Anda di halaman 1dari 6

Tata laksana Gagal ginjal Terminal

Prinsip tata laksana terapi ginjal pengganti adalah terapi


pengganti ginjal yaitu dengan dialisis atau transplantasi
ginjal.
Dialisis32
Dasar fisiologis dialisis merupakan pemisahan zat-zat
terlarut yang terjadi secara difusi dan ultrafiltrasi.
Difusi, merupakan pergerakan zat-zat terlarut dari
larutan dengan konsentrasi tinggi ke larutan

berkonsentrasi rendah. Mekanisme difusi dipengaruhi


oleh perbedaan konsentrasi dalam kedua
larutan tersebut berat molekul zat terlarut dan
resistensi membran semipermeabel.
Ultrafiltrasi, adalah proses perpindahan air dan zatzat
terlarut yagn permeabel karena adanya perbedaan
antara tekanan hidrostatik dan tekanan osmotik
- Ultrafiltrasi hidrostatik
Pergerakan air terjadi dari kompartemen
bertekanan hidrostatik tinggi ke kompatemen
yang bertekanan hidrostatik rendah. Ultrafiltrasi
hidrostatik tergantung pada tekanan
transmembran dan koefisien ultrafiltrasi
- Ultrafiltrasi osmotik
Perpindahan air terjadi dari kompartemen yang
bertekanan osmotik rendah ke kompatemen
yang bertekanan osmotik tinggi, sampai
tercapai keadaan tekanan osmotik di dalam
kedua kompartemen tersebut seimbang.
Dialisis Peritoneal akut
Dialisis peritoneal akut dilakukan pada penderita
dengan gagal ginjal kronik yang menunjukkan tandatanda
akut (acute on chronic renal failure). Dialisis
peritoneal sangat berguna mengatasi keadaan darurat,
sehingga memungkinkan tindakan diagnostik dan
mengurangi kelainan yang bersifat menetap. Dialisis
peritoneal juga dapat dilakukan pada pasien yang
sedang menunggu transplantasi ginjal.33
Indikasi dialisis peritoneal :33
- Indikasi klinis
Sindrom uremia yang mencolok, yaitu
muntah-muntah, kejang, penurunan kesadaran
sampai koma
Kelebihan cairan yang menimbulkan gagal
jantung, edema paru dan hipertensi
Asidosis yang tidak dapat dikoreksi dengan
pemberian bikarbonat intravena
- Indikasi biokimiawi
Ureum darah > 200-300 mg/dl atau kreatinin
15 mg/dl
Hiperkalemia > 7 mEq/L
Bikarbonas plasma < 12 mEq/l
Kejadian obstruksi kateter pada dialisis peritoneal
meningkat pada keadaan peritonitis yang merupakan
komplikasi dialisis peritoneal. Hal ini karena adanya
hiperkoagulasi dan hipofibrinolisis pada keasaan
peritonitis.34
CAPD (continuous ambulatory peritoneal
dialysis)
CAPD memakai peritoneum selama 24 jam sehari, dan
penggantian dialisat dilakukan 4-5 kali perhari oleh
orang tua atau keluarga pasien atau pasien itu sendiri. 10
CAPD merupakan alternatif pengobatan berdasarkan
3 alasan, yaitu:32

Anak bertempat tinggal jauh dari unit ginjal


82
Sari Pediatri, Vol. 6, No. 1 (Supplement), Juni 2004

sehingga transportasi merupakan suatu masalah


Anak yang banyak menjalani hemodialsis yang
disebabkan oleh tingginya pembentukan metabolit
toksin dan juga lamanya menunggu untuk
dilakukan transplantasi. Selain itu, makin sering
dilakukan hemodialisis maka akan meningkat
masalah akses vaskular dan terganggunya studi anak
Teknik hemodialisis pada bayi dan anak sukar.
Hemodialisis
Hemodialisis kronik yang dilakukan pada anak usia <
dari 2 tahun cukup efektif dan aman sebagai terapi ginjal
pengganti, namun akses vaksular merupakan keterbatasan
untuk dilakukan dalam jangka waktu lama.35
Transplantasi Ginjal
Transpantasi ginjal merupakan pilihan ideal untuk
pengobatan gagal ginjal terminal karena memberikan
potensi untuk rehabilitasi yang terbaik mendekati
kehidupan normal. Secara keseluruhan, di Eropa pada
periode 1984-1993, hampir 21% penanaman pertama
dilakukan pada penderita usia < 21 tahun berasal dari
donor hidup. Di Amerika Utara sekitar 50%
penanaman dilakukan pada anak dan remaja usia <
21 tahun antara tahun 1987-2000. Dinegara
berkembang hasil jangka panjang transplantasi renal
dari ginjal keluarga masih suboptimal, kematian karena
septikemia, 40% terbukti mengalami infeksi, 45,8%
mengalami rejeksi akut.36
Usia optimal untuk dilakukan transplantasi ginjal
pada anak gagal ginjal terminal masih menjadi
perdebatan. Disebutkan bahwa tidak ada usia minimum
untuk menjalani transplantasi ginjal karena keberhasilan
tidak hanya ditentukan oleh usia saat transplantasi saja
melainkan faktor-faktor lainnya seperti ukuran ginjal
donor, asal ginjal donor dan fungsi ginjal serta follow up
selanjutnya dengan imunosupresif.37 Obat-obat
imunosupresif harus diberikan pada penderita yang
menjalani transplantasi ginjal. Umumnya mereka
mendapat 3 macam obat yaitu azatioprin, metil
prednisolon, dan cyclosporin A.

Pencegahan

Deteksi dini dan pengobatan segera penyakit yang


mendasari secara adekuat adalah hal yang dapat
mencegah terjadinya gagal ginjal kronik. Pada sebagian
besar pasien gagal ginjal kronik belum ada pengobatan
yang spesifik terhadap penyakit primernya. Beberapa
contoh pengobatan kausal adalah upaya untuk
mengatasi obstruksi saluran kemih, mengendalikan
hipertensi, mengkoreksi gangguan keseimbangan
cairan, asam basa dan elektrolit, mengobati penyakit
autoimun dengan obat imunosupresan, mengatasi
infeksi. Dengan terapi segera dalam 24 jam onset

demam pada penderita infeksi saluran kemih dapat


menghindari kerusakan ginjal.5,38 Pemakaian obat-obat
analgesik ataupun nefrotoksik lainnya secara tepat dan
hati-hati merupakan salah satu pencegahan terjadinya
gagal ginjal kronik dan pemakaiannya harus segera
dihentikan saat diketahui adanya tanda penurunan
fungsi ginjal, atau bila tidak dapat dihindari adalah
dengan dilakukan penyesuaian dosis.5,13

Prognosis

Kelangsungan hidup anak penderita gagal ginjal


terminal semakin meningkat setelah menjalani
transplantasi. Mortalitas hanya 9% yang meninggal
saat dianalis, dan 5 year survival rate penderita yang
mendapat transplantasi ginjal dari donor hidup sebesar
80,8% pada anak usia < 1 tahun, dan 97,4% pada
anak usia 6-10 tahun. Rehabilitasi setelah menjalani
transplantasi pada umumnya baik.9

Ringkasan

Gagal ginjal kronik merupakan salah satu penyebab


morbiditas dan mortalitias pada anak. Jalan keluar
terbaik adalah mencegah agar tidak terjadi gagal ginjal
kronik, yaitu dengan deteksi dan intervensi dini
penyebab penyakit primernya serta menghindari obatobatan
nefrotoksik, juga dengan melakukan pola hidup
yang baik seperti mengatur diit yang benar, olahraga
teratur. Apabila gagal ginjal kronik telah terjadi, maka
usaha yang dilakukan adalah memperlambat penurunan
fungsi ginjal selama mungkin dengan
pengaturan nutrisi terutama asupan protein dan
kalium, natrium, mengendalikan hipertensi dan
kontrol secara teratur untuk memonitor perkembangan
fungsi ginjal. Penggunaan obat yang akhir-akhir ini
banyak dipakai, seperti recombinant human erytropoietin
dan human growth hormone, CAPD dan

Penatalaksanaan untuk mengatasi penyakit gagal ginjal kronik menurut Smeltzer dan Bare (2001)
yaitu :
1. Penatalaksanaan untuk mengatasi komplikasi
a. Hipertensi diberikan antihipertensi yaitu Metildopa (Aldomet), Propanolol (Inderal),
Minoksidil (Loniten), Klonidin (Catapses), Beta Blocker, Prazonin (Minipress), Metrapolol
Tartrate (Lopressor).
b. Kelebihan cairan diberikan diuretic diantaranya adalah Furosemid (Lasix), Bumetanid
(Bumex), Torsemid, Metolazone (Zaroxolon), Chlorothiazide (Diuril).

c. Peningkatan trigliserida diatasi dengan Gemfibrozil.


d. Hiperkalemia diatasi dengan Kayexalate, Natrium Polisteren Sulfanat.
e. Hiperurisemia diatasi dengan Allopurinol.
26

f. Osteodistoofi diatasi dengan Dihidroksiklkalsiferol, alumunium hidroksida.


g. Kelebihan fosfat dalam darah diatasi dengan kalsium karbonat, kalsium asetat, alumunium
hidroksida.
h. Mudah terjadi perdarahan diatasi dengan desmopresin, estrogen
i. Ulserasi oral diatasi dengan antibiotic.
2. Intervensi diet yaitu diet rendah protein (0,4-0,8 gr/kgBB), vitamin B dan C, diet tinggi lemak
dan karbohirat
3. Asidosis metabolic diatasi dengan suplemen natrium karbonat.
4. Abnormalitas neurologi diatasi dengan Diazepam IV (valium), fenitonin (dilantin).
5. Anemia diatasi dengan rekombion eritropoitein manusia (epogen IV atau SC 3x seminggu),
kompleks besi (imferon), androgen (nandrolan dekarnoat/deca durobilin) untuk perempuan,
androgen (depo-testoteron) untuk pria, transfuse Packet Red Cell/PRC.
6. Cuci darah (dialisis) yaitu dengan hemodialisa maupun peritoneal dialisa.
7. Transplantasi ginjal.