Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Mastitis adalah peradangan payudara, yang dapat disertai atau tidak disertai
infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis
laktasional atau mastitis puerperalis. Mastitis infeksi dapat terjadi ketika bakteri
memasuki payudara sementara menyusui. Puting susu dapat menjadi retak atau
sakit akibat menyusui. Hal ini dapat terjadi bila posisi bayi pada saat menyusui
tidak sesuai. Mastitis dapat mempengaruhi satu atau kedua payudara. Kadangkadang keadaan ini dapat menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat.
Abses payudara, pengumpulan nanah lokal di dalam payudara, merupakan
komplikasi berat dari mastitis. Keadaan ini menyebabkan beban penyakit yang
berat dan memerlukan biaya yang sangat besar. Penelitian terbaru menyatakan
bahwa mastitis dapat meningkatkan resiko penularan HIV melalui menyusui.
Semakin disadari bahwa pengeluaran ASI yang tidak efisien akibat teknik
menyusui yang buruk merupakan penyebab yang penting. Perawat dan konsultan
menyusui yang praktek di klinik mungkin menjadi orang pertama yang berbicara
dengan ibu mengenai gejala-gejala yang menunjukkan indikasi awal mastitis.
Nasihat yang diberikan pada awal pertemuan dapat mencegah suatu kondisi yang
berkembang menjadi abses, terutama jika si ibu berpikir salah bahwa ia harus
berhenti menyusui atau ia sudah melakukannya. Mastitis biasanya merupakan
infeksi, jinak, sembuh sendiri, dengan beberapa konsekuensi untuk menyusui bayi.

LBM II

Page 1

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 SKENARIO
NYERI PAYUDARA
Pasien wanita, 30 tahun, datang ke puskesmas dengan keluhan nyeri pada
payudara kiri yang dirasakan sejak satu minggu yang lalu. Pasien mengaku awalya
muncul benjolan seperti bisul yang semakin lama semakin membesar disertai rasa
nyeri yang makin hebat. Satu hari yang lalu benjolan tersebut pecah dan
mengeluarkan cairan berwarna putih kekuningan seperti nanah. Setelah benjolan
pecah, nyeri pada payudara kiri dirasakan berkurang. Pasien juga mengeluhkan
nyeri pada putting saat menyusui dan payudara sebelah kiri dirasakan agak
membengkak dibanding payudars kanan.
Pasien mengatakan 4 bulan yang lalu dia melahirkan anak pertamanya. Sejak
saat itu dia rutin memberikan ASI untuk anaknya, tetapi belakangan ini anaknya
tampaknya hanya mau menyusui pada payudara kanannya saja. Sehingga
payudara kiri seringkali bengkak dan terasa sakit. Pasien tidak pernah memompa
ASI meskipun dirasa payudara membengkak. Pada pemeriksaan payudara
didapatkan payudara kiri edema dan hiperemis dengan adanya luka terbuka yang
mengeluarkan pus. Ditemukan pula adanya inverted nipple dan cracked nipple.
Tidak ada gambaran pseudo Doranges.
2.2 TERMINOLOGI
2.2.1 Inverted Nipple
2.2.2 Cracked Nipple
2.2.3 Pseudo Doranges
2.3 PERMASALAHAN
2.3.1 Bagaimana Anatomi dan Fisiologi Payudara ?
2.3.2 Bagaimana Fisiologi Menyusui ?
2.3.3 Bagaimana Interpretasi Pada Skenario?
2.3.4 Apa saja Diagnosis Banding pasien pada scenario?
LBM II

Page 2

2.3.5

Apa Diagnosis Kerja pasien pada scenario?

2.4 PEMBAHASAN TERMINOLOGI


2.4.1

Inverted Nipple atau Puting susu terbenam adalah Puting susu yang
tidak dapat menonjol dan cenderung masuk kedalam sehingga ASI tidak
dapat keluar dengan lancar.

2.4.2

Crached Nipple adalah perlukaan pada putin susu yang disebabkan


karna tauma pada puting susu saat menyusui, kadang kulit sekitar putting
bisa sampai terkelupas atau luka berdarah.

2.4.3

Pseudo Doranges adalah salah satu tanda kanker payudara berupa


gambaran kerutan pada dinding dada atau kulit payudara seperti kulit
jeruk dimana ada bagian yang menonjol dan bagian lainnya tidak
menonjol.

2.5 PEMBAHASAN PERMASALAHAN


2.5.1 Bagaimana Anatomi dan Fisiologi Payudara?
a.
Anatomi Payudara
Kelenjar mammae (payudara) dimiliki oleh kedua jenis kelamin.
Kelenjar ini menjadi fungsional saat pubertas untuk merespons
estrogen pada perempuan dan pada laki-laki biasanya tidak
berkembang.

Saat

kehamilan,

kelenjar

mammae

mencapai

perkembangan puncaknya dan berfungsi untuk produksi susu (laktasi)


setelah melahirkan bayi.
1. Struktur
Setiap payudara merupakan elevasi dari jaringan glandular dan
adipose yang tertutup kulit pada dinding anterior dada. Payudara
terletak diatas otot pektoralis mayor dan melekat pada otot tersebut
melalui selapis jaringan ikat. Variasi ukuran payudara bergantung
pada variasi jumlah jaringan lemak dan jaringan ikat dan bukan
pada jumlah glandular aktual.

LBM II

Page 3

Jaringan glandular terdiri dari 15 sampai 20 lobus mayor, setiap


lobus dialiri duktus laktiferusnya sendiri yang membesar
menjadi sinus lakteferus (ampula).

Lobus-lobus dikelilingi jaringan adipose dan dipisahkan oleh


ligament suspensorium cooper (berkas jaringan ikat fibrosa).

Lobus mayor bersubdivisi menjadi 20 sampai 40 lobulus, setiap


lobulus kemudian bercabang menjadi duktus-duktus kecil yang
berakhir di alveoli sekretori.

Puting memiliki kulit berpigmen dan berkerut membentang


keluar sekitar cm sampai 2 cm untuk membentuk aerola.

2. Suplai darah dan aliran cairan limfatik payudara

Suplai arteri ke payudara berasal dari arteri mammaria internal,


yang merupakan cabang arteri subklavia. Konstribusi tambahan
berasal dari cabang arteri aksilari toraks. Darah dialirkan dari
payudara melalui vena dalamdan vena supervisial yang menuju
vena kava superior.

Aliran limfatik dari bagian sentral kelenjar mammae, kulit,


puting, dan aerola adalah melalui sisi lateral menuju aksila.
Dengan demikian, limfe dari payudara mengalir melalui nodus
limfe aksilar.

LBM II

Page 4

b.

Fisiologi Payudara
Perkembangan dan fungsi payudara dimulai oleh berbagai
hormon. Esterogen diketahui merangsang perkembangan duktus
mamilaris.

Progesteron

memulai

perkembangan

lobulus-lobulus

payudara juga diferensiasi sel epitelial.


Payudara mengalami tiga macam perubahan yang dipengaruhi
oleh hormon, antara lain:
1. Perubahan pertama adalah mulai dari masa hidup anak melalui
masa hidup pubertas, masa fertilitas, sampai ke klimakterium, dan
menopause. Sejak pubertas pengaruh estrogen dan progesteron
yang diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah
menyebabkan duktus berkembang dan timbulnya asinus.
2. Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur haid.
Sekitar hari ke-8 haid, payudara menjadi lebih besar dan pada
beberapa hari sebelum haid berikutnya terjadi pembesaran
maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan yang nyeri dan tidak
rata. Selama beberapa hari menjelang haid, payudara menjadi

LBM II

Page 5

tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik terutama palpasi tidak


mungkin dilakukan. Begitu haid dimulai, semuanya berkurang.
3. Perubahan ketiga terjadi pada masa hamil dan menyusui. Pada
masa kehamilan, payudara menjadi besar karena epitel duktus lobul
dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh duktus baru.
Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air
susu diproduksi oleh sel-sel alveolus mengisi asinus, kemudian
dikeluarkan melalui duktus ke puting susu.
2.5.2

Bagaimana Fisiologi Menyusui ?


ASI dalam istilah kesehatan adalah dimulai dari proses laktasi.
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI di produksi
sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Selama kehamilan,
hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum
keluar karena masih dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari
kedua atau ketiga pascapersalinan, kadar estrogen dan progestrogen turun
drastis, sehingga pengaruh prolaktin lebih dominan dan pada saat inilah
mulai terjadi sekresi

ASI. Dengan menyusukan lebih dini terjadi

perangsangan puting susu, terbentuklah prolaktin oleh hipofisis, sehingga


sekresi ASI semakin lancar.
Dua refleks pada ibu yang sangat penting dalam proses laktasi yaitu
refleks aliran timbul akibat perangsangan puting susu oleh hisapan bayi.
a.

Refleks Prolaktin
Sewaktu bayi menyusui, ujung saraf peraba yang terdapat pada puting
susu terangsang. Rangsangan tersebut oleh serabut afferent dibawa ke
hipotalamus di dasar otak, lalu memacu hipofise anterior untuk
mengeluarkan hormon prolaktin kedalam darah. Melalui sirkulasi
prolaktin memacu sel kelenjar (alveoli) untuk memproduksi air susu.
Jumlah prolaktin yang disekresi dan jumlah susu yang diproduksi
berkaitan dengan stimulus isapan, yaitu frekuensi intensitas dan

LBM II

Page 6

lamanya bayi mengisap.


b.

Refleks Aliran (Let Down Refleks)


Rangsangan yang ditimbulkan oleh bayi saat menyusu selain
mempengaruhi hipofise anterior mengeluarkan hormon prolaktin juga
mempengaruhi hipofise posterior mengeluarkan hormon oksitosin.
Dimana setelah oksitosin dilepas ke dalam darah akan memacu otototot polos yang mengelilingi alveoli dan duktulus, dan sinus menuju
puting susu. Beberapa refleks yang memungkinkan bayi baru lahir
untuk memproleh ASI adalah sebagai berikut.

Refleks menangkap (rooting refleks)


Refleks ini memungkinkan bayi baru lahir untuk menemukan
puting susu apabila ia diletakkan di payudara.

Refleks mengisap
Yaitu saat bayi mengisi mulutnya dengan puting susu atau
pengganti puting susu sampai ke langit keras dan punggung lidah.
Refleks ini melibatkan lidah, dan pipi.

Refleks menelan
Yaitu gerakan pipi dan gusi dalam menekan areola,

sehingga

refleks ini merangsang pembentukan rahang bayi (Ambarwati, RE,


2009, hal. 10-11).
2.5.3

Bagaimana interpretasi gejala pada skenario ?


Pada skenario kemungkinan awalnya ada di sebabkan karena bayi
tersebut yang hanya mau menyusui hanya pada payudara kanan, sehingga
akan mempengaruhi aliran ASI yang akan menyebabkan statis aliran ASI,
selain itu juga yang mempengaruhi statis aliran ASI adalah saat baru lahir,
karena saat baru lahir adanya statis ASI pada payudara adalah hal yang
wajar, kemudian statis aliran ASI akan menimbulkan bendungan ASI
apabila tidak di keluarkan, sarana yang baik untuk pengeluaran ASI adalah

LBM II

Page 7

menyusui, jadi segera setelah lahir harus segera menyusui agar tidak
terjadi statis atau bendungan ASI. Saat bayi menyusui segera setelah lahir
atau di peluk oleh ibu maka akan terbentuk organisme flora yang akan
menghambat pertumbuhan organisme yang bersifat patogenik hal ini di
sebut dengan inferensial bakterial, jika organisme yang bersifat patogenik
tersebut berkembang, akan menyebabkan reaksi inflamasi, dan dapat
masuk ke payudara, selain oleh bakteri dapat juga terjadi karena non
bakterial, dimana bendungan ASI yang sudah ada akan menyebakan
plasma masuk ke dalam ASI dan akan terjadi reaksi imun. sehingga akan
menyebabkan keluhan keluhan yang ada di skenario, dimana akan
terkirim sinyal kimiawi ke otak yang akna menyebabkan makrofag datang
ke tempat infeksi tersebut, hasilnya akan menyebabkan adanya nanah atau
pus, dan akan di stimulasinya mediator inflamasi yaitu prostaglandin dan
leukotrien yang menyebabkan sel mast mengeluarkan histamin, histamin
akan menyebakan vasodilatasi pembuluh darah sehingga akan tampak
eritema, dan juga peningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi
akumulasi cairan sehingga tampak edema dan dapat muncuk bisul,
kemudian nyeri karena adanya bisul atau edema akan menekan saraf
perifer yang ada di sekitar sehingga menimbulkan persepsi nyeri, dan
adanya mediator inflamasi menyebabkan terstimulasinya saraf yang ada
sehingga menimbulkan persepsi nyeri yang akan di terus kan melalui divisi
aferen (input dari perifer ke SSP) dan kemudian di teruskan ke divisi
eferen (dari SSP ke perifer) sehingga timbul rasa nyeri akibat impulsnya
yang sebelumnya

melewati korteks

somatosensorik.
2.5.4 Diagnosis Banding pasien pada skenario
a.
Mastitis
Definisi

LBM II

Page 8

cerebri tepatnya di korteks

Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai


infeksi atau tidak. Organisme yang paling sering menyebabkan infeksi
adalah Staphylococcus aureus atau Stertokok. Penyakit ini biasanya
menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau
mastitis puerperalis. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu,
tetapi mungkin juga melalui peredaran darah.
Etiologi
Penyebab utama mastitis adalah statis ASI dan infeksi. Statis ASI
biasanya merupakan penyebab primer yang dapat disertai atau
menyebabkan infeksi. Pada umumnya yang dianggap porte dentree
dari kuman penyebab adalah putting susu yang luka atau lecet, dan
kuman perkontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus.
1) Statis ASI
Statis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari
payudara. Hal ini terjadi jika payudara terbendung segera setelah
melahirkan, atau setiap saat jika bayi tidak mengisap ASI, isapan
bayi yang buruk pada payudara, pengisapan yang tidak efektif,
pembatasan frekuensi/durasi menyusui, sumbatan pada saluran
ASI, suplai ASI yang sangat berlebihan dan menyusui untuk
kembar dua/lebih.
2) Infeksi
Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis dan
abses payudara adalah organisme koagulase-positif Staphylococcus
aureus

dan

Staphylococcus

albus.

Escherichia

coli

dan

Streptococcus kadang-kadang juga ditemukan. Mastitis jarang


ditemukan sebagai komplikasi demam tifoid.
Manifestasi Klinis

LBM II

Page 9

Pembengkakan: payudara terasa penuh akibat ASI tidak dapat


keluar, sehingga menekan aliran vena, aliran limfatik, dan aliran ASI.
Hal ini menyebabkan payudara menjadi bengkak dan edema.
Gambaran klinisnya adalah:
1) Payudara terasa berat, panas dan keras, tidak mengkilat/edema,
atau kemerahan.
2) Payudara

membesar,

bengkak

dan

sakit

(nyeri

lokal),

mengkilat/edema dan kemerahan, puting datar.


3) Obstruksi dukstus menyebabkan galaktokel, berupa kista berisi ASI
4) Mastitis subklinis: ditandai dengan peningkatan rasio antara Na/K
di dalam ASI dan peningkatan IL-8 tanpa disertai gejala mastitis.
Ini semua menandakan adanya respon inflamasi.
5) Mastitis infeksious: berdasarkan letak diklasifikasikan sebagai
berikut, yaitu (1) mastitis superfisial yang berlokasi di daerah
dermis dan intra-mamaria dan (2) mastitis paarenkimus atau
interstisial yang terletak pada jaringan payudara. Berdasarkan
bentuk epidemiological dibagi menjadi epidemic dan sporadic.
Keadaan mastitis tersebut dapat dibuktikan dengan menghitung
jumlah bakteri sekaligus kultur resistensi untuk menentukan
pemberian antibiotic yang sesuai.
6) Mastitis

rekuren:

terjadi

karena

keterlambatan

atau

tidak

adekuatnya penanganan mastitis sebelumnya atau cara pemberian


ASI yang tidak baik.

b.

LBM II

Abses Payudara
Definisi

Page 10

Abses payudara adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi


akibat suatu infeksi bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan
yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur,
meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi.
Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan
infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan
bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih inilah yang mengisi
rongga tersebut.
Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan disekitarnya akan
terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan
menjadi dinding pembatas abses. Hal ini merupakan mekanisme tubuh
untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. Jika suatu abses
pecah didalam, maka infeksi bisa menyabar di dalam tubuh maupun
dibawah permukaan kulit, tergantung pada lokasi abses.
Etiologi
Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak
ditemukan pada kulit yang normal (Staphylococcus aureus). Bakteri
seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu
melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada puting susu).
Pada wanita pasca menopause, infeksi payudara berhubungan
dengan peradangan menahun dari saluran air susu yang terletak di
bawah putting susu. Perubahan hormonal di dalam tubuh wanita
menyebabkan penyumbatan saluran air susu oleh sel-sel kulit yang
mati. Saluran yang tersumbat ini menyebabkan payudara lebih mudah
mengalami infeksi.
Suatu Infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa
cara :

LBM II

Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka dari tusukan jarum tidak

steril.
Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain.

Page 11

Bakteri yang dalam keadaan normal, hidup di dalam tubuh manusia


dan tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan
terbentuknya abses.

Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika :

Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya

infeksi.
Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang.
Terdapat gangguan system kekebalan.
Abses Payudara merupakan komplikasi yang terjadi akibat

adanya infeksi payudara. Infeksi ini paling sering terjadi selama


menyusui, akibat masuknya bakteri ke jaringan payudara. Peradangan
atau infeksi payudara atau yang disebut mastitis dapat disebabkan oleh
infeksi bakteri, perembesan sekresi melalui fisura di putting, dan
dermatitis yang mengenai putting. Bakteri seringkali berasal dari mulut
bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan
dikulit (biasanya pada putting susu). Abses payudara bisa terjadi
disekitar putting, bisa juga diseluruh payudara.
Manifestasi Klinis
Gejala dari abses tergantung pada lokasi dan pengaruhnya
terhadap fungsi suatu organ atau syaraf. Gejala dan tanda yang sering
ditimbulkan oleh abses payudara diantaranya :
Tanda-tanda inflamasi pada payudara (merah, panas jika disentuh,

membengkak dan adanya nyeri tekan).


Teraba massa, suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit
biasanya tampak sebagai suatu benjolan. Jika abses akan pecah,
maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya

menipis.
Gejala sistematik berupa demam tinggi, menggigil, malaise.
Nipple discharge (keluar cairan dari putting susu, bisa mengandung
nanah)

LBM II

Page 12

Gatal-gatal Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang


sama dengan payudara yang terkena.

c.

Fibroadenoma
Definisi
Fibroadenoma mammae merupakan neoplasma jinak yang
terutama terdapat pada wanita muda, dan jarang ditemukan setelah
menopause. Fibroadenoma adalah kelainan pada perkembangan
payudara normal dimana ada pertumbuhan berlebih dan tidak normal
pada jaringan payudara dan pertumbuhan yang berlebih dari sel-sel
yang melapisi saluran air susu di payudara.
Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mamma yang paling
banyak ditemukan, dan merupakan tumor primer yang paling banyak
ditemukan pada kelompok umur muda.
Etiologi
Sampai saat ini penyebab FAM masih belum diketahui secara
pasti, namun berdasarkan hasil penelitian ada beberapa faktor risiko
yang mempengaruhi timbulnya tumor ini antara lain:
1) Umur
Umur merupakan faktor penting yang menentukan insiden atau
frekuensi terjadinya FAM. Fibroadenoma biasanya terjadi pada
wanita usia muda < 30 tahun. terutama terjadi pada wanita dengan
usia antara 15-25 tahun.
2) Riwayat Perkawinan
Riwayat perkawinan dihubungkan dengan status perkawinan dan
usia perkawinan, paritas dan riwayat menyusui anak.
3) Paritas dan Riwayat Menyusui Anak
Penurunan paritas meningkatkan insiden terjadinya FAM, terutama
meningkat pada kelompok wanita nullipara. Pengalaman menyusui
memiliki peran yang penting dalam perlindungan terhadap risiko
kejadian FAM.

LBM II

Page 13

4) Penggunaan Hormon
Diperkirakan bahwa fibroadenoma mammae terjadi karena
kepekaan terhadap peningkatan hormon estrogen. Penggunaan
kontrasepsi yang komponen utamanya adalah estrogen merupakan
faktor risiko yang meningkatkan kejadian FAM.
5) Obesitas
Berat badan yang berlebihan (obesitas) dan IMT yang lebih dari
normal merupakan faktor risiko terjadinya FAM.
6) Riwayat Keluarga
Tidak

ada

faktor

genetik

diketahui

mempengaruhi

risiko

fibroadenoma. Namun, riwayat keluarga kanker payudara pada


keluarga tingkat pertama dilaporkan oleh beberapa peneliti
berhubungan dengan peningkatan risiko tumor ini.
7) Stress
Stress berat dapat meningkatkan produksi hormon endogen
estrogen yang juga akan meningkatkan insiden FAM.
8) Faktor Lingkungan
Tinggal di dekat pabrik yang memproduksi Polycyclic aromatic
hydrocarbons (PAHs) juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya
FAM.
Manifestasi Klinis
Gejala klinis yang sering terjadi pada fibroadenoma mammae
adalah adanya bagian yang menonjol pada permukaan payudara,
benjolan memiliki batas yang tegas dengan konsistensi padat dan
kenyal. Ukuran diameter benjolan yang sering terjadi sekitar 1-4 cm,
namun kadang dapat tumbuh dan berkembang dengan cepat dengan
ukuran benjolan berdiameter lebih dari 5 cm.Benjolan yang tumbuh
dapat diraba dan digerakkan dengan bebas. Umumnya fibroadenoma
tidak menimbulkan rasa nyeri atau tidak sakit.

LBM II

Page 14

Perubahan fibroadenoma menjadi ganas dalam komponen


epitelfibroadenoma umumnya dianggaplangka. Fibroadenoma secara
signifikan tidak meningkatkan risiko berkembang menjadi kanker
payudara Insidenkarsinoma berkembang dalam suatu fibroadenoma
dilaporkan hanya 20/10.000 sampai 125/10.000 orang yang berisiko.
Sekitar 50% dari tumor ini adalah lobular carcinoma in situ (LCIS),
20% infiltrasi karsinoma lobular, 20% adalah karsinoma duktal in situ
(DCIS), dan 10% sisanya infiltrasi karsinoma duktal. Berdasarkan
pemeriksaan klinis ultrasonografi dan mammografi
ditemukan fibroadenoma jinak

biasanya

dan perubahan menjadi ganas

ditemukan hanya jika fibroadenoma tersebut dipotong. Fibroadenoma


yang dibiarkan selama bertahun-tahun akan berubah menjadi ganas,
dikenal dengan istilah progresi dan persentase kemungkinannya hanya
0,5% - 1%.
d.

Kanker Payudara
Definisi
Kanker payudara merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam
jaringan payudara. Kanker dapat tumbuh di dalam kelenjar susu,
saluran susu, jaringan lemak, maupun jaringan ikat pada payudara.
Umur penderita kanker payudara termudaadalah 20 sampai 29
tahun, yang tertua adalah 80 sampai 89 tahun, yang terbanyak adalah
berumur 40 sampai 49 tahun dan letak terbanyak di kuadran lateral
atas.
Etiologi
Etiologi dan penyakit kanker payudara belum dapat dijelaskan.
Namun, banyak penelitian yang menunjukkan adanya beberapa faktor
yang berhubungan dengan peningkatan resiko atau kemungkinan untuk
terjadinya kanker payudara.
Faktor-faktor resiko tersebut adalah :

LBM II

Page 15

Jenis kelamin
Berdasarkan penelitian, wanita lebih beresiko menderita kanker
payudara daripada pria. Prevalensi kanker payudara pada pria
hanya 1% dari seluruh kanker payudara.

Faktor usia
Resiko kanker payudara meningkat seiring dengan pertambahan
usia. Setiap sepuluh tahun, resiko kanker payudara meningkat dua
kali lipat. Kejadian puncak kanker payudara terjadi pada usia 40-50
tahun.

Riwayat keluarga
Adanya riwayat kanker payudara dalam keluarga merupakan faktor
resiko terjadinya kanker payudara.

Faktor genetik
Pada suatu studi genetik ditemukan bahwa kanker payudara
berhubungan dengan gen tertentu. Bila terdapat mutasi gen BRCA1
dan BRCA2, yaitu gen suseptibilitas kanker payudara, maka
probabilitas untuk terjadi kanker payudara adalah sebesar80%.

Faktor hormonal
Kadar hormon estrogen yang tinggi selama masa reproduktif,
terutama jika tidak diselingi perubahan hormon pada saat
kehamilan, dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker payudara.

Usia menarche
Berdasarkan penelitian, menarche dini dapat meningkatkan resiko
kanker payudara. Ini dikarenakan terlalu cepat mendapat paparan
dari estrogen.

LBM II

Page 16

Menopause
Menopause yang terlambat juga dapat meningkatkan resiko kanker
payudara. Untuk setiap tahun usia menopause yang terlambat, akan
meningkatkan resiko kanker payudara 3 %.

Usia pada saat kehamilan pertama >30 tahun.


Resiko kanker payudara menunjukkan peningkatan seiring dengan
peningkatan usia wanita saat kehamilan pertamanya.

Nulipara/belum pernah melahirkan


Berdasarkan penelitian, wanita nulipara mempunyai resiko kanker
payudara sebesar 30 % dibandingkan dengan wanita yang
multipara.

Tidak Menyusui
Berdasarkan penelitian, waktu menyusui yang lebih lama
mempunyai efek yang lebih kuat dalam menurunkan resiko kanker
payudara. Ini dikarenakan adanya penurunan level estrogen dan
sekresi bahan-bahan karsinogenik selama menyusui.

Pemakaian kontrasepsi oral dalam waktu lama, diet tinggi lemak,

alkohol, dan obesitas.


Manifestasi Klinis
Yang termasuk tanda dan gejala kanker payudara yaitu:
Nyeri pada payudara
Nyeri adalah fisiologis kalau timbul sebelum atau sewaktu haid dan
dirasakan oleh kedua payudara. Kanker payudara dalam taraf
permulaan tidak menimbulkan rasa nyeri. Nyeri baru terasa kalau

LBM II

infiltrasi ke sekitar sudah mulai.


Adanya benjolan/massa di kelenjar payudara

Page 17

Pembesaran pada kelenjar payudara yang terjadi pada pada waktu


sebelum atau pada waktu haid saja merupakan keadaan yang

fisiologis.
Gejala retraction
Gejala retraction merupakan penarikan ke dalam oleh puting

payudara.
Nipple discharge
Yang disebut sebagai Nipple discharge ialah cairan yang
dikeluarkan puting payudara secara spontan dan memberikan bekas

di BH. Cairan yang keluar berupa darah.


Timbulnya kelainan kulit
Kelainan kulit berupa kemerahan pada suatu tempat di payudara,
edema kulit, peau dorange (gambaran seperti kulit jeruk).
Pembesaran kelenjar getah bening atau tanda metastasis jauh.

2.5.5

Diagnosis Kerja pada scenario


Mastitis
a.
Definisi
Mastitis adalah peradangan pada payudara yang dapat disertai
infeksi

atau

tidak,

yang

disebabkan

oleh

kuman

terutama Staphylococcus aureus melalui luka pada puting susu atau


melalui peredaran darah. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi,
sehingga

disebut

juga

mastitis

laktasional

atau

mastitis

puerperalis. Infeksi terjadi melalui luka pada puting susu, tetapi


mungkin juga melalui peredaran darah. Kadang-kadang keadaan ini
b.

bisa menjadi fatal bila tidak diberi tindakan yang adekuat.


Epidimiologi
1. Insiden
Penelitian di seluruh dunia dalam 10 tahun terakhir
menunjukkan kejadian mastitis laktasi berkisar 4-27% wanita
menyusui tergantung pada metode, terutama subjek seleksi, yang
digunakan dalam studi ini. Mastitis terjadi pada semua populasi,
dengan atau tanpa kebiasaan menyusui. Insiden yang dilaporkan

LBM II

Page 18

bervariasi dari sedikit sampai 33% wanita menyusui, tetapi


biasanya di bawah 10%.
2. Mula Timbul
Mastitis laktasi dapat berkembang pada minggu-minggu awal
pasca melahirkan setelah ibu meninggalkan rumah sakit. Mastitis
paling sering terjadi pada minggu kedua dan ketiga pasca
kelahiran, dengan sebagian besar laporan menunjukkan bahwa 74%
sampai 95% kasus terjadi dalam 12 minggu pertama. Namun,
sekitar sepertiga dari kasus-kasus ibu menyusui jangka panjang
terjadi setelah bayi berusia 6 bulan.
c.

Etiologi
Dua penyebab utama mastitis adalah stasis ASI dan infeksi. Stasis
ASI biasanya merupakan penyebab primer, yang dapat disertai atau
berkembang menuju infeksi. Gunther pada tahun 1958 menyimpulkan
dari pengamatan klinis bahwa mastitis diakibatkan oleh stagnasi ASI di
dalam payudara, dan bahwa pengeluaran ASI yang efisien dapat
mencegah keadaan tersebut. Ia menyatakan bahwa infeksi, bila terjadi,
bukan primer, tetapi diakibatkan oleh stagnasi ASI sebagai media
pertumbuhan bakteri. Thomsen dan kawan-kawan pada tahun 1984
menghasilkan bukti tambahan tentang pentingnya stasis ASI. Mereka
menghitung leukosit dan bakteri dalam ASI dari payudara dengan
tanda klinis mastitis dan mengajukan klasifikasi berikut ini :

Stasis ASI, didapatkan <106 leukosit dan bakteri <103) membaik

hanya dengan terus menyusui atau pengeluaran ASI.


Inflamasi noninfeksiosa (atau mastitis noninfeksiosa), didapatkan
leukosit >106 dan bakteri <103 yang diterapi dengan sesering
mungkin pengeluaran ASI atau dengan tindakan pemerasan ASI
setelah menyusui, tanpa diobati.

LBM II

Page 19

Mastitis infeksiosa, didapatkan leukosit >106 dan bakteri >103,


yang hanya dapat diobati dengan efektif dengan pemerasan ASI
dan antibiotik sistemik
Keterlambatan terapi menyebabkan pembentukan abses pada

11% kasus, dan hanya 15% kembali ke laktasi normal. Sering


mengosongkan payudara yang terinfeksi dengan perawatan lanjut
mengurangi resiko pembentukan abses, namun hanya 51% kembali ke
laktasi normal. Terapi antibiotik tambahan meningkatkan kembali
laktasi normal pada 97% dengan resolusi gejala dalam 21 hari. Tanpa
pengeluaran

ASI

yang

efektif,

mastitis

noninfeksiosa

sering

berkembang menjadi mastitis infeksiosa, dan mastitis infeksiosa


menjadi pembentukan abses.
Berikut ini keterangan mengenai 2 penyebab utama mastitis :
1

Stasis ASI
Stasis ASI terjadi jika ASI tidak dikeluarkan dengan efisien dari
payudara. Hal ini dapat terjadi bila payudara terbendung segera
setelah melahirkan atau saat bayi tidak mengisap ASI, yang
dihasilkan oleh sebagian atau seluruh payudara. Penyebabnya
termasuk pengisapan bayi yang buruk pada payudara, pengisapan
yang tidak efektif, pembatasan frekuensi atau durasi menyusui dan
sumbatan pada saluran ASI. Situasi lain yang mempengaruhi
predisposisi terhadap stasis ASI, termasuk suplai ASI yang sangat
berlebihan, atau menyusui untuk kembar dua atau lebih. Berikut
faktor-faktor penyebab stasis asi :
a

Bendungan payudara
Kondisi ini tidak terjadi bila bayi disusui segera setelah lahir,
sehingga stasis ASI terhindarkan. Pentingnya pengeluaran ASI
yang segera pada tahap awal mastitis, atau kongesti, untuk

LBM II

Page 20

mencegah perkembangan penyakit dan pernbentukan abses.


Isapan bayi adalah sarana pengeluaran ASI yang efektif.
b

Frekuensi menyusui
Tahun 1952, Illingworth dan Stone secara formal menunjukkan
dalam uji coba dengan kontro1, bahwa insiden stasis asi dapat
dikurangi hingga setengahnya bila bayi disusui tanpa batas.
Hubungan antara pembatasan frekuensi dan durasi menyusui
dan mastitis telah diuraikan oleh beberapa penulis. Banyak
wanita menderita mastitis bila mereka tidak menyusui atau bila
bayi mereka, tidak seperti biasanya, tertidur semalaman dan
waktu antar menyusui semakin lama.

Pengisapan pada payudara


Pengisapan yang buruk sebagai penyebab pengeluaran ASI
yang tidak efisien, saat ini dianggap sebagai faktor predisposisi
utama mastitis. Nyeri puting dan puting pecah-pecah sering
ditemukan bersama dengan mastitis. Penyebab nyeri dan
trauma puting yang tersering adalah pengisapan yang buruk
pada payudara, kedua kondisi ini dapat terjadi bersama-sama.
Selain itu, nyeri puting akan menyebabkan ibu menghindar
untuk menyusui pada payudara yang sakit dan karena itu
mencetuskan stasis ASI dan bendungan.

LBM II

Page 21

Sisi yang disukai dan pengisapan yang efisien


Banyak ibu merasa lebih mudah untuk menyusui bayinya pada
satu sisi payudara dibandingkan dengan payudara yang lain.
Selain itu telah dinyatakan bahwa pengisapan yang tidak tepat,
yang menyebabkan stasis ASI dan mastitis, lebih mungkin
terjadi pada sisi payudara yang lebih sulit untuk menyusui.

Faktor mekanis lain


Frenulum yang pendek (tounge tie) pada bayi mengganggu
pengisapan pada payudara dan menyebabkan puting luka dan
pecah-pecah. Hal ini juga mengurangi efisiensi pengeluaran
ASI dan predisposisi untuk mastitis.1

Infeksi
a Organisme penyebab infeksi
Organisme yang paling sering ditemukan pada mastitis
dan abses payudara adalah organisme koagulase-positif

LBM II

Page 22

Staphylococcus aureus dan Staph. albus, kadang-kadang


ditemukan Escherichia coli dan Streptococcus, dan organisme
infeksi streptokokal neonatus ditemukan pada sedikit kasus.
M.tuberculosis adalah penyebab mastitis lain yang jarang
ditemukan. Dalam populasi yang endemik tuberkulosis,
M.tuberbulosis dapat ditemukan pada kira-kira 1% dari kasus
mastitis dan berkaitan dengan beberapa kasus tonsillitis
tuberkulosis pada bayi.
Bakteri sering ditemukan dalam ASI dari payudara yang
asimtomatik di negara-negara industri dan berkembang.
Spektrum bakteri sering serupa dengan yang ditemukan di kulit.
Berdasarkan penelitian, hanya 50% biakan AS1 bersifat steril,
sedangkan yang lain menunjukkan hitungan koloni "normal"
dari 0-2.500 koloni per ml. Oleh karena itu, adanya bakteri
dalam ASl tidak selalu menunjukkan terjadinya infeksi, bahkan
bila bakteri bukan kontaminan dari kulit.
b

Rute infeksi
Bagaimana

infeksi

memasuki

payudara

belum

diketahui. Beberapa jalur telah diduga, yaitu melalui duktus


laktiferus ke dalam lobus, dengan penyebaran hematogen dan
melalui fisura puting susu ke dalam sistem limfatik periduktal.
Frekuensi fisura puting susu telah dilaporkan meningkat dengan
adanya mastitis. Mastitis dan puting pecah-pecah terjadi
bersamaan karena keduanya dapat mengakibatkan pengisapan
yang buruk pada payudara, selain itu, seringkali fisura menjadi
titik masuk infeksi.
d.

Patofisiologi
Terjadinya mastitis diawali dengan peningkatan tekanan di
dalam duktus (saluran ASI) akibat stasis ASI. Bila ASI tidak segera

LBM II

Page 23

dikeluarkan maka terjadi tegangan alveoli yang berlebihan dan


mengakibatkan sel epitel yang memproduksi ASI menjadi datar dan
tertekan, sehingga permeabilitas jaringan ikat meningkat. Beberapa
komponen (terutama protein kekebalan tubuh dan natrium) dari plasma
masuk ke dalam ASI dan selanjutnya ke jaringan sekitar sel sehingga
memicu respons imun. Stasis ASI, adanya respons inflamasi, dan
kerusakan jaringan memudahkan terjadinya infeksi.
Terdapat beberapa cara masuknya kuman yaitu melalui duktus
laktiferus ke lobus sekresi, melalui puting yang retak ke kelenjar limfe
sekitar duktus (periduktal) atau melalui penyebaran hematogen
(pembuluh

darah).

Organisme

Staphylococcus

aureus,

Kadangkadang

ditemukan

yang

Escherecia
pula

paling
coli

mastitis

dan

sering

adalah

Streptococcus.

tuberkulosis

yang

menyebabkan bayi dapat menderita tuberkulosa tonsil. Pada daerah


endemis tuberkulosa kejadian mastitis tuberkulosis mencapai 1%.
e.

Manifestasi Klinis
1) Bendungan
Sejak hari ketiga sampai hari keenam setelah persalinan,
ketika ASI secara normal dihasilkan, payudara menjadi sangat
penuh. Hal ini bersifat fisiologis, dan dengan pengisapan yang
efektif dan pengeluaran ASI oleh bayi, rasa penuh tersebut pulih
dengan cepat. Namun, dapat berkembang menjadi bendungan, dan
kedua kondisi ini sering membingungkan. Pada bendungan,
payudara terisi sangat penuh dengan ASI dan cairan jaringan.
Aliran vena dan limfatik tersumbat, aliran susu menjadi terhambat,
dan tekanan pada saluran ASI dan alveoli meningkat. Payudara
menjadi bengkak dan edematous. Payudara penuh yang bersifat
fisiologis maupun penuh karena bendungan, biasanya mengenai
kedua payudara. Namun, terdapat beberapa perbedaan penting,

LBM II

Page 24

yaitu:

Payudara yang perih terasa panas, berat, dan keras. Tidak


terlihat mengkilat, edema, atau merah. Asi biasanya mengalir
dengan lancar, dan kadang-kadang menetes keluar secara

spontan. Bayi mudah mengisap dan mengeluarkan asi.


Payudara yang terbendung membesar, membengkak, dan sangat
nyeri. Payudara dapat terlihat mengkilat dan edema dengan
daerah eritema difus. Puting susu teregang menjadi rata. Asi
tidak mengalir dengan mudah, dan bayi sulit untuk mengisap
ASI sampai pembengkakan berkurang. Wanita kadang-kadang
menjadi demam. Walaupun demikian, demam biasanya hilang

dalam 24 jam.
2) Sumbatan saluran payudara
Stasis ASI lokal, mempengaruhi sebagian payudara, seperti
sebuah lobus, sering menunjukkan sumbatan saluran payudara.
"Bendungan payudara fokal", atau "saluran payudara tersumbat
merupakan istilah lain yang kadang-kadang digunakan. Kondisi ini
dianggap akibat dari obstruksi benda padat, tetapi dapat pula hanya
akibat pengeluaran ASI yang tidak efisien dari bagian payudara
tersebut. Tanda klinis berupa benjolan yang sangat nyeri pada satu
payudara, sering dengan bercak kemerahan pada kulit di atasnya.
Hanya sebagian dari satu payudara yang terkena. Wanita biasanya
tidak demam dan merasa sehat.
Beberapa wanita dengan sumbatan saluran ASI melaporkan
adanya bahan partikel pada air susu yang diperas. Pada kasus ini
mungkin terdapat sumbatan sejati pada saluran ASI. Gejala hilang
dengan cepat ketika materi partikel yang keras dikeluarkan, dan
ASI keluar dari bagian payudara yang terkena. Granula putih yang
dapat ditemukan pada ASI yang terkumpul diduga terbentuk dari

LBM II

Page 25

campuran kasein dan materi lain yang mengeras oleh garam yang
mengandung kalsium. Materi yang tampak berlemak atau seperti
benang, kadang-kadang berwarna coklat atau kehijauan, juga
kadang-kadang keluar dari saluran yang tampak tersumbat, diikuti
dengan hilangnya gejala. Kondisi yang berhubungan adalah
tampaknya bintik putih pada ujung puting susu, biasanya
berdiameter sekitar 1 mm pada bagian payudara dengan saluran
yang tersumbat. Bintik putih dapat sangat nyeri selama pengisapan.
Sumbatan cepat hilang bila bintik putih dibuang, misalnya, dengan
menggunakan jarum steril atau diusap dengan handuk. Bintik putih
diduga akibat pertumbuhan epitel yang berlebihan (membentuk
sebuah bula), atau akumulasi materi partikel atau berlemak.
Keadaan lain yang tidak lazim berhubungan adalah galaktokel.
Galaktokel adalah kista yang terisi susu, diduga merupakan
perkembangan dari saluran ASI yang tersumbat. Galaktokel timbul
sebagai pembengkakan yang bulat licin pada payudara, awalnya
hanya terisi dengan susu, kemudian dengan materi yang kental
seperti krim bila cairan diabsorbsi. Bila pembengkakan diperas,
cairan seperti susu dapat keluar dari puting susu. Diagnosis dapat
dibuat dengan aspirasi atau ultrasound. ASI dapat diaspirasi, tetapi
kista biasanya terisi lagi setelah beberapa hari, dan diperlukan
aspirasi ulangan. Galaktokel dapat dibuang secara bedah dengan
anestesi lokal. Menyusui tidak perlu dihentikan.
3) Mastitis noninfeksiosa
Bila ASI tidak dikeluarkan dari sebagian atau seluruh
payudara, produksi ASI melambat dan akhirnya berhenti. Namun,
proses ini membutuhkan waktu beberapa hari dan tidak akan
selesai dalam 2-3 minggu. Untuk sementara waktu, akumulasi ASI
dapat menyebabkan respons peradangan. Sitokin, baik inflamasi
LBM II

Page 26

dan

antiinflamasi

normal

ditemukan

dalam

ASI.

Sitokin

antiinflamasi dan faktor-faktor lain diduga merupakan pelindung


bayi, tetapi sitokin inflamasi, seperti interleukin-8 (IL-8), mungkin
lebih penting sebagai pelindung payudara terhadap infeksi.
Peningkatan kadar IL-8 ditemukan dalam payudara selama
mastitis, dan merupakan tanda respon inflamasi telah terjadi.
Sebagai bagian dari respons inflamasi, jalur paraseluler, yang
berhubungan erat, dengan sel pensekresi ASI di alveoli payudara
terbuka, sehingga menyebabkan bahan-bahan dari plasma masuk
ke dalam ASI, terutama imunoprotein dan natrium. Pada saat yang
sama, peningkatan tekanan dalam saluran ASI dan alveoli dapat
menyebabkan substansi tersebut kembali masuk ke jaringan sekitar.
Sitokin dari ASI dapat menginduksi respons inflamasi di dalam
jaringan sekitar, dan sitokin juga membantu komponen lain
menginduksi reaksi antigen. Inflamasi juga bertanggung jawab
terhadap tanda dan gejala mastitis. Sebagian payudara sangat nyeri,
merah, membengkak, dan keras. Biasanya hanya satu payudara
yang terkena. Wanita sering demam dan merasa tidak sehat.
Namun, dalam penelitian diamati bahwa sepertiga sampai setengah
wanita dengan mastitis hanya memiliki tanda lokal. Jalur
paraseluler yang terbuka mengakibatkan perubahan komposisi ASI,
kadar natrium dan klorida meningkat, dan kadar laktosa dan kalium
menurun. ASI berubah rasa menjadi lebih asin dan kurang manis.
Biasanya rasa asin ini bersifat sementara, berlangsung kira-kira
satu minggu. Kadang-kadang payudara kurang digunakan, dan
stasis ASI serta perubahan rasa menetap. Namun, kondisi ini
bersifat reversibel, dan setelah kehamilan berikutnya, payudara
yang terkena kembali berfungsi normal.
4) Mastitis subklinis

LBM II

Page 27

Mastitis subklinis didiagnosis dari adanya peningkatan rasio


natrium-kalium

dalam

ASI,

dan

peningkatan

konsentrasi

interleukin-8 (IL-8), bila tidak ditemukan mastitis secara klinis.


Peningkatan kadar natrium dan IL-8 diduga menunjukkan bahwa
sedang terjadi respons inflamasi,walaupun tidak ada tanda klinis.
Mastitis subklinis sering ditemukan pada wanita di Banglades,
Tanzania, Malawi, dan Afrika Selatan. Peningkatan rasio natriumkalium dalam ASI juga telah diamati berhubungan dengan
pertambahan berat badan yang buruk pada bayi, dan bila makanan
tambahan yang diberikan pada bayi, atau bila frekuensi menyusui
berkurang, sehingga produksi ASI sangat berkurang sampai di
bawah 400 ml per hari. Hal ini menunjukkan bahwa mastitis
subklinis dapat disertai dengan pengeluaran ASI yang tidak
adekuat, dan bahwa mastitis subklinis agak sering terjadi pada
situasi terscbut. Morton pada tahun 1994 menemukan bahwa
pemberian bimbingan yang benar pada ibu bayi berusia di atas satu
bulan, termasuk membantu mereka agar bayi dapat mengisap
payudara dengan baik, berhubungan dengan perbaikan laktasi dan
penurunan kadar natrium ASI yang meningkat.
5) Mastitis infeksiosa
Mastitis infeksi terjadi bila stasis ASI tidak sembuh, dan
proteksi oleh faktor imun dalam ASI dan oleh respons inflamasi
kalah. Secara normal, ASI segar bukan merupakan media yang baik
untuk pertumbuhan bakteri, harus terdapat kondisi yang mencegah
payudara untuk menghancurkan dan mengeliminasi bakteri. Aliran
ASI alami sepanjang saluran payudara, bila dikeluarkan secara
efisien, diharapkan akan menghanyutkan bakteri keluar dari
payudara. Pengeluaran ASI yang tidak efisien, yang menyebabkan
akumulasi ASI, membuat suatu keadaan yang kondusif untuk
LBM II

Page 28

pertumbuhan bakteri, dan proses antiinfeksi dapat kalah. Tanda dan


gejala mastitis infeksiosa, seperti yang telah didiskusikan diatas,
tidak mungkin dibedakan dari mastitis noninfeksiosa. Biasanya
sebagian dari satu payudara menjadi merah, sangat nyeri,
membengkak, dan keras, dan mungkin terdapat beberapa gejala
umum, seperti demam dan malaise. Tanda yang menyertai mungkin
adalah

puting

pecah-pecah.

Mastitis

infeksiosa

telah

diklasifikasikan oleh beberapa penulis dalam beberapa cara.


Pertama, berdasarkan tempat, yaitu: mastitis superfisialis dan
mastitis intramamaria yang terletak pada jaringan kelenjar itu
sendiri (parenkimatosa) atau pada jaringan ikat payudara
(interstisial). Kedua berdasarkan pola epidemiologis yaitu epidemik
atau sporadik. Penghitungan sel dan koloni bakteri berguna untuk
membedakan antara mastitis infeksiosa dan noninfeksiosa. Biakan
ASI dapat membantu menentukan organisme penyebab infeksi, bila
ada, dan sensitivitasnya terhadap antibiotik. Bila biakan tidak
mungkin dilakukan secara rutin, dapat dilakukan secara selektif
pada:

Mastitis yang didapat di rumah sakit, atau kasus berat atau

kasus yang tidak biasa


Ketiadaan respons terhadap antibiotik dalam dua hari;
Mastitis berulang.
Mastitis berulang dapat diakibatkan oleh pengobatan yang

terlambat atau tidak adekuat terhadap kondisi awal atau teknik


menyusui yang buruk yang tidak diperbaiki. Kadang-kadang
terdapat keadaan payudara yang menyebabkan drainase yang buruk
pada sebagian payudara, seperti kelainan saluran payudara, kista
atau tumor, yang harus diidentifikasi dan diobati dengan baik.
Gejala dapat berupa bengkak pada payudara, nyeri seluruh

LBM II

Page 29

payudara atau

nyeri lokal, kemerahan pada seluruh payuara /

hanya lokal, payudara keras dan berbenjol-benjol, permukaan kulit


dari payudara yang terkena infeksi juga tampak seperti pecahpecah. badan demam seperti terserang flu, menggigil (deman
malaise) ,nyeri tekan pada payudara, bila sudah masuk tahap
abses , gejalanya: nyeri bertambah hebat dipayudara, kuli diatas
abses mengkilap, suhu tubuh (39 40 c), bayi sendiri tidak mau
minum pada payudara.sakit,seolah bayi tahu bahwa susu disebelah
itu bercampur dengan nanah.
f.

Diagnosis
Dokter mendiagnosis mastitis berdasarkan anamnesis tentang
gejala-gejala yang dialami, riwayat sebelumnya, dan pemeriksaan fisik.
Tanda lainnya yang cukup jelas adalah adanya bentuk prisma segitiga
tidak beraturan (wedge ) pada payudara, yang sakit bila disentuh.
Selain itu, dokter juga akan memeriksa apakah ada abses (komplikasi
yang timbul bila mastitis tidak ditangani dengan tepat). Jika diagnosis
sulit, belum pasti atau terjadi mastitis rekuren dapat dilakukan
pemeriksaan:
Kultur ASI atau cairan puting
Biopsi pada daerah yang terkena
Ultrasound payudara
Mammogram atau x-ray
Kultur ASI, menyediakan koloni bakteri untuk bertumbuh.
Identifikasi bakteri penyebab dapat dilihat melalui mikroskop. Pada
saat yang sama tes dapat dilakukan untuk menentukan antibiotik apa
yang paling efektif untuk melawan bakteri penyebab.

g.

Penatalaksanaan
1 Sumbatan saluran payudara
Penanganan dilakukan dengan memperbaiki pengeluaran ASI, dan

LBM II

Page 30

mencegah obstruksi aliran ASI.

Pastikan bahwa bayi mempunyai posisi dan isapan yang baik.


Beberapa penulis menganjurkan menggendong bayi dengan
dagu mendekati bagian payudara yang terkena, untuk
mempermudah

pengeluaran

ASI

dari

bagian

tersebut,

sedangkan yang lain secara umum mempertimbangkan

perbaikan pengisapan yang adekuat.


Jelaskan perlunya menghindari semua yang dapat menyumbat
aliran ASI, seperti pakaian yang ketat, dan yang menyangga

payudara terlalu dekat dengan puting susu.


Mendorong ibu untuk menyusui sesering dan selama bayi

menghendaki, tanpa pembatasan.


Menyarankan ibu untuk menggunakan panas basah (misalnya,
kompres hangat atau pancuran hangat)
Kadang-kadang, teknik tersebut tidak menghilangkan

gejala. Hal ini disebabkan adanya materi partikel yang menyumbat


saluran. Pemijatan payudara, menggunakan gerakan jempol yang
keras pada benjolan ke arah puting susu mungkin membantu.
Namun, hal ini harus dilakukan dengan lembut, karena jika
jaringan

payudara

meradang,

pemijatan,

kadang-kadang,

memperburuk situasi. Bila terlihat bintik putih pada ujung puting


susu, bintik tersebut harus disingkirkan, dengan kuku, kain kasar,
atau dengan bantuan jarum steril.
2

Mastitis
Jika dengan semua usaha pencegahan, mastitis tetap terjadi,
maka ia harus ditangani dengan cepat dan adekuat. Bila
penanganan ditunda, penyembuhan kurang memuaskan. Terdapat
peningkatan risiko abses payudara dan kekambuhan. Prinsipprinsip utama penanganan mastitis adalah:

LBM II

Page 31

Konseling suportif
Mastitis merupakan pengalaman yang sangat nyeri dan
membuat frustrasi, dan membuat banyak wanita merasa sangat
sakit. Selain dengan penanganan yang efektif dan pengendalian
nyeri, wanita membutuhkan dukungan emosional. Ia mungkin
telah mendapat nasihat yang membingungkan dari petugas
kesehatan, mungkin disarankan untuk berhenti menyusui, atau
tidak diberi petunjuk apapun. Ia dapat menjadi bingung dan
cemas, dan tidak ingin terus menyusui. Ibu harus diyakinkan
kembali tentang nilai menyusui yang aman untuk diteruskan,
bahwa

ASI

dari

payudara

yang

terkena

tidak

akan

membahayakan bayinya, dan bahwa payudaranya akan pulih


baik bentuk maupun fungsinya. Ia memerlukan dukungan
bahwa perlu sekali untuk berusaha melampaui kesulitan ini. Ia
membutuhkan bimbingan yang jelas tentang semua tindakan
yang

dibutuhkan

untuk

penanganan,

dan

bagaimana

meneruskan menyusui atau memeras ASI dari payudara yang


terkena. Ia akan membutuhkan tindak lanjut untuk mendapat
dukungan terus-menerus dan bimbingan sampai ia benar-benar
pulih.
b

Pengeluaran ASI dengan efektif


Hal ini merupakan bagian terapi terpenting. Antibiotik dan
terapi simtomatik membuat wanita merasa lebih baik untuk
sementara waktu, tetapi kondisi tersebut akan memburuk atau
berulang

walaupun

sudah

diberikan

antibiotik

kecuali

pengeluaran ASI diperbaiki.


Bantu ibu memperbaiki pengisapan bayi pada payudara, dorong
untuk sering menyusui, sesering dan selama bayi menghendaki,

LBM II

Page 32

tanpa pembatasan. Bila perlu peras ASI dengan tangan atau


dengan pompa atau botol panas, sampai menyusui dapat
dimulai lagi.
c

Terapi Antibiotik
Terapi antibiotik diindikasikan pada:

Hitung sel dan koloni bakteri dan biakan yang ada serta

menunjukkan infeksi
Gejala berat sejak awal
Terlihat puting pecah-pecah
Gejala tidak membaik setelah

12-24

jam

setelah

pengeluaran ASI diperbaiki.


Antibiotik yang tepat harus digunakan, Antibiotik Blaktamase harus ditambahkan agar efektif terhadap Staph.
aureus. Untuk organisme gram negatif, sefaleksin atau
amoksisilin mungkin paling tepat. Jika mungkin, ASI dari
payudara yang sakit sebaiknya dikultur dan sensitivitas bakteri
antibiotik ditentukan. Antibiotik terpilih harus diberikan dalam
jangka panjang. Saat ini dianjurkan pemberian 10-14 hari oleh
kebanyakan ahli. Pemberian jangka pendek berkaitan dengan
insiden kekambuhan yang tinggi.
Antibiotik untuk pengobatan mastitis infeksiosa

LBM II

Antibiotik

Dosis

Eritromisin

250-500 mg setiap 6 jam

Flukloksasilin

250 mg tiap 6 jam

Dikloksasilin

125-500 mg setiap 6 jam per oral

Amoksasilin

250-500 mg setiap 8 jam

Sefaleksin

250-500 mg setiap 6 jam

Terapi Simtomatik

Page 33

Nyeri sebaiknya diterapi dengan analgesik. Ibuprofen


dipertimbangkan sebagai obat yang paling efektif, dan dapat
membantu

mengurangi

inflamasi

dan

nyeri.

Parasetamol

merupakan alternatif yang tepat. Istirahat sangat penting


dipertimbangkan dan seharusnya ditempat tidur jika mungkin.
Selain membantu ibu sendiri, tirah baring dengan bayinya sangat
berguna untuk meningkatkan frekuensi menyusui, sehingga dapat
memperbaiki pengeluaran susu. Tindakan lain yang dianjurkan
adalah penggunaan kompres hangat pada payudara yang akan
menghilangkan nyeri dan membantu aliran ASI, dan yakinkan
bahwa ibu minum cukup cairan.
h.

Komplikasi
Abses payudara
Abses merupakan komplikasi mastitis yang biasanya terjadi
karena pengobatan terlambat atau tidak adekuat. Bila terdapat daerah
payudara teraba keras , merah dan tegang walaupun ibu telah diterapi,
maka kita harus pikirkan kemungkinan terjadinya abses. Kurang lebih
3% dari kejadian mastitis berlanjut menjadi abses. Pemeriksaan USG
payudara diperlukan untuk mengidentifikasi adanya cairan yang
terkumpul. Cairan ini dapat dikeluarkan dengan aspirasi jarum halus
dengan bimbingan USG karena dapat bersifat kuratif. Hal ini dapat
mengurangi nyeri dibanding insisi dan penyaliran, dan dapat dilakukan
dengan anastesia lokal. Pada abses yang sangat besar terkadang
diperlukan tindakan bedah. Selama tindakan ini dilakukan ibu harus
mendapat antibiotik. ASI dari sekitar tempat abses juga perlu dikultur
agar antibiotik yang diberikan sesuai dengan jenis kumannya. Bila
payudara yang dibedah sudah sembuh, maka bayi diwajibkan
menyusui payudara yang terkena agar mencegah stasis asi atau menjadi
mastitis berulang.

LBM II

Page 34

i.

Prognosis
Umumnya prognosis dari mastitis adalah baik.

BAB III
PENUTUP

LBM II

Page 35

3.1 KESIMPULAN
Berdasarkan pada skenario bahwa kelompok kami menyimpulkan bahwa
diagnosis kerja pada skenario adalah mastitis dengan komplikasi abses payudara,
karena tanda dan gejala yang terdapat di skenario seperti nyeri, bisul yang berisi
pus/nanah, edema, hiperemis, inverted nipple, dan cracked nipple merupakan
manifestasi klinis dari mastitis dan berdasarkan faktor resikonya seperti bayi yang
hanya mau menyusui pada salah satu payudara saja lebih mengarah kepada
mastitis di bandingkan diagnosa banding lainnya, sementara pernyataan yang
terdapat di skenario yaitu pasien tidak pernah memompa ASI meskipun di rasa
payudara membengkak, bisa di masukkan ke dalam kategori bahwa tidak
mendapatkan penanganan yang baik atau di telantarkan yang merupakan dapat
menjadi penyebab munculnya abses payudara, sehingga akan di dapatkan
diagnosis mastitis dengan komplikasi abses payudara.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar M, Baziad A, Prabowo RP. Ilmu kandungan. Jakarta : PT Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo: 2011.p. 412-416.
Inch S, Xylander S. Mastitis : penyebab dan penatalaksanaan. Newyork : World

LBM II

Page 36

Health Organization. 2000. p. 1-32.

LBM II

Page 37