sanam

Bonam

Bonam

4. Ad kosmetikum

Bonam

Bonam

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A Definisi
Trauma tumpul mata adalah trauma pada mata yang diakibatkan
benda yang keras atau benda tidak keras dengan ujung tumpul, dimana
benda tersebut dapat mengenai mata dengan kencang atau lambat sehingga
terjadi kerusakan pada jaringan bola mata atau daerah sekitarnya. Akibat
yang ditimbulkan dapat berupa kontusio (trauma tertutup) atau ruptur bola
mata (trauma terbuka) apabila gaya yang mengenai orbita sangat kuat.
B Anatomi dan Fisiologi Mata

Saraf optikus atau urat saraf kraniel adalah saraf sensorik untuk penglihatan.
Saraf ini timbul dari sel-sel ganglion dalam retina yang bergabung membentuk
saraf optikus.saraf ini bergerak kebelakang secara media dan melintasi kanalis
optikus memasuki rongga kronium, menuju kiasma optikum. Saraf penglihatan
memiliki 3 pembungkus yang serupa dengan yang ada pada meningen otak.
Lapisan luarnya kuat dan fibrus serta bergabung dengan sclera. Lapisan tengah
halus seperti araknoid, sementara lapisan dalam adalah vakuler (mengandung
banyak pembuluh darah).

A. Bagian-Bagian Bola Mata


Umumnya mata dilukiskan sebagai bola, tetapi sebetulnya lonjong dan
bukan bulat seperti bola. Bola mata mempunyai garis tengah kira-kira 2,5
cm.
bagian depannya bening, serta terdiri dari 3 lapisan.
Lapisan luar, fibrus yang merupakan lapisan penyangga.
Lapisan tengah, vaskuler
Lapisan dalam, lapisan saraf
a. Sclera
Adalah pembungkus yang kuat dan fibrus. Sclera membentuk putih
mata dan bersambung pada bagian depan dengan sebuah jendela
membran yang bening, yaitu kornea. Sclera melindungi struktur
mata yang sangat halus, serta membantu mempertahankan bentuk
biji mata.
b. Koroid
Adalah lapisan tengah berisi pembuluh darah, yang merupakan
ranting-ranting arteria oftalmika, cabang dari arteria karotis
interna. Membentuk iris yang berlubang ditengahnya atau disebut
pupil (manik) mata. Selaput berpigmen belakang iris memancarkan
warna yang dapat menentukan apakah sebuah mata itu berwarna
biru, cokelat, kelabu, dst. Koroid bersambung pada bagian
depannya dengan iris, dan tepat dibelakang iris selaput ini menebal
membentuk korpus siliare, sehingga korpus terletak antara koroid
dan iris. Korpus siliare berisi serabut otot sirkular dan serabutserabut yang letaknya seperti jari-jari sebuah lingkaran. Kontraksi
otot sirkular menyebabkan pupil mata juga berkontraksi.
c. Retina
Adalah lapisan saraf pada mata yang terdiri atas sejumlah lapisan
serabut, yaitu sel-sel saraf, batang-batang, dan kerucut. Semuanya
termasuk dalam konstruksi retina yang merupakan jaringan saraf
halus yang menghantarkan impuls saraf dari luar menuju diskus
optic, yang merupakan titik tempat saraf optic meninggalkan biji
mata yang disebut bintik buta karena tidak mempunyai retina.
Bagian yang paling peka pada retina adalah makula, yang terletak

tepat eksternal terhadap diskus optic, persis berhadapan dengan


pusat pupil.
d. Kornea
Bagian depan yang transparan dan bersambung dengan sclera yang
putih dan tidak tembus cahaya. Terdiri atas beberapa lapisan.
Lapisan tepi adalah epithelium berlapis yang bersambung dengan
konjungtiva
e. Bilik anterior (kamera okuli anterior)
Terletak antara kornea dan iris
f. Iris
Tirai berwarna didepan lensa yang bersambung dengan selaput
koroid. Berisi dua kelompok serabut otot tak sadar atau otot polos
(kelompok yang satu mengecilkan ukuran pupil, sementara
kelompok yang lain melebarkan ukuran pupil itu).
g. Pupil
Bintik tengah yang berwarna hitam, yang merupakan celah dalam
iris, tempat cahaya masuk guna mencapai retina.
h. Bilik posterior (kamera okuli posterior)
Terletak diantara iris dan lensa. Bilik anterior maupun bilik
posterior diisi dengan akueus humor.
i. Akueus humor
Cairan ini berasal dari korpus siliare dan diserap kembali kedalam
aliran darah pada sudut antara iris dan kornea melalui vena halus
yang dikenal sebagai saluran schlem.
j. Lensa
Sebuah benda transparan bikonveks (cembung depan belakang)
yang terdiri atas beberapa lapisan. Terletak persis dibelakang iris.
Membrane yang dikenal sebagai ligamentum suspensorium
mengendur, lensa mengerut dan menebal. Sebaliknya jika ligamen
menegang,

lensa

menjadi

gepeng.

Mengendurnya

lensa

dikendalikan kontraksi otot siliare.


k. Vitreus humor
Darah sebelah belakang biji mata mulai dari lensa hingga retina
diisi cairan penuh albumen berwarna keputih-putihan seperti agar-

agar, yaitu vitreus humor yang berfungsi memberi bentuk dan


kekokohan pada mata, serta mempertahankan hubungan antara
retina dan selaput koroid dan sklerotid.
B. Fungsi Mata
Mata dibentuk untuk menerima rangsangan bekas-bekas cahaya pada
retina, dengan perantaraan serabut-serabut nervus optikus mengalihkan
rangsangan ke pusat penglihatan pada otak untuk ditafsirkan.
Kornea : bekerja sebagai jendela bening yang melindungi struktur
halus yang berada di belakangnya serta membantu memfokuskan

bayangan pada retina. Kornea tidak mengandung pembuluh darah.


Iris : memiliki celah ditengahnya yaitu pupil, sebuah cakram yang
yang dapat bergerak berfungsi sebagai tirai yang melindungi retina

serta mengendalikan jumlah cahaya yang masuk ke mata


Lensa : organ focus utama yang membiaskan berkas-berkas cahaya
yang terpantul dari benda-benda yang dilihat menjadi bayangan
yang jelas pada retina. Lensa berada dalam sebuah kapsul elastis
yang dikaitkan pada korpus siliare koroid oleh ligamentum
suspensorium. Dengan mempergunakan otot siliare, permukaan
anterior lensa dapat lebih atau agak kurang dicembungkan, guna
memfokuskan benda-benda dekat atau jauh. Hal ini disebut

akomodasi visual
Lapisan koroid yang berpigmen : menggelapkan bilik tengah mata,
kira-kira dapat dibandingkan dengan bagian dalam kamera yang

diberi warna gelap.


Retina : mekanisme penyarafan untuk penglihatan. Retina memuat
ujung-ujung nervus optikus, serta dapat disamakan dengan
lempeng film dalam fotografi.

TABEL FUNGSI BAGIAN MATA


Bagian bola mata

Fungsi

Konjungtiva

Melindungi kornea dari gesekan

Sclera

Melindungi bola mata dari kerusakan mekanis dan menjadi


tempat melekatnya otot mata

Otot-otot

Otot-otot yang melekat pada mata :


1) Muskulus rektus superior : menggerakkan mata ke
atas
2) Muskulus rektus inferior : menggerakkan mata ke
bawah
3) Muskulus rektus medial : menggerakkan mata ke
dalam
4) Muskulus rektus lateral : menggerakkan mata ke sisi
luar
5) Muskulus oblikus superior : menggerakkan mata ke
atas sisi luar
6) Muskulus oblikus inferior : menggerakkan mata ke
bawah sisi luar

Kornea

Memungkinkan lewatnya cahaya dan merefraksi cahaya

Koroid

Mengandung pembuluh darah penyuplay retina dan


melindungi refleksi cahaya dalam mata

Badan siliaris

Menyokong lensa, mengandung otot yang memungkinkan


lensa berubah bentuk, dan mensekresikan aqueous humor
( homor berair )

Iris ( pupil )

Mengendaliakan ukuran pupil, sedangakan pigmennya


mengurangi lewatnya cahaya

Lensa

Memfokuskan pandangan dengan mengubah bentuk lensa

Retina

Mengandung sel batang dan kerucut

Fovea ( bintik kuning )

Bagian retina yang mengandung sel kerucut

Bintik buta

Daerah tempat syaraf optic meninggalkan bagian dalam bola


mata dan tidak mengandung sel konus dan batang

Vitreous
bening )

humor

humor Menyokong lensa dan menolong dalam menjaga bentuk


bola mata

Aqueous

humor

humor Menjaga bentuk kantong depan bola mata

berair )

Bila sebuah bayangan tertangkap mata, berkas-berkas cahaya benda yang


dilihat menembus kornea, akueus humor, lensa dan badan vitreus guna
merangsang ujung-ujung saraf dalam retina. Rangsangan yang diterima
retina bergerak melalui traktus optikus menuju daerah visual dalam otak
untuk ditafsirkan. Kedua daerah visual menerima berita dari kedua mata,
sehingga menimbulkan lukisan dan bentuk.
C. Bagian-Bagian Luar Mata
a) Alis
Adalah dua potong kulit tebal melengkung yang ditumbuhi bulu. A
is dikaitkan pada otot-otot sebelah bawahnya, serta berfungsi
melindungi mata dari sinar matahari yang terlalu terik.
b) Kelopak Mata
Kelopak mata merupakan dua lempengan, yaitu lempengan tarsal
yang terdiri atas fibrus yang sangat padat, serta dilapisi kulit dan
dibatasi konjungtiva. Jaringan dibawah kulit ini tidak mengandung
lemak. Kelopak mata atas lebih besar daripada kelopak mata
bawah, serta digerakkan ke atas oleh otot levator palpabrae.
Kelopak-kelopak itu ditutup otot-otot melingkar yaitu muskulus
orbukularis okuli. Bulu mata dikaitkan pada pinggiran kelopak
mata, serta melindungi mata dari debu dan cahaya.
Fungsi refraksi mata
Berkas-berkas cahaya yang jatuh diatas mata akan menimbulakan
bayangan yang telah difokuskan pada retina. Bayangan itu
menembus dan diubah oleh kornea, lensa, badan-badan akueus,
dan vitreus. Lensa merupakan alat utama yang membiaskan
cahaya, dan memfokuskan bayangan pada retina. Pada mata
normal berkas-berkas ini bersatu menangkap sebuah titik pada
retina, dan pada titik itulah bayangan difokuskan.

Kelainan refraksi kelainan pembiasan sinar oleh media pengelihatan


yang terdiri dari kornea, cairan mata, lensa, badan kaca, atau panjang bola
mata, sehingga bayangan benda dibiaskan tidak tepat didaerah makula
lutea tanpa bantuan akomodasi. Keadaan ini disebut ametropia yang dapat
berupa miopia, hipermiopia, atau astigmatisma. Sebaliknya emetropia
adalah keadaan dimana sinar yang sejajar atau jauh dibiaskan atau
difokuskan oleh sistem optik mata tepat pada daerah makula lutea tanpa
mata melakukan akomodasi.

C Klasifikasi Trauma
Secara umum, trauma dapat diklasifikasikan menjadi trauma fisik,
mekanik, dan kimia. Trauma mekanik meliputi trauma tumpul dan
tajam, sedangkan trauma kimia dibedakan penyebabnya menjadi
trauma kimia asam dan trauma kimia basa.
1 Trauma Fisik
Trauma fisik adalah trauma yang disebabkan adanya
paparan dari cahaya yang sangat terang, yang dapat
menimbulkan kerusakan pada mata. Kerusakan bisa
diakibatkan oleh reaksi termal, reaksi mekanik,
2

maupun reaksi fotokimia.


Trauma Mekanis
Trauma mekanis adalah kerusakan jaringan yang
ditimbulkan akibat gaya mekanis. Trauma mekanis
dibagi menjadi 2 kelompok yaitu trauma tumpul dan
trauma tajam.
Trauma tumpul adalah trauma yang disebabkan oleh
benda tumpul yang secara langsung mengenai organ
atau

akibat

sekunder

dari

getaran

yang

ditimbulkannya oleh karena benturan dengan benda


tumpul. Akibat yang ditimbulkan dapat berupa
kontusio (trauma tertutup) atau jika gaya yang

mengenai orbita sangat kuat dapat mengakibatkan


ruptur bola mata (trauma terbuka).
Trauma tajam adalah trauma yang disebabkan oleh
benda tajam. Kerusakan yang terjadi dapat berupa
laserasi, trauma penetrans, dan trauma perforans.
Berbeda dengan trauma tumpul, pada trauma tajam
letak luka dapat terjadi dimana saja dengan tepian
luka teratur dan dapat mengenai sebagian ataupun
3

seluruh ketebalan jaringan.


Trauma Kimia
Trauma kimia adalah trauma yang disebabkan oleh
bahan kimia, bisa berupa cairan, benda padat,
ataupun gas. Trauma kimia pada mata akan
menimbulkan

kerusakan

yang

hebat

pada

permukaan okuler yang mengakibatkan gangguan


penglihatan. Zat kimia penyebab trauma dibagi
menjadi 2 golongan yaitu asam dan basa. Pada
trauma asam, bahan kimia tertahan di permukaan
okuler tetapi pada trauma basa, bahan kimia dapat
menembus bola mata sehingga menyebabkan
kerusakan pada stroma kornes, endotel kornea, iris,
lensa, dan badan silier.
D Manifestasi Klinis
E Tatalaksana

BAB IV
PENUTUP

A Kesimpulan
B Saran

DAFTAR PUSTAKA
1
2

Sidarta,Ilyas. 2004. Ilmu Penyakit Mata Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Sidarta, Ilyas. 2009. Dasar-dasar Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata Edisi

ketiga. Jakarta: Balai Pustaka FKUI


Lang, G. Ophthalmology 2 edition: A Pocket Textbook Atlas. Thieme. Germany:

2007
Kanski JJ, Bowling B. Clinical Ophthalmology. 7 edition. UK: Elsevier-Saunders.

2011. Pg 273
Suharyo, Hartono. Ilmu Penyakit Mata. Bagian Ilmu penyakit mata FK UGM:

Yokyakarta; 2007: 89-95


Mansjoer, Arif, Kuspuji Triyanti et al. 2005.Kapita Selekta Kedokteran edisi
ketiga.Jakarta: Media Aesculapius