Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN SEMINAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN KANKER PAYUDARA


(CA. MAMAE) YANG MENJALANI TERAPI KEMOTERAPI AC KE-IV
DI RUANG RAWAT SINGKAT RUMAH SAKIT KANKER DHARMAIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Orientasi Perawat RS Kanker Dharmais

Oleh:
NS. INTAN PUTRI, S.KEP

RUMAH SAKIT KANKER DHARMAIS


JAKARTA BARAT
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kanker payudara adalah keganasan yang berasal dari sel kelenjar, saluran kelenjar
dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit payudara (Depkes RI, 2009).
Kanker payudara dimulai di jaringan payudara, yang terdiri dari kelenjar untuk produksi
susu, yang disebut lobulus, dan saluran yang menghubungkan lobulus ke puting. Sisa dari
payudara terdiri dari lemak, jaringan ikat, dan limfatik (American Cancer Society, 2011).
Menurut the American Cancer Society, payudara merupakan tempat nomor satu
tumbuhnya kanker pada wanita.
Kanker payudara pada stadium awal, jika diraba, umumnya tidak menemukan
adanya benjolan yang jelas pada payudara. Namun sering merasakan ketidaknyamanan
pada daerah tersebut (Tim Cancer Helklien, 2010). Sedangkan pada Stadium lanjut
gejalanya antara lain, jika diraba dengan tangan, terasa ada benjolan di payudara; jika
diamati bentuk dan ukuran payudara berbeda dengan sebelumnya; ada luka eksim di
payudara dan puting susu yang tidak dapat sembuh meskipun telah diobati; keluar darah
atau cairan encer dari puting susu; puting susu masuk memuntir kedalam payudara; kulit
payudara berkerut seperti kulit jeruk (Mangan, 2009).
Menurut WHO (2008), prevalensi kejadian kanker payudara di dunia dianggarkan
kurang lebih 16% daripada semua kasus kanker pada wanita. Diperkirakan kurang lebih
510 000 wanita meninggal dunia pada tahun 2004 dan 69% daripada angka tersebut
merupakan kejadian yang berlaku di negara yang berkembang.
Insidens kanker di Indonesia masih belum dapat diketahui secara pasti, karena
belum ada registrasi berbasis populasi yang dilaksanakan. Tetapi dari data Globocan
2002, IARC (International Agency for Research on Cancer) didapatkan estimasi insidens
kanker payudara di Indonesia sebesar 26 per 100.000 perempuan.
Fenomena yang sering terjadi dimasyarakat menurut Kepala Instalasi Pendidikan
dan Latihan RS Kanker Dharmais adalah klien-klien kanker di Indonesia, datang dengan
stadium lanjut. Alasannya, tidak mengetahui gejala dini kanker payudara, atau malu

memeriksakanuntuk diri bahkan kurang peduli atau tidak mau tahu. Banyak juga yang
berkunjung ke paranormal dahulu sebelum mau berobat ke dokter (Tapan, 2005).
Berdasarkan data dari rekam medis RS Kanker Dharmais tahun 2010, saat ini
kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh perempuan. Di RS
Dharmais sendiri, kanker payudara menduduki peringkat pertama dari 10 kanker terbesar.
Hampir 85% klien kanker payudara datang ke rumah sakit dalam keadaan stadium lanjut.
Jumlah klien kanker payudara yang datang dalam stadium dini (stadium I dan II) adalah
13,42%, stadium III sebesar 17% dan lebih banyak (29,98%) datang dengan stadium
lanjut (stadium IV). Klien paling banyak datang dengan kekambuhan yaitu sebesar
39,66% (Purwanto, 2010). Padahal jika kanker payudara ditemukan dalam stadium awal,
maka tingkat kesembuhan klien akan sangat baik.
Berdasarkan data di atas, perawat tertarik untuk membahas kasus kanker payudara
pada Ny. S di ruang Anyelir Rumah Sakit Kanker Dharmais.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Penulis dapat menerapkan asuhan keperawatan pada klien kanker payudara di
ruang poli onkologi
b. Tujuan Khusus
1. Melaksanakan pengkajian terhadap klien dengan kanker payudara
2. Merumuskan diagnosa keperawatan terhadap klien dengan kanker payudara
3. Mampu membuat perencanaan terhadap klien dengan kanker payudara
4. Mampu melakukan tindakan keperawatan terhadap klien dengan kanker payudara
5. Mampu mengevaluasi dari tindakan keperawatan yang telah diberikan terhadap
klien dengan kanker payudara
6. Mampu melakukan persiapan klien pulang asuhan keperawatan terhadap klien
dengan kanker payudara.

BAB II
LANDASAN TEORI

I.

A. Definisi
Kanker payudara merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak,
maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.
Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bisa bermestastase pada bagianbagian tubuh lain. Metastase biasa terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun
diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati,
kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)
Kanker payudara (carcinoma mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel
kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit
payudara. Kanker payudaraadalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara.
Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun
jaringan ikat pada payudara. (Medicastore, 2011)
Kanker payudara adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen
yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono,
2006).
II.

Epidemiologi
Dari 600.000 kasus kanker payudara baru yang yang didiagnosis setiap tahunnya,
sebanyak 350.000 di antaranya ditemukan di negara maju, sedangkan 250.000 di negara
yang sedang berkembang (Moningkey, 2000).
Kanker payudara di Indonesia menempati urutan kedua setelah kanker leher
rahim. Diperkirakan 10 dari 100.000 penduduk terkena kanker payudara dan 70% dari
penderita memeriksakan dirinya pada keadaan stadium lanjut (Ana, 2007).
The American Cancer Society memperkirakan hampir 1,4 juta kasus baru kanker
payudara invasif pada tahun 2008. Selama 25 tahun terakhir, tingkat insidensi kanker
payudara telah meningkat secara global, dengan tingkat tertinggi di negara-negara barat.
Selain kanker payudara invasif, 62.280 kasus baru pada kanker payudara in situ terjadi di
kalangan wanita di tahun 2009. Sekitar 85% di antaranya karsinoma duktal in situ
(DCIS). (Swart, 2010)
Secara keseluruhan, angka kejadian tahunan pada wanita Amerika-Afrika (119,4
dari setiap 100.000) dan/ perempuan Hispanik Latina (89,9 dari setiap 100.000) telah

stabil sejak awal 1990-an dan lebih rendah daripada kejadian tahunan kanker payudara
pada wanita kulit putih (141,1 dari setiap 100.000). Namun, Amerika - Afrika lebih
mungkin untuk dapat didiagnosis dengan tumor stadium lanjut (> 5 cm), dibandingkan
perempuan kulit putih. Tingkat insidensi di antara perempuan Asia dan Kepulauan Pasifik
terus meningkat sebesar 1,5% per tahun (89 dari setiap 100.000) tapi masih jauh lebih
rendah daripada wanita kulit putih. Namun, tingkat kematian karena kanker payudara
telah terus menurun pada wanita sejak tahun 1990. (Swart, 2010)
III.

Etiologi
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor resiko yang
menyebabkan seorang wanita menjadi lebih mungkin menderita kanker payudara.
Beberapa faktor resiko tersebut adalah:
1. Usia.
Sekitar 60% kanker payudara terjadi pada usia diatas 60 tahun. Resiko terbesar
ditemukan pada wanita berusia diatas 75 tahun.
2. Pernah menderita kanker payudara.
Wanita yang pernah menderita kanker in situ atau kanker invasif memiliki resiko
tertinggi untuk menderita kanker payudara. Setelah payudara yang terkena diangkat,
maka resiko terjadinya kanker pada payudara yang sehat meningkat sebesar 0,51%/tahun.
3. Riwayat keluarga yang menderita kanker payudara.
Wanita yang ibu, saudara perempuan atau anaknya menderita kanker, memiliki
resiko 3 kali lebih besar untuk menderita kanker payudara.
4. Faktor genetik dan hormonal.
Telah ditemukan 2 varian gen yang tampaknya berperan dalam terjadinya kanker
payudara, yaitu BRCA1 dan BRCA2. Jika seorang wanita memiliki salah satu dari gen
tersebut,

maka

kemungkinan

menderita

kanker

payudara

sangat

besar.

Gen lainnya yang juga diduga berperan dalam terjadinya kanker payudara adalah
p53, BARD1, BRCA3 dan Noey2.
Kenyataan ini menimbulkan dugaan bahwa kanker payudara disebabkan oleh
pertumbuhan sel-sel yang secara genetik mengalami kerusakan. Faktor hormonal
juga penting karena hormon memicu pertumbuhan sel. Kadar hormon yang tinggi
selama masa reproduktif wanita, terutama jika tidak diselingi oleh perubahan

hormonal karena kehamilan, tampaknya meningkatkan peluang tumbuhnya sel-sel


yang secara genetik telah mengalami kerusakan dan menyebabkan kanker.
5. Pernah menderita penyakit payudara non-kanker.
Resiko menderita kanker payudara agak lebih tinggi pada wanita yang pernah
menderita penyakit payudara non-kanker yang menyebabkan bertambahnya jumlah
saluran air susu dan terjadinya kelainan struktur jaringan payudara (hiperplasia
atipik).
6. Menarke (menstruasi pertama)
Menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun, menopause setelah usia 55 tahun,
kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamil. Semakin dini
menarke, semakin besar resiko menderita kanker payudara. Resiko menderita kanker
payudara adalah 2-4 kali lebih besar pada wanita yang mengalami menarke sebelum
usia 12 tahun.
Demikian pula halnya dengan menopause ataupun kehamilan pertama. Semakin
lambat menopause dan kehamilan pertama, semakin besar resiko menderita kanker
payudara
7. Pemakaian pil KB atau terapi sulih estrogen.
Pil KB bisa sedikit meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara, yang
tergantung kepada usia, lamanya pemakaian dan faktor lainnya. Belum diketahui
berapa lama efek pil akan tetap ada setelah pemakaian pil dihentikan.Terapi sulih
estrogen yang dijalani selama lebih dari 5 tahun tampaknya juga sedikit
meningkatkan resiko kanker payudara dan resikonya meningkat jika pemakaiannya
lebih lama.
8. Obesitas pasca menopause.
Obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara masih diperdebatkan. Beberapa
penelitian menyebutkan obesitas sebagai faktor resiko kanker payudara kemungkinan
karena tingginya kadar estrogen pada wanita yang obesitas.
9. Pemakaian alkohol.
Penggunaan alkohol jelas terkait dengan peningkatan risiko terkena kanker
payudara. Risiko meningkat sesuai jumlah alkohol yang dikonsumsi. Dibandingkan
dengan yang tidak minum alkohol, wanita yang mengkonsumsi 1 minuman

beralkohol sehari memiliki peningkatan resiko yang sangat kecil. Mereka yang
minum alkohol 2-5 kali sehari memiliki risiko sekitar 1 kali dari wanita yang tidak
minum alkohol. Dengan secara teratur mengkonsumsi alkohol maka fungsi organ
hati akan semakin lemah sehingga daya tahan tubuh akan menurun yang pada
akhirnya menyebabkan semakin tingginya resiko menderita kanker.
10. Bahan kimia.
Beberapa penelitian telah menyebutkan pemaparan bahan kimia yang menyerupai
estrogen (yang terdapat di dalam pestisida dan produk industri lainnya) mungkin
meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
11. DES (dietilstilbestrol).
Wanita yang mengkonsumsi DES untuk mencegah keguguran memiliki resiko
tinggi menderita kanker payudara.
12. Penyinaran.
Pemaparan terhadap penyinaran (terutama penyinaran pada dada), pada masa
kanak-kanak bisa meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.
13. Faktor resiko lainnya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kanker rahim, ovarium dan kanker usus
besar serta adanya riwayat kanker dalam keluarga bisa meningkatkan resiko
terjadinya kanker payudara.
IV.

Pencegahan
Pencegahan kanker payudara ada 3 macam pencegahan antara lain sebagai
berikut:
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kanker payudara dilakukan pada orang sehat yang sudah
memiliki faktor risiko untuk terkena kanker payudara. Pencegahan primer dilakukan
melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan berbagai faktor risiko dan
melaksanakan pola hidup sehat. Konsep dasar dari pencegahan primer adalah
menurunkan insidens kanker payudara yang dapat dilakukan dengan:
a. Mengurangi makanan yang mengandung lemak tinggi.
b. Memperbanyak aktivitas fisik dengan berolah raga.
c. Menghindari terlalu banyak terkena sinar-x atau jenis radiasi lainnya.
d. Mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak serat
e. Mengkonsumsi produk kedelai serta produk olahannya seperti tahu atau tempe.
Kedelai mengandung flonoid yang berguna untuk mencegah kanker dan genestein

yang berfungsi sebagai estrogen nabati (fitoestrogen). Estrogen nabati ini akan
menempel pada reseptor estrogen sel-sel epitel saluran kelenjar susu, sehingga akan
menghalangi estrogen asli untuk menempel pada saluran susu yang akan
merangsang tumbuhnya sel kanker.
f. Memperbanyak mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran, terutama yang
mengandung vitamin C, zat antioksidan dan fitokimia seperti jeruk, wortel, tomat,
labu, pepaya, mangga, brokoli, lobak, kangkung, kacang-kacangan dan biji-bijian.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko untuk
terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal
merupakan populasi beresiko dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan
dengan melakukan deteksi dini. Beberapa metode deteksi dini terus mengalami
perkembangan. Skrining melalui mamografi diklaim memiliki akurasi 90% dari semua
penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terus-menerus pada mamografi pada
wanita yang sehat merupakan salah satu faktor resiko terjadinya kanker payudara.
Skrining dengan mamografi tetap dapat dilaksanakan dengan beberapa pertimbangan
antara lain wanita yang sudah mencapai usia 40 tahun dianjurkan melakukan cancer
risk assement survey.
Wanita dengan faktor risiko mendapat rujukan untuk melakukan mamografi setiap
tahun. Wanita normal mendapat rujukan mamografi setiap 2 tahun sampai mencapai
usia 50 tahun. Kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada wanita yang
melakukan pemeriksaan Sadari dibandingkan yang tidak Sadari. Sensitivitas Sadari
untuk mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila dikombinasikan dengan
mamografi maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75% (Bustan, 2007).
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita
kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuain dengan
stadiumnya akan dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup
penderita. Pencegahan tersier ini penting untuk kualitas hidup penderita serta
mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan.
Tindakan pengobatan dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak
terhadap ketahanan hidup penderita. Tindakan kemoterapi dengan sitostatika pada

penderita kanker perlu dilakukan apabila telah bermetastasis jauh. Pengobatan pada
stadium ini akan diberikan hanya berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari
pengobatan alternatif (Luwia, 2003).
V.

Patofisiologi
Proses terjadinya kanker payudara dan masing-masing etiologi antara lain
obesitas, radiasi, hiperplasia, optik, riwayat keluarga dengan mengkonsumsi zat-zat
karsinogen sehingga merangsang pertumbuhan epitel payudara dan dapat menyebabkan
kanker payudara. Kanker payudara berasal dari jaringan epithelial dan paling sering
terjadi pada sistem duktal. Mula-mula terjadi hiperplasia sel-sel dengan perkembangan
sel-sel atipik. Sel-sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma in situ dan menginvasi stroma.
Kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai
menjadi massa yang cukup besar untuk dapat diraba (kira-kira berdiameter 1 cm). Pada
ukuran itu, kira- kira seperempat dari kanker payudarat elah bermetastase. Kebanyakan
dari kanker ditemukan jika sudah teraba, biasanya oleh wanita itu sendiri. Gejala kedua
yang paling sering terjadi adalah cairan yang keluar dari muara duktus satu payudara, dan
mungkin berdarah. Jika penyakit telah berkembang lanjut, dapat pecahnya benjolanbenjolan pada kulit ulserasi (Price, 2006).
Karsinoma inflamasi, adalah tumor yang tumbuh dengan cepat terjadi kira-kira 12% wanita dengan kanker payudara gejala-gejalanya mirip dengan infeksi payudara akut.
Kulit menjadi merah, panas, edematoda, dan nyeri. Karsinoma ini menginfasi kulit dan
jaringan limfe. Tempat yang paling sering untuk metastase jauh adalah paru, pleura, dan
tulang (Price, 2006). Karsinoma payudara bermetastase dengan penyebaran langsung ke
jaringan sekitarnya, dan juga melalui saluran limfe dan aliran darah. Kanker payudara
tersebut menimbulkan metastase dapat ke organ yang dekat maupun yang jauh antara lain
limfogen yang menjalar ke kelenjar limfe aksilasis dan terjadi benjolan, dari sel
epidermis penting menjadi invasi timbul krusta pada organ pulmo mengakibatkan
ekspansi paru tidak optimal.
Bedah dapat mendatangkan stress karena terdapat ancaman terhadap tubuh,
integritas dan terhadap jiwa seseorang. Rasa nyeri sering menyertai upaya tersebut.
Pengalaman operatif dibagi dalam tiga tahap yaitu preoperatif, intra operatif dan pos
operatif. Operasi ini merupakan stressor kepada tubuh dan memicu respon neuron
endocrine. Respon terdiri dari system saraf simpati yang bertugas melindungi tubuh dari

ancaman cidera. Bila stress terhadap sistem cukup gawat atau kehilangan banyak darah,
maka mekanisme kompensasi dari tubuh terlalu banyak beban dan syock akan terjadi.
Anestesi tertentu yang di pakai dapat menimbulkan terjadinya syock. Respon
metabolisme juga terjadi. Karbohidrat dan lemak di metabolism untuk memproduksi
energi. Protein tubuh pecah untuk menyajikan suplai asam amino yang di pakai untuk
membangun jaringan baru. Intake protein yang di perlukan guna mengisi kebutuhan
protein untuk keperluan penyembuhan dan mengisi kebutuhan untuk fungsi yang optimal.

VI.

VII.

Patoflow

Manifestasi Klinis
Penemuan dini kanker payudara masih sulit, kebanyakan ditemukan jika sudah
teraba oleh klien atau sudah stadium lanjut (Wilensky dan Lincoln, 2008). Gejala umum
kanker payudara adalah:

1. Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara


2. Payudara tidak simetris/mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai
timbul pembengkakan
3. Adanya perubahan kulit: penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu,
mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara
4. Ada perubahan suhu pada kulit: hangat, kemerahan, panas
5. Ada cairan yang keluar dari putting susu
6. Ada perubahan pada putting susu: gatal, ada rasa perih seperti terbakar, erosi dan
terjadi retraksi
7. Ada rasa sakit
8. Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah
meningkat
9. Ada pembengkakan didaerah lengan
10. Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara
11. Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar
12. Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati,
serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam
13. Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau dOrange)
14. Benjolan menyerupai bunga kubis dan mudah berdarah
15. Metastase (menyebar) ke kelenjar betah bening sekitar dan alat tubuh lain.
Adapun stadium dan klasifikasi kanker payudara adalah sebagai berikut:
Kanker Payudara dapat didiagnosis pada stadium yang berbeda-beda.Kanker payudara
yang lebih dini ditemukan, kemungkinan sembuh akan lebih besar. Luwia (2003)
menyebutkan bahwa stadium kanker payudara terdiri atas beberapa stadium, antara lain:
1. Stadium I (stadium dini)
Besarnya tumor tidak
penyebaran(metastasis)

pada

lebih
kelenjar

dari

2-2,25

getah

cm,

bening

dan

tidak

terdapat

ketiak.

Pada

stadium

inikemungkinan kesembuhan sempurna adalah 70%. Pemeriksaan ada atautidaknya


metastasis ke bagian tubuh yang lain harus dilakukan dilaboratorium.
2. Stadium II
Tumor sudah lebih dari 2,25 cm dan sudah terjadi mestastasis padakelenjar getah
bening di ketiak. Kemungkinan untuk sembuh pada stadiumini hanya 30-40 %
tergantung pada luasnya penyebaran sel kanker.Tindakan operasi biasanya dilakukan
pada sadium I dan II untukmengangkat sel-sel kanker yang ada pada seluruh bagian
penyebaran dansetelah operasi dilakukan penyinaran untuk memastikan tidak adanya
sel-selkanker yang tertinggal.

3. Stadium III
Tumor sudah cukup besar 3-5 cm, sel kanker hampir menyebar keseluruhtubuh,
dan kemungkinan untuk sembuh tinggal sedikit. Biasanyapengobatan hanya dilakukan
penyinaran dan kemoterapi (pemberian obatyang dapat membunuh sel kanker).
Kadang-kadang juga dilakukanoperasi untuk mengangkat payudara bagian yang parah.
Benjolan sudahmenonjol ke permukaan kulit dan pecah/berdarah.
4. Stadium IV
Tumor sudah berukuran besar >5 cm, sel kanker telahmenyebar/bermestastase ke
seluruh organ tubuh, dan biasanya penderitamulai lemah. Pengobatan payudara sudah
tidak ada artinya lagi. Biasanyapengobatan dilakukan dengan terapi hormonal dengan
syarat EstrogenReseptor (ER) atau Progesteron Reseptor (PR) positif karena
penderitaterlalu

lemah

dengan

syarat

mempertimbangkan

kemoterapi

yang

sudahdidapat sebelumnya.
Klasifikasi penyebaran TNM menurut Price, 2006 adalah:
Tahap 0

Tis

N0

M0

Tahap I

T1

N0

M0

Tahap IIA

T0

N1

M0

T1

N1

M0

T2

N0

M0

T2

N1

M0

T3

N1

M0

T0

N2

M0

T1

N2

M0

T2

N2

M0

T3

N1

M0

T4

Sembarang N

M0

Sembarang T

N3

M0

Sembarang T

Sembarang N

M1

Tahap IIB
Tahap IIIA

Tahap IIIB
Tahap IV

Keterangan:
T

: tumor primer

Tis : Karsinoma insitu: karsinoma intraduktal, karsinoma lobular insitu, atau penyakit
paget puting susu dengan atau tanpa tumor

T0 : tidak ada bukti adanya tumor primer


T1 : tumor < 2 cm
T2 : tumor 2-5 cm
T3 : tumor > 5 cm
T4 : tumor dengan penyebaran langsung ke dinding toraks atau ke kulit dengan tanda
oedema
N

: kelenjar getah bening regional

NX : kelenjar regional tidak dapat di tentukan


N0 : tidak teraba kelenjar aksila
N1 : teraba kelenjar aksila
N2 : teraba kelenjar aksila homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat pada
jaringan sekitarnya
N3 : terdapat kelenjar mamaria interna homolateral
M : metastase jauh
M0 : tidak ada metastasis jauh
M1 : terdapat metastasis jauh
VIII.

Prognosis
Kelangsungan hidup klien kanker payudara dipengaruhi oleh banyak hal seperti
karakteristik tumor, status kesehatan, factor genetik, level stress, imunitas, keinginan
untuk hidup, dan lain-lain. Stadium klinis dari kanker payudara merupakan indikator
terbaik untuk menentukan prognosis penyakit ini.
Stadium I
: 5 10 tahun 90-80%
Stadium II
: 70-50%
Stadium III : 20-11%
Stadium IV : 0%

IX.

Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI)
Dilakukan beberapa hari setelah menstruasi selesai. Disaat payudara tidak dalam
keadaan membengkak dan tegang seperti pada waktu mens.
a. Langkah Pertama
Berdiri didepan cermin, dada dibusungkan dan tangan diletakkan di pinggang.
Perhatikan ukuran, bentuk dan warna payudara, serta puting. Wajib memeriksakan
ke dokter, jika ada kulit payudara pada satu tempat masuk kedalam, berkerut,

kemerahan, terdapat luka yang sulit menyembuh atau membengkak. Puting susu
retraksi/masuk kedalam atau letak abnormal.
b. Langkah Kedua
Kemudian angkat tangan, perhatikan payudara seperti pada langkah pertama
diatas. Kemudian tekan/ pencet puting susu. Jika ada cairan abnormal yang keluar,
maka segeralah periksakan diri ke dokter.
c. Langkah Ketiga
Berbaring dengan tangan (pada sisi yang sama dengan payudara yang akan
diperiksa), diletakkan dibawah kepala. Tangan kiri dipakai untuk memeriksa
payudara kanan begitu sebaliknya. Raba seluruh payudara (seperti pada gambar)
mulai dari atas kebawah, sisi kiri ke sisi dalam, dari lekukan ketiak sampai kearah
payudara. Bisa juga mulai dari puting, dengan arah melingkar terus sampai ke sisi
luar lingkaran payudara. Pastikan seluruh payudara terdeteksi, raba dengan
kekuatan yang ringan, halus tapi mencapai seluruh kedalaman payudara (bisa
merasakan tulang iga dibelakang payudara).
d. Langkah Keempat
Langkah terakhir, lakukan dengan berdiri atau duduk. Lakukan perabaan seperti
pada langkah ke tiga. Beberapa wanita sering melakukan pada waktu mandi,
karena lebih mudah melakukan perabaan payudara dalam keadaan kulit payudara
basah. Secara berkala memeriksakan diri ke dokter, terutama jika mempunyai
faktor resiko terkena kanker payudara.
2. Pemeriksaan laboraturium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker (CEA)
dalam serum/ plasma, pemeriksaan sitologi.
3. Tes diagnostik lain:
a. Non invasif: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET
b. Invasif: Bioklieni, aspirasi bioklieni (FNAB), true cut/ care bioklieni, insisi
bioklieni, eksisi bioklieny
X.

Penatalaksaan
Penatalaksanaan kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan
meliputi pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi radiasi dan yang terbaru adalah
terapi imunologi (antibodi). (Smeltzer dan Bare, 2002).
Pengobatan ini ditujukan untuk memusnahkan kanker atau membatasi
perkembangan penyakit serta menghilangkan gejala-gejalanya.
Keberagaman jenis terapi ini mengharuskan terapi dilakukan secara individual.

1. Pembedahan
Tumor primer biasanya dihilangkan dengan pembedahan. Prosedur pembedahan
yang dilakukan pada klien kanker payudara tergantung pada tahapan penyakit, jenis
tumor, umur dan kondisi kesehatan klien secara umum. Ahli bedah dapat mengangkat
tumor (lumpectomy), mengangkat sebagian payudara yang mengandung sel kanker
atau pengangkatan seluruh payudara (mastectomy).
Untuk meningkatkan harapan hidup, pembedahan biasanya diikuti dengan terapi
tambahan seperti radiasi, hormon atau kemoterapi.
2. Terapi Radiasi
Terapi radiasi dilakukan dengan sinar-X dengan intensitas tinggi untuk
membunuh sel kanker yang tidak terangkat saat pembedahan.
3. Terapi Hormon
Terapi hormonal dapat menghambat pertumbuhan tumor yang peka hormon dan
dapat dipakai sebagai terapi pendamping setelah pembedahan atau pada stadium
akhir.
4. Kemoterapi
Obat kemoterapi digunakan baik pada tahap awal ataupun tahap lanjut penyakit
(tidak dapat lagi dilakukan pembedahan). Obat kemoterapi bisa digunakan secara
tunggal atau dikombinasikan. Salah satu diantaranya adalah Capecitabine dari Roche,
obat anti kanker oral yang diaktivasi oleh enzim yang ada pada sel kanker, sehingga
hanya menyerang sel kanker saja.
5. Terapi Imunologik
Sekitar 15-25% tumor payudara menunjukkan adanya protein pemicu
pertumbuhan atau HER2 secara berlebihan dan untuk klien seperti ini, trastuzumab,
antibodi yang secara khusus dirancang untuk menyerang HER2 dan menghambat
pertumbuhan tumor, bisa menjadi pilihan terapi. Klien sebaiknya juga menjalani tes
HER2 untuk menentukan kelayakan terapi dengan trastuzumab.
HER2 adalah protein yang diproduksi oleh gen yang berpotensi menyebabkan
kanker. protein ini bertindak sebagai antena yang menerima sinyal pada sel-sel
kanker menyebar cepat dan mematikan.
Keberadaan HER2 dihubungkan dengan perjalanan penyakit yang semakin
memburuk dan waktu pengulangan jauh lebih cepat pada semua tahap perkembangan
kanker payudara, sehingga menjadi hal penting bagi klien yang telah didiagnosis
dengan kanker payudara untuk memeriksa status HER2 mereka.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak dan
nyeri.
2. Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat kanker payudara sebelumnya atau ada kelainan pada payudara,
kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada sehingga
pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami kanker payudara berpengaruh pada kemungkinan
klien mengalami kanker payudara atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
4. Pemeriksaan Fisik
a.Kepala:normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan tonjolan
frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
b.Rambut:biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu berminyak.
c.Mata:biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata anemis, tidak
ikterik, tidak ada nyeri tekan.

d.Telinga:normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan
tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
e.Hidung:bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
f. Mulut:mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
g.Leher:biasanya terjadi pembesaran KGB.
h.Dada:adanya kelainan kulit berupa peau dorange, dumpling, ulserasi atau tandatanda radang.
i. Hepar:biasanya tidak ada pembesaran hepar.
j. Ekstremitas:biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
5. Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
a. Persepsi klien dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada
payudaranya ke rumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
b. Nutrisi Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan
terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan
mengandung MSG.
c. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri
saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
d. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu
karena terjadi kelemahan dan nyeri.
e. Kognitif dan Persepsi Klien
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada
komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
f. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
g. Perseklieni dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat
operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya
sebagai wanita normal.
h. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan
perannya dalam berinteraksi sosial.
i. Reproduksi dan Seksual
Biasanya akan ada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
j. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputusasaan.

k. Nilai dan Keyakinan


Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang
dada.
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Scan (mis, MRI, CT, gallium) dan ultrasound. Dilakukan untuk diagnostik,
b.
c.
d.
e.

identifikasi metastatik dan evaluasi.


Bioklieni : untuk mendiagnosis adanya BRCA1 dan BRCA2
Penanda tumor
Mammografi
Sinar X dada

B. Diagnosa Keperawatan
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen cidera biologis
2.
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan ruang gerak ditandai
3.

menolak upaya untuk bergerak


Perubahan konsep diri, harga diri rendah berhubungan dengan gangguan body image/

4.

gangguan citra diri


Cemas berhubungan dengan krisis situasi ditandai dengan peningkatan ketegangan,

5.

gemetar dan gelisah.


Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nutrisi yang
masuk ke tubuh tidak bisa digunakan optimal oleh tubuh, ditandai dengan mual

6.

(kemoterapi)
Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah, efek kemoterapi atau

7.

radiologi misal, kehilangan rambut.


Gangguan integritas kulit/jaringan berhubungan terputusnya kontuinitas jaringan

8.

karena detruksi oleh masa tumor.


Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan anestesi di tandai dengan
peningkatan jumlah lendir, kering dan lengket

C. Perencanaan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan agen cidera biologis
a. Tujuan: Nyeri menjadi berkurang atau hilang.
b. Kriteria hasil: Mengekpresikan penurunan nyeri/ ketidaknyamanan; tampak rileks,
mampu tidur/ istirahat dengan tenang.
c. Intervensi:
a. Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, lamanya dan intensitas (skala 0 - 10),
perhatikan petunjuk verbal dan non verbal
Rasional: membantu dalam mengidentifikasi derajatketidaknyamanan dan
kebutuhan untuk/keefektifananalgesik
b. Diskusikan sensasi masih adanya payudara normal

Rasional:

memberikan

keyakinan

bahwa

sensasi

bukan

imajinasi

danpenghilangannya dapat dilakukan.


c. Bantu klien menemukan posisi yang nyaman
Rasional: peninggian lengan, ukuran baju, dan adanya drainmempengaruhi
kemampuan klien untuk rileks dantidur/istirahat secara efektif
d. Berikan klien menemukan posisi nyaman
Rasional: meningkatkan relaksasi
e. Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal teratur sebelum nyeri beratdan
aktivitas dijadwalkan, kolaborasi pemberian narkotik/analgesik sesuai indikasi.
Rasional: mempertahankan tingkat kenyamanan dan meningkatnya klien untuk
latihan lengan dan untuk ambulasi tanpa rasanyeri.
2.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keterbatasan ruang gerak ditandai


menolak upaya untuk bergerak
a. Tujuan: klien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan yang dilakukan
b. Kriteria hasil: klien mampu menunjukkan teknik yang memampukanmelakukan
aktivitas
c. Intervensi:
1) Tinggikan lengan yang sakit sesuai indikasi, mulai melakukan rentang gerak
pasif(untuk

fleksi/ekstansi

siku,

promosi/suspensi

pergelangan,menekuk,

ekstensi jadi) segera mungkin


Rasional: meningkatkan aliran balik vena, mengurangi kemungkinan.
2) Biarkan klien menggerakan jari, perhatikan sensasi dan warna tangan
yang sakit
Rasional: kurang gerakan dapat menunjukan masalah saraf brakial. Interkostal
dan perubahan warna dapat mengidentifikasi gangguan sirkulasi.
3) Dorong klien untuk menggunakan lengan untuk kebersihan diri, contoh: makan,
menyisir rambut, mencuci muka.
Rasional: Peningkatan sirkulasi,

membantu

meminimalkan

edema,

danmempertahankan kekuatan dan fungsi lengan dan tangan


4) Bantu dalam aktivitas perawatan diri
Rasional: menghemat energi klien, mencegah kelelahan
5) Bantu ambulasi dan dorong memperbaiki postur
Rasional: Klien akan merasa tak seimbang dan dapat memerlukanbantuan
sampai terbiasa terhadap perubahan.
3.

Perubahan konsep diri, harga diri rendah berhubungan dengan gangguan body image/
gangguan citra diri
a. Tujuan: Menumbuhkan konsep diri yang positif.

b. Kriteria hasil: Menunjukkan gerakan ke arah penerimaan diri dalam situasi,


pengenalan dan ketidaktepatan perubahan dalam konsep diri,menyusun tujuan yang
realistik dan secara aktif berpartisipasi dalam program terapi.
c. Intervensi:
1) Dorong pertanyaan tentang situasi saat ini dan harapan yang akan datang,berikan
dukungan emosional bila balutan tidak diangkat
Rasional: kehilangan payudara menyebabkan

reaksi,

termasukperasaan

perubahan gambaran diri, takut jaringan parut, dantakut pasangan terhadap


perubahan tubuh
2) Identifikasi masalah peran sebagai wanita, istri, ibu, wanita karir dansebagainya
Rasional: dapat menyatakan bagaimana pandangan diri klien telah berubah
3) Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan
Rasional: kehilangan bagian tubuh, menerima kehilangan hasrat seksual
menambah proses kehilangan yang membutuhkan penerimaan sehingga klien
dapat membuat rencana untukmasa depan
4) Diskusikan tanda/gejala depresi dengan klien/orang terdekat
Rasional: reaksi umum terhadap tipe prosedur dan kebutuhan ini dikenalidan
diukur
5) Yakinkan perasaan/masalah pasangan sehubungan dengan aspek seksual dan
memberikan informasi dan dukungan
Rasional: respon negatif yang diarahkan pada klien dapat secara aktual
menyatakan masalah pasangan tentang rasa sedih klien.
4.

Cemas berhubungan dengan krisis situasi ditandai dengan peningkatan ketegangan,


gemetar dan gelisah.
a. Tujuan:
1) Peningkatan tegangan, ketakutan, perasaan tak berdaya/takadekuat
2) Penurunan keyakinan diri
3) Mengekspresikan masalah sehubungan dengan perasaan hidup potensial/ aktual
b. Kriteria hasil:
1) Mengakui dan mendiskusikan masalah
2) Menunjukkan rentang perasaan yang tepat
3) Melaporkan takut dan ansietas menurun sampai tingkat dapat ditangani
c. Intervensi:
1) Yakinkan informasi klien tentang diagnosis harapan intervensi pembedahan dan
terapi yang akan datang, perhatikan adanya penolakan atau ansietas ekstrim
Rasional: memberikan dasar pengetahuan perawat untuk menguatkan kebutuhan
informasi dan membantu untuk mengidentifikasi klien dengan ansietas tinggi
dan kebutuhan akan perhatian khusus

2) Jelaskan tujuan dan persiapan untuk tes diagnostik


Rasional: pemahaman jelasakan prosedur dan apa yang terjadi meningkatkan
perasaan kontrol dan mengurangi ansietas
3) Berikan lingkungan perhatian. Keterbukaan dan penerimaan juga privasi untuk
klien/orang terdekat. Anjurkan bahwa orang terdekat ada kapanpun diinginkan.
Rasional: waktu dan privasi diperlukan untuk memberikan dukungan,diskusikan
perasaan tentang antisipasi kehilangan danmasalah lain, komunikasi terapeutik,
pertanyaan terbuka,mendengarkan dan sebagainya, memudahkan proses ini.
4) Dorong pertanyaan dan berikan waktu untuk mengekspresikan takut. Beritahu
klien bahwa stress sehubungan dengan kanker payudara dapat menetap selama
beberapa bulan dan perlu mencari bantuan/ dukungan
Rasional: memberi kesempatan untuk mengidentifikasi dan memperjelas
kesalahan konsep dan menawarkan dukungan emosi
5.

Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nutrisiyang


masuk ke tubuh tidak bisa digunakan optimal oleh tubuh, ditandai dengan mual
(kemoterapi).
a. Tujuan: Tidak terjadi gangguan nutrisi.
b. Kriteria hasil: Mendemonstrasikan berat badan stabil, penambahan berat badan
progresif kearah tujuan dengan alisasis nilai laboratorium dan bebas dari tanda mal
nutrisi.
c. Intervensi:
1) Kaji abdomen, catat adanya/karakter bising usus, distensi abdomen dan keluhan
mual
Rasional: distensi abdomen dan atomi usus sering terjadi mengakibatkan
penularan/tidak adanya bising usus
2) Berikan perawatan oral
Rasional: menurunkan rangsangan muntah dan inflamasi/ iritasi membrane
mukosa kering sehubungan dengan dehidrasi dan bernafas dengan mulut bila
NGT dipasang
3) Bantu klien dalam pemilihan makanan/cairan yang memenuhi kebutuhan nutrisi
dan pembatasan bila diet dimulai
Rasional: kebiasaan diet sebelumnya

mungkin

tidak

memuaskan

padapemenuhan kebutuhan saat ini untuk regensasi jaringan dan penyembuhan


penggunaan stimulan gaster
4) Catat tanda peningkatan haus dan berkemih atau perubahan mental
danketajaman visual

Rasional: mewaspadai terjadinya hipoglekemia.


6.

Gangguan

integritas

kulit/jaringan

berhubungan

jaringankarena detruksi oleh masa tumor.


a. Tujuan: mempercepat waktu menyembuhkan luka
b. Kriteria
hasil:
menunjukan
perilaku/tehnik

terputusnya

untuk

kontuinitas

meningkatkan

penyembuhan/mencegah komplikasi, bebas draines purulen atau eritema.


c. Intervensi:
1) Kaji balutan/luka untuk karakteristik drainese, awasi jumlah edema,kemerahan
dan nyeri pada insisi dan lengan, awasi suhu.
Rasional: Penggunaan balutan tergantung dari tipe penutupan luka (balutan
penekatan biasanya dipakai pada awal dan diperkuat,tidak diganti). Drainese
terjadi karena trauma prosedur danmanipulasi banyak pembuluh darah dan
limfatik pada area tersebut. Pengenalan dan terjadinya infeksi dapat
memampukan pengobatan dengan cepat.
2) Tempatkan pada posisi semi fowler pada punggung atau sisi yang tak sakit
dengan lengan tinggi dan disokong dengan bantal.
Rasional: membantu drainase cairan melalui gravitasi
3) Jangan melakukan pengukuran tekanan darah, menginjeksi obat, atau
memasukkan intravena pada lengan yang sakit.
Rasional: meningkatkan potensial konstriksi, infeksi
4) Kosongkan drain luka secara periodik, catat jumlah dan karakteristik drainase
Rasional: akumulasi cairan drainase (contoh, linfe, darah meningkatkan
penyembuhan dan menurunkan keselamatan terhadap infeksi.
5) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai indikasi
Rasional: diberikan secara profilaksis atau untuk mengobati inspeksi
danmeningkatkan penyembuhan.
7.

Gangguan harga diri berhubungan dengan kecacatan bedah, efek kemoterapi atau
radiologi misal, kehilangan rambut.
a. Tujuan: mengungkapkan perubahan dalam gaya hidup tentang tubuh.
b. Kriteria hasil: mengungkapkan pemahaman tentang perubahan tubuh, penerimaan
diri dalam situasi.
c. Intervensi:
1) Berikan dukungan yang ada dan di gunakan oleh klien/ orang terdekat selama
fase pengobatan.
Rasional: meskipun beberapa klien beradaptasi menyesuaikan diri dengan efek
kanker atau efek kemoterapi harus banyak dukungan.
2) Gunakan sentuhan selama interaksi dan mempertahankan kontak mata

Rasional: penerimaan penting dalam menurunkan perasaan klien tentang


keraguan diri
3) Evaluasi struktur pendukung yang ada dan di gunakan oleh klien
Rasional: membantu merencanakan perawatan saat di rumah sakit serta setelah
pulang
4) Kolaborasi rujuk klien atau orang terdekat pada program kelompok pendukung.
Rasional: kelompok mendukung biasanya sangat menguntungkan baik klien
ataupun orang terdekat.
8.

Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan ansietas di tandai dengan


peningkatan jumlah lendir, kering dan lengket
a. Tujuan: pola napas efektif
b. Kriteria hasil: mempertahankan pola napas normal
c. Intervensi:
1) Tinggikan kepala tempat tidur, letakan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler
Rasional: merangsang fungsi pernapasan atau ekspansi paru
2) Tekankan menahan dada dengan bantal selama napas panjang
Rasional: menurunkan tegangan pada insisi, meningkatkan ekspansi paru
maksimal dan meningkatkan upaya batuk efektif
3) Pantau frekuensi irama, kedalaman pernapasan. Catat ketidakteraturan
pernapasan
Rasional: menandakan lokasi atau luasnya keterlibatan otak. Pernafasan lambat,
periode apnea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis.
4) Kolaborasi pemberian oksigen
Rasional: Memaksimalkan oksigen pada darah arteri

dan

membantu

dalampencegahan hipoksia. Jika pusat pernafasan tertekan, mungkin diperlukan


ventilasi mekanik.
D. Evaluasi
Tahapan evaluasi menentukan kemajuan klien terhadap pencapaian hasil yang
diinginkan dan respons klien terhadap dan keefektifan intervensi keperawatan kemudian
mengganti rencana perawatan jika diperlukan. Tahap akhir dari proses keperawatan
perawat mengevaluasi kemampuan klien ke arah pencapaian hasil.
E. Persiapan Klien Pulang
Tahapan persiapan klien pulang menentukan rencana selanjutnya yang akan di
persiapan kepada klien untuk tindakan selanjutnya.

BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Pengkajian
Tgl Masuk
: 2 Desember 2016
Tujuan Pengobatan : Kemoterapi AC siklus IV
I.

Demografi
a. Identitas
Nama
: Ny. S
Umur
: 42 tahun
No RM
: 18.30.13
Agama
: Islam
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Alamat
: Pangkalan 2 RT 003 RW 002 Cikiwul Bantar Gebang
Status
: Menikah dengan 3 orang anak
BB/ TB
: 72 kg/ 159 cm (LPB: )
Diagnosis Medis : Ca Mamae stadium III ( T3, N2, M0 )
b. Keluhan utama
Keluhan yang dirasakan klien saat ini merasa tangan kanan terasa pegal, kebas dan
berat jika diangkat.
c. Riwayat Kesehatan
1) Alasan Utama Datang Ke RS
Pada saat klien masuk rumah sakit tanggal 2 Desember 2016 dan melakukan
pengkajian, klien mengatakan ada benjolan sebesar kelereng di bawah payudara

kanan pada bulan Juni 2015, pada saat diraba benjolan terasa nyeri dan
punggung belakang terasa pegal. Dua hari kemudian klien memeriksakan ke
rumah sakit Bekasi. Dilakukan biopsi pada payudara kemudian dinyatakan hasil
nya kanker ganas.dokter hanya memberikan obat nyeri dan tidak menyarankan
untuk terapi lain. Atas inisiatif sendiri klien datang ke Rumah Sakit Dharmais,
disarankan dokter untuk melakukan pemeriksaan ulang laboratorium, USG,
Mamografi, Rontgen Foto dan dan disarankan menjalani program kemoterapi.
Klien lebih memilih pengobatan alternative selama 10 bulan, tetapi klien
merasakan kondisi tubuh semakin menurun. Pada tanggal 8 Juni 2016 klien
memeriksakan kondisi payudaranya kembali di RS Kanker Dharmais. Dokter
menyarankan agar payudaranya segera

di operasi (Mastektomy radikal dan

diseksi aksila) dan radiasi. Pada saat radiasi klien mengeluhkan ada benjolan di
ketiak kiri dan leher kiri. Radiasi dihentikan sementara dan klien disarankan
untuk melakukan pemeriksaan ulang laboratorium, USG, Mamografi, Rontgen
foto dan menjalani program kemoterapi terlebih dahulu.
2) Riwayat Kesehatan Sekarang.
Klien datang ke ruang rawat singkat RS Kanker Dharmais pada tanggal 2
Desember 2016 pukul 08.30 wib sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat
sebelumnya yaitu dengan tujuan melakukan kemoterapi AC ke IV. Klien
mengatakan sebelumnya telah menjalani kemoterapi 1,2,dan 3 di rawat singkat.
Saat datang klien dalam kondisi terpasang CVC di subklavikula kiri, ada
benjolan pada payudara kiri, mobilisasi masih bisa berjalan sendiri.
Klien merupakan klien dengan pembiayaan BPJS yang ditempatkan di kamar
124. Kemoterapi yang dij
alani klien dilakukan melalui jalur intravena pada CVC dengan diawali
pemberian cairan NaCl, pre medikasi berupa dexametason 10 mg + 3 cc NaCl
yang diberikan secara bolus, ondansentron 8 mg + 3 cc NaCl yang diberikan
secara bolus. Pemberian obat AC dimulai pada pukul 10.30 WIB dan berakhir
pada pukul 14.30 WIB.
3) Riwayat Kesehatan Dahulu.
Klien mengatakan sudah diberikan pengobatan kemoterapi AC selama 3 kali.
Kemo I
: 29/9/2016

Kemo II
Kemo III

: 21/10/2016
: 11/11/2016

4) Riwayat Kesehatan Keluarga


Klien mengatakan tidak ada keluaraga klien yang menderita penyakit kanker
payudara dan kanker lainnya.
II. Pemeriksaan fisik
1. Vital sign
Tekanan Darah 110/70 mmHg, Nadi 88 x/menit, RR 24 x/menit, suhu 36,4oC, nyeri
skala 3 pada area mamae kiri dan leher sebelah kiri.
2. Kepala
Inspeksi : Bentuk kepala normochepal, rambut hitam, rambut digunting botak
karena rontok selama menjalankan kemoterapi
Palpasi : Klien tidak mengeluh nyeri tekan kepala.
3. Mata
Inspeksi : Konjungtiva merah muda, sklera putih, lapang pandang klien normal,
gerak bola mata normal.
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
4. Telinga
Inspeksi : Bentuk telinga klien simetris, telinga luar bersih, tidak ada serumen,
pendengaran klien jelas, tidak ada nyeri tekan saat dilakukan palpasi.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
5. Hidung
Inspeksi : Tidak ada gerakan cuping hidung, tidak ada sekret, penciuman klien
baik.
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
6. Mulut
Inspeksi: Gigi lengkap, lidah bersih, tidak ada stomatitis, mukosa bibir lembab,
tidak ada sianosis.
7. Leher
Inspeksi : tampak adanya benjolan di area leher kiri
Palpasi : terasa nyeri tekan di area benjolan
8. Dada
Inspeksi : Warna kulit di daerah dada sawo matang, tidak tampak adanya retraksi
dada, tidak ada pembengkakan, payudara kanan sudah tidak ada.
Palpasi : taktil fremitus paru kanan dan kiri teraba, tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : suara lapang paru kanan dan kiri sonor
Auskultasi: bunyi paru vesikuler pada paru kanan dan kiri.
9. Jantung

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak.


Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V midklavikula
Perkusi : Suara jantung pekak, batas jantung normal
Auskultasi: Bunyi S1=lup; S2=dup, tidak ada bunyi jantung tambahan (S3, S4)
10. Abdomen
Inspeksi : Warna kulit di daerah abdomen sawo matang, tidak tampak distensi
abdomen.
Perkusi : suara abdomen timpani
Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan
Auskultasi: Bising usus 5 x/menit.
11. Genetalia
Klien mengatakan tidak ada keluhan pada area genitalia
12. Ekstremitas
Inspeksi : Kulit tampak kering, capilary refil time < 3 detik, akral dingin.
Kekuatan otot tangan kanan/ kiri 4/5, kaki kanan/kiri 5/5. terpasang infus NaCl
0,9% 20 tpm di CVC subklavia kiri. Klien mengeluh tangan kana terasa pegal dan
kebas, juga berat pada saat diangkat
Keterangan:
1
: otot sama sekali tidak mampu bergerak, tampak berkontraksi, bila
2
3
4

lengan/tungkai dilepaskan, akan jatuh 100% pasif


: tampak kontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh
: mampu menahan gaya gravitasi (saja), tapi dengan sentuhan akan jatuh
: mampu menahan tegak walaupun sedikit didorong tetapi tidak mampu

5
6

melawan tekan/ dorongan dari pemeriksa


: kekuatan kurang dibandingkan sisi lain
: kekuatan utuh

III. Kebutuhan dasar Manusia (Gordon)


1. Persepsi dan manajemen
Klien mengatakan peduli terhadap penyakitnya dan berusaha untuk melakukan
pengobatan ke beberapa rumah sakit hingga orang pintar untuk menyembuhkan
penyakitnya. Klien dan keluarga mengaku pasrah dan setuju terhadap anjuran medis
untuk dilakukan pengobatan kemoterapi demi kesembuhan klien. Pada awalnya klien
mengatakan tidak mengetahui dan cemas terhadap efek kemoterapi seperti mual,
muntah, diare dan rambut rontok. Saat ini klien merasa lebih optimis karena
dukungan keluarga dalam membantu proses perawatan di rumah sakit.
2. Nutrisi dan Metabolik

Klien mengatakan tidak menyukai makanan ber-MSG dan yang dibakar. Sebelum
sakit klien makan 3x sehari dengan menu sayur dan lauk pauk. Setelah sakit, nafsu
makan klien tidak ada penurunan, namun setelah kemoterapi klien mengeluhkan mual
dan muntah selama 2-3 hari, sehingga nafsu makan klien berkurang, namun tidak ada
penurunan berat badan. Setelah sakit klien makan seperti biasa 3xsehari dengan menu
sayur dan lauk pauk. IMT klien saat ini: 72/ (1,59)2 = 28,57 (gemuk berat)
Keterangan: IMT normal pada perempuan: 18,7-23,9
Range IMT:
- kurus (berat): <17,0
- Kurus (ringan): 17,0-18,4
- Normal : 18,5-25,0
- Gemuk (ringan) : 25,1-27,0
- Gemuk (berat) : > 27
3. Eliminasi
Klien mengatakan BAB lancar 1x perhari. Selama kemoterapi tidak ada keluhan susah
BAB, saat di rawat singkat RSKD ini klien BAK sebanyak 2x.
4. Aktifitas dan latihan
Selama di rumah, klien mengatakan mengalami hambatan dalam melakukan aktifitas
sehari-hari. Klien merasa cepat lelah dan lemah setelah kemoterapi dilakukan sehingga
semua aktivitas dibatasi. Klien mengatakan adanya hambatan untuk menggerakan
tangan kanan saat beraktifitas sehingga aktifitas di rumah dibantu oleh anak-anaknya.
5. Kognitif dan persepsi
Klien mengatakan tahu tentang penyakitnya yaitu kanker payudara namun belum tahu
dengan pasti penyebab hingga ia menderita kanker payudara. Klien mengatakan
awalnya takut untuk menjalani kemoterapi. Saat ini klien memasrahkan sepenuhnya
kepada tim medis untuk melakukan pengobatan agar penyakitnya sembuh.
6. Istirahat dan tidur
Klien mengatakan selama di rumah klien suka terbangun di malam hari karena nyeri
pada payudara sebelah kiri, nyeri yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 3.
Klien biasa tidur ke kanan karena jika miring kekiri payudara kiri terasa nyeri. Klien
tidur mulai jam 22.00 WIB dan bangun jam 05.00 WIB dan siang hari dapat tidur 1-2
jam.
7. Persepsi dan konsep diri

Citra Diri : klien mengatakan dirinya tidak ada mengalami penurunan berat badan.
Klien mengatakan efek kemoterapi rambut rontok tidak membuatnya sedih karena

masih dapat menggunakan jilbab sebagai penutup kepala.


Identitas Diri : klien mengatakan bahwa dirinya adalah ibu dari 3 orang anak yang

mulai remaja dan istri dari seorang wiraswasta.


Peran Diri : klien mengatakan karena kondisi kesehatannya yang menurun
membuat ia merasa kurang berperan sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya. Ia
merasa sangat membebankan keluarganya karena harus membantu sebagian
aktivitas yang dilakukan setiap hari. Namun, klien merasa sangat bersyukur karena

keluarganya sangat membantu dan peduli dengan proses pengobatan kankernya.


Ideal Diri : Klien mengatakan ingin menjadi seperti dulu yaitu dapat melakukan

tugasnya sebagai seorang ibu dan istri dengan baik.


Harga Diri : Klien mengatakan tidak ada rasa minder jika harus berkumpul

dengan orang banyak karena kondisinya saat ini.


8. Peran dan Hubungan sosial
Klien mengatakan hubungan dengan lingkungan sekitar rumah dan tetangganya baik.
Klien sebelum sakit mengatakan rutin mengikuti kegiatan social di lingkungan
rumahnya, namun semenjak sakit klien lebih memilih untuk beristirahat di rumah
karena cepat lelah jika banyak beraktifitas. Klien mengatakan tempat tinggal berada
dekat dengan pabrik plastik 500 m.
9. Reproduksi dan Seksual
Klien mengatakan pertama kali menstruasi pada usia 12 tahun. Klien merasa tidak
pernah mengeluh masalah berat pada saat menstruasi. Saat ini klien masih menstruasi
dengan siklus yang normal, yaitu 28 hari. Saat sakit, klien mengatakan selama sakit
suami dapat memahami bahwa kondisinya saat ini sedang tidak mampu untuk melayani
secara lahiriyah.
10. Koping dan Toleransi Stress
Saat ini klien mulai dapat menerima tentang perubahan yang terjadi pada tubuhnya
karena penyakit yang ia diderita. Klien merasa keluarganya sangat mendukung sehingga
ia merasa tidak sendiri dan dapat melakukan dengan bantuan keluarganya.
11. Nilai dan Kepercayaan
Klien mengatakan percaya kepada Allah SWT sebagai Zat penyembuh. Klien
mengatakan meskipun sedang sakit, ia tetap melaksanakan sholat 5 x sehari
IV. Pemeriksaan penunjang
1. Patologi anatomi pada tanggal 20 Juni 2016

Kesimpulan: invasi carcinoma of no special type, grade 3


dasar sayatan tidak bebas tumor
metastasis pada kelenjer getah bening aksila
2. USG Payudra kiri
Kesimpulan:
- Limfadenopati supraklavikula kanan dan aksila kiri cenderung lesi mestastase.
simple cyst pada kwadran lateroinferior kiri
3. Laboratorium 30 November 2016
No
1.
2.
3.
4.
5.
I.

II.

Jenis Pemeriksaan
Hemoglobin
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
Hematokrit

Hasil
10.9 (L)
3.50 (L)
269
4.26
32.5 (L)

Nilai normal
12,0 16,0
5,0 10,0
150 400
4,00 5,00
37 43

Satuan
g/dL
103/L
103/L
103/L
%

Terapi
1. NaCl 500 mL
2. Dexametasone 10 mg
3. Ondansentron 8 mg
4. Doxorubicin 101 mg dalam D5% 100 ml
5. Cyclofosfamid 1041 mg dalam NaCl 0,9% 250 ml
Protokol Kemoterapi AC pada Ny.N:
No Waktu
1. 11.30
2.
12.30

B. Analisa Data

Obat/ cairan
Infuse Nacl 0,9%

Jumlah
250 cc

Kecepatan
30tpm

Data

Masalah
Keperawatan
Nyeri

DS :
-

Klien

mengatakan

kanannya

terasa

bahwa
nyeri

lengan

apabila

Etiologi
Agen

cidera

biologis:

di

Ca

mamae

gerakkan.
-

Klien mengatakan nyeri pada area


mamae kiri dan leher sebelah kiri, skala
nyeri 3

Klien mengatakan selama di rumah klien


suka terbangun di malam hari karena
nyeri pada payudara sebelah kiri, nyeri
yang dirasakan seperti ditusuk-tusuk,
skala nyeri 3.

Klien mengatakan pada saat tidur miring


ke kanan karena payudara sebelah kiri
nyeri

DO :
-

TTV:
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Suhu : 36,4oC
Pernapasan : 24 x/menit
Mengkaji skala nyeri
P: klien

merasa nyeri bila tangan

melakukan aktifitas
Q: klien mengatakan nyeri rasa di tusuktusuk benda tanjam.
R: klien mengatakan nyeri jika benjolan
pada payudara kiri diraba
S: klien mengatakan skala nyeri nya 3
T: Nyeri dirasakan jika klien pada saat
tidur berbaring ke kiri
DS :
-

Gangguan mobilitas
klien

mengeluh

sedikit fisik

Keterbatasan
ruang

terganggu untuk menggerakan tangan

ditandai

kanan saat beraktifitas

upaya

klien mengatakan aktifitas

bergerak

gerak
menolak
untuk

C. Prioritas Masalah
1. Nyeri b.d agen cidera biologis: Ca mamae
2. Gangguan mobilitas fisik b.d keterbatasan ruang gerak ditandai menolak upaya untuk
bergerak
3. Kurang pengetahuan b.d kurang terpaparnya terhadap informasi kanker: ca mamae
III.

Intervensi
N

Tgl/ Jam

Dx.

Kriteria Hasil

Intervensi

Keperawata
n

1.

Nyeri

b.d

Desembe

Agen cidera

r 2016

biologis: Ca

Skala

berkurang
Dapat

nyeri 1. Observasi
nyeri

teknik

aktivitas yang dapat

relaksasi

bila

menurunkan

keluhan

nyeri

dan

meningkatkan nyeri
muncul
Klien secara verbal 3. Kaji faktor yang
melaporkan

jam

sekali
2. Anjarkan

mengidentifikasi

Mamae

4-6

skala

berkurang
Melaporkan
tidur baik

nyeri

meningkatkan dan

menurunkan nyeri
pola 4. Manajemen
lingkungan,
berikan
lingkungan
terang,

yang
batasi

pengunjung
5. Kolaborasi
pemberian
analgetik
skala
2.

Gangguan

Desembe

mobilitas

klien

jika
nyeri

meningkat
mampu 1. Tinggikan lengan

menunjukkan teknik yang

sakit

sesuai

r 2016

fisik

yang

indikasi,

berhubunga

memampukanmelak

melakukan

ukan aktivitas

gerak

dengan

mulai
rentang

pasif(untuk

keterbatasan

fleksi/ekstansi

ruang gerak

promosi/suspensi

ditandai

pergelangan,meneku

menolak

k,

upaya untuk

segera mungkin
Rasional:

bergerak

siku,

ekstensi

jadi)

meningkatkan aliran
balik

vena,

mengurangi
kemungkinan.
3.

Kuangnya

Desembe

pengetahuan

menyatakan

pengetahuan

r 2016

b.d

pemahaman tentang

klien

terpaparnya

penyakit, kondisi,

keluarga

terhadap

prognosis dan

penyakit

program pengobatan

patofisiologi dari

Klien dan keluarga

penyakit

dan

mampu

bagaimana

hal

melaksanakan

ini berhubungan

prosedur yang

dengan anatomi

dijelaskan secara

dan

benar

dengan cara yang

Klien dan keluarga

tepat.

kurang

yang

diderita
yaitu

ca

mame

Klien dan keluarga

2.

mampu menjelaskan
kembali

apa

1.

yang

3.

Kaji

tingkat
dan

Jelaskan

fisiologi,

Gambarkan
tanda dan gejala

dijelaskan

yang

biasa

perawat/tim

muncul

pada

kesehatan lainnya

penyakit, dengan

cara yang tepat


4.

Gambarkan
proses penyakit,
dengan cara yang
tepat

5.

Identifikasi
kemungkinan
penyebab,
dengan cara yang
tepat

6.

Sediakan
informasi
klien

pada
tentang

kondisi penyakit,
dengan cara yang
tepat
7.

Diskusikan
pilihan

terapi

atau penanganan

D. Persiapan Klien Pulang


1. Edukasi tentang waktu kontrol kembali sesuai jadwal
2. Rencana Pemeriksaan Laboratorium: Hb rutin, Ureum, Creatinin dan Asam Urat
3. Rencana Kemoterapi ke- V

Implementasi
No dx.
1

Tanggal/ Jam
2 Desember 2016

Implementasi

11.00 WIB

Mengkaji keluhan nyeri: PQRST

11.30 WIB
Mengajarkan teknik relaksasi jika nyeri muncul
11.40 WIB
Menganjurkan
11.45 WIB

11.55 WIB

keluarga

melakukan

manajemen

lingkungan yang tenang


Menganjurkan klien untuk mengistirahatkan tangan
kanan

dengan

tidak

banyak

mengangkat

atau

menggunakan tangan kana saat beraktifitas


Menganjurkan klien untuk menggunakan posisi yang
nyaman pada saat tidur untuk mengurangi nyeri
2

2 Desember 2016
09.30 WIB
09.40 WIB

Mengkaji kekuatan tonus otot tangan sebelah kanan


Melakukan observasi pemasangan infus pada tangan
sebelah kiri

10.00 WIB

Menganjurkan klien tidak menggunakan tangan yang


kanan untuk beraktifitas

12.10 WIB

Menganjurkan klien untuk meninggikan lengan yang


sakit sesuai indikasi, mulai melakukan rentang gerak
pasif(untuk fleksi/ekstansi siku, promosi/suspensi
pergelangan,menekuk, ekstensi jadi) segera mungkin

2 Desember 2016
13.40 WIB
14.10 WIB

Mengkaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga


Mengidentifikasi kemungkinan penyebab penyakit

14.25 WIB
14.45 WIB

dapat terjadi
Memberikan informasi pada klien tentang kondisi
penyakit sesuai dengan tingkat pengetahuan klien
Mengevaluasi tingkat kemampuan klien

II

Evaluasi
Tanggal/
jam
2
Desembe

Evaluasi

Instruksi petugas kesehatan


lainnya

S:
-

Klien

mengatakan

menggunakan

r 2016

dapat teknik

relaksasi untuk mengontrol


-

nyeri.
Klien mengatakan saat nyeri

dan nutrisi
Monitor skala nyeri tiap

4-6 jam sekali


Lakukan cek

pada payudara kiri, dengan


merubah posisi tidur miring ke
kanan
nyeri
dapat
-

berkurang
Keluarga klien mengatakan
membantu

klien

saat

beraktifitas di rumah
Klien mengatakan setelah
melakukan latihan gerak pasif
pada tangan kanan, klien
dapat menggerakan tangan
kanan

sedikit

lebih

daripada sebelumnya
Klien
mengatakan
menghindari

aktif
akan

makanan

pemicu kanker
Klien
mengatakan

tidak

mengeluh mual atau tanda


gejala

ekstravasasi

selama

kemoterapi berlangsung
O:
- Kesadaran composmentis
- TD : 110/70 mmHg
Nadi : 88 x/menit
Suhu : 36,4oC

Pantau tanda-tanda vital


Pantau status hidrasi

darah

lengkap
Pantau hasil lab
Lakukan latihan gerak
pasif
Kolaborasi

pemberian

antibiotik,

analgetik,

penambah nafsu makan,


dan antiemetik

Pernapasan : 24 x/menit
Klien dan keluarga tampak

kooperatif saat berdiskusi


Nyeri tangan kiri dan leher

kiri skala 3
Klien
tampak

mampu

melakukan teknik relaksasi


menarik nafas dalam untuk
mengurangi nyeri
A:
P:
1

Nyeri akut
Gangguan mobilitas fisik
Kurang pengetahuan
Setelah

diberikan

asuhan

keperawatan nyeri selama 15


menit dengan teknik relaksasi,
nyeri
2

pada

klien

berkurang
Setelah diberikan
gerak

pasif

klien

dapat
latihan
dapat

menggunakan tangan kanan


lebih
3

aktif

daripada

sebelumnya
Setelah diberikan penyuluhan
pada

klien

dan

keluarga

tentang penyakit klien, klien


dapat

menghindari

yang

dapat

kembali
4

pemicu

memunculkan

penyakit

kanker

payudara
Melakukan kolaborasi dengan
dokter

untuk

pemberian

analgesic, penambah nafsu


makan,

dan

rencana

kemoterapi selanjutnya

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.
Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bisa bermestastase pada bagianbagian tubuh lain. Metastase biasa terjadi pada kelenjar getah bening ketiak ataupun
diatas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa bersarang di tulang, paru-paru, hati,
kulit, dan bawah kulit.
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor resiko yang
menyebabkan seorang wanita menjadi lebih mungkin menderita kanker payudara, antara

lain: usia, pernah menderita kanker payudara,riwayat keluarga yang menderita kanker
payudara, faktor genetik dan hormonal, menarke (menstruasi pertama) sebelum usia 12
tahun, menopause setelah usia 55 tahun, kehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau
belum pernah hamil dan lain-lain.
Pencegahan kanker payudara ada 3 macam pencegahan antara lain pencegahan
primer, pencegahan sekunder dan pencegahan tersier.
Pemeriksaan penunjang pada kanker payudarameliputi: pemeriksaan payudara
sendiri (SADARI), pemeriksaan laboraturium (morfologi sel darah, LED, test fal marker
(CEA) dalam serum/ plasma, pemeriksaan sitologi), dan test diagnostik lain (non invasive
dan invasive).
Penatalaksanaan pada kanker payudara dilakukan dengan serangkaian pengobatan
meliputi pembedahan, kemoterapi, terapi hormon, terapi radiasi dan yang terbaru adalah
terapi imunologi (antibodi).

B. Saran
Sebagai kaum wanita yang lebih banyak mempunyai resiko terkena kanker
payudara, sebaiknya sedini mungkin untuk melakukan pemeriksaan payudara baik secara
mandiri (pemeriksaan SADARI) atau melakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan.
Karena kanker payudara pada stadium awal, jika diraba, umumnya tidak menemukan
adanya benjolan yang jelas pada payudara.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart. (2002).Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8: Volume 2. Jakarta:
EGC
Bustan, M.N. Dr.(2007). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta: Rineka Cipta
Iowa Interventions Project. (1996). Nursing Interventions Classification (NIC). 2 nd ed. Mosby.
Inc
Iowa Outcomes Project. (2000). Nursing Outcomes Classification (NOC). 2 nd ed. Mosby. Inc
Nanda. (2009) . Nursing Diagnoses: Defenitions and Classification (NANDA) 2009-2011.
Willey-Blackwell.
Gale, Danielle. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta:EGC
Luwia, M. (2003). Problematika dan Keperawatan Payudara. Cetakan I. Jakarta: Kawan
Pustaka
Mangan Y. 2009. Solusi Sehat Mencegah dan Mengatasi Kanker. Jakarta: Agromedia Pustaka
Price, Anderson. (1995).Patofisiologi Proses Penyakit. Edisi 4. Buku Kedua. Jakarta: EGC

Smeltzer, Suzannec. C. Bare, Brenda G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. Edisi
8: Vol. 2. Jakarta: EGC
Simposium Keperawatan. (2003).Kemoterapi. Semarang
Tapan, E.(2005).Kanker, Antioksidan dan TerapiKomplementer. Jakarta: P.T. ElexMedia
Komputindo
www.medicastore.com