Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP DASAR ASUHAN

KEPERAWATAN HIV/AIDS DENGAN LIMFOMA MALIGNA

I. LAPORAN PENDAHULUAN HIV/AIDS DENGAN LIMFOMA MALIGNA


A. DEFINISI
Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan
dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit sehingga
muncul istilah limfoma maligna (maligna = ganas). Pada orang sehat sistem limfatik
tersebut justru merupakan komponen sistem kekebalan tubuh. Ada dua jenis limfoma
maligna yaitu Limfoma Hodgkin (HD) dan Limfoma non-Hodgkin (LNH).
Limfoma maligna adalah kelompok neoplasma maligna/ganas yang muncul
dalam kelenjar limfe atau jaringan limfoid ekstranodal yang ditandai dengan proliferasi
atau akumulasi sel-sel asli jaringan limfoid (limfosit, histiosit dengan pra-sel dan
derivatnya).
Limfoma maligna adalah malignansi yang timbul dari sistem limfatik (Danielle,
1999). Sedangkan menurut Suzanne C. Smeltzer, ( 2001), mengemukakan bahwa
limfoma maligna adalah keganasan sel yang berasal dari sel limfoid.

B. ETIOLOGI
Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan pasti.
Empat kemungkinan penyebabnya adalah: faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan,
infeksi virus atau bakteria (HIV, virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV),
Epstein-Barr virus (EBV), Helicobacter Sp) dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet
dan pewarna kimia).

C. KLASIFIKASI
1. Klasifikasi Penyakit
Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu
penyakit Hodgkin (PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). Keduanya
memiliki gejala yang mirip. Perbedaannya dibedakan berdasarkan
1

pemeriksaan patologi anatomi dimana pada PH ditemukan sel Reed


Sternberg, dan sifat LNH lebih agresif
2. Klasifikasi Patologi
Klasifikasi limfoma maligna telah mengalami perubahan selama
bertahun-tahun. Pada tahun 1956 klasifikasi Rappaport mulai
diperkenalkan. Rappaport membagi limfoma maligna menjadi tipe
nodular dan difus kemudian subtipe berdasarkan pemeriksaan sitologi.
Modifikasi klasifikasi ini terus berlanjut hingga pada tahun 1982
muncul klasifikasi Working Formulation yang membagi limfoma
maligna menjadi keganasan rendah, menengah dan tinggi berdasarkan
klinis dan patologis. Seiring dengan kemajuan imunologi dan genetika
maka muncul klasifikasi terbaru pada tahun 1982 yang dikenal dengan
Revised European-American classification of Lymphoid Neoplasms
(REAL classification).
3. Stadium Limfoma Maligna
Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium.
Stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal
penyakit, sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama

sebagai stadium lanjut.


Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu

kelenjar getah bening.


Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar
getah bening, tetapi hanya pada satu sisi diafragma, serta pada seluruh dada atau

perut.
Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar

getah bening, serta pada dada dan perut.


Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya
pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang, hati, paru-paru, atau otak

D. PATOFISIOLOGI
Proliferasi abmormal tumor dapat memberi kerusakan penekanan atau penyumbatan
organ tubuh yang diserang. Tumor dapat mulai di kelenjar getah bening (nodal) atau
diluar kelenjar getah bening (ekstra nodal).
Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, mudah
digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha). Pembesaran kelenjar tadi dapat
dimulai dengan gejala penurunan berat badan, demam, keringat malam. Hal ini dapat
segera dicurigai sebagai Limfoma. Namun tidak semua benjolan yang terjadi di sistem
2

limfatik merupakan Limfoma. Bisa saja benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar
limfa dengan sejenis virus atau mungkin tuberkulosis limfa.
Beberapa penderita mengalami demam Pel-Ebstein, dimana suhu tubuh meninggi
selama beberapa hari yang diselingi dengan suhu normal atau di bawah normal selama
beberapa hari atau beberapa minggu. Gejala lainnya timbul berdasarkan lokasi
pertumbuhan sel-sel limfoma.

E. MANIFESTASI KLINIK
1. Pembengkakan kelenjar getah bening.
Pada limfoma Hodgkin, 80% terdapat pada kelenjar getah bening leher, kelenjar ini
tidak lahir multiple, bebas atas konglomerasi satu sama lain. Pada limfoma nonHodgkin, dapat tumbuh pada kelompok kelenjar getah bening lain misalnya pada
traktus digestivus atau pada organ-organ parenkim.
2. Demam tipe pel Ebstein dimana suhu tubuh meninggi selama beberapa hari yang
diselingi dengan suhu normal atau di bawah normal selama beberapa hari atau
beberapa minggu.
3. Gatal-gatal
4. Keringat malam
5. Berat badan menurun lebih dari 10% tanpa diketahui penyebabnya.
6. Nafsu makan menurun.
7. Daya kerja menurun
8. Terkadang disertai sesak nafas
9. Nyeri setelah mendapat intake alkohol (15-20%)
10. Pola perluasan limfoma Hodgkin sistematis secara sentripetal dan relatif lebih
lambat, sedangkan pola perluasan pada limfoma non-Hodgkin tidak sistematis dan
relatif lebih cepat bermetastasis ke tempat yang jauh.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah yaitu hemogran dan trombosit. LED sering meninggi dan
kemungkinan ada kaitannya dengan prognosis. Keterlibatan hati dapat diketahui
dari meningkatnya alkali fosfatase, SGOT, dan SGPT.
2. Radiologi
a.Foto thoraks
b.
Limfangiografi
3

c.USG
d.
CT scan
G. PENATALAKSANAAN
Penanganan terutama ditentukan oleh stadium penyakitnya, dan bukan oleh jenis
histologinya. Penyakit Hodgkin potensial dapat disembukan dengan radioterapi, selama
masih terbatas pada rangkaian nodus limfe, limfa dan orofaring. Pasien yang penyakitnya
belum menyebar harus mendapat radiasi dengan dosis yang cukup tinggi untuk
menghancurkan tumor tidak hanya pada nodus tumor yang jelas tampak tetapi juga pada
nodus di sekitarnya dan rangkaian nodus limfatikus. Bila ada tanda penyebaran di luar
daerah yang dapat ditangani tentu saja secara otomatis tidak memungkinkan pasien untuk
menjalani program tersebut dimana pada kasus tersebut dapat diberikan kombinasi
kemoterapi dan radioterapi paliatif.
Terapi yang diberikan pada penderita limfoma maligna yaitu :
1. Cara pengobatan bervariasi dengan jenis penyakit. Beberapa pasien dengan tumor
keganasan tingkat rendah, khususnya golongan limfositik, tidak membutuhkan
pengobatan awal jika mereka tidak mempunyai gejala dan ukuran lokasi
limfadenopati yang bukan merupakan ancaman.
2. Radioterapi
Walaupun beberapa pasien dengan stadium I yang benar-benar terlokalisasi dapat
disembuhkan dengan radioterapi, terdapat angka yang relapse dini yang tinggi pada
pasien yang dklasifikasikan sebagai stadium II dan III. Radiasi local untuk tempat
utama yang besar harus dipertimbangkan pada pasien yang menerima khemoterapi
dan ini dapat bermanfaat khusus jika penyakit mengakibatkan sumbatan/ obstruksi
anatomis.
Pada pasien dengan limfoma keganasan tingkat rendah stadium III dan IV, penyinaran
seluruh tubuh dosis rendah dapat membuat hasil yang sebanding dengan khemoterapi.
3. Khemoterapi
a. Terapi obat tunggal Khlorambusil atau siklofosfamid kontinu atau intermiten
yang dapat memberikan hasil baik pada pasien dengan limfoma maligna
keganasan tingkat rendah yang membutuhkan terapi karena penyakit tingkat
lanjut.
b. Terapi

kombinasi.

(misalnya

COP

(cyclophosphamide,

oncovin,

dan

prednisolon)) juga dapat digunakan pada pasien dengan tingkat rendah atau
sedang berdasakan stadiumnya.
H. KOMPLIKASI

Komplikasi yang dialami pasien dengan limfoma maligna dihubungkan dengan


penanganan dan berulangnya penyakit. Efek-efek umum yang merugikan berkaitan
dengan kemoterapi meliputi : alopesia, mual, muntah, supresi sumsum tulang, stomatitis
dan gangguan gastrointestinal. Infeksi adalah komplikasi potensial yang paling serius
yang mungkin dapat menyebabkan syok sepsis. Efek jangka panjang dari kemoterapi
meliputi kemandulan, kardiotoksik, dan fibrosis pulmonal.
Efek samping terapi radiasi dihubungkan dengan area yang diobati. Bila pengobatan
pada nodus limfa servikal atau tenggorok maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut :
mulut kering, disfagia, mual, muntah, rambut rontok, dan penurunan produksi saliva.
Bila dilakukan pengobatan pada nodus limfa abdomen, efek yang mungkin terjadi
adalah muntah, diare, keletihan, dan anoreksia.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN LIMFOMA MALIGNA


A. PENGKAJIAN
Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, tidak terasa
nyeri, mudah digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha). Pembesaran kelenjar tadi
dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan, demam, keringat malam. Hal ini
dapat segera dicurigai sebagai Limfoma. Namun tidak semua benjolan yang terjadi di
sistem limfatik merupakan Limfoma. Bisa saja benjolan tersebut hasil perlawanan
kelenjar limfe dengan sejenis virus atau mungkin tuberculosis limfa.
Pada pengkajian data yang dapat ditemukan pada pasien limfoma antara lain:
1. Data subjektif
a. Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38oC
b. Sering keringat malam.
c. Cepat merasa lelah

d. Badan Lemah
e. Mengeluh nyeri pada benjolan
f. Nafsu makan berkurang
2. Data Obyektif
a. Timbul benjolan yang kenyal, mudah digerakkan pada leher, ketiak atau pangkal
paha.
b. Wajah pucat
3. Kebutuhan dasar
a. Aktivitas/Istirahat
Gejala :

Kelelahan, kelemahan atau malaise umum

Kehilangan produktifitasdan penurunan toleransi latihan

Kebutuhan tidaur dan istirahat lebih bantak


Tanda : Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban dan tanda lain yang
menunjukkan kelelahan

b. Sirkulasi
Gejala :

Palpitasi, angina/nyeri dada

Tanda

Takikardia, disritmia.

Sianosis wajah dan leher (obstruksi drainase vena karena pembesaran nodus
limfa adalah kejadian yang jarang)

Ikterus sklera dan ikterik umum sehubungan dengan kerusakan hati dan obtruksi
duktus empedu dan pembesaran nodus limfa(mungkin tanda lanjut)

Pucat (anemia), diaforesis, keringat malam.

c. Integritas Ego
Gejala :

Faktor stress, misalnya sekolah, pekerjaan, keluarga

Takut/ansietas sehubungan dengandiagnosis dan kemungkinan takut mati

Takut sehubungan dengan tes diagnostik dan modalitas pengobatan (kemoterapi


dan terapi radiasi)

Masalah finansial : biaya rumah sakit, pengobatan mahal, takut kehilangan


pekerjaan sehubungan dengan kehilangan waktu kerja.

Status hubungan : takut dan ansietas sehubungan menjadi orang yang tergantung
pada keluarga.

Tanda : Berbagai perilaku, misalnya marah, menarik diri, pasif


d. Eliminasi
Gejala :

Perubahan karakteristik urine dan atau feses.

Riwayat Obstruksi usus, contoh intususepsi, atau sindrom malabsorbsi (infiltrasi


dari nodus limfa retroperitoneal)

Tanda :

Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan pembesaran pada palpasi
(hepatomegali)

Nyeri tekan pada kudran kiri atas dan pembesaran pada palpasi (splenomegali)

Penurunan haluaran urine urine gelap/pekat, anuria (obstruksi uretal/ gagal


ginjal).

Disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi batang spinal terjadi lebih lanjut)

e. Makan dan Minum


Gejala :

Anoreksia/kehilangna nafsu makan

Disfagia (tekanan pada easofagus)

Adanya penurunan berat badan yang tak dapat dijelaskan sama dengan 10% atau
lebih dari berat badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet.

Tanda :

Pembengkakan pada wajah, leher, rahang atau tangan kanan (sekunder terhadap
kompresi venakava superior oleh pembesaran nodus limfa)

Ekstremitas : edema ekstremitas bawah sehubungan dengan obtruksi vena kava


inferior dari pembesaran nodus limfa intraabdominal (non-Hodgkin)

Asites (obstruksi vena kava inferior sehubungan dengan pembesaran nodus


limfa intraabdominal)

f. Neurosensori
Gejala :
7

Nyeri saraf (neuralgia) menunjukkan kompresi akar saraf oleh pembesaran


nodus limfa pada brakial, lumbar, dan pada pleksus sakral

Kelemahan otot, parestesia.

Tanda :

Status mental : letargi, menarik diri, kurang minatumum terhadap sekitar.

Paraplegia (kompresi batang spinaldari tubuh vetrebal, keterlibatan diskus pada


kompresiegenerasi, atau kompresi suplai darah terhadap batng spinal)

g. Nyeri/Kenyamanan
Gejala :

Nyeri tekan/nyeri pada nodus limfa yang terkena misalnya, pada sekitar
mediastinum, nyeri dada, nyeri punggung (kompresi vertebra), nyeri tulang
umum (keterlibatan tulang limfomatus).

Nyeri segera pada area yang terkena setelah minum alkohol.

Tanda : Fokus pada diri sendiri, perilaku berhati-hati.


h. Bernafas
Gejala : Dispnea pada kerja atau istirahat; nyeri dada.
Tanda :

Dispnea, takikardia

Batuk kering non-produktif

Tanda distres pernapasan, contoh peningkatan frekwensi pernapasan dan


kedaalaman penggunaan otot bantu, stridor, sianosis.

Parau/paralisis laringeal (tekanan dari pembesaran nodus pada saraf laringeal).

i. Keamanan
Gejala :

Riwayat sering/adanya infeksi (abnormalitasimunitas seluler pwencetus untuk


infeksi virus herpes sistemik, TB, toksoplasmosis atau infeksi bakterial)

Riwayat monokleus (resiko tinggi penyakit Hodgkin pada pasien yang titer
tinggi virus Epstein-Barr).

Riwayat ulkus/perforasi perdarahan gaster.

Pola sabit adalah peningkatan suhu malam hari terakhir sampai beberapa
minggu (demam pel Ebstein) diikuti oleh periode demam, keringat malam tanpa
menggigil.

Kemerahan/pruritus umum

Tanda :

Demam menetap tak dapat dijelaskan dan lebih tinggi dari 38oC tanpa gejala
infeksi.

Nodus limfe simetris, tak nyeri,membengkak/membesar (nodus servikal paling


umum terkena, lebih pada sisi kiri daripada kanan, kemudian nodus aksila dan
mediastinal)

Nodus dapat terasa kenyal dan keras, diskret dan dapat digerakkan.

Pembesaran tosil

Pruritus umum.

Sebagian area kehilangan pigmentasi melanin (vitiligo)

j. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala :

Faktor resiko keluarga (lebih tinggi insiden diantara keluarga pasien Hodgkin
dari pada populasi umum)

Pekerjaan terpajan pada herbisida (pekerja kayu/kimia)

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual muntah
2. Nyeri b.d agen cedera biologi
3. Hipertermi b.d tidak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi.
4. Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Keperawatan

Tujuan

Intervensi

Rasional

Ketidakseimbangan

Setelah diberikan

1. Kaji riwayat

1. Mengidentifikasi

nutrisi ; kurang dari

asuhan keperawatan

nutrisi,

defisiensi nutrisi

kebutuhan tubuh b.d

selam 3 x 24 jam

termasuk

dan juga untuk


9

mual, muntah

diharapkan
kebutuhan nutrisi
klien dapat terpenuhi
dengan kriteria hasil:
1. Menunjukkan
peningkatan berat
badan/berat
badan stabil
2. Nafsu makan
klien meningkat
3. Klien
menunjukkan
perilaku
perubahan pola

makanan yang
disukai
2. Observasi dan
catat masukan
makanan klien
3. Timbang berat
badan klien tiap
hari

berat badan yang


sesuai

Nyeri b.d agen cedera

Setelah diberikan

biologi

asuhan keperawatan

masukan kalori
3. Mengawasi
penurunan berat
badan dan
intervensi nutrisi

4. Berikan makan

4. Meningkatkan

sedikit namun

pemasukan kalori

frekuensinya

secara total dan

sering

juga untuk
mencegah

5. Kolaborasi
dalam
pemberian
suplemen

selanjutnya
2. Mengawasi

efektivitas

hidup untuk
mempertahankan

intervensi

nutrisi
1. Kaji skala nyeri
dengan PQRST

distensi gaster
5. Meningkatkan
masukan protein
dan kalori
1. Untuk
mengetahui skala

diharapkan nyeri

nyeri klien dan

klien

untuk

berkurang/hilang

mempermudah

dengan Kriteria

dalam

Hasil :
1. Skala nyeri 0-3
2. Wajah klien tidak
meringis
3. Klien tidak

2. Ajarkan klien
teknik relaksasi
dan distraksi

menentukan
intervensi
selanjutnya
2. Teknik relaksasi
dan distraksi

memegang

yang diajarkan

daerah nyeri

kepada klien,
dapat membantu
3. Kolaborasi

dalam
10

dalam

mengurangi

pemberian obat

persepsi klien

analgetik

terhadap nyeri
yang dideritanya
3. Obat analgetik
dapat mengurangi
atau
menghilangkan
nyeri yang
diderita oleh

Hipertermia b.d tidak

Setelah diberikan

efektifnya

asuhan keperawatan

termoregulasi sekunder

selama (3 x 24 jam)

dapat mengetahui

terhadap inflamasi.

diharapkan suhu

keadaan

tubuh klien turun /

dan juga dapat

dalam keadaan

mengambil

normal dengan

1.

klien
Observasi suhu 1. Dengan
tubuh klien.

2.

kriteria hasil : suhu

Berikan
kompres hangat

tubuh dalam batas

pada dahi,

normal (35,9-37,5

aksila, perut dan

derajat celcius).
3.

lipatan paha.
Anjurkan dan

memantau

suhu tubuh klien


klien

tindakan dengan
tepat.
2. Kompres

dapat

menurunkan suhu
tubuh klien.

berikan minum
yang banyak

4.

3. Dengan

banyak

kepada klien

minum

(sesuai dengan

diharapkan dapat

kebutuhan

membantu

cairan tubuh

menjaga

klien).
Kolaborasi

keseimbangan

dalam
pemberian
antipiretik

cairan

dalam

tubuh klien.
4. Antipiretik

dapat

menurunkan suhu
11

tubuh.
4

Kurang pengetahuan

Setelah diberikan

b.d kurang terpajan

asuhan keperawatan

komunikasi

dalam melakukan

informasi

sela 1 x 24 jam

terapiutuk kepada

prosedur

diharapkan

klien dan

terpiutuk kepada

diharapkan klien dan


keluarganya dapat
mengetahui tentang
penyakit yang
diderita oleh klien
dengan kriteria hasil:

1. Berikan

keluarga klien
2. Berikan KIE

1. Memudahkan

klien
2. Klien dan

mengenai proses

keluarga klien

penyakitnya

dapat mengetahui

kepada klien dan

proses penyakit

keluarga klien

yang diderita

1. Klien dan

oleh klien

keluarga klien
dapat memahami
proses penyakit
klien
2. Klien dan
keluarga klien
mendapatkan
informasi yang
jelas tentang
penyakit yang
diderita oleh
klien
3. Klien dan
keluarga klien
dapat mematuhi
proses terapiutik
yang akan
dilaksanakan

D. IMPLEMENTASI
Implementasi dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan yang telah disusun.
12

E. EVALUASI
Tahapan evaluasi merupakan proses yang menentukan sejauh mana tujuan dapat dicapai,
sehingga dalam mengevaluasi efektivitas tindakan keperawatan, perawat perlu
mengetahui kriteria keberhasilan dimana kriteria ini harus dapat diketahui.
Adapun evaluasi keperawatan pada asuhan keperawatan limfoma maligna yaitu :
1. Menunjukkan peningkatan berat badan/berat badan stabil, nafsu makan klien
meningkat, klien menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk mempertahankan
berat badan yang sesuai
2. Klien mampu menunjukan tidak adanya tanda-tanda hipertermi, suhu tubuh klien
dalam rentang normal
3. Skala nyeri 0-3, wajah klien tidak meringis, klien tidak memegang daerah nyeri
4. Klien dan keluarga klien dapat memahami proses penyakit klien, klien dan keluarga
klien mendapatkan informasi yang jelas tentang penyakit yang diderita oleh klien,
klien dan keluarga klien dapat mematuhi proses terapiutik yang akan dilaksanakan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Askep Limfoma Maligna. (dalam http://www.scribd.com/doc/150708984/


Askep-Limfoma-Maligna-sip). Diakses tanggal 10 September 2014 (pukul : 14.00
WITA)
Anonim. 2011. Limfoma Malignan. (dalam http://artha-blogartha.blogspot.com/2011/10/
limfoma-malgnan.html).Diakses tanggal 10 September 2014 (pukul : 14.30 WITA)
Anonim.

2013.

Laporan

Pendahuluan

Limfoma

Maligna.(

dalam

http://setiawatisalb.blogspot.com/). Diakses tanggal 10 September 2014 (pukul : 14.50


WITA)
Brunner and Sudarth. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Volume 1. Jakarta:EGC
Marilynn E Doengoes.2000. Rencana Asuhan Keperawatan, pedoman untuk perencanaan
dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta :EGC

13

14